• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 BERBAH.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 BERBAH."

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR

KOGNITIF SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 BERBAH Oleh

Hanifah NIM 12312241032

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan proses sains siswa kelas VII SMP N 2 Berbah, (2) pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas VII SMP N 2 Berbah.

Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain penelitian noneqivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas VII SMP N 2 Berbah tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah empat kelas. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik cluster random sampling. Kelas VII B sebagai kelas eksperimen yang diberikan perlakuan menggunakan pembelajaran dengan pendekatan saintifik, sedangkan kelas VII C sebagai kelas kontrol yang diberikan perlakuan menggunakan pembelajaran dengan pendekatan berbasis KTSP yang menerapkan Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi (EEK). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterampilan proses sains dan lembar soal hasil belajar kognitif siswa. Uji prasyarat menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji regresi linier sederhana menggunakan program SPSS 18.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pendekatan saintifik berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa kelas VII SMP N 2 Berbah yang ditunjukkan oleh angka signifikansi kurang dari 0,05. Besarnya pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan proses sains siswa adalah 32,5%. (2) pendekatan saintifik berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas VII SMP N 2 Berbah yang ditunjukkan oleh angka signifikansi kurang dari 0,05. Besarnya pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar kognitif siswa adalah 26,8%.

(2)

THE EFFECT OF THE SCIENTIFIC APPROACH ON THE SCIENCE PROCESS SKILLS AND COGNITIVE LEARNING OUTCOMES IN THE

7TH GRADE OF SMPN 2 BERBAH Written By

Hanifah 12312241032

ABSTRACT

This research aims to analyze: (1) the effect of the scientific approach on the 7thgrade student’s science process skills in SMP N 2 Berbah, and (2) the effect of the scientific approach on the 7th grade student’s cognitive learning outcomes in SMP N 2 Berbah.

This research is a quasi-experimental with nonequivalent control group design. The population in this research were 7th grade students in SMP N 2 Berbah periode 2015/2016 which consist of four classes. Random cluster sampling technique was used in this research. VII B was as the experimental group given treatment using a scientific approach, while the VII C was as the control group given the treatment using KTSP that applied Exploration, Elaboration, and Confirmation (EEK). The instruments of the research were the observation sheets of science process skills and the cognitive learning outcomes test. Prerequisite testing used test of normality and homogeneity test. The simple linear regression analysis by SPSS 18 is used to test hypothesis.

The results show that: (1) The scientific approach has an effect to the 7th grade student’s science process skills in SMP N 2 Berbah. The significance level is less than 0.05. The scientific approach effected the science process skill on 32.5%. (2) The scientific approach has an effect to the 7th grade student’s cognitive learning outcomes in SMP N 2 Berbah. The significance level is less than 0.05. The scientific approach effected the cognitive learning outcomes on 26.8%.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam peningkatan

sumber daya manusia dan salah satu kunci keberhasilan dalam pembangunan

nasional di Indonesia. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20

Tahun 2003 Bab I Pasal I Ayat 1 menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha

sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa, dan negara.

Pendidikan, dapat diartikan usaha sadar dan terencana dalam

mewujudkan proses belajar mengajar sepanjang hayat, di mana saja, kapan

saja, dan untuk seluruh lapisan usia. Kesadaran akan pentingnya pendidikan

telah mendorong masyarakat untuk melakukan berbagai upaya dan perhatian

sehingga perkembangan pendidikan semakin pesat, terutama di bidang ilmu

pengetahuan dan teknologi informasi, dimana Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

memiliki kaitan erat dengan kemajuan IPTEK. Dikembangkannya pasar bebas

di Asia Tenggara di tahun 2015 ini juga menuntut IPA untuk ikut andil dalam

meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui proses pembelajaran di

sekolah sehingga proses pembelajaran yang berlangsung hendaknya proses

(4)

Proses pembelajaran dapat diartikan kegiatan dimana terjadi

penyampaian materi pembelajaran dari pendidik kepada peserta didik. Dalam

proses pembelajaran ini terjadi hubungan timbal balik antara guru dengan

siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif. Komponen penting

dalam proses pembelajaran adalah guru dan siswa, yang merupakan dua

komponen yang tidak dapat dipisahkan. Antara dua komponen tersebut harus

terjadi interaksi yang efektif agar hasil belajar siswa optimal.

Pembelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama dibelajarkan secara

Terpadu. Menurut Puskur (2007) dalam Trianto (2012: 155) menyatakan

bahwa tujuan pembelajaran IPA Terpadu adalah untuk meningkatkan efisiensi

dan efektivitas pembelajaran, meningkatkan minat dan motivasi, dan beberapa

kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus. IPA dibelajarkan secara terpadu

karena IPA memiliki karakteristik yang berkaitan dengan cara mencari tahu

tentang alam secara sistematis sehingga IPA bukan hanya penguasaan

kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau

prinsip-prinsip saja melainkan merupakan suatu proses penemuan. Secara umum,

bidang kajian IPA meliputi makhluk hidup dan proses kehidupan, materi dan

sifatnya, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta yang sangat

berperan dalam memahami fenomena alam.

Pembelajaran IPA memiliki peranan penting dalam membelajarkan

siswa untuk mengenal tentang fenomena alam secara utuh dan bermakna.

Siswa diberikan kesempatan lebih banyak untuk berperan dan berpartisipasi

(5)

pendidikan dalam proses pembelajaran akan mengalami perubahan dari

pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat

pada siswa.

Namun, pada kenyataannya di sekolah pembelajaran masih berpusat

pada guru, dimana banyak siswa yang kurang terlibat selama proses

pembelajaran. Siswa masih mendapatkan pengetahuan tentang alam dan

fenomenanya dari penjelasan guru dan buku paket yang disarankan oleh guru.

Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan pembelajaran yang terjadi di

sekolah masih berkutat pada pencapaian a body knowledge atau IPA sebagai produk saja dan belum memperhatikan aspek lainnya, yaitu IPA sebagai

proses (a way of investigate), sikap (a way of thinking), dan aplikasi (interaction with technology and society). Artinya, aspek-aspek tersebut sebagai hakikat IPA belum terintegrasi secara utuh.

Pembelajaran IPA merupakan kesatuan konsep yang terpadu yang

dibelajarkan melalui materi pokok atau tema tertentu. Tema yang dimaksud

merupakan konsep-konsep IPA dari bidang disiplin ilmu, baik biologi, fisika,

kimia, maupun Ilmu Pengetahuan Bumi Antariksa (IPBA). Pembelajaran IPA

yang dilaksanakan secara terpadu akan mempermudah siswa dalam

mendapatkan wawasan dalam menerapkan konsep atau materi yang dipelajari

secara menyeluruh.

Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 2 Berbah

selama Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), guru IPA masih merasa

(6)

IPA sudah tidak terpisah lagi antara bidang studi biologi, fisika maupun kimia,

namun selama proses pembelajaran IPA guru lebih fokus pada bidang

keahliannya saja, sehingga hal tersebut menjadi kendala bagi guru IPA yang

mengharuskan IPA dibelajarkan secara terpadu.

Masalah lain yang ditemukan adalah proses pembelajaran IPA yang

berlangsung belum memperhatikan proses-proses ilmiah yang harus dipahami

oleh siswa secara sistematis untuk memecahkan suatu permasalahan atas

fenomena yang ada di lingkungan siswa melalui kegiatan percobaan. Kegiatan

percobaan dapat mengajarkan siswa untuk melakukan percobaan sesuai

dengan langkah-langkah metode ilmiah. Kegiatan percobaan dalam

pembelajaran IPA di SMP Negeri 2 Berbah jarang dilakukan, sehingga

keterampilan proses siswa kurang berkembang karena kurang terlatih. Hal ini

ditunjukkan masih terdapat beberapa siswa yang merasa kesulitan dalam

menyusun hipotesis, melakukan pengamatan sesuai fakta, melakukan

percobaan, menganalisis data hasil pengamatan dan percobaan, membuat

kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil percobaan. Keterampilan proses

yang rendah akan mempengaruhi pengetahuan yang diterima siswa sehingga

pembelajaran kurang bermakna karena siswa hanya sekedar mengetahui dan

menghafal pengetahuan sehingga mudah lupa.

Permasalahan lain yang ditemukan adalah proses interaksi antara siswa

dengan guru maupun antar siswa masih rendah. Siswa cenderung pasif dalam

proses pembelajaran, hanya menerima penjelasan yang diterima oleh guru dan

(7)

tidak ada yang bertanya. Ketika guru memberikan pertanyaan, guru harus

menunjuk siswa untuk menjawab. Dari jawaban siswa, belum nampak siswa

lain yang menanggapi jawaban temannya. Jika dilakukan presentasi

kelompok, banyak siswa dalam kelompoknya yang belum memiliki kesadaran

untuk berani menyampaikan pendapat atau hasil diskusinya di depan kelas.

Mereka masih saling tunjuk-menunjuk antar siswa.

Berdasarkan observasi di SMP Negeri 2 Berbah, pembelajaran IPA

masih dibelajarkan secara konvensional dimana pembelajaran yang

berlangsung masih berpusat pada guru. Pembelajaran IPA di SMP Negeri 2

Berbah dilaksanakan sesuai dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah

tersebut yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang

menerapkan EEK (Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi). Meskipun tujuan

dari pembelajaran berbasis EEK adalah tercipta pembelajaran yang berpusat

pada siswa dan membantu mengembangkan potensi siswa secara utuh dan

optimal, namun pada kenyataan tujuan tersebut belum terlaksana secara

optimal sehingga proses pembelajaran juga belum terlaksana secara optimal.

Proses pembelajaran yang kurang optimal menyebabkan tujuan pembelajaran

yang ingin dicapai pun kurang optimal. Hal ini akan berdampak pada hasil

belajar siswa sehingga kurang optimal. Hasil belajar yang kurang optimal ini

ditunjukkan dengan nilai hasil belajar ranah kognitif IPA siswa kelas VII SMP

Negeri 2 Berbah masih belum mencapai standar Kriteria Kelulusan Minimal

(KKM), yaitu 75. Hasil ulangan Akhir Semester Gasal tahun ajaran 2015/2016

(8)

nilai di atas KKM ada 7 anak dari 128 siswa atau dapat dikatakan siswa yang

tuntas hanya 5,5%.

Salah satu pendekatan yang dapat membantu siswa dalam

mengembangkan keterampilan proses dan meningkatkan hasil belajar adalah

pendekatan saintifik (scientific approach). Permendikbud nomor 65 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang

perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan

saintifik/ilmiah. Pendekatan saintifik/ilmiah merupakan proses pembelajaran

yang menggunakan proses berpikir ilmiah. Pendekatan ilmiah dapat dijadikan

sebagai jembatan untuk perkembangan dan pengembangan sikap,

keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Sesuai materi Kemendikbud,

dinyatakan bahwa dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria

ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pendekatan induktif (inductive reasoning) daripada pendekatan deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk menarik simpulan yang spesifik.

Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik

untuk menarik simpulan secara keseluruhan. Penalaran induktif menempatkan

bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.

Pembelajaran melalui pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran

yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif

mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan

mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan

(9)

dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan

mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.

Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada

keunggulan pendekatan tersebut, antara lain: (1) meningkatkan kemampuan

intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi, (2) membentuk

kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik, (3)

terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu

merupakan suatu kebutuhan, (4) diperolehnya hasil belajar yang tinggi, (5)

melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis

artikel ilmiah, dan (6) mengembangkan karakter siswa (Sumber: Hosnan,

2014: 36) .

Pendekatan ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi terhadap

suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru atau

mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Pendekatan ini juga

memanfaatkan metode pencarian (inquiry methods) yang berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan

prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Oleh karena itu, metode ilmiah memuat

serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau eksperiman,

mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan

menguji hipotesis.

Banyak ahli yang meyakini bahwa melalui pendekatan saintifik/ilmiah,

selain dapat menjadikan peserta didik lebih aktif dalam mengkonstruksi

(10)

melakukan penyelidikan guna menemukan fakta-fakta dari suatu fenomena

atau kejadian. Peserta didik dilatih untuk mampu berpikir logis, runut, dan

sistematis.

Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran IPA dengan menggunakan

pendekatan saintifik mempunyai peranan penting dalam mengembangkan

keterampilan proses siswa dan hasil belajar kognitif siswa. Pembelajaran

menggunakan pendekatan saintifik akan mendorong siswa untuk lebih aktif

dalam memperoleh pengetahuan serta berpartisipasi dalam proses

pembelajaran. Dengan demikian dapat meningkatkan keterampilan proses

siswa sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif siswa. Berdasarkan

alasan tersebut, peneliti mengangkat penelitian dengan judul “Pengaruh

Pendekatan Saintifik terhadap Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar

Kognitif Siswa Kelas VII di SMP Negeri 2 Berbah”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka dapat diidentifikasi beberapa

masalah sebagai berikut:

1. Pembelajaran IPA masih berkutat pada pencapaian a body of knowledge atau IPA sebagai produk. Padahal hakikat IPA seharusnya juga mencakup

aspek a way of thinking, a way of investigate dan interaction with technology and society.

2. Pembelajaran IPA masih disajikan secara terpisah, artinya belum ada

(11)

maupun Ilmu Pengetahuan Bumi Antariksa (IPBA). Padahal pembelajaran

yang dilakukan secara terpadu akan mempermudah siswa untuk

mendapatkan wawasan dalam menerapkan konsep atau materi yang

dipelajari secara utuh dan menyeluruh.

3. Pembelajaran IPA masih berpusat pada guru karena kegiatan yang

berlangsung masih didominasi oleh guru yang menyampaikan materi dan

siswa hanya sebagai pendengar. Padahal seharusnya IPA adalah proses

penemuan sehingga siswa harus aktif dalam belajar dan pembelajaran akan

lebih efektif dan efisien jika siswa diberikan kesempatan lebih banyak

untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.

4. Materi yang disampaikan belum memperhatikan proses-proses ilmiah.

Padahal keuntungan yang diperoleh saat pembelajaran yang dilakukan

dengan memperhatikan proses-proses ilmiah, selain memberikan

keuntungan dalam hal pemerolehan pengetahuan secara sistematis juga

dapat mengembangkan keterampilan proses sains berupa keterampilan

untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk

memperoleh ilmu dan pengetahuan ilmu selanjutnya.

5. Pembelajaran IPA di SMP N 2 Berbah masih dibelajarkan secara

konvensional yang masih berpusat pada guru. Padahal jika IPA

dibelajarkan dengan pendekatan ilmiah/ saintifik yang sesuai dengan

hakikat IPA, siswa akan memahami bahwa informasi dapat diperoleh

darimana saja dan kapan saja, tidak lagi bergantung pada informasi searah

(12)

6. Keterampilan proses sains siswa belum dikembangkan secara maksimal

karena kegiatan percobaan dalam proses pembelajaran jarang dilakukan.

Rendahnya keterampilan proses yang dimiliki siswa akan menyebabkan

pengetahuan kurang bermakna. Padahal jika keterampilan proses siswa

dikembangkan dengan baik siswa dapat secara aktif mengkonstruk

pengetahuan melalui penemuan-penemuan dalam percobaan yang

dilakukan sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.

7. Hasil belajar IPA SMP N 2 Berbah kelas VII masih belum optimal, masih

terdapat sebagian siswa yang di bawah Kriteria Kelulusan Minimal

(KKM) yaitu kurang dari 75. Padahal jika pembelajaran dilakukan dengan

pendekatan ilmiah dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga

hasil belajar siswa akan meningkat karena siswa akan lebih aktif mencari

informasi.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian identifikasi masalah, peneliti membatasi penelitian

yaitu pada masalah nomor 5, 6, dan 7 yaitu: pembelajaran di SMP N 2 Berbah

masih dibelajarkan secara konvensional padahal dengan menerapkan

pendekatan saintifik dapat meningkatkan pemahaman siswa untuk berperan

aktif dalam pembelajaran dan aktif dalam mencari informasi serta tidak

bergantung pada gurunya, keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif

(13)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi malasah dan pembatasan masalah, peneliti

merumuskan masalah yaitu:

1. Bagaimana pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan proses

sains siswa kelas VII SMP N 2 Berbah?

2. Bagaimana pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar kognitif

siswa kelas VII SMP N 2 Berbah?

E. Tujuan Penelitian

Mengacu dari rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan proses

sains siswa kelas VII SMP N 2 Berbah.

2. Menganalisis pengaruh pendekatan saintifik terhadap hasil belajar kognitif

siswa kelas VII SMP N 2 Berbah.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini sebagai berikut.

1. Manfaat bagi siswa

a. Membantu dan mempermudah siswa-siswi kelas SMP Negeri 2 Berbah

dalam memahami suatu materi IPA serta memberikan pengalaman

nyata dalam proses pembelajaran.

b. Melatih siswa menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan

(14)

c. Melatih siswa terampil dalam menggunakan keterampilan proses sains

dalam kegiatan pembelajaran dan dalam memecahkan permasalahan di

lingkungannya.

2. Manfaat bagi guru

Sebagai masukan bagi para guru IPA dalam melakukan kegiatan

pembela-jaran di kelas untuk menggunakan pendekatan saintifik sehingga dapat

meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa.

3. Manfaat bagi peneliti

Melatih kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan

pembelajaran serta menambah wawasan dengan terjun langsung ke

(15)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori

1. Hakikat IPA

Pada hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk ilmiah, proses

ilmiah, dan sikap ilmiah. Selain itu, IPA dipandang pula sebagai proses,

sebagai produk, dan sebagai prosedur. Sebagai proses diartikan semua

kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam

maupun untuk menemukan pengetahuan baru. Sebagai produk diartikan

sebagai hasil proses, berupa pengetahuan yang diajarkan dalam sekolah

atau di luar sekolah atau bahan bacaan untuk penyebaran atau dissiminasi

pengetahuan. Sebagai prosedur dimaksudkan sebagai metodologi atau cara

yang digunakan untuk mengetahui sesuatu yang lazim disebut metode

ilmiah (scientific methods) (Trianto, 2012: 137). Selain sebagai proses dan produk, Daud Joeseof (dalam Trianto, 2012: 137) pernah menganjurkan

agar IPA dijadikan sebagai suatu “kebudayaan” atau suatu kelompok atau

institusi sosial dengan tradisi nilai, aspirasi, maupun inspirasi.

Menurut Patta Bundu (2006: 9), sains atau yang biasa

diterjemahkan Ilmu Pengetahuan Alam berasal dari kata “natural science”. Natural memiliki arti alamiah dan berhubungan dengan alam,

sedangkan science artinya ilmu pengetahuan. Artinya, sains dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang alam atau yang

(16)

dipelajari tersebut, terlihat bahwa IPA memiliki objek dan persoalan yang

holistik atau menyeluruh.

Menurut Puskur (2007: 6) menyebutkan bahwa hakikat IPA

mengandung empat unsur utama dalam IPA, dimana dari ke-4 unsur

tersebut merupakan ciri utama yang utuh, yaitu meliputi:

a. Sikap: misalnya rasa ingin tahu tentang fenomena alam, makhluk

hidup, serta hubungan sebab akibat yang mendasari masalah di alam

yang dapat dipecahkan melalui prosedur ilmiah.

b. Proses: prosedur atau cara pemecahan masalah melalui metode ilmiah.

c. Produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum.

d. Aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan

sehari-hari.

Merujuk dari beberapa definisi di atas dapat disimpukan bahwa

hakikat IPA adalah ilmu pengetahuan yang disajikan secara menyeluruh

untuk mempelajari alam dan gejala-gelajanya atas dasar unsur sikap,

proses, produk, dan aplikasi yang mana keempat unsur tersebut merupakan

satu kesatuan. Oleh karena itu, siswa diharapkan memiliki pengetahuan

secara utuh dan mampu memahami fenomena alam melalui kegiatan

pemecahan masalah menggunakan proses ilmiah/ metode ilmiah sehingga

kegiatan pembelajaran merupakan proses yang bermakna dengan adanya

(17)

2. Pembelajaran IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan bagian dari ilmu

pengetahuan atau sains yang semula berasal dari bahasa Inggris “science”. Kata “science” sendiri berasal dari bahasa Latin “scientia” yang berarti

saya tahu. “science” terdiri dari social sciences (ilmu pengetahuan social) dan natural science (ilmu pengetahuan alam). Namun, dalam perkembangannya science sering diterjemahkan sebagai sains yang berarti ilmu pengetahuan alam saja, walaupun pengertian ini kurang tepat dan

bertentangan dengan etimologi (Jujun Suriasumantri, 1998: 299) dalam

Trianto (2012: 136).

Menurut H.W. Flower (dalam Laksmi Prihantoro, 1986: 1.3) IPA

adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan yang berhubungan

dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan

dan deduksi. IPA mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada di

permukaan bumi, di dalam perut bumi dan di luar angkasa, baik yang

dapat teramati indera maupun yang tidak dapat teramati dengan indera.

Menurut Trianto (2012: 136), IPA adalah suatu kumpulan teori yang

sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam,

lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan

eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka,

jujur, dan sebagainya.

Dari beberapa pendapat para ahli mengenai IPA, dapat disimpulkan

(18)

tersusun secara sistematis yang berupa fakta-fakta yang diperoleh dari

gejala-gejala alam yang berkembang melalui metode ilmiah dan sikap

ilmiah. Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang

diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan, dan

deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala yang

dapat dipercaya. Ada tiga kemampuan dalam IPA, yaitu kemampuan untuk

mengetahui apa yang diamati, kemampuan untuk memprediksi apa yang

belum diamati dan kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil

eksperimen, serta dikembangkannya sikap ilmiah.

Pembelajaran IPA sebagaimana tujuan pendidikan dalam

taksonomi Bloom, bahwa pembelajaran dapat memberikan pengetahuan

(kognitif), sebuah keterampilan (psikomotorik), kemampuan sikap ilmiah

(afektif), pemahaman, kebiasaan, dan apresiasi (David R. Krathwohl,

2002: 261). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari

tahu tentang alam secara sistematis sehingga IPA bukan hanya penguasaan

kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau

prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik

untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, sehingga prospek

perkembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan

sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian

pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi

(19)

Pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya: (1) memberikan

pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan

pengukuran berbagai besaran fisis, (2) menanamkan pada peserta didik

pentingnya pengamatan empiris dalam menguji auatu pernyataan ilmiah

(hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian

sehari-hari yang membutuhkan pembuktian secara ilmiah, (3) latihan

berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu

sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang

berkaitan dengan peristiwa alam, (4) memperkenalkan dunia teknologi

melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan

alat-alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA

dalam menjawab berbagai masalah.

Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP/MTs,

meliputi bidang kajian energi dan perubahannya, bumi antariksa, makhluk

hidup dan proses kehidupan, dan materi dan sifatnya yang sebenarnya

sangat berperan dalam membantu peserta didik untuk memahami

fenomena alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah

yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode

ilmiah, dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif.

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah

(20)

3. Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik (scientific approach) disebut juga sebagai pendekatan ilmiah. Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu

proses ilmiah. Pendekatan ilmiah diyakini sebagai titian emas

perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan

peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria

ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan penalaran induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang

spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi

spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya,

penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea

yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik

dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan

umum.

Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu

atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau

mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat

disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan

prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, metode ilmiah

(21)

observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis,

kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.

Menurut Agus Sujarwanta (2012: 75) mengatakan bahwa

pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik adalah

pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman secara

langsung baik menggunakan observasi, eksperimen maupun cara yang

lainnya, sehingga realitas yang akan berbicara sebagai informasi atau data

yang diperoleh selain valid juga dapat dipertanggungjawabkan. Dengan

menggunakan metode ilmiah, maka untuk mendapatkan pengetahuan para

ilmuwan berusaha untuk membiarkan realitas berbicara sendiri, membahas

mendukung teori ketika prediksi teori ini sudah dikonfirmasi dan

menentang teori ketika prediksinya terbukti tidak teruji.

Nurul (dalam Johari Marjan, 2014: 4) menyebutkan pembelajaran

berpendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang menggunakan

pendekatan ilmiah dan inkuiri, dimana siswa berperan secara langsung

baik secara individu maupun kelompok untuk menggali konsep dan

prinsip selama kegiatan pembelajaran, sedangkan tugas guru adalah

mengarahkan proses belajar yang dilakukan siswa dan memberikan

koreksi terhadap konsep dan prinsip yang didapatkan siswa. Menurut

Hosnan (2014: 34), pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah

proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik

secara aktif mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui

(22)

merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,

mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik

kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang

ditemukan. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan

pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai

materi mengguakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari

mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru.

Oleh karena itu, kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan

untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber

melalui observasi dan bukan hanya diberi tahu.

Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan

keterampilan proses, seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur,

meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan

proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru

harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa

atau semakin tingginya kelas siswa (Hosnan, 2014: 34).

Selain itu, Agus Sujarwanta (2012: 76) juga menyebutkan bahwa

pembelajaran dengan pendekatan saintifik menuntut siswa harus dapat

menggunakan metode-metode ilmiah yaitu menggali pengetahuan melalui

mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, merancang, melaksanakan

eksperimen, mengkomunikasikan pengetahuannya kepada orang lain

dengan menggunakan keterampilan berfikir, dan menggunakan sikap

(23)

Menurut Hosnan (2014: 36), karakteristik pembelajaran dengan

pendekatan saintifik antara lain pembelajaran berpusat pada siswa,

melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkontruksi konsep,

hukum atau prinsip, melibatkan proses-proses kognitif yang potensial

dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan

berpikir tingkat tinggi siswa, dan dapat mengebangkan karakter siswa.

Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam proses pembelajaran meliputi: menggali informasi melalui observing/ pengamatan, questioning/ bertanya, experimenting/ percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan

dengan menganalisis, associating/ menalar, kemudian menyimpulkan, dan menciptakan serta membentuk jaringan/ networking. Sedangkan proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu ranah attitude/ sikap, knowledge/ pengetahuan, dan skill/ keterampilan. Hasil belajar menghasilkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif

melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.

(24)

Gambar 1. Ranah Pencapaian Hasil Belajar Sumber: Hosnan, 2014

Merujuk dari beberapa definisi di atas, pembelajaran

berpendekatan saintifik merupakan pembelajaran yang menggunakan

pendekatan ilmiah dan inkuiri, dimana siswa berperan secara langsung

baik secara individu maupun kelompok untuk menggali konsep dan

prinsip selama kegiatan pembelajaran, sedangkan tugas guru adalah

mengarahkan proses belajar yang dilakukan siswa dan memberikan

koreksi terhadap konsep dan prinsip yang didapatkan siswa.

Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam proses pembelajaran meliputi: menggali informasi melalui observing/ pengamatan, questioning/ bertanya, experimenting/ mengumpulkan data, associating/ mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Attitude/ Sikap (Tahu

Mengapa)

Skill/ Keterampilan

(Tahu Bagaimana)

Siswa Produktif

Inovatif Kreatif

Afektif Knowledge/ Pengetahuan

(25)

4. Keterampilan Proses Sains

Usman Samatowa (2011: 93) mengemukakan bahwa keterampilan

proses sains merupakan keterampilan intelektual yang dimiliki dan

digunakan oleh para ilmuwan dalam meneliti fenomena alam.

Keterampilan proses sains yang digunakan oleh para ilmuwan tersebut

dapat dipelajari oleh siswa dalam bentuk yang lebih sederhana sesuai

dengan tahap perkembangan anak.

Adapun Nuryani dan Andrian (Ali Nugraha, 2008: 125)

mendefinisikan keterampilan proses sains adalah semua keterampilan yang

diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan

konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum dan teori-teori sains, baik berupa

keterampilan mental, keterampilan fisik (manual) maupun keterampilan

sosial.

Donna M. Wolfinger (1994: 241) mengemukakan bahwa :

Science process skills are the technique used by the scientist in gaining information. In essence, these are the skills and technique that the scientist in the laboratory of field uses as he or she gains new information about the world. Translated into the classroom, the science process skills are the techniques that children that use in gaining information on a first-hand basis from their activities. Keterampilan proses sains adalah teknik atau strategi yang

digunakan oleh para ilmuwan untuk memperoleh informasi. Pada

dasarnya, keterampilan proses sains ini adalah keterampilan dan teknik

yang digunakan oleh ilmuwan di laboraturium untuk memperoleh

informasi baru tentang dunia. Jika diterjemahkan dalam lingkungan

(26)

digunakan anak-anak dalam memperoleh informasi melalui tangan

pertama (first-hand) dari kegiatan yang mereka lakukan.

Keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental tertentu

yang digunakan dalam penemuan fakta dan konsep yang terhimpun dalam

suatu disiplin ilmu tertentu. Keterampilan-keterampilan proses mendasar

antara lain keterampilan mengobservasi, menghitung, mengukur,

mengklasifikasi, mencari hubungan ruang/waktu, membuat hipotesis,

merencanakan penelitian/eksperimen, mengendalikan variabel,

menginterpretasikan atau menafsirkan data, menyusun kesimpulan

sementara (inferensi), meramalkan (memprediksi), menerapkan

(mengaplikasi), dan mengkomunikasikan.

Hadiat (Patta Bundu, 2006: 23) mengemukakan bahwa ada 9 jenis

proses sains yang harus dikuasai, yaitu: (a) mengamati, (b)

menggolongkan atau mengelompokkan, (c) menerapkan konsep dan

prinsip, (d) meramalkan, (e) menafsirkan, (f) menggunakan alat, (g)

merencanakan percobaan, (h) mengkomunikasikan, dan (i) mengajukan

pertanyaan.

Dengan pola yang hampir sama, Allyn & Bacon (1992) dalam

Patta Bundu (2006: 23-24) membagi keterampilan proses peserta didik

menjadi dua kelompok yaitu keterampilan dasar dan keterampilan terpadu.

Keterampilan dasar meliputi a) observasi, b) klasifikasi, c) komunikasi, d)

pengukuran, e) prediksi, dan f) penarikan kesimpulan, sedangkan

(27)

variabel, b) menyusun tabel data, c) menyusun grafik, d) menggambarkan

hubungan antar variabel, e) memperoleh dan memproses data, f)

menganalisis investigasi, g) menyusun hipotesis, h) merumuskan variabel

secara operasional, i) merancang investigasi, dan j) melakukan

eksperimen/ percobaan.

Menurut Abruscato (Patta Bundu, 2006: 23) membuat

penggolongan keterampilan proses sains sebagai berikut:

a. Basic Skills (Keterampilan Dasar) 1) Observing (mengamati)

2) Using space relationship (menggunakan hubungan ruang) 3) Using number (menggunakan angka)

4) Classifying (mengelompokkan) 5) Measuring (mengukur)

6) Communicating (mengkomunikasikan) 7) Predicting (meramalkan)

8) Inferring (menyimpulkan)

b. Integrated Skill (Keterampilan Terintegrasi) 1) Controlling variable (mengontrol variabel) 2) Interpreting data (menafsirkan data)

3) Formulating hypothesis (menyusun hipotesis)

(28)

American Association for the Advacement of Science (Ali Nugraha, 2008: 126) lembaga ini mengidentifikasi dan merumuskan 15

keterampilan atau kemampuan proses yang telah dimodifikasi oleh

konferensi para ahli sains, keterampilan tersebut diantaranya: (a)

keterampilan mengamati (observasi), (b) keterampilan mengajukan

pertanyaan, (c) keterampilan berkomunikasi, (d) keterampilan menghitung

(e) keterampilan mengukur, (f) keterampilan melakukan eksperimen, (g)

keterampilan melaksanakan teknik manipulasi, (h) keterampilan

mengklasifikasikan, (i) keterampilan memformulasikan hipotesis, (j)

keterampilan meramalkan, (k) keterampilan menarik kesimpulan, (l)

keterampilan mengartikan data, (m) keterampilan menguasai dan

memanipulasikan variabel (faktor ubah), (n) keterampilan membentuk

suatu model, (o) keterampilan menyusun suatu definisi yang operasional.

Secara lebih rinci dan jelas Nuryani Rustaman (Ali Nugraha, 2008:

127) mengelompokkan keterampilan proses dan sub-subnya pada tabel 1.

Penjelasan dari setiap komponen keterampilan proses dalam tabel 1 dapat

dikemukakan sebagai berikut:

1) Mengamati

Mengamati melibatkan kombinasi dari beberapa atau seluruh

alat indera. Di dalamnya terdapat kegiatan melihat, mencium,

mendengar, mencicipi, dan meraba. Hal-hal yang diamati dapat berupa

(29)

diuji kemudian anak diminta untuk menuliskan hasil pengamatannya

waktu itu.

2) Menggolongkan/mengklasifikasi

Mengklasifikasi merupakan suatu sistematika yang digunakan

untuk mengatur objek-objek ke dalam sederetan kelompok tertentu.

Kegiatannya antara lain: mencari persamaan objek-objek dalam suatu

susunan berdasarkan sifat dan fungsinya yang dilakukan dengan

membandingkan, mencari dasar pengklasifikasian objek-objek dengan

mengkontraskan serta menggolongkan berdasarkan pada satu atau

lebih ciri/sifat atau fungsinya.

3) Meramalkan (prediksi)

Prediksi atau meramalkan dalam sains dibuat atas dasar

observasi dan inferensi yang tersusun menjadi suatu hubungan antara

peristiwa-peristiwa atau fakta-fakta yang terobservasi. Keterampilan

memprediksi merupakan suatu keterampilan membuat/mengajukan

perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu

kuntungan atau pola yang sudah ada.

4) Mengkomunikasikan

Mengkomunikasikan meliputi kegiatan menempatkan data-data

ke dalam beberapa bentuk yang dapat dimengerti oleh orang lain.

Kegiatan ini melibatkan kemampuan mengutarakan dalam bentuk

(30)

5) Menggunakan alat dan pengukuran

Menggunakan alat dan melakukan pengukuran amat penting

dalam sains. Pengukuran sebaiknya dilakukan dengan cermat dan

akurat. Keterampilan ini berkaitan erat dengan pengembangan sikap

ilmiah yang hendak dicapai.

Tabel 1. Komponen Keterampilan Proses Sains

No Keterampilan Proses Sub Keterampilan Proses

1. Mengamati (Observasi) 1.1 Mengidentifikasi ciri-ciri suatu benda/peristiwa

1.2 Mengidentifikasi perbedaan dan persamaan berbagai benda/ peristiwa

1.3 Membaca alat-alat ukur

1.4 Mencocokan gambar dengan uraian tulisan/ benda

1.5 Mengurutkan berbagai peristiwa yang terjadi secara simultan

1.6 Memberikan (memberikan uraian) mengenai suatu benda atau peristiwa

2. Mengklasifikasikan (menggolongkan)

2.1 Mengelompokkan benda/ peristiwa (kelompok ditentukan anak)

2.2 Mengelompokkan benda/peristiwa (kelompok diberikan kepada anak)

2.3 Mengidentifikasi pola dari suatu seri pengamatan

2.4 Mengemukakan/ mengetahui alasan pengelompokkan

2.5 Mencari dasar atau kriteria pengelompokkan

2.6 Memberikan nama kelompok berdasarkan ciri-ciri khususnya

2.7 Menemukan alternative pengelompokkan (kelompok ditentukan anak)

2.8 Menemukan alternatif pengelompokkan (kelompok diberikan kepada anak)

2.9 Mengurutkan kelompok berdasarkan keinklusifan

3. Meramalkan (memprediksi)

(31)

No Keterampilan Proses Sub Keterampilan Proses pola atau kecenderungan

4. Mengkomunikasikan 4.1 Mengutarakan suatu gagasan

4.2 Mencatat kegiatan-kegiatan atau pengamatan yang dilakukan

4.3 Menunjukkan hasil kegiatan 4.4 Mendiskusikan hasil kegiatan

4.5 Menggunakan berbagai sumber informasi 4.6 Mendengarkan dan menanggapi

gagasan-gagasan orang lain

4.7 Melaporkan suatu peristiwa atau kegiatan secara sistematis dan jelas

5. Penggunaan alat dan pengukuran

5.1 Menentukan alat dan pengukuran yang diperlukan dalam suatu penyelidikan atau percobaan

5.2 Menunjukkan hal-hal yang berubah atau harus diubah pada suatu pengamatan atau pengukuran

5.3 Merencanakan bagaimana hasil pengukuran, perbandingan untuk memecahkan suatu masalah

5.4 Menentukan urutan langkah-langkah yang harus ditempuh dalam suatu percobaan 5.5 Ketelitian dalam penggunaan alat dan

pengukuran dalam suatu percobaan

Hasil identifikasi para pengembang pembelajaran, khususnya

pembelajaran sains, terdapat beberapa kemampuan yang harus dilatihkan

pada anak agar mereka memiliki keterampilan proses. Kemampuan

tersebut dapat dilihat pada tabel 2 (Ali Nugraha, 2008: 131):

Tabel 2. Keterampilan Proses Sains dan yang Dilatihkan

No Keterampilan Proses Kemampuan yang dilatihkan

1. Mengamati a. Melihat

b. Meraba

2. Mengklasifikasi a. Mencari persamaan dan mencari perbedaan

b. Menggolongkan 3. Meramalkan/

memprediksi

a. Menentukan objek

(32)

No Keterampilan Proses Kemampuan yang dilatihkan 4. Mengkomunikasikan a. Berdiskusi

b. Mengungkapkan/ melaporkan dalam bentuk tulisan, lisan, gambar

Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

keterampilan proses sains adalah semua keterampilan yang digunakan

untuk memperoleh dan mengkaji berbagai informasi mengenai fenomena

alam. Melalui keterampilan proses sains, siswa bisa mempelajari tentang

sains seperti yang ilmuwan lakukan seperti pengamatan, mengklasifikasi,

melakukan eksperimen dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, peneliti

mensitesis dari beberapa sumber di atas dan menentukan keterampilan

proses yang akan peneliti ukur adalah keterampilan mengamati,

melakukan percobaan, mengasosiasi data, membuat kesimpulan, dan

mengkomunikasikan.

5. Hasil Belajar Kognitif

Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran.

Nana Sudjana (2014: 3) mendefinisikan hasil belajar siswa pada

hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam

pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan

psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono (2013: 3-4) juga menyebutkan hasil

belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak

mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi

hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya

(33)

Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2013: 26-27)

menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:

a. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.

b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.

c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.

d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.

e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program.

f. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.

Sedangkan menurut David R. Krathwohl (2002: 214), dimensi

proses kognitif dibagi menjadi enam kategori yaitu:

a. Mengingat (C1), proses mengingat adalah mengambil pengetahuan

yang dibutuhkan dari memori jangka panjang, pengetahuan yang

dibutuhkan meliputi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, atau

metakognitif, atau kombinasi dari beberapa pengetahuan ini.

b. Memahami (C2), yaitu mengkonstruksi makna dari materi

pembelajaran, termasuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambar

oleh guru.

c. Mengaplikasikan (C3), yaitu menerapkan atau menggunakan suatu

(34)

d. Menganalisis (C4), yaitu memecah materi menjadi bagian-bagian

penyusunnya dan menentukan hubungan antar bagian-bagian tersebut

dan keseluruhan struktur atau tujuan.

e. Mengevaluasi (C5), yaitu mengambil keputusan berdasarkan kriteria

atau standar.

f. Mencipta (C6), yaitu memadukan pengetahuan yang diterima untuk

membuat suatu produk yang baru dan orisinil.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai salah satu

indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari

faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Menurut Oemar

Hamalik (2011: 32-33), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

antara lain faktor kegiatan, faktor asosiasi, faktor pengalaman masa

lampau, faktor kesiapan belajar, faktor minat dan usaha, faktor fisiologis,

dan faktor intelengensi.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa

hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah

menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut

mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan

untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat

kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil belajar

yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif IPA SMP

(35)

digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif adalah

tes.

6. Kajian Keilmuan

a. Pengertian Ekosistem

Menurut Campbell (2004), ekosistem merupakan interaksi

organisme hidup dengan lingkungan abiotiknya yang terjadi di dalam

suatu komunitas. Ekosistem merupakan sebuah proses yang terbentuk

oleh adanya suatu hubungan timbal balik yang terjadi antara makhluk

[image:35.595.184.476.330.511.2]

hidup dengan lingkungan tempat hidupnya.

Gambar 2. Ekosistem Sumber: dokumen pribadi

Di dalam ekosistem ada komponen-komponen yang terlibat

yaitu komponen biotik (hidup) serta komponen abiotik (tak hidup).

Masing-masing komponen memiliki fungsi yang berbeda-beda dan

saling berkaitan satu sama lain. Keseimbangan ekosistem akan terus

terjaga apabila fungsi dari tiap-tiap komponen tersebut tidak

(36)

b. Komponen-Komponen Ekosistem

Menurut Zoer’aini (2012: 31-34), komponen di dalam

ekosistem dapat dibedakan dengan berdasarkan fungsi serta aspek

pembentuknya menjadi dua komponen, yaitu:

1) Komponen Biotik (hidup)

Komponen biotik terdiri atas semua makhluk hidup.

Manusia, hewan, dan tumbuhan termasuk komponen biotik yang

terdapat dalam suatu ekosistem. Komponen biotik dibedakan

menjadi tiga golongan, yaitu produsen, konsumen, dan

dekomposer.

a) Produsen

Semua produsen dapat menghasilkan makanannya

sendiri sehingga disebut organisme autotrof. Mereka mampu membentuk zat-zat organik dari zat anorganik sederhana.

Pembentukan makanan (karbohidrat) ini dapat melalui proses

fotosintesis dengan bantuan energi cahaya dan klorofil atau zat

hijau daun. Pembentukan makanan juga dapat dilakukan

dengan proses kemosintesis. Kemosintesis adalah pembentukan

bahan organik (karbohidrat) dengan bantuan energi dari reaksi

kimia.

Makhluk hidup yang berperan sebagai produsen yaitu

tumbuhan hijau. Sebagai produsen, tumbuhan hijau

(37)

fotosintesis. Makanan ini dimanfaatkan oleh tumbuhan sendiri

maupun makhluk hidup lainnya. Jadi, produsen merupakan

sumber energi utama bagi organisme lain, yaitu konsumen.

Sementara itu, produsen menggunakan sumber energi matahari

dalam proses fotosintesis. Dengan demikian, matahari

merupakan sumber energi utama bagi kehidupan (sistem

biologi).

b) Konsumen

Semua konsumen tidak dapat membuat makanan sendiri

di dalam tubuhnya sehingga disebut heterotrof. Mereka mendapatkan zat organik yang telah dibentuk oleh produsen

atau dari konsumen lain yang menjadi mangsanya. Berdasarkan

jenis makanannya, konsumen dikelompokkan sebagai berikut:

1) Pemakan tumbuhan (herbivora), misalnya kambing, kerbau, kelinci, dan sapi.

2) Pemakan daging (karnivora), misalnya harimau, burung elang, dan serigala. Dalam ekosistem, karnivora disebut

predator atau pemangsa.

3) Pemakan tumbuhan dan daging (omnivora), misalnya ayam, itik, kera, dan orang utan.

c) Pengurai (Dekomposer)

(38)

menjadi zat-zat anorganik penyusunnya. Zat-zat inilah yang

sangat diperlukan oleh tumbuhan. Dengan demikian, aktivitas

pengurai sangat penting dalam menjaga ketersediaan zat hara

bagi produsen. Makhluk hidup yang termasuk pengurai yaitu

jamur dan bakteri.

2) Komponen Abiotik (tak hidup)

Komponen abiotik, yang terdiri atas benda-benda mati.

Beberapa komponen abiotik yang menyusun suatu ekosistem

sebagai berikut:

a) Suhu atau Temperatur

Setiap makhluk hidup memerlukan suhu optimum untuk

kegiatan metabolisme dan perkembangbiakannya.

b) Air

Hal-hal penting pada air yang mempengaruhi kehidupan

makhluk hidup yaitu suhu air, kadar mineral air, salinitas, arus

air, penguapan, dan kedalaman air.

c) Cahaya Matahari

Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi

kehidupan di bumi. Cahaya matahari dibutuhkan dalam proses

fotosintesis tumbuhan dan berpengaruh terhadap suhu yang

(39)

d) Tanah

Sifat-sifat fisik tanah yang berperan dalam ekosistem

meliputi susunan dan kemampuan menahan air. Sifat-sifat

kimia tanah juga berperan dalam ekosistem, yaitu keasaman

dan kandungan unsur hara. Sifat fisik dan kimia tanah dapat

memengaruhi kehidupan makhluk hidup.

e) Udara

Udara merupakan lingkungan abiotik yang berupa gas.

Gas membentuk atmosfer yang melingkupi makhluk hidup.

Oksigen, karbon dioksida, dan nitrogen merupakan gas yang

paling penting bagi kehidupan makhluk hidup.

c. Satuan-Satuan Penyusun Ekosistem

Di dalam suatu ekosistem juga terdapat satuan-satuan makhluk

hidup yang meliputi individu, populasi, dan komunitas.

1) Individu

Istilah individu berasal dari bahasa Latin, yaitu in yang berarti tidak dan dividuus yang berarti dapat dibagi (Zoer’aini, 2012: 96). Jadi, individu adalah makhluk hidup yang berdiri

sendiri. Individu juga dapat disebut satuan makhluk hidup tunggal.

Contohnya yaitu seekor semut, sebatang bambu, seorang manusia.

2) Populasi

(40)

ekosistem, populasi berarti kelompok makhluk hidup sejenis yang

menempati daerah tertentu pada waktu tertentu. Makhluk hidup

dikatakan sejenis apabila makhluk hidup itu mempunyai persamaan

bentuk tubuh, dapat melakukan perkawinan, dan mampu

menghasilkan keturunan yang fertil. Misalnya populasi manusia di

Jakarta atau populasi badak di Ujungkulon. Interaksi antarindividu

di dalam populasi dapat bersifat kompetisi, kanibalisme, dan kerja

sama (pada reproduksi seksual). Jumlah anggota populasi suatu

makhluk hidup dapat berubah. Faktor-faktor yang memengaruhi

perubahan populasi yaitu kematian, kelahiran, dan migrasi

(perpindahan). Jumlah suatu jenis makhluk hidup di suatu daerah

dengan luas tertentu pada waktu tertentu disebut kepadatan

populasi.

3) Komunitas

Menurut Zoer’aini (2012: 85), populasi dari berbagai

makhluk hidup di suatu wilayah saling berinteraksi membentuk

suatu komunitas. Individu-individu dalam komunitas saling

berinteraksi. Interaksi antarindividu dalam komunitas dapat berupa

kompetisi, simbiosis, kanibalisme, kerja sama, dan predasi. Di

suatu komunitas biasanya terdapat kecenderungan adanya dominasi

oleh salah satu populasi. Populasi dominan inilah yang menentukan

sifat suatu komunitas. Misalnya pada komunitas hutan pinus. Pinus

(41)

komunitas tergantung pada populasi pohon pinus. Satuan-satuan

makhluk hidup dalam komunitas bersama dengan makhluk tidak

hidup di lingkungannya saling berinteraksi membentuk suatu

ekosistem. Ekosistem ini tersebar luas di seluruh belahan bumi.

Beberapa ekosistem yang terdapat di wilayah geografis yang sama

dengan iklim dan kondisi yang sama akan membentuk bioma. Di

bumi, terdapat beberapa bioma. Bioma tersebut di antaranya adalah

bioma tundra, hutan hujan tropis, dan savana.

d. Hubungan Antar Komponen Ekosistem

Makhluk hidup tidak dapat hidup sendiri di alam dan

lingkungan sekitar tempat tinggalnya, dibutuhkan suatu interaksi

timbal balik yang juga menjadi dasar dalam ekosistem. Interaksi antar

organisme dan lingkungan ini memunculkan saling kebergantungan

antar keduanya.

Gambar 3. a. Rantai Makanan, b. Jaring-Jaring Makanan, c. Piramida Makanan. Sumber: (Sukajiyah, 2012)

e. Interaksi Antar Organisme dalam Ekosistem

Interaksi antar komponen biotik dalam ekosistem dapat berupa

(42)

mutualisme, dan komensalisme). Adapun pola-pola interaksi tersebut

adalah sebagai berikut :

1) Predasi

Gambar 4. Contoh Predasi Sumber: (Sukajiyah, 2012)

Predasi merupakan interaksi antara pemangsa (predator)

dengan mangsanya (prey). Hubungan antara pemangsa dan hewan

yang dimangsanya sangatlah erat, pemangsa tidak akan dapat hidup

jika tidak ada mangsa. Selain itu, pemangsa juga berperan sebagai

pengontrol populasi mangsa. Contoh : interaksi antara kucing

dengan tikus, ular dengan katak, harimau dengan kijang.

[image:42.595.283.412.167.307.2]

2) Netralisme

Gambar 5. Contoh Netralisme Sumber: (Sukajiyah, 2012)

Netralisme adalah hubungan antar mahluk hidup berbeda

jenis yang tidak saling mempengaruhi, meskipun mahluk hidup

(43)

kucing dan ayam di kebun. Kucing dan ayam tidak saling

mempengaruhi karena mempunyai jenis makanan yang berbeda.

3) Simbiosis

Simbiosis merupakan interaksi antara mahluk hidup

berbeda jenis dalam satu tempat dan waktu tertentu yang

hubungannya sangat erat.

a. Simbiosis mutualisme

Gambar 6. Contoh Simbiosis Mutualisme Sumber: (Sukajiyah, 2012)

Merupakan hubungan antara dua jenis makhluk hidup

yang saling menguntungkan. Contoh : Simbiosis antara lebah

madu dengan tanaman berbunga. Lebah madu diuntungkan

karena mendapatkan makanan dari bunga, sedangkan bunga

juga diuntungkan karena dibantu dalam proses penyerbukan.

b. Simbiosis Parasitisme

Merupakan simbiosis yang menguntungkan satu pihak,

sedangkan pihak lain dirugikan. Pihak yang mendapat

keuntungan disebut sebagai parasit, sedangkan pihak yang

dirugikan disebut inang. Contohnya yaitu tumbuhan tali putri

(44)

putri tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat melakukan

fotosintesis, untuk mendapatkan makanan ia menempel pada

tumbuhan lain serta menyerap sari-sari makanan tumbuhan

yang ditumpanginya sehingga merugikan.

Gambar 7. Contoh Simbiosis Parasitisme Sumber: (Sukajiyah, 2012)

[image:44.595.283.431.196.294.2]

c. Simbiosis Komensalisme

Gambar 8. Contoh Simbiosis Komensalisme Sumber: (Sukajiyah, 2012)

Merupakan simbiosis yang menguntungkan satu pihak,

sedangkan pihak lain tidak diuntungkan maupun dirugikan.

Contohnya yaitu ikan hiu dengan ikan remora. Ikan remora

sebagai hewan kecil yang hidupnya sering bersamaan dengan

ikan hiu. Ikan remora dapat menempel pada ikan hiu, karena

memiliki alat untuk menempelkan tubuhnya pada ikan hiu .

Ikan hiu sekalipun diikuti oleh remora tidak untung dan tidak

(45)

keuntungan dari ikan hiu yang berupa energi untuk berpindah

tempat, dan memperoleh makanan dari sisa makanan dari ikan

hiu.

4) Kompetisi

Merupakan interaksi antar mahluk hidup yang berbeda jenis

untuk memperebutkan satu hal yang sama. Contoh : persaingan

antara kerbau dan kambing di padang rumput yang sama.

[image:45.595.275.420.292.419.2]

5) Antibiosis

Gambar 9. Contoh Antibiosis Sumber: (Sukajiyah, 2012)

Merupakan interaksi antar mahluk hidup dimana mahluk

hidup yang satu menghambat pertumbuhan mahluk hidup yang

lain. Contohnya yaitu interaksi antara jamur Penicillium dengan jenis mikroorganisme lain, jamur Penicillium mengeluarkan antibiotik yang dapat menghambat atau mematikan

mikroorganisme lain yang hidup di sekitarnya.

f. Kalor

Kalor atau panas merupakan suatu bentuk energi yang dapat

dipindahkan. Perpindahan energi ini terjadi karen perbedaan suhu

sehingga disebut aliran panas atau perpindahan suhu. Young &

(46)

Suhu tergantung pada keadaan fisik suatu bahan dan merupakan

deskripsi kuantitatif dari panas atau dinginnya, sedangkan kalor

merujuk pada energi yang pindah dari satu benda ke benda lainnya

karena perbedaan suhu, bukan karena jumlah energi yang terdapat

dalam suatu sistem. Suhu suatu benda dapat diubah dengan cara

menambah atau mengurangi panas.

Secara umum, untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki

oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika

suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar,

begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang

dikandung sedikit. Kalor juga dapat mempengaruhi perubahan wujud

[image:46.595.237.456.414.578.2]

suatu benda.

Gambar 10. Diagram Perubahan Wujud Zat Sumber: (Arif Kristanta, 2012)

g. Pemanasan Global

Pemanasan global adalah proses peningkatan suhu rata-rata

atmosfer, laut, dan darat. Suhu rata-rata global pada permukaan bumi

(47)

Intergovernmental Panelon Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan temperature rata-rata global sejak

pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh

meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia

[image:47.595.196.501.223.561.2]

melalui efek rumah kaca (Kemendikbud, 2013: 196).

Gambar 11. Mekanisme Terjadinya Pemanasan Global Sumber: (Dina, 2013)

Pemanasan global telah menjadi isu internasional. Isu tersebut

timbul karena pemanasan global mempunyai dampak yang paling

besar bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup. Kemendikbud (2013:

(48)

1) Mencairnya es di kutub

2) Meningkatnya level permukaan air laut 3) Perubahan iklim yang ekstrim

4) Gelombang panas yang semakin meningkat 5) Berkurangnya gletser sebagai sumber air bersih

Riyanto (2007: 79) meyakinkan bahwa, upaya penanggulangan

pemanasan global sebagai berikut:

1) Hindari pemakaian AC berlebihan karena AC dapat melepaskan

zat freon yang dapat mengakibatkan penipisan lapisan ozon

2) Biasakan memisahkan limbah prhanik dengan non organik

3) Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor maupun mobil

pribadi

4) Tidak membakar hutan untuk berladang atau pemukiman

5) Gunakan kendaraan yang ramah lingkungan seperti menggunakan

sepeda

6) Menggunakan predator alami untuk membasmi hama tanaman

7) Pemberdayaan taman kota

8) Dalam rumah tangga dibiasakan melakukan penghematan energi

dan mengurangi sampah

9) Pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik. Limbah yang

dihasilkan manusia sangat banyak dan jika tidak diolah dengan

benar akan menghasilkan gas CH4. Proses pengolahan limbah

harus dilakukan dengan proses aerobik sehingga gas yang keluar

bukan CH4 melainkan CO2. Walaupun termasuk gas rumah kaca,

(49)

tetapi gas CH4 juga dapat dimanfaatkan sebagai biogas yang dapat

menjadi sumber bahan bakar gas alternatif

10)Penghijauan lahan gundul dapat meningkatkan kadar O2 di

atmosfer akan mempengaruhi kerusakan pada ozon.

B. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti Ngafiyah (2014), dalam

skripsinya yang berjudul Implementasi Pendekatan Scientific untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Materi Pokok Kalor dan

Perpindahannya pada Siswa Kelas VII5 SMP Negeri 4 Kendari, diperoleh

kesimpulan bahwa aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas VII5 SMP N

4 Kendari cenderung meningkat melalui penerapan pendekatan scientific. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Johari Marjan, Putu Arnyana, dan

Nyoman Setiawan (2014) dalam e-Journal Program Pascasarjana Universitas

Pendidikan Ganesha yang berjudul Pengaruh Pembelajaran Pendekatan

Saintifik terhadap Hasil Belajar Biologi dan Keterampilan Proses Sains Siswa

MA Mu’alimat NW Pancor Selong Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara

Barat, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan keterampilan proses sains

antara siswa yang mengikuti model pembelajaran pendekatan saintifik dengan

siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung sehingga dapat

disimpulkan bahwa pembelajaran pendekatan saintifik lebih baik daripada

model pembelajaran langsung dalam meningkatkan hasil belajar biologi dan

(50)

Dari kedua penelitian yang relevan terhadap penelitian yang akan

peneliti lakukan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan

saintifik dapat meningkatkan kemampuan keterampilan proses sains dan hasil

belajar siswa. Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan kedua

penelitian tersebut, penelitian peneliti dilakukan pada pembelajaran IPA

Terpadu dan keterampilan proses sains yang akan diukur antara lain yaitu

mengamati (mengobservasi), melakukan percobaan, mengasosiasi data,

membuat kesimpulan, dan mengkomunikasikan. Serta hasil belajar yang

diukur adalah hasil belajar kognitif produk siswa.

C. Kerangka Berpikir

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan mata pelajaran yang penting dan

sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari karena selalu berhubungan

dengan alam semesta yang berada dekat di lingkungan sekitar siswa. Namun,

sangat disayangkan apabila nilai ulangan Ilmu Pengetahuan Alam siswa di

sekolah selalu rendah. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam akan

menambah banyak wawasan bagi siswa terutama wawasan tentang alam

semesta yang sebelumnya belum mereka ketahui, wawasan tersebut dapat

diperoleh dari melihat langsung, mengalami sendiri, maupun belajar dengan

menggunakan media. Belajar yang dimaksud di sini mengandung arti aktivitas

mental yang sangat kompleks yang nantinya dapat menghasilkan suatu

(51)

Siswa akan lebih memahami dan senang belajar IPA apabila ia sudah

mengalami sendiri atau belajar dari pengalaman karena pembelajaran IPA

tidak akan berhasil jika hanya dibelajarkan dengan guru memberikan

informasi dan siswa mendengarkan kemudian mencatat apa yang diberikan

guru. Hal tersebut memang perlu namun pada kondisi sekarang ini harus

dikurangi porsinya. Pembelajaran IPA yang dilakukan sekolah masih

menggunakan pendekatan konvensional. Pendekatan konvensional yang

dimaksud yaitu pembelajaran berbasis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

yang menerapkan Eksplorasi, Elaborasi, Konfirmasi tetapi masih berpusat

pada guru.

Pada kurikulum yang diterapkan sekarang siswa tidak hanya dituntut

memiliki hasil belajar yang baik tetapi juga dituntut memiliki keterampilan

proses sains. Keterampilan proses adalah keterampilan yang fisik dan mental

tertentu yang digunakan dalam penemuan fakta dan konsep yang terhimpun

dalam suatu disiplin ilmu tertentu. Untuk meningkatkan keterampilan proses

siswa

Gambar

Gambar 1. Ranah Pencapaian Hasil Belajar Sumber: Hosnan, 2014
Gambar 2. Ekosistem
Gambar 5. Contoh Netralisme
Gambar 8. Contoh Simbiosis Komensalisme
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian deskriptif berjudul “Keterampilan Proses Sains (KPS) Siswa SMP dalam Pembelajaran Respirasi Serangga dengan Pendekatan Scientific ” ini bertujuan untuk

PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR IPA TENTANG PEMBENTUKAN TANAH MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MULTIMEDIA PADA SISWA KELAS V SDN 2

Skripsi ini berjudul “ Pengaruh Pendekatan Saintifik Terhadap Kemampuan Menyusun Teks Eksplanasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 34 Medan Tahun Pembelajaran..

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pelaksanaan pendekatan saintifik dalam Pembelajaran Matematika pada Sub-Pokok Bahasan Bangun Datar Segitiga Kelas

Ke- efektivan pendekatan saintifik dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa tidak hanya dilihat dari rata-rata n-gain yang lebih tinggi pada

Berdasarkan hasil analisis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus menggunakan pendekatan keterampilan proses sains, maka hasil analisis tes hasil belajar

Pendekatan Keterampilan Dasar Proses Sains merupakan bagian dari pendekatan keterampilan proses. Menurut Depdikbud pendekatan keterampilan proses dapat diartikan

Skripsi berjudul “ Meningkatkan Prestasi Belajar Aritmatika Sosial Dengan Pendekatan Saintifik Kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Surabaya ” ini disusun untuk memenuhi persyaratan