• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Final Galley. 1.1 Latar Belakang Test

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Final Galley. 1.1 Latar Belakang Test"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN

Final Galley

1.1 Latar Belakang Test

Kemajuan ilmu pengtahuan dan teknologi mendorong masyarakat untuk semakin Finish memperhatikan derajat kesehatan demi peningkatan kualitas hidup yang lebih baik. Tersedianya pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat merupakan hal yang sangat penting dan mendapat perhatian dari pemerintah sebagai salah satu upaya dalam pembangunan di bidang kesehatan. Salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional serta sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, pemerintah telah membangun Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Pembangunan Puskesmas juga bertujuan untuk memperluas pemerataan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat [1].

Berdasarkan Kepmenkes No 128 tahun 2004 Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan.

Puskesmas bertindak sebagai unit pelaksana teknis dalam melaksanakan sebagian tugas Dinas kesehatan Kabupaten/Kota. Dengan kata lain Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggungjawab atas pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 857/Menkes/SK/IX/2009 menyatakan bahwa Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan strata pertama.

Sebagai pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama, Puskesmas wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara bermutu, adil dan merata. Pelayanan yang diselenggarakan adalah pelayanan kesehatan dasar yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat dan sangat strategis dalam upaya meningkatkan status kesehatan masyarakat umum. Selain itu juga muncul Undang Undang Tentang Pelayanan Publik No.25 tahun 2009. Dimana Undang-Undang tersebut bertujuan:

(2)

1. Terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik.

2. Terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik.

3. Terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai peraturan-peraturan perundang-undangan, dan

4. Terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan sesuai dengan kehendak pasien adalah tidak mudah, hal ini ini disebabkan dimensi kepuasan pasien sangat bervariasi dan ruang lingkupnya sangat luas. Oleh karena itu pengukuran tingkat kepuasan pasien perlu dilakukan. Dengan melakukan pengukuran tigkat kepuasan pasien, maka dapat diketahui sejauh mana dimensi mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas dapat memenuhi harapan pasien.

Untuk mendapatkan gambaran kepuasan pasien Puskesmas maka dilaksanakan survei.

Dari pelaksanaan survei diharapkan mendapatkan masukan melalui pendapat dan sikap masyarakat pengguna jasa (Public Opinion), tentang pelayanan kesehatan yang telah diberikan oleh Puskesmas. Survei dilakukan dengan cara melakukan wawancara terhadap pasien Puskesmas menggunakan kuesioner, bentuk jawaban dari setiap pernyataan yang terdapat di dalam kuisioner secara umum akan mencerminkan tingkat kualitas pelayanan, yaitu dari yang sangat baik sampai dengan tidak baik. Untuk katagori tidak baik diberi nilai persepsi 1. Kurang baik diberi nilai persepsi 2, baik diberi nilai 3, sangat baik diberi nilai persepsi 4

Berdasarkan hasil survei kepuasan pasien yang dilakukan di 21 Puskesmas di wilayah Kota Cirebon dengan menggunakan metode Likert Scales terhadap 14 unsur pelayanan menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan di beberapa Puskesmas masih kurang maksimal. Adapun data kepuasan pasien dari hasil survei dapat dideskripsikan dengan data sebagai beriku:

(3)

Tabel 1.1:Kepuasan Pasien Puskesmas Terhadap Prosedur Pelayanan

PUSKESMAS

KEMUDAHAN PROSEDUR

PELAYANAN TOTAL

STS TS S SS

Drajat Jumlah

%

2 1.3%

27 18.0%

112 74.7%

9 6.0%

150 100.0%

Pegambiran Jumlah

%

3 2.2%

26 19.1%

95 69.9%

12 8.8%

136 100.0%

Tabel 1.2 :Kepuasan Pasien Puskesmas Terhadap Persyaratan Pelayanan

PUSKESMAS

KESAMAAN PERSYARATAN PELAYANAN DENGAN JENIS

PELAYANAN TOTAL

STS TS S SS

Drajat Jumlah

%

1 0.7%

34 22.7%

109 72.7%

6 4.0%

150 100.0%

Pegambiran Jumlah

%

0 0.0%

23 16.9%

108 79.4%

5 3.7%

136 100.0%

Tabel 1.3 :Kepuasan Pasien Puskesmas Terhadap Kejelasan Petugas Pelayanan

PUSKESMAS

KEJELASAN DAN KEPASTIAN

PETUGAS YANG MELAYANI TOTAL

STS TS S SS

Drajat Jumlah

%

0 0.0%

26 17.3%

116 77.3%

8 5.3%

150 100.0%

Pegambiran Jumlah

%

0 0.0%

22 16.2%

107 78.7%

7 5.1%

136 100.0%

Tabel 1.4 :Kepuasan Pasien Puskesmas Terhadap Kedisiplinan Petugas Pelayanan

(4)

PUSKESMAS

Kedisiplinan Petugas dalam Memberikan

Pelayanan TOTAL

STS TS S SS

Drajat Jumlah

%

0 0.0%

36 24%

109 72.7%

5 3.3%

150 100.0%

Pegambiran Jumlah

%

0 0.0%

29 21.3%

103 75.7%

4 2.9%

136 100.0%

Sitopeng Jumlah

%

0 0.0%

22 16.8%

109 83.2%

0 0%

131 100.0%

Kalijaga Permai Jumlah

%

0 0.0%

54 43.9%

69 56.1%

0 0.0%

123 100.0%

Tabel 1.5 :Kepuasan Pasien Puskesmas Terhadap Kecepatan Pelayanan

PUSKESMAS

KECEPATAN PELAYANAN

TOTAL

STS TS S SS

Gunung Sari Jumlah

%

4 1.9%

38 18.1%

160 76.2%

8 3.8%

210 100.0%

Drajat Jumlah

%

0 0.0%

51 34.0%

93 62.0%

6 4.0%

150 100.0%

Pegambiran Jumlah

%

0 0.0%

26 19.1%

102 75.0%

8 5.9%

136 100.0%

Kalitanjung Jumlah

%

0 0.0%

107 50.5%

98 46.2%

7 3.3%

212 100.0%

Sitopeng Jumlah

%

0 0.0%

62 47.3%

69 52.7%

0 0%

131 100.0%

Kalijaga Permai Jumlah

%

0 0.0%

85 69.1%

38 30.9%

0 0%

123 100.0%

Tabel diatas menggambarkan tingkat kepuasan pasien berdasarkan 5 kriteria penilaian yaitu Kepuasan Pasien Puskesmas Terhadap Prosedur Pelayanan, Persyaratan Pelayanan, Kejelasan Petugas Pelayanan, Kedisiplinan Petugas Pelayanan dan Kecepatan Pelayanan. Dari 5 kriteria penilaian ini terlihat bahwa tingkat kepuasan pasien masih kurang maksimal. Sebagai contoh pada kriteria penilaian Kecepatan Pelayanan, data survai menunjukan untuk Puskesmas Kalijaga Permai sejumlah 69,1%

responden merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan.

(5)

Gambaran kepuasan Pasien dapat dijadikan sebagai indikator mutu pelayanan Puskesmas, oleh karena itu pengelompokkan Indeks Kepuasan Pasien perlu dilakukan.

Dengan diketahuinya dimensi mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas maka akan memudahkan Dinas Kesehatan Kota dalam menjalankan fungsi pembinaan dan kontrol terhadap Puskesmas sehingga dapat menentukan kebijakan yang diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas di wilayah kerjanya.

Dalam penelitian ini akan dilakukan pengelompokkan Indeks Kepuasan Pasien dengan menggunakan teknik clustering. Cluster secara umum merupakan wujud himpunan bagian dari suatu himpunan data. Berdasarkan himpunan bagian yang dihasilkan, teknik clustering dapat dibedakan menjadi 2 metode, yaitu teknik hard clustering dan teknik soft clustering [3]. Untuk memberikan gambaran performa yang dihasilkan dari masing – masing teknik clustering tersebut akan digunakan metode K-Means (Hard Clustering) dan Fuzzy C-Mean (Soft Clustering). Metode K-Mean digunakan secara luas dalam teknik clustering, K-Mean memiliki keunggulan dalam kecepatan komputasi dan tahapan - tahapan proses yang relatif mudah [4]. Dan metode Fuzzy C- Means mempunyai kelebihan dalam hal fleksibilitas menentukan cluster, sehingga kecil kemungkinan untuk terjadi kegagalan converge [5].

Metode dengan performa yang paling baik akan dijadikan rujukan dalam melakukan analisis cluster terhadap indeks kepuasan pasien. Diharapkan dengan diketahuinya cluster - cluster indeks kepuasan pasien sebagai indikator mutu pelayanan Puskesmas maka akan memudahkan Dinas Kesehatan Cirebon dalam menentukan strategi pembinaan kepada Puskesmas.

1.2 Rumusan Masalah

(6)

Dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalahnya adalah belum diketahui metode clustering yang optimal dalam mengelompokkan Indeks Kepuasan Pasien sebagai indikator mutu pelayanan Puskesmas

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :

A. Memberikan alternatif cara pengolahan kuesioner dengan menggunakan Metode Clustering

B. Melakukan pengukuran terhadap metode K-Means dan Fuzzy C-Means dan memberikan rujukan metode yang paling optimal untuk digunakan dalam kasus pengelompokkan Indeks Kepuasan Pasien sebagai indikator mutu pelayanan Puskemas

1.4 Manfaat Penelitian

Berikut ini adalah beberapa manfaat dari penelitian ini:

A. Diperolehnya alternatif cara pengolahan data survey kepuasan pasien dengan menggunakan metode Clustering

B. Diperolehnya rujukan metode dengan performance yang paling optimal diantara K- Means dan Fuzzy C-Means untuk mengolah data survey kepuasan pasien Puskesmas

(7)

7

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terkait

Literatur serta penelitian mengenai penerapan algoritma K-Means dan Fuzzy C-Means, banyak ditemukan dalam buku maupun jurnal - jurnal ilmiah di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Tedy Rismawan yang berjudul “Aplikasi K-Means Untuk Pengelompokan Mahasiswa Berdasarkan Nilai Body Mass Index(BMI) dan Ukuran Kerangka”. Penelitian ini membahas sebuah model pengelompokan data mahasiswa berdasarkan status gizi dan ukuran rangka tubuh mahasiswa yang bersangkutan. Untuk mendapatkan nilai BMI diperlukan data berat badan dan tinggi badan, sedangkan untuk mendapatkan nilai ukuran kerangka tubuh diperlukan data tinggi badan dan ukuran lingkar lengan bawah. Setelah nilai BMI dan ukuran kerangka diketahui maka proses pelatihan data dapat dilakukan. Terdapat 20 sample data mahasiswa yang diolah dengan menggunakan algoritma K-Means untuk menghasilkan 3 Cluster. Dari data yang dilatih, diperoleh 3 buah cluster, yaitu yaitu BMI normal dan kerangka besar, BMI obesitas sedang dan kerangka sedang dan BMI obesitas berat dan kerangka kecil. Penelitian ini menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa algoritma K- Means dapat digunakan untuk mengelompokkan mahasiswa berdasarkan status gizi dan ukuran rangka [6].

Andri Syafrianto melakukan penelitian “Perancangan Aplikasi K-Means untuk Pengelompokan Mahasiswa STMIK Elrahma Yogyakarta Berdasarkan Frekuensi Kunjungan Ke Perpustakaan dan IPK”. Dalam penelitian in diambil sampel sebanyal 75 data mahasiswa yang tercatat sebagai mahasiswa S1 Teknik Informatika semester 3 STMIK Elrahma Yogyakarta. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah algoritma K-Means bisa digunakan untuk mengelompokkan mahasiswa berdasarkan IPK dan frekuensi berkunjung ke perpustakaan. Dari data yang dilatih, didapatkan 3 buah cluster, yaitu mahasiswa dengan IPK rendah dan jarang ke perpustakaan,

(8)

mahasiswa dengan IPK cukup tinggi dan cukup sering pergi ke perpustakaan dan mahasiswa dengan IPK tinggi dan sering pergi ke perpustakaan [7].

Berikutnya adalah Bahar melakukan penelitian “Penentuan Jurusan Sekolah Menengah Atas Dengan Algoritma Fuzzy C-Means”. Dalam menentukan jurusan Sekolah Menengah Atas diperlukan data nilai rata – rata bidang ilmu yang diminati, baik sebelum peminatan maupun sesudah peminatan. Terdapat 3 bidang ilmu peminatan, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Bahasa. Fuzzy C-Means dinyatakan akurat apabila memenuhi beberapa kondisi yaitu minat yang dipilih oleh siswa sama dengan peminatan FCM (Fuzzy C-Means) dan nilai rata-rata mata pelajaran peminatan yang diperoleh setelah peminatan >= Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ideal (>=75), dan minat yang dipilih oleh siswa tidak sama dengan peminatan FCM dan nilai rata-rata mata pelajaran peminatan yang diperoleh setelah peminatan < Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ideal. Dari hasil pengujian algoritma Fuzzy C-Means (FCM) dalam penentuan jurusan di Sekolah Menengah Atas pada 81 sampel data siswa yang diuji dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa Algoritma FCM memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi (yaitu rata-rata 78,39%), jika dibandingkan dengan metode penentuan jurusan secara manual yang hanya memiliki tingkat akurasi rata-rata 56,17 % [8].

Tabel 2.1 :Related Research

PENELITI TOPIK MASALAH METODE HASIL

Tedy Rismawan

Aplikasi K-Means Untuk

Pengelompokan Mahasiswa Berdasarkan Nilai

Body Mass

Index(BMI) dan Ukuran Kerangka

Bagaimana

membangun suatu sistem yang dapat meng-cluster nilai BMI dan ukuran kerangka tubuh untuk memudahkan

seseorang dalam mengontrol berat badannya agar selalu dalam keadaan ideal

K-Means, 20 sampel data pelatihan

Algoritma K-Means dapat

digunakan untuk mengelompokkan mahasiswa

berdasarkan status gizi dan ukuran kerangka.

Dari data yang dilatih diperoleh 3 buah cluster, yaitu BMI normal dan kerangka

(9)

besar, BMI obesitas sedang dan kerangka sedang, BMI obesitas berat dan kerangka kecil

Andri Syafrianto

Perancangan Aplikasi K-Means Untuk

Pengelompokan Mahasiswa STMIK ELRAHMA Yogyakarta Berdasarkan Frekuensi

Kunjungan Ke Perpustakaan Dan IPK

Bagaimana

membangun suatu sistem yang dapat meng-cluster

mahasiswa

berdasarkan frekuensi

kujungan ke

perpustakaan dan IPK.

K-Means, 75 sampel data pelatihan

Algoritma K-Means bisa digunakan untuk mengelompokkan mahasiswa

berdasarkan IPK dan frekuensi berkunjung ke perpustakaan. Dari data yang dilatih, didapatkan 3 buah cluster, yaitu mahasiswa dengan IPK rendah dan jarang ke perpustakaan, mahasiswa dengan IPK cukup tinggi dan cukup sering pergi ke perpustakaan dan mahasiswa dengan IPK tinggi dan sering pergi ke perpustakaan Bahar Penentuan Jurusan

Sekolah Menengah Atas Dengan Algoritma Fuzzy C-Means

Kurang

akuratnya proses pemilihan jurusan dengan sistem manual pada Sekolah Menengah

Atas

Fuzzy C- Means, 81 sampel data pelatihan

Algoritma FCM memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi (yaitu rata-rata 78,39%), jika dibandingkan dengan metode penentuan jurusan secara manual yang hanya memiliki tingkat akurasi rata- rata 56,17 %

(10)

2.2 Pelayanan Puskesmas

Dalam rangka mencapai tujuan Pembangunan Kesehatan Nasional yaitu tercapainya kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, sebagai salah satu unsur dari kesejahteraan umum dari tujuan nasional, pemerintah telah membangun Puskesmas di seluruh Indonesia.

Pembangunan Puskesmas tersebut untuk memperluas pemerataan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat.

Definisi Puskesmas tercantum di Kepmenkes No 128 tahun 2004 bahwa Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dari Dinas Kesehatan Kab/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan. Puskesmas bertindak sebagai unit pelaksana teknis dalam melaksanakan sebagian tugas Dinas kesehatan Kab/kota. Dengan kata lain Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggungjawab atas pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.

Puskesmas dalam upaya memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat perkotaan menempuh kebijakan sebagai berikut [9].

a. Upaya pelayanan kesehatan perkotaan dikembangkan secara menyeluruh baik tingkat masyarakat, Puskesmas maupun rujukan.

b. Upaya pelayanan Puskesmas di perkotaan ditingkatkan mutunya melalui perbaikan sarana fisik, melengkapi peralatan yang diperlukan, meningkatkan tenaga baik jumlah maupun mutunya, meningkatkan manajemen dan mengembangkan inovasi program kesehatan sesuai dengan masalah perkotaan c. Pelayanan kesehatan diprioritaskan kepada masyarakat yang bermukim di daerah

kumuh dan masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan

d. Peran serta masyarakat dikembangkan dengan melibatkan masyarakat secara aktif pada seluruh aspek pembangunan kesehatan terutama usaha untuk perubahan perilaku yang mendukung hidup sehat dan mobilisasi dana dalam jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat

(11)

e. Pelayanan kesehatan swasta dibina untuk memenuhi tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan

f. Pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan

g. Upaya peningkatan pelayanan kesehatan dilaksanakan dengan mengoptimalkan koordinasi dan kerjasama antara semua pihak yang berkaitan, baik sektor pemerintah maupun swasta, kesehatan maupun non kesehatan, mulai dari pemikiran, perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan/penilaian.

Puskesmas melaksanakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh yaitu pengobatan, pencegahan, peningkatan dan pemulihan dalam bentuk upaya kesehatan pokok.

Terdapat 18 upaya kesehatan pokok Puskesmas [9], yaitu 1. Kesehatan ibu dan anak

2. Keluarga Berencana 3. Pengobatan

4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular 5. Peningkatan gizi

6. Penyuluhan kesehatan masyarakat 7. Perawatan kesehatan masyarakat 8. Kesehatan sekolah

9. Kesehatan jiwa 10. Kesehatan Gigi 11. Kesehatan lingkungan 12. Laboratorium

13. Pencatatan dan pelaporan 14. Kesehatan kerja

15. Kesehatan mata 16. Kesehatan usia lanjut 17. Dana sehat

18. Kesehatan olahraga

Puskesmas melaksanakan seluruh atau sebagian usaha pokok sesuai dengan masalah yang ada dan kemampuan sumber daya yang dimiliki oleh Puskesmas. Dalam

(12)

mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, Dinas Kesehatan Kota memiliki peranan yang sangat besar [9], yaitu dalam hal

a. Perumusan kebijaksanaan b. Mengkoordinir perencanaan c. Pelaksanaan kegiatan d. Pembinaan

e. Pemantauan

f. Koordinasi dan kerjasama

2.3 Survei Kepuasan Pasien

Populasi dalam penelitian ini adalah data Survei Kepuasan Pasien terhadap 21 Puskesmas yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cirebon. Adapun Nama Puskesmas yang dimaksud adalah sebagai [1] berikut:

1. Puskesmas Kejaksan 2. Puskesmas Jalan Kembang 3. Puskesmas Nelayan

4. Puskesmas Pamitran 5. Puskesmas Kesambi 6. Puskesmas Gunungsari 7. Puskesmas Sunyaragi 8. Puskesmas Majasem 9. Puskesmas Drajat 10. Puskesmas Jagasatru 11. Puskesmas Astanagarib 12. Puskesmas Pekalangan 13. Puskesmas Kesunean 14. Puskesmas Pegambiran 15. Puskesmas Pesisir 16. Puskesmas Cangkol 17. Puskesmas Kalitanjung 18. Puskesmas Larangan

(13)

19. Puskesmas Perumnas Utara 20. Puskesmas Sitopeng

21. Puskesmas Kalijaga Permai

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Cirebon diperoleh nilai Indeks Kepuasan Pasien sebagai indikator mutu pelayanan Puskesmas dengan rentang nilai antara 49.7 sampai 99.4 yang kemudian dibagi kedalam beberapa kategori/cluster mutu pelayanan Puskesmas yaitu “Tidak Baik”,

“Kurang Baik”, “Baik” dan “Sangat Baik”.

Dari 3.000 populasi data yang ada akan diambil 100 data untuk menyederhanakan perhitungan. Teknik sampling yang digunakan adalah Sampel Acak Berlapis (Stratified Sampling). Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin , sebagai berikut[10].

𝑛 = 𝑛 𝑁

1 + 𝑁𝛼2

n : Ukuran sampel minimal N : Ukuran Populasi

α : Taraf Signifikansi

2.3 Indeks Kepuasan Pasien

Untuk mendapatkan informasi tingkat kepuasan pasien, dilaksanakan pegumpulan data dengan wawancara terhadap pasien Puskesmas menggunakan kuisioner dengan metode Likert Scales. Bentuk jawaban pertanyaan dari setiap unsur pelayanan secara umum mencerminkan tingkat kualitas pelayanan, yaitu dari yang sangat baik sampai dengan tidak baik. Untuk kategoti tidak baik, diberi nilai persepsi 1, kurang baik diberi nilai persepsi 2, baik diberi nilai 3 dan sangat baik diberi nilai persepsi 4 [1].

(2.1)

(14)

Pengolahan data dilaksanakan dengan menggunakan “nilai rata-rata tertimbang”

masing-masing unsur pelayanan. Dalam penghitungan indeks kepuasan masyarakat terhadap 14 unsur pelayanan yang dikaji, setiap unsur pelayanan memiliki penimbang yang sama dengan rumus sebagai beikut [1]:

𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 =Jumlah Bobot 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑈𝑠𝑒𝑟 = 1

14= 0.071

Untuk memperoleh nilai indeks kepuasan pasien digunakan pendekatan nilai rata-rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut [1]:

𝐼𝐾𝑃 =𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑝𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑟 − 𝑈𝑛𝑠𝑢𝑟

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑈𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑈𝑛𝑠𝑢𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑖𝑠𝑖 𝑥 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔

2.4 Pelayanan Pasien

Terdapat 14 unsur pelayanan yang akan diukur, unsure pelayanan tersebut adalah sebagai berikut [1]:

1. Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kapada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan

2. Persyaratan Pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya.

3. Kejelasan Petugas Pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan serta kewenangan dan tanggung jawabnya).

4. Kedisiplinan Petugas Pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Tanggung Jawab Petugas Pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan.

(2.2)

(2.3)

(15)

6. Kemampuan Petugas Pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan/meyelesaikan pelayanan kepada masyarakat.

7. Kecepatan Pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan.

8. Keadilan Mendapat Pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani.

9. Kesopanan dan Keramahan Petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati.

10. Kewajaran Biaya Pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit layanan.

11. Kepastian Biaya Layanan, yaitu kesesuaian antarabiaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan.

12. Kepastian Jadwal Pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

13. Kenyamanan Lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi, dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima layanan.

14. Keamanan Pelayanan, yaitu terjaminnya tigkat keamanan lingkungan unit penyelenggara palayananataupun sarana yang digunakan, sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap risiko- risiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan.

2.4 Clustering

Clustering merupakan proses membagi data dalam suatu himpunan ke dalam beberapa kelompok yang kesamaan datanya dalam suatu kelompok lebih besar daripada kesamaan data dengan kelompok lain. Clustering digunakan untuk mengetahui struktur data, dan digunakan juga secara luas dalam kasus klasifikasi, pengolahan gambar dan pengenalan pola. Clustering dapat diterapkan data yang kuantitatif (numerik), kualitatif (kategorikal), atau kombinasi dari keduanya [3].

(16)

Data dapat merupakan hasil pengamatan dari suatu proses. Setiap pengamatan dapat memiliki n variabel pengukuran dan dikelompokkan dalam n dimensi vektor 𝑍𝑘 = [𝑍𝑖𝑘, … , 𝑍𝑛𝑘]𝑇, 𝑍𝑘 ∈ 𝑅𝑛 . Sebuah himpunan dari N pengamatan dinotasikan dengan 𝑍 = {𝑍𝑘|𝑘 = 1,2, … , 𝑁}dan direpresentasikan sebagai matriks 𝑛 × 𝑁 [3]

𝑍 = [

𝑧11 … 𝑧1𝑁

⋮ ⋮ ⋮

𝑧𝑛1 … 𝑧𝑛𝑁]

Dalam terminologi pengenalan pola, kolom matriks disebut pattern atau object. Baris disebut features atau attribute dan Z disebut data matrix. Arti kolom dan baris dalam Z bergantung pada konteks. Misal dalam kasus diagnosis medik, kolom Z dapat direpresentasikan sebagai pasien, dan baris merupakan symptoms atau pemeriksaan pasien yang bersangkutan [3].

Cluster secara umum merupakan wujud himpunan bagian dari suatu himpunan data dan metode clustering dapat diklasifikasikan berdasarkan himpunan bagian yang dihasilkan, apakah fuzzy atau crips (hard). Metode hard clustering merupakan model yang berdasar pada teori himpunan klasik, yang mana suatu objek menjadi anggota atau tidak menjadi anggota secara penuh ke dalam suatu kelompok. Hard clustering membagi data ke dalam sejumlah himpunan bagian secara eksklusif. Sebaliknya, metode fuzzy clustering mengizinkan objek untuk menjadi bagian dari beberapa kelompok secara bersamaan dengan perbedaan level keanggotaan [3].

2.5 K-Means Clustering

K-Means adalah algoritma yang digunakan untuk mengcluster atau untuk mengelompokkan data atau kumpulan data – data berdasarkan atribut - atribut yang dimiliki data tersebut ke sejumlah K kelompok atau cluster. K adalah integer yang bernilai positif . Proses pengklusteran dilakukan dengan cara mencari kuadrat jarak terdekat antara objek dengan cluster centroid. Sebagai contoh, terdapat 4 buah sampel (2.4)

(17)

data yang akan dilakukan proses training, setiap data mempunyai 2 atribut, setiap atribut merepresentasikan koordinat dari objek [11].

Tabel 2.3 : Contoh Pengelompokan Data

OBJEK ATRIBUT 1 (X) ATRIBUT 2 (Y)

Obat A 1 1

Obat B 2 1

Obat C 4 3

Obat D 5 4

Dari data tersebut akan dibuat 2 cluster (Cluster 1 dan Cluster 2). Dengan menggunakan algoritma K-Means dapat dilakukan proses perhitungan untuk menentukan apakah objek obat termasuk sebagai anggota cluster 1 atau cluster lainnya [11].

Berikut ini adalah langkah – langkah dalam melakukan Clustering menggunakan algoritma K-Means [6]

1. Menentukan nilai K, jumlah cluster 2. Menentukan nilai centroid

Dalam menentukan nilai centroid untuk awal iterasi, nilai awal centroid dilakukan secara acak. Sedangkan nilai centroid ketika proses iterasi berlangsung, maka digunakan rumus

𝑣𝑖𝑗 = 1

𝑁𝑖∑ 𝑥𝑘𝑗

𝑁𝑖

𝑘=0

3. Menghitung jarak antara titik centroid dengan titik tiap objek

𝐷𝐿(𝑥2− 𝑥1) = √∑(𝑥2𝑗− 𝑥𝑖𝑗)2

𝑝

𝑗=1

(2.5)

(2.6)

(18)

4. Pengelompokkan objek untuk menentukan anggota cluster adalah dengan mencari jarak minimum objek

5. Kembali ke tahap 2, lakukan perulangan hingga nilai centroid yang dihasilkan tetap dan anggota cluster tidak berpindah ke cluster lain

2.6 Fuzzy Logic

Fuzzy Logic adalah suatu cara yang tepat untuk memetakan suatu ruang input kedalam suatu ruang output [12], sebagai contoh manajer pergudangan mengatakan pada manajer produksi seberapa banyak persediaan

Meskipun ada beberapa cara yang mampu bekerja dalam kotak hitam namun fuzzy akan memberikan solusi yang paling baik, sebagaimana telah dikemukakan oleh Lutfi A. Zadeh, bapak dari fuzzy logic, mengatakan “Pada hampir semua kasus kita dapat menghasilkan suatu produk tanpa menggunakan fuzzy logic, namun menggunakan fuzzy akan lebih cepat dan murah” [12].

Berbeda dengan logika klasik yang hanya mengenal 2 nilai 0 dan 1, logika fuzzy menggunakan nilai dalam interval [0,1]. Sebuah nilai dalam interval [0,1] itu dinamakan derajat keanggotaan 𝜇(𝑥) dari salah satu anggota himpunan fuzzy (x).

Dikatakan bahwa himpunan fuzzy dipetakan kenilai-nilai dalam interval [0,1] oleh fungsi 𝜇 adalah [12]:

Gambar 2.1:Contoh Pemetaan Input – Output [12]

KOTAK HITAM

Ruang output

(semua jumlah produksi barang yang mungkin)

Ruang input

(semua persediaan barang yang mungkin)

Persediaan barang akhir minggu

Persediaan barang esok hari

(19)

𝜇: 𝑥⌊0,1⌋

Pada statement diatas dimana setiap element x mempunyai himpunan semesta (semesta pembicaraan) mempunyai derajat keanggotaan antara 0 dan 1.

Fuzzy dan setiap himpunan fuzzy didukung oleh elemen-elemen pendukungnya, dan setiap elemen pendukungnya memiliki derajat keanggotaan tertentu (fire strength).

Jadi fungsi diatas dapat dijabarkan dengan [12]:

∀𝑥 ∈ 𝑋, 𝜇(𝑥) ∈ [0,1]

Pada statement diatas dimana setiap element x mempunyai himpunan semesta (semesta pembicaraan) mempunyai derajat keanggotaan antara 0 dan 1 [12].

2.8.1 Fungsi Keanggotaan

Fungsi keanggotaan (membership function) adalah suatu kurva yang menunjukan pemetaan titik-titik input data kedalam nilai keanggotaannya yang memiliki interval antara 0 dan 1 [12]. Adapun macam macam Funfsi Keanggotaan diantaranya yaitu :

1. Fungsi Linier Naik 2. Fungsi Linier Turun 3. Fungsi Kurva Segitiga 4. Fungsi Kurva Trapesium 2.8.1.1 Fungsi Linier Naik

Fungsi ini adalah fungsi paling sederhana dalam bentuk garis lurus. Bisa monoton naik atau turun, berikut ini adalah grafiknya [12]:

(2.7)

(2.8)

(20)

0 ; x ≤ a (x-a)/(b-a) ; a ≤ x ≤ b

1 ; x ≥ b

2.8.1.2 Fungsi Linier Turun

0 ; x ≥ b

(b-x)/(b-a) ; a ≤ x ≤ b

Gambar 2.2: Grafik Fungsi Keanggotaan Linier Naik [12]

(2.9)

Gambar 2.3 : Grafik Fungsi Keanggotaan Linier Turun [12]

(2.10)

(21)

2.8.1.3 Fungsi Kurva Segitiga

Representasi ini merupakan gabungan dua kurva, yaitu linier naik dan linier turun [12]

0 ; x ≤ a atau x ≥ c (x-a)/(b-a) ; a ≤ x ≤ b (c-x)/(c-b) ; b ≤ x ≤ c

2.8.1.4 Fungsi Kurva Trapesium

Representasi kurva trapesium pada dasarnya serupa dengan kurva segitiga namun memiliki banyak titik yang memiliki nilai keanggotaan 1 [12] .

Gambar 2.4: Grafik Fungsi Keanggotaan Segitiga [12]

(2.11)

Gambar 2.5 : Grafik Fungsi Keanggotaan Trapesium [12]

(22)

0 ; x ≤ a atau x ≥ d (x-a)/(b-a) ; a ≤ x ≤ b (d-x)/(d-c) ; c ≤ x ≤ d

1 ; b≤ x ≤ c

2.7 Fuzzy C-Means Clustering

Cluster secara umum merupakan wujud himpunan bagian dari suatu himpunan data dan metode clustering dapat diklasifikasikan berdasarkan himpunan bagian yang dihasilkan, apakah fuzzy atau crips (hard). Metode hard clustering merupakan model yang berdasar pada teori himpunan klasik, yang mana suatu objek menjadi anggota atau tidak menjadi anggota secara penuh ke dalam suatu kelompok. Hard clustering membagi data ke dalam sejumlah himpunan bagian secara eksklusif. Sebaliknya, metode fuzzy clustering mengizinkan objek untuk menjadi bagian dari beberapa kelompok secara bersamaan dengan perbedaan level keanggotaan [3].

Sebagai contoh dalam hard clustering, himpunan data 𝑍 = {𝑧1, 𝑧2, 𝑧3, … 𝑧10}, jika dibagi menjadi dua kelompok, maka himpunan U yang merupakan matriks partisi yang menunjukkan level keanggotaan elemen himpunan 𝑍 dalam kelompok 𝐴1 atau 𝐴2 akan seperti berikut [3].

𝑈 = [1 1 1 1 1 1 0 0 0 00 0 0 0 0 0 1 1 1 1]

Baris atas merupakan matriks U menunjukkan level keanggotaan elemen himpunan 𝑍 dalam 𝐴1 dan baris bawah menunjukkan level keanggotaan elemen himpunan 𝑍 dalam 𝐴2. Tampak bahwa setiap elemen himpunan 𝑍 secara khusus atau penuh akan menjadi anggota kelompok (𝐴1atau 𝐴2) dengan level keanggotaan 1. Dan tidak menjadi anggota dalam suatu kelompok dengan level keangotaan 0. 𝑥1, 𝑥2, 𝑥3,𝑥4,𝑥5 dan 𝑥6, secara khusus merupakan anggota dari 𝐴1, sedangkan 𝑥7, 𝑥8, 𝑥9 dan 𝑥10 secara khusus merupakan anggota dari kelompok 𝐴2 [3].

(2.12)

(23)

Sementara itu, dalam fuzzy clustering, level keanggotaan data dalam suatu kelompok bukan hanya 0 dan 1, tetapi dapat memiliki nilai antara interval 0 sampai 1. Sebagai contoh, himpunan 𝑍 = {𝑧1, 𝑧2, 𝑧3, … 𝑧10}. Dalam pembagian samar jika himpunan 𝑍 dibagi menjadi dua kelompok 𝑍1 dan 𝑍2 maka matriks partisi U dapat dituliskan seperti berikut [3].

𝑈 = [1.0 1.0 1.0 1.0 0.7 0.4 0.2 0.0 0.0 0.00.0 0.0 0.0 0.0 0.3 0.6 0.8 1.0 1.0 1.0]

Baris atas matriks partisi U menunjukkan level keanggotaan elemen himpunan 𝑍 dalam 𝐴1 dan baris bawah menunjukkan level keanggotaan elemen himpunan 𝑍 dalam 𝐴2. Dalam soft clustering ini tampak bahwa setiap elemen himpunan 𝑍 dapat menjadi anggota kelompok (𝐴1dan 𝐴2) dengan level keanggotaan antara 0 sampai dengan 1.

𝑥1, 𝑥2, 𝑥3,𝑥4 menjadi anggota 𝐴1 dengn level keanggotaan 1.0 dan menjadi anggota 𝐴2 dengan level keanggotaan 0.0 sedangkan 𝑥5 menjadi anggota 𝐴1 dengan level keanggotaan 0.7 dan menjadi anggota 𝐴2 dengan level keanggotaan 0.3 dan seterusnya [3].

Terdapat banyak algoritma yang digunakan untuk clustering, salah satunya Fuzzy C- Means (FCM). Fuzzy C-Means Clustering (FCM) merupakan algoritma clustering data yang setiap datanya menjadi angota dari suatu cluster dengan derajat didefinisikan dengan level keanggotaan [3].

Algoritma FCM didasarkan pada minimasi fungsi objektif yang diformulasikan sebagai berikut [13]

1. Input data yang akan di cluster, berupa matriks berukuran 𝑛 x 𝑚 (𝑛 = jumah sampel data, 𝑚 = atribut setiap data). 𝑋𝑖𝑗 = data sampel ke - i (i = 1,2, . . . n), atribut ke-j (j = 1,2, . . . , m).

2. Tentukan :

 Jumlah cluster : c;

 Pangkat : w;

 Maksimum iterasi : MaxIter

(24)

 Error terkecil yang diharapkan : e = 0

 Fungsi objektif awal : 𝑃0 = 0

 Iterasi awal : t = 1

3. Bangkitkan bilangan random 𝜇𝑖𝑘, i = 1,2, . . . n; k = 1,2, . . . c sebagai elemen – elemen matriks partisi awal U.

𝑄𝑖 = ∑ 𝜇𝑖𝑘

𝑐

𝑘=1

Dengan i = 1,2, . . . n

4. Hitung pusat cluster ke – k, 𝑉𝑘𝑗 dengan k = 1,2, . . . c dan j = 1,2, . . .m

𝑉𝑘𝑗 = ∑𝑛𝑖=1((𝜇𝑖𝑘)𝑤+ 𝑋𝑖𝑗)

𝑛𝑖=1(𝜇𝑖𝑘)𝑤

5. Hitung fungsi objektif pada iterasi ke-t, 𝑃𝑡

𝑃𝑡 = ∑ ∑ ([∑(𝑋𝑖𝑗 − 𝑉𝑘𝑗)2

𝑚

𝑗=1

] (𝜇𝑖𝑘)𝑤)

𝑐

𝑘=1 𝑛

𝑖=1

6. Hitung perubahan matriks partisi

𝜇𝑖𝑘 = [∑𝑚𝑗=1(𝑋𝑖𝑗− 𝑉𝑘𝑗)2]

−1 𝑤−1

∑ [∑𝑚𝑗=1(𝑋𝑖𝑗− 𝑉𝑘𝑗)2]

−2 𝑐 𝑤−1

𝑘=1

Dengan i = 1,2, . . . n, dan k = 1,2, . . . c

7. Cek kondisi berhenti

Jika (|𝑃𝑡− 𝑃𝑡−1| < 𝑒) atau (𝑡 > 𝑀𝑎𝑥𝐼𝑡𝑒𝑟) Jika tidak : 𝑡 = 𝑡 + 1, ulangi langkah ke-4

(2.13)

(2.14)

(2.15)

(2.16)

(25)

2.8 Kerangka Pemikiran

`

Gambar 2.12 : Kerangka Pemikiran

APPROACH Clustering dengan K-

Means dan Fuzzy C- Means

RESULT

Diketahuinya performace yang paling baik diantara K-Means dan Fuzzy C-Means PROBLEMS

Problem clustering

Belum diketahuinya teknik clustering yang optimal diantara hard clustering dengan K-Means dan soft clustering dengan Fuzzy C-Means dalam kasus pengelompokkan Indeks Kepuasan Pasien Puskesmas

MEASUREMENT Melakukan pengukuran performance metode K- Means dan Fuzzy C-Means

DESIGN EXPERIMENT

Tools MATLAB

Data Data Set Kepuasan

Pasien

(26)

26

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini adalah sebuah ekperimen yang akan mencoba membandingkan performance metode K-Means dan Fuzzy C-Means dalam melakukan analisis cluster dari nilai persepsi kepuasan pasien sebagai indikator mutu pelayanan Puskesmas.

Performance kedua metode tersebut akan diukur dengan membandingkan hasil analisis cluster dari masing – masing metode dengan hasil pengolahan data yang telah dilakukan sebelumnya oleh Dinas Kesehatan Kota Cirebon. Pengolahan data survei kepuasan pasien yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Cirebon adalah dengan menggunakan “nilai rata – rata tertimbang” . Tahapan – tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah

Gambar 3.1 Tahapan penelitian

PENGUKURAN PERFORMANCE EKSPERIMEN DAN PENGUJIAN METODE

PENGOLAHAN DATA AWAL

PENGUMPULAN DATA

(27)

1. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh berasal dari Dinas Kesehatan Kota Cirebon berupa dataset sejumlah 3.000 record data yang berasal dari pengolahan survei kepuasan pasien Puskesmas pada tahun 2011.

2. Pengolahan Data Awal

Dilakukan proses sampling dengan menggunakan metode Simple Random Sampling. Jumlah ukuran sampel data ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan taraf signifikansi 𝛼 sebesar 10%

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁𝛼2

𝑛 = 3.000

1 + (3.000 × 0.102) 𝑛 = 96.774

Dibulatkan keatas menjadi 100.

3. Eksperimen dan Pengujian Metode

Eksperimen dilakukan dengan melakukan proses clustering terhadap seluruh sampel data dengan metode K-Menas dan C-Means.

4. Pengukuran Performance

Pengukuran performance dilakukan dengan membandingkan proses clustering setiap metode dengan data yang telah diolah Dinas Kesehatan Kota Cirebon.

3.2 Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cirebon berupa survei kepuasan pasien terhadap pelayanan 21 Puskesmas yang berada di Kota Cirebon, yaitu

1. Puskesmas Kejaksan 2. Puskesmas Jalan Kembang

(28)

3. Puskesmas Nelayan 4. Puskesmas Pamitran 5. Puskesmas Kesambi 6. Puskesmas Gunungsari 7. Puskesmas Sunyaragi 8. Puskesmas Majasem 9. Puskesmas Drajat 10. Puskesmas Jagasatru 11. Puskesmas Astanagarib 12. Puskesmas Pekalangan 13. Puskesmas Kesunean 14. Puskesmas Pegambiran 15. Puskesmas Pesisir 16. Puskesmas Cangkol 17. Puskesmas Kalitanjung 18. Puskesmas Larangan 19. Puskesmas Perumnas Utara 20. Puskesmas Sitopeng

21. Puskesmas Kalijaga Permai

Total responden dalam survei ini adalah sebanyak 3.000 pasien yang akan menilai 14 unsur pelayanan Puskesmas, yaitu

1. Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kapada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan

2. Persyaratan Pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administratif yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya.

3. Kejelasan Petugas Pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan serta kewenangan dan tanggung jawabnya).

4. Kedisiplinan Petugas Pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku.

(29)

5. Tanggung Jawab Petugas Pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan.

6. Kemampuan Petugas Pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam memberikan/meyelesaikan pelayanan kepada masyarakat.

7. Kecepatan Pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggara pelayanan.

8. Keadilan Mendapat Pelayanan, yaitu pelaksanaan pelayanan dengan tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani.

9. Kesopanan dan Keramahan Petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati.

10. Kewajaran Biaya Pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit layanan.

11. Kepastian Biaya Layanan, yaitu kesesuaian antarabiaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan.

12. Kepastian Jadwal Pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

13. Kenyamanan Lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi, dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima layanan.

14. Keamanan Pelayanan, yaitu terjaminnya tigkat keamanan lingkungan unit penyelenggara palayananataupun sarana yang digunakan, sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap risiko- risiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan.

Jawaban dari responden merupakan nilai persepsi kepuasan pasien terhadap masing – masing unsur pelayanan tersebut. Untuk kategori “Tidak Baik” diberi nilai persepsi 1,

“Kurang Baik” diberi nilai persepsi 2, “Baik” diberi nilai persepsi 3 dan “Sangat Baik”

diberi nilai persepsi 4.

(30)

Tabel 3.1 Nilai Persepsi Pasien

Nilai Persepsi

Nilai Interval Indeks Kepuasan Pasien

Nilai Interval Konversi

Mutu

Pelayanan Keterangan

1 1,00 – 1.75 25 – 43.75 D Tidak baik

2 1,76 – 2.50 43,76 – 62.50 C Kurang baik

3 2,51 – 3.25 62,51 – 81.25 B Baik

4 3,26 – 4.00 81,26 – 100.00 A Sangat baik

Tabel 3.2 Sampel Data

ID V1 V2 V3 V4 V5 V6 V7 V8 V9 V10 V11 V12 V13 V14

1 3 2 2 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2

2 2 1 3 2 3 1 3 2 2 4 2 1 4 3

. . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . .

. . . . . . . . . . . . . . .

2.999 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4

3.000 3 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 4 3

ID : Nomor Responden V1 : Prosedur Pelayanan V2 : Persyaratan Pelayanan V3 : Kejelasan Petugas Pelayanan V4 : Kedisiplinan Petugas Pelayanan V5 : Tanggung Jawab Petugas Pelayanan V6 : Kemampuan Petugas Pelayanan V7 : Kecepatan Pelayanan

V8 : Keadilan Mendapatkan Pelayanan V9 : Kesopanan dan Keramahan Petugas V10 : Kewajaran Biaya Pelayanan

V11 : Kepastian Biaya Pelayanan

(31)

V12 : Kepastian Jadwal Pelayanan V13 : Kenyamanan Lingkungan V14 : Keamanan Pelayanan

3.3 Pengolahan Awal Data

Pengolahan awal data bertujuan untuk memperoleh sejumlah sampel data dari 3.000 record data yang ada menggunakan rumus Slovin dengan taraf signifikansi α sebesar 10%. Dengan demikian akan diambil sampel data sebanyak 97 record data. Adapun tahapan – tahapan yang dilakukan adalah

1. Menentukan jumlah cluster 2. Menentukan sampel data

Berikut di bawah ini adalah diagram yang mendeskripsikan langkah – langkah untuk menentukan jumlah cluster

Gambar 3.2 Diagram Penentuan Jumlah Kluster MENENTUKAN JUMLAH CLUSTER

Menghitung nilai Indeks Kepuasan Pasien

Data survey kepuasan pasien

Mengkonversi nilai indeks kepuasan pasien sebagai persepsi mutu pelayanan “Tidak Baik”, “Kurang Baik”, “Baik”

dan “Sangat Baik”.

Mengelompokkan Nilai persepsi mutu sesuai pada clusternya masing - masing

Menghilangkan cluster yang tidak memiliki anggota himpunan

Jumlah cluster adalah 4 dikurangi cluster yang dihilangkan

(32)

Berikut di bawah ini adalah diagram yang mendeskripsikan langkah – langkah dalam menentukan jumlah sampel data

Gambar 3.3 Diagram Penentuan Jumalah Sapel Data

3.4 Eksperimen dan Pengujian Metode

Tahapan – tahapan yang akan dilakukan dalam eksperimen ini adalah 1. Eksperimen data sampel menngunalan metode K-Means

2. Eksperimen data sampel menggunakan metode Fuzzy C-Means Meghitung jumlah

populasi yang ada

Menentukan jumlah sampel data menggunakan rumus Slovin dengan taraf signifikansi sebesar 10%

Menggabungkan data dari dalam bentuk matrix n x m yang akan digunakan sebagai data sample

MENENTUKAN JUMLAH SAMPEL DATA

(33)

Tidak

Berikut di bawah ini adalah diagram yang mendeskripsikan tahapan – tahapan eksperimen menggunakan metode K-Means

Gambar 3.4 Diagram Clustering menggunakan K-Means

Data Sampel

Menentukan nilai Centroid

Menghitung jarak antara titik centroid dengan titik tiap objek

Mengelompokkan objek ke clusternya masing – masing, dengan

memperhitungkan jarak minimum

Melakukan pengecekan apakah terjadi perubahan posisi cluster

Start

Ya

End

(34)

Tidak Kondisi Berhenti

Berikut di bawah ini adalah diagram yang mendeskripsikan tahapan – tahapan eksperimen menggunakan metode Fuzzy C-Means

Gambar 3.4 Diagram Clustering menggunakan Fuzzy C-Means Ya Data Sampel

Bangkitkan bilangan random sebagai elemen matriks partisi awal

Menghitung pusat cluster

Menghitung fungsi objektif

Melakukan pengecekan apakah kondisi berhenti telah terpenuhi

Start

End Target Error Maksimum

Iterasi

Hitung perubahan matriks partisi

(35)

3.5 Pengukuran Performance

Pengukuran performance akan dilakukan dengan menganalisis hasil clustering dari metode K-Means dan Fuzzy C-Means. Anggota cluster masing – masing metode akan dibandingkan dengan target cluster yang telah diperoleh dengan perhitungan metode

“rata – rata tertimbang”

(36)

36

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penentuan Jumlah Cluster

Pengukuran Indeks Kepuasan Pasien sebagai indikator mutu pelayanan Puskesmas dihitung dengan menggunakan “nilai rata – rata tertimbang”. Dari proses perhitungan seluruh populasi yaitu 3.000 data, diperoleh Indeks Kepuasan Pasien dengan rentang nilai antara 49,7 sampai dengan 99,4 . Jika merujuk pada table 3.1 (Nilai Persepsi Pasien) maka dapat diketahui bahwa tidak ada nilai Indeks Kepuasan Pasien yang menjadi anggota himpunan katagori/cluster “Tidak Baik”, maka dalam penelitian ini cluster “Tidak baik” tidak akan dijadikan objek penelitian atau dengan kata lain dihilangkan. Dengan menghilangkan cluster “Tidak Baik” maka hanya ada 3 cluster yang akan diteliti yaitu “Kurang Baik”, “Baik” dan “Sangat Baik”

Tabel 4.1 contoh perhitungan IKP Atribut Nilai Persepsi Nilai Persepsi * 1/14

V1 2 0.142

V2 2 0.142

V3 2 0.142

V4 2 0.142

V5 2 0.142

V6 2 0.142

V7 2 0.142

V8 2 0.142

V9 2 0.142

V10 2 0.142

V11 2 0.142

V12 2 0.142

V13 2 0.142

V14 2 0.142

IKP 1.988

IKP X 25 49.7

(37)

Tabel 4.2 Jumlah Cluster

Nilai Persepsi

Nilai Interval Indeks Kepuasan Pasien

Nilai IKP * 25 Label Nilai

Konversi Mutu Pelayanan

1 1,00 – 1.75 25 – 43.75 D Tidak baik

2 1,76 – 2.50 43,76 – 62.50 C Kurang baik

3 2,51 – 3.25 62,51 – 81.25 B Baik

4 3,26 – 4.00 81,26 – 100.00 A Sangat baik

4.2 Hasil Perhitungan Sampling

Dilakukan proses sampling dengan menggunakan metode Simple Random Sampling.

Jumlah ukuran sampel data ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan taraf signifikansi 𝛼 sebesar 10%

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁𝛼2

𝑛 = 3.000

1 + (3.000 × 0.102) 𝑛 = 96.774

Dibulatkan keatas menjadi 100.

Tabel 4.3 Sampel Data

ID V1 V2 V3 V4 V5 V6 V7 V8 V9 V10 V11 V12 V13 V14

1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3

3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2

4 3 2 2 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2

5 3 2 2 2 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2

6 2 1 3 2 3 1 3 2 2 4 2 1 4 3

Keterangan : cluster yang diarsir warna merah adalah cluster yang dihilangkan

Referensi

Dokumen terkait

Sebagian besar kelompok DM tipe 2 memiliki kadar GDP dan GD2PP yang tinggi yang dilakukan untuk melihat beda rerata skor MoCA-Ina Simpulan penelitian ini adalah rata

Mesin pemindah bahan ( material handling equipment ) adalah peralatan yang digunakan untuk memindahkan muatan yang berat dari satu tempat ketempat lain dalam jarak yang tidak

Nilai kuat tekan beton yang terbesar pada umur 28 hari dengan persentase nilai kuat tekan beton tertinggi, didapatkan beton normal 23,65 Mpa pada saat beton instan 25,59 Mpa dan

bahwa dalam rangka meningkatkan pencegahan korupsi menuju tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan melayani diperlukan suatu kondisi yang bebas dari benturan

Kesalahan timbul dalam bentuk burst yaitu lebih dari satu bit terganggu dalam satu satuan waktu.Deteksi error dengan Redundansi, yaitu data tambahan yang tidak ada

 Penerbitan PP dan Perpres mengenai pendaftaran tenaga kerja dan program jaminan sosial yang memuat penyederhanaan proses menjadi secara simultan 1 hari kerja, dari semula

pengakuan penjaminan atau asuransi Kredit, skema penjaminan atau asuransi Kredit, dan lembaga penjaminan atau asuransi Kredit berstatus BUMD memenuhi