• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekonomi Moneter Islam Analisis Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ekonomi Moneter Islam Analisis Jurnal "

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Rasionalisme Ekonomi dan Konsumsi: Perspektif Islam

Dianalisa dari:

Economic Rationalism and Consumption: Islamic

Perspective

Basharat Hossain

Oleh:

Yusrotul Rosyidah (E20151003) Iradatul Kamilah (E20151014) Mega Anggraeni (E20151020) Fiay Syatirodiah (E20151024) Muhammad Nurul Amin (E20151011)

Ansita Devi Ardillah (E20151034) Ilmi Farajun Rikza (E20151043)

A. Paradigma Critical Theory

(2)

Denzin & Lincoln (1994:105, dalam Fuad, 2014) mendefinisikan paradigma sebagai: “Basic belief system or worldview that guides the investigator, not only in choices of method but in ontologically and epistomologically fundamental ways.”

Pengertian tersebut mengandung makna paradigma adalah sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metoda tetapi juga cara-cara fundamental yang bersifat ontologis dan epistomologis.

Secara singkat, Denzin & Lincoln (1994:107, dalam Fuad, 2014) mendefinisikan “Paradigm as Basic Belief Systems Based on Ontological, Epistomological, and Methodological Assumptions.” Paradigma merupakan sistem keyakinan dasar berdasarkan asumsi ontologis, epistomologis, dan metodologi. Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu, dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan. Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas. Metodologi memfokuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan. Denzin & Lincoln (1994:107, dalam Fuad, 2014) menyatakan: “A paradigm may be viewed as a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimates or first principle.” Suatu paradigma dapat dipandang sebagai seperangkat kepercayaan dasar (atau yang berada di balik fisik yaitu metafisik) yang bersifat pokok atau prinsip utama. Sedangkan Guba (1990:18, dalam Fuad, 2014) menyatakan suatu paradigma dapat dicirikan oleh respon terhadap tiga pertanyaan mendasar yaitu pertanyaan ontologi, epistomologi, dan metodologi.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa paradigma adalah pandangan yang mendasar dari para ilmuan untuk mencari sebuah kebenaran dari realita sosial dan dalam penelitian tersebut, terdapat suatu kumpulan tentang asumsi, konsep, atau proposisi yang secara logis dipakai peneliti dalam mengungkap kebenaran realita sosial tersebut. Paradigma penelitian adalah suatu hal yang mendasar karena berimplikasi terhadap pemilihan metodologi dan metode pengumpulan dan analisis data nantinya. Sedangkan interpretive merupakan satu bentuk pemahaman yang komprehensif dan naturalistik.

(3)

secar kritis berusaha mengungkap “the real scructure” di balik ilusi, false needs, yang ditampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu dalam membentuk kesadaran sosial agar memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan mereka.

Menurut Muslih (2004) aliran ini sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai suatu paradigma, tetapi lebih tepat disebut ideologically oriented inquiry, yaitu suatu wacana atau cara pandang terhadap realitas yang mempunyai orientasi ideologis terhadap paham tertentu. Ideology ini meliputi: Neo-Marxisme, materialism, Feminisme, freireisme, Partisipatory inquiry, dan paham-paham yang setara. Critical Theory merupakan suatu aliran pengembangan keilmuan yang didasari pada suatu konsepsi kritis terhadap berbagai pemikiran dan pandangan yang sebelumnya ditemukan sebagai paham keilmuan lainnya.

Dilihat dari segi ontologis, paradigma ini sama dengan postpositivisme yang menilai objek atau realitas secara (critical realism), yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Karena itu untuk mengatasi masalah ini, secara metodologis paham ini mengajukan metode dialog dan komunikasi dengan transformasi untuk menemukan kebenaran realitas yang hakiki.

Secara epistemologis, hubungan antara pengamat dan realitas yang menjadi objek adalah merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu aliran ini lebih menekankan pada konsep subjektivitas dalam menemukan ilmu pengetahuan, karena nilai yang dianut oleh subjek atau pengamat ikut campur dalam menentukan kebenaran tentang suatu hal.

(4)

Pertama, umumnya metode penelitian adalah hal yang terpisah dari akar sejarah dan akar sosiologis suatu masyarakat. Konsep semacam ini “diharamkan” oleh Critical Theory. Metode bukan sesuatu yang bebas nilai dan lepas dari kecurigaan, pertanyaan dan praktek yang sedang berlaku di masyarakat.

Kedua, paham ini selalu berusaha merumuskan metode ilmiah dalam konteks kesejarahan. Logika keilmuan sering kali berubah seiring berjalannya waktu. Potongan-potongan kebenaran dan metode ilmiah yang tidak progresif mengiringi waktu ini dinilai sebagai logika yang berkembang dalam latar sosial historis masyarakat.

Ketiga, paham Criticaal Theory tidak menekankan objektivitas sebagai tujuan penelitian sebagaimana paradigma lainnya. Pandangan ini didasari oleh kenyataan bahwa data lapangan berupa angka selalu berkolaborasi dengan pikiran, perasaan, dan persepsi sang peneliti.

Keempat, memandang bahwa ilmu bebas nilai adalah tidak realistis. Nyatanya ilmu ada untuk memihak pada kondisi atau pihak tertentu sesuai keinginan penggagasnya. Teori keunggulan mutlak milik Adam Smith misalnya, akhirnya menjadi legitimasi untuk menguntungkan negara adidaya yang memiliki spesialisasi industri.

Kelima, ilmu bukan bebas nilai justru menjadi sarana produksi nilai. Ilmu statistik misalnya, tidak hanya mengungkap kebenaran realitas, tapi kemudian memproduksi nilai kepastian yang kaku dan asosial.

Keenam, ilmu bukan soal apa yang terjadi saat ini tapi tentang keteraturan peristiwa masa lalu. Kajian terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu ini dijadikan sebagai pedoman untuk memperbaiki kondisi kini dan esok hari. Dalam pengertian ini, ilmu tidak dimaknai sebagai prediksi dan kontrol atas masa depan tapi sebagai media pengaturan hikmah fenomena yang masa lalu (gambaran berbagai kemungkinan).

Dari paradigma yang digunakan oleh Basharat Hossain yaitu paradigma

(5)

moderat. Untuk masyarakat yang seimbang dan damai bebas diskriminasi, prinsip-prinsip rasionalisme ekonomi Islam dapat diterapkan dalam ekonomi modern. Kesimpulan yang paling penting adalah bahwa, ekonomi konvensional harus mencakup instrumen normatif dan agama untuk mencapai tujuan kepuasan konsumen.

Basharat Hossain berusaha membantu masyarakat agar mengetahui dan memahami berbagai macam perilaku konsumen dalam dunia Ekonomi Islam. Dalam hal ini,

Basharat Hossain menjelaskan dengan cara berpikirnya tentang kerangka konsumsi Islam yang tertera dalam Al-Qur’an.

Seorang konsumen, yang mengikuti prinsip-prinsip Islam dan moral, biasanya percaya pada dua periode, di dunia dan di akhirat untuk pilihan konsumsinya. Untuk konsumen ini, kehidupan sebelum kematian dan kehidupan setelah kematian secara erat berhubungan dengan sikap/perilaku. Terdapat dua efek/pengaruh dalam pilihannya. Pertama: efek langsung dalam kehidupan ini dan efek selanjutnya dalam kehidupan yang akan datang. Utilitas yang berasal dari pilihan tersebut adalah total nilai sekarang dari kedua efek. Kedua: Jumlah penggunaan alternatif dari pendapatan seseorang ditingkatkan dengan dimasukkannya semua manfaat yang akan diperoleh hanya di akhirat. Beberapa penggunaan alternatif seperti: pinjaman tanpa bunga, donasi kepada orang miskin dan yang membutuhkan, pengeluaran untuk kesejahteraan generasi masa depan, perbaikan kehidupan masyarakat, penyebaran pesan-pesan Islam, promosi kebaikan dan penurunan kejahatan, waktu dan usaha untuk perbaikan kehidupan spiritual, kehidupan moral dan ekonomi masyarakat.

(6)

disebut kemewahan. Biaya kemewahan biasanya lebih besar dari manfaat, misalnya baju yang mahal, anggur, perkakas emas dan perak, dan lain-lain.

Islam melarang penggunaan kemewahan karena kemewahan mendorong pertumbuhan industri yang tidak produktif dan tidak bermoral serta dapat menyebarkan unsur negatif dan mengganggu dalam masyarakat yang akhirnya menghancurkan persatuan dan kesatuan seluruh masyarakat. Allah mengatakan, makan dan minum, tetapi jangan berlebihan, Allah tidak menyukai para pemboros (Al-Qur'an, 07:31). Selain itu, kemewahan dapat membuat seseorang menganggur, boros dan memiliki kebiasaan buruk, ketergantungan pada lainnya, kemalasan, kebencian untuk bekerja, kurang mempunyai rasa tanggung jawab, dan lain-lain. Islam mendorong standar hidup yang moderat, karena pengeluaran dalam standar hidup yang moderat tidak boros (Al-Qur'an, 17:29,65:7). Selain itu, di bidang konsumsi, moderasi memeriksa kejahatan pengeluaran yang salah yaitu penimbunan dan pemborosan dan dengan cara demikian akan menyelamatkan masyarakat dari kesulitan dan kejahatan dari pengangguran dan korupsi.

Abu Darda berkata bahwa Nabi (saw) bersabda, Ini adalah bagian dari kecerdasan dan kearifan seseorang bahwa ia harus mengadopsi moderasi dalam perekonomiannya, itu adalah setengah dari kebahagiaan kehidupan ekonomi dan pelajaran terbaik dalam segala sesuatu (Al Bukhari: 6019). Abu Saeed Khudri berkata bahwa, Nabi (saw) menyarankan orang untuk mengadopsi moderasi dalam konsumsi dan mengatakan, kebaikan datang dari kebaikan tetapi kekayaan dunia ini adalah seperti rumput hijau, jika hewan memakannya secara berlebihan, itu akan membunuhnya atau membawa dia lebih dekat dengan kematian. Hewan-hewan yang memakan pakan hijau, berjalan di musim panas, mencerna makanan mereka, memakan rumputnya lagi, adalah cara mengkonsumsi yang baik dan sempurna. Jadi dalam kasus kekayaan, itu adalah pakan ternak yang manis, orang yang baik adalah seseorang yang memperoleh kekayaan secara sah dan menghabiskannya pada hal-hal yang halal (baik).

B. Jenis Riset Fenomenologi

Jenis riset yang dikembangkan oleh Basharat Hossain dalam tulisan artikel

(7)

fenomenologi diperkenalkan oleh Edmund Husserl (1859-1938), meski sebenarnya istilah tersebut telah digunakan oleh beberapa filsuf sebelumnya. Secara umum pandangan fenomenologi ini bisa dilihat pada dua posisi, yang pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme, dan yang kedua, sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomenon-numenon. Seperti kita telah ketahui, konsepsi Kant tentang proses pengetahuan manusia adalah suatu proses sintesa antara apa yang ia sebut dengan apriori dan aposteriori. Yang pertama merupakan aktivitas rasio yang aktif dan dinamis dalam membangun, dan berfungsi sebagai bentuk (form) pengetahuan, sedang yang kedua merupakan terapan pengalaman yang berfungsi sebagai ‘isi’ (matter) pengetahuan, yang terdiri dari fenomena objek. Karena rasio bersifat aktif dalam mengkonstruk fenomena menjadi pengetahuan sesuai dengan kategori-kategori rasio, maka pengetauan manusia tidak mungkin menjangkau noumena.

(8)

adanya realitas eksernal yang berada diluar diri manusia, yaitu sebuah realitas itu ia sebut das Ding an sich (objek pada dirinya sendiri) atau noumena, tetapi menurutnya, manusia tidak ada sarana ilmiah untuk mengetahuinya.

Seperti setelah disinggung sebelumnya, Husserl mengajukan konsepsi yang berbeda dengan para pendahulunya mengenai proses keilmuan. Tugas utama fenomenologi menurut Husserl menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan sesuatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri atau menurut ungkapan Martin Heideger juga seorang fenomenolog: “sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”. Noumena membutuhkan tempat tinggal (unterkunft) ruang untuk berada, ruang itu adalah manusia.

Husserl menggunakan istilah fenomenologi untuk menunjukkan apa yang nampak dalam kesadaran kita dengan membiarkannya termanifestasi apa adanya tanpa memasukkan kategori pikiran kita padanya atau menurut ungkapan Husserl: zuruck den sachen selbt (kembalilah pada realitas itu sendiri). Berbeda dengan Kant, Husserl menyatakan, bahwa apa yang disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang nampak setelah kesadaran kita cair dengan realitas. Fenomenologi Husserl justru bertujuan mencari yang esensial atau eidos (esensi) dari apa yang disebut fenomena. Metode yang digunakan untuk mencari yang esensial adalah dengan membiarkan fenomena itu berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka (presuppositionlessness). Dalam hubungan ini Husserl menjelaskan:

“..that at first we shall put out of action the conviction we have been accepting up to now, including all our science. Let the idea guiding our meditation be at Cartesian idea of science that shall be established as radically as genuine, ultimately all-embracing science.”

(9)

semua pengetahuan kita. Biarkan ide itu menuntun semua meditasi kita pada pertama kalinya menjadi ide Cartesian mengenai sesuatu ilmu yang akan dikukuhkan secara radikal dan murni yang pada akhirnya merangkul semua isi pengetahuan).

Husserl dalam hal ini mengajukan metode epoche’. Kata epoche berasal dari bahsa Yunani, yang berarti: “menunda putusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu.” Epoche bisa juga berarti tanda kurung (breaketing) terhadap setiap keterangan yang diperoleh dari sesuatu fenomena yang tampil, tanpa memberikan putusan benar salahnya terlebih dahulu. Dalam hal ini Husserl mengatakan, bahwa epoche merupakan thesis of natural standpoints (tesis tentang pendirian yang natural), dalam arti bahwa fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat.

Metode merupakan langkah pertama untuk mencapai esensi fenomena dengan menunda putusan lebih dahulu. Langkah kedua, Husserl menyebutnya dengan eidetic vision atau membuat ide (ideation). Eidetic vision ini juga disebut ‘reduksi’, yakni menyaring fenomena untuk sampai ke eideosnya, sampai ke intisarinya atau yang sejatinya (wesen). Hasil dari proses reduksi ini disebut wesenchau, artinya sampai pada hakikatnya.

(10)

Menurut G. Van der leeuw, fenomenologi adalah mencari atau mengamati fenomena sebagaimana yang tampak. Dalam hal ini ada tiga prinsip yang tercakup di dalamnya: (1) sesuatu itu berwujud, (2) sesuatu itu tampak, (3) karena sesuatu itu tampak dengan tepat maka ia merupakan fenomena. Penampakan itu menunjukkan kesamaan antara yang tampak dengan yang diterima oleh si pengamat, tanpa melakukan modifikasi.

Dalam pendekatan ini peneliti melakukan penelitian berdasarkan kriteria fenomena, yaitu :

1. Terdapat kesenjangan antara teori dan fakta

2. Terdapat kesenjangan dari satu alternatif jawaban atas permasalahan tersebut

3. Sedang terjadi di masyarakat dan dibutuhkan jawaban atas permasalahan tersebut

4. Memiliki nilai penemuan/manfaat yang tinggi

5. Bukan merupakan replikasi atau pengulangan dari penelitian yang sudah pernah dilakukan

6. Memiliki relevans atau justifikasi teori yang jelas

7. Berdasarkan fakta

(11)

Seperti yang telah diulas dalam pembahasan pertama, bahwa analisis ini berangkat dari pemahamannya dalam aspek spiritual yang cukup dalam. Dia selain menaungkan pikirannya secara subjektif, tapi dia tidak lupa melihat, memahami, dan menelaah tentang bagaimana Al-Qur’an mengajarkan manusia dalam berperilaku, termasuk dalam perilaku konsumsi.

Analisis ini juga melihat dari jurnal-jurnal lain yang memiliki tema sama. Dalam jurnalnya yang berjudul Distributive Justice and Need Fulfillment in an Islamic Economy, M. Ali Khan mengungkapkan bahwa dalam melakukan kegiatan atau transaksi ekonomi seperti konsumsi, harus memperhatikan sebuah keadilan dan menghindari adanya riba. Dia juga memiliki emosi spiritual yang baik, sehingga dia tidak melupakan ajaran yang tertera dalam hukum agama. M. Ali Khan lebih serius dalam membahas tentang hal ini. Dia menjelaskan tentang poin-poin dalam alokasi transaksi ekonomi untuk mencapai sebuah keuntungan dan pendapatan yang tinggi bukan hanya pada zakat saja, tapi seperti saham, waqaf, dan lain-lain. M. Ali Khan mengatakan bahwa dalam transaksi waqaf kita tidak akan kehilangan sebuah aset dan tidak akan pernah mengalami kerugian.

C. Metode Penelitian Qualitatif

Berangkat dari jenis paradigma dan jenis riset yang digunakan dalam artikel

Economic Rationalism and Consumption: Islamic Perspective, maka menurut hemat penulis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (dalam Moleong,2009) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya.

Disisi lain, kualitas menunjuk segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah tersebut. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Moleong (2009) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif dapat dimanfaatkan untuk beberapa keperluan. salah satunya yaitu untuk memahami isu-isu rinci tentang situasi dan kenyataan yang dihadapi seseorang.

(12)

mendapatkan pemahaman yang mendalam. Untuk itu harus mencari nomenon atau makna di balik fenomena. Atau dapat dikatakan penelitian kuantitatif berusaha mendeskripsikan fenomena secara akurat (erklaren), sedangkan penelitian kualitatif ingin mendapatkan makna di balik fenomena, untuk itu perlu mendapatkan pemahaman yang mendalam dari suatu fenomena (verstehen).

Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen), tidak cukup apabila hanya mengetahui tentang apa dari suatu fenomena tetapi juga mengapa dan bagaimana dari suatu fenomena. Mengapa suatu fenomena ada atau terjadi, bagaimana suatu fenomena terjadi atau bagaimana proses terjadinya suatu fenomena. Dan hal ini, yaitu pengetahuan tentang apa, mengapa, dan bagaimana, dapat dikuasai manusia, karena manusia mempunyai metakognisi yang mampu menghasilkan

pengetahuan deklaratif (pengetahuan tentang apa), pengetahuan prosedural

(pengetahuan tentang bagaimana), dan pengetahuan kondisional (pengetahuan tentang mengapa dan kapan). Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen) tidak cukup hanya mengetahui tentang apa dari suatu fenomena tetapi juga mengapa dan bagaimana suatu fenomena terjadi. Pendapat penulis ini mengacu pendapat Suparlan sebagai berikut: “Dalam pendekatan kualitatif, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai pertanyaan-pertanyaan penelitian bukan hanya mencakup: apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana, tetapi yang terpenting yang harus tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian tersebut adalah mengapa. Pertanyaan mengapa

menuntut jawaban mengenai hakikat yang ada dalam hubungan diantara gejala-gejala atau konsep-konsep, sedangkan pertanyaan-pertanyaan apa, siapa, dimana, dan

kapan menuntut jawaban mengenai identitas, dan pertanyaan bagaimana menuntut jawaban mengenai proses-prosesnya.

(13)

Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif, seperti Fenomenologi, Interaksionisme simbolik, dan Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemuan mereka, yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku. Bertolak dari proposisi di atas, secara ontologis, paradigma kualitatif berpandangan bahwa fenomena sosial, budaya dan tingkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang tampak secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatarbelakanginya, serta tidak dapat disederhanakan ke dalam hukum-hukum tunggal yang deterministik dan bebas konteks.

Dalam Interaksionisme simbolis, sebagai salah satu rujukan penelitian kualitatif, lebih dipertegas lagi tentang batasan tingkah laku manusia sebagai obyek studi. Di sini ditekankankan perspektif pandangan sosio-psikologis, yang sasaran utamanya adalah pada individu ‘dengan kepribadian diri pribadi’ dan pada interaksi antara pendapat intern dan emosi seseorang dengan tingkah laku sosialnya. Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu, bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah – bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya, secara epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi. Dalam penelitian kualitatif, ‘proses’ penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan.

(14)

yang terjadi. Pengembangan hukum umum tidak menjadi tujuan penelitian, upaya-upaya mengendalikan atau meramalkan juga tidak menjadi aspek penting, aspek subjektif manusia menjadi hal penting.

Penelitian kualitatif dinyatakan mengonstruksi realitas sosial, karena penelitian kualitatif berlandaskan paradigma konstruktivisme yang berpandangan bahwa pengetahuan itu bukan hanya merupakan pengalaman terhadap fakta, tetapi juga merupakan hasil konstruksi rasio subjek yang diteliti. Pengenalan manusia terhadap realitas sosial berpusat pada subjek dan bukan pada objek, ini berarti ilmu pengetahuan bukan hasil pengalaman semata, tetapi merupakan juga hasil konstruksi oleh rasio.

Metode analisis data kualitatif ini termasuk dalam kriteria analisis sistem yaitu metode analisis yang digunakan untuk melakukan pengkajian terhadap elemen-elemen dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam sistem yang diamati. Oleh karena itu, metoda analsis ini akan lebih difokuskan kepada analisis faktor-faktor penyebab dalam proses pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan sub urban, analisis identifikasi permasalahan sub urbanisasi, dan analisis permasalahan dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan dan sub-urban beserta faktor-faktor penyebabnya. Metode analisis data kualitatif ini bukan hanya merupakan pengalaman terhadap fakta, tetapi juga merupakan hasil konstruksi rasio subjek yang diteliti. Berangkat dari sini, hemat peneliti terhadap artikel Economic Rationalism and Consumption: Islamic Perspective telah memuat sifat konstruktivisme teoritik.

D. Analisa

1. Alur pikir dari artikel jurnal ini

a. Reasoning

Setelah, membaca, mengamati dan menganalisa struktur tulisan yang ditulis oleh Basharat Hossain dengan tema Economic Rationalism and Consumption: Islamic Perspective. Penulis berpendapat bahwa artikel ini menggunakan enam alur. Pertama; peneliti berangkat dari paradigma perbandingan pandangan rasionalisme ekonomi Islam dan kerangka kerja konsumsi dengan membandingkan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis konvensional. Kedua; peneliti mengembangkan paradigma dengan tujuan utama dari teori ekonomi untuk kepuasan konsumen. Ketiga: peneliti mengembangkan paradigma terhadap perilaku manusia sebagai konsumen.

(15)

konvensional dan Islam. Kelima: peneliti mengembangkan karakteristik asumsi konsumen di dalam rasionalisme ekonomi Islam. Keenam: peneliti mengembangkan kerangka kegunaan konsumsi menurut Islam.

(16)

Kedua; Evolusi ekonomi menjelaskan bahwa tujuan utama dari teori ekonomi adalah untuk memenuhi kepuasan konsumen terlepas apakah itu disetujui atau tidak oleh hukum etika atau agama. Selain itu, dalam pengambilan keputusan ekonomi, ekonomi konvensional menekankan pada kepentingan diri sendiri dan rasionalitas konsumen sedangkan ekonomi Islam menonjolkan nilai-nilai sosial dan moral, skala kesejahteraan, dan lain-lain. Selain itu juga untuk menyajikan kerangka dari rasionalisme ekonomi Islam dan konsumsi. Tujuan lainnya juga untuk mengetahhui bagaimana rasionalisme ekonomi Islam berbeda dari rasionalisme Ekonomi konvensional dan mengetahui kerangka konsumsi yang dimiliki ekonomi islam.

Ketiga; Setiap manusia berperilaku sebagai konsumen untuk memenuhi keinginannya yang mana konsumen bervariasi dalam doktrin ekonomi yang berbeda. Ekonomi konvensional mendefinisikan seorang konsumen sebagai maximizer utilitas (keuntungan) dari keinginan dan kebutuhan materi, sementara norma dan nilai agama tidak termasuk. Perilaku konsumen konvensional bervariasi karena budaya dan karakter yang berbeda dalam berbagai bidang kehidupan. Kepentingan pribadi dan rasionalisme ekonomi adalah cara untuk menentukan konsumsi dan nilai-nilai agama yang dipertimbangkan disini. Sebaliknya, ekonomi Islam menggabungkan kedua pandangan positif dan normatif di dalam prinsip dan definisi konsumen sebagai maximizer utilitas juga keinginan dan kebutuhan spiritual, di mana, norma dan nilai agama merupakan faktor yang kuat. Kehadiran konsumen dianggap sebagai orang Islam. Di samping faktor nilai yang netral (seperti pendapatan, kekayaan), faktor nilai yang dimuat (seperti keyakinan, agama) juga penting untuk menentukan keinginan dan permintaan dari konsumen Islam.

(17)
(18)

karena Allah. 3) Nilai agen Ekonomi bebas (konsumen dan produsen) tidak dapat mengambil keputusan yang tepat, tapi keberhasilan terletak pada berbudi luhur. Kebajikan termasuk suatu sikap positif terhadap kehidupan dan manusia lainnya. 4) Kerugian identitas Nasional bebas, sejarah, budaya dan nilai-nilai sosial adalah bagian dari utilitas maksimal. 5) Kebebasan tak terbatas dapat menciptakan kondisi sosial yang menakutkan, sebaliknya kebijakan moderat didalam intervensi bisa menjadi simbol dari pemulihan, Misalnya. kecanduan narkoba, prostitusi dapat membujuk masyarakat yang beragama campur tangan memberanikan untuk menjadikan masyarakat yang jujur.

(19)

tidak seperti kikir atau boros, baik untuk kehidupan di sini (duniawi) dan akhirat (Surgawi). Sadaqah (amal atau sumbangan) dan Zakat merupakan instrumen Islam untuk pengeluaran. Zakat adalah pajak kekayaan Islam yang wajib untuk didistribusikan di antara orang miskin dan yang membutuhkan, pajak yang dikenakan pada semua orang yang mempunyai kekayaan atas batas pembebasan (87,48 gram emas) pada tingkat 2,5%. Hal ini dikenakan pada kas, ternak, hasil pertanian, mineral, modal yang diinvestasikan dalam industri dan bisnis, dll itu adalah pilar ketiga dari Islam. 8) Pertimbangan yang keras antara Halal dan Haram dalam konsumsi. Halal berarti hal yang diizinkan dan sah atau kegiatan yang diizinkan oleh Syariah. Haram berarti hal yang melanggar hukum atau kegiatan yang dilarang oleh Syariah. 8) Dia tidak menimbun kekayaannya. 9) Dia lebih suka memimpin secara sederhana seperti kehidupan moderat.

Keenam: Islam menganjurkan konsumen untuk mengkonsumsi hal-hal yang baik dan berguna dan tidak menganjurkan berbelanja secara boros dan tidak perlu untuk memastikan kualitas dan kemurnian yang baik (Al-Quran: 2: 172,5: 4-5,16: 114). Dalam kitab Al-Qur'an, kata “tayyib” (baik dan berguna) digunakan untuk menunjukkan hal-hal yang baik dan murni yang berarti apapun yang menyenangkan, manis, baik, enak dipandang, dan yang berguna untuk kesehatan. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran: kamu (Rasul) menikmati (semua) hal yang baik dan murni (Al-Quran: 23:51).

(20)

Islam mendorong standar hidup yang moderat, karena pengeluaran dalam standar hidup yang moderat adalah tidak boros atau kikir tetapi seimbang antara mereka untuk konsumen (Qur'an, 17:29,65:7). Dalam Al-Qur’an diungkapkan; dan mereka, ketika mereka menghabiskan, yang tidak boros tidak kikir, tapi memegang yang adil (keseimbangan) antara mereka (ekstrem) (Al-Qur'an, 25:67). Selain itu, di bidang konsumsi, moderasi memeriksa kejahatan pengeluaran yang salah yaitu penimbunan dan pemborosan dan dengan cara demikian akan menyelamatkan masyarakat dari kesulitan dan kejahatan dari pengangguran dan korupsi. ALLAH mengatakan: Jadi kami telah membuat engkau menjadi bangsa yang adil seimbang, yang menjadi saksi atas umat manusia dan Rasul yang menjadi saksi atas kamu (Al-Qur'an, 2: 143).

b. Dasar teoritik

Setidaknya landasan teoritik yang dibangun dalam penelitian ini terdapat delapan teori yaitu, Pertama: Weber menekankan pada sosiologi nilai-netral. Ia berpendapat bahwa, kesenjangan dimaknai antara 'agama dan pengetahuan intelektual' melebar dari hari ke hari. Selain itu, agama tidak menjadi sebuah tuntunan bahkan kekuatan manusia merupakan hal yang sangat luar biasa.

Kedua: Lebih lanjut, Tawney menulis dalam bukunya: "Pada saat ini, bahkan lebih jelas bahwa garis pemisah antara bidang agama dan bisnis sekuler telah bergeser, dan bahwa kepentingan ekonomi dan idealisme etika tidak lagi merupakan hal yang harus dibedakan .”

Ketiga: Menurut Pusey, dalam bukunya mendefinisikan bahwa, "rasionalisme Ekonomi adalah suatu kepercayaan ( dogma) yang mengatakan bahwa pasar dan uang selalu bisa melakukan segalanya, lebih baik dari pemerintah, birokrasi dan hukum. Tidak ada gunanya dalam perdebatan politik karena semua ini hanya menghasilkan konflik yang berlarut-larut. Lupakan tentang sejarah dan lupakan tentang identitas nasional, budaya dan 'masyarakat' ... bahkan Jangan berpikir tentang kebijakan publik, tujuan nasional atau pembangunan bangsa. Itu semua sia-sia. Biarkan segala sesuatunya berjalan apa adanya dan biarkan harga dan kekuatan pasar yang memberikan solusi mereka sendiri secara ekonomi rasional "

(21)

fakta dan nilai analisis gratis); dan nilai-nilai agama dan moralitas jauh dari teori ekonomi dan kemauan atau kepentingan pribadi konsumen menjadi standar kebijakan dan pengambilan keputusan.

Kelima: Wright mengatakan, apa yang rasional bagi anda untuk memilih, akan bergantung pada tujuan, nilai-nilai, atau keinginan anda di mana nilai-nilai ini termasuk nilai-nilai sosial, moral dan agama.

Keenam: Khursid Ahmad (1992) mengatakan, rasionalisme Islam tidak menyangkal kepentingan pribadi sebagai dasar dari maksimisasi utilitas dalam perilaku manusia tetapi menyucikan kepentingan pribadi melalui penyaringan sosial, moral dan agama. Ini bukan hanya memaksimalkan utilitas secara individu tetapi juga untuk seluruh masyarakat. Rasionalisme Islam merangsang konsumen untuk mencapai keberhasilan akhir dari kehidupan. Konsep keberhasilan dalam Islam selalu dikaitkan dengan nilai-nilai moral.

Ketujuh: M N. Siddiqi mengatakan, “perilaku lebih seseorang yaitu yang sesuai dengan standar moral dan semakin tinggi tingkat kebaikannya, semakin sukses dia disepanjang hidupnya, dalam setiap fase eksistensi, di setiap langkah, individu Islam adalah berusaha untuk bertindak selaras dengan nilai-nilai moral"

Kedelapan: Hamid berpendapat, Rasionalisme Ekonomi Islam telah dirancang dalam beberapa asumsi. Seorang konsumen yang memenuhi asumsi-asumsi ini akan dianggap sebagai konsumen Islam. Lebih tepatnya, konsumen Islam yang mengacu kepada konsumen yang memiliki perilaku yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

c. Penelitian terdahulu

(22)

Dengan adanya perbandingan tersebut, sebagai konsumen harusnya telah mampu untuk merasionalkan perekonomian dan juga konsumsi yang baik. Karena konsumsi secara Islami telah tertera di dalam Al-Qur’an dan bahkan kita bisa dikatakan konsumen Islami jika telah memenuhi beberapa syarat yang tertera di dalam Al-Qur’an.

Setidaknya ada beberapa penelitian terdahulu yang ditulis berbagai tokoh. Yaitu pertama; menurut Smith setiap manusia berperilaku sebagai konsumen untuk memenuhi keinginannya. Kedua; Friedman mengatakan arti kosumen bervariasi dalam doktrin ekonomi yang berbeda. Ekonomi konvensinal mendefinisikan seorang konsumen sebagai maximizer utilitas dari keinginan dan kebutuhan materi, sementara norma dan nilai agama tidak termasuk. Ketiga; Weber berasumsi bahwa perilaku konvensional bervariasi karena budaya dan karakter yng berbeda dalam berbagai bidang kehidupan.

Keempat; Quiggin mengatakan kepentingan pribadi dan rasionalisme ekonomi adalah cara untuk menentukan konsumsi dan nilai-nilai agama yang dipertimbangkan disini. Kelima; Capra mengatakan ekonomi Islam menggabungkan kedua pandangan positif dan normatif didalam prinsip dan definisi konsumen agar maximizer utilitas juga keinginan dan kebutuhan spiritual, dimama norma dan nilai agama merupakan faktor yang kuat.

Keenam; rasionalisme ekonomi Islam termasuk agama, sosial dan nilai- nilai budaya untuk mengatur konsumsi. Ketujuh; Mannan dalam bukunya, menyebutkan setiap kehadiran konsumen dianggap sebagai orang Islam. Kedelapan; Kahf disamping faktor lain yang netral (seperti kekayaan, pendapatan) faktor nilai yang dimuat (seperti keyakinan, agama) juga penting untuk menentukan keinginan dan permintaan konsumen Islam.

d. Sesuatu yang Ingin Dikembangkan

Berangkat dari beberapa penelitian terdahulu yang ada di atas, menurut hemat penulis terdapat tiga kontruksi pemikiran tokoh terdahulu yang dikembangkan. Pertama; dalam pemikiran dan tulisannya, Weber menekankan pada sosiologi nilai netral. Ia berpendapat bahwa kesenjangan dimaknai antara agama dan pengetahuan intelektual melebar dari hari kehari. Selain itu agama tidak menjadi tuntunan bahkan kekuatan manusia merupakan hal yang sangat luar biasa.

(23)

pasar dan uang selalu bisa melakukan segalanya, lebih baik dari pemerintah, briokrasi dan hukum. Tidak ada gunanya dalam perdebatan politik karena semua ini hanya menghasilakan konflik yang berlarut- larut. Lupakan tentang sejarah dan lupakan tentang isentitas nasional budaya dan masyarakat, bahkan jangan berfikir tentang kebijakan publik, tujuan nasional dan pembangunan bangsa.

Ketiga; Khursid Ahmad mengatakan, rasionalisme Islam tidak menyangkal kepentingan pribadi sebagai dasar dari maksimisasi utilitas dalam perilaku manusia tetapi menyucikan kepentingan pribadi melalui penyaringan sosial, moral dan agama. Ini bukan hanya untuk memaksimalkan utilitas secara individu tetapi juga untuk seluruh masyarakat. Rasionalisme Islam merangsang konsumen untuk mencapai keberhasilan akhir dari kehidupan. 2. Variabel Penelitian

Penulis membagi variabel dalam Economic Rasionalism And Consumption: Islamic Perspective menjadi dua variabel, yaitu Pertama: variabel judul dan Kedua: variabel ulasan. Dalam variabel judul terdiri dari dua variabel, yaitu pertama rasionalism, dan kedua consumption. Sedangkan dalam variabel ulasan Economic Rasionalism And Consumption: Islamic Perspective terdiri dari tiga variabel, yaitu yang Pertama: rasionalisme ekonomi. Kedua: karakteristik konsumen didalam rasionalisme ekonomi Islam.Ketiga: kerangka konsumsi Islam dan pembahasannya.

3. Hipotesis

Dari berbagai penjelasan dan analisa yang telah tertera di atas dari artikel jurnal Economic Rasionalism And Consumption: Islamic Perspective yang ditulis oleh Basharat Hossain, menurut penulis terdapat lima hipotesis yaitu, pertama: Setiap manusia berperilaku sebagai konsumen untuk memnuhi keinginannya. Kedua:Tujuan dari rasionalis adalah “pembuatan uang” yang berarti akuisisi kekayaan adalah tujuan dari hidup dan tolak ukur keberhasilan ekonomi. Ketiga: Prinsip-prinsip ekonomi Islam lebih unggul dari prinsip-prinsip ekonomi konvensional. Keempat: Keinginan-keinginan manusia yang tidak terbatas. Kelima: Kapitalisme melewati seluruh hidupnya dengan menimbun harta.

4. Hasil temuannya, apakah teori didukung atau terbantahkan

(24)

maka terdapat lima hipotesis. Terkadang ini juga disebut dengan kesimpulan akhir yang membicarakan tentang hasil temuan penelitian yang dilakukan. Berangkat dari sini, penulis menghadirkan dua rentetan hasil penelitian yaitu pertama; soal economic rationalism. Menurut Pusey, (1991) dalam bukunya mendefinisikan bahwa, "rasionalisme Ekonomi adalah suatu kepercayaan ( dogma) yang mengatakan bahwa pasar dan uang selalu bisa melakukan segalanya, lebih baik dari pemerintah, birokrasi dan hukum. Tidak ada gunanya dalam perdebatan politik karena semua ini hanya menghasilkan konflik yang berlarut-larut. Lupakan tentang sejarah dan lupakan tentang identitas nasional, budaya dan 'masyarakat' ... bahkan Jangan berpikir tentang kebijakan publik, tujuan nasional atau pembangunan bangsa. Itu semua sia-sia. Biarkan segala sesuatunya berjalan apa adanya dan biarkan harga dan kekuatan pasar yang memberikan solusi mereka sendiri secara ekonomi rasional "(Pusey, 1991). Tujuan dari rasionalis adalah 'Pembuatan uang' yang berarti bahwa akuisisi kekayaan adalah tujuan dari hidup dan tolak ukur keberhasilan ekonomi. Beberapa pandangan penting lainnya dari rasionalisme ekonomi adalah:

 Utilitas dan memaksimalkan keuntungan adalah tujuan akhir dari rasionalisme ekonomi

 Moral, agama, identitas nasional dan tujuan, sejarah, budaya dan pertimbangan nilai-nilai sosial diluar aturan kejujuran bisnis

 Agen Ekonomi (konsumen dan produsen) mampu untuk mengambil keputusan yang sempurna atas dasar kepentingan pribadi seperti yang diarahkan dengan perhitungan yang ketat, kejelian dan kehati-hatian menuju kesuksesan ekonomi.

 Campur tangan dari pemerintah, pasar atau otoritas agama telah putus asa dan tidak bijak keberadaannya

(25)

selaras dengan nilai-nilai moral"(Siddiqi, 2000). Beberapa aspek penting dari Rasionalis ekonomi Islam adalah:

 Alih-alih 'kepentingan pribadi', Islam menekankan pada kepentingan sosial dan moral

 Utilitas dan memaksimalkan keuntungan adalah bagian dari kepuasannya, tetapi tujuan utamanya adalah kepuasan karena Allah

 Nilai agen Ekonomi bebas (konsumen dan produsen) tidak dapat mengambil keputusan yang tepat, tapi keberhasilan terletak pada berbudi luhur. Kebajikan termasuk suatu sikap positif terhadap kehidupan dan manusia lainnya.

 Kerugian identitas Nasional bebas, sejarah, budaya dan nilai-nilai sosial adalah bagian dari utilitas maksimal.

 Kebebasan tak terbatas dapat menciptakan kondisi sosial yang menakutkan, sebaliknya kebijakan moderat didalam intervensi bisa menjadi simbol dari pemulihan, Misalnya. kecanduan narkoba, prostitusi dapat membujuk masyarakat yang beragama campur tangan memberanikan untuk menjadikan masyarakat yang jujur.

(26)

masyarakat yang seimbang dan damai bebas diskriminasi, prinsip-prinsip rasionalisme ekonomi Islam dapat diterapkan dalam ekonomi modern. Kesimpulan yang paling penting adalah bahwa, ekonomi konvensional harus mencakup instrumen normatif dan agama untuk mencapai tujuan kepuasan konsumen.

Terkait dengan penelitian terdahulu, penulis menilai bahwa tulisan yang dikembangkan Basharat Hossain , dapat ditarik sebuah keputusan bahwa temuannya ini tidak membantah hipotesis yang dikeluarkan para peneliti terdahulu dan cenderung mendukung beberapa penelitian terdahulu.

5. Keterbatasan penelitian

Dari pemahaman yang didapat dari Economic Rationalism and Consumption

yang ditulis oleh Basharat Hossain, penulis menyatakan bahwa artikel jurnal ini memiliki tiga keterbatasan. Pertama: peneliti kurang membahas secara mendalam dan fokus tentang hal-hal yang seharusnya ia bahas. Kedua: emosi atau aspek spiritual dalam diri peneliti kurang sehingga ia kurang memperhatikan beberapa ajaran dalam Islam seperti mengkonsumsi barang dan jasa yang najis atau buruk itu adalah dilarang. Ketiga: dalam menjelaskan bahasannya, menggunakan asumsi atau kata yang sulit untuk dipahami oleh pembaca yang baru sehingga tidak sedikit para pembaca yang ambigu tentang isi artikel jurnal ini.

6. Rekomendasi

a. Theoritical recommendations

Penulis menyadari terhadap kekurangan penelitian ini. Maka dari itu, untuk menambah tingkat kemudahan pemahaman pembaca setidaknya terdapat dua rekomendasi teoritik yang dibutuhkan untuk masa mendatang.

Pertama; perlunya meneliti lebih mendalam dengan metode yang sama sehingga menemukan titik fokus yang lebih mudah untuk dicerna masyarakat umum dan informasi yang menjadi tujuan penulis dapat tersampaikan kepada pembaca.

Kedua; perlunya meneliti dengan paradigma, pendekatan dan metode yang berbeda sehingga dapat menerapkan paradigma baru yang mudah dipahami oleh masyarakat umum.

b. Practical recommendations

(27)

Referensi

Dokumen terkait

Anggota divisio ini yang masih ada adalah Ginkgo biloba (Ginko). Ginkgo merupakan pohon besar, dapat mencapai ketinggian lebih dari 30 meter. Daun lebar berbentuk seperti kipas,

bahwa dengan memberikan kesempatan melakukan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi segera saat di meja operasi dapat memberikan rasa nyaman pada ibu serta

diperlukannya pencatatan keuangan rumah tangga baik pemasukan ataupun pengeluaran (cash flow ). Faktor pendidikan, dari penjelasan diatas semakin tinggi pendidikan dari

Dengan kegiatan membaca teks, siswa dapat menyebutkan perkiraan informasi dari teks nonfiksi berdasarkan kata kunci yang ditemukan pada judul.. Dengan

Implementasi hubungan hukum antara peserta dengan BPJS bidang kesehatan, tidak tunduk sepenuhnya pada hukum perjanjian sebagaimana diatur dalam KUH.Perdata, oleh

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa (1) ukuran perusahaan berpengaruh terhadap luas pengungkapan sukarela; (2) leverage tidak berpengaruh terhadap luas

Merosotnya devisa Negara dari sektor minyak dan gas bumi, serta merosotnya nilai ekspor di sektor non minyak menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk

Survey harian ini kami lakukan dengan maksud untuk menilai tingkat kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan yang dilakukan di semua unit pelayanan