• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAGASAN PENERAPAN IMTA PADA PEMBUDIDAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GAGASAN PENERAPAN IMTA PADA PEMBUDIDAYA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM

APLIKASI BMPs (Better Management Practices) DALAM IMTA (Integrated Multi-Tropic Aquaculture) UNTUK MENINGKATKAN USAHA PRODUKSI PETANI SKALA KECIL (Small Holder Aquaculture)

BIDANG KEGIATAN PKM GAGASAN TERTULIS

Diusulkan Oleh :

ARDANA KURNIAJI I1A2 10 097 Angkatan 2010 HUSEN EFENDY I1A3 11 015 Angkatan 2011 INDIRA ROSVIYA SARI I1A4 11 006 Angkatan 2011

UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI

2012

(2)

HALAMAN PENGESAHAN 1. Judul Kegiatan :

Aplikasi BMPs (Better Management Practices) Dalam IMTA (Integrated Multi-Tropic Aquaculture) Untuk Meningkatkan Usaha Produksi Petani Skala Kecil (Small Holder Aquaculture)

2. Bidang Kegiatan : PKM-GT (Gagasan Tertulis)

3. BidangIlmu : Pertanian

4. Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama lengkap : ArdanaKurniaji

b. NIM : I1A210097

c. Jurusan : Perikanan

d. Universitas : Haluoleo

e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. RatnasariKomp. BPN Puuwatu Blok B Nomor 5 / 085241612747

f. Alamat Email : [email protected]

5. Anggota PelaksanaKegiatan : 2 orang 6. Dosen Pendamping

a. Nama dan Gelar : WaIba, S.Pi, M.App, Sc

b. NIP : 19750605200212 2002

c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. H.E.A MokodompitLrg. Perintis I Kendari/ 081341898544

Kendari, Februari 2012 Menyetujui

Pembantu Dekan III FPIK Ketua Pelaksana Kegiatan

(WA IBA, S.Pi, M.App, Sc) (ARDANA KURNIAJI)

NIP. 19750605200212 2002 NIM : I1A210097

Pembantu Rektor III Dosen Pendamping

(Prof. Dr. LA IRU, S.H., M.Si.) (WA IBA, S.Pi, M.App, Sc) NIP. 19601231 1986101001 NIP. 19750605200212 2002

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas keridhoaan serta keberkahannya, sehingga kami dapat menyelesaikan Proposal Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis (PKM-GT). Proposal ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), selain itu diharapkan nantinya proposal ini dapat menjadi bahan untuk menambah wawasan mahasiswa dan seluruh pihak dalam dunia akademik. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan Proposal PKM-GT ini tidak dapat tersusun karena bantuan berbagai pihak, oleh sebab itu kami menyampaikan terima kasih kepada Dosen Pembimbing, mahasiswa serta seluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan proposal ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini terdapat banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan yang kami miliki. Maka dari itu, kami harapkan agar segala saran dan masukan yang membangun dapat disampaikan kepada kami guna perbaikan proposal selanjutnya. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan bantuan kepada kami dan semoga proposal ini dapat memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan.

Kendari, Februari 2012

Penulis

(4)

DAFTAR ISI

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Teks Halaman

1 Matriks IMTA (Integrated Multi Tropic Aquaculture... 6 2 Strategi Penerapan IMTA pada Petani Skala Kecil………. 7

(6)

RINGKASAN

Potensi budidaya laut Indonesia diperkirakan mencapai 24,5 juta ha, dan dari luasan tersebut sebesar 8.363.501 ha diantaranya merupakan area yang potensi untuk budidaya laut. Dari potensi tersebut, target produksi seluruh budidaya di Indonesia dari tahun 2004 sampai tahun 2009 adalah sebesar 353 % (dari 4,78 Juta ton menjadi 16,89 Juta ton). Target ini dapat dicapai melalui proses budidaya terintegrasi (multispesies) dalam satu areal budidaya. Beberapa hasil penelitian yang saat ini dilakukan merujuk pada peningkatan hasil produksi melalui penerapan teknologi baru yang dibuat dalam konsep implementasi integrated Multi-Tropic Aquaculture (IMTA). IMTA adalah salah satu bentuk dari budidaya Laut dengan memanfaatkan penyediaan pelayanan ekosistem oleh organisme trofik rendah (seperti kerang dan rumput laut) yang disesuaikan sebagai mitigasi terhadap limbah dari organisme tingkat trofik tinggi (seperti ikan) (White, 2007 dalam Teguh, 2011). Di Indonesia potensi penerapan IMTA sangat besar, selain karena kondisi perairan dan sumber daya yang melimpah, kebanyakan masyarakat pesisir adalah pembudidaya laut yang banyak menggunakan KJA dan KJT sebagai media budidaya. Menurut Wibisono (2011) bahwa pengembangan IMTA dapat dilaksanakan pada daerah budidaya laut yang memanfaatkan Karamba Jaring Apung dan Karamba Jaring Tancap. Salah satu tempat yang telah menerapkannya dan terbukti berhasil adalah Bali terutama pada bagian teluk yang memiliki arus yang tenang dan sesuai untuk budiddaya KJA. Hanya saja penerapan IMTA sekiranya perlu diaplikasikan kepada masyarakat petani skala kecil (Small Holder Aquaculture). Penerapan IMTA pada petani skala kecil disandarkan pada aplikasi BMPs (Better Management Pratices) yang telah direkomendasikan oleh pemerintah untuk sertifikasi hasil produksi. Aplikasi BMPs dimaksudkan agar hasil produksi petani yang menggunakan IMTA sebagai metode budidayanya dapat diterima oleh pasar internasional. Beberapa pihak yang mendukung implementasi IMTA secara utuh adalah Pemerintahlah yang memegang peranan penting dalam menentukan kualitas produksi oleh petani skala kecil melalui penyiapan kualitas penyuluh, begitu pula dengan badan riset dan perguruan tinggi untuk melakukan pengembangan program dan menumbuhkan inovasi baru agar IMTA dapat dilaksanakan oleh petani secara kontinyu serta penyediaan modal oleh lembaga-lembaga permodalan, sehingga nantinya hasil produktivitas petani skala kecil dapat meningkat dan IMTA dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mempertahankan hasil produksi yang sertifikasi BMPs (Better Management Practices).

(7)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Potensi budidaya laut Indonesia diperkirakan mencapai 24,5 juta ha, dan dari luasan tersebut sebesar 8.363.501 ha diantaranya merupakan area yang potensi untuk budidaya laut (DKP, 2009). Di Sulawesi Tenggara luas areal yang dapat digunakan untuk kegiatan budidaya laut sekitar 396.915 ha. Sampai tahun 2010 potensi areal tersebut telah dimanfaatkan sekitar 44.330,1 ha untuk budidaya rumput laut, kerang mutiara, teripang dan komoditas lain sehingga potensi pengembangan budidaya laut masih sekitar 352.574,8 ha (DKP Sultra, 2011). Kebanyakan para pembudidaya di Sulawesi Tenggara memanfaatkan areal tersebut untuk kegiatan budidaya rumput laut karena kondisi kualitas air yang sangat mendukung dan kemudahan dalam proses budidayanya sehingga hasil budidaya cenderung stabil sepanjang tahun. Hanya saja mereka lebih cenderung untuk membudidayakan satu spesies dalam siklus produksi (single spesies/mono culture operation).

Target produksi seluruh budidaya di Indonesia dari tahun 2004 sampai tahun 2009 adalah sebesar 353 % (dari 4,78 Juta ton menjadi 16,89 Juta ton). Target ini dapat dicapai melalui proses budidaya terintegrasi (multispesies) dalam satu areal budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membudidayakan lebih dari satu spesies dalam satu lokasi dapat meningkatkan produktivitas areal budidaya dan produksi dapat dilakukan secara berkelanjutan. Penelitian oleh Chopin dan Yarish (1999) serta Petrell dan Alie (1996) menemukan bahwa budidaya rumput laut bersama ikan mampu meningkatkan produktivitas dengan cara mengurangi pencemaran air melalui penyerapan bahan organik terutama nitrogen oleh rumput laut sehingga membantu pertumbuhan ikan dan panen dapat dilakukan dengan dua stok yang berbeda. Disamping itu perbedaan waktu panen akan meningkatkan efektivitas penggunaan waktu bagi petani dalam memelihara setiap spesies.

Berbagai penelitian dan kajian mengenai budidaya rumput laut dan ikan laut secara terpadu saat ini telah dilakukan di beberapa negara seperti Jepang, Kanada, Amerika Serikat, Selandia Baru dan Skotlandia (Troell, et al., 2009). Selanjutnya budidaya terpadu antara kerang-kerangan sebagai biofilter pada budidaya ikan laut juga telah diteliti di beberapa negara seperti Australia, AS, Kanada, Perancis dan Spanyol (Troell, et al., 2009 dan Langan, 2004). Dari berbagai hasil penelitian tersebut, diperoleh suatu konsep untuk menumbuhkan organisme yang berbeda pada sistem yang sama yang dikembangkan dalam konsep IMTA.

IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) adalah suatu metode untuk mengoptimalkan hasil perikanan melalui pemanfaatan sistem budidaya dengan pendekatan alamiah ekosistem laut sehingga mengopimalkan hasil, efesiensi pakan dan diversifikasi produk. IMTA adalah salah satu bentuk dari budidaya laut dengan memanfaatkan penyediaan pelayanan ekosistem oleh organisme trofik rendah (seperti kerang dan rumput laut) yang disesuaikan sebagai mitigasi terhadap limbah dari organisme tingkat trofik tinggi (seperti ikan) (White, 2007 dalam Wibisono, 2011) IMTA diterapkan sebagai solusi terhadap mitigasi limbah yang dikeluarkan dalam marikultur dan peningkatan efesiensi dari pakan sehingga tidak mencemari lingkungan.

(8)

Penerapan IMTA di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, mengingat areal budidaya yang masih sangat luas untuk dimanfaatkan serta jenis organisme ekosistem skala kecil sangat banyak dan beragam. Pengembangan IMTA dapat dilaksanakan pada daerah budidaya laut yang memanfaatkan Karamba Jaring Apung dan Karamba Jaring Tancap. Salah satu tempat yang telah menerapkannya dan terbukti berhasil adalah Bali terutama pada bagian teluk yang memiliki arus yang tenang dan sesuai untuk budiddaya KJA. Sistem IMTA yang diterapkan di Bali menggunkan ikan, rumput laut, oyster pada budidaya KJA dan memberikan hasil yang baik serta optimalisasi dalam pemanfaatan pakan (SeaPlant nett. 2009 dalam Wibisono, 2011).

Meskipun telah berkembang di Indonesia, IMTA masih sangat asing untuk petani skala kecil (small holder aquaculture), penerapannya hanya secara parsial dan orientasi industri menengah atas. Hal ini disebabkan karena belum berfungsinya pihak penyuluh untuk melakukan sosialisai dan pendampingan terhadap petani skala kecil. Padahal hampir semua areal budidaya dikelola oleh petani skala kecil. Selain itu, implementasi konsep IMTA seharusnya berkembang di masyarakat petani skala kecil guna peningkatan hasil produksi. Oleh karenanya penyediaan pihak penyuluh sangat urgen untuk keberhasilan aplikasi IMTA. Disamping itu pula peran penyuluh ini perlu dibekali dengan pengetahuan akan pengelolaan IMTA yang baik, agar mampu untuk membimbing petani skala kecil untuk pengembangan IMTA secara berkelanjutan. Training BMPs (Better Management Practices) ke penyuluh adalah salah satu cara yang dilakukan agar penyuluh mendapatkan pemahaman prosedur implementasi IMTA skala skala kecil.

Tujuan

Tujuan dari Progam Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) adalah memberikan gagasan terhadap aplikasi IMTA (Integrated Multi Trophic Aquaculture) yang diupayakan melalui pelatihan BMPs penyuluh untuk meningkatkan produksi budidaya petani skala kecil yang ramah lingkungan.

Manfaat

Manfaat dari yang ingin dicapai dalam gagasan adalah terimplementasikannya IMTA terhadap petani skala kecil melalui pelatihan program BMPs (Better Management Practices) secara nyata untuk pembangunan perikanan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

(9)

POTENSI PENGEMBANGAN IMTA DI INDONESIA

IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture) adalah salah satu bentuk dari budidaya Laut dengan memanfaatkan penyediaan pelayanan ekosistem oleh organisme trofik rendah (seperti kerang dan rumput laut) yang disesuaikan sebagai mitigasi terhadap limbah dari organisme tingkat trofik tinggi (seperti ikan) (White, 2007 dalam Jianguang et al, 2009).keunggulan IMTA di antaranya dapat mereduksi limbah yang dihasilkan dari budidaya laut, produksi akuakultur selain meningkatkan produksi juga menaikkan limbah dari budidaya laut (monokultur), Efisiensi pakan, ramah lingkungan, mampu mengoptimalkan diversifikasi perikanan dalam waktu yang sama, Budidaya ini sudah berjalan di negara2 besar, Canada, China, etc, strategis karena dekat dengan ASEAN, memungkinkan demand masih besar terhadap hasil laut.

Menurut Ridler et al. (2007) dalam Teguh (2011) menyatakan bahwa penerimaan masyarakat umum dan industri terhadap penerapan IMTA pada budidaya salmon Atlantik lebih besar daripada budidaya salmon monokultur, masing-masing sekitar 90% dan 89% sedangkan untuk monokultur hanya sekitar 60% untuk kedua pihak. Masyarakat juga menilai bahwa penerapan IMTA dapat mengurangi dampak lingkungan (65%), meningkatkan waste management (100%), kesempatan kerja (91), penghasil pangan (100%) dan akuakultur berkelanjutan (73%).

Gambar 1. Matriks IMTA (Integrated Multi-Trophic Aquaculture) (Teguh, 2011) Demikian halnya di Indonesia, IMTA sebagai metode budidaya baru telah mulai dikembangkan meskipun masih secara parsial. Mengingat potensi budidaya yang dimiliki Indonesia dengan perairan laut dangkal sebesar 24,5 juta hektar yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya laut yakni 8,36 juta hektar, lahan pesisir sekitar 1,22 juta hektar, luas perairan umum kolam dan sawah yang dapat digunakan untuk perikanan budidaya masing-masing 139,336 hektar, 541,100 hektar dan 1,538,379 hektar (Hahuri, 2008 dan Nurdjana, 2006 dalam Teguh, 2011). Potensi pengembangan IMTA ini dapat diterapkan melalui sistem Keramba Jaring Apung (KJA) ataupun Keramba Jaring Tancap (KJT) yang telah banyak diterapkan di Indonesia. Sistem ini dapat dimodifikasi

(10)

dengan melakukan pendayagunaan berbagai organisme dalam suatu ekosistem, ekosistem yang digunakan merupakan ekosistem alamiah ataupun habitat asli dari organisme tersebut.

Selain potensi perairan, Indonesia juga memiliki keanekaragaman organisme yang melimpah. Sebagaimana konsep IMTA, organisme ekosistem skala kecil dapat menjadi alternatif dalam implementasi IMTA baik tingkat petani skala kecil maupun industri nasional. Implementasi IMTA telah diaplikasikan melalui Penelitian di Pantai Timur Kanada yang membudidayakan Salmon (Salmo salar), rumput laut (Laminaria saccharina dan Alaria esculenta), kerang hijau (Mytilus edulis) di Teluk Fundy. Hasilnya terbukti berhasil dengan meningkatnya pertumbuhan rumput laut dan kerang hijau masing-masing 46 % dan 50 % jika tersuspensi. Tumbuhan laut seperti rumput laut yang mudah dibudidayakan di Indonesia seperti Euchema sp dan Gracilaria sp memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan dapat berguna sebagai penyerap inorganik atau limbah dalam bentuk larutan dalam sistem budidaya sehingga dapat termanfaatkan (Wibisono, 2011). Maka dengan potensi tersebut seharusnya Implementasi IMTA telah merebah dan diaplikasikan secara menyeluruh untuk peningkatan produksi yang ramah lingkungan terutama pada petani-petani skala kecil yang masih terhimpit kebutuhan ekonomi.

KONSEP APLIKASI IMTA TERHADAP PETANI SKALA KECIL

Mengingat petani skala kecil merupakan salah satu pihak yang mendominasi implementasi IMTA, maka perhatian utama harus dititikberatkan terhadap pemahaman konsep IMTA untuk petani skala kecil (small holder aquaculture). Walaupun saat ini IMTA telah dikembangkan dan berhasil di Cirebon dan Bali (Wibisono, 2011) namun sayangnya belum sama sekali diuji coba secara project untuk daerah pesisir yang didomisili oleh petani skala kecil. Kalaupun ada, masih secara parsial dan belum kompleks. Beberapa hasil penelitian seperti di Teluk Fundy Kanada, IMTA telah berhasil meningkatkan tingkat keuntungan usaha serta memperkecil resiko usaha karena adanya diversifikasi. Terdapat tiga model perhitungan analisis ekonomi terhadap IMTA tersebut dan disimpulkan bahwa dengan adanya keunggulan IMTA apabila terjadi kegagalan panan pada ikan yang dibudidaya akibat serangan penyakit atau

(11)

kualitas air yang memburuk tiba-tiba maka keuntungan usaha masih dapat diperoleh (Teguh, 2011).

Diversifikasi IMTA ini dapat menjadi alternatif pola adaptasi petani terhadap perubahan musim yang sewaktu-waktu dapat merugikan petani itu sendiri. Saat ini, konsep IMTA telah menjadi solusi terhadap peningkatan hasil produksi dibanding dengan metode monokultur seperti yang kebanyakan petani terapkan. Peningkatan produksi ini diikuti dengan peningkatan hasil pendapatan ekonomi masyarakat di negara-negara seperti Cina dan Kanada yang berhasil mengembangkan IMTA secara skala kecil (Teguh, 2011). Inipula yang seharusnya ada di Indonesia, potensi areal budidaya yang dikembangkan petani skala kecil didominasi oleh pemanfaatan areal laut untuk budidaya KJA dan KJT yang sangat cocok dengan konsep IMTA. Petani skala kecil adalah pelaksana utama yang mampu mengarahkan dan mengembangkan kualitas produksi di wilayah tertentu.

Konsep IMTA ini sangat diperlukan oleh kebanyakan petani skala kecil terutama yang memiliki ekonomi rendah dan hanya bergantung pada hasil tangkapan. Pada saat inipula permintaan kualitas produk yang telah disertifikasi terus meningkat secara substansial dari tahun ketahun. Tantangan ini tentu akan lebih siap untuk dihadapi oleh petani skala kecil, mengingat kesinambungan petani untuk mempertahankan mata pencahariannya. Hal ini terbukti di kawasan Asia-Pasifik yang menunjukkan para petani skala kecil lebih mudah untuk beradaptasi dan bertahan dengan hal tersebut. Berkaitan dengan diversifikasi pada IMTA maka strategi pembiayaan pada usaha akuakultur untuk petani skala kecil dapat lebih dikembangkan. Menurut Nurdjana (2006) menyatakan bahwa melakukan kerjasama dengan pihak perbankan melalui pemberian pinjaman lunak pada usaha akuakultur di Indonesia telah dilakukan selain menyandarkan pembiayaan dari pemerintah. Pihak perbankan diharapkan akan memberikan apresiasi lebih terhadap penerapan IMTA dikarenakan dapat memperkecil peluang kerugian usaha sebagaimana dinyatakan oleh Ridler et al. (2007) dalam Teguh (2011).

Permasalahannya adalah konsep IMTA yang baik ini masih sebatas wacana ditengah-tengah petani skala kecil. Perwujudan IMTA belum jelas dan masih sebatas teori, oleh karenanya kecondongan untuk berpindah dari metode monokultur terhadap konsep IMTA belum ada sama sekali. Disinilah peranan penyuluh dalam sebagai perantara pemerintah dan masyarakat untuk melakukan sosialisasi serta pendampingan dalam penerapan IMTA di daerah-daerah yang didomisili petani skala kecil. Agar kelak peningkatan hasil produksi dapat dirasakan oleh petani skala kecil secara menyeluruh.

PERAN BMPs (Better Management Practices) DALAM IMTA

Seperti halnya industri menengah atas, produksi hasil budidaya petani juga menuntut kualitas dan kuantitas prodak yang dihasilkan. Sertifikasi hasil produksi menjadi tantangan baru petani skala kecil dalam mempertahankan mata pencahariannya. Telah dianalisir dari hasil Lokakarya ASEM Aquaculture Platform bahwa manajemen produksi yang baik harus mulai diimplementasikan skala skala kecil dalam hal ini adalah petani skala kecil. Hasil lokakarya tersebut memberikan gagasan pada upaya peningkatan hasil produksi petani skala kecil, yang merujuk pada standar sertifikasi. BMPs (Better Management Practices)

(12)

adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk keberlanjutan perikanan skala kecil dalam memenuhi peluang pasar internasional. BMPs bukanlah standar sertifikasi, namun penerapannya dapat meningkatkan kuantitas, keamanan dan kualitas produk dengan memperhatikan kesehatan komoditas, keamanan pangan dan keberlanjutan lingkungan serta profitabilitas petani. Pelaksanaan BMPs dapat membantu petani skala kecil untuk mencapai standar kuantitatif dan indicator yang telah diterapkan oleh badan-badan internasional dan badan sertifikasi pihak ketiga.

BMPs dapat dikembangkan melalui implementasi IMTA pada skala petani skala kecil, hal ini tercantum jelas dalam validasi BMPs, bahwa untuk penerapannya petani skala kecil harus memahami secara mendalam siatem budidaya yang diterapkan berikut spesiesnya. Hal ini untuk memudahkan mengidentifikasi faktor resiko seperti penyakit, keamanan pangan dan akses pasar untuk keberlangsungan jangka panjang. Setelah pemahaman ini telah ada pada petani skala kecil maka perlu dilakukan manajemen terpadu melalui konsultasi dengan praktisi dan pemangku kepentingan lainnya. Sosialisasi BMPs terhadap aplikasi IMTA inilah yang harus sampai kepada petani skala kecil. Menerapkan BMPs pada petani skala kecil tidak begitu sederhana. Tim penyuluh harus bekerjasama dengan petani hari demi hari untuk membawa perubahan perilaku dan sikap petani akan prasangka konvensional yang tertanam dibenak petani, baik itu untuk keselamatan lingkungan, keberlanjutan dan pola budidaya yang kondusif. Meskipun memerlukan waktu yang lama namun ini perlu dalam rangka penerapan IMTA melalui pemahaman BMPS oleh petani skala kecil.

Dari beberapa uji coba internasional yang dilakukan NACA , kebanyakan upaya pemahaman BMPs ini terhambat pada akses informasi dan pengetahuan berbasis kelompok tani yang dilakukan oleh penyuluh. Hal ini dikarenakan tingkat pemahaman penyuluh yang masih rendah terhadap tahapan BMPS itu sendiri. Olehnya itu, jika sistem budidaya yang ramah lingkungan ini kemudian dititikberatkan kepada implementasi BMPs, maka jelas petani diharuskan memahami konsep IMTA sebagai salah satu cara untuk mengupayakan terselenggaranya BMPs tingkat skala kecil. Itu berarti, kesiapan penyuluh akan pemahaman BMPS dan IMTA menjadi prioritas utama yang harus disiapkan. Jika dilihat dari pengalaman NACA dalam menerapkan BMPs di India, Thailand, Indonesia dan Vietnam dengan jelas menunjukkan bahwa BMPs dapat meningkatkan hasil panen, keamanan dan meningkatkan kualitas produk.

STRATEGI IMPLEMENTASI IMTA

Strategi penerapan IMTA berbasis BMPs dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik secara langsung maupun sebatas pihak pendukung. Pihak-pihak yang berperan dalam implementasi IMTA dalam BMPs adalah pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, lembaga permodalan dan petani skala kecil sendiri. Pemerintah memiliki peranan yang urgen untuk pengaplikasian IMTA pada petani skala kecil. Pemerintah berfungsi untuk menyediakan tenaga penyuluh, pengawas dan pendampingan terhadap nelayan. Misalnya melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan pemberian penyuluh perikanan yang disebar ke wilayah IMTA untuk melakukan pendampingan serta pelatihan. Pelaksanaan penyuluh ini

(13)

dapat dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Budidaya dengan pengawasan hasil produksi, mutu prodak dan keamanan pangan (Wibisono, 2011).

Hal terpenting yang harus diperhtikan oleh pemerintah adalah penyiapan penyuluh, sejauh mana tingkat pemahaman dan pengetahuan penyuluh terhadap konsep IMTA maka sejauh itu pula pemahaman yang akan diketahui oleh petani skala kecil. Tidak hanya itu, implementasi IMTA ini memerlukan waktu yang lama sehingga perlu penanaman kesabaran pada penyuluh. Pelatihan BMPs pada penyuluh sekiranya penting untuk dilakukan oleh pemerintah.

Dalam rangka pengembangan program tersebut, maka perlu bagi KKP untuk melakukan penelitian melalui peran Balai Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) dan LIPI, selain itu pihak yang berperan dalam pengembangan penelitian adalah perguruan tinggi. Sehingga keseluruh elemen dalam riset dan pengembangan mampu mengembangkan inovasi baru pada masyarakat dan teknologi baru yang sesuai.

Gambar 2. Strategi Penerapan IMTA pada Petani Skala Kecil

Untuk penyedia permodalan bagi petani skala kecil, maka perlu kerja sama secara kontinyu kepada lembaga permodalan seperti Bank, Koperasi dan BUMN. Lembaga inilah yang nantinya akan memberikan pinjaman pada petani skala kecil untuk penerapan IMTA skala skala kecil. Oleh karenanya, diperlukan penyuluh yang mampu untuk meyakinkan petani skala kecil akan keunggulan IMTA dan kesinambungannya menjaga hasil produksi tetap seimbang. Penerapan IMTA tersebut sekiranya dapat dilakukan disalah satu daerah di Indonesia sebagai percontohan untuk daerah lain. Salah satu wilayah yang potensial adalah Sulawesi Tenggara tepatnya di Desa Tondonggeu Kecamatan Abeli Kabupaten Kendari. Petensi budidaya yang didukung dengan jumlah petani skala kecil yang banyak menggunakan KJA sebagai media budidaya selain itu perairan yang belum tercemar serta ketersediaan organisme lokal yang mendukung seperti Abalone dan teripang memberikan peluang IMTA untuk diterapkembangkan oleh petani skala kecil.

KESIMPULAN

Strtategi implementasi IMTA yang dilakukan oleh seluruh pihak. Pemerintahlah yang memegang peranan penting dalam menentukan kualitas produksi oleh petani skala kecil melalui penyiapan kualitas penyuluh, begitupula

(14)

dengan badan riset dan perguruan tinggi untuk melakukan pengembangan program dan menumbuhkan inovasi baru agar IMTA dapat dilaksanakan oleh petani secara kontinyu serta penyediaan modal oleh lembaga-lembaga permodalan, sehingga nantinya hasil produktivitas petani skala kecil dapat meningkat dan IMTA dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mempertahankan hasil produksi.

DAFTAR PUSTAKA

Chopin,T., Yarish, C. 1999.Nutriens or not nutrients?World Aquaculture.29 : 31-61.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2009. Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2008. Departemen Kelautan dan Perikanan

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2011. Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2010. Departemen Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara

Langan, R., 2004. Balncing marine aquaculture inputs and extraction: combined culture of finfish and bivalve mollusks in the open ocean. Bulletin of Japanese Fisheries Research Agency, Supplement 1 : 51-58.

Petrell, R. J., Alie, S. Y. 1996. Integrated cultivation of salmonids and seaweeds in open sistems. Hydrobiologia, 398/399 : 469-472

Teguh, L. Pambudi. 2011. Aplikasi IMTA untuk Evolusi Akuakultur Indonesia. Sebuah Kajian. Pukyong National University. Korea.

Troell, M., Halling, C., Nisson, A., Buchmann, A.H., Kaursky, N., Kautsky, L. 1997. Integreated marine cultivation of Gracilaria chilensis (Gracilariales Rhodophyta) and salmon cages for reduced environmental impact and increased economic output. Aquaculture 156 : 45-61.

Wibisono, Rico Wisnu. 2011. Aplikasi IMTA (Integrated Multi-Tropic Aquaculture). IPB. Bogor.

1. LAMPIRAN

Lampiran 1 : Daftar Riwayat Hidup Ketua dan Anggota 1. Ketua Tim :

(15)

Pengalaman Organisasi :

Pramuka 2003-2004

OSIS 2006-2007

ROHIS (Kerohanian Islam) 2008-2009

ISPI (Ikatan Silaturahim Pelajar Islam) 2008-2009

BKLDK UNHALU 2010-sekarang

ASC (Amphiprion Scientific Club) 2011-sekarang

Anggota Tim 1

a. Nama lengkap : Husen Efendy

b. NIM : I1A3 11 015

c. TTL : Bombana, 17 Juli 1993

d. Alamat : Jl. Y. Wayong I No. 80

e. Fakultas / Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan / Budidaya Perairan (Abalon)

f. Perguruan tinggi : Universitas Haluoleo g. Waktu untuk kegiatan PKM : 10 jam/minggu

Riwayat Pendidikan :

SDN 17 BARUGA KENDARI 1999-2005

SMPN 3 KENDARI 2005-2008

SMAN 4 KENDARI 2008-2011

S1 Budidaya Perairan, Universitas Haluoleo 2011-sekarang

Pengalaman Organisasi:

OSIS 2010-2011

PASKIBRA 2010-2011

Anggota Pelaksana 3

a. Nama Lengkap : Indira Rosviya Sari

b. NIM : I1A4 11 006

c. TTL : Kendari, 25 Oktober 1992

d. Alamat : Jl. N. E. A. mokodompit Lrg. Salangga No. 8

Ketua Kelompok

Ardana Kurniaji I1A2 10 097

Anggota Kelompok

Husen Efendy I1A3 11 015

(16)

e. Fakultas / Program Studi : Perikanan dan Ilmu Kelautan / Manajemen

S1 Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Haluoleo 2011-sekarang

3. Dosen Pembimbing :

a. Nama Lengkap dan Gelar : Wa Iba, S.Pi, M.App, Sc b. Golongan Pangkat/NIP : IIIc / 19750605 200212 2 002

c. Fakultas/Jurusan : Perikanan dan Ilmu Kelautan/Budidaya Perairan

d. Perguruan Tinggi : Universitas Haluoleo e. Bidang Keahlian : Akuakultur

f. Waktu Kegiatan PKM : 6 jam/minggu WORK EXPERIENCES

1. 2002-Now, Employed as lecturer at Faculty of Fisheries and Marine Science Haluoleo University South East Sulawesi

2. 2009, Research : Mapping of Existing Mariculture Activities in SE-Sulawesi, ACIAR-SADI Program and FFMS Unhalu

2. 2009, Research : Biodiversity of Kendari Bay Waters Before and After Sediment Dredging, Grant from Development Planning Agency of Kendari SE-Sulawesi

2. 2008, Research : Growth and Survival of Sea Cucumber feed on Sediment from Floating Cage of Cultured Trevally Fish, Grant from Research Institution of Haluoleo University

4. 2008, Research: Effects of different fresh foods compared to formulated feed on Growth and Survival of Lele Dumbo (Clarias geriepenus) (Supervisor)

Anggota Kelompok

Indira Rosviya Sari I1A4 11 006

(17)

5. 2008, Research : Effects of Salinity and Temperature on Hatching Rate of Pearl Lobster (Panulirus ornatus) (Supervisor)

PUBLICATIONS/UNPUBLISHED THESES

1. 2007, Regulation of Na+ and K+ by erythrocyte membrane of barramundi Lates calcarifer Bloch. Published in Aqua Hayati Vol. 5 No. 2., Oktober 2007. 2. 2008, Nutrition Requirement of Cultured Abalone Post Larvae and Juveniles :

a review. Published in Indonesian Aquaculture Journal Vol 3 No 1, 2008 3. 2009, Are Copepods Viable Options as Live Food in Aquaculture Hatcheries?

Published in Indonesian Aquaculture Journal Vol 4 No 1, 2009

4. 2010, Mariculture Sites and Species Cultured in SE-Sulawesi. Poster Presented at Global Aquaculture Conference in Phuket Thailand,22-26 September 2010.

5. 2010, Batch Culture of T.Iso at Different Salinity, Aqua Hayati Vol 7. No 2 October 2010

6. 2011, Study on Water Quality Parameters for Seaweed (Gracillaria verrucosa) Farmed in Sulfate Acid Soil Affected Ponds, Published in Aquahayati Vol. 7 No. 3 April 2011

COMMUNITY SERVICE EXPERIENCES

1. 2007, The culture of polkadot grouper in Coastal Area of Kendari Bay Southeast Sulawesi

2. 2008, The culture of sea cucumbers, seaweed and post harvest processing of seaweed at Coastal Area of Lalowaru Village North Moramo South East Sulawesi

3. 2009, Assistance In Pioneering The Fisheries Based Stop In House for Bajonese Children At Labotaone Village Kec. Laonti Konawe SE-Sulawesi 4. 2009, Application of Pelleted Food for Groupers Cultured in Floating Cage by

Bajonese Community at Renda Island Kec. Napabalano SE-Sulawesi

5. 2011, The Use of Shells Waste to make Handicraft Souvenirs at Sampuabalo Village, Siontapina Subdistrict, Buton Regency, SE-Sulawesi

Dosen Pendamping

(WA IBA, S.Pi, M.App, Sc)

Gambar

Gambar 2. Strategi Penerapan IMTA pada Petani Skala Kecil  Untuk penyedia permodalan bagi petani skala kecil, maka perlu kerja sama

Referensi

Dokumen terkait

Kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakan guru, staf, siswa, orang

Bagaimana konsep mengembangkan dan merancang Pengembangan Kampung Baratan Boyolali Sebagai Pusat Edukasi Permaculture dan Ekowisata Agraris yang mampu mendukung kegiatan

Selanjutnya kajian ini juga bertujuan melihatpengaruh harga daging kuda, total pendapatan keluarga, harga barang substitusi (daging babi) terhadap permintaan daging

[r]

a. Keputusan tentang jenis produk: Dalam hal ini konsumen dapat mengambil keputusan tentang produk apa yang akan dibelinya untuk memenuhi dan memuaskan

Finally, the results also indicate that the Milieu shows significant difference among students’ view about the school climate based on their different streams of

Manfaat teoritis dari penelitian ini yaitu dapat mendeskripsikan atau menggambarkan persepsi keluarga terhadap tindakan terapi kejang listrik (Electro Convulsive

1. Kakek memberikan seekor kuda kepada seorang laki-laki muda. Kuda itu membawanya pergi ke jauh. Raja memberi burung rajawali kepada pahlawan yang akan membawanya ke suatu