1
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Fraktur atau patah tulang dapat didefinisikan sebagai terputusnya jaringan tulang atau kerusakan neuromuskular yang disebabkan rudapaksa dan trauma (Noorisa dkk, 2017). Penyebab terjadinya fraktur antara lain yaitu trauma tidak langsung, langsung dan trauma ringan, dengan gejala pembengkakan, kelainan bentuk tubuh serta rasa nyeri atau rasa sakit (Mediarti dkk, 2015). Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes RI pada tahun 2007, kecenderungan prevalensi penyebab terjadinya fraktur karena terjauh, kecelakaan lalu lintas, dan trauma benda tumpul atau tajam. Pada kasus fraktur sebagian besar korbannya merupakan remaja atau dewasa muda (15−24 tahun), biasanya berhubungan dengan pekerjaan, olahraga, atau kecelakaan kendaraan bermotor. Pada Gambar I.1 dijelaskan bahwa kecenderungan prevalensi penyebab terjadinya cedera di Indonesia yang disebabkan oleh transportasi darat mengalami kenaikan sebesar 22%.
Gambar I.1 Kecenderungan Prevalensi Penyebab Terjadinya Cedera
Selain itu Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tahun 2011−2012 terdapat lebih dari 1,3 juta jiwa penderita fraktur, 44% diantaranya penderita fraktur dikawasan Asia Pasifik yang didalamnya termasuk Indonesia. Badan Studi dan pengembangan Depkes RI mencatat proporsi faktur di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 25,9% menjadi 47,7% ditahun 2013. Fraktur yang paling umum dialami di
26
58
21
48 41
07 0,0
10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0
Transportasi darat Jatuh Terkena benda tajam/tumpul
Persen (%)
Penyebab Terjadinya Cedera
Kecenderungan Prevalensi Penyebab Terjadinya Cedera
2007 2013
2
Indonesia adalah fraktur pada bagian area siku lengan bawah dengan jenis simple freacture complete dan incomplete, yaitu ketika tulang mengalami kerusakan tetapi tidak menembus epidermis (Seyed, 2006). Bedasarkan Gambar I.2 untuk jenis simple fracture hanya terjadi satu patahan tulang, yang menyebabkan tulang terbelah dua.
Gambar I.2 Simple Fracture (Brown dan Radja, 2014)
Perawatan untuk penderita faktur pada siku lengan bawah yaitu dengan menggunakan cast immobilization jenis short arm cast, yang berfungsi untuk menghentikan dislokasi sendi dan tulang serta membantu recovery. Bedasarkan Gambar I.3 cast immobilization jenis short arm cast memanfaatkan plaster untuk bagian luarnya, sedangkan bagian dalamnya memanfaatkan gips dan bahan sintetis lainnya yang digunakan membentuk permukaan tangan.
Gambar I.3 Proses Pemasangan Short Arm Cast (Sherman, 2017)
3
Bedasarkan observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner yang dilakukan penulis, diperoleh hasil bahwa short arm cast konvensional memiliki bobot rata- rata 927 gr, rata-rata waktu pemasangan 24,42 jam, dan rata-rata waktu pelepasan 3 menit, selain itu proses pemasangan dan pelepasan membutuhkan banyak tools seperti gunting perban, perlak, waslap, pemotong gips, dan lain-lain. Pada Gambar I.4 dijelaskan bahwa dari 40 pasien didapatksn informasi bahwa 10 pasien mengalami gatal, 15 pasien mengalami ruam, 9 pasien mengalami biang keringat, dan 6 pasien lainnya tidak mengalami iritasi kulit, dimana hal tersebut disebabkan oleh penggunaan gips.
Gambar I.4 Penyebab Penggunaan Gips
Tidak hanya itu, seluruh responden sependapat bahwa pasca pemasangan short arm cast aktivitas mandi dan lainnya sulit bahkan tidak mungkin untuk dilakukan karena kondisi gips yang belum mongering dan mengeras. Bedasarkan permasalah tersebut didapatkan beberapa user needs antara lain yaitu short arm cast yang dapat digunakan berkali-kali, tidak menyerap air dan nyaman untuk digunakan, sehingga salah satu bagian dari translasi user needs tersebut adalah proses penentuan dimensi dari pola tangan agar tidak menghilangkan fungsi utama pada penggunaan gips.
Oleh sebab itu dibutuhkan suatu rancangan dan teknologi yang dapat menghasilkan
10
15
9
6
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Jenis iritasi
Jumlah
Data Pasien Mengelami Iritasi Kulit Akibat Penggunaan Gips Pada Short Arm Cast
Gatal Ruam Biang keringat Tidak iritasi