• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.2 Tinjaun Pustaka

1.2.4 Konsep Penyembuhan Penyakit

Penyembuhan terhadap suatu penyakit di dalam sebuah masyarakat dilakukan dengan cara-cara yang berlaku di dalam masyarakat sesuai kepercayaan masyarakat tersebut.Ketika manusia menghadapi berbagai masalah di dalam hidup, di antaranya sakit, manusia berusaha untuk mencari obat untuk kesembuhan penyakitnya itu.Bukan hanya pengalaman, faktor sosial budaya, dan faktor ekonomi yang mendorong seseorang mencari pengobatan.Akan tetapi, organisasi sistem pelayanan kesehatan, baik modern maupun tradisional, sangat menentukan dan berpengaruh terhadap perilaku mencari pengobatan (Rahmadewi, 2009).

Secara umum, Kalangie membagi sistem medis ke dalam dua golongan besar, yaitu sistem medis ilmiah yang merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan (terutama dalam dunia barat) dan sistem non medis (tradisional) yang berasal dari aneka warna kebudayaan manusia (Rahmadewi, 2009).Pengobatan kedokteran berbasis pembuktian ilmiah, sedangkan pengobatan tradisional berdasarkan kearifan lokal yang berasal dari kebudayaan masyarakat, termasuk di antaranya pengobatan dukun, yang dalam mengobati penyakit menggunakan tenaga gaib atau kekuatan supranatural.Pengobatan maupun diagnosis yang dilakukan dukun selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuatan rasio dan batin.

Pemahaman perilaku penyembuh untuk mencapai kesempurnaan ilmu penyembuhannya, menurut Clifford Geertz (1981:117) guna memperoleh kemampuan menjadi penyembuh, di samping diwarisi, diperoleh juga melalui belajar.Pada dukun priayi cenderung menekankan disiplin bertapa, puasa yang

panjang dan meditasi yang lama.Santri biasanya menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan secara mistik atau menggunakan potongan-potongan dari tulisan Arab.

Dalam Ilmu Pengobatan Totok Darah PS. Walet Puti dikenal beberapa cara terapi :

1. Terapi Totok Darah (Acupressure Therapy).Dilakukan penotokan dengan stik perak (acupressure therapy) pada simpul-simpul syaraf di wajah yang berguna untuk melancarkan aliran darah di wajah.

2. Terapi Urut Tradisional (Massage Therapy).Dilakukan pijatan (massage therapy) dengan teknik yang khusus untuk relaksasi dan penyegaran wajah.

3. Terapi Energi Metafisik (Metaphysik Energy Therapy).Dilakukan terapi telur (egg therapy) dimana cara ini bermanfaat untuk menghilangkan flek-flek hitam di wajah, mengurangi jerawat dan menghaluskan kulit wajah.

4. Terapi Telur (Egg Therapy).Dilakukan transfer energi (Metapysic Energy Therapy) yang diistilahkan dengan membuka aura wajah, agar wajah senantiasa berseri dan tampil awet muda.

5. Terapi Herbal (Herbal Therapy).Untuk kesempurnaan seri wajah dilakukan masker wajah (Herbal Therapy) dimana digunakan masker dari bahan alami non kimia yang benar-benar aman tanpa efek samping.

1.4. Rumusan Masalah

Melihat dari latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana pengaruh totok darah di Perguruan Silat Walet Puti

• Bagaimana awal mula terciptanya metode pengobatan totok darah Walet Puti ?

• Alat-alat apa yang digunakan dalam pengobatan totok darah Walet Puti ?

• Motivasi apa yang membuat pasien memilih menjalani pengobatan totok darah Walet Puti ?

1.5.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya metode terapi totok darah Walet Puti, kemudian mendeskripsikan tahapan terapi yang dilakukan kepada pasien beserta apa saja peralatan yang digunakan dalam pengobatan totok darah Wallet Puti, serta mendeskripsikan motivasi para pasien mengapa memilih metode pengobatan totok darah Walet Puti.

Sementara itu manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah kita dapat memperbanyak sumber-sumber pengetahuan mengenai Antropologi Kesehatan dengan mendeskripsikan totok darah Walet Puti sebagai metode pengobatan alternative yang berasal dari lokal.pengobatan dengan totok darah serta keterkaitannya dengan antropologi kesehatan. Proses dari terbentuknya suatu pengetahuan mengenai ilmu pengobatan adalah hal yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan kelak.

1.6. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang menurut Bogdan dan Taylor, merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati

(Endraswara, 2006).Sebagaimana lazimnya penelitian kualitatif, peneliti dalam hal ini sekaligus merupakan instrument dalam penelitian itu sendiri.Penentuan informan dilakukan dengan purposive, yang mana terdiri atas terapis totok darah Walet Puti dan pasien totok darah. Informan yang dipilih adalah mereka yang mudah diajak bicara, mengerti tentang informasi yang peneliti butuhkan, dan yang senang diajak bekerja sama (Endaswara, 2006).

Data pada penelitian ini dibagi atas dua, yakni data primer dan data sekunder.Data primer diperoleh dari pengamatan (observasi) langsung di lapangan dan wawancara mendalam (indept interview).Untuk pengamatan digunakan teknik partisipasi, yakni peneliti memasuki wilayah penelitian (dalam hal ini klinik terapi totok darah Walet Puti) dan merasakan sendiri terapi totok darah Walet Puti untuk mengungkap data hingga mendetail (Endaswara, 2006, Moleong, 2010).

Sedangkan wawancara mendalam atau wawancara etnografi, meminjam istilah Endaswara (2006), dilakukan dengan santai dan informal, sehingga ada keterbukaan antara peneliti dengan yang diteliti.Ini dimaksudkan agar orang yang diwawancarai (informan) tidak merasa sedang diwawancarai (Moleong, 2010).Wawancara dilakukan dengan terapis, pasien, dan keluarga pasien. Di antara informan tersebut, ada yang tidak bersedia disebutkan namanya sehingga menggunakan nama samanarn.

Sementara itu, data sekunder diperoleh dari bahan-bahan yang telah diolah.Misalkan data dari Badan Pusat Statistik (Makassar dalam Angka, 2012), studi kepustakaan, serta penelusuran melalui internat berkaitan dengan fokus penelitian yang dikaji. Analisis data dilakukan secara deskriptif etnografik, yakni berusaha mendeskripsikan subjek penelitian dan cara mereka bertindak dan

berkata-kata. Analisis data juga dilakukan dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu hasil wawancara, catatan lapangan, dokumen-dokumen, dan lain-lain.Setelah itu mereduksi data, memaparkan data dan simpulan melalui pelukisan dan verifikasi (Endaswara, 2006).

Pendekatan etnografi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pendekatan emik, yakni memandang fenomena-fenomena sosial budaya atas dasar sudut pandang masyarakat yang menjadi objek kajian, yakni terapis dan pasien.

Penelitian ini juga menggunakan pendekatan etnografi yang bersifat holistik-integratif, yang bertujuan untuk mendapatkan data atas dasar native’s point of view (Spradley, 1997).

1.7. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di klinik pengobatan tradisional totok darah Walet Puti yang beralamat di Jalan Eka Rasmi, Eka Suka IV No.39 Gedung Johor, Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara. Peneliti memilih lokasi penelitian dengan alasan yaitu :

1. Peneliti telah memiliki raport yang baik dengan beberap terapis dan juga pasien semenjak sebelum dilakukannya penelitian ini. Sehingga akan sangat berpengaruh pada data lapangan yang akan didapat.

2. Tempat penelitian ini banyak diminati oleh pasien untuk berobat mengingat karena fasilitas yang memadai dan pelayanannya terhadap pasien cukup baik serta sangat bermanfaat bagi pasien terutama dalam penyembuhan penyakit pasien.

3. Letak tempat penelitian : lokasi penelitian berdekatan dengan tempat kediaman peneliti sehingga mempermudah peneli untuk menjangkau lokasi penelitian.

Dari alasan tersebut peneliti dapat memperoleh informasi yang lebih dari para pasien sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik.

BAB II

GAMBARAN UMUM PENGOBATAN ALTERNATIF

2.1. Pengobatan Tradisional Indonesia

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan telah dirulis tentang pengobatan alternatif.Walaupun tidak secara eksplisit menggunakan konsep pengobatan alternatif, dalam undang-undang tersebut digunakan konsep pengobatan tradisional. Pada Bab I Pasal 7 dinyatakan

“Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman dan keterampilan turun temurun dan diterapkan sessuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat”.

Seperti yang tercatat dalam Undang-undang tersebut, pengobatan tradisional berkaitan dengan cara, pengobatan maupun obat yang didasrkan pada pengetahuan maupun pengalaman yang diperoleh secara turun temurun. Hal itu juga tampak dari defenisi tentang obat tradisional. Dalam Undang-undang tersebut

”Obat tradisional” adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Terminologi pengobatan tradisonal dan pengobatan alternatif merupakan dua terminologi yang sama untuk menyebutkan satu siatem pengobatan di luar pengobatan modern yang berasal dari barat. Badan kesehatan dunia (WHO) menyebut hal tersebut dengan “traditionl medicine atau pengobatan tradisional.Namun demikian ada juga dari kalangan ilmiah yang menyebutnya

dengan “traditional healing” atau penyembuhan tradisional. Ada juga yang menyebutkan-nya dengan folk medicine, ethno medicine, indigenous medicine dan alternative medicine (Agoes, 1992:59).

Untuk memudahkan penyebutan maka dalam hal ini lebih baik digunakan istilah pengobatan alternatif, sebab dengan istilah ini dapat ditarik garis tegas perbedaan antara pengobatan modern dengan pengobatan di luarnya dan juga dapat merangkum sistem-sistem pengobatan oriental (timur) seperti pengobatan tradisional atau sistem penyembuhan yang berakar dari budaya turun temurun yang khas satu etnis (etno medicine), Pengobatan alternatif sendiri mencakup seluruh pengobatan tradional, dan pengobatan alternatif adalah pengobatan tradisional yang telah diakui oleh pemerintah.

World Health Organisation (WHO) menyatakan, pengobatan tradisional adalah ilmu dan seni pengobatan berdasarkan himpunan dari pengetahuan dan pengalaman praktek, baik yang dapat diterangkan secara ilmiah maupun tidak, dalam melakukan diagnosis, prevensi dan pengobatan terhadap ketidak-seimbangan fisik, mental ataupun sosial. Selain dari definisi tersebut, pemerintah Republik Indonesia dalam “Seminar Pelayanan pengobatan Tradisional Departemen Kesehatan RI (1978)”, mengemukakan 2 defenisi untuk pengobatan tradional Indonesia yaitu:

A. Ilmu dan seni pengobatan yang dilakukan oleh pengobatan tradisional Indonesia dengan cara yang tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai upaya penyembuhan, pencegahan penyakit, pemulihan dan peningkatan kesehatan jasmani, rohani dan sosial msyarakat.

B. Usaha yang dilakukan untuk mencapai kesembuhan, pemeliharaan dan peningkatan taraf kesehatan masyarakat yang berlandaskan cara berfikir, kaidah-kaidah atau ilmu di luar pengobatan ilmu kedokteran modern, diwariskan secara turun temurun atau diperoleh secara pribadi dan dilakukan dengan cara-cara yang tidak lazim dipergunakan dalam ilmu kedokteran, yang antara lain meliputi akupuntur, dukun/ahli kebatinan, sinse, tabib, jamu, pijat dan sebagainya banyak dijumpai dalam masyarakat.

Secara umum jenis pengobatan alternatif yang diakui di Indonesia secara kategori terbagi atas 3 (tiga). Ada yang menggunakan zat-zat yang berasal dari tanaman-tanaman yang kemudian lebih dikenal sebagai jamu (herbalis), yang menggunakan ilmu kebatinan (spiritual) maupun yang menggunakan alat sebagai instrumen penyembuh.Akan tetapi pembagian itu tidak begitu lengkap, sebab yang dijadikan indikator sebagai pembagi adalah terapy yang digunakan.Namun, metode pemeriksaan (diagnosa) yang dilakukan kurang mendapat perhatian.

Melihat dari pembagian pengobatan alternatif di atas tampak bahwa jenis pengobatan yang menggunakan (herbalis) dan peralatan penyembuhan secara medis sekarang ini sudah dapat diterima. Namun, yang membuat pengobatan tersebut masih tergolong irrasional adalah metode diagnosa yang dilakukan.Walaupun terapi yang dilakukan tampak rasional dan dapat diuji secara laboratorium namun diagnosa dan pandangan secara subjektif tentang penyebab penyakit masih mengandung nuansa irrasionalitas.

Pengobatan alternatif di Indonesia sangatlah banyak jenisnya.Setiap suku bangsa dan agama yang ada dii Indonesia memiliki jenis pengobatan tersendiri yang didasari oleh kebudayaannya masing-masing. Namun, jika diteliti secara

mendalam penyembuhan alternatif yang ada di Indonesia memiliki akar pada 3 (tiga) jenis pengobatan yaitu: (1) pengobatan tradisional Cina, (2) pengobatan tradisional India dan (3) kedokteran Arab atau Unani Medicine.

Pengobatan ataupun penyembuhan yang paling banyak dijumpai di Indonesia baik itu di kota maupun di desa adalah jenis pengobatan alternatif yang berlatarbelakang akar budaya tradisi suku bangsa maupun agama di Indonesia.

Pengobat (curer) ataupun penyembuh (healer) dari jasa pengobatan maupun penyembuhan tersebut sering disebut sebagai tabib atau dukun.Pengobatan maupun diagnosa yang dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuatan rasio dan batin.

Salah satu ciri khas pengobatan alternatif di Indonesia adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan atau amalan. Dalam praktek diagnosa sangat penting dalam praktek penyembuhan alternatif. Fungsi amalan atau doa dalam sebuah penyembuh sangat bervariasi dalam sebuah penyembuhan. Pada umumnya setiap penyembuh (tabib/dukun) mempergunakan doa atau bacaan. Akan tetapi kadar keagamaannya yang berbeda. Ada yang sekedar sebagai unsur penyembuh utama maupun hanya sebagai komplementer (pelengkap).

2.2. Pengobatan Alternatif Indonesia

Pada alenia-alenia sebelumnya digambarkan tentang pembagian pengobatan tradisional ke dalam beberapa jenis menurut Departemen Kesehatan RI tahun 1978. Namun, dalam pembagian tersebut tidak memsukkan jenis-jenis pengobatan alternatif lain yang berkembang sekarang ini. Untuk itu akan di gambarkan di sini pembagian pengobatan alternatif secara lebih luas. Namun pembagian ini

bukanlah pembagian yang sangat tegas sebab antara jenis-jenis pengobatan ini juga memiliki hubungan.

2.2.1. Pengobatan Tradisional Murni

Pengobatan tradisional dalam hal ini merupakan jenis pengobatan alternatif yang memiliki akar sejarah perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia.Jenis pengobatan ini berdasarkan tradisi-tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh suku bangsa (etnis) yang ada di Indonesia.Contoh dari jenis penyembuhan ini adalah erpangir.Erpangir merupakan salah satu penyembuhan yang berasal dari Suku bangsa Batak Karo.Penyembuhan ini merupakkan upacara penyembuhan yang diwariskan suku bangsa Batak Karo secara turun temurun.Erpangir ini berbentuk upacara penyembuhan tolak bala yang diiringi pembancaan mantra dan iringan musik tradisional Karo yang diperankan dan dijalankan oleh Guru Sibaso sebagai penyembuh (Bangun, 1996:166).

Dalam jenis penyembuhan ini keahlian yang di dapat biasanya diperoleh secara turun temurum.Namun, ada juga keahlian penyembuhan yang diperoleh dengan perjuangan fisik dan mental yang sangat berat seperti dalam mendapatkan ilmu penyembuhan Ajian Antabuga, Ajian Aji Anjan Kemayun yang dimiliki eorang paranormal (Masrury, 1997:33-40).

2.2.2. Alternatif Berasal dari Budaya atau Agama Luar Indonesia

Jenis penyembuhan sekarang ini mengalami perkembangan yang cukup pesat dan peminatnya sangat banyak tersebar di Indonesia.Pengobatan jenis ini dibedakan dengan pengobatan alternatif lainnya, sebab memiliki akar sejarah perkembangan dari luar Indonesia.Pengobatan tersebut pada umumnya berakar dari agama dan budaya Hindu, Islam, Budha dan Tao (Regional Health Forum, 1996:52).

Sistem pengobatan alternatif ini adalah sistem pengobatan alternatif yang berasal dari Asia Tenggara dan negara-negara timur jauh.Secara filosofis sistem pengobatan alternatif ini didasarkan pada pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari alam manusia (microcosmos) dan alam (macrocosmos) yang saling berhubungan secara harmonis.Sistem organisme manusia sangat dipengaruhi oleh sistem dari alam sendiri.

Ada banyak jenis pengobatan yang bersumber dari ke 4 agama dan budaya itu.

Contoh penyembuhan ini adalah terapi ”Reiki”. Terapi ini merupakan satu teknik penyembuhan yang berasal dari agama Budha.Teknik ini ditemukan kembali pada tahun 1800-an oleh Dr. Mikao Usui. Istilah Reiki berasal dari bahasa Jepang,

”Rei” berarti universal, ”Ki” berarti tenaga kehidupan. Jadi terapi Reiki merupakan teknik penyembuhan yang menggunakan tenaga kehidupan berupa energi universal yang dapat menyembuhkan organ-organ tubuh manusia yang sedang mengalami sakit (Kompas, 1 Februari 2007).

Selain itu terdapat juga jenis pengobatan lain seperti Akupuntur, Refleksologi, Bekam, Seni pernapasan Yoga yang berasal dari Hindu, Tai Chi dari China, Ayurveda, penyembuhan dengan kristal dan banyak lagi teknik-teknik penyembuhan yang memiliki akar perkembangan dari agama-agama yang tersebut di atas. Namun, yang menjadi ciri utama teknik-teknik ini adalah mengutamakan keseimbangan di dalam tubuh.Penyakit merupakan akibat dari gangguan yang timbul dari terganggunya keseimbangan tubuh.Keseimbangan tubuh dapat terganggu diakibatkan oleh berbagai hal seperti perilaku, pekerjaan, makanan, pergantian hari dan sebagainya yang terjadi di alam.Jadi secara umum jenis

pengobatan ini merupakan kumpulan terapi yang berakar dari budaya dan agama yang ada di Asia Tenggara dan Timur Jauh.

2.2.3. Penyembuhan atau Pengobatan oleh Agama

Salah satu jenis pengobatan atau penyembuhan yang banyak diperoleh atau didapat oleh masyarakat sekarang adalah pengobatan atau penyembuhan agama.

Disebut penyembuhan oleh agama disebabkan oleh penggunaan kepercayaan keagamaan. Dalam penyembuhan ini kekuatan-kekuatan spiritual, divine (kepercayaan) kepada Tuhan merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan. Namun, yang membuat berbeda dengan jenis penyembuhan lain adalah karena proses penyembuhannya tidak mempercammpuradukan antara kepercayaan, keyakinan kepada Tuhan dengan kekuatan-kekuatan lain ataupun alat-alat bantu penyembuhan lain yang berasal dari satu tradisi penyembuhan kebudayaan tertentu. Jadi penggunaan doa sebagai perantara penyembuhan dalam penyembuhan ini merupakan instrumen penting dalam proses penyembuhan.

Karakteristik terpenting dari jenis penyembuhan keagamaan adalah tidak mengkomersilkan penyembuhannya kepada masyarakat. Penyembuhan keagama-an tidak dipublikasikkeagama-an secara khusus. Penyembuhkeagama-an biaskeagama-anya dilakukkeagama-an ber-samaan dengan peningkatan keimanan orang yang beragama, sebab dalam agama yang diutamakan bukan hanya kesehatan rohani dan jasmani pengikutnya, tetapi kepercayaan, kepatuhan kepada yang mutlak lah (Tuhan) yang menjadi inti kepercayaan terhadap agama.

Penyembuhan ini juga didapat dalam agama Islam. Ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an dipercayai dapat menyembuhkan penyakit jasmani maupun rohani sepanjang tidak merupakan bentuk Isakralisasi ayat namun hannya

merupakan bentuk pelahiran doa (Panji, 1999:47). Agama-agama lain juga demikian.Dalam ayat-ayat suci agama yang dipercayai menggandung kekuatan penyembuh.Misalnya dalam Agama Kristen, iman yang tinggi kepercayaan yang mendalam kepada Yesus yang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit apapun secara misterius. Tetapi lain halnya dengan pengobatan alternatif Bapak Tabib Suryadi, di dalam prakteknya do’a dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa itu penting, karena menurutnya segala yang kita lakukan kalau tidak ada keyakinan dan keseriusan sambil memohon pada yang di atas itu semua tidak ada artinya karena Tuhan yang menentukan.

2.3. Pengobatan Alternatif di Kota Medan

Pengobatan alternatif pada saat sekarang ini merupakan sistem pengobatan atau penyembuhan yang banyak digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali penduduk yang ada di Kota Medan. Pemanfaatan jasa pengobatan alternatif pada masyarakat Kota Medan bukan sekedar fenomena temporal dan kondisional, akan tetapi sudah menjadi satu fakta sosial yang tersebar luas dan diterapkan secara universal di berbagai lapisan masyarakat Indonesia.

Maraknya pemanfaatan jasa di luar medis modern yang ilmiah merupakan suatu bukti bahwasannya sistem kesehatan masyarakat telah mengarah pada revitalisasi sistem pengobatan tradisional dan yang sejenisnya yang sebahagian besar lahir dari tradisi pengobatan yang didasari oleh akar budaya maupun nilai agama masyarakat. Revitalisasi berarti mementingkan kembali atau suatu proses pengutamaan, pemunculan satu hal yang pernah ada pada saat masa yang lalu.

Dengan kata lain sistem pengobatan tradisional yang kemudian disebut sebagai

pengobatan alternatif kembali penting, diutamakan atau dimunculkan dalam sistem kesehatan nasional.

Salah satu indikator yang mendukung tentang meluasnya pemanfaatan jasa pengobatan alternatif adalah banyaknya sarana jasa pengobatan tersebut di Kota Medan.Menurut pengamatan, tempat praktek pengobatan alternatif di Kota Medan sudah banyak dan beragam.Hampir disetiap pelosok Kota Medan kini banyak dijumpai lokasi-lokasi praktek pengobatan alternatif, tetapi untuk menunjukkan data manivest tentang jumlahnya adalah sangat sukar.Data tertulis mengenai jumlah, jenis maupun metode pengobatan yang dilakukan oleh sistem pengobatan alternatif di Kota Medan tidak dijumpai baik dari Dinas Kesehatan Kotamadya Medan maupun dari instuisi pengelola kesehatan di Kota Medan.

Data tentang sarana pengobatan alternatif juga penting, sebagai sutu elemen dalam sistem kesehatan masyarakat adalah bermanfaat jika terdapat satu data tertulis yang mencatat berbagai karekteristik sistem pengobatan alternatif. Sistem pengobatan medis modern dan alternatif sama pentingnya, sebab sama-sam diperlukan oleh masyarakat dalam upaya mndapatkan kondisi kesehatan seperti yang diinginkan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1978 tentang penyembuhan tradisional (tradisional healer) di lima kabupaten di Sumatera Utara terlihat ada beberapa spesialis dari dukun dikaitkan dengan jenis penyakit yang dapat ditangani. Penelitian tersebut dilakukan di lima kabupaten yakni, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Nias dan Kabupaten Karo. Penyembuh (healer) yang dijadikan responden merupakan representasi dari lima etnis yang berada di lima

kabupaten tersebut, yakni etnis Melayu, Batak Toba, Batak Mandailing, Karo dan Nias.

Melalui penelitian tersebut didapati bahwa praktek penyembuhan alternatif/tradisional merupakan praktek penyembuhan yang umum dilakukan dan masih bertahan sebagai sistem kesehatan masyarakat.Untuk menggambarkan pengobatan alternatif di Kota Medan adalah mengalami kesulitan, sebab tidak ditemukan data skunder yang dapat menunjukkan sarana-sarana pengobatan alternatif yang masih aktif beroperasi di Kota Medan. Hal itu disebabkan banyaknya tempat praktek pengobatan alternatif yang tidak mendapatkan izin praktek ke instuisi pemerintah yang menangani kesehatan, sebagai perbandingan penelitian tentang penyembuh tradisional yang dilakukan tahun 1978 di lima kabupaten, Provinsi Sumatera Utara dapat dijabarkan dalam penelitian ini. Penulis melihat bahwa masyarakat Kota Medan merupakan resprentasi dari seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

Pengobatan alternatif di Kota Medan sangat beragam jenisnya.Ada penyembuh yang masih bersifat tradisional sampai kepada penyembuhan alternatif modern yang merupakan sistem pengobatan yang diadopsi dari tradisi penyembuhan di luar Indonesia.Melalui pengamatan yang dilakukan ternyata pada saat sekarang ini telah begitu tersebar di Kota Medan.Hampir di setiap pelosok terdapat tempat-tempat praktek pengobatan alternatif. Beberapa tempat-tempat praktek ada yang

Pengobatan alternatif di Kota Medan sangat beragam jenisnya.Ada penyembuh yang masih bersifat tradisional sampai kepada penyembuhan alternatif modern yang merupakan sistem pengobatan yang diadopsi dari tradisi penyembuhan di luar Indonesia.Melalui pengamatan yang dilakukan ternyata pada saat sekarang ini telah begitu tersebar di Kota Medan.Hampir di setiap pelosok terdapat tempat-tempat praktek pengobatan alternatif. Beberapa tempat-tempat praktek ada yang