• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1.2. LANDASAN HUKUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG 1.2. LANDASAN HUKUM"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung yang telah memiliki Kepala Daerah periode 2011-2015 melalui pemilihan langsung wajib menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang berfungsi sebagai dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahun. Ketentuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2011-2015 merupakan arah pembangunan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bakti kepala daerah terpilih yang disusun berdasarkan Visi, Misi dan Program Kepala Daerah terpilih, dimana program dan kegiatan yang direncanakan sesuai urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.

RPJMD Kabupaten Bandung mengintegrasikan rancangan RPJMD dengan rancangan Renstra-SKPD, serta masukan dan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan melalui konsultasi publik dan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Dalam penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung 2011-2015 sebagai penjabaran visi, misi dan program kepala daerah terpilih, juga berpedoman pada RPJMD Provinsi Jawa Barat, serta sumber daya yang tersedia didaerah kabupaten Bandung.Sedangkan tata cara penyusunan RPJMD Kabupaten Bandung mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 050/2020/SJ Tanggal 11 Agustus 2005 tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM daerah, serta Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Cara`Penyusunan Perencanaan Pembangunan Daerah.

Sebagai salah satu SKPD Pemerintah Kabupaten Bandung ,RSD Soreang berkewajiban menyusun Renstra (Rencana Strategis) tahun 2011-2015. Dalam menyusun Renstra RSUD Soreang tahun 2011-2015 mengacu pada RPJMD Pemerintah Kabupaten Bandung tahun 2011-2015. Renstra ini selanjutnya menjadi pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan RSD Soreang tahun 2005-2010 .

Secara substansial Renstra RSUD Soreang, memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan dengan indikator yang terukur. Dalam pelaksanaannya akan mempertimbangkan kemampuan sumber daya yang tersedia serta hal-hal lain yang dianggap penting antara lain Rencana Relokasi,pengelolaan keuangan sebagai Badan Layanan Umum,pelaksanaan Akreditasi Rumah Sakit dan kegiatan lintas SKPD serta kegiatan kewilayahan

1.2. LANDASAN HUKUM

Dalam penyusunan Rencana Strategis RSUD Soreang Kabupaten Bandung Tahun 2011-2015, landasan hukum yang menjadi dasar pertimbangan adalah sebagai berikut:

a. Landasan Idiil Pancasila

b. Landasan Konstitusional Undang-Undang Dasar (UUD) 1945

(2)

2

c. Landasan Operasional :

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan

Tanggung jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007, tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4700);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan

Pemerintahan Daerah, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4124;

9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

11. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 - 2014;

12. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2010 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2011; 13. Peraturan Presiden RI Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Nasional Tahun 2010-2014;

14. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

15. Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan Nomor 28 Tahun 2010; Nomor 0199/M PPN/04/2010; Nomor PMK 95/PMK07/2010, tentang Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014;

16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

(3)

3

17. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 050-188/Kep/Bangda/2007 tentang Pedoman Penilaian Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah/RPJMD);

18. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat;

19. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 24 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025 ;

20. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah.

1.3. MAKSUD DAN TUJUAN

Berdasarkan pertimbangan di atas maka Renstra RSUD Soreang Tahun 2011-2015 disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut:

a. Maksud Penyusunan Renstra:

1. Menyediakan dokumen Renstra RSUD Soreang Tahun 2011-2015 sebagai acuan resmi bagi RSUD Soreang dalam menentukan prioritas program lima tahunan yang digunakan sebagai pedoman dalam rencana pengembangan tahunan RSUD Soreang.

2. Memudahkan seluruh jajaran aparatur RSUD Soreang untuk memahami dan menilai arah kebijakan dan program dan kegiatan RSUD Soreang selama lima tahun.

b. Tujuan Penyusunan Renstra:

1. Sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di bidang kesehatan, yang berkedudukan sebagai dokumen perencanaan induk dengan wawasan waktu 5 tahunan.

2. Sebagai bagian dari arah pembangunan bidang kesehatan yang ingin dicapai daerah dalam kurun waktu masa bakti Kepala Daerah terpilih.

3. Sebagai tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan RSUD Soreang. 4. Memudahkan seluruh jajaran aparatur RSUD Soreang dalam mencapai tujuan dengan cara

menyusun program dan kegiatan secara terpadu, terarah dan terukur serta memahami dan menilai arah kebijakan dan program serta kegiatan operasional tahunan dalam rentang waktu lima tahunan.

1.4. HUBUNGAN RENSTRA RSUD SOREANG DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA. Program dan Kegiatan yang akan dilaksanakan RSUD Soreang pada kurun waktu 2011-2015 disesuaikan dengan prioritas Pembangunan dalam RPJMD Kabupaten Bandung tahun 2010-2014 yang disusun berdasarkan capaian hasil pembangunan tahun 2005-2009 dan rencana capaian tahun 2010-2014. Keterkaitan prioritas pembangunan RPJMD Kabupaten Bandung dengan RPJMN, RPJMD Provinsi Jawa Barat, RPJP Tahap II Kabupaten Bandung.

Renstra RSUD Soreang 2011-2015 disusun berdasarkan prioritas pembangunan Kabupaten Bandung ke 3 (bidang kesehatan) yaitu “Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas kesehatan”,yang dimaksudkan

(4)

4

untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas, merata di setiap wilayah, berkeadilan di setiap strata sosial ekonomi masyarakat, yang dilakukan dengan pendekatan kuratif, preventif, dan promotif. Prioritas ini selaras dengan prioritas dalam RPJPD Kabupaten Bandung Tahun 2005-2025 Tahap II yaitu peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan, serta pengembangan jamkesmas, dan selaras dengan RPJMD Provinsi yaitu aksesibilitas dan pelayanan kesehatan masyarakat, juga selaras dengan RPJMN yaitu Kesehatan

Selain memperhatikan RPJP dan RPJMD dan Dokumen RPJPD Kabupaten Bandung, juga memperhatikan dokumen perencanaan lainnya seperti RUTR Provinsi maupun RDTR-RTRW Kabupaten Bandung, Tata Guna Lahan, Lingkungan Hidup dan Sumber Daya yang terdapat di Kabupaten Bandung.. Hal ini dilakukan agar dalam perencanaan maupun pelaksanaannya dapat sinkron sinergis dengan arah kebijakan Nasional, Propinsi dan Kabupaten. Berikut ini beberapa arah kebijakan pada RPJM Nasional Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta RPJMD Kabupaten Bandung yang berhubungan dengan Renstra RSUD Soreang. Hal ini dilakukan agar dalam perencanaan maupun pelaksanaannya dapat sinkron sinergis dengan arah kebijakan Nasional, Propinsi dan Kabupaten.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1.2. Landasan Hukum 1.3. Maksud dan Tujuan 1.4. Sistematika Penulisan.

BAB II GAMBARAN PELAYANAN RSUD SOREANG

2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi RSUD Soreang. 2.2. Sumber Daya RSUD Soreang

2.3. Kinerja Pelayanan RSUD Soreang

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan RSUD Soreang

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan 3.2. RSUD Soreang.

3.3. Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Terpilih 3.4. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis 3.5. Penentuan Isu-isu Strategis.

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

4.1. Visi dan Misi

4.2. Tujuan dan Sasaran Jangka Menengah RSUD Soreang 4.3. Strategi dan Kebijakan RSUD Soreang

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN,

DAN PENDANAAN INDIKATIF

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

LAMPIRAN

(5)

5

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN RSUD SOREANG

2.1. Tugas, Fungsi, dan Struktur Organisasi RSUD Soreang

Rumah Sakit Daerah Soreang adalah salah satu Rumah Sakit Pemerintah yang berada di wilayah Kabupaten Bandung, berdiri pada tahun 1996, merupakan pengembangan dari Puskesmas DTP Soreang.RSD Soreang didirikan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah TK. II Bandung Nomor: 445/4056/Tapra tahun 1996 perihal Persetujuan Prinsip Peningkatan Puskesmas DTP Soreang menjadi Rumah Sakit Kelas D. Pada tahun 1997, RSD Soreang ditetapkan menjadi Rumah Sakit Daerah Kelas C berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1409/MENKES/SK/XII/1997. Penetapan susunan organisasi dan pengisian jabatan dilakukan pada bulan Maret tahun 1999.

Penyelenggaraan Tugas Pokok dan Fungsi RSUD Soreang yang diberlakukan saat ini berdasarkan PERDA Kabupaten Bandung No. 5 Tahun 2008 adalah sebagai berikut :

Tugas pokok :

Melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang dilakukan secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan, melaksanakan, melaksanakan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

Fungsi :

a. Penyelenggaraan pelayanan medis dan penunjang medik serta non medis; b. Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan serta pelayanan rujukan; c. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan;

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Merujuk pada Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2008 tentang Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Bandung, susunan Organisasi RSUD Soreang, terdiri dari :

1.

Direktur;

2.

Bagian Tata Usaha, yang dalam melaksanakan Tugas dan Fungsinya membawahi :

a.

Sub Bagian Umum dan Perlengkapan;

b.

Sub Bagian Kepegawaian dan Pengembangan SDM;

c.

Sub Bagian Program dan Kehumasan.

3.

Bidang Kemedikan, yang dalam melaksanakan Tugas dan Fungsinya membawahi:

a.

Seksi Pelayanan dan Penunjang Medik;

b.

Seksi Rekam Medik.

4.

Bidang Keperawatan, yang dalam melaksanakan Tugas dan Fungsinya membawahi :

a.

Seksi Perawatan Rawat Inap;

b.

Seksi Perawatan Rawat Jalan dan Khusus.

5.

Bidang Keuangan, yang dalam melaksanakan Tugas dan Fungsinya membawahi:

a.

Seksi Mobilisasi Dana;

b.

Seksi Pengeluaran dan Akuntansi.

(6)

6

6.

Satuan Pengawas Intern (SPI);

7.

Kelompok Jabatan Fungsional, yang meliputi :

a.

Komite Medik;

b.

Staf Medik Fungsional;

c.

Komite Keperawatan;

d.

Staf Keperawatan Fungsional;

e.

Instalasi.

f.

Jabatan Fungsional Lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2.2. Sumber Daya RSUD Soreang

2.2.1. Susunan Kepegawaian

Jumlah pegawai RSUD Soreang yang pada awal berdirinya tahun 1996 hanya 47 orang, namun sampai dengan akhir tahun 2015 jumlahnya menjadi 462 orang dengan berbagai macam latar belakang profesi seperti dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis, paramedis keperawatan /non keperawatan, tenaga kesehatan lainnya serta tenaga non kesehatan. Berdasarkan status kepegawaian terdiri atas 324 orang PNS dan 138 orang Pegawai Tidak Tetap Rumah Sakit. Uraian jumlah SDM RSUD Soreang berdasarkan kelompok jabatan dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Tabel 2.1 Jumlah SDM RSUD Soreang berdasarkan Kelompok Jabatan

No Nama Jabatan

Jumlah PNS TKK Total

1 Tenaga Struktural 14 14

2 Tenaga Dokter Spesialis 21 1 22

3 Tenaga Dokter Umum 7 1 8

4 Tenaga Dokter Gigi 3 3

5 Tenaga Perawat Ahli 6 15 21

6 Tenaga Perawat Terampil 119 41 160

7 Tenaga Perawat Gigi 3 3 6

8 Tenaga Kebidanan 17 22 39

9 Tenaga Gizi 18 3 21

10 Tenaga Farmasi 8 15 23

11 Tenaga Laboratorium 8 4 12

12 Tenaga Bank Darah 4 4

13 Tenaga Radiologi 3 2 5

14 Tenaga IPSRS 10 10

15 Tenaga Fisioterapi 1 1 2

16 Tenaga Administrasi dan Teknis 75 30 105

17 Tenaga Laundry 7 7

Jumlah 324 138 462

2.2.2. Sarana dan Prasarana

RSUD Soreang adalah salah satu Rumah Sakit Pemerintah yang berada di wilayah Kabupaten Bandung yang berdiri pada tahun 1996 dan merupakan pengembangan dari Puskesmas DTP Soreang dengan dasar Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah TK. II Bandung Nomor : 445/4056/Tapra tahun 1996 perihal Persetujuan Prinsip Peningkatan Puskesmas DTP Soreang menjadi Rumah Sakit Kelas D. Pada

(7)

7

tahun 1997, RSUD Soreang ditetapkan menjadi Rumah Sakit Daerah Kelas C berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1409/MENKES/SK/XII/1997.

Penetapan susunan organisasi serta pengisian jabatan dilakukan pada bulan Maret tahun 1999 dan bulan Agustus 2001 berdasarkan Perda No. 13/1998 dan Perda No. 7/2001 serta pada tahun 2002 dirubah kembali dengan kenaikan eselon menurut Perda No. 10/2002. Pada tahun 2008 melalui Perda No. 5 Tahun 2008 terdapat perubahan atas susunan organisasi serta pengisian jabatan di seluruh Rumah Sakit Umum Daerah milik Pemerintah Kabupaten Bandung. Berdasarkan Perda No. 5 Tahun 2008 tersebut maka kedudukan RSUD Soreang merupakan SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung yang bertanggungjawab kepada Bupati Bandung sebagai Kepala Daerah sekaligus pemilik Rumah Sakit di bidang pelayanan kesehatan rujukan, dengan tugas pokok Melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang dilakukan secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan, melaksanakan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

Sarana fisik/gedung RSUD Soreang terdiri dari (1) Gedung Perawatan Terpadu yang digunakan untuk kegiatan Kamar Operasi, Intensive Care Unit, Instalasi Gizi, Ruang Laundry, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Farmasi, Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit, Unit Bank Darah, (2) Gedung Manajemen dengan lantai I digunakan untuk Instalasi Radiologi dan Instalasi Laboratorium serta lantai dasar yang digunakan untuk IGD sedangkan lantai II dan III untuk kantor serta (3) Gedung Pelayanan Kesehatan terpadu Terpadu untuk Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan.

Kegiatan pelayanan RSUD Soreang sesuai dilaksanakan melalui instalasi-instalasi. Instalasi pelayanan kesehatan rujukan yang tersedia saat ini adalah :

1. Pelayanan Rawat Jalan :

Klinik kesehatan yang tersedia di RSUD Soreang meliputi

:

Klinik Penyakit Dalam

Klinik Kesehatan Anak

Klinik Bedah

Klinik Obgyn (Kandungan dan Kebidananan)

Klinik Penyakit Saraf

Klinik Penyakit Kulit dan Kelamin

Klinik Rehabilitasi Medik

Klinik Mata

Klinik THT

Klinik Psikiatri

Klinik Gigi

Klinik DOTS

Klinik Khusus (Klinik Aster)

Klinik Umum

Klinik Bedah Mulut

Klinik Orthopaedi

2. Pelayanan Rawat Inap

Instalasi Rawat Inap semula hanya berjumlah 72 buah tempat tidur terdiri dari kelas II 28 buah dan kelas III 44 buah, dengan pembangunan ruang VIP dan kelas I pada tahun 2002, dioperasionalkannya Ruang ICU pada tahun 2004 serta penambahan kapasitas unit rawat inap kelas III secara kontinyu

(8)

8

sejak tahun 2009 maka jumlah tempat tidur yang dapat dioperasikan sampai akhir tahun 2014 adalah 225 tempat tidur dengan rincian dibawah ini :

Tabel 2.2. Jumlah dan Fungsi Tempat Tidur Perawatan RSUD Soreang per SMF

No Jenis Pelayanan / Ruang Rawat Inap Jml TT

Perincian Tempat Tidur Per-Kelas Ruang Tindakan Kelas

Utama Kls I Kls II Kls III Kelas Non

1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Penyakit Dalam 50 1 7 20 22 2 B e d a h 15 1 2 4 8 3 Kesehatan Anak 41 1 2 12 26 4 Obstetrik 13 1 1 1 10 7 5 Ginekologi 6 1 1 4 3 6 S a r a f 14 1 2 4 7 7 T H T 5 1 1 3 8 M a t a 3 3

9 Pelayanan Rawat Darurat 12 12 1

10 Isolasi 13 2 6 5

11 Wing IGD 25 25

SUB TOTAL 200 7 17 48 113 15 10

11 Perinatologi/Bayi 25 25

TOTAL 225 7 17 73 113 15 10

3. Pelayanan Gawat Darurat (IGD)

Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Soreang merupakan pintu gerbang utama pelayanan kesehatan RS untuk melayani pasien dalam kasus-kasus yang bersifat darurat dengan didukung oleh dokter dan perawat yang profesional bersertifikasi di biang penangananan kegawatdaruratan. Namun sampai saat ini pelayanan yang diberikan belum optimal karena keterbatasan lahan yang tersedia untuk penanganan pasien gawat darurat.

4. Pelayanan Penunjang

Pelayanan ini belum sepenuhnya dilengkapi dengan fasilitas sesuai standar namun secara bertahap terus dilakukan perbaikan-perbaikan guna melengkapi sarana prasarana penunjang kesehatan di RSUD Soreang. Pelayanan penunjang yang ada di RSUD Soreang baik medis maupun non medis adalah sebagai berikut.

a. Intensive Care Unit (ICU) b. Instalasi Bedah Sentral c. Instalasi Radiologi

d. Instalasi Patologi klinik (Laboratorium) e. Instalasi Farmasi

f. Instalasi Unit Bank Darah g. IPSRS

h. Unit SIM-RS i. Unit Laundry

(9)

9

2.3. Kinerja Pelayanan RSUD Soreang

Rata – rata kinerja RSUD Soreang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Untuk tahun 2012 – 2013 terjadi kenaikan yang signifikan dari jumlah total kunjungan rawat jalan dari 70.583 menjadi 89.397 kunjungan atau meningkat 26.65 %. Sedangkan untuk kunjungan rawat jalan tahun 2010 mengalami sedikit penurunan, hal tersebut terjadi karena pada bulan April 2010 RSUD Soreang memberlakukan pola tarif baru berdasarkan Perda No.23 tahun 2009 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Rumah Sakit Umum Kabupaten Bandung Namun hal tersebut dipandang wajar dan RSUD Soreang pernah mengalami hal serupa pada tahun 2001 Ketika RSUD Soreang memberlakukan Perda No. 4 tahun 2001 sebagai pengganti pola tarif sebelumnya. Perubahan pola tarif tersebut dipandang perlu karena pola tarif yang lama sudah tidak dapat menutupi biaya operasional RS.

Tabel. 2.3 Hasil Kegiatan Rawat Jalan Dan IGD Soreang Tahun 2010 s/d Oktober 2015

KLINIK 2010 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 Penyakit dalam 17.620 18.721 22.932 28.898 27.722 24.566 Anak 10.129 8.345 8.192 9.211 6.757 5.961 Bedah 5.499 5.398 6.966 11.633 11.579 8.726 Obsgyn 3.885 4.578 5.392 6.283 6.948 6137 Mata 3.406 4.564 5.124 7.232 6.902 6.343

Gigi dan Mulut 3.633 4.248 4.234 4.649 4.566 4.415

THT 3.788 3.879 4.092 4.485 4.263 3.703

DOTS 2.016 1.840 2.074 2.538 1.827 1.658

Saraf 2.913 3.675 4.305 5.093 3.205 6.051

Psikiatri 587 891 1.725 2.592 3.025 3.134

Kulit dan Kelamin 3.040 2.910 3.140 2.892 2.875 .2746

Umum 1.183 1.134 997 1.309 1.319 754 Rehab Medik 491 1.048 1.410 2.582 3.394 4.286 Orthopedi - - - 791 Kemuning - - - 2 Bedah Mulut - - - 466 Konsultasi Gizi - - - 120

Total Kunjungan Rawat Jalan 58.190 61.231 70.583 89.397 84.382 79.859

IGD 18.395 18.490 18.890 19.322 19.080 19.315

Total Kunjungan Rawat Jalan

dan IGD 76.585 79.721 89.743 108.719 103.462 99.174

Sehubungan dengan tingginya jumlah masyarakat yang memanfaatkan pelayanan rawat jalan, terutama poliklinik penyakit dalam, anak, dan bedah, rumah sakit membuat perencanaan untuk mengembangkan PONEK dan menambah pelayanan poliklinik baru antara lain poliklinik Bisnis, jiwa, orthopedi, dan poliklinik rehabilitasi medik.

Data diatas menunjukan cukup tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan RSUD Soreang dan menggambarkan tingginya kebutuhan masyarakat Kabupaten Bandung terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Dilihat dari besarnya prosentase tingkat hunian, rumah sakit perlu menyusun perencanaan strategis untuk penambahan kapasitas layanan baik rawat jalan maupun rawat inap pada tahun berikutnya.

Rata – rata kunjungan rawat jalan tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 mencapai 67.708 kunjungan pertahun, sedangkan rata – rata kunjungan IGD tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 mencapai 86.676 per tahun.

(10)

10

Sehubungan dengan tingginya jumlah masyarakat yang memanfaatkan pelayanan rawat jalan, terutama poliklinik penyakit dalam, anak, dan bedah, rumah sakit membuat perencanaan untuk mengembangkan PONEK dan menambah pelayanan poliklinik baru antara lain poliklinik Bisnis, jiwa, orthopedi, dan poliklinik rehabilitasi medik.

Data diatas menunjukan cukup tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan RSUD Soreang dan menggambarkan tingginya kebutuhan masyarakat Kabupaten Bandung terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Dilihat dari besarnya prosentase tingkat hunian, rumah sakit perlu menyusun perencanaan strategis untuk penambahan kapasitas layanan baik rawat jalan maupun rawat inap pada tahun berikutnya.

Adapun grafik kunjungan rawat jalan dan IGD RSUD Soreang dari hasil table 2.1 tahun 2010 s/d Oktober 2015 seperti dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1. Grafik Kunjungan Rawat Jalan Dan IGD RSUD Soreang 2010 s/d Oktober 2015

Seiring dengan peningkatan kunjungan pasien ke RSUD Soreang maka hal tersebut berimplikasi langsung pada peningkatan pendapatan fungsional setiap tahunnya. Melihat dari hasil pendapatan dan belanja RSUD Soreang mengalami peningkatan setiap tahunnya yaitu pada tahun 2014 saja mencapai Rp. 68.832.285.398,- atau dengan kata lain target pencapaian sasaran dan kinerja RSUD Soreang melalui unit-unit kerja pelayanan kesehatan yang langsung berhadapan dengan masyarakat tercapai, sedangkan untuk tahun 2015 mencapai Rp.

53.247.049.214

,- nilai jumlah pendapatan hanya dihitung sampai bulan Oktober saja belum terhitung selama satu tahun. Grafik pendapatan RSUD Soreang dari tahun 2010 s/d Oktober 2015 dapat dilihat dalam Grafik di bawah ini :

(11)

11

Gambar 2.2 Grafik Pendapatan Dan Belanja RSUD Soreang Tahun 2010 s/d Oktober 2015

Berdasarkan keputusan Bupati Bandung nomor 31 tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Bidang Kesehatan di Kabupaten Bandung maka RSUD Soreang melaksanakan sebagian dari kewenangan wajib bidang Kesehatan sesuai dengan Tupoksi RSUD Soreang sebagai pelaksana pelayanan kesehatan rujukan. SPM Bidang Kesehatan adalah tolok ukur untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Indikator keberhasilan bidang kesehatan adalah ukuran besaran yang dinyatakan oleh persentase atau pernyataan lainnya yang menyatakan pencapaian keberhasilan. Maksud ditetapkannya Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan ini adalah sebagai acuan dalam melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan yang wajib dilaksanakan di Kabupaten Bandung. Tujuan ditetapkannya SPM Bidang Kesehatan Kabupaten Bandung adalah :

a. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat

b. Meningkatkan pengawasan terhadap kebijakan yang langsung berhadapan dengan masyarakat c. Meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan

Kewenangan wajib dalam bidang kesehatan yang dilaksanakan di RSUD Soreang di Bidang Pelayanan Kesehatan Rujukan yaitu : (1) Pelaksanaan pelayanan medis, (2) Pelaksanaan pelayanan penunjang medis dan non medis, (3) Pelaksanaan pelayanan asuhan keperawatan, (4) Pelaksanaan pelayanan rujukan, dan (5) Pelaksanaan pelayanan penelitian dan pengembangan medis.

Hasil kegiatan pelaksanaan kewenangan wajib tersebut dikumulatifkan dengan hasil kegiatan institusi kesehatan lainnya (Puskesmas, Dinas Kesehatan) yang diperhitungkan sebagai bagian dari kinerja bidang kesehatan. Capaian kinerja RSUD Soreang sesuai tupoksi berdasarkan SPM bidang kesehatan dari tahun 2011 s/d Oktober 2015 dapat dilihat dalam tabel 2.5. dibawah ini.

(12)

11

Tabel 2.4. Review Pencapaian Kinerja Pelayanan RSUD Soreang Tahun 2011- Oktober 2015

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 Oktober s/d 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 1 IGD : 1. Kemampuan

menangani life saving anak dan dewasa

100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

2. Jam buka Pelayanan 24 jam 24 jam 24 Jam 24 Jam 24 Jam 24 Jam 24 jam 24 jam 24 Jam 24 Jam 24 Jam 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 3. Pemberian pelayanan gawat darurat yg bersetifikat ATLS / BTLS ACL / PPGD 100 % 85 % 90 % 90 % 100 % 100 % 90 % 90 % 90 % 100 % 100 % 90 % 90 % 90 % 100 % 100 % 4. Ada tim penanggulangan bencana

1 tim 1 tim 1 tim 1 tim 1 tim 1 tim - 1 tim 1 tim 1 tim 1 tim 0% 100 % 100 % 100 % 100 %

5. Waktu tanggap pelayanan Dokter setelah pasien datang

≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani ≤ 5 menit terlayani 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 6. Kepuasan pelanggan > 70 % ≥ 75 % > 75 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % 100% 100% 100% 100% 100% 7. Kematian pasien ≤ 24 jam < 2 /1000 ≤ 5 /1000 < 4 /1000 < 3 /1000 < 2 /1000) < 2 /1000 ≤ 5 /1000 ≤ 5 /1000 ≤ 5 /1000 ≤ 5 /1000 ≤ 5 /1000 100% 80% 60% 40% 40% 8. Tidak ada pasien yg

membayar uang muka 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 2 Rawat Jalan

1. Dokter pemberi

Pelayanan 100 % Spesialis > 90 % Spesialis 90 % Spesialis 95 % Spesialis 100 % Spesialis 100 % Spesialis 80% Spesialis 80% Spesialis 80% Spesialis 80% Spesialis 80% Spesialis 80% 80% 80% 80% 80% 2. Ketersediaan

Pelayanan (klinik) Anak Peny. Dalam

Obgyn Bedah  Anak  Dalam  Obgyn  Bedah  THT  Mata  Saraf

 Gigi & Mulut

 Kulit Kelamin  DOTS  Anak  Dalam  Obgyn  Bedah  THT  Mata  Saraf

 Gigi & Mulut

 Kulit Kelamin  DOTS  Orthopedi  Rehab.medik  Jiwa Anak Dalam Obgyn Bedah THT Mata Saraf

Gigi & Mulut

Kulit Kelamin DOTS Orthopedi Rehab medik Jiwa Jantung Tumb. kembang Anak Dalam Obgyn Bedah THT Mata Saraf

Gigi & Mulut

Kulit Kelamin DOTS Orthopedi Rehab medik Jiwa Jantung Tumb. kembang  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf

 Gigi & Mulut

 Kulit Kelamin  DOTS  Orthopedi  Rehab medik  Jiwa  Jantung  Tumb. kembang  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf  Gigi & Mulut  DOTS  Jiwa  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf

 Gigi & Mulut

 Kulit Kelamin  DOTS  Jiwa Anak Dalam Obgyn .Bedah THT Mata Saraf Gigi & Mulut Kulit Kelamin DOTS  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf  Gigi & Mulut  Kulit Kelamin  DOTS  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf  Gigi & Mulut  Kulit Kelamin  DOTS  Jiwa 66,66 % 66,66% 66,66% 66,66% 73,33%

(13)

12

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 Oktober s/d 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 3. Ketersediaan Pelayanan pasien Jiwa Anak remaja NAPZA Gangguan Psikotik Gangguan Neurotik Mental Retardasi Mental Organik Usia Lanjut  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik Usia Lanjut  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik  Usia Lanjut  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik  Usia Lanjut  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik  Usia Lanjut  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik  Usia Lanjut  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik  Usia Lanjut  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik  Usia Lanjut - -  Anak remaja  NAPZA  Gangguan Psikotik  Gangguan  Neurotik  Mental Retardasi  Mental Organik  Usia Lanjut 50% 50% 0% 0% 100%

4. Jam buka pelayanan Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 Hari kerja 08.00-13.00 Jumat 08.00-11.00 100 % 100 % 100% 100% 100%

5. Waktu tunggu < 60 menit > 90 % < 2 jam > 90 % < 2 jam > 90 % waktu < 2

jam < 60 menit < 60 menit < 60 menit < 60 menit < 60 menit < 60 menit < 60 menit 100 % 100 % 100% 100% 100% 6. Kepuasan Pelanggan > 90 % ≥ 75 % > 80 % > 85 % > 90 % > 90 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 75 % 7. Penegakan diagosis TB melalui pemeriksaan mikroskopis TB 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 8. Terlaksananya kegiatan pencatatan dan pelaporan TB 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 3 Rawat Inap :

1. Pemberian pelayanan  Dok. Spesialis

 perawat min.D3  Dok. spesialis  dokter umum  perawat min.D3  Dok. spesialis  dokter umum  perawat min.D3 Dok. spesialis dokter umum perawat min.D3 Dok. spesialis dokter umum  perawat min.D3  Dok. spesialis  dokter umum  perawat min.D3  Dok. spesialis  dokter umum  perawat min.D3  Dok. spesialis  dokter umum  perawat min.D3 Dok. spesialis dokter umum perawat min.D3  Dok. spesialis  dokter umum  perawat min.D3  Dok. spesialis  dokter umum  perawat min.D3 133% 133% 133% 133% 133% 2. Dokter penanggung jawab pasien 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

(14)

13

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 3. Ketersediaan pelayanan Rawat Inap Anak Dalam Obgyn Bedah  Anak  Dalam  Obgyn  Bedah  Mata  THT  Saraf  Kulit kelamin  Orthopedi  Jiwa  Rehab medik  Jantung  Paru  Anak  Dalam  Obgyn  Bedah  Mata  THT  Saraf  Kulit kelamin  Orthopedi  Jiwa  Rehab medik  Jantung  Paru  Anak  Dalam  Obgyn  Bedah  Mata  THT  Saraf  Kulit kelamin  Orthopedi  Jiwa  Rehab medik  Jantung  Paru  Anak  Dalam  Obgyn  Bedah  Mata  THT  Saraf  Kulit kelamin  Orthopedi  Jiwa  Rehab medik  Jantung  Paru  Anak  Dalam  Obgyn  Bedah  Mata  THT  Saraf  Kulit kelamin  Orthopedi  Jiwa  Rehab medik  Jantung  Paru  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf

 Gigi & Mulut

 Kulit Kelamin  Jiwa Anak Dalam Obgyn .Bedah THT Mata Saraf Kulit Kelamin  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf  Kulit Kelamin  Anak  Dalam  Obgyn  .Bedah  THT  Mata  Saraf  Kulit Kelamin  Jiwa 88,88% 76,92% 76,92% 76,92% 84,61%

4. Jam Visite Dokter

Spesialis 08.00-14.00 tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari kerja

08.00-14.00

tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari 08.00-14.00 tiap hari kerja 08.00-14.00 tiap hari kerja 100 % 100 % 100% 100% 100% 5. Kejadian infeksi pasca operasi ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 6. Kejadian infeksi nosokomial ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % ≤ 1,5 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 7. Tidak ada pasien

jatuh yg berakibat cacat / kematian

100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100%

8. Pasien mati > 48 jam ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % ≤ 0,24 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 9. Kejadian pulang paksa < 5 % ≤ 30 % < 20 % < 25 % < 10 % < 5 % < 20 % < 20 % < 20 % < 20 % < 20 % 105% 100% 80% 50% 10. Kepuasan pelanggan > 90 % > 75 % > 80 % > 85 % > 85 % > 90 % > 75 % > 75 % > 75 % > 75 % > 75 % 100% 93,75% 88,23% 88,23% 83,33% 11. penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan mikroskopis 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 100 % 100 % 100% 100% 100% 12. Terlaksananya kegiatan pencatatan dan pelaporan TB 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 60% 100 % 100 % 100% 100% 100% 13. Ketersediaan pelayanan jiwa di rawat inap Napsa, Gangguan Psikotik, Gangguan neurotik Gangguan Mental Organik - -  Napsa,  Gangguan Psikotik, Napsa, Gangguan Psikotik, Gangguan neurotik  Napsa,  Gangguan Psikotik,  Gangguan neurotik  Gangguan Mental Organik - - - 0% 0% 0% 0% 0%

(15)

14

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 Oktober s/d 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

14. Tidak ada kematian pasien gangguan jiwa

karena bunuh diri 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

0 0 0 0 0 0% 0% 0% 0% 0% 15. Kejadian re-adminssion pasien gangguan jiwa dlm waktu ≤ 1 bulan 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 0 0 0 0 0 0% 0% 0% 0% 0% 16. Lama hari perawatan pasien

jiwa < 6 minggu < 6 minggu < 6 minggu < 6 minggu < 6 minggu < 6 minggu

0 0 0 0 0 0% 0% 0% 0% 0%

4 Bedah Sentral 1. Waktu tunggu operasi

elektif ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari ≤ 2 hari 100 % 100 % 100% 100% 100% 2. Kejadian kematian di meja operasi ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % ≤ 1 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 3. Tidak adanya kejadian operasi salah sisi 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100%

4. Tidak ada kejadian

operasi salah orang 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 5. Tidak ada kejadian

salah tindakan pada operasi

100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100%

6. Tidak ada kejadian tertinggalnya benda asing pada tubuh pasien setelah operasi

100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100%

7. Komplikasi anesthesi karena overdosis, reaksi anestesi & salah penem-patan endotra-cheal tube < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % < 6 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 5 Persalinan dan perinatologi 1. Kejadian kematian

ibu karena persalinan Pendarahan ≤ 1 %

Pre eksampsia ≤ 30% Sepsis ≤ 0,2 % Pendara-han ≤ 1 % Pre eksampsia ≤ 30% Sepsis ≤ 0,2 % Pendarahan ≤ 1 % Pre eksampsia ≤ 30% Sepsis ≤ 0,2 %  Pendarahan ≤ 1 %  Pre eksampsia ≤ 30%  Sepsis ≤ 0,2 %  Pendarahan ≤ 1 %  Pre eksampsia ≤ 30%  Sepsis ≤ 0,2 %  Pendarahan ≤1%  Pre eksampsia ≤ 30%  Sepsis ≤ 0,2 %  Pendara-han ≤ 1 %  Pre eksampsia ≤ 30%  Sepsis ≤ 0,2 %  Pendara-han ≤ 1%  Pre eksampsia ≤ 30%  Sepsis ≤ 0,2 %  Pendara-han ≤ 1 %  Pre eksampsia ≤ 30%  Sepsis ≤ 0,2 %  Pendara-han ≤ 1 %  Pre eksampsia ≤ 30%  Sepsis ≤ 0,2 %  Pendara-han ≤ 1% Pre eksampsia ≤ 30% Sepsis ≤ 0,2 % 100 % 100 % 100% 100% 100%

(16)

15

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 Oktober s/d 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2. Pemberian pelayanan

persalinan normal  Dokter Sp.OG Dokter umum terlatih APN  Bidan  Dokter Sp.OG  Dokter umum terlatih APN  Bidan  Dokter Sp.OG  Dokter umum terlatih APN  Bidan  Dokter Sp.OG  Dokter umum terlatih APN  Bidan Dokter Sp.OG Dokter umum terlatih APN Bidan  Dokter Sp.OG  Dokter umum terlatih APN  Bidan Dokter Sp.OG Bidan  Dokter Sp.OG  Bidan Dokter Sp.OG Bidan  Dokter Sp.OG  Bidan Dokter Sp.OG Bidan 66,33% 66,33% 66,33% 66,33% 66,33% 3. Pemberian pelayanan persa-linan dg penyulit (Dr.Sp.OG) Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih

Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih Tim PONEK terlatih 100 % 100 % 100% 100% 100% 4. Pemberian pelayanan persalinan dg tindakan operasi  Dokter Sp.OG  Dokter Sp.A  Dokter Sp.An  Dokter Sp.OG  Dokter Sp.A  Dokter Sp.An  Dokter Sp.OG  Dokter Sp.A  Dokter Sp.An  Dokter Sp.OG  Dokter Sp.A  Dokter Sp.An Dokter Sp.OG Dokter Sp.A Dokter Sp.An  Dokter Sp.OG  Dokter Sp.A  Dokter Sp.An Dokter Sp.OG Dokter Sp.A Dokter Sp.An  Dokter Sp.OG  Dokter Sp.A  Dokter Sp.An Dr. Sp.OG Dr. Sp.A Drr Sp.An  Dr. Sp.OG  Dr. Sp.A  Drr Sp.An Dr. Sp.OG Dr. Sp.A Drr Sp.An 100 % 100 % 100% 100% 100% 5. Kemampuan menangani BBLR <1500gr - 2500 gr 100 % > 85 % > 85 % > 90 % > 90 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 117,6 4 % 117,6 4 % 111, 11 % 111, 11 % 100% 6. Pertolongan Persalinan melalui SC ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 7. Kepuasan Pasien > 80 % > 75 % > 75 % > 80 % > 80 % > 80 % > 75 % > 75 % > 75 % > 75 % > 75 % 100% 93,75 % 88,23% 88,23% 83,33% 6 Intensif 1. Rata-rata Pa-sien yg kembali ke perawatan intensif dg kasus yg sama < 72 jam < 3 % ≤ 3 % < 3 % < 3 % < 3 % < 3 % ≤ 3 % < 3 % < 3 % < 3 % < 3 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 2. Pemberian pelayanan

Unit intensif  dr Sp. An dr spesialis sesuai dg kasus  100% perawat min D3 (sertifikat perawat mahir ICU /setara D4)  dr Sp. An  dr spesialis sesuai dg kasus  15% perawat min D3 (sertifikat perawat mahir ICU /setara D4) dr Sp. An dr spesialis sesuai dg kasus  30% perawat min D3 (sertifikat perawat mahir ICU /setara D4)  dr Sp. An  dr spesialis sesuai dg kasus  50% perawat min D3 (sertifikat perawat mahir ICU /setara D4) dr Sp. An dr spesialis sesuai dg kasus  75% perawat min D3 (sertifikat perawat mahir ICU /setara D4)  dr Sp. An  dr spesialis sesuai dg kasus  100% perawat min D3 (sertifikat perawat mahir ICU /setara D4) dr Sp. An & dr spesialis sesuai dg kasus yang ditangani 30% perawat min D3 dg sertifikat perawat mahir ICU / setara D4  spesialis sesuai dg kasus yg ditangani  30% perawat min D3 dg sertifikat perawat mahir ICU /setara D4 spesialis sesuai dg kasus yg dita-ngani 30% perawat min D3 dg serti-fikat perawat mahir ICU / setara D4  spesialis sesuai dg kasus yg ditangani  30% perawat min D3 dg sertifikat perawat mahir ICU / setara D4 spesialis sesuai dg kasus yg ditangani 30% perawat min D3 dg sertifikat perawat mahir ICU / setara D4  100%  100%  100%  100%  100%  60%  100%  40%  100%  30% 7 Radiologi 1. Waktu tunggu hasil

pelayanan thorax foto < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam < 3 jam 100 % 100 % 100% 100% 100% 2. Pelaksana ekspertisi Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter

Sp.Rad Dokter Sp.Rad Dokter Sp.Rad 100 % 100 % 100% 100% 100% 3. Kejadian kegagalan pelayanan Rontgen karena kerusakan foto ≤ 2 % ≤ 3 % ≤ 3 % ≤ 2 % ≤ 2 % ≤ 2 % ≤ 2 % ≤ 2 % ≤ 2 % ≤ 2 % ≤ 2 % 100,6 6 % 100,66 % 100% 100% 100% 4. Kepuasan Pelanggan ≥ 80 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 75 % 100% 100% 83,33 % 83,33% 83,33% 8 Lab. Patologi Klinik

1. Waktu tunggu hasil

pelayanan Lab ≤140 menit kimia darah & darah rutin

≤140 menit kimia darah & darah rutin

≤140 menit kimia darah & darah rutin

≤140 menit kimia darah & darah rutin

≤140 menit kimia

darah & darah rutin ≤140 menit kimia darah & darah rutin

≤140 menit kimia darah & darah rutin

≤140 menit kimia darah & darah rutin ≤140 menit kimia darah & darah ≤140 menit kimia darah & darah ≤140 menit kimia darah & darah 100 % 100 % 100% 100% 100%

(17)

16

rutin rutin rutin

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 Oktober s/d 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2. Pelaksanaan

ekstertisi Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK Sp.PK Dokter Dokter Sp.PK Dokter Sp.PK 100 % 100 % 100% 100% 100% 3. Tidak ada kesalahan

pemberian hasil pemeriksaan lab 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 4. Kepuasan pelanggan ≥ 80 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % 83,33 % 83,33% 100% 100% 100% 9 Rehabilitasi Medik

1. Kejadian Drop Out pasien atas pelayanan Rehab Medik yang direncanakan

≤50 % - ≤ 75 % ≤ 60 % ≤ 50 % ≤ 50 % - - - ≤ 50 % ≤ 50 % 0% 0% 0% 100% 100%

2. Tidak ada kejadian kesalahan tindakan Rehab Medik

100% - 100% 100% 100% 100% - - - 100% 100% 0% 0% 0% 100% 100%

3. Kepuasan Pelanggan ≥ 80 % - ≥ 75 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % 10 Farmasi

1. Waktu tunggu layanan

a. Obat jadi ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit ≤30 menit 100 % 100 % 100% 100% 100% b. Obat racikan ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit ≤60 menit 100 % 100 % 100% 100% 100% 2. Tidak ada kejadian

salah pemberian obat 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

3. Kepuasan pelanggan ≥ 80 % ≥ 75 % ≥ 75 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % ≥ 80 % 106,6 6% 106,66% 100% 100% 100% 4. Penulisan resep sesuai formula 100 % 90 % 90 % 95 % 95 % 100 % 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 11 Gizi 1. Ketepatan waktu pemberian makanan pasien ≥ 90 % ≥ 90 % ≥ 90 % ≥ 90 % ≥ 90 % ≥ 90 % 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2. Sisa makanan yg tidak termakan pasien

≤ 20 % ≤ 30 % ≤ 25 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % ≤ 20 % 150% 120% 100% 100% 100% 3. Tidak ada kejadian

kesalahan pemberian diet 100 % > 90 % 95 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 12 Tranfusi Darah 1. Kebutuhan darah bagi pelayanan tranfusi 100 %

terpenuhi 100 % terpenuhi terpenuhi 100 % terpenuhi 100 % 100 % terpenuhi terpenuhi 100 % terpenuhi 100 % terpenuhi 100 % terpenuhi 100 % terpenuhi 100 % terpenuhi 100 % 100% 100% 100% 100% 100% 2. Kejadian Reaksi

transfusi ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % ≤ 0,01 % 100% 100% 100% 100% 100% 13 Pelayanan Gakin

Pelayanan pasien GAKIN pada setiap unit pelayanan RS

100% terlayani 100% terlayani 100% terlayani 100% terlayani 100% terlayani 100% terlayani 100% terlayani 100% terlayani 100%

terlayani terlayani 100% terlayani 100% 100% 100% 100% 100% 100%

(18)

17

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 14 Rekam Medik 1. Kelengkapan pengisian rekam medik 48 jam setelah selesai pelayanan 100 % 60 % 70 % 80 % 90 % 100 % 100% 100% 100% 100% 100% 166,6 6% 142,85% 125% 100% 100% 2. Kelengkapan Informed Concent setelah mendapat informasi yang jelas

100 % 80 % 90 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 100% 100% 125% 111,1

1% 100% 100% 100%

3. Waktu penyediaan dokumen rekam medik rawat jalan

≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit ≤ 10 menit 100% 100% 100% 100% 100%

4. Waktu penyelesaian dokumen rekam medik rawat inap

≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit ≤ 15 menit 100% 100% 100% 100% 100%

15 Pengolahan Limbah 1. Baku mutu limbah

cair sesuai standar :  BOD < 30 mg/I

 COD < 80 mg/I  TSS < 30 mg/I  PH 6-9  BOD < 30 mg/I  COD < 80 mg/I  TSS < 30 mg/I  PH 6-9 BOD < 30 mg/I COD < 80 mg/I TSS < 30 mg/I  PH 6-9  BOD < 30 mg/I  COD < 80 mg/I  TSS < 30 mg/I  PH 6-9 BOD < 30 mg/I COD < 80 mg/I TSS < 30 mg/I  PH 6-9  BOD < 30 mg/I  COD < 80 mg/I  TSS < 30 mg/I  PH 6-9 BOD < 30 mg/I COD < 80 mg/I TSS < 30 mg/I  PH 6-9  BOD < 30 mg/I  COD < 80 mg/I  TSS < 30 mg/I  PH 6-9 BOD < 30 mg/I COD < 80 mg/I TSS < 30 mg/I  PH 6-9  BOD < 30 mg/I  COD < 80 mg/I  TSS < 30 mg/I  PH 6-9 BOD < 30 mg/I COD < 80 mg/I TSS < 30 mg/I  PH 6-9 100% 100% 100% 100% 100% 2. Pengelolaan limbah padat infeksius sesuai aturan 100 % > 90 % > 90 % > 95 % > 95 % 100 % 80% 80% 80% 80% 80% 88,88 % 88,88% 84,21% 84,21% 84,21% 16 Administrasi Manajemen 1. Tindaklanjut penyelesaian hasil pertemuan tingkat Direksi 100 % 90 % 90 % 95 % 95 % 100 % 80% 80% 85% 85% 85% 88,88 % 88,88% 89,47% 89,47% 85% 2. Kelengkapan laporan akuntabilitas kinerja 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 3. Ketepatan waktu pengusulan kenaikan pangkat 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 4. Ketepatan waktu pengurusan kenaikan gaji berkala 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 5. Karyawan yang mendapat pelatihan minimal 20 jam /tahun

≥ 60 % ≥ 30 % ≥ 30 % ≥ 60 % ≥ 60 % ≥ 60 % ≥ 20 % ≥ 20 % ≥ 20 % ≥20 % ≥ 20 % 100% 100% 100% 100% 100% 6. Cost recovery ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % ≥ 40 % 100% 100% 100% 100% 100% 7. Ketepatan waktu penyusunan laporan keuangan 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100% 100% 100% 100% 100%

(19)

18

No Indikator Kinerja Sesuai Tupoksi Target SPM

Target Renstra SKPD Tahun Ke- Realisasi Renstra SKPD Tahun Ke- Rasio Capaian Pada Tahun Ke- 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 2011 2012 2013 2014 Oktober s/d 2015 2011 2012 2013 2014 s/d Oktober 2015 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 8. Kecepatan pemberian informasi tagihan pasien rawat inap

≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam ≤ 2 jam 100% 100% 100% 100% 100%

9. Ketepatan waktu pemberian imbalan/ insentif sesuai kesepakatan waktu 100% 100% 100% 100% 100% 100% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 80% 17 Ambulance

1. Waktu pelayanan 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 100% 100% 100% 100% 100% 2. Kecepatan

memberikan pelayanan

≤ 30 menit < 30 menit ≤ 30 menit ≤ 30 menit ≤ 30 menit ≤ 30 menit < 20 menit ≤ 20 menit ≤ 20 menit ≤ 20 menit ≤ 20 menit 150% 150% 150% 150% 150%

3. Response time pelayanan ambulance oleh masyarakat yang membutuhkan

Sesuai ketentuan daerah

Sesuai ketentuan

daerah Sesuai ketentuan daerah

Sesuai ketentuan daerah

Sesuai ketentuan

daerah Sesuai ketentuan daerah Sesuai ketentuan daerah Sesuai ketentuan daerah Sesuai ketentuan daerah Sesuai ketentuan daerah Sesuai ketentuan daerah 100% 100% 100% 100% 100% 18 Pemulasaran Jenazah Waktu tanggap pelayanan pemulasaraan jenazah

< 2 jam < 2 jam < 2 jam < 2 jam < 2 jam < 2 jam - - - 0% 0% 0% 0% 0%

19 Pelayanan pemeliha-raan sarana RS Ketepatan waktu menanggapi kerusakan alat < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % < 80 % 100% 100% 100% 100% 100% Ketepatan waktu pemeliharaan alat 100 % > 70 % > 80 % > 80 % > 90 % 100 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % 100% 87,5% 87,5% 77,77 % 70 %

Peralatan Lab & alat ukur terkalibrasi tepat waktu sesuai dg ketentuan kalibrasi

100 % > 60 % > 70 % > 80 % > 90 % 100 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 % > 70 %

20 Pelayanan laundry 1. Tidak ada linen yg

hilang 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 2. Ketepatan waktu

penyediaan linen utk ruang rawat inap

100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

21 Pencegahan & Pengendalian Infeksi 1. Ada Anggota Tim PPI

yang Terlatih 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 2. Tersedia APD di setiap Instalasi 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 60 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 3. Pencatatan dan pelaporan infeksi nosokomial 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 75 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

(20)

19

Dari uraian capaian kinerja pada tabel 2.4. diatas dapat ditelaah bahwa rata-rata tingkat capaian kinerja RSUD Soreang sesuai SPM mencapai 80 s/d 100% namun terdapat beberapa indicator kinerja SPM yang tidak dapat dicapai yaitu :

1. Tingkat kematian pasien IGD meningkat dengan rata-rata tingkat kematian mencapai 5 orang dari 1000 pasien yang dilayani di IGD. Hal tersebut terjadi karena pada kurun waktu 2011 - Oktober 2015, IGD yang dimiliki belum sesuai standar. Sarana prasarana yang dimiliki belum dapat mengimbangi jumlah kunjungan serta jenis penyakit yang mampu ditangani di IGD RS sehingga jumlah pasien yang dirujuk ke RS lain cukup tinggi.

2. Jenis pelayanan spesialistik yang dimiliki RSUD Soreang belum dapat tercapai sesuai target. Dari 15 Jenis pelayanan spesialistik yang direncanakan, sampai dengan tahun 2010 RSUD Soreang baru mampu memenuhi 11 jenis pelayanan spesialistik. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya jumlah dokter spesialis yang ada serta kurangnya lahan untuk pengembangan klinik rawat jalan baru maupun kapasitas dan jenis layanan rawat inap baru..

3. Tingkat capaian kinerja pelayanan psikiatri (kejiwaan) rawat inap pada kurun waktu 2011 - Oktober 2015 adalah 0%. Hal tersebut disebabkan karena pada kurun waktu tersebut RSUD Soreang tidak memiliki lahan maupun sarana khusus untuk pelayanan rawat inap pasien psikiatri (kejiwaan).

4. Tidak dapat menambah jenis pelayanan spesialistik baru maupun menambah kapasitas ruangan perawatan terutama ruang perawatan pasien kelas III sehingga sering terjadi adanya pasien yang dirujuk dengan alasan ruang perawatan penuh atau tidak ada jenis pelayanan spesialistik dan prasarana pendukung pelayanan yang dibutuhkan pasien tersebut.

5. Instalasi Bedah Sentral (IBS) yang dimiliki saat ini bersifat seadanya dan tidak sesuai dengan standar RS. Dengan keterbatasan ruangan serta sarana prasarana IBS yang dimiliki maka peningkatan kegiatan pelayanan bedah tidak dapat dilaksanakan secara optimal.

6. Intensive Care Unit (ICU) yang ada saat ini tidak sesuai standar, Ruang ICU yang ada berlokasi di dekat area publik sehingga mengganggu kenyamanan pasien dan hanya memiliki 4 tempat tidur perawatan sehingga banyak pasien yang seharusnya dirawat di ruang ICU terpaksa dirujuk ke RS lain dengan alasan ruang perawatan yang penuh padahal standar minimal kapasitas tempat tidur ICU adalah 10% dari kapasitas tempat tidur pasien yang ada.

7. Kurangnya daya tampung untuk pelayanan pasien rawat inap karena kapasitas ruang rawat inap sangat terbatas padahal rasio kunjungan pasien rawat inap cukup tinggi.

8. Banyaknya pasien gagal ginjal yang tidak dapat dilayani di RSUD Soreang karena sampai saat ini RSUD Soreang belum memiliki unit Hemodialisa.

9. Banyaknya pasien persalinan yang dirujuk ke rumah sakit lain karena terbatasnya ruangan rawat inap khusus bagi pasien rawat inap pasca persalinan.

10. Rata-rata SDM pelaksana kesehatan yang telah mengikuti pelatihan sesuai tupoksinya masih dibawah 30%. Hal tersebut karena anggaran untuk pembiayaan peningkatan kualitas SDM tidak mencukupi. 11. Pengelolaan limbah padat RS belum sesuai standar. Hal tersebut dikarenakan lahan yang dimiliki

RSUD Soreang belum sesuai standar sehingga pengelolaan limbah padat masih bersifat seadanya namun dengan tetap mempertimbangkan implikasi bahaya infeksius yang terjadi.

(21)

20

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan RSUD Soreang

Kesehatan merupakan faktor fundamental yang harus dibangun oleh setiap negara. Indonesia bahkan menetapkan kesehatan sebagai hak azasi manusia seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 8 yang telah diamandemen yang berbunyi setiap penduduk berhak atas pelayanan kesehatan. Rumah sakit adalah bagian yang amat penting dari suatu sistem kesehatan. Bagi dunia kesehatan, perubahan politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu kedokteran, dan teknologi merupakan tantangan yang amat kompleks dan saling berkaitan. Paradigma jasa pelayanan kesehatan rumah sakit pun sudah mengalami perubahan yang mendasar dan merupakan sebuah badan usaha yang mempunyai banyak unit bisnis strategis, sehingga membutuhkan penanganan dengan konsep manajemen yang tepat.

Kinerja pelayanan kesehatan seperti halnya di RSUD Soreang Kabupaten Bandung menjadi isu kebijakan yang makin strategis karena perbaikan kinerja pelayanan kesehatan memiliki implikasi yang luas dalam kehidupan ekonomi dan politik. Dalam kehidupan ekonomi, perbaikan kinerja pelayanan kesehatan akan bisa memperbaiki iklim investasi yang diperlukan untuk bisa segera keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan

Dalam menghadapi tantangan global, tugas RSUD Soreang semakin berat karena selain memberikan pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi, juga harus tetap dapat menjaga dan meningkatkan kualitas jasa pelayanan agar tetap survive di tengah-tengah perkembangan rumah sakit swasta. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan di RSUD Soreang, selain harus mampu memberikan pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, juga harus memperhatikan pasar dan memperhitungkan perubahan yang terjadi pada lingkungan kesehatan eksternalnya ketika menyusun strateginya. Dengan diterbitkannya Paket Undang-Undang Keuangan Negara khususnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum, serta Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah merupakan dukungan payung hukum agar RSUD Soreang dapat menjadikan dirinya sebagai Instansi Pemerintah yang memiliki otonomi dalam pengelolaan keuangan sehingga dapat meningkatkan tingkat kesehatan organisasi, yang pada akhirnya mampu menjadi suatu institusi kesehatan yang memiliki daya saing yang tinggi. Untuk masalah tersebut diatas yang perlu dipertimbangkan hal-hal dibawah ini.

2.4.1. Pengelolaan Rumah Sakit sebagai BLUD (Badan Layanan Umum Daerah)

Dalam rangka meningkatkan kinerja Instansi di lingkungan pemerintah yang memberikan pelayanan kepada masyarakat telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 23 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU) yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan negara pada umumnya tanpa mengutamakan mencari keuntungan didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktifitas.

Pada tahun 2009 RSUD Soreang telah melaksanakan penilaian persyaratan subtantif dan administratif untuk menjadi BLUD oleh Tim Pengkaji dan Tim Penilai RSUD Soreang dari unsur Pemerintah Kabupaten Bandung yang diangkat oleh Bupati Bandung dan diketuai langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupen Bandung. Berdasarkan penilaian dari Tim tersebut maka diputuskan RSUD Soreang dipandang

(22)

21

layak menjadi SKPD dengan pengelolaan keuangan berbentuk BLUD berdasarkan Keputusan Bupati Bandung no. 900/Kep.498-Org/2009 tanggal 30 Desember 2009 dengan status BLUD Secara Penuh. 2.4.2. Akreditasi Rumah Sakit

Untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit perlu dilakukan perbaikan-perbaikan baik fisik bangunan, penambahan sarana dan prasarana, penambahan peralatan dan ketenagaan serta pemberian biaya operasional dan pemeliharaan sehingga mutu pelayanan rumah sakit sesuai dengan standar sebagaimana diisyaratkan untuk akreditasi rumah sakit dengan tujuan agar rumah sakit dapat berfungsi sebagai institusi yang dapat memberikan tingkat pelayanan kesehatan sesuai dengan standar yang ditetapkan serta memberikan jaminan kepada petugas rumah sakit dan masyarakat.

Akreditasi rumah sakit dilandaskan pada SKN 1982, Undang-Undang RI No. 23/ 1992 pasal 59, Kepmenkes RI No. 558/ tahun 1984; Permenkes RI nomor 159B/Menkes/Per/II/1988, Kepmenkes RI nomor 436 tahun 1993 yang menyatakan bahwa program akreditasi harus segera dapat dilaksanakan oleh seluruh rumah sakit di Indonesia. Akreditasi rumah sakit mencakup 20 standar kegiatan pelayanan yang dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai kemampuan rumah sakit masing-masing oleh karena itu RSUD Soreang harus mempersiapkan diri baik fisik bangunan, sarana dan prasarana, peralatan dan ketenagaan untuk dapat terakreditasi sesuai dengan ketentuan, secara bertahap dengan dukungan baik dari internal rumah sakit maupun eksternal rumah sakit.

Pada tahun 2009 RSUD Soreang telah melaksanakan kegiatan penilaian akreditasi RS untuk 12 jenis pelayanan oleh Tim KARS DepKes RI, yaitu : (1) Pelayanan Administrasi dan Manajemen, (2) Pelayanan Kemedikan, (3) Pelayanan Rekam Medik, (4) Pelayanan IGD, (5) Pelayanan Keperawatan,(6) Pelayanan K3RS, (7) Pelayanan Infeksi Nosokomial, (8) Pelayanan OK, (9) Pelayanan Laboratorium, (10) Pelayanan Radiologi, (11) Pelayanan Perinatal Resiko Tinggi, (12) Pelayanan Farmasi dengan status kelulusan akreditasi Penuh Tingkat Lanjut berdasarkan Sertifikat Akreditasi Rumah sakit No. YM.01.10/III/307/10 dari Ditjen Yanmed DepKes RI tanggal 19 Januari 2010.

Khusus untuk akreditasi 12 pelayanan ini, pada tanggal 12 Nopember 2010 RSUD Soreang mendapatkan penghargaan dari Menteri Kesehatan RI berdasarkan Kepmenkes No. 1623/menkes/SK/X/2010 tanggal 12 Nopember 2010 sebagai Rumah Sakit Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2010.

Gambar

Tabel 2.1 Jumlah SDM RSUD Soreang berdasarkan Kelompok Jabatan
Tabel 2.2. Jumlah dan Fungsi Tempat Tidur Perawatan RSUD Soreang per SMF  No  Jenis Pelayanan / Ruang
Gambar 2.1. Grafik Kunjungan Rawat Jalan Dan IGD RSUD Soreang 2010 s/d Oktober 2015
Gambar 2.2 Grafik Pendapatan Dan Belanja RSUD Soreang Tahun 2010 s/d Oktober 2015
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang memberikan tekanan utama pada penjelasan konsep dasar yang kemudian dipergunakan sebagai sarana

Audit, Bonus Audit, Pengalaman Audit, Kualitas Audit. Persaingan dalam bisnis jasa akuntan publik yang semakin ketat, keinginan menghimpun klien sebanyak mungkin dan harapan agar

Perbandingan distribusi severitas antara yang menggunakan KDE dengan yang menggunakan suatu model distribusi tertentu dilakukan untuk melihat secara visual, manakah dari

61 Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa dilema yang Jepang alami pada saat pengambilan keputusan untuk berkomitmen pada Protokol Kyoto adalah karena

2011 sangat memberi peluang optimalisasi diplomasi Indonesia dalam berperan memecahkan berbagai masalah yang ada baik di dalam negeri maupun di dalam kawasan

Adapun mu’āmalah yang disepakati halalnya, dan keuntungan- nya pun juga halal, yaitu semua mu’āmalah yang dibolehkan oleh syari’at Islam, seperti jual beli, mudharobah,

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah virus Covid-19 adalah dengan menerapkan perilaku Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di mana dalam penerapannya

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul