PENGOBATAN TRADISIONAL TOTOK DARAH PERGURUAN SILAT WALET PUTI
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial
Dalam Bidang Antropologi
DISUSUN OLEH:
M.Syarifuddin.Harahap 130905021
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PERNYATAAN ORIGINALITAS
PENGOBATAN TRADISIONAL TOTOK DARAH PERGURUAN SILAT WALET PUTI
SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak pernah saya nyatakan di sini, saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan saya.
Medan, Maret 2017
...
ABSTRAK
M. Syarifuddin Harahap (130905021) 2017, judul skripsi: Pengobatan Tradisional Totok Darah Perguruan Silat Walet Puti. Skripsi ini terdiri dari 5 bab, 101 halaman, 1 daftar gambar, 13 foto, daftar pustaka.
Skripsi ini mendeskripsikan tenatang sebuah pengobatan tradisional khas Indonesia, yang dalam prakteknya melakukan penotokan pada beberapa bagian tubuh pasien, dan dalam penotokan menggunakan stik perak sebagai media penyembuhan. Penulis memilih pengobatan ini karena melihat keunikan dan banyaknya minat masyarakat untuk menggunakan metode totok darah tersebut.Pentingnya penelitian ini dilakukan dalam kerangka pemikiran Antropologi adalah untuk mengkaji secara menyeluruh, bagaimana sebenarnya suatu bentuk pengetahuan, atau budaya pengobatan dapat tercipta dari proses non- medis yang biasanya. Kebanyakan masyarakat hanya mengetahui bahwa metode pengobatan hanya diciptakan melalui penelitian medis. Padahal sebenarnya sebelum munculnya pengobatan medis, terlebih dahulu muncul pengobatan tradisional. Sayangnya pengobatan-pengobatan tradisional di masyarakat Indonesia tidak dapat lagi ditelusuri jejak awal terciptanya.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Untuk pengamatan digunakan teknik partisipasi, yakni peneliti memasuki wilayah penelitian (dalam hal ini klinik terapi totok darah Walet Puti) dan merasakan sendiri terapi totok darah Walet Puti untuk mengungkap data hingga mendetail.
Dalam penelitian ini didapati kesimpulan bahwa metode pengobatan terapi totok darah Walet Puti tercipta pada tahun 1970, sejalan dengan dibentuknya perguruan silat Walet Puti. Proses penciptaannya berawal dari ketidaksengajaan dimana dalam kegiatan berlatih silat banyak murid yang mengalami cedera, sehingga Mahaguru yang pada saat itu dijabat oleh bapak Sofyan Ratta mencoba untuk memulihkan kesehatan muridnya dengan cara menotok bagian tubuh muridnya. Hasilnya banyak murid yang merasakan kesehatannya pulih, dan kemudian totok darah tersebut mulai dilakukan kepada masyarakat luas.Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini juga adalah bahwa dari tiap- tiap informan, salah satu penyebab munculnya keinginan untuk memanfaatkan pengobatan alternatif totok darah adalah diakibatkan oleh pengalaman negatif pada sistem pengobatan modern.
Kata-Kata Kunci : Pengobatan Alternative, Totok Darah Walet Puti, Motivasi Pasien
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat-Nya peneliti bisa menyelesaikan skripsi ini pada tepat waktu. Pada bulan ini peneliti telah selesai mengerjakan tugas akhir perkuliahan atau dengan nama lain skripsi. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana S1 pada bidang Antropologi Sosial di Dapartemen Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Perjuangan selama 4 tahun menyelesaikan perkuliahan akhirnya terselesaikan dengan waktu yang tepat.
Skripsi ini membahas tentang Pengobatan Tradisional Totok Darah Perguruan Silat Walet Puti. Skripsi ini dibuat sekitar 3 bulan lamanya. Selama proses penulisan skripsi ini penulis sangat kerepotan, karena penulis sendiri tidak mahir dalam merangkai kata-kata. Namun, atas dukungan, masukan, semangat, dan bimbingan yang mengalir untuk penulis, penulis ucapkan banyak-banyak terima kasih atas dukungan yang diberikan selama pembuatan skripsi ini.
Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada kedua orangtua saya MahyudinHarahapS.Pd dan Nurul KhairRangkutiS.Pd yang selalu memberikan bantuan moral maupun materil kepada penulis. Hanya Tuhan yang bisa membalas jasa ayahdan mama berikan kepada penulis, semoga diberi kesehatan dan umur panjang untuk keduanya. Terimakasih juga kepada adik-adik saya yang selalu memberidukungan dan semangat kepada saya. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada dosen pembimbing penulis yaitu Nurman Achmad, S.sos, M.Soc, Sc yang mana beliau banyak membantu untuk membimbing saya selama perkuliahan maupun selama proses pembuatan skripsi saya. Ucapan terimakasih juga saya ucapkan kepada staf pegawai dan staf pengajar Departemen Antroplogi Sosial, terutamabapak Drs.Lister Berutu M.Asebagai Dosen Pembimbing Akademik. Selanjutnya kepada Kak Nur dan Kak Sofi penulis juga mengucapkan terimakasih telah bersedia membantu kelancaran semua berkas yang penulis
Ucapan terimakasih juga kepada teman-teman Antropologi stambuk 2013, Fadlun Nisa Chan, Selvi Ariska, Pandu Surya, Sahat Reynaldo Sitorus, Andika Nugraha, Nurul HakikiNst, Andira Octavia, Indri Khairani untuk semuanya yang tidak bisa penulis tuliskan satu persatu. Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada teman-teman Perguruan Silat Walet puti DPC Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan saya izin meneliti Totok Darah Walet puti.dan juga Drum Band Gema Musica Al-Hizrah dan para pelatih. Ucapan terimakasih juga peneliti haturkan kepada Rina Indriani, Hilda Loena,Kak Rudy, Bang Wahyu, Bang wawan, Bang Yoda, Bang Bendry, Bang Sapta,juga kepada teman-teman kantor Staf dan pengajar MIS Al-Wasliyah Tanjung Morawa Pekan yang juga memberi saya semangat dan motivasi, dan tak lupa ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada para narasumber dan informan-informan, bapak Sutopo selaku ketua DPC Perguruan Silat Walet Puti Provinsi Sumatera Utara, Bapak Rudy Sanjaya Ratta, Ibu Yani Ratta Sanjaya, Bapak Taufan, Ibu Sarmila,dan Ibu Mila Novita,telah memberikan banyak sekali data dan informasi dari berbagai sudut pandang yang merekamiliki yang mana hal itu membantu penulis dalam menyelesaikan skripsinya.
Medan, Maret 2017 Penulis
M. SyarifuddinHarahap
RIWAYAT HIDUP
M. Syarifuddin Harahap lahir di Tanjung Morawa pada tanggal 27 April 1995. Anak pertama dari tiga bersaudara dari pasanganMahyudin Harahap S.Pd dan Nurul Khair Rangkuti S.pd.
Penulis menamatkan pendidikan Menengah Atas dari SMA Negeri 1 Tanjung Moarawa pada tahun 2013dan melanjutkan pendidikan strata satu di Universitas Sumatera Utara dimana penulis mengikuti SNMPTN (jalur undangan dari sekolah) dan lulus seleksi untuk masuk di Departemen Antropologi Sosial – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Alamat emailpenulis: [email protected]
Pernah berpartisipasi pada beberapa kegiatan Marching Band USU pada tahun2015dan ikut dalam kegiatan Pra-sarasehan JKAI (Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia) Di Universitas Andalas pada tahun 2016.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T atas rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulisan dan penyusunan penelitian ini dilakukan guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial pada bidang antropologi dari Departemen Antropologi. Skripsi ini berjudul “Pengobatan Tradisional Totok Darah Perguruan Silat Walet Puti”
Dalam penulisan skripsi ini banyak hambatan yang dihadapi, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dalam menulis kepustakaan dan materi penulisan. Namun, berkat pertolongan Allah SWT yang memberikan ketabahan, kesabaran dan kekuatan sehingga kesulitan tersebut dapat dihadapi.
Dalam penulisan skripsi ini dilakukan pembahasan secara holistik mengenai pengobatan alternatif totok darah Walet Puti, peneliti disini mengelaborasi beberapa data lapangan yang peneliti peroleh dari pemilik kelinik terapi totok darah Walet Puti, terapis totok darah dan juga pasien yang pernah menjalani pengobatan totok darah Walet Puti. Pembahasan tersebut diuraikan dari bab I sampai dengan bab V. Adapun penguraian yang dilakukan oleh penulis pada skripsi ini adalah :
Bab I penelitian yang dilakukan ini merupakan deksripsi mengenai latar belakang permasalahan penelitian, dimana kajian penelitian ini merupakan kajian mengenai antropologi kesehatan. Pada bab ini dijelaskan bagaimana pentingnya mengangkat permasalahan mengenai terapi totok darah Walet Puti ke suatu bentuk penelitian. Pada bagian ini juga dibahas mengenai konsep-konsep dan teori apa saja yang digunakan dalam menganalisis peneliti ini.
Bab II pada penelitian ini membahas bagaimana sejarah pengobatan alternatif yang ada di Indonesia dan kemudian mengerucut kepada kemunculan
pengobatan alternatif di Kota Medan. Kemudian dilanjutkan menganai pembahasan sejarah terciptanya metode pengobatan totok darah Walet Puti.Hal ini dilakukan peneliti untuk menjelaskan secara linier bagaimana perkembangan pengobatan alternatif tersebut.
Bab III dalam penelitian ini menjelaskan mekanisme dalam pengobatan totok darah Walet Puti. Pada bagian ini dijelaskan secara rinci bagaimana tahapan seseorang akan menjadi terapis totok darah. Pada bagaian ini juga dijelaskan mengenai peralatan-peralatan yang digunakan dalam melakukan totok darah, serta tahapan penotokan yang dilakukan oleh terapis kepada pasien.
Bab IV menjelaskan mengenai pengalaman-pengalaman pasien totok darah Walet Puti. Pada bab ini dijelaskan secara rinci mengenai motivasi para pasien memilih pengobatan tradisional totok darah Walet Puti, dan mengapa lebih memilih pengobatan alternatif totok darah Walet Puti daripada pengobatan secara medis
Bab V memuat kesimpulan dan saran dari hasil penelitian mengenai pengobatan totok darah Walet Puti..
Sebagai penutup dari penulisan skripsi ini, dilampirkan pula daftar kepustakaan sebagai penunjang dalam penulisan termasuk juga sumber-sumber lainnya. Penulis telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran, serta juga waktu dalam penyelesaian skripsi ini. Namun penulis menyadari masih banyak kekurangannya. Dengan kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari para pembaca. Harapan dari penulis, agar skripsi ini dapat berguna bagi seluruh pembacanya.
Medan, Maret 2017 Penulis
………
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN ...
HALAMAN PENGESAHAN ...
PERNYATAAN ORIGINALITAS ... i
ABSTRAK ... ii
UCAPAN TERIMAKASIH ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR DAN FOTO ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Tinjaun Pustaka ... 7
1.2.1 Konsep Sehat dan Sakit ... 9
1.2.2 Pengobatan Alternatif ... 14
1.2.3 Motivasi Memilih Jenis Pengobatan ... 16
1.2.4 Konsep Penyembuhan Penyakit ... 18
1.3 Rumusan Masalah ... 20
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 20
1.5 Metode Penelitian ... 21
1.6 Lokasi Penelitian ... 22
BAB II GAMBARAN UMUM PENGOBATAN ALTERNATIF 2.1Pengobatan Tradisional Indonesia ... 24
2.2 Pengobatan Alternatif Indonesia ... 27
2.2.1 Pengobatan Tradisional Murni ... 28
2.2.2Alternatif Berasal dari Budaya atau Agama Luar Indonesia ... 28
2.2.3 Penyembuhan atau Pengobatan oleh Agama ... 30
2.3 Pengobatan Alternatif di Kota Medan ... 31
2.4 Sejarah Munculnya Terapi Totok Darah Walet Puti ... 34
2.5 Proses Penyebaran Terapi Totok Darah Walet Puti di Daerah Lain ... 39
2.6 Manfaat Totok Darah Walet Puti ... 41
BAB III MEKANISME TERAPI TOTOK DARAH WALET PUTI
3.1 Perjalanan Seseorang Untuk Menjadi Terapis ... 46
3.2Proses Totok Darah Walet Puti ... 51
3.2.1 Alat-Alat Untuk Totok Darah ... 57
3.2.2 Obat Penunjang Terapi Totok Darah ... 59
3.3 Keberadaan Terapis Perempuan ... 60
3.4 Totok Darah Walet Puti Sebagai Penemuan Dalam Metode Pengobatan Yang Unik ... 62
3.5 Upaya Penyelamatan dan Makna Rumah Adat Karo Saat Ini ... 81
BAB IVPENGALAMAN PASIEN TOTOK DARAH WALET PUTI 4.1 Awal Pengenalan Pasien Dengan Totok Darah Walet Puti ... 68
4.2 Motivasi Memilih Pengobatan Walet Puti ... 75
4.2.1 Pengalaman Menjalani Pengobatan Lain ... 76
4.2.2 Totok Darah Walet Puti Sebagai Pengobatan Selain Medis ... 83
4.3 Pengalaman Menjalani Terapi Totok Darah Walet Puti ... 89
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 96
5.2Saran ... 100 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR DAN FOTO
Gambar 1 :Logo Perguruan Silat Walet Puti ... 37
Foto 1 :Peneliti Dengan Ibu Yani Ratta Dan Bapak Rudi Sofyan Ratta Pemilik Klinik Totok Darah Wallet Puti ... 37
Foto 2 :Obat Herbal Yang Terbuat Dari Alam Jamu,Minyak Jaitun, Obat Kapsul, Masker Muka ... 45
Foto 3 : Peneliti (kanan) dengan bapak Sutopo (kiri) ... 52
Foto 4 :Bapak Sutopo Yang Sedang Menotok Pasien ... 53
Foto 5 : Bapak Rudi Sanjaya Ratta Dalam Melakukan Totok Perut ... 56
Foto 6 : Telur Dan Stik Perak Sebagai Alat Totok Darah Walet Puti... 58
Foto 7: Penotokan Dengan Menggunakan Telur Ayam ... 59
Foto 8: Obat-Obatan Herbal Yang Ada Di Klinik Totok Darah Wallet Puti ... 60
Foto 9 : Ibu Riani Sedang Menotok Pasien ... 61
Foto 10 : Wawancara dengan bapak Taufan Pasien Totok Darah Walet Puti . 70 Foto 11 : Totok Darah Gratis Di Rumah Bapak Taufan ... 81
Foto 12 : Wawancarai Dengan Ibu Sarmila Setelah Selesai Totok Dara ... 90
Foto 13 : Ibu Sarmila Saat Ditotok Pada Bagian Kepala ... 92
Foto 14 : Wawancara Dengan Ibu Mila Novita Setelah Selesai Ditotok ... 94
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Penelitian ini mengkaji sebuah pengobatan tradisional Indonesia, yang dalam prakteknya melakukan penotokan pada beberapa bagian tubuh pasien, dan dalam penotokan menggunakan stik perak sebagai media penyembuhan.Penulis memilih pengobatan ini karena melihat keunikan dan banyaknya minat masyarakat untuk menggunakan metode totok darah tersebut.Salah satu komunitas atau organisasi masyarakat yang pertama kali menemukan metode pengobatan totok darah adalah Perguruan Walet Putih.
Manusia dengan kemampuan akal atau budinya telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya sehingga menjadi makhluk yang paling berkuasa di bumi (Koentjaraningrat, 1990;144-145). Jika dalam bahasa sehari-hari “kebudayaan” dibatasi hanya pada hal-hal indah (seperti candi, tari- tarian, seni rupa, seni suara, kesusastraan, dan filsafat) saja.Sedangkan dalam ilmu antropologi jauh lebih luas sifat dan ruang lingkupnya.Menurut Koentjaraningrat (1990) kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Antropologi memiliki beberapa subkajian dan salah satunya yaitu antropologi kesehatan. Secara umum antropologi kesehatan didefinisikan sebagai aktivitas formal antropologi yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit.
Antropologi kesehatan menurut Foster dan Anderson (1978) adalah disiplin yang
memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budaya dari tingkah-laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit pada manusia.Dalam defenisi yang dibuat Foster dan Anderson (1978) dengan tegas disebutkan bahwa antropologi kesehatan studi objeknya adalah tentang yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit pada manusia.Antropologi kesehatan dalam konseptual mengkaji masalah-masalah yang berbeda yaitu kutub biologi dan kutup sosial budaya.
Menurut Lieben (dalam Foster dan Anderson, 1978) adalah studi tentang fenomena medis yang dipengaruhi oleh sosial dan kultural, dan fenomena sosial dan kultural diterangi oleh aspek-aspek medis. Faktro-faktor sosial dan kultural membantu menentukan etiologi penyakit dan penyebaran melalui pengaruh mereka dalam hubungan antara populasi manusia dan lingkungan alam, atau melalui pengaruh langsung pada kesehatan popuasi.1
Perguruan Walet Putih berdiri pada tanggal 16 agustus 1970 yang menjadi perguruan silat untuk umum dan resmi menjadi anggota organisasi yang meng- Perguruan Walet Puti adalah ilmu beladiri warisan Tunggal Pusaka Tradisonal Indonesia, yang kegiatan utamanya belajar ilmu beladiri. Peneliti tertarik ingin mengetahui dan meneliti lebih dalam tentang perguruan Walet Puti ini karena di perguruan Walet Putih bukan hanya sekadar belajar ilmu beladiri tetapi dapat belajar dan mengembangkan pengobatan tradisonal totok darah. Peneliti ingin mengkaitkan warisan budaya leluhur totok darah Walet Puti dengan Antropologi kesehatan.
1 Eliza Meiyani, “Pengetahuan Dasar Antropologi Bagi Mahasiswa
Kesehatan,”http://www.kompasiana.com/primus74/pengetahuan-dasar-antropologi-bagi-
himpun perkumpulan–perkumpulan silat seluruh Indonesia yaitu IPSI (Ikatan Pencak silat Seluruh Indonesia). Totok darah Walet Puti ini dulu memang dikenal sebagai keahlian orang–orang Tiongkok kuno, akan tetapi totok darah Walet Puti tidak ada kaitan dan hubungannya dengan ajaran Tiongkok kuno yang disebut dengan jurus utara selatan2
Totok darah ini mempunyai ramuan–ramuan dan racikan asli alam tanpa campuran dan larutan kimia. Totok darah walet puti ini bersifat mandiri, berdiri sendiri, tunggal, tiada berteman, dan tidak pula bertukar pikiran dengan perguruan silat bangsa lain atau tepatnya di Indonesia. Kelebihan–kelebihan totok darah perguruan walet puti ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit dan
.
Pentingnya penelitian ini dilakukan dalam kerangka pemikiran Antropologi adalah untuk mengkaji secara menyeluruh, bagaimana sebenarnya suatu bentuk pengetahuan, atau budaya pengobatan dapat tercipta dari proses non-medis yang biasanya. Kebanyakan masyarakat hanya mengetahui bahwa metode pengobatan hanya diciptakan melalui penelitian medis.Padahal sebenarnya sebelum munculnya pengobatan medis, terlebih dahulu muncul pengobatan tradisional.Sayangnya pengobatan-pengobatan tradisional di masyarakat Indonesia tidak dapat lagi ditelusuri jejak awal terciptanya. Maka ketika muncul pengobatan totok darah Walet Puti yang mana jaraknya hanya beberapa tahun saja terciptanya, kemudian penciptanya juga masih jelas asal-usulnya, maka sangat penting bagi kita untuk mneliti proses terciptanya metode pengobatan yang berasal dari masyarakat. Agar ke depan budaya pengobatan tradisional yang ada menjadi jelas untuk kita ketahui.
pengobatan ini masih menggunakan metode pengobatan tradisional yang bersifat alami (asli dari alam).
Dalam Era Globalisasi ini Perguruan Silat Walet Puti ingin berperan aktif dan memberi kegiatan ekstrakulikuler di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat umum. Tujuannya agar siswa–siswi dapat mengekspersikan melalui olahraga pencak silat yang akan diberikan pelatih dan Pembina untuk mencetak bibit–bibit baru sebagai seorang atlit yang memiliki talenta. Sehingga bisa me- nyumbangkan atlit–atlit lewat kejuaraan resmi di tingakat Daerah, Kota, Provinsi, maupun Internasional.
Dalam pengobatan totok darah Walet puti ini bisa saja awal mulanya karena terinspirasi dari pengobatan tradisional lainnya seperti pengobatan Tiongkok yang terkenal dengan jarum akupunturnya.Menjadi sebuah budaya pengobatan di perguruan ini dan menjadi ciri khas karena dikembangkan dan diajarkan terus menerus kepada yang dianggap sanggup.Penggabungan antara ilmu bela diri dan pengobatan sangatlah unik dan menarik bagi penulis.
Bagaimana seorang yang belajar bela diri juga bisa mengobati orang lain sebagai puncak ilmu pengendalian diri setelah belajar silat. Dimasa sekarang ini yang mana pemerintah mencanangkan program kesehatan seperti kartu sehat dan BPJS Kesehatan untuk masyarakat Indonesia ketika sakit, apakah benar masih banyak yang tidak mau pergi ke dokter untuk berobat?Apakah benar banyak masyarakat Indonesia memang lebih banyak yang percaya berobat tradisional daripada berobat medis ke dokter?Itu lah beberapa pertanyaan yang terlintas dipikiran penulis.Karena adanya pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut penulis
memutuskan untuk mengkaji dan meneliti pengobatan tradisional totok darah Walet Puti.
Secara umum di dalam dunia pengobatan dikenal istilah medis dan non medis.
Para ahli berbeda pendapat tentang penjelasan batasan istilah medis dan definisinya secara terminologis menjadi 3 pendapat, yaitu :
- Pendapat pertama Medis atau kedokteran adalah ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi tubuh manusia darisegi kesehatan dan penyakit yang menimpanya. Pendapat ini di nisbatkan oleh para dokter klasik dan Ibnu Rusyd Al-hafidz.
- Pendapat kedua Medis atau kedokteran adalah ilmu tentang berbagai kondisi tubuh manusia untuk menjaga kesehatan yang telah ada dan mengembalikannya dari kondisi sakit.
- Pendapat ketiga ilmu pengetahuan tentang kondisi-kondisi tubuh manusia, dari segi kondisi sehat dan kondisi menurunnya kesehatan untuk menjaga kesehatan yang telah ada dan mengembalikannya kepada kondisi sehat ketika kondisi nya tidak sehat.
Definisi-definisi tersebut walaupun kata-kata dan ungkapannya berbeda tetapi memiliki arti dan kandungan yang berdekatan, meskipun definisi ketiga lah yang memiliki keistimewaankarena bersifat komprehensif mencakup makna yang ditujukan oleh definisi pertama dankedua.Sehingga istilah pengobatan medisdapat disimpulkan sebagai suatu kebudayaan untuk menyelamatkan diri dari penyakit yang mengganggu hidup manusia di dasarkan kepada ilmu yang di ketahui dengan kondisi tubuh manusia, dari segi kondisi sehat dan kondisi menurunnya kesehatan,
untuk menjaga kesehatan yang telah ada dan mengembalikannyaketika kondisi tidak sehat. Pengobatan medis sendiri dalam sejarah manusia merupakan hasil proses panjang yang di awali secara tradisional hingga menjadi modern seperti sekarang.3
3Pengobatan Tradisional,”Pengobatan Menurut Pandangan
Sistem medis pengobatan tradisional merupakan metode pengobatan yang lebih banyak menggunakan pendekatan diluar medis, yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern. Dalam pengobatan tradisional, segala metode dimungkinkan, dari penggunaan obat-obat tradiosional seperti jamu- jamuan, rempah, yang sudah dikenal seperti jahe, kunyit dan sebagainya.
Pendekatan lain seperti menggunakan energi tertentu yang mampu mempercepat proses penyembuhan.
Pada mulanya kalangan kedokteran bersikap sangat sinis dan menganggap pengobatan tradisional tidak bisa dipertanggungjawabkan karena tidak didukung riset medis yang memadai. Tetapi semakin banyaknya fakta-fakta keberhasilan membuat mereka tergoda untuk melakukan riset. Pada akhirnya semakin lama semakin banyak teknik pengobatan tradisional yang diakui, bahkan digunakan para dokter sebagai terapi komplementer untuk mendapatkan tingkat kesembuhan yang lebih baik.
Menurut Agoes (1996:61) pengobatan tradisional dikelompokkan menjadi 4 (empat) jenis yaitu :
1. Pengobatan tradisional dengan ramuan obat, yaitu pengobatan tradisional dengan menggunakan ramuan asli Indonesia, pengobatan tradisional dengan ramuan obat Cina, pengobatan dengan ramuan obat India.
2. Pengobatan tradisional spiritual/kebatinan, yaitu pengobatan yang dilakukan atas dasar kepercayaan agama, dan dengan dasar getaran magnetis yaitu orang itu bisa memakai pengaruh dari luar dunia manusia untuk membantu orang sakit.
3. Pengobatan tradisional dengan memakai peralatan/perangsangan yaitu seperti akupuntur, pengobatan atas dasar ilmu pengobatan tradisional Cina yang menggunakan penusukan jarum dan penghangatan moxa (daun arthamesia vulgaris yang dikeringkan) termasuk juga pengobatan urut pijat, pengobatan patah tulang, pengobatan dengan peralatan (tajam/keras), dan benda tumpul.
4. Pengobatan tradisional yang telah mendapatkan pengarahan dan pengaturan pemerintah yaitu, seperti dukun beranak, tukang gigi tradisional.4
Goodenough (dalam Kalangie 1994:17) mengemukakan kebudayaan adalah suatu sistem kognitif, suatu sistem terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, dan nilai yang berada dalam pikiran anggota-anggota individual masyarakat
1.2 Tinjauan Pustaka
5
Pengobatan Tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara obat, dan pengobatannya, yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun
. Manusia di anggap sebagi mahluk yang berbudaya dan manusia memiliki suatu pengetahuan yaitu, berupa ide-ide, nilai-nilai, yang dimilikinya yang akhirnya menjadi suatu wujud, baik dalam berupa benda hasil kebudayaan, maupun suatu tindakan atau perilaku manusia.
4Muhibkyumi,”Sistem Medis
Antropologi,”http://www.http://muhibkyumi.blogspot.co.id/2016/05/sistem-medis-antropologi (akses 12 Januari 2017)
5
menurun dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyakat. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.6
Totok peredaran darah adalah salah satu terapi kesehatan untuk melancarkan Peredaran darah. Muncul suatu permasalahan berupa gangguan pada organ tubuh tidak terlepas dari adanya penyembuhan pada aliran darah sehingga tergantungnya organ tubuh atau sering disebut “sakit”. Totok adalah salah satu solusinya.7
Keadaan sehat yang dimiliki oleh manusia sangat membantu manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Oleh karena itu manusia akan selalu menjaga Totok peredaran darah merupakan salah satu metode pengobatan tradisional yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Dewasa ini, dengan berkembangnya ilmu kedokteran dan kesehatan, totok darah tidak kehilangan pamornya. Metode pengobatan alternatif ini menggunakan sepasang stik perak untuk menekan titik saraf aliran darah yang mengalami penyumbatan.
Dalam terapinya, totok darah bertujuan untuk melancarkan peredaran darah dan getah bening. Sebagai transportasi untuk oksigen,air,sari makanan,hasil oksida dan hormon serta menyempurnakan proses pembagian zat makanan keseluruh tubuh, dari merupakan bagian yang penting dalam tubuh manusia. Darah juga berfungsi mengatur temperatur tubuh dan mencegah infeksi. Oleh sebab itu, kelancaran sirkulasi darah dalam tubuh sangat penting.
1.2.1. Konsep Sehat dan Sakit
6Zulkifli, Pengobatan Tradisional Sebagai Pengobatan Alternatif Harus Dilestarikan (Artikel Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan, 2004) hal. 2.
kesehatannya dan mengembalikan kesehatannya jika mereka dilanda sakit.
Mengenai gangguan kesehatan maka akan ditemukan keluhan sakit (illness) dan gejala penyakit (disease). Sarwono (2007:31) mengatakan secara ilmiah penyakit (disease) diartikan sebagai gangguan fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan.Penyakit atau disease ini bersifat obyektif kata Sarwono.Sebaliknya, sakit (illnes) merupakan penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit.Sarwono menyebutnya sebagai fenomena subyektif.
Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural,sosial dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat eratkaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklahsesederhana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek.
Gangguan kesehatan merupakan kosekuensi perilaku yang berwujud tindakan yang disadari (diketahui) atau tidak disadari (tidak diketahui) merugikan kesehatan atau menurunkan derejat kesehatan si perilaku sendiri, atau orang-orang lain, atau suatu kelompok. Gangguan kesehatan yang dimaksud disini tidak hanya terbatas pada kategori penyakit fisik dan mental secara individu dan kelompok tetapi juga kategori kesejahteraan sosial.
Menurut WHO (1974) mengatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Menurut White (dalam Zulkifli, 2004) sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
Dari beberapa defenisi sehat dapat ditarik kesimpulan bahwa sehat adalah kondisi dimana terbebas dari berbagai macam gangguan misalnya, fisik, emosi, sosial dan kultural, dan tidak mempunyai keluhan atau tanda-tanda yang tidak menggangu kegiatan sehari-hari manusia.Sakit (illness) adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit, sehingga sakit merupakan bersifat subjektif. Sakit adalah keadaan di mana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit.
Sedangkan penyakit (disease) adalah gangguan fungsi fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari lingkungan, sehingga penyakit merupakan bersifat objektif. Sesuatu disebut sebagai penyakit adalah berdasarkan sesuatu diluar diri yang mengalaminya, Seseorang mungkin saja memiliki gangguan pada salah satu anggota tubuhnya yang secara objektif merupakan suatu penyakit, namun ia tidak merasa sakit dan tetap dapat melakukan aktifitas dengan normal. Begitu juga sebaliknya, seseorang bisa saja merasa merasa tidak enak badan dan gejala-gejala lainnya.
Untuk menjelaskan suatu penyakit, manusia memiliki pengetahuan dan keyakinan tertentu terhadap suatu gejala-gejala yang dirasakannya. Pandangan manusia terhadap gejala-gejala yang dirasakannya menjelaskan tentang adanya penyakit disebut dengan etiologi penyakit. Foster dan Anderson membaginya kepada dua bagian yaitu personalistik dan naturalistik. Personalistik adalah suatu etiologi yang menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk bukan manusia (tukang sihir, tukang tenung).
Konsep sehat dan sakit yang dimiliki oleh manusia melahirkan suatu bentuk perilaku, yaitu perilaku sehat dan perilaku sakit. Berikut beberapa pengertian yang berkaitan dengan perilaku sehat dan perilaku sakit (Marimbi, 2009: 108):
1. Perilaku sehat (health behavior) yaitu hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan, sanitasi dan sebagainya.
2. Perilaku sakit (illness behavior) adalah segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seorang individu yang merasa sakit untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Termasuk disini kemampuan atau pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit serta usaha-usaha mengobati penyakit tersebut.
Begitu juga mengenai sistem perawatan kesehatan yang dipilih oleh informan terbagi atas 3 (Kalangie, 1994: 29), yaitu:
a. Sistem Perawatan Kesehatan Populer/Umum
Sistem perawatan ini dikenal dengan istilah self treatment atau home remedies, di mana pencegahan atau pengobatan yang dilakukan lebih condong disediakan untuk gangguan kesehatan yang oleh penderita atau keluarganya (atau secara emik) dianggap ringan atau masih bisa di atasi sendiri.Komposisi obat yang digunakan umumnya adalah yang dapat dibeli bebas di apotek, toko obat atau warung, disamping obat-obat tradisional yang dibeli atau dibuat sendiri.
b. Sistem Perawatan Kesehatan Kedukunan/ tradisional
Sistem perawatan kesehatan kedukunan/ tradisional ini berpegang pada kepercayaan, pengetahuan serta praktek pencegahan dari penyakit serta
pengobatan yang diperoleh dalam proses pewarisan tradisi dari generasi ke generasi dalam bentuk-bentuk personalistik atau naturalistik, atau kedua-duanya.
c. Sistem Perawatan Kesehatan Profesional
Sistem perawatan kesehatan professional ditangani oleh para professional (dokter atau paramedik) yang berkeahlian berbagai jenis.
Sistem medis adalah pola-pola dari pranata sosial dan tradisi-tradisi yang menyangkut perilaku yang disengaja untuk meningkatkan kesehatan, meskipun hasil dari tingkah laku khusus tersebut belum tentu menghasilkan kesehatan yang baik.Terdapat suatu struktur universal yang mendasari semua sistem medis untuk memudahkan kita dalam pemahaman dan studi yang sifatnya berhubungan dengan peranan dan kewajiban-kewajiban antara pasien dan penyembuh atau bisa dikatan sebagai tenaga kesehatan.
Didalam sistem medis pengobatan tradisional masih digunakan karena model pengobatan tradisional ini dianggap suatu pengobatan yang diperoleh secara turun temurun, atau berguru melalui pendidikan, baik asli maupun yang berasal dari luar indonesia, dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat. (dokter atau paramedik) yang berkeahlian berbagai jenis.
Dikutip dari buku Kebudayaan dan Kesehatan (Kalangie, 1994: 40) bahwa berkaitan dengan pengertian sehat, sakit dan penyakit di atas, dasar utama dari penentuan apakah seseorang tersebut sehat atau sakit adalah apakah seseorang tetap dapat menjalankan peranan-peranan sosialnya sehari-hari seperti biasa atau tidak.
Hal tersebut berkaitan dengan persepsi seseorang terhadap kondisi kesehatannya yang tidak hanya dilakukan oleh yang bersangkutan secara pribadi tetapi
berlangsung dalam jaringan sosialnya dengan komponen-komponen perkelompokan, seperti kekerabatan, persahabatan, tetangga, pekerjaan dan komunitas. Proses ini berlaku pula dalam mengambil keputusan perawatan medis untuk seseorang yang sakit. Sebelum keputusan dibuat, saran-saran atau pendapat diperoleh atau diminta dari berbagai kelompok sosial ini.
Kalangie (1994:54) mengemukakan bahwa rasa sakit bukan penyakit bila tidak mengganggu aktivitas dan fungsi pokok misalnya makan, minum, buang air besar buang air kecil, tidur dan aktivitas sehari-hari lainnya.Dari pendapatnya ini secara impilisit Sudarma juga mengatakan bahwa rasa sakit yang dialami oleh manusia kemungkinan juga penyakit.Dikatakan demikian ketika rasa sakit tersebut sudah menimbulkan gangguan pada aktivitas manusia.
Dari beberapa pandangan tentang konsep sakit di atas terdapat perbedaan pengertian antara keluhan sakit (illness) dengan penyakit (disease).Keluhan sakit dapat dikatakan bersifat subjektif karena berasal dari penilaian atau prasangka orang yang merasa mengalami gangguan kesehatan.Orang tersebut memberikan penilaian berdasarkan pada pengalamannya ketika mengalami gangguan kesehatan.Asumsi perasaan sakit ini bisa tepat bisa tidak, karena bisa saja ketika dilakukan pengobatan oleh ahli medis tidak ada gangguan dengan fungsi tubuhnya.Jadi keluhan sakit ini sifatnya merupakan dugaan kuat saja.Hal tersebut menurut Foster dan Anderson merata ada disetiap masyarakat, perbedaannya hanya pada tingkat persepsi atau pemaknaan terhadap kedua konsep tersebut.
1.2.2. Pengobatan Alternatif
Pengobatan alternatif atau terapi alternatif biasa disebut untuk menunjukkan pengobatan non-medis (Mangoenprasojo & Hayati dalam Kasniyah
2008).Pengobatan alternatif juga disebut sebagai pengobatan tradisional (Kasniyah, 2008:10). Pengobatan alternatif atau terapi alternatif merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat atau bahan yang tidaktermasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern (pelayanan kedokteran standar) dan dipergunakan sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan kedokteran modern tersebut (Mangoenprasojo & Hayati dalam Kasniyah 2008).
Pengobatan alternatif bisa didefinisikan sebagai (1) penyembuhan seni tradisional yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah kedokteran Barat yang mempromosikan opsi untuk obat konvensional yang diajarkan di sekolah-sekolah ini. (2) praktek pengobatan alternatif yang digunakan sebagai pengganti perawatan medis standar.
Pengobatan alternatif berbeda dari pengobatan komplementer yang dimaksudkan untuk menemani, bukan untuk menggantikan, standar praktek medis.Praktik pengobatan alternatif umumnya tidak diakui oleh komunitas kedokteran sebagai standar atau pendekatan medis konvensional.
Pengobatan alternatif juga dapat dimaksudkan sebagai jenis pengobatan yang tidak dilakukan oleh paramedis atau dokter pada umumnya, tetapi oleh seorang ahli atau praktisi yang menguasai keahliannya tersebut melalui pendidikan non- medis.Jean-Francois Sobiecki (Kasniyah, 2008) menyebutkan bahwa sistem pengobatan tradisional (traditional healing system) cenderung dikembangkan dari sumber kepercayaan spiritual atau agama (spiritual or relegius belief system) dan lebih jauh lagi tambahnya yaitu berkembangnya dari sistem kepercayaan animisme atau kepercayaan tradisional lainnya.Demikian menurut Jean-Francois Sobiecki bahwa pengobatan tradisional lahir dan ber-kembang dari sumber
agama, animisme dan kepercayaan tradisional lainnya.Sehingga pengobatan tradisional berbeda dengan pengobatan modern.
Dari sudut pandang budaya penyakit adalah hal yang berbeda; penyakit adalah pengakuan sosial bahwa seseorang itu tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar, dan bahwa harus dilakukan sesuatu terhadap situasi tersebut (Foster
& Anderson, 1986:50).Pandangan ini menyebutkan bahwa lingkungan sosial turut berperan dalam memberi keputusan tentang sakit atau tidaknya seseorang.
Lingkungan sosialnya akan mengatakan seseorang sakit ketika peran sosial dari orang tersebut tidak dapat dilaksanakan. Sebaliknya meski seseorang mengalami gangguan fisiologis, namun keadaan itu juga sering atau menimpa yang lain maka hal itu dapat dikatakan oleh kelompok sosialnya bukan sebagai penyakit.
Dalam antropologi terdapat pembahasan mengenai kepercayaan dan pelaksanaan medis oleh kelompok masyarakat tradisional disebut dengan etnomedisin (Foster
& Anderson, 1986:63).Pada masyarakat non Barat menurut Foster dan Anderson secara garis besar terdapat dua penjelasan untuk menjelaskan tentang adanya penyakit (disease), yaitu sistem medis personalistik dan sistem medis naturalistik.
Foster dan Anderson (1986:63) menjelaskan sistem medis personalistik untuk menyebut pada suatu sistem di mana penyakit disebabkan oleh intervensi dari suatu agen yang aktif berupa makhluk supranatural, makhluk bukan manusia seperti hantu, roh leluhur atau roh jahat, dapat juga dari manusia seperti tukang sihir atau tukang tenung.
Pandangan lainnya yaitu sistem medis naturalistik, menurut Foster dan Anderson (1986:64) memandang gangguan kesehatan sebagai pengaruh dari keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh seperti panas, dingin dan cairan tubuh. Misalnya dalam
konsep pengobatan Cina, apabila Yin dan Yang berada dalam keadaan seimbang menurut usia dan kondisi individu, maka tercapai lah keadaan sehat dan begitu pula sebaliknya.
1.2.3. Motivasi Memilih Jenis Pengobatan
Motif kata Gerungan (dalam Haviland 1988) merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu. Motivasi kata Salim dalam (Kasniyah 2008) berasal dari kata motif yang berarti alasan seseorang untuk melakukan sesuatu.Motivasi juga dapat diartikan sebagai suatu kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang menyebabkan organisme itu bertindak atau berbuat (Kasniyah, 2008).Lindzey, Hall dan Thompson (dalam Amir, 1991:191) menyebut motif sebagai sesuatu yang menimbulkan tingkah laku.Beberapa pendapat di atas menyebutkan bahwa motivasi dapat menyebabkan seseorang melakukan tingkah laku.
Tevan dan Smith (dalam Amir, 1991:13-14) mengatakan bahwa motivasi adalah kontruksi yang mengaktifkan perilaku, sedangkan motif adalah komponen yang lebih spesifik dari motivasi yang berhubungan dengan tipe perilaku tertentu.
Martaniah (dalam Amir, 1991:192) memberikan pengertian pada motif sebagai suatu konstruksi yang potensial dan laten, yang dibentuk oleh pengalaman- pengalaman, yang secara relatif dapat bertahan meskipun kemungkinan berubah masih ada dan berfungsi menggerakkan serta mengarahkan perilaku ke tujuan tertentu.
Menurut Gerungan (dalam Amir 1991:141-142) motif yang ada pada kegiatan- kegiatan manusia dapat berupa motif tunggal ataupun motif bergabung.Ditinjau
dari sudut asalnya motif berasal dari biogenetis, sosiogenetis dan teogenetis.Motif biogenetis adalah motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme orang demi kelanjutan kehidupannya secara biologis. Contoh: lapar, haus, bernafas, istirahat dan buang air. Motif ini umum dimiliki oleh setiap manusia karena tidak terkait dengan lingkungan kebudayaan serta motif ini berkembang sebagai respon kebutuhan jasmani yang ada dalam diri manusia (Amir, 1991:142).
Motif sosiogenetislain lagi, motif ini berasal dan berkembang dari lingkungan kebudayaan tempat manusia berada. Motif ini juga tidak timbul dari dalam diri manusia, tetapi dipelajari dan berkembang dari interaksi sosial dengan orang- orang atau hasil kebudayaan (Amir, 1991:143). Mengenai motif sosiogenetis ini motivasi antara beberapa individu di lingkungan yang berlainan atau berbeda juga akan berbeda. Dikarenakan lingkungan dan interkaksi sosial di sekitarnya lah yang menentukan motif suatu aktivitas.
Sementara motif teogenetis adalah motif yang berasal dari interaksi antara manusia dengan Tuhan seperti yang nyata dalam ibadahnya dan dalam kehidupan sehari-hari di mana dia berusaha merealisasi norma-norma agama tertentu (Amir, 1991:143).Berbeda dengan motif sosiogenetis, motif ini lebih ditentukan oleh norma-norma agama yang diyakini. Sehingga sekalipun beberapa individu berada pada lingkungan sosial yang sama, namun berbeda dalam keyakinan agama maka motif suatu aktivitasnya juga akan terdapat perbedaan, Dari beberapa pendapat di atas, motif atau motivasi merupakan sebuah dorongan yang mampu menggerakkan serta mengarahkan perilaku seseorang. Sementara dilihat dari asalnya, dorongan tersebut dapat berasal dari tujuan yang hendak diraih atau berasal dari interaksi dan pengalaman-pengalaman.
1.2.4. Konsep Penyembuhan Penyakit
Penyembuhan terhadap suatu penyakit di dalam sebuah masyarakat dilakukan dengan cara-cara yang berlaku di dalam masyarakat sesuai kepercayaan masyarakat tersebut.Ketika manusia menghadapi berbagai masalah di dalam hidup, di antaranya sakit, manusia berusaha untuk mencari obat untuk kesembuhan penyakitnya itu.Bukan hanya pengalaman, faktor sosial budaya, dan faktor ekonomi yang mendorong seseorang mencari pengobatan.Akan tetapi, organisasi sistem pelayanan kesehatan, baik modern maupun tradisional, sangat menentukan dan berpengaruh terhadap perilaku mencari pengobatan (Rahmadewi, 2009).
Secara umum, Kalangie membagi sistem medis ke dalam dua golongan besar, yaitu sistem medis ilmiah yang merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan (terutama dalam dunia barat) dan sistem non medis (tradisional) yang berasal dari aneka warna kebudayaan manusia (Rahmadewi, 2009).Pengobatan kedokteran berbasis pembuktian ilmiah, sedangkan pengobatan tradisional berdasarkan kearifan lokal yang berasal dari kebudayaan masyarakat, termasuk di antaranya pengobatan dukun, yang dalam mengobati penyakit menggunakan tenaga gaib atau kekuatan supranatural.Pengobatan maupun diagnosis yang dilakukan dukun selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuatan rasio dan batin.
Pemahaman perilaku penyembuh untuk mencapai kesempurnaan ilmu penyembuhannya, menurut Clifford Geertz (1981:117) guna memperoleh kemampuan menjadi penyembuh, di samping diwarisi, diperoleh juga melalui belajar.Pada dukun priayi cenderung menekankan disiplin bertapa, puasa yang
panjang dan meditasi yang lama.Santri biasanya menggunakan ayat-ayat Al- Qur’an yang ditafsirkan secara mistik atau menggunakan potongan-potongan dari tulisan Arab.
Dalam Ilmu Pengobatan Totok Darah PS. Walet Puti dikenal beberapa cara terapi :
1. Terapi Totok Darah (Acupressure Therapy).Dilakukan penotokan dengan stik perak (acupressure therapy) pada simpul-simpul syaraf di wajah yang berguna untuk melancarkan aliran darah di wajah.
2. Terapi Urut Tradisional (Massage Therapy).Dilakukan pijatan (massage therapy) dengan teknik yang khusus untuk relaksasi dan penyegaran wajah.
3. Terapi Energi Metafisik (Metaphysik Energy Therapy).Dilakukan terapi telur (egg therapy) dimana cara ini bermanfaat untuk menghilangkan flek-flek hitam di wajah, mengurangi jerawat dan menghaluskan kulit wajah.
4. Terapi Telur (Egg Therapy).Dilakukan transfer energi (Metapysic Energy Therapy) yang diistilahkan dengan membuka aura wajah, agar wajah senantiasa berseri dan tampil awet muda.
5. Terapi Herbal (Herbal Therapy).Untuk kesempurnaan seri wajah dilakukan masker wajah (Herbal Therapy) dimana digunakan masker dari bahan alami non kimia yang benar-benar aman tanpa efek samping.
1.4. Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh totok darah di Perguruan Silat Walet Puti
• Bagaimana awal mula terciptanya metode pengobatan totok darah Walet Puti ?
• Alat-alat apa yang digunakan dalam pengobatan totok darah Walet Puti ?
• Motivasi apa yang membuat pasien memilih menjalani pengobatan totok darah Walet Puti ?
1.5.Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya metode terapi totok darah Walet Puti, kemudian mendeskripsikan tahapan terapi yang dilakukan kepada pasien beserta apa saja peralatan yang digunakan dalam pengobatan totok darah Wallet Puti, serta mendeskripsikan motivasi para pasien mengapa memilih metode pengobatan totok darah Walet Puti.
Sementara itu manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah kita dapat memperbanyak sumber-sumber pengetahuan mengenai Antropologi Kesehatan dengan mendeskripsikan totok darah Walet Puti sebagai metode pengobatan alternative yang berasal dari lokal.pengobatan dengan totok darah serta keterkaitannya dengan antropologi kesehatan. Proses dari terbentuknya suatu pengetahuan mengenai ilmu pengobatan adalah hal yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan kelak.
1.6. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang menurut Bogdan dan Taylor, merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati
(Endraswara, 2006).Sebagaimana lazimnya penelitian kualitatif, peneliti dalam hal ini sekaligus merupakan instrument dalam penelitian itu sendiri.Penentuan informan dilakukan dengan purposive, yang mana terdiri atas terapis totok darah Walet Puti dan pasien totok darah. Informan yang dipilih adalah mereka yang mudah diajak bicara, mengerti tentang informasi yang peneliti butuhkan, dan yang senang diajak bekerja sama (Endaswara, 2006).
Data pada penelitian ini dibagi atas dua, yakni data primer dan data sekunder.Data primer diperoleh dari pengamatan (observasi) langsung di lapangan dan wawancara mendalam (indept interview).Untuk pengamatan digunakan teknik partisipasi, yakni peneliti memasuki wilayah penelitian (dalam hal ini klinik terapi totok darah Walet Puti) dan merasakan sendiri terapi totok darah Walet Puti untuk mengungkap data hingga mendetail (Endaswara, 2006, Moleong, 2010).
Sedangkan wawancara mendalam atau wawancara etnografi, meminjam istilah Endaswara (2006), dilakukan dengan santai dan informal, sehingga ada keterbukaan antara peneliti dengan yang diteliti.Ini dimaksudkan agar orang yang diwawancarai (informan) tidak merasa sedang diwawancarai (Moleong, 2010).Wawancara dilakukan dengan terapis, pasien, dan keluarga pasien. Di antara informan tersebut, ada yang tidak bersedia disebutkan namanya sehingga menggunakan nama samanarn.
Sementara itu, data sekunder diperoleh dari bahan-bahan yang telah diolah.Misalkan data dari Badan Pusat Statistik (Makassar dalam Angka, 2012), studi kepustakaan, serta penelusuran melalui internat berkaitan dengan fokus penelitian yang dikaji. Analisis data dilakukan secara deskriptif etnografik, yakni berusaha mendeskripsikan subjek penelitian dan cara mereka bertindak dan
berkata-kata. Analisis data juga dilakukan dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu hasil wawancara, catatan lapangan, dokumen- dokumen, dan lain-lain.Setelah itu mereduksi data, memaparkan data dan simpulan melalui pelukisan dan verifikasi (Endaswara, 2006).
Pendekatan etnografi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pendekatan emik, yakni memandang fenomena-fenomena sosial budaya atas dasar sudut pandang masyarakat yang menjadi objek kajian, yakni terapis dan pasien.
Penelitian ini juga menggunakan pendekatan etnografi yang bersifat holistik- integratif, yang bertujuan untuk mendapatkan data atas dasar native’s point of view (Spradley, 1997).
1.7. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di klinik pengobatan tradisional totok darah Walet Puti yang beralamat di Jalan Eka Rasmi, Eka Suka IV No.39 Gedung Johor, Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara. Peneliti memilih lokasi penelitian dengan alasan yaitu :
1. Peneliti telah memiliki raport yang baik dengan beberap terapis dan juga pasien semenjak sebelum dilakukannya penelitian ini. Sehingga akan sangat berpengaruh pada data lapangan yang akan didapat.
2. Tempat penelitian ini banyak diminati oleh pasien untuk berobat mengingat karena fasilitas yang memadai dan pelayanannya terhadap pasien cukup baik serta sangat bermanfaat bagi pasien terutama dalam penyembuhan penyakit pasien.
3. Letak tempat penelitian : lokasi penelitian berdekatan dengan tempat kediaman peneliti sehingga mempermudah peneli untuk menjangkau lokasi penelitian.
Dari alasan tersebut peneliti dapat memperoleh informasi yang lebih dari para pasien sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik.
BAB II
GAMBARAN UMUM PENGOBATAN ALTERNATIF
2.1. Pengobatan Tradisional Indonesia
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah dirulis tentang pengobatan alternatif.Walaupun tidak secara eksplisit menggunakan konsep pengobatan alternatif, dalam undang-undang tersebut digunakan konsep pengobatan tradisional. Pada Bab I Pasal 7 dinyatakan
“Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman dan keterampilan turun temurun dan diterapkan sessuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat”.
Seperti yang tercatat dalam Undang-undang tersebut, pengobatan tradisional berkaitan dengan cara, pengobatan maupun obat yang didasrkan pada pengetahuan maupun pengalaman yang diperoleh secara turun temurun. Hal itu juga tampak dari defenisi tentang obat tradisional. Dalam Undang-undang tersebut
”Obat tradisional” adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Terminologi pengobatan tradisonal dan pengobatan alternatif merupakan dua terminologi yang sama untuk menyebutkan satu siatem pengobatan di luar pengobatan modern yang berasal dari barat. Badan kesehatan dunia (WHO) menyebut hal tersebut dengan “traditionl medicine atau pengobatan tradisional.Namun demikian ada juga dari kalangan ilmiah yang menyebutnya
dengan “traditional healing” atau penyembuhan tradisional. Ada juga yang menyebutkan-nya dengan folk medicine, ethno medicine, indigenous medicine dan alternative medicine (Agoes, 1992:59).
Untuk memudahkan penyebutan maka dalam hal ini lebih baik digunakan istilah pengobatan alternatif, sebab dengan istilah ini dapat ditarik garis tegas perbedaan antara pengobatan modern dengan pengobatan di luarnya dan juga dapat merangkum sistem-sistem pengobatan oriental (timur) seperti pengobatan tradisional atau sistem penyembuhan yang berakar dari budaya turun temurun yang khas satu etnis (etno medicine), Pengobatan alternatif sendiri mencakup seluruh pengobatan tradional, dan pengobatan alternatif adalah pengobatan tradisional yang telah diakui oleh pemerintah.
World Health Organisation (WHO) menyatakan, pengobatan tradisional adalah ilmu dan seni pengobatan berdasarkan himpunan dari pengetahuan dan pengalaman praktek, baik yang dapat diterangkan secara ilmiah maupun tidak, dalam melakukan diagnosis, prevensi dan pengobatan terhadap ketidak- seimbangan fisik, mental ataupun sosial. Selain dari definisi tersebut, pemerintah Republik Indonesia dalam “Seminar Pelayanan pengobatan Tradisional Departemen Kesehatan RI (1978)”, mengemukakan 2 defenisi untuk pengobatan tradional Indonesia yaitu:
A. Ilmu dan seni pengobatan yang dilakukan oleh pengobatan tradisional Indonesia dengan cara yang tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai upaya penyembuhan, pencegahan penyakit, pemulihan dan peningkatan kesehatan jasmani, rohani dan sosial msyarakat.
B. Usaha yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan, pemeliharaan dan peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang berlandaskan cara berfikir, kaidah- kaidah atau ilmu di luar pengobatan ilmu kedokteran modern, diwariskan secara turun temurun atau diperoleh secara pribadi dan dilakukan dengan cara-cara yang tidak lazim dipergunakan dalam ilmu kedokteran, yang antara lain meliputi akupuntur, dukun/ahli kebatinan, sinse, tabib, jamu, pijat dan sebagainya banyak dijumpai dalam masyarakat.
Secara umum jenis pengobatan alternatif yang diakui di Indonesia secara kategori terbagi atas 3 (tiga). Ada yang menggunakan zat-zat yang berasal dari tanaman- tanaman yang kemudian lebih dikenal sebagai jamu (herbalis), yang menggunakan ilmu kebatinan (spiritual) maupun yang menggunakan alat sebagai instrumen penyembuh.Akan tetapi pembagian itu tidak begitu lengkap, sebab yang dijadikan indikator sebagai pembagi adalah terapy yang digunakan.Namun, metode pemeriksaan (diagnosa) yang dilakukan kurang mendapat perhatian.
Melihat dari pembagian pengobatan alternatif di atas tampak bahwa jenis pengobatan yang menggunakan (herbalis) dan peralatan penyembuhan secara medis sekarang ini sudah dapat diterima. Namun, yang membuat pengobatan tersebut masih tergolong irrasional adalah metode diagnosa yang dilakukan.Walaupun terapi yang dilakukan tampak rasional dan dapat diuji secara laboratorium namun diagnosa dan pandangan secara subjektif tentang penyebab penyakit masih mengandung nuansa irrasionalitas.
Pengobatan alternatif di Indonesia sangatlah banyak jenisnya.Setiap suku bangsa dan agama yang ada dii Indonesia memiliki jenis pengobatan tersendiri yang didasari oleh kebudayaannya masing-masing. Namun, jika diteliti secara
mendalam penyembuhan alternatif yang ada di Indonesia memiliki akar pada 3 (tiga) jenis pengobatan yaitu: (1) pengobatan tradisional Cina, (2) pengobatan tradisional India dan (3) kedokteran Arab atau Unani Medicine.
Pengobatan ataupun penyembuhan yang paling banyak dijumpai di Indonesia baik itu di kota maupun di desa adalah jenis pengobatan alternatif yang berlatarbelakang akar budaya tradisi suku bangsa maupun agama di Indonesia.
Pengobat (curer) ataupun penyembuh (healer) dari jasa pengobatan maupun penyembuhan tersebut sering disebut sebagai tabib atau dukun.Pengobatan maupun diagnosa yang dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuatan rasio dan batin.
Salah satu ciri khas pengobatan alternatif di Indonesia adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan atau amalan. Dalam praktek diagnosa sangat penting dalam praktek penyembuhan alternatif. Fungsi amalan atau doa dalam sebuah penyembuh sangat bervariasi dalam sebuah penyembuhan. Pada umumnya setiap penyembuh (tabib/dukun) mempergunakan doa atau bacaan. Akan tetapi kadar keagamaannya yang berbeda. Ada yang sekedar sebagai unsur penyembuh utama maupun hanya sebagai komplementer (pelengkap).
2.2. Pengobatan Alternatif Indonesia
Pada alenia-alenia sebelumnya digambarkan tentang pembagian pengobatan tradisional ke dalam beberapa jenis menurut Departemen Kesehatan RI tahun 1978. Namun, dalam pembagian tersebut tidak memsukkan jenis-jenis pengobatan alternatif lain yang berkembang sekarang ini. Untuk itu akan di gambarkan di sini pembagian pengobatan alternatif secara lebih luas. Namun pembagian ini
bukanlah pembagian yang sangat tegas sebab antara jenis-jenis pengobatan ini juga memiliki hubungan.
2.2.1. Pengobatan Tradisional Murni
Pengobatan tradisional dalam hal ini merupakan jenis pengobatan alternatif yang memiliki akar sejarah perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia.Jenis pengobatan ini berdasarkan tradisi-tradisi budaya yang diwariskan secara turun- temurun oleh suku bangsa (etnis) yang ada di Indonesia.Contoh dari jenis penyembuhan ini adalah erpangir.Erpangir merupakan salah satu penyembuhan yang berasal dari Suku bangsa Batak Karo.Penyembuhan ini merupakkan upacara penyembuhan yang diwariskan suku bangsa Batak Karo secara turun temurun.Erpangir ini berbentuk upacara penyembuhan tolak bala yang diiringi pembancaan mantra dan iringan musik tradisional Karo yang diperankan dan dijalankan oleh Guru Sibaso sebagai penyembuh (Bangun, 1996:166).
Dalam jenis penyembuhan ini keahlian yang di dapat biasanya diperoleh secara turun temurum.Namun, ada juga keahlian penyembuhan yang diperoleh dengan perjuangan fisik dan mental yang sangat berat seperti dalam mendapatkan ilmu penyembuhan Ajian Antabuga, Ajian Aji Anjan Kemayun yang dimiliki eorang paranormal (Masrury, 1997:33-40).
2.2.2. Alternatif Berasal dari Budaya atau Agama Luar Indonesia
Jenis penyembuhan sekarang ini mengalami perkembangan yang cukup pesat dan peminatnya sangat banyak tersebar di Indonesia.Pengobatan jenis ini dibedakan dengan pengobatan alternatif lainnya, sebab memiliki akar sejarah perkembangan dari luar Indonesia.Pengobatan tersebut pada umumnya berakar dari agama dan budaya Hindu, Islam, Budha dan Tao (Regional Health Forum, 1996:52).
Sistem pengobatan alternatif ini adalah sistem pengobatan alternatif yang berasal dari Asia Tenggara dan negara-negara timur jauh.Secara filosofis sistem pengobatan alternatif ini didasarkan pada pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari alam manusia (microcosmos) dan alam (macrocosmos) yang saling berhubungan secara harmonis.Sistem organisme manusia sangat dipengaruhi oleh sistem dari alam sendiri.
Ada banyak jenis pengobatan yang bersumber dari ke 4 agama dan budaya itu.
Contoh penyembuhan ini adalah terapi ”Reiki”. Terapi ini merupakan satu teknik penyembuhan yang berasal dari agama Budha.Teknik ini ditemukan kembali pada tahun 1800-an oleh Dr. Mikao Usui. Istilah Reiki berasal dari bahasa Jepang,
”Rei” berarti universal, ”Ki” berarti tenaga kehidupan. Jadi terapi Reiki merupakan teknik penyembuhan yang menggunakan tenaga kehidupan berupa energi universal yang dapat menyembuhkan organ-organ tubuh manusia yang sedang mengalami sakit (Kompas, 1 Februari 2007).
Selain itu terdapat juga jenis pengobatan lain seperti Akupuntur, Refleksologi, Bekam, Seni pernapasan Yoga yang berasal dari Hindu, Tai Chi dari China, Ayurveda, penyembuhan dengan kristal dan banyak lagi teknik-teknik penyembuhan yang memiliki akar perkembangan dari agama-agama yang tersebut di atas. Namun, yang menjadi ciri utama teknik-teknik ini adalah mengutamakan keseimbangan di dalam tubuh.Penyakit merupakan akibat dari gangguan yang timbul dari terganggunya keseimbangan tubuh.Keseimbangan tubuh dapat terganggu diakibatkan oleh berbagai hal seperti perilaku, pekerjaan, makanan, pergantian hari dan sebagainya yang terjadi di alam.Jadi secara umum jenis
pengobatan ini merupakan kumpulan terapi yang berakar dari budaya dan agama yang ada di Asia Tenggara dan Timur Jauh.
2.2.3. Penyembuhan atau Pengobatan oleh Agama
Salah satu jenis pengobatan atau penyembuhan yang banyak diperoleh atau didapat oleh masyarakat sekarang adalah pengobatan atau penyembuhan agama.
Disebut penyembuhan oleh agama disebabkan oleh penggunaan kepercayaan keagamaan. Dalam penyembuhan ini kekuatan-kekuatan spiritual, divine (kepercayaan) kepada Tuhan merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan. Namun, yang membuat berbeda dengan jenis penyembuhan lain adalah karena proses penyembuhannya tidak mempercammpuradukan antara kepercayaan, keyakinan kepada Tuhan dengan kekuatan-kekuatan lain ataupun alat-alat bantu penyembuhan lain yang berasal dari satu tradisi penyembuhan kebudayaan tertentu. Jadi penggunaan doa sebagai perantara penyembuhan dalam penyembuhan ini merupakan instrumen penting dalam proses penyembuhan.
Karakteristik terpenting dari jenis penyembuhan keagamaan adalah tidak mengkomersilkan penyembuhannya kepada masyarakat. Penyembuhan keagama- an tidak dipublikasikan secara khusus. Penyembuhan biasanya dilakukan ber- samaan dengan peningkatan keimanan orang yang beragama, sebab dalam agama yang diutamakan bukan hanya kesehatan rohani dan jasmani pengikutnya, tetapi kepercayaan, kepatuhan kepada yang mutlak lah (Tuhan) yang menjadi inti kepercayaan terhadap agama.
Penyembuhan ini juga didapat dalam agama Islam. Ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an dipercayai dapat menyembuhkan penyakit jasmani maupun rohani sepanjang tidak merupakan bentuk Isakralisasi ayat namun hannya
merupakan bentuk pelahiran doa (Panji, 1999:47). Agama-agama lain juga demikian.Dalam ayat-ayat suci agama yang dipercayai menggandung kekuatan penyembuh.Misalnya dalam Agama Kristen, iman yang tinggi kepercayaan yang mendalam kepada Yesus yang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit apapun secara misterius. Tetapi lain halnya dengan pengobatan alternatif Bapak Tabib Suryadi, di dalam prakteknya do’a dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa itu penting, karena menurutnya segala yang kita lakukan kalau tidak ada keyakinan dan keseriusan sambil memohon pada yang di atas itu semua tidak ada artinya karena Tuhan yang menentukan.
2.3. Pengobatan Alternatif di Kota Medan
Pengobatan alternatif pada saat sekarang ini merupakan sistem pengobatan atau penyembuhan yang banyak digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali penduduk yang ada di Kota Medan. Pemanfaatan jasa pengobatan alternatif pada masyarakat Kota Medan bukan sekedar fenomena temporal dan kondisional, akan tetapi sudah menjadi satu fakta sosial yang tersebar luas dan diterapkan secara universal di berbagai lapisan masyarakat Indonesia.
Maraknya pemanfaatan jasa di luar medis modern yang ilmiah merupakan suatu bukti bahwasannya sistem kesehatan masyarakat telah mengarah pada revitalisasi sistem pengobatan tradisional dan yang sejenisnya yang sebahagian besar lahir dari tradisi pengobatan yang didasari oleh akar budaya maupun nilai agama masyarakat. Revitalisasi berarti mementingkan kembali atau suatu proses pengutamaan, pemunculan satu hal yang pernah ada pada saat masa yang lalu.
Dengan kata lain sistem pengobatan tradisional yang kemudian disebut sebagai
pengobatan alternatif kembali penting, diutamakan atau dimunculkan dalam sistem kesehatan nasional.
Salah satu indikator yang mendukung tentang meluasnya pemanfaatan jasa pengobatan alternatif adalah banyaknya sarana jasa pengobatan tersebut di Kota Medan.Menurut pengamatan, tempat praktek pengobatan alternatif di Kota Medan sudah banyak dan beragam.Hampir disetiap pelosok Kota Medan kini banyak dijumpai lokasi-lokasi praktek pengobatan alternatif, tetapi untuk menunjukkan data manivest tentang jumlahnya adalah sangat sukar.Data tertulis mengenai jumlah, jenis maupun metode pengobatan yang dilakukan oleh sistem pengobatan alternatif di Kota Medan tidak dijumpai baik dari Dinas Kesehatan Kotamadya Medan maupun dari instuisi pengelola kesehatan di Kota Medan.
Data tentang sarana pengobatan alternatif juga penting, sebagai sutu elemen dalam sistem kesehatan masyarakat adalah bermanfaat jika terdapat satu data tertulis yang mencatat berbagai karekteristik sistem pengobatan alternatif. Sistem pengobatan medis modern dan alternatif sama pentingnya, sebab sama-sam diperlukan oleh masyarakat dalam upaya mndapatkan kondisi kesehatan seperti yang diinginkan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1978 tentang penyembuhan tradisional (tradisional healer) di lima kabupaten di Sumatera Utara terlihat ada beberapa spesialis dari dukun dikaitkan dengan jenis penyakit yang dapat ditangani. Penelitian tersebut dilakukan di lima kabupaten yakni, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Nias dan Kabupaten Karo. Penyembuh (healer) yang dijadikan responden merupakan representasi dari lima etnis yang berada di lima
kabupaten tersebut, yakni etnis Melayu, Batak Toba, Batak Mandailing, Karo dan Nias.
Melalui penelitian tersebut didapati bahwa praktek penyembuhan alternatif/tradisional merupakan praktek penyembuhan yang umum dilakukan dan masih bertahan sebagai sistem kesehatan masyarakat.Untuk menggambarkan pengobatan alternatif di Kota Medan adalah mengalami kesulitan, sebab tidak ditemukan data skunder yang dapat menunjukkan sarana-sarana pengobatan alternatif yang masih aktif beroperasi di Kota Medan. Hal itu disebabkan banyaknya tempat praktek pengobatan alternatif yang tidak mendapatkan izin praktek ke instuisi pemerintah yang menangani kesehatan, sebagai perbandingan penelitian tentang penyembuh tradisional yang dilakukan tahun 1978 di lima kabupaten, Provinsi Sumatera Utara dapat dijabarkan dalam penelitian ini. Penulis melihat bahwa masyarakat Kota Medan merupakan resprentasi dari seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Utara.
Pengobatan alternatif di Kota Medan sangat beragam jenisnya.Ada penyembuh yang masih bersifat tradisional sampai kepada penyembuhan alternatif modern yang merupakan sistem pengobatan yang diadopsi dari tradisi penyembuhan di luar Indonesia.Melalui pengamatan yang dilakukan ternyata pada saat sekarang ini telah begitu tersebar di Kota Medan.Hampir di setiap pelosok terdapat tempat- tempat praktek pengobatan alternatif. Beberapa tempat praktek ada yang menggunakan papan pengumuman sebagai tanda pengenal ataupun sebagai media publikasi bagi masyarakat, namun ada juga penyembuh yang tidak memakai media publikasi formal seperti papan pengumuman atau selebaran.
Penyembuh jenis ini biasanya hanya mengandalkan informasi yang bersifat primitif, yaitu dari mulut ke mulut.Mereka biasanya beroperasi dalam skala geografis yang kecil, seperti di satu perumahan, kelurahan maupun lingkungan tertentu.Keahlian yang mereka milikipun biasanya tidak banyak, artinya spesifikasi penyakit maupun terapi yang dimiliki sudah sangat khas. Misalnya dukun kusuk (messages), dukun terkilir dan penyembuh lain yang menanganinya penyakit-penyakit ringan seperti batuk, penyakit kulit dan sebagainya.
Penyembuh ini biasanya juga tidak benar-benar berpropesi sebagai penyembuh mereka mempunyai profesi lain, artinya keahlian yang mereka miliki tidaklah menjadi profesi utama. Keahlian penyembuh hana sebagai pekerjaan sampingan yang dilakukan atas dasar kemanusiaan dan tuntutan kepercayaan yang mereka miliki.Namun, berbeda dengan pengobatan alternatif totok darah Walet Puti dalam penyembuhannya menjadikan kegiatan penyembuhan sebagai pekerjaan yang utama, dimana terapis melakukan praktek secara terbuka di tengah lingkungan masyarakat. Publikasi merupakan faktor penting bagi kelancaran prakteknya, di depan tempat praktek terdapat papan yang bertuliskan penyembuh, keahliannya, jenis penyakit yang dapat ditangani sampai kepada waktu buka praktek pengobatannya.
2.4. Sejarah Munculnya Terapi Totok Darah Walet Puti
Sejarah kemunculan terapi totok darah Walet Puti tidak terlepas dari keberadaan perguruan Pencak Silat Walet Puti.Perguruan Pencak Silat Walet Puti ini lah yang menciptakan terapi totok darah Walet Puti yang menjadi fokus dari penelitian ini.Bermula dari kegemaran berkelana, merantau dari satu kota ke kota lain, dari dusun ke dusun, bahkan ke luar masuk hutan belantara, kesemuanya untuk
mencari dan menimba pengalaman hidup.Suatu ketika, timbul dan muncul inspirasi gagasan untuk menciptakan suatu keahlian yang sudah lama ada di negeri dan alam kita yaitu seni beladiri berupakan Silat atau Pencak Silat.Dengan dibekali niat dan kemauan yang keras serta dibantu dengan pengalaman yang sudah ada, maka dibentuk dan diciptakan suatu keahlian beladiri silat yang kemudian dinamakan:"Warisan Leluhur Tunggal Pusaka Tradisional Indonesia"
atau disingkat dengan nama "Perguruan Silat Walet Puti".
Pada tanggal 16 Agustus 1970, Walet Puti dibentuk menjadi perguruan silat yang dibuka untuk umum dan resmi menjadi anggota organisasi yang menghimpun perkumpulan-perkumpulan silat seluruh Indonesia yaitu IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia).Sesuai dengan kejadian dan perkembangan zaman, maka hidup di alam ini adalah untuk diselidiki selanjutnya dipelajari "apa dan mengapa hal itu ada?".Maka seorang pemuda Bapak Sofyan Ratta, demikian nama pencipta dan kemudian adalah sebagai Mahaguru Perguruan Silat Walet Puti.
Selanjutnyapengalaman-pengalaman yang didapat dikembangkan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, tidaklah hanya sebatas itu tapi terus disempurnakan,dikembangkan agar menjadi karya nyata yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat umum.Memimpin dan mengembangkan suatu perguruan silat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, semuanya membutuhkan kesabaran, ketabahan, keuletan dan kerja keras, karena berbagai aral rintangan selalu menghadang di depan perjalanan, namun demikian Mahaguru yang merangkap sebagai pemimpin perguruan silat ini, bukanlah tipe manusia yang mudah menyerah dan putus asa.Rupanya cita-cita luhur tersebut terkabul dengan