BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak adalah generasi masa depan suatu bangsa. Pembentukan
generasi masa depan bangsa yang kuat, cerdas, kreatif, dan produktif,
merupakan tanggung jawab semua pihak. Tumbuh kembang anak
secara optimal dalam semua aspek (jasmani, mental, pemikiran) berarti
harus mendapatkan perhatian semua pihak yakni: orang tua, sekolah
dan lingkungan masyarakat. Kebijakan pemerintah ikut menyukseskan
terwujudnya suatu generasi bangsa yang kuat, cerdas, kreatif, dan
produktif.
Pendidikan Agama Islam di sekolah berfungsi untuk:
(1). Pengembangan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt serta
akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin, yang telah
ditanamkan terlebih dahulu dalam lingkungan keluarga.
(2). Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
(3). Penyesuaian mental peserta didik terhadap lingkungan fisik dan
sosial melalui Pendidikan Agama Islam.
(4). Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta
dalam keyakinan, pengamalan, ajaran agama Islam dalam
kehidupan sehari-hari.
(5). Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif budaya asing yang
akan dihadapinya sehari-hari.
(6). Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum
(alam nyata dan tidak nyata), sistem dan fungsionalnya, dan.
(7). Penyaluran siswa untuk mendalami pendidikan agama ke jenjang
yang lebih tinggi.1
Berdasarkan fungsinya tersebut maka tujuan Pendidikan Agama
Islam di sekolah adalah untuk menumbuhkan dan meningkatkan
keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan,
penghayatan, pengamalan dan pengalaman peserta didik tentang agama
Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam
hal keimanan, ketaqwaan kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam
kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta
untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Hal ini juga sejalan dengan firman Allah Swt dalam Qs.
Shaad/38:29, yaitu:
Terjemahan:
Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar
mereka menghayati ayat-ayat-Nya agar orang-orang yang berakal
sehat mendapat pelajaran.2
Al-Qur’an diturunkan dan diimplementasikan isinya secara
menyeluruh. Orang yang mempergunakan akalnya yang sehat tentu
akan mengakui kebenaran isinya dan akan mengakui bahwa Al-Qur’an
itu bimbingan dari Allah.3 Tuntutan perbaikan kualitas pembelajaran
khususnya bidang Pendidikan Agama Islam dari sisi pemahaman agama
sudah baik, akan tetapi yang perlu diperhatikan apakah pengetahuan
agama tersebut dapat diimplementasikan siswa sehari-hari. Salah
satunya adalah implementasi melalui pelaksanaan ibadah dalam hal ini
salat. Khususnya siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado
terlihat dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara
umum sangat antusias, namun yang perlu diperhatikan bagaimana
implementasi dari pengetahuan agama tersebut dalam bentuk
pengamalan ibadah. Hal ini yang menjadi tujuan akhir dari pembelajaran
Pendidikan Agama Islam pada tingkat Sekolah Menengah Pertama.
2Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Duta Ilmu Surabaya, 2006), h. 651.
Penelitian Roviqo, menunjukkan ada hubungan yang signifikan
antara Pendidikan Agama Islam dengan pengamalan nilai-nilai Islami
siswa. Terdapat kesamaan dengan penelitian ini yaitu berkaitan dengan
membangun kualitas Pendidikan Agama Islam yang pada akhirnya siswa
dapat mengamalkan nilai-nilai agama tersebut dalam kehidupan
sehari-hari.4
Demikian pula, penelitian Arif Oktiana menunjukkan bahwa
Pendidikan Agama Islam di lingkungan sekolah mempengaruhi perilaku
beragama siswa. Jadi, lingkungan sekolah berperan dalam upaya
peningkatan kualitas pengamalan siswa dalam mengamalkan agama di
lingkungan keluarga masing-masing.5
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal terlihat bahwa
pengamalan ibadah siswa khususnya pada tingkat Sekolah Menengah
Pertama dinilai masih kurang, terlihat dibeberapa sekolah ketika sudah
waktunya untuk menunaikan salat Zuhur masih banyak siswa yang tidak
melaksanakannya, kebanyakan siswa melaksanakan salat ketika ada
guru piket atau guru yang mengarahkan siswa tersebut. Hal ini
4Roviqo, Hubungan Pendidikan Agama Islam dengan Pengamalan Nilai-Nilai Islami Siswa (Studi Penelitian di SMPN 10 Kota Tangerang Selatan), Jurnal. Vol.8 No. 56 tahun 2009. UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta:www.syarifhidayatullah.go.id di-download tanggal 12 Mei 2016
mengindikasikan bahwa belum adanya kesadaran dari siswa untuk
melaksanakan salat secara berjamaah. Jadi, pada aspek pengamalan
ibadah khususnya pelaksanaan salat memang dianggap masih kurang,
sehingga perlu ada perbaikan-perbaikan dalam bentuk bimbingan
kepada siswa untuk taat melaksanakan salat. Hal ini searah dengan hasil
wawancara dari guru Pendidikan Agama Islam bahwa masih banyak
siswa yang melaksanakan salat ketika diarahkan oleh guru, siswa
tersebut melaksanakan salat dan ketika tidak ada guru maka
kebanyakan siswa tidak melaksanakan salat.6
Berdasarkah hasil wawancara awal dengan beberapa guru
Pendidikan Agama Islam tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota
Manado diperoleh hasil bahwa dari aspek penilaian rata-rata pada
kategori baik (80-100). Namun dari aspek pengamalan ibadah siswa
dianggap masih kurang, indikasinya banyak anak-anak Sekolah
Menengah Pertama yang terlibat dalam tawuran pada setiap kelurahan
di Kota Manado. Di samping itu juga pada waktu-waktu salat terutama
Zuhur dan Asar ketika berkumandang azan masih banyak siswa yang
tidak terpanggil untuk menunaikan salat. Hal ini menunjukkan bahwa
pengamalan ibadah siswa khusus Sekolah Menengah Pertama masih
kurang. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler berupa tadzkir belum dapat
dilaksanakan dengan baik, hanya sebahagian kecil siswa-siswa yang
terlibat dalam kegiatan tadzkir, sehingga untuk memberikan kesadaran
dan pencerahan terhadap siswa tersebut belum dapat dilaksanakan
dengan baik.7
Dari permasalahan-permasalahan sebagaimana uraian di atas
maka perlu dilakukan penelitian pengaruh antara, hasil belajar
Pendidikan Agama Islam, dan pengalaman ekstrakurikuler tazkir
terhadap pengamalan ibadah siswa. Penelitian ini dilaksanakan di Kota
Manado dan difokuskan pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah
Pertama. Penelitian ini menguraikan pengaruh hasil belajar Pendidikan
Agama Islam, dan pengalaman ekstrakurikuler tazkir terhadap
pengamalan ibadah siswa khususnya siswa pada tingkat Sekolah
Menengah Pertama di Kota Manado. Hal ini penting karena pada
tingkatan Sekolah Menengah Pertama merupakan tahap perkembangan
siswa di mana dibutuhkan penanaman karakter melalui pengamalan
ibadah, yang relevansi dengan pengajaran mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam. Konsep dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
bukan hanya pada aspek pengetahuan, melainkan juga bagaimana
pengimplementasian atau pengamalan ibadah siswa tersebut dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka diidentifikasi
beberapa permasalahan, yaitu:
1. Hasil belajar agama siswa. Berkaitan dengan hasil belajar siswa
khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada
tingkat Sekolah Menengah Pertama, secara rata-rata masih pada
kategori baik, namun ada beberapa siswa yang masih perlu dibina.
Masih banyak siswa yang pada ulangan harian dapat mengisi soal
dengan baik, akan tetapi pada ulangan semester ataupun kenaikan
kelas seringkali mempunyai nilai yang rendah, hal ini menjadi
indikasi bahwa hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
masih rendah.
2. Pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di
Kota Manado. Terlihat masih banyak siswa yang belum
melaksanakan ibadah dengan baik, di mana ketika pelaksanaan
salat Zuhur masih banyak siswa yang tidak melaksanakan salat
secara berjamaah.
3. Ekstrakurikuler Tadzkir. Ekstrakurikuler tadzkir merupakan
program-program yang dilaksanakan oleh sekolah, yang bertujuan untuk
meningkatkan kompetensi siswa mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam dan sebagai ajang silaturahmi antar teman. Selama ini di
hanya sebagai pelengkap kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, akan
tetapi belum terlaksana dengan baik, di mana tidak memberikan
dampak yang positif terhadap siswa, seperti contoh: masih banyak
siswa yang tidak aktif dalam kegiatan tadzkir, hanya siswa-siswa
tertentu yang aktif saja.
C. Batasan Masalah
Permasalahan penelitian ini dibatasi pada Pengaruh Hasil Belajar
Pendidikan Agama Islam dan Pengalaman Ekstrakurikuler Tadzkir
terhadap Pengamalan Ibadah Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri
di Kota Manado.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka yang menjadi pokok
permasalahan dalam tesis ini adalah
1. Apakah terdapat pengaruh hasil belajar Pendidikan Agama Islam
terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama di
Kota Manado?
2. Apakah terdapat pengaruh pengalaman kegiatan ekstrakurikuler
tadzkir terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah
Pertama di Kota Manado?
3. Apakah secara simultan terdapat pengaruh hasil belajar Pendidikan
terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama di
Kota Manado?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka yang menjadi
tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh hasil belajar Pendidikan
Agama Islam terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah
Menengah Pertama di Kota Manado.
2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengalaman
ekstrakurikuler tadzkir terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah
Menengah Pertama di Kota Manado.
3. Untuk menguji dan menganalisis secara simultan pengaruh hasil
belajar Pendidikan Agama Islam dan pengalaman ekstrakurikuler
tadzkir terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah
Pertama di Kota Manado.
F. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Praktis
a. Sebagai bahan pertimbangan yang dapat digunakan oleh
sekolah-sekolah di Kota Manado untuk meningkatkan kualitas
ibadah bagi siswa muslim
b. Sebagai bahan pertimbangan yang dapat digunakan oleh
pengetahuan bagi siswa muslim khususnya mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam
c. Sebagai bahan pertimbangan yang dapat digunakan oleh
sekolah-sekolah di Kota Manado untuk meningkatkan kualitas
pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tadzkir
2. Kegunaan Teoretis
a. Sebagai pengembangan ilmu Pendidikan Agama Islam,
berkaitan dengan pengamalan ibadah siswa baik di rumah
maupun di sekolah
b. Sebagai pengembangan ilmu pendidikan Agama Islam, berkaitan
dengan hasil belajar pada siswa Sekolah Menengah Pertama
tentang mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
c. Sebagai pengembangan ilmu pendidikan Agama Islam, berkaitan
dengan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tadzkir pada
BAB II
KAJIAN TEORETIK
A. Deskripsi Teori
1. Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam
Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah
laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.8 Hasil belajar
merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses
evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan
berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.9
Benjamin S. Bloom dalam Dimyati dan Mudjiono menyebutkan
enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
a. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang
telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu
berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori,
prinsip, atau metode.
8Sudjana Nana, Penilain Hasil Proses Belajar Mengajar (Edisi V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 3.
b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan
makna tentang hal yang dipelajari.
c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan
kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
Misalnya, menggunakan prinsip.
d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke
dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat
dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi
bagian terkecil.
e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
Misalnya kemampuan menyusun suatu program.
f. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang
beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya,
kemampuan menilai hasil ulangan.10
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan
bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi
yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan
menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
Hasil belajar yang dicapai oleh para pelajar menggambarkan
hasil usaha yang dilakukan oleh guru dalam memfasilitasi dan
menciptakan kondisi kegiatan belajar mereka. Oleh sebab itu, untuk
mengetahui seberapa jauh tujuan itu tercapai, ia perlu mengetahui
tipe hasil belajar yang akan dicapai melalui kegiatan mengajar.11
Guru yang ingin menyempurnakan pengajarannya perlu
mengevaluasi pengajaran itu sehingga diketahui perubahan apa
yang seharusnya diadakan. Salah satu jalan yang sangat penting
untuk melakukan hal itu adalah mengevaluasi hasil belajar yang
telah dicapai oleh pelajar. Dengan demikian dua kegiatan tersebut
tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Artinya evaluasi
terhadap guru seharusnya tidak dipisahkan dari evaluasi terhadap
hasil belajar. Implikasinya, jika guru ingin memiliki dasar yang
memadai untuk menentukan kualitas pengajarannya, ia harus
melakukan evaluasi terhadap hasil belajar secara teliti.12
Belajar agama sangat penting bagi remaja. Pada saat seperti
ini, remaja membutuhkan pegangan yang kukuh untuk menentukan
11Suparta dan Herry Noer Aly, Op.cit,. h. 52.
sikap. Berhikmat kepada agama akan memberikan pegangan dan
dukungan moral yang remaja butuhkan untuk melalui masa ini.13
Ditinjau dari segi bahasa (Etimologi) secara umum dalam
bahasa Arab kata pendidikan biasa disebut dengan tarbiyah.
Penggunaan istilah tarbiyah berasal dari kata rabb. Kata rabb
menurut Abul A’la Al-Maududi, yang dikutip Ramayulis dalam Ilmu
Pendidikan Islam yaitu terdiri dari dua huruf “ra” dan “ba” tasydid
yang merupakan pecahan dari kata tarbiyah yang berarti pendidikan,
pengasuhan, dan kemampuan.14
Istilah lain dari pendidikan adalah ta’lim, Menurut Dr. Abdul
Fattah Jalal, pengarang “Min al-Usuul at-Tarbawiyah fii al-Islam”
merupakan pross yang terus menerus diusahakan manusia sejak
lahir, sehingga satu segi telah mencakup aspek kognisi dan pada
segi lain tidak mengabaikan aspek afeksi dan psikomotor, yang
menjadi dasar pandangnya pada hal tersebut bahwa Rasulullah Saw
diutus sebagai Mu’alim (pendidik), dan Allah menegaskan posisi
13Husni Thoyar, Pendidikan Agama Islam Untuk SMP Kelas IX (Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Dikbud, 2011), h.10.
Rasulullah Saw itu dalam Qs. Al-Baqarah/2:151, yaitu:
Terjemahan:
Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), serta mengajarkan apa yang
belum kamu ketahui.15
Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa
untuk meningkatkan (mempengaruhi) si anak ke kedewasaan yang
selalu diartikan mampu memikul tanggung jawab moril dari segala
perbuatannya. Orang dewasa yang dimaksud disini harus diakui
haknya oleh si anak didik dan mendapat kepercayaan untuk
mencapai hasil baik dalam usahanya.16
Pendidikan menurut Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
15Departemen Agama RI, Alqur’an dan Terjemahannya, Loc. Cit,. h. 29.
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan Negara.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara sadar baik dalam
bentuk formal dan non formal untuk perkembangan anak didik dan
peranannya dimasa yang akan datang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan penuh atau
hasil belajar, yaitu:
a. Bakat untuk mempelajari sesuatu
Bakat misalnya intelegensi, mempengaruhi prestasi belajar.
Korelasi antara bakat, misalnya untuk matematika dan prestasi
untuk bidang studi itu setinggi 70. Hasil itu akan tampak jika
kepada murid dalam suatu kelas diberikan metode yang sama
dan waktu belajar yang sama. Atas kenyataan itu timbul
kepercayaan pada guru bahwa matematika, ilmu pengetahuan
alam, dan lain-lain hanya dapat dikuasai oleh sebagian dari
murid-murid saja, yaitu mempunyai bakat khusus untuk mata
pelajaran yang bersangkutan itu saja.
b. Mutu Pengajaran
Pengajaran klasik tidak dapat ditiadakan karena akan
dalam belajar. Yang diperhatikan adalah kelas sebagai
keseluruhan. Dalam satu jam pelajaran selama sekitar 40-45
menit sukarlah bagi guru untuk memberi waktu yang cukup bagi
setiap anak dalam kelas yang terdiri atas lebih dari 40 murid.
Guru mencoba menyesuaikan pengajarannya dengan
kemampuan anak rata-rata, yaitu kepada anak yang sedang. Ia
tahu bahwa ia terpaksa menghambat kemajuan anak-anak yang
cepat serta mengabaikan anak-anak yang lambat yang kian lama
kian jauh ketinggalan.
c. Kesanggupan untuk memahami pengajaran
Jika murid tidak dapat memahami apa yang dikatakan atau
disampaikan oleh guru, atau bila guru tidak dapat berkomunikasi
dengan murid, maka besar kemungkinan anak murid tidak dapat
menguasai mata pelajaran yang diajarkan oleh guru itu.
d. Ketekunan
Ketekunan itu nyata dari jumlah waktu yang diberikan oleh murid
untuk belajar mempelajari sesuatu memerlukan jumlah waktu
tertentu. Jika anak memberikan waktu yang kurang daripada
yang diperlukannya untuk mempelajarinya, maka ia tidak akan
menguasai bahan itu sepenuhnya. Dengan waktu belajar
dimaksud jumlah waktu yang digunakannya untuk kegiatan
e. Waktu yang tersedia untuk belajar
Dalam sistem pendidikan kita kurikulum dibagi dalam bahan
yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, misalnya
untuk satu semester atau satu tahun. Guru dapat
menguraikannya menjadi tugas bulanan dan mingguan.
Maksudnya ialah agar bahan yang sama dikuasai oleh semua
murid dalam jangka waktu yang sama. Dapat dipahami bahwa
waktu yang sama untuk bahan yang sama tidak akan sesuai bagi
semua murid berhubung dengan perbedaan individual.17
Pendidikan Agama Islam harus mengacu atau memperhatikan
perkembangan siswa dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Untuk itu dalam mengembangkan materi Pendidikan Agama Islam
setidaknya mengacu pada:
a. Mengacu pada sumber-sumber standar belajar Agama Islam,
antara lain: Al-Qur’an standar Departemen Agama Republik
Indonesia, kitab Hadis standar, Ensiklopedi Islam, dan berbagai
sumber acuan lain yang telah diakui kevalidannya.
b. Penyusunan buku ini menggunakan pendekatan Contextual
Teaching and Learning dan Student Centered Education.
Pendekatan ini menjadikan kehidupan sehari-hari siswa sebagai
media belajar untuk menemukan konsep, sekaligus penerapan
konsep yang ditemukan siswa. Dengan demikian, proses
pembelajaran akan lebih bermakna.
c. Setiap konsep diikuti dengan kegiatan yang mengarah pada
kecakapan hidup (Life Skill) bagi siswa. Setiap konsep yang
ditampilkan selalu diikuti dengan satu bentuk kegiatan yang
menunjang tingkat penguasaan siswa akan materi yang
dipelajari. Cakupan kegiatan yang ditampilkan pun cukup luas,
mulai dari berdiskusi, praktik, mengamati, meneliti, membuat
laporan, dan lain sebagainya.
d. Menyajikan materi terkini. Hal ini penting agar siswa tidak
tertinggal perkembangan terkini terkait materi yang dipelajari.
Disajikan dengan tampilan yang menarik dengan filosofi
pembelajaran yang terarah. Hal ini terlihat dalam pemilihan rubrik
yang memuat pesan tertentu kepada siswa.18
Isi pendidikan Islam selanjutnya ialah:
a. Amal saleh, saling mengingatkan agar menaati kebenaran (isi ini
sejalan dengan ilmu yang bertujuan menyingkap hakikat dan
mencari kebenaran).
b. Saling mengingatkan agar menetapi kesabaran (isi ini
melambangkan pendidikan akhlak, karena kesabaran
merupakan inti akhlak yang disebut di dalam Al-Qur’an lebih dari
seratus kali).
c. Isi pendidikan Islam yang terakhir adalah pendidikan sosial,
mencakup kerja sama dalam menumbuhkan keimanan dan amal
saleh serta saling mengingatkan agar menaati kebenaran dan
menetapi kesabaran.19
2. Kegiatan Ekstrakurikuler Tadzkir
Istilah ekstrakulikuler secara etimologi terdiri dari “ekstra” dan
“kurikuler”. Ekstra artinya tambahan di luar yang seharusnya
dikerjakan. Sedangkan kurikuler berkaitan dengan kurikulum, yaitu
perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada suatu lembaga
tertentu. Akan tetapi mengingat pengertian kurikulum mengalami
banyak perkembangan, maka kurikulum tidak lagi hanya sekedar
jumlah mata pelajaran yang harus dilalui melainkan program yang
disiapkan suatu lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu.
Program itu berisi rumusan rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, bahan pelajaran, dan cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu.20
Pendidikan di sekolah secara umum menyelenggarakan 2 (dua)
kegiatan, yaitu kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan
ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran
yang sudah terstruktur dan terjadwal. Sedangkan pendidikan melalui
mata pelajaran yang terstruktur dan terjadwal sesuai dengan standar
isi, termasuk kegiatan intrakurikuler. Adapun kegiatan ekstrakurikuler
Pendidikan Agama Islam di sekolah adalah kegiatan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam yang dilakukan di luar jam pelajaran
intrakurikuler, yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah
untuk lebih memperluas pengetahuan, wawasan, kemampuan,
meningkatkan dan menerapkan nilai pengetahuan dan kemampuan
yang telah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler yang dituangkan
dalam standar kompetensi kelompok mata pelajaran agama dan
akhlak mulia. Dalam panduan pengembangan diri yang diterbitkan
oleh Departemen Pendidikan Nasional, ekstrakurikuler adalah
kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu
pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi,
bakat dan minat. Pengertian ekstrakurikuler yang terdapat pada
Peraturan Menteri Agama No 16 tahun 2010 bahwa kegiatan
ekstrakurikuler adalah upaya pemantapan dan pengayaan nilai-nilai
dan norma serta pengembangan kepribadian, bakat dan minat
peserta didik pendidikan agama yang dilaksanakan di luar jam
intrakurikuler dalam bentuk tatap muka atau non tatap muka.21
Berikut merupakan beberapa alasan betapa pentingnya
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tadzkir di sekolah:
Pertama, Kegiatan ekstrakurikuler dapat mengembangkan
bakat yang dimiliki oleh peserta didik sekolah tersebut. Contoh, jika
peserta didik memiliki bakat musik dapat bergabung dalam kegiatan
musik sekolah seperti marching band, atau band sekolah. Sebab
tujuan pertama dari kegiatan ini adalah memberi tempat dan
mengembangkan bakat yang dimiliki oleh peserta didik. Sehingga
bakat dan minat peserta didik dapat ditampung, dikembangkan dan
dikoordinasi dengan tepat.
Kedua, Kegiatan ekstrakurikuler dapat memperluas pergaulan
remaja. Misalnya peserta didik menekuni kegiatan basket, ketika
terdapat pertandingan dengan sekolah lain, maka hal tersebut
merupakan peluang peserta didik untuk mendapatkan teman baru.
Ketiga, Kegiatan sekolah ini, efektif dalam usaha pencegahan
kenakalan remaja. sebab remaja tidak memiliki waktu untuk
memikirkan hal-hal yang kurang bermanfaat. Selain itu peserta didik
juga memiliki lingkungan pergaulan yang sehat dan mendapat
pengawasan serta pembimbingan yang baik.
Keempat, Kegiatan ini, akan semakin mengasah bakat kreatif
remaja. Misalnya peserta didik yang mengikuti kelas seni tari
modern, biasanya mereka akan mencoba membuat koreografi tarian
modern sendiri.
Kelima, Kegiatan sekolah ini, bila ditekuni akan berbuah
prestasi yang dapat dibanggakan. Bukan hanya dapat dibanggakan
bagi peserta didik tersebut tetapi juga bagi sekolah yang
bersangkutan, seperti popularitas sekolah semakin baik. Sedangkan
bagi peserta didik, prestasi tersebut dapat membuahkan beasiswa
peserta didik, meningkatkan rasa percaya diri, dan dapat menarik
perhatian lawan jenisnya, hingga menjadi seorang idola remaja.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar
mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu
pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi,
bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus
diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang
berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah.22
Salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah adalah kegiatan
tadzkir. Kata tadzkir secara umum memiliki arti yang sama dalam
beberapa konteks, yakni dengan arti “peringatan”. Baik dalam
penyebutan bersamaan dengan kata-kata ayat (ةيا ), kata-kata yang
disebutkan sebelum atau sesudahnya, al-Quran (نارقلا) , wa’dun (دعو),
ataupun makna tersirat yang menyertai kata tadzkir.23
Peringatan disini juga beragam bentuknya, seperti:
a. Peringatan akan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran) Allah, hal ini
berarti kita diperintah untuk memperhatikan dengan seksama
terhadap tanda-tanda tersebut.
b. Mengingatkan bahwa Al-Quran adalah peringatan, hal ini berarti
kita diperintah untuk mempelajari Quran karena dalam
Al-Quran itu terdapat sumber pengetahuan dan solusi pemecahan
masalah dalam kehidupan.
c. Peringatan akan peristiwa terdahulu, hal ini mengajarkan kepada
kita untuk tidak bersikap dan bertindak seperti umat terdahulu
yang mendustakan para Nabi yang datang pada mereka.
d. Peringatan akan janji Allah, mengingatkan pada kita untuk
meyakini bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu pasti
terlaksana, dan kita tidak boleh ragu sedikitpun akan janji-janji
Allah tersebut.24
Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap
remeh. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tak salah dalam
memilihnya. Untuk itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Saw bersabda: Seseorang
itu mengikuti agama temannya. Oleh karena itu, kamu harus hati-hati terhadap temanmu. (H.R. At.Tirmidzi dan Abu Dawud).
Sudah dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa
mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat
seseorang. Jadi hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya untuk
pelaksanaan tadzkir. Diharapkan pelaksanaan tadzkir akan
24Sakinah, Loc.cit,. h. 4.
25Abu Dawud Sulaiman Bin al Sijistani, Sunan Abi Dawud, Bab Man Ya’muru an
berdampak positif pada perilaku siswa baik di sekolah maupun di
rumah.
Fungsi ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam pada Sekolah
Menengah Pertama dalam hal ini kegiatan tadzkir, yaitu26:
a. Pembinaan, yaitu membentuk perilaku Islami dalam kehidupan
sehari-hari dan memberikan bantuan klinis bagi peserta didik
yang mengalami kesulitan dalam penguasaan kompetensi
Pedidikan Agama Islam;
b. Pengembangan, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi
untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui
perluasan bakat, minat, dan kreativitas;
c. Sosial, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan tanggung jawab sosial
keagamaan peserta didik. Kompetensi sosial dikembangkan
dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
memperluas pengalaman, praktik keterampilan sosial, dan
internalisasi nilai moral dan nilai sosial keagamaan;
d. Rekreatif, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam
suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan sehingga
menunjang proses perkembangan peserta didik. Kegiatan
ekstrakurikuler harus mengembangkan kehidupan budaya Islami
di sekolah yang lebih menarik bagi peserta didik;
e. Persiapan karier, yaitu untuk mengembangkan kesiapan karier
peserta didik melalui pengembangan kapasitas dan kompetensi
PAI.
Tujuan Ekstrakurikuler tadzkir pada mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam, yaitu:
a. Meningkatkan kemampuan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan peserta didik.
b. Mengembangkan bakat dan minat peserta didik dalam
pembinaan kepribadian muslim.
c. Mewujudkan budaya keberagamaan (religious culture) pada
tingkat satuan pendidikan.
d. Meningkatkan syi’ar Islam.
Prinsip penyelenggaraan ekstrakurikuler tadzkir mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam untuk Sekolah Menengah Pertama, yaitu27:
a. Bersifat individual, yaitu dikembangkan sesuai dengan potensi,
bakat, dan minat peserta didik masing-masing.
b. Bersifat wajib, bagi peserta didik yang belum menguasai
kompetensi Pendidikan Agama Islam tertentu.
c. Bersifat pilihan, yaitu dikembangkan sesuai dengan minat dan
diikuti oleh peserta didik secara sukarela.
d. Partisipasi aktif, yaitu menuntut keikutsertaan peserta didik
secara penuh sesuai dengan minat dan pilihan masing-masing.
e. Menyenangkan, yaitu dilaksanakan dalam suasana yang
menggembirakan bagi peserta didik.
f. Membangun etos kerja, yaitu dikembangkan dan dilaksanakan
dengan prinsip membangun semangat peserta didik untuk
berusaha dan bekerja dengan giat dan baik.
g. Kemanfaatan sosial, yaitu dikembangkan dan dilaksanakan bagi
peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat.
h. Bernuansa Islami, yaitu penyelenggaraan ekstrakurikuler
dilandasi dengan nilai-nilai Islam.
Format Kegiatan Ekstrakurikuler tadzkir, yaitu28:
a. Individual, yaitu kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam
format yang diikuti oleh peserta didik secara perorangan.
b. Kelompok, yaitu kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam
format yang diikuti oleh kelompok-kelompok peserta didik.
c. Klasikal, yaitu kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam
format yang diikuti oleh peserta didik dalam satu kelas.
d. Gabungan, yaitu kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam
format yang diikuti oleh peserta didik antar kelas dan
e. Lapangan, yaitu kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan dalam
format yang diikuti oleh seorang atau sejumlah peserta didik
melalui kegiatan di luar sekolah atau kegiatan lapangan.
Penyelenggara kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama
Islam adalah satuan pendidikan. Adapun pembina kegiatan adalah
guru Pendidikan Agama Islam dibantu oleh guru bidang studi yang
beragama Islam atau tenaga pengajar yang memiliki kompetensi dan
bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah.
3. Pengamalan Ibadah Siswa
Pengamalan mempunyai arti proses, perbuatan, cara
mengamalkan, melaksanakan, pelaksanaan penerapan, proses
(perbuatan) menunaikan kewajiban, tugas.29 Dalam Al-Quran banyak
ayat-ayat yang mendorong manusia untuk beramal soleh seperti
yang terkandung dalam Qs. Al Hajj/22:50, yaitu:
Terjemahan:
Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,
mereka memperoleh ampunan dan rejeki yang mulia.30
Pengamalan (ibadah) dalam agama Islam hanya diperuntukan
bagi Tuhan semata-mata. Ibadah merupakan tujuan penciptaan
manusia sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Qs. Adz
-Dzariyat/51:56 sebagai berikut:
Terjemahan:
Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka
beribadah kepada-Ku.31
Dalam pengertian ibadah dan hakikatnya, bahwa ibadah
disyaratkan dari dua perkara, yaitu:
a. Mengerjakan setiap perkara yang disyariatkan Allah dan
mengikuti apa yang diserukan oleh Rasul-Nya, meliputi segala
perintah dan larangan-Nya yang dihalalkan dan yang
diharamkan. Inilah perkara yang mendekati unsur taat dan
tunduk kepada Allah.
30Departeman Agama RI, Loc.cit,. h.470.
b. Mengeluarkan ketetapan ini (yang disyariatkan) dari hati untuk
mencintai Allah Ta’ala praktis dalam keberadaan dirinya tiada
seorang pun yang lebih patut dicintai selain Allah saja. Dia
adalah dzat yang mempunyai Al-Fadlil (anugerah) dan Al-Ishan
(kebaikan) yang menciptakan manusia. Dia diciptakan untuk
manusia, segala sesuatu yang ada di bumi, padanya dicukupkan
segala kenikmatan, baik yang lahir maupun yang batin. Dia
menciptakan manusia sebaik-baiknya ciptaan dan memberinya
rupa sebaik-baik rupa, manusia diberikan kemuliaan dan
anugerah melebihi kemuliaan dan anugerah yang diberikan pada
makhluk Tuhan yang lain.32
Islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu:
menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah
Subhanahu wa ta'ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas
agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada salat, saum
dan haji, tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan
niat untuk Allah semata merupakan ibadah."33
Pengenalan Allah dengan cara yang sederhana. Pada periode
ini dikenalkan kepada anak tentang Allah 'azza wajalla dengan cara
32Yuli Setyaningsih, Pendidikan Agama Islam (Edisi Pertama; Yogyakarta: Gemar Membaca, 2009), h. 27.
yang sesuai dengan pengertian dan tingkat pemikirannya. Diajarkan
kepadanya:
a. Bahwa Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya.
b. Bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu. Pencipta langit, bumi,
manusia, hewan, pohon-pohonan, sungai dan lain-lainnya.
Pendidik dapat memanfaatkan situasi tertentu untuk bertanya
kepada anak, misalnya ketika bejalan-jalan di taman atau
padang, tentang siapakah Pencipta air, sungai, bumi, pepohonan
dan lain-lainnya, untuk menggugah perhatiannya kepada
keagungan Allah.
c. Cinta kepada Allah, dengan ditunjukkan kepadanya
nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah untuknya dan untuk keluarganya.
Misalnya, anak ditanya: Siapakah yang memberimu
pendengaran, penglihatan serta akal? Siapakah yang
memberimu kekuatan dan kemampuan untuk bergerak?
Siapakah yang memberimu rezeki dan makanan untukmu dan
keluargamu? Demikianlah, ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat
yang nyata dan dianjurkan agar cinta dan syukur kepada Allah
atas nikmat yang banyak ini. Metode ini disebutkan dalam Al
Qur'an, dalam banyak ayat Allah menggugah minat para
Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam proses
pendidikan. Hal itu disebabkan oleh fungsi-fungsi yang dipikulnya,
yaitu:
a. Tujuan pendidikan mengarahkan perbuatan mendidik. Fungsi
ini menunjukkan pentingnya perumusan dan pembatasan
tujuan pendidikan secara jelas. Tanpa tujuan yang jelas,
proses pendidikan akan berjalan tidak efektif dan tidak
efisien, bahkan tidak menentu dan salah dalam
menggunakan metode, sehingga tidak mencapai manfaat.
b. Tujuan pendidikan mengakhiri usaha pendidik. Apabila
tujuannya telah tercapai, maka berakhir pula usaha tersebut.
Usaha yang terhenti sebelum tujuannya tercapai,
sesungguhnya belum dapat disebut berakhir, tetapi hanya
mengalami kegagalan yang antara lain disebabkan oleh tidak
jelasnya rumusan tujuan pendidik.
c. Tujuan pendidikan disatu sisi membatasi lingkup usaha suatu
pendidikan, tetapi disisi lain mempengarhui dinamikanya. Hal
ini disebabkan pendidikan merupakan usaha berproses yang
di dalamnya usaha-usaha pokok dan usaha-usaha parsial
saling terkait. Tiap-tiap usaha memiliki tujuannya
lebih umum, sedangkan usaha-usaha parsial memiliki tujuan
yang lebih rendah dan lebih spesifik.
d. Tujuan pendidikan memberi semangat dan dorongan untuk
melaksanakan pendidikan. Hal ini berlaku juga pada setiap
perbuatan. Sebagai contoh: seorang diperintah untuk berjalan
di jalan tertentu tanpa dijelaskan kepadanya mengapa ia
harus menempuh jalan itu atau tanpa diberi kesempatan
untuk memilih jalan lain. Dengan perintah yang demikian,
barangkali orang itu akan berjalan ragu-ragu, akibatnya ia
akan berjalan lamban. Lain halnya apabila dijelaskan
kepadanya bahwa di jalan itu ia akan mendapatkan kebun
yang indah serta pemiliknya seorang yang ramah dan suka
mengajak orang-orang yang lewat untuk makan bersamanya,
sementara kebetulan ia sedang lapar, tentu ia akan
menempuh jalan itu dengan penuh semangat.34
Tujuan instruksional, disebut tujuan pengajaran,
menggambarkan bentuk tingkah laku atau kemampuan yang
diharapkan dapat dimiliki pelajar setelah proses belajar mengajar.
Merumuskan tujuan khusus secara jelas berdasarkan tingkah laku
yang dapat diamati dan diukur sangat penting. Terdapat beberapa
alasan mengapa tujuan perlu dirumuskan secara khusus:
a. Membatasi tugas dan menghilangkan segala kekaburan dan
kesulitan di dalam penafsiran.
b. Menjamin dilaksanakannya proses pengukuran dan penilaian
yang tepat, dan karenanya dapat membantu didalam
menetapkan kualitas dan efektifitas pengalaman belajar.
c. Memungkinkan guru dan pelajar dapat membedakan diantara
macam dan kelompok tingkah laku yang berbeda-beda, dan
karenanya dapat membantu mereka dalam memutuskan strategi
yang paling optimal untuk keberhasilan belajar.
d. Merupakan suatu rangkuman yang lengkap untuk pelajaran yang
akan diberikan dan dapat berfungsi sebagai pedoman awal untuk
belajar.35
Ilmu pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang
proses kependidikan yang didasarkan pada nilai-nilai filosofis ajaran
Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah Nabi Muhammad Saw,
dengan redaksi yang sangat singkat ilmu pendidikan Islam adalah
ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Dua definisi ilmu
pendidikan Islam tersebut, selain menjelaskan karakteristiknya,
secara implisit menunjukkan adanya dua konsep yang melandasi
rancang bangun ilmu pendidikan Islam yaitu konsep education
academic dan konsep paedagogic.36
Ilmu pendidikan Islam yang berkarakter Islam itu adalah ilmu
pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai luhur yang terdapat di
dalam Al-Qur’an dan Sunah. Karakter ajaran Islam yang selanjutnya
menjadi karakter ilmu pendidikan
Islam tersebut menjadi pembeda antara ilmu pendidikan yang
berasal dari barat dengan ilmu pendidikan Islam.37
Penekanan pendidikan Islam pada “bimbingan”, “bukan
pengajaran” yang mengandung konotasi otoritatif pihak pelaksana
pendidikan, katakanlah guru. Dengan bimbingan sesuai dengan
ajaran-ajaran Islam, maka anak didik mempunyai ruang gerak yang
cukup luas untuk mengaktualisasi segala potensi yang dimilikinya.
Disini sang guru lebih berfungsi sebagai fasilitator atau penunjuk
jalan kearah penggalian potensi anak didik. Dengan demikian guru
bukanlah segala-galanya, sehingga cenderung menganggap anak
didik bukan apa-apa, selain manusia yang masih kosong yang perlu
36Nata Abuddin, Ilmu Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Multidisipliner (Cet. II; Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h. 13.
diisi. Guru menghormati anak didik sebagai individu yang memiliki
berbagai potensi.38
Jika kita renungi hakikat ibadah, kita pun yakin bahwa perintah
beribadah itu pada hakikatnya berupa peringatan, memperingatkan
kita menunaikan kewajiban terhadap Allah yang telah melimpahkan
karunia-Nya.
Ibadah itu, mensyukuri nikmat Allah. Atas dasar inilah tidak
diharuskan baik oleh syari’at. maupun oleh akal beribadat kepada
selain Allah, karena Allah sendiri yang berhak menerimanya,
lantaran Allah sendiri yang memberikan nikmat yang paling besar
kepada kita, yaitu hidup, wujud dan segala yang berhubungan
dengan-Nya.39
Meyakini benar, bahwa Allah yang telah memberikan nikmat,
maka mensyukuri Allah itu wajib, salah satunya dengan beribadah
kepada Allah, karena ibadah adalah hak Allah yang harus dipatuhi.
Untuk mengetahui ruang lingkup ibadah ini tidak terlepas dari
pemahaman terhadap pengertian itu sendiri. Ibadah mencakup
semua bentuk cinta dan kerelaan kepada Allah Swt, baik dalam
38Azra Azyumardi, Pendidikan Islam “Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru” (Cet. IV; Jakarta: Logos. Wacana Ilmu, 2002), h. 6.
perkataan maupun perbuatan, lahir dan batin, maka yang termasuk
ke dalam hal ini adalah salat, zakat, puasa, haji, benar dalam
pembicaraan, menjalankan amanah, berbuat baik kepada orang tua,
menghubungkan silaturahmi, memenuhi janji, amar ma’ruf nahi
munkar, jihad terhadap orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada
tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan ibn sabil, berdo’a, berzikir,
membaca Al-Qur’an, ikhlas, sabar, syukur, rela menerima ketentuan
Allah Swt, tawakal, raja’ (berharap atas rahmat), khauf (takut
terhadap azab), dan lain sebagainya.40
Ruang lingkup ibadah yang dikemukakan Ibnu Taimiyah di atas
cakupannya sangat luas, bahkan menurut beliau semua ajaran
agama itu termasuk ibadah. Bilamana diklasifikasikan kesemuanya
dapat menjadi beberapa kelompok saja, yaitu41:
a. Kewajibaban-kewajiban atau rukun-rukun syariat seperti salat,
puasa, zakat dan haji.
b. Yang berhubungan dengan (tambahan dari)
kewajiban-kewajiban di atas dalam bentuk ibadah-ibadah sunah seperti
zikir, membaca Al-Qur’an, doa dan istigfar.
40Rahmat Ritonga, Ensiklopedia Islam. Jilid 4 (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve. 1993), h. 340
c. Semua bentuk hubungan sosial yang baik serta pemenuhan
hak-hak manusia, seperti berbuat baik kepada orang tua,
menghubungkan silaturahmi, berbuat baik kepada anak yatim,
fakir miskin dan ibnu sabil.
d. Akhlak insaniyah, (bersifat kemanusiaan), seperti benar dalam
berbicara, menjalankan amanah dan menepati janji.
e. Akhlak rabbaniyah (bersifat ketuhanan), seperti mencintai Allah
Swt, dan Rasul-rasul-Nya, takut kepada Allah Swt, ikhlas dan
sabar terhadap hukum-Nya
Hal ini dapat dikatakan lebih khusus lagi ibadah dapat
diklasifikasikan menjadi ibadah umum dan ibadah khusus. Ibadah
umum mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, yaitu mencakup
segala amal kebajikan yang dilakukan dengan niat ikhlas dan sulit
untuk mengemukakan sistematikanya. Tetapi ibadah khusus
ditentukan oleh syara’ (Nash), bentuk dan caranya. Oleh karena itu
dapat dikemukakan sistematikanya secara garis besar sebagai
berikut: Thaharah, Salat, Penyelenggaraan jenazah, Zakat, Puasa,
Haji dan Umrah, Iktikaf, Sumpah dan Kafarat, Nazar, Qurban dan
Aqiqah.42
Ibadah mempunyai tujuan pokok dan tujuan tambahan. Tujuan
pokoknya adalah menghadapkan diri kepada Allah yang Maha Esa
dan mengkonsentrasikan niat kepada-Nya dalam setiap keadaan.
Dengan adanya tujuan itu seseorang akan mencapai derajat yang
tinggi di akhirat. Tujuan tambahan yang dimaksud adalah agar
terciptanya kemaslahatan diri manusia dan terwujudnya usaha yang
baik. Salat umpamanya, disyariatkan pada dasarnya bertujuan untuk
menundukan diri kepada Allah Swt dengan ikhlas, mengingatkan diri
dengan berzikir. Sedangkan tujuan tambahannya antara lain adalah
untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar.
B. Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian Roviqo, berjudul Hubungan Pendidikan Agama Islam
dengan Pengamalan nilai-nilai Islam Siswa Studi Penelitian di SMPN 10
Kota Tangerang. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan ada
hubungan yang signifikan antara Pendidikan Agama Islam dengan
pengamalan nilai-nilai Islami siswa. Ada kesamaan dengan penelitian ini
yaitu berkaitan dengan membangun kualitas Pendidikan Agama Islam
yang pada akhirnya siswa dapat mengamalkan nilai-nilai agama tersebut
dalam kehidupan sehari-hari.43
Penelitian Arif Oktiana, yang berjudul Pengaruh Pendidikan Agama
Islam di lingkungan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat Terhadap
Perilaku Beragama Siswa Kelas VIII SMP Negeri Yogyakarta. Intinya
Pendidikan Agama Islam di lingkungan sekolah mempengaruhi perilaku
beragama siswa. Jadi lingkungan sekolah berperan dalam upaya
peningkatan kualitas pengamalan siswa dalam mengamalkan agama di
lingkungan keluarga masing-masing.44
Penelitian Eri Hendro Kusuma, berjudul: Implementasi Pendidikan
Karakter Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Di SMAN 02 Kota Batu. Hasil
Penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1). Kegiatan
ekstrakurikuler di SMA Negeri 02 Batu dilaksanakan pada hari Sabtu
mulai pukul 07.30 sampai 11.30 WIB. Kegiatan ekstrakurikuler berfungsi
sebagai wadah untuk pengembangan potensi siswa, sehingga mereka
memiliki bekal berupa keterampilan untuk masa depannya. Jumlah jenis
kegiatan ekstrakurikuler di SMAN 02 Batu sebanyak dua puluh tujuh,
akan tetapi untuk jenis kegiatan ekstrakurikuler yang mengandung nilai
nasionalisme masih kurang. (2). Secara umum nilai karakter yang
dikembangkan di SMAN 02 Batu adalah karakter siswa yang disiplin,
tanggung jawab, dan kerjasama. Dari psikososial dapat digambarkan
nilai-nilai karakter yang terkandung pada setiap kegiatan ekstrakurikuler.
Olah hati karakter yang dikembangkan adalah peduli sosial dan
lingkungan, hidup sehat, disiplin, tanggung jawab, religius dan berjiwa
Qur’ani. Olah pikir karakter yang dikembangkan adalah mandiri, cinta
ilmu, rasa ingin tahu, jujur, gemar membaca, berpikir logis dan kritis,
jujur, komunikatif, menghargai keberagaman, disiplin, tanggung jawab.
Olah raga karakter yang dihasilkan adalah kerjakeras, kerjasama,
disiplin, jujur, percaya diri, sportivitas, tanggung jawab, kekeluargaan.
Olah rasa dan karsa karakter yang dihasilkan adalah menghargai karya
orang lain, kreatifitas, mandiri, tanggung jawab, jujur, cinta tanah air,
cinta teknologi. (3). Secara umum pola yang dilakukan oleh sekolah
untuk mengembangkan nilai karakter adalah dengan cara pemberian
sanksi bagi siswa yang tidak disiplin, tidak tanggung jawab dan tidak
kompak, hal ini sejatinya tidak relevan dengan desain induk pendidikan
karakter yang menyatakan bahwa penciptaan pendidikan karakter pada
lingkungan disatuan pendidikan formal dan nonformal dapat dilakukan
melalui: 1) penugasan, 2) pembiasaan, 3) pelatihan, 4) pengajaran, 5)
pengarahan, serta 6) keteladanan. Kemudian pola pengembangan nilai –
nilai pendidikan karakter pada masing-masing kelompok ekstrakurikuler
meliputi pembiasaan dengan latihan secara rutin, penugasan, simulasi
atau praktek secara langsung sudah sesuai dengan amanat pendidikan
karakter. (4) Efektifitas kegiatan ekstrakurikuler sebagai instrumen
pengembangan pendidikan karakter di SMAN 02 Batu dilihat dari faktor
ekstrakurikuler di SMAN 02 Batu dan faktor individu siswa yang
mendukung adanya kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan penuh pada
hari Sabtu. Ketidakefektifan kegiatan ekstrakurikuler sebagai instrumen
pengembangan pendidikan karakter di SMAN 02 Batu disebabkan oleh
faktor sarana dan prasarana yang digunakan dalam kegiatan
ekstrakurikuler masih banyak yang kurang, kesadaran beberapa pelatih
dan siswa yang masih kurang, serta masih kurangnya jenis
ekstrakurikuler yang mengandung nilai-nilai nasionalisme Indonesia.45
Penelitian Riyadi, yang berjudul: Pengaruh Pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam Terhadap Pengamalan Ibadah Siswa (Studi
kasus di SMP Muhammadiyah Salatiga Tahun 2012). Penelitian ini
merupakan salah satu upaya untuk mengetahui hasil dari proses belajar
mengajar yang ada di SMP Muhammadiyah Salatiga Tahun 2012.
Penemuan dari penelitian ini menggunakan cara penyebaran angket
dengan mengambil sampel 80 siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah
Salatiga. Dari penyebaran angket tersebut menunjukkan bahwa (1)
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Salatiga
dalam kategori baik atau tinggi, (2) Pengamalan ibadah siswa SMP
Muhammadiyah Salatiga dalam kategori sedang, (3) Tidak ada pengaruh
yang signifikan antara pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dengan
pengamalan ibadah siswa di SMP Muhammadiyah Salatiga tahun 2012.
Dengan demikian hipotesis alternatif yang berbunyi “Pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam memiliki pengaruh terhadap pengamalan
ibadah siswa” yang diajukan ditolak. Kesimpulan yang dapat diambil dari
penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang positif antara variabel X
dengan variabel Y sehingga memang tidak ada pengaruhnya antara
pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dengan pengamalan ibadah siswa
kelas VIII SMP Muhammadiyah Salatiga tahun 2012.46
Berdasarkan penelitian di atas terlihat ada pengaruh yang signifikan
antara kegiatan ekstrakurikuler dengan pengamalan ibadah siswa.
Begitu juga dengan pengetahuan dan pengamalan ibadah siswa.
Berdasarkan penelitian yang relevan tersebut maka akan diteliti
pengaruh antara motivasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan
kegiatan ekstrakurikuler tadzkir terhadap pengamalan ibadah pada siswa
tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado.
C. Kerangka Teoretik
1. Pengaruh hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
terhadap pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama di
Kota Manado
Setiap konsep diikuti dengan kegiatan yang mengarah pada
kecakapan hidup (Life Skill) bagi siswa. Setiap konsep yang
ditampilkan selalu diikuti dengan satu bentuk kegiatan yang
menunjang tingkat penguasaan siswa akan materi yang dipelajari.
Cakupan kegiatan yang ditampilkan pun cukup luas, mulai dari
berdiskusi, praktik, mengamati, meneliti, membuat laporan, dan
lain.47
Menyajikan materi terkini. Hal ini penting agar siswa tidak
tertinggal perkembangan terkini terkait materi yang dipelajari.
Disajikan dengan tampilan yang menarik dengan filosofi
pembelajaran yang terarah. Hal ini terlihat dalam pemilihan rubrik
yang memuat pesan tertentu kepada siswa.48
Dari uraian di atas maka dapat dimaknai bahwa dengan
pengetahuan yang baik tentang Pendidikan Agama Islam maka akan
mempermudah untuk mengimplementasikan dalam bentuk
pengamalan ibadah sebagaimana yang diatur dalam Pendidikan
Agama Islam tersebut.
2. Pengaruh kegiatan ekstrakurikuler tadzkir terhadap pengamalan
ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Manado
47Karwadi, Umi Baroroh, Sukiman, Sutrisno, Loc.cit,. h. iv.
Adapun kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam di
sekolah adalah kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam
yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler, yang
dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah untuk lebih memperluas
pengetahuan, wawasan, kemampuan, meningkatkan dan
menerapkan nilai pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari
dalam kegiatan intrakurikuler yang dituangkan dalam standar
kompetensi kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
Dalam panduan pengembangan diri yang diterbitkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional, ekstrakurikuler adalah kegiatan
pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan
peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat.49
Dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler maka siswa dapat
beradaptasi dengan teman-temannya untuk melaksanakan hal-hal
yang baik. Dalam kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk tadzkir
maka siswa secara bersama-sama mungkin dapat mempelajari
bagaimana berinteraksi dengan teman, mengisi kegiatan dengan
kegiatan-kegiatan ibadah yang pada akhirnya siswa tersebut dapat
mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa
untuk meningkatkan (mempengaruhi) si anak ke kedewasaan yang
selalu diartikan mampu memikul tanggung jawab moril dari segala
perbuatannya. Orang dewasa yang dimaksud disini harus diakui
haknya oleh si anak didik dan mendapat kepercayaan untuk
mencapai hasil baik dalam usahanya.50
Dari uraian di atas maka terlihat ada korelasi antara hasil
belajar, kegiatan tadzkir dengan pengamalan siswa berkaitan
dengan pelaksanaan ibadah. Jadi pendidikan bukan hanya berbicara
bagaimana mendapatkan nilai yang baik, akan tetapi mampu
mengimplementasikan atau mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Paradigma penelitiannya (Kerangka Berpikir):
Keterangan:
X1 = variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam X2 = variabel pengalaman ekstrakurikuler tadzkir Y = pengamalan ibadah siswa
50Wahyu Hidayat, Op.cit,. h. 10.
X1
Y
Gambar-1 Paradigma Penelitian Korelasi Berganda
Dimana variabel, X1, dan X2 saling berpengaruh satu sama lain dan
merupakan variabel bebas yang memberikan pengaruh terhadap
variabel Y, yang merupakan variabel terikat.
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka diduga:
1. Terdapat pengaruh hasil belajar Pendidikan Agama Islam terhadap
pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota
Manado
2. Terdapat pengaruh kegiatan ekstrakurikuler tadzkir terhadap
pengamalan ibadah siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota
Manado
3. Secara simultan terdapat pengaruh hasil belajar Pendidikan Agama
Islam, dan pengalaman ekstrakurikuler tadzkir terhadap pengamalan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, bersifat kuantitatif
atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan.51
2. Desain Penelitian
Pada penelitian ini yang diuji hipotesisnya adalah pengaruh
pengaruh hasil belajar (x1) terhadap pengamalan ibadah siswa (y),
pengaruh kegiatan ekstrakurikuler tadzkir (x2) terhadap pengamalan
ibadah siswa (y), dan secara bersama-sama antara hasil belajar (x1)
dan kegiatan ekstrakurikuler tadzkir (x2) terhadap pengamalan
ibadah siswa (y).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian yaitu: 14 Sekolah Menengah Pertama Negeri
di Kota Manado, yaitu:
1. SMP Negeri 1 2. SMP Negeri 2
3. SMP Negeri 3
Pelaksanaan penelitian yaitu bulan April sampai dengan Juni
Tahun 2016
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang
paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama.52 Populasi pada
penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri
yang ada di Kota Manado yang berjumlah 1340 siswa (n=1340).
2. Sampel
Sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang
dari jumlah populasi.53 Sampel pada penelitian ini adalah
52Sutrisno Hadi, Statistik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), h. 190.
sebahagian dari populasi siswa Sekolah Menengah Pertama di
Kota Manado. Untuk menentukan jumlah sampel maka
digunakan rumus Issac dan Michael dalam Arikunto Suharsimi,
yaitu:54
S = x2NP(1 − P)
d2(N − 1) + x2P(1 − P)
Dimana: S = Ukuran Sampel
N = Ukuran Populasi
P = Proporsi dalam Populasi
d = Ketelitian (Error)
x2 = harga tabel Chi-Kuadrat untuk α yang di pilih
berdasarkan rumus tersebut maka jumlah sampel yang akan
ditetapkan pada penelitian ini yaitu:
S =0,052(1340 − 1) + 3,841x0,5x0,53,841x1340x0,5x0,5
S =1,286,744,30775
S = 298,72
Berdasarkan rumus tersebut maka jumlah sampel yang akan
digunakan pada penelitian ini, yaitu 298 sampel dari 1340
populasi.
D. Instrumen Penelitian
Untuk mengukur variabel dalam penelitian ini digunakan
instrumen berupa lembar pertanyaan disusun berdasarkan teori-teori
yang dijabarkan dalam bentuk indikator dan pertanyaan.
Kategori-kategori yang digunakan dapat berupa skala likert yaitu: sangat baik,
baik, cukup, kurang, dan sangat kurang.
E. Teknik Pengumpulan Data
a. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data di mana
partisipan atau responden mengisi pertanyaan atau pernyataan
kemudian setelah diisi dengan lengkap mengembalikan kepada
peneliti.55 Pada penelitian ini kuesioner akan dibagikan kepada
sampel untuk diisi berkaitan dengan pengamalan ibadah,
pengetahuan agama, dan kegiatan ekstrakurikuler tadzkir.
b. Tes tertulis merupakan tes yang bertujuan untuk mengetahui
pengetahuan siswa tentang mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam pada tingkat Sekolah Menengah Pertama.
c. Observasi (pengamatan) merupakan salah satu kegiatan untuk
mengumpulkan data, di mana guru melakukan pengamatan
terhadap beberapa siswa Sekolah Menengah Pertama berkaitan
dengan pengalaman kegiatan tadzkir dan pengamalan ibadah
siswa Sekolah Menengah Pertama. Hal ini yang bertujuan untuk
memperkuat hasil penelitian ini.
F. Pengembangan Instrumen
a. Variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam (X1)
1) Definisi Konseptual
Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah
laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.56
Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina
dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat
memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati
tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta
menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.57
Berdasarkan definisi konseptual di atas maka hasil belajar
lebih difokuskan pada pengetahuan tentang ibadah dalam hal
ini salat wajib dan sunah, hal ini disebabkan karena ada
kaitannya dengan pengamalan ibadah yang dibatasi pada
kegiatan salat pada waktu Zuhur dan Asar.
56Sudjana, Nana, Penilain Hasil Proses Belajar Mengajar (Edisi V; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h.3.
2) Definisi Operasional
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah menerima pengalaman belajarnya pada mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah
Pertama khususnya pada sub materi tentang salat wajib dan
sunah.
3) Kisi-Kisi Instrumen
Kisi-kisi instrumen variabel hasil belajar Pendidikan Agama
Islam sebagaimana uraian di bawah ini, yaitu:
Tabel-1 Kisi-Kisi Instrumen Variabel hasil belajar Pendidikan
Agama Islam (X1)
Definisi Variabel Indikator Butir
Soal
4) Hasil Uji Coba Instrumen
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan
untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti
instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa
yang seharusnya diukur58. Menurut Sugiyono Instrumen
dikatakan valid jika hasil korelasi nilai butir soal dengan
total soal mempunyai nilai korelasi (r) > 0,30.
Tabel-2 Validitas Butir Soal Variabel Hasil Belajar PAI
variabel hasil belajar Pendidikan Agama Islam semuanya
valid dimana mempunyai angka korelasi > 0.30 di mana
korelasi tertinggi yaitu butir soal 7,8, dan 14 dengan nilai
korelasi 0.700 dan terendah yaitu butir soal nomor 6
dengan nilai korelasi 0.330
(b) Pengujian Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila
digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang
sama, akan menghasilkan data yang sama.59 Pengujian
reliabilitas menggunakan teknik belah dua dari Spearman
Brown (Split Half), dengan rumus:
r1 = 1 + r2rb b
Dimana:
ri = reliabilitas internal seluruh instrumen
rb = korelasi produk momen antara belahan pertama dan
kedua
Reliabilitas butir soal variabel penelitian dengan
menggunakan spearman hasil belajar (X1) yaitu 0.641 hal
ini dapat bahwa seluruh butir soal pada penelitian ini
mempunyai nilai > 0.60 artinya butir soal pada penelitian
ini yaitu reliabel.
b. Variabel pengalaman Ekstrakurikuler Tadzkir (X2)
1) Definisi Konseptual
Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata
pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu
pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan,
potensi, bakat dan minat mereka melalui kegiatan yang
secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan tenaga
kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah
atau madrasah.60
2) Definisi Operasional
Kegiatan ekstrakurikuler tadzkir adalah kegiatan-kegiatan
keagamaan yang diikuti oleh siswa dan sudah diprogramkan
oleh sekolah
3) Kisi-Kisi Instrumen
Kisi-kisi instrument variabel Kegiatan ekstrakurikuler tadzkir
(X2) sebagaimana uraian di bawah ini: