BAB II GAMBARAN UMUM PENGOBATAN ALTERNATIF
4.2 Motivasi Memilih Pengobatan Walet Puti
4.2.2 Totok Darah Walet Puti Sebagai Pengobatan Selain Medis
Salah satu unsur yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk mengambil tindakan untuk memperoleh kesehatan adalah unsur pandangan individu tentang beratnya penyakit yang dideritanya (perceived seiousness). Semakin tinggi kesulitan dan resiko yang kemungkinan dapat ditimbulkan oleh suatu penyakit maka akan mempengaruhi pada semakin besarnya ancaman suatu penyakit (Sarwono; 1997,67). Semakin besarnya ancaman akan mempengaruhi besarnya kemungkinan seseorang akan mengambil tindakan pengobatan.
Seseorang yang merasa lebih terancam terhadap dampak yang timbul dari suatu penyakit akan mengambil tindakan pengobatan yang berbeda dari orang yang akan hanya mendapatkan penyakit yang ringan dan tidak mengganggu bagi hidupnya. Jika suatu penyakit dapat menimbulkan sesutu yang fatal bagi seseorang, misalnya kelumpuhan, kebutaan total, amputasi, ataupun cacat tubuh maka orang tersebut akan cendrung mengambil tindakan pengobatan yang lebih sering dan mendalam. Apabila kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh, mobilitas dan kemampuan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang utama sudah terancam dan kemungkinan tidak dapat dilakukan lagi, ketakutan, bahkan tekanan kejiwaan yang berat merupakan implikasinya.Artinya ancaman bukan hanya mengakibatkan tekanan psikologis yang merupakan dampak subyektif namun juga dapat meningkatkan kualitas tindakan pengobatan.
Semakin besar resiko yang dapat ditimbulkan penyakit maka akan dapat memperbesar ancaman dari penyakit tersebut dan kemudian akan memperbesar pula dorongan untuk melakukan tindakan penyembuhan. Tindakan penyembuhan bukan hanya bersifat peningkatan frekwensi kunjungan ke pengobatan medis semata (profesional sector) maupun tindakan pengobatan sendiri (self medication), namun juga akan memilih semua sistem pengobatan yang ada, tidak tertutup kemungkinan pada sistem pengobatan yang kontradiktif dengan pengetahuan tentang pengobatan.
Maksudnya adalah ancaman yang besar dapat menghilangkan rasionalitas atau aspek kognitif dari seseorang.Walaupun seseorang memiliki pandangan subyektif yang ilmiah tentang suatu penyakit maupun penyembuhan dan hanya mempercayai sistem pengobatan Barat yang modern dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, hal itu dapat hilang ketika munculnya ancaman yang besar dari suatu penyakit. Seseorang yang sudah terancam akan cendrung memilih semua kemungkinan penyembuhan yang ada.
Seorang informan melakukan hal demikian.Informan yang bernama Amir Siregar merupakan seorang sarjana hukum pernah mengalami penyakit yang menyebabkan hilangnya rasionalitas yang dimilikinya.Penyakit yang dideritanya tergolong penyakit degeneratif yakni dibetes, darah rendah dan asam urat.
Sebenarnya ia memiliki pandangan yang sangat rasional tentang penyakit.
Penyakit yang diderita menurutnya akibat dari cara hidup yang tidak sehat. Makan secara berlebihan dan kurang olah raga yang dijalaninya selama berpuluh tahun.
Ditambah lagi dengan pekerjaannya yang sangat berat di kantor, membuat ia tidak memiliki aktivitas lain yang dapat membantu menyegarkan kesehatannya.
Sewaktu pertama sekali ia mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit muncul lah ketakutan yang luar biasa. Ungkapan informan berikut akan menjelaskan ketakutan yang ia alami:
“... Pada saat itu saya merasakan sangat takut. Saya sampai stress akibat penyakit ini. Karena saya takut kalau penyakit ini nanti dampaknya berat.Karena saya dengar kalau penyakit diabetes sulit sembuhnya.Setelah itu saya sering menangis sendiri.Sama keluarga, saya sering emosi, marah tanpa sebab. Pokoknya saya sangat despresi waktu itu ...”
Tindakan pertama setelah mengetahui penyakit tersebut adalah mengunjungi dokter. Karena ia percaya bahwa penyakitnya hanya dapat disembuhkan oleh dokter. Setelah mengunjungi dokter ternyata hasilnya baik, kadar gulanya menurun. Akan tetapi walaupun demikian selain mendapat perawatan dokter, pengobatan alternatif juga ditempuh oleh informan yang berasal dari suku Bangsa Gayo ini.
Pada saat penyakitnya sudah mulai muncul, tampak suatu perubahan yang sangat besar dengan fisiknya.Tubuhnya tampak semakin mengecil.Ia semakin cepat lelah, sering haus dan buang air kecil ditengah malam. Melihat dampak tersebut maka informan menjadi takut dan gelisah. Ketakutannya tersebut bukan hanya mengakibatkan semakin intensifnya ia mengunjungi dokter, namun ia berusaha mencari alternatif pengobatan lain di luar dokter.
Menurutnya, apa yang dilakukan merupakan hal yang wajar sebab semua orang sakit butuh kesembuhan, jadi semua jenis pengobatan dapat dicoba. Hal tersebut di jelaskannya yakni:
“... Selain pengobatan dokter, ya...! Tidak apa-apa jika ke pengobatan lain.
Kalau memang ada manfaatnya kenapa tidak, siapa tahu bisa sembuh ...”
Kadar ancaman suatu penyakit juga berbeda antara satu dengan orang lain, bahkan dapat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain yang memiliki budaya yang berbeda. Seseorang yang merasa memiliki peran yang penting di masyarakat, misalnya dalam kedudukannya di lingkungan pekerjaan akan menanggapi ancaman suatu penyakit secara berbeda. Ancaman bukan hanya secara sosial, ancaman psikologis juga mendorong tindakan irrasional dalam hal perilaku sakit. Seseorang yang merasa tertekan jiwanya akan kehilangan pandangan kognitifnya tentang kesehatan.
Seorang informan mengalami hal yang demikian.Konflik yang terjadi antara dia dan mertuanya telah mengakibatkan kondisi tertekan. Perlakukan-perlakuan yang diterimanya telah menimbulkan stress dalam kehidupan pribadi, sehingga sampai berdampak psikologis yang cukup. Tentang hal itu ia mengatakan:
“... mertua saya tidak senang pada saya. Karena kami tinggal di rumah mertua saya.Keluarga saya dianggap keluarga paling miskin diatara anak- anaknya. Saya jadi stress menghadapi itu, sehingga saya sering kelelahan dan sakit di perut saya. Hidup saya jadi tidak tentram dan pekerjaan saya sering terganggu ...”
Tekanan-tekanan psikologis kejiwaan dalam hal ini bukan hanya akan berdampak secara psikis semata, namun efek yang dirasakan informan dirasakan berwujud kerusakan pada jaringan tubuh. Hal ini mengakibatkan adanya peningkatan upaya tindakan pengobatan.Melihat ancaman yang semakin besar terhadap hubungan sosialnya mengakibatkan terjadinya penggunaan pengobatan alternatif sebagai pilihan pengobatan.
Stigma yang ada di masyarakat tentang pengobatan alternatif adalah sebagai sistem pengobatan yang bersifat irrasional dan tidak dapat dijelaskan secara
dalam praktek penyembuhan alternatif mengakibatkan pandangan yang tidak jelas tentang sistem pengobatan alternatif. Pandangan tentang pengobatan alternatif di Indonesia juga mendukung hal tersebut.Keanekaragaman pengobatan alternatif dengan terapi dan diagnosa yang digunakan belum pernah dijadikan penelitian ilmiah sehingga aspek keilmiahan (empirisme) pengobatan alternatif Indonesia tidak ditemui (Majalah Kesehatan Masyarakat, 1984:231).
Walaupun demikian kepercayaan terhadap pengobatan alternatif seperti totok darah Walet Puti ini juga menunjukkan perkembangan.Masyarakat tidak mempersoalkan apakah terapi penyembuhan alternatif merupakan praktek yang rasional atau tidak, namun mempercayai ada manfaat dari penyembuhan non medis ini (Kompas, 1999).
Pengobatan alternatif merupakan tindakan yang diambil ketika pengobatan lain tidak membawa hasil. Pengobatan alternatif yang dianggap kurang dapat diterima akal sering dijadikan pilihan penting dan masuk ke dalam kesehatan masyarakat, walaupun cendrung bertentangan dengan asas rasionalitas dan logika kedokteran, pengobatan alternatif jelas-jelas dijadikan alternatif pilihan.
Upaya rasionalisasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.Faktor yang pertama adalah maraknya tawaran dan publikasi tentang pengobatan alternatif.Selain pemakaian jamu-jamuan (herb) ataupun ramuan-ramuan telah berkembang pula pada saat ini terapi-terapi pengobatan yang mengutamakan penyembuhan melalui kepercayaan. Unsur-unsur kepercayaan merupakan penemuan baru yang mempengaruhi proses penyembuhan. Di belahan dunia lain, negara-negara Barat saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bidang pengobatan alternatif. Mereka mencanangkan konsep pengobatan ”back to basic”.
Kembali ke nilai-nilai tradisi pengobatan lama yang dikemas secara modern.
Bapak Rudi Sanjaya mengatakan:
“... perkembangan pengobatan alternatif ini diakibatkan banyaknya tawaran- tawaran orang kembali percaya kepada pengobatan tradisional, sebab obat-obatan itu sudah melalui penelitian ilmiah dan tidak menggunakan bahan-bahan sintetis dan obat-obatan alternatif menggunakan obat-obatan yang bisa dibilang modern juga kok ...”
Artinya disini, informasi-informasi pengobatan alternatif dari dunia Barat sangat mempengaruhi rasionalisasi pengobatan alternatif masyarakat Indonesia.
Penelitian laboratorium eksperimen dunia akademis mendukung berkembangnya penyembuhan-penyembuhan alternatif, seperti yang terjadi di negara-negara Eropa, sekarang ini banyak berdiri tempat-tempat meditasi, padepokan-padepokan atau aliran kepercayaan, dan organisasi-organisasi spiritual yang menjanjikan ketenangan jiwa bahkan kesembuhan fisik maupun mental seseorang.
Kepercayaan- kepercayaan baru (esoterik) berkembangbukan tanpa alasan tetapi memang berdasarkan kebutuhan. Praktek esoterik seperti mediasi, tai chi, shiatshu, yoga dan lain sebagainya itu merupakan upaya pencarian penyembuhan fisik maupun mental yang dilakukan oleh orang-orang Barat yang dikenal rasional dan hal ini akan mempengaruhi ke belahan bumi lain (Ummat, 1996:40-56).
Masih menurut bapak Rudi Sanjaya yang jenis pengobatan yang dilakukannya, yaitu terapi totok darah mengatakan bahwa:
“... Pengobatan saya ini tidak bertentangan dengan dokter karena pemahaman saya tentang sakit tidak terlalu beda sama mereka. Sakit itu diakibatkan ketidak-seimbangan.Untuk itu perlu di keseimbangkan.Caranya dengan mengalirkan energi ke bagian tubuh yang tidak seimbang itu.Di negara Barat, pengobatan alternatif sudah berkembang.Di Indonesia saja yang belum.Lagi pula banyak penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan kedokteran
medis.Penyakit-disembuhkan dengan penyembuhan alternatif. Persoalannya, pengoatan alternatif di Indonesia harus dikembangkan agar dapat diterima masyarakat ...”
Faktor ketiga yang mempengaruhi rasionalisasi tindakan pemahaman penyembuhan alternatif adalah adanya penggunaan simbol-simbol modernitas dalam praktek pengobatan alternatif. Pada saat sekarang ini banyak praktek-praktek pengobatan alternatif yang memanfaatkan peralatan-peralatan teknologi canggih dalam proses diagnosa maupun terapinya. Selain itu peralatan material modern banyak juga praktisi pengobatan alternatif yang memperoleh pendidikan formal tentang pengobatan alternatif.Pendidikan formal tersebut rata-rata didapat pula dari luar negri seperti China, India, Malaysia dan Singapura.
Praktek-praktek pengobatan alternatif yang banyak menggunakan simbol-simbol modernitas tersebut sering dinamakan pengobatan alternatif modern.Penggunaan simbol-simbol ini sangat mempengaruhi tindakan, apalagi orang-orang yang tergolong masyarakat kelas atas dan berpendidikan yang dijuluki orang-orang modern.Mereka butuh pembenaran atas tindakan yang mereka lakukan dan hal itu mereka dapati ketika mereka menemukan peralatan dan simbol-simbol modernitas.