• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 1

BAB II

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

II.1. Aspek Geografi dan Demografi

Penjelasan pada aspek geografi provinsi dan kabupaten/kota perlu dilakukan dalam rangka memperoleh gambaran mengenai karakteristik geografi, topografi, potensi pengembangan wilayah, dan wilayah rawan bencana. Sedangkan gambaran kondisi demografi, antara lain mencakup jumlah dan perubahan penduduk, komposisi dan populasi secara keseluruhan atau kelompok dalam waktu tertentu, pada provinsi dan kabupaten/kota. Gambaran geografi daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagai berikut:

II.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah a. Luas dan Batas Wilayah Administrasi :

Sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara (74% atau 110.000 km²) merupakan perairan (laut). Sedangkan wilayah daratan, mencakup jazirah tenggara Pulau Sulawesi dan beberapa pulau kecil, adalah seluas 38.140 km² (25,75%).

Provinsi Sulawesi Tenggara dibatasi oleh:

- Sebelah Utara : Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah - Sebelah Selatan : Provinsi Nusa Tenggara Timur

- Sebelah Barat : Teluk Bone (Sulawesi Selatan) - Sebelah Timur : Provinsi Maluku

Secara administrasi, Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2008 terdiri atas 10 (sepuluh) Kabupaten dan 2 (dua) Kota yakni wilayah Kabupaten Konawe 6.568,15 Km2 (16,93%), Kabupaten Kolaka 6.918,38 Km2

(17,83%), Kabupaten Muna 2.041,24 Km2 (5,26%), Kabupaten Buton

2.648,08 Km2 (6,82%), Kota Kendari 391,57 Km2 (1,01%), Kota Bau Bau 221,00 Km2 (0,57%), Kabupaten Konawe Selatan 5.779,47 Km2 (14,89%),

Kabupaten Kolaka Utara 3,391,62 Km2 (8,74%), Kabupaten Bombana

(2)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 2 Kabupaten Konawe Utara 5.101,76 Km2 (13,15%) dan Kabupaten Buton

Utara 1.959,03 Km2 (5,05%).

b. Letak dan Kondisi Geografis :

Letak geografis Provinsi Sulawesi Tenggara menurut letak geografisnya adalah :

1. Provinsi Sulawesi Tenggara terletak pada 02o45l - 06o15l Lintang Selatan

dan 120o45 l- 124o45l Bujur Timur.

2. Kabupaten Buton terletak pada 04o45l - 05o45l Lintang Selatan dan

121o30l - 123o15l Bujur Timur.

3. Kabupaten Muna terletak pada 04o15l - 05o15l Lintang Selatan dan 122o30l - 123o15l Bujur Timur.

4. Kabupaten Konawe terletak pada 02o45l - 04o30l Lintang Selatan dan

121o15l - 123o15l Bujur Timur.

5. Kabupaten Kolaka terletak pada 02o45l - 15o00l Lintang Selatan dan

121o00l - 122o15l Bujur Timur.

6. Kabupaten Konawe Selatan terletak pada 03o45l - 04o45l Lintang Selatan

dan 121o45l - 123o00l Bujur Timur.

7. Kabupaten Bombana terletak pada 04o15l - 05o45l Lintang Selatan dan

121o15l - 122o15l Bujur Timur.

8. Kabupaten Wakatobi terletak pada 05o10l - 06o15l Lintang Selatan dan

123o30l - 124o30l Bujur Timur.

9. Kabupaten Kolaka Utara terletak pada 02o45l - 04o00l Lintang Selatan dan 120o45l - 121o30l Bujur Timur.

10. Kabupaten Buton Utara terletak pada 04o15l - 05o15l Lintang Selatan dan

122o45l - 123o30l Bujur Timur.

11. Kabupaten Konawe Utara terletak pada 03o00l - 04o00l Lintang Selatan

dan 121o45l - 122o45l Bujur Timur.

12. Kota Kendari terletak pada 03o45l - 04o15l Lintang Selatan dan 122o15l

-122o45l Bujur Timur.

13. Kota Bau-Bau terletak pada 05o00l - 05o45l Lintang Selatan dan 122o30l -

(3)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 3 Provinsi Sulawesi Tenggara secara garis besar terdiri dari daratan dan kepulauan. Adapun sebagian kecil pulau-pulau tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Tabel.1.Pulau-Pulau Yang Terdapat Di Provinsi Sulawesi Tenggara

No Kabupaten / Kota Pulau-Pulau

1 Kabupaten Buton - Pulau Buton - Pulau Siompu - Pulau Talaga Besar - Pulau Talaga Kecil - Pulau Sagori (Bombana) - Pulau Domalawa

- Pulau Liwutongkidi - Pulau Batu Atas - Pulau Kawikawia - Pulau Tambake - Pulau Kadatua 2 Kota Bau Bau - Pulau Makassar

3 Kabupaten Muna - Pulau Muna - Pulau Tobea Besar - Pulau Tobea Kecil - Pulau Wataitonga - Pulau Koholifano

- Pulau Bakealu

- Kepulauan Tiworo (Pulau-Pulau: Maginti, Balu, Katela, Mandike, Bero, Rangku, Maloang, Gola, Kayuangin dan Tobuan).

4 Kabupaten Konawe - Pulau Wawonii

- Pulau Labengki (Konut) - Pulau Karama

- Pulau Bawulu (Konut) - Pulau Bokori

- Pulau Saponda Darat - Pulau Saponda Laut - Pulau Hari

- Pulau Campeda 5 Kabupaten Kolaka - Pulau Padamarang

- Pulau Lambasina Besar - Pulau Lambasina Kecil

- Pulau Maniang - Pulau Buaya - Pulau Lemo 6 Kabupaten Konawe Utara - Pulau Karama

- Pulau Labengki - Pulau Bawulu 7 Kabupaten Bombana - Pulau Masaloka

- Pulau Kabaena - Pulau Sagori 8 Kabupaten Wakatobi - Pulau Wangi-wangi

- Pulau Kawi-Kawi - Pulau Kompona One - Pulau Simpora - Pulau Lentea Kiwolu - Pulau Kaledupa - Pulau Hoga

- Pulau Lentea Langge

- Pulau Binongko - Pulau Tomia - Pulau Runduma - Pulau Moromaho - Pulau Kapota - Pulau Lentea Tomia - Pulau Darawa 9 Kabupaten Buton Utara - Pulau Tanah Merah

- Pulau Langgere Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

II.1.2. Topografi

Kondisi topografi tanah daerah Sulawesi Tenggara umumnya memiliki permukaan yang bergunung, bergelombang berbukit-bukit. Diantara gunung dan bukit-bukit, terbentang dataran-dataran yang merupakan daerah-daerah potensial untuk pengembangan sektor pertanian. Permukaan tanah pegunungan yang relatif

(4)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 4 rendah digunakan untuk usaha mencapai luas 1.868.860 ha. Tanah ini sebagian besar berada pada ketinggian 100-500 meter diatas permukaan laut dan kemiringan tanahnya mencapai 40 derajat.

Kondisi topografi Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari dataran sampai berombak (low land) seluas 991.640 Ha, tanah berbukit (hilly land) seluas 953.500 Ha dan pegunungan relatif rendah (up mountain range) seluas 1.868.860 Ha.

II.1.3. Geologi

Ditinjau dari sudut geologis, batuan di Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri atas batuan sedimen, batuan metamorfosis dan batuan beku. Dari ketiga jenis batuan tersebut, batuan sedimen merupakan batuan yang terluas yaitu sekitar 2.878.790 hektar atau sebesar 75,47 persen. Sementara itu, jenis tanah di Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari tanah podzolik seluas 2.394.698 Ha (62,79 persen), tanah mediteran seluas 839.078 Ha (22,00 persen), tanah latosol seluas 330.182 Ha (8,66 persen), tanah organosol seluas 111.923 Ha (2,93 persen), tanah aluvial seluas 117.830 Ha (3,09 persen) dan tanah grumosol seluas 20.289 Ha (0,53 persen). II.1.4. Hidrologi

Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki beberapa sungai yang melintasi hampir seluruh kabupaten/kota. Sungai-sungai tersebut pada umumnya potensial untuk dijadikan sebagai sumber energi, untuk kebutuhan industri, rumah tangga dan irigasi.

Daerah aliran sungai, seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) Konaweha, melintasi Kabupaten Kolaka, dan Konawe. DAS tersebut seluas 7.150,68 km² dengan debit air rata-rata 200 m³/detik. Bendungan Wawotobi yang menampung aliran sungai tersebut, mampu mengairi persawahan di daerah Konawe seluas 18.000 ha. Selain itu, masih dapat dijumpai banyak aliran sungai di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan debit air yang besar sehingga berpotensi untuk pembangunan dan pengembangan irigasi seperti Sungai Lasolo di Kabupaten Konawe, Sungai Roraya di Kabupaten Bombana (Kecamatan Rumbia, dan Poleang), Sungai Wandasa dan Sungai Kabangka Balano di Kabupaten Muna, Sungai Laeya di Kabupaten Kolaka, dan Sungai Sampolawa di Kabupaten Buton.

(5)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 5 II.1.5. Klimatologi

a. Curah Hujan

Curah hujan di wilayah ini umumnya tidak merata, hal ini menimbulkan adanya wilayah daerah basah dan wilayah daerah semi kering. Wilayah daerah basah mempunyai curah hujan lebih dari 2.000 mm per tahun, daerah ini meliputi wilayah sebelah utara garis Kendari – Kolaka dan bagian utara Pulau Buton dan Pulau Wawonii. Sedangkan wilayah daerah semi kering mempunyai curah hujan kurang dari 2.000 mm per tahun, daerah ini meliputi wilayah sebelah selatan garis Kendari – Kolaka dan wilayah kepulauan di sebelah selatan dan tenggara Jazirah Sulawesi Tenggara. b. Suhu

Tinggi rendahnya suhu udara dipengaruhi oleh letak geografis wilayah dan ketinggian dari permukaan laut. Provinsi Sulawesi Tenggara yang terletak di daerah khatulistiwa dengan ketinggian pada umumnya di bawah 1.000 meter, sehingga beriklim tropis. Pada tahun 2009, suhu udara maksimum rata-rata berkisar antara 30ºC - 35ºC, dan suhu minimum rata-rata berkisar antara 22ºC - 25ºC.

II.1.6. Penggunaan Lahan

Rencana struktur ruang wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara meliputi : pusat-pusat kegiatan, sistem jaringan prasarana utama, sistem jaringan prasarana lainnya. Pemanfaatan lahan wilayah provinsi berpedoman pada rencana struktur ruang, pola ruang dan kawasan strategis. Pemanfaatan ruang wilayah provinsi dilaksanakan melalui penyusunan dan pelaksanaan program pemanfaatan lahan beserta sumber pendanaannya.

Penggunaan fungsi wilayah sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi dan kecenderungan pengembangan ruangnya ke arah vertikal, memperhatikan koefisien dasar bangunan maksimum, koefisien lantai minimum, ketinggian bangunan maksimum dan koefisien dasar hijau minimum. Pengembangan fungsi wilayah harus didukung prasarana dan sarana transportasi yang berstandar internasional maupun nasional yang mampu melayani kegiatan

(6)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 6 ekspor impor dan untuk menunjang pergerakan ke kawasan internasional serta kawasan lain di sekitarnya.

Di samping penggunaan lahan dan pengembangan wilayah, yang juga terus dilakukan adalah peningkatan fungsi kawasan industri dan jasa yang melayani skala regional dan nasional. Pengembangan serta peningkatan fungsi kawasan investasi internasional dan pengembangan jaringan telekomunikasi berbasis teknologi tinggi, prasarana sumberdaya air, transmisi tenaga listrik dan pembangkit tenaga listrik untuk mendukung fungsi pelayanan kawasan yang berskala nasional dan antarprovinsi. Adapun kawasan tersebut meliputi :

a. Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. Kawasan budidaya yang ditetapkan dalam RTRW Nasional yang terkait dengan wilayah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Rencana Pola Ruang Wilayah Provinsi meliputi :

1. Kawasan Andalan Asesolo meliputi kecamatan Asera dan Lasolo di Kabupaten Konawe Utara dengan sektor unggulan agroindustri, pertambangan, perikanan, perkebunan, pertanian, industri dan pariwisata;

2. Kawasan Andalan Kapolimu – Patikala meliputi kecamatan Kapontori dan Lasalimu di Kabupaten Buton – kecamatan Parigi, Tiworo Kepulauan, Kabawo dan Lawa di Kabupaten Muna, dengan sektor unggulan agroindustri, pertambangan, perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan dan pariwisata;

3. Kawasan Andalan Mowedong meliputi kecamatan Mowewe dan Ladongi di Kabupaten Kolaka dengan sektor unggulan agroindustri, pertambangan, perikanan, perkebunan dan pertanian;

4. Kawasan Andalan Laut Asera - Lasolo di Kabupaten Konawe Utara dengan sektor unggulan perikanan dan pariwisata;

(7)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 7 5. Kawasan Andalan Laut Kapontori - Lasalimu dan sekitarnya di Kabupaten Buton dengan sektor unggulan perikanan, pertambangan dan pariwisata; dan

6. Kawasan Andalan Laut Tiworo dan sekitarnya di Kabupaten Muna dengan sektor unggulan perikanan, pertambangan dan pariwisata. b. Kawasan Lindung

Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a terdiri atas:

1. Kawasan hutan lindung seluas 1.081.489 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten/kota;

2. Kawasan gambut terdapat pada Rawa Tinondo di Mowewe Kabupaten Kolaka dan Rawa Aopa Watumohai di Kabupaten Bombana, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan; dan

3. Kawasan resapan air yaitu di kawasan hutan konservasi seluas 282.924 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten/kota kecuali Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Wakatobi.

II.1.7. Potensi Pengembangan Wilayah

Selain wilayah daratan, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki wilayah perairan yang sangat potensial. Perairan Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari sungai dan laut. Beberapa sungai besar yaitu Sungai Konaweha, Sungai Lasolo, Sungai Roraya, dan Sungai Sampolawa.

Sementara itu, di Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat kawasan pesisir dan laut yang diperkirakan mencapai 110.000 Km2. Kawasan pesisir dan laut

(8)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 8 pengembangan usaha perikanan, prasarana transportasi, maupun dalam hal pengembangan wisata bahari.

Dalam pengelolaan potensi sumberdaya tanah dan air tersebut, belum memperhatikan aspek kelestarian lingkungan secara optimal, yang ditandai dengan masih terjadinya kerusakan lingkungan, khususnya kerusakan kawasan hutan, tanah, daerah aliran sungai serta kawasan pesisir dan laut. Kebijakan yang ditempuh untuk mewujudkan pengembangan wilayah di Provinsi Sulawesi Tenggara berlandaskan pada penataan dan pengalokasikan sumberdaya lahan secara proporsional melalui berbagai pertimbangan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan di sektor unggulan pertanian, pertambangan serta kelautan dan perikanan. Untuk itu perlu diupayakan peningkatan aksesibilitas dan pengembangan pusat-pusat kegiatan sektor terhadap pusat-pusat kegiatan nasional, wilayah dan lokal melalui pengembangan struktur ruang secara terpadu.

Terkait pengembangan pola ruang secara proporsional untuk mendukung pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, seimbang dan berkesinambungan, maka perlu dilakukan penetapan kawasan strategis dalam rangka pengembangan sektor unggulan dan pengembangan sosial ekonomi secara terintegrasi dengan wilayah sekitar dan pengembangan sumberdaya manusia yang mampu mengelola sektor unggulan secara profesional dan berkelanjutan.

Pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara diarahkan melalui rencana pemanfaatan ruang yang dijabarkan melalui struktur dan pola ruang serta pengembangan kawasan strategis. Berdasarkan struktur ruang Provinsi Sulawesi Tenggara terbagi dalam Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yaitu kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional atau beberapa provinsi. Meliputi PKN di Kota Kendari sebagai Ibukota Provinsi dan PKNp di Kota Baubau, serta beberapa Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yaitu kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota, yang meliputi PKW di Unaaha, Lasolo, Raha dan Kolaka. Selanjutnya terdapat

(9)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 9 PKW Provinsi (PKWp) di Pasar Wajo, Wangi-Wangi dan Latao dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yaitu di Lasusua, Andoolo, Torobulu, Kasipute, Buranga, Kulisusu, Lakudo, Asera dan Wanggudu.

Berdasarkan pola pemanfaatan ruang terdapat beberapa kawasan strategis, terbagi atas Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP), KSN di wilayah provinsi meliputi :

a. KSN dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET Bank Sejahtera) pada koridor Kendari Kolaka meliputi beberapa kecamatan di Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Kolaka; dan

b. KSN dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup, yaitu Taman Nasional Rawa Aopa-Watumohai dan Rawa Tinondo yang tersebar di Kabupaten Bombana, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Selatan.

Sedangkan KSP dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi yaitu Kawasan Ekonomi Khusus Pertambangan Nasional yang memiliki Pusat Kawasan Industri Pertambangan (PKIP) terdiri atas :

a. PKIP Asera-Wiwirano-Langgikima (AWILA) dengan pusat kawasan Konawe Utara yang meliputi Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Konawe bagian selatan;

b. PKIP Kapontori-Lasalimu (KAPOLIMU) dengan pusat kawasan Lasalimu Kabupaten Buton yang meliputi Pulau Buton dan Pulau Muna;

c. PKIP Kabaena-Torobulu-Wawonii (KARONI) dengan pusat kawasan Torobulu Kabupaten Konawe Selatan yang meliputi Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Bombana dan Pulau Wawonii;

d. PKIP Pomalaa dengan pusat kawasan Kolaka yang meliputi Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Kolaka Utara bagian selatan; dan

e. PKIP Laiwoi dengan pusat kawasan Kolaka Utara yang meliputi Kabupaten Kolaka Utara dan Kabupaten Konawe bagian utara.

(10)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 10 II.1.8. Wilayah Rawan Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Selanjutnya peristiwa bencana alam menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tabel.2.Peristiwa Bencana Alam Menurut Kabupaten/Kota dan Jenisnya Tahun 2010

Kabupaten/Kota Jenis Bencana Alam

Banjir Kebakaran Topan Angin Lain-lain

(1) (2) (3) (4) (5) 1. Buton - - 2 - 2. Muna - - 1 - 3. Konawe - - - - 4. Kolaka 2 - - - 5. Konawe Selatan 2 - 1 - 6. Bombana 1 - - - 7. Wakatobi - - - - 8. Kolaka Utara 1 - - - 9. Buton Utara - - - - 10. Konawe Utara - - - - 11. Kota Kendari 1 - - - 12. Kota Bau-bau - - - -

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan Tabel 2 dapat kita lihat jenis peristiwa bencana alam yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara, yang mana dari kategori bencana alam, banjir merupakan peristiwa yang paling sering terjadi di beberapa daerah terutama Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Konawe Selatan. Selain bencana banjir juga terdapat peristiwa bencana alam lainnya yaitu angin topan yang terjadi di Kabupaten Buton, Kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Muna.

Pada Tabel 3 dapat dilihat jumlah peristiwa bencana alam yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara pada setiap tahun seperti banjir, kebakaran, angin topan dan peristiwa bencana alam lainnya.

(11)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 11

Tabel.3.Peristiwa Bencana Alam Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

No. Tahun Banjir Kebakaran Jenis Bencana Alam Angin

Topan Lain-lain 1. 2004 7 18 7 3 2. 2005 5 1 6 4 3. 2006 5 - 5 1 4. 2007 5 - 5 - 5. 2008 5 1 - - 6. 2009 2 0 4 1 7. 2010 7 0 4 0

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011 II.1.9. Demografi

Tahun 2004 jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara berjumlah sekitar 1.911.103 jiwa, tiga tahun kemudian yakni pada tahun 2007 meningkat menjadi 2.031.532 jiwa. Berdasarkan data terakhir melalui BPS tahun 2010, Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara berjumlah 2.232.586 jiwa.

Laju pertumbuhan Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara dalam periode tahun 2000-2010 mencapai 2,25 %. Perkembangan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara yang cenderung meningkat telah memicu migrasi masuk terutama pedagang maupun pengusaha atau bahkan penganggur dari daerah lain yang datang dengan maksud mencari pekerjaan. Perkembangan infrastruktur pemerintahan dan perekonomian yang semakin signifikan menjadi faktor penyebab terjadinya migrasi. Bahkan terdapat kesan bahwa daerah ini telah menjadi tujuan pencari kerja. Disamping itu, mobilitas penduduk juga semakin tinggi akibat semakin berkembangnya infrastruktur dan transportasi. Ke depan, perlu diupayakan untuk membatasi peningkatan jumlah penduduk melalui berbagai kebijakan yang tepat dan terarah. Jumlah dan pertumbuhanan penduduk serta menurut jenis kelamin dan rasio jenis kelamin Provinsi Sulawesi Tenggara dapat terlihat pada tabel 4 dan tabel 5.

(12)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 12

Tabel.4.Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun Penduduk Jumlah (Jiwa) Pertumbuhan (%) Jumlah Kepala Keluarga Penduduk Per Rumah Tangga 2004 1.911.103 - 431.648 4.4 2005 1.960.697 2,60 437.594 4.5 2006 2.001.818 2,10 446.440 4.3 2007 2.031.532 1,48 452.528 4.5 2008 2.074.974 2,14 503.518 4.1 2009 2.118.300 2,09 529.972 4.0 2010 2.232.586 5,40 502.066 4.4

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan Tabel 4 jumlah penduduk tahun 2004 sebesar 1.911.103 jiwa meningkat pada tahun 2010 menjadi 2.232.586 jiwa, dengan tingkat pertumbuhan penduduk dari tahun 2009 ke tahun 2010 meningkat sebesar 0,53 %.

Tabel.5.Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis Kelamin 2004 949.563 961.540 1.911.103 98.75 2005 988.121 972.576 1.960.697 101.60 2006 993.787 1.008.031 2.001.818 98.59 2007 1.010.695 1.020.837 2.031.532 99.01 2008 1.015.763 1.059.211 2.074.974 95.90 2009 1.045.514 1.072.786 2.118.300 97.46 2010 1.121.826 1.110.760 2.232.586 101.00 Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Rasio jenis kelamin merupakan perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan. Rasio jenis kelamin menggambarkan banyaknya penduduk berjenis kelamin laki-laki dari setiap 100 penduduk berjenis kelamin perempuan. Untuk Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2010 penduduk laki-laki lebih banyak dibanding jumlah penduduk perempuan.

(13)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 13 II.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni, budaya. Berikut adalah fokus gambaran umum kondisi daerah pada aspek kesejahteraan masyarakat dalam menyusun rancangan awal RPJPD Provinsi Sulawesi Tenggara yang terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang akan dijabarkan menurut kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Indikator variabel aspek kesejahteraan masyarakat dimaksud, terdiri dari. II.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi diuraikan dalam indikator pertumbuhan PDRB, inflasi, PDRB per kapita, indeks gini, ketimpangan kemakmuran dan pemerataan pendapatan. Berikut ini disajikan beberapa indikator kinerja pada fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi.

(14)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 14 a. Pertumbuhan PDRB

Pertumbuhan PDRB dapat disajikan dalam tabel, sebagai berikut :

Tabel.6.Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga Konstan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009 No. Sektor (Rp) 2004 % (Rp) 2005 % (Rp) 2006 % (Rp) 2007 % (Rp) 2008 % (Rp) 2009 % 1. Pertanian 2.79 T 37,30 2.99 T 37,24 3.13 T 36,23 3.30 T 35,37 3.47 T 34,67 3.56 T 33,11 2. Pertambangan & Penggalian 422 Jt 5,64 459 Jt 5,72 433 Jt 5,01 536 Jt 5,75 519 Jt 5,18 551 Jt 5,12 3. Industri Pengolahan 562 Jt 7,51 579 Jt 7,21 757 Jt 8,76 835 Jt 8,95 887 Jt 8,86 863 Jt 8,02 4. Listrik, Gas &

Air Bersih 47,8 Jt 0,64 56,3 Jt 0,7 60,6 Jt 0,7 64,5 Jt 0,69 69,6 Jt 0,69 80,4 Jt 0,74 5. Konstruksi 576 Jt 7,70 617 Jt 7,68 672 Jt 7,78 733 Jt 7,86 816 Jt 8,15 919 Jt 8,54 6. Perdagangan,

Hotel & Resto 1.14 T 15,24 1.25 T 15,57 1.30 T 15,05 1.43 T 15,33 1.58 T 15,78 1.81 T 16,79 7. Pengangkutan

& Komunikasi 549 Jt 7,34 601 Jt 7,48 656 Jt 7,59 694 Jt 7,44 789 Jt 7,88 944 Jt 8,76 8. Keuangan,

Sewa & Jasa Perusahaan

363 Jt 4,9 395 Jt 4,92 479 Jt 5,54 517 Jt 5,54 576 Jt 5,75 618 Jt 5,74

9. Jasa-Jasa 1.02 T 13,64 1.08 T 13,45 1.15 T 13,31 1.22 T 13,1 1.31 T 13,1 1.42 T 13,18

PDRB 7.48 T 100 8.03 T 100 8.64 T 100 9.33 T 100 10.01T 100 10.77T 100

(15)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 15 Tabel.7.Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009

No. Sektor 2004 2005 2006 2007 2008 2009 (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian 4.22 T 41,09 5.50 T 42,37 6.22 T 40,73 6.84 T 38,11 8.09 T 36,44 8.99 T 35,02 2. Pertambangan & Penggalian 514 Jt 5 588 Jt 4,53 619 Jt 4,05 862 Jt 4,8 1.02 T 4,6 1.09 T 4,28 3. Industri Pengolahan 637 Jt 6,2 751 Jt 5,79 1.05 T 6,87 1.42 T 7,91 1.69 T 7,61 1.65 T 6,43 4. Listrik, Gas &

Air Bersih 115 Jt 1,12 136 Jt 1,05 154 Jt 1,01 168 Jt 0,94 193 Jt 0,87 238 Jt 0,93 5. Konstruksi 719 Jt 7 881 Jt 6,79 1.03 T 6,8 1.24 T 6,91 1.64 T 7,39 1.98 T 7,72 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 1.53 T 15 1.85 T 14,25 2.19 T 14,34 2.73 T 15,21 3.61 T 16,26 4.48 T 17,45 7. Pengangkutan & Komunikasi 674 Jt 6,54 967 Jt 7,44 1.16 T 7,6 1.47 T 8,2 1.88 T 8,46 2.38 T 9,26 8. Keuangan,

Sewa & Jasa Perusahaan

474 Jt 4,61 599 Jt 4,61 810 Jt 5,3 905 Jt 5,04 1.19 T 5,4 1.36 T 5,30

9. Jasa-Jasa 1.38 T 13,44 1.71 T 13,17 2.03 T 13,3 2.31 T 12,87 2.88 T 12,97 3.49 T 13,61

PDRB 10.27T 100 12.98T 100 15.27T 100 17.95T 100 22.20T 100 25.66T 100

(16)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 16 Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dilihat melalui indikator pertumbuhan PDRB harga konstan pada tahun 2004 mencapai 6,95%. Tahun 2005 pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan mencapai 6,85%. Selanjutnya pada tahun 2006 pertumbuhan ekonomi meningkat mencapai 7,06% dan berlanjut mencapai 7,39% pada tahun 2007. Namun dengan adanya krisis global dan kenaikan harga minyak, pertumbuhan ekonomi menurun pada tahun 2008 yang mencapai 6,79%.

Skenario pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara 2008-2013 disusun dengan mempertimbangkan kondisi eksternal dan internal Provinsi Sulawesi Tenggara dan akan dibagi menjadi tiga skenario yaitu skenario optimis, skenario moderat dan skenario pesimis. Skenario optimis akan digunakan apabila isu-isu tersebut diatas berdampak positif bagi pertumbuhan perekonomian regional Provinsi Sulawesi Tenggara secara keseluruhan. Skenario moderat akan digunakan jika sebagian isu-isu tersebut berdampak negative atau indeferen (acuh tak acuh) terhadap pertumbuhan perekonomian regional Provinsi Sulawesi Tenggara. Skenario pesimis akan diberlakukan jika isu-isu tersebut diatas berdampak negative bagi pertumbuhan perekonomian regional Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2008-2013 diharapkan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan leading sector pada sektor pertanian namun dengan tidak mengabaikan perkembangan disektor-sektor lain seperti disektor-sektor pertambangan dan penggalian serta disektor-sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Pertumbuhan perekonomian pada tahun 2009 baik pada scenario optimis, moderat dan pesimis di proyeksikan akan menghalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh tingginya harga minyak dunia dan kenaikan harga BBM di dalam negeri serta tingginya laju inflasi pada tahun 2008. Namun tren penurunan minyak dunia pada kuartal Ke IV 2008 dan hilangnya dampak inflasi pada first dan second round sejak diberlakukannya kenaikan harga minyak diharapkan menjadi entry point untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2009 dengan catatan kondisi politik dan keamanan cenderung stabil

(17)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 17 pada tahun tersebut. Setelah tahun 2009, perbaikan kondisi ekonomi negara-negara mitra utama ekspor komoditas Provinsi Sulawesi Tenggara dan iklim investasi yang semakin kondusif dan produksi hasil pertambangan yang meningkat dapat dijadikan salah satu supporting variable yang mendukung tercapainya kesejahteraan masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2013.

b. Inflasi

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Perkembangan inflasi Provinsi Sulawesi Tenggara diwakili oleh inflasi di Kota Kendari tahun 2004-2010 dapat terlihat pada tabel 8. Tabel.8.Inflasi Rata-Rata Tahun 2004-2010, Kota Kendari

Inflasi/ Bulan 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Januari 1,11 3,40 0,47 1,97 1,46 1,98 0,57 February -0,26 -8,82 0,21 -0,22 0,25 2,18 -0,21 Maret 0,51 2,79 1,24 0,31 0,79 2,99 -0,20 April 0,81 0,91 1,27 0,28 -0,34 3,95 0,11 Mei 1,23 0,90 0,67 1,21 1,81 3,54 0,56 Juni 0,50 0,64 1,15 0,69 6,49 2,64 0,50 Juli 0,53 -0,73 0,57 2,56 1,77 3,19 2,69 Agustus 0,02 -0,44 0,41 -1,57 -0,06 3,62 4,73 September -2,07 1,14 1,30 -0,80 1,57 4,90 4,29 Oktober 1,46 11,90 -0,66 0,95 0,91 5,29 3,74 November 1,48 0,59 1,99 1,23 -0,62 4,48 3,59 Desember 2,23 -0,08 1,50 0,73 0,45 4,60 3,87 Tahunan 7,72 21,45 10,57 7,53 15,28 4,60 3,87 Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Inflasi pada tahun 2005 sebesar 21,45 atau meningkat hampir 3 kali lipat dari tahun 2004 yang hanya 7,72. Pada tahun 2006 inflasi kembali menurun sehingga mencapai 10,57. Pada tahun 2009, inflasi menurun mencapai 4,60. Pada tahun 2010, inflasi mengalami penurunan sehingga mencapai 3,87.

(18)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 18 c. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita merupakan gambaran pendapatan penduduk yang dapat dipergunakan untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu wilayah. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dapat dilihat dari PDRB per kapita atas harga berlaku dan harga konstan. Perkembangan PDRB per kapita Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2009 dapat terlihat pada tabel 9.

Tabel.9.Perkembangan PDRB Per Kapita Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009

Tahun ADH Berlaku ADH Konstan (2000)

2004 5.340.427,95 3,890.488,68 2005 6.627.398,90 4.098.065,45 2006 7.628.241,30 4.317.740,20 2007 8.837.209,76 4.593.439,80 2008 10.700.301,79 4.824.439,41 2009 12.111.336,51 5.083.495,62

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Pendapatan per kapita baik atas dasar harga berlaku maupun konstan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan peningkatan dari tahun 2004-2009. Perkembangan harga PDRB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2004 sebesar Rp.5.340.427,95, tahun 2005 dan 2006 PDRB per kapita atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan mencapai Rp.6.627.398,90 dan Rp.7.628.241,30. Peningkatan PDRB per kapita atas dasar harga berlaku terus mengalami peningkatan pada tahun 2007 dan 2008 yang masing-masing mencapai Rp.8.837.209,76 dan Rp.10.700.301,79, pada tahun 2009 terjadi peningkatan menjadi Rp.12.111.336,51.

Pendapatan per kapita atas dasar harga konstan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2004 PDRB per kapita atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp.3.890.488,68, pada tahun 2005 PDRB per kapita ADH Konstan mengalami peningkatan mencapai Rp.4.098.065,45, pada tahun 2006 PDRB per kapita ADH Konstan mengalami peningkatan mencapai Rp.4.317.740,20. Pada Tahun 2007 dan 2008 PDRB ADH Konstan mengalami peningkatan sehingga masing-masing

(19)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 19 mencapai Rp.4.593.439,80 dan Rp.4.824.439,41, pada tahun 2009 menjadi Rp.5.083.495.62.

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita merupakan hasil dari pembagian antara total output di sebuah wilayah dibagi dengan total penduduk di wilayah tersebut. Sehingga strategi peningkatan PDRB per kapita dapat melalui jalur peningkatan pertumbuhan ekonomi atau melalui perlambatan laju penduduk. Untuk Provinsi Sulawesi Tenggara pertumbuhan yang selalu diatas 7% menyebabkan peningkatan PDRB per kapita per tahun yang cukup signifikan. Hal ini juga ditunjang dengan pertumbuhan penduduk yang tidak terlalu besar per tahun.

d. Ketimpangan Kemakmuran

Ketimpangan kemakmuran ditunjukkan dengan gini ratio yang mempunyai selang nilai antara 0 sampai 1. jika koefisien gini lebih kecil dari 0,35 menandakan adanya tingkat ketimpangan sebaran pendapatan yang rendah (low inequality), 0,36-0,49 menunjukkan tingkat ketimpangan sedang (moderate inequality) dan bila lebih besar dari angka 0,50 menandakan adanya ketimpangan yang tinggi (high inequality). Gini ratio Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat terlihat pada tabel 10.

Tabel.10.Ketimpangan Kemakmuran Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun Gini Rasio

2004 0,26 2005 0,32 2006 0,30 2007 0,28 2008 0,33 2009 0,36 2010 0,42 Sumber : BPS, 2010

Berdasarkan tabel 10 tersebut dapat terlihat bahwa gini rasio Provinsi Sulawesi Tenggara dari tahun 2004-2010 menunjukkan posisi yang rendah yaitu di bawah 0,35. Pada tahun 2004 gini rasio Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,26. Pada tahun 2005 gini rasio Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,32. Pada tahun 2006 gini rasio Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,30 dan

(20)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 20 pada tahun 2007 gini rasio Provinsi Sulawesi Tenggara menurun menjadi sebesar 0,28. Pada tahun 2010 gini rasio Provinsi Sulawesi Tenggara naik menjadi 0,42.

Tabel 10 menunjukkan bahwa sebaran pendapatan penduduk antar penduduk cukup rendah. Ke depannya dengan bangkitnya sektor pendapatan, sektor industri dan penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap total PDRB dapat berpotensi meningkatkan angka gini rasio. Oleh karena itu, perlu sebuah kebijakan untuk melibatkan penduduk lokal atau penduduk yang beralih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor pertambangan/industri untuk menampung bangkitnya sektor pertambangan dan industri. Salah satu kebijakan dapat ditempuh dengan penyiapan sumberdaya manusia masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara agar dapat mengantisipasi sektor industri.

e. Pemerataan Pendapatan

Aspek Pemerataan pendapatan merupakan hal penting yang harus dipantau karena ketimpangan dalam menikmati hasil pembangunan diantara kelompok-kelompok penduduk dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak sosial. pemerataan pendapatan biasa dilihat menggunakan kriteria Bank

Dunia. Pemerataan pendapatan Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2007 dapat terlihat pada tabel 11.

Tabel.11.Pemerataan Pendapatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2007

Tahun 40% Terendah 40 % Menengah 20 % Tertinggi

2004 24,31 39,94 35,75

2005 21,47 37,53 40,99

2006 22,57 37,36 40,07

2007 23,28 38,25 38,47

Sumber : BPS, 2008

Berdasarkan data pengeluaran yang dianggap porsi pendapatan, porsi pengeluaran dari 40% penduduk yang berpendapatan terendah menunjukkan bahwa distribusi pendapatan berada dalam ketimpangan rendah. Pada tahun 2004 pengeluaran 40% penduduk berpendapatan terendah sebesar 24,31%. Pada tahun 2005 pengeluaran 40% penduduk berpendapatan terendah

(21)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 21 sebesar 21,47%. Pada tahun 2006 pengeluaran 40% penduduk berpendapatan terendah sebesar 22,57%. Pada tahun 2007 pengeluaran 40% penduduk berpendapatan terendah sebesar 23,28%.

Dari data menunjukkan bahwa pendapatan secara total sudah dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat secara keseluruhan. Pendapatan masyarakat golongan terendah dan menengah secara bertahap meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan pula bahwa pembangunan yang dilakukan berimpilikasi pada masyarakat secara keseluruhan dan tidak dinikmati satu golongan tertentu saja.

II.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial

Fokus kesejahteraan sosial terdapat pada indikator melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni, angka usia harapan hidup, persentase penduduk yang memiliki lahan, dan rasio penduduk yang bekerja.

a. Angka Melek Huruf

Tingkat melek huruf menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah kemampuan seseorang membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya (selain huruf latin) yang masing-masing merupakan keterampilan dasar yang diajarkan di kelas-kelas awal jenjang pendidikan dasar. Angka melek huruf dapat disajikan dalam tabel 12.

Tabel.12.Perkembangan Angka Melek Huruf Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009 Kabupaten 2004 2005 2006 Tahun 2007 2008 2009 Buton - 86,51 92,08 85,72 85,72 85,72 Muna 85,10 79,89 80,09 87,59 87,59 87,83 Konawe 84,68 86,10 87,40 93,95 94,60 94,61 Kolaka 92,73 95,03 90,64 93,14 93,14 93,16 Konawe Selatan - 89,75 90,47 94,10 94,10 94,11 Bombana - 83,96 85,07 87,55 88,20 88,49 Wakatobi - 84,43 90,69 88,78 88,80 89,13 Kolaka Utara - 94,78 91,06 93,02 93,02 93,04 Buton Utara - - - 93,80 93,80 86,59 Konawe Utara - - - 86,45 86,50 93,80 Sumber : Susenas, BPS, 2004-2009

(22)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 22 Berdasarkan tabel di atas bahwa angka melek huruf di Provinsi Sulawesi Tenggara sudah tergolong tinggi bahkan cenderung meningkat mencapai 91,30 tahun 2007 dan pada tahun tahun 2008 mencapai 91,42. Hal ini menunjukan jumlah penduduk yang berusia diatas 15 Tahun yang tidak bisa membaca dan menulis huruf latin tersisa  8,6% dari total penduduk Sulawesi Tenggara.

b. Angka Rata-Rata Lama Sekolah

Rata-rata lama sekolah adalah rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang pernah dijalani. Indikator ini dihitung dari variabel pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan tingkat pendidikan yang sedang diduduki. Angka rata-rata lama sekolah dapat disajikan dalam tabel 13.

Tabel.13.Rata-Rata Lama Sekolah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2005-2010

Uraian 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-Rata

Lama

Sekolah 7,6 7,4 7,7 7,7 7,9 8,1

Sumber : Susenas, Berbagai Tahun, 2011

Berdasarkan tabel tersebut di atas bahwa angka rata-rata lama sekolah di Provinsi Sulawesi Tenggara, dimana pada tahun 2005 rata-rata lama mencapai 7,6 tahun dan meningkat pada tahun 2009 mencapai 7,9. Tahun 2010 rata-rata lama sekolah mencapai 8,1 tahun.

Tingginya penduduk yang tidak tamat SD dan hanya tamat SD mempengaruhi rendahnya angka rata-rata lama sekolah. Oleh karena itu kebijakan yang tepat perlu dilakukan untuk mengajak penduduk usia sekolah agar bersekolah. Strategi yang dapat dilakukan dapat melalui pembangunan sekolah-sekolah di darah terpencil, penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya sekolah dan melalui pembebasan biaya sekolah untuk masyarakat miskin.

c. Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni (APM) dimanfaatkan untuk melihat penduduk yang sekolah tepat waktu sesuai dengan usianya. APM benar-benar melihat

(23)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 23 kesesuaian umur dan jenjang pendidikan yaitu SD untuk kelompok usia 7-12 tahun, SMP untuk kelompok usia 12-15 tahun dan SLTA untuk kelompok Usia 16-18 tahun dan perguruan tinggi bagi kelompok usia 19-24 tahun. Angka Partisipasi Murni (APM) dapat terlihat pada tabel.14.

Tabel.14.Angka Partisipasi Murni Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009

No. Uraian APM 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 SD / MI 90,18 92,64 92,26 93,64 94,24 93,8 2 SMP /Mts 64,02 66,04 72,42 65,89 66,41 69,4 3 SMA / MA 40,17 44,04 47,28 47,32 47,98 46,9

Sumber : Susenas, BPS, 2003-2009

Berdasarkan tabel tersebut di atas bahwa Angka Partisipasi Murni (APM) murid SD/MI di Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2004 berada pada angka 90,18 dan meningkat pada tahun 2008 mencapai 94,24 dan tahun 2009 menurun dengan angka 93,8. Murid SMP/Mts mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2004 berada pada angka 64,02 dan meningkat pada tahun 2009 mencapai 69,4. Sedangkan murid SMA/MA pada tahun 2004 pada angka 40,17 meningkat pada tahun 2008 mencapai 47,98 dan pada tahun 2009 mengalami penurunan dengan angka 46,9.

d. Angka Partisipasi Kasar

Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah rasio jumlah siswa, berapapun usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu.

Misal, Angka Partisipasi Kasar (APK) SD sama dengan jumlah siswa yang duduk di bangku SD dibagi dengan jumlah penduduk kelompok usia 7 sampai 12 tahun. APK menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.

(24)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 24 Tabel.15.Angka Partisipasi Kasar (APK) Provinsi Sulawesi Tenggara

Tahun 2004-2009

No. Uraian APK 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1 SD/MI 105,90 107,73 109,25 110,70 113,04 101,3 2 SMP/MTs 83,40 85,92 91,40 85,79 85,72 92,8 3 SMA/MA 51,47 56,73 57,58 61,40 63,99 58,6 Sumber : Susenas, BPS, 2003-2010

Berdasarkan tabel tersebut di atas bahwa Angka Partisipasi Kasar murid SD/MI di Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2004 berada pada angka 105,90 dan meningkat pada tahun 2008 mencapai 113,04 dan pada tahun 2009 menurun dengan angka 101,3. Murid SMP/Mts mengalami kenaikan, dimana pada tahun 2004 berada pada angka 83,40 dan naik pada tahun 2009 dengan angka 92,8. Sedangkan murid SMA/MA pada tahun 2004 pada angka 51,47 meningkat di tahun 2008 mencapai 63,99 dan pada tahun 2009 mengalami penurunan dengan angka 58,6.

e. Angka Pendidikan Yang Ditamatkan

Pendidikan yang ditamatkan merupakan cerminan tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk yang berusia lebih dari 10 Tahun Keatas dalam suatu daerah. Angka pendidikan yang ditamatkan. Sebaran pendidikan yang ditamatkan penduduk Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat terlihat pada tabel 16.

Tabel.16.Pendidikan Yang Ditamatkan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun Menurut Ijazah Yang Ditamatkan Klasifikasi Penduduk

TT.SD SD SMP SLTA D/S1/S2/S3 2004 238.891 138.564 118.829 40.516 36.267 2005 117.034 226.538 126.772 157.204 55.163 2006 159.946 251.714 161.975 190.430 71.257 2007 8.358 8.714 9.841 17.729 16.520 2008 183.255 297.664 180.109 188.793 73.297 2009 - - - - - 2010 95.451 288.718 158.970 212.272 95.888 Sumber : Sensus Penduduk, BPS, 2004-2011 (dihitung dari jumlah penduduk

(25)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 25 Dari tabel 16 dapat diketahui bahwa Penduduk Sulawesi Tenggara masih banyak yang tidak tamat SD dan berpendidikan paling tinggi hanya tamat SD. Tahun 2005 penduduk Sulawesi Tenggara yang tamat sebanyak 226.538 atau 65,94%, sedangkan yang tidak tamat SD sebesar 117.034 atau 34,06%. Dari 226.538 yang tamat SD tersebut, hanya 126.772 yang tamat di tingkat SMP atau 55,96% dari tamatan SD.

Dalam skema memecah lingkaran setan kemiskinan, dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan. Penduduk Sulawesi Tenggara yang berijazah Diploma dan Sarjana memiliki persentase yang kecil (5%-6%) dibandingkan total penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara yang berusia diatas 10 Tahun. Penduduk yang tidak tamat SD justru memiliki persentase yang besar. Hal ini perlu menjadi catatan mengingat adanya program Wajib Belajar 9 Tahun yang akan dilanjutkan dengan Wajib belajar 12 Tahun. Strategi yang dapat dilakukan dapat melalui pembangunan sekolah-sekolah di daerah terpencil, penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya sekolah dan melalui pembebasan biaya sekolah untuk masyarakat miskin.

f. Angka Usia Harapan Hidup

Usia harapan hidup menggambarkan usia harapan seseorang dalam suatu daerah tertentu. Usia Harapan hidup penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2009 dapat terlihat pada tabel 17.

Tabel.17.Angka Usia Harapan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009

Tahun Usia Harapan Hidup (Tahun)

2004 66 2005 66,8 2006 67 2007 67,2 2008 67,4 2009 67,6

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2010

Berdasarkan tabel 17, bahwa usia harapan hidup penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara cukup tinggi, di mana pada tahun 2004 mencapai 66,0 tahun dan pada tahun 2009 mencapai 67,6 tahun dengan usia harapan hidup

(26)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 26 wanita lebih tinggi daripada laki-laki. Hal ini menunjukan derajat kesehatan masyarakat cukup tinggi.

Angka usia harapan hidup Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan dalam dari Tahun 2006 ke Tahun 2009. Angka usia harapan hidup menunjukkan pula semakin baiknya pelayanan kesehatan di Provinsi Sulawesi Tenggara dan semakin baiknya kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan kemampuan akses masyarakat kepada pelayanan kesehatan. g. Persentase Penduduk Yang Memiliki Lahan

Kepemilikan tanah tercermin dari tambahan jumlah penduduk yang memiliki tanah dengan status Hak Guna Bangunan, Hak Milik dan Hak Pakai. Tambahan status kepemilikan tanah di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat terlihat pada tabel 18.

Tabel.18.Tambahan Kepemilikan Tanah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun HGB Tambahan kepemilikan tanah HM HP

2004 645 15.888 48 2005 878 23.675 69 2006 12.225 25.240 103 2007 51 12.343 82 2008 68 23.415 56 2009 15 38.753 109 2010 44 17.463 52

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan tabel tersebut diatas menunjukkan tambahan kepemilikan tanah cenderung bertambah dari tahun ke tahun hal ini dapat dilihat pada tahun 2004 tambahan kepemilikan tanah HGB sebesar 645, tambahan kepemilikan tanah HM sebesar 15.888 dan HP sebesar 48. pada tahun 2005 tambahan kepemilikan tanah HGB sebesar 878, tambahan kepemilikan tanah HM sebesar 23675, dan HP sebesar 69. Pada tahun 2006 tambahan kepemilikan tanah HGB sebesar 12225, tambahan kepemilikan tanah HM sebesar 25240, dan HP sebesar 103. Pada tahun 2007 tambahan kepemilikan tanah HGB sebesar 51, tambahan kepemilikan tanah HM sebesar 12343, dan

(27)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 27 HP sebesar 82. Pada tahun 2010 tambahan kepemilikan tanah HGB sebesar 44, tambahan kepemilikan tanah HM sebesar 17.463, dan HP sebesar 52.

Angka tambahan kepemilikan tanah melalui penambahan sertifikat menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat dalam hal pertanahan. Hal ini akan menghindari masyarakat dari konflik kepemilikan tanah antar masyarakat.

h. Rasio Penduduk Yang Bekerja

Kesempatan kerja merupakan ukuran yang melihat persentase antara penduduk yang bekerja dengan jumlah angkatan kerja secara keseluruhan. Perkembangan kesempatan kerja penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat terlihat pada tabel 19.

Tabel.19.Kesempatan Kerja Sulawesi Tenggara 2004-2010 Tahun Yang Bekerja Angkatan Kerja Penduduk

Kesempatan Kerja (%) (1) (2) (3 = 1 / 2) 2004 828.774 914.229 90,65 2005 853.384 958.072 89,07 2006 835.322 924.763 90,33 2007 894.601 955.763 93,60 2008 923.118 979.256 94,27 2009 950.876 998.195 95,26 2010 997.678 1.045.899 95,39

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Pada tahun 2004 kesempatan kerja di Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 90,65% dan menurun pada tahun 2005 menjadi sebesar 89,07%. Pada tahun 2006 kesempatan kerja meningkat menjadi 90,33. Pada tahun 2009 kesempatan kerja meningkat menjadi 95,26% dan pada tahun 2010 kesempatan kerja meningkat menjadi 95,39%.

Kesempatan kerja masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara semakin meningkat karena geliat ekonomi di wilayah ini yang bersumber pada sektor pertambangan dan jasa-jasa. Semakin baiknya kesempatan kerja juga secara tidak langsung mengurangi risiko angka kriminalitas karena semakin banyaknya masyarakat yang bekerja atau semakin kurangnya masyarakat yang menganggur. Jaring pengaman tenaga kerja di Provinsi Sulawesi

(28)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 28 Tenggara masih tetap pada sektor pertanian yang menampung sebagian besar tenaga kerja di Provinsi Sulawesi Tenggara.

II.3. Aspek Pelayanan Umum

Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Untuk melihat gambaran umum kondisi daerah pada aspek pelayanan umum dalam menyusun RPJPD Provinsi Sulawesi Tenggara terlebih dahulu disusun tabel capaian indikator setiap variabel yang diperoleh dari data menurut kabupaten/kota diwilayah provinsi. Adapun indikator variabel aspek pelayanan umum terdiri dari :

II.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib

Fokus kinerja atas layanan urusan wajib dilihat pada indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah, yaitu bidang urusan pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan, penataan ruang, perencanaan pembangunan, perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan, kependudukan dan catatan sipil, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, keluarga berencana dan keluarga sejahtera, sosial, ketenagakerjaan, koperasi dan usaha kecil menengah, penanaman modal, kebudayaan, kepemudaan dan olahraga, kesatuan bangsa dan politik dalam negeri, otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat dan desa, statistik, kearsipan, komunikasi dan informatika dan perpustakaan. Berikut ini disajikan beberapa indikator kinerja pada fokus layanan urusan wajib pemerintah daerah, sebagai berikut :

(29)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 29 Angka Partisispasi Sekolah (APS) digunakan untuk mengetahui seberapa jauh partisipasi penduduk dalam bidang pendidikan sesuai dengan kelompok umur. APS merupakan salah satu cermin pemerataan akses pendidikan. Angka Partisipasi Sekolah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk pendidikan dasar dan menengah tahun 2004-2010 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel.20.Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

No. Pendidikan 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jenjang 1 SD/MI 1.1 Rata-Rata Murid Usia 7–12 Thn 96.77 97.14 97.39 97.6 97.83 - - 1.2 APS SD/MI 94.82 96.87 97.04 97.31 97.66 97.69 97.81 2 SMP/MTs 2.1 Rata-Rata Murid usia 13-15 Thn 83.49 84.02 84.08 84.26 84.41 - - 2.2 APS SMP/MTs 80.80 86.53 85.22 85.48 85.62 87.20 88.17 Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Dari tabel 20, secara umum mengalami peningkatan dimana pada tahun 2004 Angka Partisipasi Sekolah SD/MI Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 94,82. pada tahun 2005 Angka Partisipasi SD/MI Sekolah Provinsi Sulawesi Tenggara meningkat sebesar 96.87 dan pada tahun 2006 Angka Partisipasi Sekolah SD/MI Provinsi Sulawesi Tenggara juga mengalami peningkatan sebesar 97,04 dan pada tahun 2010 Angka Partisipasi Sekolah Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar SD/MI 97,81.

Angka Partisipasi Sekolah pada SMP/MTs juga mengalami peningkatan seperti halnya SD/MI. Jika tahun 2004 angkanya hanya 80,80, peningkatan terlihat di tahun 2009 sebesar 87,20 dan 88,17 di tahun 2010.

b. Ketersediaan Gedung Sekolah

Penyediaan gedung sekolah dimaksudkan untuk menampung murid yang ingin melanjutkan pendidikan. Ketersediaan gedung sekolah se provinsi dapat disajikan dalam tabel.21 berikut.

(30)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 30 Tabel.21.Ketersediaan Sekolah Provinsi Sulawesi Tenggara

Tahun 2004-2009

No. Pendidikan Jenjang 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1. SD/MI 1.1 Jumlah Gedung Sekolah 2.021 2.034 2.088 2.163 2.173 2.197 2 SMP/MTs 2.1 Jumlah Gedung Sekolah 304 309 342 528 543 614 3 SMA/MA 3.1 Jumlah Gedung Sekolah 176 169 176 277 294 303

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2009

Berdasarkan data pada tabel.21 tersebut menunjukkan peningkatan ketersediaan sekolah cukup tinggi. Pada tahun 2004 Ketersediaan Sekolah untuk tingkat SD/MI berjumlah 2.021 dan gedung sekolah untuk tingkat SMP/MTs berjumlah 304 sedangkan untuk tingkat SMA/MA berjumlah 176. Pada tahun 2005 Ketersediaan Sekolah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dimana jumlah gedung sekolah untuk tingkat SD/MI berjumlah 2.034 dan untuk tingkat SMP/MTs berjumlah 309 sedangkan untuk tingkat SMA/MA mengalami penurunan jumlah sebesar 169. Pada tahun 2006 Ketersediaan Sekolah untuk tingkat SD/MI berjumlah 2.088 dan tingkat SMP/MTs berjumlah 342 sedangkan untuk tingkat SMA/MA berjumlah 176. Pada tahun 2009 Ketersediaan Sekolah untuk tingkat SD/MI berjumlah 2.197 dan untuk tingkat SMP/MTs berjumlah 614, sedangkan untuk tingkat SMA/MA berjumlah 303.

Peningkatan jumlah gedung sekolah untuk tingkat pendidikan di Provinsi Sulawesi Tenggara yang mana setiap tahunnya mengalami peningkatan. Dengan adanya peningkatan jumlah gedung sekolah ini menunjukan bahwa penduduk yang bersekolah juga mengalami peningkatan untuk setiap jenjang tingkat pendidikan.

(31)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 31 c. Rasio Guru/Murid

Rasio guru per murid didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah guru dengan jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu. Untuk mengetahui rata-rata jumlah guru yang dapat melayani murid di suatu sekolah atau daerah tertentu. Rasio jumlah guru/murid se provinsi dapat disajikan dalam tabel 22.

Tabel.22.Jumlah Guru dan Murid Jenjang Pendidikan Dasar Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2009

No. Pendidikan Jenjang 2004 2005 2006 2007 2008 2009

1 SD/MI 1.1 Jumlah Guru 12.465 16.853 17.010 24.743 25.175 26.089 1.2 Jumlah Murid 316.631 313.390 326.177 335.526 336.737 345.678 1.3 Rasio 25.40 18.60 19.18 13.56 13.38 13.25 2 SMP/MTs 2.1 Jumlah Guru 6.431 6.871 6.839 9.117 9.904 10.133 2.2 Jumlah Murid 94.244 95.368 97.948 116.992 112.549 114.724 2.3 Rasio 14.58 13.88 14.32 12.83 11.36 11.32 Sumber : Sultra Dalam Angka, 2010

Rasio ketersediaan siswa dan guru jenjang pendidikan SD/MI pada Tahun 2004 sebesar 25,40 dan terus menurun nilainya pada tahun-tahun berikutnya. Penurunan ini bermakna positif karena jumlah guru semakin banyak tersedia. Seperti Rasio ketersediaan siswa dan guru SD/MI pada Tahun 2005 menurun menjadi 18,60 dan menurun lagi pada tahun 2006 juga 19,18 tahun 2007 13,56 begitu juga pada tahun 2008 rasio sebesar 13.38 dan tahun 2009 sebesar 13.25.

Ketersediaan guru untuk mengajarkan pendidikan kepada siswa di Provinsi Sulawesi Tenggara berkisar 1 : 20. atau 1 guru mengajarkan pendidikan kepada 20 siswa. Rasio ini cukup baik untuk efektifitas pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Seperti halnya pada jenjang SD/MI yang bermakna positif pada penurunan jumlah rasio, di tingkat pendidikan sekolah menengah pertama SMP/MTs, rasio ketersediaan siswa/guru pada tahun 2004 sebesar 14,58 dan mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi sebesar 13.88 dan Pada tahun 2006 rasio ketersediaan murid/sekolah mengalami peningkatan rasio

(32)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 32 menjadi 14,32 dan pada tahun 2007 kembali mengalami penurunan rasio sebesar 12.38 begitu juga pada tahun 2008 yaitu sebesar 11.36 dan untuk tahun 2009 juga mengalami hal yang sama yaitu mengalami penurunan menjadi 11.32.

d. Rasio Posyandu Per Satuan Balita

Pos Pelayanan Terpadu disediakan untuk dapat memantau kesehatan anak agar terhindar dari gizi buruk dan gejala penyakit. Ketersediaan Posyandu juga dimaksudkan untuk meningkatkan taraf kesehatan generasi penerus. Rasio Posyandu persatuan balita Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2008 dapat dilihat pada tabel.23 berikut.

Tabel.23.Rasio Posyandu Per 1000 Balita Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2008

Tahun Posyandu Balita Rasio

2004 2.397 229.226 7,57

2005 2.436 231.554 10,52

2006 2.479 225.762 10,98

2007 2.479 250.612 9,89

2008 2.618 242.552 10,79

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2009

Pada tabel 23 dapat kita lihat rasio posyandu per 1000 balita pada tahun 2004 sebesar 7,57 sedangkan pada Tahun 2005 rasio posyandu per satuan balita naik menjadi 10,52 begitu juga pada tahun 2006 rasio posyandu per 1000 balita mengalami peningkatan sebesar 10,98 dan untuk tahun 2007 rasio posyandu per 1000 balita turun sebesar 9,89. Pada tahun 2008 rasio posyandu per 1000 balita kembali mengalami peningkatan menjadi 10,79.

Rasio ketersediaan posyandu untuk per 1000 balita di Provinsi Sulawesi Tenggara secara umum mengalami peningkatan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008. Jumlah posyandu mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan posyandu ini penting untuk menyeimbangi pertumbuhan jumlah balita. Hal tersebut dapat dilihat pada tahun 2008, dimana 242.552 balita telah tersedia 2.618 posyandu.

(33)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 33 Sarana dan prasarana kesehatan perlu tersedia dan tersebar di masing-masing daerah agar dapat menjangkau masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Untuk rasio Puskesmas, Poliknik, Pustu per satuan penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat dilihat pada tabel 24 berikut.

Tabel.24.Rasio Puskesmas Induk, Puskesmas Plus, Puskesmas Keliling dan

Pustu Per 1000 Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun PI,PP,PK,Pustu Jumlah Penduduk Jumlah Rasio

2004 610 1.911.103 0,032 2005 787 1.960.697 0,040 2006 798 2.001.818 0,040 2007 781 2.031.532 0,038 2008 897 2.074.974 0,043 2009 992 2.118.300 0,047 2010 899 2.232.586 0,040

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan tabel 23, bahwa rasio Puskesmas Induk, Puskesmas Plus, Puskesmas Keliling dan Puskesmas Pembantu di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2004 mencapai 0,032 dan pada tahun 2008 mencapai 0,043. Rasio ketersediaan Puskesmas, Puskesmas Plus, Puskesmas Keliling dan Puskesmas Pembantu per 1000 penduduk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2008 rasio ketersediaan Puskesmas, Puskesmas plus, Puskesmas keliling dan Puskesmas pembantu mencapai 0,43. Artinya untuk melayani 1000 penduduk tersedia 0,43 Puskesmas, Puskesmas plus, Puskesmas keliling dan Puskesmas pembantu atau tersedia 1 unit Puskesmas atau Puskesmas plus, atau Puskesmas keliling atau Puskesmas pembantu untuk melayani 2.074.974 jiwa penduduk, jika kita membandingkan dengan tahun 2004 dimana 1 unit Puskesmas atau Puskesmas plus, atau Puskesmas keliling atau Puskesmas pembantu untuk melayani 1.911.103 jiwa penduduk, dan untuk tahun 2010 rasio jumlah Puskesmas atau Puskesmas plus, atau Puskesmas keliling atau Puskesmas pembantu mengalami penurunan jumlah yaitu menjadi 0,040 dengan jumlah penduduk sebesar 2.232.586 jiwa.

(34)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 34 Meskipun secara keseluruhan rasio ini masih cukup tinggi, dengan adanya pembangunan fasilitas kesehatan, rasio ini diharapkan agar semakin meningkat sehingga keterjangkauan fasilitas kesehatan oleh penduduk akan semakin mudah.

f. Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk

Rumah sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang berwenang menyelenggarakan pelayanan kesehatan, keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien. Rumah sakit merupakan pusat layanan kesehatan di Provinsi. Rasio

Rumah sakit per satuan penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat dilihat pada tabel 25 berikut.

Tabel.25.Rasio Rumah Sakit Per 10.000 Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun Jumlah RS Penduduk Jumlah Rasio

2004 22 1.911.103 0,12 2005 22 1.960.697 0,11 2006 21 2.001.818 0,10 2007 21 2.031.532 0,10 2008 26 2.074.974 0,13 2009 26 2.118.300 0,12 2010 26 2.232.586 0,12

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan tabel 24 dapat kita lihat rasio rumah sakit per satuan penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara hanya mencapai 0,12 pada tahun 2004 dan pada tahun 2005 rasio rumah sakit mengalami penurunan sebesar 0,11 dengan jumlah penduduk 1.960.697 jiwa, hal ini juga terjadi pada tahun 2006 yang mana rasio rumah sakit per 10.000 penduduk juga mengalami penurunan sebesar 0,10 dan pada tahun 2008 meningkat mencapai 0,13, sedangkan untuk tahun 2010 kembali mengalami penurunan yaitu sebesar 0,12 dengan jumlah penduduk sebesar 2.232.586 jiwa. Dengan adanya penurunan dan peningkatan rasio jumlah rumah sakit untuk melayani per 10.000 penduduk ini tidak mempunyai pengaruh yang sangat berarti, hal ini tentunya di dukung dengan bertambahnya jumlah rumah sakit di Sulawesi

(35)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 35 Tenggara, sehingga untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat secara keseluruhan dapat terpenuhi.

g. Rasio Dokter Per Satuan Penduduk

Rasio dokter per satuan penduduk menunjukkan tingkat pelayanan yang dapat diberikan oleh dokter dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada.

Rasio dokter per 10.000 penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat dilihat pada tabel 26 berikut.

Tabel.26.Rasio Dokter Per 10.000 Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun (Spesialis, Gigi & Umum) Jumlah Dokter Penduduk Jumlah Rasio

2004 304 1.911.103 1.59 2005 284 1.960.697 1.45 2006 282 2.001.818 1.41 2007 309 2.031.532 1.52 2008 332 2.074.974 1.60 2009 424 2.118.300 2.00 2010 472 2.232.586 2.11

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan tabel 25 bahwa rasio dokter (spesialis, gigi dan umum) per satuan penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara mencapai 1,59 pada tahun 2004 dan pada tahun 2005 mengalami penurunan sebesar 1.45 dengan jumlah penduduk sebesar 1.960.697 jiwa, dan pada tahun 2006 kembali mengalami penurunan rasio sebesar 1.41 dengan pertambahan jumlah penduduk sebesar 2.001.818 jiwa, sementara untuk tahun 2007 rasio dokter (spesialis, gigi dan umum) per satuan penduduk mengalami peningkatan sebesar 1.52 dengan pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 2.031.532 jiwa dan untuk tahun 2010 rasio dokter (spesialis, gigi dan umum) per satuan penduduk mengalami peningkatan jumlah yang signifikan yaitu sebesar 2.00 dengan jumlah penduduk sebesar 2.118.300 jiwa. Dengan adanya peningkatan jumlah rasio ketersediaan dokter baik dokter umum, gigi dan spesial secara umum menunjukkan pertambahan setiap tahunnya walaupun jumlahnya tidak terlalu besar. Adanya peningkatan jumlah tenaga dokter ini diharapkan agar pelayanan kesehatan untuk masyarakat secara keseluruhan

(36)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 36 dapat terpenuhi sehingga atau dapat tertangani oleh tenaga dokter yang ahli pada bidang spesialisnya.

h. Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk

Rasio tenaga medis per jumlah penduduk menunjukkan seberapa besar ketersediaan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada penduduk. Rasio tenaga medis per satuan penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010 dapat dilihat pada tabel 27 berikut.

Tabel.27.Rasio Tenaga Medis Per 1.000 Penduduk Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun

Tenaga Medis (Perawat, anastesi, analis lab,

fisioterapi, bidan, sanitarian, gizi) Jumlah Penduduk Rasio 2004 2.126 1.911.103 1,11 2005 3.286 1.960.697 1,68 2006 3.482 2.001.818 1,74 2007 3.392 2.031.532 1,67 2008 5.246 2.074.974 2,53 2009 5.410 2.118.300 2,55 2010 5.494 2.232.586 2,46

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan Tabel tersebut di atas menunjukan rasio tenaga medis (bidan, perawat dan tenaga medis lainnya) per 1.000 penduduk di Provinsi Sulawesi Tenggara mencapai 1,11 pada tahun 2004 dengan jumlah penduduk 1.911.103 jiwa dan pada tahun 2006 mengalami peningkatan rasio sebesar 1.74 dengan jumlah penduduk 2.032.532 jiwa, dan pada tahun 2009 juga mengalami peningkatan rasio mencapai 2,55 dengan jumlah penduduk sebesar 2.118.300 dengan jumlah tenaga medis (bidan, perawat dan tenaga medis lainnya). Tetapi jika kita lihat pada tahun 2010 rasio tenaga medis (bidan, perawat dan tenaga medis lainnya) mengalami penurunan sebesar 2.46 dengan jumlah penduduk 2.232.586 jiwa, walaupun pada tahun ini mengalami penurunan rasio tetapi untuk secara garis besarnya dapat dikatakan terjadi peningkatan pada setiap tahunnya dan ini dapat juga dilihat dengan adanya penanbahan tenaga medis (bidan, perawat dan tenaga medis lainnya), dengan adanya peningkatan jumlah tenaga medis (bidan, perawat

(37)

RPJPD Prov. Sultra Tahun 2005-2025 II- 37 dan tenaga medis lainnya) diharapkan masyarakat sudah mendapatkan pelayanan kesehatan dengan mudah.

i. Persentase Penduduk Berakses Air Minum

Persentase penduduk berakses air bersih adalah proporsi jumlah penduduk yang mendapatkan akses air minum terhadap jumlah penduduk secara keseluruhan. Yang dimaksud akses air bersih meliputi air minum yang berasal dari air mineral, air leding/PAM, pompa air, sumur, atau mata air yang terlindung dalam jumlah yang cukup sesuai standar kebutuhan minimal. Persentase rumah tangga yang menggunakan sumber air minum bersih di Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2004-2010 dapat dilihat pada tabel 28 berikut.

Tabel.28.Persentase Rumah Tangga Menggunakan Sumber Air Minum Bersih Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2004-2010

Tahun Jumlah Pelanggan Air Minum Kategori Rumah Tangga Jumlah Pelanggan Persentase Jumlah Rumah Tangga Yang Menggunakan Air Bersih 2004 42.315 44.131 95,88 2005 32.749 38.876 84,24 2006 37.747 45.625 82,73 2007 38.956 46.604 83,59 2008 34.581 49.101 70,43 2009 43.161 55.696 77,49 2010 53.322 58.446 91,23

Sumber : Sultra Dalam Angka, 2011

Berdasarkan tabel 28, bahwa persentase rumah tangga yang menggunakan sumber air minum bersih di Provinsi Sulawesi Tenggara cukup meningkat dari tahun ke tahun, di mana pada tahun 2005 mencapai 84,24 persen dan meningkat pada tahun 2007 mencapai 83,59 persen, dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan sebesar 91,23 persen. Dengan melihat persentase jumlah rumah tangga yang menggunakan air bersih dapat dikatakan bahwa sudah sebagian besar masyarakat menggunakan air bersih dan ini dapat terlihat jelas pada jumlah pelanggan air minum yang mana pada tiap tahunnya mengalami peningkatan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari data LSD yang didapat, perlakuan betadine salep (kontrol positif) dibandingkan dengan SEDN 5%, SEDN 10% dan SEDN 15% terdapat perbedaan tidak bermakna

Modifikasi yang saya lakukan ini bukan berarti saya menolak bentuk ejaan yang telah ditetapkan oleh para ahli bahasa, melainkan ini adalah bentuk ejaan yang saya pandang lebih

Penanda genetik env SU dengan metode RT- PCR atau PCR dapat digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi sapi Bali yang dicurigai terin- feksi penyakit

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pengelolaan piutang yang dilaksanakan telah sesuai dengan pengendalian internal, data yang digunakan merupakan data primer

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, bahwa dalam rangka penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja

Sedangkan masalah-masalah yang dihadapi oleh para nelyan ini ialah kondisi alam yang tidak menentu, hal ini sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan,

Tidak hanya belajar Mind Map, Anda juga akan mendapatkan software khusus Mind Map yang dirancang langsung oleh tim Tony Buzan, pencipta Mind Map.. Dalam training ini kami

Pada form pelatihan terdapat beberapa tombol buka citra, preprocessing , dan ekstraksi fitur yang merupakan tombol utama untuk menjalankan tahap pelatihan ini. Disamping itu