• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. lebih baik melalui pembahasan pada Effective Governance dalam Pengembangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. lebih baik melalui pembahasan pada Effective Governance dalam Pengembangan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

18 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Memalui masalah yang menjadi landasan di dalam proses peneliti untuk melakukan penelitian, maka hal yang menjadi acuan untuk memberikan kupasan di dalam proses membahas masalah yang akan diteliti akan dijadikan beberapa denifisi dari penjelasan makna dari teori yang akan dipergunakan dengan dikaji lebih baik melalui pembahasan pada Effective Governance dalam Pengembangan Wisata di Desa Bumiaji. Proses penjelasan mengenai beberapa jurnal yang sudah didapatkan oleh peneliti yaitu:

2.1 Tinjauan Pustaka

Tabel 0.1 Penelitian Terdahulu

No Judul Penelitian Metode danTeori/Konsep Penelitian

Hasil Penelitian

1. Peran Pemerintah Daerah dalam Pengembangan Pariwisata Alam dan Budaya di Kabupaten Tapanuli Utara Rotua Kristin Simamora dan

Penelitian ini

menggunakan metode kualitatif dan

menggunakan teori Pengembangan Pariwisata

Pengembangan obyek wisata di Tapanuli Utara mengacu pada wisata alam, budaya dan sejarah,

sehingga demi

mengembangkan potensi wisata alamnya di wisata Dinas Pariwisata sebagai salah satu stakeholder pariwisata di Kabupaten Tapanuli Utara dibutuhkan

(2)

19 Rudi Salam

Sinaga, 2016

perannya dalam rangka memotivasi masyarakat, investor dan pengusaha wisata.

2. Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Kehidupan Masyarakat Lokal di Kawasan Wisata (Studi melalui warga yang

berdomisili di kawasan Wendit di ruang lingkup Kab malang Akhmad Bories Yasin Abdillah, Djamhur Hamid,

Penelitian ini

menggunakan metode penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif

Teori yang digunakan yaitu pengembangan wisata dan dampak wisata

Kemajuan wisata Wendit akan menumbuhkan harapan terutama perekonomian bagi masyarakat sekitar namun harus siap menerima konsekuensinya dari dampak pariwisata tersebut baik dari segi social maupun perekonomian.

(3)

20 Topowijono,

2016

3. Pengembangan Potensi

Destinasi wisata Curug Angkrek

melalui Media Sosial di Kp.

Cimuncang, Desa

Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat Aris Ariyanto, Agus

Sudarsono, Ivantan, Mada Faisal Akbar , Munarsih, 2020

Proses tahapan teliti dengan menggunakan metode deskriptif dan menggunakan

teori pengembangan wisata melalui media sosial

Wisata Curug Anggrek memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Youtube, Facebook, Twiteer, Line, dana kun-akun lain yang dikelola sehingga peserta pelatihan dituntun aktif dalam mengelola akun-akun tersebut. Penggunaan media sosial sebagai sarana

promosi semakin

berkembang pesat apabila dikelola dengan baik jika menggunakan trik atau cara- cara menarik untuk menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

(4)

21 4. Penataan

Kelembagaan BUMDES Berbasis Pariwisata Muchamad Zaenuri, Muhammad Eko Atmojo, Muhammad Iqbal, 2019

Penelitian ini

menggunakan metode deskriptif kualitatif Dan teori yang digunakan yaitu Penataan

Kelembagaan BUMDes

Penataan BUMDes di desa Donoharjo dimulai dengan kegiatan yaitu pelatihan penyusunan pedoman tata kelola, yang meliputi pembuatan panduan untuk menjadi pedoman bagi pengelola dalam melakukan tugasnya maupun dalam membuat program atau kegiatan. Dengan hal ini pengembangan BUMDes berbasis wisata di Desa Donoharjo dapat mencapai perencanaan yang efektif dan efisien.

5. Pengembangan Pariwisata Melalui Pemberdayaan Masyarakat Dilihat Dari Perspektif

Penelitian ini

menggunakan metode kualitatif dan,

Teori pengembangan wisata melalui pemberdayaan masyarakat

Kebijakan pembangunan pariwisata bertujuan untuk mendokrak partisipasi masyarakat untuk meningkatkan potensi wisata di daerah tersebut dengan melestarikan

(5)

22 Implementasi

Kebijakan Ikke

Febriandhika &

Teguh Kurniawan, 2020

keaslian warisan sosial

budaya masyarakat yang bertujuan untuk menarik pengunjung baik dalam negeri maupun luar negeri.

6. Perlunya Perubahan Paradigma Pengelola Pariwisata dari Adaptive Governance Menuju Collaborative Governance Muchamad Zaenuri, 2018

Penelitian ini

menggunakan metode deskriptif, kualitatif dan menggunakan

Konsep Governance, Adaptif Governance dan Kolaboratif Governance

Dengan pendekatan Adaptif governance akan

menghasilkan tata kelola yang responsive tetapi belum bisa bersifat kompetitif dan promotif maka kemungkinan yang terjadi akan menggunakan konsep paradigma.

7. Pengembangan Indigenous Tourism

Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif

Dalam pengembangan perspektif dynamic bertujuan untuk

(6)

23 dengan

Perspektif Dynamic Governance (Studi Pada Kampung Heritage Kayutangan Kota Malang)

Ida Ayu

Girindra, Muhammad Rifki Amanulloh, Rizky Dharmawan, 2020

Menggunakan teori Indigenous Tourism ,Dynamic Governance

membangun kemampuan secara dinamis dengan menerapkan konsep thinking ahead, thinking again, dan thinking across.

Sedangkan pengembangan indigenous tourism

merupakan pemanfaatan wisata asli daerah yang mengandung unsur yaitu Heritage yang merupakan sebuah nilai yang dianggap penting dan dijaga oleh masyarakat, kedua yaitu history yang merupakan nilai sejarah atau untuk mengingat peristiwa penting di kampung tersebut,

8. Strategi

Pengembangan Pariwisata Berbasis

Masyrakat di Desa Kemetul,

Penelitian ini

menggunakan metode deskriptif, kualitatif dan menggunakan

Konsep, Strategi Pengembangan Wisata

Potensi yang ada di desa Kemetul sudah cukup baik mulai dari aksesbilitas, atraktif, amenitas, dan kelembagaan. Atas pendampingan dari

(7)

24 Kabupaten

Semarang Rindo Bagus Sanjaya, 2018

POKDARWIS tersebut maka strategi yang dilakukan masyarakat dalam mengembangankan

pariwisata saat ini yaitu masyarakat mulai aktif mengikuti pelatihan pemandu wisata, masyarakat mulai memanfaatkan

keahlian dan

menyumbangkan barang untuk mengembangkan wisata, lalu masyarakat mulai membuat fasilitas seperti taman baca, gazebo, toilet dan lahan parkir, dan selanjutnya masyarakat juga membuat paket wisata pedesaan dan dipasarkan ke luar kota.

9. Model

Collaborative Governance

Penelitian ini

menggunakan metode

Dalam pengembangan pariwisata yang berbasis indigenous tourism

(8)

25 dalam Analisis

Pengembangan Potensi

Pariwisata Berbasis Indigenous Tourism Mochamad Rozikin,

Rendra Eko Wismanu, Andhyka Muttaqin, 2019

deskriptif, kualitatif dan menggunakan

Konsep Kolaboratif Governance

diperlukan bukan hanya peran pemerintah pusat dan daerah namun juga peran keseluruhan aktor yang berada di masyarakat. Jika semua aktor masyarakat berperan aktif maka akan terwujudnya collaborative governance di sektor pariwisata yang nantinya lembaga publik maupun non negara dapat terlibat secara langsung dalam

pengambilan keputusan.

10. Penerapan Model Smart Village dalam Pengembangan Desa Wisata:

Studi pada Desa Wisata Boon Pring

Sanankerto Turen

Penelitian ini

menggunakan metode deskriptif, kualitatif dan menggunakan

Konsep Smart Village

Penerapan smart village di desa wisata Boon Pring menggunakan aplikasi berbasisi android untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh wisatawan seperti harga tiket, fasilitas, sarana prasarana, foto, dan juga penjualan dan pemesanan

(9)

26 Kabupaten

Malang

Tia Subekti &

Ratnaningsih Damayanti, 2019

tiket dapat dilakukan secara online. Dalam menjalankan smart village desa wisata Boon Pring harus melihat dari unsur berikut yaitu pertama smart people, kedua adalah smart government, yang ketiga yaitu smart economy, keempat adalah smart environmental, dan yang terakhir adalah smart promotion

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Effective Governance

Konsep dari effective governance berangkat dari pijakan yang akan digunakan melalui bagian dari bentuk Good Governance dimana secara mekanismenya memiliki kegunaan untuk melakukan peninjauan terhadap pemerintah ke masyarakatnya untuk memberikan peluang dalam proses memecahkan sebuah masalah. Dengan menggunakan bentuk Good Governance, aktor utama yang memiliki peran penting di dalam mengendalikan adalah pemerintah, diaman tugas utamanya untuk mengimbangi kondisi yang kemungkinan akan terjadi terhadap masyarakatnya. Dengan adanya sebuah masalah yang terjadi di ruang lingkup warga atau masyarakat, pihak aktor utama yaitu

(10)

27 pemerintah memiliki fungsi di dalam mengendalikan proses pengembangan yang baik serta tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan, agar tidak timbul dampak yang negative berupa pemborosan anggaran dan selalu mengedepankan proses layanan publik yang baik. Apabila dikaitkan dengan keadaan saat ini, maka tingkat pemeliharaan kawasan otonomi yang berpijak pada kemandirian daerah berupaya untuk memberikan tingkatan bebas dari permasalahan yang akan terjadi.

Berikut ini merupakan bentuk dari adanya Good Governance yang menjadi ciri khas diberlakukanya, yaitu:

1. Keikutsertaan semua kalangan dengan terus mengedepankan rasa tanggung jawab.

2. Memberikan jaminan melalui produk hukum.

3. Memberikan jaminan atas prioritas yang menjadi dasar pengharapan manusia.

4. Memberikan perhatian melalui pentingnya tingkat kesenjangan yang rendah dengan tetap mengedepankan SDM yang lebih baik.

Dalam konsep Good Governance sendiri memiliki beberapa prinsip yang perlu untuk dipenuhi. Salah satunya merupakan bentuk dari efektif dan efisiensi yang akan dilakukan dengan menggunakan kegiatan yang proses penjaminanya berupa proses pengadministrasian yang baik serta memiliki pelayanan yang sasaranya tepat pada porsi yang dibutuhkan organisasi/unit kerja. Proses kelola melalui sdm yang diharapkan akan memberikan kegunaan yang se-efisien mungkin dan tingkat keberhasilan memuaskan. Birnbaum (1991) dalam Kezar (2004) menawarkan definisi berbeda tentang good governance atau effective governance, yang terkait langsung dengan budaya masing-masing lembaga. Namun, dia

(11)

28 mencatat bahwa efektivitas adalah kesesuaian antara harapan konstituen dan bagaimana proses dan perkembangan hasilnya. Dalam memenuhi konsep dari effective governance, maka pemerintah perlu untuk memenuhi kriteria seperti, direct capacity dan direct effectiveness.

Berdasarkan hal tersebut mengutip dari UNWTO (2017) menjelaskan bahwa dalam mengelola pariwisata berkelanjutan diperlukan adanya effective governance, dimana pemerintah diharapkan dapat memenuhi kriteria diantaranya:

1) Direct Capacity, ditentukan oleh kekuatan dan sumber daya kelembagaannya, terlepas dari luas wilayahnya, untuk mempromosikan dan secara transparan menjalankan mekanisme koordinasi, kolaborasi dan / atau kerja sama yang tunduk pada akuntabilitas, dengan jaringan aktor berdasarkan perjanjian yang mengakui saling ketergantungan dan tanggung jawab Bersama.

2) Direct Effectiveness, berasal dari penggunaan yang efisien dari kekuasaan dan sumber daya kelembagaan untuk koordinasi, kolaborasi dan / atau kerjasama yang ditandai dengan tanggung jawab, transparansi dan akuntabilitas, yang merupakan dasar untuk definisi dan pencapaian tujuan sehubungan dengan solusi dan peluang yang saling menguntungkan untuk kepentingan umum.

Effective Governance merupakan suatu tata kelola pemerintahan yang meliputi ekonomi, politik, sosial budaya, administrasi dalam pengelolaan suatu negara. Menurut (Effendi, 2005) pengertian dari pemerintah dapat diketahui melalui proses layanan yang dilakukan oleh pemerintahan dan program politik

(12)

29 dimana era yang sudah ditempuh oleh Woodrow Wilson, yang nantinya menjabat sebagai tokoh penting di AS yaitu presiden.

Namun pada saat era pemerintah yang dipakai masih memiliki arti yang begitu dangkal. Istilah pemerintah yang memiliki arti di Bahasa indonesiakan yaitu sebagai penataan pengelolaan proses pemerintah, yang tugasnya menyelenggaraan tatanan system pemerintah pada saat ini disebut pamong yang istilah ini dating pada 15 tahun yang lalu dimana proses penetapan pemerintah yang memikul keadaan yang baik memiliki ciri dalam proses setiap kegiatan yang ada di desa.

Menurut pandangan dari Krina yang menjelaskan bahwa proses pengelolaan pemerintah yang dicakup oleh proses, mekanisme, serta bagian dari pemerintahan yang mana masyarakat memberikan kepentingan dengan memakai kewajiban serta hak yang dipakai pada hukum serta pemenuhan wajib dengan menghargai suatu masalah yang ada. Sedangkan dalam pengelolaan pariwisata dengan prinsip good governance. Untuk menciptakan Effective Governance maka diperlukan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat yang selaras sehingga tercipta Good Governance. Pemerintah yang baik memiliki arti dimana proses capaian yang dilakukan oleh pemerintahan dengan warganya diharuskan untuk selalu mengedepankan layanan dan perlindungan.

Jadi dapat dikatakan bahwa bagian dari adanya pemerintah yang baik memiliki sekam dimana proses pengelolaan yang di laksanakan

(13)

30 pada ruang lingkup pemerintah, akan selalu menjadikan legalitas, perekonomian, manfaat SDM/SDA dengan prinsip adil serta merata.

Pengertian dari adanya efektif dan keefektifan biasanya memiliki makna untuk menyelesaikan tiap unit kerja yang akan diurus secara berkala dengan adanya rencana yang sudah dicanankan melalui bentuk proses yang dilakukan sebelumnya, jadi apabila dikaitkan degan efektif governance, rencana yang akan dikelola dengan baik harus selalu mementingkan hak yang sudah terjadi pada warga masyarakatnya.

Berikut ini merupakan proses pengelolaan pemerintah yang baik dan benar sesuai dengan proses menjalankan pemerintah yang baik, yaitu:

1). Memberikan layanan yang bermutu,

2). Memberikan kestabilan system politik,

3). Rumusan serta penerapan yang baik,

4). Memiliki bentuk kesepakatan yang baik.

Terdapat Sembilan bentuk langkah yang akan diterapkan pada pemerintah yang efektif, yaitu:

1). Mempunyai posisi aktor yang jelas, 2). Penetapan dan mensetujui legalitas, 3). Daya dukung pemimpin,

4). Memberikan pimpinan yang memiliki pandangan strategis, 5). Menggunakan system pertemuan yang baik,

6). Memiliki tingkat konsisten, 7). Adanya rancangan kerja,

(14)

31 8). Adanya evaluasi,

9). Memberikan capaian pada proses tujuan.

Dari hasil mengenai bagaimana menjalankan proses pemerintah yang baik inilah akan selalu melibatkan masyarakat dengan pihak pemerintah guna tercapainya tujuan-tujuan yang sudah dijelaskan melalui poin-poin penting diatas.

Kinerja yang menjadi tolak ukur yang harus ditinjau secara langsung akan selalu dihadapkan pada permasalahan public, maka sistek capaian yang harus diukur dengan menggunakan hasil yang terpercaya yaitu transparan dan akuntabel adalah jamina yang harus terus dilaksanakan.

2.2.2 Pengembangan Wisata

Pengembangan pariwisata merupakan suatu proses yang berkesinambungan untuk melakukan matching serta adjustment yang terus menerus di antara sisi supply dan demand kepariwisataan yang tersedia untuk mencapai misi yang telah ditentukan. (Nuryanti, 1994). Hal tersebut memiliki dapat bermakna sebagai sebuah upaya dalam lebih meningkatkan sumber daya yang dimiliki oleh suatu objek wisata dengan cara melalui pembangunan baik itu unsur fisik serta non-fisik dari system pariwisata sehingga dapat meningkatkan produktifitas.

Dapat dikatakan bahwa pengembangan pariwisata adalah sebuah proses yang tidak hanya terjadi sekali dalam satu waktu, tetapi akan terus berjalan dan berkembang sesuai dengan keinginan dari wisatawan, dari sini dapat dikatakan bahwa pengembangan pariwisata adalah sebuah proses yang berkelanjutan (Zakaria, 2014) Pengembangan pariwisata sendiri bertujuan untuk menghasilkan keuntungan alias benefit bagi beberapa pihak. Yang mendapatkan keuntungan disini adalah para pengelola wisata, meskipun tidak secara langsung tetapi melalui

(15)

32 proses pengembangan wisata ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui kunjungan dari para wisatawan.

Selain itu melalui pengembangan wisata tentunya akan ditingkatkan secara infrastruktur, dalam konteks ini seluruh stakeholder baik itu pengelola wisata, masyarakat serta wisatawan akan diuntungkan dengan pemenuhan fasilitas melalui pembangunan infrastruktur tersebut. Melalui pengembangan ini pula dapat mempengaruhi pada sisi sosio kultural yang ada pada masyarakat, oleh karena itu dalam pengembangan wisata baiknya untuk memperhatikan juga dampak yang akan ditimbulkan pada sisi sosio-kultural yang ada di daerah tersebut. Menurut Hadinoto (1996), ada lima komponen dalam sistem pariwisata, yaitu: Atraksi Wisata; Promosi dan Pemasaran; Pasar Wisata (masyarakat pengirim wisata);

Transportasi; dan Masyarakat Penerima Wisatawan yang menyediakan keperluan serta pelayanan jasa yang dapat mendukung wisata.

Pengembangan pariwisata menurut Poerwa Darminta (2002) pengembangan merupakan suatu proses atau cara untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih maju, baik, sempurna, dan berguna. Dalam pengembangan wisata masyarakat diharap mampu menyediakan berbagai fasilitas untuk para wisatawan agar keberadaan wisata tersebut dapat menguntungkan wisatawan dan masyarakat sekitar. Sehingga pengembangan wisata ini diharap dapat meningkatkan kemajuan hidup masyarakat sekitar melalui keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari wilayah tersebut.

Sedangkan Menurut (Paturusi 2001) pengembangan merupakan suatu strategi yang dipergunakan untuk memajukan, memperbaiki dan meningkatkan kondisi kepariwisataan sebagai suatu objek dan daya tarik wisata, dari hal tersebut sehingga

(16)

33 wisatawan yang berkunjung mampu memberikan manfaat bagi masyarakat disekitar objek wisata dan memilki daya tarik wisata bagi pemerintah.

Pengembangan pariwisata menurut (Nuryanti, 1994) pengembangan pariwisata merupakan suatu proses yang memiliki kesinambungan untuk melakukan matching dan adjustment yang terus menerus diantara sisi supply dan demand kepariwisataan untuk mencapai misi yang telah ditentukan. Untuk mengembangkan pariwisata menurut (Yoeti 1996) ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1.Adanya “Something to see” suatu daerah harus memiliki daya Tarik wisata atau atraksi wisata yang berbeda dengan yang dimiliki daerah yang lain.

2.Adanya “Something to do” yaitu daerah tersebut memiliki fasilitas yang dapat membuat wisatawan betah untuk tinggal lebih lama di tempat itu.

3.Adanya “Something to buy” yaitu objek wisata tersebut harus memiliki sesuatu yang bisa dibeli oleh wisatawan sebagai sebuah kenang-kenangan atau cidera mata/souvenir.

Sehingga dalam pengembangan sebuah produk atribut dasar tidak menjamin kesuksesan dalam pengembangan sebuah destinasi pariwisata, upaya tersebut diversifikasi produk mengharuskan pembangunan dilakukan secara berkelanjutan untuk menghadapi tantangan sosial, lingkungan dan ekonomi (Rotich et.al., 2012).

Sehingga dalam pembangunan kepariwisataan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat menjadi isu strategi pengembangan kepariwisataan saat ini. Dalam khasanah ilmu kepariwisataan, strategi tersebut dikenal dengan istilah community based tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat. Konstruksi

(17)

34 pariwisata berbasis masyarakat community based tourism ini pada prinsipnya merupakan salah satu gagasan yang penting dan kritis dalam perkembangan teori pembangunan kepariwisataan konvensional (growth oriented model) yang seringkali mendapatkan banyak kritik telah mengabaikan hak dan meminggirkan masyarakat lokal dari kegiatan kepariwisataan di suatu destinasi (Bambang Sunaryo 2013).

2.2.3 Sustainable Tourism

Konsep dari pembangunan berkelanjutan untuk memberikan proses pengembangan serta pembangungan yang memiliki kontruksi di masa depan yang mempertimbangkan proses pemenuhan hal yang ingin dipenuhi sesuai dengan kebutuhan serta kemapuan masyarakat yang akan dating guna melakukan proses pemenuhan jaminan kebutuhan. Dimana seperti yang telah disebutkan oleh World Trade Organization (WTO) dalam cakupan proses perkembangan melalui proses yang disebut dengan pandangan generasi yang harus dilakukan untuk jangan waktu yang panjang.

Berikut ini merupakan beberapa bentuk dan ciri yang harus tercapai di dalam proses pengembangan pariwisata yang melihat pembangunan yang mengarah berkelanjutan, yaitu:

1. Proses pembangunan yang akan di gunakan pada daerah yang memiliki potensi, diharuskan untuk mencapai dampak positif yang baik dengan memberikan efek negative yang minim

2. Bentuk dari kebudayaan yang sudah ada di wilayah ruang lingkup yang terjadi pada daerah wisata harus disesuaikan dan diterima oleh warga yang sudah lama tinggal di kawasan tersebut.

(18)

35 3. Hasil yang dicapai terutama perekonomian harus dapat memberikan dampak yang baik guna dalam proses mensehjaterakan masyarakat.

4. Kemajuan fasilitas yang didukung oleh teknologi diharuskan untuk selalu memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Gambar

Tabel 0.1 Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada capaian dimensi ecological knowledge dalam konsep literasi lingkungan pada kelas yang menggunakan

Lulusan Jurusan Fisika diharapkan mempunyai kompetensi yang tinggi terutama sesuai dengan visi dan misi yaitu di bidang fisika medis dan fisika lingkungan serta dalam bidang

Permeabilitas adalah sifat dari tanah atau kemampuan dari tanah dimana air   bebas mengalir melalui ruang – ruang kosong atau pori – pori yang ada di antara  butiran –

Setelah dilakukan penelitian berupa analisis penggunaan diksi dan gaya bahasa terhadap kumpulan puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono diambil sebanyak

Untuk menghindari unsur subjektif dalam melakukan penyeleksian penerima beasiswa, maka tujuan dari penelitian ini yaitu menghasilkan suatu aplikasi sistem pendukung keputusan yang

Bagaimana perasaan anda ketika melihat orang lain lebih baik / memiliki sesuatu yang lebih baik daripada anda?. Hanya tersenyum dan berkhayal supaya saya bisa menjadi

[r]

Berdasarkan angket yang telah disebarkan kepada responden tentang persoalan agunan, yaitu: Ketika melakukan pinjaman kebank syariah agunan bukan menjadi