STRATEGI CINA MENGHADAPI “MALACCA DILEMMA”
DALAM RANGKA PENGAMANAN JALUR ENERGI CINA DI SELAT MALAKA
TESIS
Oleh
SUCI RAHMADANI 167054007
MAGISTER ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
Strategi Cina Menghadapi “Malacca Dilemma”
Dalam Rangka Pengamanan Jalur Energi Cina di Selat Malaka
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Politik dalam Program Studi Magister Ilmu Politik pada Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
Suci Rahmadani 167054007
MAGISTER ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
Telah diuji pada
Tanggal : 8 Februari 2019
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Drs. Heri Kusmanto, MA, Ph.D Anggota : 1. Warjio, MA, Ph.D
2. Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA 3. Prof. Subhilhar
PERNYATAAN
Judul Tesis
STRATEGI CINA MENGHADAPI “MALACCA DILEMMA” DALAM RANGKA PENGAMANAN JALUR ENERGI CINA DI SELAT MALAKA
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Politik pada Program Studi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi- sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 8 Februari 2019 Penulis,
Suci Rahmadani
ABSTRAK
Penelitian ini ditarabelakangi oleh kondisis Selat Malaka, dimana berbatasan langsung dengan tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura. Selat Malaka secara geopolitik sangat vital sebagai jalur laut terpendek antara Samudera Hindia dan Laut China Selatan atau Samudera Pasifik, yang memiliki nilai strategis tidak hanya bagi negara pantai (littoral state) tetapi juga bagi negara pengguna (user state). User State terbesar saat ini adalah China. Sebanyak 80% impor minyaknya melewati selat ini, sedangkan kita mengetahui industrialisasi di China berlangsung sangat cepat, dan membutuhkan energy minyak agar roda industrinya terus berputar. Keadaan ini tak pelak lagi telah membawa Selat Malaka kepada posisi dilematis China (Malacca Dilemma). Di satu sisi, pemerintah China ingin mengurangi ketergantungan impor minyaknya melalui selat ini mengingat rawan sabotase, perompakan, dan intervensi dari negara besar (Amerika dan India), yang mempunyai proxi di negara yang berdekatan dengan selat malaka. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Geopolitik oleh Alfred T. Mahan, selanjutnya metode yang digunakan adalah metode analisa data kualitatif.Adapun hasil penelitian tersebut yaitu Bagi China keamanan Selat Malaka untuk impor minyaknya dari Timur Tengah sangat penting diwujudkan, agar roda industri dalam negeri tidak terganggu oleh supply minyak dari Timur Tengah. Namun disisi lain, China juga menyadari ketergantungan yang begitu tinggi kepada Selat ini telah menimbulkan kerawanan dari intervensi militer, keamanan dari negara-negara lain.
Serangkaian langkah mengurangi ketergantungan terhadap Selat Malaka secara agresif dilakukan oleh pemerintah China, seperti Belt and Road Initiative (BRI), String of Pearls, Nine Dash Line, dan Pembangunan Kra Canal di Thailand. Menghadapi kondisi ini, selanjutnya perlu pula di kaji posisi Indonesia dalam menghadapi kompleksitas permasalahan di Selat Malaka khususnya dalam rangka menghadapi berbagai manuver yang terjadi di Selat Malaka. Dalam hal ini, indonesia harus berperan aktif dalam menjaga keamanan teritorialnya, khususnya di Selat Malaka.
Kata Kunci: Malacca Dilemma, Selat Malaka, BRI, String of Pearls, Nine Dash Line
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Magister Ilmu Politik dalam Program Studi Magister Ilmu Politik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu setiap proses penulisan tesis ini, terutama kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si selaku Direktur Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA, selaku Ketua Jurusan Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan anggota komisi penguji yang telah banyak memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan tesis ini.
4. Bapak Drs. Heri Kusmanto, MA, Ph.D, selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dan ketua komisi pembimbing yang telah banyak mengarahkan proses penyusunan tesis ini, atas waktu dan bimbingannya yang setulus hati, serta memberikan masukan dan koreksinya sejak awal penulisan hingga akhir.
5. Bapak Warjio, Ph.D, selaku anggota komisi pembimbing dan atasan tempat penulis belajar serta menimba ilmu, yang telah banyak mengarahkan proses penyusunan tesis
ini, atas waktu dan bimbingannya yang setulus hati, serta masukkan dan koreksinya sejak awal penullisan higga akhir.
6. Bapak Prof. Subhilhar, selaku anggota komisi penguji yang telah banyak memberikan vkritik dan saran yang membangun dalam penulisan tesis ini.
7. Ibu Dra. Rosmery, MA, yang telah banyak memberikan ilmu kepada penulis, khususnya berkaitan dengan penelitian ini.
8. Seluruh staf pengajar Program Studi Magister Ilmu PolitikFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
9. Ayahanda dan Ibunda penulis yang tercinta dan terkasih sepanjang hayat sekaligus penguat penulis dalam segala hal, terimakasih atas curahan kasih sayang, doa, bimbingan, serta dukungan sepanjang waktu untuk penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
10. Kepada seluruh narasumber yang terlibat, terima kasih atas segala bantuan dan juga waktu yang telah diluangkan bagi peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis ini.
11. Kak Nina yang telah banyak membantu dalam proses administrasi dari awal hingga akhir dalam proses penulisan tesis ini.
12. Maulida Ulfa, Kak Maghfira Faraidiany, dan teman seperjuangan lainnya yang saling memberikan dukungan dan semangat untuk menyelesaikan tesis ini.
Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, maka penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan tesis ini. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan saran dan masukan yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan tesis ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu penyelesaian tesis ini dan semoga tesis ini bermanfaat bagi para pembacanya.
Medan, 8 Februari 2019
(Suci Rahmadani)
RIWAYAT HIDUP
Suci Rahmadani, lahir di Kuala tanjung, Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 10 Juni 1994 dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Supriadi dan Ibu Rosyanti.
Pendidikan Sekolah Dasar di SDN 014706 Kuala Tanjung, lulus tahun 2006 dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMPN 2 Medang Deras, lulus tahun 2009. Pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Mitra Inalum di Kuala Tanjung, lulus tahun 2012. Selanjutnya melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, jurusan Ilmu Politik, dan lulus pada tahun 2016.
Pada tahun 2017 melanjutkan pendidikan di Program Studi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, lulus pada tahun 2019.
Medan, 8 Februari 2019
Suci Rahmadani
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iiiv
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 12
1.3 Batasan Masalah ... 13
1.4 Tujuan Penelitian ... 13
1.5 Manfaat Penelitian ... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu ... 15
2.2 Geopolitik ... 20
2.2.1Penggolongan Teori Geopolitik ... 19
2.3 Strategi Maritim ... 24
2.4 Balance of Power ... 26
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian... 27
3.2 Teknik Pengumpulan Data ... 28
3.3 Teknik Analisis Data... 29
3.4 Sistematika Penulisan ... 30
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Choke Point Selat Malaka ... 32
4.2 Kepentingan Cina di Selat Malaka ... 34
4.3 Isu-isu Ancaman di Selat Malaka ... 38
4.4 Profil Maritim Indonesia ... 40
4.5 Analisis Strategi Cina ... 41
4.5.1 Strategi Belt and Road Initiative (BRI) ... 44
4.5.2 Strategi Pembangunan Cra Canal di Thailand ... 51
4.5.3 Resiko Pembangunan Cra Canal bagi Tahiland... 53
4.5.4 String of Pearls ... 53
4.5.5 Nine Dash Line ... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 76
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Gambar 1 Tabel Perbandingan Selat dan Terusan ... 49
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 1 Peta Selat Malaka ... 1
Gambar 2 Peta Selat Malaka diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik ... 3
Gambar 3 Peta Jalur Energy yang Melewati Selat Malaka ... 4
Gambar 4 Grafik Data Perompakan di Selat Malaka ... 5
Gambar 5 Grafik Perompkan di Selat Malaka ... 39
Gambar 6 Peta One Belt One Road (OBOR) ... 46
Gambar 8 Peta Rencana Pembangunan Kra Canal di Thailand... 51
Gambar 9 Peta String of Pearls ... 57
Gambar 10 Peta Nine Dash Line ... 63
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Selat Malaka merupakan selat yang berada di antara dua daratan besar yaitu Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Selat ini di miliki oleh tiga negara berdaulat yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura. Pulau Sumatera (Indonesia) yang kawasannya langsung berhadapan dengan Selat Malaka adalah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau, sedangkan negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka adalah Kedah, Perlis, Melaka, Johor, Selangor, Negeri Sembilan, serta Perak (Semenanjung Malaysia). Panjang Selat Malaka sekitar 805 km atau 500 mil dengan lebar 65 km atau 40 mil di sisi selatan dan semakin ke utara semakin melebar sekitar 250 km atau 155 mil. (Yu Zhong, 2104 : 88). Dari sisi garis pantai Selat Malaka, Indonesia adalah pemilik terpanjang dari selat ini yang membentang dari mulai disebelah utara Aceh yakni Sabang sampai dengan Karimun di Kepulauan Riau.
Gambar 1. Peta Selat Malaka
Selat Malaka secara geopolitik sangat vital sebagai jalur laut terpendek antara Samudera Hindia dan Laut China Selatan atau Samudera Pasifik, yang memiliki nilai strategis tidak hanya bagi negara pantai (littoral state) tetapi juga bagi negara pengguna (user state). Posisi Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional adalah strategis sebagai rute efektif dalam Sea Lines of Communication (SLOC) dan Sea Lines of Transportation (SLOT) bagi keamanan pasokan dan pengangkutan sumber energi negara-negara besar dengan kawasan Asia Barat maupun Afrika.
Setidaknya ada tiga faktor yang menjadi kepentingan banyak negara di Selat Malaka, yaitu (1) peperangan dan proyeksi kekuatan militer melintasi dunia, (2) kepentingan komersial dan perdagangan maritim, (3) eksploitasi ekonomi sumber daya laut.(Tara Singh : 2012)
Sejak berabad – abad Selat Malaka menjadi jalur perniagaan bangsa-bangsa Romawi, China, Persia, Yunani dan Arab di kawasan Asia Tenggara. Pada era kolonialisasi, Selat Malaka di kuasai Belanda, Portugis dan Inggris untuk menghubungkan Afrika dan India dengan China, Jepang dan Asia Tenggara sebagai jalur pengangkutan komoditi hasil eksploitasi, penjajahan maupun perdagangan.
Hingga sekarang, Selat Malaka menjadi jalur pelayaran Internasional antara Timur dan Barat yang penting karena sepertiga dari perdagangan dunia dan separuh dari pengangkutan minyak atau sumber energi dunia, diangkut melalui Selat Malaka (Percivel 2005 & Pena 2009 dalam Kusuma: 2003).
Dinamika di sepanjang jalur Selat Malaka menampilkan keunikan tersendiri, yang mungkin tidak dimiliki oleh selat manapun di dunia, dibandingkan dengan Selat Hormuz di wilayah Timur Tengah, secara geografis Selat Malaka merupakan selat terbuka, dan bukan merupakan selat tertutup pada sisi ujungnya. Dengan melewati
jalur Selat Malaka kapal-kapal tanker telah menghemat 1/3 dari rute perjalanan, sehingga berimplikasi penghematan waktu dan biaya. Maka harus diakui selain rute terpendek, Selat Malaka juga menyediakan biaya paling murah dalam dunia transportasi maritim.
Gambar 2. Selat Malaka diantara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik
Selat Malaka merupakan urat nadi perekonomian dunia. Diperkirakan setiap tahun Selat ini dilintasi kurang lebih 70 sampai dengan 90 ribu kapal atau kira-kira 150 – 200 kapal setiap harinya. Selain itu, Pusat Kajian tentang Maritim di National University of Singapore (NUS) juga merangkum keunggulan geostrategis Selat Malaka yang dapat dilihat berdasarkan aktivitas di selat tersebut, yakni sebagai berikut:
- One of the word‟s busiest straits.
- Connect Indian Ocean
- 8,678 ships make 75,510 annual passages
- 11 – 12 million oil barrels daily
- 60-90% of energy imports to Japan, China and S. Korea annually
- ¼ to 1/3 of world trade
- ± US$ 390 billion
- Goods come from Middle East, South Asia, Africa, Europe.
User State terbesar di Selat Malaka saat ini adalah China. Sebanyak 80% dari impor China yang berasal dari Timur Tengah dan Angola haruslah melewati Selat Malaka karena jika melewati selat alternative seperti Lombok dan Makassar akan 5 hari lebih lama dan sudah banyak digunakan oleh kapal-kapal bermuatan besar lainnya demikian juga untuk keselamatan navigasi rute Malaka lebih baik. Bagi China, keamanan Selat Malaka untuk impor minyaknya dari Timur Tengah sangat penting diwujudkan, agar roda industri dalam negeri tidak terganggu oleh supply minyak dari Timur Tengah.
Gambar 3. Peta Jalur Perdagangan Energy yang melewati Selat Malaka
Namun disisi lain, China juga menyadari ketergantungan yang begitu tinggi kepada Selat ini telah menimbulkan kerawanan dari intervensi militer, keamanan dari negara-negara lain. Satu sisi, ancaman – ancaman terhadap keamanan maritim mencakup pembajakan, perompakan dan terorisme maritim. Di Selat Malaka, IMB melaporkan bahwa pada tahun 2000 terjadi 75 kasus perompakan. Kemudian pada tahun 2001 terdapat 17 kasus dan 16 kasus pada tahun 2002. Pada tahun 2003 terdapat 28 kasus dan terus mengalami kenaikan pada tahun 2004 sebanyak 37 kasus. Pada tahun 2005 mengalami penurunan menjadi 12 kasus dan 11 kasus pada tahun 2006.
Angka tersebut terus mengalami penurunan secara signifikan pada tahun-tahun berikutnya. (IMB, 2007).
Gambar. 4. Grafik Data Perompakan di Selat Malaka
Selanjutnya, sejak February 2007 to October 2014, ada sekitar 13 insiden atau percobaan perompakan per tahun di Asia. (ReCAAP Information Sharing Centre, 2007). Banyaknya tantangan dan ancaman keamanan maritim terhadap lalulintas sumber energi tersebut, tidak dibarengi dengan pengawalan keamanan yang potensial dan efektif dari China. Hal ini bukan semata-mata karena ketidakmampuan militer angkatan laut China, akan tetapi justru pengerahan kekuatan militer semacam itu bisa
menimbulkan “dilema keamanan” lebih lanjut di Selat Malaka mengingat sengketa territorial China di Kepulauan Spratly maupun Laut China Selatan (Storey, 2006).
Keadaan ini semua dirangkum oleh mantan Presiden Hu Jintao dalam apa yang dinamakan “The Mallacca Dilemma”. Hal ini sebagaimana yang diberitakan China Youth Daily:
“... In November 2003 President Hu Jintao declared that “certain major powers” were bent on controlling the strait, and called for the adoption of new strategies to mitigate the perceived vulnerability.
Thereafter, the Chinese press devoted considerable attention to the country‟s “Malacca dilemma,” leading one newspaper to declare: “It is no
exaggeration to say that whoever controls the Strait of Malacca will also have a stranglehold on the energy route of China” (China Youth Daily, June 15, 2004).
Tidak hanya lalu lintas perdagangan dan sumber energi, Selat Malaka juga menjadi lalu lintas perdagangan persenjataan, misil balistik maupun senjata nuklir bagi China mengingat upaya memodernisasikan persenjataan dan masih maraknya konflik yang terjadi dengan beberapa negara menyangkut kemerdakaan wilayah maupun klaim teritori.
Permasalahan di Selat Malaka bagi China juga didasari oleh banyaknya aktor negara dengan berbagai interest yang tergantung dengan selat tersebut, seperti Amerika Serikat, China, India dan Jepang. Kepentingan Amerika Serikat sendiri di Selat Malaka dapat di kategorikan dalam empat hal, yaitu upaya counter terorism,
terhadap area Pasifik. Amerika Serikat telah menetapkan kawasan Selat Malaka sebagai salah satu area peperangan terhadap kelompok teroris di Asia Tenggara mengingat banyaknya perompak dan terkoneksi terorisme internasional melalui kalur penghubung Indonesia dan Malaysia yang di sinyalir menjadi aktor-aktor kunci.
Bagi Amerika, penguasaan atau “control”secara langsung atau tidak langsung terhadap Selat Malaka menjadi penting. Dalam perspektif lain, yaitu dari sisi kepentingan strategis Amerika dalam menguasai dan mengontrol kawasan Asia Tenggara secara militer, sejak awal menyadari betul jika Selat Malaka merupakan urat nadi Cina. Maka, dalam konstalasi yang kian menajamnya persaingan Amerika-Cina dalam beberapa tahun ke depan, menguasai Selat Malaka merupakan langkah strategis Amerika menjinakkan Cina di kawasan Asia Tenggara. Itu pula sebabnya gagasan membentuk persekutuan militer di Asia Tenggara yang berada dalam kendali Amerika, nampaknya merupakan agenda strategis Amerika. (Caroline Vavro : 2008).
Sejak Guam Doctrine (Doktrin Guam)1, tepatnya saat Amerika Serikat pada tahun 1969 menetapkan untuk mengalihkan tulang punggung pertahanannya di wilayah Pasifik Barat secara besar-besaran di daratan Asia melalui kehadirannya di lepas pantai Asia. Professor Ann Marie Murfhy, seorang peneliti senior di Weatherhead East Asia Institute, Columbia University menjelaskan Sebanyak 500
1Doktrin Nixon (disebut juga Doktrin Guam) diperkenalkan dalam sebuah konferensi pers di Guam pada tanggal
25 Juli 1969 oleh Presiden Amerika Serikat Richard Nixon[1] dan diresmikan lewat pidatonya mengenai Vietnamisasi pada tanggal 3 November 1969.[2] Menurut Gregg Brazinsky,[3] Nixon menyatakan bahwa
"Amerika Serikat akan membantu pertahanan dan pembangunan negara-negara sekutu dan sahabat," namun tidak akan "mengabaikan pertahanan negara-negara merdeka di seluruh dunia." Doktrin ini berarti bahwa setiap negara sekutu harus mengurus keamanan dalam negerinya sendiri, tetapi Amerika Serikat bisa menjadi payung nuklir apabila diminta. Doktrin tersebut mengusulkan penciptaan perdamaian lewat kemitraan dengan sekutu- sekutu Amerika Serikat. Doktrin Nixon mengandung keinginan Richard Nixon untuk mengubah arah kebijakan internasional A.S. di Asia, terutama pelaksanaan "Vietnamisasi Perang Vietnam."
tentara AL AS akan tugas bergilir di Darwin, totalnya akan berjumlah 2.500 tentara dalam beberapa tahun ke depan.
Usaha Amerika ini di dukung penuh oleh Singapura. Meskipun tidak memiliki ikatan pakta pertahanan dengan Amerika, kedua negara punya kedekatan hubungan militer. Singapura selalu menjadi pendukung utama kehadiran AS di Asia Tenggara.
Dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan Amerika, Singapura selalu terlibat aktif didalamnya, seperti menawarkan pangkalan militer pengganti Subic dan Clark, kemudian menjadi pusat dukungan logistik bagi Armada ketujuh AL AS, mengajak Amerika ikut aktif dalam penanganan terorisme di Asia Tenggara. Singapura juga menginginkan keterlibatan Amerika dalam pengamanan Selat Malaka.(Monica Nababan, 2018 : 88).
Selain Amerika, salah satu kekuatan besar ekstraregional Asia Tenggara adalah India. Signifikansi Selat Malaka bagi India adalah menjadi laut penghubung (sea-link) dari Samudera India melalui Laut Andaman dengan Samudera Pasifik. Kepentingan India dalam keamanan jalur laut dari Teluk Benggala sampai ke Laut Andaman dan Selat Malaka terutamanya adalah untuk mengamankan aset ekonomi kekayaan alam pulau Andaman dan Nicobar sebagai bagian ZEE dan landas kontinen (Singh, 2008 : 3 – 4). Selat Malaka menjadi rute terpendek menghubungkan Teluk Persia dengan Asia Timur dan Amerika Serikat, sehingga menjadi choke point penting di Samudera Hindia.
Seperti halnya China, kepentingan India di Selat Malaka juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi melalui lalu lintas perdagangan dan sumber energi dimana sekitar 30% per tahun barang-barang perdagangan India melewati Selat ini.
kepentingan India di Selat Malaka ini juga merujuk pada menguatnya hubungan India
dengan negara – negara di Asia Tenggara baik secara ekonomi, politik maupun kerjasama militer yang diperkuat dengan kebijakan “look east policy” untuk meluaskan pengaruh India di kawasan ini. Selat Malaka sendiri juga menjadi media persaingan India terhadap ancaman perluasan pengaruh China di Asia Tenggara.
Aliansi India bersama Amerika Serikat, Jepang dan Australia melalui skema Proliferation Security Inisiative (PSI)2 dalam kerangka Regional Maritime Security Proliferation (RMSI), vital kaitannya untuk memata-matai aktivitas China, Korea Utara dan Pakistan di Asia Pasifik (Prabhakar, 2009: 226). Hal ini sebagaimana yang di tulis oleh Takungpao yakni,
“....The PRC has also watched with concern India‟s enhanced presence in the area, especially the modernization of military facilities on the Andaman and Nicobar Islands located near the northern entrance to the Malacca Strait. Some Chinese newspaper commentaries have bordered on the paranoid. For instance, when the United States restored the International Military Education and Training (IMET) program to Indonesia last year, one Chinese newspaper accused U.S.-Indonesia military cooperation as “targeting China” and aimed “at controlling China‟s avenue of approach to the Pacific” (Takungpao, March 7, 2005 dalam https://jamestown.org/program/chinas-malacca-dilemma/).
2 The Proliferation Security Initiative (PSI) is a global effort that aims to stop trafficking of weapons of mass
destruction (WMD), their delivery systems, and related materials to and from states and non-state actors of proliferation concern.[1] Launched by United States President George W. Bush in May 2003 at a meeting in Kraków, Poland, the PSI has now grown to include the endorsement of 105 nations around the world, including Russia, Canada, the United Kingdom, Australia, France, Germany, Italy, Argentina, Japan, the Netherlands, Poland, Singapore, New Zealand, Republic of Korea and Norway. Despite the support of over half of the Members of the United Nations, a number of countries have expressed opposition to the initiative, including India, China and Indonesia.
Kewaspadaan India terhadap perluasan kekuatan China di Asia Tenggara dan kegelisahan mengenai ekspansi militer China hingga ke Samudera Hindia, menjadi alasan India untuk membuat strategi maritim dengan power projection membangun Far Eastern Naval Command (FENC) atau Komando Terpadu Andaman Nicobar (Andaman Nicobar Command/ANC) di pelabuhan Blair di tahun 2001. Pembangunan ANC ini juga dibantu oleh Amerika Serikat sebagai aliansi strategis di Asia Tenggara dalam politik pembendungan terhadap China. Upaya ini dilakukan untuk menyatukan angkatan darat, laut dan udara dibawah satu arahan struktur untuk meningkatkan jangkauan maritim serta memperketat pengawasan terhadap jalur dari Selat Malaka hingga ke Teluk Benggala.
Lebih lanjut India juga melakukan peremajaan/upgrade pangkalan di pulau Andaman dan Nicobar. Modernisasi kapabilitas maritim India juga meningkat terlihat dari modernisasi kapal-kapal laut dengan bermacam varian, kapal bawah laut, persenjataan mesiu presisi terpadu (precision guided munities/PGMs) maupun sistem- sistem intelijen, kontrol dan komando (Singh, 2008 : 58). Pada dasarnya ANC ini adalah upaya tirai besi atau metal block di Samudera Hindia, memblokade akses China terutamanya untuk melewati Selat Malaka.
Selain melakukan upgrade pelabuhan-pelabuhan di Andaman dan Nicobar, India juga membangun pangkalan udara untuk memonitor keamanan lalu lintas di sekitar Teluk Benggala hingga ke Selat Malaka. India juga meningkatkan hubungan aliansi dengan Jepang, Vietnam dan Singapura serta latihan-latihan perang kapal laut (naval exercises) dengan US Navy (Vavro, 2008 : 17). Selain itu, India juga menggunakan angkatan launya untuk keterlibatan politik diplomatik dengan negara- negara pantai. Satu hal yang penting adalah penggunaan pertama kali kapal induk INS
Viraat yang melalui Selat Malaka pada tahun 2005. Kapal tersebut melakukan kunjungan ke Port Klang (Malaysia) diteruskan ke Singapura dan Jakarta (Indonesia).
Pada tahun 2006 dalam dialog Shangri-La, kementerian pertahanan India menawarkan bantuan atau kapasitas lain untuk membantu menambah keamanan Selat Malaka.
Angkatan laut India juga ikut dalam koordinasi patroli laut dengan Indonesia sejak 2001 (Patkor Indindo) dan Thailand sejak 2005, juga kerjasama yang sama dengan Myanmar dan Malaysia.
Hal inilah yang menjadi kekhawatiran China sehingga dengan berbagai pendekatan ekonomi dan investasi China mencoba untuk dapat memantau lalu lintas Selat Malaka, salah satunya dengan bekerja sama dengan Malaysia untuk membangun pelabuhan di utara Port Klang yang memakai biaya lebih dari $64 milyar yang jauh lebih besar dari pelabuhan Singapura. (available on:
https://statestimesreview.com/2017/01/11/malaysia-to-build-s64-billion-port-with- support-from-china/).
Berdasarkan kondisi ini, China mencoba dan berusaha mencari alternatif lain dalam rangka mengamankan energy mereka. Diantaranya adalah membangun pipa minyak dan jalur kereta api serta jalan raya (Belt and Road Initiative), String of Pearls, Nine Dash Line, dan pembangunan Kra Canal di Thailand. Sehingga dengan demikian China berharap tidak ada lagi ancaman terhadap kebutuhan energinya dan ekspor negaranya.
Menghadapi kondisi ini, selanjutnya perlu pula di kaji keamanan Indonesia dalam menghadapi kompleksitas permasalahan di Selat Malaka. Secara strategis kehadiran kedaulatan militer China dan mengimplementasikan kebijakan penyebaran Selat Malaka dan respon barat seperti US dan Inggris serta kekuatan baru India
tentunya memiliki implikasi yang serius terhadap teritorial Indonesia di Selat Malaka.
Sehingga perlu di identifikasi ancaman terhadap keamanan nasional khususnya di Selat Malaka.
1.2. Rumusan Masalah
Selat Malaka berbatasan langsung dengan tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura. Selat Malaka secara geopolitik sangat vital sebagai jalur laut terpendek antara Samudera Hindia dan Laut China Selatan atau Samudera Pasifik, yang memiliki nilai strategis tidak hanya bagi negara pantai (littoral state) tetapi juga bagi negara pengguna (user state). User State terbesar saat ini adalah China. Sebanyak 80% impor minyaknya melewati selat ini, sedangkan kita mengetahui industrialisasi di China berlangsung sangat cepat, dan membutuhkan energy minyak agar roda industrinya terus berputar. Keadaan ini tak pelak lagi telah membawa Selat Malaka kepada posisi dilematis China. Di satu sisi, pemerintah China ingin mengurangi ketergantungan impor minyaknya melalui selat ini mengingat rawan sabotase, perompakan, dan intervensi dari negara besar (Amerika dan India), yang mempunyai proxi di negara yang berdekatan dengan selat malaka. Bagi China keamanan Selat Malaka untuk impor minyaknya dari Timur Tengah sangat penting diwujudkan, agar roda industri dalam negeri tidak terganggu oleh supply minyak dari Timur Tengah.
Namun disisi lain, China juga menyadari ketergantungan yang begitu tinggi kepada Selat ini telah menimbulkan kerawanan dari intervensi militer, keamanan dari negara- negara lain. Serangkaian langkah mengurangi ketergantungan terhadap Selat Malaka secara agresif dilakukan oleh pemerintah China, seperti Belt and Road Initiative (BRI), String of Pearls, Nine Dash Line, dan Pembangunan Kra Canal di Thailand.
Menghadapi kondisi ini, selanjutnya perlu pula di kaji posisi Indonesia dalam menghadapi kompleksitas permasalahan di Selat Malaka khususnya dalam rangka menghadapi berbagai manuver yang terjadi di Selat Malaka.
1.3. Batasan Masalah
Batasan masalah digunakan untuk memperjelas lingkup penelitian penulis.
Adapun batasan dalam penelitian ini yaitu hanya berfokus kepada Strategi China Menghadapi Malacca Dilemma dalam Rangka Pengamanan Jalur Energy China di Selat Malaka, dan dampaknya terhadap keamanan teritorial Indonesia di Selat Malaka.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana Strategi China Menghadapi Malacca Dilemma dalam Rangka Pengamanan Jalur Energy China di Selat Malaka, dan dampaknya terhadap keamanan teritorial Indonesia di Selat Malaka.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Penulis, Manfaat penelitian ini bagi penulis dapat menambah wawasan dan pengalaman berharga, khususnya mengenai Strategi China Menghadapi Malacca Dilemma dalam Rangka Pengamanan Jalur Energy China di Selat Malaka
2. Secara akademis, penelitian ini berfungsi sebagai referensi tambahan dalam mengembangkan kemampuan berfikir bagi mahasiswa Magister Ilmu Politik, Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan kontribusi pengetahuan terhadap ilmu politik, terkhusus mengenai studi strategis serta kelautan Indonesia di Selat Malaka.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, penulis tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian penulis. Namun penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis. Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa beberapa jurnal terkait dengan penelitian yang dilakukan penulis.
2.1.1. Rivalitas Strategi Maritim China dan India di Selat Malaka
Hasil penelitian ini di tulis oleh Ayusia Sabhita Kusuma, yakni Staf Pengajar program Hubungan Internasional FISIP Universitas Jenderal Soedirman. Adapun hasil penelitian menjelaskan bahwa strategi maritim China dan India sebenarnya mempunyai konvergensi terutamanya menyangkut kepentingan kedua negara untuk serta burden sharing dalam pengamanan Selat Malaka bersama dengan negara-negara pantai serta upaya memerangi kejahatan maritim. Kerjasama angkatan laut India dan China pun juga masih dilakukan terutamanya untuk mengatasi tantangan keamanan non-tradisional melalui operasi anti-pyracy di Selat Malaka dengan cara berbagai informasi dan data intelejen. Adapun strategi maritim China di Selat Malaka salah satunya adalah String of Pearls, yakni terutamanya untuk menjaga keamanan lalu lintas sumber energi. Namun, di satu sisi China juga memiliki “Malacca Dilemma”
yang membuatnya tidak optimal dalam proses pengamanan kepentingan maritim di
Selat ini. belum lagi jika berkaitan dengan agresifitas pertahanan China yang terlihat dari isu Taiwan dan Konflik Laut China Selatan, membuat kecurigaan dan ketakutan beberapa negara – negara besar yang juga mempunyai kepentingan di Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka, terutamanya Amerika Serikat, Jepang dan India. (Ayusia : 2014)
2.1.2. Dire Strait: Naval Security Competition between China and the United States in the Strait of Malacca
Hasil penelitian ini ditulis oleh Michael Sliwinski, yakni sedang Pelajar Politik Internasional dan konsentrasi pada Studi Keamanan di Georgetown University.
Sliwinski menjelaskan bahwa Selat Malacca secara geopolitik sangat penting sebagai sebuah choke pont bagi China dan Amerika untuk memperluas kehadiran mereka di wilayah Pasifik. Bukan lagi pada maslah peompakan dan terorisme, melindungi jalur perdagangan mereka yang melewati selat tersebut menjadi perhatian utama. Seperti doktrik angkatan laut China bahwa mereka akan memperluas jalur pengamanan perdagangan mereka. Sedangkan Amerika hadir sebagai penyeimbang dan berusaha untuk meminimalisir pengaruh China di wilayah Asia. (Sliwinski : 2014).
2.1.3. Kebijakan Jalur Sutra Baru Cina dan Implikasi Implikasinya Bagi Amerika Serikat
Tulisan ini merupakan hasil penelitian di tulis oleh Indriana Kartini seorang peneliti di Pusat Penelitian Politik – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kebijakan Jalur Sutra Baru Cina yang juga dikenal sebagai kebijakan “One Belt One Road” merupakan kebijakan luar negeri dari negara
“middle power” yang kekuatan militer dan ekonominya meningkat dan diprediksi
dapat mengancam tatanan internasional yang didominasi AS. Sebagai sebuah kebijakan luar negeri, Jalur Sutra Baru Cina dipengaruhi oleh faktor domestik dan internasional. Faktor-faktor domestik seperti pembangunan ekonomi (domestik dan regional) dan stabilitas politik, keamanan energi, pasar ekspor dan diversifikasi transportasi, turut mendorong Beijing untuk segera mengimplementasikan kebijakan Jalur Sutra Baru Cina. Selain itu, faktor internasional, yakni kebijakan “pivot to Asia”
yang dilancarkan pemerintahan Obama untuk membendung (contain) kekuatan Cina di Asia juga berpengaruh signifikan dalam proses pembuatan kebijakan luar negeri Cina. (Kartini : 2015).
2.1.4. India, China and the United States in the Indo Pasific Region: Coalition, co- existence or clash?
Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang di tulis oleh Colonel dan McDaniel, yakni merupakan seorang tentara Australia. Colonel dan McDaniel menjelaskan bahwa potensi bentrok (clash) di wilayah Indo Pasifik pada dekade selanjutnya dan sebaliknya negara-negara lain dapat lebih berperan dalam mengurangi resiko.dimana ada dua negara yang berusaha untuk mengurangi dominasi China di wilayah Pasifik, yakni Amerika Serikat dan India. Ketiga negara ini memperhatikan prospek ekonomi, India dan China dan Amerika. Seperti yang di tunjukkan oleh Henry Kissinger bahwa untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi salah satu kuncinya adalah melawan ancaman langsung terhadap integritas ataupun kepentingan nasional. Conflict is not in any nation‟s interest, however it will require the US-China-India strategic triangle to commit to transparency, mutual trust and at least co-existence in the increasingly
important and increasingly contested Indo-Pasific Region. (Colonel Dan McDaniel : 2012).
2.1.5. China‟s Self-Extrication from the “Malacca Dilemma” and Implications
Tulisan ini merupakan hasil penelitian dari Chen Shaofeng dari Peking University.
Chen menjelaskan bahwa melanjutkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemampuan militer adalah kunci untuk membangkitkan status China sebagai suatu kekuatan yang besar. Keduanya, bagaimanapun membutuhkan supply energi yang cukup. Selat Malacca sebagai jalur energi China harus mendapat perhatian. Namun, banyak masalah dan kesulitan China dalam memperluas pengaruhnya di sekitar Selat tersebut. Hal ini disebut Malacca Dilemma. (Chen, 2010).
2.1. Geopolitik
Istilah geopolitik semula sebagai ilmu bumi politik kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang sesuatu yang berhubungan konstelasi – ciri khas negara yang berupa: bentuk, luas, letak, iklim, dan sumber daya alam suatu negara untuk membangun dan membina negara. Para penyelenggara pemerintahan nasional hendaknya menyusun pembinaan politik nasional berdasarkan kondisi dan situasi geomorfologi secara ilmiah berdasarkan cita-cita bangsa. Sedangkan geostrategis diartikan sebagai pelaksanaan geopolitik dalam negara. Selanjutnya teori geopolitik berkembang menjadi konsepsi wawasan nasional bangsa. Oleh karena itu wawasan nasional bangsa selalu mengacu pada geopolitik. Dengan wawasan nasional suatu negara kita dapat mempelajari kemana arah perkembangan suatu negara.
Geopolitik secara etimologi berasal dari kata geo (bahasa Yunani) yang berarti bumi yang menjadi wilayah hidup, sedangkan politik berasal dari kata polis yang
berarti kesatuan masyarakat yang terdiri atau negara dan teia yang berarti urusan (politik) bermakna kepentingan umum warga negara suatu bangsa (Sunarso, 2006 : 195). Dengan kata lain geopolitik di maknai sebagai ilmu penyelenggaraan negara yang setiap kebijakannya dikaitkan dengan masalah geografi wilayah atau tempat tinggal suatu bangsa. Dalam perkembangan pemikiran tentang geopolitik, telah muncul banyak defenisi dengan beraneka ruang lingkup, pembatasan dan lain sebagainya yang dapat memberikan pemahaman yang berlainan, menurut Dorpalen Geopolitik adalah ilmu pengetahuan tentang bumi yang berhubungan dengan proses politik. (Dorpalen, 1942).
2.1.1. Penggolongan Teori Geopolitik
Penggolongan teori geopolitik di klasifikasikan menjadi dua, pertama menurut GB De Huszar, T.H. Stevenson menjadi tiga kategori, pertama; kondisi geografis tata letak daratan dan laut. Dalam penjelasannya dia banyak memberikan contoh dari geografi yang berasal dari Sir Balford Mackinder (1861 – 1947) dari London dan Alfred T. Mahan (1840 – 1914) dari Amerika. Menurut GB De Huszar dan T.H.
Stevenson, teori Mackinder berbeda dengan Mahan karena Mackinder berdasarkan teori Heartlandnya sedangkan Mahan menekankan pada interpretasi pada Sea Power dimana mengontrol laut merupakan kunci untuk menguasai dunia, karena samudera dan laut sebagai suatu badan dari air yang menghubungkan setiap benua dan pulau.
Untuk daratan terputus dan berakhir pada coastland sedangkan laut tidak terputus dan berkelanjutan serta pengangkutan kapal lebih efisien dibandingkan dengan menggunakan pengangkutan yang lain.
1. Sir Halford Mackinder (1861 – 1947) dari London, mempunyai konsepsi geopolitik yang lebih strategik yaitu dengan penguasaan daerah jantung dunia, dikenal dengan
teori Daerah Jantung, ia merupakan orang pertama yang mengemukakan teori geostrategis kontinental. Untuk menguasai dunia maka harus menguasai daerah jantung sebab dunia terdiri dari 9/12 air, 2/12 pulau dunia dan ½ pulau. Oleh karena itu membutuhkan kekuatan darat yang besar sebagai prasyaratnya.
2. Alfred T. Mahan (1840 – 1914) dalam bukunya yang terkenal “The influence of the sea power upon history” atau pengaruh kekuatan laut terhadap sejarah 1660 – 1783. Ia berpendapat bahwa untuk menguasai dunia harus di imbangi dengan kekuatan maritim yang kuat, seperti yang disampaikan bahwa terdapat 6 pokok untuk mencapai kekuatan laut, yaitu;
Mahan made these the centerpiece of his thesis, the conditions were (1) the geographical position of a state vis a vis the sea, (2) the physical features of a state in relation to the seas, the lenghth of its coastline, and the number, depth, and protected nature of its harbors, (3) the extent of its territory and the relationship of physical geography to human geography, (4) the number of its population, (5) the commercial mindness or otherwise of the national character, (6) the character of the government.
(Mahan membuat pusat dari tesisnya dengan kondisi sebagai berikut; (1) posisi geografi dari suatu negara yang berhadapan dengan laut, panjang, dari daratan, dan nomor, kedalaman, bentuk alami dari pelabuhan, (3) tingkat dari wilayah dan hubungan dari pisik geografi ke geografi manusia, (4) jumlah dari populasi, (5) karakter nasional, (6) karakter dari pemerintah.
Kedua, sebagian orang berspekulasi bahwa dampak dari iklim mempengaruhi kelangsungan hidup manusia karena sesuai dengan kebiasaan hidup manusia. Pada awal abad kedua puluh seorang Ellsworth Huntington (1876 – 1947) yang berasal dari Universitas Yale Amerika Serikat, Hungtington berargumentasi bahwa pengaruh dari temperature atmosfir., kelembaban relative, tekanan barometer, sirkulasi udara, dan beberapa variabel perubahan iklim lainnya mempengaruhi perilaku dan kapasitas dari humang being atau perilaku kelangsungan hidup manusia.
Dia menjelaskan bahwa kenaikan dan penurunan cuaca secara berubah – ubah
mempengaruhi aktivitas kelangsungan hidup manusia, contohnya pada kerajaan Roma yang mempengaruhi aktivitas prajuritnya atau masyarakat karena pengaruh iklim baik musim panas dan dingin. Dengan kondisi iklim yang baik akan membuat seseorang bertahan dari pada saat musim dingin dingin khususnya pada saat dalam suatu pertempuran. Selanjutnya kategori yang ketiga; lokasi dan distribusi dari material atau bahan baku telah mempengaruhi kelancaran suatu sistem dari suatu kondisi geopolitik. Ahli geografi yang berasal dari Inggris James Fairgrive dan ahli geologi Taylor Thom dari Amerika berhipotesa bahwa kekuatan politik atau geopolitik modern dipengaruhi oleh sumber daya alam antara lain minyak yang berasal dari fosil maupun yang berasal dari non fosil. Teknologi modern akan berperan penting dalam peranan geopolitik dimasa yang akan datang.
3. Bertil Haggman mengemukakan penggolongan geopolitik yakni terdiri dari Geopolitik Klasik dan Modern. Menurut Bertil Geopolitik klasik terdiri dari paham atau teori dari Ratzel yang berasal dari Jerman, Rudolf Kjellen yang berasal dari Swedia, Karl Houshofer dari Jerman, Mackinder dari Inggris, Mahan dan Nicholas Spykman dari Amerika. Sedangkan geopolitik modern seperti Colin S. Gray dari Inggris yang menulis buku dengan judul „Geopolitics of the Nuclear Era‟ dimana ada beberapa ahli yang beranggapan bahwa geopolitik sudah ketinggalan jaman yang digantikan dengan geopolitik ekonomi.
a. Geopolitik Klasik
Seperti yang telah disebutkan diatas, yang tergolong geopolitik klasik adalah Ratzel, Rudolf Kjellen, Karl Housfer, Mackinder, Mahan dan Nicholas Spykiman, Douhet.
1) Fredrich Ratzel (1844 – 1940) yang berasal dari Jermal, menyatakan bahwa;
“....Every nation has a space conception, that is, an idea about the possible limits of its territorial dominant. Strong and young peoples have a large space conception, meaning that they strive for more territory and are inspired by new, wide spaces, small, insular peoples are, however, often satisfied with their geographic position and limited power. In ratzel terminology, this implies a decling space conception, leading ultimately but inevitably to their decadence and the loss of their independence. According to the characterictic Ratzel Phrase, the role of the space factor inworld politics is very significant. (...setiap negara mempunyai suatu konsep ruang, dimana negara memiliki keterbatasan territorial maka masyarakat muda memerlukan tambahan ruang yang luas berarti diperlukan terrotorial yang baru dan ruang yang lebar, sedangkan masyarakat kecil cukup puas dengan kondisi geografi dan keterbatasan tersebut. Menurut konsep ruang Ratzel negara memerlukan tamabahan ruang untuk mencukupi kebutuhan perkembangan masyarakat, dan faktor ruang berpengaruh signifikan di dalam dunia politik).
2) Rudolf Kjellen (1864 – 1922). Menurut Rudolf Kjellen kekuasaan lebih penting daripada hukum, sebab hukum hanya dapat ditegakkan oleh kekuasaan. Teorinya antara lain kekuasaan imperium daratan yang kompak akan mengejar kekuatan imperium maritim, dapat memiliki kekuasaan pengawas di laut dan beberapa negara besar akan menguasai Eropa, Afrika dan Asia Barat. Rudolf Kjellen memberikan pengertian baru antara lain pertama Geopolitik atau geografis dan negara, kedua Demo Politik atau populasi dari negara, ketiga eko politik atau sumber perekonomian dari negara, keempat socio politics atau struktur sosial dan negara, kelima Krato politik atau pemerintahan dan negara.
3) Nicholas J. Spykman (1893 – 1943). Spykman merupakan orang yang
mungkin daerah jantung menguasai dunia karena faktor alam, iklim, distribusi dan sumber daya alam. Spykman menerbitkan dua buku antara lain America‟s Strategy in world politics yang diterbitkan pada tahun 1942 mendekati perang dunia kedua. Perhatiannya dengan balance of power dengan argumennya isolationism. Buku kedua berjudul “The Geography of the peace” diterbitkan setelah Spykman meninggal, thesisnya yang berbunyi” who controls the Rimland rules Eurasia, who rules Eurasia controls the destinies of the world” (siapa yang menguasai daerah Ramland, menguasai Eurasia, dan akan menguasai dunia). Rimland dan Eurasia lebih tinggi nilainya daripada heartland. Rimland meliputi Eropa kecuali Rusia, Asia Kecil, Bangsa Arab, Asia Tenggara, China, dan Korea. Wilayah ini merupakan buffer zone antara kekuatan darat dan laut. Teori Nicholas J Spyman terkenal dengan teori Daerah Batas, yaitu membagi dunia dalam empat wilayah atau arena meliputi:
Pertama Pivot area meliputi daerah jantung
Kedua Rimland meliputi Eropa dan Asia.
Ketiga Offshore continen and island, mencakup wilayah pantai benua Eropa – Asia.
Keempat Oceanic Belt mencakup wilayah pulau diluar Eropa – Asia dan Afrika Selatan.
Kelima New World mencakup wilayah Amerika
b. Geopolitik Modern
Geopolitik modern dikaitkan dengan sumber daya alam dan pengaruh perkembangan ilmu teknologi baik di bidang informatika, science maupun
ekonomi. Seperti Colin S. Gray dari Inggris merupakan salah satu ahli geopolitik modern yang menulis buku dengan judul geopolitics of the Nuclear Era dimana beberapa ahli ada yang beranggapan bahwa geopolitik sudah ketinggalan jaman yang digantikan dengan geopolitik ekonomi, energy security karena kelangkaan dari sumber daya alam yang berasal dari fosil dan bisa digantikan dengan sumber dari nabati dengan kemajuan teknologi.
2.2 Strategi Maritim
Dalam lingkup maritim, pada hakikatnya strategi maritim mengacu kepada pembentukan kekuatan laut (sea power) seperti halnya juga signifikansi penegakan kekuatan daratan (land power). Dengan kata lain, strategi maritim mengandung dua pemikiran pokok yaitu penegakan kontrol atas lautan dan eksploitasi kontrol lautan tersebut ke arah penegakan kontrol atas daratan. (Joesoef, 2004: 96 – 97). Oleh sebab itu, strategi maritim modern tidak hanya merujuk hanya pada kekuatan angkatan laut dan strategi angkatan laut semata, melainkan strategi yang menggabungkan kekuatan laut, darat dan udara dalam upaya kontrol dan mempengaruhi situasi-situasi didaerah pertahanan pesisir negara, sebagai wujud aktivitas pertahanan di perairan laut dalam (blue water maritime). Luttwak mengemukakan strategi “..the art and science of developing and using political, economy , psychological and military forces as necessary during peace and war, to afford the maximum support to policies...”.
Tiga elemen penting dalam strategi maritim, yaitu sea control, sea denial, dan maritime power projection. Sea control adalah sebuah kondisi penguasaan penuh suatu negara terhadap area maritim atau lautnya untuk melakukan sebarang aksi.
Negara mempunyai kebebasan untuk menggunakan laut tersebut sesuai tujuannya (freedom to use) sekaligus jika diperlukan, menolak pihak lain yang beupaya
menggunakan laut tersebut. Selanjutnya sea denial, yaitu kondisi yang lebih memfokuskan pada penolakan pihak lawan untuk menggunakan perairan tertentu dalam jangka waktu tertentu pula. Aktivitas sea denial ini misalnya mencakup blokade terhadap kekuatan lawan dalam penggunaan jalur laut untuk kepentingan perdagangan. Sebuah negara secara simultan bisa menggabung sea control dalam satu area sekaligus sea denial di area lain, dan hal ini memberikan kebebasan suatu negara untuk bermanuver didalam area perairannya. Elemen ketiga adalah maritime power projection, yakni kemampuan dan kekuatan militer negara dibidang maritim untuk melakukan ekspedisi perang dalam upaya deterrence (menggetarkan lawan), ancaman maupun pengiriman sinyal peperangan. Termasuk kekuatan dalam hal modernisasi teknologi persenjataan serta ketersediaan juga kelayakan alat utama sistem senjata (alutsista).
2.3 Balance of Power dan Security Dilemma
Konsep balance of power pada dasarnya lebih menitikberatkan pada manajemen kontrol kekuatan suatu negara terhadap negara lain dalam upaya mempertahankan, meningkatkan keamanan atau mengimbangi kekuatan pihak lawan (Nye, 2005). Konsep balance of power mempunyai tiga cakupan kajian, yaitu:
Balances as distribution of power, balances of power as policy dan balance of power as multipolar system (Nye, 2005: 62). Balances as distribution of power terutamanya berkaitan dengan usaha terus menerus satu pihak dengan pihak lain untuk masing- masing meningkatkan kekuatannya dipicu oleh dilemma keamanan sehingga tidak ada satu pihak yang menjadi hegemon tunggal. Hal ini memang memicu perlombaan senjata, namun justru dalam keadaan ini, menurut realisme defensif akan terwujud
stabilitas keamanan. Dalam konteks balances of power as policy, adalah menyangkut aktivitas atau perilaku negara dalam menghadapi sumber ancaman. Negara
Selanjutnya Menurut Herz (1950), setiap usaha peningkatan kekuatan pertahanan suatu negara akan direspon oleh negara lain dengan strategi peningkatan keselamatan, dan situasi ini disebut sebagai security dilemma. Selama konteks internasional dipersepsikan anarki, hubungan antar negara selalu dipenuhi dengan kecurigaan dan kesalahpahaman. Karena itu, setiap negara bersaing dalam meningkatkan kapasitas dan kekuatan militernya untuk menjadi yang terbaik dalam peningkatan kekuatan pertahanan dalam ketidakpastian keamanan sistem internasional.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan suatu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah yang ada pada masa sekarang berdasarkan fakta dan data-data yang ada. (Prasetyo, 2005 : 42). Jenis penelitian deskriptif ini gunakan untuk menjelaskan awal masalah atau objek tertentu secara terperinci. Penelitian deskriptif ini juga akan membantu dalam menjawab pertanyaan mengenai keadaan objek atau subjek tertentu secara rinci. (Bagong, 2005 : 17 - 18). Selanjutnya Menurut Whitney, metode deskriptif adalah pencarian masalah-masalah dalam masyarakat, serta cara yang berlaku dalam masyarakat serta dituasi-situasi tertentu, termasuk hubungan-hubungan kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. (Nazir, 1998 : 64).
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini pada dasarnya menggunakan jenis penelitian kualitatif. Pada tahapan awal peneliti akan mencari data – data maupun dokumen yang berkaitan dengan peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan kelautan Indonesia, kemudian menghubungkan dengan teori yang ada, yang tentunya relevan dengan tema penelitian serta selanjutnya melakukan analisis berdasarkan data dan teori yang ada, sehingga tersusun secara deskriptif. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bogdan dan Taylor bahwa penelitian kualitatif merupakan salah satu prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif kualitatif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang diamati. (Prastowo, 2011 : 22).
3.2.Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hal tersebut dimaksudkan untuk memastikan keakuratan hasil penelitian:
1. Teknik Pengumpulan Data Primer
Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian. Pengumpulan data tersebut dilakukan melalui wawancara, yaitu dengan cara memberikan pertanyaan langsung kepada sejumlah pihak yang terkait yang didasarkan pada percakapan insentif dengan suatu tujuan untuk memperoleh informasi penelitian yang telah ditetapkan. Wawancara adalah pertemuan antara periset dan responden, dimana jawaban responden akan menjadi data mentah. (Horison, 2007 : 104). Adapun teknik yang dilakukan dalam pencarian Narasumber atau Informan menggunakan teknik snowball sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan mengajukan pertanyaan kepada subkelompok untuk mengidentifikasi orang lain yang mungkin bisa kita teliti pula;
misalnya, anggota kelompok ekstremis atau bawah tanah. (Horison : 25) diantaranya:
Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional,
Kementerian Luar Negeri RI, yakni Bapak Dr. iur. Damos Dumoli Agusman, SH, MA.
Dr. Surryanto, D.W., yakni Perwakilan Universitas Pertahanan.
Deputi Bidang Politik Luar Negeri Kementerian Luar Negeri, Drs. Luthfi Rauf, M.A.
Peneliti Pusat Kajian Selat Malaka Sumatera di Universitas Sumatera Utara.
Informan yang bersangkutan terhadap pencarian data
penelitian.
2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan instrumen sebagai berikut:
a. Studi Pustaka, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku- buku, karya ilmiah, jurnal, dokumen, dan pendapat para ahli yang memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti yakni berkaitan dengan strategy China dalam Menghadapi Malacca Dilemma di Selat Malaka.
b. Studi Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dengan menggunakan catatan – catatan tertulis yang ada dilokasi penelitian serta sumber-sumber lain yang menyangkut masalah yang sedang di teliti.
3.3.Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Hal tersebut dikarenakan penelitian ini hanya menganalisis data dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data-data yang sudah dikumpulkan seadanya tanpa ada maksud membuat generalisasi dari hasil penelitian.
3.4.Sistematika Penulisan
BAB SUB BAHASAN
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian
BAB 2 Teori yang di gunakan dalam penelitian
Geopolitik Strategi Maritim Balance of Power
BAB 3 Metodologi Penelitian
Jenis Penelitian
Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisa Data
BAB 4 Pembahasan
Penjelasan Ringkas Selat Malaka
Jalur Perdagangan China di Selat Malaka
BAB 5 Strategi China Menghadapi Malacca
Dilemma di Selat Malaka
Identifikasi Indonesia dalam Menghadapi Strategi China
BAB 6 Kesimpulan
Saran
BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISA
4.1. Selat Malaka secara Geopolitik/ Chokepoint Selat Malaka
Selat Malaka berada pada tiga batas negara yaitu Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Dimana Selat ini merupakan jalur penting dalam bidang pelayaran. Sejak berabad-abad Selat Malaka menjadi jalur perbiagaan bangsa- bangsa Romawi, China, Persia, Yunani dan Arab di kawasan Asia Tenggara.
Pada era kolonialisasi, Selat Malaka dikuasai Belanda, Portugis dan Inggris untuk menghubungkan Afrika dan India dengan China, Jepang dan Asia Tenggara sebagai jalur pengankutan komoditi hasil eksploitasi, penjajahan maupun perdagangan. Hingga sekarang, Selat Malaka menjadi jalur pelayaran internasional antara Timur dan Barat yang penting karena sepertiga dari perdagangan dunia dan separuh dari pengangkutan minyak dunia atau sumber energi dunia, menggunakan akses melalui Selat Malaka (Percival 2005 & Pena 2009 dalam Kusuma 2013). Sebagai urat nadi perekomian dan jalur pelayaran internasional yang padat, tentu saja keamanan dan keselamatan (security and safety) pelayaran di Selat Malaka menjadi salah satu agenda negara-negara besar di Asia hingga Amerika Serikat. Terutamanya sejak kebangkitan ekonomi negara-negara di Asia seperti Jepang, China dan India, yang ditandai dengan adanya ekspansi ekonomi dan interdependensi kawasan Asia Timur dengan kawasan lain. Meningkatnya liberalisasi perdagangan, volume ekspor- impor negara-negara industri ini ke seluruh kawasan di dunia termasuk Asia
Tenggara, juga dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan akan pasokan sumber energi dan kebutuhan kemanan lalulintas perdagangannnya.
Posisi Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional adalah strategis sebagai rute efektif dalam Sea Lines of Communication (SLOC) dan Sea Lines of Transportasional (SLOT) bagi kemanan pasokan dan pengangkatan sumber energi negara-negara besar dengan kawasan Asia Barat maupun Afrika. Terdapat tiga kepentingan negara-negara besar di Selat Malaka yaitu kaitannya dengan kekuatan persenjataan dan proyeksi kekuatan militer, kepentingan komersil atau perdagangan melalui jalur maritim, dan eksploitasi sumber daya kelautan. Pertarungan keseimbangan kekuatan (balance of power) di Selat ini kemudian menjadi kajian yang menarik dalam konteks keamanan regional maupun ekstraregional. (Tara Singh : 2012).
Gerard & Webb (2006) dalam Ayushia (2014) menjelaskan bahwa bagi dua kekuatan ekstraregional Asia Tenggara, yaitu China dan India, keamanan Selat Malaka salah satu prioritas dalam kepentingan geostrategik di Asia Tenggara. Dua negara pengguna Selat ini (strait user), sama-sama membutuhkan keamanan Selat Malaka sebagai penghubung ekspor – impor barang dan pasokan energi dari Afrika dan Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Timur dan Asia Pasifik. Sedangkan Selat Malaka sendiri termasuk satu daripada choke points zona maritim di dunia yang paling berbahaya dan hotspot kejahatan transnasional yang terorganisir.
Perekonomian China tergantung pada keamanan di Selat Malaka karena sekitar 80% impor impor sumber energi dan perdagangan China melalui Selat
Malaka, sehingga strategi pengamanan Selat Malaka menjadi satu agenda penting keamanan dan pertahanan China. Secara lebih luas, China menginginkan keamanan jalur laut pengangkutan sumber energinya (SLOC dan SLOT) mulai dari Bab el-Mandeb, Selat Hormuz, ke Selat Malaka hingga melewati Laut China Selatan dalam alur string of pearls. (Ayushia, 2014).
4.2. Kepentingan Cina di Selat Malaka
Proses pengawalan dan keamanan kepentingan China di Selat Malaka juga tak lepas dari bagaimana China mempersepsikan upaya penghambatan dan pembendungan negara-negara besar (terutamanya Amerika Serikat) maupun negara-negara pantai dalam upaya pencapaian agenda keamanan energi China. Seperti pernyataan Hu Jintao pada November 2003, “Some big powers have tried to control and meddle in the Strait of Malacca Shipping lanes... (we need) a new strategy... to ensure energy security” (Khurana, 2011 : 56).
Tidak hanya lalu lintas perdagangan dan sumber energi, Selat Malaka juga menjadi lalu lintas perdagangan persenjataan, misil balistik maupun senjata nuklir bagi China mengingat upaya memodernisasi persenjataan dan masih maraknya konflik yang terjadi dengan beberapa negara menyangkut kemerdekaan wilayah maupun klaim teritori. (Ayushia: 2014).
Signifikansi Selat Malaka bagi India adalah menjadi laut penghubung (sea-link) dari Samudera India melalui Laut Andaman dengan Samudera Pasifik. Kepentingan India dalam keamanan jalur laut dari Teluk Benggala sampai ke Laut Andaman dan Selat Malaka utamanya adalah untuk mengamankan aset ekonomi kekayaan alam Pulau Andaman dan Nicobar
sebagai bagian ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) dan landas kontinen (Singh, 2008: 3 – 4). Selat Malaka menjadi rute terpendek menghubungkan Teluk Persia dengan Asia Timur dan Amerika Serikat, sehingga menjadi choke points penting di Samudera Hindia.
Seperti halnya China, kepentingan India di Selat Malaka juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi melalui lalu lintas perdagangan dan sumber energi dimana sekitar 30% per tahun barang-barang perdagangan India melewati Selat ini. kepentingan India di Selat Malaka ini juga merujuk pada menguatnya hubungan India dengan negara-negara di Asia Tenggara baik secara ekonomi, politik maupun kerjasama militer yang diperkuat dengan kebijakan “look east policy” dan “act east policy” untuk meluaskan pengaruh India di kawasan ini. Selat Malaka sendiri juga menjadi media persaingan India terhadap ancaman perluasan pengaruh China di Asia Tenggara. Aliansi India bersama Amerika Serikat, Jepang dan Australia melalui skema Proliferation Security Inisiative (PSI) dalam kerangka Regional Maritime Security Proliferation (RMSI), vital kaitannya untuk memata-matai aktivitas China, Korea Utara dan Pakistan di Asia Pasifik (Prabhakar, 2009 : 226).
Sebagai negara yang kuat di kawasan, kekuasaan maritim India ingin ditingkatkan terutamanya mencakup perluasan area maritim dan agenda angkatan laut melalui “blue water navy” untuk tidak hanya mencakup Samudera Hindia saja. Hal ini tercermin dalam doktrin maritim India
“....envisages an ambient forward naval presence from the Strait of Hormuz to the Strait of Malacca” (Vavro, 2008 : 17).
India sebagai responsible power juga melihat Asia Tenggara dalam cakupan objek kebijakan regional dengan menitikberatkan pada penggunaan soft power. Doktrin Gujral tahun 1998 di kawasan Asia Selatan misalnya, menyebutkan tentang prinsip timbal balik, bahwa India mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dan seyogyanya membantu negara tetangga yang lebih kecil dalam penguatan hubungan ekonomi, politik dan keamanan (Schmidt, 2011). Sedangkan dikawasan Asia Tenggara, implementasi kebijakan Look East Policy India di tahun 1991 dalam pemerintahan PM Narasimha Rao menjadi landasan bagi negara ini untuk menjalin hubungan dengan negara- negara Asia Tenggara termasuk juga kerjasama angkatan lautnya. Kebijakan Look East Policy yang sekarang berganti nama menjadi Act East di bawah kepemimpinan PM Narendra Modi mempunyai muatan yang sama terutamanya untuk menguatkan hubungan dengan Asia Tenggara dalam kepentingan ekonomi dan counter terhadap pengaruh China. (Jacob: 2014).
Kepaswadaan India terhadap terhadap perluasan kekuatan China di Asia Tenggara dan kegelisahan mengenai ekspansi militer China hingga ke Samudera Hindia, menjadi alasan India untuk membuat strategi maritim dengan power projection membangun Far Eastern Naval Command/ANC) di Pelabuhan Blair di tahun 2001. Pembangunan ANC ini juga dibantu oleh Amerika Serikat sebagai aliansi strategis di Asia Tenggara dalam politik pembendungan terhadap China.
Upaya ini dilakukan untuk menyatukan angkatan darat, laut dan udara di bawah satu arahan struktur untuk meningkatkan jangkauan maritim serta memperketat pengawasan terhadap jalur dari Selat Malaka hingga ke Teluk Benggala. India juga melakukan peremajaan.upgrade pangkalan di Pulau
Andaman dan Nicobar. Modernisasi kapabilitas maritim India juga meningkat terlihat dari modernisasi kapal-kapal laut dengan bermacam varian, kapal bawah laut, persenjataan mesiu presisi terpadu (precision-guided munitions/PGMs) maupun sistem-sistem intelijen, kontrol dan komando (Singh, 2008 : 58). Lebih lanjut Analis Kajian Maritim, Zhang Min mengatakan bahwa pembangunan ANC ini adalah upaya tirai besi atau metal block di Samudera Hindia, memblokade akses China terutamanya untuk melewati Selat Malaka. (Rai, 2009).
Selain melakukan upgrade pelabuhan-pelabuhan di Andaman dan Nicobar, India juga membangun pangkalan udara untuk memonitor keamanan lalu lintas di sekitar Teluk Benggala hingga ke Selat Malaka. India juga meningkatkan hubungan aliansi dengan Jepang, Vietnam dan Singapura serta latihan-latihan perang kapal laut (naval exercises) dengan US Navy (Vavro, 2008 : 17).
India juga menggunakan angkatan lautnya untuk keterlibatan politik- domestik dengan negara-negara pantai. Satu hal yang penting adalah penggunaan pertama kali kapal induk INS Viraat yang melalui Selat Malaka pada tahun 2005. Kapal tersebut melakukan kunjungan ke Port Klang (Malaysia) diteruskan ke Singapura dan Jakarta (Indonesia). Pada tahun 2006 dalam dialog Shangri-la, kementerian pertahanan India menawarkan bantuan atau kapasitas lain untuk membantu menambah keamanan Selat Malaka.
Angkatan laut India juga ikut dalam koordinasi patroli laut dengan Indonesia sejak 2001 (Patkor Indindo) dan Thailand sejak 2005, juga kerjasama yang sama dengan Myanmar dan Malaysia. (Ayushia, 2014)