• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimalisasi sistem manajemen keuangan terintegras

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Optimalisasi sistem manajemen keuangan terintegras"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

2 ABSTRAK

(2)

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Abstrak ... ii

Daftar Isi ... iii

Pendahuluan ... 4

Landasan Teori ... 7

Pembahasan ... 11

Kesimpulan dan Implikasi terhadap Bank Indonesia ... 21

Daftar Pustaka ... 22

Lampiran ... 23

(3)

I. PENDAHULUAN

Stabilitas keuangan erat kaitannya dengan kesehatan perekonomian suatu negara. Semakin sehat sektor keuangan di suatu negara, semakin sehat pula perekonomian, demikian pula sebaliknya. Tragedi krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 merupakan suatu kondisi terburuk yang menerpa perekonomian Indonesia. Seluruh sektor ekonomi di Indonesia terkena dampak dari krisis yang terjadi pada saat itu, sehingga menyebabkan lumpuhnya perekomomian nasional.

Krisis ekonomi telah membawa dampak yang serius terhadap perekonomian Indonesia, yang menimbulkan stagflasi dan instabilisasi perekonomian, menurunnya tingkat produksi secara drastis sebagai akibat tingginya ketergantungan produsen domestik terhadap barang dan jasa impor, laju inflasi yang tinggi, pemutusan hubungan tenaga kerja, menurunnya pendapatan masyarakat mengaibatkan turunnya daya beli masyarakat. Dampak dari krisis ekonomi masih dirasa pasca tahun 1998 dapat dilihat dari investor yang masih engga untuk melakukan investasi di Indonesia karena dirasa Indonesia pada saat itu masih belum bisa bangkit dari krisis ekonomi yang melanda.

(4)

adalah sector perbankan. Banyak bank-bank di Indonesia yang kolaps pada krisis 1997-1998, banyak bank yang terpaksa dilikuidasi karena memburuknya kondisi keuangan dan pelanggaran prinsip kehati-hatian oleh manajemen bank. Kondisi ini mengawali babak baru industri perbankan Indonesia. Diperlukan waktu yang lama untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap sistem keuangan. Berbagai upaya ditempuh Pemerintah Indonesia untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat pada sistem perbankan. Krisis tahun 1998 ini membuktikan bahwa stabilitas sistem keuangan merupakan aspek yang sangat penting dalam membentuk dan menjaga perekonomian yang berkelanjutan. Sistem keuangan yang tidak stabil cenderung rentan terhadap berbagai gejolak sehingga mengganggu perputaran roda perekonomian.

Salah satu faktor yang memicu terjadinya krisis adalah lemahnya system pengawasan perbankan oleh bank sentral yang menyebabkan kolapsnya perbankan di Indonesia pada tahun 1998, sehingga pada saat itu pemerintah dan DPR menyepakati untuk memisahkan kewenangan kebijakan makro dan mikro perbankan. Pasca krisis ekonomi 1998, pemerintah dan masyarakat bersama-sama membangun kembali perekomomian yang telah jatuh, mulai dari pembentukan kebijakan untuk mengatur ekonomi yang lebih baik, serta pembenahan bank-bank yang terkena dampak krisis yang terjadi di masa lalu.

(5)

pada sector perbankan sehingga diharapkan tidak terulang kembali tragedi yang menerpa perbankan pada tahun 1998.

Terbentuknya OJK juga dapat menimbulkan masalah salah satunya adalah ketidakefisienan proses distribusi informasi yang diperlukan Bank Indonesia dalam menjalankan tugas untuk menilai kondisi moneter nasional yang berkaitan dengan kondisi perbankan yang saat ini berada dibawah wewenang OJK. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pembagian tugas antara BI dan OJK yang masih belum jelas ditetapkan, sehingga hal tersebut dapat menimbulkan miskomunikasi antara BI dan OJK yang dapat menyebabkan terganggunya sistem keuangan Indonesia.

(6)

II. LANDASAN TEORI A. Perbankan

Definisi dari perbankan adalah merupakan sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usahah, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Booklet BI (2013). Perbankan di Indonesia memiliki fungsi sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Perbankan memiliki kedudukan yang strategis, yaitu sebagai penunjang kelancaran sistem pembayaran, pelaksanaan kebijakan moneter dan pembayaran. Untuk mencapai kebijakan moneter dan pencapaian stabilitas sistem keuangan diperlukan perbankan yang sehat, transparan dan dapat dipertanggung jawabkan.

Guna mendukung terwujudnya perekonomian nasional yang menekankan pada ekonomi kerakyatan, yang bersifat merata, mandiri, andal, berkeadilan, dan sejalan dengan tantangan perkembangan dan pembangunan ekonomi yang semakin maju serta mampu bersaing di kancah internasional yang semakin kompetitif dan terintegrasi, kebijakan moneter harus dititik beratkan pada upaya untuk memelihra stabilitas nilai rupiah. Maka dari itu diperlukan badan usaha yang memiliki tugas menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkanya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.

(7)

sebagai penjaga stabilitas moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta sebagai pengatur dan pengawas perbankan.

B. Sistem Pengawasan

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengatur dan pengawas, bank Indonesia dapat memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu bank, menetapkan peraturan, melaksanakan pengawasan bank serta mengenakan sanksi terhadap bank. Tujuan dari pengaturan dan pengawasan bank diarahkan untuk mengoptimalkan fungsi perbankan Indonesia agar tercipta sistem perbankan yang sehat secara menyeluruh maupun individual, dan mampu memelihara kepentingan masyarakat dengan baik, berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi perekonomian nasional. Seiring dengan pergeseran dan perubahan yang terjadi, untuk memperkuat fondasi sektor keuangan yang semakin kuat dan siap menghadapi tantangan globalisasi bank Indonesia membangun sistem keuangan yang berlandaskan pada sistem pengawasan yang terintregasi terhadap industri perbankan, industri keuangan non bank, dan pasar modal. Sehingga fungsi pengawasan bank Indonesia berpindah ke Otoritas Jasa Keuangan OJK) sejak tanggal 31 Desember 2013. Dalam menjalankan tugas pengawasan bank sebelum terbentuknya OJK, BI melaksanakan sistem pengawasannya dengan menggunakan 2 pendekatan yaitu:

1. Pengawasan berdasarkan kepatuhan (Compliance Based Supervision), yaiu pemantauan kepatuhan bank terhadap ketentuan-ketentuan yang terkait dengan operasi dan pengelolaan bank di masa lalu dengan tujuan untuk memastikan bahwa bank telah beroperasi dan dikelola secara baik dan benar menurut prinsip-prinsip kehati-hatian . Pengawasan terhadap pemenuhanaspek kepatuhan merupakan bagian yang tidak terpisah dari pelaksanaan Pengawasan Bank berdasarka resiko.

(8)

C. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Berdasarkan UU No.21 tahun 2011 Pembentukan OJK bertujuan agar seluruh kegiatan dalam sektor jasa keuangan terselenggara secara teratur, adil transparan dan akuntabel, serta mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil. Hal penting lain adalah agar seluruh kegiatan di sektor jasa keuangan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. Latar belakang dibentuknya OJK antara lain adalah makin kompleks dan bervariasinya produk jasa keuangan, dan globalisasi industri jasa keuangan, munculnya gejala konglomerasi perusahaan jasa keuangan, dan globalisasi industri jasa keuangan. Alasan lain rencana pembentukan OJK adalah karena pemerintah beranggapan BI, sebagai Bank Sentral telah gagal dalam mengawasi sektor perbankan. Bukti dari kegagalan tersebut dapat dilihat pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1997, sejumlah bank yang ada pada saat itu dilikuidasi

(9)
(10)

III. PEMBAHASAN

1. Menurut anda apakah beralihnya fungsi pengawasan bank dari Bank Indonesia

ke OJK akan mempengaruhi tugas Bank Indonesia untuk mencapai dan

menstabilkan nilai rupiah?

Tidak ada pengaruh yang signifikan dalam tugas yang dijalankan oleh Bank Indonesia untuk mencapai dan menstabilkan nilai rupiah sejak beralihnya fungsi pengawasan bank dari Bank Indonesia ke OJK, karena seperti yang tercantum pada pasal 7 UU tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang menyatakan bahwa tugas Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Hal ini menjelaskan bahwa Bank Indonesia merupakan lembaga yang menjalankan tugas untuk menjaga stabilitas nilai rupiah.

Salah satu wewenang yang masih melekat di Bank Indonesia pasca terbentuknya OJK adalah Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan, menarik, dan memusnahkan uang rupiah. Adapun salah satu cara dalam menjaga stabilitas nilai rupiah adalah dengan mengontrol jumlah uang rupiah yang beredar di masyarakat. Jika jumlah uang rupiah yang beredar dimasyarakat melebihi kapasitas (overload) maka akan berdampak pada jatuhnya nilai rupiah itu sendiri dan menyebakan dampak negative pada stabilitas nilai rupiah. Hal tersebut merupakan salah satu tugas Bank Indonesia untuk mengontrol jumlah uang rupiah dan uang asing yang beredar di masyarakat, sehingga stabilitas nilai rupiah dapat terjaga.

(11)

stabilitas nilai rupiah dengan memperhatikan kondisi kekinian dari perekonomian yang sedang terjadi. Namun Bank Indonesia tetap harus berkoordinasi dengan OJK untuk mengetahui kondisi kekininan perbankan karena bank memiliki peran dalam mempengaruhi nilai rupiah khususnya pada kegiatan system pembayaran.

2. Bank Indonesia bertugas menjalankan fungsi makro prudensial. Jelaskan

bagaimana pengawasan fungsi makro prudensial dapat mencegah krisis sistemik?

Pada dasarnya kebijakan makroprudensial bertujuan untuk mencegah terjadinya risiko sistemik, sedangkan kebijakan mikroprudensial bertujuan untuk menciptakan lembaga keuangan yang sehat. Ketahanan sektor keuangan terhadap krisis antara lain merupakan hasil dari upaya untuk: (i) menjaga kesehatan lembaga-lembaga keuangan; (ii) menjaga berlangsungnya proses intermediasi kredit dan pembiayaan agar mendukung roda perekonomian dengan berkesinambungan dan sehat; serta (iii) menjaga berfungsinya pasar keuangan yang mampu mengelola dan mengalokasikan dana secara efisien. Stabilitas sistem keuangan yang terjaga, maka stabilitas perekonomian secara makro pun akan terjaga dengan baik. Upaya untuk menjaga agar sistem keuangan memiliki ketahanan terhadap gejolak dan krisis memerlukan kebijakan makroprudensial. Kebijakan makroprudensial ditujukan untuk menjaga ketahanan sektor keuangan secara keseluruhan sehingga mampu untuk mengatasi risiko sistemik akibat gagalnya lembaga atau pasar keuangan yang berdampak menimbulkan krisis yang merugikan perekonomian ( Booklet Perbankan 2013)

Dalam rangka pengawasan makroprudensial, Bank Indonesia menggunakan berbagai indikator untuk mengidentifikasi sumber kerentanan di sistem keuangan yang dapat menimbulkan risiko sistemik. Indikator tersebut mencakup, antara lain:

1. Indikator makro ekonomi atau neraca lembaga keuangan dan sektor riil; 2. Indikator kerentanan di sektor eksternal;

3. Indikator konsentrasi risiko dan keterkaitan antar sektoral, termasuk antar lembaga keuangan di sektor keuangan maupun antara sektor keuangan dan sektor riil. (Booklet Perbankan 2013).

(12)

Indonesia dapat diperhatikan dari seiring dengan melambatnya perekonomian dunia, dimana kinerja impor Indonesia masih pada tahun 2012 masih lemah, sementara impor masih tinggi. Kondisi tersebut juga terjadi diberbagai negara di kawasan Asia khususnya Cina, India, Jepang, Singapura dan Indonesia. Pemenuhan untuk kebutuhan domestic serta investasi di Indonesia masih cukup kuat dalam menopang pertumbuhan ekonomi dunia, tetap perlu dilakukannya suatu untuk menekan kinerja ekspor Indonesia. Meskipun terdapat kekhawatiran bahwa pelemahan ekspor yang berkelanjutan akan menyebabkan penurunan kinerja keuangan eksportir dan berdampak pada kemampuannya memenuhi kewajiban kepada perbankan, namun pelemahan ekspor hanya terjadi pada ekspor dengan negara tujuan Amerika dan Eropa sehingga masih terdapat peluang untuk mengalihkan ekspor ke negara tujuan lainnya serta dapat memperkuat pasar dalam negeri mengingat pasar domestik masih cukup kuat.

Indikator kerentanan di sektor eksternal. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2012 kembali mengalami perlambatan menjadi sebesar 3,2% yoy atau lebih rendah dibandingkan prediksi IMF yang sebesar 3,3%. Perlambatan ini terutama didorong oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara maju. Kontraksi pertumbuhan ekonomi Kawasan Eropa yang cukup dalam di 2012 menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara maju di 2012 hanya tumbuh 1,3% yoy dari 1,6% yoy di 2011. Kontraksi pertumbuhan ekonomi juga dialami oleh negara-negara berkembang di Asia yang merupakan mitra dagang utama Indonesia yaitu Cina dan India, yang pada tahun 2012 hanya tumbuh masing-masing sebesar 7,8% dan 4,5%. Kondisi ini meningkatkan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia dan struktur keuangan walaupun masih terjaga ((Kajian Stabilitas Keuangan No. 20 Maret 2013).

Indikator konsentrasi risiko dan keterkaitan antar sektoral, termasuk antar lembaga

keuangan di sektor keuangan maupun antara sektor keuangan dan sektor riil.

(13)

ratio , serta mengendalikan arus masuk modal jangka pendek guna mengurangi dampak pembalikan arus modal terhadap stabilitas keuangan ( Booklet Perbankan 2013).

Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan makroprudensial yang terkait dengan kegiatan usaha bank berupa penitipan dengan pengelolaan (trust) yang merupakan tindak lanjut dari kebijakan mengenai penerimaan devisa hasil ekspor dan utang luar negeri melalui perbankan di dalam negeri. Pengaturan ini bertujuan untuk memberikan landasan hukum bagi kegiatan trust, yaitu pengelolaan devisa atau harta yang dititipkan oleh perbankan domestik. Pengelolaan devisa di dalam negeri diperlukan agar stabilitas pasokan devisa di pasar domestik relatif terjaga sehingga berdampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah (Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/ 17 /Pbi/2012 Tentang Kegiatan Usaha Bank Berupa Penitipan Dengan Pengelolaan (Trust). Selain itu, ketentuan tersebut juga bertujuan untuk mendorong penyediaan jasa-jasa keuangan yang lebih luas oleh perbankan domestik sehingga dapat meningkatkan daya saing serta berkontribusi terhadap penciptaan pasar keuangan yang aktif dan sehat.

Ke depan, BI akan menerapkan Basel III yang mencakup elemen pengaturan makroprudensial antara lain melalui: pemberlakukan leverage ratio ; countercyclical capital buffer ; dan liquidity coverage ratio (Kajian Stabilitas Keuangan No. 20 Maret 2013).

3. Bank Indonesia wewenang mengawasi sistem pembayaran di Indonesia,

sedangkan pengguna sistem pembayaran adalah perbankan dan lembaga

keuangan non- bank. Jelaskan bagaimanakah pentingnya pengawasan sistem

pembayaran bagi (i) stabilitas industri keuangan, dan (ii) perekonomian

Indonesia.

(14)

dan menjaga kelancaran system pembayaran. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Bank Indonesia harus memainkan peran efektif dalam pengembangan system pembayaran.

Menurut Sheppard dalam Subari (2003), keterlibatan atau peran bank sentral dalam system pembayaran secara umum meliputi empat hal yakni:

1. Pemakai system pembayaran; bank sentral mempunyai transaksi-transaki yang harus dilaksanakan, seperti setelmen dari operasi pasar terbuka, transaksi devisa, pembayaran tagihan, gaji pension, dan sebagainya.

2. Anggota system pembayaran; bank sentral perlu membayar dna menerima pembayaran atas nama nasabahnya sendiri, seperti pemerintah dan lembaga keuangan internasional.

3. Penyedia system pembayaran; bank sentral menyediakan fasilitas dan menyelanggarakan system pembayaran.

4. Pelindung kepentingan umum; sebagai regulator, pengawas anggota system pembayaran, administrasi pembayaran dan arbitrase dalam hal terjadi perselisihan.

Pentingnya keberadaan suatu system pembayaran dapat mendukung pelaksanaan tugas Bank Indonesia untuk memperkuat pengendalian moneter serta meningkatkan stabilitas dan keamanan sector indsutri keuangan termasuk perbankan. Namun setelah ditetapkannya UU RI No.21 Tahun 2011 tentang Otorias Jasa Keuangan (OJK), tugas Bank Indonesia dalam pengaturan dan pengawasan perbankan beralih ke OJK, sehingga saat ini pengaturan dan pengawasan mengenai perbankan sepenuhnya berada di OJK.

(15)

dilakukan dengan dibentuk media (forum) komunakasi dan konsultasi system pembayaran nasional untuk menyamakan kepentingan dan menampung kebutuhan pengguna dalam melakukan pembayaran.

Di tengah tren perlambatan kredit perbankan, ketahanan industri perbankan tetap solid tercermin pada rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang masih tinggi sebesar 18% dan berada jauh di atas ketentuan minimum 8%, serta rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross yang masih rendah sebesar 1,9% pada bulan Juni 2013. Kondisi likuiditas perbankan secara keseluruhan masih tejaga, meskipun Loan-to-Deposit Ratio (LDR) relatif tinggi yaitu 87,2% pada Juni 2013. Sementara itu, kredit melambat dari 21,0% (yoy) pada Mei 2013 menjadi 20,6% (yoy) pada Juni 2013, sejalan dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia terus mencermati pertumbuhan kredit yang masih cukup tinggi pada beberapa bank dan pada sejumlah sektor ekonomi, termasuk yang mempunyai kandungan impor tinggi, yang dikhawatirkan dapat mengganggu kinerja industri perbankan dan stabilitas sistem keuangan.

Peran sistem pembayaran dalam perekonomian Indonesia memiliki peran yang sangat penting dengan seiring dengan meningkatnya volume dan nilai transaksi dari kegiatan ekonomi yang terus meningkat. Dengan semakin meningkatnya transaksi tersebut, maka cenderung akan menimbulkan resiko yang besar yang berdampak pada terganggunya system pembayaran yang dapat membahayakan stabilitas system dan pasar keuangan secara keseluruhan.

4. Terkait dengan wewenang BI dalam penanganan krisis yang menbutuhkan aksi

yang cepat dan akurat, bagaimanakan sebaiknya sistem akses BI terhadap inform

asi dan pelaporan perbankan dan jasa keuangan yang saat ini berada secara

penuh pada OJK? Kaitkan dengan stabilitas sistem keuangan!

(16)

Untuk pelaksanaan tugas Bank Indonesia pasca-pengalihan fungsi pengawasan bank ke OJK juga dibentuk organisasi baru di bank Indonesia antara lain yaitu Departemen Kebijakan Makroprudensial dan Departemen Surveillance Sistem Keuangan yang akan menjadi partner langsung bagi OJK dalam koordinasi makro-mikroprudensial. Pada bidang sistem informasi, Bank Indonesia telah melakukan pemetaan seluruh sistem informasi serta infrastruktur teknologi infromasi di Bank Indonesia termasuk aplikasi yang akan digunakan oleh OJK atau Bank Indonesia ataupun bersama-sama. Selain itu Bank Indonesia bersama-sama dengan OJK juga menyiapkan infrastruktur jaringan dan teknologi informasi baik di Kantor Pusat, Kantor Regional maupun Kantor Cabang Pengawasan Bank dalam rangka pertukaran informasi dan pemantapan aplikasi perbankan di bidang mikro-makroprudensial (Laporan Deputi Gubernur Bidang 3 Bank Indonesia).

Mekanisme Sistem koordinasi yang cepat dan akurat yang dibutuhkan Bank Indonesia terhadap informasi dan pelaporan perbankan dan jasa keuangan yang saat ini berada secara penuh pada OJK pada dasarnya telah diatur dalam UU No 21 tentang OJK. Pada bab X tentang Hubungan Kelembagaan bagian kesatu koordinasi dan kerjasama.

Pada pasal 39 berbunyi Dalam melaksanakan tugasnya, OJK berkoordinasi

dengan Bank Indonesia dalam membuat peraturan pengawasan di bidang

Perbankan antara lain: (a) kewajiban pemenuhan modal minimum bank;(b) sistem

informasi perbankan yang terpadu;(c) kebijakan penerimaan dana dari luar negeri,

penerimaan dana valuta asing, dan pinjaman komersial luar negeri;(d) produk

perbankan, transaksi derivatif, kegiatan usaha bank lainnya;(e) penentuan institusi

bank yang masuk kategori systemically important bank; dan (f) data lain yang

dikecualikan dari ketentuan tentang kerahasiaan informasi.

Pada pasal 40 (1) Dalam hal Bank Indonesia untuk melaksanakan fungsi, tugas,

dan wewenangnya memerlukan pemeriksaan khusus terhadap bank tertentu, Bank

Indonesia dapat melakukan pemeriksaan langsung terhadap bank tersebut dengan

menyampaikan pemberitahuan secara tertulis terlebih dahulu kepada OJK. (2) Dalam

(17)

Indonesia tidak dapat memberikan penilaian terhadap tingkat kesehatan bank. (3)

Laporan hasil pemeriksaan bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

disampaikan kepada OJK paling lama 1 (satu) bulan sejak diterbitkannya laporan

hasil pemeriksaan.

Pada pasal 41 (1) OJK menginformasikan kepada Lembaga Penjamin Simpanan

mengenai bank bermasalah yang sedang dalam upaya penyehatan oleh OJK

sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal OJK

mengindikasikan bank tertentu mengalami kesulitan likuiditas dan/atau kondisi

kesehatan semakin memburuk, OJK segera menginformasikan ke Bank Indonesia

untuk melakukan langkah-langkah sesuai dengan kewenangan Bank Indonesia.

Pada pasal 42 Lembaga Penjamin Simpanan dapat melakukan pemeriksaan

terhadap bank yang terkait dengan fungsi, tugas dan wewenangnya, serta berkoordinasi

terlebih dahulu dengan OJK.

Pada pasal 43 OJK, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan wajib

membangun dan memelihara sarana pertukaran informasi secara terintegrasi.

Transfer informasi OJK kepada BI yang berkaitan stabilitas sistem keuangan juga telah di atur dalam UU No 21 Tahun 2011 tentang OJK pada bab X bagian kedua protokol koordinasi.

Pada pasal 44 (1)Untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, dibentuk Forum

Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan dengan anggota terdiri atas: a. Menteri

Keuangan selaku anggota merangkap koordinator; b. Gubernur Bank Indonesia selaku

anggota; c. Ketua Dewan Komisioner OJK selaku anggota; dan d. Ketua Dewan

Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan selaku anggota. (2) Forum Koordinasi

Stabilitas Sistem Keuangan dibantu kesekretariatan yang dipimpin salah seorang

pejabat eselon I di Kementerian Keuangan. (3) Pengambilan keputusan dalam rapat

Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan berdasarkan musyawarah untuk

mufakat. (4) Dalam hal musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud pada ayat

(3) tidak tercapai maka pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara

terbanyak.

(18)

Perbandingan tugas dan wewenang Bank Sentral di Indonesia dengan

negara-negara ASEAN

Indonesia Malaysia Thailand Filipina

(19)

dan penasehat pemerintah khsusnya dalam bidang

makroekonomi dan pengaturan utang pemerintah.

dan mendorong pembangunan system

pembayaran 7. mengawasi kinerja lembaga keuangan

(20)

IV. KESIMPULAN & IMKPLIKASI TERHADAP BANK INDONESIA

Stabilitas keuangan sangatlah berat dengan pertumbuhan perekonomian suatu negara. Krisis tahun 1998 mengingatkan pada pentingnya dalam mengatur, mengelola dan mengawasi jalannya stabilitas keuangan nasional yang merupakan tugas dari Bank Indonesia. Inti permasalahan dari kolapsnya sektor perbankan pada tahun 1998 adalah lemahnya pengawasan yang dilakukan bank sentral. Salah satu cara untuk mengoptimalkan pengaturan dan pengawasan sektor perbankan dan lembaga non-bank dibentuklah Lembaga Jasa Otoritas Keuangan pada tahun 2011 dan disahkan tahun 2013. Sebelumnya tugas dari OJK ini dilakukan oleh Bank Indonesia. Stabilitas keuangan juga dipengaruhi oleh sistem pembayaran yang sebagian penggunanya adalah perbankan dan lembaga keuangan non-bank, yang pada hal ini dibawah wewenang OJK.

(21)

DAFTAR PUSTAKA BUKU

Akhtar Akhmad, (2010). Bank Sentral dan Kebijakan Moneterdi Asia Pasifik, Jakarta: Rajawali pers

Subari, Sri Mulyati. (2003). Kebijakan Sistem Pembayaran di Indonesia. Jakarta:Ascarya

Mishkin, Fedric S. (2008). The Economics of Money, Banking and Financial Markets. Jakarta: Salemba empat

INTERNET

________, Laporan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang tahun 2012, http://www.bi.go.id, diakses pada 23 Maret 2014

________, Buletin ekonomi Moneter dan Perbankan Volume 16 Juli 2008,, http://www.bi.go.id, diakses pada 23 Maret 2014

________, Tinjauan Kebijakan Moneter Maret 2014, http://www.bi.go.id, diakses pada 24 Maret 2014

________, Booklet Perbankan Indonesia 2013 , http://www.bi.go.id, diakses pada 24 Maret 2014

________, Kajian Stabilitas Keuangan Nomer 20 Maret 2013, http://www.bi.go.id, diakses pada 24 Maret 2014

SKRIPSI

Afika, Yumna, Skripsi, Pengaruh Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Kewenangan Bank Indonesia Dibidang Pengawasan Perbankan, Fakultas Hukum Program Ilmu Hukum Universitas Indonesia, Depok, 2008

PERUNDANG-UNDANGAN

(22)
(23)

Referensi

Dokumen terkait

1) Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral dan kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga

Dari pengujian yang telah dilakukan terhadap 8 sampel yang diperoleh dari pasar Rukoh dan Peunayong diperoleh hasil bahwa semua sampel ikan asin positif

a. Program Pembimbingan Penjas adaptif disesuiakan dengan jenis dan karakteristik kelainan kelayan tunanetra. Hal ini dimaksutkan untuk memberikan kesempatan kepada kelayan

674 Berita acara Desa Rajagaluh lor pemilihan Kepala Desa dan perhitungan suara 1997 BUPATI. 675 Berita acara desa Rajagaluh kidul

Function tersebut berguna untuk mengambil data, menampilkan data yang telah diambil dan membandingkan produk yang telah dipilih oleh user.. Function Product

20.2 Penghentian kontrak dilakukan karena terjadinya hal-hal diluar kekuasaan (keadaan kahar) kedua belah pihak sehingga para pihak tidak dapat melaksanakan kewajiban yang

Stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung lebih dari 24 jam atau

Akan tetapi nomor anak pada anak- bab ditulis dengan satu angka Romawi dan dua angka Arab yang masing-masing dipisahkan oleh sebuah titik, angka Romawi menunjukkan nomor bab, angka