IV. GAMBARAN UMUM
4.1 Kondisi Umum 4.1.1 Geogafis
Nusa Tenggara Timur adalah salah provinsi yang terletak di sebelah timur Indonesia. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di selatan khatulistiwa pada posisi 8˚-12˚ Lintang Selatan dan 118 ˚-125˚ Bujur Timur.
Batas-batas wilayah :
• Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores
• Sebelah Selatan dengan Samudera Hindia
• Sebelah Timur dengan Negara Timor Leste
• Sebelah Barat dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat
NTT merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 566 pulau, 432 pulau diantaranya sudah mempunyai nama dan sisanya sampai saat ini belum mempunyai nama. Luas wilayah daratan 47.349,90 km² atau 2,49% luas Indonesia dan luas wilayah perairan ± 200.000 km² diluar perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indoneisia (ZEEI).
Penelitian ini hanya dilakukan terhadap 15 kabupaten dan kota, dengan alasan ke lima belas kabupaten ini merupakan penggabungan dari beberapa pemekaran kabupaten ke kabupaten induk. NTT melakukan pemekaran daerah dari tahun 2001 hingga tahun 2010.
4.1.2 Topografi dan Klimatologi
Dari aspek topografi sebagian besar wilayah NTT berupa gunung dan bukit, sedangkan dataran rendah hanya sebagian kecil. Sampai dengan tahun 2009, luas lahan sawah di NTT hanya 3,73 persen selebihnya lahan kering, seperti hutan,
kebun, industri, padang rumput, pekarangan, rawa, tambak, kolam, tanah kering yang sementara tidak diusahakan, serta tanah kering lainnya.
Seperti pada umumnya di wilayah Indonesia, musim yang terjadi di NTT yaitu musim kemarau dan musim hujan. Walaupun demikian mengingat NTT dekat dengan Australia, arus angin yang banyak mengandung uap air dari Asia dan Samudra Pasifik sampai diwilayah NTT kandungan uap airnya sudah berkurang yang mengakibatkan hari hujan di NTT lebih sedikit dibandingkan yang dekat dengan Asia.
4.2 Keadaan Perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kondisi perekonomian suatu wilayah. Pada tahun 2010 besaran PDRB Provinsi NTT atas dasar harga berlaku sebesar Rp 27.71 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 sebesar Rp 12.53 triliun. PDRB per kapita penduduk NTT atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 2.68 juta lebih tinggi dibandingkan tahun 2009 (Rp 2.59 juta). Selanjutnya pada semester 1 tahun 2011, PDRB NTT atas dasar harga berlaku mencapai nilai 14.86 triliun rupiah atau meningkat 14,31 persen dari semester 1 tahun sebelumnya. Kenaikkan ini didukung dari pertumbuhan kegiatan ekonomi dan dengan adanya perubahan harga-harga dipasar yang cenderung meningkat (BPS, 2011).
Tabel 4.1 Perkembangan PDRB NTT
Uraian 2009 2010 Semester 1 2011
PDRB ADHB (Triliun Rp) 24.16 27.71 14.86
PDRB ADHK (Triliun Rp) 11.92 12.53 6.38
PDRB per Kapita ADHK ( Juta Rp) 2.59 2.86 *)
Pertumbuhan Ekonomi (%) 4,29 5,13 5,85
Keterangan : *) Data tidak tersedia Sumber : BPS Provinsi NTT
Sektor tersier seperti sektor jasa tumbuh sebesar 7,52 persen yang mengalami percepatan sebesar 12,87 persen. Sektor perdagangan mengalami pertumbuhan 7,28 dengan percepatan 10,76 persen. Namun sebaliknya sektor pertanian yang hanya tumbuh sebesar 2,66 persen mengalami perlambatan sebesar -1,24 persen yang disebabkan adanya perubahan iklim sehingga mengubah jadwal musim tanam. Semua komponen ini mendukung perekonomian NTT tumbuh sebesar 5,85 persen pada semester 1 tahun 2011.
Saat ini perekonomian NTT mengalami pergeseran dari dominasi sektor pertanian ke sektor jasa yang terus mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada semester pertama 2011 kontribusi sektor jasa mencapai 32 persen dan kontribusi sektor pertanian sebesar 35 persen. Peningkatan penerimaan dari sektor jasa membantu sumbangan terhadap PDRB dalam perekonomian. Selain sektor jasa, sektor yang cukup berperan dalam sumbangan PDRB adalah perdagangan yang memberikan kontribusi sebesar 16 persen. Pada semester 1 2011 sebagian besar PDRB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga yaitu sebesar 72,69 persen. Sedangkan konsumsi pemerintah memberikan kontribusi sebesar 22,24 persen. Komponen PDRB mengalami pertumbuhan yang didukung dari konsumsi pemerintah sebesar 12,16 persen, modal tetap bruto sebesar 6,93 persen, impor barang dan jasa sebesar 6,25 persen, konsumsi rumah tangga sebesar 5,34 persen, konsumsi lembaga swasta nirlaba sebesar 5,06 persen dan ekspor barang dan jasa sebesar 0,59 persen (BPS, 2011).
4.3 Kondisi Fiskal Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Kebijakan fiskal bagi provinsi NTT memiliki kontribusi penting bagi pendorong (stimulus) pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan sektor swasta
terhadap anggaran belanja pemerintah, baik provinsi maupun pemerintah pusat belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Peran anggaran pemerintah terhadap perekonomian NTT tercermin dari share konsumsi pemerintah terhadap struktur pembentukan angka PDRB di NTT. Melalui alokasi belanja modal, belanja barang dan jasa yang disalurkan oleh berbagai instansi terkait, anggaran pemerintah di transmisikan kepada sektor-sektor usaha sebagai salah satu trigger aktivitas perekonomian.
Pada tahun 2010, terjadi peningkatan baik dari sisi pendapatan maupun belanja. Penerimaan mengalami peningkatan sebesar 0,05% dibandingkan tahun 2009 menjadi Rp 1.08 triliun dari Rp 1.02 triliun dengan alokasi terbesar masih tetap bersumber dari dana perimbangan, yaitu dana alokasi umum sebesar sekitar 75 persen. Pos pendapatan asli daerah sebesar Rp 298.15 miliar, dengan porsi terbesar berasal dari penerimaan pajak daerah. Pemerintah daerah masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bantuan pemerintah pusat. Dana perimbangan masih memberikan kontribusi yang besar untuk mengisi celah fiskal (fiscal gap) dalam share pos pendapatan daerah. Peningkatan penerimaan
pemerintah daerah juga diikuti dengan peningkatan pengeluaran daerah baik dari segi belanja pemerintah maupun pembiayaan pemerintah. Dalam segi belanja pemerintah terjadi peningkatan sebesar 0,11 persen dan dari segi pembiayaan pemerintah mengalami kenaikan sebesar 1,27 persen.
Dengan adanya peningkatan baik dari segi penerimaan maupun segi pengeluaran pemerintah, kinerja keuangan dapat dilakukan seoptimal mungkin dengan pemberdayaan sumber-sumber dana untuk perbaikan infrastruktur.
Infrastrukutur berperan sebagai sarana pembangunan daerah yang akan
meningkatkan kegiatan perekonomian. Peningkatan anggaran yang diberikan setiap tahun seharusnya dapat dibarengi dengan peningkatan kinerja dan perbaikan taraf hidup. Hal ini berkaitan dengan alokasi dana yang digunakan oleh pemerintah daerah sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah pusat. Pengalokasian dana akan lebih produktif apabila dikembangkan pada sektor-sektor riil yang berdampak langsung terhadap masyarakat sehingga pemenuhan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengna baik.
Peningkatan transfer terjadi pada DAU dan DBH, kecuali terjadi penurunan pada DAK pada tahun 2010 sebesar 6,97 persen. Penerimaan DBH masih didominasi dari penerimaan pajak sebesar Rp 482.209 juta sedangkan DBH yang bersumber dari kekayaan alam hanya sekitar Rp 9.895 juta yang terjadi pada tahun 2011. Penerimaan DBH yang bersumber dari kekayaan alam cenderung sedikit. Hal ini disebabkan wilayah NTT yang kurang mempunyai sumber daya alam. Kekayaan alam NTT berasal baik dari sektor migas maupun sektor non migas sumbangannya tidak terlalu banyak terhadap penerimaan daerah. NTT memiliki kecenderungan untuk meningkatkan sektor peternakan karena didukung dengan keadaan alam yaitu tersedianya padang sabana. Namun potensi ini tidak termanfaatkan dengan baik akibat kurangnya produktivitas peternak dan keadaan iklim yang kurang mendukung.
DAK yang diberikan oleh pemerintah pusat dikhususkan guna membiayai program-program yang memberikan kontribusi terhadap prioritas-prioritas pembangunan nasional. Perkembangan kontribusi dari masing-masing sektor pembangunan tidak terlepas dari sektor-sektor utama dalam peningkatan PDRB daerah. Sedangkan Dana Bagi Hasil (DBH) penerimaan yang bersumber dari
pajak (pada tingkat nasional) dan sumber daya alam yang dibagikan diantara pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah daerah berdasarkan rasio yang telah disepakati di dalam peraturan perundang-undangan.
4.4 Kondisi Ketahanan Pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Peristiwa kekurangan pangan dan kelaparan di NTT terkadang hanya dilihat dalam konteks ketidakcukupan pangan akibat sebab-sebab alamiah. NTT adalah salah satu provinsi termiskin di Indonesia, fenomena kelaparan atau rawan pangan terjadi hampir setiap tahun sebagai pertanda kemiskinan yang kronis (Sura, 2010).
Dari 15 kabupaten dan kota yang terdapat di provinsi NTT enam diantaranya terindikasi memiliki ketahanan pangan yang sangat rentan sehingga dilakukan prioritas untuk penanggulan daerah rawan pangan.
Gambar 4.1 Peta Kerentanan Rawan Pangan Nusa Tenggara Timur Sumber : FSVA, 2009
Dalam gambar 4.1 diperlihatkan adanya perbedaan warna yang menunjukkan tingkat kerawanan pangan disetiap daerah. Setiap warna
menunjukkan prioritas daerah yang memiliki tingkat kerawanan pangan dari yang tertinggi hingga terendah. Keenam kabupaten yang terindikasi daerah rawan pangan yang sangat tinggi adalah Sumba Barat(199), Sumba Timur(200), Kupang(201), Timur Tengah Selatan (202), Manggarai(211), dan Manggarai Barat(213). Keenam kabupaten tersebut masuk kedalam peringkat 30 besar kabupaten yang paling rentan berdasarkan Indeks Ketahanan Pangan Komposit.
Kondisi kerentanan terhadap kerawanan pangan yang kronis secara komposit ditentukan berdasarkan sembilan indikator yang berhubungan dengan ketersediaan pangan, akses pangan dan penghidupan, serta pemanfaatan pangan dan gizi.
4.4.1 Produksi
Sektor pertanian masih menjadi sektor yang dominan dalam pembentukkan struktur perekonomian di Provinsi NTT. Namun, selama lima tahun terakhir peranan sektor pertanian cenderung menurun yang disebabkan karena lahan garapan yang semakin sempit, persoalan kekeringan atau pasokan air yang tidak menentu. Keadaan iklim sekarang yang tidak menentu menyebabkan adanya perubahan musim tanam yang berpengaruh pada tingkat produksi yang dihasilkan.
Tabel 4.2 Produktivitas tanaman padi di berbagai Provinsi tahun 2006-2010 (Ku/Ha)
Provinsi 2006 2007 2008 2009 2010
Aceh 42,11 42,51 42,61 43,32 42,11
Jawa Tengah 52,2 53,38 55,06 55,65 52,2
NTT 29,55 30,32 30,75 31,27 31,80
Maluku 35,94 37,21 39,61 37,21 35,94
Papua 34,33 35,58 35,05 35,58 34,33
Indonesia 46,2 47,05 48,94 47,05 46,2
Sumber : BPS, 2012
Dalam tabel 4.2 terlihat tingkat produktivitas tanaman padi diberbagai provinsi. Perkembangan produktivitas tanaman padi setiap tahunnya mengalami peningkatan. NTT merupakan provinsi dengan tingkat kemiskinan ketiga ternyata memiliki produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan Papua dan Maluku yang menempati urutan pertama dan kedua. Hal ini dapat dilihat dari data yang menunjukkan bahwa tingkat produktivitas padi di NTT hanya mencapai 31,80 (Ku/Ha) masih jauh dibawah produksi Indonesia pada tahun 2010.
Data statistik menunjukkan luas panen padi lima tahun terakhir mengalami fluktuasi. Terjadi penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2009 ke tahun 2010. Pada tahun 2009 luas panen padi sebesar 3,3 persen dan mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar -10,06 persen. Keadaan ini sejalan dengan kerusakan tanaman padi yang dipengaruhi oleh faktor iklim. Hujan yang berkepanjangan selama tahun 2010 mengakibatkan kerusakan tanaman padi seluas 24 ribu hektar atau meningkat hampir 6 (enam) kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4 ribu hektar. Akibat kerusakan ini terjadi penurunan produksi dari 5,09 persen pada tahun 2009 menjadi -8,53 persen pada tahun 2010. Melihat fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini, diperlukan upaya kerja keras untuk memecahkan persoalan pencapaian produksi padi. Pada umumnya petani NTT masih mengandalkan hujan sebagai sumber pengairan yang utama. Penggunaan infrastruktur berupa sistem irigasi belum optimal digunakan sebagai penggunaan teknologi untuk peningkatan produksi padi.
Pemberdayaan lahan kritis menjadi lahan yang produktif membuat masalah ketersediaan lahan untuk garapan menjadi salah satu solusi yang tepat. Pada tahun 2009, untuk luas lahan kritis di NTT telah mencapai 1.313.897 ha atau 27,74
persen dari total luas wilayah 4.735.000 ha. Kerusakan ini disebabkan eksploitasi terhadap sumberdaya lahan semakin intensif, tanpa diikuti tindakan rehabilitasi dan pelestarian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki lahan kritis adalah dengan melakukan penanaman pohon dan melibatkan teknologi- teknologi yang sesuai dengan struktur geografis dan karakteristik wilayah yang sesuai.
4.4.2 Akses Terhadap Pangan
Akses terhadap pangan adalah salah satu dari tiga pilar indikator ketahanan pangan. Akses pangan adalah kemampuan rumah tangga untuk memperoleh cukup pangan, baik yang berasal dari produksi sendiri, stok, pembelian, barter, hadiah, pinjaman dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan disuatu daerah tidak menjamin ketersediaan pangan di dalam suatu rumah tangga. Menurut FSVA (2009), akses pangan tergantung pada daya beli rumah tangga yang ditentukan oleh penghidupan rumah tangga tersebut. Penghidupan rumah tangga terdiri dari kemampuan rumah tangga, modal/aset (sumber daya alam, fisik, sumber daya manusia, ekonomi dan sosial) dan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan hidup dasar seperti penghasilan, pangan, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan.
Pemerintah Indonesia yang mengacu pada kriteria BPS menggunakan standar kebutuhan dasar sebagai batas kemiskinan. Semakin besar jumlah penduduk miskin di suatu provinsi atau kabupaten maka akses terhadap pangan akan semakin rendah dan angka kerawanan pangan akan semakin tinggi (FSVA, 2009). Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh FSVA NTT menempati peringkat ketiga setelah Papua dan Maluku dalam jumlah kabupaten-kabupaten
yang memiliki 30 persen penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan NTT merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam menanggulangi tingkat kerawanan pangan daerah maupun rumah tangga.
Selain itu, salah satu penyebab adanya “kemiskinan lokal” adalah dimana masyarakat yang tinggal di daerah atau terpencil tidak mempunyai akses infrastruktur baik jalan maupun akses pasar. Masyarakat kesulitan dalam mengakses kebutuhan pangan yang terletak jauh dari tempat tinggal mereka.
Akses jalan yang baik mendukung pendistribusian pangan yang lancar kesetiap kabupaten yang ada di NTT. Kemudahan dalam akses jalan memudahkan pemerintah untuk mengurangi tingkat kerawanan pangan daerah yang disebabkan terisolirnya suatu daerah akibat kendala infrastruktur jalan.
Peningkatan perbaikan akses jalan tumbuh setiap tahunnya. Pada tahun 2008 panjang jalan baik mencapai 803.95 km dan meningkat pada tahun 2009 menjadi 867.54 km. Keterbelakangan infrastruktur dapat menghalangi laju perkembangan dari suatu wilayah. Infrastruktur yang baik akan berpengaruh terhadap invesatsi yang akan dikembangkan di suatu daerah sehingga akan memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat. Akses jalan memberikan akses yang lebih baik ke pasar yang akan memudahkan produsen untuk memasarkan hasil produksi kepada penjual dan pembeli. Akses jalan juga merupakan salah satu sarana terpenting dalam menghubungkan pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang berguna untuk memperbaiki standar kehidupan.
Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan kualitas manusia dalam peningkatan produktivitas. Tingkat kesehatan yang baik dapat didukung dengan pelayanan kesehatan yang memadai sebagai sarana penunjang.
Tabel 4.3 Persentase rumah tangga dengan akses yang sangat terbatas terhadap sarana pelayanan kesehatan tahun 2007 (%)
Provinsi Rumah
Sakit
Puskesmas Dokter % RT akses sangat terbatas terhadap fasilitas kesehatan (>5 km)
Aceh 33 311 365 10.8
Jawa Tengah 34 117 295 2.00
NTB 13 134 153 3.80
NTT 25 253 269 14.20
Maluku 18 142 35 10.40
Papua 17 83 54 12.70
Sumber : FSVA, 2009
Tabel 4.3 memperlihatkan jumlah pelayanan kesehatan diberbagai provinsi.
NTT merupakan provinsi yang memiliki jumlah pelayanan kesehatan yang relatif banyak bila dibandingkan dengan Papua dan Maluku. Namun dalam persentase akses terhadap fasilitas kesehatan (>5 km), NTT merupakan provinsi yang memiliki tingkat keterbatasan akses yang lebih tinggi yaitu sebesar 14,20 persen dibandingkan dengan provinsi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan pelayanan kesehatan yang baik apabila tidak diimbangi dengan kemudahan akses maka akan kurang menunjukkan perubahan dalam kualitas kesehatan masyarakat.
4.4.3 Konsumsi dan Pengeluaran Rumah Tangga
Konsumsi pangan menurut FSVA ini menunjukkan tingkat asupan energi penduduk yang dinyatakan dalam energi (kkal) per kapita per hari, dan asupan protein dinyatakan dalam gram per kapita per hari. Konsumsi pangan dihitung berdasarkan pengeluaran untuk makanan dalam rumah tangga selama sebulan dari
sampel yang di survei tiap tahun (FSVA, 2009). Tingkat konsumsi penduduk terhadap bahan makanan mencermikan keadaan gizi yang dialami oleh masyarakat. Apabila semua zat makanan atau gizi dipenuhi maka setiap orang mempunyai peluang untuk mendapatkan keadaan gizi yang layak.
Keragaman dalam mengkonsumsi bahan makanan merupakan salah satu upaya pemenuhan gizi. Pemenuhan kebutuhan kalori yang baik bukan hanya terdapat dalam beras saja tetapi bisa dengan konsumsi umbi-umbi yang juga mengandung nilai kalori yang dibutuhkan oleh tubuh. Saat ini paradigma masyarakat masih terbatas dalam konsumsi beras sebagai makanan pokok utama, padahal pemerintah telah mencanangkan diversifikasi pangan sebagai upaya pengurangan kebutuhan konsumsi beras. Upaya ini dilakukan pemerintah sebagai salah satu cara mengatasi kerawanan pangan yang terjadi akibat adanya ketergantungan dalam mengkonsumsi beras.
Gambar 4.2 Rata-rata konsumsi kalori dan protein tahun 1996, 1999, 2002 dan 2005 (%).
Dalam gambar 4.2 diperlihatkan bahwa konsumsi penduduk terhadap kebutuhan kalori bertumpu pada konsumsi padi-padian dibandingkan konsumsi ubi-ubian. Konsumsi padi-padian sebesar 66,1 persen pada tahun 2005 sedangkan
0 10 20 30 40 50 60 70 80
1996 1999 2002 2005
konsumsi untuk ubi-ubian hanya sebesar 6,21 persen. Konsumsi ubi-ubian masih jauh tertinggal dibandingkan konsumsi padi-padian. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi beras masih sangat tinggi. Begitu pula dengan konsumsi protein yang memiliki porsi sangat kecil dalam pemenuhan gizi masyarakat. Konsumsi protein yang terdiri dari ikan, daging dan telur memiliki nilai yang rendah dalam pemenuhan gizi individu. Konsumsi ikan hanya sebesar 1,61 persen, daging 1,71 dan telur hanya sebesar 0,45 persen. Sebagian besar masyarakat hanya mengkonsumsi padi-padian sebagai sumber karbohidrat utama tanpa diimbangi dengan sumber protein lainnya baik dari protein hewani maupun dari protein nabati.
Tingkat kesejahteraan suatu masyarakat secara ekonomi dapat digambarkan dengan besaran pendapatan/penghasilannya. Pendekatan yang dapat dipakai untuk mengetahui tingkat pendapatan masyarakat dapat dilihat dengan mengukur besaran pengeluaran konsumsi rumah tangga baik makanan maupun non makanan. Pola konsumsi masyarakat dapat berubah sesuai dengan proporsi pengeluaran yang digunakan untuk pembelian bahan makanan maupun non makanan.
Pengeluaran rata-rata perkapita sebulan adalah hasil bagi antara total pengeluaran konsumsi seluruh penduduk selama satu bulan dengan jumlah penduduk. Pengeluaran rata-rata perkapita di NTT masih didominasi pengeluaran antara 200.000 - 299.999. Kondisi ekonomi yang memburuk dan tingkat inflasi yang tinggi dapat mempengaruhi pola konsumsi karena adanya penurunan standar hidup. Bagi penduduk yang berpendapatan rendah pengeluaran untuk konsumsi makanan lebih diprioritaskan.
Sebagian besar penduduk NTT menggunakan pengeluarannya untuk makanan. Rata-rata pengeluaran per k
tahun 2010 untuk kelo
Gambar 4.3 Persentase rata kelompok barang t
Dalam gambar 4.3
masih mendominasi yaitu sebesar 59 pe
sebesar 41 persen. Besarnya pola konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya tingkat pendapatan rumah tangga. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi pula tingkat konsumsi masyarakat untuk bahan non
Hal ini dapat menunjukkan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Besarnya porsi pengeluaran terhadap konsumsi produk makanan maupun non makanan dapat berdampak pada tingkat inflasi yang terjadi di suatu provinsi.
Semakin besar konsumsi pro
bobot inflasi komoditi non makanan terhadap perhitungan inflasi Provinsi NTT.
bukan makanan
Sebagian besar penduduk NTT menggunakan pengeluarannya untuk rata pengeluaran per kapita penduduk naik sebesar 3,8 persen tahun 2010 untuk kelompok bukan makanan dibanding tahun 2009.
Persentase rata-rata pengeluaran per kapita penduduk NTT menurut kelompok barang tahun 2010.
Dalam gambar 4.3 diperlihatkan bahwa pengeluaran untuk bahan makanan ih mendominasi yaitu sebesar 59 persen dan pengeluaran bukan makanan . Besarnya pola konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya tingkat pendapatan rumah tangga. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi pula tingkat konsumsi masyarakat untuk bahan non
Hal ini dapat menunjukkan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Besarnya porsi pengeluaran terhadap konsumsi produk makanan maupun non makanan dapat berdampak pada tingkat inflasi yang terjadi di suatu provinsi.
Semakin besar konsumsi produk non makanan ternyata berdampak pula pada bobot inflasi komoditi non makanan terhadap perhitungan inflasi Provinsi NTT.
makanan 59%
bukan makanan 41%
Sebagian besar penduduk NTT menggunakan pengeluarannya untuk apita penduduk naik sebesar 3,8 persen pada mpok bukan makanan dibanding tahun 2009.
enduduk NTT menurut
geluaran untuk bahan makanan dan pengeluaran bukan makanan . Besarnya pola konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi oleh besarnya tingkat pendapatan rumah tangga. Semakin tinggi tingkat pendapatan maka semakin tinggi pula tingkat konsumsi masyarakat untuk bahan non pangan.
Hal ini dapat menunjukkan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Besarnya porsi pengeluaran terhadap konsumsi produk makanan maupun non makanan dapat berdampak pada tingkat inflasi yang terjadi di suatu provinsi.
duk non makanan ternyata berdampak pula pada bobot inflasi komoditi non makanan terhadap perhitungan inflasi Provinsi NTT.