• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Judul Skripsi - PROPOSAL SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "A. Judul Skripsi - PROPOSAL SKRIPSI"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS YURIDIS SOSIOLOGIS ( SUATU KAJIAN

DARI PENGARUH PSIKOLOGIS BAGI TERPIDANA

MATI

(Studi Kasus di Lembaga Pemasyarakatan)

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana

Disusun Oleh:

Nama : Auria Patria Dilaga Nim : 8111409077

FAKULTAS HUKUM

(2)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

FAKULTAS HUKUM

Rancangan Skripsi

Nama : Bornok Mariantha Sidauruk

Nim : 3450406046

Fak : Hukum

A. Judul Skripsi

ANALISIS MENGENAI EKSISTENSI PIDANA MATI DI

INDONESIA ( SUATU KAJIAN DARI PENGARUH PSIKOLOGIS BAGI TERPIDANA MATI).

B. Latar Belakang

ictie ialah bahwa kita menerima sesuatu yang tidak benar sebagai suatu hal yang benar. Dengan perkataan lain kita menerima apa yang sebenarnya tidak ada, sebagai ada atau yang sebenarnya ada sebagai tidak ada.[2] Kata fictie itu biasanya dipakai orang, jika orang dengan sadar menerima sesuatu sebagai kebenaran, apa yang tidak benar. Fictie atau dusta yang demikian itu memegang peranan yang penting dalam hukum, dan sudah dipakai sejak dahulu.

(3)

(dari Sulla) menentukan bahwa bila seorang rakyat meninggal dalam tawanan perang ia seharusnya dianggap sebagai orang yang meninggal pada saat pengangkatannya, sehingga surat wasiatnya berlaku (fictio legis corneliae). Fictie tersebut yang pada mulanya hanya ditentukan untuk hukum waris kemudian dilakukan untuk segala hubungan hukum dari seorang tawanan. Rakyat Romawi yang tertangkap sebagai tawanan, yang kembali di negerinya sendiri tak pernah dianggap sebagai bekas tawanan perang. Bangsa Romawi memakai fictie sebagai alat teknik pertolongan untuk perkembangan hukum. Dalam hal tersebut, perkembangan hukum inggris memperlihatkan persamaan dengan hukum Romawi.[3]

Dalam hukum Indonesia, fiksi hukum juga diakui. Lihat pasal 3 KUH Perdata yang berbunyi “Anak yang berasal dari seorang perempuan yang hamil, dinyatakan sebagai telah lahir, sekadar kepentingannya menghendakinya. Jika ia dilahirkan mati, ia dianggap sebagai tidak pernah ada”. Fiksi-fiksi tersebut mempunyai sidat yang tak berbahaya. Bahkan lebih daripada itu, orang dapat mengatakan bahwa fiksi perundang-undangan itu bukanlah fiksi sebenarnya melainkan dirumuskan belaka sebagai fiksi.

Soal “Ignorare Legis est lata Culpa”. atau fiksi hukum yang berarti setiap orang dianggap telah mengetahui adanya suatu Undang-Undang yang telah diundangkan[4] menarik untuk diperbincangkan. Jarang kita melihat fiksi hukum itu dalam konteks waktu dan dimana kelahirannya. fiksi yang kita bicarakan ini juga harus dilihat dalam konteks ke-Indonesiaan.

Dalam Sejarah Hukum di Eropa daratan, hukum itu lahir dari kontrak sosial, kontrak sosial adalah metamorfosa dari kontrak-kontrak ekonomi masyarakat merkantilis. jadi ia lahir dari ranahnya hukum privat. Baru abad 18 dengan gejala industrialisasi munculah Negara Modern. Negara modern mensyaratkan adanya generalitas dalam sistem hukum yang bersifat publik. Untuk memenuhi generalitas itulah semua orang yang berada dalam satu wilayah negara harus tunduk pada suatu hukum yang dibikin oleh bandan publik. hal itu memberi manfaat agar institusi publik menjadi kuat.

Lalu bagaimana kira-kira bila dibandingkan dengan konteks Indonesia? Pertama, soal geografis adalah pembeda yang paling tajam antara NKRI dengan Negara-negara Eropa daratan yang relatif kecil. Pembeda kedua adalah Identifikasi Sosial masyarakat yang beragam berdasarkan suku dan penerimaannya terhadap hukum negara.

(4)

Lembaran Negara, Tambahan Berita Negara, Lembaran Daerah, dll, dapat menjamin masyarakat mengetahui adanya peraturan yang diundangkan tersebut.

Dalam prakteknya, banyak masyarakat yang tidak mengerti bahkan tidak mengetahui adanya peraturan perundang-undangan yang baru. Permasalahan timbul ketika banyak warga masyarakat melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut, karena ketidak tahuannya bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang oleh peraturan perundang-undangan. Luasnya daerah geografis negara Indonesia, buruknya akses masyarakat kepada pemerintahan, keterbelakangan wilayah, membuat tidak seluruh peraturan perundang-undangan tersebut dapat diketahui oleh masyarakat hanya dengan perintah pencantuman ke dalam Lembaran Negara, Tambahan Berita Negara, dll. Ketidak mampuan pemerintah dan aparaturnya dalam mensosialisasikan peraturan-peraturan yang baru dibentuk dan baru diundangkan juga menjadi salah satu sebab ketidak tahuan masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan. Seharusnya, sebelum mempergunakan fiksi hukum ini, pemerintah wajib melakukan sosialisasi secara maksimal, sehingga paling tidak, 85 % masyarakat dapat mengetahuinya dan kemudian mematuhi peraturan tersebut.

Jadi fiksi perundang-undangan itu sebenarnya bukanlah tidak dapat dibuang. Akan tetapi bahwa ia sering dipakai terutama dapat dipahami dari sudut hasrat pembentuk undang-undang untuk memperoleh perumusan yang singkat. Adakalanya juga pembentuk undang-undang memakai fiksi, padahal pemakaian fiksi itu dapat dihindarinya. Hukum yang tugasnya mengatur kehidupan masyarakat sebenarnya tidak boleh dijelmakan dalam peraturan-peraturan yang dalamperumusannya jelas bertentangan dengan kenyataan. Adalah kewajiban ajaran hukum untuk sebanyak mungkin mengeluarkan fiksi dari perundang-undangan, dengan kata lain, mempersiapkan peraturan-peraturan yang sederhana.

(5)

C. Pembatasan Masalah

Agar masalah yang akan penulis bahas tidak meluas sehingga dapat

mengakibatkan ketidak jelasan pembahasan masalah maka penulis akan

membatasi maslah yang akan di teliti, antara lain :

1. Pengaruh letak domisili terhadap pengetahuan terhadap hukum yang

berlaku.

2. Eksistensi asas fictie hukum di masyarakat pedesaan dan perkotaaan

3. Output dari asas fictie hukum untuk upaya penegakan hukum.

D.Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas mengenai Analisa psikologis terhadap eksistensi pidana mati di Indonesia bagi terpidana mati , maka peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh letak domisili mesyarakat terhadap hukum yang

berlaku di Indonesia?

2. Bagaimana Eksistensi dan apakah asas fictie hukum berlaku di masyarakat

pedesaan dan perkotaan di Indonesia?

3. Sejauh mana output yang diharapkan dari asas fictie hukum untuk

penegakan hukum di Indonesia?.

Tujuan Penulisan dan Manfaat Penulisan

(6)

Secara umum tujuan penulisan adalah untuk medalami berbagai aspek

tentang permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan dalam

perumusan masalah. Secara khusus tujuan penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui pengaruh psikologis yang ditimbulkan pidana mati terhadap terpidana mati dan masyarakat di Indonesia.

b. Untuk mengetahui bagaimana eksistensi dan apakah pidana mati masih perlu untuk dipertahankan dalam sistem hukum pidana di Indonesia.

c. Untuk mengetagui sejauh mana urgensi pidana mati dalam memberi efek jera bagi pelanggar hukum berat dan mencegah pelanggaran HAM yang lebih parah.

2. Manfaat penulisan

Adapun manfaat penulisan ini adalah sebagai berikut:

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penulisan ini diharapkan dapat memperkaya khasanah

ilmu pengetahuan khususnya bagi pengembangan teori ilmu hukum

pidana terutama mengenai eksistensi dan dampak psikologis dari pidana

mati di Indonesia. Selain itu dengan adanya tulisan ini penulis berharap

dapat menambah dan melengkapi perbendaharaan dan koleksi karya

ilmiah dengan memberikan kontribusi pemikiran bagi penerapan pidana

(7)

b. Manfaat Praktis

Secara praktis penulisan ini diharapkan dapat menjadi kerangka acuan

dan landasan bagi penulis lanjutan, dan mudah-mudahan dapat

memberikan masukan bagi pembaca terutama bagi pembentuk hukum

khususnya pembentuk Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)

yang sampai sekarang masih dalam Rancangan KUHP dan praktisi

hukum, pejabat atau instansi terkait dalam menetapkan kebijaksanaan

lebih lanjut terhadap pelaksanaan atau pun pemberlakuan pidana mati

untuk mengantisipasi suatu tindak pidana terutama tindak pidana yang

dapat memberikan dampak yang besar bagi masyarakat. Penulisan ini

juga diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sehingga

masyarakat dapat mengetahui dam memberikan tanggapan terhadap

perlu atau tidaknya pidana mati di Indonesia dalam rangka mengurangi

tindak pidana lain.

E. Tinjauan Pustaka

1.1 Pengertian pidana dan pidana mati

(8)

berkonotasi dengan bidang yang cuklup luas. Istilah tersebut tidak hanya sering digunakan dalam bidang hukum, tetapi juga dalam istilah sehari-hari seperti di bidang moral, agama dan lain sebagainya.

Oleh karena itu dipergunakan istilah “pidana” yang merupakan istilah yang lebih khusus dan dianggap lebih tepat bila dibandingkan dengan istilah “hukuman”. Untuk itu diperlukan pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifatnya yang khas.

Pidana berasal dari kata straf (Belanda). Pidana lebih tepat didefenisikan sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan atau diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) bagianya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana. Secara khusus larangan dalamhukum pidana ini disebut sebagai tindak pidana (stafbaar feit).

Untuk memberikan gambaran yang lebih luas, berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut :

a. Sudarto.

(9)

b. Roeslan Saleh.

Pidana adalah reaksi atas delik, dan ini berwujud nestapa yang dengan sengaja ditimpahkan negara pada pembuat delik itu.

c. Fitzgerald.

Punisment is the authoritative infliction of suffering for an offence.

d. Ted Honderich.

“Punishment is an authority’s infliction of penalty (something involving defrivation or distress) on an offender for an offence”. Pidana adalah suatu pengenaan pidana yang dijatuhkan oleh seorang penguasa (berupa kerugian atau penderitaan) kepada pelaku tindak pidana.

e. Sir Ruper t Cross

Punisment means “The infliction of pain by the state on someone who has been convicted of an offence”. Pidana berarti pengenaan penderitaan oleh negara kepada seseorang yang telah dipidana karena suatu kejahatan.

f. Burton M. Leiser.

(10)

g. H.L.A. Hart.

Punisment must :

1) Involve pain or other consequences normally considered unpleasant; (mengandung penderitaan atau konsekuensi-konsekuensi yang lain yang tidak menyenangkan);

2) Be for an actual or supposed offender for his offence; (dikenakan pada seseorang yang benar-benar atau disangka benar melakukan tindak pidana);

3) Be for an offence against legal rules; (dikenakan berhubungan suatu tindak pidana yang melanggar ketentuan hukum);

4) Be intentionally administered by human beings other that the offender; (dilakukan dengan sengaja oleh orang selain pelaku tindak pidana);

5) Be imposed and administered by an authority constituted by a legal system against with the offence is committed. (dijatuhkan dan dilaksanakan suatu sistem hukum yang dilanggar oleh tindak pidana tersebut).

h. Alf Ross.

(11)

1) Occurs where there is violation of a legal rule; (terjadi hubungan dengan adanya pelanggaran terhadap suatu aturan hukum);

2) Is imposed and carried out by autthorised. Person on behalf of the legal order to which the violated rule belongs; (dijatuhkan dan dilaksanakan oleh orang-orang yang berkuasasehubungan dengan tertib hukum yang dilanggar;

3) Involves suffering or at least other consequences normally considered unpleasant; (mengandung penderitaan atau paling tidak konsekuensi-konsekuensi lain yang tidak menyenangkan);

4) Expresses disapproval of the violator. (menyatakan pencelaan terhadap si pelanggar).

i. Di dalam “Black’s Law Dictionary” dinyatakan bahwa “punisment” adalah: “any fine, penalty or confinement inflicted upon a person by authority of the law and the judgement and sentence of a court, for some crime or offence commited by him, or of his omission of a duty enjoined by law”.

(12)

a. Pidana itu pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan;

b. Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh orang yang berwenang);

c. Pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang;

Ketiga unsur tersebut, pada umumnya terlihat dari defenisi-defenisi di atas, kecuali Alf Ross yang menambahkan secara tegas dan eksplisit bahwa pidana itu harus juga merupakan pernyataan pencelaan terhadap diri si pelaku.

Jadi pidana mati adalah pidana (reaksi atas delik atau nestapa) berupa kematian yang diputuskan dan dilaksanakan oleh negara karena perbuatan yang telah dilakukan orang itu yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam aturan hukum pidana tertentu. Pidana mati adalah suatu kegiatan bernegara yang sah karena diatur dalam hukum positif. Sedangkan kematian mempunyai kata dasar mati yang maksudnya adalah hilangnya nyawa seseorang atau tidak hidup lagi.

(13)

a. Dalam arti umum, ialah yang menyangkut pembentuk undang-undang ialah yang menetapkan sanksi hukum pidana (hukum pidana in abstractor);

b. Dalam arti konkrit ialah yang menyangkut bergabai badan atau jawaban yang kesemuanya mendukung dan melaksanakan sanksi pidana itu.

Pemberian pidana dalam arti umum itu merupakan bidang dari pembentukan undang-undang karena asas legalitas, yaitu singkatnya berbunyi : nullum delictum nulla poena, sine praevia lege (poenal).

Wujud-wujud penderitaan yang dapat dijatuhkan oleh negara telah ditetapkan dan diatur secara rinci, baik mengenai batas-batas dan cara menjatuhkannya secara dimana dan bagaiman cara menjalankannya. Mengenai wujud jenis penderitaan itu dimuat dalam Pasal 10 KUHP. Tetapi batas-batas berat ringannya dalam menjatuhkan penderitaan tersebut dimuat dalam rumusan mengenai masing-masing larangan dalam hukum pidana yang bersangkutan. Jadi negara tidak dapat dengan bebas memilih jenis-jenis pidana dalam Pasal 10 KUHP tersebut. Hal ini berkaitan dengan fungsi hukum pidana sebagai pembatas kekuasaan negara dalam arti perlindungan hukum bagi warga dari tindakan negara dalam rangka negara menjalankan fungsi menegakkan hukum pidana.

(14)

Sebelum penjajah datang ke Indonesia terutama bangsa Belanda, Indonesia telah mempunyai hukum yang mengatur tata kehidupan manusia, yaitu hukum adat. Begitu juga dengan pengaturan pemberian pidana terhadap pelaku kejahatan, dahulu dipergunakan hukum pidana adat. Dalam hukum pidana adat yang berlaku di Indonesia dari Aceh sampai Irian juga mengenal pidana mati jauh sebelum penjajah datang ke Indonesia.

Pidana mati yang tercantum dalam KUHP merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda, diamana hukum pidana peninggalan Belanda tersebut aslinya masih dalam bahasa Bealanda yaitu “Wetboek van Strafrecht (WvS)” yang dinyatakan berlaku di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tanggal 1 Januari 1918 berdasarkan Staadblad 1915 No. 732. Namun setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, WvS tersebut masih diberlakukan bagi seluruh wilayah Republik Indonesia meskipun dengan beberapa perubahan. Begitu juga dengan ancaman pidana mati yang terdapat dalam KUHP tersebut belum dicabut walaupun KUHP sendiri telah diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946. Sebelum berlakunya WvS di Indonesia, yang berlaku adalah hukum pidana adat. Pidana mati dengan eksekusi yang kejam telah dikenal dalam hukum adat dibeberapa daerah tertentu di Indonesia.

(15)

dilaksanakan. Demukian pula bila seseorang melanggar perintah perkawinan yang eksogami. Kalau di Minangkabau tidak jauh berbeda dengan di Batak, menurut pendapat konservatif dari Datuk Ketemanggungan dikenal hukum membelas bahwa seorang pembunuh juga dapat dibunuh. Sedangkan di Cerebon penculik-penculik atau perampok wanita apakah penduduk asli atau asing yang menculik atau menggadaikan pada orang Cirebon dianggap kejahatan yang dapat dipidana mati. Di Bali pidana matijuga diancamkan bagi pelaku kaein sumban. Dikalangan suku dari Tenggara Kalimantan orang yang bersumpah palsu dipidana mati dengan jalan ditenggelamkan. Di Sulawesi Selatan pemberontakan terhadap pemerintah, kalau yang bersalah tidak mau pergi ke tempat pembuangannya, maka ia boleh dibunuh oleh setiap orang. Di Pulau Bonerate, pencuri-pencuri dipidana mati dengan jalan tidak diberi makan kemudian ditidurkan di bawah matahari hingga mati. Sedangkan di Lampung terdapat beberapa delik yang diancamkan dengan pidana mati yaitu pembunuhan, delik salah putih (zinah antara bapak atau ibu dengan anaknya atau antara mertua dengan menantu dsb) dan berzinah dengan istri orang lain.

(16)

Mulyana menulis bahwa dalam perundang-undangan Majapahit tidak dikenal pidana penjara dan kurungan, yang dikenal ialah:

a. Pidana pokok

1) Pidana mati

2) Pidana potong anggota badan yang bersalah

3) Pidana denda

4) Ganti kerugian atau Panglicawa atau Patukucawa

b. Pidana tambahan

1) Tebusan

2) Penyitaan

3) Patibajambi (pembeli obat)

(17)

1. Teori- teori pemidanaan

Pemidanaan berasal dari kata “pidana” yang sering diartikan sebagai hukuman. Jadi pemidanaan dapat diartikan dengan penghukuman. Kalau orang mendengar kata “hukuman”, biasanya yang dimaksud adalah penderitaan yang diberikan kepada orang yang melanggar hukum pidana. Pemidanaan atau pengenaan pidana berhubungan erat dengan kehidupan seseorang di dalam masyarakat, terutama apabila menyangkut kepentingan benda hukum yang paling berharga bagi kehidupan dimasyarakat, yaitu nyawa dan kemerdekaan atau kebebasannya.

Dalam pandangan masyarakat, orang yang pernah dikenakan pidana seolah-olah mendapatkan cap, bahwa orang tersebut dipandang sebagai orang yang jahat, yang tidak baik atau orang yang tercela. Sudarto mengemukakan :

“Pidana tidak hanya enak dirasa pada waktu dijalani, tetapi sesudah orang yang dikenai itu masih merasakan akibatnya berupa ‘cap’ oleh masyarakat, bahwa ia pernah berbuat ‘jahat’. Cap ini dalam ilmu pengetahuan disebut ‘stigma’. Jadi orang tersebut mendapatkan stigma, dan kalau ini tidak hilang, maka ia seolah-olah dipidana seumur hidup”

Untuk dapat memahami secara luas tentang teori-teori pemidanaan maka terlebih dahulu harus mengkaitkannya dengan aliran-aliran di dalam hukum pidana yakni aliran klasik, aliran positif dan aliran neo klasik.

(18)

Aliran ini muncul sebagai reaksi atas kesewenang-wenangan penguasa (ancient regime) pada abad ke-18 di Perancis dan Inggris, yang banyak menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan. Aliran ini menghendaki hukum pidana yang tersusun secara sistematis dan menitik beratkan pada perbuatan dan tidak kepada orang yang melakukan tindak pidana. Dengan orientasi pada perbuatan yang dilakukan, aliran ini menghendaki pidana yang dijatuhkan itu seimbang dengan perbuatan tersebut. Secara ekstrim dapat dikatakan, bahwa aliran klasik dalam pemberian pidana lebih melihat ke belakang.

Dengan pandangannya yang indeterministis mengenai kebebasan kehendak manusia aliran ini menitik-beratkan kepada perbuatan dan tidak kepada orang yang melakukan tindak pidana. Hukum pidana yang dikehendaki ialah hukum pidana perbuatan (daadstrafrecht). Perbuatan disini diartikan secara abstrak dan dilihat secara yuridis belaka terlepas dari orang yang melakukannya. Jadi, aliran ini mengobjektifkan hukum pidana dari sifat-sifat pribadi si pelaku.

(19)

keadaan jiwa si pelaku, kejahatan-kejahatan yang dilakukan terdahuku atas keadaan-keadaan khusus dari perbuatan yang dilakukan. Jadi Kitab Undang-undang Hukum Pidana Prancis ini tidak membolehkan individulisasi di dalam penerapan pidana.

Aliran klasik ini berpijak pada tiga tiang yaitu :

1) Asas legalitas yang menyatakan bahwa tiada pidana tanpa undang-undang, tiada tindak pidana tanpa undang-undang dan tiada penuntutan tanpa undang-undang.

2) Asas kesalahan yang berisi bahwa orang hanya dapat dipidana untuk tindak pidana yang dilakukannya dengan sengaja atau karena kealpaan.

3) Asas pengimbalan (pembalasan) yang sekuler, yang berisi bahwa pidana secara konkrit tidak dikenakan dengan maksud untuk mencapai sesuatu hasil yang bermanfaat, melainkan setimpal dengan berat ringannya perbuatan yang dilakukan.

(20)

praktik-praktik hukum pidana dengan doktrin “pidana harus sesuai dengan kejahatan”. Ide inilah yang menjadi tema essensiil dari aliran klasik. Cesare Beccaria tidak yakin terhadap pidana yang berat dan kejam. Alasan utama dari penjatuhan pidana adalah untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat dan untuk mencegah orang melakukan kejahatan.

Tokoh lain aliran klasik adalah Jeremy Bentham (1748-1832). Ia adalah seorang filsuf dari Inggris yang terlatih dalam hukum tetapi tidak pernah peraktik hukum. Ia diklasifikasikan sebagai penganut utilatarian hedonist. Diantara ide-idenya yang hebat adalah anjurannya bahwa “kebaikan terbesar harus untuk jumlah rakyat yang terbesar” (the greatest good must go to the greatest number). Salah satu teorinya yang sangat penting ialah mengenai “felific calculus”, yaitu bahwa manusia merupakan ciptaan/mahluk yang rasional yang akan memilih secara sadar kesenangan dan menghindari kesusahan. Oleh karena itu, suatu pidana harus ditetapkan pada tiap kejahatan sedemikian rupa sehingga kesusahan akan lebih berat daripada kesenangan yang ditimbulkan oleh kejahatan. Hal ini merupakan sumber pemikiran yang menyatakan bahwa pidana harus cocok dengan kejahatan sebagaimana juga ditegaskan oleh Beccaria.

(21)

kontrol sosial, yaitu suatu metode pengecekan perbuatan manusia menurut prinsip etika yang baru. Prinsip itu ia sebut “Utilitarianism” yang menyatakan suatu perbuatan tidaklah dinilai oleh hal-hal yang mutlak (keadilan, kebenaran) yang irasional, tetapi oleh suatu sistem yang dapat diuji atau diukur. Namun sayangnya Bentham tidak menjelaskan lebih lanjut dasar teoritis dari prinsip tersebut diukur, dan juga tidak menjelaskan bagaimana prinsip tersebut diukur secara empiris.

Bentham juga yakin dengan doktrin “kebebasan”, walaupun dia mengisyaratkan kearah teori mengenai perbuatan yang terpola (the theory of learned behaviour) sebagai penjelasan mengenai tindak kriminal. Bentham mengemukakan bahwa tujuan-tujuan dari pidana adalah:

1) Mencegah semua pelanggaran (toprevent all offenses);

2) Mencegah pelanggaran yang paling jahat (to prevent the worst offences);

3) Menekan kejahatan (to keep down mischief);

4) Menekan kerugian/biaya sekecil-kecilnya (to act the least expense).

b. Aliran positif

(22)

sering disebut aliran positif dalam mencari sebab kejahatan menggunakan metode ilmu alam dan bermaksud untuk langsung mendekati dan mempengaruhi penjahat secara positif sejauh ia masih dapat diperbaiki. Dengan orientasi demikian maka aliran ini sering dikatakan mempunyai orientasi ke masa depan.

Aliran ini berpendapat bahwa perbuatan seseorang tidak dapat dilihat secara abstrak dari sudut yuridis semata, terlepas dari orang yang melakukannya, tetapi harus dilihat secara konkrit bahwa dalam kenyataan perbuatan seseorang itu dipengaruhi watak pribadinya, faktor-faktor biologis atau faktor lingkungan kemasyarakatannya. Jadi aliran ini bertitik tolak dari pandangan determinisme untuk menggantikan doktrin kebebasan bertindak.

(23)

yang didasarkan atas penemuan-penemuan baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.

Pendekatan yang dilakukan oleh ketiga tokoh utama aliran positif yakni Cesare Lamborso, Raffaele Gorofalo dan Enrico Ferri berbeda satu sama lain. Walaupun demikian mereka setuju bahwa tekanan di dalam memperbaiki kejahatan harus diberikan kepada pembinaan ilmiah terhadap pelaku tindak pidana, dan tidak terhadap pidana yang dikenakan kepada mereka.

(24)

memberikan kesempatan guna rehabilitasi. Dia sangat setuju dengan pidana yang ditangguhkan atau sistem “probation” yang dipandang sukses di Amerika Serikat.

Tokoh kedua aliran ini adalah Raffaele Garofalo (1852-1943). Seperti tokoh yang lainnya Garofalo menolak aliran klasik, termasuk apa yang dinamakan defenisi hukum dari kejahatan, dan doktrin kebebasan berkehendak.

Garofalo menyatakan, bahwa defenisi hukum dari kejahatan hanya merupakan klasifikasi yang dilakukan oleh pembuat undang-undang terhadap tipe-tipe perilaku tertentu. Untuk menerangkan mengapa orang-orang berbuat jahat, ia mengusulkan suatu konsep yang dinamakan konsep kejahatan natural. Selanjutnya dia menyatakan bahwa natural crime merupakan pengertian yang paling jelas untuk menggambarkan perbuatan-perbuatan yang oleh masyarakat beradab diakui sebagai kejahatan dan ditekan melalui sarana berupa pidana.

(25)

menuju kejahatan, tetapi bilamana ia hidup di lingkungan hidup yang baik ia akan hidup terus sampai akhir hayatnya tanpa melanggar hukum pidana ataupun hukum moral. Ia juga menolak doktrin indeterminisme dari aliran klasik, sebab psikologi telah membuktikan bahwa perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara personalitas dan lingkungan seseorang. Ferri percaya bahwa kejahatan terutama dihasilkan oleh tipe masyarakat dari mana kejahatan tersebut datang. Ia mengemukakan suatu dalil yang disebut hukum kejenuhan penjahat (law of criminal saturation), yang di dalam lingkungan sosial tertentu dengan kondisi individual dan fisik tertentu sejumlah kejahatan tertentu dapat dilakukan.

Sehubungan denagn dalil tersebut, Ferri mengemukakan bahwa untuk mencapai akar-akar kriminalitas peranan hygiene sosial sangat besar. Hal ini mengharuskan pembuat undang-undang untuk selalu memperhitungkan faktor-faktor ekonomi, moral, administrasi dan politik di dalam tugasnya sehari-hari. Kejahatan dalam ini hanya dapat diatasi dengan mengadakan perubahan-perubahan di masyarakat.

(26)

Menurut Gramatika, hukum perlindungan masyarakat (law of social defence) harus menggantikan hukum pidana yang ada. Tujuan utama hukum perlindungan masyarakat adalah mengintegrasikan individu ke dalam tertib sosial dan bukan pemidanaan terhadap perbuatanya. Hukum perlindungan masyarakat mensyaratkan penghapusan pertanggungjawaban pidana (kesalahan) dan digantikan tempatnya oleh pandangan tentang perbuatan anti-sosial. Dengan demikian mengenai tindak pidana, penjahat dan pidana.

Sementara konsepsi moderat yang dipelopori Marc Ancel dengan gerakannya defence sociale nouvelle (New Social Devence) atau perlindungan, masyarakat baru ingin mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi-konsepsi perlindungan masyarakat ke dalam konsepsi baru hukum pidana. Konsepsi atau pemikiran yang dikemukakan oleh gerakan perlindungan masyarakat baru ini adalah:

(27)

2) Kejahatan merupakan masalah kemanusiaan dan masalah sosial (a human and social problem) yang tidak dapat begitu saja dipaksakan untuk dimasukkan dalam perundangan.

3) Kebijakan pidana bertolak pada konsepsi pertanggungjawaban yang bersifat pribadi (individual responsibility) yang menjadi kekuatan pergerakan utama dan proses penyesuaian sosial. Pertanggungjawaban pribadi ini menekan pada kewajiban moral ke arah timbulnya moralitas sosial.

c. Aliran neo-klasik

Disamping beberapa aliran tersebut diatas, perlu dikemukakan disini adanya suatu aliran yang berasal dari lairan klasik yaitu aliran neo-klasik (Neoclassical School). Sebagaimana aliaaran klasik, aliran ini pun bertolak dari pandangan indeterminisme atau kebebasan berkehendak. Menurut aliran ini, pidana yang dihasilkan oleh aliran klasik terlalu berat dan merusak semangat kemanusiaan yang berkembang saat itu. Untuk itu aliran ini merumuskan pidana minimum dan maksimum dan mengakui apa yang dinamakan asas-asas tentang keadaan yang meringankan (principle of extenuating circunstances).

(28)

diganti dengan sistem indefinite sentence. Mengenai karakteristik daripada aliran neo-klasik, kiranya dapat dikemukakan ciri-ciri yang disusun oleh Vernon Fox sebagai berikut :

1) Modifikasi (perubahan) dari “doctrine of will”, yang dapat dipengaruhi patologi, ketidakmampuan, penyakit gila, atau lain-lain keadaan.

2) Diterimanya berlakunya keadaan-keadaan yang meringankan (mitigating circumstanses) baik fisikal, lingkungan maupun mental.

3) Modifikasi dari doktrin pertanggungjawaban pidana guna menetapkan peringann pidana dengan pertanggungjawabanb sebagian di dalam hal-hal yang khusus, misalnya gila, di bawah umur, dan keadaan lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan niat seseorang pada waktu terjadinya kejahataan.

4) Diperkenankan masuknya kesaksian ahli (expert testionary) untuk menentukan derajat pertanggungjawaban.

Selanjutnya dibahwa ini akan dibahas prinsip-prinsip dasar yang dikemukakan oleh teori-teori pemidanaan.

(29)

Teori ini mengatakan bahwa kejahatan sendirilah yang memuat anasir-anasir yang menuntut pidana dan yang membenarkan pidana dijatuhkan. Teori ini dalam tujuan pemidanaan didasarkan pada alasan bahwa pemidanaan merupakan “morally justifed” (pembenaran secra moral), karena pelaku kejahatan layak untuk menerimanya atas kejahtannya. Asumsi yang penting terhadap pemebnaran untuk menghukum sebagai respon terhadap suatu kejahatan karena pelaku kejahatan telah melakukan pelanggaran terhadap norma moral tertentu yang mendasari aturan hukum yang dilakukannya secara sengaja dan sadar dan hal ini merupakan bentuk dari tanggungjawab moral dan kesalahan hukum si pelaku.

Pidana merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan. Jadi, dasar pembenaran dari pidana terletak pada adanya atau terjadinya kejahatan itu sendiri. Penjatuhan pidana tidak dilihat akibat-akibat yang dapat ditimbulkan dari penjatuhan pidana tersebut, tidak memperhatikan masa depan baik terhadap diri penjahat maupun masyarakat. Menjalankan pidana tidak dimaksudkan untuk mencapai sesuatu yang praktis, tetapi bermaksud satu-satunya penderitaan bagi penjahat.

(30)

1) Ditujuhkan pada penjahatnya (sudut sibyektif dari pembalasan)

2) Ditujuhkan untuk memenuhi kepuasan dari perasaan dendam di kalngan masyarakat (sudut obyektif dari pembalasan).

Menurut Johanes Andenaes tujuan utama (primair) dari pidana menurut teori ialah “untuk memuaskan tuntutan keadilan” (to satisty the claims of justice) sedangkan pengaruhnya yang menguntungkan adalah sekunder. Tuntutan keadilan yang sifatnya absolut ini terlihat dengan jelas dalam pendapat Immanuel Kant di dalam bukunya “Philosophy of Law sebagai berikut”:

“...pidana tidak pernah dilaksanakan semata-mata sebagai sarana untuk mempromosikan tujuan/ kebaikan lain, baik bagi sipelaku itu sendiri maupun bagi masyarakat, tetapi dalam semua hal harus dikenakan hanya karena orang yang bersangkutan telah melakukan kejahatan.

(31)

yang ikut ambil bagian dalam pembunuhan itu yang merupakan pelanggaran terhadap keadilan umum”.

Hegel memandang bahwa pemidanaan merupakan hak dari pelaku kejahatan atas perbuatan yang dilakukannya berdasarkan kemauan sendiri. Sedangkan Nigel Walker mengemukakan bahwa aliran retributif ini terbagi menjadi dua macam, yaitu teori retributif murni dan teori retributif tidak murni. Retributivist yang murni menyatakan bahwa pidana yang dijatuhkan harus sepadan dengan kesalahan si pelaku. Sedangkan Retributivist tidak murni dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu ;

1) Retributivist terbatas (the limitating retributivist), yang berpendapat bahwa pidana tidak harus cocok atau sepadan dengan kesalahan si pelaku, akan tetapi pidana yang dijatuhkan tidak boleh melebihi batas-batas yang sepadan dengan kesalahan pelaku.

2) Retribituvist yang distribusi (retribution in distribution), yang berpandangan bahwa sanksi pidana dirancang sebagai pembelasan terhadap si pelaku kejahatan, namun beratnya sanksi harus didistribusikan kepada pelaku yang bersalah.

(32)

“punisher” atau penganut teori pemidanaan. Sedangkan penganut golongan lainnya tidak mengajukan alasan-alasan untuk pengenaan pidana, melainkan mengajukan dasar-dasar pembatasan pidana. Paham retributif yang tidak murni lebih dekat dengan paham yang non retributive. Kebanyakan KUHP disusun berdasarkan paham non-retributive yang the limiting retributivist yaitu dengan menetapkan pidana maksimum sebagai batas atas, tanpa mewajibkan pengadilan untuk mengenakan batasan maksimum tersebut.

b. Teori relatif atau teori tujuan

Teori tujuan memberikan dasar pemikiran bahwa dasar

hukum dari pidana adalah terletak pada tujuan pidana itu sendiri.

Pidana itu mempunyai tujuan-tujuan tertentu, tujuan pokoknya

adalah mempertahankan ketertiban masyarakat (the handing der

maatchappelijke order). Menurut teori ini memidana bukanlah

untuk memuaskan tuntutan absolut dari keadilan. Pembalasan itu

sendiri tidak mempunyai nilai tetapi hanya sebagai sarana untuk

melindungi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu menurut J.

Andenaes, teori ini dapat disebut sebagai teori perlindungan

masyarakat (the theory of social defence).

Untuk mencapai tujuan ketertiban masyarakat, maka pidana

(33)

1) Bersifat menakut-nakuti (afschrikking);

2) Bersifat memperbaiki (verbetering/ reclasering);

3) Bersifat membinasakan (onschadelijk maken).

Sedangkan sifat pecegahannya dari teori ini ada 2 macam,

yaitu :

1) Pencegahan umum (general preventie)

Menurut teori pencegahan umum ini ialah pidana yang

dijatuhkan pada penjahat ditujukan agar orang-orang (umum)

menjadi takut untuk berbuat kejahatan. Penjahat yang dijatuhi

pidana itu dijadikan contoh oleh masyarakat, agar umum tidak

meniru dan melakukan perbuatan yang serupa dengan penjahat

itu. Yang dapat digolongkan ke dalam teori pencegahan umum

ini dalah teori dari Anselm Von Feuerbach mengenai

psychologischezwang yang berbunyi: apabila setiap orang

mengerti dan tahu, bahwa melanggar peraturan hukum itu

diancam dengan pidana, maka orang itu mengerti dan tahu

juga akan dijatuhi pidana atas kejahatan yang dilakukan.

Dengan demikian tercegahlah bagi setiap orang untuk berniat

jahat. Sehingga di dalam jiwa orang masing-masing telah

mendapat tekanan atas ancaman pidana.

(34)

Prevensi khusus dimaksudkan bahwa dengan pidana yang

dijatuhkan, memberikan deterrence effect kepada si pelaku

sehingga tidak mengulangi perbuatannya kembali. Van

Bemmelen menyatakan, meraka yang beranggapan bahwa

pidana ialah pemebenaran yang terpenting dari pidana itu

sendiri, bertolak dari pendapat bahwa manusia (pelaku suatu

tindak pidana) dikemudian hari akan menahan diri supaya

jangan berbuat seperti itu lagi, karena ia mengalami (belajar)

bahwa perbuatannya menimbulkan penderitaan. Jadi pidana

akan berfungsi mendidik dan memperbaiki. Van Hamel

membuat suatu gambaran tentang pemidanaan yang bersifat

prevensi khusus yaitu pemidanaan harus memuat suatu anasir

menakutkan supaya si pelaku tidak melakukan niat buruk,

pemidanaan juga harus memuat suatu anasir yang

memperbaiki bagi terpidana yang nanti memerlukan suatu

reclassering, pemidanaan harus memuat suatu anasir

membinasakan bagi penjahat yang sama sekali tidak dapat

diperbaiki lagi, dan tujuan satu-satunya dari pemidanaan ialah

mempertahankan tata tertib hukum.

c. Teori gabungan

Teori gabungan ini mendasarkan pidana pada asas

pembalasan daan asas pertahanan tata tertib masyarakat, dengan

(35)

pidana. Teori gabungan tersebut dapat dibedakan menjadi 2

golongan besar, yaitu :

1) Teori gabungan yang menggabungkan pembalasan, tetapi

pembalasan itu tidak boleh melampaui batas dari apa yang

perlu dan cukup untuk dapat dipertahankan tata tertib

masyarakat. Pompe berpandangan bahwa pidana tiada lain

adalah pembalasan pada penjahat, tetapi juga bertujuan

untuk mempertahankan tata tertib hukum agar kepentingan

umum dapat diselamatkan dan terjamin dari kejahatan.

Pidana yang bersifat pembalasan itu dapat dibenarkan

apabiila bermanfaat bagi pertahanan tat tertib (hukum)

masyarakat.

2) Teori gabungan yang mengutamakan perlindungan tat tertib

masyarakat, tetapi penderitaan atas dijatuhinya pidana tidak

boleh lebih berat daripada perbuatan yang dilakukan

terpidana. Menurut Simons, dasar primer pidana adalah

pencegahan umum, dasar sekundernya adalah pencegahan

khusus. Maksud pidana terutama adalah ditujuhkan pada

pencegahan umum yang terletak pada ancaman pidananya

dalam undang-undang, yang apabila hal ini tidak cukup

kuat dan tidak efektif dalam hal menakut-nakuti,

memperbaiki dan membuat tidak berdayanya penjahat.

(36)

harus sesuai dengan atau berdasarkan atas hukum dari

masyarakat.

d. Teori Social Defence

Social defence adalah aliran pemidanaan yang berkembang

setelah Perang Dunia II dengan tokoh terkenalnya Fillipo

Gramatika, yang pada tahun 1945 mendirikan Pusat Studi

Perlindungan Masyarakat. Perkembangan selanjutnya, pandangan

social defence terpecah menjadi dua aliran (setelah Kongres Ke-2

tahun 1949), yaitu aliran yang radikal (ekstrim) dan aliran yang

moderat (reformis).

Pandangan yang radikal dipelopori dan dipertahankan oleh F.

Gramatica yang salah satu tulisannya berjudul “The fight against

punisment”. Gramatica berpendapat bahwa hukum perlindungan

sosial harus menggantikan hukum pidana yang ada sekarang yang

tujuannya adalah mengintegrasikan individu ke dalam tertib sosial

dan bukan pemidanaan terhadap perbuatannya. Pandangan ini

menghendaki penghapusan hukum pidana (obilisionisme), karena

pemidanaan dirasakan kurang manusiawi, oleh karena itu harus

digantikan dengan hukum kerja sosial.

Sedangkan pandangan moderat dipertahankan Marc Ancel

yang menanamkan alirannya sebagai “Defence Social Nouvelle”

(37)

masyarakat mensyaratkan adanya tertib sosial, yaitu seperangkat

peraturan-peraturan yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan

untuk kehidupan bersama, tetapi sesuai dengan aspirasi warga

masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu peranan yang besar

dari hukum pidana merupakan kebutuhan yang tidak dapat

dielakkan bagi suatu sistem hukum. Pandangan moderat bertujuan

mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi-konsepsi perlindungan

masyarakat ke dalam konsepsi baru hukum pidana, perlindungan

individu dan masyarakat tergantung pada perumusan yang tepat

mengenai hukum pidana, dan ini tidak kurang pentingnya dari

kehidupan masyarakat itu sendiri, dan dalam menggunakan hukum

pidana pandangan ini menolak penggunaan fiksi-fiksi dan

teknis-teknis yuridis yang terlepas dari kenyataan sosial.

e. Teori Restoratif Justice

Ahli kriminologi berkebangsaan Inggris Tony F. Marshall

dalam tulisannya mengemukakan bahwa deafenisi restorative

justice adalah :

“restorative justice is a process where by all the parties with stake

in a particular offence come together to resolve collectively how to

deal with the aftermath of the offence and its implications for the

future” (restirative justice adalah sebuah proses dimana semua

(38)

bersama untuk menyelesaikan secara bersama-sama bagaimana

menyelesaikan akibat dari pelanggaran tersebut demi kepentingan

masa depan). Restorative justice bersifat merekatkan peradilan

pidana dengan konteks sosialnya yang menekankan daripada

mengisolasinya secara tertutup.

Bazemore dan Walgrave mendefenisikan restorative justice

sebagai tindakan untuk menegakkan keadilan dengan memperbaiki

kerusakan yang ditimbulkan akibat suatu tindak pidana.

(“Restorative justice is very action that is primarily oriented toward

doing justice by repairing the harm that has been caused by a

criem”). Teori ini berasal dari tradisi common law dan tort law

yang mengharuskan semua yang bersalah untuk dihukum.

Hukuman menurut teori ini termasuk pelayanan masyarakat, ganti

rugi dan bentuk lain dari hukuman penjara yang membiarkan

terpidana untuk tetap aktif dalam masyarakat.

Sejarah perkembangan hukum modern penerapan

restorative justice diawali dari pelaksanaan sebuah program

penyelesaian di luar peradilan tradisional yang dilakukan

masyarakat yang disebut dengan victim offender mediation yang

dimulai pada tahun 1970-an di negara canada. Program ini awalnya

dilaksanakan sebagai tindakan alternatif dalam menghukum pelaku

kriminal anak, dimana sebelum dilaksanakan hukuman pelaku dan

(39)

menjadi salah satu pertimbangan dari sekian banyak pertimbangan

hakim. Program ini menganggap pelaku akan mendapatkan

keuntungan dan manfaat dari tahanan ini dan korban juga akan

mendapatkan perhatian dan manfaat secara khusus sehingga dapat

menurunkan jumlah residivis dikalangan pelaku anak dan

meningkatkan jumlah anak bertanggung jawab dalam memberikan

ganti rugi pada pihak korban. Dari pelaksanaan program tersebut

diperoleh hasil tingkat kepuasan yang lebih tinggi bagai korban dan

pelaku daripada saat mereka menjalani proses peradilan tradisional.

2. Pengertian Psikologis dan Gangguan Psikologis

2.1 Sejarah Psikologi

Psikologi adalah kajian tentang pikiran, seiring dengan

aspek-aspek pikiran seperti persepsi, kognisi, emosi, dan perilaku.

Dalam beberapa cara, psikologis sudah menkjadi wilaya tersendiri

sejak akhir 1800-an, ketika tokoh seperti Wilhelm Wundt, William

James, dan Sigmund Freud memisahkannya dari beragam disiplin

induk semisal biologi, filsafat, dan kedokteran. Tetapi, dalam

beberapa cara lain, psikologi sudah seumuran dengan manusia dalam

(40)

Kini, psikologi berupaya untuk menjadi sebuah ilmu. Ilmu

adalah usaha untuk mengkaji sebuah subjek dengan kemampuan

eksplisit untuk berpikir selogis mungkin dan berpijak sekuat

mungkin pada fakta-fakta empiris secara manusiawi. Ilmu-ilmu lain,

kimia, fisika, biologi dan seterunya telah meraih keberhasilan sangat

besar dengan cara ini.

Ditinjau dari segi bahasa, perkataan psikologi berasal dari

perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang

berarti ilmu dan ilmu pengetahuan. Karena itu perkataan psikologi

sering diartikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengetahuan

tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa.

Psikologi sebagai suatu ilmu, psikologi juga mempunyai

tugas-tugas atau fungsi-fungsi tertentu seperti ilmu-ilmu pada

uumnya. Adapun tugas psikologi ialah:

1) Mengadakan deskripsi, yaitu tugas untuk menggambarkan secara

jelas hal-hal yang dipersoalkan atau dibicarakan.

2) Menerangkan, yaitu tugas untuk menerangkan keadaan atau

kondisi-kondisi yang mendasari terjadi peristiwa-peristiwa

tersebut.

3) Menyusun teori, yaitu tugas mencari dan merumuskan

hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan mengenai hubungan antara

peristiwa satu dengan peristiwa lain atau kondisi satu dengan yang

(41)

4) Prediksi, yaitu tugas untuk membuat ramalan (prediksi) atau

estimasi mengenai hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang mungkin

terjadi atau gejala-gejala yang akan muncul.

5) Pengendalian, yaitu tugas untuk mengendalikan atau mengatur

peristiwa-peristiwa atau gejala.

Menurut Wundt (Lih. Devidoff, 1981) psikologi merupakan

ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human

consciousness). Para ahli psikologi akan mempelajari proses-proses

elementer dari kesadaran manusia itu. Dari batasan ini dapat

dikemukakan bahwa keadaan jiwa direfleksikan dalam kesadaran

manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam

psikologi itu.

Di samping itu Woodworth dan Marquis (1957) mengajukan

pendapat bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan

ilmu tentang aktivitas-aktivitas individu. Secara lengkap

dikemukakan :

Psychology can be defined as the science of the activities of

the individual. The word “activity” is used here in very broad sense.

It includes not only motor activities like walking and speaking, but

also cognitive (knowledge getting) activities like seeing, hearing,

remembering and thingking, and emotional activities like laughing

(42)

Dari apa yang dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis

tersebut jelas memberikan gambaran bahwa psikologi itu

mempelajari aktivitas-aktivitas individu, pengertian aktivitas dalam

arti yang luas, digunakan pengertian kesadaran, maka pada

Woodworth dan Marquis digunakan aktivitas-aktivitas. Namun

keduanya baik kesadaran maupun aktivitas-aktivitas, hal tersebut

menggambarkan tentang refleksi dari kehidupan kejiwaan.

2.2 Perilaku Manusia

Seperti yang telah dipaparkan, bahwa psikologi merupakan

ilmu tentang perilaku, dengan pengertian bahwa perilaku atau

aktivitas-aktivitas itu merupakan manifestasi kehidupan psikis. Telah

dikemukakan oleh para ahli, bahwa yang diteliti atau dipelajari

dalam psikologi ini baik perilaku manusia. Dengan demikian maka

dalam psikologi itu fokusnya adalah manusia. Banyak penelitian

yang dilakukan pada hewan, yang hasilnya kemudian diarahkan pada

manusia, khususnya penelitian-penelitian yang eksperimental.

a. Jenis perilaku

Perilaku pada manusia dapat dibedakan antara perilaku yang

refleksif dan perilaku yang non-refleksif. Perilaku yang refleksif

merupakn perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap

(43)

mmata bila kena sinar; gerak lutut bila kena sentuhan palu; menarik

jari bila jari kena api dan sebagainya. Reaksi atau perilairinya, secara

otomatis. Stimulasi yang diterima oleh organisme atau individu tidak

sampai ke pusat sususnan syaraf atau otak sebagai pusat kesadaran,

sebagai pusat pengendali dari perilaku manusia. Dalam perilaku

yang refleksif respon langsung timbul begitu menerima stimulus.

Dengan kata lain begitu stimulus diterima oleh reseptor, begitu

langsung respon timbul melalui afektor, tanpa mmelalui pusat

kesadaran atau otak.

Lain halnya dengan perilaku yang non-refleksif. Perilaku ini

dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran tau otak. Dalam kaitan

ini stimulasi setelah diterima oleh reseptor kemudian diteruskan ke

otak sebagai pusat syaraf, pusat kesadaran, baru kemudian terjadi

respon melalui afektor. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat

kesadaran ini yang disebut proses psikologis. Perilaku atau aktivitas

atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psikologis

atau perilaku psikologis (Branca, 1964).

Pada perilaku manusia, perilaku psikologis inilah yang

dominan, merupakan perilaku yang banyak pada diri manusia, di

samping adnya perilakub refleksif. Perilaku refleksif pada dasaranya

tidak dapat dikendalikan. Hal tersebut karena perilaku refleksif

merupakan perilaku yang alami, bukan perilaku yang dibentuk. Hal

(44)

Perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk, dapat dikendalikan,

karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses

belajar. Di samping perilaku manusia dapat dikendalaikan atau

terkendali, yang berarti bahwa perilaku manusia juga merupakan

perilaku yang terintegrasi (integrated), yang berarti bahwa

keseluruhan keadaan individu atau manusia itu terlibat dalam

perilaku yang bersangkutan, bukan bagian demi bagian. Karena

begitu kompleksnya perilaku manusia itu, maka psikologi ingin

memehami perilaku tersebut.

b. Pembentukan perilaku

Seperti yang telah dipaparkan di depan bahwa perilaku

manusia sebagian terbesar ialah berupa perilaku yang dibentuk,

perilaku yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut maka salah

satu persoalan ialah bagaimana cara membentuk perilaku itu sesuai

dengan yang diharapkan.

1) Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau

kebiasaan

Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan

kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri

untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan

terbentuklah perilaku tersebut. Misal anak dibiasakan bangun

(45)

kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain, membiasakan diri

untuk datang tidak terlambat di sekolah dan sebagainya.

2) Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight)

Di samping pembentukan perilaku dengan kondisioning atau

kebiasaan, pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan

pengertian atau insigth. Misalnya datang kuliah jangan sampai

terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-tema

yang lain. Bila naik motor harus pakai helm, karena helm

tersebut untuk keamanan diri, dan masih banyak lagi contoh

untuk menggambarkan hal tersebut. Cara ini berdasarkan atas

teori belajar kognitif, yaituu belajar dengan disertai adanya

pengertian. Bila dalam eksperimen Thorndike dalam belajar

yang dipentingkan adalah soal latihan, maka dalam eksperimen

Kohler dalam belajar yang penting adalah pengertian atau

insight.

3) Pembentukan perilaku dengan menggunakan model

Di samping cara-cara pembentukan perilaku seperti tersebut di

atas, pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan

menggunakan model atau contoh. Kalau orang bicara bahwa

(46)

panutan yang dipimpinnya, hal tersebut menunjukkan

pembentukan perilaku dengan menggunakan model. Pemimpin

dijadikan model atau contoh oleh yang dipimpinnya. Cara ini

didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau

observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura

(1977).

Kareteristik merupakan sesuatu yang menjadi ciri khas

seseorang dalam mencerap, merasa, meyakini, atau bertindak. Ketika

kita tanpa sengaja menggambarkan seseorang, kita menggunakan

istilah-istilah kareteristik ini. Misalnya, saya adalah seorang yang

introvert, penggugup, sangat dekat dengan keluarga, sering

mengalami depresi, dan juga sangat cerdas. Mempunyai citra humor

yang bagus, suka bahasa, sangat suka mmakan enak, tidak menyukai

semua olahraga, dan sedikit obsesif.

Para psikologi, khususnya personologi, sangat tertarik dengan

persoalan kareteristik ini. Mereka sangat tertarik dalam menemukan

kareteristik mana yang luas dan mungkin berbasis genetik, yang bisa

jadi k dan mudah berubah.

2.3. Gangguan kepribadian

Ada beberapa teori yang membahas tentang gangguan

kepribadian yaitu:

(47)

Neurosis erujuk pada serangkaian masalah psikologis yang

melibatkan pengalaman yang berdampak negatif secara

berkepanjangan dalam bentuk kecemasan, kesedihan atau depresi,

marah, cepat marah, kekacauan ental, penghargaan-diri yang rendah,

dan lain sebagainya; gejala-gejala perilaku, seperti penghindaran

karena fobia, waspada, tindakan-tindakan impulsif dan kompulsif,

kelesuhan, dan seterusnya; asalah-asalah kognitif, seperti berbagai

pikiran tidak menyenangkan atau mengganggu, pengulangan pikiran

dan obsesi, fantasi yang menjadi kebiasaan, negativitas dan sinise,

dan lain-lain. Secara interpersonal, neurosis meliputi ketergantungan,

agresivitas, perfeksionisme, isolasi terbelah, perilaku-perilaku yang

secara sosiokultural tidak tepat, dan lain-lain.

Umumnya, neurosis ditandai dengan rendahnya keapuan

untuk beradaptasi dengan lingkungan, yakni tidak mampu mengubah

berbagai pola hidup kita, serta tidak mampu mengembangkan

kepribadiaan yang lebih kaya, lebih kompleks, dan lebih

memuaskan.

Poin pertama yang harus dicatat adalah kondisi-kondisi

psikologis yang mempengaruhi, yang sebagian besar bersifat

turun-temurun. Yang paling jelas adalah sifat-sifat (karakteristik)

tempramen yang disebut sebagai instabilitas emosional. Karakteristik

lain bisa juga berkontribusi, seperti kehati-hatian yang sangat tinggi

(48)

menjadikan orang itu kemungkinan lebih mengembangkan

masalah-masalah neurotis.

Poin kedua adalah budaya seseorang, asuhan, pendidikan,

dan pembelajaran yang ia dapatkan, umumnya bisa menyiapkan

seseorang untuk menghadapi tekanan-tekanan hidup dan bisa juga

tidak. Faktor-faktor ini mungkin bisa mengesampingkan

kondisi-kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi atau memperburuknya.

Poin ketiga menyangkut pemicu ketegangan (stressor) dalam

kehidupan seseorang yang menyebabkan beragam gejala neurosis

emosional, behavioral, dan kognitif. Bergabai pemicu ini bisa

dipahami sebagai situasi-situasi yang tidak pasti atau kacau, yang

biasanya melibatkan hubungan-hubungan interpersonal, yang

melampaui kapasitas seseorang yang dipelajari dan/atau diwariskan,

dalam mengatasi situasi-situasi tersebut.

Ketika kita mengalami kejadian yang membuat stres dan

kecemasan berulang, kita mulai mengembangkan pola-pola perilaku

dan kognisi yang dirancang untuk menghindarkan atau sebaliknya

meredahkan masalah, seperti kewaspadaan, perilaku melarikan diri,

dan pemikiran defesif. Ini semua bisa berubah menjadi sekumpulan

sikap yang pada dasarnya menghasilkan rasa cemas, marah, sedih,

dan lain sebagainya.

(49)

Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang

paling umum atau sering terjadi. Gangguan itu encakup sekumpulan

kondisi yang menetapkan kecemasan ekstrem atau patologis sebagai

gangguan suasana hati atau emosi yang bersifat prinsipil.

Kecemasan, yang bisa dipahami sebagai padanan patologis dari

ketakutan normal, tampil melalui gangguan suasana hati, dan juga

pada pikiran, perilaku, dan aktivitas psikologis.

1) Serangan Panik dan Gangguan Panik

Serangan panik adalah periode tersendiri dari ketakutan

yang intens atau ketidakmampuan atau ketidaknyamanan yang

dikaitkan dengan sejumlah gejala somatis dan kognitif

(DSM-IV).gejala-gejala ini meliputi jantung berdebar-debar, berkeringat,

gemetar, nafas terengah-engah, perasaan tercekik atau terjepit,

sakit dada, mual atau perut mual, pusing atau berkunang-kunang,

perasaan geli, dan wajah yang memerah. Serangan itu lazimnya

muncul secara mendadak, yang bertambah hinggah mencapai

intensitas maksimum dalam 10 hingga 15 menit. Banyak orang

mengatakan takut mati, “gila”,atau kehilangan kontrol emosi dan

perilaku. Pengalaman-pengalaman itu umumnya membangkitkan

keinginan kuat untuk melarikan diri atau meninggalkan tempat di

mana serangan bermula dan, ketika dihubungkan dengan sakit dada

atau nafas terengah-engah, kerap kali berakibat pada mencari

(50)

pertolongan darurat lainnya. Kendati demikian, serangan jantung

berlangsung lebih dari 30 menit.

Gangguan panik pada perempuan umumnya terjadi dua kali

lebih banyak dibandingkan laki-laki (American Psychiatric

Association, 1998). Usia yang paling sering mengalami serangan

adalah antara remaja akhir hingga paro baya, dengan serangan

yang relatif tidak biasa setelah usia 50.

2) Agorafobia

Istilah kono agorafobia diterjemahkan dari bahasa Yunani

yang berarti takut akan pasar yang terbuaka. Agorafobia saat ini

digambarkan sebagai kecemasaan mendalam dan parah tentang

keberadaan dalam suatu situasi di mana untuk melarikan diri dari

situasi tersebut teras sulit. Hal ini biasanya terjadi saat sendirian di

luar rumah, berpergian dengan mobil, bis, atau pesawat, atau

berada di wilaya yang hiruk-pikuk (DSM-IV).

Banyak spesialis kesehatan mental yang mengembangkan

agorafobia setelah serangan ganggguan panik (American

Psychiatric Association,1998). Agorafobia sangat dipahami sebagai

akibat perilaku yang merugikan dari serangan panik berulang dan

berikutnya kecemasan, keasyikan, serta penghindaran (Barlow,

1988).

Agorafobia terjadi sekitar dua kali lebih umum pada

(51)

3) Fobia-fobia spesifik

Kondisi umum ini dicirikan dengan ketakutan nyata terhadap

objek atau situasi tetentu (DSM-IV). Penyingkapan objek fobia, baik

dalam kehidupan nyata maupun lewat imajinasi atau video, selalu

mendatangkan kecemasan intens, yang bisa jadi disertai sebuah

serangan panik ( yang terkait secara situasional). Orng dewasa

umumnya menyadari bahwa ketakutan intens ini tidak rasional.

Kendati demikian, mereka lazimnya menghindari stimulus

yang menyebabkan fobia atau mempertahankan pnyingkapan

dengan kesulitan yang besar. Fobia khusus yang paling umum

eliputi stimulasi situasi menakutkan berikut : binatang (terutaa ular,

hewan pengerat, burung, dan ajing; serangga (terutama laba-laba

dan lebah atau kecoa); ketinggian;elevator; terbang; mengendarai

mobil; ait; petir; dab darah atau jarum suntik.

4) Gangguan stres pasca-traumatik dan akut

Gangguan stres akut mengacu pada kecemasan dan

gangguan perilaku yang berkembang dalam bulan pertama setelah

penyingkapan trauma ekstrem. Umumnya, gejala gangguan stres

akut bermula selama atau sesaat setelah trauma. Kejadian

traumatik ekstrem tersebut mencakup perkosaan atau penyerangan

fisik parah lainnya, pengalaman hapir mati dalam kecelakaan,

menyaksikan pembunuhan, dan pertempuran. Gejala disosiasi

(52)

antara pikiran dan keadaan emosional atau bahkan tubuh,

merupakan ciri-ciri yang kritis. Disosiasi juga dicirikan dengan

pemahaman dunia sebagai tempat yang tidak nyata atau bagaikan

mimpi dan bisa dipadukan dengan memori buruk mengenai

kejadian-kejadian spesifik, yang dalam bentuk parahnya dikenal

sebagai amnesia disosiatif. Ciri lain dari gangguan stres akut

meluputi gejala-gejala kecemasan umum dan super-waspada,

penghindaran terhadap trauma, dan mengingat kembali suatu

kejadian melalui kilas balik, mimpi atau pemikiran berulang atau

gambaran visual secara mendalam dan intrusif.

Karena sifat dasar gangguan stres pasca traumatik lebih

berlarut-larut (relatif terhadap gangguan stres akut), sejumlah

perubahan termaksud penghargaan diri yang menurun, hilangnya

kepercayaan diri yang berlarut-larut perihal orang-orang atau

masyarakat, keputusan, pemahaman akan dirusak secara permanen,

dan kesaulitan-kesulitan dalam hubungan yang telah terjalin

sebelumnya, lazimnya selalu diperhatikan. Penyalahgunaan bahan

kimia kerap terjadi, terutama alkohol, mariyuana, dan obat bius

yang bersifat menenangkan atau menghipnotis.

c. Gangguan suasana hati.

Dalam satu tahun, sekitar 7 persen orang Amerika menderita

gangguan suasana hati, seperangkat gangguan mental yang sangat

(53)

berada di luar batas-batas fluktuasi normal yang berkisar mulai dari

kesedihan hingga kegembiraan. Semua ini memiliki dampak

potensial yang berat bagi ketidakwarasan dan kematian.

1) Depresi berat

Gejala-gejala utama gangguan depresi berat adalah suasana

hati yang tertekan dan hilangnya minat atau kesenangan.

Gejala-gejala lainnya sangat beragam. Isalnya, insomnia dan

berkurangnya berat badan dipandang sebagai tanda-tanda klasik,

sekalipun banyak pasien depresi makin bertambah berat badannya

dan tidur berlebihan.

Gejala depresi berat lainnya, seperti anhedonia

(ketidakmampuan utuk merasakan kesenangan), putus asa, dan

hilangnya reaktivitas suasana hati (kemampuan merasakan sebuah

peningkatan suasana hati dalam merespon sesuatu yang positif)

sangat jarang menyertai kesedihan “normal”.. pikiran-pikiran

bunuh diri dan gejala-gejala psikotik seperti delusi atau halisunasi

sesungguhnya selalui mmenandai sebuah kondisi patologis.

2) Gangguan bipolar.

Gangguan bipolar adalah sebuah gangguan suasana hati

kabuhan yang menggambarkan satu atau lebih peristiwa mania atau

gabungan antara mania dan depresi (DSM-IV; Goodwin & Jamison

(54)

dikarenakan riwayat peristiwa maniak atau hipomaniak ( yang lebih

ringan dan tidak psikotik) yang dialami.

F. Metode Penelitian

1. Jenis dan sifat penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian

yuridis normatif dengan jenis penelitian hukum untuk perkara In-Concrito.

Diman penulis mencari fakta-fakta yang akurat dan valid tentang sebuah

peristiwa konkrit yang menjadi objek penelitian. Penelitian ini juga

dilakukan dan ditujukan pada peraturan-peraturan tertul;is dan

bahan-bahan lain, serta menelaah peraturan perundang-undang yang berhubungan

dengan ppenulisan skripsi ini. Sedangkan sifat dari penelitian ini adalah

deskriftif yaitu tipe penelitian untuk memberikan data yang seteliti

mungkin tentang suatu gejala atau fenomena, agar dapat membantu dalam

memperkuat teori-teori yang sudah ada, atau mencoba merumuskan teori

baru.

2. Data dan sumber data

Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang

tidak diperoleh dari sumber pertama yang bisa diperoleh dari

dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil penelitian, laporan, buku harian, surat

kabar, makalah, dan lain sebagainya. Data sekunder dalam penelitian ini

dapat dibagi atas 3 kelompok besar, yaitu :

a. Bahan hukum primer yang penulis peroleh

(55)

b. Bahan hukum sekunder diperoleh penulis

dari Putusan Mahkamah Konstitusi No. 2-3/PUU-V/2007, keterangan,

kajian, analisis tentang hukum positif seperti skripsi, makalah seminar,dll.

c. Bahan hukum tertier yang dipergunakan

penulis sebagai bahan yang mendukung, memberi penjelasan bagi bahan

hukum sekunder seperti Kamus Besar Indonesia,Kamus Bahasa Inggris,

dan Kamus Hukum.

3. Metode pengumpulan data

Alat-alat pengumpulan data, pada umumnya dikenal tiga jenis alat

pengumpulan data, yaitu studi dokumen atau bahan pustaka, pengamatan

atau observasi, dan wawancara atau interview (Soekanto, 2007 : 50).

Berdasar pendekatan yang dipergunakan dalam memperoleh data, maka

alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah :

a. Studi kepustakaan dan dokumen

Dalam penelitian ini, penulis mempergunakan metode

pengumpulan data melalui studi dokumen/ kepustakaan ( library

research ) yaitu dengan melakukan penelitina terhadap berbagai sumber

bacaan seperti buku-buku yang berkaitan dengan pidana mati, psikologi,

pendapat sarjanah, surat kabar, artikel, kamus dan juga berita yang penulis

peroleh dari internet.

b. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan

(56)

atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan

menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)

(Nazir, 1988 : 234).

Wawancara dipergunakan dengan tujuan-tujuan sebagai berikut :

1. Memperoleh data mengenai persepsi manusia

2. Mendapatkan data mengenai kepercayaan manusia

3. Mengumpulkan data mengenai perasaan dan motivasi seseorang

(atau mungkin kelompok manusia)

4. Memperoleh data mengenai antisipasi ataupun orientasi ke masa

depan dari manusia

5. Memperoleh informasi mengenai perilaku pada masa lampau

6. Mendapatkan data mengenai perilaku yang sifatnya sangat pribadi

atau sensitif (Soekanto, 2007 : 67).

G. Sistematika Penulisan Skripsi

Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang isi

skripsi, maka secara garis bear sistematikanya dibagi menjadi tiga

(57)

Bagian awal skripsi : sampul, lembar berlogo, halaman judul, persetujuan

pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan, motto dan persembahan,

prakata, sari, daftar isi, table daftar, serta daftar lampiran.

Bagian isi skripsi terdiri atas :

Bab I Pendahuluan

Diuraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika skripsi.

Bab II Landasan Teori

Membahas landasan dan konsep-konsep serta teori-teori yang dijadikan

landasan dalam penelitian.

Bab III Metode Penelitian

Membahas tentang metode pendekatan dan spesifikasi penelitian, metode

pengumpulan data, observasi dan metode penyajian data.

Bab IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan

Berisi hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.

Bab V Kesimpulan Dan Saran

Berisi kesimpulan dari hasil penelitian, saran kepada pihak yang terkait.

(58)

DAFTAR PUSTAKA Buku :

Boeree , C. George (2008), General Psychology: Psikologi Kepribadian,

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan anak di bawah umur melakukan tindak pidana pembunuhan, pertimbangan hakim dalam menerapkan sanksi

ilmu hukum pada umumnya dan hukum pidana pada khususnya yang.. lebih mengkhususkan lagi mengenai dasar pertimbangan hakim dalam. menjatuhkan pidana mati terhadap pelaku

DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PUTUSAN YANG RASIONAL TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA ... Tinjauan Mengenai Peranan Hakim Dalam Peradilan

Bab III adalah Hasil Penelitian dan Pembahasan yang berisi tentang perlindungan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana pencabulan, pertimbangan hakim dalam

TINJAUAN YURIDIS PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP ANAK YANG MENGAKIBATKAN ANAK MELAKUKAN TINDAK PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN ANAK NO.35 TAHUN 2014

Yang membedakan dengan penelitian yang akan dibahas oleh peneliti ialah bagaimana analisis hukum pidana Islam dan juga pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara mengenai

Perumusan tindak pidana dalam Bab II Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jika dihubungkan dengan subjek hukum yang dikenal dalam Undang-Undang Pemberantasan

ABSTRAK PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA MAIN HAKIM SENDIRI EIGENRECHTING, Hukum dengan mensosialisasikan hakikat perlunya hukum dipatuhi oleh masyarakat dibarengi dengan