• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN PERUSAHAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERATURAN PERUSAHAAN"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN

PERUSAHAAN

(2)

Table of Contents

DAFTAR ISI i

MUKADIMAH 1

ISTILAH 1

BAB I KETENTUAN UMUM 6

PASAL 1 LUASNYA PERATURAN PERUSAHAAN 6

PASAL 2 KEWAJIBAN PARA PIHAK 6

BAB II HUBUNGAN KERJA 7

PASAL 3 PENERIMAAN DAN PENGANGKATAN KARYAWAN BARU 7

PASAL 4 PERJANJIAN KERJA 8

PASAL 5 MUTASI, PROMOSI, DEMOSI 9

PASAL 6 GOLONGAN KARYAWAN 10

PASAL 7 JENJANG DAN TINGKATAN KARYAWAN 10

BAB III HARI KERJA DAN JAM KERJA 11

PASAL 8 HARI KERJA DAN JAM KERJA 11

BAB IV HARI LIBUR, ISTIRAHAT TAHUNAN (CUTI) DAN IJIN 12

PASAL 9 HARI LIBUR 12

PASAL 10 ISTIRAHAT TAHUNAN (CUTI) 12

PASAL 11 KETENTUAN PELAKSANAAN ISTIRAHAT TAHUNAN DAN IJIN 13

PASAL 12 SAKIT 14

PASAL 13 CUTI KHUSUS 15

PASAL 14 ISTIRAHAT MELAHIRKAN DAN KEGUGURAN 16

(3)

PASAL 15 KEHADIRAN 17 PASAL 16 TERLAMBAT, PULANG LEBIH AWAL, PERGI KELUAR UNTUK

KEPENTINGAN PRIBADI 18

PASAL 17 KETIDAK HADIRAN 19

BAB VI PENGUPAHAN 21

PASAL 18 UPAH DAN SISTEM PENGUPAHAN 21

PASAL 19 UPAH KARYAWAN SELAMA SAKIT 22

PASAL 20 KENAIKAN UPAH TAHUNAN 23

PASAL 21 PAJAK PENGHASILAN 24

PASAL 22 TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN 24

BAB VII JAMINAN SOSIAL / KESEJAHTERAAN KARYAWAN 25

PASAL 23 PROGRAM BPJS 25

PASAL 24 BIAYA YANG TIDAK DITANGGUNG OLEH PERUSAHAAN 26

PASAL 25 ASURANSI PERAWATAN RUMAH SAKIT, PEMBEDAHAN,

TUNJANGAN KECELAKAAN DAN KEMATIAN 28

PASAL 26 PEMERIKSAAN KESEHATAN KHUSUS 28

BAB VIII KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 29

PASAL 27 PERLENGKAPAN KESELAMATAN KERJA 29

PASAL 28 KEADAAN DARURAT 30

BAB IX FASILITAS KARYAWAN 30

PASAL 29 PAKAIAN KERJA 30

PASAL 30 MAKAN KARYAWAN 31

BAB X PERATURAN TATA TERTIB 32

PASAL 31 HAK DAN KEWAJIBAN PERUSAHAAN 32

(4)

PASAL 33 LARANGAN BAGI KARYAWAN 36 PASAL 34 SURAT TEGURAN DAN SURAT PERINGATAN BESERTA

SANKSI-SANKSINYA 36

PASAL 35 KETETAPAN DAN PEMBERIAN SANKSI-SANKSI 36

PASAL 36 PEMBUKTIAN PELANGGARAN 38

PASAL 37 SURAT PERINGATAN 39

PASAL 38 GAJI SELAMA MASA SKORSING 48

BAB XI KOMUNIKASI DAN KELUHAN 48

PASAL 39 KOMUNIKASI, KELUHAN DAN PENGADUAN 48

BAB XII PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA 49

PASAL 40 PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA 49

BAB XIII PERUBAHAN 50

BAB XIV PERALIHAN 50

LAMPIRAN SURAT PERINGATAN a

LAMPIRAN UANG PISAH KARYAWAN TETAP j

(5)

MUKADIMAH

Peraturan Perusahaan ini dibuat untuk dijadikan pegangan bagi perusahaan maupun karyawan, yang berisi ketentuan-ketentuan tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing pihak serta tata tertib kerja demi terciptanya keseimbangan hak dan kewajiban di antara kedua pihak sehingga tercipta suatu hubungan kerja yang sehat, serasi dan selaras serta harmonis antara pengusaha dan karyawan bagi perkembangan perusahaan dan kesejahteraan karyawan.

Sesungguhnya peraturan perusahaan ini bukanlah hal yang baru di lingkungan Igor’s Pastry, karena sebagian besar dari apa yang tercantum di dalamnya merupakan ketentuan yang sudah lama berjalan dan yang telah diatur baik dalam Buku Peraturan Perusahaan maupun melalui kebijakan-kebijakan lainnya yang disampaikan kepada karyawan oleh Pengusaha Igor’s Pastry.

Peraturan Perusahaan ini digunakan untuk menjamin dan meningkatkan kelancaran produktifitas kerja serta disiplin kerja di Igor’s Pastry dipandang perlu adanya pengertian serta pemahaman yang benar dari setiap karyawan mengenai kewajiban dan haknya. Tentunya Peraturan Perusahaan ini berpedoman pada Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

ISTILAH

Untuk memperjelas arti daripada beberapa istilah yang digunakan dalam ketentuan Peraturan Perusahaan ini, maka agar interpretasi dari kedua belah pihak maupun pihak-pihak yang berkepentingan menjadi sama, perlu kiranya diuraikan arti / maksud daripada istilah-istilah tersebut, sebagai berikut:

a. Perusahaan adalah Igor’s Pastry

(6)

b. Lingkungan Perusahaan

Adalah keseluruhan tempat yang berada di bawah penguasaan /pengawasan perusahaan yang digunakan untuk menunjang kegiatan perusahaan

c. Pimpinan Perusahaan

Adalah mereka yang mempunyai tugas memimpin perusahaan atau bagian mempunyai wewenang / tanggung jawab mewakili perusahaan baik ke dalam maupun ke luar

d. Karyawan

Adalah semua orang yang mempunyai hubungan kerja dengan Pengusaha berdasarkan Surat Perjanjian Kerja yang dibuat secara sah, dengan menerima balas jasa berupa upah dari Pengusaha

Berdasarkan sifat karyawanan dan jangka waktu ikatan kerja, status karyawan dibagi sebagai berikut :

 KARYAWAN TETAP

Adalah Karyawan yang diterima bekerja sejak awal usaha didirikan dan atau telah melewati masa kerja tertentu, dan telah dianggap layak untuk diangkat menjadi Karyawan Tetap.

Karyawan setelah menjalani masa kontrak lebih dari 3 tahun dan menyatakan hasil kerja baik dapat dipertimbangkan untuk diangkat sebagai karyawan tetap.

 KARYAWAN TIDAK TETAP

Adalah orang yang diterima bekerja oleh Pengusaha untuk Perjanjian Kerja jangka waktu tertentu setelah dinyatakan lulus dalam masa pelatihan dan pengembangan diri atas tugas dan tanggung jawab karyawanan untuk jenis karyawanan / jabatan

(7)

tertentu dengan menerima balas jasa berupa upah dari Pengusaha. Kegagalan setelah proses penilaian kerja terus-menerus dalam masa pengembangan akan mengakibatkan putusnya hubungan kerja yang berarti tidak ada kemampuan melaksanakan tugas kerja ataupun perilaku kerja, dan Pengusaha tidak menawarkan kontrak kerja.

 KARYAWAN HARIAN LEPAS (CASUAL)

Adalah orang yang diterima bekerja disesuaikan berdasarkan kebutuhan kegiatan usaha terikat oleh jam kerja yang ditentukan oleh Pengusaha dan bersedia mengikuti segala ketentuan peraturan perusahaan dengan menerima balas jasa berupa upah harian dari Pengusaha.

e. Jam Kerja

Waktu yang dibutuhkan dan atau dipergunakan oleh karyawan untuk melakukan tugas karyawanannya sesuai dengan jadwal kerja yang telah ditentukan dan atau disetujui oleh atasannya dengan berpedoman pada ketentuan dalam Surat Perjanjian Kerja yang telah disepakati.

f. Hari Libur Resmi / Nasional

Hari libur yang diakui dan diumumkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Hari Libur Resmi / Nasional.

g. Hari Libur Mingguan

Hari Minggu atau hari lain yang ditentukan dalam jadwal kerja sebagai penggantian hari Minggu.

(8)

h. Waktu Istirahat

Satu jam di antara jam kerja yang termasuk dalam jam kerja, di mana karyawan tidak melakukan tugas karyawananya dan dapat mempergunakan waktu tersebut untuk istirahat makan dan beribadah. Waktu istirahat yang tidak diambil tidak dapat digantikan dengan memperpendek jadwal kehadiran kerja dan Supervisor bertanggung jawab atas pembagian waktu kerja istirahat.

i. Upah

Suatu jumlah pembayaran tertentu dalam bentuk uang yang diterima oleh karyawan setiap bulannya sebagai imbalan dari Pengusaha atas hasil kerjanya dan prestasinya. Upah ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja dan kesepakatan kedua pihak, yaitu Karyawan dan Pemberi Kerja (Pengusaha).

j. Uang Tunjangan Jasa Kerja Sama

Sejumlah pembayaran atas kebijaksanaan Pengusaha yang diberikan dari hasil pendapatan produk perusahaan kepada Karyawan atas dedikasi kerja, pelayanannya dan kerja-samanya dalam tim kerja yang diadministrasikan oleh Pengusaha dan diterimakan kepada Karyawan sesuai ketentuan dalam Perjanjian Kerja dan kebijakan yang berlaku serta sesuai dengan sifat penerimaannya termasuk sebagai upah dari Pengusaha.

k. Take Home Pay (Penghasilan Dalam Bulan)

Penerimaan upah atau penghasilan Karyawan setiap bulannya yang terdiri dari upah pokok serta tunjangan jasa kerja sama yang ada, yaitu tunjangan yang dipengaruhi atas kehadiran kerja.

(9)

l. Keluarga Karyawan

Suami/Isteri : Seorang suami / isteri sah dari seorang karyawan

Anak : Anak yang sah dan terdaftar pada perusahaan maksimum 3 (tiga) orang dan belum berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau yang belum menikah

Saudara : Kakak-adik, sepupu, ipar terjalin dalam ikatan keluarga dari orang tua kandung / jalinan pernikahan di dalam lingkungan hubungan keluarga

Orang Tua : Bapak / Ibu kandung, Bapak / Ibu Tiri, Bapak / Ibu Mertua Kakek Nenek : Kakek Nenek Kandung / Mertua

m. Perjanjian Kerja

Adalah perjanjian antara Karyawan (Karyawan) dengan Pengusaha atau Pemberi Kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua pihak.

(10)

BAB I

KETENTUAN UMUM

PASAL 1

LUASNYA PERATURAN PERUSAHAAN

1. Peraturan Perusahaan ini pada dasarnya hanya mengatur tentang hal-hal pokok yang bersifat umum.

2. Pengusaha dapat mengadakan peraturan tambahan, asalkan tidak bertentangan dengan ketentuan di dalam Peraturan Perusahaan atau Ketentuan Perundangan yang berlaku.

3. Peraturan Perusahaan ini berlaku di semua cabang Igor’s Pastry yang sudah dan akan dibuka di seluruh wilayah Republik Indonesia.

PASAL 2

KEWAJIBAN PARA PIHAK

1. Pengusaha berkewajiban memberikan penjelasan kepada karyawan baik tentang isi, makna, pengertian, dan jiwa dari Peraturan Perusahaan ini.

2. Baik Pengusaha dan karyawan sepakat untuk bekerjasama dengan baik dan bertanggung jawab penuh dalam mengusahakan ketenangan kerja dan ketenangan berusaha guna terciptanya Hubungan Industrial Pancasila di perusahaan.

3. Baik Pengusaha dan karyawan berkewajiban untuk mencegah terjadinya peristiwa / hal-hal yang dapat mengganggu ataupun merusak ketenangan kerja dan kelancaran operasional perusahaan.

(11)

BAB II

HUBUNGAN KERJA

PASAL 3

PENERIMAAN DAN PENGANGKATAN KARYAWAN BARU

1. Penerimaan karyawan diadakan menurut kebutuhan perusahaan dan kriterianya ditentukan oleh 3 (tiga) hal utama :

 Formasi : Adanya kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja.

 Pendidikan : Tenaga kerja yang memiliki pendidikan/ijasah yang diperlukan untuk persyaratan jabatan yang bersangkutan.

 Ketrampilan : Tenaga kerja yang bersangkutan memiliki kecakapan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk mengisi jabatan yang bersangkutan.

2. Persyaratan umum penerimaan karyawan:

Sebelum seseorang dapat diterima sebagai karyawan, seseorang harus mengajukan surat lamaran yang terdiri:

 Surat lamaran

 Salinan Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku

 Salinan Kartu Keluarga

 Daftar riwayat hidup/kerja

 Salinan surat keterangan dari tempat kerja terdahulu

(12)

 Surat keterangan berkelakuan baik dari polisi (bila diperlukan)

 Surat keterangan berbadan sehat dan berjiwa sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang ditunjuk oleh Perusahaan (bila diperlukan)

 Surat Referensi lain-lain bila dibutuhkan oleh Perusahaan

 Salinan Surat Keterangan Keluarga

 Memenuhi persyaratan jabatan

 Telah lulus dalam seleksi umum (Psychotest / Ketrampilan Khusus) yang diadakan sehubungan dengan tugas dan karyawanan yang diberikan

PASAL 4

PERJANJIAN KERJA

1. Calon karyawan yang diterima sebagai karyawan, sebelum memulai hubungan kerja, wajib menandatangani Surat Perjanjian Kerja yang berisi antara lain: status karyawan, jenis karyawanan, besarnya upah serta menyetujui peraturan-peraturan yang berlaku di perusahaan.

2. Perjanjian Kerja Untuk Waktu Tertentu

Pegusaha dapat mempekerjakan karyawan untuk jangka waktu tertentu atau untuk suatu tugas / jabatan tertentu, dimana hubungan kerja akan dituangkan dalam suatu perjanjian kerja dan berakhir demi hukum pada tanggal yang telah ditetapkan, kecuali apabila kedua belah pihak sepakat untuk memperpanjang atau memperbaharui perjanjian kerja tersebut.

(13)

PASAL 5

MUTASI, PROMOSI, DEMOSI

1. Pengusaha berhak dan berwenang untuk memindahkan karyawan dari satu bagian ke bagian yang lain atas dasar pertimbangan sebagai berikut:

 Karyawan dimutasikan / dipindah ke bagian lain, karena di bagian tersebut memerlukan tenaga dan atau keahliannya demi efisiensi perusahaan.

 Karyawan dimutasikan / dipindah ke bagian lain, karena di bagian tersebut kelebihan tenaga.

 Karyawan dimutasikan / dipindah ke bagian lain, karena kurang mampu melaksanakan tugas yang dibebankan padanya.

 Karyawan dimutasikan / dipindah ke bagian lain, karena melakukan pelanggaran terhadap tata tertib / ketentuan yang ada dalam Peraturan Perusahaan.

 Karyawan didemosi/ diturunkan jabatannya karena kurang mampu melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan atau melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Peraturan Perusahaan.

 Karyawan dipromosikan / diangkat untuk suatu jabatan baru karena mempunyai prestasi kerja, kemampuan, ketekunan, disiplin, sikap mental, dedikasi, professional dan loyalitas yang tinggi.

2. Mutasi / pemindahan kerja, demosi atas diri karyawan dapat bersifat sementara waktu maupun tetap untuk seterusnya tanpa mengurangi upah pokok yang diterima sebelumnya.

3. Karyawan wajib menerima dan melaksanakan mutasi / pemindahan kerja, demosi tersebut.

Penolakan terhadap perintah mutasi / pemindahan kerja, demosi tersebut merupakan kesalahan indisipliner dan dapat dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(14)

4. Karyawan yang dipromosikan untuk suatu jabatan baru menjalani masa penyesuaian selama 3 s.d. 6 bulan. Apabila dalam masa penyesuaian tersebut karyawan yang bersangkutan ternyata tidak mampu menjalankan tugas yang dibebankan padanya, maka karyawan tersebut dapat dikembalikan ke bagian semula dan atau ke bagian lain.

5. Setelah lulus menjalani masa penyesuaian promosi maka karyawan tersebut akan mendapatkan penyesuaian terhadap gaji / upah jika ada perubahan golongan dan atau mendapatkan tunjangan untuk jabatan tertentu.

6. Karyawan yang didemosikan / diturunkan jabatannya, akan mendapatkan penyesuaian terhadap gaji / upah jika ada perubahan golongan dan atau mendapatkan penyesuaian tunjangan untuk jabatan tertentu.

7. Mutasi, promosi, demosi dari karyawan dilaksanakan dengan Surat Keputusan Perusahaan.

PASAL 6

GOLONGAN KARYAWAN

1. Pembagian golongan dimaksudkan untuk memberi pentahapan bagi karyawan dalam rangka meraih jenjang karirnya.

2. Berdasarkan pendidikan, kemampuan, keahlian, prestasi serta luas tangung jawab yang dituntut untuk jabatan-jabatan yang bersangkutan, maka diadakan pembagian golongan karyawan berdasarkan keputusan pimpinan.

PASAL 7

JENJANG DAN TINGKATAN KARYAWAN

1. Pada prinsipnya setiap karyawan mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat / golongan yang lebih tinggi dalam perusahaan.

(15)

2. Kenaikan tingkat golongan, jabatan didasarkan pada formasi yang ada, tanggung jawab, dedikasi, prestasi, kemampuan kesiapan mental, dan konduite (kejujuran, loyalitas, tingkah laku) dari kepribadian seorang karyawan.

3. Dalam rangka membuka kesempatan untuk mencapai tingkatan golongan / jabatan yang lebih tinggi atau meningkatkan kemampuan kerja, dapat diadakan mutasi karyawan / rotasi jabatan ataupun pendidikan dan latihan khusus.

BAB III

HARI KERJA DAN JAM KERJA

PASAL 8

HARI KERJA DAN JAM KERJA

1. Dengan memperhatikan ketentuan Perundang-undangan yang berlaku maka waktu hari kerja adalah 6 (enam) hari kerja dalam seminggu dimana jam kerja adalah tidak melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam seminggu tidak termasuk 1 (satu) jam Istirahat.

Shift I : 07.00 – 15.00 wib Shift II : 15.00 – 23.00 wib

Atau sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan yang diatur oleh Kepala Bagian.

2. Jam kerja di perusahaan disesuaikan dengan tanggung jawab kerja masing-masing, maka karyawan wajib bersedia untuk melaksanakan waktu kerja panjang dan telah disepakati oleh kedua pihak dengan imbalan uang lembur ataupun tunjangan waktu kerja panjang.

3. Sesuai dengan sifat jabatan dan tanggung jawab kerja, maka seluruh karyawan diharapkan bekerja lebih dari jam yang bersifat normatif apabila dipandang perlu demi tuntutan suatu tugas kerja yang menjadi tanggung jawabnya dengan imbalan tunjangan jasa kerja-sama tim setiap bulan dan tambahan upah waktu lembur yang diberikan oleh Pengusaha.

(16)

4. Untuk bagian tertentu pengusaha berhak mengatur waktu kerja di luar ketentuan tersebut di atas sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

BAB IV

HARI LIBUR, ISTIRAHAT TAHUNAN (CUTI) DAN IJIN

PASAL 9 HARI LIBUR

1. Hari libur adalah hari libur resmi yang ditetapkan oleh Pemerintah, disesuaikan dengan kegiatan industri jasa operasional, maka hari libur digantikan secara terjadwal oleh pimpinan tanpa mengurangi hari libur yang ada.

2. Pada hari libur, karyawan dibebaskan dari bekerja dengan mendapat upah pokok dan uang hasil nilai prestasi kerja serta penyesuaian tunjangan jasa kerja lain bila ada secara penuh.

PASAL 10

ISTIRAHAT TAHUNAN (CUTI)

1. Karyawan yang telah bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus berhak atas cuti / istirahat tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja dengan mendapat upah penuh (Upah Pokok + Tunjangan Tetap + Tunjangan Tidak Tetap).

2. Karyawan yang mengambil cuti tahunannya, harus mengajukan permohonan cuti paling lambat 2 (Dua) minggu sebelumnya dan karyawan yang bersangkutan baru diperbolehkan menjalani cuti apabila permohonan untuk mengambil cuti telah mendapatkan persetujuan dari perusahaan, kecuali untuk keperluan yang bersifat insidentil / darurat, seperti rumah kebanjiran, keluarga meninggal dan lain sebagainya.

(17)

3. Pelaksanaan cuti tahunan diatur oleh pengusaha secara bergiliran dengan memperhatikan kepentingan karyawan dan perusahaan.

4. Perusahaan dapat mengatur hari-hari istirahat tahunan demi efisiensi dan efektifitas kerja perusahaan dan perusahaan juga dapat membagi hak cuti karyawan dalam beberapa bagian, dan salah satu bagian terdiri dari maksimum 6 (enam) hari kerja.

5. Hak atas istirahat tahunan (cuti) tidak dapat diuangkan, karena maksud istirahat (cuti) adalah untuk memulihkan kesegaran jasmani dan rohani karyawan. Dalam keadaan khusus demi kepentingan operasional perusahaan dapat menunda hak cuti karyawan atas kesepakatan kedua pihak.

6. Hak cuti tahunan ataupun hari-hari libur lainnya tidak dapat diakumulatifkan dengan mengurangi dari jumlah hari permohonan mengundurkan diri persyaratan 1 (satu) bulan penuh yaitu 30 (tiga puluh) hari.

7. Perusahaan akan memberitahukan kepada karyawan saat timbulnya hak atas istirahat tahunan (cuti) apabila diminta.

PASAL 11

KETENTUAN PELAKSANAAN ISTIRAHAT TAHUNAN DAN IJIN Seorang karyawan yang akan mengambil hak cutinya wajib mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan perusahaan untuk tidak mengganggu operasional sebagai berikut :

1. Mengambil cuti tanpa ada persetujuan dari atasan langsung (Supervisor) ataupun dari Pimpinan dianggap sebagai pelanggaran tata tertib perusahaan.

2. Memperpanjang masa cuti tanpa persetujuan tertulis dari pimpinan melebihi 5 (lima) hari kerja dianggap mengundurkan diri dengan sendirinya.

(18)

3. Cuti tahunan harus diambil pada tahun dimana cuti tersebut mulai berlaku, kecuali disepakati kedua pihak yaitu karyawan dan pimpinan atas permintaan pimpinan dalam hal penggantian waktu cuti yang dimohonkan.

4. Bagi karyawan yang memohon mengambil dimuka cuti tahunanya yang belum menjadi haknya dengan alasan yang dapat diterima oleh Pimpinan, dalam hal ini disebut sebagai hutang cuti. Apabila karyawan mengundurkan diri atau diputuskan hubungan kerjanya, maka upah berjalan akan dipotong sesuai dengan jumlah hari cuti yang telah diambil dimuk (hutang cuti).

5. Pengambilan cuti tahunan tidak boleh digabungkan dengan hari libur istirahat lainnya yang belum diambil, kecuali atas persetujuan Pimpinan.

PASAL 12 SAKIT

Istirahat karena sakit dianggap sah apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Harus ada Surat Keterangan dari dokter Balai Pengobatan yang telah disetujui oleh BPJS KESEHATAN, dan wajib diserahkan pada hari pertama masuk kerja. Melalaikan disiplin ketentuan kerja, maka dianggap mangkir dan akan dikenakan pemotongan 1 (satu) hari alpha sama dengan ketidak hadiran kerja 3 (tiga) hari.

2. Karyawan sakit bukan berobat pada dokter BP / BK (Dokter Umum) maka wajib ada Surat Keterangan dokter sakit serta menyertakan Copy Resep Obat. Dan pelanggaran yang telah diperingatkan maksimum 3 (tiga) kali, maka akan dicabut dari kepersertaan BPJS KESEHATAN.

3. Karyawan berhalangan kerja untuk masa yang cukup lama dan dinyatakan dengan Surat Keterangan dokter yang merawat, maka persetujuan untuk cuti sakit.

4. Selama cuti sakit karyawan akan menerima gaji / upah pokok sesuai ketentuan yang berlaku.

(19)

PASAL 13 CUTI KHUSUS

1. Dengan ijin khusus meninggalkan karyawanan (cuti khusus) dari perusahaan minimal 14 (empat belas) hari sebelumnya, kecuali butir (d, e dan g) dibawah ini, karyawan mendapat cuti khusus dengan tetap mendapatkan gaji / upah penuh dan uang tunjangan jasa kerja tim karyawan, yaitu :

a. Perkawinan karyawan (cuti menikah) : 3 hari b. Isteri karyawan melahirkan / keguguran : 2 hari

c. Pernikahan anak karyawan : 2 hari

d. Kematian istri, suami, anak, orang tua / mertua : 2 hari e. Kematian kakak / adik kandung, kakak / adik ipar : 1 hari f. Khitanan / Baptis anak karyawan : 2 hari g. Suami / Istri, anak opname di rumah sakit : 1 hari

2. Cuti khusus yang jatuh pada hari-hari istirahat mingguan yang sudah dijadwalkan sebelumnya tidak dapat digantikan dengan hari-hari lain.

3. Cuti Tanpa Upah

a. Atas permohonan karyawan, perusahaan mengijinkan karyawan untuk meninggalkan karyawanan tanpa dibayar jika alasannya dapat diterima oleh pengusaha selama tidak mengganggu jalannya operational perusahaan. Dalam hal ini karyawan tidak mendapatkan upah dan tunjangan lainnya.

(20)

b. Batas maksimum cuti tanpa upah ditetapkan paling lama 1 (satu) bulan dalam setahun baik secara terus menerus maupun dipenggal, kecuali atas ijin dari Pimpinan perusahaan.

c. Pengambilan cuti tanpa upah dengan sengaja untuk melakukan karyawanan sampingan adalah merupakan penyalah gunakan hak dan merupakan pelanggaran terhadap peraturan perusahaan. Dalam hal ini berakibat langsung pemutusan hubungan kerja (penipuan).

4. Cuti Yang Dibayar

Seorang karyawan yang telah melaksanakan masa kerja kontrak terus-menerus 3 (tiga) tahun dan selama masa kerja di perusahaan menunjukkan hasil prestasi baik dan dapat bekerja dengan tanggung jawab tinggi akan ditawarkan kembali kerja bila disepakati oleh dirinya.

Status karyawan akan dibebaskan dari kerja dari perusahaan selama 2 (dua) minggu dengan mendapatkan setengah (1/2) dari gaji penuh dalam bulan.

5. Karyawan perlu melamar kembali dan akan dikonfirmasikan oleh pihak pengusaha untuk masa kontrak kerja 1 (satu) tahun dan dapat berlanjut dalam masa yang sama atau ditentukan lain.

PASAL 14

ISTIRAHAT MELAHIRKAN DAN KEGUGURAN

1. Istirahat melahirkan adalah hari-hari istirahat seorang karyawati hamil yang telah bekerja minimal 1 (satu) tahun selama 1 ½ (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan menurut perhitungan dokter / bidan yang melahirkan anak dan 1 ½ (satu setengah) bulan setelah melahirkan dengan upah penuh / bulan

(21)

2. Karyawati yang mengalami gugur kandungan atau karena alasan medis dibuktikan dengan keterangan dokter perusahaan mendapat istirahat selama 1 ½ (satu setengah) bulan terhitung sejak terjadinya gugur kandungan dengan mendapat hanya upah pokok penuh.

3. Permohonan istirahat melahirkan wajib diajukan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum waktu istirahat melahirkan dengan disertai Surat Keterangan Dokter / Bidan yang melahirkan anak.

4. Istirahat melahirkan / keguguran hanya diberikan kepada karyawan yang sudah diangkat 1 (satu) tahun dalam perjanjian kontrak.

BAB V

PRESENSI DAN ABSENSI

PASAL 15 KEHADIRAN

1. Karyawan wajib mentaati jadwal kerja yang telah diatur oleh Kepala Bagian masing-masing.

2. Karyawan diharuskan untuk hadir / berada di lokasi perusahaan minimal 15 (lima belas) menit sebelum jam kerja mulai.

3. Kehadiran karyawan diawasi langsung oleh Pengusaha dengan pengawasan masing-masing atasan atas kehadiran pada setiap masuk dan pulang kerja.

4. Karyawan harus mencatatkan kehadirannya dengan tata cara yang sudah ditentukan baik pada waktu jam masuk kerja maupun jam pulang kerja, dan tidak boleh diwakilkan oleh orang lain dan atau mewakili orang lain.

5. Karyawan yang lalai / tidak mencatatkan presensinya pada alat pencatat presensi elektronik dianggap absen kerja (MANGKIR) pada hari itu.

(22)

6. Karyawan tidak diperbolehkan meninggalkan tempat kerja sebelum jam kerja selesai, kecuali ada kepentingan kantor dan atau ada keperluan yang insidentil / mendadak setelah mendapatkan persetujuan dari Kepala Bagian masing-masing dan manajemen.

PASAL 16

TERLAMBAT, PULANG LEBIH AWAL, PERGI KELUAR UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI

1. Karyawan harus datang minimal 10 (sepuluh) menit sebelum waktu kerja dan sudah berada di tempat kerja tepat waktu dan siap bekerja di masing-masing bagian dengan seragam yang ditentukan.

2. Karyawan yang ijin terlambat karena ada kepentingan pribadi / keluarga, harus memberi info / telepon (sms tidak berlaku) 3 (tiga) jam sebelum jam masuk kerja kepada Kepala Bagian masing-masing dan Bagian Personalia. Serta pada saat masuk kerja harus memberitahukannya kepada Kepala Bagian masing-masing terlebih dahulu dan Bagian Personalia. Keterlambatan kehadiran kerja tanpa pemberitahuan melebihi 60 menit (1 jam) dalam akumulasi 1 (satu) bulan dilakukan pemotongan dari gaji pokok.

3. Apabila ada perubahan jadwal kerja dikarenakan sesuatu hal, karyawan diwajibkan untuk melapor kepada Atasan yang ditunjuk / Supervisor selambat-lambatnya 1 (satu) hari sebelumnya atas persetujuan Kepala Bagian / Pimpinan dan dilaporkan ke Bagian Personalia.

(23)

PASAL 17

KETIDAK HADIRAN

Karyawan yang tidak hadir harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

1. Tidak masuk kerja karena sakit

a. Karyawan wajib memberitahukan alasan ketidakhadirannya kepada Kepala Bagiannya masing-masing dan Bagian Personalia melalui telepon pada hari itu juga minimal 3 (tiga) jam sebelum jadwal masuk kerjanya.

b. Pada saat masuk setelah sembuh karyawan yang bersangkutan wajib membawa surat keterangan yang layak diterima diantaranya :

i. Surat Keterangan Sakit (ASLI) dari dokter; dan ii. Foto Copy Resep Obat

c. Pada saat masuk setelah sembuh karyawan yang bersangkutan wajib melaporkan kehadirannya dan keadaan penyakitnya kepada Atasannya dan Bagian Personalia.

d. Apabila dipandang perlu, maka perusahaan dapat memerintahkan agar karyawan yang bersangkutan pergi ke dokter yang ditunjuk oleh perusahaan atau Rumah Sakit untuk pemeriksaan.

2. Tidak masuk karena ada kepentingan pribadi yang bersifat mendadak :

a. Karyawan wajib memberitahukan alasan ketidakhadirannya kepada Kepala Bagiannya masing-masing dan Bagian Personalia melalui telepon pada hari itu juga minimal 3 (tiga) jam sebelum jadwal masuk kerjanya

(24)

b. Pada saat masuk karyawan yang bersangkutan wajib membawa surat keterangan yang layak diterima diantaranya

i. Foto copy Surat Kematian; atau

ii. Foto Copy Surat Keterangan dari Rumah Sakit; atau

iii. Surat bukti sah lainnya – misalnya Surat Keterangan dari RT RW Kelurahan.

3. Tidak masuk karena kepentingan pribadi yang sudah direncanakan / diketahui sebelumnya, karyawan harus mengajukan Surat Permohonan Ijin tidak masuk kerja secara tertulis minimal 1 (satu) minggu sebelumnya kepada Kepala Bagian masing-masing, kemudian ke Bagian Personalia.

4. Apabila karyawan mengabaikan semua ketentuan di atas maka hal tersebut merupakan perbuatan indisipliner dan dikategorikan sebagai absen kerja (MANGKIR) serta merupakan pelanggaran Peraturan Perusahaan yang berakibat dipotongnya upah dan tunjangan jasa kerja uang nilai prestasi dalam bulan.

5. Karyawan yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah mendapat panggilan 2 (dua) kali secara patut dan tertulis namun mengabaikan dapat diputuskan hubungan kerjanya dan dikualifikasikan telah mengundurkan diri sesuai U.U.R.I.No.13/Thn 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 168.

6. Karyawan yang tersebut pada Pasal 14 ayat 5 tersebut di atas tetap wajib menyelesaikan administrasi / pelunasan tunggakan yang ada di perusahaan. Apabila karyawan tersebut melalaikan kesepakatan hutang-piutang ini, maka karyawan dianggap mengelapkan uang perusahaan dan akan dituntut secara hukum.

(25)

BAB VI PENGUPAHAN

PASAL 18

UPAH DAN SISTEM PENGUPAHAN

1. Upah atau gaji adalah pemberian dalam bentuk uang yang dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawan sebagai jasa imbalan kerja yang dilakukan untuk perusahaan. Di dalam upah atau gaji yang diterimakan termasuk tunjangan makan.

2. Besarnya upah ditentukan berdasarkan golongan dan skala upah yang ditetapkan oleh pengusaha dan keputusan perusahaan diambil berdasarkan pertimbangan yang objektif dan bukan subjektif.

3. Sistem Pembayaran Gaji

Setiap Karyawan akan menerima gaji pada tiap awal bulan berikutnya. Demi keamanan, gaji karyawan langsung dimasukkan dalam rekening Bank yang telah ditentukan oleh perusahaan.

4. Tingkat gaji disusun berdasarkan uraian jabatan (job description) evaluasi jabatan, dan tingkatan posisi yang ditentukan secara professional.

5. Gaji Selama Masa Trainee

Karyawan akan menerima 100% gaji pokok , hal ini sesuai dengan kebijakan perusahaan yang disesuaikan dengan norma ketenagakerjaan.

(26)

6. Sistem Penggajian

Sistem penggajian untuk karyawan diatur menurut kelompok dan status karyawan yaitu upah harian lepas dan bulanan

a. Karyawan tetap didasarkan pada upah bulanan.

b. Karyawan kontrak didasarkan pada upah yang telah disepakati bersama antara perusahaan dan karyawan dalam surat perjanjian kerja dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku.

c. Karyawan harian lepas perhitungan menurut harian dibayarkan pada akhir waktu kerja kecuali masih dalam proses kasus atau akhir bulan dengan mengacu pada ketentuan upah minimum yang berlaku.

7. Susunan gaji adalah sebagai berikut :

a. Gaji adalah terdiri dari upah pokok dan uang tunjangan Profesi atau Tunjangan Prestasi kerja atas dasar penilaian kerja .

b. Pajak atas Upah pokok adalah menjadi tanggungan karyawan.

PASAL 19

UPAH KARYAWAN SELAMA SAKIT

1. Seorang karyawan yang tidak dapat masuk kerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus disebabkan sakit atau dirawat dirumah sakit dan dinyatakan dengan sah oleh seorang dokter, upahnya dibayar menurut ketentuan sebagai berikut:

(27)

a. Untuk 4 (empat) bulan pertama sebesar dibayar 100 % dari upah b. Untuk 4 (empat) bulan kedua sebesar dibayar 75 % dari upah c. Untuk 4 (empat) bulan ketiga sebesar dibayar 50 % dari upah d. Untuk bulan selanjutnya dibayar 25 % dari upah

Dan selama istirahat sakit (Cuti Sakit), Istirahat Melahirkan karyawan akan menerima upah.

2. Setelah melampaui batas 12 (dua belas) bulan, karyawan tersebut masih belum mampu untuk melaksanakan tugasnya kembali dan telah mendapat petunjuk dokter yang merawatnya, maka karyawan tersebut dapat diberhentikan disesuaikan prosedur Perundang-undangan Ketenagakerjaan R.I yang berlaku.

PASAL 20

KENAIKAN UPAH TAHUNAN

1. Pelaksanaan Kenaikan Upah Tahunan dilakukan berdasarkan Prestasi dan Nilai Hasil Evaluasi kerja secara professional.

2. Ketentuan kenaikan upah:

a. Hanya kepada karyawan tetap, tidak kepada karyawan yang sedang menjalani masa Trainee, dan karyawan yang terkena sanksi pendisiplinan.

b. Besarnya prosentase kenaikan ditentukan menurut kebijakan perusahaan.

(28)

PASAL 21

PAJAK PENGHASILAN

Setiap karyawan akan mendapatkan upah pokok kotor, perusahaan akan memotong pajak penghasilan dari upah yang diterima karyawan dan dibayarkan ke instansi pajak yang berwenang atas nama karyawan sesuai ketentuan yang berlaku.

PASAL 22

TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN

1. Tunjangan Hari Raya Keagamaan keagamaan dimaksud untuk membantu karyawan dalam mempersiapkan kebutuhan menjelang Hari Keagamaan, untuk itu perusahaan memberikan tunjangan sebesar 1 (satu) bulan upah bagi karyawan yang sudah bekerja selama 12 (dua belas) bulan terus-menerus atau lebih.

2. Karyawan yang sampai tanggal pembagian Tunjangan Hari Raya Keagamaan telah diangkat lebih dari 1 (satu) bulan tetapi kurang dari 1 (satu) tahun akan menerima Tunjangan Hari Raya Keagamaan secara prorata.

3. Tunjangan Hari Raya Keagamaan diberikan kepada karyawan baik yang dalam masa percobaan maupun yang telah diangkat dinyatakan lulus masa Training (Pelatihan) akan menerima Tunjangan Hari Raya Keagamaan secara prorata.

4. Pembayaran Tunjangan Hari Raya Keagamaan diberikan kepada seluruh karyawan diberikan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum Hari Raya Keagamaan. Dan hanya berlaku 1 (satu) kali dalam setahun.

5. Karyawan yang hubungan kerjanya berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu dan mengalami pemutusan hubungan kerja terhitung sejak 30(tigapuluh) hari sebelum Hari Raya Keagamaan, berhak atas THR Keagamaan.

(29)

6. Pengaturan Tunjangan Hari Raya sesuai dengan permenaker No 6 tahun 2016 pasal 7.

BAB VII

JAMINAN SOSIAL / KESEJAHTERAAN KARYAWAN

PASAL 23 PROGRAM BPJS

1. Perusahaan menyadari sepenuhnya akan pentingnya keikutsertaan BPJS bagi setiap karyawan, hal tersebut memberi rasa keamanan, kemantapan dan ketentraman dalam bekerja sesuai dengan UU. No 24 Thn 2011.

2. Perusahaan menyediakan fasilitas pengobatan melalui BPJS KESEHATAN untuk membantu karyawan mendapatkan perawatan kesehatan apabila dibutuhkannya:

a. Kepada karyawan laki-laki maupun keluarganya termasuk seorang istri yang sah dengan maximum 3 (tiga) orang anak.

b. Khusus untuk karyawan wanita tetap dianggap lajang (single).

c. Pengobatan dan pelayanan perawatan kesehatan adalah bagi semua karyawan tetap / kontrak untuk pribadi atas nama dirinya dan yang telah lulus masa Trainee / Percobaan serta telah didaftarkan sebagai peserta BPJS KESEHATAN dan mendapatkan Kartu Pemeliharaan Kesehatan.

d. Karyawan kontrak yang dipekerjakan untuk jangka waktu minimum 1 (satu) tahun berhak mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan sebagaimana yang berlaku bagi karyawan tetap.

(30)

3. Bagi karyawan harian bantuan perawatan kesehatan diberikan hanya kepada yang bersangkutan dan meliputi pemberian obat-obat dari perusahaan selama jam kerja.

4. Perusahaan mendaftarkan setiap karyawan dalam program BPJS KETENAGAKERJAAN yang terdiri dari:

a. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK); 0,89%

b. Jaminan Kematian (JK); 0.30%

c. Jaminan Hari Tua (JHT); 3,7%

d. Jaminan Pensiun (JP}; 2%

5. Perusahaan dan Karyawan berkewajiban mentaati ketentuan yang berlaku yang menyangkut pelaksanaan program BPJS Ketenagakerjaan tersebut.

6. Apabila ada program pemeliharaan kesehatan yang dipandang lebih baik oleh perusahaan, maka program tersebut dapat melengkapi program JPK yang dikelola oleh BPJS KESEHATAN sesuai dengan peraturan UU No.24 Thn 2011 dan PP No.111 Thn 2013.

PASAL 24

BIAYA YANG TIDAK DITANGGUNG OLEH PERUSAHAAN

1. Biaya rawat inap rumah sakit yang tidak ditanggung oleh asuransi di luar batas pertanggungan asuransi.

2. Kelainan bawaan sejak lahir (Genetik) yang muncul bagi karyawan yang dapat dibuktikan oleh dokter.

(31)

3. Semua pengobatan dan perawatan akibat dari kehamilan seperti keguguran, melahirkan, atau komplikasi–komplikasi kehamilan / melahirkan.

4. Cidera atau penyakit akibat perang, kerusuhan, pembrontakan atau huru-hara, kecuali terjadi pada karyawan yang sedang bertugas, maka akan diberikan penggantian menurut kebijaksanaan perusahaan.

5. Perawatan penyakit jiwa atau gangguan kejiwaan.

6. Vaksinasi atau imunisasi.

7. Pengobatan / perawatan akibat obat terlarang atau alcohol, narkoba.

8. AIDS, ARC, penyakit-penyakit kelamin lainnya dan akibatnya.

9. Biaya atas percobaan bunuh diri, atau cidera yang disengaja dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar.

10. Biaya pelayanan rumah sakit yang tidak ada ditanggung oleh asuransi kesehatan ataupun tidak ada hubungannya secara medis untuk pengobatan suatu penyakit seperti jasa telpon, makanan tambahan dan lain-lain.

11. Biaya transplantasi organ tubuh dan operasi kecantikan.

12. Pengobatan alternatif, terapi dan akupuntur kecuali atas rekomendasi dokter.

(32)

PASAL 25

ASURANSI PERAWATAN RUMAH SAKIT, PEMBEDAHAN, TUNJANGAN KECELAKAAN DAN KEMATIAN

1. Salah satu program BPJS KETENAGAKERJAAN adalah asuransi perawatan rumah sakit, pembedahan, tunjangan kecelakaan dan kematian.

2. Besarnya premi dan jumlah uang pertanggungan ditetapkan oleh perusahaan bersama–sama dengan asuransi yang ditunjuk oleh perusahaan berdasarkan tingkatan jabatan karyawan.

3. Manfaat pelayanan rumah sakit dibayarkan dengan tidak melebihi batas maksimum yang ditentukan oleh BPJS KESEHATAN atau asuransi yang ditentukan perusahaan disesuaikan daftar manfaat asuransi kesehatan perawatan dan pelayanan atas kebijakan kemampuan perusahaan

4. Karyawan masuk rumah sakit untuk perawatan inap hanya dilakukan atas rujukan dokter Balai Pengobatan yang telah disetujui oleh BPJS KESEHATAN ataupun asuransi ketentuan perusahaan kecuali dalam keadaan darurat pada saat karyawan memerlukan pertolongan segera.

PASAL 26

PEMERIKSAAN KESEHATAN KHUSUS

1. Perusahaan akan mewajibkan pemeriksaan kesehatan bagi karyawan yang ada indikasi berpenyakit menular atau membahayakan bagi kesehatan dalam melaksanakan tugas kerja jika diperlukan dan bersedia menunjukkan keterangan yang dinyatakan oleh dokter.

2. Karyawan wajib patuh untuk menerima perawatan dari dokter BPJS, bila menolak

(33)

BAB VIII

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PASAL 27

PERLENGKAPAN KESELAMATAN KERJA

1. Untuk mencegah suatu kecelakaan kerja yang tidak diinginkan, maka perusahaan akan menyediakan alat perlengkapan kerja. Kehilangan dan kerusakan peralatan tersebut akan menjadi tanggung jawab karyawan.

2. Pelaksanaan dan pengawasan tentang perlindungan kerja, keselamatan kerja dan kesehatan kerja akan dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

3. Karyawan wajib, mengikuti instruksi, standar dan peraturan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

4. Perlengkapan pemadam kebakaran:

a. Setiap karyawan wajib mengetahui di mana perlengkapan pemadam kebakaran. Dan setiap manager / supervisor wajib paham cara menggunakan alat pemadam kebakaran (Fire Extinguisher).

b. Tanpa seijin atasan yang berwenang karyawan dilarang memindahkan perlengkapan pemadam kebakaran dari tempat semula.

c. Dilarang bermain-main dengan atau menyalahgunakan pearlengkapan pemadam kebakaran.

d. Dilarang meletakkan atau menimbun barang di depan hydran.

(34)

e. Perusahaan akan menyelenggarakan latihan per 6 bulan sekali yang diperlukan bagi karyawan untuk mengetahui dan mampu melakukan tugas pencegahan maupun pemadaman kebakaran serta evakuasi. Lokasi penempatan Fire Extinquisher dilarang dipindah kecuali oleh pimpinan dan wajib diberitahukan kepada semua departemen.

PASAL 28

KEADAAN DARURAT

Jika terjadi keadaan darurat karena kebakaran atau peristiwa lain, setiap karyawan harus bekerja sama berusaha mengamankan, mencegah dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada yang berwenang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan perusahaan.

BAB IX

FASILITAS KARYAWAN

PASAL 29 PAKAIAN KERJA

1. Karyawan yang karena jenis pekerjaannya serta demi keseragaman diharuskan memakai pakaian kerja yang disediakan oleh perusahaan selama jam kerja sesuai bagiannya masing- masing.

2. Perusahaan akan menyediakan seragam untuk para karyawan yang bertugas di bagian operasional dan diganti apabila diperlukan.

3. Karyawan dilarang memberikan seragam perusahaan sebagai fasilitas kerjanya kepada orang lain.

(35)

4. Seragam serta atribut lainnya hanya dipakai pada saat bekerja dan menjadi tanggung jawab karyawan. Mengenai kebersihan dan kerapihan seragam, kehilangan pakaian dan perlengkapan kerja lainnya yang telah disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab karyawan.

5. Aturan dan tata cara serta aturan tentang pakaian kerja akan dituangkan di dalam Perjanjian Kerja masing-masing karyawan

PASAL 30

MAKAN KARYAWAN

1. Masing-masing karyawan akan diberi makan 1 (satu) kali sesuai dengan jadwal kerja dan jadwal jam istirahat.

2. Karyawan yang karena sifat pekerjaannya harus melakukan kerja panjang atau instruksi tugas kerja lain-lain dari pimpinan lebih dari 3 (tiga) jam, berhak mendapat tambahan.

3. Jika seorang karyawan karena penugasan khusus di luar perusahaan tidak dapat memperoleh pembagian makan dari perusahaan, akan menerima tunjangan uang makan sejumlah yang ditetapkan oleh perusahaan.

4. Karyawan yang tidak mengambil hak makannya di kantin karyawan tidak berhak mendapatkan penggantian uang makan.

5. Pada keadaan ada makanan atau barang lain yang disediakan oleh perusahaan ingin dibawa pulang harus dengan ijin dari pimpinan perusahaan.

6. Bagi karyawan yang beragama Islam sedang berpuasa pada bulan Ramadhan dan bekerja pada pagi hari sampai sore dapat berbuka puasa di tempat kerja dalam tugas kerjanya.

(36)

7. Karyawan tidak dibenarkan makan di tempat-tempat lain atau membawa makanan dan minuman ke dalam lingkungan perusahaan selain mendapat persetujuan dari pimpinan perusahaan. Makanan karyawan selalu disiapkan sesuai waktu yang telah ditentukan dengan menu makanan yang selalu bervariasi setiap hari.

8. Waktu makan siang / malam / tengah malam /sahur disesuaikan dengan sifat dan kondisi kerja yang ada dan diatur secara bergiliran oleh supervisor masing-masing bagian.

BAB X

PERATURAN TATA TERTIB

PASAL 31

HAK DAN KEWAJIBAN PERUSAHAAN

1. Perusahaan berhak untuk menuntut dari karyawan prestasi hasil kerja yang merupakan standar kerja, perusahaan serta kepatuhan dalam memenuhi semua kewajibannya.

Sehubungan dengan ini, perusahaan berhak mengambil tindakan terhadap karyawan yang tidak disiplin, bersikap / bertingkah laku / bertutur kata tidak sesuai dengan peraturan atau norma-norma yang umum berlaku dalam masyarakat yang tertib dan sopan.

2. Perusahaan wajib membayar upah, menyediakan fasilitas, memberikan tunjangan dan lain- lain yang telah disepakati oleh kedua pihak perusahaan dan karyawan.

PASAL 32

KEWAJIBAN KARYAWAN

Pada garis besarnya, KEWAJIBAN KARYAWAN meliputi antara lain : 1. Sikap dan tingkah laku

(37)

a. Karyawan wajib bertingkah laku serta bertutur kata sesuai dengan norma-norma sosial dan sopan santun yang berlaku dalam masyarakat, dan selalu memelihara rasa kekeluargaan dan gotong royong, persatuan dan kesatuan diantara sesama karyawan.

b. Karyawan wajib mematuhi peraturan-peraturan perusahaan beserta surat-surat keputusan dan aturan-aturan pelaksanaannya serta instruksi-instruksi atasan.

c. Karyawan wajib mentaati dan menjalankan ketentuan perusahaan mengenai standar kebersihan dan kerapian.

d. Karyawan wajib mengenakan setiap kelengkapan pakaian seragam kerja yang telah ditentukan oleh perusahaan.

e. Karyawan masuk dan keluar tempat kerja melalui pintu masuk karyawan yang telah ditetapkan.

2. Pelaksanaan tugas

a. Karyawan wajib melaksanakan pekerjaan dengan jujur, rajin, seksama, disiplin, penuh perhatian dan rasa tanggung jawab atas tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya, termasuk memelihara, merawat, menjaga alat-alat milik perusahaan serta patuh terhadap atasan sepanjang tidak bertentangan dengan perundang- undangan yang berlaku.

b. Karyawan wajib melaksanakan perintah mutasi dari satu bagian ke bagian lainnya dari satu fungsi jabatan tertentu ke fungsi jabatan lainnya sesuai dengan kemampuan dan kepentingan perusahaan.

c. Karyawan wajib bertanggung jawab memastikan bahwa setiap sampah yang akan dibuang keluar dari perusahaan bebas dari bahan-bahan yang masih dapat digunakan dan dimanfaatkan atau didaur ulang sebagai bagian dari kebijaksanaan perusahaan.

(38)

d. Karyawan selama jam kerja harus selalu memusatkan tenaga dan pikirannya untuk kepentingan kerja dan hasil kerjanya untuk mencapai tujuan perusahaan dan prestasi kerja dirinya.

3. Kebersihan, Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3)

a. Karyawan wajib ikut serta menjaga ketertiban, keamanan dan kebersihan.

b. Karyawan wajib ikut serta memelihara barang milik perusahaan dan dilarang merusak, membawa, memindahkan atau dengan cara apapun mengalihkan penguasaanya kepada pihak yang tidak berhak tanpa ijin perusahaan.

c. Karyawan wajib menggunakan semua alat perlengkapan yang disediakan perusahaan dengan seefisien mungkin sesuai dengan tujuan penggunaan dan kepentingan perusahaan.

d. Karyawan wajib memelihara kesehatan, kebersihan locker, ruang makan karyawan, koridor dan daerah tugas masing-masing setiap hari sebelum dan sesudah kerja demi kesehatan dan kelancaran kerja serta daerah lain di lingkungan perusahaan e. Karyawan wajib melaporkan setiap barang hilang baik milik tamu, karyawan

maupun perusahaan dan melaporkan setiap barang yang ditemukan ke Bagian Personalia.

f. Karyawan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan para tamu dan sesama karyawan bersama-sama dengan manajemen.

g. Karyawan wajib dengan sukarela menyerahkan barang-barang pribadinya untuk diperiksa oleh bagian sekuriti (Body-Check).

h. Karyawan wajib melaporkan kepada atasannya atau langsung ke Pimpinan apabila menjumpai setiap jenis pelanggaran peraturan perusahaan atau sesuatu yang

(39)

dianggap tidak wajar yang dapat mengakibatkan terganggunya kelancaran kerja atau kepentingan perusahaan, dan perusahaan akan menjamin kerahasiaan dari pelapor.

i. menjaga dengan sungguh-sungguh kunci-kunci milik perusahaan yang dipercayakan kepada karyawan dan menanganinya sesuai dengan ketentuan perusahaan.

j. Karyawan wajib melindungi dan menjaga dengan baik semua harta benda-benda perusahaan dan segera

k. Karyawan wajib melaporkan kepada atasan yang berwenang, jika mengetahui ada sesuatu yang dapat menyebabkan bahaya atau kerugian terhadap perusahaan.

4. Kerahasiaan (KODE ETIKA)

Karyawan wajib menjaga segala macam data perusahaan, baik yang karyawan ketahui atau sepatutnya diketahui yang bersifat rahasia perusahaan dan tidak menyampaikannya dengan cara dan/atau dengan alasan apapun kepada pihak yang tidak berhak. Baik ketika masih bergabung dengan Igor’s Pastry ataupun ketika sudah berhenti.

5. Perubahan data diri

Setiap karyawan wajib melaporkan setiap perubahan mengenai urusan kepegawaian selambat-lambatnya 2 X 24 jam dalam hal-hal berikut ini:

a. Perubahan alamat atau tempat tinggal baik tetap maupun sementara.

b. Perkawinan, kelahiran, perceraian, agama.

c. Perubahan lainya yang diperlukan sebagai dokumen data personil di perusahaan.

(40)

PASAL 33

LARANGAN BAGI KARYAWAN

Segala jenis LARANGAN maupun pelanggaran kewajiban baik pelanggaran yang bersifat ringan, sedang, maupun berat yang tercantum ataupun yang belum tercantum dalam peraturan perusahaan dapat diberikan sanksi, yaitu dikenakan Surat Peringatan pelanggaran tata tertib dan disiplin kerja dan terhadap hal-hal tertentu dapat dilakukan pemutusan hubungan kerja. Penjelasan jenis Larangan akan di jabarkan pada Pasal Surat Peringatan.

PASAL 34

SURAT TEGURAN DAN SURAT PERINGATAN BESERTA SANKSI- SANKSINYA

Setiap perbuatan karyawan yang melanggar Peraturan Perusahaan ini, kewajiban-kewajiban, larangan-larangan dapat diberikan teguran atau Surat Peringatan dan dapat dikenakan tindakan disiplin lainnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dengan memperhatikan kepentingan operasional Pengusaha serta pedoman ketentuan ketenaga-kerjaan yang berlaku.

PASAL 35

KETETAPAN DAN PEMBERIAN SANKSI-SANKSI

1. Sanksi terhadap pelanggaran disiplin dikenakan kepada karyawan yang tidak mematuhi peraturan perusahaan sebagai tindakan korektif yang bersifat pengarahan terhadap sikap / tingkah laku karyawan untuk mencegah agar tidak mengulangi atau melakukan kesalahan atau pelanggaran terhadap peraturan, tata tertib dan disiplin perusahaan serta untuk meningkatkan moral karyawan dan terhadap hal-hal tertentu dapat dilakukan pemutusan hubungan kerja.

(41)

2. Sanksi terhadap pelanggaran disiplin dapat dikenakan atas pertinbangan jenis pelanggaran, pengulangan (frekwensi) pelanggaran dan bobot dari pelanggaran yang dapat berupa:

a. Teguran Lisan adalah bentuk teguran dari atasan langsung terhadap pelanggaran ringan yang dicatat dan ditanda tangani oleh atasan dan pekerja

b. Teguran menulis adalah bentuk teguran yang mewajibkan seorang karyawan menulis ulang sejumlah baris kalimat yang ditentukan oleh atasan atas kesalahan yang dilanggar agar ketentuan kerja yang wajib dilakukan dilaksanakan secara standard dan prosedur kerja. Apabila kesalahan diulang kembali, maka dapat menjadikan sanksi peringatan tertulis.

c. Pemberian Surat Peringatan secara tertulis terhadap karyawan, karena tindakan melakukan pelanggaran tata tertib perusahaan (indisipliner) dalam kasus yang sama 1 (satu) kali teguran lisan apabila tidak ada perbaikan, maka dilakukan:

i. Surat Peringatan I ii. Surat Peringatan II iii. Surat Peringatan III

Surat Peringatan tidak perlu diberikan berdasarkan urut-urutannya (bertahap), melihat kasus per kasus serta bobot dari kasus dilakukan oleh karyawan. Masing-masing surat peringatan berlaku selama maksimum 6 (enam) bulan dan apabila yang bersangkutan masih melakukan pelanggaran, setelah menerima surat peringatan ketiga / terakhir, karyawan masih melakukan pelanggaran, maka perusahaan dapat memutuskan hubungan kerjanya dan dilaksanakan sesuai prosedur Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

3. Akibat dari Surat Peringatan:

a. Penurunan nilai prestasi.

(42)

b. Penundaan kenaikan gaji selama tidak lebih dari 1 (satu) tahun . c. Penurunan pangkat (Jabatan)

d. Pemindahan tugas (Mutasi)

e. Pemutusan hubungan kerja (PHK)

4. Yang berhak dan berwenang untuk menjatuhkan tindakan disiplin adalah masing-masing supervisor atas persetujuan dan nasehat dari Manager atau langsung dari Pimpinan baik secara lisan maupun khususnya surat Peringatan I sampai dengan III kepada para karyawan atas dasar pelanggaran yang terbukti salah terhadap salah satu peraturan dan tata tertib perusahaan, dengan uraian mengenai pelanggaran yang dilakukan serta ditanda tangani oleh karyawan yang bersangkutan dan selanjutnya oleh Supervisor disampaikan kepada Manager untuk persetujuannya (Approval) bagian personalia dalam hal ini pimpinan.

5. Pemberian sanksi Supervisor yang disampaikan kepada Manager (Kepala Bagian) untuk ditindak lanjuti oleh bagian Personalia (Pimpinan) sesuai dengan tingkat kesalahannya selanjutnya untuk ditentukan keputusannya oleh pimpinan (Management).

PASAL 36

PEMBUKTIAN PELANGGARAN

1. Dibuktikan oleh Atasan / Manager setelah meneliti kebenaran / keabsahan laporan.

2. Dibuktikan dengan suatu proses verbal yang dibuat oleh petugas keamanan atau oleh yang berwajib bila diperlukan, terutama menyangkut kriminal seperti pencurian, penggelapan uang atau penipuan dan penganiayaan.

(43)

PASAL 37

SURAT PERINGATAN

1. Pelanggaran tata tertib yang dapat diberikan Surat Peringatan I (SP I) yang berlaku selama 3 Bulan,SP I diberikan setelah peringatan lisan:

a. Tidak melakukan Body Check ketika meninggalkan area Perusahan.

b. Memasuki dan meninggalkan perusahaan tanpa melalui pintu masuk karyawan.

c. Memakai helm memasuki dan keluar perusahaan.

d. Menaiki kendaraan bermotor dengan menghidupkan mesin saat masuk dan keluar perusahaan.

e. Mengunci stir motor serta memarkir motor sembarangan sehingga menjalani jalan.

f. Tidak mengikuti peraturan yang dikeluarkan oleh perusahaan mengenai standard berpakaian, kebersihan dan kesehatan; mengabaikan kerapihan berpakaian, rambut dan kebersihan jasmani sewaktu bertugas.

g. Memelihara rambut gondrong untuk yang pria, panjang dan tidak rapi untuk yang wanita serta kumis dan jenggot.

h. Tidak memakai seragam dan perlengkapannya di waktu jam kerja.

i. Tidak mematuhi peraturan keamanan kerja hygienie atau bimbingan dari Penyelia (Supervisor) atau Kepala Bagian / Pimpinan.

j. Mengabaikan kebersihan dan kesehatan kerja seperti meludah di lantai / di dinding dan lain sebagainya.

(44)

k. Membuang sampah sembarangan.

l. Berkunjung ke area perusahaan di luar jam kerja kecuali unuk keperluan membeli produk dengan sepengetahuan pimpinan.

m. Membawa dan menggunakan hand-phone (HP) pada saat jam kerja kecuali diberi ijin oleh management.

n. Mencemarkan, menyalahgunakan nama baik ataupun reputasi perusahaan.

o. Menyalahgunakan fasilitas-fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi tanpa ijin Pimpinan, antara lain menggunakan telpon perusahaan dan lain sebagainya.

p. Menolak untuk mengerjakan sesuai perintah yang wajar dari Penyelia atau Kepala Bagian / Pimpinan

q. Mengerjakan tugas secara sembarangan dan tidak tepat waktu.

r. Bermalas-malasan, bersenda gurau serta berbicara yang tidak perlu selama jam kerja.

s. Tidak menunjukkan kemampuannya untuk mengerjakan suatu pekerjaan walaupun sudah dicoba di berbagai bagian / seksi.

t. Tidak melaporkan secepatnya barang hilang atau barang yang ditemukankannya baik milik tamu atau karyawan.

u. Berlaku tidak sopan di tempat kerja seperti tertawa terlalu keras, berteriak, atau berlari-lari.

v. Membawa makanan keluar dari dapur kerja karyawan untuk keperluan pribadi.

w. Makan selain jam istirahat atau makan / minum di area lain di dalam perusahaan dari yang telah ditetapkan oleh Pengusaha.

(45)

x. Terlambat masuk kerja melebihi 3 (tiga) kali dalam 1 (satu) bulan.

y. Lalai tidak dapat membuktikan Surat Sakit dari dokter dan Foto Copy Resep tepat pada hari masuk kerja setelah tidak hadir kerja dengan alasan sakit.

z. Perbuatan-perbuatan lain yang setara dengan perbuatan tersebut diatas.

2. Pelanggaran yang dapat berakibat langsung dikeluarkannya Surat Peringatan II (SP II) adalah sebagai berikut:

a. Penggulangan pelanggaran tata-tertib setelah diberikan Surat Peringatan I dan masih dalam jangka waktu 3 (Tiga) bulan dapat ditingkatkan menjadi Surat Peringatan II dan atau Surat Peringatan III.

b. Tidak menghormati, berlaku kasar, angkuh, sombong atau menunjukkan sikap yang menjengkelkan atau menantang tamu dan karyawan lainnya.

c. Menolak untuk mengakui kebijaksanaan atau memorandum yang dikeluarkan oleh perusahaan sepanjang isi dari memorandum tersebut tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku.

d. Menyalahgunakan waktu istirahat dengan berlebihan dari jadwal yang sudah ditetapkan di locker untuk lepas dari tugas kewajiban kerja.

e. Tidur pada jam-jam bekerja di lingkungan kerja, kecuali pada saat-saat jam istirahat (sepanjang tidak melebihi ketentuan jam istirahat).

f. Dengan sengaja melindungi kesalahan dari rekan kerja lainnya.

g. Tidak melaksanakan pekerjaan sebagaimana yang diatur dalam uraian jabatan (Job Description) dan telah cukup diberikan pelatihan dan bimbingan.

(46)

h. Tindakan yang membahayakan keselamatan karyawan lain atau pihak ketiga di dalam lingkungan perusahaan.

i. Membagikan Password yang menjadi tanggung jawabnya ke orang lain.

j. Melakukan pelanggaran perbuatan-perbuatan lain yang setara dengan yang tersebut diatas.

3. Pelanggaran tata tertib yang dapat berakibat langsung dikeluarkannya Surat Peringatan III (SP III) adalah sebagai berikut:

a. Pengulangan pelanggaran tata-tertib setelah diberikan Surat peringatan II dan masih dalam jangka waktu 3 (Tiga) bulan dapat ditingkatkan menjadi Surat Peringatan III dan PHK.

b. Melawan perintah atasan dengan kasar atau dengan tidak patut, dan menggunakan ucapan-ucapan kotor tidak sopan kepada atasan, rekan sekerja dan tamu.

c. Mengabaikan perintah atasan dan bertindak ceroboh dalam melaksanakan instruksi- instruksi yang disampaikan dan berpotensi menimbulkang kerugian.

d. Kegiatan merusak, mencoret-coret (vandalism) atau menulis di tembok dan mengotori lingkungan perusahaan seperti lingkungan dalam kamar locker, toilet, kamar mandi, koridor dan area lain-lainnya.

e. Menyimpan dengan sengaja / menyembunyikan barang atau harta milik perusahaan, tamu maupun karyawan.

f. Memiliki / menyimpan gambar-gambar porno atau mendorong terjadinya pelanggaran norma kesusilaan yang ada di dalam lingkungan tempat kerja.

g. Melakukan bisnis pribadi pada saat jam kerja atau jam lembur tanpa seijin Pimpinan perusahaan.

(47)

h. Membagikan buku atau memasangkan pengumuman, mengedarkan daftar-daftar atau poster-poster, tanda-tanda atau tulisan dalam bentuk apapun tanpa ijin di dalam lingkungan perusahaan.

i. Mengumpulkan dana dalam bentuk ataupun alasan apapun di lingkungan kerja tanpa ijin Pimpinan perusahaan.

j. Meninggalkan tempat kerja pada saat jam kerja tanpa ijin dari atasan yang berwenang terlebih ke luar areal perusahaan.

k. Melanggar SOP yang telah ditetapkan perusahaan didalam melaksanakan sebuah tugas dan jabatan

l. Berusaha meminjamkan uang kepada sesama di dalam lingkungan kerja dengan memungut biaya.

m. Merubah jadwal kerja atau membuat penggantian sendiri dalam satu shift kerja tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Supervisor atau pimpinan

n. Menghasut segala tindakan yang mengarah kepada percecokan / perkelahian.

o. Lalai dalam menjaga kunci sehingga menyebabkan hilangnya kunci tersebut.

p. Membuat duplikat kunci-kunci perusahaan tanpa ijin atasan ataupun Pimpinan dan diserahkan kepada orang lain.

q. Mendiskriminasikan sesama karyawan maupun tamu karena suku, warna kulit (kebangsaan), usia, atau kekurangan bersifat fisik lainnya .

r. Memberikan informasi kepada media atau siapapun tanpa ijin terlebih dahulu dari Pimpinan dan melibatkan diri dalam aktifitas di dalam perusahaan yang dapat merusak sesama karyawan, perusahaan dan pengusaha.

(48)

s. Memasukkan berita provokator melalui media elektronik.

t. Menerima dan meminta atau menawarkan sesuatu sebagai imbalan yang berhubungan dengan penilaian kerja, transfer atau kenaikan jabatan.

u. Melakukan pelanggaran perbuatan-perbuatan lain yang setara dengan yang tersebut diatas.

4. Perbuatan-Perbuatan yang digolongkan sebagai perbuatan melanggar hukum dan atau merugikan perusahaan, sehingga merupakan alasan untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), antara lain adalah:

a. Membawa Rokok masuk kedalam area perusahaan dan atau merokok pada saat tugas pada saat jam kerja.

b. Penipuan, pencurian dan penggelapan barang / uang milik pengusaha atau milik rekan sekerja atau milik teman pengusaha.

c. Memberikan keterangan palsu pada saat melamar pekerjaan atau pada masa kerja berlangsung.

d. Memalsukan data-data, dokumen–dokumen perusahaan atau perlengkapan termasuk memberikan keterangan palsu tentang perusahaan.

e. Sengaja memberikan keterangan palsu, memberikan surat keterangan sakit palsu kepada perusahaan.

f. Dengan menyadari (sengaja) menyembunyikan penyakit berat atau penyakit menular yang dapat membahayakan keselamatan / kesehatan tamu atau karyawan lain.

(49)

g. Membuka informasi rahasia perusahaan atau membiarkan dan atau membantu seorang yang tidak berwenang memasuki daerah terlarang tempat penyimpanan dokumen maupun gudang penyimpanan barang-barang milik perusahaan.

h. Membocorkan kerahasiaan perusahaan yang telah dipercayakan dalam pelaksanaan kerja jabatan kepada pihak lain sesama rekan sekerja untuk kepentingan pribadi ataupun kepada pihak ketiga baik selama masih aktip selaku karyawan maupun kelak dimasa non-aktip selaku mantan karyawan Igor’s Pastry.

i. Menganiaya, mengancam secara fisik atau mental, menghina secara kasar pengusaha atau keluarga pengusaha, rekan sekerja atau tamu.

j. Membujuk atau menggoda atasan, pengusaha, rekan sekerja untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan dengan hukum atau kesusilaan serta perundang-undangan yang berlaku.

k. Melakukan perbuatan asusila dan atau melakukan perjudian di lingkungan perusahaan.

l. Melakukan tindak kejahatan misalnya menyerang, mengintimidasi, atau menipu pengusaha atau teman sekerja, menyimpan barang-barang terlarang dan memperdagangkannya baik di dalam lingkungan perusahaan maupun di luar lingkungan perusahaan atau melakukan sabotase untuk mengacaukan tata tertib perusahaan dan menjurus untuk merugikan perusahaan.

m. Mabuk atau berada dalam pengaruh obat-obat terlarang selama melaksanakan tugas atau waktu masuk kerja.

n. Dengan ceroboh atau sengaja menghancurkan, merusak atau merugikan dengan menbiarkan dalam keadaan bahaya barang milik pengusaha, tamu maupun karyawan lainnya.

(50)

o. Membawa keluar barang-barang milik perusahaan tanpa seijin atasan atau pimpinan perusahaan.

p. Memanipulasi harga pembelian ataupun penjualan baik dari, oleh dan untuk tamu maupun pemasok (supplier).

q. Meminta atau bersikap meminta ‘TIP’ dari tamu atau pemasok (Supplier).

r. Membawa / memiliki / menyimpan / menggunakan senjata berupa apapun ke dan di tempat kerja yang tidak ada hubungan dengan tugas pekerjaannya tanpa persetujuan pimpinan.

s. Memiliki senjata api / peledak untuk sabotase mengacaukan tata tertib dan merugikan perusahaan.

t. Melakukan tindakan apapun jenisnya merupakan pelanggaran norma hukum pada waktu jam kerja baik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan.

u. Tanpa seijin tertulis ataupun verbal dari perusahaan melakukan kegiatan-kegiatan politik mengumpulkan rekan sekerja untuk rapat-rapat, pidato-pidato politik maupun menentang kebijakan yang telah ditentukan oleh perusahaan, menempelkan dan atau menyebarkan brosur / selebaran / poster atau kegiatan–

kegiatan lain yang berhubungan dengan politik atau yang akan merugikan jalannya operasional perusahaan.

v. Menjadi karyawan tetap maupun tidak tetap di perusahaan lain tanpa persetujuan dari perusahaan, terlebih melakukan pekerjaan yang sama dengan lapangan usaha perusahaan untuk pihak ketiga untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga.

w. Mangkir dan tidak hadir tanpa ijin dan tanpa konfirmasi selama 5 (lima) hari berturut-turut.

(51)

x. Melakukan pelanggaran perbuatan-perbuatan lain yang setara dengan yang tersebut di atas.

5. Perbuatan-perbuatan yang dapat diberikan peringatan atau pemindahan pada jabatan lain, dan atau penundaan kenaikan gaji dan atau penurunan jabatan, ataupun pemutusan hubungan kerja (PHK) setelah dicoba untuk ditingkatkan dan dibina, namun tidak ada perubahan diri dari pribadi karyawan akan berakibat perjanjian kerja tidak dilanjutkan, adalah:

a. Tidak cakap melakukan pekerjaan walaupun telah dicoba.

b. Melanggar ketentuan kerja berkali-kali walau telah diberikan bimbingan / pengarahan, sehingga menggangu operasional dan merugikan perusahaan.

c. Tidak dapat bekerja sama dengan rekan sekerja dan sering bertengkar dan mengabaikan instruksi senior / supervisor.

d. Hal-hal lain yang telah diatur dalam perjanjian kerja atau peraturan perusahaan.

e. Karyawan yang telah putus hubungan kerja secara tidak hormat dilarang masuk ke lingkungan tempat kerja sebagai tamu karyawan maupun tamu perusahaan selama 6 (enam) bulan.

6. Pelanggaran yang dapat mengakibatkan pemberhentian sementara (SKORSING) adalah sebagai berikut:

a. Karyawan telah mendapat beberapa kali teguran dari atasan / supervisor secara lisan maupun Surat Peringatan III terakhir dan kemudian melakukan kesalahan lagi dan oleh Pengusaha belum cukup alasan untuk diberhentikan.

b. Karyawan yang diduga atau melakukukan pelanggaran perundang-undangan Negara atau tindak pidana atau ditahan sementara oleh yang berwajib sambil menunggu proses kepastian hukum.

(52)

c. Terhadap kesalahan karyawan sebagaimana dimaksud dalam pelanggaran tata tertib dan ketentuan peraturan perusahaan.

PASAL 38

GAJI SELAMA MASA SKORSING

1. Jangka waktu skorsing sampai adanya keputusan yang mempunyai keputusan hukum tetap.

2. Karyawan kepala keluarga yang ditahan oleh yang berwajib bukan oleh pengaduan perusahaan dan tidak dapat hadir kerja tidak mendapat upah, akan tetapi kepada pihak keluarga yang ditinggalkan akan diberikan tunjangan sebagai berikut:

a. Untuk 1(satu) orang tanggungan : 25 % dari Upah b. Untuk 2 (dua) orang tanggungan : 35 % dari upah c. Untuk 3 (tiga) orang tanggungan : 45 % dari upah d. Untuk 4 (empat) orang tanggungan atau lebih : 50 % dari upah

BAB XI

KOMUNIKASI DAN KELUHAN

PASAL 39

KOMUNIKASI, KELUHAN DAN PENGADUAN

1. Setiap karyawan berhak menyampaikan pendapat atau saran-saran demi peningkatan kwalitas perusahaan ataupun pekerjaan dan hubungan kerjanya dengan perusahaan kepada atasannya langsung yang akan menampung dan mempelajari pendapat atau saran-saran dari karyawan tersebut yang akan dikonsultasikan kepada pimpinan perusahaan.

(53)

2. Perusahaan menyadari pentingnya penyelesaiaan masalah dan kesalah pahaman di tempat kerja, agar suasana harmonis tetap terjaga.

BAB XII

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA

PASAL 40

PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Pemutusan hubungan kerja dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Permintaan mengundurkan diri dari karyawan harus diajukan paling lambat :

a. Level OC – OA , 1 (satu) Bulan sebelum Perjanjian Kerja Berakhir, dan Pengajuan Surat Pengunduran Diri secara tertulis disetujui oleh Departemen Head &

Managemen.

b. Level MC – MA , 3 (Tiga) Bulan sebelum perjanjian kerja berakhir, dan disetujui Managemen.

2. Berakhirnya perjanjian masa perjanjian kerja tanpa diperpanjang, bila ada permintaan PHK kerja oleh pimpinan karena pelanggaran ketentuan.

3. Karyawan yang melakukan pelanggaran berat yang didasarkan Undang-Undang Pemerintah Republik Indonesia yang berlaku, maka dapat mengakibatkan pemutusan hubungan kerja pelaksanaannya sesuai dengan Peraturan Perundangan yang berlaku.

4. Karyawan tidak masuk kerja tanpa pemberitahuan ataupun tidak masuk kerja tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut dan telah dilakukan pemanggilan secara patut sebanyak 2 (dua) kali secara patut dan tertulis dapat diputus hubungan kerjanya pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan

Referensi

Dokumen terkait

(Meskipun volume lalu lintas bergantung kepada beberapa faktor, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa makin tinggi volume lalu lintas pada suatu ruas jalan makin tinggi

Data yang telah didapatkan pada penelitian kuantitatif ini adalah hasil pretest dan posttest latihan gerakan dasar dribble bola basket dengan menggunakan media

Pertama , hadis tentang hijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya, menurut beliau yang dimaksud oleh hadis tersebut selain hijrah secara fisik pindah dari suatu

Manfaat yang dapat diperoleh dari pengelolaan kebun yang berbasis agroforestry dari segi lingkungan adalah mengurangi aliran permukaan, pencucian zat hara tanah

Kota Surakarta yang pernah dilanda kerusuhan akibat kondisi politik Negara kita sedang labil yang terjadi di tahun1988-1989 an, merupakan awal pertumbuhan dan

Berdasarkan uraian penjelasan yang meliputi tugas dan kewenangan Dinas Perhubungan Kabupaten Hulu Sungai Utara, Fungsi-fungsi yang dimiliki, struktur organisasi, dan

Hasil dari pembuatan sistem ini adalah halaman-halaman informasi yang nantinya dijalankan dengan web browser. Adapun sub-menu yang terdapat di dalam sistem pada

Untuk mendeteksi dan menghilangkan kesalahan dari bias yaitu dengan melakukan cek data secara keseluruhan dengan mendirikan serangkain titik kontrol pada area bandara (seperti