• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelapa Sawit dan Tata Guna Lahan di Kali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kelapa Sawit dan Tata Guna Lahan di Kali"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

1. Pendahuluan

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjen Perkebunan) Kementerian Pertanian luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 8,1 juta hektar, kebun kelapa sawit milik petani adalah 30%-40%. Lebih lanjut, Ditjen Perkebunan menyebutkan bahwa 59% dari 1.000 perusahaan kelapa sawit di seluruh Indonesia terlibat konflik lahan dengan masyarakat. Total ada 591 konflik, yaitu Kalimantan Tengah 250 kasus, Sumatera Utara 101 kasus, Kalimantan Timur 78 kasus, Kalimantan Barat 77 kasus, dan Kalimantan Selatan 34 kasus. Pada penulisan ini pembahasan akan difokuskan pada Provinsi Kalimantan Barat.

Peningkatan luas konsesi lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat berbanding lurus dengan jumlah konflik sosial. WALHI menginformasikan bahwa pada 2014 konsesi perkebunan kelapa sawit telah dimiliki oleh 326 perusahaan dengan luas 4,8 juta hektar, setara dengan luas total daratan Provinsi Jambi. Sementara itu, berdasarkan data Koalisi Masyarakat Sipil untuk Tata Ruang yang Adil dan Berkelanjutan tercatat bahwa ada 529 perusahaan yang telah memiliki konsesi lahan seluas 10 juta hektar atau hampir 70% dari luas wilayah Kalimantan Barat. Pada 2012-2013 terdapat 94 konflik yang berhubungan dengan kelapa sawit terjadi di Kalimantan Barat.

Peningkatan luas konsesi lahan kelapa sawit dipicu oleh dua regulasi, yakni PP 60 Tahun 2012 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan dan SK 936/Menhut-II Tahun 2013 tentang Perubahan Peruntukan, Fungsi dan Penunjukan Kawasan. Kedua regulasi tersebut memungkinkan untuk dilakukan pemutihan terhadap kawasan hutan. Sementara itu, jika ditinjau dari sisi regulasi kedua peraturan tersebut bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Konsekuensi dari kebijakan PP 60 Tahun 2012 dan SK 936/Menhut-II Tahun 2013 adalah peningkatan pengalihan hutan menjadi lahan kelapa sawit. Ada dua dampak utama yang ditimbulkan dari pengalihan hutan menjadi lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat yakni degradasi serta deforestasi dan konflik sosial. Pertama degradasi, pembakaran lahan di Kalimantan Barat memicu degradasi hutan yang menyebabkan menurunnya daya simpan tanah terhadap air. Luas hutan di Kalimantan Barat ditetapkan 9,2 juta hektar dan lahan gambut 1,7 juta hektar (SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 259, 2000). Sektor kehutanan dan lahan gambut di Kalimantan Barat berperan penting bagi penyimpanan karbon. Deforestasi dan degradasi menyebabkan penurunan kemampuan hutan untuk menyerap dan menyimpan karbon serta gas buang dari indsutri dan konsumsi. Oleh karena itu, gangguan terhadap hutan dan lahan gambut dapat menjadi sumber emisi karbon dan menurunkan daya dukung hutan terhadap ekosistem.

(3)

pemerintah maupun pihak perusahaan. Sebagian besar konflik sosial di Kalimantan Barat adalah antara komunitas lokal dan perusahaan yang terjadi karena tidak adanya atau minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengikutsertaan partisipasi pengalihan hutan menjadi lahan kelapa sawit.

Deforestasi serta degradasi hutan dan konflik sosial di Kalimantan Barat merupakan implementasi dari kebijakan yang didukung dengan ketersediaan sumber daya alam. Penerapan kebijakan tata guna lahan yang tidak tepat menjadi faktor pendorong terjadinya deforestasi serta degradasi dan konflik sosial di Kalimantan Barat (REDD+ Kalimantan Barat, 2013). Untuk itu, pada penulisan ini akan dibahas dan diidentifikasi mengenai bagaimana efektivitas tata kelola (governance) pada tata guna lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat dalam mengatasi degradasi serta deforestasi dan konflik sosial.

Ostrom (1990) pada studinya terhadap kasus deforestasi menemukan bahwa peran masyarakat lokal krusial dalam pengelolaan hutan. Lebih lanjut, Ostrom (1990) mendefinisikan bahwa institusi yang kuat memiliki tiga ciri, yaitu memiliki batasan yang jelas, ada kongruen pengambilan sumber daya, dan ada tendensi bagi setiap orang untuk mematuhi peraturan. Oleh karena itu, tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi efektivitas tata kelola (governance) pada tata guna lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat dalam memitigasi degradasi serta deforestasi dan konflik sosial. Lebih lanjut penulisan ini diarahkan untuk melakukan analisis efektivitas tata kelola (governance) pada tata guna lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat dari sisi pemerintah (state) dan sisi perusahaan (private).

2. Deskripsi Kasus

Kalimantan Barat memiliki administrasi pemerintahan daerah berjumlah 14 kabupaten/kota. Kabupaten Ketapang adalah daerah terluas 31.240,74 km2 atau 21,28%. Diikuti Kabupaten

Kapuas Hulu 29.842 km2 atau 20.33% dan Kabupaten Sintang 21.635 km2 atau 14,74%.

Berdasarkan fungsi kawasan, Kalimantan Barat dibagi menjadi dua fungsi kawasan, yaitu fungsi kawasan lindung seluas 3.952.625 hektar atau 43,06%, dan fungsi kawasan budidaya seluas 5.226.135 hektar atau 59,94%. Sampai dengan tahun 2011, kegiatan penataan batas kawasan hutan Kalimantan Barat telah mencapai 14.428,03 km atau sekitar 74,13% dari target panjang batas kawasan hutan yang harus ditata batas, yaitu sepanjang 19.462,42 km.

(4)

Peningkatan luas konversi lahan di Kalimantan Barat merupakan konsekuensi dari kebijakan PP 60 Tahun 2012 dan SK 936/Menhut-II Tahun 2013. Pertama, kebijakan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan memiliki dua poin pengaturan, yakni tukar menukar kawasan hutan dan konversi hutan. Tukar menukar kawasan hutan dapat dilakukan dengan ketentuan tetap terjaminnya luas kawasan hutan paling sedikit 30% dari luas daerah aliran sungai, pulau, dan/atau provinsi dengan sebaran yang proporsional dan mempertahankan daya dukung kawasan hutan tetap layak kelola. Selanjutnya, konversi hutan diperbolehkan untuk kegiatan usaha perkebunan yang izinnya diterbitkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi atau kabupaten/kota yang ditetapkan sebelum berlakunya UU Nomor 26 Tahun 2007, namun berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 19 Tahun 2004 areal tersebut merupakan kawasan hutan dengan fungsi hutan produksi yang dapat dikonversi dengan mengajukan permohonan pelepasan kawasan hutan kepada Menteri. Ada tujuh perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengajukan Permohonan Pelepasan Kawasan Hutan Ketelanjuran ke Kementerian Kehutanan RI, yaitu PT Gemilang Makmur Subur, PT Ledo Lestari, PT Mega Sawindo Perkasa, PT Tsjafiuddin, PT Wana Hijau Semesta, PT Wirata Daya Bangun Persada, dan PT Swadaya Mukti Prakasa. Kedua, SK 936/Menhut-II tahun 2013 mengatur pengalihan kawasan hutan menjadi bukan kawasan hutan seluas lebih kurang 554.137 hektar. Melalui SK tersebut pemerintah mengupayakan memberikan kepastian hukum kepada perusahaan kelapa sawit untuk beroperasi dan mengelola lahan. Dengan demikian, kedua regulasi tersebut memberikan peluang untuk dilakukan pemutihan terhadap kawasan hutan.

Implementasi dari kebijakan yang didukung dengan ketersediaan sumber daya alam melimpah di Kalimantan Barat memberikan implikasi degradasi serta deforestasi hutan dan konflik sosial. Pertama, peningkatan degradasi dan deforestasi di Kalimantan Barat. Berdasarkan Analisis Data Spasial Penapsiran Citra Landsat (2006 dan 2011) laju degradasi dan deforestasi pertahun di Kalimantan Barat rata-rata mencapai angka 116.172,77 hektar. Kabupaten yang menempati posisi degradasi tertinggi sampai terendah dalam kawasan hutan berturut-turut adalah Kabupaten Ketapang, Kapuas Hulu, Sintang, Sanggau, Sambas, Kubu Raya, Bengkayang, Melawi, Landak, Kayong Utara, Pontianak, Sekadau dan Kota Singkawang. Sedangkan deforestasi tertinggi dalam kawasan hutan adalah Kabupaten Ketapang, Sambas, Sintang, Kayong Utara, Kubu Raya, Kapuas Hulu, Sanggau, Bengkayang, Landak, Melawi, Pontianak, Sekadau, dan Kota Singkawang.

(5)

konflik horizontal karena batas wilayah kelola belum jelas. Pada 2012-2013 terdapat 94 konflik yang berhubungan dengan kelapa sawit terjadi di Kalimantan Barat (Ditjen Perkebunan, 2013).

Peningkatan luas lahan konversi kelapa sawit di Kalimantan Barat selain disebabkan oleh implikasi dari implementasi kebijakan juga disebabkan oleh beberapa faktor, yakni konversi hutan dan lahan produktif menjadi lahan sawit, tidak adanya batasan luas perizinan, kebijakan politik kepala daerah yang mempromosikan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan, peningkatan permintaan sawit, dan perilaku masyarakat. Secara nasional wilayah perkebunan kelapa sawit telah meningkat delapan kali lipat sejak 1991, mencapai 8,9 juta hektar pada 2011 (Ditjen Perkebunan, 2012). Sebagian besar pertumbuhan terjadi setelah krisis keuangan 1997 atau paska desentralisasi. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan, kelapa sawit berkontribusi terhadap penerimaan ekspor sebesar 12-15 miliar USD atau 3% terhadap PDB. Hal ini berarti bahwa perluasan industri kelapa sawit sangat didukung oleh kebijakan pemerintah. Kemudian, perilaku masyarakat terhadap sumber daya hutan masih kurang kesadaran karena rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan baik dalam bidang umum maupun khusus bidang kehutanan. Kebanyakan masyarakat sekitar wilayah lahan hutan dan kelapa sawit di Kalimantan Barat masih berpendidikan setaraf sekolah dasar dengan keterampilan petani kecil tradisional. Lebih lanjut, berdasarkan Reducing Emissions from Deforestation and Degradation Plus (REDD+) pada 2013 terdapat 4 (empat) akar permasalahan dari ekspansi lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat, yakni inkonsistensi perizinan dengan kesesuaian lahan dan kawasan yang dilindungi, akses yang terbuka terhadap hutan, hak atas tanah dan hutan yang belum tuntas bagi semua pihak, korupsi perizinan, dan kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang rendah. Dengan demikian, degredasi serta deforestasi dan konflik sosial di Kalimantan Barat dapat ditinjau dari efektivitas tata kelola (governance) dalam tata guna lahan yang meliputi alih fungsi hutan yang sah melalui rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) provinsi atau kabupaten.

Konflik antara penduduk sekitar hutan dengan perusahaan dalam perkebunan kelapa sawit terjadi saat keberadaan hutan adat dikonversi oleh pemerintah dengan memberikan izin kepada pemilik modal dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit. Laporan Komisi Kehutanan DPR pada 2008 menyebutkan, 53% Peraturan Daerah Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (“Perda RTRW”) dinilai bermasalah karena menyebabkan kerusakan lingkungan hidup. Perda RTRW mengacu pada UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang sebagaimana telah diperbarui dengan UU No. 26 Tahun 2007, bertentangan dengan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

(6)

3. Analisa

Andersson dan Ostrom (2008) dalam “Analyzing Decentralized Resource Regimes from a Polycentric Perspective” menjelaskan bahwa pendekatan polisentris dengan mempertimbangkan interaksi antara aktor-aktor di berbagai tingkat pemerintahan dapat berkontribusi untuk pemahaman terhadap faktor yang mendorong variasi dalam hasil desentralisasi pemerintahan. Pada studi tersebut Andersson dan Ostrom menggunakan pendekatan polisentris. Perbedaan utama antara pendekatan sentris konvensional dan polisentris dalam mempelajari sumber daya desentralisasi adalah lingkup analisis (Andersson dan Ostrom, 2008). Lebih lanjut, Andersson dan Ostrom (2008) mengemukakan bahwa untuk menjelaskan hasil tata kelola (governance) desentralisasi, pendekatan polisentris dapat menganalisis kinerja suatu unit pemerintah daerah untuk mempertimbangkan hubungan antara aktor-aktor pemerintahan, masalah, dan pengaturan kelembagaan pada berbagai tingkat pemerintahan. Andersson dan Ostrom (2008) mengatakan bahwa ketika pembuat kebijakan menciptakan sistem aturan umum yang mungkin tidak sesuai dengan konteks lokal, insentif pengguna untuk mengelola sumber daya secara bertanggung jawab akan melemah. Pendekatan polisentris mempelajari kondisi interaktif antara kelompok-kelompok pengguna lokal dan di antara kelompok-kelompok dan pemerintah.

Pemerintah pusat bertanggung jawab untuk menegakkan banyak aturan formal namun regulasi yang mengatur pemanfaatan hutan hampir tidak ada. Hal ini menciptakan situasi dimana pengguna hutan memiliki posisi superior, seperti pemilik tanah besar dan perusahaan kehutanan swasta. Pada tahun 1996, kebijakan desentralisasi hutan Bolivia membantu untuk mengubah sebagian besar dari tindakan pengecualian petani lokal terhadap pembangunan dan pemanfaatan hutan (Andersson, 2009). Pengaturan kelembagaan pada skala pemerintahan lainnya seperti badan nasional pemerintah, organisasi internasional, LSM di berbagai skala, dan asosiasi swasta juga memiliki peran penting dalam tata kelola sumber daya alam, termasuk dalam self-organized (Andersson dan Ostrom, 2008).

Tantangan untuk mengatur sumber daya alam semakin kompleks seiring dengan peningkatan pertumbuhan populasi penduduk dan tuntutan kebutuhan pada sumber daya alam. Common pool resources (CPR) adalah sumber daya alam yang sangat sulit untuk diatur (Ostrom dan Nagendra, 2006). Dengan demikian, sangat mahal untuk mengecualikan orang lain dari menggunakan sumber daya CPR, sementara panen dan pemanfaatan satu orang dapat mengurangi panen dan pemanfaatan CPR bagi orang lain. Aspek tata kelola sumber daya CPR memiliki karakteristik rival (subtractable) seperti barang private dan memiliki biaya tinggi terkait dengan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak seperti barang publik. Untuk itu, tata kelola yang efektif menjadi tugas yang paling sulit dihadapi kebijakan publik moderen (Dietz, 2003).

(7)

common-pool daripada sistem sumber daya umum dengan skala yang lebih besar (Tang 1992, 1994).

Sementara itu terdapat keterbatasan dalam penerapan tata kelola CPR desentralisasi yang mengakomodir masyarakat lokal. Ostrom (2008) mengatakan bahwa pengguna lokal dapat mengatur dirinya sendiri untuk mengembangkan mekanisme pemerintahan yang efektif, sedangkan kemampuan tata kelola dari sistem pemerintahan yang diselenggarakan secara horizontal di tingkat lokal masih terbatas. Pada sistem desentralisasi penuh, pemerintahan bergantung pada self-organized dari pengguna sumber daya lokal dan untuk beberapa pengguna lokal self-organization terlalu mahal (Meinzen-Dick, 2007). Beberapa alasan mengapa sebagian kelompok tidak mengatur atau tetap terorganisir, termasuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya, diantaranya karena terjadi konflik yang cukup besar di antara pengguna (Libecap, 1989), biaya politik tinggi (Gibson dan Lehoucq, 2003), kurangnya kepemimpinan (Johnson, 2001), dan khawatir upaya kelompok lokal dibatalkan oleh otoritas yang lebih tinggi (Epstein, 1997 dan Shivakumar, 2005). Ada kegagalan sistem desentralisasi yaitu masalah tirani lokal (Andersson dan van Laerhoven, 2007). Dengan demikian, tidak semua sistem tata kelola sumber daya self-organized dapat diselenggarakan secara demokratis atau dapat mengandalkan masukan dari pengguna.

Kompleksitas dari sumber daya alam memerlukan tata kelola (governance) pemerintahan yang canggih. Untuk mengatur proses yang dapat memberikan insentif bagi pengguna dalam menjaga pengiriman jangka panjang dibutuhkan tidak hanya sumber daya keuangan dan mekanisme akuntabilitas pada satu tingkat pemerintahan. Andersson dan Ostrom (2008) menyebutkan bahwa ada kebutuhan untuk pengaturan tata kelola multilevel yang mengandalkan pengakuan eksplisit bahwa insentif pada beberapa skala mungkin tidak dapat diperbandingkan dengan barang dan jasa yang diproduksi dalam skala yang berbeda. Andersson dan Ostrom (2008) menemukan bahwa eksekutif pemerintahan daerah (walikota) lebih mungkin untuk mendukung dan berinvestasi dalam tata kelola sumber daya alam ketika ada insentif kelembagaan yang jelas untuk melakukannya, terlepas dari derajat desentralisasi.

Hasil studi Andersson dan Ostrom terhadap tata kelola (governance) sumber daya common-pool (CPR), seperti pemanfaatan hutan, dalam sistem pemerintahan desentralisasi akan digunakan sebagai kerangka teori dalam pembahasan tata kelola (governance) pada tata guna lahan sawit di Kalimantan Barat. Kerangka teori tata kelola (governance) sumber daya common-pool (CPR) Andersson dan Ostrom digunakan untuk memperoleh identifikasi efektivitas tata kelola pemerintah pusat (state) dan perusahaan (private) dalam mengatasi permasalahan degradasi dan deforestasi serta konflik sosial yang terjadi sebagai implementasi kebijakan yang membawa implikasi peningkatan konversi hutan menjadi lahan kelapa sawit.

3.1. Tata Guna Lahan

(8)

(UUPA) tahun 1960 yang mengakui lahan negara, lahan milik, dan lahan adat. Kedua, Undang-Undang Pokok Kehutanan (UUPK) tahun 1999 yang menyatakan bahwa Kementerian Kehutanan memiliki kekuasaan untuk mengatur dan mengurus semua aspek terkait hutan, wilayah hutan, dan hasil-hasil hutan dan penguasaan negara atas wilayah didefinisikan sebagai Kawasan Hutan. Kawasan Hutan dibagi ke dalam tiga klasifikasi, yaitu hutan lindung dan konservasi, hutan produksi,dan hutan produksi untuk konversi.

Ketika suatu wilayah telah diklasifikasikan sebagai kawasan hutan maka hanya Kementerian Kehutanan yang dapat melepaskan menjadi non-kawasan hutan atau penggunaan lahan yang lain, walaupun wilayah-wilayah strategis harus disahkan oleh DPR. Permasalahan muncul dari inkonsistensi antara UUPA dan UUPK. Pada UUPK, yang memasukkan lahan adat sebagai bagian dari lahan negara dan memungkinkan Kementerian Kehutanan untuk secara sepihak menetapkan wilayah sebagai Kawasan Hutan tanpa mempertimbangkan hak-hak pemerintah daerah untuk mengelola.

Tercatat sekitar 130 juta dari 187 juta hektar lahan Indonesia telah ditetapkan sebagai kawasan hutan (Ditjenbun, 2012). Sisanya disebut sebagai Areal Penggunaan Lain (APL). Hal ini berarti bahwa Kementerian Kehutanan dapat menetapkan hak pemanfaatan lahan untuk 70% dari lahan Indonesia. Pada Februari 2012, mahkamah konstitusi Indonesia menetapkan bahwa Kementerian kehutanan harus secara formal mengukuhkan lahan sebagai bagian dari Kawasan Hutan sebelum menetapkan otoritas pengelolaan terhadapnya (Putusan MK45). Sebelum adanya keputusan ini, Kementerian Kehutanan secara sepihak menentukan peruntukan lahan sebagai Kawasan Hutan untuk memungkinkan melakukan pengelolaan aktif terhadap bagian lahan yang luas dan menghindari pelaksanaan proses pengukuhan yang panjang dan partisipatif.

Kabupaten memiliki otoritas untuk menerbitkan izin-izin kelapa sawit, khususnya karena terdapat insentif ekonomi dan politis yang kuat bagi pejabat kabupaten untuk mendukung investasi kelapa sawit. Kekhawatiran ini diperkuat oleh fakta bahwa proses pengukuhan berlangsung lambat. Hanya 11% dari lahan yang diperuntukkan sebagai Kawasan Hutan yang telah sepenuhnya dikukuhkan secara nasional. Otoritas lokal juga memiliki mandat hukum untuk melaksanakan proses pengukuhan, yang memberikan pemerintah lokal kekuatan dalam negosiasi dengan Kementerian Kehutanan. Sehingga Pemerintah Daerah memiliki kekuasaan untuk memastikan bahwa semua ijin perkebunan yang telah diterbitkan telah dikeluarkan dari Kawasan Hutan.

UUPK menyebabkan sulitnya kelompok-kelompok adat untuk memperoleh pengakuan hukum atas hak-hak lahan di masa lampau. Hal ini memicu sengketa lahan antara masyarakat lokal dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Perusahaan kelapa sawit oleh hukum dituntut untuk melibatkan masyarakat setempat yang terkena dampak usaha mereka, untuk menjelaskan rencana pengembangan dan dampak yang mungkin terjadi bagi masyarakat, memperoleh persetujuan untuk menanam di atas lahan yang diklaim masyarakat, dan menegosiasikan kompensasi yang sesuai. Negosiasi ini sering ditekan oleh hubungan kekuasaan yang tidak setara karena pengadilan menginterpretasikan bahwa hak milik masyarakat lebih lemah dibandingkan hak guna usaha yang diberikan kepada perusahaan oleh pemerintah. Ketika negosiasi berlangsung buruk, masyarakat dapat menghimpun kekuatan kolektif untuk memperlambat atau menghentikan pengembangan sehingga memicu terjadinya konflik sosial.

(9)

tahun pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten. Rencana tersebut dikembangkan dengan menggunakan proses partisipatif dan sesuai dengan rencana pembangunan jangka panjang. Hal ini menuntut semua provinsi untuk menyerahkan rencana tata ruang yang telah diperbaiki pada 2010. Peraturan pelaksana dari undang-undang ini menghendaki agar rencana tata ruang tersebut sesuai dengan Kawasan Hutan Nasional, mengatur peran dan prosedur bagi Kementerian Kehutanan untuk meninjau dan menyetujui rencana tata ruang tersebut.

Tata kelola lahan di Indonesia terbagi diantara beberapa instansi, yaitu Kementerian Kehutanan, Pemerintah Daerah dan Badan Pertanahan Nasional. Namun demikian, sebelum Undang-Undang Tahun 2007 tentang Perencanaan Tata Ruang, dan peraturan pendukung lainnya berlaku, peruntukan Kawasan Hutan oleh Kementerian Kehutanan dan rencana tata ruang yang disusun secara terpisah oleh kantor provinsi (RTRWP) berkembang secara terpisah, yang menyebabkan perbedaan besar pada wilayah dan provinsi tertentu, dalam hal proporsi wilayah yang diperuntukkan sebagai kawasan hutan.

Akibat dari perbedaan antara Kawasan Hutan Kementerian Kehutanan dan rencana tata ruang menyebabkan izin-izin yang akan diterbitkan yang berpotensi sesuai hukum dan sah berdasarkan satu undang-undang menjadi tidak sesuai hukum dan tidak sah menurut undang-undang lainnya. Selanjutnya, kondisi ini menyebabkan ketidakpastian bagi dunia usaha dan juga potensi konflik antar perusahaan. Ketidakpastian status lahan dapat mengurangi insentif bagi investor untuk meningkatkan praktik pengelolaan, dan mendorong keterlibatan dalam proses revisi perencanaan tata ruang provinsi dan kabupaten.

Hingga 2014, masyarakat hanya dapat diberikan sebagian hak pengelolaan pada wilaya-wilayah yang sebelumnya diperuntukkan sebagai Kawasan Hutan, apabila sebelumnya tidak terdapat ijin kehutanan pada wilayah tersebut. Pemberian ijin kehutanan tidak mempertimbangkan hak masyarakat dan oleh karena itu berpotensi menimbulkan konflik.

Secara normatif kewenangan daerah dalam tata guna lahan sangat memadai. Dalam pembagian urusan pusat dan daerah, kehutanan merupakan salah satu dari 31 urusan pemerintahan yang dibagi (Pasal 2 Ayat (4) PP Nomor 38 Tahun 2007). Urusan perubahan status kawasan hutan disebutkan secara spesifik dalam bidang urusan mengenai penatagunaan kawasan hutan dimana peran Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota sangat strategis dalam mengusulkan perubahan status dan penggunaan kawasan hutan. Terdapat 3 (tiga) pembagian urusan, yakni Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten. Pertama, Pemerintah Pusat memiliki kewenangan dalam hal penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria penatagunaan kawasan hutan, pelaksanaan penetapan fungsi, perubahan status dan fungsi hutan serta perubahan hak dari lahan milik menjadi kawasan hutan, pemberian perizinan penggunaan dan tukar menukar kawasan hutan. Kedua, Pemerintah Provinsi mempunyai kewenangan dalam hal perkembangan teknis perubahan status dan fungsi hutan, perubahan status dari lahan milik menjadi kawasan hutan, dan penggunaan serta tukar menukar kawasan hutan. Ketiga, Pemerintah Kabupaten mempunyai kewenangan dalam hal pengusulan perubahan status dan fungsi hutan dan perubahan status dari lahan milik menjadi kawasan hutan, dan penggunaan serta tukar menukar kawasan hutan.

(10)

pengaturan, yakni tukar menukar kawasan hutan dan konversi hutan. Kedua, SK 936/Menhut-II tahun 2013 mengatur pengalihan kawasan hutan menjadi bukan kawasan hutan seluas lebih kurang 554.137 hektar. Melalui SK tersebut pemerintah mengupayakan memberikan kepastian hukum kepada perusahaan kelapa sawit untuk beroperasi dan mengelola lahan. Dengan demikian, kedua regulasi tersebut memberikan peluang untuk dilakukan pemutihan terhadap kawasan hutan.

Ostrom (1990) mengemukakan bahwa terdapat 3 alasan yang mendasari mengapa keterlibatan masyarakat lokal diperlukan dalam tata kelola (governance) sumber daya common-pool (CPR) yaitu pemerintah memiliki keterbatasan anggaran dan pegawai pemerintah untuk menegakan peraturan, terdapat potensi konflik karena pemerintah tindakan monitoring rendah, dan masyarakat lokal memiliki pengaruh langsung terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, selain diperlukan peraturan yang jelas (tidak tumpang-tindih) dan penegakan peraturan tata guna lahan juga diperlukan keterlibatan masyarakat lokal dalam merumuskan kebijakan pada skala Pemerintahan Daerah atau Kabupaten di Kalimantan Barat. Sehingga, konflik sosial terkait peningkatan konversi lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat dapat diatasi.

Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat 4 (empat) permasalahan dalam perencanaan tata ruang, yakni (1) minimnya data/informasi tata guna lahan dan tata batas; (2) perencanaan yang masih bersifat sektoral dan tidak terpadu; (3) perencanaan tata ruang yang belum sepenuhnya partisipatif; dan (4) minimnya alokasi untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tata kelola (governance) pada tata guna lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat belum efektif dalam mengatasi deforestasi serta degradasi dan konflik sosial.

4. Penutup

(11)

Rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mengupayakan tata kelola (governance) pada tata guna lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat secara efektif adalah sebagai berikut:

 Harmonisasi peraturan tata guna lahan dan tata ruang lahan. Secara regulasi beberapa muatan peraturan tata guna lahan masih ada yang tumpang-tindih dengan peraturan lainnya. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan peninjauan regulasi baik secara horizontal maupun secara vertikal.

 Sinkronisasi status lahan. Persoalan lahan sering bermasalah akibat data yang dimiliki pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sering berbeda. Dalam hal ini perlu dilakukan sinkronisasi data lahan dengan melibatkan masyarakat.

 Meningkatkan peluang bagi masyarakat yang tinggal di sekitar dan di dalam kawasan hutan untuk berperan serta pro-aktif serta penerima manfaat langsung maupun tidak langsung dalam mekanisme implementasi kebijakan tata kelola penggunaan lahan.

 Mendorong praktik-praktik dan dukungan tingkat lokal dalam pengelolaan sumber daya alam hutan berbasis masyarakat.

 Menjadikan praktik sanksi adat terhadap pelanggaran di kawasan hutan untuk mengawal dan memonitor (safeguard monitoring) dalam rangka memastikan jasa lingkungan dan biodifersiti kawasan hutan.

 Menciptakan kelembagaan formal (lembaga percepatan dan monitoring) pada tingkat provinsi dan kabupaten sebagai percepatan penyelesaian status penggunaan lahan dan memitigasi konflik sosial terkait lahan. Kelembagaan formal ini dapat dibentuk dengan inisiasi dari pemerintah provinsi dan kabupaten serta perwakilan masyarakat dan perwakilan perusahaan untuk mencapai tujuan bersama.

(12)

Daftar Pustaka

Andersson, Krister P. (2009). A New Perspective on Community Governance of Forests in Bolivia: The Role of External Organizations. International Society of New Institutional. http://extranet.isnie.org/uploads/isnie2009/andersson_benav ides_leon.pdf (diakses 7 Juni 2014).

Andersson, Krister P., dan Ostrom Elinor. (2008). Analyzing Decentralized Resource Regimes from a Polycentric Perspective. Policy Sciences, Vol. 41, No. 1 (Mar., 2008), 71-93.

http://203.130.231.12/cgi-bin/proxy/nph-proxy.cgi/00/http/www.jstor.org/stable/pdfplus/10.2307/2547 4353.pdf (diakses 7 Juni 2014).

Fachrizal, A., Sirait, J., dan Wihardandi, A. (2014). Fokus Liputan: Kelapa Sawit, antara Kepentingan Politik dan Tata Guna Lahan (Bagian I).

http://www.mongabay.co.id/2014/04/07/fokus-liputan-kelapa- sawit-antara-kepentingan-politik-dan-tata-guna-lahan-bagian-i/ (diakses 27 Mei 2014).

Fachrizal, A., Sirait, J., dan Wihardandi, A. (2014). Fokus Liputan: Kelapa Sawit, antara Kepentingan Politik dan Tata Guna Lahan (Bagian II-Selesai). http://www.mongabay.co.id/2014/04/08/fokus-liputan-kelapa- sawit-antara-kepentingan-politik-dan-tata-guna-lahan-bagian-ii-selesai/ (diakses 27 Mei 2014).

Gultom, Yohanna M.L. (2014). Governance and The Commons. Materi Kuliah Ekonomi Kelembagaan. Jakarta.

Hardiansyah, Gusti, dkk. (2013). Strategi dan Rencana Aksi Provinsi (SRAP) REDD+ Kalimantan Barat.

Referensi

Dokumen terkait

he irst hypothesis is “there is positive and signiicant inluence of school policy, curriculum implementation, school culture and school infrastructure management collectively

Saya pernah menggunakan jasa doorsmeer ditempat lain.,menurut saya perbedaannya dengan doorsmeer lain terletak diruang tunggu Sabena yang luas dan juga

Alhamdulillahirrabbil’alamiin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayat, serta ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

• Guru memulai pelajaran dengan mengajak siswa mengamati gambar pada buku tema 6 Subtema 4 Pembelajaran 2, atau kalau guru, mempunyai tayangan video tentang sikap pemborosan

Data primer diperoleh dari hasil pemeriksaan timbal (Pb) mainan edukatif balita dan kuesioner pengetahuan orang tua dan guru tentang timbal (Pb) pada mainan

Dengan demikian, apabila dalam laporan tahunan perusahaan sampel terdapat pengungkapan informasi melebihi dari pengungkapan wajib, maka perusahan tersebut mendapatkan

Kambea Pucuk berwarna hijau kemerahan; duri hanya pada anakan, berjajar pada kedua sisi pelepah; pelepah berwarna hijau, berpola cokelat seperti batik pada punggung pelepah

Perangkat pembelajaran dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik yang telah dikembangkan diharapkan dapat digunakan sebagai sumber belajar oleh siswa