• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGGALAN SEJARAH INDONESIA DALAM PERSPE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGGALAN SEJARAH INDONESIA DALAM PERSPE"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGALAN SEJARAH INDONESIA

DALAM PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL

Oleh:

Imam Mulyana

A. Hukum Internasional Dan Sejarah Perkembangannya

Istilah ‘hukum internasional’ (international law) diperkenalkan pertama kali oleh Jeremy Bentham pada tahun 1780 dalam bukunya yang berjudulIntroduction to the Principles of Morals

and Legislation. Sejak tahun 1840, istilah ini kemudian menggantikan istilah ‘law of nations’ atau ‘droit de gens’ yang sebelumnya banyak dipakai dalam literatur-literatur berbahasa Latin dan Inggris. Meskipun demikian di negara-negara Skandinavia termasuk Jerman dan Belanda, istilah ‘Völkerrecht’ dan ‘Volkenrecht’ sampai saat ini masih dipergunakan.1

Perkembangan hukum internasional tidak dapat dipisahkan dari perkembangan negara

sebagai subjek utamanya. Negaralah yang memiliki peran terbesar dalam mengembangkan dan membentuk hukum internasional. Tidak berlebihan jika secara sederhana kita dapat simpulkan bahwa sejarah hukum internasional pada awalnya tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuh dan berkembangnya sejarah negara-negara di dunia.

Kajian pertama mengenai sejarah hukum internasional sebagai sebuah subjek penelitian dimulai pada akhir abad ke 18. Meskipun demikian kajian awal ini dianggap kurang memenuhi standar akademik karena hampir sebagian besar bahan kajiannya berasal dari sumber sekunder. Selain itu kajian sejarah hukum internasional yang pertama ini sangat menekankan pada hubungan antara negara dengan negara saja,2tentu saja dengan definisi negara yang sesuai dan

ditetapkan oleh bangsa Eropa ketika itu. Karena substansi dan sumber sejarahnya yang juga sangat kurang, membuat kajian sejarah hukum internasional yang pertama ini lebih layak dianggap sebagai kajian teori hukum internasional biasa yang telah dijelaskan dan diulang hampir selama tiga abad sebelumnya.3

1 Peter Malanczuk, Akehurst’s Modern Introduction to International Law, Seventh revised edition, Rotldege,

London and New York, 2002, hlm. 1

2

R. Bernhardt (ed.),Encyclopedia of Public International Law 7: Hystory of International Law, Foundations and Principles of International Law, Sources of International Law, Law of Treaties, Elsevier Science Publishers B.V., Netherlands, 1984, hlm. 126.

(2)

Kontribusi Eropa dalam membentuk sejarah hukum internasional sangatlah signifikan. Hal ini salah satunya dikarenakan pada abad ke 18 pemikiran bangsa Eropa mengenai hukum internasional dengan mudah dapat tersebar ke seluruh dunia tanpa adanya penentangan yang serius.4Tidak berlebihan jika ada sebagian pemikir yang beranggapan bahwa sejarah hukum

internasional merupakan bagian atau cabang dari sejarah peradaban Eropa.5 Pemikiran ini kemudian menjadikan sejarah hukum internasional tidak berkembang dan membatasi diri hanya pada perkebangan sejarah hukum internasional di wilayah Eropa saja. Pemikir Eropa ketika itu menolak gagasan bahwa hukum intermasional berkembang di wilayah selain Eropa, bahkan mereka juga menyangkal adanya gagasan bahwa hukum internasional telah ada di Eropa jauh

sebelum abad ke 18.6

Pada awal abad ke 19, bangsa Eropa mulai menetapkan “civilized standard” sebagai ukuran yang harus dipenuhi oleh bangsa non Eropa apabila mereka akan berpartisipasi dalam pergaulan masyarakat internasional yang telah diciptakan oleh bangsa Eropa. Bangsa Eropa menghendaki agar bangsa non Eropa menjalankan hubungan diplomatik seperti cara mereka,

menjalankan bentuk birokrasi seperti cara mereka, menjalankan hukum negaranya sesuai dengan hukum Eropa, termasuk harus menerima beberapa pandangan bangsa Eropa misalnya dalam hal bahwa bangsa Eropa menentang dan tidak menerima poligami serta perbudakan.

Ironisnya, sebagian negarawan di Eropa ketika itu justru berangapan bahwa hukum

internasional sebenarnya tidak hanya milik bangsa Eropa saja. Bahkan faktanya, ahli hukum alam menganggap bahwa masyarakat internasional adalah sebuah kenyataan yang telah mengglobal. Hedley Bull menggambarkan kenyataan ini dalam sebuah pernyataan yang sederhana7

“There is … an element of absurdity in the claim that states such as China, Egypt, or Persia, which existed thousands of years before states came into existence in Europe, achieved rights to full independence only when they came to pass a test devised by nineteenth century Europeans”

Dorongan mengenai harus segera adanya koreksi terhadap sejarah hukum internasional

mulai muncul di akhir abad ke 19 dan awal ke 20. Urgensi ini di dorong oleh berbagai macam

4Ibid. 5

Matthew Craven,Introduction: International Law and Its Histories, dalamTime, History and International Law, Matthew Craven, et. al. (ed.), Martinus Nijhoff Publishers, Leiden & Boston, 2007, hlm. 1

6R. Bernhardt,Op. Cit.,hlm. 127

(3)

motif, salah satunya adalah untuk mengetahui bagaimana suatu kebiasaan pada akhirnya menjadi sebuah norma yang berlaku dan dipatuhi dalam hukum internasional. Oppenheim misalnya mengatakan bahwa:8

“[I]n spite of the vast importance of this task it has as yet hardly been undertaken; the history international law is certainly the most neglected province of it. Apart from a few points which are dealt with in monographs, the history of international law is virgin land which awaits its cultivators. Whatever may be the merits of the histories and historical sketches which we possess, they are in the main mere compilations. The master-historian of international law has still to come

Pada awal permulaan tahun 1930, dengan penelitian yang sebelumnya dilakukan oleh

para ahli arkeologi dan ahli sejarah, maka penelitian mengenai sejarah hukum internasional memasuki babak baru dan mulai melihat adanya kemungkinan bahwa hukum internasional juga berkembang di wilayah selain Eropa.9

Asumsi utama yang dipergunakan dalam melakukan penelitian ini adalah dengan membuka seluas-luasnya kemungkinan bahwa di masa lampau dalam waktu dan tempat tertentu

telah ada suatu sistem komunal yang bertindak dan berinteraksi seperti negara, menganut dan mematuhi sejumlah aturan dalam berinteraksi dengan komunitas lain, mirip dengan sejumlah norma yang sekarang ini kita kenal dengan sebutan hukum bangsa-bangsa atau hukum internasional.10

Dengan semakin berkembangnya kajian mengenai sejarah hukum internasional, maka semakin berkembang pula berbagai macam teori dan penemuan dalam sejarah hukum internasional. Perkembangan ini tampak dari mulai adanya perdebatan di antara para ahli hukum internasional mengenai kapan sebenarnya ‘hukum internasional’ mulai ada secara nyata berada di tengah masyarakat dunia. Pemikiran para ahli hukum internasional tidak lagi hanya melihat

Eropa sebagai satu-satunya sumber tempat berkembangnya sejarah hukum internasional, seperti misalnya yang pendapat Majid Kaduri yang dikutip Anand dalam bukunyathe Influence History and International Law in Asia:11

8Oppenheim, “The Science of International Law: Its Task and Method”, 2 American Journal of International Law,

1908, hlm. 313, dalam Matthew Craven,Op. Cit., hlm. 2.

9

Bernhardt,Op.Cit.127.

10

David J. Bederman,International Law in Antiquity, Cambridge University Press, Cambridge & New York, 2004, hlm. 16.

(4)

“In each civilization the population tended to develop within itself a community of political entities—a family of nations—whose interrelationships were regulated by a set of customary rules and practices, rather than being a single nation governed by a single authority and a single system of law. Several families of nations existed or coexisted in areas such as the ancient Near East, Greece and Rome, China, Islam and Western Christendom, where at least one distinct civilization had developed in each of them. Within each civilization a body of principles and rules developed for regulating the conduct of states with one another in peace and war”

Dalam perkembangan sejarah hukum internasional dewasa ini, beberapa pemikir menandai sejarah Cina Kuno, Yunani dan Persia sebagai awal mulai munculnya hukum

internasional berdasarkan fakta bagaimana mereka melakukan hubungan dengan komunitas lain diluar mereka. Sebagian sarjana menganggap bahwa hukum internasional pertama kali muncul pada masa Mesopotamia pada tahun 2100 sebelum masehi.12Penemuan lain yang juga dianggap penting adalah adanya perjanjian antara raja Mesir Ramses II dengan raja bangsa Het (Hittites) mengenai pentingnya menjaga persaudaraan dan perdamaian diantara dua bangsa, saling

menghormati integritas wilayah masing-masing, berkomitmen untuk tidak saling melakukan agresi bahkan membentuk aliansi pertahanan bersama antara dua bangsa.13

Ada juga yang berpendapat bahwa hukum internasional mulai ada ketika bangsa Spayol berdebat tentang status orang-orang Indian di benua Amerika. Pertanyaan yang berkembang ketika itu adalah, apakah bangsa Spanyol mempunyai hak untuk menyerap sebagian wilayah

benua Amerika dan menyangkal hak-hak asli yang dimiliki oleh warga pribumi? Bangsa Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya beranggapan bahwa benua Amerika adalah suatu terra nulius,

dimana benua Amerika tidak dimiliki bangsa manapun sehingga merupakan subjek dari penaklukan bangsa Eropa.14

Meskipun demikian, tentu saja kebanyakan para sarjana saat ini meyakini bahwa hukum internasional dengan karakteristik seperti yang kita kenal saat ini mulai muncul pertama kali pada masa Kerajaan Romawi (Regnum Romanum). Hukum Romawi dianggap dengan jelas memperkenalkan konsep pembedaan perlakuan antara warga negara Romawi dengan bukan

warga negara Romawi (orang asing). Hukum Romawi memperkenalkan istilahjus civile(hukum

12Ditemukan perjanjian tapal batas di Mesopotamia yang di tulis dalam bahasa Sumeria, isi perjanjian ini mengatur

tapal batas antara Kota Lagash dan Kota Umma.

13

Ditemukan di wilayah Kadesh, sebelah utara Damaskus, lihat Malcolm N. Shaw,International Law, Sixth edition, Cambridge University Press, Cambridge & New York, 2008, hlm. 14.

(5)

perdata untuk masyarakat Romawi) sekaligus juga jus gentium (hukum bangsa-bangsa).15Jus gentium ketika itu adalah hukum yang mengatur mengenai hubungan orang romawi dengan orang non romawi dalam berbagai bidang, misalnya hubungan perdagangan dan urusan birokrasi. Pemerintah Romawi juga menunjuk otoritas resmi yang disebut Praetor Peregrinus

dengan tugas menjamin agar jus gentium dipatuhi dan ditegakkan. Jus gentium juga mendapatkan pengaruh yang kuat dari filsafat Yunani, terutama gagasan tentang hukum alam. Pada akhirnya, selain karena wilayah Romawi yang pada waktu itu cukup luas, teori hukum alam lah yang menjustifikasi bagaimana jus gentiumdapat diterima dan menjadi prinsip umum yang berlaku diantara bangsa-bangsa beradab yang ada di daratan Eropa pada waktu itu.16

Selain mencoba menjawab kapan awalnya sejarah hukum internasional dimulai, beberapa sarjana juga mencoba melakukan periodisasi perkembangan sejarah hukum internasional dengan menganalisis karakteristik-karakteristik yang hanya identik pada suatu rentang waktu tertentu saja.

Seorang diplomatik yang sekaligus ahli sejarah asal Jerman, Grewe, mengatakan bahwa

berdasarkan pengaruh dan ideologi yang berkembang pada rentang waktu tertentu, perkembangan sejarah hukum internasional dapat dibagi ke dalam tiga era, yaitu era Spanyol (1494-1648), era Prancis (1648-1815), dan era Inggris (1815-1919).17

Akehurst membuat periodisasi sejarah hukum internasional dengan sangat umum, yaitu

sistem hukum internasional klasik dan sistem hukum internasional modern. Sistem hukum internasional klasik pada intinya adalah suatu periode dimana negara merupakan satu-satunya subjek hukum internasional yang diakui. Periode ini dimulai dari lahirnya perjanjian Westphalia hingga perang Dunia I (1964-1918). Periode sistem hukum internasional modern pada intinya adalah suatu periode dimana negara-negara terikat dalam suatu kepentingan bersama sebagai

komunitas internasional, sehingga melahirkan subjek-subjek hukum internasional yang baru. Periode ini dimulai dari berakhirnya Perang Dunia I hingga sekarang.18

Dalam the Encyclopedia of Public International Law Rudolf Bernhardt berpendapat bahwa perkembangan sejarah hukum internasional tidak saja milik orang Eropa (Eurocentric), sehingga selain membuat periodisasi perkembangan sejarah hukum internasional yang dimulai

15

Ibid.

16

Shaw, Op. Cit.,hlm. 17

(6)

dari tahun 1648-1815, tahun 1815 hingga Perang Dunia I, masa antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, serta perkembangan setelah Perang Dunia II, Bernhardt juga mengakui kontribusi wilayah lain selain Eropa terhadap perkembangan sejarah hukum internasional seperti Afrika, Timur Jauh, Dunia Islam, Amerika Latin, Asia Selatan dan Asia Tenggara.19

B. Peran Hukum Internasional Dalam Sejarah Indonesia

Melihat perkembangan pemikiran sejarah hukum internasional di atas, maka dalam konteks Indonesia, kita juga dapat menggagas suatu diskursus mengenai bagaimana hukum internasional mengambil peran dalam membentuk sejarah Indonesia. Diskursus ini dimaksudkan

untuk memperkaya sejarah Indonesia, secara khusus apabila mendapatkan tinjauan dari aspek hukum internasional, serta membangkitkan kesadaran bahwa Indonesia juga merupakan bangsa besar yang telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perkembangan hukum internasional.

Hukum internasional mengambil peran yang penting dalam membentuk sejarah

Indonesia. Peran hukum internasional sudah dapat dirasakan sejak zaman kerajaan-kerajaan kuno hadir di bumi nusantara, zaman kolonialisme, zaman perjuangan kemerdekaan, hingga zaman ketika kita mengisi kemerdekaan hari ini.

Pada masa kerajaan-kerajaan kuno berdasarkan fakta sejarah, tepatnya abad ke lima

produk-produk perdagangan yang dihasilkan Indonesia sudah jauh diperjualbelikan bahkan hingga ke negeri Eropa. Cengkih dari Maluku (the Moluccas) dan sandal kayu dari Timor sudah dapat ditemui di pasar-pasar kerajaan Romawi. Permintaan barang-barang dari Indonesia meningkat terutama setelah dibukanya jalur perdagangan melalui Selat Malaka. Di Cina, cengkih dan pala (berasal dari Maluku), lada (dari Sumatera dan Jawa Barat), cula badak (dari Jawa dan

Sumatera) serta kulit kura-kura (dari Bali dan sekitarnya) mengalami lonjakan permintaan yang luar biasa. Produk lain yang juga sangat laku dan mahal adalah olahan damar dan kayu aromatik seperti kapur barus (berasal dari Sumatera) sebagai pengganti dupa dan kemenyan yang harganya jauh lebih mahal.20

Meningkatnya intensitas perdagangan, terutama melalui jalur laut, selanjutnya

mendorong lahirnya kebutuhan-kebutuhan primer yang diperlukan untuk menunjang kelancaran

19Bernhardt,Op.Cit.126-129.

(7)

perdagangan. Kebutuhan tersebut antara lain meliputi ketersediaan fasilitas pelabuhan, tempat singgah bagi pedagang dan pelaut asing, hingga armada laut yang dapat menjamin keamanan para pedagang di sekitar pelabuhan. Hal ini selanjutnya menjadi salah satu faktor yang mendorong lahirnya negara-kota (city-state) di Indonesia, terutama di sekitar jalur-jalur

perdagangan.21

Bentuk pertama dari kuasi atau prototipe negara di Indonesia pada awalnya lahir di Jawa sekitar abad ke empat atau lima. Yang dimaksud dengan negara disini adalah suatu institusi politik yang diakui sebagai wakil dari suatu komunitas, serta memiliki seperangkat hukum yang mengikat dan akan mendatangkan sanksi jika hukum tersebut tidak dipatuhi. Pada abad ini

terdapat Tarumanegara di pulau Jawa (mengatur aktivitas perdagangan di sekitar Jawa Barat, sekarang Tanjung Priok) dan Kutai di pulau Kalimantan (mengatur aktivitas perdagangan di sekitar sungai Mahakam). Berdasarkan sumber Cina, pada abad ke tujuh, terdapat dua kerajaan yang sangat dominan menguasai jalur perdagangan, yaitu Kalingga (Holing dalam bahasa Tiongkok) di Jawa dan Sriwijaya di Sumatera. Lebih jauh kerajaan Kalingga bahkan sudah

mengirimkan misi diplomatik dan perdagangan ke negeri Cina.22

Aktivitas perdagangan yang bersifat lintas batas seperti yang dikemukakan di atas tentu saja tidak serumit aktivitas perdagangan internasional yang kita kenal sekarang. Semuanya masih di jalankan dengan sederhana, dengan kapal-kapal dagang yang sederhana termasuk juga dengan

seperangkat aturan-aturan yang sederhana. Meskipun demikian, aktivitas perdagangan ini dapat dianggap sebagai cikal bakal bagaimana kerajaan-kerajaan di Indonesia pertama kali terlibat dalam suatu hubungan dengan bangsa lain serta berkomitmen untuk mematuhi aturan-aturan yang dibuat dan disepakati dengan bangsa lain. Sejalan dengan pengertian masyarakat internasional yang dikemukakan Hedley, maka kerajaan-kerajaan di Indonesia sudah masuk dan

menjadi bagian dari masyarakat internasional. Hedley mengatakan bahwa:23

“A society of states (or international society) exists when a group of states, conscious of certain common interests and common values, form a society in the sense that they conceive themselves to be bound by common set of rules in their relations to one another, and share in the working of common institutions”

21

Ibid.

(8)

Selanjutnya zaman kolonialisme di Indonesia merupakan bagian yang paling suram dalam sejarah Indonesia. Kolonialisme muncul pasca reformasi industri sebagai akibat dari adanya hasrat untuk mencari sumber daya alam yang sebesar-besarnya yang digunakan sebagai bahan industri di kawasan Eropa. Bermula dari kepentingan dagang, bangsa-bangsa Eropa kemudian

mulai menjajah daerah-daerah yang didatanginya. Hal ini semakin jelas setelah Perjanjian Zaragosa antara Portugis dan Spanyol di sepakati dengan membagi dunia atas dua bagian yang menjadi milik mereka.24Dalam perkembangannya muncul negara Eropa lain, seperti Inggris, Belanda, Perancis yang juga menjadikan daerah-daerah yang mereka datangi sebagai negara jajahannya.

Bangsa Portugis pertama kali sampai di Ternate pada tahun 1512, sedangkan bangsa Spanyol pada tahun 1521 dikepulauan Maluku. Bangsa Spanyol di bawah pimpinan Sabastian Del Cano, berhasil membeli rempah-rempah dan membawanya ke Spanyol. Berita bahwa Del Cano berhasil menemukan daerah penghasil rempah-rempah segera tersebar di Spanyol. Akibatnya hingga tahun 1534, kapal-kapal Spanyol berduyun-duyun datang ke Kepulauan

Maluku.25

Belanda merupakan negara Eropa paling lama yang melakukan penjajahan terhadap Indonesia. Bangsa Belanda sampai di Banten pada bulan Juni tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Dari Banten misi pelayaran terus bergerak ke timur menuju Kepulauan

Malaka. Di kepulauan Malaka, armada de Houtman berhasil mengangkut rempah-rempah dalam jumlah banyak.26 Pada tahun-tahun berikutnya, armada-armada Belanda kembali datang dan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah di Indonesia, terutama setelah pada tahun 1602 Belanda

24 Perjanjian Zaragosa, ditandatangani 22 April 1528, adalah perjanjian antara Spanyol dan Portugis yang

menentukan bahwa belahan (batas wilayah kekuasaan spanyol dan portugis bumi) bagian timur dibagi di antara kedua kerajaan tersebut dengan batas garis bujur yang melalui 297,5leguaatau 17° sebelah timur Kepulauan Maluku. Perjanjian ini adalah kelanjutan dari Perjanjian Tordesillas yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus, yang melihat persaingan perebutan koloni yang dilakukan oleh Portugis dan Spanyol. Oleh karena itu, dibuatlah perjanjian ini. Dalam perjanjian ini dicapai hasil yang lebih rinci dari dua belah pihak, Spanyol dan Portugis. Adapun kesepakatan yang dicapai adalah :

1. Bumi dibagi atas dua pengaruh, yaitu pengaruh bangsa Spanyol dan Portugis.

2. Wilayah kekuasaan Spanyol membentang dari Mexico ke arah barat sampai kepulauan Filipina dan wilayah kekuasaan Portugis membentang dari Brazil ke arah timur sampai kepulauan Maluku. Daerah disebelah utara garis Zaragosa adalah penguasaan Portugis, daerah disebelah selatan garis Zaragosa adalah penguasaan Spanyol.

25

Baca Michael Wood, Official History in Modern Indonesia: New Order Perceptions and Counterviews, Brill, Leiden & Boston, 2005, hlm. 68-81.

(9)

mendirikan Vereenigde Oost-Indische Compagine (VOC) yang hari ini dianggap sebagai cikal bakal lahirnya perusahaan multinasional dunia.27

Melalui VOC, bangsa Belanda dapat mengangkut banyak rempah-rempah dari bumi Indonesia. Menurut Mochtar Lubis28 transaksi antara VOC dengan penguasa setempat selalu

menggunakan pola yang sama dan berulang-ulang, yaitu dimulai dengan kontrak perdagangan secara damai, mulai menumbuhkan ketidakpercayaan dan akhirnya konflik dengan kekerasan. Hal ini terus berlangsung dihampir semua wilayah jajahan Belanda hingga kemudian VOC pada akhirnya dapat memonopoli perdagangan. Selain mengeruk kakayaan alam bangsa Indonesia selama tiga ratus lima puluh tahun, Belanda juga mewariskan peninggalan lain berupa sistem

hukum yang dalam beberapa bidang hingga hari ini masih dipakai di Indonesia.29Waktu yang lama membuat Belanda juga secara leluasa melakukan ekspansi terhadap wilayah-wilayah jajahannya. Hari ini berdasarkan prinsip uti posidetisPulau Miangas (Las Palmas) yang dulunya merupakan daerah jajahan Belanda telah secara resmi menjadi bagian dari Indonesia.30

Zaman perjuangan kemerdekaan merupakan titik kulminasi dari perjuangan bangsa

Indonesia setelah hampir selama berabad-abad sebelumnya perjuangan kemerdekaan lebih mengedepankan revolusi fisik dan sifatnya yang masih lokal. Pada zaman perjuangan kemerdekaan, paradigma perjuangan berubah menjadi perjuangan dengan cara-cara yang lebih diplomatis. Zaman perjuangan kemerdekaan pada dasarnya dimulai dari tahun 1900 hingga tahun

1949.31

Pada zaman ini, sejarah Indonesia juga mendapat pengaruh yang sangat kuat dari sejarah dunia, terutama karena adanya Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Masuknya Jepang menjadi awal dari lahirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Indonesia sebagai sebuah negara baru tentu saja memiliki modal yang cukup dalam memenuhi syarat-syarat negara

seperti yang diharuskan oleh hukum internasional. Menurut Pasquale Fiore, negara adalah:32

27Ibid, baca jugaHuala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, Cetakan kelima,CV Keni Media, Bandung, 2011,

hlm. 68-69.

28

Mochtar Lubis,Indonesia: The Land Under The Rainbow, Oxford University Press, Singapore, 1990, hlm. 95

29Ibid.

30BacaIsland of Palmas Case(1928) dalam D.J. Harris,Cases and Materials On International Law, Fifth Edition,

Sweet & Maxwell, London, 19989, hl. 190-200.

31

Lubis,Op. Cit., hlm. 102.

32

(10)

The State is an association of a considerable number of men living within a definite territory, constituted in fact as a political society and subject to the supreme authority of a sovereign, who has the power, ability and means to maintain the political organization of the association, with the assistance of the law, and to regulate and protect the rights of the members, to conduct relations with other states and to assume responsibility for its acts.

Kualifikasi yang paling umum dan diakui hukum internasional tentu saja adalah kualifikasi yang diatur dalam Montevideo Convention on the Rights and Duties of States 1933. Pasal 1 menyebutkan:

The state as a person of international law should possess the following qualifications: a. permanent population;

b. a defined territory;

c. government; and

d. capacity to enter into relations with the other states.

Selanjutnya, terkait dengan sejarah Indonesia, adalah fakta bahwa setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu maka berdasarkan perjanjian Wina tahun 1942, negara-negara sekutu akan mengembalikan wilayah-wilayah yang kini diduduki Jepang pada pemilik

koloninya masing-masing. Meskipun demikian, tidak dengan Belanda. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada bulan Agustus 1945 dan ditandatangainanya dokumen kapitulasi oleh Jepang pada tanggal 2 September 1945, Belanda memanfaatkan momentum ini untuk kembali ke tanah air melaluiNetherland Indies Civil Administration (NICA) atau pemerintahan sipil Hindia

Belanda yang dibonceng sekutu.33

Pada masa ini Indonesia yang sudah memproklamasikan kemerdekaannya melakukan perjuangan diplomatis melalui meja perundingan terutama untuk mendapatkan pengakuan dan menjaga keutuhan wilayahnya. Salah satu perundingan yang terkenal adalah perundingan Linggarjati pada tanggal 15 November 1946 yang kemudian menghasilkan perjanjian yang

isinya antara lain menegaskan bahwa Belanda mengakui secarade factoRepublik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayahde factopaling lambat 1 Januari 1949; Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia; dan

(11)

Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya. Singkatnya, hasil penting dari perundingan Linggarjati kemudian membuat wilayah Republik Indonesia hanya mencakup Sumatera, Jawa dan Madura.34

Dalam perundingan lain yang selanjutnya menghasilkan perjanjian Renville pada tanggal

17 Januari 1948, wilayah Republik Indonesia bahkan menjadi lebih terbatas lagi. Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia, serta ditariknya garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda.

Meskipun demikian, pada akhirnya dalam sebuah pertemuan yang berlangsung antara

tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949 yang dilaksanakan di Den Haag antara pemerintah Republik Indonesia dan Belanda, akhirnya dicapai kesepakatan bahwa Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat. Meskipun demikian, permasalahan Irian Barat akan diselesaikan setahun setelah pengakuan kedaulatan. Perundingan ini selanjutnya disebut Konferensi Meja Bundar.

Kualifikasi yang harus dipenuhi Indonesia untuk dapat diakui sebagai suatu negara seperti yang disebutkan dalam Konvensi Montevideo 1933 tentu saja dapat dikaji satu persatu dengan menghubungkan fakta sejarah dan menganalisisnya melalui teori dan ketentuan yang terdapat dalam hukum internasional. Hukum internasional mempunyai berbagai definisi dan teori serta

berbagai doktrin mengenai permanent population, a defined territory, government dan capacity to enter into relations with the other states. Perjuangan Republik Indonesia untuk mendapatkan suatu wilayah serta mendapatkan pengakuan melalui serangkaian perjanjian seperti yang disebutkan di atas tentu saja dapat ditinjau dari persfektif hukum internasional. Akan tetapi pembahasan kualifikasi seperti itu tentu saja memerlukan kajian sejarah dan hukum yang lebih

dalam serta intensif serta jumlah halaman yang lebih banyak untuk menuliskannya.35

Pada era mengisi kemerdekaan, tentu saja sebagai bangsa yang besar Indonesia banyak terlibat aktif dalam kancah internasional. Banyak momentum sejarah yang sebenarnya dapat ditinjau dari persfektif hukum internasional. Dalam menciptakan perdamaian dan kerjasama yang sederajat diantara bangsa-bangsa, Indonesia menjadi tuan rumah dalam Konferensi Asia

Afrika 1955 di Bandung yang pada prinsipnya merupakan sebuah pernyataan mengenai

(12)

dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia. Deklarasi Djuanda pada tahun 1957 juga merupakan penegasan komitmen bangsa Indonesia untuk menjaga keutuhan wilayahnya dalam suatu kesatuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia kembali terlibat konfrontasi fisik dengan Belanda dalam merebut Irian barat

pada tahun 1961 hingga 1962 dan konfrontasi fisik dengan Malaysia pada tahun 1965. Konfrontasi dengan Malaysia mengakibatkan keluarnya Indonesia dari PBB sebagai bentuk protes atas pengakuan kedaulatan Malaysia dan diterimanya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Pada tahun 1975, Indonesia yang didukung Amerika dan Australia menjalankan operasi

Seroja di Timor Timur, tujuannya tidak lain untuk mengembalikan Timor Timur dari cengkraman Portugis. Hampir selama dua puluh empat tahun Timor Timur menyandang gelar provinsi termuda, dan pada tahun 1999 lewat sebuah referendum yang diawasi PBB masyarakat Timor Timur memilih untuk merdeka dan lepas dari Indonesia.

Selain menjadi salah satu negara deklarator ASEAN pada tahun 1967, Indonesia juga

terlibat aktif dalam berbagai organisasi internasional. Dewasa ini Indonesia juga aktif dalam berbagai macam organisasi internasional, mulai dari organisasi perdagangan, hak asasi manusia, lingkungan dan organisasi lain yang sedikit banyak turut mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia. Misalnya pada tahun 1998 hingga 1999 melalui International Monetary Fund (IMF)

misalnya, Indonesia disyaratkan untuk mengadopsi sejumlah ketentuan dalam hukum nasionalnya sebagai syarat turunnya dana pinjaman IMF untuk mengatasi krisis moneter yang pada saat itu sedang dihadapi Indonesia. Indonesia juga pernah bersengketa dan berperkara di beberapa forum ajudikasi internasional, misalnya forum World Trade Organization(WTO) dan forumInternational Court of Justice(ICJ).

Tentu banyak sekali peranan hukum internasional dalam penggalan sejarah Indonesia lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu dalam artikel yang terbatas ini. Menurut penulis, akan menarik apabila sejarah Indonesia pada setiap zaman bukan hanya sekedar narasi yang diceritakan turun temurun, tetapi juga mendapatkan analisis dari persfektif hukum internasional (hukum laut internasional, hukum organisasi internasional, hukum perdagangan internasional,

(13)

pembangunan di masa yang akan datang, terutama peran Indonesia dalam kancah internasional. Sejarah Indonesia sebagai bangsa yang besar tentu akan selalu menarik, seperti yang dikatakan Rickfles, “masa depan negara kepulauan terbesar di dunia ini akan pelik, menarik, dan penting, sebagaimana sejarahnya”.36

C. Penutup

Dari pengalan-penggalan sejarah di atas, tampak bahwa pada hakikatnya hukum internasional telah berperan dalam membentuk sejarah Indonesia dari mulai zaman kerajaan-kerajaan hingga zaman kemerdekaan hari ini. Peran ini lahir sebagai sebuah tuntutan bahwa

sebuah negara tidak dapat berdiri sendiri tanpa terikat dan mengadakan hubungan dengan negara lain. Akan menjadi sebuah kajian yang menarik apabila sejarah Indonesia juga mendapatkan analisis dari ilmu lain misalnya hukum internasional, atau ilmu-ilmu lainnya. Kajian ini akan bermanfaat terutama untuk melakukan retrospeksi terhadap kebijakan luar negeri Indonesia di masa lalu dan menjadi bahan pengalaman untuk membuat kebijakan yang lebih baik di masa

yang akan datang.

Referensi

Dokumen terkait

Pembuatan Lapisan Tipis Titania pada plat kaca dengan metoda celupan ini yang memberikan hasil paling baik, paling transparan yaitu pelapisan dengan konsentrasi TIP 0.5M. Uji

Hal tersebut senada dengan penelitian PMK yang dilakukan di Yogyakarta oleh Lusmilasari, Surjono, Haksari (2004) tentang pengaruh perawatan bayi lekat terhadap pertumbuhan

Bagi peneliti, penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan penerapan model pembelajaran quantum learning sehingga berpengaruh terhadap motivasi dan hasil belajar siswa dalam

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik mengangkat kajian tersebut dalam bentuk penelitian dan analisa serta memaparkannya dalam bentuk skripsi yang

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas demi peningkatan kualitas kesehatan penduduk Indonesia, dibutuhkan upaya nyata dalam memperbaiki

Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Siborongborong adalah salah satu entitas akuntansi di bawah kementerian yang berkewajiban menyelenggarakan

Algoritma ini cocok digunakan untuk tabel dengan ukuran yang tidak terlalu besar (tidak lebih dari sekitar 10.000 elemen), tidak terlalu dibutuhkan kecepatan