DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 29/DPD RI/IV/2014-2015 TENTANG
HASIL PENGAWASAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
PELAKSANAAN ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012
TENTANG PANGAN
JAKARTA
2015
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/DPD RI/IV/2014-2015
TENTANG
HASIL PENGAWASAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA ATAS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi setiap rakyat Indonesia;
b. bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi pangan masyarakat sampai pada tingkat perseorangan, negara mempunyai kebebasan untuk menentukan kebijakan pangannya secara mandiri, tidak dapat didikte oleh pihak mana pun, dan para pelaku usaha pangan mempunyai kebebasan untuk menetapkan dan melaksanakan usahanya sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya;
c. bahwa salah satu kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama;
d. bahwa berdasarkan ketentuan pada huruf a, huruf b, dan huruf c diatas, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia melalui Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sesuai dengan lingkup tugasnya telah melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang pangan yaitu Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
e. bahwa hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada huruf d telah disampaikan dan diputuskan dalam Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sebagai Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti;
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, perlu menetapkan Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia tentang Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan;
Mengingat : 1. Pasal 22D ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5568) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor383, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5650);
3. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia;
4. Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah.
Dengan Persetujuan Sidang Paripurna ke-13 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia
Masa Sidang IV Tahun Sidang 2014-2015
174
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG HASIL PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA ATAS PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN.
PERTAMA : Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.
KEDUA : Isi dan rincian Hasil Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Diktum Pertama, disusun dalam naskah terlampir yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juli 2015 DEWAN PERWAKILAN DAERAH
REPUBLIK INDONESIA PIMPINAN
Ketua,
IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,
G.K.R. HEMAS
Wakil Ketua,
Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN KEPUTUSAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 29/DPD RI/IV/2014-2015 TENTANG
HASIL PENGAWASAN
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
ATAS
PELAKSANAAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012
TENTANG PANGAN
JAKARTA
2015
BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi setiap rakyat Indonesia. Pangan harus senantiasa tersedia secara cukup, aman, bermutu, bergizi, dan beragam dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat. Untuk mencapai semua itu, perlu diselenggarakan suatu sistem Pangan yang memberikan pelindungan, baik bagi pihak yang memproduksi maupun yang mengonsumsi pangan.
Penyelenggaraan Pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan dengan berdasarkan pada Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan. Aspek asasi dari pangan dipertegas dengan Pasal 3 UU Nomor 18 Tahun 2012 bahwa Penyelenggaraan Pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan.
Hal itu berarti bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi Pangan masyarakat sampai pada tingkat perseorangan, negara mempunyai kebebasan untuk menentukan kebijakan Pangannya secara mandiri, tidak dapat didikte oleh pihak mana pun, dan para Pelaku Usaha Pangan mempunyai kebebasan untuk menetapkan dan melaksanakan usahanya sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya. Pemenuhan konsumsi Pangan tersebut harus mengutamakan produksi dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya dan kearifan lokal secara optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut, tiga hal pokok yang harus diperhatikan adalah (i) ketersediaan pangan yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal, (ii) keterjangkauan pangan dari aspek fisik dan ekonomi oleh seluruh masyarakat, serta (iii) pemanfaatan pangan atau konsumsi Pangan dan Gizi untuk hidup sehat, aktif, dan produktif.
Dalam konsideran UU Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dijelaskan bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dengan demikian maka negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi Pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal.
Ketersediaan pangan memiliki makna bahwa kondisi tersedianya Pangan dari hasil produksi dalam negeri dan Cadangan Pangan Nasional serta impor apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan. Sedangkan makna keterjangkauan bisa mengacu pada pasal Pasal 46 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab dalam mewujudkan keterjangkauan Pangan bagi masyarakat, rumah tangga, dan perseorangan. Dalam mewujudkan keterjangkauan Pangan sebagaimana dimaksud, Pemerintah dan Pemerintah Daerah melaksanakan kebijakan Pemerintah di bidang distribusi, pemasaran, perdagangan, stabilisasi pasokan dan harga Pangan Pokok serta Bantuan Pangan.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar dan di sisi lain memiliki sumber daya alam dan sumber Pangan yang beragam, Indonesia semestinya mampu memenuhi kebutuhan Pangannya secara berdaulat dan mandiri.
Penyediaan pangan di masa depan berkejaran dengan pertumbuhan penduduk yang melonjak dengan cepat. Untuk mencapai populasi hingga 1 miliar, dunia memerlukan waktu 250.000 tahun. Kemudian untuk mencapai 2 miliar perlu waktu satu abad dan hanya perlu waktu sepertiga abad untuk mencapai 3 miliar. Setelah itu hanya perlu waktu 17 tahun dan kemudian 12 tahun penduduk dunia bertambah 1 miliar lagi.
Hal sama terjadi di Indonesia. Perlu ribuan tahun hingga penduduk Indonesia mencapai 100 juta jiwa, dan setelah itu hanya perlu waktu sekitar 35 tahun untuk menjadi 200 juta (tahun 1998) dan 35 tahun berikutnya (tahun 2033) sudah mencapai 300 juta.
Apabila sejak 40 tahun lalu hingga masa kini perebutan sumber daya minyak mewarnai dinamika geopolitik dunia, di masa depan pangan akan menggantikan energi sebagai pemicu gejolak politik dunia. Dengan demikian, siapa pun pemimpin kita, apabila mengabaikan masalah pangan, persoalan pangan akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak menjadi kerusuhan sosial dan bahkan penggantian pemerintahan melalui mekanisme yang tidak diharapkan oleh semua orang.
Di tingkat global dan nasional memproduksi pangan yang mencukupi sudah mulai dihadapkan dengan berbagai kendala besar. Kendala itu di antaranya menurunnya permukaan air tanah, laju peningkatan produksi yang mulai stagnan, perubahan iklim yang mengacaukan pola budidaya, meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman, serta degradasi dan erosi tanah yang terjadi di hampir semua negara di dunia.
Permasalahan pangan di Indonesia tak kalah pelik. Terabaikannya pembangunan sektor pertanian dan pangan pasca Reformasi menyebabkan kita kian dalam masuk jurang impor pangan yang menghambat upaya mandiri di bidang pangan dan mengorbankan petani kecil.
Impor pangan yang semakin membesar selama sepuluh tahun terakhir ini merupakan kenyataan. Selama periode pemerintahan terakhir, impor pangan
180
dibandingkan dengan tahun 2004 meningkat tajam. Beras meningkat 482,6 persen; daging sapi 349,6 persen; cabai 141,0 persen; gula 114,6 persen; bawang merah 99,8 persen; jagung 89,0 persen; kedelai 56,8 persen dan gandum 45,2 persen (DA Santosa, Kompas, 26/3/2014, diolah dari Bappenas 2014 dan USDA 2014). Ironisnya anggaran sektor pangan dan pertanian selama sembilan tahun terakhir ini meningkat 611 persen.
Selain itu, petani kecil selama ini hanya menjadi obyek kebijakan. Petani terpaksa harus mencari upaya untuk menyelamatkan diri sendiri. Spekulasi dan serbuan produk impor telah mengempaskan puluhan ribu petani hortikultura karena harga hortikultura yang jatuh saat panen. Harga cabai selama dua bulan jatuh di bawah biaya produksi karena masuknya cabai olahan impor yang menyebabkan petani merugi puluhan juta rupiah per hektar (Kompas, 7/7/2014).
Petani tebu juga menghadapi hal yang sama. Gula rafinasi yang diimpor masuk ke pasar bebas dan persetujuan impor gula kristal putih oleh Kementerian Perdagangan (10/7/2014) menghancurkan harga gula di tingkat petani justru ketika petani tebu mulai memasuki panen raya.
Siklus itu terus berulang setiap tahun dan terjadi di hampir semua komoditas, baik bawang merah, bawang putih, kedelai, jagung, beras, ikan, maupun garam.
Karena harga pangan merupakan penyumbang inflasi terbesar, perlindungan harga di tingkat konsumen menjadi kebijakan utama yang ditempuh pemerintah.
Kecenderungan ini sungguh mengkhawatirkan, apalagi pada 2015 Indonesia memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN. Hambatan tarif dan nontarif akan dihilangkan dan prosedur karantina akan diintegrasikan melalui ASEAN Single Window. Bahan pangan maupun pangan olahan yang diimpor melalui salah satu negara akan dengan bebas masuk ke pasar terbesar ASEAN, yaitu Indonesia, tanpa hambatan. Petani dan nelayan kecil semakin dibenturkan sistem perdagangan pangan dan pertanian yang tak adil bagi mereka. Dengan demikian, perlu upaya luar biasa keras sehingga program luhur kedaulatan pangan bisa benar-benar terwujud.
Dalam pelaksanaannya sektor pangan ditanah air dihadapkan kepada banyak permasalahan diantaranya adalah kelangkaan pupuk saat musim tanam, masalah jaringan irigasi, masalah jatuhnya harga gabah saat musim tanam dan sejumlah permasalahan paska panen.
Kondisi-kondisi tersebut yang mendorong perlunya pengawasan Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, untuk dapat memberikan masukan dan perbaikan kepada Pemerintah dalam penyiapan sarana dan prasarana Pangan, penyempurnaan pembangunan infrastruktur dan kebijakan berkait kepada Pangan.
Pengawasan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan didasarkan kepada beberapa data dan fakta dilapangan, hasil penyerapan aspirasi masyarakat dan daerah, beberapa kajian dan pencermatan secara profesi yang diperoleh dari berbagai narasumber melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) baik
dari akademisi maupun dari lintas profesi, yang diharapkan mampu tereksekusi sesuai dengan target-target yang telah ditetap sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.
2. TUJUAN
Adapun tujuan dari pengawasan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan ini adalah:
a. Untuk mengetahui sejauh mana Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya berkualitas.
b. Untuk mengindentifikasi kendala-kendala yang dihadapi terkait dengan pelaksanaan undang-undang tersebut.
c. Sejauh mana diperlukan aturan pendukung yang merupakan turunan dari undang-undang tersebut baik dalam bentuk Peraturan Presiden, Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Daerah sebagai implementasi atas Undang- Undang tersebut.
d. Terwujudnya sistem dan tata kelola Pangan yang baik dan berkualitas yang mampu memberikan perlindungan bagi petani dan pengguna jasa Pangan.
e. Perlunya merumuskan kebijakan Pangan yang ideal dan berbasis kepada kebutuhan masa depan.
3. Obyek
Obyek Pengawasan DPD RI adalah Undang Undang No. 18 tahun 2012 tentang Pangan.
4. Dasar Hukum Pengawasan
Pengawasan Undang-Undang merupakan salah satu fungsi DPD RI dan mengacu kepada ketentuan perundangan sebagai berikut:
a. Pasal 22D Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945);
b. Pasal 248 ayat 1 huruf (d) UU No.17 tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD;
c. Keputusan DPD RI Nomor 1 tahun 2014 tentang tata tertib.
5. Mekanisme Pengawasan
Mekanisme Pengawasan UU 18 tahun 2012 tentang Pangan adalah :
a. Pasal 224 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 menegaskan bahwa salah satu tugas dan wewenang DPD RI adalah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber
182
daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama. Oleh karena itu, DPD RI memiliki kewenangan untuk menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang tertentu dalam rangka melakukan monitoring/pemantauan atas pelaksanaan undang-undang tertentu;
b. Mekanisme pengawasan tersebut dilaksanakan melalui penyerapan aspirasi dan menampung pengaduan masyarakat dan daerah serta kunjungan kerja ke beberapa daerah termasuk melakukan dialog langsung dengan konstituen dan masyarakat umum di daerah. Secara teknis prosedural hal tersebut dilakukan lewat wawancara atau dialog, Rapat Dengar Pendapat, Diskusi kelompok terfokus baik dengan instansi pemerintah daerah, organisasi di daerah, dan elemen masyarakat yang menjadi subjek pengawasan serta melakukan kunjungan langsung ke lokasi terkait;
6. Anggaran
Seluruh biaya atas kegiatan dan upaya pengawasan pelaksanaan UU ini dibebankan kepada Anggaran Rutin DPD RI yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
BAB 2
PELAKSANAAN PENGAWASAN 1. Subyek Pengawasan
Subyek pengawasan pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dilakukan oleh anggota DPD RI, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki berdasarkan Pasal 248 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa salah satu fungsi DPD RI adalah dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang- undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama.
2. Objek Pengawasan
Objek pengawasan adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dan peraturan pelaksananya.
3. Metode Pengawasan
Metode pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dilakukan dengan metode kualitatif menggunakan instrumen pengawasan.
4. Instrumen Pengawasan
Instrumen pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan meliputi :
1. Rapat Dengar Pendapat (RDP)
Instrumen pengawasan yang dipergunakan dalam rapat dengar pendapat meliputi tanya jawab, dialog dan diskusi antara DPD RI dengan para pemangku kepentingan (stake holders). Hasil rapat dengar pendapat selanjutnya diinventarisir ke dalam identifikasi masalah.
Rapat Dengar Pendapat dilakukan dengan mengundang narasumber Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Direktur Utama Perum BULOG, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Gizi Indonesia (Persagi).
2. Kunjungan Kerja
Kunjungan kerja dilakukan untuk memperoleh gambaran yang sebenarnya tentang kondisi di lapangan terkait dengan berbagai permasalahan pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Permasalahan tersebut mengemuka baik pada saat pelaksanaan rapat dengar pendapat maupun berdasarkan hasil penyerapan aspirasi masyarakat daerah.
184
Instrumen pengawasan yang dipergunakan dalam rangka kunjungan kerja meliputi hasil identifikasi masalah seputar pelaksanaan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan beserta peraturan pelaksanaannya yang dirumuskan dalam bentuk daftar pertanyaan.
Selanjutnya daftar pertanyaan tersebut diklarifikasi melalui dialog dan tinjauan lapangan dengan para pelaksana dan para pemangku kepentingan (stake holders) di tingkat daerah.
3. Kajian Yuridis Formal
Kajian yuridis formal Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang dilakukan dengan analisis terhadap pasal demi pasal yang terkait dengan pangan.
Instrumen pengawasan yang digunakan dalam melakukan kajian yuridis meliputi :
a. penyerapan aspirasi masyarakat yang terkait dengan Pangan;
b. hasil identifikasi masalah yang mengemuka pada saat rapat dengar pendapat; dan
c. hasil klarifikasi para pelaksana dan para pemangku kepentingan (stake holders) di tingkat daerah yang diperoleh pada saat kunjungan kerja.
5. Waktu dan Tempat Pengawasan
Pengawasan pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dilakukan pada Masa Sidang IV Tahun Sidang 2014- 2015.
Tempat pelaksanaan pengawasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dilakukan di 2 (dua) provinsi yaitu : Provinsi Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.
BAB 3
HASIL PENGAWASAN
Berdasarkan temuan-temuan dan hasil kunjungan kerja ke beberapa daerah atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, dapat dirumuskan hasil pengawasan sebagai berikut;
1. Untuk mewujudkan ketahanan pangan maka Pemerintah harus memulai dengan membuat perencanan bidang pangan nasional. Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan mengamanatkan bahwa Perencanaan Pangan harus terintegrasi dalam rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah.
Terkait dengan perencanaan pangan nasional, DPD RI melihat belum adanya sinkronisasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam menyusun Rencana Pangan. Bappenas telah menyusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) Tahun 2010-2015. Namun banyak juga daerah yang belum menyusun rencana pangan daerah.
2. Pada tahun 2015, Kementerian Pertanian mendapat pagu alokasi anggaran sebesar Rp 32,81 triliun, yang terdiri dari APBN murni sebesar Rp 15,88 triliun dan APBN-P sebesar Rp. 16,93 triliun.
Sasaran capaian pada tahun 2015 adalah : (1) peningkatan ketersediaan pangan bersumber produksi dalam negeri : produksi Padi sebesar 73,4 juta ton; Jagung 20,33 juta ton; Kedelai 1,20 juta ton; gula 2,97 juta ton; dan daging sapi 0,55 juta ton karkas atau 0,41 juta ton meat yield; (2) terehabilitasinya jaringan irigasi 2,6 juta ha; (3) terbangunnya optimasi lahan seluas 1,03 juta ha; dan (4) perluasan perkebunan kakao dan komoditas strategis lainnya seluas 210 ribu ha.
Program ini direncanakan dalam rangka melaksanakan amanat pasal 12 ayat 5 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan bahwa untuk mewujudkan Ketersediaan Pangan melalui Produksi Pangan dalam negeri dilakukan dengan : a. mengembangkan Produksi Pangan yang bertumpu pada sumber daya,
kelembagaan, dan budaya lokal;
b. mengembangkan efisiensi sistem usaha Pangan;
c. mengembangkan sarana, prasarana, dan teknologi untuk produksi, penanganan pascapanen, pengolahan, dan penyimpanan Pangan;
d. membangun, merehabilitasi, dan mengembangkan prasarana Produksi Pangan;
e. mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif; dan f. membangun kawasan sentra Produksi Pangan.
Dari keseluruhan program-program tersebut, belum terlihat adanya perhatian Pemerintah pada pengembangan produksi pangan lokal sebagai salah satu upaya penganekaragaman pangan.
186
3. Untuk lebih mendorong pencapaian swasembada pangan, Kementerian Pertanian melaksanakan Kegiatan Upaya Khusus (UPSUS) Percepatan Swasembada Dan Peningkatan Produksi Tahun Anggaran 2015 yang meliputi:
1. Rehabilitasi jaringan irigasi tersier :
APBN Refocusing TA 2015 : 1,5 juta ha
APBN-P TA 2015 : 1,1 juta ha 2. Percepatan Optimasi Lahan :
APBN Refocusing TA 2015 : 500 ribu ha
APBN-P TA 2015 : 530 ribu ha 3. Bantuan Benih = 3,6 juta ha (77.000 ton) 4. Bantuan Pupuk = 3,6 juta ha (205.418 ton) 5. Bantuan Alsintan = 60.303 unit
6. Pendampingan Penyuluh di 32 Provinsi
Terkait dengan Upaya Khusus (UPSUS) Percepatan Swasembada Dan Peningkatan Produksi Pangan Tahun Anggaran 2015, Kementerian Pertanian telah menetapkan Permentan No. 130/Permentan/ SR.130/11/2014 tentang Kebutuhan Dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2015 dengan alokasi subsidi pupuk sebesar 9,550 juta ton. Alokasi dimaksud belum sesuai dengan kebutuhan seperti yang tersebut dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sebesar 13,5 juta ton, sehingga masih terjadi selisih sebesar 3,45 juta ton.
4. Menyangkut produksi pupuk oleh pabrik pupuk BUMN, ditemukan fakta bahwa BUMN Pupuk (PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Iskandar Muda) saat ini hanya memproduksi pupuk bersubsidi dan tidak melayani permintaan pupuk dari korporasi khususnya di sektor perkebunan. Yang menjadi pertanyaan, darimana perkebunan-perkebunan besar memperoleh pupuk. Secara ekonomi, mereka tidak mungkin memperoleh pupuk non subsidi. Ini karena disparitas harga antara pupuk subsidi dan non subsidi mencapai 3 kali lipat. Dari sisi bisnis, tentu ini tidak menguntungkan. Kemungkinan ini bisa saja terjadi, mengingat daerah yang mengalami kelangkaan pupuk bersubsidi, pada umumnya daerah-daerah yang memiliki perkebunan besar.
5. Komite II DPD RI menengarai adanya kebocoran dari distribusi pupuk bersubsidi akibat adanya permainan antara distributor-distributor dengan para pihak-pihak tertentu. Apalagi secara riil, distributor ikut menentukan jumlah kebutuhan pupuk bersubsidi yang diusulkan dalam RDKK.
6. Pasal 11 huruf f UU Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan mengamanatkan adanya Penganekaragaman Pangan. Penganekaragaman Pangan dimaknai sebagai upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi Pangan yang beragam,
bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal. Masih tingginya ketergantungan masyarakat dalam konsumsi beras atau nasi menunjukan bahwa penganekaragaman pangan khususnya pangan lokal belum berhasil. Pemerintah dan pemerintah daerah juga belum berhasil mengembangkan potensi-potensi pangan lokal sebagai bahan pangan alternatif selain beras.
7. Tindakan pencegahan dalam rangka pengawasan keamanan pangan masih terfragmentasi. Selain itu pengawasan atas keamanan pangan masih terkendala oleh terbatasnya jumlah sumber daya manusia, terbatasnya pengawasan pangan berbasis iptek sehingga masih bersifat konvensional dan belum memberdayakan stakeholder.
8. Komite II menemukan masih rendahnya tindak lanjut atas rekomendasi dari BPOM kepada pemda, misalnya Balai besar POM Mataram memberikan 176 surat rekomendasi untuk pembinaan terhadap pelaku usaha pangan ditanggapi oleh Dinas Kesehatan sebanyak 78 surat. Minimnya respon ini menghawatirkan mengingat situasi ini terkait dengan keamanan pangan. Dalam Pasal 67 dijelaskan bahwa :
1) Keamanan Pangan diselenggarakan untuk menjaga Pangan tetap aman, higienis, bermutu, bergizi, dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat.
2) Keamanan Pangan dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.
9. DPD RI menemukan masih rendahnya tidak lanjut untuk penyelesaian permasalahan ketersediaan, distribusi, aspek-aspek konsumsi serta aspek-aspek lain dalam keseluruhan Framework pangan nasional, termasuk tidak lanjut dari hasil penelitian yang meliputi aspek-aspek berikut ini:
Gambar 1. Aspek-aspek dalam penelitian Sumber: Badan Ketahanan Pangan
188
10. Masih banyak ditemukan makanan kedaluwarsa. Makanan kedaluwarsa ini banyak beredar di daerah jauh dari sentral produksi dan distribusi serta sulitnya akses transportasi, seperti Jayapura, Ambon, Kupang dan lain-lain. Jenis produk yang paling banyak ditemukan kedaluwarsa meliputi : minuman ringan, makanan ringan, biskuit, mie instant, kopi, susu UHT, susu bubuk.
11. Banyak ditemukan produk yang rusak, terutama di daerah yang jauh dari sentral produksi/distribusi. Kondisi tersebut diperparah karena handling yang tidak baik selama transportasi dan penyimpanan seperti di Mataram, Makassar dan Ambon.
Produk rusak umumnya susu kental manis, ikan dalam kaleng, minuman ringan, susu UHT, mie instant, makanan ringan.
12. Tantangan pengawasan keamanan pangan adalah area pengawasan yang luas, terbatasnya jumlah tenaga pengawas pangan, perlu kordinasi lintas sektoral dan minimnya tanggapan dari pemerintah daerah dalam menindaklanjuti surat rekomendasi BPOM.
13. Terjadi keterlambatan penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP).
Saat ini pemerintah sedang menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Keamanan dan Mutu Pangan dan RPP Label dan Iklan Pangan diharapkan tahun ini dapat diselesaikan.
14. Pemerintah sampai saat ini belum membentuk Lembaga Pemerintah di Bidang Pangan, sesuai dengan Pasal 128 Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Jika sudah terbentuk Lembaga Pemerintah Bidang pangan dibawah Presiden maka lembaga ini dapat merekomendasikan kepada Presiden agar Bulog berperan sebagai operator atau pelaksana produksi, pengadaan, penyimpanan dan distribusi pangan pokok.
15. Terjadinya persaingan harga beras di pasar karena ada peranan swasta yang masuk sehingga di pasar beredar beras dengan harga Bulog (yang ditentukan HPP oleh pemerintah) dan beras dari swasta yang harganya tidak terkena HPP.
Bulog ditugaskan memupuk beras cadangan pemerintah sekitar 4 - 4,5 juta ton.
Saat beras berada di atas HPP, petani sangat diuntungkan namun bagi Bulog, harga beras di atas HPP sangat menyulitkan dalam memenuhi tugas pemerintah membeli beras sebagai cadangan pangan nasional.
16. Terjadinya keterlambatan Bulog dalam melakukan intervensi langsung ke pasar karena tidak adanya kewenangan Bulog dalam memutuskan perlu atau tidaknya operasi pasar. Regulator operasi pasar adalah Menko Perekonomian dan Menteri Perdagangan, sedangkan Bulog bersama pemerintah daerah berperan sebagai operator. Pada saat harga beras tinggi, Bulog tidak bisa intervensi langsung ke pasar karena menunggu perintah dari Menteri Perdagangan.
17. Kurang transparannya penganggaran dalam pengadaan beras yang dilakukan Bulog dengan Mitra. Belum ada transparansi berapa margin keuntungan mitra Bulog dalam membeli beras ke petani. Hal penting diketahui karena dalam
mendapatkan gabah Bulog harus bermitra, mitra Bulog bekerja berdasarkan HPP jadi bagaimana mitra kerja bertransaksi dengan Bulog jika harga berdasarkan HPP.
18. Hal-hal strategis yang belum diakomodir dalam UU Pangan antara lain perlu pengaturan keamanan produk ekspor, belum ada pengawasan pada saat kondisi darurat, sanksi pelanggaran masih lemah, visibility belum diakomodir karena selama ini jaminan diberikan oleh pelaku usaha bukan pemerintah.
19. Minimnya peran Bulog dalam mengembangkan sistem resi gudang berdasarkan standar ISO. Sistem resi gudang berdasarkan standar ISO baru dibangun di Banten.
20. Bulog belum memiliki sarana pengeringan seperti swasta sehingga Bulog melakukan seleksi yang ketat setiap membeli beras petani dengan membeli beras yang kandungan air sedikit karena akan berpengaruh dalam penyimpanan.
21. BULOG kesulitan dalam menyerap produk petani berupa gabah/beras karena harga selalu di atas HPP yang ditetapkan Inpres No.5 Tahun 2015.
22. BULOG kesulitan karena menanggung beban bunga dalam jumlah besar karena dana yang digunakan untuk penyerapan harga beras menggunakan dana perbankan di awal.
23. BULOG mengalami kondisi yang dilematis. Di satu sisi, BULOG harus menjamin stock yang cukup dan aman. Di sisi lainnya, dalam penyerapan gabah/beras dibatasi oleh HPP dan persyaratan teknis lainnya. Dimana BULOG tidak dapat membeli gabah/beras petani yang harganya di atas HPP karena fungsi BULOG sebagai penyangga/stabilisasi harga di tingkat petani/produsen (BULOG membeli gabah/beras maksimal sama dengan HPP atau bila harga di bawah HPP).
24. Bulog mengalami kesulitan mengingat banyaknya instansi pemberi tugas.
Instansi/kelembagaan pemberi penugasan publik banyak yaitu 2 (dua) Menko dan 4 (empat) Menteri.
25. BULOG sampai dengan saat ini belum memiliki sarana penanganan pasca panen yang memadai dan modern. Hal ini berpengaruh pada terbatasnya daya serap Bulog terhadap produksi petani.
26. Kurang efektifnya pengawasan. Pengawasan tersebut dilakukan terhadap produk- produk yang telah diberlakukan standar wajib, pencantuman label dalam Bahasa Indonesia, pencantuman petunjuk penggunaan (manual) dan kartu garansi dalam Bahasa Indonesia serta pengawasan terhadap distribusi Bahan berbahaya, Gula kristal rafinasi, Minuman beralkohol, Pupuk bersubsidi dan Beras. Secara lebih spesifik, pengawasan harus dilakukan terhadap produk-produk yang sudah ber- SNI.
190
27. DPD RI menemukan bahwa tantangan dan peluang pembangunan gizi di Indonesia meliputi;
a. Masalah gizi kurang akan dapat ditanggulangi, sementara itu prevalensi stunting masih akan tinggi, dan prevalensi gizi lebih akan terus meningkat.
b. Tingkat daya beli masyarakat akan terus meningkat, kesenjangan antara miskin dan non-miskin masih akan tetap ada.
c. Perubahan struktur demografi, baik yang berkaitan dengan urbanisasi dan semakin meningkatnya proporsi penduduk lansia. Keamanan pangan karena banyak industri makanan rumah tangga.
d. Perubahan gaya hidup meliputi;
Kebiasaan makan diluar rumah dan konsumsi pangan olahan meningkat
Makan tidak seimbang, tinggi minyak/lemak, gula, karbohidrat, rendah sayur, buah, pangan hewani
Ancaman keamanan pangan karena banyak industri makanan rumah tangga.
e. Variasi dan komplikasi penyakit yang memerlukan diet khusus yang disesuaikan dengan perkembangan IPTEK gizi.
f. Penggunaan Akreditasi Rumah Sakit 2012, menuntut tersedianya tenaga gizi kompeten dan tersertifikasi.
g. Pasar bebas yang memberi kemungkinan ahli gizi dari negara lain praktek di Indonesia.
28. Terdapat 27 pasal yang mengamanatkan pembentukan Peraturan Pemerintah (PP). Dengan demikian maka UU ini mengamanatkan kepada pemerintah untuk menetapkan 27 PP. Pemerintah selalu melampaui tenggat waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang dalam menyelesaikan suatu PP. Pasal 150 UU Pangan,
“Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan”.
Tabel 1
Pasal UU Pangan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah 1 Pasal 37 ayat 2
Ketentuan mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
2 Pasal 43 Ketentuan lebih lanjut mengenai Penganekaragaman Pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dan Pasal 42 diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
3 Pasal 48 ayat 2
Ketentuan lebih lanjut mengenai distribusi Pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
4 Pasal 52 ayat 2
Ketentuan mengenai mekanisme, tata cara, dan jumlah maksimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan atau berdasarkan pada Peraturan Pemerintah.
5 Pasal 54 ayat 3
Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
6 Pasal 65 ayat 3
Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
7 Pasal 66 Ketentuan mengenai persyaratan khusus tentang komposisi, persyaratan perbaikan, atau pengayaan Gizi dan tata cara pengolahan Pangan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
8 Pasal 71 ayat 3
Ketentuan mengenai Persyaratan Sanitasi dan jaminan Keamanan Pangan dan/atau keselamatan manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
9 Pasal 72 ayat 3
Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
10 Pasal 75 ayat 2
Ketentuan mengenai ambang batas maksimal dan bahan yang dilarang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
11 Pasal 76 ayat (3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
12 Pasal 77 ayat (4)
Ketentuan mengenai tata cara memperoleh persetujuan Keamanan Pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
192
13 Pasal 78 ayat (2)
Ketentuan mengenai persyaratan dan prinsip penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan metode Rekayasa Genetik Pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
14 Pasal 79 ayat (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
15 Pasal 81 ayat (3) Ketentuan mengenai pemenuhan izin Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
16 Pasal 83 ayat (3) Ketentuan mengenai Kemasan Pangan, tata cara pengemasan Pangan, dan bahan yang dilarang digunakan sebagai Kemasan Pangan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
17 Pasal 85 ayat (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
18 Pasal 86 ayat (6) Ketentuan mengenai standar Keamanan Pangan dan Mutu Pangan diatur dalam Peraturan Pemerintah.
19 Pasal 87 ayat (3) Ketentuan mengenai persyaratan pengujian laboratorium diatur dalam Peraturan Pemerintah.
20 Pasal 88 ayat (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan Keamanan Pangan dan Mutu Pangan Segar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
21 Pasal 94 ayat(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
22 Pasal 102 ayat (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, besaran denda, tata cara, dan mekanisme pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
23 Pasal 103 Ketentuan lebih lanjut mengenai label Pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 sampai dengan Pasal 101 diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
24 Pasal 107 Ketentuan lebih lanjut mengenai iklan Pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 dan Pasal 105 diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
25 Pasal 112 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 sampai dengan Pasal 110 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
26 Pasal 116 Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi Pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 sampai dengan Pasal 115 diatur dalam Peraturan Pemerintah.
27 Pasal 131 ayat (2) Ketentuan mengenai tata cara penyampaian permasalahan, masukan, dan/atau cara penyelesaian Masalah Pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Berdasarkan penelurusan DPD RI , terdapat 4 Peraturan Pemerintah (PP) yang terpublikasikan dalam situs resmi Badan Ketahanan Pangan terkait dengan UU Pangan yaitu
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesai Nomor 17 Tahun 2015 Tentang Ketahanan Pangan dan Gizi
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1999 Tentang Label Dan Iklan Pangan
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2002 Tentang Ketahanan Pangan.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 Tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
194
BAB 4
REKOMENDASI HASIL PENGAWASAN
Berdasarkan hasil pengawasan pada Bab 3, maka rumusan rekomendasi hasil pengawasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan adalah sebagai berikut :
1. DPD RI merekomendasikan agar pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota serta pemerintah di tingkat desa segera bersinergi mendorong percepatan realisasi penganekaragaman pangan lokal, sehingga ketergantungan terhadap besar sebagai makanan pokok bisa dikurangi. Dorongan untuk mengembangkan pangan-pangan lokal ini disertai dengan kebijakan alokasi APBN yang cukup.
2. Dalam mendorong ketahanan pangan dan penganekaragaman pangan, DPD RI mendorong agar supaya penelitian pangan tidak hanya fokus pada budidaya dan peningkatan produktivitas varietas (misalnya) padi, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber bahan pangan lainnya.
3. DPD RI mendorong agar supaya pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota untuk kembali ke kebijakan dasar pangan yaitu kebijakan yang fokus pada aspek-aspek mendasar dari pangan yang meliputi (a) Produsen yang terkait dengan tanah, air, benih, sinar matahari, manusia (petani), (b) Konsumen agar mendapatkan pangan sehat.
4. DPD RI merekomendasikan agar supaya anggaran untuk produksi pupuk bersubsidi sebaiknya dialihkan kepada subsidi harga komoditas pertanian yang akan langsung dinikmati petani. Subsidi harga ini akan lebih menjamin bahwa alokasi anggaran subsidi akan benar-benar sampai ke petani. Sampel di lapangan yang dilakukan melalui dengar pendapat dengan Kelompok Tani di Aceh dan Bali menyimpulkan bahwa petani lebih suka subsidi harga daripada subsidi pupuk.
Selama ini subsidi pupuk justru menyebabkan kelangkaan pupuk di pasaran.
5. DPD RI juga merekomendasikan agar supaya subsidi juga dapat dialihkan untuk pembangunan infrastruktur pendukung produksi dan distribusi hasil pertanian.
Yang diperlukan para petani adalah akses sarana produksi, transportasi dan kemudahan pasar. Para petani banyak menderita karena dikuasai tengkulak. Hal itu sebagai dampak akses pasar yang sulit dan pasar monopoli akibat adanya aksi para tengkulak yang terus terjadi. Jika pemerintah membangun infrastruktur pedesaan, seperti jalan dan irigasi, ini akan lebih terasa manfaatnya. Sebab ini akan membuat petani semakin mandiri, terutama di wilayah-wilayah pedalaman.
6. Kegiatan lain yang bisa dilakukan dari pengalihan subsidi adalah program pendidikan dan pelatihan ketrampilan. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia merupakan kendala yang serius dalam pembangunan pertanian. Tingkat pendidikan dan keterampilan petani yang masih rendah memerlukan latihan, khususnya pada aspek yang bersifat praktis dan langsung berhubungan dengan
aktivitas usaha ekonomi petani
7. DPD RI mendorong agar supaya ada upaya peningkatan tindakan pencegahan, dikembangkan system pengawasan kondisi darurat, memperluas pengawasan pangan berbasis iptek dan mulai mengurangi pengawasan yang masih konvensional dan belum memberdayakan stakeholder lokal.
8. DPD RI merekomendasikan agar Pemerintah mempercepat penyelesaian RAN PG atau Kebijakan Stategis Pangan dan Gizi (KSPG) serta mengintegrasikannya dalam RPJM dan RAPBN.
9. DPD RI merekomendasikan agar supaya pemda meningkatkan responya terhadap rekomendasi BPOM.
10. DPD RI mendorong agar supaya meningkatkan pengawasan terhadap makanan kedaluwarsa. Makanan kedaluwarsa ini banyak beredar di daerah jauh dari sentral produksi dan distribusi serta sulitnya akses transportasi, seperti Jayapura, Ambon, Kupang. Jenis produk yang paling banyak ditemukan kedaluarsa : minuman ringan, makanan ringan, biskuit, mie instant, kopi, susu UHT, susu bubuk.
11. DPD RI merekomendasikan agar ditingkatkan pengawasan terhadap produk pangan yang rusak. Produk yang rusak banyak beredar di daerah jauh dari sentral produksi/distribusi dan handling buruk selama transportasi dan penyimpanan seperti Mataram, Makassar dan Ambon. Kondisi tersebut diperparah karena handling yang tidak baik. Produk rusak umumnya susu kental manis, ikan dalam kaleng, minuman ringan, susu UHT, mie instant, makanan ringan.
12. DPD RI mendorng agar supaya BPOM memperluas area pengawasan. Tantangan pengawasan keamanan pangan adalah area pengawasan yang luas, terbatasnya jumlah tenaga pengawas pangan, perlu kordinasi lintas sektoral dan minimnya tanggapan dari pemerintah daerah dalam menindaklanjuti surat rekomendasi BPOM.
13. Agar supaya kegiatan pengawasan lebih efektif maka DPD RI merekomendasikan agar diadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat agar dapat mengenali makanan yang kedaluwarsa dan mengandung bahan-bahan berbahaya.
14. DPD RI mendorong agar ada upaya-upaya untuk meningkatkan komitmen pemda/
lintas sektor komunitas pasar dan stakeholder. Upaya-upaya tersebut antara lain:
a. Advokasi untuk membangun komitmen pemda/lintas sektor di daerah
b. Inisiasi penyediaan peralatan pendukung dalam rangka pengawasan bahan berbahaya di Pasar Contoh. Diharapkan kegiatan serupa di pasar lain dapat dilanjutkan dikembangkan oleh Pemda setempat.
c. Pelatihan Fasilitator Program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya
15. DPD RI merekomendasikan agar dikembangkan program Peningkatan pengetahuan komunitas pasar yang meliputi:
196
a. Penyuluhan kepada pedagang yang menjual pangan dan bahan pangan.
b. Kampanye kepada masyarakat, antara lain dengan pemutaran film layanan masyarakat, pemutaran spot iklan di radio komunitas pasar dan penyebaran informasi.
16. DPD RI merekomendasikan agar supaya pemerintah mengembangkan Replikasi Pasar Aman dari Bahan Berbahaya melalui kegiatan:
a. Pemberdayaan fasilitator program yang telah dilatih
b. Membangun kemitraan dengan Pemerintah Daerah serta pelaku usaha yang memiliki program CSR untuk kegiatan sosial kemasyarakatan agar turut melakukan replikasi model pasar contoh.
17. DPD RI merekomendasikan agar dilakukan Pengembangan Monitoring dan Evaluasi.
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan oleh gugus tugas yang dibentuk di Pusat dan daerah, dengan mengacu pada Pedoman Monitoring dan Evaluasi yang diperbaharui secara terus menerus, agar intervensi yang dilakukan dapat lebih optimal.
18. DPD RI merekomendasikan agar supaya penelitian yang dikembangkan, tidak hanya budidaya dan peningkatan produktivitas varietas (misalnya) padi, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber bahan pangan lainnya.
19. DPD RI merekomendasikan agar pemerintah mempercepat penyusunan Peraturan Pemerintah yang diamanatkan UU Pangan. Hal ini penting direalisasikan untuk menghindari keterlambatan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP). Saat ini pemerintah sedang menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Keamanan dan mutu dan RPP Label dan Iklan Pangan diharapkan tahun ini dapat diselesaikan.
20. DPD RI merekomendasikan agar pemerintah segera Lembaga Pemerintah di Bidang Pangan. Sampai saat ini Pemerintah belum membentuk Lembaga Pemerintah di Bidang Pangan. Dengan pembentukan Lembaga Pemerintah di Bidang Pangan dibawah Presiden maka akan dapat membangkitkan kembali peran Bulog sebagai operator atau pelaksana produksi, pengadaan, penyimpanan dan distribusi pangan pokok.
21. DPD RI mendorong agar Bulog melakukan efisiensi di berbagai lini agar bisa bersaing dengan sektor swasta. Hal ini penting dilakukan karena saat ini sedang terjadi persaingan harga beras di pasar karena ada peranan swasta yang masuk sehingga di pasar beredar beras harga beras Bulog yang ditentukan HPP oleh pemerintah dan beras yang dari swasta yang harganya tidak terkena HPP. Bulog ditugaskan memupuk beras cadangan pemerintah sekitar 4 - 4,5 juta ton saat beras berada di atas harga HPP sangat menguntungkan petani namun di sisi Bulog untuk memenuhi tugas pemerintah mengalami kesulitan mendapatkan beras karena bersaing dengan swasta.
22. DPD RI merekomendasikan agar supaya Bulog mempercepat melakukan intervensi pasar sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Saat ini terjadinya keterlambatan Bulog dalam melakukan intervensi langsung ke pasar. Hal ini terjadi karena pada operasi pasar yang berperan regulator adalah Menko Perekonomian dan Menteri Perdagangan, sedangkan Bulog sebagai operator bersama pemda. Pada saat harga beras tinggi, Bulog tidak bisa intervensi langsung ke pasar karena menunggu perintah dari Menteri Perdagangan.
23. Perlunya tranparasi anggaran yang dialokasikan ke mitra Bulog dalam pengadaan beras, khususnya terkait margin keuntungan diberikan kepada mitra. Kurang transparannya penganggaran dalam pengadaan beras yang dilakukan Bulog dengan Mitra membuat masyarakat sulit ikut berpartisipasi dalam pengawasi program ini.
24. DPD RI merekomendasikan agar hal-hal strategis yang belum diatur dalam UU Pangan segera dimasukkan ke dalam agenda Revisi UU Pangan. Hal-hal strategis yang belum diakomodir dalam UU Pangan antara lain perlu pengaturan keamanan produk ekspor, belum ada pengawasan pada saat kondisi darurat, sanksi pelanggaran masih lemah, visibility belum diakomodir karena selama ini jaminan diberikan oleh pelaku usaha belum pemerintah.
25. DPD RI mendorong agar Bulog memperluas pembangunan sistem resi Gudang berstandarkan ISO di banyak daerah di Indonesia. Saat ini Sistem resi gudang berdasarkan standar ISO baru dibangun di Banten.
26. DPD RI merekomendasikan agar pemerintah memberikan anggaran yang cukup agar Bulog menambah sarana pengeringan. Saat ini Bulog belum ada sarana pengeringan seperti swasta sehingga Bulog melakukan seleksi yang ketat setiap membeli beras petani dengan membeli beras yang kandungan air sedikit karena akan berpengaruh dalam penyimpanan.
27. DPD RI merekomendasikan agar supaya dirumuskan HPP yang tidak tunggal atau HPP yang disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing daerah, sehingga dapat memberikan fleksibilitas dalam melakukan penyerapan gabah/beras.
28. DPD RI merekomendasikan agar supaya untuk pendanaan penugasan publik, dana APBN diberikan di muka, sehingga tidak perlu menggunakan dana perbankan.
29. Setelah mengkaji keadaan Bulog lebih dalam lagi maka DPD RI merekomendasikan agar supaya penugasan pengadaan dengan keadaan pasar sekarang disertai dengan jaminan pembelian kembali agar supaya Bulog terhindar dari kebangkrutan.
30. DPD RI merekomendasikan agar supaya dilakukan kajian dan evaluasi lebih mendalam terhadap fungsi Bulog. Bulog jangan lagi menjadi perusahaan yang mencari keuntungan tapi harus menjadi penyangga stabilitas pangan nasional.
198
31. DPD RI merekomendasikan agar penyusunan PP yang diamanatkan oleh Undang- Undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan segera diselesaikan. Mengacu pada Pasal 150 UU Pangan, “Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan”.
BAB V PENUTUP
Demikian Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia terhadap Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan yang telah dilakukan oleh DPD RI.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 Juli 2015 DEWAN PERWAKILAN DAERAH
REPUBLIK INDONESIA PIMPINAN
Ketua,
IRMAN GUSMAN Wakil Ketua,
G.K.R. HEMAS
Wakil Ketua,
Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD