• Tidak ada hasil yang ditemukan

Totok Darah Walet Puti Sebagai Penemuan Dalam Metode

BAB II GAMBARAN UMUM PENGOBATAN ALTERNATIF

3.4 Totok Darah Walet Puti Sebagai Penemuan Dalam Metode

Pemanfaatan pengobatan alternatif didorong oleh berbagai faktor, yakni pengetahuan, kepercayaan maupun pengalaman seseorang tentang penyakit.Ketertarikan pada pengobatan di luar medis ini juga mempengaruhi.

Ketertarikan akan pengobatan alternatif didasari oleh berbagai unsur. Masyarakat cendrung memanfaatkan pengobatan alternatif bukan hanya disebabkan ongkos (cost) dokter yang begitu mahal dan menggila sekarang., namun ada kepercayaan yang sulit dijelaskan. Walaupun pengobatan ini tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dan kemungkinan hanya memiliki efek placebo, namun sekarang banyak pasien yang sampai antri di panti-panti pengobatan alternatif (Kompas, 2006).

Faktor penarik yang dimaksudkan di sini adalah fakta-fakta atau kenyataan yang melekat pada pengobatan alternatif, baik itu terapi yang diterapkan, diagnosanya maupun atribut-atribut yang dipakai.Atribut maupun simbol-simbol dalam pengobatan alternatif terkadang sangat menarik.Selain tidak dijumpai pada dokter

dan di rumah sakit, atribut-atribut tersebut ada yang memiliki keunikan dan dekat dengan pengetahuan masyarakat. Dengan kata lain, alat-alat yang digunakan merupakan alat-alat yang juga dipergunakan orang dalam kehidupan sehari-hari dan alat-alatnya juga sudah modern.

Salah satu faktor penarik bagi pemanfaatan pengobatan alternatif adalah keunikan yang dimiliki. Keunikan yang dimaksud di sini menyangkut berbagai unsur yang terdapat di dalam sistem penyembuhan secara keseluruhan. Artinya dalam keseluruhan proses penyembuhan terdapat bagian maupun tahap-tahap penyembuhan oleh pasien secara unik dan menumbuhkan rasa ingin tahu.

Keanehan-keanehan maupun perasaan asing yang menyelimuti pandangan pasien merupakan situai yang mendukung ketertarikan.

Unik berarti lain dari yang lain, yaitu berbeda dengan sesuatu yang umum. Dalam hal ini yang umum adalah sistem pengobatan kedokteran. Sistem pengobatan yang menggunakan pendekatan biomedik yang selama ini rutin dijadikan rujukan awal dari masyarakat. Daya tarik tersebut bukan hanya muncul sebagai akibat dari pengalaman langsung, akan tetapi juga dapat muncul dari cerita-cerita orang-orang yang telah mengalami atau sebaliknya melihat keunikan tersebut.

Salah satu dasar ketertarikan seseorang untuk mengunjungi penyembuh alternatif adalah keunikan diagnosa.Diagnosa merupakan pemeriksaan awal untuk menilai kondisi kesehatan seseorang.Melalui pengamatan yang dilakukan, banyak cara-cara diagnosa penyembuh alternatif yang unik. Seperti halnya Bapak Sutopo, yang sistem diagnosanya digabung dengan pengobata modern, dia menggunakan stetoskop dan alat pendeteksi yang modern, selain itu dia mendiagnosa penyakit dengan memegang telapak tangan dan kaki dengan memegang-megang

bagian-bagian tertentu penyakit dapat terditeksi dengan akurat. Hal ini bukan tanpa alasan, hasil diagnosa selalu dibenarkan oleh pasien-pasiennya yang membuat mereka takjub.

Seperti yang dikatakan seorang informan bapak Handoko (34 tahun) yang mengungkapkan ketertarikan nya pada pengobatan alternatif

“... Pengobatan alternatif ini sangat unik dan tidak dijumpai pada penyembuh lain. Walaupun unik tetapi tepat dan tidak disangkal. Ini harus dikembangkan karena memiliki tingkat akurasi yang tinggi ...”

Bagi beberapa informan, keunikan terapi menjadi daya tarik tersendiri.Terapi yang ada pengobatan alternatif baik yang tradisional maupun alternatif modern sekarang ini jelas memberikan tawaran-tawaran menarik dan menggoda masyarakat.Salah satu kekurangan sistem pengobatan ilmiah kedokteran adalah menganggap tubuh dan jiwa sebagai dua bagian yang terpisah.Kedua bagian ini tidak dipengaruhi secara langsung terhadap muncuulnya penyakit.

Manusia dianggap sebagai makhluk yang hanya terdiri atas organ biologik.Untuk memahami manusia cukup dengan mengetahui anatomik normal dan patologik, fungsi faal, biofisik, neuro fisik dan patologik dari proses-proses biologik manuusia. Dengan kata lain dalam dunia kedokteran, pada tubuh manusia hanya terdapat proses biokimia saja (Agoes, 1992:133-134).

Padahal dalam tubuh manusia terdapat dimensi ke empat selain fisik, mental dan sosial yaitu spirit.Unsur spirit sangat mempengaruhi tubuh manusia. Sehat secara spiritual sama pentingnya dengan sehat secara fisik. Namun karena mengandung pengertian yang tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak berbau dan sukar dideskripsikan (undescribable) maka banyak yang tidak menerima unsur ini (Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia, 1985:125).

Dalam penyembuhan alternatif, unsur mental, sosial maupun spiritual merupakan bagian-bagian yang sering tidak terjangkau oleh dokter.Seperti dalam penyembuhan alternatif totok darah yang di jalankan Bapak Sutopo ini.Penyakit yang ditanganinya bukan hanya penyakit fisik saja, namun mental, sosial dan juga spiritual.Penyakit-penyakit ataupun kelemahan-kelemahan tubuh seperti itu ditangani secara teliti dan penyembuhan juga harus dilakukan secara menyeluruh.

Misalnya saja penyakit-penyakit mental seperti stress, lemah ingatan, idiot sampai penyakit yang bersifat spiritual seperti kerasukan setan, pelaris, mencabut susuk dan sebagainya.

Ketertarikan antara jiwa (mental) dan fisik, khususnya dalam menyebabkan penyakit maupun penyembuhnya sangat erat. Seperti yang dikatakan seorang informan yang bernama Anto 35 tahun, ia menjelaskan:

“... Sebenarnya terapis, penotok, atau pnyembuh dan yang sejenisnya itu menyembuhkan dengan target utama adalah psikis pasien yang diyakini dapat membantu proses percepatan penyembuhan. Doa ataupun jampi-jampi merupakan sugesti bagi si penderita. Orrang yang diintervensi dengan obat-obatan saja, tanpa disugesti akan sulit sembuh.Karena tubuhnya hanya menerima saja. Sedangkan jika jiwa diikutsertakan penyembuhan akan cepat, sebab jiwa ikut secara aktif dalam proses penyembuhan ...”

Hal tersebut sama dikemukakan juga oleh bapak Sanjaya, kegagalan sistem pengobatan kedokteran merupakan akibat pandangan parsial atau sebagian-sebagian tentang tubuh manusia. Manusia bukan hanya terdiri atas tubuh semata, namun merupakan hasil penggabungan antara tubuh, jiwa dan lingkungan sosial.

Untuk itu penyembuhan harus mengaitkan ke tiga elemen tersebut. Kealpaan dari salah satu elemen tersebut dalam terapi maupun pengobatan akan mengakibatkan ketimpangan dalam penyembuhan. Dalam kutipannya berikut ini akan dilihat

bahwa elemen-elemen tersebut merupakan dasar penyembuhannya. Bapak Sanjaya menjelaskan :

“... kalau pengobatan yang dilakukan semua kondisi diperhatikan. Seluruh kondisi seperti badan, jiwa dan di luar badan penting...sakit bukan karena kondisi badan saja, tetapi aspek sosial maupun psikologis mempengaruhi.

Kalau orang yang batinnya tertekan, mungkin akibat permasalahan keluarga maka kemungkinan akan membuat penyakit ...”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa timbulnya suatu penyakit adalah disebabkan oleh salah satu atau ke tiga unsur tersebut yang membuat ketidakseimbangan di dalam tubuh.Ketidakseimbangan tersebut dapat berbentuk tidak lancarnya aliran darah dalam tubuh atau kerusakan syaraf.Untuk itu penyembuhan bukan hanya menyangkut terapi fisik saja namun juga terapi sosial.Metode digunakan sendiri ada banyak, tabib sendiri mengutamakan komunikasi dalam penyembuhannya.

Komunikasi yang dilakukannya penting, sebab dengan begitu ia jadi tahu tentang latar belakang penyakit muncul. Melalui komunikasi ia melakukan sugesti kepada pasien. Dalam penyembuhan alternatif pada umumnya peran si penyembuh dengan pasien sangat baik.Seorang terapis atau penyembuh maupun praktisi pengobatan alternatif lainnya begitu setara kedudukannya dengan pasien.

Terapis tidak menempatkan diri di atas seorang pasien dengan memperlihatkan sebagai orang yang paling mengerti akan segalanya. Kebanyakan praktisi pengobatan alternatif menempatkan diri sebagi orang yang dekat dengan pasien.Tidak diciptakannya jarak membuat seorang terapis atau praktisi alternatif menarik dan dijadikan alternatif penyembuh.

BAB IV

PENGALAMAN PASIEN TOTOK DARAH WALET PUTI

4.1. Awal Pengenalan Pasien Dengan Totok Darah Walet Puti

Adalah bapak Taufan, pria berusia 36 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai Kepala Lingkungan (Kepling) IV, Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota yang akhirnya menjalani terapi totok darah Walet Puti. Pendidikan terakhir bapak Taufan adalah Sarjana (S1).Kepada peneliti bapak Taufan menceritakan penyakit yang dideritanya yakni masalah dengan pencernaan sudah beberapa bulan terakhir. Bapak Taufan sebagai Kepala Lingkungan tentunya banyak bekerja di lapangan dan pada akhir-akhir ini cuaca di Kota Medan kadang berubah-ubah, terkadang hujan, namun terkang berubah menjadi sangat panas dan akhirnya membuat bapak Taufan kecapean.

Awal mula penyakitnya adalah ketika bapak Taufan sering meminum es ketika hari sedang panas, namun setalahnya bapak Taufan merasakan perutnya yang terasa gembung.Setelah itu akhirnya bapak Taufan berobat ke klinik yang berada disekitar rumahnya, namun sudah beberapa minggu tidak kunjung membaik.Karena bapak Taufan sedikit cemas dengan efek samping konsumsi obat yang harus dijalaninya selama pengobatan medis, akhirnya bapak Taufan mencoba untuk menjalani pengobatan alternatif.Bapak Taufan mengetahui totok darah Walet Puti awalnya adalah ketika para penotok Walet Puti datang ke rumah bapak Taufan untuk memintak izin membuka pengobatan masal di lingkungan rumah bapak Taufan yang menjabat sebagai kepala lingkungan IV.

Sebelumnya totok darah Walet Puti sudah berkunjung dan melakukan acara pengobatan masal di lingkungan III.Maka Walet Puti ingin meminta izin kepada bapak taufan sebagai Kepala Lingkungan IV untuk membolehkan diadakannya pengobatan masal di rumah bapak Taufan.Acara tersebut akhirnya disetujui oleh bapak Taufan dan akhirnya dibuka lah acara pengobatan masal totok darah Walet Puti yang berlokasi di rumah bapak Taufan sebagai kepala lingkungan IV.

Pengobatan masal tersebut berlangsung pada tanggal 15 Februari 2017 yang beralamat Gg. Supir, Lingkungan IV, Kelurahan Teladan Barat, Kecamatan Medan Kota.

Pak Taufan sebelumnya belum pernah tau totok darah Walet Puti ini.Bapak Taufan mengetahui totok darah Walet Puti karena para penotok Walet Puti membuka pengobatan masal di rumah bapak Taufan.Bapak Taufan pun iseng-iseng meminta untuk ditotok badannya kepada terapis totok darah Walet Puti, karena memang kebetulan gratis. Menurut penuturan bapak Taufan setelah dirinya menjalani totok darah, badan bapak Taufan menjadi lebih enteng, segar dan ringan. Sebelum ditotok menurut bapak Taufan dirinya merasa pegal-pegal dan setelah selesai ditotok badannya terasa lebih enakan.Selama menjalani totok darah bapak Taufan tidak merasakan efek samping atau badannya terasa aneh atau bahkan menjadi lebih buruk. Akan tetapi menurutnya memang pada saat ditotok ada terasa sedikit sakit seperti ditusuk-tusuk, namun itu hanya sebentar saja dan setelah penotokan rasa sakit itu akan hilang dengan sendirnya.

Satu hal yang mengejutkan bapak Taufan adalah bahwa setelah ditotok darahnya baru lah bapak Taufan tahu dari terapis Walet Puti bahwa dirinya sudah terkena penyakit asam lambung.Akhir-akhir itu memang bapak Taufan merasakan sakit di

bagian perutnya, menurut penuturan bapak Taufan rasanya seperti masuk angin dan terasa perutnya keras dipenuhi angin.Sebelumnya bapak Taufan tidak mengetahui kalau dirinya terkena asam lambung.

Dari penuturan bapak Taufan sebelumnya dirinya tidak percaya dengan diagnose dari terapis totok darah Walet Puti tersebut, karena menurutnya pengobatan alternatif tidak mungkin dapat mendiagnosa penyakit dalam seseorang. Akhirnya bapak Taufan mencoba untuk memeriksakan perutnya ke rumah sakit beberapa waktu kemudian, dan akhirnya dokter memang memfonis dirinya memang terkena asam lambung.Sontak hal tersebut menimbulkan rasa keheranan sekaligus takjub di benak bapak Taufan, karena ternyata kemampuan para terapis totok darah Walte Puti bukan hanya sekdar ucapan saja.Menurut bapak Taufan penyakit asam lambung adalah kelebihan asam atau gas di lambung. Penyebab terkena asam lambung itu adalah tidak lain karena pola makan yang tidak teratur, dan sering minum es pada siang hari.

Foto 10: Wawancara dengan bapak Taufan Pasien Totok Darah Walet Puti.

Sumber: Peneliti (tahun 2017)

Menurut bapak Taufan memakan makanan yang pedas-pedas juga

Dalam proses terapinya bapak Taufan sebelum menjalani totok darah hanya mengkonsumsi suplemen herbal (klorofil) saja. Namun, setelah menjalani totok darah akhirnya bapak Taufan berhenti mengkonsumsi suplemen herbal tersebut.

Pendefinisian penyakit dalam suatu masyarakat dan kebudayaan memang berbeda–beda, adanya pendefinisian yang berbeda–beda ini terjadi karena dipengaruhi oleh letak geografis, kondisi alam dan lingkungan, makanan, pola makan serta kebiasaan makan. Menurut beberapa informan, mereka mengenal dan mengetahui tentang perkembangan pengobatan alternatif sejak lama. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Bapak Putra Wijaya (30 tahun) :

“... Saya sudah mengetahui sejak lama tentang pengobatan-pengobatan alternatif dari orang tua dulu.Dan sekarang ini bukannya makin berkurang tetapi malah makin banyak bermunculan pengobatan-pengobatan alternatif seperti totok darah Walet Puti ini yang bermunculan. Tetapi saya tidak begitu saja percaya terhadap penyembuhan tersebut, sebelum saya melihat dan mengalami sendiri hasil pengobatannya ...”

Lain halnya dengan Bapak Putra Wijaya, Ibu Misniati 52 tahun mengetahui kegunaan pengobatan alternatif baru setahun belakangan ini, seperti yang diungkapkannya berikut ini :

“...pertama saya diajakin sama saudara saya berobat alternatif saja katanya, tapi waktu itu saya pikir pengobatan alternatif itu ya pergi ke dukun dijampi-jampi sama disembur pake air, tapi ternyata bukan. Pertamanya saya ngawanin tetangga aja, abis itu saya ikut coba dan merasakan ada manfaatnya, ya akhirnya saya lanjutin la terapi totok darahnya dan bahkan suami juga saya suruh ikut berobat ke sini, karena kan aman ...”

Bapak Ono (37 tahun) yang juga menggunakan jasa pengobatan alternatif totok darah Walet Puti pun menceritakan pengetahuannya tentang pengobatan alternatif sebagai berikut :

“... Sekarang ini banyak sekali memang bermunculan pengobatan-pengobatan alternatif yang menawarkan kesembuhan, biasanya itu pengobatan China seperti akupuntur, kalau lokal dia pijat refleksi, ceragem atau yang lainnya. Sekarang ini tergantung kita untuk memilih pengobatan yang mana yang baik buat kita dan kita juga harus lebih teliti, mana penyembuhan yang masuk akal kita dan terjamin kesembuhannya ....”

Penyembuh tradisional di seantero dunia berpraktik pengobatan humoral.Sebagian besar bentuk institusi dan pendidikan profesi telah disesuaikan dengan tradisi pengobatan asli, seperti di Cina, India, Jepang Srilangka, dan negara -negara lain (Leslie, 1977:1).Di Vietnam dan India ada dua institusi pendidikan kedokteran, yaitu modern dan tradisional. Dua jurusan yang berbeda itu mempunyai derajat yang sama. Pengobatan seperti di Cina, Ayurveda Hindu, pengobatan Islam Unani Tibbi, dikenal dan didukung oleh pemerintah nasional masing-masing (Foster/Anderson, 1986:57).Pengobatan Cina secara kuat telah mempengaruhi institusi kesehatan di Korea, Jepang, dan bagian Asia Tenggara. Ayurveda (yang artinya pengetahuan hidup) sasaran pengaruhnya telah ada di Tibet, Birma, dan Asia Tenggara (Leslie, 1977:3).

Berbeda dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti disebutkan di atas, cara-cara pengobatan tradisional dan cara-cara pengobatan modern dilakukan dalam sistem pelayanan kesehatan formal. Di Indonesia, upaya pengobatan tradisional hanya dan masih berperan pada tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat. Pada tingkat pertama fasilitas pelayanan, tingkat rujukan pertama dan rujukan yang lebih tinggi upaya pelayanan kesehatan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan modern (formal); sedangkan pada tingkat rumah tangga pelayanan kesehatan oleh individu dan keluarga memegang peran utama (Soesilo, 1996:9).

Di Indonesia, seperti halnya di Kota Medan, banyak terdapat pengobatan pengobatan alternatif seperti akupuntur, pijat refleksi, ceragem, herbal terapi, yoga, dan dalam hal ini yang dibahas adalah totok darah yang menjadi tujuan masyarakat untuk menjadikannya sebagai salah satu pilihan yang banyak diminati.

Fenomena penggunaan pengobatan alternatif pada masyarakat Indonesia merupakan kecendrungan yang berkembang di seluruh kalangan masyarakat.Masyarakat berbagai status menunjukkan kecendrungan menggunakan pengobatan alternatif dalam pengobatannya.

Hal ini dikuatkan oleh Nico. S. Kalangie (1994:129) dengan mengatakan bahwa

”...At the same time it would be foolish to assume shay aventually traditional nmedicine and popular care will die or wither on vine. First of all, jamu tonics and the like are believe in implicity by even educated Indonesian, physician included...”.Terjemahan bebasnya adalah “... pada saat bersamaan adalah suatu kebodohan jika menganggap pengobatan tradisional dan popular telah ditinggalkan. Terutama semua jamu dan sejenisnya secara implisit bahkan dipercayai oleh orang Indonesia yang berpendidikan termasuk dokter ...”

Keesing (1989) mengatakan bahwa pengetahuan yang berada di kepala seseorang merupakan hal yang sudah ada atau terlukiskan dibenak orang tersebut, dimana pengetahuan ini akan membatu orang tersebut untuk bertindak lebih lanjut, dan mengantikan budaya sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari. Keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai mahkluk sosial yang isinya adalah seperangkat model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan yang dihadapinya dan

untuk menolong serta menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukan. Sistem pengetahuan dapat dibagi 2 (dua), yaitu :

1. Sistem pengetahuan realita, yaitu pandangan atau penafsiran terhadap suatu objek yang didasarkan kepada realitas suatu fenomena yang dapat dikaji secara ilmiah dan secara material dapat terasa.

2. Sistem pengetahuan non realitas yaitu pandangan atau penafsiran terhadap sesuatu objek yang didasarkan pada sifat tahayul atau mitos yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat setempat (Noerhadi dalam Alfian, 1985: 209) Pengetahuan realita di dalam pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan alternatif disini adalah pengetahuan masyarakat yang dalam sistem pengobatannya dapat diterima akal dan pikiran dan dikaji secara ilmiah, misalnya pengobatan bekam yang berasal dari Arab, teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor atau racun yang berbahaya dari dalam tubuh melalui permukaan kulit, ataupun totok darah Walet Puti yang menyasar sistem syaraf pasien dan dikombinasikan dengan meminum ramuan herbal. Sedangkan sistem pengetahuan non realita merupakan sistem pengetahuan manusia yang dalam penyembuhannya tidak masuk akal dan di luar realitas manusia, misalnya sistem pengobatan dengan menggunakan tenaga dalam, magic dan kebatinan.

Pengetahuan masyarakat berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainya, apalagi dalam pengetahuan mereka mengenai pengobatan alternatif.

Seperti ungkapan informan yang bernama ibu Sari (40 tahun) dan sudah 3 minggu menjadi pasien di klinik totok darah Walet Puti ini, ia mengungkapkan bahwa:

“... sebenarnya untuk penyakit-penyakit biasa ataupun kronis saya lebih memilih medis karena lebih terjamin, tapi saya juga enggak menutup diri untuk pengobatan alternatif, tapi yang masuk akal juga dan sudah teruji

saya ya sama sekali tidak mau lah, zaman uda maju begini kok masih percaya sama yang gituan ...”

Pengetahuan masyarakat dalam memilih penyembuhan penyakitnya diperoleh dari pengalaman serta dorongan lingkungannya yang menghasilkan tingkah laku yang disebut juga dengan budaya (Spradley, 1980). Kebudayaan menentukan sesuatu dapat dikatakan sebagai penyakit atau sesuatu itu tidak dianggap sebagai suatu penyakit.Seperti pengalaman informan berikutnya yang menceritakan kepada peneliti awal mula dirinya mengenal totok darah Walet Puti.

4.2. Motivasi Memilih Pengobatan Walet Puti

Ada dua faktor yang menjadi pendorong masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif.Faktor yang pertama adalah faktor pendorong.Faktor pendorong ini menjelaskan latar belakang masyarakat menggunakan dalam sistem pengobatan di luar pengobatan medis kedokteran.Sedangkan faktor kedua adalah faktor penarik.Faktor penarik merupakan faktor yang berada di luar si penderita penyakit yang membawa penggunaan pengobatan alternatif.

Pemanfaatan pengobatan alternatif pada saat sekarang ini sudah menjadi pandangan yang lazim dalam sistem kesehatan masyarakat.Latar belakang pemanfaatan pengobatan alternatif (Alternatif Medicine) pada masyarakat ditentukan oleh beberapa faktor.Faktor-faktor yang mendorong seseorang yang sedang sakit, yang menggunakan pengobatan ekstra medis diakibatkan oleh banyak hal.Faktor pendorong masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif yaitu, pengalaman negatif terhadap pengobatan modern, keluarga dan Lay reffeal group lain, pelengkap dari pengobatan modern serta pengobatan yang unik, holistik dan mempunyai kesejajaran kedudukan antara penyebuh dan pasien.

4.2.1. Pengalaman Menjalani Pengobatan Lain

Pada umumnya, seseorang yang merasa menderita suatu penyakit (illnes) sudah pasti akan mencari sumber-sumber pengobatan. Mencari sumber-sumber pengobatan untuk kemudian dipilihnya merupakan sistem pengobatan yang memiliki kesesuaian dan tidak bertentangan dengan kepercayaannya. Pemilihan suatu sistem pengobatan dipengaruhi oleh pemahaman maupun pengetahuan tentang penyakit untuk selanjutnya menentukan sistem pengobatan apa yang akan dipilihnya. Jadi, seseorang yang memiliki pemahaman yang rasional tentang penyakit akan memilih sistem diagnosa dan terapi yang dapat diterima akal dan tidak bertentangan dengan pandangan rasionalnya tentang dunia.

Dalam hal ini seseorang yang masuk ke dalam masyarakat golongan menengah hingga atas akan memilih pengobatan yang dapat diterima akal, yakni pengobatan formal biomedikal modern yang berasal dari Barat. Hal tersebut sudah merupakan pemandangan biasa.Namun sekarang ini masyarakat yang tergolong memiliki intelektualitas tinggi dan modern telah memanfaatkan obat-obatan di luar medis kedokteran.Mereka mendatangi tempat-tempat praktek tabib, dukun maupun praktisi-praktisi pengobatan alternatif lainnya.

Melalui data yang didapat dari tiap-tiap informan, salah satu penyebab munculnya keinginan untuk memanfaatkan pengobatan alternatif adalah di-akibatkan oleh pengalaman negatif pada sistem pengobatan modern.Rata-rata informan menjelaskan bahwa setelah dinyatakan menderita penyakit dari pemeriksaan laboratorium maupun dokter (disease) maka langkah pertama yang mereka lakukan adalah mengunjungi dokter ataupun paramedis yang ada di rumah sakit.

Namun dari kunjungan pengobatan yang dilakukan ternyata banyak yang tidak memuskan mereka.Banyak penyakit yang mereka derita tidak menunjukkan kesembuhan maupun perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diinginkan.

Pengalaman negatif dengan sistem pengobatan medis kedokteran ini sangat

Pengalaman negatif dengan sistem pengobatan medis kedokteran ini sangat