ANALISIS YURIDIS SOSIOLOGIS ( SUATU KAJIAN
DARI PENGARUH PSIKOLOGIS BAGI TERPIDANA
MATI
(Studi Kasus di Lembaga Pemasyarakatan)
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana
Disusun Oleh:
Nama : Auria Patria Dilaga Nim : 8111409077
FAKULTAS HUKUM
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS HUKUM
Rancangan Skripsi
Nama : Bornok Mariantha Sidauruk
Nim : 3450406046
Fak : Hukum
A. Judul Skripsi
ANALISIS MENGENAI EKSISTENSI PIDANA MATI DI
INDONESIA ( SUATU KAJIAN DARI PENGARUH PSIKOLOGIS BAGI TERPIDANA MATI).
B. Latar Belakang
ictie ialah bahwa kita menerima sesuatu yang tidak benar sebagai suatu hal yang benar. Dengan perkataan lain kita menerima apa yang sebenarnya tidak ada, sebagai ada atau yang sebenarnya ada sebagai tidak ada.[2] Kata fictie itu biasanya dipakai orang, jika orang dengan sadar menerima sesuatu sebagai kebenaran, apa yang tidak benar. Fictie atau dusta yang demikian itu memegang peranan yang penting dalam hukum, dan sudah dipakai sejak dahulu.
(dari Sulla) menentukan bahwa bila seorang rakyat meninggal dalam tawanan perang ia seharusnya dianggap sebagai orang yang meninggal pada saat pengangkatannya, sehingga surat wasiatnya berlaku (fictio legis corneliae). Fictie tersebut yang pada mulanya hanya ditentukan untuk hukum waris kemudian dilakukan untuk segala hubungan hukum dari seorang tawanan. Rakyat Romawi yang tertangkap sebagai tawanan, yang kembali di negerinya sendiri tak pernah dianggap sebagai bekas tawanan perang. Bangsa Romawi memakai fictie sebagai alat teknik pertolongan untuk perkembangan hukum. Dalam hal tersebut, perkembangan hukum inggris memperlihatkan persamaan dengan hukum Romawi.[3]
Dalam hukum Indonesia, fiksi hukum juga diakui. Lihat pasal 3 KUH Perdata yang berbunyi “Anak yang berasal dari seorang perempuan yang hamil, dinyatakan sebagai telah lahir, sekadar kepentingannya menghendakinya. Jika ia dilahirkan mati, ia dianggap sebagai tidak pernah ada”. Fiksi-fiksi tersebut mempunyai sidat yang tak berbahaya. Bahkan lebih daripada itu, orang dapat mengatakan bahwa fiksi perundang-undangan itu bukanlah fiksi sebenarnya melainkan dirumuskan belaka sebagai fiksi.
Soal “Ignorare Legis est lata Culpa”. atau fiksi hukum yang berarti setiap orang dianggap telah mengetahui adanya suatu Undang-Undang yang telah diundangkan[4] menarik untuk diperbincangkan. Jarang kita melihat fiksi hukum itu dalam konteks waktu dan dimana kelahirannya. fiksi yang kita bicarakan ini juga harus dilihat dalam konteks ke-Indonesiaan.
Dalam Sejarah Hukum di Eropa daratan, hukum itu lahir dari kontrak sosial, kontrak sosial adalah metamorfosa dari kontrak-kontrak ekonomi masyarakat merkantilis. jadi ia lahir dari ranahnya hukum privat. Baru abad 18 dengan gejala industrialisasi munculah Negara Modern. Negara modern mensyaratkan adanya generalitas dalam sistem hukum yang bersifat publik. Untuk memenuhi generalitas itulah semua orang yang berada dalam satu wilayah negara harus tunduk pada suatu hukum yang dibikin oleh bandan publik. hal itu memberi manfaat agar institusi publik menjadi kuat.
Lalu bagaimana kira-kira bila dibandingkan dengan konteks Indonesia? Pertama, soal geografis adalah pembeda yang paling tajam antara NKRI dengan Negara-negara Eropa daratan yang relatif kecil. Pembeda kedua adalah Identifikasi Sosial masyarakat yang beragam berdasarkan suku dan penerimaannya terhadap hukum negara.
Lembaran Negara, Tambahan Berita Negara, Lembaran Daerah, dll, dapat menjamin masyarakat mengetahui adanya peraturan yang diundangkan tersebut.
Dalam prakteknya, banyak masyarakat yang tidak mengerti bahkan tidak mengetahui adanya peraturan perundang-undangan yang baru. Permasalahan timbul ketika banyak warga masyarakat melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut, karena ketidak tahuannya bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang oleh peraturan perundang-undangan. Luasnya daerah geografis negara Indonesia, buruknya akses masyarakat kepada pemerintahan, keterbelakangan wilayah, membuat tidak seluruh peraturan perundang-undangan tersebut dapat diketahui oleh masyarakat hanya dengan perintah pencantuman ke dalam Lembaran Negara, Tambahan Berita Negara, dll. Ketidak mampuan pemerintah dan aparaturnya dalam mensosialisasikan peraturan-peraturan yang baru dibentuk dan baru diundangkan juga menjadi salah satu sebab ketidak tahuan masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan. Seharusnya, sebelum mempergunakan fiksi hukum ini, pemerintah wajib melakukan sosialisasi secara maksimal, sehingga paling tidak, 85 % masyarakat dapat mengetahuinya dan kemudian mematuhi peraturan tersebut.
Jadi fiksi perundang-undangan itu sebenarnya bukanlah tidak dapat dibuang. Akan tetapi bahwa ia sering dipakai terutama dapat dipahami dari sudut hasrat pembentuk undang-undang untuk memperoleh perumusan yang singkat. Adakalanya juga pembentuk undang-undang memakai fiksi, padahal pemakaian fiksi itu dapat dihindarinya. Hukum yang tugasnya mengatur kehidupan masyarakat sebenarnya tidak boleh dijelmakan dalam peraturan-peraturan yang dalamperumusannya jelas bertentangan dengan kenyataan. Adalah kewajiban ajaran hukum untuk sebanyak mungkin mengeluarkan fiksi dari perundang-undangan, dengan kata lain, mempersiapkan peraturan-peraturan yang sederhana.
C. Pembatasan Masalah
Agar masalah yang akan penulis bahas tidak meluas sehingga dapat
mengakibatkan ketidak jelasan pembahasan masalah maka penulis akan
membatasi maslah yang akan di teliti, antara lain :
1. Pengaruh letak domisili terhadap pengetahuan terhadap hukum yang
berlaku.
2. Eksistensi asas fictie hukum di masyarakat pedesaan dan perkotaaan
3. Output dari asas fictie hukum untuk upaya penegakan hukum.
D.Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas mengenai Analisa psikologis terhadap eksistensi pidana mati di Indonesia bagi terpidana mati , maka peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh letak domisili mesyarakat terhadap hukum yang
berlaku di Indonesia?
2. Bagaimana Eksistensi dan apakah asas fictie hukum berlaku di masyarakat
pedesaan dan perkotaan di Indonesia?
3. Sejauh mana output yang diharapkan dari asas fictie hukum untuk
penegakan hukum di Indonesia?.
Tujuan Penulisan dan Manfaat Penulisan
Secara umum tujuan penulisan adalah untuk medalami berbagai aspek
tentang permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan dalam
perumusan masalah. Secara khusus tujuan penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui pengaruh psikologis yang ditimbulkan pidana mati terhadap terpidana mati dan masyarakat di Indonesia.
b. Untuk mengetahui bagaimana eksistensi dan apakah pidana mati masih perlu untuk dipertahankan dalam sistem hukum pidana di Indonesia.
c. Untuk mengetagui sejauh mana urgensi pidana mati dalam memberi efek jera bagi pelanggar hukum berat dan mencegah pelanggaran HAM yang lebih parah.
2. Manfaat penulisan
Adapun manfaat penulisan ini adalah sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penulisan ini diharapkan dapat memperkaya khasanah
ilmu pengetahuan khususnya bagi pengembangan teori ilmu hukum
pidana terutama mengenai eksistensi dan dampak psikologis dari pidana
mati di Indonesia. Selain itu dengan adanya tulisan ini penulis berharap
dapat menambah dan melengkapi perbendaharaan dan koleksi karya
ilmiah dengan memberikan kontribusi pemikiran bagi penerapan pidana
b. Manfaat Praktis
Secara praktis penulisan ini diharapkan dapat menjadi kerangka acuan
dan landasan bagi penulis lanjutan, dan mudah-mudahan dapat
memberikan masukan bagi pembaca terutama bagi pembentuk hukum
khususnya pembentuk Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
yang sampai sekarang masih dalam Rancangan KUHP dan praktisi
hukum, pejabat atau instansi terkait dalam menetapkan kebijaksanaan
lebih lanjut terhadap pelaksanaan atau pun pemberlakuan pidana mati
untuk mengantisipasi suatu tindak pidana terutama tindak pidana yang
dapat memberikan dampak yang besar bagi masyarakat. Penulisan ini
juga diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat sehingga
masyarakat dapat mengetahui dam memberikan tanggapan terhadap
perlu atau tidaknya pidana mati di Indonesia dalam rangka mengurangi
tindak pidana lain.
E. Tinjauan Pustaka
1.1 Pengertian pidana dan pidana mati
berkonotasi dengan bidang yang cuklup luas. Istilah tersebut tidak hanya sering digunakan dalam bidang hukum, tetapi juga dalam istilah sehari-hari seperti di bidang moral, agama dan lain sebagainya.
Oleh karena itu dipergunakan istilah “pidana” yang merupakan istilah yang lebih khusus dan dianggap lebih tepat bila dibandingkan dengan istilah “hukuman”. Untuk itu diperlukan pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau sifat-sifatnya yang khas.
Pidana berasal dari kata straf (Belanda). Pidana lebih tepat didefenisikan sebagai suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan atau diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat hukum (sanksi) bagianya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana. Secara khusus larangan dalamhukum pidana ini disebut sebagai tindak pidana (stafbaar feit).
Untuk memberikan gambaran yang lebih luas, berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut :
a. Sudarto.
b. Roeslan Saleh.
Pidana adalah reaksi atas delik, dan ini berwujud nestapa yang dengan sengaja ditimpahkan negara pada pembuat delik itu.
c. Fitzgerald.
Punisment is the authoritative infliction of suffering for an offence.
d. Ted Honderich.
“Punishment is an authority’s infliction of penalty (something involving defrivation or distress) on an offender for an offence”. Pidana adalah suatu pengenaan pidana yang dijatuhkan oleh seorang penguasa (berupa kerugian atau penderitaan) kepada pelaku tindak pidana.
e. Sir Ruper t Cross
Punisment means “The infliction of pain by the state on someone who has been convicted of an offence”. Pidana berarti pengenaan penderitaan oleh negara kepada seseorang yang telah dipidana karena suatu kejahatan.
f. Burton M. Leiser.
g. H.L.A. Hart.
Punisment must :
1) Involve pain or other consequences normally considered unpleasant; (mengandung penderitaan atau konsekuensi-konsekuensi yang lain yang tidak menyenangkan);
2) Be for an actual or supposed offender for his offence; (dikenakan pada seseorang yang benar-benar atau disangka benar melakukan tindak pidana);
3) Be for an offence against legal rules; (dikenakan berhubungan suatu tindak pidana yang melanggar ketentuan hukum);
4) Be intentionally administered by human beings other that the offender; (dilakukan dengan sengaja oleh orang selain pelaku tindak pidana);
5) Be imposed and administered by an authority constituted by a legal system against with the offence is committed. (dijatuhkan dan dilaksanakan suatu sistem hukum yang dilanggar oleh tindak pidana tersebut).
h. Alf Ross.
1) Occurs where there is violation of a legal rule; (terjadi hubungan dengan adanya pelanggaran terhadap suatu aturan hukum);
2) Is imposed and carried out by autthorised. Person on behalf of the legal order to which the violated rule belongs; (dijatuhkan dan dilaksanakan oleh orang-orang yang berkuasasehubungan dengan tertib hukum yang dilanggar;
3) Involves suffering or at least other consequences normally considered unpleasant; (mengandung penderitaan atau paling tidak konsekuensi-konsekuensi lain yang tidak menyenangkan);
4) Expresses disapproval of the violator. (menyatakan pencelaan terhadap si pelanggar).
i. Di dalam “Black’s Law Dictionary” dinyatakan bahwa “punisment” adalah: “any fine, penalty or confinement inflicted upon a person by authority of the law and the judgement and sentence of a court, for some crime or offence commited by him, or of his omission of a duty enjoined by law”.
a. Pidana itu pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan;
b. Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh orang yang berwenang);
c. Pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang;
Ketiga unsur tersebut, pada umumnya terlihat dari defenisi-defenisi di atas, kecuali Alf Ross yang menambahkan secara tegas dan eksplisit bahwa pidana itu harus juga merupakan pernyataan pencelaan terhadap diri si pelaku.
Jadi pidana mati adalah pidana (reaksi atas delik atau nestapa) berupa kematian yang diputuskan dan dilaksanakan oleh negara karena perbuatan yang telah dilakukan orang itu yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam aturan hukum pidana tertentu. Pidana mati adalah suatu kegiatan bernegara yang sah karena diatur dalam hukum positif. Sedangkan kematian mempunyai kata dasar mati yang maksudnya adalah hilangnya nyawa seseorang atau tidak hidup lagi.
a. Dalam arti umum, ialah yang menyangkut pembentuk undang-undang ialah yang menetapkan sanksi hukum pidana (hukum pidana in abstractor);
b. Dalam arti konkrit ialah yang menyangkut bergabai badan atau jawaban yang kesemuanya mendukung dan melaksanakan sanksi pidana itu.
Pemberian pidana dalam arti umum itu merupakan bidang dari pembentukan undang-undang karena asas legalitas, yaitu singkatnya berbunyi : nullum delictum nulla poena, sine praevia lege (poenal).
Wujud-wujud penderitaan yang dapat dijatuhkan oleh negara telah ditetapkan dan diatur secara rinci, baik mengenai batas-batas dan cara menjatuhkannya secara dimana dan bagaiman cara menjalankannya. Mengenai wujud jenis penderitaan itu dimuat dalam Pasal 10 KUHP. Tetapi batas-batas berat ringannya dalam menjatuhkan penderitaan tersebut dimuat dalam rumusan mengenai masing-masing larangan dalam hukum pidana yang bersangkutan. Jadi negara tidak dapat dengan bebas memilih jenis-jenis pidana dalam Pasal 10 KUHP tersebut. Hal ini berkaitan dengan fungsi hukum pidana sebagai pembatas kekuasaan negara dalam arti perlindungan hukum bagi warga dari tindakan negara dalam rangka negara menjalankan fungsi menegakkan hukum pidana.
Sebelum penjajah datang ke Indonesia terutama bangsa Belanda, Indonesia telah mempunyai hukum yang mengatur tata kehidupan manusia, yaitu hukum adat. Begitu juga dengan pengaturan pemberian pidana terhadap pelaku kejahatan, dahulu dipergunakan hukum pidana adat. Dalam hukum pidana adat yang berlaku di Indonesia dari Aceh sampai Irian juga mengenal pidana mati jauh sebelum penjajah datang ke Indonesia.
Pidana mati yang tercantum dalam KUHP merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda, diamana hukum pidana peninggalan Belanda tersebut aslinya masih dalam bahasa Bealanda yaitu “Wetboek van Strafrecht (WvS)” yang dinyatakan berlaku di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tanggal 1 Januari 1918 berdasarkan Staadblad 1915 No. 732. Namun setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, WvS tersebut masih diberlakukan bagi seluruh wilayah Republik Indonesia meskipun dengan beberapa perubahan. Begitu juga dengan ancaman pidana mati yang terdapat dalam KUHP tersebut belum dicabut walaupun KUHP sendiri telah diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946. Sebelum berlakunya WvS di Indonesia, yang berlaku adalah hukum pidana adat. Pidana mati dengan eksekusi yang kejam telah dikenal dalam hukum adat dibeberapa daerah tertentu di Indonesia.
dilaksanakan. Demukian pula bila seseorang melanggar perintah perkawinan yang eksogami. Kalau di Minangkabau tidak jauh berbeda dengan di Batak, menurut pendapat konservatif dari Datuk Ketemanggungan dikenal hukum membelas bahwa seorang pembunuh juga dapat dibunuh. Sedangkan di Cerebon penculik-penculik atau perampok wanita apakah penduduk asli atau asing yang menculik atau menggadaikan pada orang Cirebon dianggap kejahatan yang dapat dipidana mati. Di Bali pidana matijuga diancamkan bagi pelaku kaein sumban. Dikalangan suku dari Tenggara Kalimantan orang yang bersumpah palsu dipidana mati dengan jalan ditenggelamkan. Di Sulawesi Selatan pemberontakan terhadap pemerintah, kalau yang bersalah tidak mau pergi ke tempat pembuangannya, maka ia boleh dibunuh oleh setiap orang. Di Pulau Bonerate, pencuri-pencuri dipidana mati dengan jalan tidak diberi makan kemudian ditidurkan di bawah matahari hingga mati. Sedangkan di Lampung terdapat beberapa delik yang diancamkan dengan pidana mati yaitu pembunuhan, delik salah putih (zinah antara bapak atau ibu dengan anaknya atau antara mertua dengan menantu dsb) dan berzinah dengan istri orang lain.
Mulyana menulis bahwa dalam perundang-undangan Majapahit tidak dikenal pidana penjara dan kurungan, yang dikenal ialah:
a. Pidana pokok
1) Pidana mati
2) Pidana potong anggota badan yang bersalah
3) Pidana denda
4) Ganti kerugian atau Panglicawa atau Patukucawa
b. Pidana tambahan
1) Tebusan
2) Penyitaan
3) Patibajambi (pembeli obat)
1. Teori- teori pemidanaan
Pemidanaan berasal dari kata “pidana” yang sering diartikan sebagai hukuman. Jadi pemidanaan dapat diartikan dengan penghukuman. Kalau orang mendengar kata “hukuman”, biasanya yang dimaksud adalah penderitaan yang diberikan kepada orang yang melanggar hukum pidana. Pemidanaan atau pengenaan pidana berhubungan erat dengan kehidupan seseorang di dalam masyarakat, terutama apabila menyangkut kepentingan benda hukum yang paling berharga bagi kehidupan dimasyarakat, yaitu nyawa dan kemerdekaan atau kebebasannya.
Dalam pandangan masyarakat, orang yang pernah dikenakan pidana seolah-olah mendapatkan cap, bahwa orang tersebut dipandang sebagai orang yang jahat, yang tidak baik atau orang yang tercela. Sudarto mengemukakan :
“Pidana tidak hanya enak dirasa pada waktu dijalani, tetapi sesudah orang yang dikenai itu masih merasakan akibatnya berupa ‘cap’ oleh masyarakat, bahwa ia pernah berbuat ‘jahat’. Cap ini dalam ilmu pengetahuan disebut ‘stigma’. Jadi orang tersebut mendapatkan stigma, dan kalau ini tidak hilang, maka ia seolah-olah dipidana seumur hidup”
Untuk dapat memahami secara luas tentang teori-teori pemidanaan maka terlebih dahulu harus mengkaitkannya dengan aliran-aliran di dalam hukum pidana yakni aliran klasik, aliran positif dan aliran neo klasik.
Aliran ini muncul sebagai reaksi atas kesewenang-wenangan penguasa (ancient regime) pada abad ke-18 di Perancis dan Inggris, yang banyak menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan. Aliran ini menghendaki hukum pidana yang tersusun secara sistematis dan menitik beratkan pada perbuatan dan tidak kepada orang yang melakukan tindak pidana. Dengan orientasi pada perbuatan yang dilakukan, aliran ini menghendaki pidana yang dijatuhkan itu seimbang dengan perbuatan tersebut. Secara ekstrim dapat dikatakan, bahwa aliran klasik dalam pemberian pidana lebih melihat ke belakang.
Dengan pandangannya yang indeterministis mengenai kebebasan kehendak manusia aliran ini menitik-beratkan kepada perbuatan dan tidak kepada orang yang melakukan tindak pidana. Hukum pidana yang dikehendaki ialah hukum pidana perbuatan (daadstrafrecht). Perbuatan disini diartikan secara abstrak dan dilihat secara yuridis belaka terlepas dari orang yang melakukannya. Jadi, aliran ini mengobjektifkan hukum pidana dari sifat-sifat pribadi si pelaku.
keadaan jiwa si pelaku, kejahatan-kejahatan yang dilakukan terdahuku atas keadaan-keadaan khusus dari perbuatan yang dilakukan. Jadi Kitab Undang-undang Hukum Pidana Prancis ini tidak membolehkan individulisasi di dalam penerapan pidana.
Aliran klasik ini berpijak pada tiga tiang yaitu :
1) Asas legalitas yang menyatakan bahwa tiada pidana tanpa undang-undang, tiada tindak pidana tanpa undang-undang dan tiada penuntutan tanpa undang-undang.
2) Asas kesalahan yang berisi bahwa orang hanya dapat dipidana untuk tindak pidana yang dilakukannya dengan sengaja atau karena kealpaan.
3) Asas pengimbalan (pembalasan) yang sekuler, yang berisi bahwa pidana secara konkrit tidak dikenakan dengan maksud untuk mencapai sesuatu hasil yang bermanfaat, melainkan setimpal dengan berat ringannya perbuatan yang dilakukan.
praktik-praktik hukum pidana dengan doktrin “pidana harus sesuai dengan kejahatan”. Ide inilah yang menjadi tema essensiil dari aliran klasik. Cesare Beccaria tidak yakin terhadap pidana yang berat dan kejam. Alasan utama dari penjatuhan pidana adalah untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat dan untuk mencegah orang melakukan kejahatan.
Tokoh lain aliran klasik adalah Jeremy Bentham (1748-1832). Ia adalah seorang filsuf dari Inggris yang terlatih dalam hukum tetapi tidak pernah peraktik hukum. Ia diklasifikasikan sebagai penganut utilatarian hedonist. Diantara ide-idenya yang hebat adalah anjurannya bahwa “kebaikan terbesar harus untuk jumlah rakyat yang terbesar” (the greatest good must go to the greatest number). Salah satu teorinya yang sangat penting ialah mengenai “felific calculus”, yaitu bahwa manusia merupakan ciptaan/mahluk yang rasional yang akan memilih secara sadar kesenangan dan menghindari kesusahan. Oleh karena itu, suatu pidana harus ditetapkan pada tiap kejahatan sedemikian rupa sehingga kesusahan akan lebih berat daripada kesenangan yang ditimbulkan oleh kejahatan. Hal ini merupakan sumber pemikiran yang menyatakan bahwa pidana harus cocok dengan kejahatan sebagaimana juga ditegaskan oleh Beccaria.
kontrol sosial, yaitu suatu metode pengecekan perbuatan manusia menurut prinsip etika yang baru. Prinsip itu ia sebut “Utilitarianism” yang menyatakan suatu perbuatan tidaklah dinilai oleh hal-hal yang mutlak (keadilan, kebenaran) yang irasional, tetapi oleh suatu sistem yang dapat diuji atau diukur. Namun sayangnya Bentham tidak menjelaskan lebih lanjut dasar teoritis dari prinsip tersebut diukur, dan juga tidak menjelaskan bagaimana prinsip tersebut diukur secara empiris.
Bentham juga yakin dengan doktrin “kebebasan”, walaupun dia mengisyaratkan kearah teori mengenai perbuatan yang terpola (the theory of learned behaviour) sebagai penjelasan mengenai tindak kriminal. Bentham mengemukakan bahwa tujuan-tujuan dari pidana adalah:
1) Mencegah semua pelanggaran (toprevent all offenses);
2) Mencegah pelanggaran yang paling jahat (to prevent the worst offences);
3) Menekan kejahatan (to keep down mischief);
4) Menekan kerugian/biaya sekecil-kecilnya (to act the least expense).
b. Aliran positif
sering disebut aliran positif dalam mencari sebab kejahatan menggunakan metode ilmu alam dan bermaksud untuk langsung mendekati dan mempengaruhi penjahat secara positif sejauh ia masih dapat diperbaiki. Dengan orientasi demikian maka aliran ini sering dikatakan mempunyai orientasi ke masa depan.
Aliran ini berpendapat bahwa perbuatan seseorang tidak dapat dilihat secara abstrak dari sudut yuridis semata, terlepas dari orang yang melakukannya, tetapi harus dilihat secara konkrit bahwa dalam kenyataan perbuatan seseorang itu dipengaruhi watak pribadinya, faktor-faktor biologis atau faktor lingkungan kemasyarakatannya. Jadi aliran ini bertitik tolak dari pandangan determinisme untuk menggantikan doktrin kebebasan bertindak.
yang didasarkan atas penemuan-penemuan baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.
Pendekatan yang dilakukan oleh ketiga tokoh utama aliran positif yakni Cesare Lamborso, Raffaele Gorofalo dan Enrico Ferri berbeda satu sama lain. Walaupun demikian mereka setuju bahwa tekanan di dalam memperbaiki kejahatan harus diberikan kepada pembinaan ilmiah terhadap pelaku tindak pidana, dan tidak terhadap pidana yang dikenakan kepada mereka.
memberikan kesempatan guna rehabilitasi. Dia sangat setuju dengan pidana yang ditangguhkan atau sistem “probation” yang dipandang sukses di Amerika Serikat.
Tokoh kedua aliran ini adalah Raffaele Garofalo (1852-1943). Seperti tokoh yang lainnya Garofalo menolak aliran klasik, termasuk apa yang dinamakan defenisi hukum dari kejahatan, dan doktrin kebebasan berkehendak.
Garofalo menyatakan, bahwa defenisi hukum dari kejahatan hanya merupakan klasifikasi yang dilakukan oleh pembuat undang-undang terhadap tipe-tipe perilaku tertentu. Untuk menerangkan mengapa orang-orang berbuat jahat, ia mengusulkan suatu konsep yang dinamakan konsep kejahatan natural. Selanjutnya dia menyatakan bahwa natural crime merupakan pengertian yang paling jelas untuk menggambarkan perbuatan-perbuatan yang oleh masyarakat beradab diakui sebagai kejahatan dan ditekan melalui sarana berupa pidana.
menuju kejahatan, tetapi bilamana ia hidup di lingkungan hidup yang baik ia akan hidup terus sampai akhir hayatnya tanpa melanggar hukum pidana ataupun hukum moral. Ia juga menolak doktrin indeterminisme dari aliran klasik, sebab psikologi telah membuktikan bahwa perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara personalitas dan lingkungan seseorang. Ferri percaya bahwa kejahatan terutama dihasilkan oleh tipe masyarakat dari mana kejahatan tersebut datang. Ia mengemukakan suatu dalil yang disebut hukum kejenuhan penjahat (law of criminal saturation), yang di dalam lingkungan sosial tertentu dengan kondisi individual dan fisik tertentu sejumlah kejahatan tertentu dapat dilakukan.
Sehubungan denagn dalil tersebut, Ferri mengemukakan bahwa untuk mencapai akar-akar kriminalitas peranan hygiene sosial sangat besar. Hal ini mengharuskan pembuat undang-undang untuk selalu memperhitungkan faktor-faktor ekonomi, moral, administrasi dan politik di dalam tugasnya sehari-hari. Kejahatan dalam ini hanya dapat diatasi dengan mengadakan perubahan-perubahan di masyarakat.
Menurut Gramatika, hukum perlindungan masyarakat (law of social defence) harus menggantikan hukum pidana yang ada. Tujuan utama hukum perlindungan masyarakat adalah mengintegrasikan individu ke dalam tertib sosial dan bukan pemidanaan terhadap perbuatanya. Hukum perlindungan masyarakat mensyaratkan penghapusan pertanggungjawaban pidana (kesalahan) dan digantikan tempatnya oleh pandangan tentang perbuatan anti-sosial. Dengan demikian mengenai tindak pidana, penjahat dan pidana.
Sementara konsepsi moderat yang dipelopori Marc Ancel dengan gerakannya defence sociale nouvelle (New Social Devence) atau perlindungan, masyarakat baru ingin mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi-konsepsi perlindungan masyarakat ke dalam konsepsi baru hukum pidana. Konsepsi atau pemikiran yang dikemukakan oleh gerakan perlindungan masyarakat baru ini adalah:
2) Kejahatan merupakan masalah kemanusiaan dan masalah sosial (a human and social problem) yang tidak dapat begitu saja dipaksakan untuk dimasukkan dalam perundangan.
3) Kebijakan pidana bertolak pada konsepsi pertanggungjawaban yang bersifat pribadi (individual responsibility) yang menjadi kekuatan pergerakan utama dan proses penyesuaian sosial. Pertanggungjawaban pribadi ini menekan pada kewajiban moral ke arah timbulnya moralitas sosial.
c. Aliran neo-klasik
Disamping beberapa aliran tersebut diatas, perlu dikemukakan disini adanya suatu aliran yang berasal dari lairan klasik yaitu aliran neo-klasik (Neoclassical School). Sebagaimana aliaaran klasik, aliran ini pun bertolak dari pandangan indeterminisme atau kebebasan berkehendak. Menurut aliran ini, pidana yang dihasilkan oleh aliran klasik terlalu berat dan merusak semangat kemanusiaan yang berkembang saat itu. Untuk itu aliran ini merumuskan pidana minimum dan maksimum dan mengakui apa yang dinamakan asas-asas tentang keadaan yang meringankan (principle of extenuating circunstances).
diganti dengan sistem indefinite sentence. Mengenai karakteristik daripada aliran neo-klasik, kiranya dapat dikemukakan ciri-ciri yang disusun oleh Vernon Fox sebagai berikut :
1) Modifikasi (perubahan) dari “doctrine of will”, yang dapat dipengaruhi patologi, ketidakmampuan, penyakit gila, atau lain-lain keadaan.
2) Diterimanya berlakunya keadaan-keadaan yang meringankan (mitigating circumstanses) baik fisikal, lingkungan maupun mental.
3) Modifikasi dari doktrin pertanggungjawaban pidana guna menetapkan peringann pidana dengan pertanggungjawabanb sebagian di dalam hal-hal yang khusus, misalnya gila, di bawah umur, dan keadaan lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan niat seseorang pada waktu terjadinya kejahataan.
4) Diperkenankan masuknya kesaksian ahli (expert testionary) untuk menentukan derajat pertanggungjawaban.
Selanjutnya dibahwa ini akan dibahas prinsip-prinsip dasar yang dikemukakan oleh teori-teori pemidanaan.
Teori ini mengatakan bahwa kejahatan sendirilah yang memuat anasir-anasir yang menuntut pidana dan yang membenarkan pidana dijatuhkan. Teori ini dalam tujuan pemidanaan didasarkan pada alasan bahwa pemidanaan merupakan “morally justifed” (pembenaran secra moral), karena pelaku kejahatan layak untuk menerimanya atas kejahtannya. Asumsi yang penting terhadap pemebnaran untuk menghukum sebagai respon terhadap suatu kejahatan karena pelaku kejahatan telah melakukan pelanggaran terhadap norma moral tertentu yang mendasari aturan hukum yang dilakukannya secara sengaja dan sadar dan hal ini merupakan bentuk dari tanggungjawab moral dan kesalahan hukum si pelaku.
Pidana merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan. Jadi, dasar pembenaran dari pidana terletak pada adanya atau terjadinya kejahatan itu sendiri. Penjatuhan pidana tidak dilihat akibat-akibat yang dapat ditimbulkan dari penjatuhan pidana tersebut, tidak memperhatikan masa depan baik terhadap diri penjahat maupun masyarakat. Menjalankan pidana tidak dimaksudkan untuk mencapai sesuatu yang praktis, tetapi bermaksud satu-satunya penderitaan bagi penjahat.
1) Ditujuhkan pada penjahatnya (sudut sibyektif dari pembalasan)
2) Ditujuhkan untuk memenuhi kepuasan dari perasaan dendam di kalngan masyarakat (sudut obyektif dari pembalasan).
Menurut Johanes Andenaes tujuan utama (primair) dari pidana menurut teori ialah “untuk memuaskan tuntutan keadilan” (to satisty the claims of justice) sedangkan pengaruhnya yang menguntungkan adalah sekunder. Tuntutan keadilan yang sifatnya absolut ini terlihat dengan jelas dalam pendapat Immanuel Kant di dalam bukunya “Philosophy of Law sebagai berikut”:
“...pidana tidak pernah dilaksanakan semata-mata sebagai sarana untuk mempromosikan tujuan/ kebaikan lain, baik bagi sipelaku itu sendiri maupun bagi masyarakat, tetapi dalam semua hal harus dikenakan hanya karena orang yang bersangkutan telah melakukan kejahatan.
yang ikut ambil bagian dalam pembunuhan itu yang merupakan pelanggaran terhadap keadilan umum”.
Hegel memandang bahwa pemidanaan merupakan hak dari pelaku kejahatan atas perbuatan yang dilakukannya berdasarkan kemauan sendiri. Sedangkan Nigel Walker mengemukakan bahwa aliran retributif ini terbagi menjadi dua macam, yaitu teori retributif murni dan teori retributif tidak murni. Retributivist yang murni menyatakan bahwa pidana yang dijatuhkan harus sepadan dengan kesalahan si pelaku. Sedangkan Retributivist tidak murni dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu ;
1) Retributivist terbatas (the limitating retributivist), yang berpendapat bahwa pidana tidak harus cocok atau sepadan dengan kesalahan si pelaku, akan tetapi pidana yang dijatuhkan tidak boleh melebihi batas-batas yang sepadan dengan kesalahan pelaku.
2) Retribituvist yang distribusi (retribution in distribution), yang berpandangan bahwa sanksi pidana dirancang sebagai pembelasan terhadap si pelaku kejahatan, namun beratnya sanksi harus didistribusikan kepada pelaku yang bersalah.
“punisher” atau penganut teori pemidanaan. Sedangkan penganut golongan lainnya tidak mengajukan alasan-alasan untuk pengenaan pidana, melainkan mengajukan dasar-dasar pembatasan pidana. Paham retributif yang tidak murni lebih dekat dengan paham yang non retributive. Kebanyakan KUHP disusun berdasarkan paham non-retributive yang the limiting retributivist yaitu dengan menetapkan pidana maksimum sebagai batas atas, tanpa mewajibkan pengadilan untuk mengenakan batasan maksimum tersebut.
b. Teori relatif atau teori tujuan
Teori tujuan memberikan dasar pemikiran bahwa dasar
hukum dari pidana adalah terletak pada tujuan pidana itu sendiri.
Pidana itu mempunyai tujuan-tujuan tertentu, tujuan pokoknya
adalah mempertahankan ketertiban masyarakat (the handing der
maatchappelijke order). Menurut teori ini memidana bukanlah
untuk memuaskan tuntutan absolut dari keadilan. Pembalasan itu
sendiri tidak mempunyai nilai tetapi hanya sebagai sarana untuk
melindungi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu menurut J.
Andenaes, teori ini dapat disebut sebagai teori perlindungan
masyarakat (the theory of social defence).
Untuk mencapai tujuan ketertiban masyarakat, maka pidana
1) Bersifat menakut-nakuti (afschrikking);
2) Bersifat memperbaiki (verbetering/ reclasering);
3) Bersifat membinasakan (onschadelijk maken).
Sedangkan sifat pecegahannya dari teori ini ada 2 macam,
yaitu :
1) Pencegahan umum (general preventie)
Menurut teori pencegahan umum ini ialah pidana yang
dijatuhkan pada penjahat ditujukan agar orang-orang (umum)
menjadi takut untuk berbuat kejahatan. Penjahat yang dijatuhi
pidana itu dijadikan contoh oleh masyarakat, agar umum tidak
meniru dan melakukan perbuatan yang serupa dengan penjahat
itu. Yang dapat digolongkan ke dalam teori pencegahan umum
ini dalah teori dari Anselm Von Feuerbach mengenai
psychologischezwang yang berbunyi: apabila setiap orang
mengerti dan tahu, bahwa melanggar peraturan hukum itu
diancam dengan pidana, maka orang itu mengerti dan tahu
juga akan dijatuhi pidana atas kejahatan yang dilakukan.
Dengan demikian tercegahlah bagi setiap orang untuk berniat
jahat. Sehingga di dalam jiwa orang masing-masing telah
mendapat tekanan atas ancaman pidana.
Prevensi khusus dimaksudkan bahwa dengan pidana yang
dijatuhkan, memberikan deterrence effect kepada si pelaku
sehingga tidak mengulangi perbuatannya kembali. Van
Bemmelen menyatakan, meraka yang beranggapan bahwa
pidana ialah pemebenaran yang terpenting dari pidana itu
sendiri, bertolak dari pendapat bahwa manusia (pelaku suatu
tindak pidana) dikemudian hari akan menahan diri supaya
jangan berbuat seperti itu lagi, karena ia mengalami (belajar)
bahwa perbuatannya menimbulkan penderitaan. Jadi pidana
akan berfungsi mendidik dan memperbaiki. Van Hamel
membuat suatu gambaran tentang pemidanaan yang bersifat
prevensi khusus yaitu pemidanaan harus memuat suatu anasir
menakutkan supaya si pelaku tidak melakukan niat buruk,
pemidanaan juga harus memuat suatu anasir yang
memperbaiki bagi terpidana yang nanti memerlukan suatu
reclassering, pemidanaan harus memuat suatu anasir
membinasakan bagi penjahat yang sama sekali tidak dapat
diperbaiki lagi, dan tujuan satu-satunya dari pemidanaan ialah
mempertahankan tata tertib hukum.
c. Teori gabungan
Teori gabungan ini mendasarkan pidana pada asas
pembalasan daan asas pertahanan tata tertib masyarakat, dengan
pidana. Teori gabungan tersebut dapat dibedakan menjadi 2
golongan besar, yaitu :
1) Teori gabungan yang menggabungkan pembalasan, tetapi
pembalasan itu tidak boleh melampaui batas dari apa yang
perlu dan cukup untuk dapat dipertahankan tata tertib
masyarakat. Pompe berpandangan bahwa pidana tiada lain
adalah pembalasan pada penjahat, tetapi juga bertujuan
untuk mempertahankan tata tertib hukum agar kepentingan
umum dapat diselamatkan dan terjamin dari kejahatan.
Pidana yang bersifat pembalasan itu dapat dibenarkan
apabiila bermanfaat bagi pertahanan tat tertib (hukum)
masyarakat.
2) Teori gabungan yang mengutamakan perlindungan tat tertib
masyarakat, tetapi penderitaan atas dijatuhinya pidana tidak
boleh lebih berat daripada perbuatan yang dilakukan
terpidana. Menurut Simons, dasar primer pidana adalah
pencegahan umum, dasar sekundernya adalah pencegahan
khusus. Maksud pidana terutama adalah ditujuhkan pada
pencegahan umum yang terletak pada ancaman pidananya
dalam undang-undang, yang apabila hal ini tidak cukup
kuat dan tidak efektif dalam hal menakut-nakuti,
memperbaiki dan membuat tidak berdayanya penjahat.
harus sesuai dengan atau berdasarkan atas hukum dari
masyarakat.
d. Teori Social Defence
Social defence adalah aliran pemidanaan yang berkembang
setelah Perang Dunia II dengan tokoh terkenalnya Fillipo
Gramatika, yang pada tahun 1945 mendirikan Pusat Studi
Perlindungan Masyarakat. Perkembangan selanjutnya, pandangan
social defence terpecah menjadi dua aliran (setelah Kongres Ke-2
tahun 1949), yaitu aliran yang radikal (ekstrim) dan aliran yang
moderat (reformis).
Pandangan yang radikal dipelopori dan dipertahankan oleh F.
Gramatica yang salah satu tulisannya berjudul “The fight against
punisment”. Gramatica berpendapat bahwa hukum perlindungan
sosial harus menggantikan hukum pidana yang ada sekarang yang
tujuannya adalah mengintegrasikan individu ke dalam tertib sosial
dan bukan pemidanaan terhadap perbuatannya. Pandangan ini
menghendaki penghapusan hukum pidana (obilisionisme), karena
pemidanaan dirasakan kurang manusiawi, oleh karena itu harus
digantikan dengan hukum kerja sosial.
Sedangkan pandangan moderat dipertahankan Marc Ancel
yang menanamkan alirannya sebagai “Defence Social Nouvelle”
masyarakat mensyaratkan adanya tertib sosial, yaitu seperangkat
peraturan-peraturan yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan
untuk kehidupan bersama, tetapi sesuai dengan aspirasi warga
masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu peranan yang besar
dari hukum pidana merupakan kebutuhan yang tidak dapat
dielakkan bagi suatu sistem hukum. Pandangan moderat bertujuan
mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi-konsepsi perlindungan
masyarakat ke dalam konsepsi baru hukum pidana, perlindungan
individu dan masyarakat tergantung pada perumusan yang tepat
mengenai hukum pidana, dan ini tidak kurang pentingnya dari
kehidupan masyarakat itu sendiri, dan dalam menggunakan hukum
pidana pandangan ini menolak penggunaan fiksi-fiksi dan
teknis-teknis yuridis yang terlepas dari kenyataan sosial.
e. Teori Restoratif Justice
Ahli kriminologi berkebangsaan Inggris Tony F. Marshall
dalam tulisannya mengemukakan bahwa deafenisi restorative
justice adalah :
“restorative justice is a process where by all the parties with stake
in a particular offence come together to resolve collectively how to
deal with the aftermath of the offence and its implications for the
future” (restirative justice adalah sebuah proses dimana semua
bersama untuk menyelesaikan secara bersama-sama bagaimana
menyelesaikan akibat dari pelanggaran tersebut demi kepentingan
masa depan). Restorative justice bersifat merekatkan peradilan
pidana dengan konteks sosialnya yang menekankan daripada
mengisolasinya secara tertutup.
Bazemore dan Walgrave mendefenisikan restorative justice
sebagai tindakan untuk menegakkan keadilan dengan memperbaiki
kerusakan yang ditimbulkan akibat suatu tindak pidana.
(“Restorative justice is very action that is primarily oriented toward
doing justice by repairing the harm that has been caused by a
criem”). Teori ini berasal dari tradisi common law dan tort law
yang mengharuskan semua yang bersalah untuk dihukum.
Hukuman menurut teori ini termasuk pelayanan masyarakat, ganti
rugi dan bentuk lain dari hukuman penjara yang membiarkan
terpidana untuk tetap aktif dalam masyarakat.
Sejarah perkembangan hukum modern penerapan
restorative justice diawali dari pelaksanaan sebuah program
penyelesaian di luar peradilan tradisional yang dilakukan
masyarakat yang disebut dengan victim offender mediation yang
dimulai pada tahun 1970-an di negara canada. Program ini awalnya
dilaksanakan sebagai tindakan alternatif dalam menghukum pelaku
kriminal anak, dimana sebelum dilaksanakan hukuman pelaku dan
menjadi salah satu pertimbangan dari sekian banyak pertimbangan
hakim. Program ini menganggap pelaku akan mendapatkan
keuntungan dan manfaat dari tahanan ini dan korban juga akan
mendapatkan perhatian dan manfaat secara khusus sehingga dapat
menurunkan jumlah residivis dikalangan pelaku anak dan
meningkatkan jumlah anak bertanggung jawab dalam memberikan
ganti rugi pada pihak korban. Dari pelaksanaan program tersebut
diperoleh hasil tingkat kepuasan yang lebih tinggi bagai korban dan
pelaku daripada saat mereka menjalani proses peradilan tradisional.
2. Pengertian Psikologis dan Gangguan Psikologis
2.1 Sejarah Psikologi
Psikologi adalah kajian tentang pikiran, seiring dengan
aspek-aspek pikiran seperti persepsi, kognisi, emosi, dan perilaku.
Dalam beberapa cara, psikologis sudah menkjadi wilaya tersendiri
sejak akhir 1800-an, ketika tokoh seperti Wilhelm Wundt, William
James, dan Sigmund Freud memisahkannya dari beragam disiplin
induk semisal biologi, filsafat, dan kedokteran. Tetapi, dalam
beberapa cara lain, psikologi sudah seumuran dengan manusia dalam
Kini, psikologi berupaya untuk menjadi sebuah ilmu. Ilmu
adalah usaha untuk mengkaji sebuah subjek dengan kemampuan
eksplisit untuk berpikir selogis mungkin dan berpijak sekuat
mungkin pada fakta-fakta empiris secara manusiawi. Ilmu-ilmu lain,
kimia, fisika, biologi dan seterunya telah meraih keberhasilan sangat
besar dengan cara ini.
Ditinjau dari segi bahasa, perkataan psikologi berasal dari
perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang
berarti ilmu dan ilmu pengetahuan. Karena itu perkataan psikologi
sering diartikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengetahuan
tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa.
Psikologi sebagai suatu ilmu, psikologi juga mempunyai
tugas-tugas atau fungsi-fungsi tertentu seperti ilmu-ilmu pada
uumnya. Adapun tugas psikologi ialah:
1) Mengadakan deskripsi, yaitu tugas untuk menggambarkan secara
jelas hal-hal yang dipersoalkan atau dibicarakan.
2) Menerangkan, yaitu tugas untuk menerangkan keadaan atau
kondisi-kondisi yang mendasari terjadi peristiwa-peristiwa
tersebut.
3) Menyusun teori, yaitu tugas mencari dan merumuskan
hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan mengenai hubungan antara
peristiwa satu dengan peristiwa lain atau kondisi satu dengan yang
4) Prediksi, yaitu tugas untuk membuat ramalan (prediksi) atau
estimasi mengenai hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang mungkin
terjadi atau gejala-gejala yang akan muncul.
5) Pengendalian, yaitu tugas untuk mengendalikan atau mengatur
peristiwa-peristiwa atau gejala.
Menurut Wundt (Lih. Devidoff, 1981) psikologi merupakan
ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human
consciousness). Para ahli psikologi akan mempelajari proses-proses
elementer dari kesadaran manusia itu. Dari batasan ini dapat
dikemukakan bahwa keadaan jiwa direfleksikan dalam kesadaran
manusia. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam
psikologi itu.
Di samping itu Woodworth dan Marquis (1957) mengajukan
pendapat bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan
ilmu tentang aktivitas-aktivitas individu. Secara lengkap
dikemukakan :
Psychology can be defined as the science of the activities of
the individual. The word “activity” is used here in very broad sense.
It includes not only motor activities like walking and speaking, but
also cognitive (knowledge getting) activities like seeing, hearing,
remembering and thingking, and emotional activities like laughing
Dari apa yang dikemukakan oleh Woodworth dan Marquis
tersebut jelas memberikan gambaran bahwa psikologi itu
mempelajari aktivitas-aktivitas individu, pengertian aktivitas dalam
arti yang luas, digunakan pengertian kesadaran, maka pada
Woodworth dan Marquis digunakan aktivitas-aktivitas. Namun
keduanya baik kesadaran maupun aktivitas-aktivitas, hal tersebut
menggambarkan tentang refleksi dari kehidupan kejiwaan.
2.2 Perilaku Manusia
Seperti yang telah dipaparkan, bahwa psikologi merupakan
ilmu tentang perilaku, dengan pengertian bahwa perilaku atau
aktivitas-aktivitas itu merupakan manifestasi kehidupan psikis. Telah
dikemukakan oleh para ahli, bahwa yang diteliti atau dipelajari
dalam psikologi ini baik perilaku manusia. Dengan demikian maka
dalam psikologi itu fokusnya adalah manusia. Banyak penelitian
yang dilakukan pada hewan, yang hasilnya kemudian diarahkan pada
manusia, khususnya penelitian-penelitian yang eksperimental.
a. Jenis perilaku
Perilaku pada manusia dapat dibedakan antara perilaku yang
refleksif dan perilaku yang non-refleksif. Perilaku yang refleksif
merupakn perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap
mmata bila kena sinar; gerak lutut bila kena sentuhan palu; menarik
jari bila jari kena api dan sebagainya. Reaksi atau perilairinya, secara
otomatis. Stimulasi yang diterima oleh organisme atau individu tidak
sampai ke pusat sususnan syaraf atau otak sebagai pusat kesadaran,
sebagai pusat pengendali dari perilaku manusia. Dalam perilaku
yang refleksif respon langsung timbul begitu menerima stimulus.
Dengan kata lain begitu stimulus diterima oleh reseptor, begitu
langsung respon timbul melalui afektor, tanpa mmelalui pusat
kesadaran atau otak.
Lain halnya dengan perilaku yang non-refleksif. Perilaku ini
dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran tau otak. Dalam kaitan
ini stimulasi setelah diterima oleh reseptor kemudian diteruskan ke
otak sebagai pusat syaraf, pusat kesadaran, baru kemudian terjadi
respon melalui afektor. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat
kesadaran ini yang disebut proses psikologis. Perilaku atau aktivitas
atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psikologis
atau perilaku psikologis (Branca, 1964).
Pada perilaku manusia, perilaku psikologis inilah yang
dominan, merupakan perilaku yang banyak pada diri manusia, di
samping adnya perilakub refleksif. Perilaku refleksif pada dasaranya
tidak dapat dikendalikan. Hal tersebut karena perilaku refleksif
merupakan perilaku yang alami, bukan perilaku yang dibentuk. Hal
Perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk, dapat dikendalikan,
karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses
belajar. Di samping perilaku manusia dapat dikendalaikan atau
terkendali, yang berarti bahwa perilaku manusia juga merupakan
perilaku yang terintegrasi (integrated), yang berarti bahwa
keseluruhan keadaan individu atau manusia itu terlibat dalam
perilaku yang bersangkutan, bukan bagian demi bagian. Karena
begitu kompleksnya perilaku manusia itu, maka psikologi ingin
memehami perilaku tersebut.
b. Pembentukan perilaku
Seperti yang telah dipaparkan di depan bahwa perilaku
manusia sebagian terbesar ialah berupa perilaku yang dibentuk,
perilaku yang dipelajari. Berkaitan dengan hal tersebut maka salah
satu persoalan ialah bagaimana cara membentuk perilaku itu sesuai
dengan yang diharapkan.
1) Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau
kebiasaan
Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan
kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri
untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan
terbentuklah perilaku tersebut. Misal anak dibiasakan bangun
kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain, membiasakan diri
untuk datang tidak terlambat di sekolah dan sebagainya.
2) Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight)
Di samping pembentukan perilaku dengan kondisioning atau
kebiasaan, pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan
pengertian atau insigth. Misalnya datang kuliah jangan sampai
terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-tema
yang lain. Bila naik motor harus pakai helm, karena helm
tersebut untuk keamanan diri, dan masih banyak lagi contoh
untuk menggambarkan hal tersebut. Cara ini berdasarkan atas
teori belajar kognitif, yaituu belajar dengan disertai adanya
pengertian. Bila dalam eksperimen Thorndike dalam belajar
yang dipentingkan adalah soal latihan, maka dalam eksperimen
Kohler dalam belajar yang penting adalah pengertian atau
insight.
3) Pembentukan perilaku dengan menggunakan model
Di samping cara-cara pembentukan perilaku seperti tersebut di
atas, pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan
menggunakan model atau contoh. Kalau orang bicara bahwa
panutan yang dipimpinnya, hal tersebut menunjukkan
pembentukan perilaku dengan menggunakan model. Pemimpin
dijadikan model atau contoh oleh yang dipimpinnya. Cara ini
didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau
observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura
(1977).
Kareteristik merupakan sesuatu yang menjadi ciri khas
seseorang dalam mencerap, merasa, meyakini, atau bertindak. Ketika
kita tanpa sengaja menggambarkan seseorang, kita menggunakan
istilah-istilah kareteristik ini. Misalnya, saya adalah seorang yang
introvert, penggugup, sangat dekat dengan keluarga, sering
mengalami depresi, dan juga sangat cerdas. Mempunyai citra humor
yang bagus, suka bahasa, sangat suka mmakan enak, tidak menyukai
semua olahraga, dan sedikit obsesif.
Para psikologi, khususnya personologi, sangat tertarik dengan
persoalan kareteristik ini. Mereka sangat tertarik dalam menemukan
kareteristik mana yang luas dan mungkin berbasis genetik, yang bisa
jadi k dan mudah berubah.
2.3. Gangguan kepribadian
Ada beberapa teori yang membahas tentang gangguan
kepribadian yaitu:
Neurosis erujuk pada serangkaian masalah psikologis yang
melibatkan pengalaman yang berdampak negatif secara
berkepanjangan dalam bentuk kecemasan, kesedihan atau depresi,
marah, cepat marah, kekacauan ental, penghargaan-diri yang rendah,
dan lain sebagainya; gejala-gejala perilaku, seperti penghindaran
karena fobia, waspada, tindakan-tindakan impulsif dan kompulsif,
kelesuhan, dan seterusnya; asalah-asalah kognitif, seperti berbagai
pikiran tidak menyenangkan atau mengganggu, pengulangan pikiran
dan obsesi, fantasi yang menjadi kebiasaan, negativitas dan sinise,
dan lain-lain. Secara interpersonal, neurosis meliputi ketergantungan,
agresivitas, perfeksionisme, isolasi terbelah, perilaku-perilaku yang
secara sosiokultural tidak tepat, dan lain-lain.
Umumnya, neurosis ditandai dengan rendahnya keapuan
untuk beradaptasi dengan lingkungan, yakni tidak mampu mengubah
berbagai pola hidup kita, serta tidak mampu mengembangkan
kepribadiaan yang lebih kaya, lebih kompleks, dan lebih
memuaskan.
Poin pertama yang harus dicatat adalah kondisi-kondisi
psikologis yang mempengaruhi, yang sebagian besar bersifat
turun-temurun. Yang paling jelas adalah sifat-sifat (karakteristik)
tempramen yang disebut sebagai instabilitas emosional. Karakteristik
lain bisa juga berkontribusi, seperti kehati-hatian yang sangat tinggi
menjadikan orang itu kemungkinan lebih mengembangkan
masalah-masalah neurotis.
Poin kedua adalah budaya seseorang, asuhan, pendidikan,
dan pembelajaran yang ia dapatkan, umumnya bisa menyiapkan
seseorang untuk menghadapi tekanan-tekanan hidup dan bisa juga
tidak. Faktor-faktor ini mungkin bisa mengesampingkan
kondisi-kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi atau memperburuknya.
Poin ketiga menyangkut pemicu ketegangan (stressor) dalam
kehidupan seseorang yang menyebabkan beragam gejala neurosis
emosional, behavioral, dan kognitif. Bergabai pemicu ini bisa
dipahami sebagai situasi-situasi yang tidak pasti atau kacau, yang
biasanya melibatkan hubungan-hubungan interpersonal, yang
melampaui kapasitas seseorang yang dipelajari dan/atau diwariskan,
dalam mengatasi situasi-situasi tersebut.
Ketika kita mengalami kejadian yang membuat stres dan
kecemasan berulang, kita mulai mengembangkan pola-pola perilaku
dan kognisi yang dirancang untuk menghindarkan atau sebaliknya
meredahkan masalah, seperti kewaspadaan, perilaku melarikan diri,
dan pemikiran defesif. Ini semua bisa berubah menjadi sekumpulan
sikap yang pada dasarnya menghasilkan rasa cemas, marah, sedih,
dan lain sebagainya.
Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang
paling umum atau sering terjadi. Gangguan itu encakup sekumpulan
kondisi yang menetapkan kecemasan ekstrem atau patologis sebagai
gangguan suasana hati atau emosi yang bersifat prinsipil.
Kecemasan, yang bisa dipahami sebagai padanan patologis dari
ketakutan normal, tampil melalui gangguan suasana hati, dan juga
pada pikiran, perilaku, dan aktivitas psikologis.
1) Serangan Panik dan Gangguan Panik
Serangan panik adalah periode tersendiri dari ketakutan
yang intens atau ketidakmampuan atau ketidaknyamanan yang
dikaitkan dengan sejumlah gejala somatis dan kognitif
(DSM-IV).gejala-gejala ini meliputi jantung berdebar-debar, berkeringat,
gemetar, nafas terengah-engah, perasaan tercekik atau terjepit,
sakit dada, mual atau perut mual, pusing atau berkunang-kunang,
perasaan geli, dan wajah yang memerah. Serangan itu lazimnya
muncul secara mendadak, yang bertambah hinggah mencapai
intensitas maksimum dalam 10 hingga 15 menit. Banyak orang
mengatakan takut mati, “gila”,atau kehilangan kontrol emosi dan
perilaku. Pengalaman-pengalaman itu umumnya membangkitkan
keinginan kuat untuk melarikan diri atau meninggalkan tempat di
mana serangan bermula dan, ketika dihubungkan dengan sakit dada
atau nafas terengah-engah, kerap kali berakibat pada mencari
pertolongan darurat lainnya. Kendati demikian, serangan jantung
berlangsung lebih dari 30 menit.
Gangguan panik pada perempuan umumnya terjadi dua kali
lebih banyak dibandingkan laki-laki (American Psychiatric
Association, 1998). Usia yang paling sering mengalami serangan
adalah antara remaja akhir hingga paro baya, dengan serangan
yang relatif tidak biasa setelah usia 50.
2) Agorafobia
Istilah kono agorafobia diterjemahkan dari bahasa Yunani
yang berarti takut akan pasar yang terbuaka. Agorafobia saat ini
digambarkan sebagai kecemasaan mendalam dan parah tentang
keberadaan dalam suatu situasi di mana untuk melarikan diri dari
situasi tersebut teras sulit. Hal ini biasanya terjadi saat sendirian di
luar rumah, berpergian dengan mobil, bis, atau pesawat, atau
berada di wilaya yang hiruk-pikuk (DSM-IV).
Banyak spesialis kesehatan mental yang mengembangkan
agorafobia setelah serangan ganggguan panik (American
Psychiatric Association,1998). Agorafobia sangat dipahami sebagai
akibat perilaku yang merugikan dari serangan panik berulang dan
berikutnya kecemasan, keasyikan, serta penghindaran (Barlow,
1988).
Agorafobia terjadi sekitar dua kali lebih umum pada
3) Fobia-fobia spesifik
Kondisi umum ini dicirikan dengan ketakutan nyata terhadap
objek atau situasi tetentu (DSM-IV). Penyingkapan objek fobia, baik
dalam kehidupan nyata maupun lewat imajinasi atau video, selalu
mendatangkan kecemasan intens, yang bisa jadi disertai sebuah
serangan panik ( yang terkait secara situasional). Orng dewasa
umumnya menyadari bahwa ketakutan intens ini tidak rasional.
Kendati demikian, mereka lazimnya menghindari stimulus
yang menyebabkan fobia atau mempertahankan pnyingkapan
dengan kesulitan yang besar. Fobia khusus yang paling umum
eliputi stimulasi situasi menakutkan berikut : binatang (terutaa ular,
hewan pengerat, burung, dan ajing; serangga (terutama laba-laba
dan lebah atau kecoa); ketinggian;elevator; terbang; mengendarai
mobil; ait; petir; dab darah atau jarum suntik.
4) Gangguan stres pasca-traumatik dan akut
Gangguan stres akut mengacu pada kecemasan dan
gangguan perilaku yang berkembang dalam bulan pertama setelah
penyingkapan trauma ekstrem. Umumnya, gejala gangguan stres
akut bermula selama atau sesaat setelah trauma. Kejadian
traumatik ekstrem tersebut mencakup perkosaan atau penyerangan
fisik parah lainnya, pengalaman hapir mati dalam kecelakaan,
menyaksikan pembunuhan, dan pertempuran. Gejala disosiasi
antara pikiran dan keadaan emosional atau bahkan tubuh,
merupakan ciri-ciri yang kritis. Disosiasi juga dicirikan dengan
pemahaman dunia sebagai tempat yang tidak nyata atau bagaikan
mimpi dan bisa dipadukan dengan memori buruk mengenai
kejadian-kejadian spesifik, yang dalam bentuk parahnya dikenal
sebagai amnesia disosiatif. Ciri lain dari gangguan stres akut
meluputi gejala-gejala kecemasan umum dan super-waspada,
penghindaran terhadap trauma, dan mengingat kembali suatu
kejadian melalui kilas balik, mimpi atau pemikiran berulang atau
gambaran visual secara mendalam dan intrusif.
Karena sifat dasar gangguan stres pasca traumatik lebih
berlarut-larut (relatif terhadap gangguan stres akut), sejumlah
perubahan termaksud penghargaan diri yang menurun, hilangnya
kepercayaan diri yang berlarut-larut perihal orang-orang atau
masyarakat, keputusan, pemahaman akan dirusak secara permanen,
dan kesaulitan-kesulitan dalam hubungan yang telah terjalin
sebelumnya, lazimnya selalu diperhatikan. Penyalahgunaan bahan
kimia kerap terjadi, terutama alkohol, mariyuana, dan obat bius
yang bersifat menenangkan atau menghipnotis.
c. Gangguan suasana hati.
Dalam satu tahun, sekitar 7 persen orang Amerika menderita
gangguan suasana hati, seperangkat gangguan mental yang sangat
berada di luar batas-batas fluktuasi normal yang berkisar mulai dari
kesedihan hingga kegembiraan. Semua ini memiliki dampak
potensial yang berat bagi ketidakwarasan dan kematian.
1) Depresi berat
Gejala-gejala utama gangguan depresi berat adalah suasana
hati yang tertekan dan hilangnya minat atau kesenangan.
Gejala-gejala lainnya sangat beragam. Isalnya, insomnia dan
berkurangnya berat badan dipandang sebagai tanda-tanda klasik,
sekalipun banyak pasien depresi makin bertambah berat badannya
dan tidur berlebihan.
Gejala depresi berat lainnya, seperti anhedonia
(ketidakmampuan utuk merasakan kesenangan), putus asa, dan
hilangnya reaktivitas suasana hati (kemampuan merasakan sebuah
peningkatan suasana hati dalam merespon sesuatu yang positif)
sangat jarang menyertai kesedihan “normal”.. pikiran-pikiran
bunuh diri dan gejala-gejala psikotik seperti delusi atau halisunasi
sesungguhnya selalui mmenandai sebuah kondisi patologis.
2) Gangguan bipolar.
Gangguan bipolar adalah sebuah gangguan suasana hati
kabuhan yang menggambarkan satu atau lebih peristiwa mania atau
gabungan antara mania dan depresi (DSM-IV; Goodwin & Jamison
dikarenakan riwayat peristiwa maniak atau hipomaniak ( yang lebih
ringan dan tidak psikotik) yang dialami.
F. Metode Penelitian
1. Jenis dan sifat penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian
yuridis normatif dengan jenis penelitian hukum untuk perkara In-Concrito.
Diman penulis mencari fakta-fakta yang akurat dan valid tentang sebuah
peristiwa konkrit yang menjadi objek penelitian. Penelitian ini juga
dilakukan dan ditujukan pada peraturan-peraturan tertul;is dan
bahan-bahan lain, serta menelaah peraturan perundang-undang yang berhubungan
dengan ppenulisan skripsi ini. Sedangkan sifat dari penelitian ini adalah
deskriftif yaitu tipe penelitian untuk memberikan data yang seteliti
mungkin tentang suatu gejala atau fenomena, agar dapat membantu dalam
memperkuat teori-teori yang sudah ada, atau mencoba merumuskan teori
baru.
2. Data dan sumber data
Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang
tidak diperoleh dari sumber pertama yang bisa diperoleh dari
dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil penelitian, laporan, buku harian, surat
kabar, makalah, dan lain sebagainya. Data sekunder dalam penelitian ini
dapat dibagi atas 3 kelompok besar, yaitu :
a. Bahan hukum primer yang penulis peroleh
b. Bahan hukum sekunder diperoleh penulis
dari Putusan Mahkamah Konstitusi No. 2-3/PUU-V/2007, keterangan,
kajian, analisis tentang hukum positif seperti skripsi, makalah seminar,dll.
c. Bahan hukum tertier yang dipergunakan
penulis sebagai bahan yang mendukung, memberi penjelasan bagi bahan
hukum sekunder seperti Kamus Besar Indonesia,Kamus Bahasa Inggris,
dan Kamus Hukum.
3. Metode pengumpulan data
Alat-alat pengumpulan data, pada umumnya dikenal tiga jenis alat
pengumpulan data, yaitu studi dokumen atau bahan pustaka, pengamatan
atau observasi, dan wawancara atau interview (Soekanto, 2007 : 50).
Berdasar pendekatan yang dipergunakan dalam memperoleh data, maka
alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah :
a. Studi kepustakaan dan dokumen
Dalam penelitian ini, penulis mempergunakan metode
pengumpulan data melalui studi dokumen/ kepustakaan ( library
research ) yaitu dengan melakukan penelitina terhadap berbagai sumber
bacaan seperti buku-buku yang berkaitan dengan pidana mati, psikologi,
pendapat sarjanah, surat kabar, artikel, kamus dan juga berita yang penulis
peroleh dari internet.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan
menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)
(Nazir, 1988 : 234).
Wawancara dipergunakan dengan tujuan-tujuan sebagai berikut :
1. Memperoleh data mengenai persepsi manusia
2. Mendapatkan data mengenai kepercayaan manusia
3. Mengumpulkan data mengenai perasaan dan motivasi seseorang
(atau mungkin kelompok manusia)
4. Memperoleh data mengenai antisipasi ataupun orientasi ke masa
depan dari manusia
5. Memperoleh informasi mengenai perilaku pada masa lampau
6. Mendapatkan data mengenai perilaku yang sifatnya sangat pribadi
atau sensitif (Soekanto, 2007 : 67).
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang isi
skripsi, maka secara garis bear sistematikanya dibagi menjadi tiga
Bagian awal skripsi : sampul, lembar berlogo, halaman judul, persetujuan
pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan, motto dan persembahan,
prakata, sari, daftar isi, table daftar, serta daftar lampiran.
Bagian isi skripsi terdiri atas :
Bab I Pendahuluan
Diuraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika skripsi.
Bab II Landasan Teori
Membahas landasan dan konsep-konsep serta teori-teori yang dijadikan
landasan dalam penelitian.
Bab III Metode Penelitian
Membahas tentang metode pendekatan dan spesifikasi penelitian, metode
pengumpulan data, observasi dan metode penyajian data.
Bab IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan
Berisi hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.
Bab V Kesimpulan Dan Saran
Berisi kesimpulan dari hasil penelitian, saran kepada pihak yang terkait.
DAFTAR PUSTAKA Buku :
Boeree , C. George (2008), General Psychology: Psikologi Kepribadian,