PENGGUNAAN BAHASA DAERAH: STUDI KASUS JAKARTA
Retno Asihanti Setiorini, S. Hum
Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jln. Gatot Subroto 10, Jakarta
Email:
[email protected]
Abstrak:
Sebagai ibu kota Negara Indonesia, Jakarta memiliki magnet tersendiri bagi penduduk Indonesia. Oleh karena itu, penduduk Jakarta terdiri atas berbagai suku, baik suku asli maupun pendatang. Tujuan penelitian ini adalah melihat bahasa ibu dari anak para pendatang. Batasan yang diambil untuk reponden adalah lahir hingga dewasa tinggal di Jakarta, tetapi memiliki orang tua yang berasal dari daerah di luar Jawa Barat. Responden mengaku bahwa bahasa ibu mereka bahasa Indonesia dan mereka berkomunikasi dengan orang tua mereka dengan bahasa Indonesia walaupun orang tua mereka masih dapat menggunakan bahasa daerahnya. Dari 13 orang responden, tujuh responden (53,86%) mengaku mereka dapat menggunakan bahasa daerahnya secara pasif, tiga responden mengaku dapat menggunakan bahasa daerahnya secara aktif (23,07%), sementara sisanya (23,07) mengaku tidak dapat menggunakan bahasa daerahnya sama sekali. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa bahasa ibu penduduk Jakarta yang lahir dan dewasa di Jakarta, tetapi memiliki orang tua pendatang adalah bahasa Indonesia.
Kata kunci: Bahasa ibu; Bahasa daerah; Bahasa Indonesia; Jakarta
THE USE OF VERNACULAR LANGUAGE: A CASE STUDY IN JAKARTA
As the capital of Indonesia, Jakarta has his own magnetism for Indonesian people. Urbanization from other city or rural area has been happened since years ago. That is the reason for the multiethnic life in Jakarta. The aim of this research is to find the mother language of immigrant children that came from out of Jawa Barat. During the interview, respondents state that their mother language is Indonesian language and they communicate using Indonesian language with their parents although (most of) their parents are active in using their local language. Three respondents (23.07%) state that they actively using their local language, while seven respondents (53.86%) state they passively understand their local language, and three respondents (23.07%) state they cannot using their local language either passive nor active. This research concluded that the mother language used by immigrant children from outside Jawa Barat that born and raised in Jakarta is Indonesian language.
Keyword: Mother tongue; Vernacular language; Local language; Indonesian language; Jakarta
A. Pendahuluan
Bahasa dan masyarakat merupakan dua unsur yang tak dapat terpisahkan. Bahasa merupakan salah satu sarana perekat manusia dalam satu tatanan masyarakat. Fungsi bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi, bahasa juga alat identitas suku/bangsa. Hal ini diperkuat dengan sifat keberlakuan bahasa, yaitu kontrak sosial.
manusia membutuhkan satu “alat” untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Untuk mengakomodir kebutuhan tersebutlah, hadirlah bahasa. Dengan adanya bahasa, manusia dapat berkomunikasi dan bekerja sama sehingga terbentuklah satu pola kehidupan bersama. Dari kebutuhan itu kemudian manusia berkumpul, hidup bersama dalam satu kelompok yang memiliki aturan nilai tertentu. Kelompok-kelompok inilah yang kemudian terbentuk menjadi masyarakat.
Selama anggota masyarakat tetap berada di kelompoknya, ia tidak akan mengalami kesulitan dalam berbahasa dan berkomunikasi dengan anggota masyarakat lain. Namun, bagaimana jika satu anggota masyarakat ingin berbahasa dan berkomunikasi dengan anggota masyarakat lain, di luar kelompok masyarakatnya? Jika ada dua orang ingin berkomunikasi, tentu mereka membutuhkan satu alat, satu bahasa yang sama. Dengan kata lain, mereka harus menguasai bahasa yang sama. Hal ini dapat diatasi dengan kemampuan berbahasa manusia karena pada dasarnya, kemampuan manusia dalam berbahasa mengizinkan seseorang menguasai lebih dari satu bahasa. Seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, pertemuan antara dua orang atau lebih yang berasal dari anggota kelompok yang berbeda-beda semakin tidak bisa dihindari.
Jakarta merupakan ibu kota Negara Indonesia. Status Jakarta sebagai kota metropolitan telah menjadi magnet yang kuat bagi banyak orang. Perpindahan penduduk dari berbagai daerah ke Jakarta telah menjadikan Jakarta sebagai kota yang multietnis. Jumlah penduduk pun meningkat pesat. Berdasarkan website resmi kota Jakarta, jumlah penduduk Jakarta pada bulan Desember 2009 mencapai 8.520.772 (warga negara Indonesia) ditambah 2.385 warna negara asing.
Kebutuhan akan berkomunikasi dan bekerja sama “memaksa” masyarakat Jakarta menggunakan satu alat yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda suku. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus bahasa nasional merupakan alat yang paling tepat untuk menjawab masalah itu. Namun, hal itu menimbulkan pertanyaan baru, bagaimana dengan keberadaan bahasa daerah?
Masalah yang akan dibahas di sini adalah keberadaan bahasa daerah di Jakarta. Masalah ini dibatasi pada penggunaan bahasa daerah oleh penutur bahasa yang dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, tetapi memiliki orang tua yang berasal dari daerah di luar Jawa Barat. Masalah utama yang ingin dijawab adalah apakah bahasa ibu penutur bahasa yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, tetapi memiliki orang tua dari daerah di luar Jawa Barat? Bagaimana penggunaan bahasa daerah oleh anak penutur bahasa daerah? Jadi, penelitian ini dibatasi pada pemakaian bahasa daerah oleh masyarakat pendatang di Jakarta, tanpa melihat bagaimana perkembangan bahasa daerah Jakarta (Betawi) sendiri.
diharapkan dapat diketahui bahasa apa yang digunakan sebagai bahasa ibu oleh penutur bahasa di Jakarta dan bagaimanakah kemampuan bahasa daerah mereka.
B. Metodologi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan cara wawancara. Wawancara dilakukan secara langsung kepada responden dengan daftar pertanyaan terstruktur. Walaupun demikian, dilakukan pula pengembangan terhadap daftar pertanyaan yang ada. Selain wawancara, dilakukan pula analisis pustaka untuk mencari literatur yang mendukung penelitian ini.
Responden dalam penelitian ini adalah penutur bahasa yang dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, tetapi memiliki orang tua yang berasal dari daerah di luar Jawa Barat. Usia responden dibatasi antara 25 sampai dengan 35 dengan pertimbangan pada usia tersebut umumnya sesorang sudah mulai hidup secara mandiri. Pemilihan responden dilakukan secara acak. Jumlah keseluruhan responden adalah 13 orang.
Tiap responden menjawab pertanyaan antara 15 sampai 20 pertanyaan. Pertanyaan yang sudah disiapkan adalah 15, sementara selebihnya merupakan pengembangan terhadap pertanyaan berdasarkan tanggapan responden.
C. Kerangka Teori
Sejak dulu, Jakarta mempunyai daya tarik tersendiri. Bahkan, menurut sejarah, kota pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta) yang terletak di muara Sungai Ciliwung ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting sejak abad ke-12. Begitu pentingnya kota pelabuhan ini sehingga menarik perhatian orang-orang Portugis yang sejak tahun 1511 sudah bercokol di daratan Malaka (Hakim, 1989: 9). Arus perpindahan penduduk ke Jakarta (dulu Sunda Kelapa, Batavia) berlangsung terus hingga pada abad ke-21 ini. Dalam website resmi Menkokesra Indonesia dikatakan, Jakarta sebagai ibu kota negara, sejak dulu telah menjadi buruan pencari kerja dari berbagai wilayah tanah air. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penduduk kota ini terus tumbuh dengan pesat. Pertumbuhan penduduk di Jakarta terus bertambah pesat sehingga Sutiyoso sewaktu masih menjadi Gubernur DKI meminta warga ibu kota yang hendak mudik selama libur lebaran 1428 H, tidak membawa sanak keluarganya saat kembali ke Jakarta.
Seorang penutur mendapatkan bahasa pertamanya melalui orang di lingkungannya yang mengajaknya berbahasa. Proses penguasaan bahasa pertama ini disebut pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa merupakan satu proses perkembangan yang terjadi pada manusia sejak ia lahir. Proses ini berbeda dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa merupakan proses belajar bahasa setelah seseorang memperoleh bahasa pertamanya. Bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh anak disebut juga bahasa ibu atau native language (Dardjowidjojo, 2003)
Pada proses pemerolehan bahasa, seseorang tidak dapat dengan leluasa memilih bahasa apa yang mereka inginkan sebagai bahasa ibu mereka. Pemilihan bahasa dilakukan oleh orang yang mengajarkan bahasa ibu kepada seseorang. Pada umumnya, orang yang berperan sangat besar dalam pemerolehan
bahasa seseorang adalah orang tua. Artikel “Bahasa Daerah Semakin Punah” menyatakan bahwa o
rang
tua adalah mata rantai “pewarisan” bahasa daerah ke anak-anaknya. Kalau si anak sudah tidak
memakai bahasa daerah, anak dari anak itu tidak akan memakai bahasa itu. Menurut banyak ahli
bahasa, inilah permulaan kematian bahasa.
D. Pembahasan
Berdasarkan wawancara diketahui bahwa semua responden sejak lahir hingga dewasa tinggal bersama orang tuanya dan mengenal bahasa pertama kali dari orang tuanya. Semua responden juga mengaku bahwa mereka mereka lahir dan dibesarkan di Jakarta, sementara orang tua mereka dilahirkan dan dibesarkan di daerah asal masing-masing.
Dari 12 responden, terdapat dua orang yang mengaku (orang tuanya) berasal dari Jawa Tengah, dua orang dari Jawa Timur, tiga orang dari Padang (Minangkabau), tiga orang dari Medan (Batak), satu orang dari Manado, satu orang dari Bengkulu, dan satu orang dari Bali. Hasil wawancara menunjukkan bahwa bahasa yang pertama kali diajarkan kepada semua responden (100%) adalah bahasa Indonesia. Ini berarti semua responden kurang atau bahkan tidak diperkenalkan pada bahasa daerahnya pada masa pemerolehan bahasa. Saat memasuki usia sekolah, para responden pun semakin mengenal dan mendalami bahasa Indonesia.
Ada dua orang responden yang menjelaskan bahwa pada awalnya orang tua mereka mengajarkan/menggunakan kedua bahasa (bahasa Indonesia dan daerah) kepada anaknya. Namun, pada akhirnya para orang tua memilih menggunakan bahasa Indonesia karena anaknya (responden) bingung dalam menggunakan bahasa (bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa daerah). Selain itu, responden diejek temannya karena bahasa Indonesianya bercampur dengan logat bahasa daerah.
mengenal bahasa daerahnya sama sekali. Walaupun dalam kehidupan sehari-harinya para responden menggunakan bahasa Indonesia, pada kesempatan tertentu mereka mendengar/ “bersentuhan” dengan bahasa daerahnya. Sebanyak tiga orang mengaku tidak dapat berbahasa dengan bahasa daerahnya sama sekali kecuali beberapa patah kata saja. Sisanya, sebanyak tiga orang mengaku dapat mengguna bahasa daerahnya secara aktif. Walaupun begitu, mereka membatasi kemampuan mereka pada kemampuan berkomunikasi sehari-hari. Salah seorang responden suku Jawa (Tengah) misalnya, mengungkapkan bahwa ia tidak dapat menggunakan bahasa Jawa halus (Krama Inggil).
Semua responden (100%) mengaku bahwa mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka dalam lingkungan pergaulan maupun kerja mereka. Para responden (100%) juga mengaku kalau mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi kepada orang tua mereka.
Ada dua belas dari tiga belas responden (92,30%) yang mengaku bahwa orang tua mereka dapat menggunakan bahasa daerahnya secara aktif. Peneliti mengasumsikan hal ini terkait dengan konteks semua orang tua responden dilahirkan dan dibesarkan di daerah asalnya. Namun, orang tua responden tidak menggunakan bahasa daerahnya saat berkomunikasi sehari-hari dengan anaknya (responden). Walaupun begitu, responden mengakui bahwa sesekali bahasa yang digunakan orang tua mereka bercampur dengan bahasa daerah. Orang tua responden menggunakan bahasa daerahnya saat berbicara dengan keluarga, teman dari kampung, pasangannya, dan orang tuanya.
Ada satu orang responden (7,69%) yang mengatakan orang tuanya hanya mampu berbahasa daerah secara pasif walaupun orang tuanya dilahirkan dan dibesarkan di daerah asalnya. Menurut responden, orang tuanya lahir di daerah kota (Medan) yang juga sudah biasa menggunakan bahasa Indonesia walau kakek-nenek responden (orang tua dari orang tua responden) dapat berbahasa daerah secara aktif. Orang tua yang hanya dapat berbahasa daerahnya secara pasif ini, tidak pernah menggunakan bahasa daerah sama sekali kepada anaknya sehingga responden hanya pernah mendengar bahasa daerahnya ketika melalui kakek-neneknya.
orang tuanya mengunjungi tempat tinggal/ daerah asalnya 1 kali dalam 2 tahun, sementara tujuh orang lainnya mengaku orang tuanya jarang mengunjungi tempat tinggal/ daerah asalnya.
Dari 13 responden, lima (30,76%) di antaranya mengaku tidak tertarik untuk mempelajari atau mendalami bahasa daerahnya. Sementara itu, delapan responden (61,53%) mengaku ingin mempelajari atau mendalami bahasa daerahnya dengan alasan yang berbeda-beda. Alasan terbanyak adalah merasa tertarik mempelajari bahasa daerah/ ingin menjaga budaya daerahnya. Selain itu, alasan lain yang dikemukakan oleh responden adalah ingin menikah dengan orang satu suku (Batak), menambah kemampuan berbahasa, tuntutan pekerjaan (mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing), ingin memahami tontonan berbahasa Jawa (srimulat, ketoprak), dan memudahkan komunikasi di pasar (menawar barang). Sementara itu, alasan responden yang tidak ingin mempelajari bahasa daerahnya lebih dalam adalah lingkungannya tidak berbahasa daerah dan sudah puas dengan kemampuan sekarang (pasif). Pernyataan di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden (58,3%) memiliki keinginan mempelajari bahasa daerahnya. Namun, ketika ditanya lebih lanjut mengenai ketertarikan itu, mereka tidak dapat menjelaskan lebih lanjut alasan ketertarikan tersebut. Asumsi penulis, hal ini terkait dengan rasa memiliki yang dirasakan responden atas bahasa daerah mereka. Namun, melihat bahwa para responden menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan dan kehidupan kerjanya serta dalam berkomunikasi dengan orang tuanya, para responden tidak memiliki lawan berbicara dalam bahasa derah. Walaupun orang tua responden mampu berbahasa daerah dengan aktif, salah seorang responden menyatakan segan menggunakan bahasa daerah dengan orang tuanya karena merasa kemampuan bahasa daerahnya kurang baik (takut ditertawakan).
Berdasarkan analisis terhadap hasil wawancara, timbul asumsi bahwa terdapat kaitan antara kemampuan berbahasa daerah dengan keterkaitan responden (penutur bahasa) terhadap daerah asalnya. Hal ini terlihat dari jawaban respoden bahwa responden yang dapat menggunakan bahasa daerahnya secara aktif menyatakan sering mengunjungi daerah asalnya. Dari penuturan responden juga terungkap bahwa dengan perginya mereka ke daerah asal orang tuanya, ada semacam tuntutan untuk lebih menguasai bahasa daerahnya agar dapat berkomunikasi dengan keluarga di daerah asal orang tuanya.
E. Kesimpulan dan Saran
Lebih dari separuh (58,3%) responden menyatakan bahwa mereka memiliki keinginan untuk mempelajari bahasa daerahnya dengan lebih mendalam. Ketertarikan terhadap bahasa daerah itu masih ada walaupun mereka tidak dapat menjelaskan dengan tepat mengapa mereka ingin mendalami/ mempelajari bahasa daerahnya. Alangkah baiknya apabila keinginan penutur bahasa tersebut mendapat sarana sehingga dapat terwujud.
Penelitian ini hanyalah penelitian pendahuluan. Penelitian ini dapat memberikan contoh gambaran penggunaan bahasa di kota-kota besar yang penduduknya multietnis dan sebagian penduduknya merupakan pendatang. Akibat keterbatasan waktu, jumlah responden dalam penelitian ini masih terbatas. Oleh karena itu, penulis berharap nantinya penelitian ini dapat lebih diperdalam dan diperluas lagi baik dari segi responden maupun aspek yang ditelitinya.
F. Daftar Pustaka
Hakim, Abdul. Jakarta Tempo Dulu. Jakarta: Pustaka Antarkota, 1989
Kridalaksana, Harimurti. Kamus Linguistik ed. ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.
Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia R.M.T. Lauder (ed.). Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Masinambow, E.K.M dan Paul Haenen (editor). Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002.
Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
“Bahasa Daerah Semakin Punah” diambil dari
http://www.beritaindonesia.co.id/humaniora/bahasa-daerah-semakin-punah/
diakses pada 27 Januari 2010
“Bendung Urbanisasi Omong Kosong” diambil dari
http://www.menkokesra.go.id/content/view/6180/39/
diakses pada 8 Februari 2010
“Indonesia miliki 750 Bahasa Daerah” diambil dari
http://beritasore.com/2009/06/17/indonesia-miliki-750-bahasa-daerah/
diakses pada 27 Januari 2010
LAMPIRAN
Daftar Pertanyaan