KARYA ILMIAH Perspektif Al Quran Tentang

Teks penuh

(1)

KARYA ILMIAH

TENTANG

PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN SAINS

DI SUSUN OLEH :

Nama : Rona Nidihu

Nim : (160301011)

Jurusan : PAI

Semester : III

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

AMBON

2018

(2)

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

Adanya persepsi yang keliru pada berbagai kalangan tentang pemanfaatan Al-Qur’an

sebagai sumber sains. Hal ini dapat terungkap pada berbagai diskusi yang pernah dilakukan dengan beraneka kelompok ,dalam bentuk suatu anggapan dari orang-orang tertentu bahwa

untuk mengembangkan sains kita cukup membaca ayat-ayat kauniyah di dalam Al-Qur’an

saja. Dengan demikian, maka mereka itu menilai kegiatan ‘’mempelajari dan

mengembangkan sains melalui penelitian ‘’sebagai usaha yang tak ada gunanya, memboroskan uang, membuang waktu. Anggapan semacam itu mungkin timbul sebagai

akibat pernyataan-pernyataan yang mengemukakan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber

segala ilmu. Memang tidak seorang pun dapat menyangkal bahwa di dalam Al-Qur’an tidak

hanya diletakkan dasar-dasar peraturan hidup manusia dalam hubungannya dengan tuhan sang pencipta, dalam interaksinya dengan sesama manusia dan dalam tindakannya terhadap alam di sekitarnya, tetapi juga dinyatakan untuk apa manusia diciptakan. Al-Qur’an menyebutkan juga tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan makhluk hidup, termasuk manusia yang di dorong hasrat ingin tahunya, dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada di sekitar kita. Meskipun demikian, kitab suci itu bukan buku pelajaran kosmologi, atau biologi, atau sains pada umumnya. Ayat-ayat yang menuntun manusia kearah kebahagiaan ukhrowi maupun yang membimbingnya menuju kesejahteraan duniawi, sebenarnya memberikan garis-garis besar saja yang harus kita cari kelengkapannya agar kita dapat memahaminya secara utuh. Kalau

rincian itu tidak dapat kita temukan dalam ayat-ayat yang lain di dalam Al-Qur’an, maka ia

harus di cari di dalam sunnah Rasul bagi hal-hal yang menyangkut masalah ubudiyah serta muamalah, atau di alam semesta bagi ihwal yang mengenai peristiwa-peristiwa alamiah sebab gejala-gejala alam itu di dalam Al-Qur’an sendiri dinyatakan sebagai ayat-ayat Allah. Dengan membaca ayatullah dalam Al kaun itu, kita berharap akan menemukan rincian dari

garis-garis besar yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang bersangkutan. Sebagai

contoh dapatlah di kemukakan misalnya perintah untuk shalat lima waktu; tidak ayat di

dalam Al-Qur’an yang memberikan petunjuk bagaimana shalat itu harus dilaksanakan dan

berapa banyak raka’atnya untuk masing-masing waktu itu.Kita hanya dapat menjalankan shalat dengan benar karena Rasulullah saw. Memerintahkan agar kita melakukannya

sebagaimana kita melihat beliau melaksanakannya. Begitu pula ungkapan Al-Qur’an tentang

penciptaan langit dan bumi seperti yang terdapat dalam surah Al Anbiya’ ayat 30 yang

menyatakan sebagai berikut:

‘’Dan tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit dan bumi itu

keduanya dahulu sesuatu yang padu,kemudiaan kami pisahkan mereka itu keduanya.’’

Dalam contoh ini kita justru melihat betapa sia-sia usaha mereka yang ingin

menyusun sains dari membaca Al-Qur’an saja.Karena apa yang mereka hasilkan akan banyak

(3)

konsepsi mereka yang salah, yang tidak di dukung oleh observasi dan pengukuran. Ketika mereka kemudiaan menyebar luaskan sains mereka itu atas nama Agama, dan mengatakan bahwa apa yang mereka kembangkan itu adalah ‘'Ajaran Agama yang mereka gali dari kitab suci,padahal mereka menggunakan konsepsi mereka sendiri yang tidak benar dan tidak dilandasi oleh fakta nyata, maka masyrakat akan mengatakan bahwa Agama mereka kolot dan mengajarkan hal-hal yang tidak benar.Inilah bahaya yang saya sebutkan diatas. Akan tetapi jika mereka tidak hanya membaca tetapi mau juga melakukan apa yang di perintahkan

Allah S.W.T. di dalam Al-Qur’an, maka mereka akan menemukan kebenaran-kebenaran yang

dapat di pergunakan dalam pemahaman serta penafsiran Al-Qur’an. perintah-perintah

tersebut adalah misalnya apa yang dikemukakan dalam ayat 101 surah Yunus: ‘’katakanlah (wahai Muhammad):periksalah (dengan nazhor atau intizhor) apa-apa yang ada dilangit

dan di bumi’’.

Yang mendorong manusia untuk mengadakan pengamatan pada langit, bumi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi disana .Observasi ini tentunya harus disertai dengan pengukuran terhadap besaran-besaran yang penting; sebab dalam ayat 49 surah Al- Qamar di nyatakan:

‘’ sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran ‘’.

B.RUMUSAN MASALAH

1.Mengetahui Alam Semesta, Pandangan Klasik dan Modern

2.Memahami Anjuran Pengembangan Sains dalam AL-Qur’an

3.Konsep-Konsep Kosmologi dalam AL-Qur’an

(4)
(5)

percaya pada kebenaran konsepsi klasik itu.Adapun dari prinsip-prinsip dasar ia dapat membuat suatu rumusan matematis yang ia harapkan akan dapat melukiskan alam yang sesuai dengan pengertian para ilmuwan pada waktu itu; namun salah seorang ilmuwan fisikawan yang bernama Friedman mengungkapkan bahwa model ini tidak melukiskan alam statis, yang menjadi konsensus para astronom- kosmolog, melainkan jagad raya yang dinamis. Hal ini tidak berkenaan dengan hati Einstein akhirnya ia merasa kecewa dan dengan hati yang kecewa ia mulai mengadakan perubahan pada perumusannya dengan ia menambahkan bilingan konstan,sehingga hasil matematisnya memenuhi selera sang genius; ia ternyata melukiskan alam yang statis. Akhirnya Einstein pun merasa puas dengan apa yang di inginkannya. Meskipun alam semesta dalam fikiran para ilmuwan itu bukan alam menurut ajaran islam, yakni yang diciptakan pada suatu waktu dan akan di tiadakan pada saat yang lain; melainkan alam semesta yang tidak pernah diciptakan, yang kadim dan langgeng, sesuai dengan konsensus yang didasarkan pada kesimpulan yang rasional sebagai hasil analisis yang kritis terhadap berbagai data yang diperolehnya dari dari pengukuran dan pengamatam. Al-Qur’an yang ayat-ayatnya diturunkan sekitar 14 abad yang lalu mengandung uraian-uraian secara garis besar tentang penciptaan alam semesta ini, namun umat yang masih awam belum mengetahui maknanya yang secara jelas. Karena sebab rincian dari scenario kejadian itu terdapat dalam Al kaun sebagai ayatollah yang harus ‘’dibaca’’, dan umat tidak mampu membacanya; karean ilmu fisika dan sains pada umumnya, telah melepaskan nya enam abad yang lalu.

b. Pandangan Modern

Pada tahun 1929 terjadi peristiwa penting yang menjadi awal pergeseran pandangan dilingkungan para ahli tentang penciptaan alam, yang mengubah secara radikal tentang konsepsi para ilmuwan mengenai munculnya alam semesta. Sebab pada tahun itu seorang ilmuwan yang bernama Hubble, yang mempergunakan teropong bintang terbesar di dunia, melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita,yang menurut analisis terhadap spectrum cahayanya tampak menjauhi galaksi dengan kalajuan galasksi yang sebanding dengan jaraknya dari bumi; yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan kita .Kejadian ini merupakan pukulan berat bagi Einstein, karena penelitian hubble itu menunjukan bahwa alam semesta ini tidak statis melainkan merupakan alam yang dinamais seperti freidman. Dengan kecewa ia menerima kekliruannya itu dan kembali pada modelnya yang terdahulu, karena penelitian medorong para ilmuan untuk berkesempulan bahwa alam yang kita huni ini mengembang., volume ruang jagat raya ini bertambah besar setiap saat. Ketika oang berbicara tentang jagat raya yang berekspansi, dengan mereka bingung tidak mengerti apa atritnya., sebab di mana-mana terdapat ruang alam. Kemudian jagat raya ini melakukan ekspansi, kemana lagi harus di cari ruang yang akan menampunhg pengembangannya dan tidak hanya sejauh ini saja kejutan itu di rasakan. Menurut Gamou, alfher dan herman, mereka berpendapat bahwa pada saat itu bahwa terjadi ledakan yang sangat dasyat yang dapat melemparkan materi seluru jagat raya kesemua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaxy. Karena tidak mungkin materi seluruh alam itu berkumpul di suatu tempat dalam ruang tanpa meremas diri dengan gaya gravitasinya yang sangat kaut,

(6)

terjadi ketika seluruh materi kosmos terlempar denga kecepatan yang sangtat itnggi keluar dari keberadaannya dalam volume yang sangat kecil. Adapun alam semesta ini lahir dari sebuah singularitas denga keadaan ekstrem. Kenyetaan di sini bahwa fisikawan akhirnya mengakui bahwa semua alam tiada tetapi kemudian, sekitar 15 miliar tahun yang lalu, tercipta dari ketiadaan., sebab fakta-fakta dari hasil penelitian yang menelorkan kesimpulan itu tidak dapat di sangkal. Kemudian keterpaduan runag dan materi seperti dinyatakan dalam

ayat Al-Qur’an hanya dapat kita pahami jika keduaanya berada di suatu titik., singularitas

fisis yang merupakan volum yang berisi seluruh materi. Selanjutnya, mengenai ekspansi alam semeta ini, yang menaburkan materi paling tidak sebanyak 100 milyar galaksi yang masing-masing berisi rata-rata 100 milyar bintang itu kekuatan yang di libatkan dalam pembangunan ala mini dan yang mampu melemparkan kira-kira 10.000 milyar milyar bintang yang masing-masing massanya sekita masa matahari di seluruh pelosok alam itu, tentu saja tidak dapat kita bayangkan. Kemudian dari pembandingan semacam ini dapat kita mengetahui bahwa pada akhirnya, fisika yang di kembangkan untuk mencari kebenaran, samapai juga pada fakta yang di tujukan oleh Al-Qu’an. Kenyataan ini menggusarkan para ilmuwan fisikawan pada umumnya karena penciptaan alam raya dari ketiadaan memrlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa; suatu kejadian yang mereka ingin menghindari. Karena mereka hanya membicarakan apa-apa yang dapat di indrakan atau di deteksi dengan peralatan saja. Oleh karenanya, maka beberapa para pakar fisika mencoba menggelakkan penciptaan alam ini dengan melontarkan teori-teori tandingan seperti teori alam yang berosilasi, yaitu alam semesta yang berkembang- kempis, yang meledak dan berekspansi untuk kemudian kembali lagi mengecil berulang-ulang tanpa awal tanpa akhir; namun kosmos yang berkelakuan seperti itu tidak dapat di benarkan secara termodiamis. Adapun usaha lain ialah dengan mengemukakan teori alam yang ajeg, yang mengatakan bahwa galaksi-galaksi boleh terbang ke seberang sana tetapi ruang yang di tinggalkannya akan terisi lagi oleh materi baru; namun, teori ini dapat menjadi tidak laku setelah pada tahun 1964 Willson dan Penzias dalam melakukan penelitiannya kesegenap penjuru alam menemukan sisa kilatan dentuman besar yang terjadi sekitar 15 tahun yang lalu. Meskipun telah jelas fakta-fakta yang di ungkapkan oleh sang pencipta, dan para pakar fisika, dapat menangkap dan mengetahuinya, namun terdapat perbedaan besar, antara ajaran ilmu fisika atau sains dengan ajaran agama. Kalau dalam ilmu fisika filsafat ilmu itu mendorong para pakar-pakarnya untuk menghindar dari tindakan melibatkan Tuhan Yang Maha Esa dan menyatakan bahwa alam tercipta dengan sendirinya maka dalam ajaran agama justru Allah Swt yang menjadi peran utama dalam menciptakan universum ini.

2. Anjuran Pengembangan Sains Dalam Al-Qur’an

Dalam bahasa arab, seingat saya fisika dinamakan ilmu ‘’thobi’ah ‘’ atau disebut ilmu watak , mengapa sehingga di sebut ilmu watak karena pada waktu kejayaan ummat islam, ilmu tersebut,yang memang pada dasarnya berusaha mengungkapkan sifat dan kelakuan alam di sekitar kita, ini pada kondisi- kondisi tertentu, di sadari seperti menyatakan bahwa

kelakuan yang diperlihatkan itu menunjukkan watak alam itu sendiri. Jadi ingatan itu dapat membawa saya kembali mengingat ke zaman Imam Ghazali , ketika berbagai ilmu

(7)

dorongan AL-Qur’an dan Sunnah Rasul.Begitulah watak alam dan kemauannya; begitulah kata ahli ilmu tabiat yang pada zaman itu disebut filosof, karena memang cabang ilmu itu telah digolongkan sebagai ilmu filsafati pada saat itu.Kemudian dalam menghadapkan pemikiran yang melandasi segenap usaha, serta berbagai konsepsi, dalam lingkup fisika pada ajaran AL-Qur’an, kita akan mempergunakan beberapa ayat yang relevan dengan mengembangkan ilmu fisika itu sendiri . Kemudian disamping itu kita perlu mengingat bahwa fisika, bidang sains lainnya,yang berusaha mengungkapkan kelakuan alam pada kondisi tertentu; misalnya dengan melihat respons atau reaksi dari sebagian dari sebagian alam di sekeliling kita, jika kita bertindak terhadapnya.Air yang keadaannya panas tampak mengeluarkan uap , udara tertutup yang dipaksa dengan memperkecil volumenya

menunjukan kenaikan tekanan, dan sebagainya.Jadi usaha-usaha itu dapat kita maklumi, karena manusia di tunjuk oleh Allah SWT menjadi khalifah di muka bumi , sebagaimana

terdapat di dalam (QS.Surah Al-An’am: ayat 165)

165. Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Di dalam surah Al-An’am ini telah menjelaskan bahwa hendaknya Allah

menciptakan khalifah di muka bumi ini agar ia menjadi seorang pemimpin atau penguasa yang mempunyai rasa tanggung jawab ,manusia tak dapat berbuat lain kecuali harus

mengahlikan diri dalam alam sekitarnya.sedangkan untuk memperoleh kemampuan itu harus mengenal alam lingkungannya dengan sebaik baiknya manusia sering mengamati alam disekitarnya, serta mengingat-ingat gejala-gejala yang ia lihat pada pengamatan itu.

Marilah kita kaji satu demi satu apa yang mendasari kegiatan fisika dan

membandingkannya dengan ajaran islam yang terkandung dalam kitab suci al-quran.

Sebagaimna kita ketahui unsur pertama dalam kegiatan fisika yang penting adalah observasi atau pengamatan terhadap bagian alam yang kita ketahui sifat dan kelakuannya pada kondisi tertentu. Tidaklah d benarkan dalam kegiatan fisika penggantian pengamatan dengan

pengkhayalan tentang kelakuan alam itu,kecuali apabila khayalan tersebut di dukung oleh hasil perhitungan matematika yang dijabarkan dari kelakuan-kelakuan lain yang telah diketahui. Sehubungan dengan keharusan manusia untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik, maka Allah SWT memerintahkan dalam ayat 101 surah Yunus;

(8)

101. Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman".

Agar manusia mengetahui sifat-sifat dan kelakuan alam disekitarnya, yang akan menjadi tempat tinggal disumber bahan serta makanan selamat hidupnya. Di sini saya

pergunakan kata memeriksa degan nazhor atau intizhoruntuk kata-kata ‘’unzuhur’’karena

pengertian saya akan ayat tersebut ialah bahwa perintah untuk melihat itu tidaklah sekedar untuk melihat degan pikiran yang kosong,melainkan dengan perhatian pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang maha Esa,dan makna dari gejal-gejala yang teramati. Hal ini tampak lebih jelas lagi jika kita ikuti teguran-teguran Allah SWT dalam ayat 17-20 surah Al

Ghasyiysh yang berikut:

‘’Maka apakah mereka tidak melakukan nazhor dan memperhatikan onta ,bagaimna ia diciptakan . dan langitbagaimna ia di angkat . dan gunung-gunung ,bagaimna mereka ditegakkan .dan bumi,bagaimna ia dibentangkan.’’

Dari lima ayat yang saya sebutkan terakir ini nyata bahwa Allah S.W.T. memberikan

bimbinganya lebih lanjut dalam Al-Qur’an ,bagaimna caranya manusia memahami ayat-ayat

yang berkaitan dengan alam semesta,yang secara garis besar melukiskan poroses-porose yang alamiah yang terjadi di dalamnya. Dan ini pulalah yang dilakukan orang dalam fisika,atau pengembangan sains pada umunya; melakukan observasi dengan penuh perhatian untuk dapat menjawab pertanyaan’’bagaimna prose itu terjadi’’. Memeriksa alam semesta dapat diartikan ‘’membaca ayatullah’’yang dapat merinci dan menguraikan erta menerangkan ayat-ayat didalam Al quran yang merupakan garis besar; sebab didalam kitab suci itu sendiri ,alam semesta serta proses-proses yang terjadi di dalamnya sering kali dinyatakan sebagai ayat Allah.

Setelah pengamatan unsur penting yang kedua dalam pengembangan fisika adalah pengukuran. Kuantifikasi dilakukan semaksimal mungkin; sebab’segala sesuatu akan menjadi kabur dalam fisika apa bila hanya dinyatakan secara kualitatif saja. Kalau saya menimbulkan kembali keaadan yang ada dalam pernyataan yang puitis itu saya akan angkat tangan,karena saya tidak tahu ‘’ sepoi-sepoi basa’’ yang bagaimanakah yang Harus saya timbulkan.

Sedangkan untuk pernyataan yang kedua, tiap mahasiswa akan dapat memproduksinya dalam laboratorium.Memang fisika adalah ilmu yaqng kuantitatif; seperti halnya sains pada

(9)

bertingkah laku pada kondisi tertentu; dengan ilmu pengetahuan kealaman yang ia miliki, manusia dapat menimbulkan kondisi yang ia pilih

3. Konsep-Konsep Kosmologi Dalam Al-Qur’an

Sebelum saya membicarakan tentang apa yang menjadi tema pembahasan,terlebih dahulu saya akan mengatakan bahwa ketika kita akan menggali konsep-konsep kosmologis

yang ada di dalam AL-Qur’an sebenarnya merupakan suatu pekerjaan yang tiada habis

-habisnya.Mungkin hanya Allah SWT jualah yang megetahui makna ayat-ayat di dalam kitab suci ini.Manusia hanya dapat mencoba memahaminya sesuai kemampuannya, yang

sebenarnya sangat terbatas.Telah banyak kitab suci yang telah di tuliskan oleh para ulama yang mansyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci AL-Qur’an yang mana secara garis-garis besar ajaran Agama Islam itu, dengan mempergunakan ayat-ayat lain di dalam AL-Qur’an, yang merupakan garis-garis besar ajaran agama islam itu, dengan mempergunakan sebagai

bandingan dan penjelasan.Namun,di dalam Al-Qur’an sendiri, ciptaan tuhan di seluruh jagad

raya ini secara jelas disebutkan sebagai ayat-ayat Allah; misalnya di dalam Qs. Ali Imran,3:190

Artinya ‘sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat ayatollah bagi orang yang berakal (dapat menalar).’

Jadi didalam Qs Ali Imran telah menjelaskan bahwa sesungguhnya allah menciptakan

langit dan bumi baik malam dan siang kemudian terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang bagaimana orang-orang yang berakal (dapat menalar). Oleh karenanya maka sebagai pedanan

untuk mendapatkan arti ayat-ayat tersebut di dalam Al-Qur’an yang menyangkut Al-Kaun

dapat di gunakan juga Ayatollah yang berada di dalam alam semesta ini. Dalam ajaran agama Islam di kenal adanya ilmu Kauniyah yang sudah ada sejak 14 abad yang lalu. Namun manusia masih terlalu bodoh untuk bisa memahami seluruhnya karena ayat-ayat ini diturunkan jauh sebelum ‘ilmu pengetahuan’di kembangkan. Setelah 14 abad kemudian orang memahaminya, setelah ‘ilmu pengetahuan’. Yang merupakan kelanjutan warisan ilmu umat Islam, dapat kita menemukan gejala-gejala ilmiah yang bersangkutan dan ternyata cocok dengan apa yang di nyatakan oleh ayat-ayat tersebut.

Mengingat ayat-ayat tersebut di atas maka janganlah kita heran apabila ketepatan

dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi koonsep-konsep kauniya sangat berfariasi,

bergantung pada pengetahuan mufassir alam semesta itu sendiri. Untuk memberikan contoh yang real, marilah sama-sama kita menelaah ayat-ayat di bawa ini: (QS. Al Anbiya,21:30)

(10)
(11)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Achmad Baiquni M.Sc,. Ph.D ‘’Al-Qur’an Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi’’ PT Dana

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...