• Tidak ada hasil yang ditemukan

The Analysis Of Change In Mangrove Coverage Area In North Coast In East Flores Based On Geographic Information System

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "The Analysis Of Change In Mangrove Coverage Area In North Coast In East Flores Based On Geographic Information System"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN MANGROVE DI PANTAI UTARA FLORES

TIMUR BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

The Analysis Of Change In Mangrove Coverage Area In North Coast In East Flores Based

On Geographic Information System

Elisabeth B.L. Openg, Ludji Michael Riwu Kaho, Norman P.L.B. Riwu Kaho

Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Jln. Adisucipto Penfui- Kupang, NTT 85001

ABSTRAK

Selasa, 12 Desember 1992 terjadi bencana alam nasional akibat gempa bumi di bawah laut dengan magnitudo 6,8 SR yang akhirnya menyebabkan tsunami. Tsunami yang muncul menyebabkan bencana yang cukup besar di sepanjang Pantai Utara Pulau Flores. Dampak besar dari tsunami tersebut adalah korban jiwa sekitar 2.000 orang dan kerugian harta benda. Tsunami juga menghabiskan luasan hutan mangrove di Pulau Flores tepatnya di Flores bagian Utara yaitu Flores Timur dan Maumere. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perubahan tutupan mangrove multi temporal, di Pantai Utara Flores Timur sebelum dan sesudah tsunami berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan metode OBIS (Object Based Image Segmentation) untuk mengetahui luasan tutupan mangrove dan NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) untuk mengetahui kelas kerapatan mangrove melalui tajuk mangrove yang akan menunjukkan tingkat kehijauannya. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tahun 1989 sebelum terjadinya tsunami luasan mangrove mencapai 249,31 ha dengan kelas kerapatan tertinggi mencapai 224,1 ha (89,88%), tahun 1997 tepatnya 5 tahun setelah terjadinya tsunami luasan hutan mangrove mengalami penurunan yang besar menjadi 100,36 ha dengan kelas kerapatan tertinggi hanya 57,60 ha (57,40%). Tahun 2006 luasan mangrove mengalami kenaikan yang tidak begitu besar menjadi 121,07 ha dengan kelas kerapatan jarang yang tertinggi yaitu 55,90 ha (46,17%), kenaikan luasan mangrove ini terjadi karena adanya suksesi atau perubahan sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam suatu ekosistem sehingga akan mengarah kepada terbentuknya suatu komunitas yang permanen dan mantap. tahun 2017 tepatnya 25 tahun setelah terjadinya tsunami luasan hutan mangrove mengalami peningkatan menjadi 175,70 ha dengan kelas kerapatan tertinggi yaitu 111,70 ha (63,58%), kenaikan ini dapat terjadi karena setiap spesies mangrove mempunyai kemungkinan untuk mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu, dalam hal ini dibutuhkan periode waktu 15-30 tahun untuk mangrove dapat memulihkan dirinya sendiri dan berakhir setelah mencapai ekosistem klimaks atau keadaan seimbangnya.

Kata Kunci : Tsunami, SIG, Perubahan Tutupan Lahan, Mangrove, Suksesi.

ABSTRACT

(2)

2

density level was 117,70 ha (63,58%). The growth of mangrove coverage area might happen because each mangrove species possesses the ability to recover within 15-30 years and end up at ecosystem climax or the equilibrium.

Keywords : Tsunami, GIS, Land Cover Change, Mangrove, Succession.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan salah satu potensi sumber daya wilayah pesisir laut yang besar yakni hutan mangrove. Berdasarkan data BPDAS (Sekjen DPD RI, 2009), luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 4.390.756,46 ha atau

50% dari luas hutan mangrove di Asia, sedangkan skala dunia luasan tersebut setara dengan 20% potensi yang dimiliki bangsa ini. Di wilayah NTT potensi hutan mangrove mencapai 40.614,11 ha (Hidayatullah, 2014), dengan persebaran tidak merata di setiap garis pantai dari pulau-pulau yang ada. Terdapat 11 mangrove di Pulau Flores tepatnya di Flores bagian Utara yaitu, Maumere dan Flores Timur (Rachmat, 2016).

Sejak terjadinya tsunami sampai tahun 2018 telah terjadi perubahan terhadap hutan mangrove. Perubahan tersebut baik secara alami maupun karena manusia yang akan mengarah pada terbentuknya suatu komunitas yang mantap dan permanen. Untuk mengetahui perubahan tersebut maka diperlukan suatu teknologi, yang dapat digunakan untuk mengetahui perubahan penutupan vegetasi dengan aspek keruangan yakni Sistem Informasi Geografis (SIG). Dalam rangka menjamin perkembangan dan kemajuan pada masa yang akan datang melalui rehabilitasi dan rekonstruksi tutupan mangrove yang dilakukan pemerintah bekerjasama dengan masyarakat, maka perubahan tutupan mangrove tersebut sangat perlu dipelajari.

METODE PENELITIAN

(3)

3

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Alat tulis, Laptop, Perangkat lunak berupa software Quantum GIS versi 2.18.2, Perangkat lunak berupa software SAGA GIS versi

6.0, Perangkat lunak berupa software Google Earth Pro, GPS Handheld Garmin etrex 10, Avenza Maps. Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa data dari beberapa sumber data yakni: 1. Citra satelit Landsat-5 Path 112, Row 66 hasil perekaman tahun: 1989 (13 Mei 1989), tahun

1997 (03 Mei 1997), dan tahun 2006 (31 Juli 2006) yang diperoleh dari

http://glovis.usgs.gov/.

2. Citra satelit Landsat-8 path 112 row 66 hasil perekaman tahun 2017 (10 Mei 2017) yang diperoleh dari http://glovis.usgs.gov/.

3. Peta Administrasi Kabupaten Flores Timur dengan skala 1:250.000.

4. Data lapangan hasil ground truth.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode peginderaan jauh. Teknik yang digunakan adalah analisis OBIS (Object Based Image Segementation) untuk mendapatakan peta tutupan lahan mangrove, dimana dilakukan pemisahan untuk objek mangrove dan objek yang bukan mangrove, sehingga mendapatkan peta sebaran mangrove. NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) untuk mendapatkan luas kerapatan mangrove, yang dibagi kedalam

3 kelompok Tabel 1.

Tabel 1.Karakteristik Nilai NDVI untuk Mangrove

No Kriteria Minimum Maksimum 1

2 3

Baik (Rapat) 0,42 1

Sedang 0,32 0,42

Jarang -1 0,32

(4)

4

klasifikasi bertujuan untuk melihat kesalahan-kesalahan klasifikasi sehingga dapat diketahui persentase ketepatannya (akurasi).

Pengolahan data, dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SAGA GIS dan Quantum GIS, yang dimulai dari tahap praprocessing citra satelit yang meliputi pemotongan citra landsat 5 tahun 1989, 1997, dan 2006, serta landsat 8 tahun 2017, dilakukan cropping sesuai dengan batasan daerah penelitian, setelah itu dilakukan koreksi radiometrik dan koreksi. geometrik pada citra yang akan digunakan. Koreksi radiometrik bertujuan untuk menghilangkan faktor–faktor yang menurunkan kualitas citra, sedangkan koreksi geometrik dilakukan untuk

menyamakan lokasi secara geometris.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis luasan tutupan mangrove di sepanjang Pantai Utara Flores Timur untuk tahun 1989, 1997, 2006, dan 2017 dilakukan dengan menggunakan teknik klasifikasi berbasis obyek (Object Based Image Segmentation) yang dilakukan tanpa terbimbing (Unsupervised Classification).

Tabel 2. Luas tutupan mangrove sepanjang pantai Utara Flores Timur

(5)

5

Gambar 1.Grafik Perubahan Luas Mangrove

Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa penyebaran mangrove di sepanjang pantai utara Flores Timur dari tahun 1989 sampai 2017 cenderung berubah selama 28 tahun terakhir. Perubahan ini terjadi karena hutan mangrove dapat memulihkan diri sendiri tanpa adanya upaya

restorasi melalui suksesi sekunder pada periode 15-30 tahun, apabila siklus hidrologi normal dan tersedia biji atau propagule dari ekosistem mangrove di sekitarnya (Watson, 1928; Lewis, 1982; Cintron-Molero, 1992).

Pada Gambar 2, terlihat perubahan besar terjadi pada rentang tahun 1989 sampai 1997 yaikni sebesar 148,95 ha, sedangkan perubahan mangrove yang terjadi pada rentang tahun 1997 sampai 2006 adalah 20,71 ha, menunjukan peningkatan luasan mangrove di sepanjang pantai utara Flores Timur. Perubahan mangrove yang terjadi pada rentang tahun 2006 sampai tahun

2017 sebesar 54,63 ha, yang menunjukan luasan tutupan mangrove meningkat sebanyak 50%

menjadi 175,70 ha.

Perubahan Mangrove 1989-1997 Perubahan Mangrove 1997-2006 Perubahan Mangrove 2006-2017

(6)

6

Tabel 3. Tutupan lahan mangrove tahun 1989, 1997, 2006, dan 2017 di pantai Utara Flores Timur

Tahun 1989 Tahun 1997 Tahun 2006 Tahun 2017

Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan antara tutupan lahan hutan mangrove di tahun 1989, 1997, 2006, dan tahun 2017 pada setiap kelas tutupan lahan yang dianalisis menggunakan metode NDVI. Data tersebut menunjukan bahwa pada tahun 1989 hutan dengan kelas tutupan mangrove rapat dengan luasan sebesar 89,88% mengalami penurunan menjadi

57,40% pada tahun 1997. Berkurangnya tutupan lahan mangrove di pantai Utara Flores Timur ini sebagai akibat dari bencana alam tsunami.

Dari tahun 1997 ke tahun 2006 kondisi tutupan hutan mangrove pada kelas rapat mengalami penurunan menjadi 44,82 %, namun kenaikan pada kelas jarang menjadi 34,17% dari

7,54% peda tahun 1989. Hal ini terjadi karena badai tsunami menerjang areal hutan mangrove yang memiliki tingkat kepadatan tinggi, dimana luasan hutan mangrove dengan kerapatan tinggi langsung berhadapan dengan hempasan gelombang lautan yang mengakibatkan tingkat kerusakan lebih besar.

(7)

7

tingkat semai membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai menjadi kelas rapat dalam hal ini di tingkat pohon.

Pada tahun 2017 tingkat kerapatan hutan mangerove pada kelas rapat mengalami kenaikan menjadi 63,58% dari 44,82% dan kelas jarang mengalami penurunan dari 46,17% menjadi 22,48% selama kurun waktu 11 tahun sebagai akibat dari suksesi sekunder dimana kawasan hutan mangrove yang pernah terdegradasi mengalami pemulihan melalui proses regenerasi alami.

Pernah dilakukan upaya rehabilitasi dengan melakukan penanaman kembali di pesisir salah satu desa penelitian yakni desa Ilepadung. Namun upaya ini gagal karena masyarakat kurang mengetahui teknik penanaman dan perawatan mangrove.

Uji Akurasi

Tutupan lahan pada peta (Gambar 3) yang merupakan peta tumpang susun (overlay) ground control point dengan pengecekan lapangan yang kemudian diuji keakurasiannya menggunakan tabel error matrix (Tabel 4) serta nilai hasil perhitungan akurasi.

Tabel 4.Matrix Kesalahan (Error Matrix) Tutupan Lahan Mangrove

KLASIFIKASI Mangrove Bukan

Mangrove

TOTAL User accuracy

Mangrove Bukan Mangrove TOTAL Producer accuracy

22 0 22 100%

0 0 0 0%

22 0 22

100% 0%

Overall accuracy 100%

Sumber: Hasil Analisis (2018)

(8)

8

Gambar 3. Peta Lokasi Ground Truth Pada Tutupan Mangrove Tahun 2017

Upaya Rehabilitasi Mangrove

Rehabilitasi mangrove di berbagai tempat kerap mengalami kegagalan karena tidak memperhatikan kesesuaian spesies dengan tempat tumbuhnya (Mukhilisi dan Gunawan, 2016). Metode buis bambu adalah sebuah metode penanaman sederhana menggunakan bambu sebagai pelindung tanaman, khususnya bagi daerah pantai yang memiliki gelombang besar. Lewis dan Brown (2014) dalam Mukhlisi et al, (2016) melaporkan bahwa keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove perlu mempertimbangkan kemampuan regenerasi alami dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan semai mangrove.

(9)

9

PENUTUP

Simpulan

Deteksi perubahan tutupan mangrove di lokasi penelitian relatif berubah-ubah karena terjadi penambahan dan pengurangan luasan tutupan, pengurangan luas tutupan mangrove terbesar disebabkan oleh terjadinya tsunami pada tahun 1989 dan tidak adanya upaya rehabilitasi mangrove yang benar dan tepat sampai sekarang. Sedangkan, Penambahan luas tutupan mangrove disebabkan oleh pertumbuhan alami yang memerlukan jangka waktu 28 tahun untuk bertambah sebanyak 73,61 ha.

Hasil analisis tutupan lahan menunjukan akurasi keseluruhan, producer accuracy, dan user accuracy sebesar 100 % yang menunjukan jumlah piksel terklasifikasi secara benar sebagai areal mangrove sesuai dengan keadaan di lapangan.

Saran

Penelitian ini juga sebagai bahan pertimbangan untuk Pemerintah setempat dalam menjaga ekosistem mangrove ini dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pentingnya mangrove dan teknik penanaman mangrove yang benar dan tepat. Selain itu, penelitian ini dapat dilanjutkan dengan melakukan analisis perubahan tutupan mangrove yang berada di desa yang berbatasan langsung dengan pantai Utara Flores Timur yang juga terkena dampak dari terjadinya bencana alam tsunami tahun 1992.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2015. Badan Pusat Statistik Kabupaten Flores Timur. Seksi Integrasi Pengolahan dan Deseminasi Statistik, Larantuka.

Bessie, D.M. 2017. Penerapan Metode Buis Bambu dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat di Kelurahan Oesapa. Prosiding Seminar Nasional Ke-1 Pusat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Kupang.

(10)

10

Hidayatullah, M. 2014. Keragaman jenis mangrove di NTT. Warta Cendana Balai Penelitian Kehutanan Kupang. Vol. 7, No. 1: 17-23.

http://glovis.usgs.gov/ diakses pada 23 September 2017.

Mukhlisi dan W. Gunawan. 2016. Regenerasi Alami Semai Mangrove di Areal Terdegradasi Taman Nasional Kutai. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol. 5 Issue 2: 113-122.

Rachmat, H. 2016. Memantau Gempa Flores Tahun 1992. Majalah Geologi Populer. (On-line). http://geomagz.geologi.esdm.go.id/memantau-gempa-flores-tahun-1992/ diakses 29 Mei

2017.

Reinnamah, Y. 2010. Makalah Ilmiah Mangrove (Hutan Bakau). Makalah Ilmiah. (On-line). http://karmelreinnamah.blogspot.co.id diakses 23 September 2017.

Gambar

Tabel 1. Karakteristik Nilai NDVI untuk Mangrove
Tabel 2. Luas tutupan mangrove sepanjang pantai Utara Flores Timur
Gambar 2. Perubahan Mangrove Tahun 1989-2017
Tabel 3. Tutupan lahan mangrove tahun 1989, 1997, 2006, dan 2017 di pantai Utara Flores Timur
+3

Referensi

Dokumen terkait

Tanaman padi dengan fase generatif-2 di Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat di Kabupaten Sumbawa Barat, Lombok Barat, dan Sumbawa, dan di Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat di

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerbitan informasi keuangan panitia pembangunan gereja terhadap keputusan umat dalam memberikan sumbangan.Untuk

Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan skripsi yang berjudul: “Pengaruh Keputusan Investasi,

Perangkat Lunak , Wiely Rabin, Ricky Alamsyah, Johannes Angkasa, Junior Lazuardi , Marwanto, Rudy Siswanto Tanaga, Tonny Wijaya, Suwandy, Stefanus Linardi, Elita, Noviani

Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa, rasionalisme radikal anti agama di dunia muslim, cukup banyak dipengaruhi oleh pemikiran kelompok Brahmana, sekelompok filosof

Berdasarkan hasil pengamatan sikap menghargai pendapat orang lain siklus I pada pembelajaran IPS dapat diketahui bahwa pada saat pelaksanaan siklus I peserta

Hal ini dilakukan karena batik merupakan sebuah kebudayaan asli Indonesia, yang diharapkan dengan kebijakan tersebut dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme bangsab.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “ SISTEM INFORMASI