• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG

PENYELENGGARAAN SISTEM INFORMASI DAN LAYANAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

DAN KOMUNIKASI (E-GOVERNMENT) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH

KABUPATEN KEBUMEN

(2)

2 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada saat ini teknologi informasi dan komunikasi telah mengalami perubahan dan perkembangan yang begitu pesat. Keadaan ini tentu saja tidak terlepas dari berbagai macam penemuan-penemuan penting di masa lampau.

Sejarah mencatat pada tahun 1875 penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell menjadi tonggak perkembangan teknologi yang memberi sumbangan nyata terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Penemuan ini kemudian berkembang dengan dibangunnya jaringan komunikasi berupa kabel di seluruh daratan Amerika dan diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik.

Proyek ini menjadi awal mula pembangunan infrastruktur komunikasi global secara masif yang dilakukan oleh manusia.

Memasuki abad 20 antara tahun 1910-1920, ditemukan teknologi transmisi suara tanpa kabel siaran radio AM dan terus mengalami perkembangan pesat hingga di tahun 1940 an dengan ditemukannya teknologi transmisi audio-visual tanpa kabel yang berwujud televisi. Di tahun 1943 komputer elektronik pertama beroperasi diikuti dengan miniaturisasi komponen elektronik berupa transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (Integrated Circuit) di tahun 1957. Di era perang dingin, perkembangan teknologi elektronika yang menjadi cikal bakal TIK saat ini mengalami momen emasnya. Persaingan IPTEK antara blok barat dan blok timur justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik yang pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi “otak” perangkat keras komputer dan terus berkembang hingga saat ini.

Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan untuk menggantikan teknologi analog. Digitalisasi perangkat telekomunikasi yang berkonvergensi dengan perangkat komputer (konten multimedia) inilah yang kemudian menandai lahirnya era baru yakni era informasi yang menjadi ciri abad ke 21. Era informasi ditandai dengan perpindahan industri tradisional ke industri ekonomi berdasarkan digitalisasi informasi dimana pada saat ini telah merambah di hampir semua aspek kehidupan.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat telah membuka babak baru dalam berbagai hal termasuk dalam tata kelola pemerintahan. Implementasi TIK telah memberikan banyak sekali manfaat yang berimplikasi luas kepada kinerja aparatur dan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam pemerintahan atau yang lebih dikenal dengan istilah e-Government telah memberikan banyak kemudahan dalam penyampaian informasi, meningkatkan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat dan mendorong kolaborasi diantara keduanya dalam melaksanakan pemerintahan. Keberhasilan dalam penerapan e-Government akan berimbas pada pelaksanaan urusan pemerintahan yang dapat dilakukan dengan efektif dan efisien1.

1 Ahmad, Edwin Dwi.2016. Ketika Teknologi Informasi Merasuki Dunia Pemerintahan.

http://rubik.okezone.com/read/32024/ketika-teknologi-informasi-merasuki-dunia-pemerintahan diakses 21 November 2017

(3)

3 Menurut Edwin Dwi Ahmad (2016), setidaknya ada tiga elemen penting yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh dalam penerapan e- Government. Ketiga elemen tersebut adalah support, capacity dan value. Support atau bisa dikatakan sebagai dukungan, artinya adalah e-Government harus didukung oleh unsur pemerintah, dalam hal ini pimpinan. Pimpinan tidak hanya pintar dalam menyusun konsep, tetapi juga diharapkan menjadi motivator dalam pelaksanaan pengembangan e-Government. Capacity adalah unsur keberdayaan dari pemerintah. Unsur ini memuat tiga sumber daya yang paling tidak harus dimiliki pemerintah dalam penerapan e-Government yakni finansial, ketersediaan infrastruktur teknologi informasi yang memadai dan ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan keahlian dalam mengelola e- Government. Elemen yang ketiga yakni value, mengandung pengertian bahwa e- Government tidak ada nilainya jika tidak ada pihak yang merasakan manfaatnya.

Dalam hal ini tidak hanya pemerintah saja yang merasakan manfaatnya tetapi juga masyarakat dan pihak terkait harus ikut merasakan manfaat dari pelaksanaan e-Government.

Pemerintah Daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah diharapkan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan tujuan agar layanan pemerintah lebih transparan, akuntabel dan bebas korupsi serta pelayanan yang dilakukan dapat efektif dan efisien. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh OECD tentang manfaat TIK yakni meningkatkan efisiensi, meningkatkan layanan, membantu mencapai hasil kebijakan tertentu, berkontribusi terhadap tujuan kebijakan ekonomi, kontributor reformasi utama, membangun kepercayaan pemerintah dan warganya serta meningkatkan transparansi dan tanggung jawab.

Untuk lingkup Pemerintah Kabupaten Kebumen, perkembangan e- Government dimulai pada tahun 1999 dengan dibentuknya Kantor Pengelolaan Data Elektronik dan Arsip Daerah (selanjutnya disebut KPDE dan Arsipda).

Setelah beberapa kali berubah bentuk dan nomenklatur akhirnya melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, dibentuklah Dinas Komunikasi dan Informatika. Tugas pokok dan fungsi Dinas Komunikasi dan Informatika berdasarkan Peraturan Bupati Kebumen Nomor 77 Tahun 2016 sangat berkaitan dengan pengelolaan e-Government.

Menilik pelaksanaan e-Government pada Pemerintah Kabupaten Kebumen, hingga saat ini dari sisi infrastruktur sudah seluruh (25) Organisasi Perangkat Daerah Badan/Dinas, 2 Kecamatan, 3 Kantor Kelurahan, 2 Kantor Kepala Desa dan 3 Puskesmas terhubung jaringan Fiber Optik, sementara 24 Kecamatan, 1 Kantor Kepala Desa dan 2 Puskesmas terhubung dengan jaringan Pemkab melalui wireless. Bandwidth internet sebesar 210 Mbps dan jumlah aplikasi sebanyak 46 buah. Fasilitas ruang server sudah cukup baik dengan peralatan yang cukup lengkap.

Dari segi finansial, dukungan dana APBD yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen dalam pelaksanaan e-Government juga cukup besar, hanya unsur ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan keahlian dalam mengelola e-Government dirasa kurang memadai.

(4)

4 Dukungan Pemerintah Kabupaten Kebumen terhadap pelaksanaan e- Government yang cukup kuat dari segi finansial, ternyata masih menyisakan permasalahan besar yakni efisiensi dan efektivitas. Dukungan anggaran yang cukup besar setiap tahunnya ternyata belum mampu secara signifikan mengefektifkan pelayanan baik pelayanan internal maupun pelayanan kepada masyarakat. Ada beberapa hal yang ditengarai menjadi penyebabnya, yaitu:

1. Banyaknya aplikasi elektronik yang dipakai oleh tiap-tiap Perangkat Daerah baik yang berasal dari pusat maupun yang dikembangkan sendiri.

Adanya aplikasi elektronik sedikit banyak membantu dalam proses kerja di masing-masing Perangkat Daerah. Namun karena aplikasi tersebut berdiri sendiri dan tidak saling terintegrasi satu sama lain maka tingkat keefektifannya menjadi berkurang.

2. Data dasar yang menjadi rujukan bagi aplikasi generik tidak sama.

3. Kapasitas bandwidth pemerintahan belum memadai dan masih terjadi perbedaan yang cukup besar (gap) di antara Perangkat Daerah.

4. Tidak adanya standarisasi pusat data di antara Perangkat Daerah dan pusat data yang telah dioperasikan umumnya masih kurang memadai.

5. Masih adanya peluang bagi masing-masing Perangkat Daerah dalam menentukan program kegiatan e-Government sehingga koordinasi dalam pengembangan e-Government kurang berlangsung dengan baik.

6. Sulitnya mengubah mindset dan perilaku aparatur untuk mengaplikasikan e-Government.

Untuk lebih mengefisien dan mengefektifkan pelaksanaan e- Government di Kabupaten Kebumen, maka perlu disusun peraturan tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen.

Hal ini penting karena kesuksesan pelaksanaan e-Government akan sangat berpengaruh pada terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, transparan, akuntabel, produktif dan profesional.

B. Identifikasi Masalah

Banyaknya aplikasi yang berjumlah 46 buah di lingkungan Perangkat Daerah Kabupaten Kebumen bisa menjadi pertanda cukup tingginya tingkat kesadaran akan pentingnya penggunaan e-Government dalam pelaksanaan tugas pemerintahan. Namun di sisi lain juga timbul pertanyaan apakah hal tersebut hanya sekedar tren ikut-ikutan Perangkat Daerah lain atau bisa juga hanya sekedar untuk membuat proyek kegiatan yang tingkat keefektifannya perlu dipertanyakan. Hal ini terjadi karena dari 46 buah aplikasi tersebut tidak semuanya rutin digunakan.

Aplikasi yang berdiri sendiri-sendiri dan tidak terintegrasi menyebabkan terjadinya pulau-pulau sistem (meminjam istilah Dewan Teknologi Informasi Komunikasi Nasional) sehingga tingkat keefektifannya masih sangat kurang. Sementara itu dalam penggunaan anggaran TIK, masing-masing Perangkat Daerah masih bebas menyusun tanpa adanya rekomendasi dari Perangkat Daerah yang menjadi leading sector pengelolaan TIK. Hal ini tentu saja bisa menyebabkan inefisiensi.

(5)

5 Penggunaan data juga masih menjadi permasalahan tersendiri. Belum adanya standarisasi dan rujukan yang berbeda dari masing-masing Perangkat Daerah, bisa menyebabkan terjadinya duplikasi data dan data yang dihasilkan tentu saja berbeda. Penggunaan dan pemanfaatan dokumen elektronik juga masih sangat kurang. Perangkat Daerah masih banyak terbawa kebiasaan lama, seolah-olah dokumen belum sah jika tidak berbentuk hardcopy.

Permasalahan yang dikemukakan di atas belum semua mencakup permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan e-Government, masih ada permasalahan-permasalahan lain yang tiap Perangkat Daerah bisa saja berbeda dengan Perangkat Daerah lain. Permasalahan tersebut terjadi karena belum adanya aturan yang jelas tentang pelaksanaan e-Government di Kabupaten Kebumen sehingga masing-masing Perangkat Daerah tidak memiliki pedoman yang dapat dijadikan acuan.

Tentunya permasalahan-permasalahan tersebut memerlukan pemecahan yang komprehensif. Di sinilah peran Pemerintah Daerah sebagai pemilik kebijakan dari sisi regulasi untuk memberikan peran sentralnya yang konkret. Untuk itu diperlukan kebijakan yang mengatur sistem informasi dan layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (e-Government) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen agar pelaksanaannya dapat efektif dan efisien.

C. Tujuan dan Kegunaan Naskah Akademik

Tujuan disusunnya naskah akademik ini adalah untuk menguraikan mengenai pokok-pokok pengaturan e-Government dan penyelenggaraan pelayanan publik berbasis elektronik dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen.

Kegunaan Naskah Akademik ini adalah:

a. sebagai dasar konseptual dalam penyusunan pasal‐pasal dan penjelasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen; dan

b. sebagai landasan pemikiran bagi anggota DPRD dan Pemerintah Daerah dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen.

D. Metode Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kebumen yang akan dikaji secara yuridis-normatif yang dilengkapi dengan pendekatan yuridis- empiris.

D.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berusaha menggambarkan ruang lingkup pengaturan e-Government dan penyelenggaraan pelayanan publik berbasis elektronik.

(6)

6 D.2 Tipe Penelitian

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini bersifat deskriptis analitis yaitu dengan menggambarkan dan menganalisis data mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan aspek hukum administrasi negara dan aspek hukum telematika, khususnya dalam rangka pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang terwujud dalam penyelenggaraan sistem elektronik pemerintahan.

D.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam Penelitian ini, data yang diperoleh dapat dibedakan atas data primer dan data sekunder. Data yang dianalisis dalam penelitian ini (berdasarkan sudut kekuatan mengikatnya), adalah:

a. Data primer, yaitu bahan-bahan hukum mengikat, berupa peraturan perundang-undangan khususnya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Peraturan Perundang-Undangan terkait lainnya antara lain Undang-Undang tentang Keterbukaan Informasi Publik, Undang-Undang tentang Pelayanan Publik, Undang- Undang tentang Arsip dan Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Data primer juga diperoleh dari pengamatan (observasi), diskusi (Focus Group Discussion), wawancara dan dokumen yang dimiliki oleh Dinas Komunikasi dan Inform.

b. Data sekunder, yang terdiri dari hasil pengkajian, hasil tulisan ilmiah yang berkaitan dengan objek penelitian, dan data resmi pada instansi- instansi pemerintah lainnya, serta data yang bersumber dari internet dan jurnal.

(7)

7 BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Definisi E-Government

World Bank Group (2006) mendefinisikan e-Government sebagai penggunaan teknologi informasi oleh badan badan pemerintah, seperti: Wide Area Network, Internet, dan Mobile Computing, yang mempunyai kemampuan untuk mengubah hubungan dengan warga negara, pelaku bisnis,dan badan pemerintah lainnya. (The World Bank Group, “A Definition of E-Government”.

Sementara UNDP mendefinisikan e-Government sebagai berikut: “E- Government is the application of Information and Tecnology Communication (ICT) by government agencies” (e-Government adalah aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dari agen pemerintah) (Indrajit, 2004).

Secara umum dapat didefinisikan bahwa pada dasarnya E- Government adalah penerapan produk-produk Teknologi Informasi dan Komunikasi yang digunakan untuk mendukung administrasi pemerintahan:

“Broadly defined, e-gov includes the use of all information and communications technologies from fax machines to wireless palm pilots to facilitate the daily administration of government.”

Dalam perkembangannya, seiring dengan pemanfaatan komputer dan internet yang telah menyentuh hampir semua sektor kehidupan tak terkecuali urusan pemerintahan, maka istilah yang semula populer dengan Sistem Informasi Pemerintahan (Government Information System) kini telah bergeser menjadi istilah e-Government yang sering dikonotasikan dengan pemanfaatan internet dalam urusan-urusan pemerintahan berikut pelayanan publiknya kepada masyarakat, termasuk transparansi pembuatan kebijakan dan regulasinya.

Selanjutnya seiring dengan konvergensi TIK yang terjadi dimana telah menempatkan internet sebagai pasar yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi maka e-Government dimaknai menjadi lebih luas lingkupnya tidak hanya untuk melayani penduduk dalam konteks pelayanan publik melainkan juga hubungan kontraktual pemerintah dengan pelaku usaha temasuk transformasi organisasi dan perilaku dalam melakukan hubungan hukumnya baik internal maupun eksternal.

Suatu catatan yang paling menarik adalah pendapat dari peneliti Belanda Koen Zweers dan Kees Planque yang berpendapat bahwa pengertian e- government adalah seperti e-commerce dalam arti yang lebih luas dari sekedar pengertian pelayanan pemerintah kepada masyarakat melalui sistem elektronik, mereka melihat bahwa e-government lebih dari sekedar menyediakan servis elektronik kepada masyarakat karena terdapat lingkup e- commerce yang juga merupakan bagian dari pengertian e-government itu sendiri.

Dari kesemua pengertian tersebut di atas dapat dipahami bahwa pembicaraan e-Government juga akan menyentuh sisi e-commerce dan secara teknis sebenarnya adalah mempunyai komponen yang sama yaitu komponen dari sistem informasi itu sendiri. Yang membedakannya hanyalah lingkup dan tujuan penggunaannya. Jadi dapat dikategorikan bahwa dalam arti sempit e- government hanya untuk mendukung administrasi pemerintahan dan

(8)

8 pelayanan publiknya, namun dalam arti luas adalah mencakup sarana perdagangan secara elektronik, dimana salah satu subjek transaksinya adalah pemerintah (contoh: pengadaan barang dan jasa pemerintah).

Istilah E-Government atau Electronic Government pertama kali muncul secara tegas dalam khazanah hukum di Indonesia dengan adanya Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government (selanjutnya disebut Inpres eGov). Inpres eGov tersebut tidak memuat pasal khusus mengenai definisi, namun rumusan butir kedua dalam bagian menimbang Inpres eGov pada dasarnya memuat definisi yuridis mengenai istilah e-Government tersebut, yaitu “pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pemerintahan.” Berdasarkan definisi tersebut, maka istilah „electronic‟ diartikan sebagai „pemanfaatan teknologi infomasi dan komunikasi‟, sedangkan istilah „government‟ diartikan sebagai

„proses pemerintahan‟.

Dalam perkembangannya istilah e-Government tersebut kemudian dihubungkan dengan istilah e-Governance. Secara umum, terdapat pandangan bahwa keduanya memiliki konsep dan ruang lingkup yang berbeda, yang mana e-Governance merujuk pada suatu yang lebih luas (Palvia dan Sharma).

Berdasarkan pada perkembangan yuridis tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep eGov pada dasarnya tidak berubah, yaitu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk proses pemerintahan demi akuntabilitas sistem pemerintahan itu sendiri.

B. Perkembangan SEP

Pada umumnya pengimplementasian eGov berlangsung dalam 3 (tiga) skema, yaitu G2C (Government to Citizen), G2B (Government to Business), dan G2G (Government to Government). Namun kini G2E (Government to Employee) juga telah diterima sebagai tipe keempat dalam pengimplementasian eGov. Alshehri dan Drew mengemukakan bahwa G2E adalah suatu bentuk relasi antara Institusi Pemerintahan dengan pegawainya, yang tujuannya adalah memberikan pelayanan kepada para pegawai pemerintahan secara elektronik.

Dalam menilai kualitas penyelenggaraan SEP, umumnya ada 2 aspek utama yang dilihat, yaitu aspek perencanaan strategisnya dan aspek perencanaan teknis operasionalnya. Tujuan umum dalam penyelenggaraan SEP adalah untuk mewujudkan: a. Efisiensi dan efektifitas dari proses administrasi pemerintahan yang memberikan pelayanan kepada masyarakat;

b. transparansi dari Institusi pemerintahan, c. simplifikasi dalam kegiatan administrasi pemerintahan, d. pengurangan kesenjangan digital, sehingga seluruh masyarakat dapat mengakses layanan online yang dikelola Instansi pemerintah. Penyelenggaraan SEP dapat diukur kualitasnya dari 4 (empat) faktor, yaitu Efisiensi, Efektifitas, Aksesibilitas, dan Akuntabilitas. Efisiensi diukur dengan melihat hasil yang dicapai dari suatu layanan elektronik dibandingkan dengan sumber daya yang digunakan (sumber daya finansial, manusia, peralatan, dan lain sebagainya). Efektifitas diukur dengan seberapa dekat pencapaian yang dilakukan dibandingkan dengan ekspektasi atau harapan dari masyarakat. Aksesibilitas diukur dari seberapa mudah layanan

(9)

9 elektronik dapat digunakan, baik dalam situasi tempat yang mudah akses teknologinya dan tempat yang sulit akses teknologinya, dan juga seberapa mudah untuk digunakan oleh masyarakat dalam berinteraksi (user friendliness of the interactions). Akuntabilitas diukur dengan mengasumsikan bahwa setiap tindakan, produk, keputusan, dan kebijakan dari Institusi pemerintahan harus dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

C. Kondisi e-Government di Kabupaten Kebumen

Untuk mendukung kegiatan administrasi, pengolahan data internal dan layanan informasi publik Pemerintah Kabupaten Kebumen telah mengembangkan aplikasi-aplikasi sistem informasi. Beberapa Perangkat Daerah telah menggunakan sistem informasi yang dikembangkan secara parsial oleh masing-masing Perangkat Daerah. Hal ini menyebabkan data tidak terintegrasi sehingga masih terjadi adanya duplikasi data dan inkonsistensi data.

Pemerintah Kabupaten Kebumen sampai dengan akhir tahun 2017 telah mengembangkan sebanyak 46 sistem informasi yang dioperasikan secara intranet maupun online (internet) dan dimanfaatkan untuk pelayanan pengolahan data Perangkat Daerah di lingkup Pemerintah Kaupaten Kebumen.

Sistem Informasi yang telah dikembangkan di Kabupaten Kebumen meliputi:

NO NAMA APLIKASI PENGELOLA

1. SIAK Dinas Kependudukan dan

Pencatatan Sipil

2. SIMDA BPKAD

3. SIMGAJI BPKAD

4. SIMDA BMD BPKAD

5. SIM PBB BAPENDA

6. SIMPADA ONLINE BAPENDA

7. SIMPADA OFFLINE BAPENDA

8. SIMPADA CONVERTER REPORT

BAPENDA

9. SISMIOP BAPENDA

10. BILLING PBB BAPENDA

11. SIKDA DINAS KESEHATAN

12. SIMKOMINFO DINAS KOMINFO

13. SIM MENARA DINAS KOMINFO

14. BURSA KERJA ONLINE DINAS TENAGA KERJA DAN KUKM 15. E-TIKET WISATA DISPORA WISATA

16. SIMPER BAP3DA

17. SIMTARU BAP3DA

18. SIMDALEV BAP3DA

(10)

10

19. SIMTASKIN BAP3DA

20. SID SUPRA DESA BAP3DA

21. SID DISPERMDES P3A

22. SIMPEG BKPPD

23. LPSE - DINAS KOMINFO

- BAGIAN PEMBANGUNAN SETDA

24. SIMPEL BAGIAN PEMBANGUNAN SETDA

25. SIM ARSIP DINAS KEARSIPAN DAN

PERPUSTAKAAN

26. SIM PKK TP PKK KEBUMEN

27. SILHD DISPERUMKIN LH

28. SIPERI DPM PTSP

29. SIKOPAT BAPENDA

30. SIPATMA BPKAD

31. INFRASTRUKTUR BAP3DA

32. SIJULANGLONCAT BPKAD

33. SIDORA DISPORA WISATA

34. SIDATENAN BAP3DA

35. SIJARI DINAS PERTANIAN DAN PANGAN

36. REMAJA DPU PR

37. SIBIMA DPU PR

38. SKRD PASAR DINAS PERINDUSTRIAN DAN

PERDAGANGAN

39. SPGDT DINKES

40. SIMPPAS BPKAD

41. SIGADA BAGIAN PEMERINTAHAN SETDA

42. E-SAKIP BAGIAN ORGANISASI

43. Kebumen On News DINAS KOMINFO 44. Kebumen Dalam Angka DINAS KOMINFO

45. PPID DINAS KOMINFO

46. Sim Penghitung Tamsil DINAS KOMINFO

Untuk mengkoneksikan semua aplikasi yang dikembangkan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen telah dibangun jaringan fiber optic yang meliputi seluruh (25) Organisasi Perangkat Daerah Badan/Dinas, 2 Kecamatan, 3 Kantor Kelurahan, 2 Kantor Kepala Desa dan 3 Puskesmas,, sementara 24 Kecamatan, 1 Kantor Kepala Desa dan 2 Puskesmas terhubung dengan jaringan Pemkab melalui wireless.

(11)

11 Gambar 2.1 Topologi jaringan fiber optik Pemkab. Kebumen

Gambar 2.1 Topologi jaringan wireless Pemkab. Kebumen

(12)

12 D. Implikasi Penerapan eGov


Beberapa keuntungan penerapan eGov adalah sebagai berikut:

E-Government meningkatkan efisiensi: ICT membantu meningkatkan efisiensi tugas
pemrosesan massal dan operasi administrasi publik.

Aplikasi berbasis internet dapat melakukan penghematan pengumpulan dan transmisi data, serta penyediaan informasi dan komunikasi dengan pelanggan. 


E-Government meningkatkan kualitas dan mempercepat proses pemberian layanan kepada masyarakat. Internet dapat membantu mencapai tujuan ini dengan memunculkan pemerintah sebagai organisasi terpadu yang memberikan layanan online dengan lancar. Sama dengan semua layanan, layanan e-government juga harus dikembangkan berdasarkan permintaan dan nilai pengguna. 


E-Government membantu mencapai hasil kebijakan tertentu: ICT dapat membantu pemangku kepentingan berbagi informasi dan ide, untuk kemudian berkontribusi dalam menentukan hasil kebijakan. 


E-Government berkontribusi terhadap tujuan kebijakan ekonomi: E- Government membantu mengurangi korupsi, meningkatkan keterbukaan dan kepercayaan terhadap pemerintah, serta berkontribusi terhadap tujuan kebijakan ekonomi. Dampak spesifik mencakup penurunan pengeluaran pemerintah melalui program yang lebih efektif, efisiensi serta peningkatan produktivitas bisnis melalui penyederhanaan administrasi yang dimungkinkan oleh ICT dan peningkatan informasi pemerintah. 


 E-Government membantu membangun kepercayaan antara Pemerintah Daerah dan warganya: 
Membangun kepercayaan antara pemerintah daerah dan warganya sangat fundamental bagi pemerintahan yang baik.

ICT dapat membantu membangun kepercayaan dengan memungkinkan keterlibatan warga dalam proses kebijakan.

 E-Government meningkatkan transparansi dan tanggung jawab: ICT membantu meningkatkan transparansi dalam proses pengambilan keputusan dengan memudahkan informasi untuk dapat diakses–

mempublikasikan debat dan rapat, anggaran dan pengeluaran, hasil dan alasan pemerintah untuk mengambil suatu keputusan penting, dan lain- lain.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka baik secara teoritik maupun kenyataan
empirik, diperlukan suatu ketentuan hukum dalam bentuk Peraturan Daerah guna mengikat publik dan menjamin keterpaduan sistem pemerintahan dalam penyelenggaraan E-Government.

(13)

13 BAB III


EVALUASI DAN ANALISIS

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

Pengaturan Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi dan Komunikasi (e-Government) mempunyai hubungan dan keterkaitan dengan peraturan perundang-undangan lainnya, antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Pasal 101 dan 102 dari undang-undang ini secara tegas menyebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah. Informasi yang berkaitan dengan sistem informasi tersebut mencakup: a. APBD dan laporan realisasi APBD Provinsi, Kabupaten, dan Kota, 
b. Neraca Daerah, c. Laporan Arus Kas, d. Catatan Atas Laporan Keuangan Daerah, e. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan, f. Laporan Keuangan Perusahaan Daerah, dan Data Terkait Kebutuhan dan Kapasitas Fiskal Daerah. Terkait dengan data yang dihasilkan oleh sistem informasi tersebut, ditegaskan bahwa sifatnya adalah Data Terbuka, yang dapat diketahui, diakses, dan diperoleh masyarakat.

Rincian pengelolaan sistem informasi tersebut diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dalam Pasal 15 ayat (1) disebutkan bahwa Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik harus menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana mestinya.

3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Dalam Pasal 7 disebutkan bahwa Badan Publik harus membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi untuk mengelola informasi publik. Adapun informasi yang terkait dengan sistem informasi tersebut informasi publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala, informasi publik yang wajib diumumkan secara serta merta, dan informasi publik yang wajib tersedia setiap saat. Sistem informasi tersebut harus dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah. 


4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Pasal 344 ayat (1) menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah wajib menjamin terselenggaranya pelayanan publik berdasarkan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Pada ayat (2) disebutkan bahwa Pelayanan publik diselenggarakan berdasarkan pada asas:

a. kepentingan umum;

b. kepastian hukum;

c. kesamaan hak;

(14)

14 d. keseimbangan hak dan kewajiban;

e. keprofesionalan;

f. partisipatif;

g. persamaan perlakuan/tidak diskriminatif;

h. keterbukaan;

i. akuntabilitas;

j. fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan;

k. ketepatan waktu; dan

l. kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

Selain itu, dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu pada huruf p pembagian urusan bidang komunikasi dan informatika, disebutkan bahwa pengelolaan e-Government di lingkup pemerintah kabupaten/kota merupakan salah satu kewenangan daerah kabupaten/kota.

Berdasarkan telaah terhadap Undang-Undang tersebut di atas, maka ada keterkaitan dengan penyusunan Raperda tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi, Informasi dan Komunikasi (e- Government) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen sebagai berikut:

1. Ketersediaan data dan informasi dipandang sangat penting; 


2. Sistem informasi dipandang sangat penting, karena dapat membuat kegiatan pengelolaan 
data dan informasi berlangsung lebih berkualitas;

3. Keteraksesan data secara mudah oleh masyarakat dipandang sangat penting;

dan

4. Kewajiban Pemerintah Daerah untuk menjamin terselenggaranya pelayanan publik.

(15)

15 BAB IV

LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

A. Landasan Filososfis

Salah satu kewajiban bagi negara sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945 adalah memberikan pelayanan kepada warga negara dan penduduk agar terpenuhi hak dan kebutuhan dasarnya. Sebagaimana kita ketahui, pada saat ini praktik penyelenggaraan pelayanan publik masih terdapat berbagai kelemahan sehingga belum dapat memuaskan masyarakat.

Berbagai macam keluhan dan image negatif dari penyelenggaraan pelayanan masih sering dijumpai mewarnai dunia pelayanan publik di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah sebenarnya telah berusaha untuk memberikan pelayanan yang lebih berkualitas seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat dan lahirnya berbagai kebijakan di bidang pelayanan publik, diantaranya dengan mengeluarkan Undang- Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Dalam Undang- Undang tersebut disebutkan bahwasanya pelayanan publik diselenggarakan berdasarkan asas kepentingan umum; kepastian hukum; kesamaan hak;

keseimbangan hak dan kewajiban; keprofesionalan; partisipatif; persamaan perlakuan/tidak diskriminatif; keterbukaan; akuntabilitas; fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan; ketepatan waktu; dan kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan.

Pemerintah Pusat telah mendorong Pemrintah Daerah untuk menyederhanakan jenis dan prosedur pelayanan publik untuk meningkatkan mutu pelayanan dan daya saing daerah. Salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan mutu pelayanan adalah penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.

B. Landasan Sosiologis

Landasan sosiologis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek. Sebagaimana diamanatkan sila kelima Pancasila, maka pemerintahan diharapkan dapat menjalankan keadilan sosial. Salah satu bentuk bentuk keadilan sosial adalah adanya jaminan akses warga negara terhadap kesejahteraan yang salah satu diantaranya adalah praktis dan mudahnya akses untuk mendapatkan pelayanan publik.

Untuk mewujudkan pelayanan publik yang parktis, cepat dan efisien perlu dilakukan reformasi birokrasi untuk mengubah budaya kerja selama ini. Reformasi birokrasi akan mengubah budaya kerja “alon-alon asal kelakon”, “kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah” dan budaya kerja negatif lainnya. Salah satu cara yang bisa diterapkan untuk mengubah budaya kerja tersebut adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu perlu penerapan e-Government pada lingkup Pemerintah Daerah. Dalam pelaksanaannya memerlukan perencanaan,

(16)

16 pengintegrasian dan pengembangan e-Government secara online yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Kebumen, disamping itu juga perlu kesamaan pemahaman dan keterpaduan langkah dari seluruh unsur Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk mendukung reformasi birokrasi guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.

C. Landasan Yuridis

Landasan yuridis merupakan pertimbangan alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan pertimbangan aturan yang telah ada, yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat. Landasan yuridis menyangkut persoalan hukum yang berkaitan dengan substansi atau materi yang diatur sehingga perlu dibentuk peraturan perundang-undangan yang baru. Beberapa persoalan hukum itu, antara lain, peraturan yang sudah ketinggalan, peraturan yang tidak harmonis atau tumpang-tindih, jenis peraturan yang lebih rendah undang-undang sehingga daya berlakunya lemah, peraturannya sudah ada tetapi tidak memadai, atau peraturannya memang sama sekali belum ada.

Penyelenggaraan e-Government di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen tentunya memerlukan pedoman dalam pelaksanaannya. Dalam hal ini diperlukan suatu instrumen pengaturan sesuai kewenangan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, salah satu bentuk peraturan perundang-undangan yang dapat dibentuk oleh Pemerintah Daerah tingkat kabupaten adalah peraturan daerah. Sesuai ketentuan Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Daerah disusun untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sehingga Pemerintah Kabupaten Kebumen memiliki kewenangan untuk menyusun Raperda tentang Penyelenggaraan e- Government.

Selain itu, dalam penyusunan Raperda tentang Penyelenggaraan e- Government juga harus memperhatikan peraturan perundang-udnangan yang terkait diantaranya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik ("UU-KIP"), Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik ("UU Pelayanan Publik"), Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ("UU- ITE"), Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government, dan KepmenPAN Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

(17)

17 BAB V


JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI PENGATURAN

Jangkauan ataupun cakupan dari pengaturan mengenai Penyelenggaraan e-Government adalah mencakup segala tindakan administratif dan pelayanan yang dilakukan demi kepentingan publik yang lebih besar.2 Untuk menentukan ruang lingkup Perda Penyelenggaraan e-Government ini maka pemaparan pokok- pokok materi yang akan terdapat di dalam Raperda ini harus dikaji. Pokok-pokok materi ini akan dijadikan acuan dalam membentuk muatan Raperda.

A. Ketentuan Umum

Pada bab ini akan diuraikan beberapa definisi operasional dalam istilah yang digunakan, antara lain:

1. Daerah adalah Kabupaten Kebumen.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

3. Bupati adalah Bupati Kebumen.

4. Perangkat Daerah adalah Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen.

5. E-Government adalah penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Pemerintah berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

6. Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi serta komunikasi.

7. Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang- undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

8. Pelayanan non publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi internal penyelenggara pelayanan publik atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

9. Infrastruktur adalah sarana dan prasarana Teknologi Informasi dan Komunikasi yang tersedia dan memadai dalam pelaksanaan e- Government.

10. Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi untuk mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik.

11. Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

2 tidak termasuk Aktifitas surveilance yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya oleh pimpinan perusahaan terhadap pegawainya atau Data Centre dst

(18)

18 12. Dokumen Elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui komputer atau sistem elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

13. Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer dan/atau media elektronik lainnya.

14. Penyelenggaraan Transaksi Elektronik adalah rangkaian kegiatan transaksi elektronik yang dilakukan oleh Pengirim dan Penerima dengan menggunakan sistem elektronik.

15. Sertifikat Elektronik adalah sertifikat yang bersifat elektronik yang memuat tanda tangan elektronik dan identitas yang menunjukkan status subjek hukum para pihak dalam transaksi elektronik yang dikeluarkan oleh penyelenggara sertifikasi elektronik.

16. Keamanan Informasi adalah perlindungan terhadap sistem informasi dari akses yang tidak berhak, penyalahgunaan, kebocoran, gangguan, modifikasi, pemalsuan dan perusakan informasi sesuai dengan prinsip kerahasiaan, keutuhan, keaslian dan nir penyangkalan informasi.

17. Data adalah fakta berupa angka, karakter, symbol, gambar, tanda-tanda, isyarat, tulisan, suara, bunyi yang merepresentasikan keadaan sebenarnya yang selanjutnya digunakan sebagai masukan sebuah sistem informasi.

18. Pusat Data adalah suatu ruangan yang dirancang sedemikian rupa yang digunakan untuk menempatkan sistem komputer dan komponen- komponen terkaitnya, seperti sistem telekomunikasi dan penyimpanan data.

19. Walidata adalah pemilik data sesuai tugas pokok dan fungsinya.

20. Masyarakat adalah seluruh pihak, baik warga negara maupun penduduk sebagai orang perseorangan, kelompok, maupun badan hukum yang berkedudukan sebagai penerima manfaat pelayanan publik, baik secara langsung maupun tidak langsung.

21. Perangkat lunak adalah istilah khusus untuk data yang diformat dan disimpan secara digital, termasuk program komputer, dokumentasinya, dan berbagai informasi yang bisa dibaca, dan ditulis oleh komputer.

22. Repository adalah tempat penyimpanan kumpulan-kumpulan software/

aplikasi yang bisa diunduh untuk digunakan.

23. Server adalah sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan tertentu dalam sebuah jaringan komputer.

24. Website adalah sekumpulan informasi yang bisa diakses melalui sebuah jaringan komputer, dimana informasi tersebut ditampilkan dalam bentuk halaman informasi terformat yang bisa dihubungkan ke halaman informasi lainnya.

25. Domain adalah wilayah otonomi administrasi, wewenang atau kendali pada internet.

26. Subdomain adalah sub wilayah otonomi administrasi, wewenang atau kendali pada internet.

27. Internet Protocol yang selanjutnya disingkat IP adalah lapisan internetwork yang digunakan oleh protokol TCP/IP untuk melakukan pengamatan dan routing paket data antar host-hot di jaringan komputer

(19)

19 berbasis TCP/IP atau sistem pengamatan di jaringan yang dipresentasikan dengan sederetan angka berupa kombinasi 4 deret bilangan mulai dari 0.0.0.1 sampai dengan 255.255.255.255 (IP versi 4) atau 6 deret bilangan hexa (IP versi 6) mulai dari 0.0.0.0 sampai dengan FFF.FFF.FFF.FFF.FFF.FFF.

28. Internet adalah merupakan jaringan komputer global yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.

29. Aplikasi adalah suatu subsistem perangkat lunak komputer yang memanfaatkan kemampuan komputer langsung untuk melakukan suatu tugas yang diinginkan pengguna.

30. Kode sumber adalah kode-kode kunci pada database yang digunakan untuk pengembangan dan perubahan database.

31. Disaster Recovery Center adalah suatu fasilitas yang digunakan untuk memulihkan kembali data atau informasi serta fungsi-fungsi penting Sistem Informasi yang tergangu atau rusak akibat terjadinya bencana yang disebabkan oleh alam atau manusia.

32. Bandwidth adalah kapasitas maksimum dari suatu jalur komunikasi yang dipakai untuk mentransfer data dalam hitungan detik.

B. Materi Yang Akan Diatur

Materi yang akan diatur dalam Raperda adalah sebagai berikut:

1. Maksud dan Tujuan

Bab ini mengatur mengenai maksud dan tujuan disusunnya Perda.

a. Maksud

Peraturan Daerah disusun sebagai pedoman dalam penyelenggaraan eGovernment di lingkungan Pemerintah Daerah sehingga dapat dilaksanakan dengan baik dan berkualitas.

b. Tujuan disusunnya Perda tentang eGov adalah:

 menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, transparan, efektif dan efisien sesuai tuntutan perubahan dengan berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi;

 menciptakan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka peningkatan pelayanan publik dan non publik; dan

 menciptakan sinergi antar Perangkat Daerah dalam Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis TIK.

2. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pengaturan Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Pemerintah Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi meliputi:

1) penyelenggaraan e-government, meliputi:

- perencanaan; dan - penyelenggaraan;

2) Keabsahan Dokumen;

3) Sistem Pengamanan Informasi; dan

4) Pelayanan Publik Berbasis e-Government.

(20)

20 3. Perencanaan

Bab ini mengatur mengenai perlunya disusun Rencana Induk e- Government sebagai dasar perencanaan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan e-Government.

4. Penyelenggaraan e-Government

Bab ini mengatur mengenai penyelenggaraan e-Government yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah yang meliputi penerapan kebijakan, kelembagaan dan sumber daya manusia, sistem informasi manajemen, dan infrastruktur yang perlu dipersiapkan.

5. Keabsahan Dokumen Elektronik

Bab ini berisi pengaturan mengenai data, informasi dan dokumen elektronik yang menjadi bagian dalam sistem e-Government berlaku sebagai dokumen yang sah dalam administrasi pemerintahan.

6. Sistem Pengamanan Informasi

Bab ini berisi pengaturan mengenai sistem pengamanan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan e- Government.

7. Penyelenggaraan Pelayanan Publik Berbasis Elektronik

Bab ini berisi pengaturan mengenai perlunya pelayanan publik yang dilaksanakan dengan sistem informasi dan bagaimana penerapan sistem informasi tersebut dalam pemberian pelayanan publik.

8. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian

Bab ini berisi pengaturan mengenai tata cara pembinaan, pengawasan dan pengendalian dalam penyelenggaraan e-Government oleh Pemerintah Daerah.

9. Penutup

Bab ini berisi pengaturan mengenai saat berlakunya Perda dan perintah pengundangannya dalam Lembaran Daerah.

(21)

21 BAB VI

PENUTUP

A. Simpulan

1. Adanya rencana untuk menyusun Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen merupakan gagasan yang sangat baik dan perlu didukung oleh semua pihak dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik di Kabupaten Kebumen.

2. Dalam hubungannya dengan keinginan yang kuat untuk mewujudkan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (E-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen, semakin menunjukkan adanya suatu kesadaran dan komitmen yang sangat tinggi untuk menempatkan dan memfokuskan persoalan e-Government dalam rangka mempercepat dan mendukung pembangunan daerah.

3. Secara filosofis, pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi Dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (E-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.

4. Secara Yuridis, dengan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen ini, maka akan semakin memperjelas pengaturan tentang pengembangan dan pelaksanaan e- Government di Kabupaten Kebumen yang disesuaikan dengan amanat undang-undang yang secara hierarki ada di atasnya.

5. Secara Sosiologis, dengan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen ini akan mendorong perubahan cara dan budaya kerja yang dapat mendukung reformasi birokrasi guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.

B. Saran dan Rekomendasi

1. Perlu kesepakatan dan kesepahaman serta komitmen bersama dari seluruh Perangkat Daerah untuk menyelenggarakan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e- Government). 


2. Perlu pendataan dan penataan kembali tentang elemen-elemen pendukung e-Government (SDM, perangkat lunak, perangkat keras, Sistem Informasi dan SOP).

(22)

22 3. Perlu dilakukan sosialisasi untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman

oleh publik. 


4. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Sistem Informasi dan Layanan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (e-Government) di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen sudah sangat mendesak untuk segera diterbitkan, untuk itu perlu diperhatikan terkait agenda pengajuan usulan Program Pembentukan Peraturan Daerah dan persetujuan dari Badan Pembentukan Perda.

(23)

23

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Edwin Dwi.2016. Ketika Teknologi Informasi Merasuki Dunia Pemerintahan. http://rubik.okezone.com/read/32024/ketika- teknologi-informasi-merasuki-dunia-pemerintahan diakses 21 November 2017

Anwar, M. Khoirul dan Assianti, Oetojo S. (2004). Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bagi Pemerintah Daerah Di Era Otonomi Daerah.

Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Creswell, John W. 2010. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Penterjemah: Ahmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Dwiyanto, Agus. 2010. Manajemen Pelayanan Publik: Peduli, Inklusif &

Kolaboratif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Indrajit, Richardus Eko (2005). E-Government in action. Yogyakarta:Andi Offset.

Indrajit, Richardus Eko (2002). Membangun Aplikasi E-Government. Jakarta: PT Elek Media Komputindo.

Indrajit, Richardus Eko (2004). E-Government Strategi Pembangunan Dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital.

Yogyakarta: Andi Offset.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya

Osborne, David and Gaebler, Ted. 1996. Mewirausahakan Birokrasi (Reinventing Government). Jakarta: Teruna Gravika

Ratminto dan Atik Septi Winarsih. Manajemen Pelayanan: Pengembangan Model Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Sinambela, Lijan Poltak dkk. 2006. “Reformasi Pelayanan Publik Teori, Kebijakan dan Implementasi”. Jakarta: Bumi Aksara

Sugiyono, 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta Terjemahan Abdul Rosyid & Ramelan. Jakarta: PPM

Widodo, Joko. Good Governance: Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Surabaya:

Insan Cendikia.


Winarno, Budi.2004. Implementasi Konsep “Reinventing Government” Dalam

Pelaksanaan Otonomi Daerah.

http://eprints.undip.ac.id/984/1/Artikel_Budi_Winarno_edit.pdf diakses 19 Januari 2017

Naskah Akademik RUU E-Government

http://www.cimsaig.com/index.php?option=com_content&view=article&id=67&It emid=93&lang=id diakses 19 November 2017

http://jdih.ntbprov.go.id/sites/default/files/Ranperda.pdf diakses 19 November 2017

https://en.wikipedia.org/wiki/E-government diakses 19 November 2017 http://www1.worldbank.org/publicsector/egov/definition.htm, diakses 19 November 2017

(24)

24 Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Kearsipan

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik

Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government

KepmenPAN Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik

Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah

Peraturan Bupati Kebumen Nomor 77 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tata Kerja Dinas Komunikasi Dan Informatika

Gambar

Gambar 2.1 Topologi jaringan wireless Pemkab. Kebumen

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) pembelajaran Fisika melalui penggunaan modul Fisika berbasis

Jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan Repair service and installaton of machinery and. equipment

The Parties, subject to the terms of this Memorandum of Understanding and the laws, national policies, rules and regulations of each Party, agree to strengthen,

Pada laporan Tugas Akhir ini tujuan utamanya adalah untuk mengatahui gambaran sistem panasbumi Dieng Kabupaten Wonosobo- Banjarnegara, untuk mengetahui hal tersebut

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

Berdasarkan hasil analisis dan rekapitulasi data letak kesalahan terhadap 52 subjek penelitian (lihat Tabel 1), diperoleh data bahwa terdapat sebanyak 29% subjek

Perbedaan pengaturan hak kesehatan buruh yang diselenggarakan oleh Jamsostek dan BPJS Kesehatan adalah dari segi asas dan prinsip penyelenggaraan; sifat kepesertaan; subjek

Pada tes pengetahuan akhir dzikir, peserta diberikan kembali soal yang serupa dengan soal pada tes pengetahuan awal. Dari hasil analisis pengetahuan akhir dzikir