Tugas Mata Kuliah
FILSAFAT ILMU
Tentang
“EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI
ILMU PENGETAHUAN”
Dosen Pembimbing:
Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum
Disusun Oleh:
SYATRI
NIM. 16162010
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPS
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
“EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI ILMU PENGETAHUAN”
A. EPISTEMOLOGI
1. Pengertian Epistemologi
Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu
episteme yang berarti pengetahuan, dan logos, yang berarti pikiran, teori atau ilmu. Jadi, epistemologi berarti pikiran atau teori tentang pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Istilah lain juga biasa digunakan, yaitu teori pengetahuan (theory of knowledge) atau filsafat pengetahuan (philosophy of knowledge).
Menurut Poedjiadi (2001:13) epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan, adapun yang dibahas antara lain adalah asal mula, bentuk atau struktur, dinamika, validitas, dan metodologi, yang bersama-sama membentuk pengetahuan manusia.
Secara umum, Harold H. Titus (1984:187-188) menyatakan bahwa epistemologi mengkaji tiga persoalan pokok, yaitu sebagai berikut:
1. Apakah sumber-sumber pengetahuan? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya?
2. Apakah sifat dasar pengetahuan? Apa ada alam yang benar-benar di luar pikiran kita? Kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya?
3. Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah?
Menurut Mohammad Muslih (2005:68), tiga persoalan pokok tersebut sekaligus merupakan objek formal dari epistemologi, yakni sebagai perspektif dalam melihat objek materialnya, dalam hal ini adalah pengetahuan. Inilah yang kemudian dikenal dengan haikat pengetahuan, yang tak lain adalah jawaban atas beberapa persoalan pokok di atas.
2. PERIHAL PENGETAHUAN
terjadi tanpa adanya pengalaman. Yang disebut pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas segala pengamatan, yang disimpan di dalam ingatan dan digabungkan dengan suatu pengharapan akan masa depan, sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa yang lampau.
Paham pertama, sebagaimana dikemukakan oleh John Hospers dan Knight (1982), meyakini bahwa di dalam mengetahui memerlukan alat, yaitu pengalaman indera (sense of experience), nalar (reason), wahyu (revelation), otoritas (authority), intuisi
(intuition) dan keyakinan (faith). Yang lain berkeyakinan bahwa pengetahuan didapatkan dari pengamatan. Di dalam pengamatan segala pengetahuan dimulai dengan gambaran-gambaran inderawi. Gambaran-gambaran itu kemudian ditingkatkan hingga sampai kepada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi, yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan intuitif.
Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita. Gerak ini diteruskan kepada otak dan dari otak diteruskan ke jantung. Di dalam jantung timbullah suatu reaksi, suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan ynag sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi.
Menurut Jan Hendrik Rapar (2005:38-39), pengetahuan dapat dibagi ke dalam tiga jenis, yaitu pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, dan pengetahuan filsafati.
1. Pengetahuan biasa (ordinary knowledge), yaitu pengetahuan yang diperoleh dari hasil penyerapan indera terhadap objek tertentu yang disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Pada jenis pengetahuan biasa ini juga pengetahuan biasa ini juga pengetahuan dapat diperoleh dengan cara pemikiran yang rasional yang mendalam mengenai segala sesuatu, namun masih perlu dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
2. Pengetahuan Ilmiah (scientific knowledge), merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui penggunaan metode-metode ilmiah yang lebih menjamin kepastian kebenaran yang dicapai.
hakikat, prinsip, dan asas dari seluruh realitas yang dipersoalkan selaku objek yang hendak diketahui.
3. MASALAH-MASALAH DASAR PENGETAHUAN
Wiramihardja (2006) mengemukakan ada tiga masalah dasar pengetahuan yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut: Apakah dasar atau sumber pengetahuan kita? Adakah kemungkinan manusia mencapai pengetahuan mutlak? Dan Adakah kemungkinan manusia mengetahui objek di luar dirinya?
Sedangkan menurut Juhaya S. Pradja (2005:87-88) terdapat tiga persoalan dasar dalam bidang epistemologi, yaitu: 1) apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari mana pengetahuan yang benar itu datang, dan bagaimana kita dapat mengetahuinya? Ini semua adalah problema asal (origin); 2) Apakah watak dari pengetahuan? Adakah dunia riil di luar akal dan kalau ada, dapatkah kita mengetahuinya? Ini semua adalah problema penampilan (appearance) terhadap realitas; dan 3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema mencoba kebenaran (verification).
Mengenai masalah dasar atau sumber pengetahuan dijawab oleh aliran rasionalisme, empirisme, dan kritisme. Adapun masalah batas pengetahuan yaitu mengenai dapatkah kita mencapai kebenaran mutlak? Ini dijawab oleh aliran dogmatisme dan skeptisisme. Aliran dogmatisme berpendapat bahwa kebenaran mutlak dapat dicapai. Artinya, kebenaran pengetahuan yang sempurna dan abadi dapat dicapai melalui ilmu. Sebaliknya, skeptisisme berpendapat bahwa orang tidak mungkin mencapai pengetahuan yang benar karena terbatas pada penggunaan akal yang berubah terus-menerus dari generasi ke generasi.
Sedangkan masalah objek pengetahuan, hal ini akan dijawab oleh aliran idealisme dan realisme. Idealisme adalah aliran yang meyakini bahwa objek pengetahuan itu ada dalam diri, di dalam pikiran manusia. Namun, menurut realisme pengetahuan merupakan suatu reproduksi gambaran dari objek yang ada di luar diri kita.
Secara umum defenisi yang standar mengenai kebenaran diartikan sebagai kesesuaian antara pikiran dan kenyataan. Dalam aliran pragmatisme, John Dewey (Gallaher, 2005:123) menyebutkan bahwa yang dimaksud ‘kebenaran adalah apa yang membawa hasil’. Suatu pertimbangan itu dikatakan ‘benar’, jika telah mencapai hasil yang berguna. Sebaliknya, pertimbangan itu ‘salah’ jika dengannya dihasilkan hal yang merugikan.
Pada umumnya ada beberapa teori kebenaran, yaitu kebenaran saling berhubung, kebenaran saling berkesesuaian, dan kebenaran inherensi (Susarsono: 2001;146):
1. Teori kebenaran saling berhubungan (Coherence theory of truth), berpendapat bahwa suatu proposisi itu benar apabila hal tersebut mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada atau benar. Dengan kata lain, yaitu apabila proposisi itu mempunyai hubungan dengan proposisi yang terdahulu yang benar. Pembuktian teori kebenaran koherensi dapat melalui fakta sejarah apabila merupakan proposisi sejarah, sedangkan pembuktian melalui logika apabila merupakan pernyataan-pernyataan yang bersifat logis.
2. Teori kebenaran saling berkesesuaian (correspondence theory of truth), berpandangan bahwa suatu proposisi itu bernilai benar apabila proposisi itu saling berkesesuaian dengan kenyataan atau realitas. Kebenaran demikian dapat dibuktikan secara langsung pada dunia kenyataan.
3. Teori kebenaran inherensi (inherent theory of truth), yang memiliki pandangan bahwa suatu proposisi memiliki nilai kebenaran apabila memiliki akibat atau konsekuensi-konsekuensi yang bermanfaat, maksudnya ialah hal tersebut dapat dipergunakan.
5. ALIRAN-LAIRAN TEORI PENGETAHUAN
Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan menggunakan berbagai alat. Menurut Ahmad Tafsir (2005:24-25) ada beberapa aliran yang mengkaji tentang cara memperoleh pengetahuan tersebut, antara lain aliran empirisme, rasionalisme, positivisme, dan intuisionisme.
1. Aliran Empirisme
Salah satu tokoh aliran empirisme ini adalah John Locke (1632-1704), mengemukakan bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, namun karena pengalamanlah ia memperoleh pengetahuan. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.
2. Aliran Rasionalisme
Aliran rasionalisme mengajarkan bahwa melalui akalnya manusia dapat memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Tokoh yang paling terkenal dalam aliran ini adalah Rene Descartes, yang hidup pada tahun 1596 sampai 1650.
Aliran rasionalisme menegaskan bahwa untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akalnya. Namun demikian, aliran rasionalisme juga tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan; pengetahuan indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja.
3. Aliran Positivisme
Aliran positivisme ini lahir sebagai penyeimbang pertentangan yang terjadi antara aliran empirisme dan aliran rasionalisme. Aliran positivisme ini lahir berusaha menyempurnakan aliran empirisme dan rasionalisme, dengan cara memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran.
Tokoh yang tergolong aliran positivisme ini adalah August Comte (1798-1857). Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat Bantu dan diperkuat dengan eksperimen.
4. Aliran Intuisionisme
intuisi memerlukan suatu usaha. Usaha inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap. Intuisi ini menangkap objek secara langsung tanpa melalui pemikiran.
B. METODOLOGI DAN METODE ILMIAH
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Metode, menurut Senn, merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Jadi metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Metodologi ini secara filsafati termasuk dalam apa yang dinamakan epistemologi.
Seperti diketahui berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakeristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini maka metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuan.
Proses kegiatan ilmiah, menurut Ritchie Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Tentu saja hal ini membawa kita kepada petanyaan lain: mengapa manusia mulai mengamati sesuatu? Kalau kita telaah lebih lanjut ternyata bahwa kita mulai mengamati obyek tertentu kalau kita mempunyai perhatian tertentu terhadap obyek tersebut. Perhatian tersebut dinamakan John Dewey sebagai suatu masalah atau kesukaran yang dirasakan bila kita menemukan sesuatu dalam pengalaman kita yang menimbulkan pertanyaan. Dan pertanyaan ini timbul disebabkan oleh adanya kontak manusia dengan dunia empiris yang menimbulkan berbagai ragam permasalahan. Dapat disimpulkan bahwa karena masalah ini berasal dari dunia empiris, maka proses berpikir tersebut diarahkan pada pengamatan obyek yang bersangkutan, yang bereksistensi dalam dunia empiris pula.
Karena masalah yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, Einstein berkata, apa pun juga teori yang dijembatani antara keduanya. Teori yang dimaksudkan disini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut. Teori merupakan suatu abstraksi intelektual dimana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan, biar bagaimanapun meyakinkannya, tetap harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.
Oleh sebab itu maka sebelum teruji kebenarannya secara empiris semua penjelasan rasional yang diajukan statusnya hanyalah bersifat sementara. Penjelasan sementara ini biasanya disbut hipotesis. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi. Hipotesis pada dasarnya disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang sudah diketahui sebelumnya. Penyusunan seperti ini memungkinkan terjadinya konsistensi dalam mengembangkan ilmu secara keseluruhan dan menimbulkan pula efek kumulatif dalam kemajuan ilmu.
Dengan adanya jembatan berupa penyusunan hipotesis ini maka metode ilmiah sering dikenal sebagai proses logico-hypothetico-verifikasi; atau menurut Tyndall sebagai “perkawinan yang berkesinambungan antara deduksi dan induksi. Proses induksi ini mulai memegang peranan dalam tahap verifikasi atau pengujian hipotesis dimana dikumpulkan fakta-fakta empiris untuk menilai apakah sebah hipotesis didukung fakta-fakta empiris atau tidak.
Hal ini senada dengan yang disampaikan Tafsir (2006:33) bahwa metode ilmiah mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan yang benar lakukan langkah berikut:
logico-hypothetico-verificartif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis (berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.
Dengan rumus metode ilmiah inilah kita membuat aturan itu. Metode ilmiah itu secara teknis dan rinci dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset.
Metode Riset menghasilkan model-model penelitian. Nah, model-model penelitian inilah yang menjadi instansi terakhir – dan memang operasional – dalam membuat aturan (untuk mengatur manusia dan alam) tadi.
Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1) Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait didalamnya.
faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan pemasalahan.
3) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan
4) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5) Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan kelimuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya.
Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah. Meskipun langkah-langkah ini secara konseptual tersusun dalam urutan yang teratur, dimana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya, namun dalam prakteknya sering terjadi lompatan-lompatan. Hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lainnya tidak terikat secara statis melainkan bersifat dinamis dengan proses pengkajian ilmiah yang tidak semata mengandalkan penalaran melainkan juga imajinasi dan kreativitas. Sering terjadi bahwa langkah yang satu bukan saja merupakan landasan bagi langkah yang berikutnya namun sekaligus juga merupakan landasan koreksi bagi langkah yang lain. Dengan jalan ini diharapkan diprosesnya pengetahuan yang bersifat konsisten dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya serta teruji kebenarannya secara empiris.
bertujuan untuk mencari kebenaran absolut melainkan kebenaran yang bermafaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu.
Metode ilmiah ini pada dasarnya adalah sama bagi semua disiplin keilmuan baik yang termasuk dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Bila pun terdapat perbedaan dalam kedua kelompok keilmuan ini maka perbedaan tersebut sekadar terletak pada aspek-aspek tekniknya dan bukan pada struktur berpikir atau aspek metodologisnya. Teknik mengumpulkan data mengenai gejala gunung berapi jelas akan berbeda dengan teknik pengumpulan data tentang sikap kaum remaja mengenai keluarga berencana. Demikian juga teknik pengamatan bintang-bintang di langit akan berbeda dengan teknik pengamatan anak taman kanak-kanak yang sedang belajar mengeja.
Demikianlah secara singkat telah dibahas hakekat metode ilmiah yang alur-alur pikirannya tercermin dalam langkah-langkah tertentu. Alur pikiran kelimuan inilah yang penting sebab ilmu pada kenyatannya yang paling asasi adalah produk kegiatan berpikir lewat suatu cara berpikir tertentu. Dengan metode ilmiah sebagai paradigma maka ilmu dibandingkan dengan berbagai pengetahuan lainnya dapat dikatakan berkembang dengan sangat cepat. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan ini adalah faktor sosial dari komunikasi ilmiah dimana penemuan individual segera dapat diketahui dan dikaji oleh anggota masyarakat ilmuwan lainnya.
Sumber:
Suriasumantri, Jujun S. 2009. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara