PERBANDINGAN KEAKURATAN MODEL ARUS KAS METODE
LANGSUNG DENGAN TIDAK LANGSUNG DALAM MEMPREDIKSI
ARUS KAS OPERASI DAN DIVIDEN MASA DEPAN
(Studi pada Perusahaan Sektor Perdagangan yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2011)
Sefdina Nur Azizayanti (0906694)
Pembimbing I : Dr. Arim, SE.,M.Si.,Ak
Pembimbing II : Agus Widarsono, SE.,M.Si.,Ak
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan dari laporan arus kas metode langsung dengan metode tidak langsung dalam memprediksi arus kas operasi dan dividen masa depan. Penelitian ini juga ingin membuktikan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.2 yang menyatakan bahwa metode langsung menyajikan informasi yang lebih akurat untuk memprediksi arus kas operasi dan dividen masa depan.
Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan perdagangan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode laporan keuangan 2008-2011. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling sehingga didapat 13 perusahaan untuk model arus kas operasi masa depan dan 8 perusahaan untuk model dividen masa depan. Dalam penelitian ini digunakan model arus kas dengan menggunakan regresi data panel.
Hasil dari penelitian ini adalah model arus kas dengan metode langsung lebih akurat dibandingkan metode tidak langsung dalam memprediksi arus kas operasi masa depan. Sedangkan untuk kemampuan arus kas dalam memprediksi dividen masa depan, metode langsung lebih akurat dibandingkan dengan metode tidak langsung sehingga penelitian ini membuktikan pernyataan Financial Accounting Standards Board (FASB) bahwa metode langsung lebih konsisten dengan tujuan laporan arus kas salah satunya menilai kemampuan perusahaan dalam membayar dividen.
THE COMPARISON OF THE ACCURACY OF CASH FLOW MODELS
DIRECT AND INDIRECT METHOD TO PREDICT FUTURE
OPERATING CASH FLOWS AND FUTURE DIVIDEN
(Case in Trading Company which Listed on
The Indonesia Stock Exchange during The Period of 2008-2011)
Sefdina Nur Azizayanti (0906694)
Supervisor I : Dr. Arim, SE.,M.Si.,Ak
Supervisor II : Agus Widarsono, SE.,M.Si.,Ak
ABSTRACT
This study aims to determine which one is more accurate between cash flow statement direct method or indirect method in ability to predict future cash flow and future dividend. This study also wants to prove the statement PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) No.2 that the direct method provides information is more useful for predicting the future operating cash flow and future dividend.
The sample in this study is a trading company which is listed on the Indonesia Stock Exchange within the period of 2008-2011. The sampling technique in this study using purposive sampling in order to get 13 companies for the future operating cash flow and 8 companies for future dividend. This study used a model of cash flow using panel data regression.
The results of this study showed that model of cash flow using direct method is more accurate than indirect method in predicting future operating cash flow. As for the cash flow in predicting future dividends, the direct method is more accurate than the indirect method of this study prove that the FASB (Financial Accounting Standards Board) statement that the direct method is more consistent with the purpose of cash flow statements one of which assesses a company's ability to pay dividend.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya setiap perusahaan wajib melaporkan setiap kegiatan
perusahaan kepada para pemangku kepentingan. Kewajiban perusahaan dalam
melaporkan kegiatannya dapat berupa menyusun laporan mengenai setiap
kegiatan perusahaan salah satunya menyusun laporan keuangan. Perusahaan
menyusun laporan keuangan semata-mata demi kepentingan para pemangku
kepentingan seperti pemilik perusahaan, investor, kreditor, dan pengguna laporan
keuangan lainnya.
Pada umumnya laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan
diantaranya laporan neraca, laporan laba rugi komprehensif, laporan arus kas,
laporan perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan. Setiap laporan
keuangan yang dibuat berkaitan satu dengan yang lainnya dan masing-masing
mengandung informasi yang dibutuhkan oleh para pengguna laporan keuangan.
Salah satunya laporan arus kas yang dapat memberikan informasi mengenai
besarnya laporan arus kas masuk dan arus kas keluar dalam suatu periode tertentu.
Laporan arus kas yang dilaporkan oleh perusahaan kepada pihak
pemangku kepentingan sangat membantu dalam melihat keadaan kas perusahaan
dalam periode tertentu. Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) pada tanggal 7
September 1994 mengesahkan pengaturan dan sebagai acuan kerangka dasar
B A B I : P e n d a h u l u a n | 2
Keuangan (PSAK) No.2 mengenai laporan arus kas yang mulai berlaku efektif
pada tanggal 1 Januari 1995.
Dalam PSAK No.2 disebutkan bahwa tujuan dari laporan arus kas yaitu
"sebagai dasar untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan
setara kas serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut".
Dengan mengetahui besarnya arus kas yang dihasilkan oleh perusahaan dan kas
yang akan dikeluarkan untuk pemenuhan kebutuhan perusahaan, maka perusahaan
dapat mengetahui seberapa mampu perusahaan untuk melanjutkan kegiatan
operasinya untuk jangka waktu kedepannya.
Seperti halnya laporan keuangan lainnya laporan arus kas juga
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan lainnya. Laporan
arus kas tidak dapat berdiri sendiri, laporan keuangan lainnya seperti laporan laba
rugi komprehensif, laporan neraca, laporan perubahan ekuitas dan catatan atas
laporan keuangan satu dengan lainnya saling berkaitan agar dapat memberikan
informasi keuangan perusahaan kepada para pengguna laporan keuangan sehingga
mengetahui kondisi keuangan perusahaan apakah dalam keadaan yang baik atau
buruk untuk periode saat ini ataupun bahkan untuk periode kedepannya.
Keterkaitan laporan arus kas dengan laporan-laporan keuangan lainnya yaitu
laporan arus kas dapat memberikan informasi mengenai perubahan dalam aset
neto.
Baik dan buruknya keadaan keuangaan suatu perusahaan bukan hanya
dilihat dari perolehan laba yang tinggi melainkan kemampuan perusahaan
B A B I : P e n d a h u l u a n | 3
diluar kegiatan operasi perusahaan tersebut dan dapat membayar biaya-biaya yang
dibebankan untuk kegiatan operasi perusahaan itu sendiri. Informasi tersebut
dapat dilihat dari laporan arus kas. Dengan arus kas masuk yang dihasilkan
perusahaan maka perusahaan dapat menggunakannya untuk beroperasi, membayar
kewajiban dan membayar dividen. Jika perusahaan tidak dapat menghasilkan kas
yang cukup untuk hal-hal tersebut perusahaan bisa saja tidak dapat melanjutkan
usahanya dan dapat dinyatakan pailit.
Peristiwa pailitnya suatu entitas dikarenakan tidak dapat membayar
kewajibannya banyak terjadi di perusahaan-perusahaan di Indonesia contohnya
adalah perusahaan PT. Dayaindo Resources International Tbk (kode IDX:KARK).
Perusahaan yang dulunya bernama PT Karka Yasa Profilia Tbk adalah perusahaan
sektor perdagangan besar barang produksi berbasis sumber daya alam, energi
yang terbarukan, transportasi, serta infrastuktur. Perusahaan terlilit hutang dan
pailit dalam pengadilan niaga yang diajukan oleh perusahaan Swiss SUEK AG.
Albert Djoko dan Samuel Febriyanto (www.tribunnews.com) menyebutkan
"perusahan sebelumnya memperoleh laba yang besar di kuartal II-2010 yaitu
756,8 % dari Rp 8,171 Milyar menjadi Rp 70,017 Milyar per 30 September 2010".
Akibat gugatan pailit ini, pada 18 Juli 2012 Bursa Efek Indonesia (BEI)
menghentikan sementara (suspensi) perdagangan saham KARK. Pada sidang yang
digelar pada tanggal 17 Juli 2013, majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat
menyatakan PT. Dayaindo Resources International dinyatakan pailit karena
B A B I : P e n d a h u l u a n | 4
penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) perusahaan itu setelah 7 bulan
lamanya.
Dari peristiwa PT. Dayaindo Resources International tersebut, dapat
disimpulkan bahwa perusahan tidak dapat membayar kewajiban/hutang kepada
pemasok dikarenakan uang kas yang diperoleh dari kegiatan operasi perusahaan
tidak mencukupinya. Dengan laba yang besar tidak menjamin kelangsungan
hidup perusahaan. Suatu perusahaan sangat bergantung pada kas yang dihasilkan.
Tidak hanya dari aktivitas operasi perusahaan saja tetapi juga dari kas yang
dihasilkan dari kegiatan selain operasi perusahaan seperti dari hasil investasi.
Dengan pernyataan tersebut dapat membuktikan bahwa laporan arus kas/cash flow
diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan, selain itu pernyataan diatas
menunjukkan bahwa laporan arus kas mampu memprediksi keadaan arus kas
masa depan sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh Magdalena Nany
(2012) dan Farshadfar et al (2008) .
Laporan arus kas pada dasarnya diklasifikasikan menurut aktivitas
operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Hal tersebut terdapat dalam
pernyataan PSAK No.2, dengan demikian perusahaan dapat lebih memahami
pengaruhnya terhadap laporan keuangan perusahaan serta dapat mengevaluasi
hubungan antar aktivitas.
PSAK No. 2 menyebutkan dalam paragraf 12 bahwa jumlah kas yang
berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator utama untuk menentukan
apakah operasi entitas dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi
B A B I : P e n d a h u l u a n | 5
melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar.
Dalam SFAC (Statement of Financial Accounting Concepts) No. 1 disebutkan
bahwa laporan keuangan yang disajikan perusahaan harus dapat menyediakan
informasi yang membantu para pengguna lapora keuangan dalam menilai jumlah,
waktu, ketidakpastian prospek penerimaan kas dari dividen atau bunga dan
pendapatan dari penjualan, pelunasan dari sekuritas atau utang. Dengan demikian
laporan arus kas berhubungan dalam memprediksi pembayaran dividen
perusahaan kepada pemegang saham di masa depan. Pernyataan tersebut
didukung dengan adanya penelitian yang dilakukan Jen Surya (2010) yang
menunjukkan bahwa arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap dividen kas
yang dapat memprediksi jumlah dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan.
Dalam PSAK No.2 disebutkan bahwa terdapat dua metode yang dapat
digunaakan dalam menyusun laporan arus kas dari aktivitas operasi yaitu metode
langsung dan tidak langsung. Kedua metode ini pada dasarnya sama-sama
menghasilkan angka yang serupa dalam menyajikan jumlah kas bersih.
Kebanyakn perusahaan lebih memilih untuk menggunakn metode langsung dalam
penyajian laporan arus karena lebih mudah dipahami, selain itu FASB yakin
bahwa penyajian laporan arus kas dengan menggunakan metode langsung lebih
berguna dan mendorong perusahaan untuk menerapkannya. FASB menganggap
bahwa metode ini lebih konsisten dengan tujuan dari laporan arus kas
dibandingkan dengan metode tidak langsung yang tidak melaporkan penerimaan
B A B I : P e n d a h u l u a n | 6
Penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti mengenai kemampuan
metode langsung dan tidak langsung dalam penyajian laporan arus kas untuk
memprediksi arus kas dan dividen masa depan, banyak terjadi pro dan kontra yang
ditunjukkan dari hasil penelitian itu sendiri. Seperti penelitian yang dilakukan
Handri Thiono (2005) yang menunjukan bahwa metode langsung lebih akurat
dibanding metode tidak langsung untuk memprediksi arus kas masa depan. Selain
itu tidak terdapat perbedaan keakuratan model metode langsung dengan tidak
langsung dalam memprediksi deviden masa depan. Sedangkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Gunar Prima S (2008) adalah kemampuan prediksi model
arus kas metode langsung lebih baik dalam memprediksi deviden masa depan
daripada model arus kas metode tidak langsung.
Dengan uraian penjelasan dan fenomena yang telah dipaparkan diatas
maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai kemampuan keakuratan dari
metode langsung dan tidak langsung dalam memprediksi arus kas dan dividen
masa depan dengan judul penelitian " Perbandingan Keakuratan Model Arus Kas
Metode Langsung dan Tidak Langsung dalam Memprediksi Arus Kas Operasi dan
Dividen Masa Depan" dengan sampel penelitian perusahaan perdagangan di
Indonesia yang listing di BEI (Bursa Efek Indonesia) dengan periode laporan
keuangan 2008-2011.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas penulis sebagai
B A B I : P e n d a h u l u a n | 7
langsung dalam laporan arus kas sehingga penulis merumuskan beberapa rumusan
masalah untuk penelitian ini diantaranya :
1. Apakah model arus kas metode langsung lebih akurat dibandingkan dengan
model arus kas metode tidak langsung dalam memprediksi arus kas operasi
masa depan?
2. Apakah model arus kas metode langsung lebih akurat dibandingkan dengan
model arus kas metode tidak langsung dalam memprediksi dividen masa
depan?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian
Adapun maksud dari penelitian ini adalah mengetahui kemampuan dari
metode dalam penyajian arus kas dalam memprediksi arus kas dan dividen masa
depan dan membuktikan pernyataan FASB dalam SFAS No.95 dan pernyataan
PSAK No.2 bahwa metode langsung menghasilkan informasi yang berguna dalam
mengestimasi arus kas operasi masa depan yang tidak dapat dihasilkan oleh
metode tidak langsung.
1.3.2 Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini
diantaranya:
1. Untuk mengetahui apakah model arus kas metode langsung lebih akurat
dibandingkan dengan model arus kas metode tidak langsung dalam
B A B I : P e n d a h u l u a n | 8
2. Untuk mengetahui apakah model arus kas metode langsung lebih akurat
dibandingkan dengan model arus kas metode tidak langsung dalam
memprediksi dividen masa depan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Aspek Akademis
Adapun kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan yang berarti dalam pengembangan ilmu ekonomi khususnya akuntansi.
Peneliti berharap hasil dari penelitian ini dapat dijadikan bahan refensi dan
perbandingan untuk penelitian-penelitian selanjutnya dalam bidang pelaporan
keuangan khususnya laporan arus kas.
1.4.2 Aspek Praktis
1. Menjadi referensi bagi pihak-pihak yang berkaitan dalam pemilihan metode
penyusunan pelaporan arus kas.
2. Dapat membantu pembaca untuk memahami kemampuan dari metode
langsung dan tidak langsung dalam memprediksi arus kas dan dividen masa
BAB III
OBYEK DAN METODE PENELITIAN
3.1 Obyek Penelitian
Menurut Sugiyono (2010:13), definisi dari obyek penelitian yaitu:
“Sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu
tentang sesuatu hal objektif, valid, dan reliabel tentang suatu hal (variabel
tertentu)”.
Obyek dalam penelitian ini adalah arus kas operasi metode langsung dan
arus kas operasi metode tidak langsung, serta arus kas mas depan dan dividen
masa depan.
Penelitian ini akan dilakukan pada perusahaan-perusahaan Go-Public
yang berada pada sektor perdagangan di Indonesia, yang mempublikasikan
laporan keuangannya di Bursa Efek Indonesia tahun 2008-2011. Alasan penulis
memilih perusahaan perdagangan sebagai obyek dari penelitiannya yaitu
dikarenakan fenomena kepailitanan yang dialami oleh perusahaan Perdagangan
PT. Dayaindo Resources International baru-baru ini. Perusahaan tersebut tidak
dapat melunasi hutangnya kepada pemasok sehingga mengalami kepailitan yang
memungkinkan kurangnya evaluasi atas laporan keuangan dalam memprediksi
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 32
3.2 Metode Penelitian
3.2.1 Desain Penelitian
Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif.
Gunar Prima (2008:39) menyatakan pernyataan mengenai penelitian deskriptif
yaitu "metode ini bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena tetapi
juga menerangkan hubungan, menguji hipotesa-hipotesa, membuat prediksi serta
mendapatkan makna dari suatu masalah yang ingin dipecahkan". Dalam
menjawab pertanyaan pada rumusan masalah maka penelitian ini merupakan
penelitian komparatif/perbandingan yaitu membandingkan manakah yang lebih
akurat antara metode langsung dan metode tidak langsung dalam penyusunan
laporan arus kas untuk memprediksi arus kas dan dividen masa depan.
3.2.2 Definisi dan Operasionalisasi Variabel
Definisi variabel penelitian menurut Sugiyono (2012:58) adalah segala
sesuatu yang berbentuk apa sajayang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya.
Variabel Dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono 2012:59). Dalam penelitian ini
variabel dependennya yaitu:
a. Arus kas operasi masa depan yaitu jumlah arus kas dari aktivitas operasi yang
dihasilkan dari transaksi kas dan diakui sebagai pendapatan operasi
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 33
b. Dividen masa depan yaitu jumlah dividen yang dibayarkan oleh perusahaan
kepada pemegang saham dalam satu periode (t+1)
Variabel Independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono
2012:59). Dalam penelitian ini variabel independennya terdiri dari komponen
laporan arus kas metode langsung dan komponen laporan arus kas metode tidak
langsung. Adapun variabel independen dari laporan arus kas metode langsung
komponennya terdiri dari:
a. Arus kas masuk adalah arus kas masuk yang diperoleh dari aktivitas operasi
yaitu kas yang diterima dari pelanggan.
b. Arus kas keluar adalah arus kas yang dikeluarkan perusahaan untuk
membiayai aktivitas operasinya yaitu kas yang dibayarkan kepada pemasok
dan karyawan, pembayaran bunga, pajak, dan lain-lain.
Sedangkan variabel independen dari laporan arus kas metode tidak
langsung komponennya terdiri dari:
a. Laba bersih adalah total laba yang diperoleh perusahaan baik yang
berhubungan langsung dengan kegiatan operasi perusahaan maupun yang
tidak berhubungan langsung dengan kegiatan operasi perusahaan.
b. Akrual adalah item-item diluar laba yang sama sekali tidak mempengaruhi
kas pada periode berjalan. Yang termasuk komponen akrual adalah item-item
yang mengurangi laba bersih dengan arus kas yaitu depresiasi dan amortisasi,
piutang, persediaan, beban dan pajak dibayar dimuka, serta hutang dagang
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 34
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Indikator Skala
Independen (X1.1) Laba Usaha ( )
Laba usaha yang diperoleh perusahaan pada periode t
Rasio
(X1.2) Piutang ( )
Piutang perusahaan pada periode t Rasio (X1.3) Biaya dibayar dimuka dan Pajak dibayar dimuka ( )
Biaya dibayar dimuka dan pajak dibayar dimuka perusahaan pada periode t
Rasio
(X1.4)
Persediaan ( )
Persediaan yang dimiliki perusahaan pada periode t
Rasio
(X1.5)
Depresiasi dan Amortisasi ( )
Depresiasi dan amortisasi perusahaan pada periode t
Rasio
(X1.6)
Hutang Usaha ( )
Hutang usaha yang dimiliki perusahaan pada periode t
Rasio
(X2.1)
Arus Kas Masuk ( )
Arus kas masuk yang diterima dari pelanggan oleh perusahaan selama periode t
Rasio
(X2.2)
Arus Kas keluar ( )
Arus kas yang dikeluarkan perusahaan yang dibayarkan kepada pemasok dan karyawan, pembayaran bunga, pajak, dan lain-lain
Rasio
Dependen (Y1) Arus Kas Operasi Masa depan ( )
Arus kas dari aktivitas operasi perusahaan pada periode (t+1)
Rasio
(Y2)
Dividen Masa depan ( )
Dividen yang dibayarkan perusahaan pada periode (t+1)
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 35
3.2.3 Model Penelitian
Dalam penelitian ini dibutuhkan model penelitian untuk membandingan
keakuratan metode arus kas langsung dan metode arus kas tidak langsung dalam
memprediksi arus kas dan dividen masa depan. Pembentukan model penelitian
dalam memprediksi arus kas dan dividen dimasa depan didasarkan pada Penman
(2003) dan dikembangkan oleh Gunar Prima (2008).
Dalam Penman (2003:664-663) fundamental beta models yang
dinyatakan dalam regresi dapat digunakan juga dalam memprediksi cash flow
variability dan dividend yield. Adapun dalam Penman (2003:327) menyatakan
bahwa dalam metode langsung, perbedaan dari kas masuk dan kas keluar adalah
arus kas operasi. Sedangkan dalam metode tidak langsung Penman (2003:327)
menyatakan "The indirect method calculates cash from operation by adding back
accrual components of net income."
Sedangkan maksud dari pengembangan yang dilakukan oleh Gunar
Prima (2008) yaitu yang dimaksud dari akrual dalam metode arus kas tidak
langsung yang disebutkan dalam Penman (2003) yaitu menjabarkan yang
termasuk kedalam komponen akrual tersebut.
Adapun model penelitian untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
(1.1)
(1.2)
(2.1)
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 36
Keterangan:
= Konstanta
= Arus kas operasi perusahaan, periode (t+1)
= Dividen perusahaan, periode (t+1)
= Arus kas masuk perusahaan, periode t
= Arus kas keluar perusahaan, periode t
= Laba Usaha perusahaan, periode t
= Piutang perusahaan, periode t
= Biaya dibayar dimuka dan Pajak dibayar dimuka perusahaan,
periode t
= Persediaan perusahaan, periode t
= Depresiasi dan Amortisasi perusahaan, periode t
= Hutang usaha perusahaan, periode t
= faktor lain yang dapat mengganggu variabel model
Model diatas merupakan model yang akan digunakan dalam penelitian
ini. Model (1.1) adalah model prediksi arus kas operasi dari metode langsung,
sedangkan model prediksi dividen masa depan dari metode langsung adalah
model (2.1). Model dari metode tidak langsung untuk prediksi arus kas operasi
masa depan adalah model (1.2) sedangkan model (2.2) adalah model untuk
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 37
3.2.4 Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.3.1Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2012:115) adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas "obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya".
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan dari sektor
perdagangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berjumlah 66
perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan pada tahun 2008 s/d 2011.
3.2.3.2Sampel
Definisi sampel menuru Sugiyono (2012:116) adalah bagian dari jumlah
dan karateristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil untuk
penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang didasarkan ata
kriteria-kriteria berikut ini:
a. Perusahaan perdagangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan
mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit dari tahun 2008-2011
b. Perusahaan tidak mengalami kerugian atau arus kas operasi negatif selama
tahun 2008-2011
c. Laporan keuangan perusahaan dinyatakan dalam mata uang Indonesia
(Rupiah)
d. Perusahaan membayar dividen kas dari laba tahun berjalan sepanjang tahun
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 38
Tabel dibawah ini memaparkan jumlah sampel yang dipilih berdasarkan
kriteria purposive sampling.
Tabel 3.2
Kriteria Purposive Sampling untuk Model Prediksi Arus Kas Operasi dan
Dividen Masa Depan
Jumlah perusahaan Perdagangan terdaftar di BEI periode
2008-2011 56
Perusahaan mengalami kerugian atau arus kas operasi negatif selama
tahun 2008-2011 (22)
Laporan keuangan perusahaan tidak dalam mata uang Rupiah (5)
Data keuangan tidak lengkap (16)
Jumlah sampel akhir (model prediksi arus kas operasi masa depan) 13
Perusahaan tidak membagikan dividen kas selama tahun 2008-2011 (5)
Jumlah sampel akhir (model prediksi dividen masa depan) 8
[image:18.595.107.525.252.746.2]Berikut ini merupakan nama-nama perusahaan untuk penelitian ini.
Tabel 3.3
Daftar Nama Perusahaan Sampel Model Prediksi Arus Kas Operasi Masa
Depan
No Kode
Saham Nama Perusahaan Tanggal IPO 1 ACES PT. Ace Hardware Indonesia Tbk 6 November 2007 2 AKRA PT. AKR Corporindo Tbk 30 Oktober 1994 3 EMPT PT. Enseval Putera Megatrading Tbk 1 Agustus 1994 4 HERO PT. Hero Supermarket Tbk 2 Desember 1989 5 INTA PT. Intraco Penta Tbk 23 Agustus 1993
6 JKON PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama
Tbk 4 Desember 2007
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 39
[image:19.595.110.527.224.606.2]12 TURI PT. Tunas Ridean Tbk 6 Mei 1995 13 UNTR PT. United Tractor Tbk 19 September 1989
Tabel 3.4
Daftar Nama Perusahaan Sampel Model Prediksi Dividen Masa Depan
No Kode
Saham Nama Perusahaan Tanggal IPO 1 ACES PT. Ace Hardware Indonesia Tbk 6 November 2007 2 AKRA PT. AKR Corporindo Tbk 30 Oktober 1994 3 EMPT PT. Enseval Putera Megatrading Tbk 1 Agustus 1994
4 JKON PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama
Tbk 4 Desember 2007
5 MPPA PT. Matahari Putra Prima Tbk 21 Desember 1992 6 RALS PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk 24 Juli 1996 7 TURI PT. Tunas Ridean Tbk 6 Mei 1995 8 UNTR PT. United Tractor Tbk 19 September 1989
3.2.5 Sumber Data
Data dari penelitian ini merupakan data sekunder yaitu laporan keuangan
perusahaan yang di download dari situs Bursa Efek Indonesia (BEI)
www.idx.co.id yang berupa laporan neraca, laporan laba rugi komprehensif,
laporan perubahan modal, laporan arus kas dan Catatan atas laporan keuangan
tahun 2008-2011.
Data yang disajikan dalam laporan arus kas perusahaan yang tersedia di
situs BEI merupakan data laporan arus kas dengan menggunakan metode
langsung, sedangkan laporan arus kas dengan metode tidak langsung untuk
memperolehnya dibutuhkan komponen-komponen data dari laporan keuangan
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 40
untuk variabel mengenai dividen dapat diperoleh melalui laporan perubahan
modal perusahaan.
3.2.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berupa data
panel yaitu gabungan antara data time series dan data cross-section. Menurut
Prapto Yuwono (2005:25) data time series adalah data suatu variabel yang diamati
dalam jarak waktu tertentu dengan satu satuan pengamatan. Sedangkan data
cross-section adalah data suatu variabel yang diamati hanya pada satu titik waktu
dengan memakai sejumlah satuan pengamatan.
Data time series dari penelitian ini adalah membandingkan 13 perusahaan
sektor Perdagangan yang ada di Indonesia, sedangkan data cross-section dari
penelitian ini adalah data yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan
perusahaan dari tahun 2008 sampai tahun 2011.
Metode yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini
merupakan data sekunder yaitu mengumpulkan laporan keuangan tahunan dan
mengkaji komponen-komponen dalam laporan keuangan setiap perusahaan dari
tahun 2008 sampai dengan tahun 2011.
3.2.7 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
3.2.7.1Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dari penelitian ini menggunakan model regresi data
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 41
menganalisis data pada penelitian ini karena merupakan salah satu kriteria yang
dipergunakan dalam pemilihan model regresi data panel. Menurut Gunar Prima S
(2008:46) pada saat ini, analisis regresi berguna untuk menelaah hubungan yang
modelnya belum diketahui dengan sempurna sehingga dalam penerapannya
bersifat eksploratif.
3.2.7.1.1 Analisis Regresi dan Uji Asumsi Klasik
1. Regresi Berganda
Sugiyono (2012) menyatakan bahwa regresi berganda digunakan bila
peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel
dependen, bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor
dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya). Dapat disimpulkan bahwa regresi
berganda ini digunakan jika variabel independennya berjumlah lebih dari 2
dengan persamaan:
Y = a + + + ... + Rumus... (3.1)
Keterangan:
Y = subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan.
a = harga Y bila X=0 (harga konstan)
b = angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan
ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel
independen. Bila b (+) maka naik, bila b(-) maka terjadi penurunan.
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 42
2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dalam penelitian ini sama halnya dengan model regresi
linier klasik karena model regresi data panel merupakan perluasan dari model
regresi klasik.
a) Uji Normalitas
Uji normalitas hanya digunakan jika jumlah observasi adalah kurang dari
30, untuk mengetahui apakah error term mendekati distribusi normal. Dalam
mengambil kesimpulan maka pedoman yang digunakan dalam uji ini adalah
sebagai berikut:
1. Jika p 0,05 maka distribusi data normal
2. Jika p 0,05 maka distribusi data tidak normal
b) Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas ini digunakan untuk mengetahui adanya korelasi
antara variabel bebas satu dengan yang lainnya. Shochrul, dkk (2011:35)
mengakatakan bahwa "multikolinieritas berarti adanya hubungan linier yang
sempurna atau pasti, di antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan
dari model regresi". Terjadinya multikolinieritas apabila koefisien korelasi di
antara masing-masing variabel bebas lebih besar dari 0,8.
Dalam uji multikolinieritas maka digunakan Variance Inflation Factor
(VIF). VIF adalah suatu estimasi berapa besar multikolinieritas meningkatkan
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 43
2008:49). Jika nilai dari VIF tidak melebihi 10 maka model terbebas dari
multikolinieritas.
c) Uji Autokorelasi
Shochrul dkk (2011:40) menyatakan bahwa "Autokorelasi (atau
otokorelasi) menunjukkan korelasi di antara anggota serangkaian observasi yang
diurutkan menurut waktu atau ruang. Pengujian untuk mengetahui masalah
autokorelasi yang paling banyak digunakan adalah metode Durbin-Watson
(Prapto Yuwono 2005:142). Shochrul dkk (2011:40) mengungkapkan hal-hal
yang dapat dilakukan dalam mendeteksi adanya autokorelasi salah satunya dengan
mengetahui dari hasil estimasi nilai Durbin-Watson statistik relatif kecil, yaitu
sebesar 0,492 artinya ada kemungkinan terjadi masalah autokorelasi. Ketentuan
Durbin-Watson statistik adalah sebagai berikut:
maka tidak ada autokorelasi
atau maka tidak dapat disimpulkan
atau maka terjadi autokorelasi
d) Uji Heteroskedastisitas
Menurut Shochrul dkk (2011:36) heteroskedasitas merupakan keadaan
dimana semua gangguan yang muncul dalam fungsi regresi populasi tidak
memiliki varians yang sama. Uji heteroskedasitas dapat dilakukan dengan cara
melihat pola residual dari hasil estimasi regresi apakah konstan atau membentuk
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 44
membentuk pola maka di indikasi adanya heteroskedastisitas. Uji
heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji Glejser. Kriteria dari uji
Glejser ini adalah sebagai berikut:
Ho : Tidak ada gejala heteroskedastisitas
Ha : Ada gejala heteroskedastisitas
Ho diterima apabila nilai p value atau signifikansi > 0,05
3.2.7.1.2 Pengujian Model Arus Kas
Model diuji untuk menentukan nilai konstanta dengan menggunakan
bantuan dari program SPSS versi 13.0. Dari hasil pengolahan SPSS tersebut selain
didapat nilai konstanta maka dapat terlihat nilai dari koefisien determinasi.
Menurut Suharyadi dan Purwanto (2009:162) yang dimaksud dengan
koefisien determinasi yaitu:
koefisien determinasi adalah bagian dari keragaman total variabel terikat Y (variabel yang dipengaruhi atau dependent) yang dapat diterangkan atau diperhitungkan oleh keragaman variabel bebas X (variabel yang
memengaruhi atau independent).
Selain itu Suharyadi dan Purwanto (2009:162) juga menyatakkan bahwa
semakin besar koefisien determinasi menunjukkan semakin baik kemampuan X
menerangkan Y. Nilai R berkisar antara 0 sampai dengan 1. Semakin nilai R
mendekati satu maka semakin baik, sedangkan semakin nilai R mendekati 0 maka
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 45
3.2.7.1.3 Perhitungan dan Pengujian Nilai Kesalahan Prediksi Model.
Dalam menguji kemampuan model arus kas dari penelitian ini maka nilai
kesalah prediksi (APE/absolute precentage error) digunakan dalam penelitian ini.
APE itu sendiri berguna untuk menilai/mengukur kemampuan ataupun keakuratan
prediksi dari masing-masing model arus kas dalam memprediksi arus kas dan
dividen masa depan.
APE dapat menunjukkan seberapa besar kesalahan prediksi dibandingkan
dengan nilai realisasi dari peiode satu ke periode berikutnya. Rumus dari APE itu
sendiri adalah:
̂ x 100% Rumus ...(3.2)
Keterangan:
APE = absolute precentage error
A = Nilai realisasi
̂ = Nilai prediksi model
3.2.7.2 Pengujian Hipotesis
Hipotesis pada dasarnya merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah dari suatu penelitian. Pengujian hipotesis statistik dalam
penelitian ini yaitu berkaitan dengan manakah yang lebih akurat dalam
memprediksi arus kas dan dividen masa depan apakah kemampuan dari metode
langsung dan atau metode tidak langsung. Maka hipotesis statistik dirumuskan
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 46
Ho : Metode langsung lebih akurat dibandingkan dengan metode tidak langsung
dalam memprediksi arus kas operasi dan dividen masa depan.
Ha : Metode langsung tidak lebih akurat dibandingkan metode tidak langsung
dalam memprediksi arus kas operasi dan dividen masa depan.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji normalitas dari APE (Nilai
Kesalahan Prediksi) seluruh sampel terlebih dahulu dengan menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program SPSS. Apabila APE terdistribusi
normal maka pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji parametrik,
sedangkan jika tidak berdistribusi normal maka digunakan uji nonparametrik
(Emory dan Cooper [1991] dalam Handri Thiono [2006]).
Untuk uji statistik parametrik dalam menguji keakuratan metode
langsung dan tidak langsung dalam memprediksi arus kas dan dividen masa depan
maka digunakan uji t dengan rumus (Douglas A. Lind et al, 2007:507):
√ ̅ Rumus ...(3.3)
Dimana
̅ ∑ dan √∑ ∑
Keterangan:
D = beda rata-rata (mean difference)
= deviasi standar (standar deviation)
Dengan kriteria pengujian:
B A B I I I : O b y e k d a n M e t o d e P e n e l i t i a n| 47
Sedangkan untuk uji statistik nonparametrik yang digunakan untuk
menguji keakuratan metode langsung dan tidak langsung dalam memprediksi arus
kas dan dividen masa depan maka digunakan uji Wilcoxon-signed rank test
dengan rumus sebagai berikut (M. Iqbal Hasan, 2001:304-305):
Rumus ...(3.4)
Dimana:
dan √
Keterangan:
T= Jumlah rank dengan tanda paling kecil
Dengan kriteria pengujian:
atau
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai perbandingan keakuratan arus kas metode
langsung dan tidak langsung dalam memprediksi arus kas dan dividen masa depan
dengan sampel perusahaan perdagangan yang listing di Bursa Efek Indonesia
periode 2008-2011, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam memprediksi arus kas operasi masa depan, metode langsung memiliki
kemampuan prediksi yang lebih akurat dibandingkan dengan metode tidak
langsung. Dengan demikian, hasil penelitian ini mendukung metode yang
dianjurkan dalam PSAK No.2 untuk menyajikan laporan arus kas perusahaan
yaitu metode langsung. Selain itu, membuktikan pernyataan dalam PSAK
No.2 paragraf 18 disebutkan bahwa "metode ini menghasilkan informasi yang
berguna dalam mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat
dihasilkan oleh metode tidak langsung".
2. Sedangkan untuk kemampuan arus kas metode langsung dan tidak langsung
dalam memprediksi dividen masa depan, hasil dari perhitungan statistik
penelitian ini menunjukkan bahwa model arus kas metode langsung lebih
akurat dibandingkan dengan model arus kas metode tidak langsung. Dengan
demikian penelitian ini membuktikan bahwa pernyataan FASB dalam Handri
Thiono (2005:7) bahwa metode langsung lebih konsisten dengan tujuan
laporan arus kas, yaitu menyediakan informasi penerimaan dan pengeluaran
B A B V : K e s i m p u l a n d a n S a r a n | 97
dalam penyajian laporan arus kas lebih baik dibandingkan metode tidak
langsung dalam menilai kemampuan perusahaan membayar dividen.
5.2 Saran
Adapun beberapa saran untuk perusahaan maupun untuk penelitian
selanjutnya, diantaranya:
1. Pada dasarnya penyajian laporan arus kas dari aktivitas operasi menggunakan
metode langsung dalam laporan keuangan perusahaan dianjurkan dalam
PSAK No.2, jika perusahaan ingin menyajikan laporan arus kas dari aktivitas
operasi dalam metode tidak langsung dianjurkan dicatat dalam catatan atas
laporan keuangan saja supaya pengguna laporan keuangan mengetahui secara
rinci mengenai penurunan dan kenaikan aktivitas akrual perusahaan.
2. Penelitian sebelumnya memilih perusahaan manufaktur sebagai sampel,
sedangkan penelitian ini menggunakan sampel perusahaan perdagangan yang
listing di Bursa Efek Indonesia yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan
perusahaan manufaktur. Untuk penelitian selanjutnya, penulis menyarankan
untuk mengambil sampel dari perusahaan yang bergerak disektor lain dan
menambah periode pengamatannya.
3. Penelitian lainnya dapat menguji kemampuan laporan arus kas lainnya seperti
DAFTAR PUSTAKA
Ajija, Shochrul R., et al. (2011). Cara Cerdas Menguasai Eviews. Jakarta: Salemba Empat.
Ambarwati, Sri Dwi Ari. (2010). Manajemen Keuangan Lanjut. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Djoko, Albert dan Samuel Febriyanto. (2013). Bangkrut Usai Untung Besar. Tersedia: http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/01/26/bangkrut-usai-untung-besar. Html [31 Oktober 2013]
Donald E. Kieso et.al. (2008). Akuntansi Intermediate jilid 1 edisi 12. Jakarta: Erlangga.
Douglas A. Lind et.al. (2007). Teknik-teknik Statistika dalam Bisnis dan Ekonomi Menggunakan Kelompok Data Global. Jakarta: Salemba Empat.
Farshadfar, Shadi et al. (2008). The relative ability of earnings and cash flow data in forecasting future cash flows. Pacific Accounting Review. Vol. 20 No.3 p. 254-268. Tersedia.
http://www.emeraldinsight.com/journals.htm?issn=0114-0582&volume=20&issue=3&articleid=1748111&show=pdf. Html [10 September 2013]
Harahap, Sofyan Syafri. (2007). Teori Akuntansi.Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Hery. (2009). Akuntansi Keuangan Menengah 1. Jakarta: Bumi Aksara.
Hery. (2013). Akuntansi Dasar 1 dan 2. Jakarta: Garsindo.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2007). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Iqbal, M. Hasan. (2001). Pokok-pokok Materi Statistika 2(Statistik Inferensif). Jakarta: Bumi Aksara
Nany, Magdalena. (2012). Analisis Kemampuan Prediksi Arus Kas Operasi (Studi Pada Bursa Efek Indonesia). Jurnal Dinamika Akuntansi Vol. 5 No.1. p. 35-46. Tersedia. http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jda/article/download/2561/2614. Html [12 September 2013]
Penman, Stephen H. (2003). Financial Statement Analysis and Securities Valuation. Singapore: Mc Graw Hill.
Prima S, Gunar. (2008). Perbandingan Keakuratan Model Arus Kas Metode Langsung dan Tidak Langsung dalam Memprediksi Arus Kas Operasi dan Deviden Masa Depan. Skripsi. Bandung: Universitas Padjajaran.
Simamora, Henry. (2000). Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis Jilid II. Jakarta: Salemba Empat.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
Suharyadi, dan Purwanto S.H. (2009). Statistik untuk ekonomi dan Keuangan Modern Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.
Surya, Jen. (2010). Pengaruh laba, arus kas operasi dan arus kas bebas terhadap dividen kas (studi pada emiten manufaktur di bursa efek indonesia). Jurnal Investasi Vol. 6 No. 2. p. 111-123. Tersedia. http://infestasi.trunojoyo.ac.id/admin/download.php?id=18.html [8 Oktober 2013]
Surya, Raja Adri Satriawan. (2012). Akuntansi Keuangan versi IFRS. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Thiono, Handri. (2006). Perbandingan Keakuratan Model Arus Kas Metode Langsung dan Tidak Langsung dalam Memprediksi Arus Kas Operasi dan Deviden Masa Depan. Padang: Simposium Nasional Akuntansi IX.
Wibowo dan Abubakar Arif. (2003). Pengantar Akuntansi II. Jakarta: Grasindo.
Yadianti, Winwin. (2007). Teori Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Kencana.