• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSPEKTIF DAKWAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSPEKTIF DAKWAH"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Mercusuar Volume 1 No 2 Oktober 2020

41 | H a l a m a n

KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PERSPEKTIF DAKWAH (Studi Tentang Nilai-nilai Dakwah dalam Budaya Peta Kapanca Labo

Compo Sampari pada Upacara Suna Ro Ndoso)

Oleh: Abdullah1, Kamaluddin Tajibu2, Nurhidayat3 Dakwah dan Komunikasi

Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar

Email : [email protected],1 [email protected],2 [email protected].3

Abstrak:

Prosesi Upacara Suna Ro Ndoso pada masyarakat suku Mbojo telah menjadi tradisi dan proses ritual adat yang sangat penting oleh masyarakatnya. Prosesi Upacara Suna Ro Ndoso merupakan warisan adat dari lelulur nenek moyang terdahulu. Berangkat dari cerita petua-petua tersebut, sehingga perlu kita ketahui bagaimana sebenarnya asal mulanya adanya proses adat dari Upacara Suna Ro Ndoso yang berkembang dari kalangan masyarakat bima. Pada mulanya masyarakat Bima menganut sistem kepercayaan yaitu Makamba labo Makimbi yang dalam istilah sekarang dengan dikenal dengan sistem kepercayaan yang bercorak Animis-Dinamisme, dimana pokok kepercayaannya merupakan apa saja yang mereka peroleh dari warisan nenek moyangnya. Setelah Islam masuk di Dana Mbojo (tanah bima) dan menjadi acuan dasar Dou Mbojo (orang Bima), Dengan demikian, ajaran Islam sebagai inspirasi sumber hukum dan tata aturan dalam kehidupan masyarakat bima, baik masyarakat dalam kalangan biasa maupun dalam kalangan kerajaan. Selain itu juga, para pelaku dakwah menjadikan Adat Istiadat yang berkembang di Bima sebagai media dakwah sehingga dalam kehidupan masyarakat bima dalam beberapa aspek diwarnai dan dijiwai oleh ajaran Islam. Tidak heran kemudian, masyarakat Bima dewasa ini memiliki adat istiadat yang bercorak Islam sebagai warisan yang diterima secara turun temurun, salah satunya yakni Ziki LaboPeta Kapanca pada upacara Suna Ro Ndoso.

Keywords: Tradisi Bima, Ziki Peta Kapanca, Compo Sampari, Suna Ro Ndoso, Dakwah, Nilai- nilai dakwah.

(2)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

42 | H a l a m a n PENDAHULUAN

Sejak awal perkembangannya Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya salah satu diantaranya adalah budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari. Karakter Islam Indonesia menunjukkan adanya kearifan lokal di Indonesia yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, namun justru menggandengkan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Pertemuan Islam dengan adat dan tradisi Peta Kapanca labo Compo Sampari kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan, serta sistem kesultanan. Tradisi-tradisi itulah yang kemudian disebut dengan istilah Islam Nusantara, yakni Islam yang telah melebur dengan tradisi dan budaya.1

Islam yang dikenal sebagai Dinullah mengandung ajaran-ajaran dakwah serta nilai-nilai budaya. Dalam budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari dalam masyarakat bima mengandung isi aturan dan hukum-hukum yang dapat menuntun manusia untuk memperoleh kebahagiaan hidupnya, sekaligus menjadi kerangka tata nilai dalam hidup dan kehidupannya.

Kehadiran budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari dianggap dapat memberi jaminan pada masyarakat Bima dalam upaya mewujudkan kesejahteraan hidupnya. Selain itu dapat dijadikan sebagai nilai-nilai yang dapat memberikan petunjuk untuk menyikapi hidup serta sebagai spirit dalam meningkatkan ibadah kepada Allah swt.2

1 Muhammad Aminullah dan Nasaruddin “Wajah Islam Nusantara Pada Tradisi Peta Kapanca Dalam Perkawinan Adat Bima”, Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. 1 no.1 (2017): h.

1.

2 Arifuddin, Metode Dakwah Dalam Masyarakat (Cet. I; Makassar: Alauddin University, 2011), h. 1.

Islam disebarkan dengan dakwah dan budaya sehingga ajaran Islam dapat berkembang di tengah masyarakat, maka tidak dapat disangkal pula bahwa peran Budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari merupakan salah satu media dakwah sangat membantu dalam upaya mengajak kembali umat manusia untuk kembali merenungkan eksistensinya. Karena dakwah dan budaya adalah sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan hidup umat manusia terutama dalam menyiarkan ajaran dalam suatu masyarakat.3

Sehubungan dengan itu, Islam dikenal dengan agama dakwah dan agama budaya, dikarenakan Islam disebarkan dan diperkenalkan kepada umat manusia melalui aktivitas dakwah dengan melihat kondisi budaya yang berkembang dalam masyarakat. Dengan kata lain, Islam disebarkan tidak melalui kekerasan, pemaksaan dan kekuatan senjata.4 Hal ini dapat dipahami bahwa, Islam adalah agama yang sangat sempurna yang mengatur seluruh aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek akidah, Ibadah, ahlak, maupun aspek muamallah serta yang menjadi sumber utama atau pedoman umat Islam sebagai disiplin ilmu adalah Alquran dan Hadis serta pendapat para sahabat dan ulama.

Budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari adalah suatu kegiatan yang melekat dengan Islam dan tata kehidupan rasul itu sendiri. Sehingga dapat diartikan

3 Nurhidayat muh. Said, Dakwah dan Berbagai Aspeknya (Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2014), h. 5.

4 M. Masyhur Amin, Dakwah Islam dan Pesan Moral (Cet. II; Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2002), h. 3.

(3)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

43 | H a l a m a n bahwa budaya Peta Kapanca labo Compo

Sampari tidak dapat dilepaskan dengan Islam sebagaimana agama yang benar dan harus disebarluaskan. Dakwah merupakan saluran dalam upaya menyeru atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha untuk mengubah budaya yang kurang baik menjadi budaya yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha untuk meningkatkan pemahaman keagamaan dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja tetapi menuju sasaran yang lebih luas.

Kehadiran dan keberadaan budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari di tengah kehidupan manusia tidak menjadi tandingan dari nilai-nilai Islam yang telah berlaku di masyarakat Bima, justru menjadikan nilai-nilai budaya yang merupakan kearifan lokal tersebut sebagai salah satu instrumen dakwah.5

Budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari telah berkembang dan diterima oleh masyarakat bima seiring dengan Islam yang menerima akomodasi budaya di Indonesia sejak awal perkembangannya.

Karakter Islam di Indonesia menunjukkan adanya kearifan lokal di Indonesia yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, namun justru menggandengkan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia.

Kehadiran Islam di tengah-tengah budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari tidak untuk merusak atau menantang budaya yang ada. Sebaliknya, Islam datang untuk memperkaya dan mengislamkan tradisi dan budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari tersebut secara tadriji (bertahap).6

5 Abdul Wahid, “Dakwah Dalam Pendekatan Nilai- Nilai Kearifan Lokal: Tinjauan Dalam Perspektif Internalisasi Islam dan Budaya”, Jurnal: Tabligh, Vol. 19 no. 1, (2018): h. 1.

Keanekaragaman budaya manusia merupakan keniscayaan yang baik yang tidak dapat dielakan, namun budaya perlu dicermati karena tidak sepenuhnya budaya yang berkembang dalam masyarakat baik dan membawa kemaslahatan bagi manusia meskipun budaya tersebut sudah ada dan berkembang di tengah- tegah masyarakat seperti kebiasaan pesta dengan minum- minuman keras dan sebagainya.

Membangun sebuah jembatan antar budaya (dalam arti ras, kepercayaan, dan social-kultural), dengan landasan persamaan dan persaudaraan saat ini sangat penting. Karena manusia tidak berdiri sendiri terutama pada kehidupan yang kontemporer dan kompleks pada dewasa ini. Hubungan kerja sama dengan sesame manusia untuk menghindari fanatisme dan etnosentrisme yang berlebihan, sebab kedua hal tersebut dapat menyebabkan perpecahan di antara manusia.

Budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari merupakan Salah satu upaya manusia untuk memelihara hubungan baik sesama manusia maupun dengan tuhan.

Dakwah melalui budaya Peta Kapanca labo Compo Sampari merupakan dakwah antar budaya, yang mana dakwah antar budaya merupakan dakwah yang memperhatikan dan mengindahkan nilai-nilai budaya, termaksud tradisi yang dianut oleh masyarakat. Dakwah dalam hal ini berarti memberi bimbingan tidak mencaci budaya orang lain, adat istiadat dan tradisi yang dianut oleh masyarakat. Bila menyimpang dari agama dapat diluruskan sesuai dengan tuntutan agama itu sendiri, dan

6 Abdul Wahid, “Dakwah Dalam Pendekatan Nilai- Nilai Kearifan Lokal: Tinjauan Dalam Perspektif Internalisasi Islam dan Budaya”, Jurnal: Tabligh, vol. 19 no. 1, (2018): h. 3.

(4)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

44 | H a l a m a n

pelaksanaan berpedoman pada prinsip- prinsip dakwah antar budaya.7

Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota- anggotanya seperti kekuatan alam yang dimana manusia masih percaya kepada roh nenek moyang serta percaya pada kekuatan akan benda-benda bersejarah serta kekuatan kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri tidak terlalu baik baginya. Selain itu, manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang dakwah maupun materi.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut di atas untuk sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.8

Dakwah dan kebudayaan mempunyai hubungan yang dapat digambarkan sebagai hubungan yang berlangsung secara timbal balik. Agama secara praktis merupakan hasil dari pemahaman dan pengalaman masyarakat berdasarkan kebudayaan yang dimilikinya, berbeda halnya dengan kebudayaan yang selalu berubah mengikuti agama yang diyakini oleh masyarakat. Dengan demikian, hubungan antara agama dan kebudayaan bersifat dialogis.9 Dakwah akan mudah diterima oleh masyarakat apabila pesan-pesan dakwah tersebut memiliki kesamaan dengan kebudayaan masyarakat, sebaliknya dakwah akan ditolak masyarakat apabila pesan-pesan

7 Baharuddin Ali, “Prinsip-Prinsip Dakwah Antarbudaya” jurnal dakwah Tabligh: media pengkajian Dakwah Dan Komunikasi Islam, edisi XXV, Juni 2012, h. 1-2

8 Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), h. 135

9 Abdul Jamil, Islam dan Budaya Lokal (Yogyakarta:

Pokja Akademik, 2005), h. 13.

dakwah bertolak belakang dengan kebudayaan dalam masyarakat.10

Dalam pandangan ilmu sosiologis bahwa dakwah dipandang sebagai jembatan untuk mewujudkan sistem kepercayaan yang diwujudkan dalam prilaku sosial tertentu. Dakwah sangat berkaitan erat dengan pengalaman manusia, baik itu secara individu maupun secara kelompok. Sehingga, setiap prilaku yang diperankan akan terkait dengan sistem keyakinan dari ajaran agama yang dianutnya.11 Dengan demikian antara dakwah dengan budaya adalah dua hal yang sangat berkaitan erat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Ketika Islam masuk ke Bima pada abad ke-17 melalui Kecamatan Sape untuk pertama kali yang dibawa oleh para ulama dari Sumatera yang diutus oleh raja Gowa, Tallo, Luwu, dan Bone, maka terjadi perubahan corak kehidupan sosial masyarakat Bima yang diambil dari dasar- dasar ajaran agama Islam, sehingga dalam kehidupan masyarakat dalam beberapa aspek dijiwai dan diwarnai oleh ajaran Islam. Oleh sebab itu masyarakat Bima dewasa ini memiliki adat istiadat yang bercorak Islam sebagai warisan yang terus dilestarikan secara turun temurun semenjak Islam hadir hingga hari ini.

Diantara adat-istiadat dan tradisi masyarakat Bima yang dimaksud adalah adat pernikahan, akad nikah, upacara khitanan, upacara khatam Alquran, kesenian dan pakaian.12

10 Abdul Jamil, Islam dan Budaya Lokal, h. 15

11 Dadang Kahmad, Sosiologi Agama (Cet. IV;

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 53

12 Fajrin, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pelaksanaan Zikir Labo Peta Kapanca Pada Acara Pernikahan di Desa Rasabou Kecamatan Sape Kabupaten Bima”. Tesis (Makassar: PPs UIN Alauddin, 2017), h. 5-6

(5)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

45 | H a l a m a n Di Bima awalnya sudah berkembang

tradisi Hindu dan Budha serta kepercayaan lokal yang sangat mengakar kuat di masyarakat. Hal ini kemudian sangat mempengaruhi perkembangan penyebaran Islam. Model dakwah kultural dengan cara damai yang dikembangkan oleh para penyebar agama Islam tanpa harus menghilangkan dan merubah budaya tersebut, menyebabkan Islam bisa diterima dan merubah budaya tersebut, yakni terjadinya akulturasi Islam dengan budaya lokal. Sekaligus masyarakat yang mampu mengkreasi berbagai budaya lama dengan bentuk baru yang lebih halus dan berkualitas.13

Umumnya masyarakat suku mbojo (Bima-Dompu) dalam menjalankan kehidupanya tidak telepas dari yang namanya budaya, budaya menjadi hal yang terpenting dalam kehidupanya.

Kebudayaan dalam masyarakat suku mbojo sudah menjadi kekuatan tersendiri dan mempunyai nilai-nilai dakwah dalam kebudayaan tersebut. Hal ini terlihat dari aktivitas atau prosesi serta tata cara pelaksanaan dari budaya yang dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun.

Salah satu budaya yang masih membudidaya dalam masyarakat suku mbojo adalah budaya Suna Ro Ndoso. Suna Ro Ndoso dapat diartikan sebagai khitan atau sunatan. Masyarakat menganggap bahwa Prosesi Suna Ro Ndoso ini merupakan salah satu ritual adat yang memiliki kekuatan dan nilai-nilai tersendiri di dalam pelaksanaannya.

Suna Ro Ndoso merupakan bagian dari upacara daur hidup dan tata cara pelaksanaan adatnya yang masih senantiasa dilakukan oleh masyarakat yang

13 M. Fachrir Rahman, Pernikahan Di Nusa Tenggara Barat: Antara Islam dan Tradisi (Mataram: LEPPIM IAIN Mataram, 2013), h. 7.

memiliki budaya. Suna Ro Ndoso bukan hanya sebagai ritual saja, melainkan Suna Ro Ndoso merupakan tradisi yang sudah mendarah daging bagi para pelaku yang masih memelihara adat tersebut.

Terlepas dari hal itu, masyarakat suku mbojo memandang bahwa budaya Suna Ro Ndoso merupakan suatu tanda yang menandakan bahwa seseorang yang akan menuju kedewasaan dan proses pembersihan dan pensucian diri serta pembeda antara orang Islam dan non- Islam. Khitan atau sunat dalam pandangan ilmu kesehatan mempunyai manfaat penting bagi kesehatan manusia, antara lain; mengurangi resiko infeksi yang berasal dari transmisi seksual, mencegah kanker dari alat kelamin laki-laki (penis), dan untuk membersihkan kotoran yang bertumpuk pada ujung kelamin laki-laki.14

Pada masa anak-anak baik laik-laki maupun perempuan, yang sudah mencapai usia enam sampai tujuh tahun, di kalangan masyarakat Bima diselenggarakan Khitanan (Suna Ro Ndoso). Bagi anak laki-laki yang akan di khitan (suna) dikenakan pakaian adat, seperti pakaian kebesaran adat-adat kerajaan Bima, yaitu bercelana panjang ala potongan Aceh, songkok bundar bersulam benang emas, atau perak, yang lebih dengan dengan bahasa Bima Binggi Masa dengan kalungan Kawiri tanpa berbaju dan memakai kris, di kedua kakinya dikenakan gelang (jima edi). Khusus anak perempuan memakai baju kurung ala baju Bodo seperti daerah Makassar, yang bersulamkan benang emas atau perak.

Mengenai deretan rangkaian dari prosesi acara Suna Ro Ndoso (Khitan) yang

14 Konsultan syariat Islam al-Khairat, “sunat khitan dalam islam” (2014)

https://www.alkhoirot.net/2013/11/sunat-khitan- dalam-islam.html (diakses, 15 Oktober 2019).

(6)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

46 | H a l a m a n

umumnya berlaku di Bima adalah Pertama, Acara Peta Kapanca yang dilakukan pada malam hari, sama halnya dengan kapanca pada acara pernikahan. Kedua, Compo Sampari, Compo Sampari ini dilaksanakan keesokan harinya setelah Kapanca dengan menyarungkan keris pada anak-anak yang akan dikhitan, duduk berjejer lengkap dengan pakaian kebesaran pejabat adat kerajaan Bima.15

Masyarakat di Desa simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima dalam pelaksanaan acara Suna Ro Ndoso berbeda dengan sebagian masyarakat yang berada di Kecamatan yang lain. Masyarakat di Desa Simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima dalam pelaksanaan dari rangkaian acara Suna Ro Ndoso yaitu Kapanca Labo Compo Sampari dilaksanakan sekaligus satu malam, terkadang juga upacara Compo Sampari bisa juga disatukan dengan rangkaian upacara pernikahan. Dan ketika hal itu terjadi, maka yang didahulukan adalah akad nikah lalu dilanjutkan dengan acara Kapanca Labo Compo Sampari.

Pelaksanaan tradisi ini sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam. Suna Ro Ndoso yang di dalamnya ada rangkaian Kapanca labo Compo Sampari yang lahir dari sebuah komunitas masyarakat Islami ini, merupakan tradisi yang mengandung nilai-nilai yang bermanfaat bagi masyarakat, sehingga keberadaan tradisi tersebut dapat dipertahankan, khususnya pada masyarakat Bima di Desa Simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

Prosesi acara Suna Ro Ndoso yang didalam ada rangkaian Kapanca labo Compo Sampari ini penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji dari sudut Nilai-Nilai Dakwah sebagai sebuah khasanah kekayaan budaya bangsa yang terlahir dari

15 M. Facrir Rahman, Islam Di Bima kajian Historis Tentang Proses Islamisasi Dan Perkembangannya

komunitas masyarakat Bima di Desa Simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang mengumpulkan data-data yang berbentuk kata-kata, skema, gambar, dan bukan angka. Adapun lokasi penelitian ini dilaksanakan di Desa Simpasai Kecamatan Lambu kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Maret 2020. Untuk penelitiannya adalah Budaya Ziki Peta Kapanca Labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso. Sedangkan subyek penelitian adalah Tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat serta masyarakat yang melaksanakan budaya tersebut. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi, pendekatan fenomenologi, dan pendekatan dakwah kultural. Sedangkan operasional data penelitian adalah melalui pendekatan kualitatif deskriptif yang berupa narasi, hasil wawancara informan, dokumen- dokumen pribadi, seperti foto, catatan pribadi, prilaku, gerak tubuh dan banyak hal yang tidak didominasi angka-angka sebagaimana penelitian kuantitatif.

Bentuk pengumpulan data yang digunakan adalah pertama, Field Reresearch, yaitu mengumpulkan data melalui penelitian lapangan, dengan cara melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kedua, Lybrary Research (Riset kepustakaan), yaitu pengumpulan data dengan membaca literature baik dari buku, majalah, Koran, televise, dan lain sebagainya yang sesuai dengan masalah penelitian. Adapun tehnik penulisan

Sampai Masa Kesultanan (Yogyakarta: Genta Press, 2009), h. 37-38.

(7)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

47 | H a l a m a n merujuk pada buku pedoman karya tulis

ilmiah terbitan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Adapun instrument penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan gunakan oleh peneliti dalam kegiatan yang mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Seperti alat tulis menulis, berupa buku, pulpen dan pensil, camera, dan alat perekam. Tehnik pengolahan dan analisis data pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk verbal yang diolah menjadi jelas, akurat dan sistematis.

Peneliti akan melakukan pencatatan dan berupaya mengumpulkan informasi mengenai keadaan suatu gejala yang terjadi di saat penelitian dilakukan. Selain itu, analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) populasi yang sedang diteliti. Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang diamati agar bermakna dan komunikatif. Adapun teknik yang digunakan dalam analisis data yaitu:

pertama, reduksi data merupakan bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. Kedua, penyajian data adalah penyajian data ke dalam suatu bentuk tertentu sehingga terlihat sosoknya secara utuh. Dalam penyajian data dilakukan secara induktif, yakni menguraikan setiap permasalahan dalam penelitian dengan memaparkan secara umum kemudian menjelaskan secara spesifik. Ketiga, penarikan kesimpulan.

HASIL PENELITIAN

1. proses pelaksanaan Peta Kapanca Labo Compo Sampari Pada Acara Suna Ro Ndoso di Desa Simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

a. Ziki Peta Kapanca pada Upacara Suna Ro Ndoso

Zikir Labo Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso tidaklah terlepas dari ajaran Islam. Meskipun tata cara pelaksanaannya dilakukan secara tradisional. Tetapi proses dan tata cara pelaksanaan Suna Ro Ndoso mengikuti petunjuk dan hukum-hukum yang tertuang dalam Alquran. Dalam Agama Islam, Suna Ro Ndoso merupakan salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kepada ajaran agama.

Budaya Zikir labo Peta Kapanca pada masyarakat suku Mbojo (orang bima) khususnya masyarakat Desa Simpasai Kecamatan lambu dalam pelaksanaannya tidak hanya terdapat pada acara Suna Ro Ndoso saja, tetapi juga terdapat pada acara Nika Ro Nako. Selain itu, kebiasaan lain masyarakat Desa Simpasai Kecamatan Lambu adalah orang bima khususnya masyarakat Desa Simpasai, ketika dilaksanakan acara Ziki Labo Peta Kapanca pada acara Nika Ro Nako maka keluarga dekat maupun kerabat yang mempunyai anak perempuan maupun laki-laki dengan kisaran umur 5 tahun, biasanya mengikutsertakan anak-anaknya pada acara Ziki LaboPeta Kapanca tersebut untuk persiapan anak anak yang akan melakukan Suna Ro Ndoso.

Setiap prosesi adat sunatan yang terdapat di masing-masing ataupun suku tertentu memiliki ciri khas dan keistimewaan tersendiri, karena hal itulah yang merupakan keberagaman budaya dari tiap daerah. Sama halnya dengan masyarakat bima terkhusus di Desa Simpasai Kecamatan Lambu yang memiliki upacara dan prosesi adat Suna Ro Ndoso yang unik.

Zikir Labo Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso pada masyarakat di Desa

(8)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

48 | H a l a m a n

Simpasai Kecamatan Lambu umumnya dilaksanakan pada malam hari, hal ini dikarenakan kesibukan masyarakat dengan aktivis di sawah, di kebun, dan di laut serta kesibukan lainnya. Sebelum dilakukan upacara Zikir Labo Peta Kapanca pihak keluarga yang akan melakukan hajat, melakukan Mbolo Ra kaboro weki dengan tujuan menentukan hari pelaksanaan acara Zikir Labo Peta Kapanca tersebut.

H. Marzuki H. Ismail selaku tokoh agama menuturkan bahwa Mbolo Ra Kaboro Weki sudah menjadi hal yang mendasar di setiap acara besar masyarakat Bima terkhusus Desa Simpasai. Mbolo Ra Kaboro Weki pada Upacara Suna Ro Ndoso bertujuan untuk menentukan hari baik dalam melaksanakan Acara serta untuk mempersiapkan peralatan dan perlengkapan untuk upacara Suna Ro Ndoso seperti panggung, pelamin, serta perlengkapan lainnya untuk kebutuhan Zikir Labo Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso.

Persiapan selanjutnya yang dilakukan oleh keluarga yang melaksanakan upacara Suna Ro Ndoso setelah adanya hasil dari Mbolo Ra Kaboro Weki adalah menyediakan Soji Ra Sangga.

Hj. Saodah H. M. Saleh menuturkan bahwa Soji Ra Sangga merupakan sesuatu yang harus ada dalam upacara Suna Ro Ndoso.

Soji Ra Sangga mempunyai jenis dan porsi masing-masing. Soji Ra Sangga Untuk anak laki-laki sebanyak 3 porsi (Tolu Tau), sedangkan untuk perempuan sebanyak 2 porsi (dua tau). Adapun macam dan jenis Soji Ra Sangga adalah kadodo, kawaji, pangaha owa, arungina, cangkaru, ro’o saha, jungge reo, pangaha bunga, pangaha sinci, mangge lenggo, wua lamu, dan tobe lampu jenis Soji Ra Sangga ini masing-masing 7 buah. Sedangkan Soji Ra Sangga jenis lain Bonto Soji, nuco, aru banyaknya masing-masing satu buah.

Lebih lanjut dijelaskan oleh H. Zaidin H. Landa, bahwa Soji Ra Sangga merupakan bentuk hadiah untuk anak-anak yang akan melakukan Suna Ro Ndoso dengan tujuan supaya anak anak semangat dan tidak takut untuk melakukan Suna Ro Ndoso.

Sementara H. Marzuki H. Ismail menuturkan bahwa Soji Ra Sangga pada upacara Suna Ro Ndoso harus disiapkan seutuhnya, apabila kurang salah satu atau ada yang lebih dari bahan yang sudah dipersiapkan, menyebabkan orang tua atau keluarga dari yang menyelenggarakan upacara Suna Ro Ndoso akan mengalami gangguan kejiwaan (gila).

Dari hasil wawancara di atas maka dapat dipahami bahwa Mbolo Ra Kaboro Weki serta Soji Ra Sangga merupakan persiapan awal pada upacara Suna Ro Ndoso. Hal ini bertujuan untuk mengantisipati kegagalan serta masalah yang mungkin terjadi pada saat prosesi Zikir Labo Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso. Selain Itu persiapan Soji Ra Sangga merupakan hal yang urgen dalam upacara Suna Ro Ndoso.

1) Ziki Kapanca pada Upacara Suna Ro Ndoso

Umumnya Zikir Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso pada masyarakat Desa Simpasai melaksanakan pada malam hari.

Zikir Kapanca berlangsung secara bersamaan denga acara Peta Kapanca, dengan kata lain, Zikir Kapanca ini merupakan lantunan yang mengiringi proses Peta Kapanca pada anak anak yang akan dikhitan (Suna Ro Ndoso). Adapun yang melantukan Zikir Kapanca adalah 3 sampai 5 orang dari tokoh agama yang diundang khusus oleh yang punya hajat.

Menurut Muhtar Ama Hawa bahwa Desa Simpasai sudah dibentuk tim Zikir Kapanca, baik Zikir Kapanca dari acara Suna Ro Ndoso maupun pada acara Nikah Ro Nako.

(9)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

49 | H a l a m a n Lebih lanjut Sultin H. Landa selaku tim Ziki

Kapanca menuturkan bahwa Ziki Kapanca telah ada tim khususnya, dimana ketika masyarakat membutuhkan jasanya, biasanya masyarakat langsung menghubungi salah satu dari anggota tim dari Zikir Kapanca. Adapula terkait dengan pemberian amplop/digaji, dari tim Zikir Kapanca sendiri tidak memasang tarif, hanya seikhlas dari yang punya hajat.

Menurut Sultin H. landa dan Muhtar Ama Hawa Selaku tim Ziki Peta Kapanca adalah adapun yang menjadi tata cara dari Zikir Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso antara lain: Salam, Istigfar 3 kali, Syahadat, Shalawat, Surah al-Fatihah, Surah al-Ikhlas 3 kali, Surah al-Falaq 3 kali, Surah al-Nass 3 kali, Ayat Kursi, Surah al-Baqarah ayat 284- 286, Zikir Kapanca, Do’a.

Dari hasil wawancara di atas, maka dapat dipahami bahwa prosesi Zikir Kapaca pada acaa Suna Ro Ndoso dibuka dengan pembacaan salam, dimana anaka- anak yang akan melakukan Suna Ro Ndoso didoakan untuk diberikan keselamatan oleh Allah swt. dan dilanjutkan dengan istigfar serta ayat ayat Al-Quran lainnya, hal ini memberikan makna bahwa dalam acara Zikir Kapanca Pada acara Suna Ro Ndoso tidak bertentangan dengan ajaran islam. Selain itu juga, dalam prosesi Zikir Kapanca diakhiri dengan doa, yang mendoakan anak-anak yang akan dikhitan (Suna Ro Ndoso) diberikan keberkahan dalam hidup serta selamat dari marabahaya.

2) Peta Kapanca pada upacara Suna Ro Ndoso

Pada prosesi pelaksanaan Peta Kapanca terdapat tata cara yang harus dilakukan, namun sebelumnya ada beberapa alat dan bahan yang harus disediakan oleh orang tua anak-anaknya yang melakukan Peta Kapanca, yaitu;

Pertama; Ro’o Kapanca (daun inai) yang telah ditumbuk halus, Kedua; telur yang dihias dengan kertas warna warni dan dihias pada batang pohon pisang yang disudah hias dengan serta berwarna, Ketiga; bantal kecil untuk pengalas tangan kedua anak-anak yang akan dikhitan (Suna Ro Ndoso) sewaktu ditempelkan daun inai, Keempat; daun pisang yang diletakkan di atas bantal sebagai pengalas tangan dan kaki anak-anak, Kelima; air yang diisi dengan mangkuk kecil untuk dipakai bilas tangan bapak/ibu setelah melakukan penempelan ini (Peta Kapanca), Keenam;

tissu, dan Ketujuh; beras kuning yang di dalamnya terdapat lilin sebagai penerang.

Adapun yang menjadi tata cara pelaksanaan Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso masyarakat Desa Simpasai adalah sebagai berikut:

a) Anak-anak yang akan melakukan Ritual Peta Kapanca duduk di atas panggung yang telah disediakan dengan posisi berjejer serta didampingi oleh orang tuanya.

b) Posisi tangan lurus diletakkan di atas bantal dan di atasnya ada daun pisang yang tempatnya di atas paha serta posisi kaki juga lurus dan dialaskan dengan daun pisang.

c) Anak anak yang akan ditempelkan daun inai (Ro’o Kapanca) yang telah dihaluskan oleh tokoh-tokoh masyarakat yang diundang khusus sebanyak 7 orang baik dari kaum ibu-ibu maupun kaum bapak-bapak, dengan membaca salawat Nabi Muhammas saw.

b. Compo Sampari Pada Upacara Suna Ro Ndoso

(10)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

50 | H a l a m a n

Compo Sampari atau pemasangan keris kepada anak-anak yang akan di Suna Ro Ndoso merupakan suatu acara khusus dalam rangkaian upacara Suna Ro Ndoso tersebut. Compo Sampari diselenggarakan setelah acara Peta Kapanca serta dikhususkan untuk anak laki-laki. Saat upacara Compo Sampari dipanggilah tokoh agama dan tokoh adat ataupun orang tua serta syarat hukum, hal ini dikarenakan upacara adat ini disebut juga sebagai

“Lampa Rawi Syara Ro Hukum”

Menurut H. Zaidin H. Landa selaku tokoh agama di Desa Simpasai bahwa Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso merupakan acara sakral yang dikhususkan oleh anak laki-laki yang akan melaksanakan khitan (Suna Ro Ndoso). Adapun yang melakukan pemasangan keris kepada anak-anak adalah tokoh agama ataupun tokoh adat yang diundang khusus oleh yang punya hajat. Dalam proses pemasangan kris (Compo Sampari) diawali oleh pembacaan Doa kemudian Keris dikelilingi ketubuh anak yang akan disematkan keris (Compo Sampari) serta disusul oleh pembacaan Shalawat atas Nabi.

Senada dengan hal tersebut di atas, Sultin H. Landa selaku Tim Ziki kapanca Desa Simpasai menuturkan bahwa tata cara pelaksanaan dari upacara Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso adalah anak-anak didudukkan atau berdiri di hadapan orang tuanya masing, kemudian keris (Sampari) dihantarkan keliling tubuh si anak dengan diiringi shalawat tiga kali, kemudian diselipkan di pinggang kirinya, tangan kanan memegang hulu keris, sedangkan tangan kiri memegang sarung keris.

Lebih lanjut lagi dijelaskan oleh H.

Marzuki H. Ismail Selaku tokoh agama menuturkan bahwa upacara Compo

Sampari pada anak Suna Ro Ndoso merupakan sebagai bentuk peringatan kepada anak laki-laki harus memiliki kekuatan dan keberanian dalam menghadapi hidupnya yang dilambangkan dengan keris, serta sebagai tanda bahwa anak laki-laki sebentar lagi akan menuju proses kedewasaan pada dirinya. Bertolak dari hal tersebut, Hj. Saodah H. M. Saleh selaku tokoh adat Desa Simpasai menuturkan bahwa Hakikat dari Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso adalah anak sudah mulai diperkenalkan dengan senjata sebagai pelindung diri serta untuk membangkitkan jiwa serta semangat kesatria bagi seorang anak laki-laki.

Dari wawancara di atas, maka dapat dipahami bahwa upacara Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso dilakukan hanya kepada anak laki-laki yang akan dikhitan (Suna Ro Ndoso) serta dilakukan oleh tokoh adat ataupun agama. Adapun yang menjadi tujuan dari pelaksanaan dari upacara Compo Sampari ini adalah memberikan pelajaran untuk anak laki-laki supaya mampu menjaga diri serta memiliki keberanian dan keuletan dalam menjalankan kehidupannya.

2. Nilai-nilai Dakwah dalam Proses Pelaksanaan Peta Kapanca Labo Compo Sampari Pada Acara Suna Ro Ndoso di Desa Simpasai Kecamatan Lambu Kabupaten Bima.

a. Menanamkan Nilai Keimanan Prosesi adat Ziki Peta Kapanca Labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso secara tidak langsung memberikan penanaman nilai dalam meningkatkan keimanan baik secara individu maupun secara sosial kemasyarakatan lebih khususnya kepada anak-anak yang akan melakukan proses Suna Ro Ndoso.

(11)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

51 | H a l a m a n Tradisi upacara Suna Ro Ndoso ini

tidak hanya sebuah proses adat yang tidak mempunyai arti, tapi dalam tradisi ini anak anak ditanamkan nilai-nilai keimanan yang mengajarkan untuk tetap mengingat dan beribadah kepada Allah swt. serta bertindak di atas suatu kebenaran. Hal ini dikarenakan Suna Ro Ndoso merupakan langkah awal dalam proses pendewasaan anak anak dalam kehidupan selanjutnya.

Lebih lanjut ditegaskan oleh H. Zaidin H.

Landa bahwa prosesi adat Suna Ro Ndoso selain memberikan nilai keimana juga mampu mengajarkan nilai-nilai akidah dan nilai ibadah kepada anak-anak yang akan melakukan proses Suna Ro Ndoso.

Upacara adat Suna Ro Ndoso hal yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup adalah anak-anak yang akan melaksanakan prosesi adat Suna Ro Ndoso ditanamkan rasa kecintaan dan kepercayaan kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Sebagai Rasulullah saw.

Hal ini diajarkan melalui proses zikir, sholawat serta lantunan ayat ayat suci al- Qur’an selama prosesi adat Suna Ro Ndoso berlansung.

Maka dapat dipahami bahwa dalam prosesi adat zikir Kapanca Labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso terdapat nilai dakwah yang menanamkan nilai nilai dalam meningkatkan keimanan dalam hal ibadah kepada Allah swt. Hal ini dilihat dari adanya pembacaan ayat ayat suci alquran, zikir kepada Allah serta shalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Hal ini dikarenakan untuk memberikan pembelajaran kepada anak anak yang akan melakukan proses Suna Ro Ndoso untuk tetap menjadikan Alquran dan As-sunnah sebagai pedoman dalam hidupnya serta untuk selalu mengingat kepada Allah swt.

b. Nilai Kasih Sayang

Budaya bima Ziki Peta Kapanca Labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso memberikan nilai kasih sayang orang tua kepada anak anaknya. Hal ini terlihat mulai sebelum dan sesudah diadakannya Mbolo Ra Dampa (Musyawarah), peran orang tua untuk anak anak yang akan Suna Ro Ndoso harus mempersiapkan alat serta bahan untuk persiapan upacara Suna Ro Ndoso.

Selain itu, nilai kasih sayang orang tua untuk anak anaknya dalam upacara Suna Ra Ndoso ini adalah terlihat dari orang tuanya yang selalu menemani dan duduk bersama anak anak yang anak melakukan prosesi upacara Ziki Peta Kapanca sampai selesai.

Lebih lanjut dijelaskan oleh H.

Marzuki H. Ismail menuturkan bahwa rasa kasih sayang harus tertanam kuat pada diri anak anak sejak dini. Karena hal ini berpengaruh pada perkembangan seorang anak. Salah satu cara yaitu melakukan prosesi adat Ziki Peta Kapanca labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso yang mana budaya ini merupakan proses Karaso ro Kantiri dengan tujuan anak anak nantinya akan dibekali ilmu agama serta bias menjaga dirinya.

Dari wawancara di atas bisa diketahui bahwa sifat kasih sayang harus ditanamkan pada masing-masing individu kita agar kita mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Allah swt.

dan Rasulullah saw. telah mengajarkan kita melalui kalam dan sunnahnya agar selalu sayang menyayangi atau berlemah lembut.

Salah satu contohnya adalah berlaku lemah lembut dalam mendidik anak serta dalam hidup berumah tangga, sebagai suami ataupun isteri harus bersifat lemah lembut serta saling sayang menyayangi agar menciptakan nuansa rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah.

c. Nilai Musyawarah

(12)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

52 | H a l a m a n

Sebelum Mada Ndi Rawi (Acara Inti) upacara Suna Ro Ndoso umumnya masyarakat bima dan lebih khusus masyarakat Desa Simpasai pihak melakukan Mbolo Ra Dampa (Musyawarah) bagi keluarga yang akan melakukan prosesi upacara Suna Ro Ndoso tersebut. Mbolo Ra Dampa ini dilakukan oleh pihak yang punya hajat bersama kerabatnya, tetangga serta tokoh-tokoh masyarakat. Mbolo Ra Dampa Ini bertujuan membahas hari baik untuk dilaksanakan upacara Suna Ro Ndoso, persiapan alat dan bahan untuk prosesi upacaranya.

Upacara Suna Ro Ndoso Merupakan upacara sakral yang dimana keluarga yang akan melakukan upacara tersebut harus menyiapkan secara sempurna alat dan bahan yang dibutuhkan dalam prosesi upacara Suna Ro Ndoso serta menyiapkan hari baik untuk dilakukan upcara tersebut.

Adapun bahan yang perlu dipersiapan oleh keluarga yang berhajat alat Pakaian adat khas bima, Soji Ra Sangga, Sampari (Keris), Ua Pua, Roo Kapanca serta hal-hal lain yang dibutuhkan dalam upacara Suna Ro Ndoso tersebut.

Bertitik tolak dengan hal tersebut, Burhan H. Yusuf selaku Kepala Desa Simpasai menuturkan bahwa persiapan upacara Suna Ro Ndoso harus disiapkan dengan sempuna. Hal ini dikhawatitkan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan bagi kelurga yang akan melakukan upacara Suna Ro Ndoso, seperti kesurupan dan gangguan kejiwaan bagi anak anak yang akan melakukan Suna Ro Ndoso

d. Nilai Gotong Royong

Nilai yang tersirat jelas dalam prosesi Ziki Peta Kapanca Labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso yang berkembang di Desa Simpasai adalah nilai

gotong royong. Dalam proses pelaksanaan prosesi Ziki Peta Kapanca Labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso membutuhkan kerja sama yang baik sehingga dalam proses penyelesaian tahapan- tahapan pelaksanaan kegiatan Ziki LaboKapanca Labo Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso terbangun kerja sama yang baik antara manusia sebagai individu kepada masyarakat lainnya.

Gotong royong dapat teraplikasikan dengan baik, tentunya dapat terlaksana karena tradisi ini dilaksanakan di daerah pedesaan yang ikatan kekerabatannya jauh lebih baik dibandingkan dengan perkotaan.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Abdul Azis Selaku Pemerintah Desa Simpasai menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat pedesaan berbeda jauh dengan tata kehidupan perkotaan, dimana kehidupan masyarakat desa sangat menjunjung nilai gotong royong terutama dalam hal budaya. Pada prosesi upacara Suna Ro Ndoso masyarakat Bima khususnya di Desa Simpasai menanamkan sikap tolong menolong serta sikap gotong royong, mulai dari tahap persiapan sampai akhir upacara.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Jaharuddin bahwa prosesi upacara Ziki LaboPeta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso membiasakan masyarakat bima khususnya di Desa Simpasai untuk saling membantu satu dengan yang lain. Hal ini terlihat dari masyarakat yang langsung ambil bagian dari upacara Suna Ro Ndoso baik dari bentuk tenaga maupun bentuk materi.

e. Nilai Persaudaraan

Upacara adat Ziki Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso dapat menumbuhkan serta memupuk kembali rasa persaudaraan baik dalam hubungan

(13)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

53 | H a l a m a n kekeluargaan maupun hubungan sosial

kemasyarakatan. H. Zaidin H. Landa menuturkan bahwa upacara Suna Ro Ndoso sama seperti upacara upacara adat besar bima lainnya, seperti upacara Nika Ra Nako (Pernikahan), Ngaji Karo,a (Hatam Quran). Dimana keluarga besar yang punya hajat diluar dari kampung/desa berbondong-bondong datang untuk menyaksikan anak-anak yang akan melakukan upacara Suna Ro Ndoso tersebut bahkan ada yang menginap beberapa hari di rumah acara.

upacara Ziki Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso memberikan dampak yang sangat baik untuk keharmonisan dalam kehidupan masyakarat. Karenakan dengan adanya upacara adat Ziki Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso masyarakat setempat bisa berkumpul kembali dengan suasan dan nuasa kebahagian. Selain itu juga, upacara adat Ziki Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso menjadi tempat yang mana untuk berdiskusi tentang perkembangan desa, pertanian, perternakan, dan bahkan dunia politikpun ikut dibahas dengan suasana yang harmonis dan bahagia.

Penjelasan di atas, mengakhiri penjelasan mengenai nilai-nilai dakwah yang terkandung dalam tradisi Ziki Peta Kapanca labo Compo Sampari Pada Acara Suna Ro Ndoso. Nilai-nilai yang terkandung dari budaya ini, tentunya dapat diamalkan dengan baik oleh masyarakat Bima khususnya di Desa Simpasai Kecamatan Lambu yang nantinya dapat membuat tradisi ini dapat bertahan dan mampu untuk terus berkembang.

KESIMPULAN

Prosesi pelaksanaan Ziki Peta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso yaitu diawali dengan persiapan alat dan bahan upacara adat. Setelah itu dilanjutkan

dengan acara Ziki Peta Kapanca, yang mana dimulai dengan salam, istigfar, syahadat, shalawat, dan bacaan ayat –ayat suci alquran. Pada saat proses penempelan daun inai (Peta Kapanca) anak anak yang akan melakukan Suna Ro Ndoso duduk berjejeran yang didampingi oleh orang tuanya masing-masing dengan memakai pakaian adat kerajaan khas bima, dengan posisi kaki lurus ke depan yang di atasnya terdapat batal sebagai pengalasnya. Dan adapun yang melakukan Peta Kapanca adalah 7 orang dari tokoh agama maupun tokoh masyarakat serta tokoh adat baik laki-laki maupun perempuan secara bergantian yang diiringan oleh zikir selama proses penempelan inai berlangsung.

Prosesi pelaksanaan Compo Sampari pada acara Suna Ro Ndoso hanya dikhususkan oleh anak laki-laki saja yang akan dikhitan. Anak laki-laki yang akan disematkan krisnya berdiri dengan tegak di hadapan orang yang akan melakukan penyematan krisnya dengan menggunakan pakaian adat kebanggan kerajaan bima.

Adapun yang melakukan menyematan kris (Compo Sampari) adalah tokoh agama yang diundang khusus oleh orang yang punya acara. Sebelum proses penyematan keris (Compo Sampari) tubuh sang anak dikelilingi sebanyak 3 kali, dan diiringi dengan pembacaan ayat ayat pedek alquran surah al-Ikhlas dan dilanjutkan dengan shalawat nabi.

Nilai-nilai dakwah dalam Prosesi upacara Ziki LaboPeta Kapanca pada acara Suna Ro Ndoso adalah sebagai berikut:

Nilai Meningkatkan Keimanan, Nilai Kasih Sayang, Nilai Musyawarah, Nilai Goyong Royong dan Nilai Persaudaraan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Baharuddin. “Prinsip-Prinsip Dakwah Antarbudaya” jurnal dakwah Tabligh: media pengkajian Dakwah

(14)

Kearifan Budaya Lokal Dalam Per……… (Abdullah, Kamaluddin, Nurhidayat)

54 | H a l a m a n

Dan Komunikasi Islam, edisi XXV, Juni 2012.

Amin, M. Masyhur. Dakwah Islam dan Pesan Moral. Cet. II; Yogyakarta:

Kurnia Kalam Semesta, 2002.

Aminullah Muhammad dan Nasaruddin

“Wajah Islam Nusantara Pada Tradisi Peta Kapanca Dalam Perkawinan Adat Bima”, Tajdid : Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. 1 no.1 (2017).

Arifuddin, Metode Dakwah Dalam Masyarakat. Cet. I; Makassar:

Alauddin University, 2011.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta:

Rineka Cipta, 2000.

Fajrin, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Pelaksanaan Zikir Labo Peta Kapanca Pada Acara Pernikahan di Desa Rasabou Kecamatan Sape Kabupaten Bima”. Tesis (Makassar:

PPs UIN Alauddin, 2017).

Ismail, M. Hilir dan Alan Malingi, Upacara Daur Hidup Masyarakat Bima- Dompu. Yogyakarta: Transglobal, 2012.

Ismail, M. Hilir. Kebangkitan Islam di Dana Mbojo. Bogor Indonesia: Cv Binasti, 2002.

Jamil, Abdul. Islam dan Budaya Lokal.

Yogyakarta: Pokja Akademik, 2005.

Kahmad, Dadang. Sosiologi Agama. Cet. IV;

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Konsultan syariat Islam al-Khairat, “sunat khitan dalam islam” (2014) https://www.alkhoirot.net/2013/1 1/sunat-khitan-dalam-islam.html (diakses, 15 Oktober 2019).

Muhtadi, Asep Saeful. Metode Penelitian Dakwah. Bandung: PustakaSetia, 2003.

Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif.

Cet. I; Yogyakarta: PT. LKS Yogyakarta 2008.

Rahman, M. Fachrir. Pernikahan Di Nusa Tenggara Barat: Antara Islam dan Tradisi. Mataram: LEPPIM IAIN Mataram, 2013.

Rahman, M. Facrir. Islam Di Bima kajian Historis Tentang Proses Islamisasi Dan Perkembangannya Sampai Masa Kesultanan. Yogyakarta:

Genta Press, 2009.

Said, Nurhidayat muh. Dakwah dan Berbagai Aspeknya. Cet. I;

Makassar: Alauddin University Press, 2014.

Said, Nurhidayat Muh. Metode Penelitian Dakwah. Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2013.

Soekanto, Soerjono dan Budi Sulistyowati, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta:

Rajawali Pers, 2015.

Wahid, Abdul. “Dakwah Dalam Pendekatan Nilai-Nilai Kearifan Lokal: Tinjauan Dalam Perspektif Internalisasi Islam dan Budaya”, Jurnal: Tabligh, vol. 19 no. 1, (2018).

Wahid, Abdurrahman. dkk., Islam Nusantara. Bandung: Mizan, 2016.

Wahyuni, Agama dan Pembentukan Struktur Sosial: Pertautan Agama, Budaya dan Trasdisi Sosial. Cet. I;

Jakarta: Prenadamedia Group, 2018.

Zuhdi, Muhammad Harfin., “Dakwah dan Dialektika Alkuturasi Budaya”, Jurnal: Religia, Vol. 15, No. 1 (2012).

Referensi

Dokumen terkait

Israil harus tahu bahwa Isa yang kamu salibkan itu, Dialah yang telah diangkat Allah menjadi Junjungan Yang Ilahi dan juga Al Masih!" 37 Ketika orang-orang mendengar hal itu,

Obat high alert  harus disimpan di tempat terpisah, akses terbatas, diberi label yang jelas.. Setiap tenaga kesehatan harus mengetahui penanganan khusus untuk obat

Outsourcing memungkinkan suatu perusahaan memindahkan pekerjaan- pekerjaan rutin dalam perusahaan untuk dikerjakan oleh pihak lain di luar perusahaan. Dengan menyerahkan

Sebaga pihak yang menginisiasi program MESSI bersama Pemkab Berau dan CICo Indonesia, KEHATI bergerak dalam meningkatkan kapasitas sumber daya masyarakat setepat,

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Keterlibatan Kerja dan Kepuasan Kerja dengan Perilaku Sosial Organisasi. Penelitian ini dilakukan di

1) Siswa kurang memahami bacaan dari awal. 2) Dengan membaca cepat, siswa tidak bisa menemukan makna bacaan secara mendalam karena proses membaca dilakukan dengan

Proses pembangunan yang dinilai cukup berhasil dan mampu menghasilkan kemajuan perekonomian Kabupaten Lamandau tentunya memberikan dampak positif bagi kesejahteraan

Perlu dilakukan inventarisasi mangrove lebih lanjut untuk mengetahui potensi mangrove yang ada di Kabupaten Halmahera Selatan dan menjadi data utama untuk