• Tidak ada hasil yang ditemukan

AR-RAHMAH Jurnal Penelitian Pendidikan dan Sosial Keagamaan e- ISSN: Volume 1, Edisi 2 (Agustus 2021),

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AR-RAHMAH Jurnal Penelitian Pendidikan dan Sosial Keagamaan e- ISSN: Volume 1, Edisi 2 (Agustus 2021),"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP ISTIHSAN DALAM PEMBAHARUAN KEHIDUPAN UMMAT ISLAM DI INDONESIA: MENINJAU BEBERAPA FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Salmia, Mohd Haramen, Muhammad Rafi’i [email protected],

STAI Ahsanta Jambi ABSTRACT

The existence of the National Shariah Council Fatwa (DSN) in the Indonesian Ulema Council (MUI) is one that facilitates the Islamic ummah in Indonesia to determine the steps of an act that may or may not continue, without worrying about the implied religious prohibition for Indonesian people who are still unfamiliar with Islamic religion itself. So that in this paper will present examples of cases related to the

"Istihsan Concept in the Renewal of the Life of the Islamic Community in Indonesia"

which some examples were taken from the DSN MUI fatwa. Journal writing method with descriptive qualitative method with a case study approach that is Reviewing Several Fatwas of the National Sharia Council - Indonesian Ulema Council. This journal is written because of the many modern problems that are not in the Qur'an and Hadith so that the jurists and scholars seek solutions to these new problems with settlement through istihsan. The example of istihsan use in Indonesia which is also fatwaed by the National Sharia Council of the Indonesian Ulema Council is among others: Money Waqf, Online Buying and selling, use of deposit items, Sharia Direct Selling Umrah Travel Services etc.

Keywords: Fatwa, Indonesian Ulama Council, Istihsan.

Pendahuluan

Pengambilan istimbat hukum menggunakan metode ijtihad, salah satunya istihsan. Metode ini ada sejak zaman sahabat Nabi SAW. Dimana karena adanya permasalahan terkait pemilihan khalifah pasca Rasulullah wafat. Sahabat saat itu memutuskan untuk menunjuk Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama. Hal ini didasari karena adanya peristiwa penunjukan Abubakar sebagai imam shalat oleh Rasulullah SAW saat beliau sedang sakit.

(2)

Menurut Abdul Wahab Kallaf, hakikatnya istihsan bukanlah sumber hukum yang mandiri. Karena istihsan bentuk yang pertama dari kedua bentuk qiyas yang tersembunyi. Metode istihsan ini mengalahkan qiyas yang jelas. Ini disebabkan karena adanya beberapa faktor yang membuat hati mujtahid tenang. Sedangkan bentuk yang kedua dari istihsan adalah dalil adalah maslahat, yang menuntut adanya pengecualian hukum kully (umum).1

Dalam hal ini kedudukan akal harus digunakan secara seimbang dengan kemaslahatan dan tujuan utama hukum mencari kebenaran yang sesungguhnya. Bukan membenarkan suatu kasus tertentu untuk kepentingan golongan tertentu. Metode istihsan, dirumuskan berdasarkan pemahaman atas berbagai metode istimbaht hukum.

Perbedaan terhadap cara istimbath hukum dari imam-imam mazhab banyak dijumpai di masyarakat yang mayoritas Islam, termasuk di Indonesia. Namun tidak sedikit yang tidak menjadikan istihsan sebagai istimbhat hukum karena di pengaruhi salah seorang Imam Mazhab.

Sejumlah pengamat, mengapresiasi tentang watak atau karakteristik ummat Islam di Indonesia ini. Karena, umat Islam di Indonesia membawa Islam yang damai, ramah, dan toleran. Ini merupakan ciri Islam-Melayu sebagai yang diharapkan untuk masa depan.2 Namun menanggapi permasalahan global yang tidak ditemukan dalam Al-Qur‟an dan Hadist, menyeret ummat Islam menemukan hukum-hukum dengan pendekatan Ijtihad tanpa melanggar hukum yang telah ada sebelumnya. Salah satunya dengan adanya istimbath hukum menggunakan istihsan.

Dengan adanya fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) di Majelis Ulama Indonesia (MUI) memudahkan ummat Islam di Indonesia untuk menentukan langkah hukum. Terkait boleh tidaknya sebuah perbuatan dilakukan, tanpa khawatir adanya larangan agama yang tersirat bagi masyarakat Indonesia yang masih awam. Sehingga pada artikel ini akan menyajikan contoh-contoh kasus yang berkaitan dalam “Konsep Istihsan Dalam Pembaharuan Kehidupan Ummat Islam Di Indonesia”. Beberapa contoh diambil dari fatwa DSN MUI. Adapun tujuan penulisan Jurnal ini untuk melihat konsep istihsan sebagai metode istimbath hukum. Dimana dalam rangka

1 Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh (Semarang: Dina Utama Semarang, 1994).

2 Ittihadiyah, Himayatul, “Merunut Identitas Islam Indonesia (Kajian Historiografi Menurut Ulama Kontemporer Yogyakarta, Perspektif Muhammadiyah, NU, HTI, dan MMI)”, Jurnal Penelitian Agama, Vol.

XVII, No. 3 (September-Desember 2008), hlm. 537.

(3)

mengetahui relevansi istihsan dalam pembaharuan hukum Islam dan Mengetahui contoh kasus istihsan di masa sekarang dalam Fatwa DSN MUI.

Metode Penelitian

Artikel ini ditulis dengan metode kualitatif deskriptif, dimana melalui pendekatan studi kasus. Pendekatan ini dilakukan dengan mempelajari beberapa Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia. Penelitian kualitatif ini merupakan jenis penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik. Ini dilakukan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Sehingga dapat diterapkan di lokasi berbeda, dengan menjadikan Fatwa DSN sebagai referensi utama serta Jurnal dan buku-buku sebagai pengambilan kesimpulan penelitian untuk mengaanlisis permasalahan dalam jurnal ini.

Pembahasan 1. Pengertian

Menurut bahasa, istihsan dapat diartikan sebagai anggapan baik atau mencari yang baik. Sedangkan menurut ulama ushul fiqh, istihsan ini adalah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan kepada hukum yang lainnya, pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara`. Secara singkat bisa dikatakan bahwa istihsan ini adalah tindakan meninggalkan satu hukum kepada hukum lainnya disebabkan suatu dalil syara` yang mengharuskan untuk meninggalkannya.3

Dengan demikian, Istihsan juga dapat didefinisikan bahwa pindahnya seorang mujtahid dari tuntutan qiyas nyata (jali) kepda qiyas samar (khafi). Atau dari dalil kulliy kepada hukum takhshish yang menyebabkan mujtahid mengalihkan hasil pemikirannya dan mementingkan perpindahan hukum.4

Harus diakui, memang para ahli hukum berbeda pandangan dalam menanggapi masalah sejauhmana validitas kehujjahan istihsan ini. Contohnya, beberapa pandangan berikut :

Menurut Imam Syafi‟i, yang dimaksud dengan istihsan adalah pendapat yang tidak bersandarkan kepada keterangan (al-khabar) dari salah satu dari empat dalil syara‟, yaitu al-Qur‟an, sunnah, Ijma, dan Qiyas. Sedangkan Imam al-Amidiy

3 Baharuddin, Ahmad. Istihsan Dan Pembaruan Dalam Hukum Islam, Diktum; Jurnal Syariah dan Hukum, Vol. 13, No. 2 (Juli, 2015), hlm. 106.

4 Ma‟Shum Zein, Menguasai Ilmu Ushul Fiqh; Apa dan Bagaimana Hukum Islam Disarikan dari Sumber-sumbernya (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2013), hlm. 147.

(4)

(Syafi‟iyyah), Ibnu Hajib (Malikiyyah) dan Ibnu Qudamah (Hanabaliyyah) berpendapat, istihsan dapat dijadikan sebagai hujjah.

Lalu, mazhab Hanafi dan Maliki berpendapat, istihsan dapat dijadikan sebagai hujjah untuk menetapkan hukum syara‟, alasannya yakni firman Allah SWT dalam Alqur‟an surat Az-Zumar ayat 55.5

Konsep Istihsan Sebagai Metode Istimbath Hukum

Imam Al- Syatibi mengumpamakan kaidah Istihsan dalam masalah ibadah dengan rukhshat. Dimana dihubungkan dengan kesukaran yang dihadapi seseorang karena sakit atau sedang dalam perjalanan. Lalu dalam pendapat Ibn Rusyd, istihsan yakni meninggalkan qiyas dalam menetapkan suatu hukum. Mengingat, qiyas itu menimbulkan suatu keadaan yang berlebih-lebihan dalam hukum6.

Imam Ibn Al-„Arabi sendiri pernah menyampaikan pandangan yang lebih luas terkait istihsan ini. Beliau mengatakan bahwa, istihsan tersebut adalah meninggalkan kehendak dalil dengan cara pengecualian atau memberikan rukhshat karena berbeda hukumnya dalam berbagai masalah. Pengertian tersebut beliau bagi dalam empat macam pengertian antara lain; Istihsan dengan „urf, Istihsan dengan maslahat, Istihsan dengan ijma, Istihsan dengan kaidah raf‟-al harj wa al- masyaqqat (menolak kesukaran dan kesulitan)7.

Menurut Husain Hamid Hasan, istihsan kembali kepada nash dari dua segi.

Dimana kaidah istihsan diambil dari nash-nash syara‟ dengan cara induksi yang memberikan faedah qath‟i. Makanya, beramal dengan istihsan dan berpegang padanya, berarti beramal dengan nash-nash syara‟ itu sendiri. Bukan mengemukakan pandapat dengan ra‟y (akal) dan membuat mengikuti hawa nafsu8.

Dalam kaidah istihsan, mujtahid sama saja dengan kembali kepada dalil syara‟ yang juga diambil dari induksi nash-nash syariat. Mengingat, ijma‟ dan „urf, merupakan dalil syara‟ yang diakui kehujjahannya oleh nash syariat. Sedangkan beramal dengan keduanya bukanlah berarti mengikuti keinginan dan hawa nafsu.

5 Ma‟Shum Zein, Menguasai Ilmu Ushul Fiqh…, hlm. 150.

6 Darmawati, Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam, Jurnal Al Fikr, Vol 11, No 01, UIN Alauiddin, Tahun 2019

7 Mursyid Mustafa An Najmi, Ihtihsan Dalam Pandangan Mazhab Imam Hanafi dan Syafii dan Penerapannya, Tesis, UIN Maulana Malik Ibrahim, 2019

8 Ibid

(5)

Landasan Hukum a) Firman Allah SWT.

ٌَْأ َدىُغبَّطنا اىُجََُزْجا ٍََِرَّنا َو ( ٌِدبَجِع ْسِّشَجَف ي َسْشُجْنا ُىُهَن ِ َّاللَّ ًَنِإ اىُثبَََأ َو بَهوُدُجْعََ

ٍََِرَّنا ) ٧١

( ِةبَجْنلأا ىُنوُأ ْىُه َكِئَنوُأ َو ُ َّاللَّ ُىُهاَدَه ٍََِرَّنا َكِئَنوُأ ُهََُسْحَأ ٌَىُعِجَّزََُف َل ْىَقْنا ٌَىُعًَِزْسََ

٧١

Artinya:“Dan orang-orang yang menjauhi Thaqhut (yaitu) tidak menyembah- nya. Dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku. Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS.

al-Zumar 17-18)

Ayat ini memberikan gambaran kepada kita dimana Allah memerintahkan untuk mengikuti yang terbaik. Dan itu, menunjukkan bahwa mengikuti yang terbaik itu adalah wajib. Dan tidak ada alasan lain yang bisa menjadi alibi bahwa mengikuti yang terbaik itu adalah wajib. Dan ini menunjukkan bahwa istihsan itu adalah hujjah.9

ٌَو ُسُعْشَر َلَ ْىُزََْأ َو ًخَزْغَث ُةاَرَعْنا ُى ُكَُِرْأََ ٌَْأ ِمْجَق ٍِْي ْىُكِّث َز ٍِْي ْىُكَُْنِإ َل ِزَُْأ بَي ٍََسْحَأ اىُعِجَّرا َو

Artinya: “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS. Az-Zumar: 55)

ْىُكََُُْث َمَعَج َو ٌَو ُسَّكَفَزََ ٍو ْىَقِن ٍدبََِ َكِنَذ ٍِف ٌَِّإ ًخًَْح َز َو ًحَّد َىَي

Artinya: “sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda bagi kaumyang berfikir.” (QS. Ar-rum [30];21)

b) Hadits Nabi SAW

ِ َّاللَّ َدُِْع َىُهَف بًئَُِّس ا ْوَأ َز بَي َو ٌٍَسَح ِ َّاللَّ َدُِْع َىُهَف بًَُسَح ٌَىًُِهْسًُْنا يَأ َز بًََف ٌئَُِّس

Artinya:“Apa yang dipandang kaum muslimin sebagai sesuatu yang baik, maka ia di sisi Allah adalah baik.10

Banyak juga diantara hadist-hadist Rasulullah SAW yang memberikan kebolehan kepada kita untuk melakukan ijtihad. Begitu juga banyak sekali di temukan hadis hadis memberikan justifikasi tentang keharusan berijtihad.11

9 Muhsin Hariyanto, Bahan Ajar: Ushul Fikih (Yogyakarta: FAI UMY, 2013).

10 Duski, Metode Penerapan Hukum Islam Menurut Asyatibi, Jurnal Al Adalah, Vol XI, No 2, 2013

11 M. Amin Abdullah,Bangunan Baru Epistemologi Keilmuan Studi Hukum Islam Dalam Merespon Globalisasi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2012.

(6)

Diantaranya adalah hadis yang di jadikan tendensi oleh imam asy-syafi‟i dari sahabat „Amr bin „Ash, beliau mendengar Rosululloh SAW bersabda;

هلف باصا مث دهتجاف مكاحلا مكح اذا رجا هلف أطخأف دهتجاو مكح اذاو نارجا

Yang artinya: jika seorang hakim membuat keputusan dengan berijtihad kemudian ijtihadnya benar, maka baginya dua pahala. Jika dia membuat keputusan dengan berijtihad dan ternyata ijtihadnya salah, maka baginya satu pahala. (HR.al-Bukhori dan Muslim)

Hadits Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi dari „Amr bin „Auf al-Muzani, Nabi Saw. Bersabda :

َّلَِإ ْىِهِطو ُسُش ًَهَع ٌَىًُِهْسًُْنا َو بًيا َسَح َّمَحَأ ْوَأ ًلََلاَح َو َّسَح بًحْهُص َّلَِإ ًٍَُِِهْسًُْنا ٍََُْث ٌزِئبَج ُحْهُّص نَا بًيا َسَح َّمَحَأ ْوَأ ًلََلاَح َو َّسَح بًط ْسَش

Artinya : “Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”

Hadits Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, al-Daruquthni, dan yang lain, dari Abu Sa‟id al-Khudri, Nabi Saw. Bersabda :

َزا َس ِر َلَ َو َز َسَر َلَ

Artinya : “Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain.”

c) Kaidah Fiqh :

بَهًَِْ ِسْحَر ًَهَع ٌمُِْنَد َّلُدََ ٌَْأ َّلَِإ ُخَحبَثِلإْا ِدَلاَيبَعًُْنا ًِف ُمْصَلأَا

Artinya : “Pada dasarnya, semua bentuk mu‟amalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

ََ

سُِْسَُّْزنا ُتِهْجَر ُخَّقَشًَنا

Artinya : “Kesulitan dapat menarik kemudahan.”

(7)

ِح َز ْو ُسَّضنا َخَن ِزَُْي ُل ِزَُْر ْدَق ُخَجبَحنا

Artinya : “Keperluan dapat menduduki posisi darurat.”

ِع ْسَّشنبِث ِذِثبَّثنبَك ِف ْسُعْنبِث ُذِثبَّثنا

Artinya : “Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara‟ (selama tidak bertentangan dengan syari‟at.”

1) كشلاب لوزي لا نيقيلا Artinya: Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan dengan Keraguan

Salah satu kaidah fiqh yang dibangun dari dalil-dalil al-Quran dan hadits adalah : al-yaqiinu laa yuzaalu bisy-syak (keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan). Hadits ini adalah salah satu dari sekian banyak dalil yang mendasari kaidah tersebut, untuk meninggalkan keraguan menuju hal yang meyakinkan.12

2. Syarat-syarat Istihsan

Dalam penetapan hukum Istihsan ini, para Ulama Fiqh menetapkan persayaratan sebagai berikut:

a) Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah, dalil-dalil kulli dan juz‟i dan juz‟i yang qhot‟i wurud dan dalalahnya, dari nash Al-Qur‟an dan Al-Sunnah.

b) Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional, artinya harus ada penelitian dan pembahasan hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemudaratan, bukan kemaslahatan yang dikira-kirakan.

c) Kemaslahatan tersebut bersifat umum.

d) Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar.13 3. Macam-Macam Istihsan

Ditinjau dari segi dalil yang digunakan pada saat beralih dari qiyas, ada tiga macam 14:

12 Mohd, Hafiz Jamaludin, Ahmad Hidayat Buang. Syariah Courts in Malaysia And the Development of Islamic Jurisprudence: The Study of Istihsan. Malaysia: University of Malaya. 2014.

13 Iskandar Usman, Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994).

14 Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta : Kencana : 2014) halaman 351-355

(8)

a) Beralih dari apa yang dituntut oleh qiyas dhahir (qiyas jali) kepada yang dikehendaki oleh qiyas khafi. Dalam hal ini si mujtahid tidak menggunakan qiyas dhahir dalam menetapkan hukumnya, tetapi menggunakan qiyas khafi, karena menurut perhitungannya cara itulah yang paling kuat (tepat).

b) Beralih dari apa yang dituntut oleh nash yang umumnya kepada hukum yang bersifat khusus. Jadi, meskipun ada dalil umum yang dapat digunakan dalam menetapkan hukum suatu masalah. Namun dalam keadaan tertentu dalil umum itu tidak digunakan, dan sebagai gantinya digunakan dalil khusus.

c) Beralih dari tuntunan hukum kulli kepada tuntunan yang dikehendaki hukum pengecualiannya.15

Dalam fikih Hanafiyah, ada bermacam-macam istihsan. Istihsan tersebut terbagi menjadi sebagai berikut ; istihsan dengan Nash; Istihsan dengan Ijmak;

Istihsan dengan Kias Khafi; Istihsan dengan Darurat16.

4. Kemanfaatan Hukum Istihsan Bagi Ummat Islam di Indonesia

Hukum Islam menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, ialah koleksi daya upaya fuqaha dalam menerapkan syariat Islam. Ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini sejalan dengan kajian Ushul Fiqh, dimana hukum Islam terbagi menjadi dua.

Pertama, hukum Islam kategori syariat. Sedangkan yang kedua yakni hukum Islam kategori Fiqh.17

Ada tiga kondisi yang mendorong para ulama dan sahabat untuk melakukan istimbaht hukum dalam peristiwa yang tidak disebut oleh Nash. Ini disebut, tidak semua orang mampu merujuk kepada Al-Qur‟an dan Hadist dalam memahami hukum-hukum yang ditunjukinya. Selain itu juga, dikarenakan ayat-ayat Al-Qur‟an dan hadist-hadist tidak tersebar secara merata diantara ulama dan sahabat. Oleh karena nash-nash Al-Qur‟an pada masa awal ditulis pada lembar khusus. Lalu, kondisi ketiga yakni karena al qanun al-asasi mensyariatkan hukum-hukum bagi peristiwa dan persoalan yang terjadi.18

15 Ahmad Munjin Nasih, Lembaga Fatwa Keagamaan Di Indonesia (Telaah Atas Lembaga Majlis Tarjih Dan Lajnah Bathsul Masail) (Malang: Universitas Negri Malang, 2013).

16Arif Nur‟aini, Muttaqien Muhammad Ngizzul, Istihsan Sebagai Metode Istimbath Hukum Imam Hanafi Dan Relevansinya Dalam Pengembangan Ekonomi Syariah, Jurnal Pemikiran Keislaman, Vol 3, Nomor 1, Januari 2020

17 Toha Ma‟arif, “Fiqih Indonesia Menurut Pemikiran Hasbi Ash-Shiddiqi, Hazairin dan Munawir Syadzali”, Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, Vol. 8, No. 2 (Agustus, 2015).

18 Nur Hidayah, Fatwa-Fatwa Dewan Syariah Nasional Atas Aspek Hukum Islam Perbankan Syariah Di Indonesia.. Jakarta: Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, 2011.

(9)

Pembaharuan hukum dalam Islam berarti gerakan ijtihad untuk menetapkan hukum yang mampu menjawab permasalahan dan perkembangan baru dimasyarakat. Permasalahan dan perkembangan baru ini bisa ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu, muncul pertanyaan, apakah boleh hukum Islam terus menerus diperbaharui dan dikembangkan? Ayat Al-Qur‟an itu berjumlah 6000 ayat dan 230 mengenai Muamalah19.

Dalam perkembangan sejarah, penjelasan-penjelasan dan penafsiran- penafsiran terhadap ayat dan hadist itu berujung kepada perbedaan pandangan yang berbentuk mazhab dan aliran-aliran dalam mazhab. Terkadang, hal ini tidak hanya menunjukkan perbedaan pendapat saja, tetapi juga ada pendapat yang saling bertentangan. Perbedaan pendapat dan penafsiran ini timbul karena dalam Al- qur‟an tidak ada ayat-ayat secara terperinci dan definitif menyebutkan siapa yang mukmin dan siapa yang kafir. Begitupun dengan yang terkait dengan ayat-ayat Al- Qur‟an.

Dengan demikian, sebenarnya dalam Islam terdapat dua kelompok ajaran.

Pertama, ajaran absolut mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tak dapat diubah, yang jumlahnya terbatas dan sedikit. Kedua ajaran relatif, tidak mutlak benar, tidak kekal, berubah dan boleh diubah, yang jumlahnya banyak sekali.

Manfaat yang dirasakan umat Islam dengan adanya ajaran relatif, yang dapat diubah sesuai kemaslahatan dengan tidak meninggalkan ketetapan pasti dalam Al- Qur‟an dan Hadist. Dimana istimbath hukumnya ditafsirkan oleh para fuqoha dengan istilah ijtihad. Sehingga masyarakat bisa menyesuaikan lingkungan dan kegiatan hidup modern tanpa was-was akan melanggar syariah Islam. Dimana dalam perkembangannya bisa juga menghasilkan fatwa-fatwa dari para ulama yang terangkum banyak membawa pencerahan ummat Islam.

5. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Fatwa merupakan salah satu instrumen dalam hukum Islam untuk memberikan jawaban dan solusi terhadap masalah yang dihadapi ummat. Bahkan, ummat Islam pada umumnya menjadikan fatwa sebagai rujukan di dalam bersikap dan bertingkah laku. Sebab, posisi fatwa di kalangan masyarakat laksana dalil di

19 Taufik, Etika Perdagangan Dalam Alqur‟an, Al Muamalat, Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol 12, No 02, IAIN Langsa, 2019

(10)

kalangan para mujtahid (Al-Fatwa fi Haqqil ‟Ami kal Adillah fi Haqqil Mujtahid)20. Artinya, kedudukan fatwa bagi orang kebanyakan, seperti dalil bagi mujtahid.

Kehadiran fatwa-fatwa ini menjadi aspek organik dari ekonomi Islami yang tengah ditata dan dikembangkan. Ini juga sekaligus merupakan alat ukur bagi kemajuan ekonomi syari‟ah di Indonesia.21

Fatwa ekonomi syari‟ah yang telah hadir saat ini secara teknis menyuguhkan model pengembangan. Bahkan pembaharuan Fiqh Muamalah Maliyah. (fiqh ekonomi) secara fungsional. Dimana fatwa memiliki fungsi tabyin dan tawjih.22

Tabyin artinya menjelaskan hukum yang merupakan regulasi praktis bagi lembaga keuangan. Sedangkan secara khusus diminta praktisi ekonomi syariah ke DSN, yakni memberikan petunjuk serta pencerahan kepada masyarakat luas sesuai norma ekonomi syari‟ah23.

Fatwa dalam definisi klasik bersifat opsional yakni ”ikhtiyariah” (pilihan yang tidak mengikat secara legal. Meskipun mengikat secara moral bagi mustafti (pihak yang meminta fatwa). Sedangkan bagi selain mustafti bersifat ”i‟lamiyah”

atau informatif yang lebih dari sekedar wacana. Mereka terbuka untuk mengambil fatwa yang sama. Atau meminta fatwa kepada mufti/seorang ahli yang lain24.

Jika ada lebih dari satu fatwa mengenai satu masalah, maka ummat boleh memilih mana yang lebih memberikan qana‟ah (penerimaan/kepuasan) secara argumentatif. Atau secara batiniyah. Lalu sifat fatwa, membedakan suatu putusan peradilan (qadha) yang mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi para pihak yang berperkara. Namun, keberadaan fatwa ekonomi syari‟ah yang dikeluarkan DSN di zaman modern ini, berbeda dengan proses fatwa di zaman klasik yang cendrung individual dan parsial.

Otoritas fatwa tentang ekonomi syari‟ah di Indonesia, berada dibawah Dewan Syari‟ah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Komposisi anggota plenonya terdiri dari para ahli syari‟ah dan ahli ekonomi/keuangan yang mempunyai wawasan

20 Agustianto, Rekonstruksi Fatwa Ekonomi Syariah (Bagian 1), Sumber : https://www.iqtishadconsulting.com/content/read/blog/rekontruksi-fatwa-ekonomi-syariah-bagian-1

21 Aprilia Shofiyati, Studi Analisis Istinbath Hukum Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No. 31/Dsn- Mui/Vi/2002 Tentang Pengalihan Utang (Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, t.t).

23 Khotibul Umam, Legislasi Fikih Ekonomi Perbankan : Sinkronisasi Peran Dewan Syariah Nasional dan Komite Perbankan Syariah, Makalah Mimbar Hukum, Volume 24, Nomor 2, IAIN Pontianak, Juni, 2012

24 Agustianto, Rekontruksi Fatwa Ekonomi Syariah (Bagian 2) https://www.iqtishadconsulting.com/content/read/blog/rekontruksi-fatwa-ekonomi-syariah-bagian-2

(11)

syari‟ah. Dalam membahas masalah-masalah yang hendak dikeluarkan fatwanya.

Dimana Dewan Syari‟ah Nasional (DSN) melibatkan pula lembaga mitra seperti Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia dan Biro Syari‟ah dari Bank Indonesia25.

Kaedah dan Prinsip Fiqh muamalah klasik harus diakui memang tidak sepenuhnya relevan lagi diterapkan. Karena bentuk dan pola transaksi yang berkembang di era modern ini demikian cepat. Sosio-ekonomi dan bisnis masyarakat sudah jauh berubah dibandingkan kondisi di masa lampau. Oleh karena itu, dalam konteks ini diterapkan dua kaedah26 .

Pertama, Al-muhafazah bil qadim ash-sholih wal akhz bil jadid aslah. Yaitu, memelihara warisan intelektual klasik yang masih relevan dan membiarkan terus praktek yang telah ada di zaman modern, selama tidak ada petunjuk yang mengharamkannya. Kedua, Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah hatta yadullad dalilu

‟ala at-tahrim ( Pada dasarnya semua praktek muamalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya).

Selain itu, para ulama berpegang kepada prinsip-prinsip utama muamalah.

Seperti, prinsip bebas riba, bebas gharar (ketidak-jelasan atau ketidakpastian) dan tadlis, tidak maysir (spekulatif), bebas produk haram dan praktek akad fasid/batil.

Prinsip ini tidak boleh dilanggar, karena telah menjadi aksioma dalam fiqh muamalah.

Formulasi fatwa juga berpegang pada prinsip maslahah atau “ashlahiyah”

(mana yang maslahat atau lebih maslahat untuk dijadikan opsi yang difatwakan.

Konsep maslahah dalam muamalah menjadi prinsip yang paling penting. Dalam ushul fiqh telah populer kaedah, ”Di mana ada mashlalah, maka di situ ada syariah Allah”. Watak maslahat syar‟iyah antara lain berpihak kepada semua pihak atau berlaku umum, baik maslahat bagi lembaga syariah, nasabah, pemerintah (regulator) maupun masyarakat luas.

Kemaslahatannya tidak hanya diakui secara tanzhiriyah (perhitungan teoritis) tetapi juga secara tajribiyah (pengalaman empirik di lapangan). Karena itu, untuk menguji shalahiyah (validitas) fatwa, harus diadakan muraja‟ah maidaniyah (pencocokan di lapangan) setelah berjalan waktu yang cukup dalam implementasi

1) 25 ibid

26 Agustianto, Fatwa Ekonomi Syariah di Indonesia, https://www.pesantrenvirtual.com/fatwa-ekonomi- syariah-di-indonesia/

(12)

fatwa ekonomi. Apakah kemaslahatan dalam tataran teoritis mendapatkan pembenaran dalam penerapannya di lapangan.

Sejak berdiri tahun 1999, Dewan Syariah Nasional, telah mengeluarkan sedikitnya 47 fatwa tentang ekonomi syariah. Antara lain, fatwa tentang giro, tabungan, murabahah, jual beli salam, istishna‟, mudharabah, musyarakah, ijarah, wakalah, kafalah, hawalah. Disamping itu juga mengeluarkan fatwa tentang pembayaran uang muka dalam murabahah. Dimana sistem distribusi hasil usaha dalam lembaga keuangan syari‟ah, diskon dalam murabahah, sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan lain-lain27.

Struktur dan format fatwa yang sudah memadai dengan rumusan yang simpel dibandingkan dengan format fatwa mufti Mesir misalnya. Fatwa DSN MUI terlihat lebih komplet muatannya. Namun format fatwa DSN-MUI hanya terbatas memberikan penentuan status hukum masalah yang difatwakan28. Dimana belum bersifat ”ifadah ‟ilmiah” yakni memberikan kegunaan pencerahan wawasan keilmuan. Sehingga kurang memberikan bekalan kepada kalangan di luar para ulama ekonomi syariah. Karena itu, disarankan agar setiap fatwa disertai lampirannya, berupa uraian ilmiyah singkat yang mengantarkan pada kesimpulan- kesimpulan isi fatwa. Fatwa ini seharusnya disebarkan oleh MUI kepada masyarakat, agar umat mengetahui hukum-hukum ekonomi syariah.

Para ulama juga diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan ekonomi syariah kontemporer melalui workshop, training atau seminar. Sehingga wawasan mengenai ekonomi syariah menjadi luas dan mampu difahami semua ummat.

Bahkan menjawab persoalan kekinian secara valid akurat. Sehingga tak hanya berkutat dalam persoalan kajian ibadah, aqidah, pahala, surga dan neraka, tapi meliputi kajian Islam yang komprehensif dan holistik.

6. Contoh Istihsan dalam Ekonomi 29

 Apabila seseorang dititipi barang harus menganti barang yang dititipkan kepadanya jika digunakan untuk mengongkosi hidupnya (dalil umum). Lalu,

27 Dewan Syari‟ah Nasional dan Dewan Pengawas Syari‟ah, sumber:

www.scrib.com/doc/57565656/Makalah-Dewan-Syari‟ah-Nasional-Dan-Dewan-PengawasSyari‟ah.

28 Soleh Hasan Wahid, Dinamika Fatwa dari Klasik ke Kontemporer, Yudisia, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, Vol 10, Nomor 2, STAIN Kudus, Desember, 2019

29 Dwi Purwanti, Rosani, Dahlia, Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah Tentang Istihsan Dalam Ekonomi Syariah, Jurnal Ekonomi Syariah, Quzqazah, Vol 1, No 1, 2019

(13)

bila seorang anak menitipkan barang kepada ayahnya yang kemudian barang tersebut digunakan oleh ayahnya untuk membiayai hidupnya, maka berdasarkan Istihsan, si ayah tidak wajib menggantinya. Karena seorang ayah mempunyai hak mengunakan harta anaknya untuk keperluan membiayai hidupnya.

 Sedangkan contoh yang lain yakni seseorang mempunyai kewenangan bertindak hukum apabila ia sudah dewasa dan berakal (dalil umum). Lalu bagaimana halnya dengan anak kecil yang disuruh ibunya untuk membeli garam ke warung ? Berdasarkan metode Istihsan, anak kecil tersebut diperbolehkan membeli barang barang yang kecil (dalil khusus) menurut kebiasaan bila tidak menimbulkan ke mafsadatan30.

 Contoh istihsan macam kedua : Syara‟ melarang seseorang memperjual-belikan atau mengadakan perjanjian tentang sesuatu barang yang belum ada wujudnya, pada saat jual beli dilakukan.Hal ini berlaku untuk seluruh macam jual beli dan perjanjian yang disebut hukum kulli. Tetapi syara‟ memberikan rukhshah (keringanan) kepada pembelian barang dengan kontan. Akan tetapi barangnya itu akan dikirim kemudian sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan, atau dengan pembelian secara pesanan (salam). Keringanan yang demikian diperlukan untuk memudahkan lalu-lintas perdagangan dan perjanjian.

Pemberian rukhshah kepada salam itu merupakan pengecualian (istitana) dari hukum kulli dengan menggunakan hukum juz-i, karena keadaan memerlukan dan telah merupakan adat kebiasaan dalam masyarakat31.

 Wakaf Uang (pindahnya qiyas jalli kepada qiyas khafi); Wakaf yang masyarakat Islam ketahui secara konvensional dan tradisional dalam bentuk sebidang tanah untuk pembangunan masjd sebagai mana yang pernah dilakukan Rasulullah. Lalu wakaf produktif berupa uang merupakan pemberian dalam bentuk sesuatu yang bisa diusahakan atau digulirkan. Ini guna kebaikan dan kemaslahatan umat. Bentuknya bisa berupa uang, giro, saham atau surat- surat berharga. Sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertanggal 26 April 2002 bahwa wakaf tunai adalah Wakaf Uang (Cash Wakaf/Wakaf al- Nuqud) yaitu wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau

30 Eka Sakti Habibullah, Pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii tentang Al Istihsan, Al Mashlahah Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam, 2017 hal 456

31 Husain Syahatah, Siddiq Muh. Al-Amin Adh-Dhahir, Transaksi dan Etika Bisnis Islam, Jakarta, Visi Insani Publishing, 2005, hlm., 167

(14)

badan hukum dalam bentuk uang tunai. Dana wakaf bisa digunakan untuk segala kegiatan yang baik termasuk menunjang sektor usaha bagi orang miskin.

Perwakafan memang sudah seharusnya dicantumkan dalam hukum positif di Indonesia. Dalam rangka mengentaskan kemiskinan, wakaf tunai merupakan salah satu alternatif yang sangat baik. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ada tiga perbuatan yang tak putus pahalanya kendati orang itu sudah meninggal yakni anak sholeh, ilmu yang bermanfaat, dan sedekah jariyah 32. Kesimpulan

Pengambilan istimbat hukum bisa menggunakan metode ijtihad antara lain; ijma, qiyas, Istihsan, maslaha mursaha, Syar‟un Man Qablana, Istishab dll. Artikel ini bertujuan untuk menganalisa tentang kasus kekinian yang menggunakan istimbath hukum dengan cara istihsan. Mengingat, banyak permasalahan modern yang tidak ada dalam Al-Qur‟an dan Hadist. Sehingga fuqaha dan ulama mencari solusi permasalah baru tersebut dengan peneyelesaian melalui istihsan. Relevansi pembaharuan hukum Islam menggunakan istihsan banyak ditemukan pada fatwa-fatwa dari para ulama.

Termasuk ulama di Indonesia yang mana fatwa-fatwa tersebut dilembagakan dalam Fatwa MUI. Fatwa menggunakan Ijtihad salah satunya menggunakan istihsan.

Walaupun masyarakat Indonesia kebanyakan menggunakan mazhab Syaf‟i yang tidak menggunakan hukum istihsan. Namun penggunaanya cukup banyak di Indonesia.

Adapun contoh penggunaan istihsan di Indonesia yang juga di fatwakan oleh dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia adalah antara lain: Wakaf Uang, Jual beli Online, penggunaan Barang titipan, Penjualan Langsung Berjenjang Syariah Jasa Perjalanan Umrah dan lain-lain.

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin. 2012. Bangunan Baru Epistemologi Keilmuan Studi Hukum Islam Dalam Merespon Globalisasi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Baharuddin, Ahmad. Istihsan Dan Pembaruan Dalam Hukum Islam. Gowa: Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) al-Azhar Gowa Sulsel.

Hariyanto, Muhsin. 2013. Bahan Ajar: Ushul Fikih. Yogyakarta: FAI UMY

32 Fatwa Majelis Ulama Indonesia, sumber : http://mui.or.id/wp-content/uploads/files/fatwa/29.-Wakaf- Uang.pdf

(15)

Hidayah, Nur. 2011. Fatwa-Fatwa Dewan Syariah Nasional Atas Aspek Hukum Islam Perbankan Syariah Di Indonesi. Jakarta: Sekolah Pascasarjana Uin Syarif Hidayatullah.

Hasan, Soleh Wahid, Dinamika Fatwa dari Klasik ke Kontemporer, Yudisia, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, Vol 10, Nomor 2, STAIN Kudus, Desember, 2019

Ittihadiyah, Himayatul. 2008. Merunut Identitas Islam Indonesia (Kajian Historiografi Menurut Ulama Kontemporer Yogyakarta, Perspektif Muhammadiyah, NU, HTI, dan MMI). Jurnal Penelitian Agama.

Khotibul Umam, Legislasi Fikih Ekonomi Perbankan : Sinkronisasi Peran Dewan Syariah Nasional dan Komite Perbankan Syariah, Makalah Mimbar Hukum, Volume 24, Nomor 2, IAIN Pontianak, Juni, 2019

Mohd, Hafiz Jamaludin, Ahmad Hidayat Buang. Syariah Courts in Malaysia And the Development of Islamic Jurisprudence: The Study of Istihsan. Malaysia: University of Malaya.

Munjin Nasih, Ahmad. 2013. Lembaga Fatwa Keagamaan Di Indonesia (Telaah Atas Lembaga Majlis Tarjih Dan Lajnah Bathsul Masail). Malang: Universitas Negri Malang.

Purwanti, Dwi, Rosani, Dahlia, Ushul Fiqh dan Maqashid Syariah Tentang Istihsan Dalam Ekonomi Syariah, Jurnal Ekonomi Syariah, Quzqazah, Vol 1, No 1, 2019

Shofiyati, Aprilia. Studi Analisis Istinbath Hukum Fatwa Dewan Syari‟ah Nasional No.

31/Dsn-Mui/Vi/2002 Tentang Pengalihan Utang. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

Sakti, Eka, Habibullah, Pandangan Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii tentang Al Istihsan, Al Mashlahah Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam, 2019

Syahatah, Husein, Siddiq Muh. Al-Amin Adh-Dhahir, Transaksi dan Etika Bisnis Islam, Jakarta, Visi Insani Publishing, 2005

Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh, Jakarta : Kencana: 2014

Taufik, Etika Perdagangan Dalam Alqur‟an, Al Muamalat, Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah, Vol 12, No 02, IAIN Langsa, 2019

Usman, Iskandar. 1994. Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Wahhab Khallaf, Abdul. 1994. Ilmu Ushul Fiqh. Semarang: Dina Utama Semarang.

Sumber Internet :

Fatwa Majelis Ulama Indonesia, sumber : http://mui.or.id/wp-content/uploads/files/fatwa/29.- Wakaf-Uang.pdf

(16)

1Dewan Syari‟ah Nasional dan Dewan Pengawas Syari‟ah, sumber:

www.scrib.com/doc/57565656/Makalah-Dewan-Syari‟ah-Nasional-Dan-Dewan- PengawasSyari‟ah.

Agustianto, Fatwa Ekonomi Syariah di Indonesia, https://www.pesantrenvirtual.com/fatwa- ekonomi-syariah-di-indonesia/

Agustianto, Rekonstruksi Fatwa Ekonomi Syariah (Bagian 1), Sumber : https://www.iqtishadconsulting.com/content/read/blog/rekontruksi-fatwa-ekonomi- syariah-bagian-1

Agustianto, Rekontruksi Fatwa Ekonomi Syariah (Bagian 2) https://www.iqtishadconsulting.com/content/read/blog/rekontruksi-fatwa-ekonomi- syariah-bagian-2

Referensi

Dokumen terkait

Seterusnya, Mohd Haidi (2016), pula telah meneliti pengungkapan peribahasa Melayu dan fungsi peribahasa yang terdapat dalam buku teks Bahasa Melayu sekolah rendah

Rekomendasi Pengabdian Kepada Masyarakat selanjutnya dari Tim Pengabdian adalah Mitra dapat melakukan budi daya tanaman hidroponik di Panti asuhan GAPPI Filadelfia

Demikian juga pada Pekerjaan Peningkatan Jalan IKK Ranoyapo cs, dari pengamatan awal peneliti memiliki faktor penyebab overhead dalam masa pelaksanaan pekerjaan

Tes pertama (pretest) dilakukan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa mengenai konsep sistem pertahanan tubuh manusia, sedangkan tes kedua (posttest) dilakukan

Di dalam: Laporan diskusi kemungkinan penggunaan kumbang moncong (Neochetina eichhorniae) bagi pengendalian hayati Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) di Indonesia.. Kasno,

DAFTAR NOMINATIF TENAGA HONORER DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2005 UNTUK FORMASI TAHUN 2006 DIURUT BERDASARKAN USIA KRITIS,MASA KERJA DAN USIA NON KRITIS UNIT ORGANISASI

Pilih kode kategori yang ingin anda kembalikan ke kondisi awal. Tekan tombol lalu tekan lagi dan tahan tombol. Lepaskan setelah terdengar nada dering. Lalu tekan dan

pemberian obat maupun setelah 1 tahun pemberian obat maupun setelah 1 tahun – Pemfigus diinduksi obat yang disebabkan.. penisilaminmenunjukkan gambaran pemfigus