• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN KOMPLIKASI KLINIS GIGI TIRUAN IMPLAN DENGAN RETENSI SEMEN DAN SEKRUP: TELAAH SISTEMATIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERBANDINGAN KOMPLIKASI KLINIS GIGI TIRUAN IMPLAN DENGAN RETENSI SEMEN DAN SEKRUP: TELAAH SISTEMATIS"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

DAN SEKRUP: TELAAH SISTEMATIS

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

MARGARETHA ELFRIDAMANUELA SAMOSIR 170600107

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Prostodonsia Tahun 2021

Margaretha Elfridamanuela Samosir

Perbandingan Komplikasi Klinis Gigi Tiruan Implan dengan Retensi Semen dan Sekrup: Telaah Sistematis

x + 73 halaman

Dalam beberapa dekade terakhir, pemakaian gigi tiruan implan telah banyak digunakan. Komponen utama dari implan yaitu implant fixture, implant abutment, dan implant superstructure. Implant abutment dan implant superstructure dihubungkan dengan retensi yang dapat berupa retensi semen atau sekrup. Kedua retensi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Komplikasi dapat terjadi pada setiap perawatan gigi tiruan dan saat follow-up. Pada komplikasi klinis saat follow-up yang sering ditemukan, yaitu akumulasi plak, perdarahan saat probing, inflamasi gingiva, kedalaman poket, dan perubahan lebar jaringan berkeratin. Penelitian ini untuk mengetahui perbandingan komplikasi klinis gigi tiruan implan dengan retensi semen dan sekrup. Jenis penelitian ini adalah telaah sistematis dengan metode PRISMA pada 3 basis data jurnal yaitu PubMed, EBSCO, dan CENTRAL. Kata kunci yang digunakan yaitu “(cement* AND screw retain*) AND (implant OR prosthesis) AND (clinical OR outcome* OR complication)”.

Telaah kualitas jurnal menggunakan 3 kriteria, yaitu kriteria Jadad untuk studi RCT, skala Newcastle-Ottawa untuk studi cohort, dan kriteria CEBM untuk studi cross sectional. Sintesis data dilakukan dengan teknik analisis data secara kualitatif menggunakan metode vote counting. Hasil telaah sistematis didapatkan 11 jurnal dengan 8 jurnal menggunakan desain studi RCT dan 4 jurnal menggunakan desain studi cohort yang memiliki kualitas jurnal sedang dan tinggi. Kesimpulan telaah sistematis ini yaitu tidak ada perbedaan yang siginifikan pada perbandingan komplikasi klinis gigi tiruan implan dengan retensi semen dan sekrup dengan

(3)

presentase sebesar 72,72% yaitu 8 dari 11 jurnal. Perawatan gigi tiruan dukungan implan dapat menggunakan tipe retensi semen atau sekrup. Kedua retensi tersebut tidak mengurangi kesuksesan perawatan dalam aspek klinis.

Daftar rujukan: 67 (1987-2021)

(4)
(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 15 Oktober 2021

TIM PENGUJI

KETUA : Prof. Haslinda Z. Tamin, drg., M.Kes., Sp.Pros(K) ANGGOTA : Hubban Nasution, drg., MSc

Siti Wahyuni, drg., MDSc

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Perbandingan Komplikasi Klinis Gigi Tiruan Implan dengan Retensi Semen dan Sekrup: Telaah Sistematis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Rasa hormat dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada kedua orang tua Apul Samosir dan Rosma Sinaga serta saudara Roy Samuel Samosir dan Ani Fransiska Samosir atas segala doa dan dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Essie Octiara, drg., Sp.KGA selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Hubban Nasution, drg., MSc selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, kesabaran, motivasi, memberi ilmu serta arahan dalam membimbing penulis sehingga skripsi dapat diselesaikan dengan baik.

3. Prof. Haslinda Z. Tamin, drg., M.Kes., Sp.Pros(K) selaku ketua penguji yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Siti Wahyuni, drg., MDSc selaku Koordinator Skripsi Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan anggota penguji yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ariyani, drg., MDSc., Sp.Pros(K) selaku Ketua Departemen Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

(7)

vii

6. Siti Salmiah, drg., Sp.KGA selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan motivasi selama masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

7. Seluruh dosen pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara terutama bagian Departemen Prostodonsia yang telah membimbing dan memberikan ilmunya kepada penulis selama masa pendidikan.

8. Sahabat-sahabat penulis yaitu Jessica, Yane, Diana, Eva, Anju, Gaby, dan Revita yang telah membantu, memberikan semangat dan motivasi kepada penulis selama menjalani penulisan skripsi.

9. Teman perjuangan skripsi di Departemen Prostodonsia terutama untuk Sheila dan Nada.

10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu, mendukung dan mendoakan penulis selama menjalani penulisan skripsi.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan.

Akhir kata, penulis mengharapkan agar skripsi ini dapat berguna bagi pengembangan ilmu Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan bagi kita semua.

Medan, 15 Oktober 2021 Penulis,

(Margaretha Elfridamanuela Samosir) NIM : 170600107

(8)

viii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ...

ABSTRAK ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI PROPOSAL ...

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 3

1.3 Rumusan Masalah ... 3

1.4 Tujuan Penelitian ... 3

1.5 Manfaat Penelitian ... 4

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 4

1.5.2 Manfaat Praktis ... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Kehilangan Gigi ... 5

2.2 Dampak Kehilangan Gigi ... 5

2.1.1 Mastikasi ... 5

2.1.2 Fonetik ... 6

2.1.3 Estetik ... 6

2.1.4 Sosial ... 6

2.3 Rehabilitasi Kehilangan Gigi ... 6

2.3.1 Gigi Tiruan Lengkap ... 7

2.3.2 Gigi Tiruan Sebagian Lepasan ... 7

2.3.3 Gigi Tiruan Sebagian Cekat ... 7

2.3.4 Gigi Tiruan Implan ... 8

2.4 Gigi Tiruan Implan ... 8

2.4.1 Pengertian ... 8

(9)

ix

2.4.2 Indikasi dan Kontraindikasi ... 8

2.4.3 Klasifikasi Implan Gigi ... 9

2.4.3.1 Berdasarkan Bahan Yang Digunakan ... 9

2.4.3.2 Berdasarkan Penempatannya Dalam Jaringan ... 10

2.4.3.3 Berdasarkan Pilihan Perawatan ... 12

2.4.4 Komponen Implan Gigi ... 14

2.4.4.1 Komponen Utama ... 14

2.4.4.2 Aksesoris ... 16

2.5 Implan Retensi Semen ... 18

2.5.1 Pengertian ... 18

2.5.2 Indikasi ... 19

2.5.3 Kelebihan ... 19

2.5.4 Kekurangan ... 20

2.6 Implan Retensi Sekrup ... 21

2.6.1 Pengertian ... 21

2.6.2 Indikasi ... 21

2.6.2 Kelebihan ... 22

2.6.3 Kekurangan ... 22

2.7 Komplikasi ... 23

2.7.1 Komplikasi Teknis ... 23

2.7.2 Komplikasi Biologis ... 23

2.7.3 Komplikasi Klinis ... 23

2.7.3.1 Akumulasi Plak ... 24

2.7.3.2 Perdarahan Saat Probing ... 25

2.7.3.3 Inflamasi Gingiva ... 27

2.7.3.4 Kedalaman Poket ... 28

2.7.3.5 Perubahan Lebar Jaringan Berkeratin ... 30

2.8 Kerangka Teori ... 33

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 34

3.1 Jenis Penelitian ... 34

3.2 Waktu Penelitian ... 34

3.3 Cara Penelitian ... 34

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 43

4.1 Perbandingan Komplikasi Klinis Gigi Tiruan Implan ... dengan Retensi Semen dan Sekrup Ditinjau dari Telaah Sistematis ... 43

BAB 5 PEMBAHASAN ... 54

5.1 Perbandingan Komplikasi Klinis Gigi Tiruan Implan dengan Retensi Semen dan Sekrup Ditinjau dari Telaah Sistematis ... 54

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 58

6.1 Kesimpulan ... 58

6.2 Saran ... 59

(10)

x

DAFTAR PUSTAKA ... 60 LAMPIRAN ... 67

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Modifikasi Indeks Plak ... 25

2 Modifikasi Indeks Perdarahan Sulkus ... 27

3 Indeks Gingiva (Loe dan Silness) ... 28

4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi Berdasarkan PICOS ... 35

5 Tahap Identifikasi ... 36

6 Kriteria Seleksi Kelayakan Jurnal ... 37

7 Kriteria Jadad ... 38

8 Kriteria Newcastle-Ottawa ... 39

9 Skala CEBM ... 41

10 Hasil Identifikasi PubMed ... 44

11 Hasil Identifikasi EBSCO ... 44

12 Hasil Identifikasi CENTRAL ... 44

13 Hasil Seleksi Kelayakan Jurnal ... 45

14 Hasil Telaah Kualitas Jurnal RCT ... 46

15 Hasil Telaah Kualitas Jurnal Cohort ... 47

16 Karakteristik Jurnal ... 47

17 Ekstraksi Data ... 51

18 Perbandingan Komplikasi ... 53

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1 Implan endosteal ... 11

2 Implan subperiosteal ... 11

3 Implan transosteal ... 12

4 Klasifikasi Misch: protesa cekat ... 13

5 Klasifikasi Misch: protesa lepasan ... 13

6 Komponen utama implan: (1) implant fixture, (2) abutment, (3) superstructure ... 14

7 Bagian dari implant fixture: (a) body, (b) collar, (c) crest module ... 15

8 Cover screw ... 16

9 Gingival former ... 17

10 Implant analogue ... 17

11 Impression coping ... 18

12 Implan retensi semen ... 19

13 Implan retensi sekrup ... 21

14 Akumulasi plak pada daerah sekitar implan ... 25

15 Perdarahan saat probing pada daerah implan ... 26

16 Inflamasi peri-implan ... 28

17 Pengukuran kedalaman poket pada implan; probe melewati margin gingival bebas (FGM), menembus sulkus, epitel junction (JE), dan sebagian besar zona jaringan ikat (CT) menuju tulang crestal ... 29

18 Jaringan lunak disekitar implan berkeratin, melekat dan mirip dengan gigi asli ... 31

19 Jaringan lunak di sekitar mahkota implan pada insivus kanan rahang atas tidak berkeratin dan mukosa tidak melekat ... 31

(13)

xiii

20 Bagan PRISMA ... 35 21 Bagan PRISMA hasil telaah sistematis ... 43

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Dokumentasi Pencarian PubMed ... 67 2 Dokumentasi Pencarian EBSCO ... 70 3 Dokumentasi Pencarian CENTRAL ... 73

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehilangan gigi adalah salah satu kasus yang paling sering terjadi pada masyarakat. Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya karies dan penyakit periodontal, yang diyakini sebagai penyebab utama kehilangan gigi.

Selain itu, faktor seperti kualitas pelayanan kesehatan mulut, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, merokok, daerah tempat tinggal, dan pola kunjungan ke dokter gigi juga sering dikaitkan sebagai penyebab dari kehilangan gigi. Kehilangan gigi ini ditemukan prevalensinya banyak terjadi pada orang dewasa dan akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.1,2 Pada penelitian Pletzer, dkk. tahun 2014 menyebutkan, prevalensi kehilangan gigi tertinggi berada di Mexico dengan persentasi sebesar 21.7%, kemudian diikuti oleh Russia sebesar 18% dan India sebesar 16,3%.3 Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, di Indonesia prevalensi kehilangan gigi sebesar 19%, dengan presentasi tertinggi di usia 65 tahun keatas sebesar 30,6%, kemudian posisi kedua di usia 55-64 tahun sebesar 29%, dan ketiga di usia 45-54 tahun sebesar 23,6%.4

Kehilangan gigi tanpa disertai penggantian gigi yang hilang dapat mengganggu kualitas hidup. Kehilangan gigi ini dapat mengakibatkan gangguan fungsi mastikasi, fonetik, estetik serta sosial. Selain itu juga berdampak negatif terhadap kondisi psikologis pasien, dapat menyebabkan depresi dan penurunan kepercayaan diri karena merasa bagian penting dari tubuhnya dan citra dirinya telah hilang. Oleh karena itu, perawatan penggantian gigi perlu dilakukan.1,2

Rehabilitasi kehilangan gigi dapat dilakukan menggunakan gigi tiruan. Gigi tiruan banyak jenisnya, secara garis besar dapat dibagi menjadi 4, yaitu gigi tiruan lengkap, gigi tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan sebagian cekat, dan gigi tiruan implan. Dalam beberapa dekade terakhir, pemakaian gigi tiruan implan telah banyak

(16)

digunakan dan menjadi pilihan terbaik untuk mengganti gigi yang hilang. Hal ini dikarenakan gigi tiruan implan memungkinkan penggantian gigi yang hilang menyerupai gigi asli pasien sebelumnya, dapat memberikan kenyamanan dan estetika terbaik bagi pasien.5-8 Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, prevalensi penggunaan dental implan di Indonesia sebesar 0,2%.4 Pada penelitian Elani, dkk. (2018), prevalensi penggunaan implan di Amerika Serikat meningkat dari tahun ke tahunnya. Pada penelitian tersebut disebutkan prevalensi penggunaan impan dari tahun 1999-2016. Di tahun 1999-2000 sendiri terhitung sebanyak 0,7% penggunaan implan, kemudian terjadi peningkatan yang progresif tiap tahunnya sampai di tahun 2015-2016 terhitung sebanyak 5,7% penggunaan implan.

Hal ini menunjukkan bahwa gigi tiruan implan telah banyak digunakan.9

Komponen utama dari implan yaitu implant fixture, implant abutment, dan implant superstructure. Implant abutment dan implant superstructure dihubungan dengan retensi yang dapat berupa retensi semen atau sekrup. Dari dua jenis retensi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Komplikasi juga dapat terjadi pada setiap perawatan gigi tiruan dan pada saat follow-up. Pada komplikasi klinis saat follow-up yang sering ditemukan, yaitu akumulasi plak dan perubahan kondisi pada jaringan periodontal, seperti perdarahan saat probing, inflamasi gingiva, kedalaman poket, dan perubahan lebar jaringan berkeratin.8,10 Korsch M, dkk. pada tahun 2014, melakukan penelitian terhadap 126 pasien pengguna implan dengan retensi semen. Dari 126 pasien yang diteliti, terdapat 54,8%

kasus pendarahan saat probing.11

Sebuah studi prospektif juga dilakukan oleh Sherif S, dkk. pada tahun 2011, menyebutkan dari 90 pasien yang menggunakan jenis retensi semen memiliki rata- rata Modified Plaque Score (MPI) sebesar 0,22%, Sulcus Bleeding Index (SBI) sebesar 0,37% dan Keratinized Tissue (KT) sebesar 4,5 mm, sedangkan dari 103 pasien yang menggunakan jenis retensi sekrup memiliki rata-rata MPI sebesar 0,12%, SBI sebesar 0,08% dan KT 5,1 mm. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa gigi tiruan implan dengan retensi semen memiliki rata-rata MPI dan SBI yang lebih tinggi daripada retensi sekrup. Tetapi gigi tiruan implan dengan retensi sekrup memiliki

(17)

hasil rata-rata KT yang lebih rendah daripada retensi semen.12 Berdasarkan penelitian Nissan J, dkk. pada tahun 2011, menyebutkan dari 38 pasien yang menggunakan gigi tiruan implan retensi semen dan sekrup memiliki Indeks Gingiva sebesar 0,09% pada jenis retensi semen dan 0,48% pada jenis retensi sekrup. Dari penelitian tersebut didapatkan bahwa gigi tiruan implan dengan jenis retensi semen lebih baik daripada gigi tiruan implan retensi sekrup.13

1.2 Permasalahan

Harapan dalam tercapainya hasil perawatan yang berhasil, fungsional, dan stabil pada penggunaan gigi tiruan implan meningkat dengan perkembangan dari desain implan, komponen implan, dan material implan itu sendiri. Salah satu keputusan yang paling penting dalam perawatan gigi tiruan implan adalah pemilihan jenis retensi pada restorasi akhir yang dapat berupa retensi semen atau sekrup.

Pengambilan keputusan pemilihan jenis retensi yang dilakukan dalam perawatan berdasarkan preferensi dokter gigi dan kebutuhan pasien, namun terdapat beberapa masalah relevan yang dapat terjadi. Kedua jenis retensi ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang dapat memengaruhi frekuensi terjadinya komplikasi klinis.

Komplikasi klinis kedua jenis retensi gigi tiruan ini telah dibandingkan pada berbagai penelitian, namun belum ada kejelasan mengenai jenis retensi mana yang memiliki komplikasi klinis lebih rendah dan direkomendasikan untuk menjadi pilihan utama dalam perawatan gigi tiruan implan. Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan tersebut menunjukkan hasil persentasi yang berbeda dan kesimpulan yang berbeda mengenai komplikasi klinisnya sehingga belum dapat memberi jawaban yang pasti. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka telaah sistematis ini bertujuan untuk menambah referensi terbaru seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membahas perbandingan komplikasi klinis antara gigi tiruan implan dengan retensi semen dan sekrup dan memilih jenis retensi mana yang lebih baik untuk digunakan dalam perawatan penggunaan gigi tiruan implan.

(18)

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti, yaitu :

Bagaimana perbandingan komplikasi klinis gigi tiruan implan dengan retensi semen dan sekrup ditinjau dari telaah sistematis?

1.4 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui perbandingan komplikasi klinis gigi tiruan implan dengan retensi semen dan sekrup ditinjau dari telaah sistematis.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Dari hasil telaah sistematis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terbaru kepada dokter gigi dan masyarakat mengenai perbandingan komplikasi klinis gigi tiruan implan dengan retensi semen dan sekrup.

2. Dari hasil telaah sistematis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah serta bahan masukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya khususnya dibidang Prostodonsia.

3. Dari hasil telaah sistematis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar ataupun informasi awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Dari hasil telaah sistematis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk membantu dokter gigi dalam hal mengevaluasi tampilan klinis pasien pengguna gigi tiruan implan dengan retensi semen dan sekrup.

2. Dari hasil telaah sistematis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar pertimbangan pemilihan gigi tiruan implan retensi semen atau sekrup.

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kehilangan gigi

Kehilangan gigi merupakan suatu keadaan yang tidak dapat diubah dimana satu atau lebih gigi seseorang lepas dari soket atau tempatnya.14 Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya karies dan penyakit periodontal, yang diyakini sebagai penyebab utama kehilangan gigi. Selain itu, faktor seperti kualitas pelayanan kesehatan mulut, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, merokok, daerah tempat tinggal, dan pola kunjungan ke dokter gigi juga sering dikaitkan sebagai penyebab dari kehilangan gigi. Kehilangan gigi ditemukan meningkat di usia tua, hal ini disebabkan oleh keterbatasan fisik yang dapat terjadi di usia tua. Selain itu, prevalensi penyakit gigi dan umum meningkat seiringan dengan penambahan usia yang menyebabkan hilangnya gigi. Kehilangan gigi tanpa disertai penggantian gigi yang hilang dapat mengganggu kualitas hidup. Kehilangan gigi ini dapat mengakibatkan gangguan fungsi mastikasi, fonetik, estetik serta sosial.1,2

2.2 Dampak Kehilangan Gigi 2.2.1 Mastikasi

Jumlah unit gigi fungsional telah dipilih menjadi indikator penting dalam penentu fungsi mulut dan status kesehatan mulut. Menurut penelitian, jumlah gigi dibawah minimal 20, dengan 9-10 pasang unit kontak akan mengalami gangguan efisiensi pengunyahan, kinerja dan persepsi seseorang tentang kemampuannya dalam mengunyah. Pada lansia penurunan fungsi mastikasi dikaitkan dengan atrofi otot, ketebalan otot maseter ditemukan menurun sehingga mengakibatkan kekuatan gigitan berkurang. Hal ini dapat memengaruhi keinginan untuk menggigit, mengunyah dan menelan serta dapat berdampak negatif pada pola makan dan memengaruhi perubahan pilihan makanan.14

(20)

2.2.2 Fonetik

Gigi memainkan peran yang penting dalam berbicara. Kehilangan gigi dapat menyebabkan gangguan fonetik. Fonasi beberapa huruf membutuhkan bibir dan/ atau lidah untuk melakukan kontak dengan gigi untuk menghasilkan pengucapan suara yang tepat. Kehilangan gigi anterior akan memengaruhi variasi bicara yang terdengar.

Pengucapan huruf yang akan terganggu yaitu huruf „f‟, „v‟, „s‟, dan „sh‟.15

2.2.3 Estetik

Resorpsi tulang adalah proses yang berkelanjutan dari kehilangan gigi. Resorpsi tulang pada mandibula terjadi empat kali lebih besar dari maksila. Kehilangan gigi total ditemukan memiliki efek signifikan pada resopsi tinggi tulang alveolar, perubahan profil jaringan lunak, seperti penonjolan bibir dan dagu. Hal ini mengakibatkan penurunan tinggi wajah dan penampilan wajah. Kehilangan gigi juga menyebabkan pipi menunjukkan tampilan cekung dan membentuk garis kerut pada komisura, sehingga berdampak negatif terhadap estetik seseorang.14,15

2.2.4 Sosial

Kehilangan gigi dapat berpengaruh terhadap aktivitas sosial. Hilangnya satu atau beberapa gigi dapat menyebabkan gangguan fungsi pengunyahan, kenyamanan bicara dan estetika yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. Kehilangan gigi juga dapat memengaruhi keadaan psikologis seseorang, seperti menyebabkan depresi dan penurunan kepercaya diri karena merasa bagian penting dari tubuhnya telah hilang. Hal ini akan menimbulkan keterbatasan aktivitas sosial pada orang tersebut.1

2.3 Rehabilitasi Kehilangan Gigi

Pada bidang kedokteran gigi, ilmu yang mempelajari penggantian tiruan untuk gigi yang hilang disebut prostodonsia atau prostodonsi. Alat yang digunakan adalah gigi tiruan. Gigi tiruan merupakan suatu alat tiruan atau piranti yang digunakan untuk menggantikan sebagian atau seluruh gigi asli dan jaringan lunak disekitarnya yang

(21)

sudah hilang. Tujuan dari pembuatan gigi tiruan yaitu untuk mengembalikan fungsi pengunyahan, berbicara, estetik, mempertahankan kesehatan jaringan pendukung, dan relasi rahang serta kondisi psikologis pemakainya.1,16

Gigi tiruan banyak jenisnya, secara garis besar dapat dibagi menjadi 4, yaitu, gigi tiruan lengkap, gigi tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan sebagian cekat, dan gigi tiruan implan. Pemilihan jenis gigi tiruan disesuaikan dengan jumlah gigi, kondisi jaringan pendukung gigi tiruan, lokasi gigi yang hilang, usia pasien, kesehatan sistemik pasien, keinginan dan kebutuhan pasien.16,19

2.3.1 Gigi Tiruan Lengkap

Gigi tiruan lengkap (GTL) adalah pengganti buatan untuk menggantikan gigi asli dan jaringan disekitarnya dalam lengkung rahang baik di rahang atas atau di rahang bawah. Gigi tiruan lengkap dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu gigi tiruan lengkap lepasan dan gigi tiruan lengkap cekat. Pada umumnya, GTL dibuat untuk pasien usia lanjut ataupun beberapa pasien muda yang lahir dengan fungsi cacat gigi kongenital atau lengkung tidak bergigi.16,17,19

2.3.2 Gigi Tiruan Sebagian Lepasan

Gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) adalah pengganti buatan yang dapat dilepas dan dipasang kembali oleh si pemakai untuk mengganti satu atau lebih gigi asli yang hilang tetapi tidak seluruh gigi. Penggunaan ini dimaksudkan untuk mencegah perubahan degeneratif yang timbul akibat dari kehilangan gigi. Secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi 2 berdasarkan kaitan presisinya, yaitu ekstrakoronal dan intrakoronal.16,17,19

2.3.3 Gigi Tiruan Sebagian Cekat

Gigi tiruan sebagian cekat adalah gigi tiruan yang melibatkan penggantian dan restorasi gigi hilang yang tidak dapat dilepas dari dalam mulut. Gigi tiruan sebagian cekat pertama kali dikenalkan oleh Rochette pada tahun 1973 pada gigi anterior mandibula. Penggantian dan restorasi gigi ini ditempelkan dengan media penyemen

(22)

ke gigi asli, akar atau implan. Gigi tiruan cekat biasa juga disebut dengan gigi tiruan jembatan.15-17,19

2.3.4 Gigi Tiruan Implan

Gigi tiruan implan adalah alat prostetik yang ditanamkan ke dalam jaringan mulut di bawah lapisan mukosa atau di dalam tulang untuk menyediakan retensi dan dukungan untuk gigi tiruan cekat atau lepasan. Implan gigi umumnya terbuat dari titanium atau paduan titanium yang jika dipasang dengan benar dapat memberikan struktur stabil dan kokoh untuk retensi atau pendukung pada gigi tiruan cekat atau lepasan.15,19

2.4 Gigi Tiruan Implan 2.4.1 Pengertian

Berdasarkan The Glossory of Prosthodontic Term, implan gigi adalah alat prostetik yang terbuat dari bahan aloplastik yang ditanamkan ke dalam jaringan mulut di bawah lapisan mukosa dan/ atau periosteal dan di atas atau di dalam tulang untuk memberikan retensi dan dukungan untuk gigi tiruan cekat atau lepasan. Implan gigi juga bisa diartikan sebagai bahan yang ditempatkan ke dalam dan/ atau pada tulang rahang untuk mendukung gigi tiruan cekat atau lepasan.15,19,20 Gigi tiruan implan memungkinkan penggantian gigi yang hilang menyerupai gigi asli pasien sebelumnya, dapat memberikan kenyamanan dan estetika terbaik bagi pasien. Oleh karena itu, pemakaian gigi tiruan implan dalam beberapa dekade terakhir telah banyak digunakan.5-8

2.4.2 Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi pemasangan implan, yaitu:15,17-19 1. Untuk penggantian gigi, dengan situasi:

a. Penggantian gigi tunggal

b. Kondisi tidak bergigi seutuhnya

2. Ketika gigi tiruan sebagian cekat rusak karena:

(23)

a. Abutment yang lemah

b. Rentang edentulus yang panjang

3. Ketika gigi tiruan lengkap konvensional dapat rusak karena:

a. Koordinasi otot yang buruk

b. Toleransi jaringan mukosa yang rendah

c. Kebiasaan parafungsional yang membahayakan stabilitas gigi tiruan d. Reflex muntah yang hiperaktif

e. Ketidakmampuan psikologis pasien untuk menggunakan gigi tiruan konvensional

Kontraindikasi pemasangan implan, yaitu:15,17-19 1. Pasien dengan gangguan sistemik hematologis 2. Pasien dengan gangguan kejiwaan

3. Pasien dengan masalah kompromis medis yang tidak bisa melakukan operasi pemasangan implan

4. Pasien dengan pertumbuhan rahang yang tidak sempurna

5. Pasien perokok, peminum alkohol, dan penyalahgunaan narkoba 6. Anak-anak dibawah usia 18 tahun

7. Pasien hamil

2.4.3 Klasifikasi Implan Gigi

2.4.3.1 Berdasarkan Bahan Yang Digunakan

Terdapat beberapa bahan yang dapat digunakan untuk implan gigi, antara lain:19,21,22

a. Titanium

Titanium memiliki sifat biokampatibilitas yang baik dan ketahanan yang tinggi terhadap korosi, hal ini dikarenakan terbentuknya lapisan titanium oksida (TiO2) secara spontan pada permukaanya yang disebut passive layer. Biasanya ketebalan lapisan oksida sekitar 3-10 nm. Berdasarkan penelitian, lapisan oksida sangat stabil pada permukaaan titanium dan dapat memberikan oseointegrasi yang sangat baik.

(24)

Lapisan ini tidak larut dalam cairan tubuh dan mencegah lepasnya ion logam yang dapat bereaksi dengan jaringan tubuh sehingga dapat membantu penyembuhan permukaan jaringan yang mengalami trauma pada penempatan implan.21,22

b. Keramik

Bahan implan keramik dapat mentolerir tingkat tegangan tekan yang cukup tinggi.22 Alumunium oksida (Al2O3) digunakan sebagai biomaterial standar untuk implan keramik karena biostabilitasnya yang terbukti tidak bereaksi negatif pada percobaan in vivo. Zirkonium oksida (ZrO2) adalah senyawa keramik yang memiliki sifat biokompatibel dan oseointergrasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan zirkonia memiliki kekuatan lentur sebesar 900-1200 MPa, kekerasan sebesar 1200 Vickers, serta intensitas tegangan ambang batas yang baik. Selain itu, zirkonium oksida juga tahan terhadap korosi. Namun secara jangka waktu yang panjang dan daya tahan, titanium masih lebih baik daripada zirkonia.21

2.4.3.2 Berdasarkan Penempatannya Dalam Jaringan

Menurut lokasi dental implan, implan gigi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:15,18,19

a. Endosteal

Implan endosteal tertanam dalam tulang rahang melalui gusi dan periosteum, sebagian tertanam dalam jaringan tulang dan sebagian lagi muncul pada permukaan mukosa (Gambar 1). Implan ini memiliki 3 jenis dasar implan, yaitu blade, cylinder, dan screw. Dilihat dari teknik bedahnya, implan endosteal terdiri dari teknik insersi satu tahap dan dua tahap. Pada teknik satu insersi satu tahap, pembedahan hanya dilakukan sekali sehingga abutment menonjol keluar mukosa setelah operasi selesai.

Pada teknik dua tahap, operasi dilakukan dua kali yaitu operasi tahap pertama yaitu peletakan implan pada tulang rahang, setelah masa penyembuhan selesai dilakukan operasi tahap kedua yaitu pemasangan abutment.

(25)

Gambar 1. Implan endosteal23

b. Subperiosteal

Implan subperiosteal ini tidak tertanam dalam tulang, melainkan terletak di atas tulang alveolar dan di bawah periosteum (Gambar 2). Implan subperiosteal membutuhkan teknik insersi dua tahap. Implan ini diindikasikan untuk kondisi rahang yang mengalami atrofi hebat, pada pasien yang telah mengalami kegagalan berkali- kali dalam pemakaian protesa, dan pada kasus pasien atrofi yang menimbulkan rasa sakit pada daerah mentalis.

Gambar 2. Implan subperiosteal23

(26)

c. Transosteal

Implan transosteal tertanam menembus tulang rahang dan hanya digunakan pada rahang bawah (Gambar 3). Implan ini jarang digunakan karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan lunak infraboni seperti saraf dan pembuluh darah.

Gambar 3. Implan transosteal23

2.4.3.3 Berdasarkan Pilihan Perawatan

Pada tahun 1989 Misch mengklasifikasikan ada 5 pilihan perawatan berdasarkan prostetik pada implan. Dari kelima pilihan perawatan tersebut, tiga pertama merupakan Fixed Protheses (FP) yang menggantikan sebagian (satu atau beberapa) atau seluruh gigi yang direkatkan secara cekat (Gambar 4). Pemilihan ini bergantung pada jumlah struktur jaringan keras dan jaringan lunak yang akan diganti dan aspek estetik. Dua jenis restorasi terakhir merupakan Removable Protheses (RP) yang tidak berdasarkan pada penampilan protesa tapi tergantung pada jumlah dukungan implan yang digunakan yaitu kekuatannya (Gambar 5).15,18,24

a. Fixed Protheses (FP) atau protesa cekat

FP-1 : Protesa cekat, hanya mahkota gigi yang diganti, tampak seperti gigi asli.

FP-2 : Protesa cekat, mahkota dan sebagian dari akarnya tampak normal pada sebagian oklusal tetapi mengalami elongasi pada sebagian gingiva.

(27)

FP-3 : Protesa cekat, menggantikan mahkota yang hilang dan warna gingiva sebagian dari ruang edentulus.

Gambar 4. Klasifikasi Misch: protesa cekat18

b. Removable Protheses (RP) atau protesa lepasan

RP-4 : Protesa lepasan, dukungan overdenture sepenuhnya oleh implan.

RP-5 : Protesa lepasan, dukungan overdenture oleh jaringan lunak dan implan.

Gambar 5. Klasifikasi Misch: protesa lepasan18

(28)

2.4.4 Komponen Implan Gigi

Komponen implan gigi dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu kategori pertama, komponen utama berisi implant fixture, abutment, dan superstructure (Gambar 6). Kategori kedua yaitu aksesoris berisi surgical dan prosthetic.15

Gambar 6. Komponen utama implan:

(1) implant fixture, (2) abutment, (3) superstructure15

2.4.4.1 Komponen Utama a. Implant fixture

Implant fixture adalah komponen yang dipasang ke dalam tulang (Gambar 7).

Komponen ini juga disebut sebagai badan implan. Implant fixture dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:15

- Body

Badan dari akar implan bisa berbentuk silinder atau meruncing. Pada silinder, permukaan bisa halus atau berulir. Badan implan bisa tidak ada celah atau ada celah yang memungkinkan tulang untuk tumbuh. Implan berulir cocok untuk dipasang pada tulang kortikal padat dan trabekular halus.

- Crest module

Bagian ini menyediakan koneksi ke abutment. Crest module memberikan ketahanan bebas oklusal aksial dan pemasangan penyangga yang tepat pada fixture. Crest module terdiri dari platform dan fitur antirotasi. Platform berisi

(29)

koneksi ke abutment yang terletak di atas atau di bawah level tulang crestal.

Jika terletak di atas disebut sebagai koneksi eksternal dan jika terletak di bawah disebut sebagai koneksi internal. Fitur antirotasi di koneksi eksternal implan biasanya berbentuk segi enam, sedangkan di koneksi internal implan lebih bervariasi, berbentuk segi enam, segi delapan, morse taper, grooves, dll.

- Implant collar

Implant collar berguna untuk mencegah paparan lapisan permukaan dan memungkinkan terjadinya perubahan fungsional tulang menjadi lebih baik.

Gambar 7. Bagian dari implant fixture:

(a) body, (b) collar, (c) crest module15

b. Implant abutment

Implant abutment adalah bagian implan yang berfungsi untuk menunjang dan/

atau mempertahankan gigi tiruan cekat atau lepasan menggunakan retensi.15 c. Implant superstructure

Implant superstructure adalah gigi tiruan yang dibuat dengan dukungan implan.

Bagian ini dapat dikelompokkan menjadi:15 - Fixed prostheses

Mahkota dan jembatan implan dapat digunakan untuk menggantikan satu atau lebih gigi dengan tetap. Mahkota dan jembatan dipasang pada abutment

(30)

menggunakan semen (mirip dengan mahkota penyangga gigi) atau sekrup.

Keduanya ini dikenal dengan sebutan cement-retained atau screw-retained.

- Removable prostheses

Protesa ini dapat dilepas dan dikung oleh implan. Removable prostheses mirip dengan overdenture yang didukung gigi, protesa ini juga membutuhkan tambahan abutment.

- Fixed-detachable prostheses

Protesa lengkap retensi sekrup yang tidak dapat dilepas oleh pasien, tetapi dapat dilepas oleh dokter gigi. Fabrikasi jenis protesa ini lebih kompleks.

2.4.4.2 Aksesoris a. Surgical - Cover screw

Setelah operasi pemasangan implan, cover screw dipasang di bagian atas aspek implan pada insersi dua tahap untuk menutupi sambungan dari abutment selama masa penyembuhan. Komponen ini juga disebut sebagai healing screw (Gambar 8).15

Gambar 8. Cover screw15

- Gingival former

Komponen ini diperlukan hanya untuk implan insersi dua tahap. Setelah pemasangan tahap kedua untuk mengekspos implan, cover screw dibuang dan

(31)

gingival formers diletakkan ke implant fixture. Gingival former akan meluas di atas jaringan lunak masuk ke dalam rongga mulut dan membentuk lapisan penutup gingiva disekitar implan. Komponen ini juga disebut sebagai healing abutments atau permucosal extensions (Gambar 9).15

Gambar 9. Gingival former26

b. Prosthetic

- Implant analogue

Komponen ini merupakan replika dari seluruh implan gigi, tidak dimaksudkan untuk implantasi manusia. Implant analogue mirip dengan implant fixture, tetapi komponen ini digunakan di model untuk membuat gigi tiruan di laboratorium. Komponen ini juga disebut sebagai implant replica atau lab analogue (Gambar 10).15

Gambar 10. Implant analogue15

(32)

- Impression coping

Komponen ini dulunya memberikan spasial dari implan gigi endosteal ke ridge alveolar dan gigi yang berdekatan atau struktur lainnya. Impression coping digunakan pada badan implan atau abutment untuk pengambilan cetakan akhir. Komponen ini juga disebut sebagai impression post, impression pin atau transfer coping (Gambar 11).15

Gambar 11. Impression coping15

2.5 Implan Retensi Semen 2.5.1 Pengertian

Gigi tiruan implan jenis ini adalah gigi tiruan yang paling banyak digunakan.

Gigi tiruan implan retensi semen merupakan gigi tiruan implan yang melekatkan restorasi mahkota ke abutment dengan menggunakan semen. Implan ini juga dapat dilakukan dengan dua tahap, dimana abutment terhubung dengan sekrup dan mahkota disemen di atas abutment (Gambar 12).15,17,25,26

(33)

Gambar 12. Implan retensi semen27

2.5.2 Indikasi

1. Situasi dimana permukaan oklusal lebih diperhatikan untuk kebutuhan estetik karena adanya bahan restorasi yang diperlukan untuk menutup akses sekrup.

2. Situasi dimana pada pemasangan implan, sudut divergensi implan dan sudut sekrup penahan dari abutment yang akan menerima restorasi kurang dari 17˚, sehingga implan retensi sekrup tidak bisa digunakan.25

2.5.3 Kelebihan

Kelebihan dari implan retensi semen, yaitu:24,28 1. Memberikan estetis

Pada implan dengan retensi semen, sudut abutment dapat dibuat dengan baik yang memungkinkan implan mirip dengan gigi asli, sedangkan pada implan dengan retensi sekrup tidak dapat dimodifikasi, sehingga aspek estetika sangat baik pada implan dengan retensi semen.

(34)

2. Meningkatkan akses

Implan retensi semen memberikan askses yang lebih mudah ke daerah gigi posterior, terutama pada pasien dengan pembukaan rahang terbatas. Selain itu, penggunaan retensi sekrup pada daerah gigi posterior juga memiliki risiko untuk pasien menelan atau menyedot sekrup.

3. Mengurangi fraktur komponen

Komplikasi jangka panjang dari implan retensi sekrup adalah fraktur dari komponen sekrup. Diameter sempit oklusal dari sekrup mengurangi kekuatan jangka panjangnya yang dapat meningkatkan risiko untuk rusak. Fraktur berkaitan dengan siklus beban. Batas daya tahan adalah sekitar setengah dari kekuatan akhir suatu material. Implan retensi sekrup menerima beban siklik yang meningkat dibawah parafungsi. Akibatnya, implan retensi sekrup memiliki risiko jangka panjang yang dapat patah atau kendor. Komplikasi ini terjadi pada banyak kasus yang ditemui pada implan dengan retensi sekrup dengan pelonggaran sekrup dilaporkan sebesar 38%

pada restorasi gigi tunggal posterior. Implan dengan retensi semen tidak memiliki diameter kecil komponen, sehingga komplikasi fraktur tidak ditemukan.

4. Biaya dan waktu sedikit

Biaya laboratorium untuk implan retensi sekrup lebih besar dibandingkan dengan semen, karena implan dengan retensi sekrup memiliki komponen laboratorium tambahan. Selain itu, waktu laboratorium akan meningkat untuk membuat implan tersebut. Akibatnya, biaya laboratorium menjadi 1,5 hingga 2 kali lebih tinggi daripada implan dengan retensi semen.

2.5.4 Kekurangan

Kekurangan utama dari implan retensi semen adalah sulitnya menghilangkan semen berlebih yang sering dikaitkan dengan penyakit peri-implan seperti mukositis peri-implan dan peri-implantitis. Dari desainnya, gigi tiruan implan retensi semen memerlukan ruang interoklusal yang besar yaitu minimal 5 mm dan memiliki risiko untuk terjadinya kolonisasi mikroflora yang dapat mengakibatkan inflamasi gingiva.

(35)

Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi faktor risiko terjadinya komplikasi pada gigi tiruan implan dengan retensi semen.25,28-30

2.6 Implan Retensi Sekrup 2.6.1 Pengertian

Gigi tiruan implan retensi sekrup merupakan gigi tiruan implan yang memberi retensi superstructure dengan menggunakan sekrup yang dimana mahkota gigi tiruannya dilekatkan langsung dengan sekrup melalui lubang akses permukaan oklusal (Gambar 13).17,25,26

Gambar 13. Implan retensi sekrup27

2.6.2 Indikasi

1. Pada pasien yang berisiko tinggi resesi gingiva. Hal ini untuk memungkinkan pelepasan yang tidak rumit dan kemudian untuk modifikasi restorasi sesuai dengan keadaan.

(36)

2. Pada pasien yang diperkirakan akan kehilangan lebih banyak gigi di masa mendatang. Hal ini untuk memudahkan pelepasan restorasi dan memodifikasi restorasi.

3. Situasi dimana terdapat ruang interoklusal minimal, tidak mungkin untuk mencapai retensi yang memadai untuk restorasi dengan retensi semen karena restorasi ini memerlukan komponen vertikal sekurang-kurangnya 5 mm untuk memberikan bentuk retensi.

4. Situasi dimana penghilangan semen berlebih seperti margin restorasi akhir lebih besar dari 3 mm secara subgingiva sulit dihilangkan.

5. Kasus dimana komplikasi teknis dan biologis dipertimbangkan, restorasi dengan retensi sekrup lebih digunakan untuk memudahkan pelepasan restorasi.25

2.6.3 Kelebihan

Kelebihan dari implan retensi sekrup, yaitu:24,28 1. Dapat dibuka kembali

Keuntungan utama dari implan retensi sekrup adalah sifat yang dapat dibuka kembali tanpa merusak restorasi. Oleh karena itu, implan dengan retensi sekrup pada komponen yang fraktur dapat diberbaiki, implan dan jaringan lunak dapat dievaluasi, kalkulus dapat dihilangkan dan pembersihan komponen bisa dilakukan.

2. Mengurangi risiko sisa semen di sulkus

Pada implan dengan retensi sekrup tidak ada sisa semen di celah gingiva yang dapat menyebabkan iritasi jaringan sekitar dan menyebabkan peningkatan retensi plak dan peradangan, mirip dengan kondisi semen berlebih pada mahkota di gigi asli.

2.6.4 Kekurangan

Kekurangan utama dari implan retensi sekrup adalah sekrup dapat mengalami pelonggaran selama pemakaian. Adanya celah pada sekrup yang melonggar dapat menyebabkan kolonisasi bakteri di celah mikro sehingga terjadi penumpukan plak.

Selain itu restorasi dengan menggunakan implan retensi sekrup memerlukan peletakan posisi implan yang presisi dan lokasi lubang akses yang optimal untuk

(37)

mendapatkan restorasi yang estetik. Peletakan posisi implan yang kurang baik antara mahkota tiruan dengan abutment dapat menyebabkan tekanan kuat sehingga terjadinya fraktur atau kerusakan pada mahkota. Pada implan dengan retensi sekrup juga memerlukan biaya yang lebih mahal dikarenakan implan dengan retensi sekrup memiliki komponen laboratorium tambahan.25,28,31,32

2.7 Komplikasi

Komplikasi dalam Glossary of Oral and Maxiollofacial Implant didefinisikan sebagai penyimpangan tak terduga dari hasil perawatan normal. Komplikasi dapat terjadi pada setiap tahap perawatan gigi tiruan implan seperti komplikasi pada saat penanaman implan, pemasangan gigi tiruan dan pada saat follow-up. Komplikasi ini umumnya dapat diklasifikasikan menjadi komplikasi teknis, biologis, dan klinis.7,33,34

2.7.1 Komplikasi Teknis

Komplikasi teknis pada implan merupakan komplikasi yang terjadi pada komponen implan itu sendiri. Komplikasi teknis dapat berupa kerusakan pada badan implan, sekrup, abutment, gigi tiruan, dan lain-lain. Pada saat follow-up, komplikasi teknis juga sering terjadi, seperti mobilitas atau kehilangan retensi dan kerusakan pada mahkota.12,33

2.7.2 Komplikasi Biologis

Komplikasi biologis pada implan merupakan kelainan patologis yang terjadi dari pemakaian implan itu sendiri. Komplikasi biologis antara lain seperti resorpsi tulang patologis, supurasi, peri-implantitis, dan mukositis. Kelainan patologis tersebut dikaitkan dengan faktor host dan interaksi biologis dengan bahan yang digunakan dalam implan.31,33

2.7.3 Komplikasi Klinis

Komplikasi klinis pada implan merupakan perubahan gambaran klinis yang terlihat setelah dilakukannya evaluasi dari pemakaian implan jangka panjang.

(38)

Perubahan pada gambaran klinis ini dapat mengindikasikan adanya penyakit atau kelainan patologis yang terjadi dari pemakaian implan. Komplikasi klinis saat follow- up yang sering ditemukan, yaitu akumulasi plak dan perubahan kondisi jaringan periodontal, seperti perdarahan saat probing, inflamasi gingiva, kedalaman poket, dan perubahan lebar jaringan berkeratin.5,12,34,35

2.7.1 Akumulasi Plak a. Pengertian

Plak adalah suatu lapisan biofilm dari kumpulan mikroorganisme yang melekat pada permukaan gigi atau permukaan keras lainnya pada rongga mulut seperti restorasi lepasan dan cekat. Plak tampak sebagai suatu massa deposit bewarna kekuning-kuningan atau keabu-abuan. Pembentukan komunitas biofilm dimulai dengan interaksi bakteri dengan gigi atau restorasi lepasan dan cekat, yang kemudian dilanjutkan oleh interaksi fisikal dan fisiologis antara berbagai spesies yang ada dalam massa mikrobial.36

b. Etiologi

Pada pasien pengguna implan dengan retensi semen dapat terjadi kolonisasi bakteri saat kelebihan semen ataupun adaptasi marginal yang tidak baik saat melakukan restorasi. Sementasi sisa pada mahkota implan karena posisi dan desain suprastruktur, memungkinkan terjadinya kelebihan semen yang tidak dapat dibersihkan sehingga menghambat upaya terapi non-bedah mekanik untuk mengakses ruang subgingiva. Selain itu, banyak dari semen yang sering digunakan tidak terdeteksi oleh survei radiograf. Semen tersebut dapat menyebabkan peradangan akibat kekasaran permukaan yang dapat memberikan lingkungan yang positif untuk perlekatan bakteri.11,34,38

Pada pasien pengguna implan dengan retensi sekrup, hal ini dapat terjadi saat sekrup mengalami pelonggaran dan penyimpangan dari posisi dan angulasi sekrup sehingga terdapat celah yang memungkinkan terjadinya penumpukan plak. Keadaan ini dapat diperparah saat pasien baik pada pengguna implan retensi semen ataupun retensi sekrup tidak menjaga oral hygiene mereka dengan baik (Gambar 14).11,34,39

(39)

Gambar 14. Akumulasi plak pada daerah sekitar implan37

c. Parameter

Keberadaan plak supragingival dapat diperiksa secara visual. Namun untuk pemeriksaan plak subgingival dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan eksplorer. Untuk mempermudah pemeriksaan akumulasi plak, tepi gingiva dilakukan dengan semprotan udara. Parameter akumulasi plak pada implan menggunakan indeks plak modifikasi (Tabel 1). Kriteria pengukuran akumulasi plak disajikan sebagai berikut:40

Tabel 1. Modifikasi Indeks Plak40

Skor Keterangan

0 Tidak terdeteksi adanya plak

1 Plak hanya terlihat dengan menjalankan eksplorer ke permukaan tepi halus implan 2 Plak dapat dilihat dengan jelas

3 Kumpulan plak sangat jelas

2.7.2 Perdarahan Saat Probing a. Pengertian

Beberapa laporan penelitian menyebutkan kehadiran jaringan gingiva yang sehat di sekitar implan menjadi faktor kunci tidak hanya untuk estetika, tetapi juga menjadi jangka panjang keberhasilan dari implan tersebut. Salah satu tanda yang menunjukkan adanya penyakit peri-implan adalah terjadinya perdarahan saat probing.

(40)

Perdarahan saat probing adalah keluarnya darah dari interproximal sulkus gingiva saat dilakukannya probing.24,40-42

b. Etiologi

Penelitian menyebutkan kemungkinan terjadinya perdarahan saat probing dikaikan dengan keadaan tertentu seperti kedalaman probing, tipe gigi, dan aspek gigi ataupun faktor yang berkaitan dengan pasien seperti jenis kelamin, penyakit sistemik dan kebiasaan merokok. Hingga saat ini, informasi tentang keadaan yang menjadi risiko perdarahan saat probing disekitar implan masih sedikit. Selain itu, ada beberapa hal yang diyakini dapat meningkatkan risiko perdarahan yang berdampak terhadap perdarahan saat probing peri-implan yaitu bentuk anatomis suprakrestal peri-implan yang bervariasi dan bagian jaringan lunak periodontal serta indeks plak yang tinggi dengan peradangan sulkular disekitar implan dan gigi. Mudah mengalami ulserasi epitel sulkuler merupakan peradangan dari akumulasi plak dan menjadi penyebab utama perdarahan saat probing (Gambar 15).24,40,44-46

Gambar 15. Perdarahan saat probing pada daerah implan43

c. Parameter

Parameter perdarahan saat probing pada implan menggunakan modifikasi indeks perdarahan sulkus (Tabel 2). Kriteria penentuan skor indeks perdarahan sulkus disajikan sebagai berikut:47

(41)

Tabel 2. Modifikasi indeks perdarahan sulkus47

Skor Keterangan

0 Tidak ada perdarahan ketika prob dilewatkan ke margin gingiva yang berdekatan dengan implan

1 Terlihat spot perdarahan yang terisolasi

2 Darah membentuk garis merah yang konfluen pada margin 3 Perdarahan berat dan banyak

2.7.3 Inflamasi Gingiva a. Pengertian

Meskipun implan gigi telah menunjukkan hasil yang baik, tidak menutup kemungkinan tetap terjadinya komplikasi. Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara inflamasi gingiva dan implan gigi. Inflamasi gingiva adalah peradangan yang mengenai jaringan lunak pada gingiva yang berhubungan dengan adanya akumulasi plak. Pada penelitian Jepsen dkk, mengidentifikasi adanya peningkatan enzim proteolitik di sulkus implan dengan peradangan dan pendarahan saat probing sebagai idikator penyakit implan. Lekholm dkk dan Quiryen dkk, menemukan bahwa plak dan gingivitis di sekitar implan berkorelasi.24,48

b. Etiologi

Pada penyakit peri-implantitis, tingkat kerusakan jaringan disebabkan oleh tingkat yang tidak seimbang dari mediator pro dan anti-inflamasi, mengakibatkan dalam respon inflamasi yang tidak teratur. Dalam hal ini, pengukuran jenis dan jumlah sitokin yang dilepaskan merupakan strategi yang baik untuk memantau kondisi jaringan peri-implan. Pada inflamasi periodontal, neutrofil yang ada di jaringan gingiva diarahakan ke bakteri dari plak gigi mengikuti faktor kemotaktik spesifik yang diproduksi oleh epitel junction untuk membantu neutrofil melawan bakteri tersebut (Gambar 16).49

(42)

Gambar 16. Inflamasi peri-implan43

c. Parameter

Indeks gingiva yang paling umum digunakan untuk implan adalah indeks gingiva Loe dan Silness (Tabel 3). Kriteria penentuan skor indeks gingiva disajikan sebagai berikut:24,48,50

Tabel 3. Indeks gingiva (Loe dan Silness)24,48,50

Skor Keterangan

0 Gingiva normal, tidak ada inflamasi

1 Inflamasi ringan pada gingiva dengan ditandai adanya perubahan warna, sedikit edema, pada probing tidak terjadi perdarahan

2 Inflamasi gingiva sedang, gingiva berwarna merah, edema, dan mengkilat, pada probing terjadi perdarahan

3 Inflamasi gingiva berat, gingiva berwarna merah menyolok, edema, terjadi ulserasi, gingiva cenderung berdarah spontan

2.7.4 Kedalaman Poket

Pengukuran kedalaman poket adalah cara yang terbukti sangat baik untuk mendeteksi kehilangan tulang dan menilai kesehatan implan gigi. Kedalaman poket adalah jarak antara dasar poket ke margin gingiva. Mengenai kedalaman probing klinis, hal ini penting untuk dilakukan sebagai pertimbangan bahwa jaringan yang meradang disekitar implan, prob menembus dekat dengan tingkat tulang, sedangkan dalam keadaan sehat jaringan yang ujung prob cenderung berhenti pada tingkat

(43)

histologis jaringan ikat yang menempel pada implan. Untuk pemeriksaan kedalaman poket pada implan dilakukan dengan memasukkan prob ke dalam sulkus implan sampai melalui epitel junction dan jaringan ikat menuju tulang crestal. Zona jaringan ikat untuk implan hanya memiliki dua kelompok serat, dan tidak ada satupun yang masuk ke dalam implan. Akibatnya, pada implan, probe melewati sulkus, melalui epitel junction dan melalui jaringan ikat kolagen tipe III dan menjangkau lebih dekat ke tulang.24,40,41

Lekholm dkk, menemukan bahwa kestabilan dan kekakuan dari implan cekat memiliki kedalaman poket berkisar antara 2 sampai 6 mm. Pasien dengan kehilangan gigi sebagian yang menggunakan implan secara konsisten menunjukkan kedalaman probing yang lebih dalam di sekitar implan daripada di sekitar gigi. Kedalaman probing yang meningkat di sekitaran implan merupakan tanda dari kehilangan tulang.

Saat kedalaman sulkus meningkat, tegangan oksigen menurun. Bakteri dalam sulkus implan serupa dengan bakteri pada gigi asli. Sikat gigi dan prosedur kebersihan harian tidak dapat membersihkan sulkus yang lebih besar dari 2 mm. Kedalaman sulkus yang lebih besar dari 5 hingga 6 mm memiliki insiden bakteri anaerob yang lebih besar. Oleh karena itu, sebagai aturan umum, pasien perlu melakukan kebersihan harian yang efektif dan sulkus implan yang ideal harus dipertahankan kurang dari 5 mm.24

Gambar 17. Pengukuran kedalaman poket pada implan;

probe melewati margin gingival bebas (FGM), menembus sulkus, epitel junction (JE), dan sebagian besar zona jaringan ikat (CT) menuju tulang crestal.24

(44)

2.7.5 Perubahan Lebar Jaringan Berkeratin

Lebar jaringan berkeratin menjadi salah satu parameter untuk menilai inflamasi gingiva pada pengguna implan. Lang dan Loe menyarankan minimal dari jaringan berkeratin adalah 2 mm dan 1 mm melekat ke gingiva untuk menjaga kesehatan gingiva. Setetler dan Bissada membahas pertimbangan mukogingiva dalam kedokteran gigi restoratif pada tahun 1987. Mereka menyimpulkan bahwa jika restorasi subgingiva ditempatkan di area gingiva berkeratin yang minimal dan kontrol plak kurang optimal, augmentasi untuk memperluas zona jaringan keratin mungkin diperlukan. Namun, mereka juga menyebutkan bahwa pada gigi yang tidak direstorasi, perbedaan status inflamasi dengan atau tanpa zona jaringan keratin yang luas tidak signifikan. Meskipun jaringan keratin di sekitar gigi mungkin tidak wajib untuk kesehatan jangka panjang, sejumlah manfaat hadir dengan mukoksa keratin.

Warna, kontur dan tekstur jaringan lunak harus serupa di sekitar implan dan gigi saat berada di zona estetika. Idealnya papila interdental mengisi ruang interproksimal.

Garis tinggi senyum sering memperlihatkan batas gingiva bebas dan zona papilla interdental. Jaringan keratin lebih tahan terhadap abrasi. Hasilnya, alat bantu kebersihan lebih nyaman digunakan, dan proses mastikasi cenderung tidak menyebabkan ketidaknyamanan. Derajat resesi gingiva juga sering dikaitkan dengan tidak adanya gingiva berkeratin.24

Gigi asli biasanya memiliki dua jenis jaringan utama, yaitu gingiva cekat, gingiva berkeratin dan gingiva tidak melekat, gingiva tidak berkeratin. Jenis jaringan di sekitar implan gigi lebih bervariasi daripada gigi asli. Setelah kehilangan tulang pada rahang atas, jaringan berlebih sering ditemukan dan jaringan biasanya berkeratin namun gingiva tidak melekat. Implan yang ditempatkan di wilayah tersebut mungkin juga memiliki jaringan berkeratin dan tidak jaringan tidak melekat. Jaringan di sekitar implan mungkin juga mirip dengan kebanyakan jaringan gigi asli, dikelilingi oleh gingiva yang berkeratin dan melekat (Gambar 18). Jaringan tidak berkeratin, mukosa tidak melekat, lebih sering ditemukan pada rahang bawah setelah terjadi kehilangan tinggi tulang atau setelah cangkok tulang (Gambar 19).24

(45)

Gambar 18. Jaringan lunak disekitar implan berkeratin, melekat dan mirip dengan gigi asli.24

Gambar 19. Jaringan lunak di sekitar mahkota implan pada insisivus kanan rahang atas tidak berkeratin dan mukosa tidak melekat.24

Secara teori, perbedaan struktural pada implan dibandingkan dengan gigi asli menyebabkan kerentanan terhadap perkembangan inflamasi dan kehilangan tulang saat terdapat akumulasi plak atau invasi mikroba (misalnya, suplai vaskular yang lebih sedikit dan fibroblas yang lebih sedikit). Beberapa laporan penelitian menyebutkan kurangnya jaringan keratin dapat menyebabkan kegagalan implan.

Kirsch dan Ackermann melaporkan bahwa kriteria terpenting untuk kesehatan implan di mandibular posterior terkait dengan tidak adanya atau adanya gingiva berkeratin.

Dalam beberapa penelitian juga menyebutkan mukosa yang bergerak dan tidak

(46)

berkeratin menunjukkan kedalaman probing yang lebih besar. Oleh karena itu, diperlukan jaringan berkeratin yang cukup untuk menjaga kesehatan implan.24,51

(47)

2.8 Kerangka Teori

Rehabilitasi Kehilangan Gigi

Gigi Tiruan Lengkap Gigi Tiruan Sebagian Lepasan

Indikasi dan Kontraindikasi Komponen

Komplikasi

Akumulasi plak Inflamasi gingiva Perubahan lebar jaringan

berkeratin

Perdarahan saat probing Kedalaman poket

Kehilangan Gigi

Klasifikasi

Retensi Sekrup Retensi Semen

Indikasi Kelebihan

Gigi Tiruan Sebagian Cekat Gigi Tiruan Implan

Kekurangan

Komponen Utama Aksesoris

Implant Fixture Implant Abutment Implant Superstructure

Jenis Retensi

Surgical Prosthetic

Komplikasi Biologis

Komplikasi Klinis Komplikasi Teknis Dampak Kehilangan Gigi

Mastikasi Fonetik

Estetik Sosial

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah telaah sistematis (systematic literature review).

Telaah sistematis adalah cara sistematis mengumpulkan, mengevaluasi secara kritis, mengintegrasikan, dan menyajikan temuan dari berbagi jurnal penelitian tentang pertanyaan penelitian atau topik. Telaah sistematis memberikan cara untuk menelaah kualitas dan kepentingan suatu data terhadap suatu pertanyaan atau topik.

Hal ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas dan lebih mendalam dibandingkan dengan telaah literatur.52,53

3.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan April – Juli 2021.

3.3 Cara Penelitian a. Telaah Bagan PRISMA

Penelitian ini menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analysis) untuk mendapatkan jurnal yang diinginkan untuk diteliti. Terdapat 4 tahapan dalam PRISMA, yaitu identification, screening, eligibility, dan included (Gambar 20).52

(49)

Gambar 20. Bagan PRISMA52

1. Identification

Tahap identifikasi dilakukan dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi berdasarkan PICOS (Population, Intervention, Comparison, Outcome, dan Study) untuk mengidentifikasi tujuan.54,55 Kriteria tersebut disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Berdasarkan PICOS

Inklusi Eksklusi

Sumber Hasil pencarian dari PubMed, EBSCO, dan CENTRAL

Basis data lain dan grey literature

Tahun terbit 2011-2021 Studi dibawah tahun 2011

Bahasa Bahasa Inggris Bahasa lain

Jenis publikasi Jurnal Jenis publikasi lain

IdentificationScreeningEligibilityIncluded

Hasil setelah duplikasi dihilangkan (n=…)

Jurnal teks lengkap yang sudah dinilai kelayakannya (n=…)

Jurnal yang telah diekslusikan (n=…)

Studi yang akan diteliti dalam sintesis kualitatif (n=…)

Jurnal teks lengkap yang dieksklusikan, dengan alasan lain (n=…)

Total (n=…)

CENTRAL (n=…) EBSCO

(n=…) PubMed

(n=…)

Jurnal yang telah disaring (n=…)

(50)

Kualitas jurnal Kualitas tinggi dan sedang Kualitas rendah Population Pasien kehilangan gigi yang

dirawat menggunakan gigi tiruan implan

Pasien kehilangan gigi yang dirawat menggunakan jenis gigi tiruan lain

Intervention Penggunaan gigi tiruan implan dengan retensi semen

Penggunaan jenis gigi tiruan implan dengan retensi lain Comparison Penggunaan gigi tiruan implan

dengan retensi sekrup Outcome Akumulasi plak, pendarahan

saat probing, inflamasi gingiva, kedalaman poket, perubahan lebar jaringan berkeratin

Komplikasi lain

Study Randomized Controlled Trials (RCT), cohort, dan cross sectional

Jenis studi lain

Pertama, peneliti membuka basis dari Pubmed, EBSCO, dan CENTRAL.

Lalu, masuk ke situs https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/, https://www.ebsco.com/, dan https://www.cochranelibrary.com/central. Pencarian dilakukan menggunakan sistem boolean dengan mengetikkan kata kunci yaitu “(cement* AND screw retain*) AND (implant OR prosthesis) AND (clinical OR outcome* OR complication)”. Pada sistem boolean, AND digunakan untuk menghubungkan dua kata atau frasa dalam menemukan kata kunci yang sangat relevan dan OR digunakan untuk mencari sinonim kata dalam menjaring lebih banyak jurnal. Setiap tahap penyaringan pada basis data dalam tahap identifikasi didokumentasikan dan dicatat dalam Tabel 5.

Tabel 5. Tahap Identifikasi

Filter Jumlah Jurnal

Sebelum filter Filter: 2011-2021

Filter: 2011-2021 + articles

Gambar

Tabel 1. Modifikasi Indeks Plak 40
Tabel 2. Modifikasi indeks perdarahan sulkus 47
Tabel 3. Indeks gingiva (Loe dan Silness) 24,48,50
Tabel 4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Berdasarkan PICOS
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintah Daerah Kabupaten Melawi terus berupaya mengevaluasi dan merumuskan strategi dan kebijakan dalam meningkatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia

Sampel darah sapi yang digunakan adalah sapi lokal Indonesia yaitu sapi Bali, Madura, Pesisir dan Katingan, sebanyak 80 sampel dengan masing-masing bangsa sapi

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui profil nasabah bank sampah yang memiliki predikat terbaik dalam sistem pengelolaan bank sampah di

Tamm-Horsfall adalah protein yang berlimpah yang ditemukan dalam urin dan merupakan inhibitor agregasi kristal monohidrat kalsium oksalat potensial, tetapi tidak

Pengaruh perlakuan perendaman benih palem raja pada asam giberelin terhadap tinggi kecambah berdasarkan hasil analisis keragaman menunjukkan pengaruh tidak nyata,

Selain itu kita juga mengenal teknologi NFC (near field communication) yang banyak dibenamkan ke dalam telepon cerdas mutakhir yang mampu bertukar data dengan cepat, barcode,

• Tekanan mata dipengaruhi tekanan badan kaca pada posterior mata & humor aquous yang mengisi Camera oculi anterior (bilik depan).. • Normal : volume badan kaca tetap •

2011 DIPA Kompetitif Unand (sebagai anggota) Sehat Dengan Obat Generik: Program Sosialisasi Obat Generik Berbasis Pasien Melalui Meetode KIE Di PUSKEMAS Pariaman