• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran politik dalam pengetasan kemiskina

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran politik dalam pengetasan kemiskina"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Romayana Sari Lumbantoruan NPM : 170310170045

Email : [email protected]

“Peran politik dalam pengetasan kemiskinan melalui keputusan serta kebijakan yang berlaku dan diakui oleh negara.”

Abstraksi

Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang ada, berbagai macam faktor menyebabkan terjadinya kemiskinan entah itu dari faktor ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya. Kemiskinan merupakan masalah sosial yang mungkin hampir setiap negara merasakan permaslahan tersebut. Baik negara maju maupun negara berkembang, menginginkan kehidupan warga negaranya sejahtera, khusunya Indonesia yang memiliki tujuan nasional yang terdapat pada alinea ke empat pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Berbagai macam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan akan masalah ini sudah ada. Negara memang seharusnya menjamin kesejahteran setiap warga negaranya, dengan melindungi dan menjaga Hak Asasi Manusia setiap warga negaranya. Lantas, sebenarnya seperti apa peran politik dalam pengetasan kemiskinan melalui keputusan dan kebijakan yang ada? Bukankah tujuan dari adanya politik, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik? Apakah dengan adanya keputusan dan kebijakan yang ada di dalam negara, dapat menjamin bahwa kehidupan masyarakat akan terbentuk harmonis dan berkelanjutan? Lalu bagaimana dengan permasalahan kemiskinan yang sampai saat ini masih terjadi, dimana peran negara yang seharusnya menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya? Bagaimana sebenarnya peran politik akan hal ini, apakah baik atau buruk?

Pendahuluan

(2)

kemiskinan. Kemiskinan, bukanlah permasalahan baru di lingkungan kita, bahkan kemiskinan sudah menjadi persoalan hampir diseluruh negara didunia ini, tidak hanya Indonesia.

Lantas, ketika kita sedang membicarakan kebijakan, perilaku “si pembuat” kebijakan, secara tidak langsung kita telah membicarakan politik. Lalu apa sebenarnya itu politik? Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang lebih baik. Plato dan Aristoteles menamakannya sebagai en dam onia atau good life. Pada dasarnya politik dalam suatu negara berkaitan dengan pengambilan keputusan, kebijakan publik, dan alokasi serta distribusi. Sebagaimana yang terjadi, bahwasanya fenomena sosial atau masalah sosial bisa terjadi apabila lingkungan tidak dapat memenuhi sumber daya, sumber daya disini bukan bukan hanya manusia, bisa jadi kebijakan-kebijakan yang berlaku, tidak mendukung atau kurang tegas dalam mengatasi permasalahan atau fenomena sosial yang ada atau mungkin juga “si pelaksana” kebijakan yang tidak tegas dan acuh tak acuh akan masalah sosial yang ada. Lantas bagaimana kebijakan-kebijakan yang ada dapat terbentuk? Dalam suatu sistem politik terdapat inputs dan ouputs, dimana inputs bersifat dukungan, outputs bentuk kebijakan dan peraturan kedua hal ini tidak akan pernah lepas, sebab ketika kita membicarakan politik tidak akan pernah lepas dari kata dukungan dan kebijakan. Sistem terdiri dari berbagai komponen dimana mereka saling bergantung pada yang lain dan saling mengadakan interaksi, sehingga dalam proses terbentuknya kebijakan banyak sekali tahap-tahap yang terjadi tidak hanya dari pemerintah atau “si pembuat” kebijakan, tetapi masyarakat juga bisa mengeluarkan aspirasinya atau dukungannya akan kebijakan yang akan dibuat. Perubahan dalam suatu bagian dalam sistem itu mempengaruhi seluruh sitem layaknya dukungan dan kebijakan. Kebijakan publik dan kelembagaannya bertujuan untuk melindungi warga negara dari masalah sosial dan kemiskinan, dan tujuan akhirnya untuk memungkinkan mereka mencapai tujuan hidupnya (UNRISD). Dimana dalam proses pembuatannya kebijakan public, melalui beberapa tahap diantaranya adalah tahap perumusan kebijakan, tahap implementasi kebijakan, dan tahap evaluasi kebijakan. Dengan begitu mengapa penting bagi kita untuk mempelajari politik apalagi dengan, perkembangan zaman sekarang agar kita mengerti dan memungkinkan menemukan solusi atas permasalahan sosial yang ada, khususnya kemiskinan.

Kerangka Teori

(3)

kebijakan, yang sebelumnya memberikan “harapan” atau “janji” kepada masyarakat hanyalah, sebuah “alat” untuk mendapatkan kekuasaan, takhta, dan harta tanpa mementingkan kepentingan masyarakat banyak. Pada dasarnya, “janji” adalah instrumen kekuasaan yang digunakan untuk memperngaruhi banyak orang demi mendapatkan dukungan. Ditekankan, bahwasanya keputusan dan kebijakan merupakan dua hal yang berbeda, dimana keputusan adalah hasil dari membuat pilihan diantara berbagai alternatif. Sedangkan kebijakan, menurut Zaenudin Kabai adalah formalisasi dari sebuah kebijaksanaan, mengingat seringnya kata kebijakan digunakan pada lingkungan-lingkungan formal (organisasi dan pemerintah). Sangat jelas bahwa keputusan dan kebijakan berbeda. Pada perspektif empirik atau behavioral kekuasaan berorientasi pada “kapasitas” dimana hal tersebut dipakai untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Floyd Hunter (1953) dalam karyanya Community Power Structure berpendapat bahwa “Kekuasaan merupakan pengertian pokok, dan pengaruh bentuk khususnya.”

Namun Laswell dan Kapan berbeda pendapat dan menganggap pengaruh sebagai konsep, dam kekuasaan sebagai bentuk khas dari pengaruh. Pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang, yang berbeda dengan kekuasaan tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan memaksakan kepentingan. Definisi pengaruh menurut Norman Barry, bahwa pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang, jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya. Pengaruh biasanya tidak merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku seseorang, dan sering bersaing dengan faktor lain. Pengaruh sering kurang efektif dibandingkan dengan kekuasaan, ia kadang-kadang mengandung unsur psikologis dan menyentuh hati dan karena itu sering kali cukup berhasil. Kekuasaan dan pengaruh tidak akn bisa pernah lepas, ditambah jika seseorang ingin mendapat kekuasaan, ia harus mampu mempengaruhi seseorang agar terdorong untuk melakukan apa yang diinginkan oleh “si penguasa”. Setelah berhasil mendapat kekuasaan, dan berhasil mempengaruhi seseorang, fokusnya adalah pengabilan keputusan dan membuat kebijakan atau aturan. Sebagai social work, kita harus peka terhadap perkembangan politik di negara ini dan bagaimana melihat suatu fenomena sosial atau masalah sosial dapat di pecahkan dengan adanya berbagai kebijakan-kebijakan yang ada serta bagaimana respon masayarakat yang bisa dikatakan sebagai kelompok yang “rentan” akan kebijakan yang dibuat apakah “mereka” mendukung atau menolak akan keputusan-keputusan yang dibuat oleh “pelaku politik”.

(4)

yang diambil oleh seorang aktor politik atau sekelompok aktor berkenaan dengan tujuan yang telah dipilih beserta cara-cara untuk mencapainya dalam suatu situasi. Keputusan-keputusan yang diambil pada prinsipnya masih berada dalam batas-batas kewenangan kekuasaan dari pada aktor tersebut. Setiap kebijakan publik terdapat elemen-elemen yang melatarbelakanginya. Elemen yang terkandung dalam kebijkan publik yang dikemukakan oleh Anderson (Islamy dalam Widodo, 2013:14) mencakup hal-hal sebagai berikut yaitu kebijakan selalu mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu, kebijakan berisi tindakan atau pola tindakan pejabat-pejabat pemerintah, kebijakan adalah apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah dan bukan apa yang bermaksud akan dilakukan, kebijakan publik bersifat positif (merupakan tindakan pemerintah mengenai suatu maslaah tertentu) dan bersifat negatif (keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu dan kebijakan publik (positif) selalu berdasarkan peraturan perundangan tertentu yang bersifat memaksa (otoriatif). Ketika kita membicarakan kebijakan, kita juga membicarakan siapa fokus utama atau sasaran kebijakan tersebut, bagaimana pelaksanaanya dan apakah ini benar-benar berhasil dalam mengatasi masalah sosial yang ada.

Dalam Social work dictionary (Barker 1999, S.V “Social work”) mengidentifikasikan dua tujuan mendasar social work, yaitu membantu orang memperbaiki keberfungsian sosial, serta menciptakan kodisi sosial dan mencegah masalah-masalah dalam keberfungsian sosial. Secara tidak langsung, bahwasanya keberfungsian sosial dan kondisi sosial sangatlah berkaitan erat. Keberfungsian sosial adalah kemampuan seseorang untuk memenuhi semua tugas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan melakukan peran-peran sosial utamanya, sebagaimana diperlukan oleh sub kebudayaan khusus sebuah masyarakat (Karls and wandrei 1988 longres 1995). Kita tahu bahwasanya, social work ranahnya adalah kelompok rentan dimana secara jenisnya adalah korban dari keterlantaran, ketiakadilan sosial, diskriminasi dan kekerasan. Pada perbaikan kondisi sosial, menekankan pada penajaman dan penciptaan lingkungan yang dapat mendukung dan memberdayakan, dimana para pekerja sosial harus memahami kekuatan sebuah lingkungan sosial baik yang potensial membantu dan kemungkinan merusak. Korban ketelantaran, ketidakadilan sosial, dan sebagainya mungkin saja adalah korban dari tindakan pemerintah yang tidak tegas dengan penerapan kebijakan-kebijakan yang ada akan masalah sosial yang dihadapi atau korban dari “orang-orang” di bawah pemerintah yang memiliki kekuasaan untuk melaksanakan kebijakan acuh tak acuh dan lebih memntingkan diri sendiri. Maka dari itu, dimana sebenarnya peran politik dalam pengetasan masalah sosial yang ada.

(5)

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang banyak dan tidak dapat dipenuhi sendiri oleh manusia secara individual, maka dibentuk negara. Demikian pula pendapat Aristoteles, bahwa negara dibentuk dan dipertahankan karena negara bertujuan menyelenggarakan hidup yang baik semua warga negaranya. Menurut Franz Magnis Suseno, apabila kita bertolak dari tugas negara untuk mendukung dan melengkapkan usaha masyarakat untuk membangun kehidupan yang sejahtera dimana masyarakat dapat hidup dengan sebaik dan seadil mungkin maka tujuan negara adalah penyelenggaraan kesejahteraan umum. Dimana seharusnya masalah seperti ketelantaran, ketidakadilan sosial, dan sebagainya dapat diatasi dengan melindungi dan menjamin HAM (Hak Asasi Manusia) setiap warganya.

Atas dasar paham kesejahteraan umum, sebagai keseluruhan cara-cara kehidupan sosial yang diperlukan masyarakat agar dapat sejahtera kita dapat menerima pembagian tugas-tugas negara misalnya pembagian dalam tiga kelompok yakni pertama negara harus memberikan perlindungan kepada para penduduk dalam wilayah tertentu; perlindungan terhadap ancaman dari luar negeri dan dalam negeri; perlindungan terhadap ancaman penyakit atau terhadap bahaya-bahaya lalu lintas. Kedua, negara mendukung atau langsung menyediakan berbagai pelayanan kehidupan masyarakat dalam bidang sosial ekonomi dan kebudayaan. Ketiga, negara menjadi wasit yang tidak memihak antara pihak-pihak yang berkonflik dalam masyarakat serta menyediakan suatu sistem yudisial yang menjamin keadilan dasar dalam hubungan sosial masyarakat. Dengan dasar paham kesejahteraan umum, negara seharusnya dapat menjalankan “keberfungsiannya”.

Pembahasan

(6)

secara rata-rata jika ada 100 orang Indonesia berkumpul, sebanyak 18 orang diantaranya adalah orang miskin, yang terdiri dari 10 orang bukan fakir miskin dan 8 orang fakir miskin (BPS dan Depsos, 2002:9). Dapat kita simpulkan dari data diatas bahwasanya, jumlah penduduk Indonesia yang dikatakan miskin, dari tahun ke tahun semakin meningkat walaupun ada saatnya angka kemiskinan turun, tetapi walau turun hal tersebut tetap menjadi akar permasalahan bagi negara kita.

Penyebab kemiskinan sendiri sangat bervariasi, diantaranya adalah faktor lingkungan, sosiokultural, ekonomi, politik, kebijakan publik dan sebagainya. Secara umum penyebab kemiskinan dapat dikategorikan dalam tiga bentuk (Maisaroh & Sukhemi, 2011) antara lain, sebagai berikut pertama, kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan kebijakan, peraturan maupun lembaga yang ada dimasyarakat sehingga dapat menghambat peningkatan produktivitas dan mobilitas masyarakat. Kedua, kemiskinan kultural, yaitu kemiskinan yang berhubungan dengan adanya nilai-nilai yang tidak produktif dalam masyarakat, tingkat pendidikan yang rendah, kondisi kesehatan dan gizi yang buruk serta yang terakhir adalah kemiskinan alamiah, yaitu kemiskinan yang ditujukan oleh kondidi alam maupun geografis yang tidak mendukung, misalnya daerah tandus, kering, maupun katerisolasian daerah. Pada penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa politik secara tidak langsung menjadi faktor penyebab terjadinya kemiskinan. Sebagai contohnya adalah kemiskinan struktural dimana hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan ataupun peraturan-peraturan pemerintah yang ada yang menyebabkan, terhambatnya peningkatan produktivitas dan mobilitas masyarakat sangat jelas bahwasanya, kebijakan-kebijakan yang ada di dalam negara dapat menyebabkan terjadinya suatu permasalahan sosial. Pada dasarnya permasalahan sosial tidak beridiri sendiri, sama seperti kemiskinan selaian sebagai persoalan utaama, kemiskinan juga melahirkan permasalahan baru seperti angka gizi buruk, kesehatan ibu yang jauh lebih buruk, rendahnya akses terhadap air bersih, akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting dan masih banyak lagi.

(7)

Kartu Perlindungan Sosial, hal ini berguna untuk mendapatkan manfaat dari Program Subsidi Beras untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah atau dikenal dengan Program RASKIN. Selain itu KPS dapat juga digunakan untuk mendapatkan manfaat Bantuan Siswa Miskin (BSM) dan Program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), pemerintah mengeluarkan KPS ini kepada 15,5 Rumah Tangga Miskin dan rentan yang merupakan 25% Rumah Tangga dengan status sosial ekonomi terendah di Indonesia. KIAT Guru (Kinerja dan Akuntanilitas Guru) adalah inisiatif Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) untuk meningkatkan pelayanan pendidikan dengan mengujicobakan beberapa pendekatan yang melibakan pera serta masyarakat, yang memperbaiki mekanisme dan transparasi pembayaran tunjangan guru, dan yang mengaitkan pembayaran tunjangan guru dengan keberadaan dan kualitas layanan pendidikan. Dengan sebanyak itu kebijakan pemerintah yang membentuk program untuk mengatasi permasalahan kemiskinan di negara ini, mengapa permasalahan tersebut masih belum bisa tuntas saat ini? Seperti yang dinyatakan oleh Peter Merkl bahwasanya “Politik dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri.” Sejauh yang kita ketahui bersama bahwa pemerintah bekerja tidak sendiri, ia dibantu oleh beberapa pejabat pemerintah lainnya, yang menjadi permasalahannya apakah ketika mereka melaksanakan program tersebut mereka benar-benar menjalankannya sesuai amanah? Apakah hanya sebuah janji? Kita tahu bahwa politik dalam bentuk terburuk salah satunya kekayaan untuk kepentingan diri sendiri. Dengan kedudukan yang ada serta kekuasaan yang ada “para pelaku” politik yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat ke masyarakat inilah yang menjadi penyebab banyaknya program-program pemerintah tidak terlaksana dengan benar. “Oknum-oknum” yang secara tidak langsung memakan uang rakyat. Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa korupsi di negara Indonesia sudah merajalela. Tindakan “orang-orang” yang memiliki kuasa memanfaatkan posisi tersebut, demi kepentingan pribadinya tanpa memperdulikan masyarakat kalangan bawah yang notabennya mereka adalah kelompok rentan, korban dari ketidakadilan sosial, ketelantaran.

(8)

sekarang belum dapat diatasi, entah itu dari segi pelaksanaan kebijakan serta program pemeritah ataupun tindakan “oknum-oknum” pemerintah dalam mengambil keputusan demi kepentingannya sendiri.

Selain hal-hal diatas, lantas apa yang menjadi tantangan dalam mengatasi kemiskinan di dalam negara ini? Persoalan kemiskinan dalam negara kita bukanlah hal yang tabu, ada banyak tantangan untuk mengatasi masalah ini . Lantas apa saja yang menjadi tantangan dalam pengetasan masalah kemiskinan dalam negara kita? Jawabannya adalah jumlah penduduk miskin yang sangat besar, semakin tingginya disparias pendapatan, kecurangan-kecurangan dalam penyelenggaraan program pengetasan kemiskinan, isolasi penduduk miskin terhadap sumber-sumber permodalan, tidak mampunya masyarakat miskin dalam berdaptasi dengan program pembanguanan, kebijakan pengetasan terlalu bertumpu pada pertumbuhan ekonomi makro, dan kebijakan pengetasan kemiskinan bersifat menyembuhkan (curative) bahkan bersifat karitatif/charity, dan sebagainya. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, bahwasanya kebijakan dapat menjadi penyebab terjadinya kemiskinan dimana, ia menghambat aktivitas produktif dan mobilitas masyarakat, hal ini terjadi karena pemerintah telalu fokus pada pertumbuhan ekonomi makro, dibandingkan mikro. Padahal sebelum terjadinya pada ranah makro, munculnya kemiskinan bisa terjadi atau bermula pada masalah mikro, seperti tidak berjalan baiknya suatu kegiatan ekonomi yang melumpuhkan RTP (Rumah Tangga Produsen) dan RTK (Rumah Tangga Konsumsi) yang menimbulkan ketidakseimbangan harga dan menjadi penyebab harga barang menjadi tinggi, ditambah dengan pendapat konsumen yang tidak sesuai. Dari sinilah harga-harga kebutuhan semakin tinggi, dan banyak masyarakat banyak yang tidak mampu membeli barang kebutuhannya dan menimbulkan masalah seperti kelaparan, kurangnya gizi, dan sebagainya.

(9)

sendiri. Konsep politik dipakai untuk keperluan analisa, dimana suatu sistem bersifat abstrak pula dan diterapkan pada suatu situasi yang konkret. Dimana hal tersebut mencoba menjelaskan tentang gejala-gejala politik dalam konteks tingkah laku masyarakat. Tingkah laku politik sebagai bagian dari keseluruhan tingkah laku sosial. Politik sebenarnya, tidak hanya selalu membahas kekuasaan yang melahirkan keputusan dan kebijakan, walau fokus utamanya adalah untuk mendapatkan kekuasaan. Bila kita, memahami lebih jauh, dan mempelajari teori politik bahwa teori politik adalah generalisasi dari fenomena yang bersifat politik. Dengan kata lain teori politik adalah bahasan dan renungan atas tujuan dan kegiatan politik, cara-cara mencapai tujuan, kemungkinan-kemungkinan dan kebutuhan-kebutuhan yang ditimbulkan oleh situasi politik. Konsep-konsep yang dibahas dalam teori politik adalah masyarakat, kelas sosial, negara, kekuasaan, kedaulatan, hak dan kewajiban, kemerdekaan, lembaga-lembaga negara, perubahan sosial pembangunan politik, modernisasi, dan sebagainya. Apapun permasalahan yang ada di dalam negara dan berangkut paut dengan negara, berarti ada peran politik dalam permasalahan tersebut.

Masyarakat merupakan suatu sistem, yang pada hakikatnya terdiri atas bermacam-macam proses. Macam-bermacam-macam proses ini dapat dilihat dari gejala-gejala politik sebagai suatu kumpulan proses tersendiri yang berbeda dengan proses-proses lainnya. Proses adalah pola-pola yang dibuat oleh manusia dalam mengatur hubungan antara satu sama lain. Sistem politik menyelenggarakan fungsi-fungsi tertentu untuk masyarakat. Fungsi-fungsi itu adalah keputusan kebijaksanaan. Sistem politik menghasilkan output yaitu keputusan-keputusan kenijaksanaan yang mengikat, sedangkan inputnya adalah tuntutan serta aspirasi masyarakat dan juga dukungan dari masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem politik adalah budaya politik yang mencerminkan faktor subjektif. Budaya politik adalah keseluruhan dari pandangan-pandangan politik. Budaya politik masyarakat dipengaruhi oleh sejarah perkembangan sistem, agama, kesukuan, dan sebagainya. Umumnya sitem politik terdapat empat variabel yaitu kekuasaan untuk mencapai hal yang diinginkan, kepentingan untuk tujuan-tujuan yang dikejar, kebijaksanaan sebagai hasil dari interaksi antara kekuasaan dan kepentingan, dan budaya politik, sebagai orientasi subjektif individu.

(10)

layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanankan fungsi sosial.” Tidak hanya itu pada pasal satu ayat dua, yang berbunyi bahwa “Penyelenggara Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pembedayaan sosial, dan perlindungan sosial.” Negara sudah seharusnya menjamin dan melindungi hak warga negaranya serta menjamin kesejahteraan warga negaranya, Dengan adanya undang-undang yang berlaku seharusnya, negara dapat melaksanakan hal tersebut dengan baik, bukankah hal tersebut sudah menjadi tugas dan kewajiban negara?

“Penyelenggara Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pembedayaan sosial, dan perlindungan sosial.” Pada Undang-Undang no 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial pasal satu ayat dua, merupakan bukti bahwa pemerintah dan negara menjadi penyelenggara Kesejahteraan sosial yang sudah seharusnya berkelanjutan, terarah dan terpadu. Dengan mempersiapkan apa yang dibutuhkan masyarakat, seperti jaminan sosial, perlindungan sosial hal tersebut dapat meminimalisir permasalahan yang ada, khususnya kemiskinan. Faktanya negara dengan kebijakannya sudah membuat berbagai program untuk pengetasan kemiskinan, hanya yang menjadi permasalahan mengapa kemiskinan masih menjadi pokok permasalahan utama? Untuk itu mengapa kita, harus memahami bagaimana peran politik yang sesungguhnya dalam pengetasan kemiskinan melalui keputusan dan kebijakan yang berlaku dan diakui oleh negara.

Kesimpulan

(11)

dasarnya hubungan negara dan masyarakat adalah, negara sebagai wadah untuk melindungi masyarakat dengan adanya peraturan-peraturan yang diakui secara sah dan ditaati oleh rakyatnya. Seperti yang disampaikan oleh Franz Magnis Suseno, intinya adalah negara menjamin kehidupan masyarakat yang sejahtera dan memang sudah seharusnya seperti itu.

Daftar Pustaka

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia. Huda, Ni’matul. 2015. Ilmu negara. Jakarta: Rajawali Pers.

Sen, Amarty Kumar. 2000. Development as Freedom. New York: Anchor Books. Sach, Jeffrey D. 2005. The End of Poverty. New York: Penguin Press.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara bobot tubuh dan panjang total pada ikan layang jantan dan betina, baik yang tertangkap di perairan

Pada saat ini, seiring dengan perkem- bangan zaman dan kemajuan teknologi yang sangat pesat, telah terjadi perubahan perilaku di masyarakat yang mengarah ke

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan dari penelitian, terdapat beberapa saran yang dikemukakan dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut: 1)

Hasil penelitian menunjukkan waktu vulkanisasi yang lebih lama dapat meningkatkan nilai densitas sambung silang dan kekuatan tarik produk lateks karet alam hingga penambahan 15

Pada kasus ini, eklamsia terjadi pada hari ke lima sesudah melahirkan, tanpa didahului tanda-tanda yang mengundang kecurigaan adanya preeklamsia, kecuali kenaikan tekanan diastolik

Pola penyebaran MPT dari Muara sungai yang tinggi dan terlihat relatif sama menuju perairan Bengkulu, karena arus yang terjadi mempunyai gerakan yang sama sehingga sebaran MPT

Alat bukti persangkaan diatur dalam Pasal 173 HIR, Pasal 310 Rechtreglement voor de Buitengewesten (Rbg), dan Pasal 1915 KUH Perdata yang berbunyi sebagai

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mukhidin, yang dilakukan pada tahun 2010 (diunduh pada portal garuda