UAS MATA KULIAH KESEJAHTERAAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN MATRIKULASI
Disusun oleh:
Rolan Parulian Sihombing NPM: 1406592632
Program Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia
Kesejahteraan Sosial Dan Hubungannya Antara Negara, Civil Society Dan Dunia Bisnis Kesejahteraan sosial, menurut Midgley juga (2005:21), diciptakan oleh atas kompromi terhadap tiga prakondisi yang mutlak diperlukan yaitu pertama, adanya pengaturan permasalahan-permasalahan sosial sehingga dapat mengatasi sebuah kondisi yang dinamakan penyakit sosial. Kedua, adanya upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap manusia, yang pada akhirnya dapat menciptakan apa yang disebut dengan kebahagiaan sosial. Dan ketiga, adanya upaya juga untuk menyediakan kesempatan sosial bagi kelompok masyarakat untuk meningkatkan dan merealisasikan potensi-potensi yang ada.
Pengupayaan kesejahteraan sosial sudah dimulai sejak peradaban manusia ada. Ketika seorang individu mengalami masalah pelik, maka didorong rasa tepa selira di sebagian besar masyarakat pada umumnya sudah menjadi tradisi bahwa keluarga, kerabat dan tetangga dekat saling membantu bila salah satu dari anggota keluarganya tertimpa masalah. Kepedulian tersebut pun semakin dipertegas oleh aturan-aturan dogmatis dalam agama-agama mainstream untuk memberikan bantuan bagi mereka yang lemah sebagai bentuk amal ibadah. Bantuan amal yang didasari oleh aturan-aturan agama ini kemudian berkembang menjadi sebuah pola penanganan masalah-masalah sosial yang semakin sistematis dan terorganisir, yang pada akhirnya mendorong hadirnya pekerjaan sosial sebagai profesi. Dan seiring perkembangan zaman pun, pemerintah juga semakin terlibat dalam mengupayakan kesejahteraan sosial bagi warganya melalui kebijakan-kebijakan spesifik.
Mengacu kepada hal tersebut, secara klasik bisa dikemukakan beberapa pengupayaan kesejahteraan sosial yang sudah lama diadopsi di pelbagai belahan dunia yaitu pertama, melalui kegiatan filantropi sosial, yang bergantung pada donasi-donasi pribadi, relawan, dan organisasi non profit untuk memenuhi kebutuhan, mencari solusi terhadap masalah yang ada. Kedua, melalui pekerjaan sosial, yang bergantung pada tenaga-tenaga professional dalam mendukung tujuan-tujuan kesejahteraan dengan bekerja bersama individu, kelompok dan komunitas. Dan ketiga melalui intervensi pemerintah melalui layanan-layanan sosial resmi, atau yang acapkali disebut sebagai administrasi sosial.
ayat 2, yang berbunyi: “Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial.”
Upaya penanganan masalah sosial tersebut melibatkan beberapa aktor utama yaitu Negara melalui intervensinya dengan kebijakan-kebijakan sosial. Kedua masyarakat sipil sendiri melalui pelbagai bentuk partisipasi, baik secara buah pikiran, keterampilan, tenaga, harta benda, dan uang. Dan ketiga, yang sekarang sedang berkembang yaitu dunia bisnis dengan konsep Corporate Social Responsibility (CSR). Keterlibatan ketiga aktor utama dalam pengupayaan kesejahteraan sosial di Indonesia juga diatur lewat Undang-undang yang sama seperti di atas, yaitu Undang-Undang R.I. 11 Tahun 2009, tentang Kesejahteraan Sosial pada Bab VII pasal 38 yang menyatakan: "Masyarakat mempunyai kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Peran tersebut dapat dilakukan oleh perseorangan, keluarga, lembaga keagamaan, Organisasi sosial kemasyarakatan, Lembaga Swadaya masyarakat, organisasi profesi, badan usaha,lembaga kesejahteraan sosial, dan lembaga kesejahteraan sosial asing".
Suharto (2006) mengemukakan, bahwa secara prinsip tujuan pembangunan kesejahteraan sosial adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, yang mencakup:
a. peningkatan standar hidup, melalui seperangkat pelayanan sosial dan jaminan sosial segenap lapisan masyarakat, terutama kelompok-kelompok masyarakat yang kurang beruntung dan rentan yang sangat memerlukan perlindungan sosial;
b. peningkatan keberdayaan melalui penetapan sistem dan kelembagaan ekonomi, sosial dan politik yang menjunjung harga diri dan martabat kemanusiaan;
c. penyempurnaan kebebasan melalui perluasan aksesibitas dan pilihan-pilihan kesempatan sesuai aspirasi, kemampuan dan standar kemanusiaan.
sosial/asset yang dimilikinya. Kondisi ini dapat tercipta jika ada sinergi antara tiga aktor utama pembangunan yaitu Negara, dunia usaha dan masyarakat sendiri.
Pengupayaan Kesejahteraan Sosial Melalui Pembangunan Sosial
Meski filantropi sosial, pekerjaan sosial dan administrasi sosial adalah pendekatan-pendekatan klasik yang banyak diadopsi di pelbagai Negara dalam pengupayaan kesejahteraan sosial, tetapi tentu pendekatan-pendekatan klasik tersebut memiliki kekurangan pula. Pendekatan filantropi dan pekerjaan sosial lebih berfokus pada penanganan individu yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat kelayakan penerimaan bantuan dan juga sangat bergantung pada kebaikan donor. Kedua pendekatan ini secara umum lebih karitatif dan jarang sekali menyentuh isu-isu pemberdayaan ekonomi.
Pendekatan administrasi sosial memang lebih memiliki hubungan langsung dengan aktivitas ekonomi. Layanan-layanan sosial yang diberikan Negara untuk pengupayaan kesejahteraan sosial, bersumber dari pajak sehingga Pemerintah berkepentingan untuk memastikan hubungan yang harmonis antara kebijakan ekonomi dan kebijakan sosial. Akan tetapi pendekatan ini pun kemudian memisahkan layanan sosial dari perekonomian. Sehingga Negara pada akhirnya hanya berfokus pada pemberian layanan berdasarkan standar minimum seperti membantu lansia, orang cacat, pengangguran dan kelompok yang tergantung lainnya. Dan untuk memenuhi layanan ini membutuhkan biaya yang besar, yang diambil dari pajak yang disumbang perekonomian dan khususnya dari pendapatan yang didapat dari pekerja. Ini menjadi tidak sehat karena ketika perekonomian mengalami resesi, pendapatan pemerintah yang diperlukan untuk membiayai pelayanan sosial menurun dan tekanan fiscal pada pemerintah meningkat.
Peran kebijakan-kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Pemerintah sangat krusial dalam munculnya usaha skala kecil yang memberikan kesempatan bagi orang miskin untuk mengumpulkan sumber yang mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka. Di daerah yang tidak berkembang, jauh lebih murah untuk mengangkat aktifitas usaha kecil daripada memobilisasi modal besar untuk pembangunan industri skala besar dan penciptaan lapangan kerja. Justru sektor informal seperti usaha kecil ini dapat menyerap tenaga kerja dan cenderung dapat menciptakan lapangan kerja baru. Oleh karena itu Pemerintah harus berpihak lewat kebijakan yang melonggarkan individu-individu pelaku usaha kecil untuk memulai ataupun membesarkan usahanya. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan untuk kemudahan kredit bagi pelaku bisnis UMKM. Menurut Prasetyantoko (2012:35-40). Perbankan Indonesia lebih banyak mengucurkan kredit untuk sektor yang tidak banyak menyerap tenaga kerja atau non-tradable seperti perdagangan, keuangan dan jasa. Sehingga dapat disimpulkan meski perekonomian tumbuh akibat kucuran kredit pada dunia usaha, tetapi angkatan kerja yang diserap sangatlah sedikit. Selain itu, kucuran kredit di Indonesia pun lebih banyak untuk membiayai kegiatan konsumsi dibandingkan modal kerja dan investasi baru. Sementara dalam pembangunan sosial mengharuskan sebuah syarat yaitu munculnya pelaku-pelaku baru dalam sektor usaha kecil dan menengah. Untuk merangsang kemunculan UMKM ini tentu harus didukung dengan kemudahan dalam mengakses kredit usaha.
Kebijakan lain yang juga harus dikeluarkan terkait dengan UMKM adalah, Pemerintah harus berani mengucurkan anggaran untuk membangun infrastruktur yang memudahkan proses produksi dan distribusi produk-produk UMKM. Daerah-daerah industri terpadu harus dibangun dan para pelaku UMKM diberikan prioritas dan kemudahan untuk menggunakan kawasan terpadu ini. Selain itu untuk memudahkan distribusi barang-barang yang sudah diproduksi, Pemerintah harus serius membenahi transportasi yang memadai, misalkan dengan pembangunan pelabuhan-pelabuhan yang dapat menopang aktivitas bongkar muat barang secara cepat, ataupun membangun jalur transportasi darat khusus yang memudahkan distribusi barang dari pabrik hingga ke distributor dan konsumen.
kecil. Selain itu, pengusaha-pengusaha kecil ini juga dapat didampingi dalam hal desain produk, akses pasar, dan kemampuan-kemampuan strategis lain yang dapat mendongkrak pesatnya UMKM yang baru tumbuh. Perusahaan-perusahaan besar juga dapat mempercayakan sebagian produksi mereka kepada pelaku UMKM. Sebagai timbal baliknya, Pemerintah dapat memberikan insentif khusus bagi para pelaku usaha yang sudah mapan dan besar, misalnya melalui penyaluran kredit yang memungkinkan mereka untuk berekspansi dan berinvestasi pada sektor-sektor yang sesuai strategi perusahaan mereka. Dengan demikian kehadiran Negara dapat dirasakan secara nyata baik pada sektor UMKM, tetapi juga pada usaha berskala besar.
Disinilah peran serta dunia usaha sangat diperlukan secara khusus untuk pembangunan sosial yang selaras dengan pembangunan ekonomi. Konsep Bapak Asuh yang pernah dikemukakan Presiden Soeharto seharusnya bisa menjadi landasan pembangunan kesejahteraan sosial melalui sektor bisnis. Seperti yang dicontohkan oleh Bupati Kabupaten Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto, yang menyatakan akan menyiapkan dana pada APBD 2015 mendukung perkembangan UMKM Purbalingga dengan pola bapak asuh. Pola Bapak Asuh yang dimaksud adalah pelaku UMKM yang memproduksi kue dan penganan ringan menitipkan barang-barang produksinya ke toko-toko kue besar di Purbalingga, tapi produk-produk tersebut telah dibeli terlebih dulu oleh Pemkab. Dan ketika kue-kue produksi pelaku UMKM laku, maka toko-toko kue yang besar, seperti Toko Kue Nikmat, itulah yang akan membayarkan ke Pemkab. Sementara untuk barang-barang yang paling banyak diretur, tidak akan difasilitasi pemasarannya. Sebaliknya, Pemkab akan mencari penyebab produk tidak diminati dan kemudian ditindaklanjuti dengan edukasi atau fasilitasi untuk meningkatkan kualitas produksinya. Pola Bapak Asuh yang diterapkan oleh Toko Kue Nikmat bersama Pemkab Purbalingga inilah yang kemudian dapat mendongkrak tumbuhnya industri kecil dan menengah dalam bidang pastri dan kuliner di Kabupaten Purbalingga.
Pemerintah memainkan peranan positif dalam memfasilitasi, mengkoordinasi dan mengarahkan usaha dari kelompok yang berbeda baik dari individu, kelompok dan masyarakat secara efektif menggunakan pasar, masyarakat dan Negara untuk mengangkat pembangunan sosial.
Untuk merealisasikan perbaikan yang signifikan dalam kesejahteraan sosial dengan memobilisasi pasar, masyarakat dan Negara dalam konteks pembangunan ekonomi yang lebih luas. Pada contoh kasus yang sudah diberikan peranan Negara dalam menunjang pembangunan sosial sangatlah penting tetapi bukan berarti menghasilkan pelarangan pada pasar. Tetapi mekanisme pasar digunakan secara efektif untuk mengangkat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Negara juga tidak melarang hak individu dan usaha masyarakat local seperti yang terjadi pada kasus dunia komunis. Usaha local sesungguhnya adalah pelengkap pasar dan keterlibatan Negara dan seringkali program berbasis masyarakat merupakan bagian besar usaha pembangunan sosial.
Daftar Pustaka
Marhaendrianto, Sukento Rido. 2014. Sukento Dukung UMKM Purbalingga Menggunakan Pola Bapak Asuh.
http://jateng.tribunnews.com/2014/10/28/sukento-dukung-umkm-purbalingga-menggunakan-pola-bapak-asuh. 29 Desember 2014 (09:45).
Midgley, James. 2005. Pembangunan Sosial: Perspektif Pembangunan Dalam Kesejahteraan Sosial. Ditperta Islam Depag RI. Jakarta.
Muhtar, Gunawan. 2010. Kontribusi Organisasi Sosial Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. P3KS Press. Jakarta.
Prasetayantoko, A., Setyo Budiantoro dan Sugeng Bahagijo. 2012. Pembangunan Inklusif: Prospek dan Tantangan Indonesia. LP3ES. Jakarta.
Soetomo. 2009. Pembangunan Masyarakat; Merangkai Sebuah Kerangka. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.