• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORNAMEN TRADISIONAL. Bentuk, Sejarah Dan Karakternya JATI WIDAGDO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ORNAMEN TRADISIONAL. Bentuk, Sejarah Dan Karakternya JATI WIDAGDO"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

ORNAMEN TRADISIONAL

Bentuk, Sejarah Dan Karakternya

JATI WIDAGDO

(2)

ORNAMEN TRADISIONAL: Bentuk, Sejarah dan Karakternya

Penulis : Jati Widagdo Editor : Fatma Ariyanti Desain cover : Tim Desain

Cetakan ke 1, Edisi 1, Februari 2022 Diterbitkan oleh:

UNISNU Press

Alamat: Kampus UNISNU Jepara 08957-1000-3000 ; 0857-2930-2000 IG: @unisnupressjepara ; FB: Unisnu Press Email: [email protected]

viii + 94 hlm ; 14,8 x 21 cm.

ISBN 978-623-5809-17-5

Hak cipta pada penulis; hak penerbitan pada UNISNU Press Tidak boleh direproduksi sebagian atau seluruhnya dalam bentuk

apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

Isi buku sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. Penerbit dan percetakan tidak bertanggung jawab atas isi buku.

(3)

iii

P rakata

uku ornamen nusantara disusun sebagai petunjuk menggambar ornamen tradisional agar ornamen tradisional dapat berkembang dan mampu dikembangkan oleh generasi penerus, menurut pengalaman penulis peminat seni dekoratif/ornamen yang ingin mempelajari ornamen tradisional mengalami banyak kesulitan dikarenakan kurangnya referensi yang mendukung sebagai petunjuk ataupun pedoman dalam menggambar ornamen.

Menyadari begitu perlunya adanya buku petunjuk tentang ornamen tradisional tersebut, maka terbentuklah hasrat penulis untuk menyumbangkan sedikit pengetahuan penulis tentang menggambar ornamen tradisional, dengan harapan dapat membantu:

1. Memberi dasar pengertian tentang menggambar ornamen tradisional

2. Menggali kembali bakat-bakat seni tradisional yang ada pada kita sehingga nantinya mampu menambah khazanah dan pelestarian budaya

B

(4)

3. Memberi dorongan serta, memupuk dan meningkatkan peranan sehingga mampu menghidupkan semangat berkreasi melalui menggambar ornamen

Penulis bermaksud pula mengajak menghargai nilai- nilai budaya bangsa umumnya dan menikmati peninggalan budaya nenek moyang bangsa Indonesia khususnya bidang menggambar ornamen.

Harapan penulis, walaupun buku yang penulis buat masih jauh dari kesempurnaan, kiranya mampu menjadi bahan bacaan bagi siapa pun yang karena cinta dan perhatiannya pada gambar ornamen, kecintaan pada gambar ornamen diharapkan dapat memperkuat komitmen untuk melestarikan budaya agar tidak semakin pudar di tengah- tengah arus globalisasi dunia yang bergerak sangat dinamis.

Namun apabila di dalam buku yang penulis buat masih banyak kekurangan, tak lain penulis minta maaf, tentu kritik yang bersifat membangun sangat penulis perhatikan semoga buku yang penulis buat dapat bermanfaat sebagaimana mestinya. Tak Lupa kami sampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya buku yang penulis susun.

Jepara, Februari 2022 Penulis

(5)

v

D aftar Isi

Prakata ... iii Daftar Isi ... v

BAB I:

Pendahuluan ... 1 Pengertian Ornamen ... 1

BAB II:

Bentuk Dasar Ornamen ... 4 Macam Dan Jenis Ornamen ... 4 A. Ornamen Geometris ... 5 B. Ornamen Tumbuhan ... Error! Bookmark not defined.

C. Ornamen Hewan ... Error! Bookmark not defined.

D. Ornamen Makhluk Khayali .. Error! Bookmark not defined.

E. Ornamen Manusia . Error! Bookmark not defined.

F. Ornamen Bentuk Alam ... Error! Bookmark not defined.

(6)

BAB III:

Sejarah Ornamen ... Error! Bookmark not defined.

A. Ornamen Prasejarah .. Error! Bookmark not defined.

B. Pengaruh Ornamen Hindu Budha . Error! Bookmark not defined.

C. Pengaruh Ornamen Cina... Error! Bookmark not defined.

D. Pengaruh Ornamen Islam ... Error! Bookmark not defined.

E. Ornamen Motif Eropa... Error! Bookmark not defined.

BAB IV:

Fungsi Ornamen ... Error! Bookmark not defined.

A. Ornamen Sebagai Elemen Estetik .. Error! Bookmark not defined.

B. Bentuk Ornamen ... Error! Bookmark not defined.

C. Yang Mempengaruhi Desain Ornamen... Error!

Bookmark not defined.

D. Perkembangan Ornamen ... Error! Bookmark not defined.

BAB V:

(7)

vii

Ornamen Tradisional Berdasar Cakupan Wilayah Dan Karakter Warnanya ... Error! Bookmark not defined.

A. Karakter Motif Tradisional ... Error! Bookmark not defined.

B. Ornamen Kerajaan .... Error! Bookmark not defined.

C. Ornamen Daerah ... Error! Bookmark not defined.

D. Ornamen Jawa Dan Sekitarnya Dilihat Dari Cakupan Kedaerahannya... Error! Bookmark not defined.

E. Pewarnaan Ornamen Berdasar Cakupan Daerah Error! Bookmark not defined.

BAB VI:

Mengenal Nama Bentuk Dan Karakteristik Ornamen

Tradisional ... Error! Bookmark not defined.

A. Ornamen Pajajaran .... Error! Bookmark not defined.

B. Ornamen Majapahit .. Error! Bookmark not defined.

C. Ornamen Bali ... Error! Bookmark not defined.

D. Ornamen Mataram .... Error! Bookmark not defined.

E. Ornamen Cirebon ... Error! Bookmark not defined.

F. Ornamen Jepara ... Error! Bookmark not defined.

G. Ornamen Surakarta ... Error! Bookmark not defined.

H. Ornamen Yogyakarta Error! Bookmark not defined.

I. Ornamen PekalonganError! Bookmark not defined.

J. Ornamen Semarangan ... Error! Bookmark not defined.

K. Ornamen Madura ... Error! Bookmark not defined.

(8)

BAB VII:

KESIMPULAN ... Error! Bookmark not defined.

Karakter Ornamen Jawa ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

RIWAYAT PENULIS ... Error! Bookmark not defined.

(9)

ix

(10)
(11)

Jati Widagdo

B a b 1 P e n d a h u l u a n | 1

B AB I

Pendahuluan

Pengertian Ornamen

rnamen adalah “Hasil-hasil dari rangkaian yang indah, berulang-ulang Saling jalin menjalin, berulang dan sambung-menyambung sehingga mewujudkan suatu hiasan” (Soepratno, 2004), sedangkan ditinjau dari segi bahasa ornamen berasal dari kata ornare yang berarti

“menghias” (Collingwood, 1938; Mistaram, 1991; Gustami 1980; Guntur, 2004), biasanya ornamen digunakan membuat hiasan pada perabot rumah tangga, furniture atau pada bangunan rumah tinggal.

Pada mulanya ornamen yang ada di Indonesia sangatlah sederhana hanya berupa torehan atau goresan pada benda untuk menghias atau memberi unsur keindahan benda tersebut hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Soepraptono “Semula ukiran adalah ornamen sederhana yang diterapkan dengan teknik gores pada tanah liat, batu, kayu menggunakan peralatan yang sederhana” (2004.).

O

1

(12)

Ornamen Tradisional

Jadi berdasarkan pengertian ornamen berdasar dari pendapat para pakar dapat disimpulkan, ornamen ialah penggunaan hiasan pada suatu produk. Bentuk bentuk motif yang menjadi ornamen tersebut fungsi utamanya adalah untuk menjadikan lebih indah produk atau barang hias.

Benda produk sangat mungkin telah indah, namun sesudah diberi ornamen padanya diharapkan menjadikanya lebih.

indah

Ornamen tradisional Jawa adalah ornamen yang banyak diterapkan pada benda budaya baik berupa bangunan tradisional, perlengkapan rumah tangga, maupun benda benda alat upacara. Yang keberadaanya selalu diwariskan dari generasi satu ke generasi yang lainya yang mempunyai ciri- ciri kedaerahannya.

Pada saat ini perkembangan ornamen menunjukkan kemajuan yang sangat pesat perkembangan yang amat pesat dapat dilihat dengan semakin banyaknya jenis produksi pada perabot serta barang kerajinan yang memakai ornamen baik produk tersebut terbuat dari batu, kayu logam maupun tanah liat baik dengan sistem tempel lukis, nilai, sablon ataupun dengan teknik ukiran. Pada buku yang penulis buat hanya akan membahas tentang ornamen tradisional yang ada di pulau Jawa dan sekitarnya baik ornamen yang namanya berdasarkan kerajaan maupun ornamen yang menggunakan nama daerah. Banyak sekali jenis dan ragam ornamen yang ada di pulau Jawa namun pada dasarnya dapat dipisahkan

(13)

Jati Widagdo

Server

3

yang distilasi sebagai ide atau gagasan menggambar ornamen.

(14)

Jati Widagdo

B AB II

Bentuk Dasar Ornamen

Macam Dan Jenis Ornamen

alam perkembangannya ornamen tradisional ini berkembang sangat pesat sehingga menghasilkan ornamen yang begitu indah namun sebenarnya dalam penggambaran ornamen tersebut terdapat pola-pola dasar dalam pembentukan ornamen, sedangkan pola pola dasar tersebut antara lain: Geometris, Tumbuhan, Hewan, Manusia dan Makhluk Khayali.

Dalam istilah seni menurut Jams (2007) Ornamen adalah penerapan hiasan pada suatu produk. Bentuk-bentuk hiasan yang menjadi Ornamen yang fungsi pokoknya ialah guna mempercantik objek, produk atau barang-barang yang dihiasi. Item produk mungkin telah indah, tetapi setelah

D

2

(15)

Jati Widagdo

Server

5

(Aryo, 2009). Ornamen sendiri boleh dikategorikan kepada beberapa jenis iaitu Ornamen geometrik dan Ornamen organik. Objek membuat ornamen adalah berdasarkan perhatian manusia terhadap persekitaran semula jadi, ornamen hewan muncul kerana perhatian manusia terhadap persekitaran semula jadi, jadi dengan tanaman dan keadaan di sekitarnya, kemudian membuat ornamen hewan dan ornamen tumbuhan, awan gunung berapi dan sebagainya.

Manakala ornamen geometris timbul kerana pemikiran manusia (Hamzuri, 2016). Motif geometris Berupa garis lurus, Garis patah, garis sejajar, lingkaran dan sebagainya.

Seperti motif: Wajikan, Ikal, Mender’ Swastika, Tumpal dan lain sebagainya.

A. Ornamen Geometris 1. Ornamen Wajikan

Wajikan adalah ornamen bentuk ornamen dengan bentuk datar belah ketupat di dalamnya terdapat bentuk buket atau motif bunga. Dinamai wajikan karena bentuknya menyerupai bentuk makanan tradisional Jawa, yaitu wajik (Danoe Iswanto, 2008).

(16)

Ornamen Tradisional

Gambar: 1. Wajikan Sumber: (Danoe Iswanto, 2008) 2. Ukel atau Lung/Gelung

Dinamai lung/gelung karena bentuknya seperti gelung rambut. Dinamai ukel karena seperti gulungan, ukel dalam bahasa Jawa artinya menggulung dengan cara memutar. Dalam hal ini benang atau tali (Zainuil, 2018).

Gambar: 2. Ikal/lung dan sanggul ukel

Sumber: ukel (Soepratno, 2004.)

3. Ornamen Mender

Dinamai motif mender karena bentuk meliuk liuknya merupakan stilasi liak-liuk sungai mender.

Motif mender umumnya adalah motif hiasan pinggir, (Aryo sunaryo, 2009).

(17)

Jati Widagdo

Server

7

Gambar: 3 Mender Sumber: (Hoop, 1949)

4. Ornamen Banji/Swastika

Motif banji hanya dikenal di Jawa, meskipun kata ini berasal dari bahasa Cina Wan-ji motif ini mempunyai bentuk dasar mirip bentuk baling baling seperti Swastika, oleh karena itu banji adalah motif Swastika untuk daerah lain, sedangkan di Toraja disebut Motif palang berkait (Aryo sunaryo, 2009).

Gambar: 4.Swastika Sumber: (Hoop, 1949)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh penulis di 7 pasar tradisional yang terdapat di wilayah Watampone, baik penjual maupun pembeli telah

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, kemudian melihat bentuk tinggalan yang ada, maka dapat diperkirakan bahwa susunan batu temugelang di Malang Raya, baik di punden

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis teliti terbukti bahwa dengan melalui permainan tradisional (bakiak dan gatrik) dapat memberikan peningkatan yang baik

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Buku yang penulis beri judul “Potensi ANTIOKSIDAN dari Biji Kopi Robusta 9 Daerah di Pulau Jawa” merupakan kompilasi hasil-hasil riset yang penulis lakukan bersama beberapa kolega dan

x EVALUASI PEMANFAATAN TANAMAN OBAT SEBAGAI BAHAN BAKU PADA INDUSTRI OBAT TRADISIONAL DI PROPINSI JAWA TENGAH BERDASARKAN BUKU DAFTAR OBAT ALAM DOA Valentina Ermita Herdani

Berdasarkan analisa yang penulis lakukan, maka penulis simpulkan bahwa dengan adanya pemahaman tentang makna warna tata rias wajah baik pada Wayang Orang di pulau Jawa, Indonesia maupun