MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI KEWIRAUSAHAAN
DAN EKONOMI KREATIF MELALUI MUATAN LOKAL SENI KALIGRAFI
Oleh : Marinasari Fithry Hasibuan,S.Ag,M.Pd Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Medan
ABSTRACT
Tingginya tingkat pengangguran di Indonesia dapat di kurangi dengan membekali peserta didik melalui pendidikan nilai-nilai kewirausahaan dan ekonomi kreatif. Melalui pendidikan nilai-nilai kewirausahaan dan ekonomi kreatif diharapkan peserta didik dari sebuah lembaga pendidikan formal memiliki life skill sehingga dapat membuka lapangan kerja sendiri. Kenyataannya selama ini menunjukkan bahwa keterampilan yang dimiliki oleh alumni sebuah lembaga pendidikan pada umumnya kurang diminati oleh masyarakat. Muatan lokal seni kaligrafi adalah salah satu dari jenis keterampilan yang kurang diminati oleh masyarakat karena produk-produk yang dihasilkan dari seni kaligrafi itu kurang menyentuh kepada kebutuhan masyarakat. Rendahnya minat masyarakat terhadap sebuah produk tentu menyebabkan rendahnya nilai beli masyarakat terhadap produk tersebut. Ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya minat masyarakat terhadap produk yang dihasilkan oleh peserta didik yaitu kurangnya kreatifitas untuk menghasilkan produk-produk atau karya-karya inovatif dan kurang variasinya bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan sebuah produk.
Kata Kunci : Nilai-nilai kewirausahaan dan ekonomi kreatif seni kaligrafi
I.PENDAHULUAN
sosial, kecakapan akademik dan atau kecakapan vokasional di dalam kurikulum untuk semua jenis dan jenjang pendidikan formal.
Untuk menyempurnakan pendidikan kecakapan hidup ini, pemerintah juga
memasukkan pendidikan kewirausahaan dan ekonomi kreatif ke dalam kurikulum. Dalam pelaksanaannya, pendidikan kewirausahaan dan ekonomi kreatif ini dapat terintegrasi ke dalam mata pelajaran yang diajarkan guru, dapat juga dilaksanakan secara khusus ke dalam mata pelajaran muatan lokal. Namun kenyataannya sering terjadi ketidaksesuaian antara materi muatan lokal yang dipilih oleh sebuah lembaga pendidikan dengan kebutuhan daerah yang ada di wilayahnya sehingga mengakibatkan life skill yang diperoleh oleh peserta didik dari materi muatan lokal tersebut memiliki nilai jual yang rendah. Permasalahan inilah yang akan penulis bahas di dalam tulisan ini.
II.PEMBAHASAN
I. Pengertian Nilai-Nilai Kewirausahaan
Menurut etimologis, wirausaha merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata “wira” dan “usaha”.“wira” bermakna: berani, utama, atau perkasa. Sedangkan “usaha” bermakna: kegiatan dengan mengerahkan tenaga pikiran atau badan untuk mencapai sesuatu maksud. Menurut terminologis, sebagaimana dikemukakan oleh Taufik Baharuddin. Seorang konsultan manajemen dalam ruang lingkup Manajemen sumberdaya manusia dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bahwa wirausaha: “Kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang diidealkan.
the resulting rewards of monetary and personal satisfaction and independence.” Hisrich, Peters, Shepperd, 2005; 8
2. Pengeritan Ekonomi Kreatif
Ekonomi kreatif adalah kegiatan pemenuhan kebutuhan yang didasarkan pada intelektual, keahlian, talenta, dan gagasannya yang orisinal. Atau ekonomi kreatif adalah proses peningkatan nilai tambah hasil dari eksploitasi kekayaan intelektual berupa kreativitas, keahlian dan bakat individu mejadi produk yang dapat dikomersilkan. Pengembangan pola piker ekonomi kreatif dapat dikembangkan dari pengertian industri kreatif. Creative industries are those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent, and which have a potensial for
wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual
property and content (UK Creative Industries Taskforce, 1998)
3. Muatan Lokal Seni Kaligrafi
Salah satu usaha pemerintah untuk mengatasi meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia adalah dengan memasukkan niilai-nilai kewirausahaan dan ekonomi kreatif kedalam kurikulum pada setiap mata pelajaran pada lembaga pendidikan formal. Tujuannya adalah karena dengan dimasukkannya nilai-nilai kewirausahaan dan ekonomi kreatif pada setiap mata pelajaran diharapkan lulusan dari lembaga pendidikan itu memiliki kecakapan hidup untuk dapat dikembangkan di dalam kehidupannya. Artinya dengan terbiasanya peserta didik mengembangkan nilai-nilai kewirausahaan dan ekonomi kreatif di dalam kehidupanya, maka setelah menamatkan pendidikannya minimal pada tingkat pendidikan dasar 9 tahun peserta
didik tersebut dapat membuka lapangan kerja baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
banyak alumni-alumni dari berbagai lembaga pendidikan bahkan lembaga pendidikan kejuruan yang belum mampu mengembangkan nilai-nilai kewriausahaan ditengah-tengah masyarakat.
Ada dua faktor yang sebenarnya menurut analisis penulis yang menjadi penyebab banyaknya alumni dari berbagai lembaga pendidikan masih kesulitan untuk mengembangkan nilai-nilai kewirausahaan ditengah-tengah masyarakat. Faktor pertama adalah kurangnya kreatifitas untuk menghasilkan produk-produk atau karya-karya inovatif. Artinya mata pelajaran muatan lokal yang dilaksanakan oleh fihak sekolah pada umumnya masih sebatas menanamkan nilai-nilai kewirausahaan saja tetapi belum begitu meluas kepada ekonomi kreatif.
Hal ini yang perlu dibenahi dan mendapat perhatian oleh fihak sekolah .Sering kita temukan dilapangan bahwa ternyata antara muatan lokal yang diprogramkan oleh sekolah sering tidak sesuai dengan kebutuhan daerah. Sebagai salah satu contoh adalah muatan lokal mata pelajaran seni kaligarafi yang pada umumnya selalu dipilih oleh madrasah,, tidak banyak perbedaan produk yang dihasilkan antara satu madrasah dengan madrasah lainnya. Produk atau karya yang dihasilkan madrasah dalam seni kaligrafi pada umumnya masih dalam bentuk hiasan dinding meskipun dengan tulisan, design dan warna yang bervariasi. Produk dalam bentuk hiasan dinding itu tentu kurang memiliki nilai jual sebab tidak menjadi satu kebutuhan bagi masyarakat.
Faktor kedua yang menyebabkan sulitnya siswa mengembangkan nilai-nilai kewirausahaan adalah karena kurang variasinya bahan baku yang digunakan untuk
menghasilkan sebuah produk. Padahal sebenarnya bahan-baku yang digunakan untuk produksi sebuah jenis barang khususnya produksi seni kaligrafi dapat lebih bervariasi jika dengan memanfaatkan sumber kekayaan alam seperti jenis kerang-kerangan misalnya untuk hasil alam yang berasal dari wilayah perairan (pesisir pantai), atau jenis biji-bijian misalnya untuk hasil alam yang berasal dari wilayah perkebunan (dataran tinggi).
dalam hal produk yang inovatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Umpamanya produk-produk jenis souvenir atau aksesoris. Untuk menghindari ayat-ayat Al-Quran agar tidak terinjak-injak atau diletakkan disembarang tempat maka seni
kaligrafi ayat-ayat Al-Quran bisa diganti dengan tulisan-tulisan lainnya seperti kata-kata bijak, syair, atau nama-nama orang. Dengan demikian sebenarnya seni kaligrafi juga dapat menghasilkan produk yang tidak terbatas jumlahnya.
III. PENUTUP
Seni kaligrafi selalu diidentikkan oleh masyarakat sebagai seni tulis Al-Quran. Seni kaligrafi memang seni menulis huruf Arab tetapi tidak semua tulisan kaligrafi harus bertuliskan Al-Qur’an. Seni kaligrafi dapat didesign untuk menulis nama orang, kata-kata bijak, syair-syair atau kata-kata lainnya. Jika seni kaligrafi hanya dibatasi pada tulisan ayat-ayat Al-Quran maka produk yang dapat dihasilkan oleh seni kaligrafi tentu sangat terbatas karena menuliskan ayat-ayat Al-Quran memang tidak sembarang tempat. Itu sebabnya selama ini seni kaligrafi masih terbatas pada hiasan-hiasan dinding. Kalaupun ada produk-produk lainnya masih dalam lingkup kecil.
Selain terbatasnya produk yang dihasilkan dari seni kaligrafi peralatan yang digunakan sebagai bahan dasar yang biasa digunakan untuk membuat sebuah produk juga masih terbatas pada beberapa jenis saja seperti kertas, kain atapun kayu. Bahan untuk menulis biasannya juga masih menggunakan cat air. Untuk menghasilkan produk yang lebih inovatif sebaiknya produk-produk dari seni kaligrafi lebih menggunakan jenis yang lebih variatif baik untuk bahan dasar maupun bahan untuk
penulisan.
Agar produk-produk dari seni kaligrafi dapat dikenali oleh masyarakat sebaiknya fihak sekolah sering melakukan sosialisasi melalui even-even yang diselenggarakan baik itu even-even internal yang diselenggarakan sekolah seperti perayaan-perayaan hari besar islam maupun even-even eksternal diluar sekolah seperti kegiatan pada Musabaqah Tilawatil Qur’an.
Kegiatan yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mensosialisasikan produk-produk dari seni kaligrafi baik dalam even internal maupun even eksternal sekolah dapat dilakukan dalam bentuk pameran ataupun bazaar. Peserta yang dapat
dikumpulkan untuk sosialisasi seni kaligrafi dalam even internal sekolah dapat mengundang orang tua murid, komite sekolah, masyarakat sekitar sekolah dan beberapa pejabat maupun tokoh masyarakat. Sedangkan untuk even eksternal peserta tentu dapat bervariasi dari berbagai kalangan masyarakat.
Agar produk dari seni kaligrafi dapat memiliki nilai jual yang lebih tinggi sebaiknya produk seni kaligrafi lebih banyak diarahkan kepada jenis aksesoris dan souveneer karena jenis aksesoris dan suoveneer biasanya merupakan salah satu jenis produksi yang paling tinggi tingkat peminatnya. Selain itu , karena sifatnya senantiasa mengalami inovasi dan kreasi maka jenis produksi acsesoris dan souveneer ini senantiasa dicari (berkepanjangan).
Bahan yang digunakan untuk menghasilkan produk seni kaligrafi sebenarnya juga dapat mengunakan berbagai jenis hasil alam seperti kalau di wilayah perairan mungkin dapat menggunakan jenis kerang-kerangan dan kalau diwilayah pertanian atau perkebunan mungkin dapat menggunakan jenis biji-bijian atau daun-daunan yang telah dikeringkan dan diberi bentuk dan warna yang beraneka ragam. Hal ini dimaksudkan agar selain menghasilkan produk yang lebih variatif, juga dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari khas suatu daerah berarti telah memanfaatkan kekayaaan alam yang ada di daerah itu sendiri sesuai dengan prinsip Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yaitu seimbang antara kebutuhan daerah dan kebutuhan Nasional.
V. DAFTAR PUSTAKA
1. Alma, Buchari, (2009). Kewirausahaan, Bandung : Penerbit ALFABETA Drucker, Peter F, Inovasi dan Kewiraswastaan : Praktek dan Dasar-Dasar (terjemahan) Jakarta : Erlangga, 1996
2. Drucker, Peter F, Inovasi dan Kewiraswastaan : Praktek dan Dasar-Dasar (terjemahan) Jakarta : Erlangga, 1996
4. Kasmir, (2006), Kewirausahaan, Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada