SKRIPSI
PENGARUH INDEPENDENSI DAN SKEPTISISME
PROFESIONAL AUDITOR TERHADAP
PENDETEKSIAN KECURANGAN (
FRAUD
)
(Studi pada Auditor Pemerintah di Perwakilan BPKP Provinsi Sul-Sel)
CATRINE INGE RAYA
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
ii
SKRIPSI
PENGARUH INDEPENDENSI DAN SKEPTISISME
PROFESIONAL AUDITOR TERHADAP
PENDETEKSIAN KECURANGAN (
FRAUD
)
(Studi pada Auditor Pemerintah di Perwakilan BPKP Provinsi Sul-Sel)
sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
disusun dan diajukan oleh
CATRINE INGE RAYA
A31111111
kepada
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016
iii
SKRIPSI
PENGARUH INDEPENDENSI DAN SKEPTISISME
PROFESIONAL AUDITOR TERHADAP
PENDETEKSIAN KECURANGAN (
FRAUD
)
(Studi pada Auditor Pemerintah di Perwakilan BPKP Provinsi Sul-Sel)
disusun dan diajukan oleh
CATRINE INGE RAYA
A31111111
telah diperiksa dan disetujui untuk diuji
Makassar, Desember 2015
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Syarifuddin, S.E., M.Soc., Sc., Ak., CA Muhammad Irdam Ferdiansah, S.E., M.Acc., Ak.
NIP 196302101990021001 NIP 198102242010121002
Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Dr. Hj. Mediaty, S.E., M.Si., Ak., CA NIP 196509251990022001
iv
SKRIPSI
PENGARUH INDEPENDENSI DAN SKEPTISISME
PROFESIONAL AUDITOR TERHADAP
PENDETEKSIAN KECURANGAN (
FRAUD
)
(Studi pada Auditor Pemerintah di Perwakilan BPKP Provinsi Sul-Sel)
disusun dan diajukan oleh
CATRINE INGE RAYA
A31111111
telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi pada tanggal 04 Februari 2016 dan dinyatakan telah memenuhi syarat kelulusan
Menyetujui, Panitia Penguji
No. Nama Penguji Jabatan Tanda Tangan
1. Dr. Syarifuddin, S.E., M.Soc., Sc., Ak., CA Ketua 1. ………
2. Muhammad Irdam Ferdiansah, S.E., M.Acc., Ak. Sekretaris 2. ………
3. Drs. Rusman Thoeng, Ak., M.Com., BAP Anggota 3. ………
4. Drs. H. Kastumuni Harto, Ak., M.Si., CPA., CA Anggota 4. ………
Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Dr. Hj. Mediaty, S.E., M.Si., Ak., CA NIP 196509251990022001
v
PERNYATAAN KEASLIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
nama : Catrine Inge Raya
NIM : A31111111
jurusan/program studi : Akuntansi
dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul PENGARUH INDEPENDENSI DAN SKEPTISISME
PROFESIONAL AUDITOR TERHADAP
PENDETEKSIAN KECURANGAN (FRAUD)
(Studi pada Auditor Pemerintah di Perwakilan BPKP Provinsi Sul-Sel)
adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari ternyata di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut dan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).
Makassar, 11 Desember 2015 Yang membuat pernyataan,
vi
PRAKATA
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan tugas akhir untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
Selama proses penyusunan skripsi ini, peneliti banyak mendapat bimbingan, arahan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Kedua orang tua, ayah, Alexius Raya dan ibu, Rostika Pirade atas doa, bantuan, nasihat, dan motivasi yang diberikan selama penelitian skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. H. Gagaring Pagalung, SE, M.Si., Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
3. Ibu Dr. Hj. Mediaty, SE., M.Si., Ak., CA selaku Ketua Jurusan Akuntansi dan Bapak Dr. Yohanis Rura, S.E., Ak., M.SA., CA., selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
4. Bapak Dr. Syarifuddin, S.E., M.Soc., Sc., Ak., CA., selaku pembimbing I dan Bapak Muhammad Irdam Ferdiansah, S.E., M.Acc., Ak., selaku pembimbing II atas waktu, dukungan, dan nasehat-nasehat yang membangun demi terselesaikannya penelitian skripsi ini.
5. Bapak Drs. Rusman Thoeng, Ak., M.Com, BAP., Bapak Drs. Kastumuni Harto, Ak., M.Si., CPA., CA., dan Bapak Drs. M. Natsir Kadir, Ak., M.Si., CA., selaku Tim Penguji atas segala masukan dan saran-saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini.
vii
6. Bapak Dr. Alimuddin, S.E., M.M., Ak., selaku penasihat akademik atas bimbingan dan arahan selama kuliah
7. Ibu Dr. Grace Theresia Pontoh, S.E., M.Si., Ak., selaku Pembina KMKE atas bimbingan dan arahan selama kuliah.
8. Saudara-saudara, Angeline, Clara, Claudia, Yusnasaria, dan dua keponakan troublemaker Zion dan Oscar atas dukungan, doa dan hiburan
9. Seluruh dosen dan staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin atas perhatian ilmu pengetahuan, dan bantuan yang telah diberikan selama ini.
10. Pimpinan, staf serta seluruh auditor BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan atas waktu dan kesempatan serta bantuan yang telah diberikan untuk melakukan penelitian.
11. Sebagai sahabat dan keluarga, Ari, terima kasih atas doa dan dukungannya, serta dua saudara, Fian dan Brilyan, yang selalu mendukung, mengeluh, bahkan pernah menangis bersama-sama sejak sebelum memasuki dunia perkuliahan.
12. Teman seperjuangan Wachi, Arini, Suci, Melissa, Asti, Fildzah, Agung dan Keluarga besar IMA FE-UH, serta teman-teman i11inois atas doa, motivasi, dan bantuan yang telah diberikan.
13. Saudara dan saudari PMKO FEB-UH dan KMKE, Intan, Richard, Clinton, Ani, Cynthia, Nita, Feybe, Yetty, Tiara, Eston, Endi, Eriek, Filipus, Gieze, Rosa, Eko, Eva, Frans, Edwin, Theo, Andi ,dan bagi kak Hangga, Kak Irene, Kak Bony, Kak Sherly dan Kak Hans yang sering direpotkan selama proses penyelesaian skripsi terima kasih banyak, dan masih banyak lagi saudara, adik-adik serta kakak-kakak KMKE dan PMKO yang belum disebutkan namanya.
viii
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan walaupun telah menerima bantuan dari berbagai pihak. Apabila terdapat kesalahan-kesalahan dalam skripsi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab peneliti dan bukan para pemberi bantuan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan lebih menyempurnakan skripsi ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat, baik kepada peneliti maupun semua pihak yang berkepentingan.
Makassar, Januari 2016
ix
ABSTRAK
PENGARUH INDEPENDENSI DAN SKEPTISISME
PROFESIONAL AUDITOR TERHADAP
PENDETEKSIAN KECURANGAN (
FRAUD
)
(Studi pada Auditor Pemerintah di Perwakilan BPKP Provinsi Sul-Sel)
THE EFFECT OF INDEPENDENCE AND PROFESSIONAL
SKEPTICISM OF AUDITOR ON FRAUD DETECTION
(Studies on BPKP Representative Government Auditor in South Sulawesi Province)
Catrine Inge Raya Syarifuddin
Muhammad Irdam Ferdiansah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh independensi dan skeptisisme auditor terhadap pendeteksian kecurangan (fraud) di BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan model analisis regresi berganda dan diuji dengan menggunakan uji kualitas data, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis dengan menggunakan softaware SPSS 21. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 responden. Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan purposive sampling. Kuesoner dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Hasil dalam penelitian menunjukkan bahwa variabel independensi dan skeptisisme profesional auditor berpengaruh siginifikan dalam mendeteksi kecurangan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa skeptisisme profesional auditor merupakan variabel yang paling dominan
Kata kunci: independensi, skeptisisme profesional auditor, pendeteksian kecurangan
This study aimed to analyze the effect of the independence and professional skepticism of auditor on fraud detection in BPKP Representative in South Sulawesi Province. This study used quantitative descriptive method with multiple regression analysis and tested with goodness of data, classical assumption, and hypothesis tests using SPSS 21 software. The sample in this study were 60 respondents. The sample of this research is determined using purposive sampling method. The questionnaires of this study meassured using likert scale. Results showed that the variable independence and professional skepticism of auditor have significant effect on fraud detection. The results also showed that the professional skepticism of auditor was the most dominant variable.
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL . ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN... v
PRAKATA ... vi
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 9 1.3. Tujuan Penelitian ... 9 1.4. Kegunaan Penelitian ... 10 1.4.1. Kegunaan Teoretis ... 10 1.4.2. Kegunaan Praktis ... 10 1.5. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1. Landasan Teori ... 12
2.1.1. Teori Atribusi ... 12
2.1.2. Pengertian dan Klasifikasi Auditor ... 13
2.1.3. Independensi ... 15
2.1.4. Skeptisisme Profesional ... 18
2.1.5. Pendeteksian Kecurangan (Fraud) ... 21
2.2 . Penelitian Terdahulu ... 31
2.3 . Kerangka Pemikiran ... 32
xi
BAB III METODE PENELITIAN ... 36
3.1. Rancangan Penelitian ... 36
3.2. Tempat dan Waktu ... 36
3.3. Populasi dan Sampel ... 37
3.3.1. Populasi Penelitian ... 37
3.3.2. Sampel ... 37
3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 38
3.5. Teknik Analisis Data ... 39
3.5.1. Uji Kualitas Data ... 39
3.5.2. Uji Asumsi Klasik ... 40
3.5.3. Uji Hipotesis ... 42
3.6. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 44
3.7. Instrumen Penelitian ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...48
4.1. Deskripsi Data ... 48
4.2. Karakteristik Responden ... 48
4.2.1. Jenis Kelamin ... 48
4.2.2. Usia Responden ... 49
4.2.3. Lama Bekerja Responden Sebagai Auditor ... 50
4.2.4. Pendidikan Terakhir Responden ... 50
4.3. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian ... 51
4.3.1. Variabel Independensi Auditor (X1)... 51
4.3.2. Variabel Skeptisisme Profesional Auditor (X2)... 53
4.3.3. Variabel Pendeteksian Kecurangan (Y) ... 55
4.4. Hasil Uji Kualitas Data ... 57
4.4.1. Hasil Uji Validitas Data ... 57
4.4.2. Hasil Uji Reabilitas Data ... 59
4.5. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 59
4.5.1. Hasil Uji Normalitas ... 59
4.5.2. Hasil Uji Multikolinieritas ... 61
4.5.3. Hasil Uji Heteroskedatisitas ... 61
4.6. Hasil Uji Hipotesis ... 62
xii
4.6.2. Hasil Uji Simultan (Uji F) ... 65
4.6.3. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R Square) ... 66
4.7. Pembahasan ... 67
4.7.1. Pembahasan Independensi Auditor Terhadap Pendeteksian Kecurangan ... 67
4.7.2. Pengaruh Skeptisisme Profesional Auditor Terhadap Pendeteksian Kecurangan ... 67
4.7.3. Pengaruh Independensi dan Skeptisisme professional auditor secara simultan terhadap Pendeteksian Kecurangan .... 68
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 69 5.2. Saran ... 70 5.3. Keterbatasan Penelitian ... 71 DAFTAR PUSTAKA ... 72 LAMPIRAN ... 74
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1. Skor Jawaban Responden ... 47
4.1. Rincian Penyebaran Kuesioner ... 48
4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ………. 49
4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ………...…...….... ... 49
4.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja Sebagai Auditor 50 4.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir …... 50
4.6. Statistik Deskriptif Variabel Independensi Auditor ………. 51
4.7. Statistik Deskriptif Variabel Skeptisisme Profesional Auditor ……… . 53
4.8. Statistik Deskriptif Variabel Pendeteksian Kecurangan ……… 55
4.9. Hasil Uji Validitas Data ………. . 57
4.10. Reabilitas Intrumen Penelitian ………. 59
4.11. Hasil Uji Multikolinieritas ……… 61
4.12. Hasil Uji Linear Berganda ……….… 63
4.13. Hasil Uji Parsial (Uji t) ……… 65
4.14. Hasil Uji Simultan (Uji F) ……….. . 66
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1. Kerangka Konseptual ... 33 4.1. Hasil Uji Normalitas Data ... 60 4.2. Hasil Uji Heteroskedatisitas ... 62
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman 1 Biodata ... 73 2 Kuesioner ... 74 3 Karakteristik Responden ……….. 78 4 Statistik Deskriptif ……….. 805 Hasil Uji Kualitas Data ……….. 82
6 Hasil Uji Asumsi Klasik ……….. 87
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam era teknologi maju dan globalisasi, bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang berhubungan dengan masalah kecurangan, kolusi, nepotisme, dan penggelapan lainnya. Kecurangan atau fraud akhir-akhir ini makin mendapat perhatian. Bukan hanya karena kasus korupsi atau penggelapan yang terus bertambah, namun juga karena bisnis juga butuh mengenal fraud guna kelangsungan usahanya. Kelangsungan usaha akan sangat terganggu bahkan mungkin saja bangkrut jika kecurangan dibiarkan begitu saja.
Salah satu kecurangan terbesar yang diingat dunia sampai saat ini adalah kasus Enron yang melibatkan salah satu dari The Big Five,Andersenand Co.
Pada tahun 2001 Enron dianugerahi majalah Fortune sebagai perusahaan paling inovatif 6 tahun berturut-turut (1996-2001) dan total kekayaan Enron saat itu mencapai USD 60 miliar serta pendapatan mendekati USD 101 miliar. Namun pada bulan Desember di tahun yang sama Enron mengajukan permohonan bangkrut ke pengadilan sehingga menjadi kebankrutan terbesar dan paling kompleks dalam sejarah Amerika Serikat. Pada saat itu terungkap bahwa terdapat hutang perusahaan yang tidak dilaporkan lebih dari satu miliar dolar. Kebangkrutan Enron membawa dampak yang mengejutkan yaitu runtuhnya Arthur Andersen yang menjadi auditor independen atas laporan keuangan Enron. Kemudian permasalahan ini menimbulkan pertanyaan, apa kontribusi yang diberikan Arthur Andersen sebagai auditor independen dalam bencana Enron? Manakah keputusan yang salah dari Arthur Andersen?
Berbicara mengenai kecurangan (fraud) tentu akan menyinggung mengenai uang, baik penggelapan uang, pengutilan, atau sejenisnya dengan inti yang sama yaitu mengambil yang bukan hak pribadinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa sumber terjadinya kecurangan (fraud) adalah uang. Oleh sebab itulah masalah keuangan harus dirinci dan dicatat secara cermat (Wind 2014:2).
Dalam SPAP (2011) kecurangan dalam auditing merupakan salah saji atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabui laporan keuangan. Pencatatan atas laporan keuangan disebut dengan laporan keuangan. Dari laporan inilah dapat dideteksi terjadinya suatu kecurangan. Laporan keuangan yang memenuhi syarat dalam pembuatannya akan sangat membantu dalam menentukan terjadinya kecurangan atau tidak. Laporan keuangan juga menjadi objek pertama dan utama dalam pemeriksaan kecurangan. Seperti yang tercantum dalam SPAP seksi 210, audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor (IAPI, 2011)
Auditor akan melaksanakan tugasnya dalam mengaudit laporan keuangan berdasarkan standar audit. Standar audit berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman bagi seluruh anggota organisasi auditor dalam mematuhi kode etik dan menjalankan tugas serta kewajiban profesional sebagaimana tercantum dalam Kode Etik bagi Auditor. Dengan memenuhi standar audit dalam memberikan pelayanan kepada pengguna jasa secara profesional (BPKP, 2008)
Seorang auditor akan memverifikasi dan mengevaluasi secara objektif bukti audit sesuai dengan standar audit dan kemudian menentukan apakah
aktivitas, kejadian, dan kondisi, sistem atau informasi tersebut sesuai dengan kriteria audit, serta mengkomunikasikan hasil proses tersebut kepada klien. Keputusan utama yang harus ditetapkan auditor adalah menyangkut banyaknya bukti pendukung yang memadai untuk dikumpulkan, agar ia merasa yakin bahwa unsur-unsur laporan keuangan dan semua laporan lainnya dari klien dibuat secara wajar. Banyaknya bukti yang harus dikumpulkan dalam suatu pemeriksaan tertentu merupakan proses pengambilan keputusan, di antara proses tersebut yang paling penting adalah proses pemeriksaan. Memperoleh bukti yang terlalu sedikit akan memperbesar kemungkinan kegagalan kesalahan yang material.
Belakangan ini perhatian auditor diarahkan terutama untuk mendeteksi terjadinya kesalahan dan transaksi kecurangan. Berdasarkan penetapan kebijakan, dan fungsi terhadap pendeteksian kecurangan, tidak ada standar formal yang ditetapkan untuk menentukan tanggung jawab seorang auditor, baik internal maupun eksternal, untuk mendeteksi terjadinya kecurangan.
Para pengguna laporan keuangan mengharapkan auditor mencari dan mendeteksi kecurangan (fraud). Akan tetapi, kecurangan mencakup konsep hukum yang luas. Menurut SAS no.82 ada dua tipe salah saji yang relevan dengan pertimbangan auditor tentang kecurangan dalam audit atas laporan keuangan, antara lain: salah saji atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan untuk mengelabui pemakai laporan keuangan dan salah saji yang timbul akibat penyalahgunaan aset (Boynton, dkk 2003:67).
Terdapat beragam cara untuk mengklasifikasikan berbagai jenis kecurangan. Cara yang paling umum dan praktis dengan mengelompokkan kecurangan-kecurangan yang ada menjadi dua kelompok utama, yaitu
kecurangan yang dilakukan terhadap organisasi dan kecurangan yang dilakukan atas nama organisasi. Sebagai contoh kecurangan terhadap organisasi adalah kecurangan pegawai, korban dari kecurangan tersebut adalah tempat pegawai tersebut bekerja. Sedangkan kecurangan atas nama organisasi biasanya dilakukan oleh para eksekutif terkait dengan laporan keuangan agar keadaan perusahaan terlihat baik dari keadaan yang sebenarnya (Zimbelman, dkk 2014:12).
Menurut Zimbelman, dkk (2014:12) ada cara lain untuk mendefinisikan kecurangan adalah penggunaan definisi ACFE (Association of Certified Fraud Examiners) atas kecurangan yang berhubungan dengan jabatan/pekerjaan (occupational fraud). ACFE mendefinisikan kecurangan ini sebagai penggunaan jabatan oleh seseorang untuk memperkaya dirinya melalui penyalahgunaan yang disengaja atau penggunaan aset atau sumber daya organisasi.
ACFE mengklasifikasikan occupational fraud dalam tiga kategori utama, yaitu: (1) kecurangan aset, berupa pencurian atau penyalahgunaan aset organisasi, (2) korupsi, yaitu para pelaku kecurangan menggunakan pengaruhnya secara tidak sah dalam transaksi bisnis untuk memperolah manfaat bagi kepentingan pribadi atau orang lain, bertentangan dengan kewajiban mereka terhadap pekerja lain atau hak-hak kepada pihak lain, dan (3) laporan yang berisi kecurangan, yang biasanya berupa pemalsuan laporan keuangan suatu organisasi. (ACFE 2014)
Seorang auditor tidak harus memberikan perhatian dan keahlian lebih dari biasanya dalam melakukan atau memberikan pertanyaan dan penyidikan. Auditor haruslah seorang yang jujur oleh karena itu ia seharusnya tidak meyakini apa yang tidak dipercayainya benar terjadi, dan ia harus
menggunakan keahliannya sebelum ia percaya apa yang diyakininya itu benar.
Auditor akan menganalisa dan mengevaluasi akun, transaksi, proses bisnis, fungsi, dan departemen yang memiliki risiko menengah-tinggi yang memerlukan kecermatan dan ketrampilan tinggi. Kemudian bila terdapat indikasi kejanggalan akuntansi dan keuangan yang diduga kuat mengarah kepada kecurangan (fraud), auditor harus mencari beberapa bukti tambahan yang menguatkan atau lebih meyakinkan sehubungan dengan penemuan tersebut.
Menurut Tuanakotta (2010:100) kecurangan tidak terjadi begitu saja, selalu ada pelakunya. Banyak auditor berkutat pada pengumpulan bukti audit dan temuan, dan tidak dapat menjawab pertanyaan paling penting: siapa pelakunya?. Oleh karena itu, terdapat tiga sikap dan tindak pikir yang harus selalu melekat pada diri seorang auditor, yakni independen, objektif, dan skeptis
Independensi merupakan dasar dari profesi auditing. Hal itu berarti bahwa auditor akan bersikap netral terhadap entitas, dan oleh karena itu akan bersikap objektif. Publik dapat mempercayai fungsi audit karena auditor bersikap tidak memihak serta mengakui adanya kewajiban untuk bersikap adil (Boynton 2003:66)
Hubungan antara independensi auditor terhadap tanggung jawab auditor dalam mendeteksi kecurangan ditinjau dari aspek-aspek independensi yang berupa kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan berbagai fakta yang ditemui dalam auditnya. Seorang auditor harus mengungkapkan tentang temuan apa yang didapat dari laporan keuangan yang disusun oleh
suatu perusahaan atau organisasi, apakah benar terjadi kesalahan sesuai dengan temuan atau fakta yang ada.
Dalam melakukan pekerjaannya seorang auditor dituntut untuk bertindak secara profesional, memiliki pengalaman yang baik dan sikap yang independen serta skeptis terhadap informasi yang diberikan oleh perusahaan atau organisasi. Skeptisisme profesional adalah kewajiban auditor untuk menggunakan dan mempertahankan kewaspadaan atas kemungkinan terjadinya kecurangan sepanjang periode penugasan (Tuanakotta 2013:321)
Pengguna kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menuntut auditor untuk melaksanakan skeptisisme profesional. Skeptisisme profesional itu sendiri adalah sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan mengevaluasi secara kritis bukti audit. Oleh karena itu sikap skeptisisme profesional diperlukan selama proses pengumpulan dan penilaian bukti audit.
Skeptisisme profesional dangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas audit yang diberikan oleh auditor. Karena sikap skeptis seorang auditor akan lebih berinisiatif untuk mencari informasi lanjut dari manajemen atau organisasi mengenai keputusan-keputusan yang akan diambil, dan menilai kinerjanya sendiri dalam menggali bukti-bukti yang mendukung keputusan-keputusan yang diambil oleh manajemen tersebut. Auditor diharuskan menerapkan skeptisisme profesional dalam mengevaluasi bukti audit dengan begitu auditor tidak menerima bukti-bukti tersebut apa adanya, seperti bukti yang tidak lengkap, menyesatkan atau pihak yang menyediakan bukti tidak kompeten bahkan sengaja menyediakan bukti yang tidak kompeten
Seperti yang tercantum dalam SPAP seksi 230, skeptisisme profesional merupakan unsur yang terkandung dalam Standar Umum Ketiga mengenai penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama dalam
pelaksanaan pekerjaan auditor. Skeptisisme profesional adalah sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis bukti audit (IAPI, 2011)
Dalam instansi pemerintahan khususnya di Indonesia, pengelolaan keuangan negara yang akuntabel dan transparan oleh para penyelenggara negara merupakan sorotan utama masyarakat saat ini ditenggarai dengan semakin meningkatnya tindakan fraud. Audit pada instansi pemerintah dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selaku auditor eksternal pemerintah dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) selaku auditor internal pemerintah
Tugas BPKP adalah memberikan bantuan kepada pemerintah, baik pusat maupun pemerintah untuk memperbaiki sistem pengendalian manajemen, antara lain meliputi kegiatan membangun sistem akuntabilitas, dan sistem akuntansi keuangan daerah serta penerapan good public governance dan
good corporate governance (Ulum 2012:157)
Pada penelitian ini, peneliti lebih memfokuskan pada auditor internal pemerintah, yaitu BPKP. Tugas utama BPKP adalah melakukan pengawasan, audit, baik audit yang direncanakan sendiri oleh BPKP maupun audit atas permintaan pihak-pihak tertentu, misalnya pemerintah daerah, aparat penegak hukum, pimpinan departemen/LPND, BUMN/BUMD, dan institusi pemberi pinjaman (lender).
Penelitian ini merupakan penelitian gabungan dan replikasi dari penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yunintasari (2010), Aulia (2013), dan Merdian (2014). Variabel penelitian ini meliputi independensi, skeptisisme profesional (variabel independen) dan
pendeteksian kecurangan (fraud) (variabel dependen) yang diadopsi dari penelitian mereka.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan Yunintasari (2010) menunjukkan bahwa independensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendeteksian kecurangan. Penelitian Yunintasari (2010) ingin mengetahui apakah independensi seorang auditor internal mempunya pengaruh yang signifikan terhadap pendeteksian kecurangan. Perbedaan penelitian yang dilakukan Yunintasari (2010) dengan penulis terletak pada variabel skeptisisme profesional auditor. Penulis ingin mengetahui apakah independensi dan skeptisisme secara bersama-sama akan mempengaruhi auditor dalam mendeteksi kecurangan (fraud).
Penelitian ini merupakan replikasi pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Aulia (2013) dan Merdian (2014) yaitu meneliti tentang pengaruh skeptisisme profesional auditor yang hasilnya secara positif berpengaruh terhadap pendeteksian kecurangan. Penelitian Aulia (2013) dan Merdian (2014) bertujuan untuk mengetahui apakah skeptisisme professional seorang auditor eksternal yang bekerja di Kantor Akuntan Publik berpengaruh positif terhadap pendeteksian kecurangan (fraud)
Peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan dengan penelitian sebelumnya, oleh sebab itu pada penelitian ini, peneliti memfokuskan pada auditor internal pemerintah yang bertugas untuk melakukan audit atas keuangan pada instansi pemerintah. Letak objek penelitian ini bertempat di kantor BPKP wilayah Makassar
Berdasarkan uraian di atas maka, peneliti bermaksud menyusun skripsi dengan judul yaitu “Pengaruh Independensi dan Skeptisisme Profesional Auditor terhadap Pendeteksian Kecurangan (fraud)”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah Independensi auditor bepengaruh terhadap pendeteksian kecurangan (fraud) ?
2. Apakah skeptisisme profesional berpengaruh terhadap pendeteksian kecurangan (fraud) ?
3. Apakah independensi dan skeptisisme professional auditor secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap pendeteksian kecurangan (fraud) ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk menganalisis pengaruh independensi auditor BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan terhadap pendeteksian kecurangan (fraud) 2. Untuk menganalisis pengaruh skeptisisme profesional auditor BPKP
Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan terhadap pendeteksian kecurangan 3. Untuk menganalisis pengaruh independensi dan skeptisisme profesional
auditor BPKP Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan secara simultan terhadap pendeteksian kecurangan (fraud)
1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoretis
1. Untuk kalangan akademisi, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan lebih lanjut, bagaimana dapat menciptakan
profesi akuntan yang memiliki integritas yang tinggi dalam menjalankan tugasnya secara profesional dan menjadi sumbangan data empiris bagi ilmu pengetahuan terutama ilmu akuntansi
2. Untuk rekan-rekan mahasiswa akuntansi, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi media informasi dalam mengadakan penelitian lebih lanjut
1.4.2 Kegunaan praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris tentang pengaruh independensi dan skeptisisme profesional terhadap pendeteksian kecurangan (fraud) sehingga pada hakekatnya penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para auditor untuk lebih profesional lagi dalam menjalankan peran mereka sebagai penyedia informasi.
1.5 Sistematika Penulisan
Dalam penelitian ini, sistematika penulisan yang akan digunakan penulis adalah sebagai berikut.
BAB I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II Landasan Teori
Bab ini berisi tinjauan teori dan konsep, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian
BAB III Metode Penelitian
Bab ini berisi rancangan penelitian, tempat dan waktu, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data,
variabel penelitian dan definisi operasional, instrumen penelitian.
BAB IV Hasil Penelitian
Bab ini berisi hasil penelitian dan pembahasan BAB V Penutup
12
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Atribusi
Teori atribusi pertama kali dikemukakan oleh Heider (1958). Teori ini digunakan untuk mengembangkan penjelasan tentang cara-cara kita menilai individu secara berbeda, bergantung pada arti yang kita hubungkan dengan perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori ini mengemukakan bahwa ketika mengobservasi perilaku seorang individu, kita berupaya untuk menentukan apakah perilaku tersebut disebabkan secara internal atau eksternal. Perilaku internal adalah perilaku yang diyakini dipengaruhi oleh kendali pribadi seorang individu. Sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal dianggap sebagai akibat dari sebab-sebab luar, yaitu, individu tersebut telah berperilaku demikian yang disebabkan oleh situasi tertentu (Stephen dan Timothy, 2008:177)
Teori atribusi telah dikemukakan untuk mengembangkan penjelasan tentang cara-cara kita menilai individu. Ketika mengobservasi individu, kita berusaha untuk mengembangkan berbagai penjelasan tentang mengapa mereka berperilaku dengan cara-cara tertentu.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa teori atribusi mengacu kepada penyebab suatu kejadian atau hasil yang diperoleh berdasarkan persepsi individu. Dalam penelitian ini teori atribusi digunakan untuk menjelaskan pengaruh independensi dan skeptisisme profesional seorang auditor dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
Dengan sikap independensi yang dimiliki, auditor harus dapat merumuskan pendapatnya dengan baik. Untuk mencapai hasil yang diharapkan, auditor juga harus mengunakan kemahirannya untuk memuat pertimbangan dan menggunakan sikap skeptisnya dengan baik sehingga dapat memperoleh dan mengevaluasi bukti yang memadai untuk memberikan opini audit yang tepat dan tidak memihak.
2.1.2 Pengertian dan Klasifikasi Auditor
Menurut Boynton, dkk (2002:8) para professional yang ditugaskan untuk melakukan kegiatan audit atas kegiatan dan peristiwa ekonomi bagi perorangan dan entitas resmi, pada umumnya diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu.
a. Auditor Independen
Sebagaimana halnya dengan profesi medis dan hukum, auditor independen bekerja berdasarkan imbalan (fee). Meskipun terdapat kemiripan antara peran seorang auditor yang bekerja dalam kantor akuntan publik dengan peran kuasa hukum di suatu kantor hukum, namun sesungguhnya terdapat perbedaan besar di antara keduanya, dimana seorang auditor diharapkan independen dari kliennya sementara seorang kuasa hukum diharapkan membela kepentingan klien dalam jasa hukum yang diberikan. Para pengguna mengandalkan jasa auditor independen serta menarik manfaat yang bernilai dengan kenyataan bahwa auditor tidak memihak klien yang sedang diaudit
b. Auditor Internal
Auditor Internal adalah pegawai dari organisasi yang diaudit. Auditor jenis ini melibatkan diri dalam suatu kegiatan penilaian independen, yang dinamakan audit internal, dalam lingkungan organisasi sebagai
suatu jasa bagi organisasi. Tujuan audit internal untuk membantu manajemen organisasi dalam memberikan pertanggungjawaban yang efektif.
Lingkup fungsi audit internal meliputi semua tahap dalam kegiatan organisasi. Para auditor internal terutama melibatkan diri pada audit kepatuhan dan operasional. Akan tetapi, sebagaimana akan dijelaskan kemudian, pekerjaan auditor internal ini juga dapat melengkapi pekerjaan auditor independen dalam melakukan audit laporan keuangan c. Auditor Pemerintah
Auditor pemerintah adalah auditor professional yang bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya adalah melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit unit organisasi atau entitas pemerintah atau pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada pemerintah. Meskipun banyak auditor yang bekerja di instansi pemerintah, namun umumnya yang disebut auditor pemerintah adalah auditor yang bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)., serta instansi pajak.
Auditor yang bekerja di BPKP mempunyai tugas pokok melaksanakan audit atas laporan keuangan instansi pemerintah, proyek-proyek pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan perusahaan swasta yang pemerintah mempunyai penyertaan modal yang besar di dalamnya. BPKP melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara atas kegiatan tertentu yang meliputi.
2. Kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
3. Kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden
Sedangkan BPK adalah unit organisasi di bawah Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR), yang tugasnya melakukan audit atas
pertanggungjawaban keuangan Presiden RI dan aparat di bawahnya kepada dewan tersebut. Kemudian tugas pokok auditor yang bekerja di instansi pajak adalah mengaudit pertanggungjawaban keuangan masyarakat wajib pajak kepada pemerintah dengan tujuan untuk memverifikasi apakah kewajiban pajak telah dihitung oleh wajib pajak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam undang-undang yang berlaku (Mulyadi dan Kanaka 1998:28)
2.1.3 Independensi
Independensi merupakan dasar dari profesi auditing. Hal itu berarti bahwa auditor akan bersikap netral terhadap entitas, den oleh karena itu akan bersikap objektif. Publik dapat mempercayai fungsi audit karena auditor bersikap tidak memihal serta mengakui adanya kewajiban untuk bersikap adil (Boynton et al., 2002:66).
Independensi berarti bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Sedangkan auditor yang independen adalah auditor yang tidak terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri auditor dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam audit dan secara objektif memberikan pendapat yang jujur dan berdasarkan fakta yang seperti adanya. Ada dua kata kunci dalam pengertian independensi (Mulyadi dan Kanaka 1998:48), yaitu.
1. Objektivitas adalah unsur karakter yang menunjukkan kemampuan sesorang yang menyatakan kenyataan sebagaimana adanya, terlepas dari kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain
2. Integritas adalah unsur karakter yang menunjukkan kemampuan seseorang untuk mewujudkan apa yang telah disanggupinya dan diyakini kebenarannya ke dalam kenyataan
Independensi dan objektivitas adalah tulang punggung dari profesi seorang auditor. Tanpa adanya jaminan independensi dan objektivitas dari seorang auditor, masyarakat akan meragukan pendapat yang diberikan oleh seorang auditor atas laporan keuangan auditan. Oleh karena itu, IAI (Mulyadi dan Kanaka, 1998:49) mencantumkan aturan mengenai independensi anggotanya dalam standar auditing. Independensi auditor mempunyai tiga aspek.
1. Independensi dalam diri auditor yang berupa kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan berbagai fakta yang ditemuinya dalam auditnya. Aspek independensi ini disebut dengan istilah: independensi dalam kenyataan atau independence in fact
2. Independensi ditinjau dari sudut pandangan pihak lain yang mengetahui informasi yang bersangkutan dengan diri auditor. Aspek independensi ini yang disebut dengan istilah independensi dalam penampilan atau perceived independence atau independence in appareance.
3. Independensi dipandang dari sudut keahliannya. Seseorang dapat mempertimbangkan fakta dengan baik jika ia mempunyai keahlian mengenai audit atas fakta tersebut. Kompetensi auditor juga menentukan independen atau tidaknya auditor tersebut dalam
mempertimbangkan fakta yang diauditnya. Jika auditor tidak memiliki kecakapan professional yang diperlukan untuk mengerjakan penugasan yang diterimanya, ia melanggar kode etik yang bersangkutan dengan independensi (Pasal 1 Ayat 2 Kode Etik Akuntan Indonesia) dan bersangkutan dengan kecakapan profesionalnya (Pasal 2 Ayat 3 Kode Etik Akuntan Indonesia)
Standar audit professional mengharuskan auditor untuk menjaga independensi. Hal ini sangat penting untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat umum terhadap independensi seorang auditor. Kepercayaan masyarakat akan terganggu oleh bukti bahwa independensi telah berkurang.
Berdasarkan syarat yang diberikan oleh Sarbanes Oxley Act of 2002,
(dalam Wind 2014:50). SEC memberikan aturan mengenai independensi. Dalam aturan tersebut, komisi menyatakan tiga prinsip dasar independensi yang harus dimiliki oleh seorang auditor, pelanggaran atas prinsip ini merusak citra independensi seorang auditor. Prinsip tersebut diantaranya.
1. Auditor tidak diijinkan untuk berfungsi dalam peran manajemen 2. Auditor tidak diijinkan untuk mengudit pekerjaan mereka sendiri
3. Auditor tidak diijinkan untuk memberikan layanan advokasi bagi klien mereka.
Prinsip-prinsip umum tersebut berguna untuk meningkatkan nilai fakta dan independensi auditor. Alasan penting untuk menjadi independen adalah untuk membantu memastikan bahwa auditor akan berpikir dan bertindak objektif dan menimbulkan kepercayaan masyarakat.
2.1.4 Skeptisme Profesional
Skeptisme, berasal dari kata skeptis, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sikap meragukan, mencurigai, dan tidak memercayai kebenaran suatu hal, teori, ataupun pernyataan. Skeptisisme berarti bersikap ragu-ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang belum cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya. Kata professional dalam skeptisisme merujuk pada fakta bahwa auditor telah, dan terus dididik dan dilatih untuk menerapkan keahliannya dalam mengambil keputusan sesuai standar profesionalnya. Menurut Quadackers (dalam Djohar 2012:9) Skeptisisme profesional sendiri belum memiliki definisi yang pasti, namun dari definisi kata skeptisisme dan profesional tersebut, dapat disimpulkan bahwa skeptisisme profesional auditor adalah sikap auditor yang selalu meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu, dan menilai secara kritis bukti audit serta mengambil keputusan audit berlandaskan keahlian auditing yang dimilikinya. Skeptisisme bukan berarti tidak percaya, tapi mencari pembuktian sebelum dapat mempercayai suatu pernyataan.
Secara khusus skeptisme professional auditor merupakan sikap auditor dalam melakukan penugasan audit dimana sikap ini mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritis terhadap bukti audit. Pernyataan serupa dipaparkan dalam International Standards on Auditing, skeptisisme profesional adalah sikap yang meliputi selalu bertanya-tanya (questioning mind), waspada (alert) terhadap kondisi dan keadaan yang mengindikasikan adanya kemungkinan salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan atau kesengajaan (fraud), dan penilaian (assessment) bukti-bukti audit secara kritis. Konsep skeptisisme professional yang tercermin dalam standar tersebut adalah sikap selalu
bertanya-tanya, waspada, dan kritis dalam melaksanakan seluruh proses audit.
Menurut Anugerah (dalam Djohar 2012:10) untuk menerapkan skeptisisme professional yang efektif, perlu dibentuk persepsi bahwa bahkan sistem pengendalian internal yang paling baik memiliki celah dan memungkinkan terjadinya (fraud). Hanya saja, dalam menerapkan skeptisisme profesional, auditor tidak boleh mengasumsikan bahwa klien manajemen melakukan praktek yang bersih, namun juga tidak berprasangka bahwa klien melakukan fraud.
Pentingnya skeptisisme profesional banyak ditekankan oleh berbagai jenis profesi. Umumnya profesi yang membutuhkan skeptisisme profesional adalah profesi yang berhubungan dengan pengumpulan dan penilaian bukti-bukti secara kritis, dan melakukan pertimbangan pengambilan keputusan berdasarkan bukti yang dikumpulkan. Profesi-profesi yang dirujuk antara lain, detektif, polisi, auditor, pengacara, dan hakim, dan penyelidik. Namun, dari berbagai bidang profesi dan akademis yang membutuhkan skeptisisme professional, hanya auditor yang menyarankan skeptisisme profesionalnya.
Menurut International Standards on Auditing (dalam Djohar 2012:12) juga ditekankan pentingnya skeptisisme professional. Disebutkan bahwa auditor harus merencanakan dan melaksanakan proses audit berlandaskan skeptisisme professional dengan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan material dalam laporan keuangan. Pekerjaan auditor selalu berhubungan dengan pembuktian dan pencarian kebenaran bukti-bukti dari dokumen kertas kerja, dan dari prosedur standar yang mereka anut, namun hal ini bukan berarti auditor hanya bekerja untuk memenuhi prosedur
standar yang ada, terutama saat ditemukannnya bukti-bukti yang penting, karena tanpa keberanian untuk beradu argumentasi mengenai asersi manajemen, auditor tidak akan dapat menjalankan fungsinya sebagai pencegah dan pendeteksi fraud. Untuk itu auditor harus mampu menerapkan tingkat skeptisisme profesional yang tepat.
Skeptisisme profesional adalah sikap yang selalu mempertanyakan dan mengevaluasi bukti audit secara kritis. Auditor seharusnya dapat menyeimbangkan antara sikap percaya dan curiganya selama proses audit berlangsung. Banyak hal dari luar diri auditor yang dapat mempengaruhi sikap skeptisnya, namun seorang auditor harus tetap mempertahankan independensi dengan dengan bersikap netral tanpa terpengaruh dan selalu berusaha kiritis dalam mempertanyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan proses audit
Auditor menerapkan sikap skeptisisme professional pada saat mengajukan pertanyaan dan menjalankan prosedur audit, dengan tidak cepat puas dengan bukti audit yang kurang persuasif yang hanya didasarkan pada kepercayaan bahwa manajemen atau pihak terkait selalu memiliki pikiran kritis, profesional, bersikap jujur, dan mempunyai sikap percaya diri. Skeptisisme profesional berarti auditor membuat penaksiran yang kritis, dengan pikiran yang selalu mempertanyakan terhadap validitas dan bukti audit yang diperoleh, waspada terhadap bukti audit yang bersifat kontradiksi atau menimbulkan pertanyaan sehubungan dengan realibilitas dan dokumen, dan memberikan tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan dan informasi lain yang diperoleh dan manajemen, serta pihak terkait.
1. Skeptisisme professional merupakan syarat yang harus dimiliki auditor yang tercantum dalam standar audit (SPAP).
2. Perusahaan-perusahaan audit internasional mensyaratkan penerapan skeptisisme profesional dalam metodologi audit mereka. 3. Skeptisisme profesional merupakan bagian dari pendidikan dan
pelatihan auditor
4. Literatur akademik dan profesional di bidang auditing menekankan pentingnya skeptisisme profesional
Financial Reporting Council menyebutkan dua aspek sifat skeptisisme, yakni pemikiran skeptic (skeptical thinking) dan tindakan skeptic (skeptical action). Kedua aspek ini dapat timbul dari dalam diri auditor, namun hanya tindakan skeptis yang yang dapat dinikmati secara langsung. Auditor yang memiliki pemikiran sketis akan memiliki pola pikir yang skeptic, seperti bertanya-tanya, meragukan pendapat orang lain, dan keinginan untuk mengkonfrontasi argumen orang lain. Akan tetapi, pola pikir skeptic tersebut hanya akan diketahui oleh auditor itu sendiri, dan tidak diketahui oleh orang lain jika auditor tersebut tidak melakukan tindakan skeptic untuk menunjukkan sifat skeptis yang dimilikinya (Chen dalam Djohar 2012:17) 2.1.5 Pendeteksian Kecurangan (Fraud)
Dalam literature akuntansi dan auditing, fraud diterjemahkan sebagai praktik kecurangan dan fraud sering diartikan sebagai irregularity atau ketidakteraturan dan penyimpangan (Priantara 2013:3). Salah satu definisi
fraud adalah definisi menurut Black Law Dictionary (8th Ed) yaitu “The
international use of deceit, a trick or some dishonest means to deprive another of his money, property or legal right, either as a cause of fiction or as a fatal element in the action itself”
Dan menurut Priantara (2013:3) definsi fraud tersebut dapat diterjemahkan dan diartikan sebagai berikut.
“Suatu perbuatan sengaja untuk menipu atau membohongi, suatu tipu daya atau cara cara yang tidak jujur untuk mengambil atau menghilangkan uang, harta, hak yang sah milik orang lain baik karena suatu tindakan atau dampak yang fatal dari tindakan itu sendiri.”
Sedangkan fraud menurut standar the Instutute of Internal Auditors
tahun 2013, yaitu.
“Any illegal act characterizedby deceit, concealment, or violation of trust. These act are not dependent upon the threat of violence or physical force. Frauds are perpetrated by parties and organization to obtain: money, property, or services, to avoid payment or loss services; or to secure personal or business advantage”.
Yang dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dicirikan dengan pengelabuan atau pelanggaran kepercayaan untuk mendapatkan uang, aset, jasa, atau mencegah pembayaran atau kerugian atau untuk menjamin keuntungan/manfaat pribadi dan bisnis. Perbuatan ini tidak tergantung pada ancaman kekerasan oleh pelaku terhadap orang lain (Priantara 2013:4)
Fraud itu sendiri sebenarnya merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh orang-orang dari dalam dan atau dari luar organisasi, dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan atau kelompoknya yang secara langsung merugikan orang lain. Kamus hukum mengartikan Fraud (Inggris) atau Fraude (Belanda) sebagai kecurangan atau Frauderen/verduisteren (Belanda) yaitu perbuatan menggelapkan sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal KUHP, Pasal 268 KUHPer. Pengertian in hampir sama dengan Wikipedia yang memberikan definisi Fraud sebagai berikut.
“Fraud is a deception made for personal gain or to damage another individual. In criminal law, fraud is the crimeor offense of deliberately deceiving another in order to damage them – usually, to obtain property or services unjustly. Fraud can be accomplished through the aid of forged objects. In the criminal law of common law jurisdiction it may be called “theft by deception”, larceny by trick”, “larceny by fraud and deception” or something similar.”
Yang kemudian diterjemahkan sebagai berikut.
“Kecurangan merupakan penipuan yang dibuat untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau untuk merugikan orang lain. Dalam hukum pidana, kecurangan adalah kejahatan atau perbuatan yang dengan sengaja menipu orang lain dengan maksud untuk merugikan mereka, biasanya untuk memiliki sesuatu/harta benda atau jasa ataupun keuntungan dengan cara tidak adil/curang. kecurangan dapat tercapai melalui pemalsuan terhadap barang atau benda. Dalam hukum pidana disebut dengan “pencurian dengan penipuan”, “pencurian dengan tipu daya/muslihat”, “pencurian dengan penggelapan dan penipuan” atau hal serupa lainnya”. (Priantara 2013:5)
Walau terdapat beberapa berbagai definisi normal terkait kecurangan, namun menurut Zimbleman, dkk (2014:7) definisi yang paling umum adalah sebagai berikut
“Kecurangan merupakan suatu istilah umum, dan mencakup segala macam cara yang dapat digunakan dengan keahlian tertentu, yang dipilih oleh seorang individu, untuk mendapatkan keuntungan dari pihak lain dengan melakukan representasi yang salah. Tidak ada aturan yang baku dan tetap yang bisa dikeluarkan sebagai proposisi umum dalam mendefinisikan kecurangan, termasuk kejutan, tipu muslihat, ataupun cara-cara yang licik dan tidak wajat yang digunakan untuk melakukan penipuan.batasan satu-satunya dalam mendefinisikan kecurangan adalah hal-hal yang membatasi ketidakjujuran manusia”
Istilah fraud adalah meliputi banyak ragam tindakan penyelewengan atau perbuatan yang tidak sesuai hukum untuk memperoleh manfaat ekonomis. Hukum disini mencakup kebijakan dan prosedur kebijakan internal organisasi
Menurut Priantara (2013:6) terdapat unsur-unsur pembentuk fraud yang perlu diketahui dan dipahami. Unsur tersebut adalah.
1. Terdapat pernyataan yang dibuat salah atau menyesatkan (misrepresentation) yang dapat berupa suatu laporan, data, informasi, ataupun bukti transaksi
2. Bukan hanya pembuatan pernyataan yang salah, tetapi fraud adlah perbuatan melanggar peraturan, standar, ketentuan, dan dalam situasi tertentu melanggar hukum
3. Terdapat penyalahgunaan atau pemanfaatan kedudukan, pekerjaan, jabatan, untuk kepentingan dan keuntungan pribadi
4. Meliputi masa lampau atau sekarang karena perhitungan kerugian yang diderita korban umumnya dihubungkan dengan perbuatan yang sudah dan sedang terjadi
5. Didukung fakta bersifat material (material fact), artinya mesti didukung oleh bukti objektif dan sesuai dengan hukum
6. Kesengajaan perbuatan atau ceroboh yang disengaja ( make-knowingly or recklessly), apabila kesengajaan itu dilakukan terhadap suatu data atau informasi atau laporan atau bukti transaksi, hal itu dengan maksud untuk menyebabkan suatu pihak beraksi atau terpengaruh atau salah atau tertipu dalam membaca atau memahami data
7. Pihak yang dirugikan mengandalkan dan tertipu oleh pernyataan yang dibuat salah (misrepresentation) yang merugikan. Artinya ada pihak yang menderita kerugian, dan sebaliknya ada pihak yang mendapat manfaat atau keuntungan secara tidak sah baik dalam bentuk uang atau harta maupun keuntungan ekonomis lainnya. Menurut Zimbleman, dkk (2014:8) kecurangan adalah penipuan yang menyertakan hal-hal berikut
1. Sebuah representasi
2. mengenai sesuatu yang bersifat material 3. sesuatu yang tidak benar
4. secara sengaja dilakukan untuk kemudian, 5. dipercaya
6. dan ditindaklanjuti oleh korban
7. sehingga pada akhirnya korban menanggung kerugian
Untuk dapat mencegah, mendeteksi, atau menyelidiki fraud, auditor perlu mengenali dan memahami modus operandi yang mungkin terjadi di entitas masing-masing. Secara skematis, Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menggambarkan occupational fraud dalam bentuk fraud tree (Tunakotta 2010:195).
ACFE muncul sebagai organisasi anti fraud yang utama. ACFE adalah suatu wadah asosiasi bagi para profesional baik di sektor publik maupun di sektor swasta yang berpraktik dan memiliki sertifikasi dibidang eksaminasi
fraud atau fraud examiner (ACFE, 2014). ACFE membagi fraud dalam tiga jenis atau tipologi berdasarkan perbuatan yaitu
1. Penyimpangan atas Aset (Asset Misrepresentation)
Asset Misrepresentation atau “pengambilan” aset secara ilegal
dalam bahasa sehari-hari disebut mencuri. Namun dalam istilah hukum, “mengambil” aset secara illegal (tidak sah atau melawan hukum) yang dilakukan seseorang yang diberi wewenang untuk mengelola atau mengawasi aset tersebut, disebut menggelapkan. Istilah pencurian dalam fraud tree disebut larceny.
Asset Misrepresentation meliputi penyalahgunaan, penggelapan, atau pencurian aset atau harta perusahaan oleh pihak di dalam
dan/atau pihak di luar perusahaan. Fraud jenis ini merupakan bentuk
fraud yang klasikal dan seharusnya paling mudah dideteksi, karena sifatnya yang berwujud (tangible) atau dapat diukur atau dihitung. Pengungkapan Asset Misrepresentation dilakukan dengan mengkombinasikan teknik auditing dengan teknik investigasi.
Asset Misrepresentation dalam bentuk penjarahan cash atau cash misappropriation dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu skimming, larceny, fraudulent disbursement. Klasifikasi penjarahan kas dalam tiga bentuk disesuaikan dengan arus uang masuk (Tunakotta 2010:189)
2. Fraudulent Statement
Fraudulent Statement seringkali diidentikkan sebagai management fraud atau fraud yang dilakukan oleh manajemen sebab mayoritas pelaku memang berada pada tingkat atau kedudukan lini manajerial.
Fraudulent statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif dan manajer senior suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan atau mempercantik laporan keuangan guna mendapatkan keuntungan atau manfaat pribadi mereka terkait dengan tanggung jawab dan kedudukannya (Priantara 2013:68)
Pengungkapan dan pendeteksian fraudulent statement sangat membutuhkan kecakapan auditing dan akuntansi. Meskipun tipologi kedua ini paling banyak berkaitan dengan pelaporan keuangan yang dibuat salah atau menipu, namun sebenarnya, ACFE menekankan bahwa pelaporan yang dibuat salah atau menipu bukan hanya
pelaporan keungan sehingga pelaporan kinerja operasional, permohonan kredit, prospektus atau pernyataan publik (press release) yang dibuat untuk mengelabui orang lain untuk memperoleh keuntungan atau manfaat pribadi termasuk fraudulent statement 3. Korupsi (Corruption)
Jenis fraud ini paling sulit dideteksi karena menyangkut kerja sama pihak lain atau kolusi, fraud jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena para pihak yang bekerja sama menikmati keuntungan (simbiosis mutualisme). Termasuk dalam jenis korupsi adalah penyalahgunaan wewenang atau konflik kepentingan (conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/legal (illegal gratuitise) yang lebih dikenal dengan hadiah dan gratifikasi yang terkait hubungan kerja den jabatan, dan pemerasan secara ekonomi (economic extortion) atau dikenal sebagai pungutan liar atau upeti.
Conflict of interest terjadi pada saat satu pihak memiliki kepentingan ekonomis pribadi atau memiliki relasi kepentingan dengan pihak lain yang bertentangan dengan kepentingan organisasi yang memberikan pekerjaan. Sedangkan bribery
(penyuapan) diartikan sebagai penawaran, pemberian, atau penerimaan segala sesuatu dengan niat untuk mempengaruhi aktivitas suatu pihak (Priantara 2013:69).
Illegal gratuities adalah pemberian atau hadiah yang merupakan bentuk terselubung dari penyuapan (Tuanakotta 2010:198). Sedangkan economic extortion lebih dikenal dengan pemerasan untuk mendapatkan keuntungan ekonomis.
Dari tiga kategori utama tindak kecurangan (fraud) di atas, penyalahgunaan aset adalah tindak kecurangan yang paling sering terjadi yaitu lebih dari 85% dari kasus dianalisis untuk laporan ini dan menyebabkan kerugian $130.000 namun jumlah ini tidak terlalu besar jika dibanding dengan kecurangan fraudulent statement yang terjadi agak jarang dengan jumlah 9% yang menyebabkan dampak kerugian terbesar yaitu sekitar $1.000. (ACFE, 2014)
Risiko yang dihadapi organisasi antaranya adalah integrity risk atau risiko fraud yaitu risiko terjadinya fraud oleh manajemen atau pegawai suatu organisasi, tindakan ilegal oleh organisasi/perusahaan, atau tindakan penyimpangan lainnya yang dapat mengurangi nama baik/ reputasi organisasi atau dapat mengurangi kemampuan organisasi dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adanya risiko tersebut mengharuskan perusahaan untuk menyusun tindakan pencegahan. Namun, pencegahan saja tidaklah memadai, perusahaan harus memahami pula bagaimana cara mendeteksi secara dini terjadinya fraud.
Dalam mencegah , fraud belum terjadi. Oleh karenanya perusahaan atau organisasi bersangkutan mengupayakan pencegahannya. Baik mencegah maupun mendeteksi merupakan cakupan fraud audit yang bersifat proaktif, sedangkan mendeteksi bagian dari fraud audit yang bersifat investigatif (Tunakotta 2010:285).
Petunjuk adanya fraud biasanya ditunjukkan oleh munculnya gejala/indikasi seperti adanya perubahan gaya hidup atau perilaku seseorang, dokumentasi yang mencurigakan, keluhan dari pelanggan ataupun kecurigaan dari rekan sekerja. Pada awalnya kecurangan ini akan tercermin melalui timbulnya karakteristik tertentu, baik keadaan lingkungan
maupun perilaku seseorang. Karakteristik yang bersifat kondisi/situasi tertentu, perilaku/kondisi seseorang tersebut dinamakan red flag, symptom, atau fraud indicators (Priantara 2013:211).
Albrecht menjelaskan bahwa indikasi fraud dapat dikenali atau dideteksi dari gejal-gejala atau tanda-tanda (red flag) sebagai berikut.
1. Anomali dokumentasi bukti transaksi meliputi antara lain
a. Terdapat dokumen sumber transaksi yang hilang atau penggunaan dokumen tidak asli
b. Nama dan alamat penerima pembayaran sama dengan nama dan alamt pembeli atau pegawai perusahan
c. Piutang yang telah melewati tanggal jatuh tempo dan berusia sangat lanjut
d. Jumlah item penyebab selisih yang direkonsiliasi banya dan belum tuntas
e. Pembayaran dengan bukti transaksi duplikat (salinan) 2. Anomaly akuntansi meliputi antara lain
a. Ayat (entry) jurnal yang salah atau tidak sesuai standar dengan akuntansi yang berlaku baik salah dalam klasifikasi akun maupun dalam pengukuran
b. Buku besar (ledger) yang tidak akurat seperti ledger yang tidak seimbang dan akun master atau akun control pada buku besar (general ledger) tidak sama dengan jumlah akun dari customer
atau pemasok secara individual
3. Kelemahan struktur pengendalian internal baik level transaksi maupun level entitas antara lain
b. Tidak ada pengamanan yang memadai untuk aset c. Tidak ada pengecekan dan penelaahan independen d. Tidak ada otorisasi yang tepat
e. Mengesampingkan atau mengabaikan pengendalian yang dibuat f. Sistem akuntansi yang tidak memadai
4. Anomali dari prosedur analitis, contohnya antara lain
a. Pendapatan yang meningkat dengan persediaan yang menurun b. Pendapatan yang meningkat dengan piutang yang menurun c. Pendapatan yang meningkat dengan arus kas yang menurun d. Persediaan yang meningkat dengan utang yang menurun
e. Volume penjualan yang meningkat penambahan biaya per unit yang menurun
f. Persediaan yang meningkat dengan biaya pergudangan yang menurun
5. Gaya hidup mewah 6. Perilaku yang tidak biasa 7. Pengaduan dan complain
Menurut Wind (2014:102) sikap dan prosedur kunci dalam deteksi meliputi hal-hal berikut.
1. Lakukan semua prosedur dengan sikap skeptisisme professional 2. Pertimbangkan teknik penipuan dalam review dokumen, termasuk
kemungkinan pemalsuan dokumen
3. Benar-benar memahami dan waspada terhadap potensi red flag
yang mungkin atas indikator penyimpangan dan kemungkinan indikator daerah yang membutuhkan analisis lanjut
4. Meminta dokumentasi lebih dalam untuk memnuhi tanggung jawab audit. Percaya, tapi memverifikasi (didukung bukti)
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kecurangan (fraud) merupakan tindakan perugian yang dilakukan oleh seorang individu atau atau sekelompok untuk mendapatkan keuntungan dari seseorang atau suatu entitas dengan cara memanipulasi data atau bukti secara sengaja atau dengan cara yang tidak normal. Pendeteksian kecurangan sendiri dapat dilakukan oleh beberapa pihak, salah satunya adalah auditor. Auditor tidak hanya memeriksa atau mengevaluasi laporan keuangan dan memberikan opini audit, tetapi juga berfungsi sebagai sarana dalam memeriksa dan mendeteksi kecurangan. Auditor bertanggung jawab mengungkapkan apabila terdapat salah saji material baik yang disebabkan kekeliruan maupun kecurangan (fraud). Auditor dituntut bersikap profesional selama proses audit terjadi, tidak memihak dan tanpa ada tekanan dari pihak luar serta selalu mempertanyakan segala bukti audit secara kritis sehingga dapat memberikan penilaian yang objektif dan memperoleh keyakinan yang memadai
2.2 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian telah membahas mengenai pengaruh independensi dan skeptisisme profesional auditor terhadap pendeteksian kecurangan (fraud) diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Yunintasari (2010). Penelitian ini menunjukkan bahwa variabel independensi auditor internal berpengaruh signifikan dalam upaya mendeteksi kecurangan (fraud). Yunintasari (2010) memakai objek penelitian yang bertempat di Yayasan Pendidikan Internal Audit, Jakarta Selatan
Penelitian lain yang dilakukan oleh Yusuf Aulia (2013) menunjukkan bahwa variabel independensi dan skeptisisme profesional auditor berpengaruh positif terhadap pendeteksian kecurangan (fraud). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa variabel skeptisisme memiliki pengaruh paling dominan terhadap pendeteksian kecurangan. Objek penelitian Aulia (2013) adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik wilayah Jakarta
Penelitian lain dilakukan oleh Alif Merdian (2014) tentang pengaruh skeptisisme professional auditor terhadap pendeteksian kecurangan. Berdasarkan hasil penelitian, skeptisisme berpengaruh signifikan terhadap kemampuan mendeteksi kecurangan. Objek penelitian Alif (2014) adalah auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik wilayah Bandung
2.3 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan suatu alat dalam menganalisa suatu konsep penelitian. Penelitian ini akan menganalisa pengaruh Independensi dan Skeptisisme professional auditor terhadap Pendeteksian Kecurangan (fraud), untuk menganalisanya peneliti menggunakan analisis regresi linier berganda, yaitu suatu uji peneliti untuk menganalisa pengaruh antara variabel X (independen) terhadap variabel Y (dependen).
Variabel independen yang digunakan oleh peneliti sendiri adalah Independesi dan Skeptisisme professional auditor, sedangkan untuk variabel dependennya adalah Pendeteksian Kecurangan (fraud). Perbedaan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terletak pada sampel. Sampel dari penelitian sebelumnya adalah auditor yang bekerja di daerah pulau Jawa, sedangkan sampel penelitian ini adalah
auditor yang bekerja BPKP yang terlekat di kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Berdasarkan uraian diatas, gambaran menyeluruh tentang Pengaruh Independensi dan Skeptisisme Profesional Auditor terhadap Pendeteksian Kecurangan (fraud) adalah sebagai berikut.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Variabel Independen (X) Variabel Dependen (Y)
2.4 Hipotesis Penelitian
Menurut Mulyadi dan Kanaka (1998:48) independen berarti bebas dari pengaruh , tidak dikendalikan oleh pihak manapun dan tidak tergantung pada orang lain. Menurut penelitian Yunintasari (2010) independensi berpengaruh positif signifikan dalam upaya mendeteksi terjadinya kecurangan (fraud). Hal yang sama diungkapkan dalam penelitian Aulia (2013) yaitu semakin tingginya independesi auditor maka akan semakin tinggi dalam mendeteksi kecurangan.
Independensi merupakan sikap yang harus dimiliki seorang auditor terutama saat menjalankan tugasnya. Seorang Auditor baik internal maupun eksternal tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun karena ini akan berakibat pada kebebasan pendapatnya. Auditor berkewajiban jujur tidak hanya terhadap manajemen atau organisasi yang bersangkutan tapi juga terhadap semua pengguna laporan keuangan
Independensi (𝑋1 )
Skeptisisme Profesional (𝑋2 )
Pendeteksian Kecurangan (Fraud)