UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DRAMA

18  32 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DRAMA

UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DRAMA

Oleh: Hafidah

1. Pengertian Drama

Drama merupakan karya sastra yang di tulis dalam bentuk percakapan atau dialog yang dipertunjukkan oleh tokoh di atas pentas di hadapan para penonton. Drama adalah karya sastra yang bertujuan untuk menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan dan dialog. Drama memiliki beberapa ciri, diantaranya:

1. Berbentuk dialog 2. Ada pelakunya 3. Untuk dipentaskan 4. Ada penontonnya

2. Unsur Intrinsik Drama

1. Tema

Tema adalah ide dasar atau pijakan pokok penggambaran cerita. Tema drama yang baik harus berdasarkan pengalaman yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dipahami benar oleh penulis dan mudah diterima oleh pembaca naskah drama atau penonton pertunjukan drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokohnya. Tema digali oleh pengarang melalui renungan mendalam atas pengalaman jiwanya, kemudian dituangkan dalam dialog-dialog yang tepat dan kuat. . Tema drama misalnya tentang kehidupan, persahabatan, kesedihan, kemiskinan, dan lain sebagainya.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dalam drama adalah pemegang peran dalam drama. Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Sesuai perannya dalam jalan cerita, tokoh drama dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Tokoh Utama (Protagonis)

Tokoh utama (protagonis) yaitu tokoh yang memiliki kehendak tertentu dalam cerita. Biasanya kehendak yang baik atau kabijakan. Oleh sebab itu, tokoh ini disebut sebagai tokoh karakter baik.

2. Tokoh Penentang (Antagonis)

Tokoh penentang (antagonis) yaitu tokoh yang menentang kehendak tokoh utama. Tokoh ini sering disebut sebagai tokoh berkarakter jahat.

3. Tokoh Penengah (Tritagonis)

Tokoh penengah (tritagonis) yaitu tokoh yang perannya menengahi pertikaian antara tokoh utama dan tokoh penentang.

Ada tiga jenis tokoh bila dilihat dari sisi keterlibatannya dalam menggerakan alur, yaitu: 1. Tokoh sentral merupakan tokoh yang amat potensial menggerakan alur. Tokoh sentral merupakan pusat cerita, penyebab munculnya konflik.

2. Tokoh bawahan merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap prkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur itu.

3. Tokoh latar merupakan tokoh yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap pengembangan alur. Kehadirannya hanyalah sebagai pelengkap latar, berfungsi menghidupkan latar.

(2)

1. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi: 1. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.

2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.

2. Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh, dapat dibedakan menjadi:

1. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh yang taat norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita

(Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupakan empati dari pembaca.

2. Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu, sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk

menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat. 3. Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:

1. Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.

2. Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi, ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini.

4. Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita, tokoh dibedakan menjadi:

1. Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).

2. Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang

kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi

kejiwaannya.

5. Bedasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:

1. Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan

individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaannya atau pekerjaannya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.

2. Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.

Penokohan adalah pemilihan nama tokoh, watak, dan peran yang ditampilkan. Penokohan harus sesuai dengan tema, amanat, latar penceritaan agar tidak terkesan janggal. Sebagai proyeksi realita, penokohan dan perwatakan hendaklah wajar dan alamiah. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan. Juga dapat dilihat pada dialog, tingkah laku, cara berpakaian, jalan pikiran, atau ketika tokoh itu berhubungan dengan

tokoh-tokoh lainnya.

3. Dialog

(3)

melancarkan cerita atau lakon dan mencerminkan pikiran tokoh cerita. Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain dan berfungsi dalam menggerakan cerita dan melihat watak atau kepribadian tokoh cerita tersebut. Dialog dapat disebut sebagai nyawa cerita dan dialog yang terlalu panjang, tidak jelas, tanpa ekspresi, hafalan dan kata-katanya kurang berisi, jelas akan merusak drama. Kekuatan kata, vokal, dan ekspresi sangat penting. Oleh sebab itu, dialog dalam drama harus memenuhi dua tuntutan penting, yaitu dialog harus turut menunjang gerak laku tokohnya, dan dialog yang diucapkan di atas pentas lebih tajam dan tertib daripada

ujaran sehari-hari.

Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan).

4. Plot/alur

Plot/alur adalah rangkaian peristiwa dalam konflik yang dijalin dengan saksama dan menggerakan jalan cerita. Sebuah alur cerita juga harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting. Jalan cerita lebih menarik apabila tidak bisa ditebak sebelumnya oleh pembaca atau penonton, sehingga mereka mengikutinya sampai selesai. Dalam alur terdapat bagian terpenting, yaitu klimaks atau puncak ketegangan konflik. Klimaks harus tajam, agar misi drama tercapai. Drama yang datar tidak menarik. Adapun bagian-bagian plot (unsur pembentuk alur) drama sebagai berikut:

1. Eksposisi (pelukisan awal), yaitu bagian cerita yang bertujuan memperkenalkan cerita, tokoh, dan latar drama agar penonton memperoleh gambaran drama yang ditontonnya.

2. Konflik, yaitu keadaan di mana tokoh terlibat dalam suatu pokok permasalahan. Pada bagian inilah awal mula terjadinya insiden pertikaian.

3. Komplikasi (pertikaian), yaitu bagian cerita yang mengisahkan persoalan baru sebagai akibat konflik antartokoh.

4. Klimaks (puncak ketegangan), yaitu peristiwa puncak atau puncak konflik.

5. peleraian, yaitu tahap peristiwa-peristiwa yang terjadi menunjukan perkembangan lakuan kearah selesaian.

6. Penyelesaian (happy ending/akhir bahagia, sad ending/ akhir sedih), yaitu tahap akhir suatu cerita.

Ada dua penyelesaian dalam alur cerita yaitu terbuka dan tertutup. Selesaian terbuka diserahkan kepada penonton. Dan selesaian tertutup adalah selesaian yang diberikan oleh pengarang/sastrawan. Dilihat dari urutan peristiwanya alur dibagi menjadi tiga bagian, yaitu alur maju (progresif), alur mundur (regresif), dan alur gabungan/campuran (progresif-regresif). Namun, dalam alur sebuah naskah drama bukan permasalahan maju-mundurnya sebuah ceita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, tetapi alur yang membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Jadi, sudah pasti alur dalam drama itu adalah alur maju. Dalam alur, juga dikenal istilah sekuen. Sekuen yaitu ringkasan yang di buat pada bagian cerita. Hal ini dapat terjadi pada saat ada perubahan, seperti perubahan waktu, perubahan tempat, perubahan cerita, dan lain sebagainya.

5. Latar/setting

(4)

terjadi (Nurgiyantoro, 1995:17). Kualitas latar drama perlu didukung oleh benda-benda atau

perabot dan bahasa yang digunakan.

6. Petunjuk Laku

Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku.

7. Amanat

Amanat/pesan adalah ajaran moral/pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca/penonton melalui karyanya. Amanat merupakan nilai implisit dalam cerita yang harus di cari penonton. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara langsung (tersurat) dan bisa juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Drama yang baik hendaknya mengandung pesan kemanusiaan, sehingga mampu mengembalikan manusia kepada sifat-sifat kebaikannya.

3. Unsur Ekstrinsik Drama

Menurut Tjahyono (1985), unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat mempengaruhi karya sastra tersebut. Unsur ekstrinsik pada karya sastra merupakan wujud murni pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Adapun unsur ekstrinsik dalam drama terdiri atas empat bagian, yaitu:

1) Nilai Sosial-budaya

Nilai sosial-budaya adalah nilai yang berkaitan dengan norma yang ada di dalam masyarakat. Nilai sosial-budaya ini berhubungan dengan nilai peradaban kita sebagai manusia. Karena budaya mempunyai makna pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar di ubah, dan sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang/ beradab/ maju, maka nilai-nilainya pun berkembang sesuai dengan masalah-masalah yang terjadi pada manusia.

2) Nilai Moral

Nilai moral adalah nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti/susila atau baik

buruk tingkah laku.

3) Nilai Agama/religius

Nilai agama/religius adalah nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.

4) Nilai Ekonomi

Nilai ekonomi adalah nilai yang berkaitan dengan perekonomian.

CONTOH ANALISIS DRAMA

"SEPASANG MERPATI TUA"

KARYA: BAKTI SOEMANTO

Para pelaku:

1. Nenek

(5)

Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang

terdapat pintu dan jendela.

Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam. 1. Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil

cangkir, lalu meminumnya) sekarang, kopiah hanya bernilai tambah penghangat belaka. 8. Kakek : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka 25. Nenek : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan. 33. Nenek : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu… 34. Kakek : Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.

(6)

36. Kakek : Ya, kau pantas disejajarkan dengan ibu kita Kartini.

37. Nenek : Ibu Tin?

38. Kakek : Bukan, bukan bu tin, Ibu kita Kartini. 39. Nenek : Tetapi, kan ibu kita Kartini juga bisa kita sebut Bu Tin, kan. Apa salahnya? 40. Kakek : Hush, diam! Ingat ini di depan orang banyak. Maka jangan main semberono dengan sebutan-sebutan yang multi interpretable…. 41. Nenek : Ah, laga profesormu kumat lagi, pak? 42. Kakek : Yaaa, aku dulu memang punya cita-cita jadi professor.

43. Nenek : Dan kandas.

44. Kakek : Belum. O, malah sudah berhasil. Cuma tunggu pengakuan. 45. Nenek : Siapa yang akan mengakui keprofesoranmu? Kau tidak mengajar di perguruan tinggi

maupun di dunia ini.

46. Kakek : Secara formal memang tidak. Secara material ia. 47. Nenek : Hah, bagaimana mungkin? 48. Kakek : Kau lihat, banyak mahasiswa yang dating kemari, bukan? Tidak hanya itu, malahan para guru besar pada datang ke mari. Mereka mengajak diskusi aku, segala macam soal. Dari soal-soal tata pemerintahan sampai bagaimana mengatasi kesepian. 54. Kakek : Diplomat terlalu banyak menipu hati nuraninya sendiri. (Nenek termenung tiba tiba) 55. Kakek : Ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keelamatan perkawinan kita. 56. Kakek : Aku akan segera jadi diplomat sekarang juga. Di mana posku? Negara-negara Barat?

Timur? Asia? Atau PBB…?

61. Nenek : Tapi itu lebih sukar, sebab Tuhan susah diajak berdebat. Tuhan Cuma diam saja. Orang hanya mengerti apa mau Tuhan kalau sudah terlaksana. Sedang rencana-rencana selanjutnya. Masih gelap bukan? Bagaimana kau mengajukan argumentasi-argumentasimu jika mau ajak Tuhan

berdiskusi? (Kakek geleng kepala)

62. Nenek : Nah, paling terhormat jadilah diplomat wakil republik kita tercinta di PBB… (Kakek

geleng kepala)

63. Nenek : Aku sungguh tidak mengerti cita-citamu, Pak. 64. Kakek : Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos di kolong jembatan saja…. 65. Nenek : Ah, gila. Itu pekerjaan gila. 66. Kakek : Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos maupun di dunia ini. Tapi pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini

sebagai diplomat kolong jembatan.

67. Nenek : Tapi kau akan terhina 68. Kakek : Selama kedudukan adalah diplomat, dimanapun ditempatkan sama saja terhinanya,

sama saja mulianya.

(7)
(8)

109. Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek membelenggu kita. Kita jadi tolol. Saya lagu-lagu. Saya rindu puisi-puisi. Orang-orang zaman ini tidak mengerti puisi-puisi. Kita sudah jadi robot semua. Berjalan dengan satu disiplin mati. Dengan teori yang tidak kita pahami sendiri…keutuhan manusia sudah dikerdilkan. Hubungan seks tinggal bernilai nafsu. Kesenian diukur filsafat seketika, atau kesenian sudah dikonsepkan. Juga hidup kita didoktrinkan… ini tidak bisa. Akibatnya, kita tenggelam pada ukuran-ukuran mini. Kita rindu Sofokles, Aristoteles, Albesepkan. Juga hidup kita didoktrinkan… ini tidak bisa. Akibatnya, kita tenggelam pada ukuran-ukuran mini. Kita rindu Sofokles, Aristoteles, Albesepkan. Juga hidup kita didoktrinkan… ini tidak bisa. Akibatnya, kita tenggelam pada ukuran-ukuran mini. Kita rindu Sofokles, Aristoteles, Albert Camus, Amir Hamzah, Chairil Anwar,… Geoethe, Shakespeare. Mereka harus ditakdirkan kembali di sini. Citra manusia yang terpancar dari karya-karya mereka harus

dipancarkan kembali di sini.

118. Nenek : Suamiku… Suamiku… Suamiku… Sudahlah…. 119. Kakek : Hidup manusia harus dikembalikan keutuhannya, manusia harus…. 120. Nenek : Sudahlah… (Menuntun ke sofa) 121. Kakek : Manusia harus menghayati hidupnya, bukan menghayati disiplin mati itu…

doktrin-doktrin itu harus… harus….

122. Nenek : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau kau terlalu semangat begitu….

123. Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya… dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)

124. Nenek : (Terseduh)

125. Kakek : (Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku,

tangisilah dirimu sendiri.

126. Nenek : Kau masih hidup…?

127. Kakek : Aku tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti, apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayati hidupku sendiri…. 136. Nenek : Nanti saja, kalau sudah tak ada orang banyak…. (Terdengar suara jam dinding dua

(9)

137. Nenek : Sudah larut tengah malam. 138. Kakek : Ya. Dan sebentar lagi ambang pagi akan datang. 139. Nenek : Kita akan menjadi segar kembali 140. Kakek : Dan tambah tua… (Nenek termenung. Kakek termenung)

141. Nenek : Kapan kita mati?

142. Kakek : Entah. Tapi kita harus siap-siap

143. Nenek : Sungguh ngeri!

144. Kakek : Memang. Tapi itulah kenyataannya.

145. Nenek : Aku takut

146. Kakek : Aku juga… (Terdengar lonceng jam dinding dua belas kali)

147. Nenek : Dua belas kali…

148. Nenek : Aneh! Ini tidak mungkin. Apa aku salah mendengar? 149. Kakek : Memang begitu. Kau tidak salah dengar. 150. Nenek : Tapi ini di luar kebiasaan. Tadi sudah berbunyi dua belas kali, mestinya bunyi lagi

satu kali…, begitu kan?

151. Kakek : Mudah-mudahan kau tahu, begitulah hidup. Kebiasaan-kebiasaan, ukuran- ukuran, konsep-konsep tidak terlalu cocok…. 152. Nenek : Bagaimana cara kita mengerti…?

153. Kakek : Itulah soalnya….

(Layar turun, lampu mati)

a. Unsur Intrinsik

1. Tema

Tema dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto, yaitu “ Keinginan/ harapan

Untuk Meraih Kesejahteraan Hidup”.

Hal ini dibuktikan dengan keinginan Kakek yang ingin menjadi seorang diplomat yang diberi pos di kolong jembatan demi membujuk para penghuni kolong jembatan agar mau memperbaiki hidup/nasib mereka dengan mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri sendiri. Serta keinginan Kakek untuk menjadi seorang Teknokrat dalam bidang sampah-sampah demi menghindari terjadinya banjir akibat dari menumpuknya sampah-sampah si selokan. Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk…. Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya…

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:

1. Tokoh utamanya, yaitu Nenek. Ia adalah tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.

2. Tokoh Tambahannya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung.

3. Tokoh protagonisnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang baik dan pembangun alur dalam cerita.

(10)

5. Tokoh sederhana, yaitu Nenek. Ia memiliki sifat yang baik dari awal hingga akhir

8. Tokoh Statisnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

9. Tokoh berkembangnya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaanya.

10. Tokoh sentralnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang sangat potensial dalam menggerakan alur.

11. bawahannya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur itu. Penokohan dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:

1. Nenek, seorang wanita yang baik, manja, pengkritik, cengeng, pemberani, gengsi, dan peduli. Kebaikannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan kata-kata Kakek walaupun ia selalu tidak memahami arti dari kata-kata Kakek, tetapi ia pun mendukung si Kakek untuk memenuhi keinginannya dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat disekelilingnya. Sikap manjanya ia tunjukan ketika ia berdiri menghampiri Kakek dan duduk disebelahnya, yang kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri. Sikap pengkritiknya ia tunjukan pada saat ia selalu menyela dan mengkritik segala ucapan Kakek. Sikap cengengnya ia tunjukan pada saat ia menangis karena tersinggung mendengar kata-kata Kakek yang mengatakan bahwa “Mengaku dosa didepan orang banyak”, serta menangis pada saat Nenek melihat Kakek rebah tak berdaya karena terlalu banyak bicara. Sikap pemberaninya ia tunjukan ketika ia berani mengakui dosanya di depan penonton dengan mengatakan bahwa “Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan”. Sifat gengsinya ia tunjukan ketika ia tidak mau menerima Kakek menjadi diplomat kolong jembatan dan teknokrat bidang persampahan karena gengsi pada teman-temannya. Dan sifat pedulinya ia tunjukan ketika ia memperingatkan Kakek agar tidak terlalu banyak bicara karena penyakit napas yang dideritanya dan berusaha menyadarkan Kakek dalam rebahannya.

(11)

memuji sifat Nenek yang pemberani ketika Nenek berani mengakui dosanya di depan penonton. Sifat pengkritiknya ia tunjukan pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sifat percaya dirinya ia tunjukan ketika ia mengaku bahwa ia adalah profesor layaknya guru besar yang mengajar diperguruan tinggi walaupun keprofesorannya hanya tercermin pada saat ia berdiskusi dengan para guru besar dan mahasiswa. Dan sifat semangat tingkat tingginya ia tunjukan ketika ia mengeluarkan semua kekesalan di dalam hatinya terhadap peraturan pemerintah hingga membuatnya rebah tak berdaya karena penyakit napasnya kumat kembali.

3) Dialog

Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil

cangkir, lalu meminumnya)

Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu? Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini? Kakek : Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran. Nenek : Mengapa membaca koran mesti pakai kopiah segala?

Kakek : Agar komplit, Bu

….

Kutipan di atas disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh

Nenek dan Kakek.

4. Alur

Alur dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto ini adalah:

1) Eksposisi (pelukisan awal)

a. Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang

terdapat pintu dan jendela.

(Pengenalan Latar Pentas)

b. Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam. Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil

cangkir, lalu meminumnya)

Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?

(Pengenalan Para Tokoh)

Dari penggalan drama di atas, terlihat bahwa drama Sepasang Merpati Tua ini dimulai dengan penggambaran latar pentas yang dibuat oleh pengarang sebagai pengantar cerita. kemudian, dilanjutkan dengan pengenalan para tokoh yang di awali dengan Nenek duduk sendiri di ruang tengah rumah sambil menyulam dan sedang menunggu Kakek datang, hingga Kakek datang

dengan memakai kopiah.

2) Konflik

Kakek : Mengaku dosa di depan orang banyak!

(12)

Kakek : He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya? Nenek : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu… Kakek : Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani. Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk pada tahap konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa Nenek merasa di ejek/di olok-olok oleh Kakek dengan kata-kata “Mengaku dosa di depan orang banyak”, hingga membuatnya menagis dengan kata-kata-kata-kata tersebut.

3) Komplikasi (pertikaian)

… Nenek : Ah, laga profesormu kumat lagi, pak? Kakek : Yaaa, aku dulu memang punya cita-cita jadi professor.

Nenek : Dan kandas.

Kakek : Belum. O, malah sudah berhasil. Cuma tunggu pengakuan. Nenek : Siapa yang akan mengakui keprofesoranmu? Kau tidak mengajar di perguruan tinggi

maupun di dunia ini.

Kakek : Secara formal memang tidak. Secara material ia…. … Nenek : Mestinya kau tidak usah jadi professor saja, Pak. Jadi diplomat ulung saja Kakek : Aku kurang senang jadi diplomat. Nenek : Tapi kau lebih terkemuka, lebih ternama, lebih terkenal. Kakek : Diplomat terlalu banyak menipu hati nuraninya sendiri. (Nenek termenung tiba tiba) Kakek : Ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keelamatan perkawinan kita….

… Nenek : Mau pindah pekerjaan?

Kakek : Ya.

Nenek : Apa?

Kakek : Teknokrat….

Cerita dilanjutkan dengan perdebatan antara Nenek dan Kakek tentang jabatan yang ingin dicapai oleh Kakek. Dimulai dengan keinginan Kakek yang ingin menjadi profesor tetapi ditentang oleh Nenek yang lebih mengizinkan Kakek untuk menjadi diplomat dan Kakek pun menerima saran Nenek demi menyelamatkan perkawinan mereka. Dan ceritanya dilanjutkan dengan keinginan Kakek yang ingin pindah jabatan dari diplomat menjadi teknokrat.

4) Klimaks (puncak ketegangan)

Kakek : Kita berpikir karena kita mengerti. Tapi karena berpikir perlu sistem, sistem membelenggu kita. Kita jadi tolol. Saya lagu-lagu. Saya rindu puisi-puisi. Orang-orang zaman ini tidak mengerti puisi-puisi. Kita sudah jadi robot semua. Berjalan dengan satu disiplin mati…. Nenek : Suamiku… Suamiku… Suamiku… Sudahlah…. Kakek : Hidup manusia harus dikembalikan keutuhannya, manusia harus….

Nenek : Sudahlah… (Menuntun ke sofa)

Kakek : Manusia harus menghayati hidupnya, bukan menghayati disiplin mati itu… doktrin-doktrin

itu harus… harus….

Nenek : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau kau terlalu semangat begitu….

Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya… dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)

(13)

Cerita mencapai puncaknya pada saat Kakek berbicara dengan penuh semangat hingga ia tidak dapat mengontrol bicaranya sendiri yang membuat penyakit napasnya kambuh kembali. Peringatan Nenek tidak didengarnya karena semangatnya tersebut. Karena semangatnya yang terlalu berlebihan, hingga membuatnya rebah dan membuat Nenek menjerit dan menangis.

5) Peleraian

Kakek : (Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku, tangisilah

dirimu sendiri.

Nenek : Kau masih hidup…?

Kakek : Aku tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti, apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayati hidupku sendiri…. Nenek : Tetapi kau berbicara, kau bernapas…. Kakek : Bukan itu ukuran adanya kehidupan…. Cerita ini dileraikan dengan bangkitnya Kakek dari rebahnya dan penjelasan Kakek kepada Nenek tentang arti kehidupan yang sebenarnya.

6) Penyelesaian

Nenek : Dua belas kali…

Nenek : Aneh! Ini tidak mungkin. Apa aku salah mendengar? Kakek : Memang begitu. Kau tidak salah dengar. Nenek : Tapi ini di luar kebiasaan. Tadi sudah berbunyi dua belas kali, mestinya bunyi lagi satu

kali…, begitu kan?

Kakek : Mudah-mudahan kau tahu, begitulah hidup. Kebiasaan-kebiasaan, ukuran- ukuran,

konsep-konsep tidak terlalu cocok….

Nenek : Bagaimana cara kita mengerti…?

Kakek : Itulah soalnya….

Cerita ini diselesaikan dengan bunyinya lonceng jam dinding dua belas kali untuk yang kedua kalinya yang membuat Nenek heran, dan penjelasan lebih lanjut oleh Kakek tentang kehidupan bahwa kebiasaan, ukuran, dan konep tidak terlalu cocok untuk hidup manusia. Dan juga masih menyisahkan pertanyaan tentang bagaimana cara mengerti kahidupan. Cerita ini pun berakhir happy ending karena Kakek kembali tersadar dari perebahannya dan bersatu kembali

dengan Nenek.

Jika ditinjau dari pengarang mengakhiri cerita (pengakhirannya), alur drama tersebut diakhiri dengan teknik plot terbuka, dimana pada akhir cerita masih menyisahkan pertanyaan tentang arti kehidupan, sehingga masih menyisahkan pertanyaan dari dalam diri penonton tentang bagaimana arti dari kehidupan tersebut. Dan cerita ini beralur maju (progresif) karena ceritanya di

mulai dari awal hingga akhir.

Penggambaran alur drama Sepasang Merpati Tua dalam bentuk sekuen, yaitu: 1. Deskripsi keadaan ruang tengah rumah sepasang orang tua (Kakek dan Nenek). 2. Kejengkelan Nenek kepada kakek yang masih saja bersolek. 3. Kakek memamerkan kopiahnya kepada Nenek. 4. Singgungan nenek kepda kakek yang membaca Koran dengan memakai kopiah (= sekuen 2, 12, 19)

5. Jawaban santai Kakek terhadap singgungan pertanyaan Nenek. 6. Sikap mesra yang ditunjukan oleh Nenek kepada Kakek dengan menyandarkan kepalanya ke

bahu Kakek.

(14)

10. Penjelasan kakek terhadap jawaban dari Nenek. 11. Pujian yang dilontarkan Kakek kepada Nenek agar berhenti menangis. 12. Singgungan Nenek kepada Kakek yang mengandaikan Kakek sebagai professor (= sekuan 2

dan 4, 19)

13. Penjelasan-penjelasan Kakek kepada Nenek dalam memuji diri. 14. Saran Nenek kepada Kakek untuk mengganti provesi. 15. Kebijaksanaan Kakek dalam menerima saran Nenek demi keselamatan perkawinan mereka. 16. Berbagai jenis diplomat yang disarankan Nenek kepada Kakek. 17. Kekecewaan Nenek terhadap keputusan yang diambil oleh Kakek. 18. Kekecewaan Kakek terhadap kehidupan di dunia. 19. Singgungan nenek kepada kakek yang makan sambil berdiri (= sekuen 2,4,12) 20. Pernyataan Kakek untuk mengganti provesinya. 21. Kekagetan Nenek ketika mendengar provesi baru yang diinginkan oleh Kakek. 22. Penjelasan Kakek tentang alasan mengapa ia memilih provesi barunya itu. 23. Kesadaran Nenek terhadap pemikiran-pemikiran mereka. 24. Penjelasan Kakek terhadap pertanyaan Nenek ketika menyadari pemikiran-pemikiran yang

mereka perdebatkan.

25. Kepusingan Nenek ketika mendengarkan penjelasan Kakek yang tidak dipahaminya. 26. Penjelasan yang terus dilakukan Kakek kepada Nenek tentang kehidupan dunia sekarang yang jauh berbeda dengan kehidupan yang dulu hingga membuat Kakek menjadi jatuh/rebah. 27. Jatuhnya Kakek membuat Nenek menjadi menangis. 28. Kekagetan Nenek karena melihat Kakek sadarkan diri. 29. Penjelasan Kakek terhadap kehidupan yang sebenarnya. 30. Jam 12 malam menunjukan waktu telah larut. 31. Ketakutan Kakek dan Nenek terhadap kematian yang datangnya secara tiba-tiba. 32. Kekagetan Nenek ketika mendengar jam berbunyi 12 kali untuk yang kedua kalinya. 33. Penjelasan Kakek terhadap pendengaran Nenek. 34. Pertanyaan Nenek tentang bagaimana cara memahami kahidupan. 35. Jawaban Kakek terhadap pertanyaan Nenek.

5) Latar/setting b) Sofa, tempat Kakek duduk membaca Koran dan tempat Nenek menyandarkan kepalanya ke

bahu Kakek.

Kakek : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka

lembarannya)” dan pada kutipan

Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya

ke bahu Kakek sebelah kiri).

c) Meja makan, tempat Nenek mengambil cangkir dan tempat Kakek mengambil panganan dari toples.

Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)” dan pada kutipan (Nenek memandang tindakan-tindakan sang suami. Kakek membuka stoples lalu memakan makanannya)

(15)

dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.

2) Latar Waktu

a) Menjelang malam hari, waktu Kakek dan Nenek berbincang-bincang. Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam. b) Empat puluh tahun yang telah lampau, waktu Kakek menjadi juru tulis. Nenek : yaaah. Waktu dulu kau jadi juru tulis, empat puluh tahun lampau. Tapi sekarang, kopiah hanya bernilai tambah penghangat belaka. c) Delapan puluh tahun, waktu Nenek menjalani kehidupan. Nenek : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.

a. Jengkel, perasaan Nenek kepada Kakek karena selalu bersolek dengan memakai kopiah ketika

membaca koran.

Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil

cangkir, lalu meminumnya)

Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu? Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini? Kakek : Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran. b. Romantis, suasana ketika Nenek duduk di samping Kakek sambil menyandarkan kepalanya ke

bahu kakek sebelah kiri.

Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya

ke bahu Kakek sebelah kiri).

c. Mengolok-olok, suasana ketika Kakek berbicara kepada Nenek hingga membuatnya menangis. Kakek : Tindakan terpuji, itu namanya.

Nenek : He, apa sih maksudmu, pak?

Kakek : Mengaku dosa di depan orang banyak!

Nenek : Hu…hu…hu… (Menangis)

Kakek : He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya? Nenek : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu… d. Sedih, suasana hati Nenek ketika diolok-olok oleh Kakek dan suasana hatinya ketika Kakek

rebah tah berdaya. sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)

Nenek : (Terseduh)

e. Menghibur, tindakan Kakek untuk membuat Nenek berhenti menangis. Kakek : Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.

(16)

teknokrat.

Kakek : Diplomat terlalu banyak menipu hati nuraninya sendiri. (Nenek termenung tiba tiba) Kakek : Tapi… (Lalu duduk di sofa termenung) i. Berdebat, sikap Nenek dan Kakek yang memperdebatkan jabatan menjadi profesor, diplomat,

dan teknokrat.

j. Sadar, suasana ketika Nenek dan Kakek tersadar bahwa apa yang telah mereka perdebatkan

hanyalah hayalan semata.

Nenek : Mengapa kita berpikir yang bukan-bukan? k. Menegangkan, suasana ketika Kakek berbicara dengan penuh semangat hingga membuatnya rebah tak berdaya yang membuat Nenek menjerit dan menangis. Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya… dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)

Nenek : (Terseduh)

l. Bangkit, keadaan Kakek setelah terbangun dari rebahannya. Kakek : (Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku, tangisilah

dirimu sendiri. Kakek : Memang. Tapi itulah kenyataannya.

Nenek : Aku takut

Kakek : Aku juga… (Terdengar lonceng jam dinding dua belas kali) o. Aneh, suasana hati Nenek ketika mendengar suara jam dinding berbunyi dua belas kali untuk

yang kedua kalinya.

Nenek : Dua belas kali…

Nenek : Aneh! Ini tidak mungkin. Apa aku salah mendengar? p. Bingung, suasana hati Nenek yang tidak paham dengan arti kehidupan yang dijelaskan oleh Kakek.

Kakek : Mudah-mudahan kau tahu, begitulah hidup. Kebiasaan-kebiasaan, ukuran- ukuran,

konsep-konsep tidak terlalu cocok….

Nenek : Bagaimana cara kita mengerti…?

Kakek : Itulah soalnya….

6. Petunjuk Laku

Petunjuk laku yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu diantaranya

terdapat pada kutipan berikut:

(17)

Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil

cangkir, lalu meminumnya)

Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu? Kakek : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka lembarannya) Kakek : Dilihat banyak orang tuuuh. (Menunjuk penonton). Sudah tua kenapa pacaran terus…. Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke

bahu Kakek sebelah kiri).

Nenek : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.

3. Jika kita memiliki jabatan tertentu, maka manfaatkanlah jabatan tersebut dengan sebaik-baiknya demi kepentingan diri sendiri dan orang lain. 4. Hargailah tiap jabatan yang diperoleh, bagaimana pun jenis jabatannya. 5. Hargailah tiap kehidupan yang diperoleh, karena kehidupan yang telah diperoleh sebelumnya

tidak akan pernah kembali lagi.

b. Unsur Ekstrinsik

Nilai-nilai yang terkandung dalam drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto, yaitu:

1) Nilai sosial-budaya

Nilai sosial-budaya terletak pada niat Kakek yang ingin menjadi diplomat kolong jembatan untuk membantu orang-orang yang tinggal di kolong jembatan agar mau hidup baik-baik dengan berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak dan menimbulkan kepercayaan diri sendiri. Juga dapat dilihat pada niat Kakek yang ingin menjadi Teknokrat di bidang persampahan demi mencegah

terjadinya banjir.

Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk…. Kakek : Aku mau jadi teknokrat dalam bidang….

Kakek : Bidang persampahan.

Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek termenung)

2) Nilai Moral

(18)

terhadap kondisi Kakek. …

Kakek : Ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keelamatan perkawinan kita. Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk…. Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek termenung)

Nenek : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau kau terlalu semangat begitu….

3) Nilai Agama

Nilai agama terletak pada perkataan Nenek dengan membawa nama Tuhan dalam menentukan jenis diplomat yang harus diambil oleh Kakek. Serta terletak pada niat Kakek yang ingin membersihkan sampah-sampah yang menumpuk di selokan, sebab dalam agama menyatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Nenek : Tapi itu lebih sukar, sebab Tuhan susah diajak berdebat. Tuhan Cuma diam saja. Orang hanya mengerti apa mau Tuhan kalau sudah terlaksana. Sedang rencana-rencana selanjutnya. Masih gelap bukan? Bagaimana kau mengajukan argumentasi-argumentasimu jika mau ajak Tuhan

berdiskusi? (Kakek geleng kepala)

Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek termenung)

4) Nilai Ekonomi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :