• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang Berbeda di RPH Bustaman Kota Semarang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kualitas Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang Berbeda di RPH Bustaman Kota Semarang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis UNS Ke 43 Tahun 2019

“Sumber Daya Pertanian Berkelanjutan dalam Mendukung Ketahanan dan Keamanan Pangan Indonesia pada Era Revolusi Industri 4.0”

Kualitas Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang

Berbeda di RPH Bustaman Kota Semarang

Sendy Bahar, C. M. Sri Lestari, dan Endang Purbowati Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang

Jalan drh. Soejono Koesoemo wardjojo, Tembalang, Semarang – 50275 e-mail: [email protected]

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mengkaji karakteristik daging kambing Jawarandu yang dipotong pada berbagai tingkat bobot potong dan lokasi otot berbeda. Materi penelitian berupa 20 ekor kambing Jawarandu yang diambil secara incidental sampling di RPH Bustaman Kota Semarang. Sampel daging diambil dari 2 lokasi otot, yaitu Bicep femoris (BF) dan Longissimus dorsi (LD). Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental tersarang (lokasi otot tersarang pada bobot potong). Ada 4 kelompok bobot potong (BP), yaitu BP 1 rata-rata 6,16 ± 0,21 kg (CV = 3,47%), BP 2 rata-rata 11,00 ± 0,30 kg (CV = 2,76%), BP 3 rata-rata 16,14 ± 0,16 kg (CV = 1,02%), dan BP 4 rata-rata 20,89 ± 0,33 kg (CV = 1,58%). Parameter yang diamati adalah pH, susut masak dan daya ikat air daging. Data dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap pH dan susut masak daging, rata-rata pH dan susut masak daging hasil penelitian adalah 5,94 dan 30,17%. Daya ikat air daging pada semua bobot potong tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata sebesar 29,36%, sedangkan daya ikat air daging pada otot LD (30,80%) lebih besar (P<0,05) daripada otot BF (27,91%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak mempengaruhi pH dan susut masak daging. Perbedaan bobot potong juga tidak mempengaruhi daya ikat air daging, tetapi daging kambing Jawarandu pada otot LD memiliki daya ikat air yang lebih baik dari pada otot BF.

Kata kunci: Kambing Jawarandu, Bobot Potong, Bicep femoris, Longissimus dorsi, Kualitas Fisik Daging.

Pendahuluan

Kambing Jawarandu merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang merupakan hasil persilangan antara kambing Kacang dan kambing Etawa. Populasinya banyak dan mudah dijumpai di hampir semua peternakan kambing di seluruh wilayah Indonesia (Sutama dan Budiarsana, 2011). Populasi kambing Jawarandu yang banyak ini dikarenakan memiliki keunggulan yaitu pertambahan bobot badan harian (PBBH) dapat mencapai 50-100g/hari (Sulastri et al., 2012). Keunggulan lain kambing Jawarandu yaitu persentase karkas yang cukup tinggi, berkisar antara 43-44% (Sunarlim

(2)

dan Setiyanto, 2005). Karakteristik kambing Jawarandu yaitu mempunyai kulit berwarna gelap yaitu hitam, coklat, coklat tua, coklat belang putih, sawo matang atau kombinasi dari warna tersebut. Kambing Jawarandu bertelinga menggantung, panjang kaki sedang dan bulu kaki pendek (Murdjito et al., 2011). Selain itu, kambing Jawarandu memiliki temperamen yang gesit dan lincah.

Karakteristik fisik daging didefinisikan sebagai kualitas daging yang dapat diukur dan/atau diketahui secara fisik. Karakteristik fisik daging itu sendiri dapat bervariasi tergantung umur, bobot potong maupun lokasi otot pada ternak. Parameter yang biasa digunakan untuk mengetahui karakteristik fisik daging diantara lain adalah pH, susut masak dan daya ikat air. Nilai pH daging mempunyai pengaruh yang berarti pada kualitas daging, terutama dalam hal ketahanan terhadap serangan mikroorganisme (Forrest et al., 1975). Nilai pH saling mempengaruhi dengan daya ikat air, pH yang rendah menyebabkan rendahnya daya ikat air sehingga terjadi pengeluaran air dan zat zat lain yang terlarut di dalamnya, seperti protein, vitamin dan myoglobin (Soeparno, 2015). Susut masak (cooking loss) adalah pengurangan bobot daging akibat cairan yang keluar selama proses pemasakan. Daging dengan susut masak yang lebih rendah akan kehilangan nutrisi lebih sedikit selama pemasakan sehingga memiliki kualitas daging yang relatif lebih baik daripada daging dengan susut masak yang lebih besar (Soeparno,2015). Daya ikat air (DIA) adalah kemampuan daging untuk mengikat air, baik air daging maupun air yang ditambahkan, selama ada pengaruh kekuatan dari luar, misalnya pemotongan, pemanasan, penggilingan dan tekanan pada daging (Soeparno, 2015). Daya ikat air dipengaruhi oleh perbedaan macam otot, species, umur, dan fungsi otot (Lawrie, 2003). Daya ikat air daging yang tinggi memiliki lebih banyak ruang molekul air yang menyebabkan keempukan daging meningkat, sedangkan daya ikat air yang rendah akan menyebabkan daging mengeluarkan air sehingga daging menjadi lembek, terlihat pucat dan basah (Sudarman et al., 2008).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik daging kambing Jawarandu yang dipotong pada berbagai tingkat bobot potong dan lokasi otot berbeda. Manfaat penelitian adalah dapat memberikan informasi mengenai bobot potong dan lokasi otot yang tepat pada kambing Jawarandu dalam menghasilkan daging dengan kualitas fisik yang baik.

Metodologi

Materi yang digunakan dalam penelitian berupa 20 ekor kambing Jawarandu jantan yang diambil secara incidental sampling di Rumah Potong Hewan (RPH) Bustaman kota Semarang, Jawa Tengah. Kambing dikelompokkan dalam 4 kelompok bobot potong (BP). Masing-masing kelompok BP terdapat 5 ekor sebagai ulangan. Interval BP antar kelompok adalah 5 kg, yaitu :

(3)

BP II : Kambing Jawarandu BP 10,5 - 11,5 kg (rata-rata 11,00 ± 0,30 kg, CV = 2,76%) BP III : Kambing Jawarandu BP 15,5 - 16,5 kg (rata-rata 16,14 ± 0,16 kg, CV = 1,02%) BP IV : Kambing Jawarandu BP 20,5 - 21,5 kg (rata-rata 20,89± 0,33 kg, CV = 1,58%) Sampel daging diambil dari 2 lokasi otot, yaitu Bicep femoris (BF) untuk mewakili otot aktif dan Longissimus dorsi (LD) untuk mewakili otot pasif. Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental tersarang (lokasi otot tersarang pada bobot potong).

Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah pH, susut masak dan daya ikat air daging. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam menurut Desain Eksperimental Pola Tersarang. Pola ini disebut pola tersarang karena bagian yang lebih kecil adalah bagian dari klasifikasi yang lebih besar (Astuti, 2007). Apabila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1991).

Pengambilan sampel daging dilakukan setelah didapatkan kambing yang dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Bustaman sesuai dengan kriteria materi penelitian yang telah ditetapkan. Setelah ternak dipotong dan terbentuk karkas, kemudian sampel daging otot BF diambil pada bagian paha, dan Longissimus dorsi (LD) diambil pada bagian punggung. Daging dari masing-masing otot tersebut diambil sebanyak 100 g dan selanjutnya dilakukan proses pengujian kualitas fisik daging di Laboratorium.

Metode pengujian pH daging dilakukan dengan cara mengambil sampel daging pada otot LD dan BF masing–masing 5 g, kemudian dihaluskan. Daging yang sudah halus kemudian dicampur dengan 45 ml aquadest ke dalam tabung Erlenmeyer, ditunggu hingga 5 menit kemudian masukkan pH meter. Filtrat yang diperoleh lalu diukur pHnya menggunakan pH meter hingga nilainya konstan (Legowo dkk., 2005). Metode pengujian susut masak daging dilakukan dengan memasak sampel daging dari otot LD dan BF menggunakan waterbath pada suhu 800C selama 30 menit. Bobot sampel daging yang digunakan untuk pengujian susut masak masing–masing sebanyak 20 g untuk sekali pengujian dan pengujian dilakukan duplo. Sampel dimasukan ke dalam plastik tahan panas kemudian dimasukan dalam penangas air, diusahakan sampel dapat tercelupkan seluruhnya, kemudian diamankan dari kontak langsung dengan air (Soeparno, 2015). Sampel yang sudah kering ditimbang dan susut masak dapat dihitung dengan rumus:

Metode yang dipakai dalam pengujian daya ikat air (DIA) daging adalah metode Hamm (Soeparno, 2015), yaitu dengan membebani atau mengepres 0,3 g sampel daging dengan beban 35 kg pada kertas saring Whatman-I dengan alat pressure gauge selama 5 menit. Area yang tertutup sampel daging yang telah menjadi pipih, dan luas area basah disekelilingnya pada kertas saring

(4)

beserta sampel daging ditandai, kemudian setelah pengepresan selesai, dapat diukur (digambar dengan kertas grafik). Area basah diperoleh dengan mengurangkan area yang tertutup daging dari area total (meliputi area yang tertutup daging dan area basah) pada kertas saring. Jumlah air daging yang keluar dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Soeparno, 2015) sebagai berikut :

Kemudian mg H2O dikonversi dalam persen dengan rumus sebagai berikut:

Hasil dan Pembahasan

Karakteristik fisik daging kambing Jawarandu pada bobot potong dan lokasi otot berbeda ditampilkan pada Tabel 1. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa nilai pH, daya ikat air, dan susut masak daging pada kelompok BP tidak berbeda nyata (P>0,05). Nilai pH dan susut masak daging pada otot yang berbeda juga tidak berbeda nyata (P>0,05), namun daya ikat air daging pada otot LD (30,80%) lebih tinggi (P<0,05) dari pada otot BF (27,91%).

Nilai pH Daging

Perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai pH daging kambing Jawarandu, dengan rataan 5,93. Nilai pH daging pada penelitian ini memiliki tingkat keasaman yang sedikit lebih tinggi dari pada pH ultimat. Nilai pH daging lebih tinggi dari pH ultimate, kemungkinan karena cadangan glikogen ternak saat dipotong tidak terlalu banyak. Dewi (2012) menyatakan bahwa kurangnya cadangan glikogen otot pada ternak saat akan dipotong dapat menyebabkan proses glikolisis pascamati yang terbatas dan lamban, sehingga daging yang dihasilkan mempunyai pH yang tinggi dengan warna merah gelap, bertekstur keras dan kering atau dikenal dengan istilah daging DFD (Dark Firm and Dry).

Soeparno (2015) menyatakan bahwa nilai pH daging ultimat normalnya adalah 5,4–5,8. Nilai pH ultimat daging adalah nilai pH yang tercapai setelah glikogen otot habis atau glikogen tidak lagi sensitif oleh serangan-serangan enzim glikolitik. Lawrie (2003) menyatakan bahwa nilai pH ultimat normal daging postmortem adalah sekitar 5,5, yang sesuai dengan titik isoelektrik sebagian besar protein daging. Namun nilai pH daging juga dapat dipengaruhi oleh durasi pembekuan. Muela et al. (2010) menyatakan bahwa pada ternak ruminansia kecil, pH daging segar tidak berbeda secara signifikan dengan pH daging beku yang disegarkan kembali atau daging thawed. Leygonie et al. (2005) menyatakan bahwa pembekuan yang dilakukan dapat meningkatkan denaturasi protein-protein buffer dan kehilangan cairan dari jaringan daging, sehingga dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi larutan dan mengakibatkan penurunan pH daging thawed.

(5)

Tabel 1. Karakteristik Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang Berbeda

Parameter Otot BP 1 BP 2 BP 3 BP 4 Rerata Otot

Nilai pH daging BF 5,9 5,9 6 5,9 5,93 LD 5,9 6 5,9 5,9 5,93 Rerata BP 5,9 5,95 5,95 5,9 Susut Masak (%) BF 31,11 31,63 30,84 31,15 31,18 LD 29,95 28,45 29,08 29,13 29,15 Rerata BP 30,53 30,04 29,96 30,14 Daya Ikat Air (%)

BF 27,81 27,45 28,29 28,08 27,91b

LD 31 31,06 30,53 30,62 30,80a

Rerata BP 29,41 29,26 29,41 29,35

Keterangan : Superscript yang berbeda pada baris/kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)

Susut Masak Daging

Perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap susut masak daging yang dihasilkan oleh kambing Jawarandu, dengan rataan 30,17%. Susut masak daging ini termasuk ketegori sedang dan menunjukkan bahwa daging kambing pada penelitian ini memiliki kualitas yang cukup baik. Bobot potong dan lokasi otot tidak memberikan pengaruh nyata terhadap susut masak daging, hal ini berbanding terbalik dengan Soeparno (2015) yang menyatakan bahwa bobot potong dapat mempengaruhi susut masak, terutama apabila terdapat perbedaan deposisi lemak intramuscular atau marbling. Perbedaan bobot potong pada penelitian ini kemungkinan tidak dapat meningkatkan deposisi lemak intramuscular sehingga susut masak daging relatif sama. Demikian juga dengan lokasi otot LD dan BF kemungkinan deposisi lemak intramuscular-nya tidak berbeda sehingga susut masak dagingnya pun sama.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampel daging yang diteliti memiliki nilai susut masak yang baik. Soeparno (2015) menyatakan bahwa nilai susut masak daging bervariasi kisaran 15 - 40%. Daging dengan susut masak yang lebih rendah mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada daging dengan susut masak yang lebih besar, karena kehilangan nutrisi selama pemasakan akan lebih sedikit. Susut masak daging sangat berhubungan dengan karakteristik fisik daging yang lain. Rompis (2015) menyatakan bahwa besarnya susut masak dipengaruhi oleh banyaknya kerusakan membran seluler, banyaknya air yang keluar dari daging, degradasi protein dan kemampuan daging untuk mengikat air. Daging dengan perlakuan pemanasan dalam media cair (stew) akan menimbulkan kerutan yang nantinya terjadi proses konversi kolagen menjadi gelatin, seiring dengan meningkatnya suhu yang semakin tinggi. Pengerutan daging yang disebabkan oleh proses pemanasan akan menghasilkan cairan (juicenees) daging yang keluar. Rukmi (2009)

(6)

menyatakan bahwa nilai pH daging di atas pH ulitimmate dengan suhu tinggi lebih mudah melelehkan cairan (juicenees) dari lemak intramusculer.

Daya Ikat Air Daging

Dari hasil penelitian diketahui bahwa perbedaan bobot potong tidak memberi pengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya ikat air daging dengan rerata 29,36%, namun daya ikat air daging pada otot LD (30,80%) lebih tinggi secara nyata (P<0,05) dari pada otot BF (27,91%). Daya ikat air adalah kemampuan daging untuk mengikat airnya atau air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan dari luar, misalnya pemotongan, pemanasan, penggilingan, dan tekanan pada daging. Faktor yang dapat mempengarhi daya ikat air daging antara lain yaitu pH daging, pelayuan dan pemasakan, spesies ternak, umur dan fungsi otot. Soeparno (2015) menjelaskan perbedaan daya mengikat air pada lokasi otot yang berbeda dapat disebabkan oleh jumlah asam laktat yang dihasilkan, sehingga pH di antara dan di dalam otot berbeda, namun perbedaan jumlah glikogen yang menentukan besarnya pembentukan asam laktat dan penurunan pH bervariasi. Soeparno (2015) menyatakan bahwa perbedaan nilai daya mengikat air daging dapat dipengaruhi oleh nilai pH daging karena asam laktat yang dihasilkan dalam proses glikolisis menyebabkan ruang antar filamen dalam protein miofibril melebar sehingga terjadi peningkatan diameter miofibril dan mengakibatkan daging mampu mengikat air lebih banyak.

Fungsi atau gerakan otot yang berbeda juga ikut mempengaruhi perbedaan daya mengikat air. Faktor lain yang dapat mempengaruhi daya mengikat air daging adalah lemak intramuscular. Sudarman et al. (2008) menyatakan bahwa daya ikat air daging yang tinggi memiliki lebih banyak ruang molekul-molekul air yang dapat menyebabkan keempukan daging meningkat, sedangkan daya ikat air yang rendah akan menyebabkan daging mengeluarkan air sehingga daging menjadi lembek, terlihat pucat dan basah. Kandungan lemak pada daging yang tidak tertimbun maksimal dapat menyebabkan daya ikat air daging rendah. Komariah et al. (2009) menjelaskan bahwa lemak intramuscular akan melonggarkan mikrostruktur daging sehingga otot daging dapat mengikat air lebih banyak.

Kesimpulan dan Saran

Simpulan penelitian ini adalah bobot potong kambing Jawarandu dari 5,5 sampai 21,5 kg menghasilkan nilai pH, susut masak, dan daya ikat air daging yang sama. Daging kambing Jawarandu pada otot LD dan BF mempunyai nilai pH dan susut masak daging yang sama, namun daya ikat air daging lebih baik pada otot LD dari pada BF. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk memilih daging LD pada kambing Jawarandu yang dipotong dari bobot potong 5,5 sampai 21,5 kg.

(7)

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada pihak pengelola RPH Bustaman sebagai lokasi penelitian yang telah memberikan izin dan membantu selama proses pengambilan data penelitian, Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah serta Universitas Diponegoro yang telah memberikan fasilitas untuk pelaksanaan penelitian

Daftar Pustaka

Astuti, M. 2007. Pengantar Ilmu Statistik untuk Peternakan dan Kesehatan Hewan. Cetakan pertama. Binasti Publisher, Bogor.

Murdjito, G., I. G. S. Budisatria, Panjono, N. Ngadiyono dan E. Baliarti. 2011. Kinerja Kambing Bligon yang dipelihara peternak di Desa Giri Sekar, Panggang, Gunungkidul. Buletin Peternakan. 35 (2): 86 – 95.

Dewi, S. H. C. 2012. Korelasi antara kadar glikogen, asam laktat, pH daging dan susut masak Daging domba setelah pengangkutan. J. AgriSains. 4 (5): 59-70.

Forrest, G. J., Aberle, H. B. Hendrick, M. D. Judge dan R. A. Merkel. 1975. Principles of Meat Science. W. H. Freeman and Company, San Francisco.

Komariah, S. Rahayu dan Sarjito. 2009. Sifat fisik daging sapi, kerbau dan domba pada lama postmortem yang berbeda. Bulletin Peternakan. 3 (33) : 183 – 189.

Lawrie, R. A. 2003. Ilmu Daging. Universitas Indonesia Press, Jakarta. (Diterjemahkan oleh A. Parakkasi)

Legowo, A. M., Nurwantoro dan Sutaryo. 2005. Analisis Pangan. Edisi Kedua. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Muela. E., C. Sanudo, M. M. Campo, I. Medel dan J. A. Beltran. 2010. Effect of freezing method and frozen storage duration on instrumental quality of lamb throughout display. J. Meat Science. 84 (4): 662–669.

Rompis, J. E. G. 2015. Daya mengikat air dan susut masak daging sapi blansir yang dikeringkan dalam oven dan dikemas vakum. J. Zootek. 35 (1): 131 – 137.

Rukmi, A. A. K. 2009. Pengaruh Pemberian Pakan dengan Imbangan Protein Kasar dan Total Digestible Nutriens yang Berbeda Terhadap Kualitas Fisik Domba Peranakan Ekor Gemuk. Fakultas peternakan. Universitas Diponegoro, Semarang (Skripsi Sarjana Peternakan)

Soeparno, 2015. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan Keenam. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Steel, R. G. D dan J. H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Edisi Kedua. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Sudarman, A., M. Muttakin dan H. Nuraini. 2008. Penambahan sabun-kalsium dari minyak ikan lemuru dalam ransum: 2 pengaruhnya terhadap sifat kimia dan fisik daging domba. J. Ilmu Ternak Veteriner. 12 (1) : 42-54.

Sulastri, Sumadi, T. Hartatik dan N. Ngadiyono. 2012. Estimasi parameter genetik dan kemampuan berproduks performans pertumbuhan kambing Rambon. Jurnal AgriSains. 3 (5): 1-16. Sunarlim, Roswita dan H. Setiyanto. 2005. Potongan komersial karkas kambing kacang jantan dan

domba lokal jantan terhadap komposisi fisik karkas, sifat fisik dan nilai gizi daging. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor.

Sutama, I. dan I. G. M. Budiarsana. 2009. Panduan Lengkap Kambing dan Domba. Penebar Swadaya, Jakarta.

Gambar

Tabel 1.  Karakteristik Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang  Berbeda

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mata pelajaran bahasa indonesia, didapatkan hasil penelitian untuk pemahaman guru terhadap kurikulum mendapat rata-rata skor sebesar 3,7 (kriteria baik), pemahaman

Untuk mengukur volume larutan dengan volume ttepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet.. Digunakan pipet pump

kurikulum sebelumnya yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dalam KTSP, guru dituntut untuk kreatif dalam mengembangkan materi pembelajaran yang akan disampaikan di

Studi Pertumbuhan dan Perkembangan Embrio Somatik Kakao ( Theobroma cacao L.) yang Dihasilkan dari Kultur In Vitro.. Laporan Karya

Mata kuliah Filsafat Hukum Islam ini merupakan mata kuliah pengembangan dari matakuliah metodologi hukum Islam (Ushul Fikih dan Kaidah fiqh) yang secara spesifik mengkaji aspek

• Menganggap bahwa konflik memiliki kekuatan positif dalam suatu kelompok kerja dan mutlak diperlukan untuk mencapai kinerja yang. efektif.Ketiadaan konflik cenderung tidak

Sehubungan dengan telah dilakukannya evaluasi administrasi, evaluasi teknis, evaluasi harga untuk penawaran paket pekerjaan tersebut diatas, dengan ini kami sampaikan bahwa Pokja

Sehubungan dengan telah dilakukannya evaluasi administrasi, evaluasi teknis, evaluasi harga untuk penawaran paket pekerjaan tersebut diatas, dengan ini kami sampaikan bahwa Pokja