• Tidak ada hasil yang ditemukan

Triono 1, Bambang Heru Purwanto 1, Ipik Permana 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Triono 1, Bambang Heru Purwanto 1, Ipik Permana 1"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642

Evaluasi Implementasi Kebijakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan di Kota Cirebon: Studi Kasus

Kelurahan Sunyaragi Tahun Anggaran 2020

Triono1, Bambang Heru Purwanto1, Ipik Permana1

1Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon Email Korespondensi: [email protected]

Abstract

This study aims to determine the dimensions of effectiveness, efficiency, adequacy, equity, responsiveness and accuracy of the implementation of the village development planning consultation policy in Cirebon City, the factors that become obstacles to the implementation of the village development planning consultation policy, and the efforts that have been made to improve implementation. policy of village development planning deliberation in Cirebon City. The method used in this study is a qualitative method with the object of research in Sunyaragi Village, Kesambi District, Cirebon City. The implementation of village development planning deliberation (Musbangkel) in Sunyaragi Village is still not effective and efficient. This can be seen from the failure to achieve the desired policy goals and targets in planning, especially in 2021 due to budget refocusing and the amount of budget used in the implementation of Musbangkel. Therefore, it is necessary to establish good communication with stakeholders, especially in planning programs and activities, increasing human resources for implementing planning through technical guidance and training by relevant agencies or agencies and socialization and understanding to RW heads regarding the importance of participatory development in the preparation of activity program planning.

Keywords: Policy Implementation, Policy Implementation Evaluation, Development Planning Deliberation.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas dan ketepatan implementasi kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan di Kota Cirebon, faktor-faktor yang menjadi kendala implementasi kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan, dan upaya-upaya yang telah dilakukan dalam meningkatkan implementasi kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan di Kota Cirebon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan obyek penelitian di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan (Musbangkel) di Kelurahan Sunyaragi masih belum efektif dan efisien. Hal ini tampak dari tidak tercapainya tujuan dan sasaran kebijakan yang diinginkan dalam perencanaan, terutama pada tahun 2021 yang diakibatkan refocusing anggaran dan besarnya anggaran yang digunakan dalam pelaksanaan Musbangkel. Oleh karena itu, perlunya menjalin komunikasi yang baik dengan stakeholders terutama dalam merencanakan program dan kegiatan, peningkatan SDM pelaksana perencanaan melalui bimbingan teknis dan pelatihan oleh dinas atau badan terkait dan sosialisasi dan pemahaman kepada ketua RW mengenai pentingnya pembangunan partisipatif dalam penyusunan perencanaan program kegiatan.

(2)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 Kata Kunci: Implementasi Kebijakan, Evaluasi Implementasi Kebijakan, Musyawarah Perencanaan Pembangunan.

Pendahuluan

Aspek penting dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good Governance) salah satunya adalah dibukanya peluang bagi masyarakat untuk turut serta dalam pengambilan keputusan pembangunan, termasuk aspek perencanaan. Masyarakat disebut berpartisipasi dalam suatu pembangunan apabila antara masyarakat dan pemerintah terjadi hubungan sinergis. Keterlibatan masyarakat dalam merencanakan program pembangunan berpeluang dapat menghasilkan program-program pembangunan yang dapat mengakomodasi kepentingan mereka.

Menurut UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat untuk mengakomodasikan kepentingan mereka dalam proses penyusunan rencana pembangunan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan dapat dilihat salah satunya pada saat musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan. Kehadiran masyarakat dalam forum tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat dalam memajukan wilayahnya. Masyarakat dapat menyampaikan usulan dan aspirasi perencanaan pembangunan secara aktif. Dalam musyawarah perencanaan pembangunan masyarakat bebas mengajukan usulannya dalam penyusunan perencanaan pembangunan sesuai prioritas kebutuhan pembangunan di wilayahnya.

Menurut Sastropoetro (1985:23), masyarakat wajib dikonsultasikan dan responsnya harus pula diperhitungkan dalam perencanaan. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia (UU No. 25 Tahun 2004).

Masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya dalam rangka merencanakan program pembangunan melalui pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan. Perencanaan pembangunan diharapkan berasal dari masyarakat agar apa yang dibutuhkan dapat direalisasikan oleh pemerintah. Ini berarti bahwa aspirasi yang muncul dalam musyawarah perencanaan pembangunan merupakan aspirasi murni dari masyarakat. Fungsi dari musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan adalah untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam penyusunan rencana pembangunan daerah melalui pendekatan politis, teknokratis, partisipatif atas-bawah dan bawah-atas.

Tolok ukur keberhasilan suatu pembangunan yang telah disepakati sangat diperlukan evaluasi pembangunan. Evaluasi dapat memberikan informasi yang valid dan dipercaya mengenai kinerja suatu kebijakan berupa pembangunan. Evaluasi pembangunan bisa dilakukan diberbagai tahap, baik tahap awal yaitu tahap perumusan masalah, tahap pertengahan yaitu pada tahap pelaksanaan pembangunan dan tahap akhir yaitu setelah pelaksanaan pembangunan.

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Kewajiban mengatur pemerintah daerah untuk melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap rencana pembangunan daerah. Perencanaan pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota dievaluasi oleh kepala daerah, yang meliputi evaluasi terhadap: (1) kebijakan perencanaan pembangunan daerah; (2) pelaksanaan rencana pembangunan daerah; dan (3) hasil rencana pembangunan daerah.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, bahwa evaluasi

(3)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 kebijakan perencanaan pembangunan dilakukan untuk mewujudkan konsistensi antara kebijakan dengan pelaksanaan dan hasil rencana pembangunan daerah, keselarasan antar dokumen perencanaan dan kesesuaian antara capaian pembangunan daerah dengan indikator-indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Observasi awal yang dilakukan peneliti menemukan bahwa di Kelurahan Sunyaragi Kota Cirebon pelaksanaan musrenbang yaitu tidak semua masyarakat ikut berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan dengan berbagai alasan, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap arti pentingnya proses perencanaan pembangunan yang belum diketahui dan dimengerti oleh sebagian besar peserta terutama bagaimana proses musrenbang, kegiatan seperti apa yang harus diusulkan, untuk kepentingan apa dan sebagainya. Selain itu dalam proses perencanaan pembangunan belum diawali dengan kegiatan pendahuluan atau penyelidikan untuk mendapatkan data yang valid mengenai potensi, masalah dan kebutuhan masyarakat. Permasalahan lainnya yaitu keterbatasan anggaran untuk kegiatan. Hal ini diakibatkan oleh adanya refocusing anggaran untuk penanganan Pandemi Covid-19. Akibatnya adalah terjadi kemandekan pembangunan sarana dan prasarana di Kelurahan Sunyaragi. Hal menarik lainnya adalah tingkat keaktifan peserta murenbang kelurahan relatif rendah serta tim delegasi kelurahan belum mempunyai kemampuan untuk negosiasi pada musrenbang kecamatan.

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis tingkat efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas dan ketepatan dalam implementasi kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan di Kota Cirebon, faktor-faktor yang menjadi kendala dalam implementasi kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan di Kota Cirebon, dan uupaya-upaya yang telah dilakukan dalam meningkatkan implementasi kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan di Kota Cirebon.

Implementasi Kebijakan

Kebijakan berasal dari Bahasa Inggris yaitu policy yang berarti plan of action.

Menurut Budi Winarno (2002:19) secara umum istilah kebijakan digunakan untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok maupun suatu lembaga pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu.

Ada tiga elemen kebijakan, yaitu penetapan tujuan yang ingin dicapai, strategi dan taktik untuk mencapai tujuan, masukan untuk memungkinkan pelaksanaan secara nyata dari taktik atau strategi yang sebenarnya.

Kebijakan merupakan keputusan yang dibuat lembaga pemerintah atau organisasi yang bersifat mengikat pihak terkait dengan lembaga tersebut. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:

PER/04/M.PAN/4/2007 tentang Pedoman Umum Formulasi, Implementasi, Evaluasi kinerja dan Revisi Kebijakan Publik di Lingkungan Lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah.

Menurut Willian Dunn (2000) kebijakan publik adalah serangkaian pilihan yang kurang lebih berhubungan (termasuk keputusan untuk tidak berbuat) yang dibuat oleh bada-badan atau kantor-kantor pemerintah.

Berdasarkan pemaparan definisi di atas, maka kebijakan publik memiliki konsep- konsep sebagai berikut:

1. Kebijakan publik berisi tujuan, nilai-nilai dan praktik/pelaksanaannya;

2. Kebijakan publik tersebut dibuat oleh badan pemerintah, bukan organisasi swasta;

(4)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 3. Kebijakan publik tersebut menyangkut pilihan yang dilakukan atau tidak

dilakukan oleh pemerintah.

Menurut Grindle (1980), implementasi kebijakan adalah proses umum dari tindakan manajemen yang dapat diperiksa dalam suatu program. Sementara van Meter dan Horn menyatakan bahwa implementasi kebijakan adalah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dan swastaabaik secara individu maupun kelompok untuk mencapai tujuan.

Grindle (1980) juga berpendapat bahwa proses implementasi dimulai setelah tujuan dan sasaran ditetapkan, program kegiatan telah disusun dan anggaran untuk mencapai tujuan telah disalurkan (Winarno, 2007). Pada hakikatnya implementasi kebijakan publik adalah kegiatan praktis yang dibedakan dengan formula perumusan kebijakan yang bersifat teoritis. Implementasi tidak sekedar sebagai bentuk pelaksanaan program, namun juga sebagai pengendalian arah tindakan hingga tercapai tujuan kebijakan.

Menurut Dunn (2000), implementasi kebijakan merupakan pelaksanaan mengelola perilaku dalam jangka waktu tertentu. Untuk mencapai hasil, implementasi kebijakan publik selalu menghadirkan kemungkinan yang berbeda sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan oleh pengambil kebijakan. Hasillyang diperoleh dapat memenuhi harapan terhadap tujuan yang ingin dicapai, begitu pula sebaliknya tidak mencapai harapan (implementation gap). Ini merupakan situasi dalam proses kebijakan dimana selalau ada perbedaan antara apa yang diharapkan (rencana) pembiat kebijakan dan apa yang sebenarnya dicapai sebagai hasil implementasi kebijakan.

Pendapat lain tentang implementasi kebijakan disampaikan oleh Mazmanian dan Sabatier dalam Wahab (2004) bahwa implementasi kebijakan adalah kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijakan negara, yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.

Model Implementasi Kebijakan Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier

Mazmanian dan Sabatier berpendapat bahwa elemen kunci dari analisis implementasi kebijakan adalah mengidentifikasi variabel yang berpengaruh dalam pencapaian tujuan formal selama proses implementasi. Variabel-variabel tersebut yaitu:

1. Tingkat kemudahan permasalahan diatasi;

2. Kemampuan kebijakan dalam menyusun proses implementasi;

3. Pengaruh langsung variabel kebijakan terhadap keseimbangan dukungan tujuan yang ditetapkan.

Kriteria Pengukuran Implementasi Kebijakan

Menurut Grindle (1980:10) dan Quade (1984:310), kinerja implementasi suatu kebijakan publik diukur dengan variabel kebijakan, organisasi dan lingkungan. Melalui pemilihan kebijakan yang tepat dapat membantu masyarakat berpartisipasi optimal mencapai tujuan yang diinginkan. Setelah menemukan kebijakan, diperlukan organisasi pelaksana, karena di dalamnya terdapat kewenangan dan sumber daya yang mendukung implementasi kebijakan pelayanan publik. Sementara lingkungan kebijakan tergantung pada sifatnya yang positif dan negatif. Apabila lingkungan berpandangan positif, maka akan menghasilkan dukungan positif, akibatnya lingkungan mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan. Namun, proses implementasi terancam gagal jika lingkungan berpandangan negatif yang mengakibatkan kontroversi pendapat, sikap dan sebagainya. Diluar tiga aspek itu, kepatuhan terhadap kelompok

(5)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 sasaran kebijakan merupakan akibat langsung implementasi kebijakan yang berdampak kepada masyarakat.

Dengan membandingkan, kita dapat memahami gagasan Mazmanian dan Sabatier tentang kerangka kerja analisis implementasi (lihat Wahab, 1991:117). Dapat disimpulkan bahwa peran penting analisis implementasi kebijakan negara adalah mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi pencapaian tujuan formal proses implementasi. Mazmanian dan Sabatier mengklasifikasikan variabel-variabel dalam tiga kelompok: (1) Masalah selama bekerja, mudah atau sulit dikendalikan; (2) kapasitas kebijakan untuk mensistematisasikan proses implementasi; (3) pengaruh langsung variabel kebijakan terhadap keseimbangan dukungan tujuan yang diwujudkan dalam kebijakan. Ketiga variabel ini disebut variabel independen, yang dibedakan oleh tahap implementasi. Ini harus dialihkan sebagai variabel dependen.

Mudah atau sulitnya masalah dikendalikan meliputi variabel-variabel: (1) masalah teknis; (2) perilaku kelompok sasaran yang beragam; (3) perbandingan kelompok sasaran dengan jumlah penduduk, dan (4) ruang lingkup perubahan perilaku yang diinginkan.

Untuk mensistematisasi proses implementasi kebijakan, variabel kemampuan kebijakan meliputi: kejelasan dan konsistensi tujuan, akurasi alokasi sumber daya, integrasi antara hierarki internal dan perangkat pelaksana, aturan keputusan badan pelaksana, rekruitmen para pelaksana, dan akses formal pihak luar.

Adapun variabel yang mempengaruhi proses implementasi diluar kebijakan meliputi: keadaan sosial ekonomi dan teknologi, dukungan publik, sikap sumber daya kelompok, dukungan atasan, komitmen dan kecakapan kepemimpinan pelaksana (Keban, 2007:16).

Variabel dependen yang ditunjukkan melalui tahapan dalam proses implementasi mencakup: output kebijakan badan pelaksana, kesediaan kelompok sasaran mematuhi output kebijakan, masalah kebijakan dampak aktual, dampak output kebijakan sebagaimana yang dipersiapkan, dan perbaikan.

Teori Evaluasi Kebijakan

Evaluasi diperlukan untuk mengukur hasil kondisi pelaksanaan suatu program apakah sesuai dengan apa yang diinginkan. Evaluasi biasanya ditujukan untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakan publik guna dipertanggungjawabkan kepada konstituennya.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006, evaluasi merupakan kegiatan membandingkan realisasi masukan, keluaran dan hasil terhadap rencana dan standar.

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui hasil yang benar-benar sudah dicapai.

Penilaian bersifat objektif dan didasarkan pada kriteria yang sudah ditentukan dalam perencanaan. Evaluasi menunjukkan bahwa hasil yang dicapai sudah sesuai target dan kriteria yang ditentukan ataukah belum.

Evaluasi kebijakan adalah kegiatan yang menyangkut estimasi atau penilaian kebijakan yang mencakup substansi, implementasi dan dampak (Anderson:1975). Pada umumnya evaluasi suatu kebijakan dilakukan setelah kebijakan publik tersebut diimplementasikan. Ini tentunya dalam rangka menguji tingkat kegagalan dan keberhasilan, efektivitas dan efisiensi.

Model Evaluasi Kebijakan William N. Dunn

Menurut William N. Dunn dalam Nugroho (2014), evaluasi dapat disamakan penaksiran (appraisal), pembagian angka (rating) dan penilaian (assesment). Evaluasi

(6)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 bertujuan untuk menghasilakn informasi yang valid dan bermanfaat dari hasil kebijakan.

Penilaian memberikan informasi yang valid dan diandalkan tentang implementasi kebijakan, khususnya bagaimana kebutuhan, nilai dan peluang yang valid telah dicapai melalui tindakan kebijakan publik, berkontribusi pada penjelasan dan kritik terhadap nilai-nilai dasar pemilihan sasaran, berkontribusi pada penerapan metode analsisi kebijakn lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi.

Kriteria-kriteria evaluasi kebijakan publik William Dunn: efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas dan ketepatan.

Perencanaan Pembangunan

Peraturan Wali Kota Cirebon Nomor 42 Tahun 2019 tentang Pedoman Perencanaan Terpadu Satu Pintu, menyatakan bahwa partisipasi masyarakat merupakan peran serta warga masyarakat dalam menyalurkan aspirasi, gagasan dan kepentingan mereka dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Menurut Bintoro Tjokroamidjodjo (1994:12), perencanaan pembangunan adalah suatu pengarahan penggunaan sumber-sumber pembangunan (termasuk sumber- sumber ekonomi) yang terbatas adanya, untuk mencapai tujuan-tujuan keadaan sosial ekonomi yang lebih baik secara lebih efisien dan efektif.

Metode

Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif yang ditunjukkan untuk mengumpulkan fakta dan menguraikan keseluruhan dari persoalan yang akan diselesaikan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber yang diamati melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Informan kunci dalam penelitian ini mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti yaitu Ketua RW Kelurahan Sunyaragi. Informan tambahan adalah mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak terlibat secara langsung dalam interaksi sosial yaitu Sekretaris Kelurahan Sunyaragi dan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Sunyaragi. Data yang terkumpul tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan Teknik triangulasi.

Hasil Penelitian dan Pembahasan Landasan Hukum

Pemerintah Daerah Kota Cirebon mengeluarkan kebijakan perencanaan terpadu satu pintu dengan tujuan mendorong partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Pedoman perencanaan terpadu satu pintu melalui musrenbang bertujuan antara lain agar koordinasi pelaku pembangunan lebih optimal, menciptakan keterpaduan, sinkronisasi dan sinergitas antar lini pemerintah pusat dan daerah, konektivitas dan inovasi dalam perencanaan, optimalisasi partisipasi masyarakat, memastikan penggunaan sumber daya yang efisien, efektif, adil dan berkelanjutan dan kepastian hukum penyusunan perencanaan pembangunan.

Petunjuk Pelaksanaan dan Teknis Musrenbang RKPD

Menurut Peraturan Wali Kota Cirebon Nomor 42 Tahun 2019 Musrenbang Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) terdiri atas:

1. Musrenbang tingkat kota 2. Musrenbang tingkat kecamatan

(7)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 Musrenbang tingkat kecamatan meliputi rembug warga, musbangkel dan musrenbang di tingkat kecamatan.

3. Pelaksanaan rembug warga

Rembug warga dilaksanakan di tingkat rukun warga (RW) dalam rangka menentukan faktor yang mendorong keberhasilan pembangunan.

4. Musyawarah Pembangunan Kelurahan (Musbangkel)

Tahap selanjutnya setelah rembug warga adalah pelaksanaan Musbangkel.

Sebelum diadakan Musbangkel, terlebih dahulu dilaksanakan Pra Musbangkel.

Pelaksanaan Pra Musbangkel selambat-lambatnya minggu ke-4 bulan Januari.

Sedangkan pelaksanaan Musbangkel selambatnya bulan Januari minggu ke-4.

Keduanya dilaksanakan dan bertempat di wilayah kelurahan.

Dimensi Efektivitas, Efisiensi, Kecukupan, Pemerataan, Responsivitas dan Ketepatan dalam Implementasi Kebijakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan di Kota Cirebon

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dimensi efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas dan ketepatan dalam implementasi kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan di Kelurahan Sunyaragi sebagai berikut:

1. Efektivitas

Efektivitas menilai hasil yang diinginkan dari kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan (Musbangkel) telah tercapai atau belum. Keinginan pemerintah untuk mengembangkan kebijakan untuk menjangkau masyarakat umum dengan nilai-nilai yang diinginkan sehingga permasalahan yang ada di masyarakat dapat diselesaikan dengan baik.

Dari hasil wawancara dan observasi dengan para informan, peneliti berkesimpulan bahwa pelaksanaan Musbangkel di Kelurahah Sunyaragi tahun anggaran 2020 masih belum efektif. Hal ini dikarenakan belum tercapainya tujuan Musbangkel seperti yang tercantum dalam Peraturan Walikota Cirebon Nomor 42 tahun 2019 tentang Pedoman Perencanaan Terpadu Satu Pintu.

2. Efisiensi

Efisiensi adalah usaha yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Untuk mengetahui apakah kebijakan pelaksanaan Musbangkel berlangsung secara efisien atau tidak. indikator yang dilihat sebagai berikut:

a. Segi Biaya

Dari segi biaya, pelaksanaan Musbangkel menghabiskan biaya yang cukup besar. Namun demikian, pada pelaksanaan Musbangkel 2020 tidak menganggarkan untuk kegiatan rembug warga (belanja makanan dan minuman). Hal ini dikarenakan penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran 2020 sudah dilakukan pada 2019. Sedangkan Perwal 42 tahun 2019 terbit pada Oktober 2019.

b. Segi Waktu

Kecukupan waktu adalah hal penting demi dihasilkannya program atau kegiatan berkualitas. Tahapan Pelaksanaan Musbangkel dimulai dengan persiapan Musbangkel yang dilaksanakan pada Minggu ke-4 bulan Desember.

Dilanjutkan dengan sosialisasi pelaksanaan rembug warga di Minggu ke 4 Desember-Minggu ke-1 Januari. Berikutnya pelaksanaan rembug warga di Minggu ke-4 Desember-Minggu ke-2 Januari. Pelaksanaan Pra Musbangkel,

(8)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 Musbangkel dan Pengiriman hasil Musbangkel ke kecamatan dilaksanakan pada Minggu ke-2, 3 dan 4 Januari. Hasil observasi adalah Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musbangkel) di Kelurahan Sunyaragi sebagai berikut:

1). Rembug Warga dilaksanakan mulai tanggal 13-23 Januari 2020 2). Pra Musbangkel dilaksanakan tanggal 28 Januari 2020

3). Musbangkel dilaksanakan tanggal 4 Februari 2020.

Pada tahapan pelaksanaan Musbangkel, Kelurahan Sunyaragi baru mengadakan Musbangkel pada tanggal 4 Februari 2020. Artinya ada kelambatan dalam pelaksanaan Musbangkel yang seharusnya dilakukan paling lambat Minggu ke-4 Januari 2020. Dari segi waktu pelaksanaan, terdapat ketidaksesuaian antara tahapan pelaksanaan kegiatan Musbangkel di Keluarahan Sunyaragi dengan jadwal tahapan dalam Perwal 42/2019.

Akibatnya adalah pengiriman hasil Musbangkel ke tingkat kecamatan akan mengalami kelambatan dalam proses rekap usulan kegiatan dan berpotensi memundurkan waktu pelaksanaan Musrenbang kecamatan. Sedangkan Musrenbang tingkat kecamatan dilaksanakan selambat-lambatnya Minggu ke-2 bulan Februari 2020.

c. Segi Tenaga

Kesalahan dalam pelaksanaan kegiatan musbangkel dapat diminimalisir dengan ketersediaan sumber daya manusia yang cukup dan memadai. Dari segi tenaga atau sumber daya manusia Kelurahan Sunyaragi bisa dikatakan kurang.

Hal ini berdasarkan keadaan pegawai di kelurahan-kelurahan lain yang memang mengalami kekurangan jumlah pegawai, berkisar antara 10-12 pegawai di tiap kelurahan.

3. Kecukupan

Kecukupan adalah seberapa baik kebijakan memenuhi kebutuhan, nilai atau peluang yang menyebabkan masalah. Kebijakan memiliki alternatif-alternatif yang dapat diambil ketika kebijakan tersebut sudah diimplementasikan. Dari hasil wawancara dengan informan, pada aspek kecukupan dapat dikatakan bahwa anggaran yang diterima RW untuk kegiatan sarana dan prasarana dan pemberdayaan masyarakat kelurahan masih belum mencukupi. Apalagi anggaran kelurahan dari 2020 hingga 2021 banyak mengalami refocusing. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terhambatnya pembangunan di masyarakat.

Ketidakpuasan para ketua RW terhadap pelaksanaan pembangunan yang tidak berjalan nampak dalam sebuah pertemuan dengan Lurah dan Staf pada pertengahan tahun 2021.

4. Pemerataan

Pemerataan adalah tentang apakah penyaluran program dan manfaat kegiatan musbangkel merata kepada kelompok masyarakat, sejauh mana kegiatan atau program yang dihasilkan dapat dirasakan oleh masyarakat. Dari hasil observasi dan wawancara, masyarakat beranggapan bahwa penyaluran manfaat kepada masyarakat luas sebagai penerima dampak kebijakan belum maksimal. Hal ini dikarenakan pada pembagian pagu anggaran musrenbang per RW dibagi rata, tidak berdasarkan proporsi jumlah RT dan skala prioritas kebutuhan. Setiap RW baik yang memiliki 6 (enam) RT maupun 3 (tiga) RT akan memperoleh pagu anggaran yang sama sekitar Rp 22 jutaan. Dalam hal ini terjadi masalah komunikasi dalam penyampaian kebijakan antara pihak kelurahan dengan masyarakat penerima manfaat dari program tersebut.

(9)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 5. Responsivitas

Responsivitas adalah apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok tertentu. Indikator responsivitas adalah respon masyarakat terhadap kegiatan Musbangkel. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, aspek responsivitas dalam kebijakan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan (Musbangkel) di Kelurahan Sunyaragi telah mendapat respons yang baik dari masyarakat. Masyarakat tampak antusias dilaksanakannya rembug warga, pra musbangkel dan musbangkel.

6. Ketepatan

Ketepatan berdasarkan kriteria William Dunn terfokus pada hasil kebijakan tersebut sesuai dengan tujuan atau berguna bagi masyarakat. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, kebijakan tentang pelaksanaan Musbangkel sudah tepat. Hal ini dikarenakan untuk mencapai hasil sebuah kebijakan yang telah ditetapkan dengan optimal, kita harus mengetahui pokok-pokok permasalahan yang mendasar di lingkungan masyarakat. Pelibatan masyarakat dalam merumuskan perencanaan pembangunan diharapkan dapat mencapai tingkat keefektifan dan keefisienan suatu program atau kebijakan.

Faktor-faktor yang Menjadi Kendala dalam Implementasi Kebijakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan di Kota Cirebon

Berdasarkan wawancara dan observasi, kendala-kendala dalam implementasi musyawarah perencanaan pembangunan di Kelurahan Sunyaragi adalah sebagai berikut:

1. Anggaran

a. Kesediaan sumber dana

Pada pelaksanaan Musbangkel 2020 untuk perencanaan tahun 2021, Kelurahan Sunyaragi belum menganggarkan untuk pelaksanaan rembug warga. Ada RW yang merasa keberatan dilaksanakannya rembug warga dikarenakan tidak memiliki uang kas untuk menunjang pelaksanaannya. Namun begitu, warga pada akhirnya secara swadaya melaksanakannya demi terselenggaranya rembug warga. Penyediaan anggaran yang tepat waktu memberikan insentif bagi pelaksana kegiatan dapat mendukung dan bekerja secara maksimal dalam melaksanakan kegiatan.

b. Refocusing anggaran

Musbangkel tahun anggaran 2020 untuk perencanaan tahun 2021 tidak sesuai yang diinginkan. Ini dikarenakan pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020, memaksa Pemerintah Daerah Kota Cirebon melakukan refocusing anggaran. Akibatnya banyak anggaran kelurahan, kecamatan, dinas dan badan yang dialihkan untuk penanganan pandemi Covid-19. Hal ini tentu berimbas pada pembangunan infrastruktur di Kelurahan Sunyaragi dan Kota Cirebon.

2. Sumber daya manusia (SDM)

Sumber daya manusia yang tidak memadai (jumlah dan kemampuan) berakibat tidak dapat dilaksanakannya Musbangkel secara sempurna karena mereka tidak bisa melakukan pengawasan dengan baik. Jika jumlah staf pelaksana kegiatan Musbangkel terbatas, hal yang harus dilakukan adalah meningkatkan kemampuan para pelaksana untuk melakukan kegiatan dalam bentuk bimbingan teknis atau pelatihan perencanaan anggaran.

3. Komunikasi

(10)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 Pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan (Musbangkel) di Kelurahan Sunyaragi akan berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan- tujuan kebijakan dipahami oleh individu-individu yang bertanggungjawab dalam pencapaian tujuan kebijakan. Dengan demikian perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana. Supaya pelaksana kegiatan mengetahui secara tepat ukuran maupun tujuan kebijakan, maka konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan tujuan perlu dikomunikasikan.

4. Informasi

Unsur yang perlu disediakan untuk mendukung penyelenggaraan Musbangkel salah satunya adalah informasi. Agar masyarakat dan stakeholders dapat mempelajari dan merencanakan pertanyaan yang perlu diajukan, informasi harus disampaikan jauh sebelum pelaksanaan. Agar mudah dipahami, informasi sejauh mungkin berbentuk visual. Sumber informasi yang berbeda akan melahirkan interpretasi yang berbeda pula, karena itu informasi harus bersifat utuh. Agar pelaksanaan Musbangkel berjalan efektif pelaksana kegiatan harus mengetahui apakah mereka mampu melakukannya. Para peserta harus memahami secara jelas tujuan Musbangkel. kesepakatan yang akan dituju serta bagaimana proses mencapainya harus dijelaskan. Juga perlu dijelaskan batasan- batasan yang ada atau diikuti oleh Pemerintah Daerah untuk menampung aspirasi, sehingga tidak semua aspirasi dan kebutuhan peserta dapat ditampung. Sasaran dari Musbangkel juga perlu dijelaskan bukan hanya kepada peserta namun juga pemaparan kepada masyarakat luas di luar forum Musbangkel dan dalam bentuk buku panduan pelaksanaan.

Upaya-Upaya yang telah dilakukan dalam Meningkatkan Implementasi Kebijakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan di Kota Cirebon

Upaya-upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kelurahan Sunyaragi dalam meningkatkan implementasi musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan, antara lain:

1. Mengadakan sosialisasi

Pemerintah Kelurahan Sunyaragi terus-menerus memberikan sosialisasi mengenai penyusunan rencana pembangunan yang berdasarkan skala prioritas kebutuhan sarana dan prasarana serta pemberdayaan masyarakat kepada para RW dan stakeholders.

2. Merangkul anggota dewan

Dalam upaya agar usulan-usulan kegiatan pembangunan dapat dilaksanakan, Pemerintah Kelurahan Sunyaragi mengundang anggota dewan agar usulan-usulan RW dapat dimasukkan dalam pokok-pokok pikiran dewan untuk selanjutnya menjadi rencana kegiatan di tingkat kota atau dinas terkait.

3. Pelaksanaan Musbangkel yang fleksibel

Pemerintah Kelurahan Sunyaragi memberikan keleluasaan kepada Ketua RW dalam hal waktu pelaksanaan dari tahap rembug warga, pra musbangkel hingga musbangkel dengan tetap sesuai jadwal yang telah ditetapkan bersama.

Kesimpulan

Pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan (Musbangkel) di Kelurahan Sunyaragi masih belum efektif dan efisien. Hal ini tampak dari tidak tercapainya tujuan dan sasaran kebijakan yang diinginkan dalam perencanaan, terutama pada tahun 2021 yang diakibatkan refocusing anggaran dan besarnya anggaran yang

(11)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 digunakan dalam pelaksanaan Musbangkel. Oleh karena itu, perlunya menjalin komunikasi yang baik dengan stakeholders terutama dalam merencanakan program dan kegiatan, peningkatan SDM pelaksana perencanaan melalui bimbingan teknis dan pelatihan oleh dinas atau badan terkait dan sosialisasi dan pemahaman kepada ketua RW mengenai pentingnya pembangunan partisipatif dalam penyusunan perencanaan program kegiatan.

Referensi

Abdulkahar & Yuwono, T. (2002). Kebijakan Publik Konsep dan Strategi. Semarang:

Universitas Diponegoro.

Arikunto, S. (2012). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Bryant, C., & White, L. G. (1989). Manajemen Pembangunan Untuk Negara Berkembang.

Jakarta: LP3ES.

Bungin, B. (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Creswell, J. W. (2014). The Selection of a research approach. Research design: Qualitative, quantitative and mixed method approaches. California: SAGE Publications.

Dunn, W. N. (2020). Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Fitzpatrick, J. L., & Sanders, J. R., & Worthen, B. R. (2011). Program evaluation alternative approaches and practical guidelines. New Jersey: Pearson Education.

Gunawan, I. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara.

Handayani, S. (2006). Perlibatan Masyarakat Marginal Dalam Perencanaan dan Penganggaran Partisipasi. Surakarta: Kompip Solo.

Idrus, M. (2007). Metode Penelitian Ilmu Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif.

Yogyakarta: UII Press.

Isbandi, R. A. (2007). Perencanaan Partisipatoris Berbasis Aset Komunitas: Dari Pemikiran Menuju Penerapan. Depok: FISIP UI press

Lestari, W. D., & Marom, A. (2017). Evaluasi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2015. Journal of Public Policy and Management Review, 6(2), 38-50.

Mazmanian, D. A., & Sabatier, P. A. (1983). Implementation and Public Policy. USA: Scott Foresman and Company.

Muhammad. (2016). Metode Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Mujahidin, A. M. (2014). Panduan Penelitian Praktis untuk Menyusun Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Bandung: Alfabeta.

Pasolong, H. (2013). Metodologi Penelitian Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta.

Peraturan Wali Kota Cirebon Nomor 42 Tahun 2019 tentang Pedoman Perencanaan Terpadu Satu Pintu

Roehaenah, R. (2019). Evaluasi Rencana Kerja Pembangunan Daerah Kabupaten Indramayu. Reformasi: Jurnal Ilmiah Administrasi, 4(1).

Siagian, S. P. (1999). Administrasi Pembangunan. Jakarta: Bumi Aksara.

Slamet, M. (2003). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB Press.

Stufflebeam, D. L., Madaus, G, F., Kellaghan, T. (2002). Evaluation Models Viewpoints on Educational and Human Services Evaluation. New York: Kluwer Academic Publisher.

Sugiyono. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Supriady, D., & Riyadi. (2005). Perencanaan Pembangunan Daerah. Jakarta: SUN.

Suryono, A. (2001). Teori dan Isi Pembangunan. Malang: UM Press.

Tjokroamidjodjo, B. (1994). Perencanaan Pembangunan. Jakarta: Haji Masagung.

(12)

Volume 4, Issue 1, April 2022 E-ISSN 2721-0642 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional

Wahab, S. A. (1991). Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi Kebijakan. Jakarta:

Bumi Aksara.

Winarno, B. (2002). Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media Pressindo.

Wrihatmolo, R. R. (2009). Perencanaan Pembangunan Daerah: Konsep dan Mekanisme.

Jakarta: LPEM FE UI.

Wulen, Y. C., Erawan, E., & Burhanudin, H. (2019). Evaluasi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan di Kecamatan Samarinda Seberang. eJornal Administrasi Negara, 7(1).

Yuwono, T. (2001). Manajemen Otonomi Daerah: Membangun Daerah Berdasar Paradigma Baru. Semarang: Clyapps Diponegoro University.

Referensi

Dokumen terkait

Calon peneliti juga sempat melakukan observasi awal langsung kepada beberapa petugas parkir mengenai apakah mereka mengetahui ada peraturan daerah pemerintah

Data awal berdasarkan pengamatan observasi yang peneliti lakukan di SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto, bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran sejarah memang masih bersifat

Berdasarkan hasil observasi peneliti selama magang 2 pada tanggal 15 September – 15 Desember 2018 di SMP Negeri 14 Kota Bengkulu, peneliti menemukan masalah-masalah yang