• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dinamika Psikologi dalam Proses Berhutang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Dinamika Psikologi dalam Proses Berhutang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

27

Dinamika Psikologi dalam Proses Berhutang

Raden Sungging Prabangkoro Aji

Program Pascasarjana Magister Sains, Universitas Surabaya (UBAYA) Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya

[email protected]

ABSTRAK

Hutang merupakan realitas sosial yang sudah mendarah daging dalam k ehidupan masyarak at sejak lama. Ada banyak contoh yang mengk aji utang dari sudut pandang debitur, tetapi sedik it yang membahasnya dari sudut pandang kreditur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dinamik a psik ologis seseorang dalam memberikan hutang, alasan mengapa seseorang bersedia memberik an hutang, dan alasan mengapa seseorang menagih atau tidak menagih hutang. Untuk menjawab masalah ini, teori prososial Baron & Byrne digunakan untuk menjelask an dinamik a psik ologi seseorang dari sudut pandang k reditur. Desain penelitian yang digunakan adalah metode survei k uantitatif dengan menggunakan k uesioner berupa google form sebagai instrumen penelitian. Pemilihan partisipan dalam penelitian ini dilak uk an secara acak . Data tersebut ak an dianalisis menggunak an pendek atan indigenous psik ologi. Hasilnya adalah dinamik a psik ologis seseorang yang memberik an hutang tergolong perilaku prososial dengan k ategori altruisme. Alasan pemberian hutang adalah k arena fak tor teman dan rasa kasihan. Studi lebih lanjut diperluk an dari perspek tif lain seperti ilmu sosial dan ek onomi.

Kata Kunci : Altruisme, Hutang, Psikologi Pribumi, Prososial

PENDAHULUAN

Masyarakat Indonesia lekat dengan kebudayaan gotong – royong. Bahkan masyarakat Indonesia memiliki semboyan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Artinya adalah, masyarakat Indonesia sangat dekat dengan kebiasaan untuk membantu sesama (keluarga, sahabat, tetangga, dan lain sebagainya). Kebudayaan gotong – royong, memiliki penyebutan yang berbeda pada tiap masyarakat di Indonesia. Namun, konsep dan penerapan keseluruhannya sama. Sebagai contoh, pada penelitian Subiyakto et al (2017), membahas kebudayaan gotong – royong masyarakat Banjar dengan sebutan Bahaul. Prinsip dari tradisi Bahaul adalah, masyarakat saling membantu dalam pengerjaan fasilitas umum. Masyarakat Banjar rela untuk memberikan tenaga bahkan dana atau uang mereka untuk proses pengerjaannya. Kebudayaan gotong – royong, menjadikan masyarakat indonesia untuk belajar peduli dengan sesamanya. Bentuk pertolongan yang diberikan, bisa berupa tenaga, pikiran, dan uang. Bentuk pertolongan yang sering dilakukan, salah satunya adalah bantuan dalam bentuk uang. Seperti dalam penelitian Hakim (2015), ketika pemilik toko kasihan dengan pembelinya, ia rela untuk memberikan hutang kepada pembeli agar dapat melunasi dilain hari.

Hutang sudah menjadi hal yang umum bagi masyarakat Indonesia, karena tidak hanya dilakukan secara individu atau perorangan (contohnya ketika seseorang berhutang uang kepada teman atau keluarganya) tetapi juga dilakukan oleh sekelompok orang (contohnya, perusahaan meminjam uang kepada bank untuk jaminan modal perusahaan) (Hidayat, 2013, disitat dalam Dara 2018). Hutang memiliki fungsi sebagai pembentuk keseimbangan anta ra tiga kepentingan, yaitu kepentingan masyarakat (konsumen), kepentingan pemerintah, dan kepentingan pemilik modal (pengusaha) (Suyatno, 2007, disitat dalam Renanita & Hidayat, 2013). Ada beberapa alasan mengapa seseorang rela untuk memberikan pinjaman a tau hutang kepada orang lain. Sebagai contoh, pada penelitian Hakim (2015), disebutkan bahwa

(2)

28 toko bahan bangunan Sumber Makmur Pegandon Kendal memberikan layanan pembayaran tunda atas barang yang dijual, artinya toko akan menerima uang ketika barang sudah diterima konsumen dahulu. Hal ini merupakan strategi bisnis dari toko tersebut. Selain untuk strategi marketing, seseorang memberikan hutang karena faktor iba. Perilaku menolong karena rasa iba bisa disebut sebagai perilaku prososial. Terdapat banyak kasus yang membahas berhutang dari segi peminjam hutang, namun masih sedikit yang membahas dari sudut pandang pemberi hutang. Sehingga peneliti akan melihat bagaimana dinamika psikologi seseorang dalam memberikan hutang, faktor-faktor seseorang rela memberikan hutang serta alasan seseorang menagih atau tidak menagih hutang tersebut.

KAJIAN TEORI

Pengertian Prososial – altruisme

Masyarakat indonesia memiliki kebudayaan untuk saling toloing menolong atau gotong – royong. Penyebutan gotong – royong ada beragam, namun jika dilihat menggunakan sudut pandang teori psikologi, perilaku ini termasuk perilaku prososial. Perilaku prososial menurut Baron, Branscombe, & Byrne (2008, disitat dalam (Umayah et al., 2017) adalah, perilaku menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Perilaku prososial terbagi menjadi dua kategori menurut Dovidio dkk (dalam Schroeder & Graziano, 2015 disitat dalam Umayah et al., 2017), yaitu 1) helping behavior atau perilaku menolong dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dari segi penolong, 2) Altruisme adalah perilaku menolong tanpa mengharapkan adanya keuntungan bagi penolong. Pengertian altruisme, adalah tindakan sukarela untuk memberi manfaat bagi orang lain, dan didasari oleh motivasi dari internal (Batson, 2004 ; Eisenberg & Mussen, 1989, disitat dalam Shadiqi, 2018).

Menurut Grusec (2002, disitat dalam Shadiqi, 2018). Pada perilaku altruisme terdapat kesukarelaan dalam membantu orang lain yang memunculkan biaya atau pengorbanan tertentu pada pemberi bantuan. Faktor – faktor yang menentukan munculnya perilaku prososial adalah, 1) faktor internal (mood dan emphaty – altruism hypothesis atau empati yang memunculkan rasa altruism), 2) faktor eksternal (role model) (Baron & Byrne, 1994, disitat dalam Umayah et al., 2017)

Pengertian Hutang

Hutang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memiliki arti sebagai uang yang dipinjami dari orang lain. Jadi jika seseorang berhutang maka ia dalam kondisi sedang meminjam uang dan harus mengembalikan uang pinjaman kepada pemilik uang. Hutang menurut Manning (disitat dalam Renanita & Hidayat, 2013), adalah salah satu kebijakan ekonomi modern. Sehingga berhutang memiliki dampak positif dan negatif. Dampak negatif dalam berhutang menurut Paquette (disitat dalam Renanita & Hidayat, 2013) adalah, mengganggu aktivitas ekonomi khususnya untuk perusahaan yang menggunakan sistem hutang atau kredit dalam penjualannya dan meningkatnya potensi untuk bangkrut jika peminjam lalai dalam membayar hutang. Dampak positif dalam berhutang adalah, masyarakat mampu mendapatkan kebutuhan sehari-hari meskipun dalam keadaan tidak memiliki uang (Dara, 2018).

METODE

Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan menggunakan metode kuantitatif survey.

Keunggulan menggunakan desain survei adalah, peneliti dapat mengumpulkan informasi

(3)

29 yang beragam dan banyak pada suatu populasi. Selain itu, teknik survey merupakan teknik yang menggunakan kuisioner sebagai instrumen penelitian. Pada pengambilan data survei, data tidak dimanipulasi oleh peneliti (Priyono, 2016).

Partisipan

Partisipan pada penelitian ini, memiliki kriteria sebagai berikut : 1) Pernah memberikan hutang dengan minimal 50% dari uang tabungan atau gaji, 2) sudah bekerja atau seorang mahasiswa dengan pemasukkan uang rata-rata Rp 2.000.000 hingga Rp 4.000.000 dalam satu bulan. Pemilihan partisipan pada penelitian ini dilakukan secara acak, pemilihan partisipan ditentukan melalui partisipan yang mengisi kuisioner di google form, dan hanya partisipan yang sesuai dengan kriteria masuk dalam data penelitian.

Instrumen penelitian

Bentuk pertanyaan penelitian berupa closed – ended quistionnaire dan beberapa jawaban menggunakan open – ended quistionnaire. Hasil jawaban penelitian akan dianalisis dengan distribusi frekuensi. Jadi peneliti akan berfokus pada beberapa jawaban yang sering muncul pada kuisioner. Pertanyaan kuisioner didapat melalui wawancara awal peneliti pada beberapa subjek secara acak, sehingga menghasilkan beberapa pertanyaan umum untuk partisipan. Melalui hasil wawancara, pertanyaan akan dikembangkan sehingga menjadi hasil secara umum dan disesuaikan dengan kondisi yang umum terjadi pada masyarakat.

Analisis data

Pada penelitian ini, data akan dianalisis menggunakan pendekatan psikologi indigenous. Melalui pendekatan psikologi indigeneous peneliti dapat memahami konteks sosial, budaya, dan ekologi dengan menggunakan sudut pandang teori psikologi (disitat dari Koch & Leary dalam Uichol, 2006 disitat dalam Hakim, 2014). Hasil responden akan diolah berdasarkan hasil jawaban yang sering muncul dan memiliki kesamaan dalam menjawab kuisioner.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut hasil yang didapat dari responden,

Tabel 1 Pendapatan Responden Berapa besar

pendapatan anda?

Jumlah Partisipan

Persentase (%)

1 juta – 3 juta 10 40

3 juta – 5 juta 6 24

6 juta – 9 juta 5 20

Di atas 10 juta 4 16

Berdasarkan tabel 1, mayoritas responden memiliki pendapatan berkisar 1 juta rupiah hingga 3 juta rupiah, yaitu sebesar 40%. Sedangkan sebanyak 16% responden memiliki pendapatan di atas 10 juta.

Tabel 2 Peminjam Hutang Siapakah yang

meminjam hutang kepada anda?

Jumlah Partisipan

Persentase (%)

Teman 21 84

Keluarga 4 16

Berdasarkan tabel 2, peminjam hutang terbanyak dengan persentase 84% adalah berasal dari teman, sedangkan 16% berasal dari keluarga.

Tabel 3 Alasan Memberi Hutang

(4)

30 Alasan meminjamkan hutang? Jumlah

Partisipan

Persentase (%)

Kasihan kepada yang meminjam hutang 14 56

Sungkan untuk menolak 3 16

Menolong penghutang 3 12

Penghutang dari keluarga atau teman 3 12

Bentuk balas budi 2 8

Pada tabel 3, jawaban terbanyak partisipan tentang alasan meminjamkan hutang adalah “Kasihan kepada yang meminjam hutang”, yaitu sebesar 56%. Alasan “bentuk balas budi” memiliki persentase terkecil, yaitu sebesar 8%.

Tabel 4 Jumlah Hutang Jumlah hutang yang dipinjamkan? Jumlah

Partisipan

Persentase (%)

Di atas Rp10.000.000,00 10 40

Rp2.000.000,00 – Rp5.000.000,00 7 28

Di bawah Rp1.000.000,00 6 24

Rp6.000.000,00 – Rp9.000.000,00 2 8

Hasil pada tabel 4, presentase terbesar untuk pertanyaan jumlah hutang yang diberikan dengan persentase 40% partisipan adalah di atas Rp 10.000.000. sedangkan jumlah hutang Rp. 6000.000,00-9.000.000,00 sebesar 8%.

Tabel 5 Menagih Hutang Apakah anda menagih hutang

kepada peminjam?

Jumlah Partisipan

Persentase (%)

Ya 14 56

Tidak 11 44

Pada tabel 5, mayoritas responden (56%) menagih hutangnya, sedangkan 44% tidak menagih hutangnya. Pada responden yang tidak menagih hutang mayoritas, alasan responden tidak menagih karena kasihan kepada peminjam hutang. Pada responden yang menagih hutang, alasan mereka menagih karena jumlah hutang yang dipinjami besar.

DISKUSI

Berdasarkan hasil kuisioner yang didapat, dari 25 partisipan mendapatkan hasil 25 orang pernah memberikan hutang kepada orang lain. Partisipan yang memberikan hutang, mayoritas (84%) memberikan hutang kepada teman. Alasan partisipan memberikan hutang, mayoritas (56%) karena kasihan pada peminjam hutang. Sifat partisipan kasihan dan akhirnya mau menolong, jika dikaitkan dengan teori psikologi merupakan cerminan dari penerapan teori prososial. Menurut Baron, Branscombe, & Byrne (2008, disitat dalam (Umayah et al., 2017), orang dengan sikap prososial cenderung tidak mengharapkan imbalan. Justru orang tersebut akan rela untuk memberikan bantuan kepada seseorang yang membutuhkan pertolongan. Sebagai contoh, dalam penelitian ini partisipan rela memberikan bantuan dalam bentuk uang. Bentuk prososial partisipan, termasuk dalam kategori altruism, yaitu partisipan menolong penghutang tanpa adanya pemikiran untuk mengambil keuntungan (Dovidio dkk dalam Schroeder & Graziano, 2015 disitat dalam Umayah et al., 2017). Alasan ini diperkuat ketika mayoritas jawaban dari responden memberikan hutang karena kasihan kepada

(5)

31 penghutang. Jumlah uang yang dipinjamkan partisipan cukup beragam. Namun ada hal yang menarik, yaitu mayoritas responden (40%) memiliki pendapatan berkisar 1 juta rupiah hingga 3 juta rupiah, dan mayoritas kedua (24%) partisipan memiliki penghasilan di antara 3-5 juta rupiah. Tetapi jumlah terbanyak yang diberikan partisipan ketika meminjamkan hutang, berada di atas 10 juta rupiah. Hal ini menunjukkan, adanya kemungkinan partisipan rela memberikan uang tabungannya untuk penghutang. Perilaku ini menguatkan bahwa partisipan memiliki perilaku prososial pada kategori altruisme, karena rela mengorbankan uang tabungannya untuk diberikan kepada orang lain.

Pada proses menagih hutang, hasil jawaban partisipan terbagi menjadi dua bagian, yaitu peminjam yang menagih hutang dan peminjam yang tidak menagih hutang. Alasan bagi partisipan yang menagih hutang, jawaban terbanyak karena jumlah uang yang dipinjamkan besar atau banyak. Namun bagi partisipan yang memberi jawaban tidak menagih hutang, jawaban mereka karena ikhlas tidak menagih hutang. Salah satu faktor partisipan tidak menagih, karena penghutang rata-rata berasal dari teman atau sahabat partisipan. Seperti pada penelitian Nursyahrurahmah (2018), menunjukkan hubungan antara empati dengan persahabatan, membawa dampak kebahagiaan pada individu. Hal ini menjadi salah satu alasan, partisipan ikhlas dan enggan untuk menagih hutangnya. Melalui penelitian ini, peneliti menyadari adanya beberapa kekurangan pada penelitian ini. Peneliti hanya berfokus pada dinamika psikologi yang terjadi pada proses peminjaman hutang. Perlu ada kajian kembali bagaimana dinamika psikologi ketika menagih hutang, serta bagaimana dinamika psikologi pada partisipan yang menagih hutang atau partisipan yang tidak memberikan hutang. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu, penelitian ini mendukung penelitian terdahulu dengan banyak berfokus pada sudut pandang ilmu psikologi. Dapat menjadi acuan tambahan untuk pembaca, untuk melihat dinamika berhutang jika dilihat dari segi ilmu ekonomi, sosial, dan budaya. Partisipan pada penelitian ini, rata-rata berasal dari daerah kota Surabaya. Hasil akan berbeda ketika karakteristik partisipan diambil dari daerah desa.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, mayoritas partisipan memiliki pengalaman meminjamkan hutang. Partisipan memberikan hutang, berasal dari lingkup teman, serta alasan mayoritas karena ingin menolong peminjam hutang karena kasiha. Perilaku partisipan merupakan perilaku altruisme, yaitu perilaku menolong tanpa mengharapkan imbalan atau keuntungan apapun. Faktor teman atau sahabat, mengakibatkan adanya tanda empati pada partisipan, sehingga partisipan rela untuk memberikan hutang. Mayoritas partisipan yang memberikan hutang, dengan jumlah di atas 10 juta rupiah. Pada proses penagihan hutang, partisipan terbagi menjadi dua yaitu partisipan yang menagih hutang dan partisipan yang tidak menagih hutang. Alasan partisipan yang menagih hutang, karena jumlah uang yang dipinjamkan besar. Pada partisipan yang tidak menagih hutang, mereka beralasan ikhlas hutangnya tidak dibayarkan. Perilaku ikhlas terhadap hutang, menguatkan perilaku altruisme pada partisipan.

REFERENSI

Ardian Novianto, Tri Yuliyanti, J. H. W. (2018). Strategi Komunikasi Petugas Ctb Pra Npc Payment Collections Dalam Menagih Pembayaran Pelanggan Internet Indihome. Jurnal Representamen.

Asih, G. Y., & Pratiwi, M. M. S. (2010). Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati Dan Kematangan Emosi. Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus, I(1), 33–42.

http://eprints.umk.ac.id/268/1/33_-_42.PDF

(6)

32 Dara, U. (2018). Hutang Piutang Di Kalangan Buruh Perempuan Di Desa Jetis, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Departemen Sosiologi: Universitas Airlangga, 151(2), 10–

20.

Fitriani, A., Sjabadhyni, B., & Meinarno, E. (2009). Hubungan Antara Prioritas Tipe Nilai Motivasional Dan Perilaku Berhutang Pada Etnis Betawi. Jurnal Ilmiah Psikologi Gunadarma, 3(1), 99658. https://doi.org/10.35760/psi

Nurmalina, N., & Sulastri, S. (2019). Hubungan Antara Self Control Dengan Perilaku Berhutang Pada Mahasiswa Fakultas X Universitas Muhammadiyah Lampung.

ANFUSINA: Journal of Psychology, 2(1), 31–40. https://doi.org/10.24042/ajp.v2i1.4154 Nursyahrurahmah. (2018). Hubungan Antara Kualitas Persahabatan Dan Empati. Jurnal

Ecopsy, 5, 88–93.

Puspita, R. S. D., & Gumelar, G. (2014). Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial Dalam Berbagi Ulang Informasi Atau Retweet Kegiatan Sosial Di Jejaring Sosial Twitter. JPPP - Jurnal Penelitian Dan Pengukuran Psikologi, 3(1), 1–7.

https://doi.org/10.21009/jppp.031.01

Priyono, M. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif. Sidoarjo : Zifatma Publishing

Renanita, T. (2013). Faktor-faktor Psikologis Perilaku Berhutang pada Karyawan Berpenghasilan Tetap. Jurnal Psikologi UGM, 40(1), 92–101.

https://doi.org/10.22146/jpsi.7069

Shadiqi, M. A. (2018). Perilaku Prososial. Dalam A. Pitaloka, Z. Abidin, & M. N. Milla (Eds.), Buku psikologi sosial, pengantar teori dan penelitian (227-260). Jakarta: Salemba Humanika.

Shohib, M. (2015). Sikap Terhadap Uang dan Perilaku Berhutang. Jurnal: Ilmiah Psikologi

Terapan, 53(9), 1689–1699.

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jipt/article/view/2133/2281

Umayah, A. N., Ariyanto, A., & Yustisia, W. (2017). Pengaruh empati emosional terhadap perilaku prososial yang dimoderasi oleh jenis kelamin pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Sosial, 15(2), 72–83. https://doi.org/10.7454/jps.2017.7

Gambar

Tabel 1 Pendapatan Responden  Berapa  besar  pendapatan  anda?  Jumlah  Partisipan  Persentase  (%)  1 juta – 3 juta  10  40  3 juta – 5 juta  6  24  6 juta – 9 juta  5  20  Di atas 10 juta  4  16
Tabel 4 Jumlah Hutang  Jumlah hutang yang dipinjamkan?  Jumlah

Referensi

Dokumen terkait

Sasaran pelayanan bimbingan dan konseling adalah individu-individu baik secara perorangan aupun kelompok yang menjadi sasaran pelayanan pada umumnya adalah

Contohnya, pada saat siaran Seputar Indonesia di RCTI, secara serentak dapat diterima oleh khalayak (pemirsa) dalam jumlah yang besar pula... 2) Proses komunikasi massa juga

Hutang piutang pupuk urea dibayar dengan uang yang sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Laju Kidul dilakukan oleh orang-orang kaya yang mempunyai sawah atau kebun luas,

Adalah tindakan yang mempengaruhi individu yang mempengaruhi individu lain dalam masyarakat dan merupakan tindakan bermakna yaitu tindakan yang dilakukan

1) Memberi komentar, penilaian, mendiskusikan, pengarahan apapun berkaitan dengan kontestan Pemilu dan Pilkada kepada keluarga atau masyarakat. 2) Secara perorangan/fasilitas berada

• Suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksinya dengan.

Teknik ini dilakukan melalui pengamatan secara langsung, dan selama penelitian penulis berusaha menjadi pengamat sebagai pemeranserta yang secara terbuka diketahui oleh

Modus pencucian uang yang dapat dilakukan untuk menyembunyikan uang dari hasil tindak pidana korupsi di Indonesia secara umum dilakukan adalah placement (upaya