BAB II
DATA DAN ANALIS A 2.1 Data
1. Literatur
Data yang di dapat dari beberapa sumber tertulis, seperti buku-buku teori dan juga artikel-artikel dari surat kabar
2. Wawancara
Wawancara dari narasumber, seorang karyawati yang bekerja di PT. SM ART (Sinar M as Agro Resources and Technology) sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang agro bisnis. Dari wawancara ini penulis mendapat banyak testimonial tentang gaya hidup di kantornya yang masih belum ramah lingkungan. Penulis juga mewawancara beberapa orang karyawati dan karyawan lain yang bekerja di sebuah perusahaan kecil, dan penulis mendapat testimonial yang kurang lebih sama dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan mengenai sikap hidup ber-lingkungan. Pada intinya mereka memang menyayangkan gaya hidup konsumtif dalam kehidupan berkantor, namun mereka percaya kalau hal ini bisa diubah dan mereka terbuka terhadap green campaign Jakarta Green Office ini.
3. Observasi
Penulis berkesempatan melakukan observasi di PT Wahana Ottomitra M ultiartha Tbk (WOM Finance), kantor yang bergerak di bidang usaha jasa kredit motor yang terletak di kawasan gedung perkantoran M ega Glodok Kemayoran, Jakarta
Pusat. Penulis diajak berkeliling melihat hampir seluruh isi gedung, dari ruangan- ruangan kerja per divisinya (kecuali ruang manager), tempat parkir, ruang rapat, ruang pantry, hingga toilet. Pada observasi ini penulis mengamati sikap para karyawan yang bekerja di sana, dalam kaitannya menyikapi lingkungan. Dari observasi ini, penulis menyimpulkan bahwa para karyawan kantor WOM Finance menjalani kehidupan kantor seperti yang kita bayangkan sebagaimana kehidupan kantor biasanya. Dalam sikap ber-lingkungan, hal ini tidak terlihat signifikan. Print dokumen dalam jumlah besar, lampu menyala di siang hari (sekalipun sebenarnya ruangan sudah mendapat cukup cahaya dari sinar matahari), komputer yang terus menyala sekalipun mereka tidak ada di meja kerja, dan banyak hal lainnya. Dari observasi ini juga penulis mendapatkan data visual sebagai referensi untuk membuat design, namun karena penulis tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar oleh pihak manager, maka penulis hanya bisa menulis hasil observasi pada workbook.
4. Website
Artikel-artikel dari website yang berhubungan dengan topik sebagai data pendukung dalam Tugas Akhir.
2.2 Data Penyelenggara
Logo WWF Indonesia dan dunia
1. Sejarah WWF Indonesia
Pada April 1998, WWF Internasional kantor Program Indonesia berubah menjadi WWF-Indonesia, yang secara hukum diakui sebagai organisasi Indonesia dengan status yayasan. Sejalan dengan perubahan ini, WWF- Indonesia, sebagai Organisasi Nasional menjadi bagian dari WWF Global Network. Diseluruh dunia terdiri dari 27 Organisasi Nasional, 6 Organisasi Asosiasi, dan 22 kantor program.
Sebagai Organisasi Nasional, WWF-Indonesia telah melakukan desentralisasi menjadi 3 kantor bioregion, yakni kantor Sundaland, Walacea dan Sahul untuk melaksanakan proyek pelestarian di wilayah Global 200 Ecoregions.
Sejak 2001, WWF mengubah pendekatan proyek menjadi pendekatan programatik untuk memperluas dampak kerja WWF secara global di pusat keanekaragaman hayati utama. Program-program dikembangkan sesuai dengan tema trategis yaitu hutan, laut, air tawar, spesies, perubahan iklim dan bahan kimia berbahaya. Hingga kini, program bahan kimia beracun masih dalam tahap perencanaan, sementara program perubahan iklim dan air tawar relatif masih berkembang. Tetapi program laut, hutan dan spesies telah tumbuh menjadi
program yang kuat dan mencapai banyak kesuksesan. Kini, WWF-Indonesia bekerja di 23 situs, yang tersebar di 16 provinsi di Indonesia.
2. Siapa WWF Indonesia
WWF-Indonesia merupakan yayasan independen yang terdaftar sesuai hukum Indonesia. Dikelola oleh Dewan Penyantun yang terdiri dari Dewan Penasihat, Dewan Pengawas dan Dewan Pelaksana. Dewan ini berfungsi sebagai lembaga penentu arahan strategis dan kredibilitas WWF-Indonesia. Para anggota dewan berbagi tanggung jawab secara kelembagaan melalui komite operasional. Dua komite yang sedang dalam tahap pengembangan adalah Komite Pendanaan dan Investasi serta Komite Program.
Kantor Sekretariat Nasional WWF-Indonesia berada di Jakarta. Perannya memimpin dan berkoordinasi dengan (X) kantor WWF-Indonesia yang tersebar di seluruh negeri. Kantor Sekretariat mengembangkan kebijakan dan prioritas, membantu pertukaran pembelajaran antar kantor, melakukan koordinasi untuk kampanye nasional, memberikan bantuan teknis dan pengembangan kapasitas, serta memberikan dukungan agar kegiatan ditingkat nasional berjalan dengan lancar. Kantor Sekretariat Nasional juga menjaga agar upaya WWF-Indonesia selaras dengan Global WWF Network. Saat ini CEO WWF-Indonesia adalah Dr.
M ubariq Ahmad, didukung oleh tim direktur tematik, direktur pelestarian, direktur pelayanan dan sumber daya serta direktur komunikasi dan kampanye.
WWF-Indonesia memiliki sejumlah kantor lapangan (Field Office). Dua dari Kantor lapangan ini, melakukan koordinasi untuk kegiatan dan program di lokasi
konservasi. Kantor Lapangan Jayapura merupakan kantor terbesar yang ada di pimpin oleh Benja M ambai. Kantor ini mengkoordinasi seluruh kegiatan WWF- Indonesia di Papua dan Irian Jaya bagian Barat. Kantor Lapangan M ataram, melakukan koordinasi bagi kerja WWF-Indonesia di wilayah Nusa Tenggara.
Kantor lapangan tersebut melakukan upaya pelestarian ditingkat lokal. WWF bekerja sama dengan pemerintah lokal, melalui kegiatan proyek praktis di lapangan, penelitian ilmiah, memberi masukan untuk kebijakan lingkungan, mempromosikan pendidikan lingkungan, memperkuat komunitas, dan meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan.
WWF-Indonesia merupakan bagian independen dari jaringan dari WWF dan afiliasinya, organisasi pelestarian global yang bekerja di 100 negara di dunia.
Untuk informasi lebih lanjut tentang visi global, sejarah dan keterlibatan WWF selama ini untuk mencapai mimpi pelestarian mereka yaitu mewujudkan dunia dimana manusia dapat hidup selaras dengan alam.
3. Program-program WWF In donesia a) Climate Change Programme
Iklim menggerakkan musim dan mengatur pola cuaca. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa iklim berubah. Akibat perubahan iklim lebih sering terjadi pemutihan (bleaching) pada terumbu karang yang mengancam kehidupan masyarakat di wilayah pesisir; meningkatnya kebakaran; curah hujan yang meningkat, perubahan habitat dan banyak dampak lainnya. Kini ada kesepakatan bahwa manusia lah yang memegang peran penting dalam perubahan ini. Artinya juga, manusia dapat membantu memperlambat proses
ini, membantu alam dan komunitas untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
b) Forests Programme
Dalam 50 tahun terakhir, penggundulan dan kerusakan hutan tropis terjadi dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, juga di Indonesia.
M enurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), rata-rata 14,6 juta hektar hilang setiap tahunnya. Sering terjadi wilayah hutan ditebang habis, diubah menjadi lahan pertanian atau perkebunan. Tetapi kebanyakan
kandungan hara dalam tanah sangat rendah keberlanjutannya tidak terjamin.
Akhirnya kualitas tanah terus menurun untuk dapat menunjang kehidupan, melestarikan keanekaragaman hayati atau pun mengembangkan
perekonomian. WWF-Indonesia bekerja untuk melindungi perbatasan terakhir dari hutan alam Indonesia, menjamin dilakukan pengelolaan produk- produk hutan yang berkelanjutan, dan menyembuhkan hutan yang rusak.
c) Marine Programme
Sektor perikanan laut Indonesia menghadapi risiko serius karena eksploitasi yang berlebihan. Hidup jutaan masyarakat miskin di wilayah pesisir
bergantung pada sektor perikanan berskala kecil untuk memenuhi kebutuhan protein dan mendapatkan uang untuk hidup. Kini, sebagian besar komunitas nelayan menangkap lebih sedikit ikan dengan ukuran yang lebih kecil. Dari seluruh ikan hasil tangkapan nelayan kecil di wilayah pesisir, 70-90 persen merupakan ikan yang hidup di terumbu karang. M enurut Departemen
Kelautan dan Perikanan, hanya 6% terumbu karang di Indonesia dengan kondisi yang baik. WWF-Indonesia bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan jaringan Wilayah Perlindungan Laut. Dalam
program ini komunitas terlibat secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan dan memperoleh keuntungan darinya.
d) S pecies Programme
Sejak awal 1960-an, WWF-Indonesia telah bekerja untuk menyelamatkan badak Jawa dan Sumatra. WWF juga bekerja untuk menyelamatkan harimau Sumatra, orang utan Kalimantan, penyu laut dan cetaceans. Akhirnya, mereka sampai pada titik pemahaman bahwa keberhasilan pelestarian berbagai spesies yang terancam punah ini hanya dapat dilakukan melalui pendekatan berdasarkan bentang lahan (landscape). Hal ini jauh melampaui wilayah perlindungan yang diisolasi hingga ke bentang wilayah di
sekitarnya. Saat mencari jalan keluar, WWF selalu mempertimbangkan kebutuhan kehidupan liar mau pun kebutuhan masyarakat di sekitarnya untuk praktek pemanfaatan yang berkelanjutan.
4. Cara kerja WWF In donesia a) Field Based Conservation
WWF-Indonesia menganggap kehadiran di lokasi sebagai kebutuhan mutlak.
Di lapangan kami bekerja bersama para ilmuwan, masyarakat, pemerintah dan juga pemangku bisnis. Bersama-sama mengembangkan dan mencoba
berbagai solusi pelestarian yang inovatif untuk meningkatkan kehidupan berdasarkan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan serta
peningkatan ketrampilan ekonomi masyarakat.
b) Community Empowerment
Di Indonesia, jutaan orang bergantung pada sumber-sumber hutan, laut, dan pesisir sebagai sumber nafkahnya, banyak yang hidup dalam situasi
kemiskinan yang sangat buruk. WWF percaya perlindungan
keanekaragaman hayati dan pengentasan kemiskinan dapat berjalan seiring, dan bekerja untuk secara efektif menempatkan daerah-daerah yang
dilindungi dalam strategi pembangunan yang berkesinambungan serta pengentasan kemiskinan. WWF bekerja untuk meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat; memperkuat partisipasi dalam proses pengambilan keputusan untuk memperoleh hak-hak sosial, dan mengamankan
kelangsungan akses dan pemanfaatan sumber-sumber alam di daerah konservasi; dan membangun kapasitas di bidang keahlian mengelola sumber-sumber alam.
c) Policy Advocacy
Dalam kompleksnya situasi politik ekonomi dewasa ini, kebijakan-kebijakan lingkungan dan sosial yang kuat harus ditempatkan pada semua level dan dilaksanakan secara efektif demi perlindungan keanekaragaman hayati yang berkesinambungan. Untuk itu, WWF terus melibatkan diri dalam dukungan
kebijakan dari tingkat pemerintahan di desa, pemerintahan daerah, hingga tingkat provinsi, nasional, juga internasional.
d) Corporate Engagement
WWF-Indonesia terlibat dalam forum-forum para pengusaha, seperti
Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah asosiasi yang dibentuk untuk mendorong pertumbuhan dan pemanfaatan minyak kelapa sawit yang terpelihara melalui kerjasama dalam rantai pengadaan dan dialog terbuka dengan para pelaku usahanya; Global Forest Trade Network (GFTN), sebuah kerjasama usaha antara pihak-pihak pemerintah dan kelompok-kelompok lingkungan untuk menciptakan hubungan pasar yang mempromosikan kayu dari hutan-hutan yang terpelihara, memerangi penebangan liar; dan The Forest Dialogue (TFD), sebuah proses dialog internasional antar sejumlah pengusaha yang sedang berjalan, berpusat pada masalah-masalah kehutanan.
WWF juga mendorong pemeriksaan investasi terpelihara, untuk mendorong standar lingkungan dan sosial yang tinggi, serta praktek-praktek terbaik dalam institusi keuangan.
e) Communication and Outreach
Keberhasilan usaha konservasi WWF bergantung pada kemampuan mereka untuk mempengaruhi perubahan persepsi, kepercayaan, pengetahuan, serta perilaku di seluruh tingkat sosial, pemerintah, dan industri. Departemen Komunikasi dan Jangkauan WWF-Indonesia bekerja dengan program konservasi untuk menjamin kebijakan-kebijakan pemerintah dan industri
yang mendukung keanekaragaman hayati; memastikan penekanan masalah- masalah konservasi di jalur utama media massa; dan mendorong cara hidup konservasi yang berkelanjutan dan mendukung keanekaragaman hayati di seluruh lapisan masyarakat. M elalui Komunikasi dan Jangkauan, WWF- Indonesia juga memudahkan masyarakat Indonesia untuk secara aktif terlibat dalam pembuatan keputusan konservasi dan kegiatan konservasi tingkat dasar.
2.3 Data Program “Jakarta Green Office”
Logo P rogram Official Jakarta Green Office
Program ini masuk ke dalam kategori program perubahan iklim (climate change programme) dan memfokuskan kampanye pada 5 aspek dalam kehidupan kantor. Diantaranya Listrik, Kertas, Kendaraan Bermotor, Air, dan Sampah.
Berikut perincian 5 aspek ini yang penulis peroleh dari WWF Indonesia.
1. LIS TRIK
• AC di kantor sedingin musim salju?
• M esti menggunakan baju berlapis?
• Komputer dan printer menyala walau saat makan siang atau ditinggal pulang?
Tahukah Anda?
Pemakaian listrik terbesar di kantor berpusat pada pendingin ruangan dan alat elektronik. 37% total emisi CO2 datang dari sektor listrik dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi).
Seberapa boros penggunaan listrik di kantor Anda dalam 1 bulan? Jangan cuma bisa ngomong!
Ayo tunjukkan kepedulian Anda DAN M ULAI DARI KANTOR SENDIRI:
1. Gunakan lampu hemat energi
2. Pertahankan suhu AC di 25ºC
3. Buka tirai jendela bila memungkinkan
4. M atikan peralatan elektronik jika tidak diperlukan; AC, monitor, printer, dst (bukan posisi stand-by)
2. KERTAS
• Sedikit-sedikit nge-print?
• Enggak bolak balik?
• Habis terpakai langsung dibuang?
• Tisu apalagi?
Tahukah Anda?
Laju kehilangan dan kerusakan hutan pada tahun 2000 – 2005 di Indonesia setara dengan 364 lapangan bola/jam. Setiap harinya sampah kertas di seluruh dunia berasal dari 27 ribu batang kayu.
1. 1 pohon berusia 10 tahun = 15 rim kertas A4
2. 1 pohon = 1,2 kg O2/hari 3. 1 orang = 0,5 kg O2/hari
M enebang 1 pohon berarti menghilangkan sumber oksigen 2 orang. Dan, 20,5%
total sampah warga Jakarta adalah sampah kertas! Ada berapa rim kertas yang biasa dipakai kantor Anda dalam 1 bulan? Jangan cuma bisa ngomong!Ayo tunjukkan kepedulian Anda DAN M ULAI DARI KANTOR SENDIRI:
1. Kurangi penggunaan kertas dan tisu
2. Gunakan dua sisi kertas
3. Hindari mencetak dokumen, gunakan softcopy 4. Gunakan kertas daur ulang
5. Salurkan sampah kertas Anda ke pemulung atau industri kertas daur ulang
3. KENDARAAN BERMOTOR
• Lebih enak naik mobil sendirian yang ber-AC?
• Di luar, panas, jalan macet enggak karuan, dan udara sesak?
Tahukah Anda? M enurut WHO (2006), 70% polusi di Jakarta berasal dari kendaraan bermotor. Saat ini di Jakarta ada 2,2 juta mobil dan 3,5 juta sepeda motor, dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor 9,8% per tahun.
M enanam 5 pohon hanya mampu menyerap emisi CO2 yang dikeluarkan oleh 1 mobil! Dan, emisi per orang untuk menempuh tiap km perjalanan dengan mobil pribadi adalah 15 kali bus. Seberapa sering Anda menggunakan kendaraan
pribadi dan berkontribusi pada panasnya Jakarta? Jangan cuma bisa ngomong!
Ayo tunjukkan kepedulian Anda DAN M ULAI DARI KANTOR SENDIRI:
1. kurangi penggunaan kendaraan pribadi
2. dukung alat transportasi publik 3. car pooling; ajak rekan-rekan searah 4. eco-driving
5. pilih naik sepeda atau jalan kaki untuk jarak dekat
4. AIR
• Keran selalu terbuka saat cuci tangan dan cuci piring?
• Walaupun sedang menggosokkan sabun?
• Bagaimana dengan penggunaan air untuk toilet?
Tahukah Anda?
Penduduk di kota-kota besar di Indonesia memakai air bersih lebih banyak daripada rata-rata penduduk Indonesia.
1. Rata-rata pemakaian air bersih di Indonesia adalah 144 liter/orang/hari = 8 botol galon air kemasan.
2. Rata-rata pemakaian air di kota yaitu 250 liter/orang/hari = 13 botol galon airkemasan.
Idealnya, air hujan bisa diserap ke dalam tanah sebesar 30%. Dengan banyaknya bangunan beton, jalan aspal, dan minim taman kota, saat ini Jakarta hanya mampu menyerap 9% air hujan. M akanya, musim hujan kita
kebanjiran, musim panas kita kekeringan. Sementara, konsumsi air dari PDAM hanya 47%, sedangkan air tanah mencapai 53%. Seberapa banyak air Anda butuhkan dalam 1 hari? Jangan cuma bisa ngomong! Ayo tunjukkan kepedulian Anda DAN M ULAI DARI KANTOR SENDIRI:
1. tutup keran bila tidak diperlukan
2. jangan biarkan air keran menetes
3. hemat air saat cuci tangan dan cuci piring
4. pilih dual flush untuk toilet
5. selalu habiskan air yang Anda minum
6. gali biopori/buat sumur resapan
5. S AMPAH
• M embawa kantong plastik (lagi) setiap pulang belanja?
• M embeli barang dengan bungkus plastik?
• Sering membeli produk refill?
• Sering membeli air dalam kemasan botol plastik?
• Pakai sedotan?
• Sumpit sekali pakai?
• Baterai?
• Sampah organik?
• M asih ada lagi?
Tahukah Anda?
M enurut Dinas Kebersihan Jakarta, 1 warga Jakarta = 2 kg sampah/hari. Volume
sampah seluruh masyarakat Jakarta per hari = berat 7,000 ekor gajah. Atau, cukup untuk menutup 2,600 lapangan sepakbola. Bahkan, volume sampah untuk 2 hari = volume candi Borobudur!
Sudah berapa banyak sampah yang Anda buang hari ini? Jangan cuma bisa ngomong!
Ayo tunjukkan kepedulian Anda DAN M ULAI DARI KANTOR SENDIRI:
1. bawa kantong belanja yang bisa dipakai ulang
2. bawa tempat makan sendiri dari kantor saat makan siang
3. bawa botol minum; mengurangi sampah botol plastik sekaligus sedotan 4. bawa sumpit sendiri atau pakai sendok dan garpu yang bisa dicuci lagi 5. kembalikan baterai kepada produsennya
6. pastikan sampah di kantor Anda disalurkan ke pihak yang tepat untuk dapat diolah kembali
Bergabung dengan “Jakarta Green Office”
Buktikan bentuk efisiensi Anda dan rekan-rekan sekerja, mulai dari pemakaian listrik, kertas, kendaraan bermotor, air, sampai pengelolaan sampah.
2.4 Profil Target 1. Geografis
a) Domisili : DKI Jakarta dan sekitarnya
b) Wilayah : pusat kota, gedung-gedung perkantoran 2. Demografis
a) Usia : 22 th – 28 th (usia awal – awal bekerja) b) Gender : pria dan wanita
c) Profesi : pegawai kantor d) Kelas : menengah (C+ -B)
3. Psikografis
a) Well educated dan modern
b) M emiliki awareness yang tinggi akan berita-berita yang beredar di tengah masyarakat
c) Open minded
2.5 Analisis S WOT
1. S trength
a) Program ini baru dibentuk dan memiliki target yang fokus
b) Issue tentang global warming dan kepekaan lingkungan sedang menjadi trend dalam masyarakat, sehingga mudah bagi program ini untuk bisa dikomunikasikan
2. Weakness
a) Issue global warming dan green lifestyle memang sedang menjadi trend saat ini, namun banyak juga yang menganggapnya hanya sebagai pilihan, bukan sebuah kewajiban.
3. Opportunity
a) Target audience yang berpendidikan memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan bagi program ini untuk bisa lebih
menjangkau target
b) Banyaknya gedung perkantoran di Jakarta mengindikasikan banyaknya pegawai yang bekerja, sehingga menunjukkan banyaknya jumlah target audience.
4. Threat
a) Green lifestyle masih belum dibudidayakan secara signifikan di Jakarta, sehingga kampanye-kampanye program tentang lingkungan memliki kecenderungan untuk diabaikan begitu saja oleh target audience b) Gaya hidup boros yang tidak ramah lingkungan