Vol. 06, No. 03, Jun 2017
Published: 2017-07-04
Articles
PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM PELAKU CYBERBULLY DITINJAU DARI HUKUM POSITIF DI INDONESIA
I Putu Bayu Saputra Adi Natha, Komang Pradnyana Sudibya
o PDF
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA PEMILU BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2012 Nyoman Gede Ngurah Bagus Artana, I Gusti Ketut Ariawan, I Made Walesa Putra
TINJAUAN YURIDIS MENGENAI PUTUSAN HAKIM PIDANA YANG MELAMPAUI TUNTUTAN PENUNTUT UMUM (Analisis Putusan Pengadilan Negeri Tabanan Nomor : 07/Pid.Sus/2013/PN.TBN)
I Made Bayu Gautama Suadi Putra, Made Gde Subha Karma Resen
UPAYA MASYARAKAT DALAM PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PENCEMARAN AIR SUNGAI AKIBAT PEMBUANGAN LIMBAH Made Lia Pradnya Paramita, Gde Made Swardhana
PENERAPAN GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK (CLASS ACTION) DALAM MENYELESAIKAN PERKARA-PERKARA PERDATA DI INDONESIA Karolus Weladami, Nyoman Satyayudha Dananjaya
PENGATURAN TINGKAT KESALAHAN DOKTER SEBAGAI DASAR
PENENTUAN GANTI RUGI PADA PASIEN KORBAN MALPRAKTEK
Kadek Arini, Ida Bagus Putra Atmadja
1 PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA PEMILU BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2012 Oleh :
Nyoman Gede Ngurah Bagus Artana
I Gusti Ketut Ariawan
I Made Walesa Putra
Program Kekhususan Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana
ABSTRAK
Tindak pidana pemilu kini tidak hanya dapat dilakukan oleh orang perseorang melainkan dapat juga dilakukan oleh korporasi. UU No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD, khususnya ketentuan Pasal 303, 304, 306, dan 307 UU No. 8 Tahun 2012 masih terdapat kekaburan norma terkait penentuan pihak yang bertanggungjawab atas tindak pidana pemilu yang dilakukan oleh korporasi dan juga masih terdapat permasalahan dalam penegakkan pertanggungjawaban korporasi di masa akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan kepastian hukum dalam pertanggungjawaban korporasi.
Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan komparatif, pendekatan perundang-undangan, dan pendekatan konsep hukum. Sumber hukum yang ada dikumpulkan dengan teknik studi dokumen dan dianalisis dengan teknik diskriptif, teknik sistematisasi dan teknik evaluatif.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa untuk menentukan pertanggungjawaban korporasi dalam tindak pidana pemilu dapat dipedomani peraturan perundang-undangan lain yang terkait korporasi dan ketentuan umum Rancangan KUHP dapat menjadi pedoman penegakkan pertanggungjawaban korporasi di masa akan datang.
Kata Kunci: Pertanggungjawaban Pidana, Korporasi, dan Pemilu
Nyoman Gede Ngurah Bagus Artana adalah mahasiswa Fakutas Hukum Universitas Udayana, Korespondensi : [email protected]
I Gusti Ketut Ariawan adalah dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana.
I Made Walesa Putra adalah dosen Fakultas Hukum Universitas
Udayana.
2 ABSTRACT
Criminal election in its development has increased, it is not only done by an individual and political party, but also can be done by corporation. UU No. 8 Tahun 2012 about election of DPR, DPD, and DPRD is expected to prevent the development of criminal election which caused by corporation. But, as the provision of article 303, 304, 306, and 307 UU No. 8 Tahun 2012, there is an obscurity of corporation accountability norms which impact to uncertainty of corporation accountability which is related with imprisonment of the corporation
This research uses normative legal method with comparative approach, legal circulation, and legal concept approach. Existing legal sources were collected by document study techniques and analyzed by descriptive techniques, systematization techniques and evaluative techniques
Based on the result of the research, it is known that to determine corporation accountability in election crime can be guided by other laws related to corporation and general provisions. The draft Penal Code can be a guideline for uphold corporate liability in the future.
Keywords: Criminal Liability, Corporation, and Election
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pembentuk konstitusi menggunakan sistem dan asas ketatanegaraan demokrasi, untuk mencapai tujuan bernegara.
1Pemilihan umum (pemilu) legislatif merupakan salah satu bentuk perwujudan dari asas demokrasi dengan konsep kedaulatan rakyat.
Pemilu legislatif di Indonesia telah diselenggarakan sejak tahun 1955 hingga penyelengaraan terakhir pada tahun 2014.
Praktek penyelengaraan pemilu, tidak pernah luput dari praktek- praktek yang menodai nilai-nilai demokrasi dan asas-asas dalam pemilu. Pelanggaran dalam bidang pemilu kini tidak hanya dapat
1
Janendjri M. Gaffar, 2012, Politik Hukum Pemilu, Konpress, Jakarta, h.3.
3 dilakukan oleh orang perseorang melainkan dapat juga dilakukan oleh korporasi.
Beberapa kasus keterlibatan korporasi dalam penyelenggaraan pemilu dapat ditemukan dalam kasus penyuapan korporasi terhadap partai politik yang terjadi di negara Amerika Serikat. Kasus yang menjadi sorotan adalah pada saat pemilihan presiden Amerika Serikat antara senator Bob Dole dengan Bill Clinton. Dalam persaingan perebutan kursi presiden, Bob Dole dituduh menggunakan sumbangan dana ilegal, yang dimana sumbangan ilegal tersebut diperolehnya dari perusahaan alat olahraga di Massachusetts dan perusahaan Aqua-Leisure Industries yang masing-masing berjumlah USD 36.000 dan USD 1.000.
2Kasus lainnya, pada tahun 1994 sebuah perusahaan gas di Oklahoma menyumbang sebesar USD 150.000 kepada kandidat dari Partai Demokrat, Stuart Price yang bersaing dengan kandidat dari Partai Republik, Steve Largent, ketika berlangsung kampanye untuk menjadi anggota Kongres.
Pemerintah telah mengantisipasi kasus-kasus tersebut dengan membentuk Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang pemilihan umum DPR, DPD, dan DPRD. Dalam undang-undang tersebut terdapat beberapa ketentuan yang terkait korporasi, namun masih belum jelas mengatur mengenai apabila terjadi kejahatan dalam bidang pemilu yang dilakukan oleh korporasi, apakah pertanggungjawabannya dapat dijatuhkan kepada korporasi ataukah terhadap pengurusnya dan tidak menentukan perbuatan yang bagaimana tergolong dalam tindak pidana pemilu yang dilakukan oleh korporasi.
2
M. Arief Amrullah, 2009, “Korporasi dan Politik Uang Dalam Pemilu”, URL
: http://library.unej.ac.id/client/search/asset/612, diakses tanggal 10 Januari
2016.
4 1.2. Permasalahan.
1. Bagaimanakah pertanggungjawaban korporasi dalam tindak pidana pemilu berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012?
2. Bagaimakah pengaturan pertanggungjawaban korporasi dalam pengaturan hukum Indonesia di masa akan datang?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan umum yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk pengembangan konsep, asas, dan teori mengenai pertanggungjawaban korporasi dalam tindak pidana pemilu berdasarkan UU 8 Tahun 2012.
Tujuan khusus yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana pemilu dalam UU 8 Tahun 2012 dan pengaturan pertanggungjawaban korporasi dalam tindak pidana pemilu dalam konteks pembaharuan hukum pidana.
II. ISI MAKALAH 2.1 Metode Penelitian 2.1.1 Jenis Penelitian
Berangkat dari terdapat permasalahan hukum berupa kekaburan norma atau norma yang tidak jelas yang akan berpengaruh pada penegakan hukum dalam pertanggungjawaban pidana dalam bidang pemilu, maka penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in book).
33
Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2013, Pengantar Metode Penelitian Hukum,
PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 118.
5 2.1.2 Jenis Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan komparatif (komparative approach), pendekatan perundang-undangan (statute approach), dan pendekatan konsep hukum (Analitical & Conseptual Approach).
2.1.3 Sumber Bahan Hukum
1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat
4, yang mana pada penelitian ini yang menjadi bahan hukum primer meliputi:
a. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP);
b. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum DPR, DPD, dan DPRD (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5316);
c. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penangan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi.
2. Bahan hukum sekunder, seperti rancangan undang- undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tahun 2015, hasil-hasil penelitian, pendapat ahli hukum yang berkaitan dengan judul penelitian ini.
3. Bahan hukum tersier, yaitu seperti kamus hukum dan ensiklopedia.
2.1.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah studi dokumen. Teknik studi dokumen merupakan langkah awal dari setiap penelitian hukum.
54
Ibid, h.31.
5
Ibid, h. 68.
6 2.1.5 Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya teknik diskriptif, teknik sistematisasi dan teknik evaluatif.
2.2 Hasil dan Analisis
2.2.1 Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Tindak Pidana Pemilu Legislatif
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak mengakui korporasi sebagai subyek hukum pidana, dikarenakan KUHP masih menganut hanya manusia saja yang dapat dituntut sebagai pelaku dari suatu tindak pidana berupa pelanggaran maupun kejahatan.
6Korporasi sebagai subyek tindak pidana mulai dikenal sejak tahun 1955, dengan diundangkannya UU No.7 Drt Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi.
7Sampai saat ini korporasi sebagai subyek tindak pidana telah diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan di luar KUHP.
Salah satu peraturan perundangan-undangan yang mengatur terkait korporasi adalah UU 8 Tahun 2012. Beberapa ketentuan yang berkaitan dengan korporasi dalam ketentuan tersebut diatur dalam pasal 303 ayat (1), 304 ayat (1), 306, dan Pasal 307. Dalam pasal 303 ayat (1) disebutkan bahwa setiap orang, kelompok, perusahaan, dan/atau badan usaha non pemerintah yang memberikan dana kampanye Pemilu melebihi batas yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 131 ayat (1) dan ayat (2) dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun
6
I Dewa Made Suartha, 2015, Hukum Pidana Korporasi, Pertanggungjawaban Pidana dalam Kebijakan Hukum Pidana Indonesia, Setara Press, Malang, h. 46.
7
Muladi dan Dwidja Priyatno, 2013, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Prenadamedia, Jakarta, h.159.
7 dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Berdasarkan ketentuan mengenai korporasi dalam UU 8 Tahun 2012 tersebut diketahui bahwa apabila telah terjadi suatu tindak pidana pemilu yang dilakukan oleh korporasi dalam hal ini perusahaan, badan usaha non pemerintah, maupun perusahaan pencetak suara maka bentuk pertanggungjawabannya adalah pidana penjara dan pidana denda.
Pasal-pasal yang berkaitan dengan korporasi dalam ketentuan UU 8 Tahun 2012 tidak mengatur secara spesifik mengenai pihak yang harus bertanggungjawab apabila terjadi suatu tindak pidana pemilu yang dilakukan oleh korporasi apakah dibebankan terhadap korporasi ataupun terhadap pengurus korporasi.
Korporasi memang telah diakui sebagai subyek tindak pidana dalam beberapa ketentuan di luar KUHP. Tetapi dalam penegakkan hukumnya, hanya ada satu putusan yang menempatkan korporasi sebagai terdakwa.
8Dalam kasus ini, pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung dalam putusannya tanggal 1 Maret 1969 No. 136K/Kr/1966 justru membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Ekonomi, sehingga badan hukum yang dimaksud, tidak lagi ditempatkan di bawah pengampuan.
9Dua putusan Mahkamah Agung lainnya, yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan korporasi, dalam putusanya sama sekali tidak melibatkan korporasi sebagai subyek tindak pidana, melainkan hanya terhadap pengurusnya saja. Putusan itu yakni Putusan Mahkamah Agung RI Tanggal 19 September 1970 No. 66/KR/1969 dan Putusan Mahkah Agung RI Tanggal 26 Januari 1984 No. 346K/KR/1980.
8
Yusuf Shofie, 2002, Pelaku Usaha, Konsumen, dan Tindak Pidana Korporasi, Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 56.
9
Muladi dan Dwidja Priyatno, op.cit, h. 169.
8 Terhadap tindak pidana di bidang pemilu dengan melihat rumusan pasal yang berkaitan dengan korporasi sudah seharusnya korporasi dapat dijatuhi hukum pidana, oleh karena kerugian yang ditimbulkan akan merugikan masyarakat luas dan juga mempengaruhi keputusan politik badan legislatif yang lebih memihak pada korporasi bukan pada masyarakat.
10Untuk menjatuhkan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi dalam tindak pidana pemilu diperlukan suatu aturan atau batasan terkait kapan suatu korporasi dikategorikan melakukan tindak pidana. UU 8 Tahun 2012 tidak mengatur menganai hal tersebut, maka dalam hal ini dapat mengadopsi dari peraturan perundangan yang sudah mengatur mengenai tindak pidana korporasi, seperti undang-undang korupsi dan undang- undang tindak pencucian uang.
Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberatasan Tindak Pidana Korupsi, menyebutkan tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.
Selanjutnya dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang menyebutkan hanya pengurus yang mempunyai hubungan fungsional dalam struktur organisasi korporasi sajalah yang dapat melibatkan korporasi dalam pertanggungjawaban pidananya. Berdasarkan kedua rumusan tersebut, dibatasi suatu tindak pidana dapat dilakukan oleh korporasi dengan syarat dilakukan oleh mereka yang memiliki
10
Ermanto Fahamsyah dan I Gede Widhiana Suarda, 2006, “Implementasi
Teori Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Kaitannya dengan Kejahatan
Korporasi”, Mimbar Hukum Volume 18, Nomor 2, Juni 2006, h, 235.
9 hubungan langsung dengan korporasi dan oleh kegiatan yang tergolong untuk kepentingan korporasi.
Dalam menentukan suatu pertanggungjawaban korporasi dalam bidang pemilu juga perlu ditentukan terkait dengan siapa yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindak pidana pemilu yang dilakukan oleh korporasi. Dalam membatasi hal ini, maka digunakan teori-teori pertanggungjawaban korporasi, seperti teori strict liability dan teori vicarious liability. Teori strict liability atau konsep pertanggungjawaban mutlak merupakan suatu bentuk pelanggaran/kejahatan yang di dalamnya tidak mensyaratkan adanya unsur kesalahan, tetapi hanya disyaratkan adanya unsur perbuatan.
11Teori vicarious liability adalah pertanggungjawaban seseorang, tanpa kesalahan pribadi, bertanggungjawab atas tindakan orang lain.
12Dua teori ini, sebagai cara dalam memidana korporasi maupun menjatuhkan pidana terhadap pengurus suatu korporasi.
Berkaitan dengan pertanggungjawaban korporasi dan pengurusnya, telah dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Tindak Pidana Oleh Korporasi (Perma Korporasi). Dalam perma korporasi tersebut memberikan pedoman penanganan tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi. Dalam ketentuan perma korporasi, korporasi dikatakan dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Perma Korporasi.
2.2.2 Pertanggungjawaban Pidana Korporasi di Masa Akan Datang
Perumusan korporasi sebagai subyek tindak pidana dan pertanggungjawabannya masih tersebar dalam berbagai peraturan
11
Mahrus Ali, 2013, Asas-Asas Hukum Pidana Korporasi, Rajawali Pers, Jakarta, h. 112.
12
I Dewa Made Suartha, op.cit., h.87.
10 perundang-undangan di luar KUHP. Berdasarkan demikian mengakibatkan ketidakseragaman pengaturan terkait pidana korporasi dan masih terdapat beberapa cara perumusan pertanggungjawaban pidana korporasi.
13Hal lain yang menunjukkan kelemahan dari kebijakan formulasi yakni, pertanggungjawaban korporasi tidak diatur secara umum, melainkan pengaturannya hanya diatur dalam undang-undang khusus dan kurang konsisten dalam menggunakan istilah korporasi.
14Terhadap permasalahan dalam kebijakan formulasi sistem pertanggungjawaban korporasi, terdapat dua alternatif penyelesaian. Pertama dengan melakukan reformulasi pengaturan sistem pertanggungjawaban pidana korporasi yang diatur dalam perundangan di luar KUHP dan kedua dengan cara melakukan pembaharuan KUHP dengan memasukkan korporasi sebagai subyek tindak pidana secara umum.
15Dalam rangka pembaharuan hukum pidana terkait korporasi, maka reorientasi dan reformulasi sistem pertanggungjawaban pidana korporasi harus didasarkan pada suatu pendekatan kebijakan dan pendekatan nilai. Pada sudut pendekatan kebijakan, reorientasi dan reformulasi sistem pertanggungjawaban pidana korporasi adalah sebagai bagian dari kebijakan sosial, kebijakan kriminal dan kebijakan penegakan hukum,
16sedangkan dari sudut pendekatan nilai, pada hakikatnya merupakan upaya melakukan peninjauan dan
13
I Dewa Made Suartha, op.cit, h. 88.
14