• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Sistem Hukum dunia dan sistem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "B. Sistem Hukum dunia dan sistem "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

B. Sistem Hukum

Dalam struktur sistem hukum didirikan atas tiga elemen yang mandiri (Achmad Ali, 1988: 24), yaitu :

1. Keseluruhan aturan-aturan, kaidah-kaidah, dan asas-asas yang dirumuskan ke dalam sistem pengertian.

2. Instellingen, atau organisasi atau pejabat pelaksana hukum yang keseluruhannya merupakan elemen operasional sistem hukum.

3. Beslissingen en handelingen, yaitu keputusan atau tindakan konkret para pejabat hukum atau masyarakat.

Mengukur hukum harus diletakkan pada delapan asas principle of legality, yaitu :

1. Suatu sistem hukum harus mengandung peraturan. 2. Peraturan yang telah dibuat harus diumumkan. 3. Tidak boleh ada peraturan yang berlaku surut.

4. Peraturan harus dibuat pada rumusan yang dapat dimengerti.

5. Peraturan tidak boleh dibuat yang bertentangan dengan peraturan lain. 6. Peraturan tidak boleh dibuat melebihi apa yang dapat dilakukan. 7. Tidak boleh ada kebiasaan untuk mengubah peraturan.

8. Harus ada kecocokan antara peraturan yang diundangkan dengan pelaksanaannya setiap hari.

1. Pengertian Sistem Hukum dan Unsur-Unsurnya

Kata “sistem” berarti suatu kesatuan atau kebulatan yang terdiri atas bagian-bagian, dimana bagian yang satu dengan bagian yang lainnya saling berkaitan satu sama lainnya, tidak boleh bertentangan.

Sistem hukum menurut Sudikno Mertokusumo, adalah suatu kesatuan utuh dari tatanan-tatanan yang terdiri atas bagian-bagian atau unsur-unsur yang satu sama lain saling berhubungan dan kait-mengkait secara erat.

Laurance M. Friedman (Achmad Ali, 2001: 7-8) membagi unsur-unsur sistem hukum pada 3 jenis , yaitu :

a. Substance (substansi hukum), yaitu hakikat dari isi yang dikandung dalam peraturan perundang-undangan.

(2)

1) Beteknis-system, yaitu keseluruhan aturan yang dirumuskan ke dalam sistem pengertian.

2) Instellingen, yaitu lembaga hukum dan ejabat pelaksana hukum. 3) Beslissingen en handelingen, yaitu putusan konkret dari pejabat

hukum maupun masyarakat.

c. Legal culture (kultur hukum), yaitu bagian-bagian dari kultur pada umumnya.

2. Sistem Hukum di Dunia

Secara umum, sistem hukum di dunia terbagi menjadi dua, yaitu :

a. Sistem hukum Common Law, yang dianut oleh negara-negara Anglo-Sakson, seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan sebagian besar negara persemakmuran lainnya.

b. Sistem hukum Civil Law, yang dianut oleh negara-negara Eropa daratan, seperti Belanda, Perancis, termasuk Indonesia (konkordansi dari Belanda).

Sistem hukum diatas memiliki persamaan dan perbedaan, persamaannya adalah keduanya tetap mengenal pembagian kekuasaan dari semua lembaga negara sebagaimana dimaksud pada teori pemisahan kekuasaan. Perbedaannya adalah :

a. Pada sistem hukum common law, pada umumnya didominasi hukum tidak tertulis melalui putusan hakim, sedangkan pada sistem hukum Eropa Kontinental didominasi hukum tertulis.

b. Pada sistem hukum common law, tidak ada pemisahan yang jelas antara hukum public dan hukum privat. Sedangkan pada sistem hukum Eropa Kontinental ada pemisahan yang jelas antara hukum public dan hukum privat.

3. Subsistem Peradilan

Berdasarkan pada dua jenis sitem hukum yang ada di dunia seperti dikemukan diatas, makas sistem peradila pun terdiri pula atas dua jenis yang mengikuti sistem hukumnya, yaitu sebagai berikut.

a. Sistem Peradilan “Common Law”

(3)

kemudian menentukan bersalah –tidaknya terdakwa. Di sini hakim diikat oleh suatu asas stare decisis, artinya putusan hakim terdahulu mengikat hakim-hakim lain untuk mengikutinya pada perkara sejenis. b. Sistem Peradilan “Eropa Kontinental”

Sistem Eropa Kontinental tidak mengenal sistem juri, tugas dan tanggung jawab hakim di sini adalah memeriksa langsung materi perkaranya, menentukan bersalah-tidaknya terdakwa, kemudian sekaligus menerapkan hukumnya. Metode berpikir hakim di sistem hukum ini merupakan deduktif, yaitu berpikir dari yang umum ke yang khusus.

4. Bentuk Penyelesaian Sengketa dalam Masyarakat

Bentuk penyelesaian sengketa yang ada di dunia terdiri atas dua jenis, yaitu :

a. Penyelesaian ligitasi, yaitu penyelesaian sengketa melalui jalur hukum yaitu pengadilan

b. Penyelesaian nonligitasi, ada 4 jenis yaitu ;

a) Perdamaian, yaitu penyelesaian sengketa yang dilakukan sendiri oleh pihak-pihak yang bersengketa.

b) Mediasi, yaitu penyelesaian sengketa para pihak dengan menggunakan jasa pihak ketiga (tidak formal) mediator, tetapi mediator tidak memutuskan, hanya sebagai perantara.

c) Konsiliasi, yaitu penyelesaian sengketa para pihak dengan menggunakan pihak ketiga yang ditunjuk oleh MA, tetapi tidak mandiri, dan juga tidak memutuskan sengketa para pihak.

(4)

BAB VII

ALIRAN-ALIRAN TEORI DALAM ILMU HUKUM

Beberapa pakar ilmu pengetahuan memberi pengertian tentang teori sebagai berikut.

1. Fred N. Kerlinger, menguraikan teori adalah sekumpulan konstruksi (kosep, definisi, dan dalil) yang saling terkait yang menghadirkan suatu pandangan secara sistematis tentang fenomena dengan menetapkan hubungan di antara variabel, dengan maksud menjelaskan dan meramalkan fenomena.

2. Kartini Kartono (1990: 2) menulis bahwa teori adalah suatu prinsip umum yang dirumuskan untuk menerangkan sekelompok gejala yang saling berkaitan.

Berbagai pertanyaan tentang hakikat hukum misalnya, memunculkan jawaban dan teori para juris yang didasarkan pada aliran pemikiran yang mereka anut. Aliran-aliran teori pemikiran tersebut, oleh kalangan juris banyak yang menyebutnya dengan “teori hukum”. Salah satunya adalah Satjipto Rahardjo (1986: 224) yang menyatakan, sebagai berikut.

Teori Hukum boleh disebut sebagai kelanjutan dari usaha mempelajari hukum positif, setidak-tidaknya dalam urutan yang demikian itulah, kita merekonstruksikan kehadiran teori itu secara jelas. Pada saat orang mempelajari hukum positif, maka ia sepanjang waktu berhadapan pada peraturan-peraturan hukum dengan segala cabang kegiatan dan permasalahannya, seperti pada keabsahannya, penafsirannya, dan sebagainya.”

Adapun aliran-aliran teori dalam kepustakaan ilmu hukum sesuai perkembangan, mencatat beberapa aliran teori hukum.

(5)

Aliran Hukum Alam menyebut “hukum itu langsung bersumber dari Tuhan bersifat Universal dan abadi, serta antara hukum moral tidak boleh dipisahkan”. Aliran ini dipelopori oleh Plato, Aristoteles, (murid Plato) dan Zeno (Pendiri Aliran Stoic).

Thomas Aquinas membagi hukum alam menjadi empat komponen, yaitu sebagai berikut.

a. Lex aeterna, yaitu rencana pemerintah sebagaimana dibuat oleh raja.

b. Lex naturalis, yaitu sebagian dari lex aeterna yang dapat ditangkap manusia melalui akal pikiran yang dianugerahkan oleh Tuhan kepadanya.

c. Lex divina, yaitu pelengkap asas-asas yang ada pada lex aeterna.

d. Lex humana, yaitu penyesuaian hukum dengan dalil-dalil akal.

1. Ajaran hukum alam di Yunani

a. Plato, memandang bahwa hukum alam adalah nilai-nilai ideal yang terwujud dalam keadilan yang harmoni, sebagaimana diperlihatkan oleh alam yang serba harmonis dan yang mengaturnya adalah rasio alam dan hukum yang abadi.

b. Aristoteles, memandang hukum alam dianggapnya sebagai hukum yang sewajarnya menurut kodrat. Aristoteles membagi keadilan menjadi dua jenis, yaitu keadilan distributif yaitu keadilan yang memberikan kepada setiap orang sesuai jatah jasanya, yang kedua adalah keadilan komutatif yaitu keadilan yang memberikan jatah sama banyaknya tanpa melihat jasanya.

(6)

2. Ajaran hukum alam di Romawi

a. Dipelopori oleh Cicero, bahwa hukum yang benar itu rasio kodrat, sesuatu hukum yang abadi dan tidak dapat berubah-ubah.

b. Gaius, menekankan ajarannya terhadap hukum alam sebagai hukum yang berlaku pada semua bangsa bersamaan bagi semua manusia.

B. Aliran Hukum Positivisme dan Utilitarinisme

Aliran positivis mengatakan, bahwa kaidah hukum itu hanya bersumber dari kekuasaan negara yang tertinggi, dan sumber itu hanyalah hukum positif yang terpisah dari kaidah sosial, bebas dari pengaruh politik, ekonomi, sosial dan budaya. Aliran ini dipelopori oleh John Austin yang sering disebut sebagai “Bapak Ilmu Hukum Inggris”, serta Hans Kelsen yang terkenal dengan teori hukum murni. Teori “Hukum Murni” Hans Kelsen menyatakan bahwa “Hukum adalah ilmu normatif yang murni dan tidak boleh dicemari oleh ilmu-ilmu politik, sosiologi, sejarah, dan etika”.

Hart (Dias, 1976: 451) salah seorang pengikut aliran positivis, memandang bahwa pada dasarnya positivis itu mengandung berbagai arti, yaitu sebagai berikut.

1. Hukum merupakan perintah yang berisi perintah.

2. Analisis atas konsep-konsep hukum adalah yang mempunyai nilai untuk dilakukan.

3. Keputusan-keputusan dapa dideduksikan secara logis dari peraturan-peraturan yang sudah ada, tanpa harus menunjuk pada tujuan-tujuan sosial.

4. Penghukuman secara moral tidak boleh ditegakkan dan dipertahankan oleh penalaran rasional.

5. Hukum yang diundangkan atau ditetapkan, harus senantiasa dipisahkan dari faktor yang diluar hukum yang seharusnya diciptakan. C. Aliran Historis

(7)

oleh Friedrich Carl Von Savigni (1779- 1861), seorang ahli hukum Jerman.

D. Aliran Sosiologis

Aliran Sosiologis pada prinsipnya mengatakan bahwa hukum itu adalah apa yang menjadi kenyataan dalam masyarakat, bagaimana secara fakta hukum diterima, tumbuh dan berlaku dalam masyarakat. Aliran ini dipelopori oleh Roscou Pound (Juris dari Amerika Serikat), Eugen Echrlich, Emil Durkheim, dan Mark Weber.

Teori Max Weber adalah teori perkembangan hukum, yang menganggap bahwa perkembangan hukum itu senantiasa selaras dengan perkembangan masyarakatnya.

E. Aliran Antropologi

Aliran Antropologi mengatakan, bahwa hukum itu adalah kaidah tidak tertulis yang hidup dan tumbuh secara nyata dalam masyarakat seiring dengan perkembangan kebudayaan. Salah satu pemikiran antropologi seperti ditulis oleh Satjipto Rahardjo (1986: 250), bahwa pemikiran antropologi modern yang cukup menarik perhatian para ahli hukum adalah adanya aliran kultural-fungsional.

F. Aliran Realis

Aliran Realis mengatakan, bahwa hukum itu apa yang dibuat oleh hakim melalui putusannya, dan hakim lebih layak disebut membuat hukum dari pada menemukan hukum. Aliran Realis ini dipelopori oleh Karl Lle wellyn (1893-1962), Jerome Frank (1841-1935), dan Hakim Ajgung Amerika Serikat Oliver Wendell Holmes (1841-1935).

1. Aliran realis di Amerika Serikat

Aliran ini menganggap hukum itu adalah semua yang dihasilkan oleh pengadilan sebagai suatu realitas dalam masyarakat.

Esensi ajaran Jerome Frank yang juga tergolong sebagai penganut ajaran realis Amerika Serikat, penulis simpulkan lima aspek (Achmad Ali, 1996: 309) sebagai berikut.

a. Memotivasi hakim untuk melakukan reformasi terhadap hukum untuk kepentingan keadilan.

(8)

c. Hukum tidak dapat disamakan dengan aturan-aturan yang tetap. d. Putusan hakim tidak diturunkan secara otomatis dari peraturan

tetap.

e. Putusan pengadilan bergantung pada berbagai faktor, seperti pada kaidah hukum dan faktor nonhukum.

G. Hukum Progresif

Satjipto Raharjo dalam bukunya “Penegak Hukum Progresif” (2010) Mengembangkan “Teori Progresif” dalam membahas konsep dan implementasi hukum yang memerdekakan secara global. Menurut Satjipto Raharjo pula, pada aspek lain penegakan hukum progresif warga masyarakat amat berperan dalam membangun hukum untuk mencapai tujuan asasinya.

Berdasarkan pemikiran yang dikemukakan Satjipto Rahardjo dari berbagai pemikiran dalam tulisannya, maka dapat disimpulkan ciri-ciri hukum progresif, yaitu :

a. Hukum progresif menempatkan diri sebagai kekuatan pembebas, yaitu membebaskan diri dari tipe, cara berpikir, asas, dan teori hukum yang legalistik-positivistik.

b. Hukum progresif lebih mengutamakan tujuan daripada prosedur. c. Hukum progresif menjunjung tinggi moralitas sebagai akar kehidupan

masyarakat.

Juga dapat disimpulkan tentang asumsi pentingnya konsep hukum progresif dalam menata atau mereformasi pembentukan dan pelaksanaan hukum di tengah masyarakat yang terus berubah, karena hal-hal berikut ini.

a. Hukum adalah untuk manusia, bukan sekedar untuk hukum itu sendiri.

b. Hukum bukanlah institusi yang absolut, otonom, dan final.

c. Hukum progresif pada dasarnya hukum yang prokeadilan, prorakyat, sekaligus antidsikriminasi dan antianarki.

(9)

BAB VIII

PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM

A. Pengertian Penemuan Hukum

Penemuan Hukum merupakan salah satu wadah yang dapat digunakan oleh hakim untuk mengisi kekosongan hukum, atau menafsirkan suatu kaidah peraturan perundang-undangan yang tidak atau kurang jelas.

1. Pengertian dalam arti sempit

(10)

Penafsiran itu sendiri merupakan salah satu metode dalam penemuan hukum. Penemuan hukum dalam arti sempit, dibedakan pula atas penemuan hukum perdata, penemuan hukum dalam perkara pidana, dan penemuan hukum dalam perkara tata usaha Negara, dengan menggunakan metode sumbsumptie.

Proses penerapan metode sumbsumptie, pertama-tama melihat terlebih dahulu gejala-gejala penyakitnya, kemudian mendiagnosis penyakit apa yang diderita pasien pasien berdasarkan gejala-gejalanya tadi, selanjutnya menentukan jenis obatnya.

2. Pengertian dalam arti luas

Penemuan Hukum dalam arti luas, adalah posisi hakim bukan lagi sekedar menerapkan peraturan hukum yang sudah jelas dengan mengocokannya pada kasus yang ditangani, melainkan sudah lebih luas.

B. Sejarah Penemuan Hukum

Penggunaan istilah “Penemuan hukum” memang mengandung arti luas, karena selain pembentukan hukum, juga hukum yang sebenarnya telah ada dan tinggal ditemukan hasil penemuan Hukum disebut doktrin, tidak langsung menjadi hukum tetapi hanya memilii kekuatan mengikat seperti putusan.

Penemuan hukum yang diharapkan dapat dilakukan oleh hakim, selain menfasirkan ketentuan undang-undang. Kelemahan dan ketertinggalan hukum dalam sejarah hukum, terutama pada pengkodifikasian hukum dan kaitannya dengan penemuan hukum. Kepustakaan Ilmu Hukum mencatatnya ada tiga fase, sebagai berikut. 1. Fase Sebelum Tahun 1800

(11)

Pada Fase ini, pembuat dan pelaksana hukum berada pada satu orang, yaitu raja. Apa yang diucapkan oleh raja, itulah hukum. Siapa yang melanggar hukum (ucapan raja), maka raja sendirilah yang menghukumnya. Fase ini biasa didebut dengan “pra-kodifikasi” dan hakim pada fase ini belum ada, karena raja sekaligus bertindak sebagai hakim.

2. Fase Pertengahan Abad ke-18

Pada fase ini sudah mulai dikenal hukum tertulis yang dimotivasi oleh lahirnya teori yang dikemukakan oleh Montesquieu dengan teorinya “Trias Politika” tentang “pemisahan kekuasaan” dalam bukunya “Esprit des Lois” (Azhary, 1986: 37). Teori ini mengatakan, ada tiga paham kekuasaan Negara yang harus dipisahkan, yaitu sebagai berikut:

a. Kekuasaan Legislatif, yaitu kekuasaan membuat Undang-undang. b. Kekuasaan Eksekutif, yaitu kekuasaan menyelenggarakan

Undang-undang.

c. Kekuasaan Yudikatif, yaitu kekuasaan untuk mengadili.

Atas dasar teori Montesquieu, kemudian timbul pula pemikiran untuk membuat kodifikasi hukum, yaitu pembentukan hukum tertulis secara sistematis, lengkap, dan jelas. Munculnya kodifikasi ini juga menimbulkan adanya aliran baru bernama aliran legisme, yang tidak mengakui adanya hukum tidak tertulis.

3. Fase Abad ke-19 (awal abad ke-19)

Sejak awal abad ke-19, timbullah sebagai hasil perenungan, bahwa ternyata dikodifikasi huikum itu belumlah lengkap, karena hukum (undang-undang) semakin tertinggal perkembangan masyarakat. Untuk mengantipasi ketertinggalan undang-undang yang dikodifikasi, diawali dengan lahirnya dua aliran di Jerman yang lebih lunak dari aliran legisma, yaitu Mazhab freirechtschule (Sudikno Mertokusumo, 1993: 10).

(12)

system asas-asas hukum dan pengertian dasar ditujukan pada setiap peristiwa dan dapat diterapkan kaidah yang cocok (begriffsjurisprudence). Agra juga menilai, bahwa hakim memang bebas dalam memberlakukan atau menerapkan undang-undang, tetapi ia tetap bergerak dalam sistem hukum yang tertutup.

C. Dasar Hukum Penemuan Hukum di Indonesia

Secara umum, dasar penemuan hukum di Indonesia selain karena adanya asas universal, juga tersirat dalam perundang-undangan, sebagai berikut.

1. Asas curia novit, yaitu “Hakim dianggap mengetahui hukum”, sehingga hakim tidak boleh menolak sesuatu perkara yang diajukan kepadanya dengan alasan peraturan kurang jelas atau tidak ada peraturannya. Suatu peristiwa atau perkara hukum yang kemungkinan belum ada ketentuannya, atau peraturannya ada tetapi kurang jelas, hakim tetap wajib memeriksa perkara tersebut sekaligus memutuskannya.

2. Pasal 27 ayat (1) UU Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, mengatur bahwa “Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat”. Ketentuan ini menuntun hakim, agar dalam menjatuhkan putusannya wajib memperhatikan dan memaknai nilai-nilai hukum, seperti perasaaan hukum dan kesadaran hukum masyarakat dalam menjatuhkan putusan.

(13)

menafsirkan ketentuan undang-undang dan menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Hakim dalam menjatuhkan putusan wajib memperhatikan dan menghormati nilai-nilai hukum yang dianut oleh warga masyarakat. Hakim jangan hanya menjadi “terompet undang-undang” dan kaku menerapkan undang-undang, karena undang-undang mempunyai semangat dan nilai tersendiri yang harus dilaksanakan dan ditegakan. Misalnya, ketentuan yang tidak sesuai lagi dengan kondisi masyarakat dan nilai-nilai yang dianutnya, sedpat mungkin tidak diterapkan. 3. Untuk mengisi kekosongan perundang-undangan atau hukum tertulis.

Untuk itu, suatu perkara yang tidak ada peraturannya, hakim tetap wajib memeriksa dan memutuskan perkara tersebut dengan menggunakan metode analogi terhadap suatu peraturan yang mirip dengan perkara yang diperiksa (khusus dalam perkara perdata, sedangkan dalam perkara pidana tidak dibenarkan menggunakan metode analogi).

Dasar dan alasan pemikiran untuk melakukan penemuan hukum oleh hakim adalah sebagai berikut:

1. Karena peraturannya tidak ada, tetapi esensi perkara sama atau mirip dengan suatu peraturan lain yang dapat diterapkan pada kasus tersebut.

2. Peraturannya memang ada, tetapi kurang jelas sehingga hakim perlu menafsirkan peraturan tersebut untuk diterapkan pada perkara yang ditangani.

(14)

sedangkan aliran konnservatif berpendapat bahwa hukum dan peradilan hanyalah untuk mencegah kemerosotan moral dan lain-lain.

Dalam proses pelaksanaan penemuan hukum, keputakaan ilmu hukum menentukan, bahwa hak melakukan tugas dan menurut dialakukan dalam tiga tahapan Sudikno Mertokusumo 1993: 91-92) sebagai berikut. 1. Tahap konstartir, yaitu hakim menyatakan benar terjadi peristiwa

konkret.

2. Tahap kualifikasi, yaitu hakim mengkualifikasi peristiwanya, termasuk hubungan yang menyebabkan perbuatan tersebut terjadi.

3. Tahap konstituir, yaitu hakim menetapkan hukumnya terhadap peristiwa yang diperiksa.

D. Perkembangan Penemuan Hukum

Aliran-aliran perkembangan antara tugas hakim dengan eksistensi Undang-undang dikenal dalam tiga aliran (Achmad Ali, 1996: 143-153), sebagai berikut:

1. Aliran pra-kodifikasi hukum (sebelum tahun 1818), belum dikenal adanya hukum tertulis atau kodifikasi hukum, dan hukum yang berlaku adalah hukum tidak tertulis atau hukum kebiasaan, sehingga penemuan hukum, hukum juga belum ada.

2. Aliran legis, menganggap undang-undang itu sudah lengkap, diluar undang-undang bukanlah hukum. Aliran ini memandang hakim sebagai pelaksana undang-undang belaka. Sama sekali tidak dikenal hukum sebagai akibat undang-undang dianggap sudah lenyap, sehingga tidak pelu ditafsirkan.

3. Aliran penemuan hukum oleh hakim, menganggap hukum atau undang-undang itu tidak lengkap, sehingga perlu diantisipasi dengan penemuan hukum oleh hakim.

Dalam perkembangan dan upaya hakim untuk melakukan penemuan hukum, terlebih pada efektivitas tugas hakim dengan keberadaan undang-undang, kepustakaan ilmu hukum membaginya dalam beberapa aliran (Achmad Ali, 1996: 153-154), sebagai berikut:

(15)

yang dilakukan masih terikat pada bunyi undang-undang. Aliran ini melihat hukum sebagai satu sistem atau satu kesatuan tertutup secara umum menguasai semua tingkah laku manusia. Pengertian hukum bukanlah sebagai sarana, melainkan sebagai tujuan, sehingga ajaran hukum menjadi ajaran tentang pengertian (begriffsyurisprudens) atau permintaan pengertian yang mengkultuskan rasio dan logika. Dengan demikian, kendati hakim bebas dari ikatan undang-undang, tetapi harus bekerja dalam sistem hukum yang tertutup.

2. Aliran freierechtschule (aliran hukum bebas), merupakan cara penemuan hukum yang member kebebasan pada hakim melalui metode “konstruksi hukum”. Hakim diberi kebebasan dalam menemukan hukum, dalam arti hakim bukan sekedar menerapkan undang-undang saja, melainkan juga memperluas dan membentuk hukum melalui putusannya.

3. Aliran soziologische-rechtshule yaitu hakim dalam menemukan hukum senantiasa memperhatikan kenyataan nilai-nilai hukum yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Hakim diharapkan dalam menafsirkan undang-undang senantiasa menyesuaikannya dengan nilai hukum dan kultur hukum yang dianut oleh warga masyarakat. Aliran ini juga tidak menyetujui apabila hakim hanya menjadi terompet undang-undang. Namun, pemberian kebebasan bagi hakim tidak disetujuinya, karena kemungkinan hakim dapat sewenang-wenang menafsirkan undang-undang.

(16)

bekerja atas dasar penilaian yang hasilnya merupakan perluasan atau sesuatu yang baru bagi masyarakat.

5. Aliran pemuan hukum heteronom dan otonom, penemuan hukum ini dibahas tuntas oleh Sudikno Mertokusumo (1993: 7-10). Penemuan hukum heteronom terjadi apabila hakim dalam melakukan penemuan hukum sepenuhnya tunduk pada undang-undang. Dengan demikian, hakim hanya sekedar mengkonstatir atau menerapkan bunyi dan maksud ketentuan undang-undang dengan peristiwa konkret yang diperiksanya. Penemuan hukum otonom terjadi apabila hakim dalam menjatuhkan putusan, dibimbing oleh pandangan-pandangan atau pikirannya sendiri. E. Metode Penemuan Hukum

Metode penemuan hukum oleh hakim dapat dilakukan dalam dua bentuk, sebagai berikut:

1. Interpretasi Hukum, yaitu penafsiran perkataan dalam Undang-undang, tetapi tetap berpegang pada kata-kata/ bunyi peraturannya.

2. Konstruksi Hukum, yaitu penalaran logis untuk mengembangkan suatu ketentuan dalam undang-undang yang tidak lagi berpegang pada kata-katanya, tetapi tetap harus memperhatikan hukum sebagai suatu sistem.

1. Metode Interpretasi Hukum

Metode interpretasi atau penafsiran hukum digunakan karena apabila suatu peristiwa konkret tidak secara jelas dan tegas dianut dalam suatu peraturan perundang-undangan. Berbagai jenis metode interpretasi disiapkan dalam teori hukum, sehingga hakim bebas memilih, mana yang paling cocok dengan peristiwa ysng sedang ditanganinya. Jenis-jenis metode penemuan hukum melalui interpretasi hukum adalah sebagai berikut:

(17)

undang, yaitu mencocokan fakta kasus dengan ketentuan undang-undang.

b. Interpretasi gramatikal, yaitu menafsirkan kata-kata yang ada dalam undang-undang sesuai dengan kaidah tata bahasa. Teks atau kata-kata dari suatu peraturan perundang-undangan dicari maknanya yang oleh pembentuk undang-undang digunakan sebagai symbol terhadap suatu peristiwa. Misalnya, ketentuan Pasal 101 KUHPidana tentang hewan, yaitu binatang ternak yang dipelihara.

c. Interpretasi ekstentif, yaitu penafsiran yang lebih luas dari pada penafsiran gramatikal, karena memperluas makna dari ketentuan khusus menjadi ketentuan umum sesuai dengan kaidah tata bahasanya. Disini tujuananya menafsirkan kaidah tata bahasa, karena menjadi jelas atau terlalu abstrak agar menjadi jelas dan konkret, perlu diperluas maknanya. Misalnya, kata pencurian barang dalam Pasal 362 KUHPidana, diperluas esensi makna terhadap aliran listrik sebagai benda yang tidak berwujud.

d. Interpretasi sistematis yaitu menafsirkan Undang-undang sebagai bagian dan keseluruhan sistem peraturan perundang-undangan. Misalnya, suatu peristiwa hukum yang tidak ada ketentuannya dalam undang-undang, maka hakim harus mencari ketentuan lain yang sesuai dan mirip dengan peristiwa konkret yang ditanganinya. e. Intrepretasi sosiologis atau teologis, yaitu menafsirkan makna atau

substansi undang-undang untuk diselaraskan dengan kebutuhan atau kepentingan warga masyarakat. Substansi yang ditekankan pada metode ini terletak pada tujuan kemasyarakatan, sehingga suatu peraturan perundangan-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan dinamika masyarakat dapat diabaikan oleh hakim, atau ketentuan itu membahayakan kehidupan masyarakat secara luas. f. Intrepretasi historis, dibagi atas dua jenis, yaitu sebagai berikut.

(18)

sumbernya dilihat pada catatan pembahasannya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

2) Penafsiran menurut sejarah hukum, mencari makna yang terkandung dari sejarah perkembangan hukum, seperti apa tujuan hukum sehingga korupsi dilarang.

g. Intrepretasi komparatif, yaitu membandingkan antara berbagai sistem hukum yang ada didunia, sehingga hakim bisa mengambil putusan yang sesuai perkara yang ditanganinya. Metode ini banyak digunakan dalam perjanjian internasional (hukum internasional). h. Intrerpretasi restriktif, yaitu penafsiran yang sifatnya membatasi

suatu ketentuan undang-undang terhadap peristiwa konkret. Di sini hakim membatasi perluasan berlakunya suatu undang-undang terhadap peristiwa tertentu untuk melindungi kepentingan umum. i. Interpretasi futurities, yaitu menjelaskan suatu undang-undang

yang berlaku sekarang (ius constitutum) dengan berpedoman pada undang-undang yang akan diberlakukan (ius constituendum). Misalnya, ketentuan ada dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) dijadikan dasar dalam menerapkan undang-undang yang sekarang berlaku, karena tujuan ketentuannya dengan kebutuhan/ kepentingan masyarakat.

2. Metode Konstruksi Hukum

Seperti telah dikemukakan di awal, bahwa metode penemuan hukum oleh hakim dapat dilakukan dengan cara konstruksi hukum, yaitu penaralan logis untuk mengembangkan suatu ketentuan dalam perundang-undang yang tidak lagi berpegang pada kata-kata, tetapi tetap harus memperhatikan hukum sebagai suatu sistem. Adapun jenis-jenis konstruksi hukum adalah sebagai berikut.

(19)

peristiwa khusus keperaturan yang bersifat umum. Inti dari penemuan hukum ini adalah mempersamakan dengan cara memperluas makna atau eksistensi suatu ketentuan undang-undang yang khusus menjadi ketentuan umum, dan tidak lagi berpegang pada bunyi ketentuannya, tetapi tetap menyatu dalam sistem hukum. Penemuan hukum dengan cara analog lebih sering digunakan dalam perkara perdata, tetapi tidak pada hukum pidana, karena menimbulkan polemik oleh para ahli hukum.

Misalnya, Ketentuan Pasal 1576 KUHPerdata yang hanya mengatur bahwa jual-beli tidak memutuskan sewa menyewa. Disini, hakim pertama-tama mencari esensi jual-beli, yaitu “peralihan hak”, sedangkan hibah dan wasiat juga esensinya peralihan hak. Dengan demikian, substansi dari jual-beli sama dengan “hibah dan wasiat” yaitu “peralihan hak”, sehingga hibah dan wasiat juga tidak memutuskan hubungan hukum sewa-menyewa.

b. Argumentum a’contrario, yaitu penalaran terhadap suatu penentuan undang-undang pada peristiwa hukum tertentu, sehingga secara a’concrario ketentuan,tersebut tidak boleh dibetrlakukan pada hal-hal lain atau kebalikannya (expressive unius est exclusion alterius, the mention of obe is the ezclusion of another).

Misalnya, ketentuan iddah (waktu tunggu) bagi seorang janda selama 130 hari, baru dibolehkan nikah atau kawin lagi dengan pria diatur dalam Pasal 39 PP Nomor 9 Tahun 1975, tidak boleh diberlakukan kebalikannya terhadap seorang duda.

c. Rechtsvervijnings (pengkonkretan hukum, tetapi ada juga yang mengartikan penyempitan atau penghalusan hukum), yaitu mengkonkretkan suatu ketentuan dalam undang-undang yang asbrak atau terlalu luas cakupannya sehingga perlu dikonkretkan oleh hakim.

(20)

d. Fiksi hukum (fictie), yaitu penemuan hukum dengan menggambarkan suatu peristiwa kemudian menganggapnya ada, sehingga peristiwa tersebut menjadi suatu fakta baru.

Referensi

Dokumen terkait

Metode Penemuan Hukum (Rechtsvinding ) yang dilakukan oleh hakim pada tindak pidana korupsi adalah pembentukan hukum secara operasional dilakukan dengan terlebih

Secara yuridis maupun filosofis, hakim Indonesia mempunyai kewajiban atau hak untuk melakukan penafsiran hukum atau penemuan hukum agar putusan yang diambilnya dapat sesuai

Matakuliah ini membahas tentang penegakan hukum, konsep dasar penemuan hukum, aliran-aliran dalam penemuan hukum, metode penemuan hukum, prosedur penemuan hukum,

Sehingga hakim akan menggunakan metode penemuan hukum yang sesuai dengan kasus yang dihadapinya (case by case), apakah itu salah satu metode interpretasi hukum

Kalau di dalam sistem hukum Eropa Kontinental “ hukum privat lebih dimaksudkan sebagai kaidah-kaidah hukum perdata dan hukum dagang yang dicantumkan dalam kodifikasi kedua hukum

hakim tidak menemukan hukum dalam hukum tertulis untuk dasar pertimbangan maka hakim dapat melakukan penemuan hukum ( rechtsvinding ). Hasil analisis penulis dari 5 putusan

Dalam proses penafsiran tersebut, hakim berusaha menyelesaikan persoalan hukum dengan cara memperlajari keputusan-keputusan hakim sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, hakim

Konstruksi Baru Perilaku Etik Hakim Berbasis Hukum Progresif Dimensi Ciri-Ciri Pandangan Dasar Cara Berpikir Cara Kerja Kualifikasi Pribadi Orientasi Kerja - Hakim mempunyai