Mata Kuliah: Studi Syari’at Islam di Aceh
PENERAPAN SYARI’AT ISLAM DALAM LINTAS SEJARAH SECARA
UMUM
Di
S
U
S
U
N
Oleh
Kelompok III
Nama Anggota :
Achyar Munawar (150203151)
Abdul Rafiq (150203179)
Hafidz Al Barry (150203167)
Prodi: Pendidikan Bahasa Inggris
Dosen Pembimbing: Fauza Andriyadi, S.H.I., M.S.I.
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR RANIRY
A. PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang memiliki penganut terbanyak di Asia Tenggara, terbilang sekitar 240 juta umat saat ini. Sekitar 40% penganut islam berada di Brunei, Indonesia dan Malaysia. Dan menjadi agama minoritas di negara negara Asia tenggara lainnya. Kebanyakan umat Islam di Asia Tenggara bermazhab Ahlu Sunah Waljamaah, bermazhab Syafii dalam fiqh, atau hukum agama. Islam adalah agama resmi di Malaysia dan Brunei sementara itu islam juga salah satu dari enam agama resmi di Indonesia.
Kedatangan Islam di Asia Tenggara tak lepas dari interaksi antara masyarakat pesisir dengan para pedagang yang berasal dari Arab dan India atau Gujarat. Abad ke-5 SM kepulauan Malaka menjadi tempat persinggahan dan perdagangan para pedagang yang berlayar ke Cina atau sebaliknya. Islam masuk ke Asia Tenggara dengan proses berangsur-angsur. Awalnya masyarakat yang masuk Islam adalah dari kalangan pribumi, kemudian disusul para bangsawan dan raja yang kemudian sekaligus merubah bentuk kerajaan yang sebelumnya bercorak Hindu-Budha sekarang bercorak Islam. Islam masuk ke Asia tenggara dibawa oleh para pedagang Arab yang datang untuk berdagang di tanah Melayu. Pendapat ini mungkin benar karena didasarkan pada beberapa fakta bahwa adanya hubungan perdagangan antara Arab dan dunia Timur.
Relasi yang dibangun antara pedagang pedagang dari timur menciptakan kontras dan kesan yang baik bagi masyarakat pribumi. Sehingga, yang pada awalnya tujuan mereka hanya untuk berdagang. Mereka juga dapat mendakwahkan agama islam. Ajaran islam yang dibawa oleh pedagang dari timur dengan mudah diterima oleh masyarakat pribumi dikarenakan ajaran islam yang fleksibel, tidak bersifat memaksa, dan cinta damai.
Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya dilakukan secara damai.1 Apabila situasi politik suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan disebabkan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, maka islam dijadikan alat politik bagi golongan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan dengan pedagang-pedagang Muslim yang posisi ekonominya kuat karena menguasai pelayaran dan perdagangan.
Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada empat2 yaitu :
Saluran perdagangan
Saluran perkawinan
Saluran pendidikan
Saluran budaya
B. PEMBAHASAN
Berikut kami akan membahas pelaksanaan syari’at islam di beberapa negara-negara spesific di Asia Tenggara.
1. Pelaksanaan Syari’at Islam di Brunei Darussalam
Secara georafis Brunei Darussalam terletak di pulau Kalimantan , tepatnya di pantai Barat Laut Kalimantan. Bagian utaranya berbatasan dengan laut cina selatan, bagian selatan, barat dan timurnya berbatasan dengan malaysia. Nama resminya adalah Brunei Darussalam (Negara yang penuh kedamaian) ibukotanya adalah Bandar Sri Begawan luas wilayahnya ;5.765 KM Titik tertinggi adalah bukit Pagon (1850 m) dan sungai utama adalah sungai Belait. Brunei terbagi atas empat distrik yaitu : distrik Brunei, distrik Tutong, distrik Belait, dan distrik Temburong dan masuk dalam negara rumpun Melayu. Bruneidianggap negara tua diantara kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Keberadaan Brunei tua diperoleh berdasarkan catatan Arab China dan tradisi lisan. Dalam catatan sejarah China dikenal dengan nama Po-li, Po-lo, Poni atau Puni dan Brunei dalam catatan Arab dikenal dengan istilah Dzabaj atau Ranjd.3 Mueflich Hasbullah dalam mengutip pendapat Sharon mengatakan
1Dr. Badri Yatim, M.A,Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II,(Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2008),hlm. 200.
2Ibid hlm 201
bahwa kerajaan Islam Melayu menyerukan kepada masyarakat untuk setia kepada rajanya, melaksanakan Islam dan menjadikannya sebagai jalan hidup serta menjalani kehidupan dengan mematuhi segala karakteristik dan sifat bangsa Melayu sejati Brunei Darussalam, termasuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa utama.
Sebagai negara yang menganut sistem hukum agama, Brunei Darussalam menerapkan hukum syariah dalam perundangan negara. Untuk mendorong dan menopang kualitas keagamaan masyarakat, didirikan sejumlah pusat kajian Islam serta lembaga keuangan Islam. Tak hanya dalam negeri, untuk menunjukkan semangat kebersamaan dengan masyarakat Islam dan global, Brunei juga terlibat aktif dalam berbagai forum resmi, baik di dunia Islam maupun internasional.
Sama seperti Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam dengan Mazhab Syafi'i, di Brunei juga demikian. Konsep akidah yang dipegang adalah Ahlussunnah waljamaah. Bahkan, sejak memproklamasikan diri sebagai negara merdeka, Brunei telah memastikan konsep “Melayu Islam Beraja” sebagai falsafah negara dengan seorang sultan sebagai kepala negaranya. Saat ini, Brunei Darussalam dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah. Brunei merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara dengan latar belakang sejarah Islam yang gemilang.
Agama Islam di Brunei Darussalam diperkirakan mulai diperkenalkan sekitar tahun 977 melalui jalur timur Asia Tenggara oleh para pedagang dari negeri Cina. Sekitar 500 tahun kemudian, agama Islam barulah menjadi agama resmi negara di Brunei Darussalam semenjak pemerintahannya dipimpin oleh Raja Awang Alak Betatar. Raja Awang Alak Betatar masuk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Shah sekitar tahun 1406 M.
Kemajuan dan perkembangan Islam semakin nyata pada masa pemerintahan Sultan Bolkiah (sultan ke-5) yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, seluruh Pulau Kalimantan, Kepulauan Sulu, Kepulauan Balabac, Pulau Banggi, Pulau Balambangan, Matanani, dan utara Pulau Palawan sampai ke Manila. Pada masa Sultan Hassan (sultan ke-9), masyarakat Muslim Brunei memiliki institusi-institusi pemerintahan agama. Agama pada saat itu dianggap memiliki peran penting dalam memandu negara Brunei ke arah kesejahteraan. Pada saat pemerintahan Sultan Hassan ini, undang-undang Islam, yaitu Hukum Qanun yang terdiri atas 46 pasal dan 6 bagian, diperkuat sebagai undang-undang dasar negara.
Di samping itu, Sultan Hassan juga telah melakukan usaha penyempurnaan pemerintahan, antara lain dengan membentuk Majelis Agama Islam atas dasar Undang-Undang Agama dan Mahkamah Kapada tahun 1955. Majelis ini bertugas memberikan dan menasihati sultan dalam masalah agama ideologi negara. Untuk itu, dibentuk Jabatan Hal Ehwal Agama yang tugasnya menyebarluaskan paham Islam, baik kepada pemerintah beserta aparatnya maupun kepada masyarakat luas.Islam. Langkah lain yang ditempuh sultan adalah menjadikan Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan satu-satunya.
Pada tahun 1888-1983, Brunei berada di bawah kekuasaan Inggris. Brunei merdeka sebagai negara Islam di bawah pimpinan sultan ke-29, yaitu Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah, setelah memproklamasikan kemerdekaannya pada 31 Desember 1983. Gelar Mu’izzaddin Waddaulah (Penata Agama dan Negara) menunjukkan ciri keislaman yang selalu melekat pada setiap raja yang memerintah.
Darussalam menangguhkan pelaksanaan hukum Islam sehingga peraturan tersebut tidak bertentangan dengan HAM.4
2. Pelaksanaan Syari’at Islam Di Thailand
Kerajaan Thai (nama resmi bahasa Thai: ราชอาณาจักรไทย Ratcha Anachak Thai; atau Prathēt Thai), yang lebih sering disebut Thailand dalam bahasa Inggris, atau dalam bahasa aslinya Mueang Thai (dibaca: "meng-thai", sama dengan versi Inggrisnya, berarti "Negeri Thai"), adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja di timur, Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dan Myanmar dan Laut Andaman di barat. Kerajaan Thai dahulu dikenal sebagai Siam sampai tanggal 11 Mei 1949. Kata "Thai" (ไทย) berarti "kebebasan" dalam bahasa Thai, namun juga dapat merujuk kepada suku Thai, sehingga menyebabkan nama Siam masih digunakan di kalangan warga negara Thai terutama kaum minoritas Tionghoa.
Penyebaran agama islam di thailand berbasis di provinsi pattani. Jika sesorang berbicara tentang islam di thailand, maka pembahasannya pasti merujuk kepada masyarakat pattani. Dikarenakan disanalah asal muasal islam berkembang. Pada awalnya, Pattani merupakan sebuah kerajaan Melayu Islam yang berdaulat, mempunyai kesultanan dan perlembagaan yang tersendiri. Patani adalah sebagian dari 'Tanah Melayu'. Namun pada pertengahan abad ke-19 Patani telah menjadi korban penaklukan Kerajaan Siam.5 Pada tahun 1826, penaklukan Siam terhadap Patani mendapat pengakuan Britania Raya. Dalam usahanya untuk mengokohkan kedudukannya di Pattani, pada tahun 1902 Kerajaan Siam melaksanakan undang-Undang Thesaphiban. Dengan itu, sistem pemerintahan kesultanan Melayu telah dihapuskan. Dengan ditandatanganinya Perjanjian Bangkok pada tahun 1909, Pattani telah diakui oleh Britania sebagai bagian dari jajahan Siam walaupun tanpa mempertimbangkan keinginan penduduk asli Melayu Patani.
Sejak penghapusan pemerintahan Kesultanan Melayu Pattani, masyarakat Melayu-Pattani berada dalam posisi tertekan dan lemah . Seperti yang diungkap oleh W.A.R. Wood, Konsul Britania di Songkhla, penduduk Melayu telah menjadi mangsa sebuah pemerintahan yang tidak diperintah dengan baik. Justru akibat pemaksaan inilah kekacauan sering terjadi di Pattani. Pada tahun 1923, Tengku Abdul Kadir Kamaruddin, mantan Raja Melayu Patani, dengan dukungan pejuang-pejuang Turki, memimpin gerakan pembebasan. Semangat
Siam menjadi lebih hebat saat Kerajaan Pibul Songgram (1939-44) mencoba mengasimilasikan kaum minoritas Melayu ke dalam masyarakat Siam melalui Undang-Undang Rathaniyom.
Keterlibatan Siam dalam Perang Dunia Kedua di pihak Jepang telah memberikan harapan kepada orang-orang Melayu Pattani untuk membebaskan tanah air mereka dari penjajahan Siam. Tengku Mahmood Mahyideen, putra mantan Raja Melayu Patani juga seorang pegawai berpangkat Mayor dalam pasukan Force 136, telah mengajukan proposal kepada pihak berkuasa Britania di India supaya mengambil alih Pattani dan wilayah sekitarnya serta digabungkan dengan Tanah Melayu.
Proposal Tengku Mahmud itu selaras dengan proposal Pejabat Tanah Jajahan Britania dalam mengkaji kedudukan tanah ismus Kra dari sudut kepentingan keamanan Tanah Melayu setelah perang nanti.Harapan itu semakin terbuka saat pihak sekutu, dalam Perjanjian San Francisco pada bulan April 1945, menerima prinsip hak menentukan nasib sendiri (self-determination) sebagai usaha membebaskan tanah jajahan dari belenggu penjajahan. Atas semangat itu, pada 1 November 1945, sekumpulan pemimpin Melayu Patani dipimpin oleh Tengku Abdul Jalal, bekas wakil rakyat wilayah Narathiwat, telah mengemukakan petisi kepada Kerajaan Britania dengan tujuan membujuk agar empat wilayah di Selatan Siam dibebaskan dari kekuasaan Pemerintahan Siam dan digabungkan dengan Semenanjung Tanah Melayu. Namun sudut pandang Britania terhadap Siam berubah saat Peperangan Pasifik selesai. Keselamatan tanah jajahan dan kepentingan British di Asia Tenggara menjadi pertimbangan utama kerajaan Britania dalam perbincangannya dengan Siam maupun Pattani.
Kebetulan kerajaan Siam telah memberi jaminan untuk memperkenalkan reformasi di Pattani untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat Melayu. Oleh kerana itu, isu Pattani yang awalnya dianggap kurang penting malah kembali dibangkitkan akan memperkuat hubungan dengan Siam. Setelah Persidangan Songkla pada awal Januari 1949, pihak berkuasa Britania di Tanah Melayu atas tuntutan pihak Siam mulai mengambil tindakan terhadap pemimpin-pemimpin pejuangan Pattani. GEMPAR juga telah dilarang. Tengku Mahmood Mahyideen ditekan, sementara Haji Sulung dihukum penjara. Pergerakan politik Pattani semakin lemah dengan kematian Tengku Mahmood Mahyideen dan Haji Sulung pada tahun 1954.
Sebagaimana telah diketahui bahwa latar belakang dari sejarah Pattani dengan bangsa Thailand atau Siam adalah dua bangsa yang berlainan, bangsa Siam atau Thailand berbahasa Thai sedangkan Pattani berbahas Melayu. Tetapi kerajaan Thai menjalankan kebijakan Tas-Yim atau meng-Thai-kan ummat Muslim Pattani.6
Ketika wilayah Pattani dimasukan kedalam wilayah negara Thai pada tahun 1902, banyak cara untuk menjamin bahwa orang-orang Melayu-Muslim secara berangsur-angsur akan mnerima status mereka dibaah kekuasaan Thai. Dalam Dekrit Raja tahun 1902, mengenai penyelenggaraan pemerintahan di daerah itu, ditetapkan bahwa :
“ Tidak di perboleehkan diberlakukan undang-undang atau peraturan tanpa terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Raja”.7
Ketetapan ini dengan tegas mengacu kepada wilayah Pattani yang telah lama menggunakan hukum Islam dalam menata kehidupan mereka namun mereka (Pattani) baru saja takluk dari bangsa Thai sehingga peraturan-peraturan yang sudah ada harus diubah menurut versi bangsa Thai sendiri.
Raja Chulalongkorn hanya bertekad untuk menegakkan suatu sistem hukum tunggal saja yang berlaku diseluruh Thailand. Akan tetapi Dia menghadapi pimpinan agama yang
6 IAIN SUSQA Pekanbaru, Dinamika dan Poblematika Muslim di Asia Tenggara, (Institu for Southeast Asian Islamic Studies ISAIS, 2001), hal 27
sama bertekadnya, yang menganggap dekrit itu melanggar bidang mereka yang suci.8 Untuk menghindari akibat-akibat yang serius, Raja Chulalongkorn mengadakan kompromi dan menyutuji bahwa Bangkok tidak akan memaksakan kehendaknya dibidang hukum keluarga dan hukum waris yang peka itu.
Namun demikian, memberikan kebebasan menangani hukum Islam tentang keuarga dan warisan di tangan para ulam bukan berarti pemerintah lepas tangan dalam soal-soal prosedur yang menyangkut pengelolaan pengadilan agama. Akan tetapi pemerintahan yang efektif menuntut adanya suatu sistem hukum yang diawasi. Pemerintah terlibat dalam upaya merumuskan soal-soal Prosedur dan materi Sala To Qodi.9
Salah satunya adalah harus ditetapkan prosedur memilih ulama-ulama yang akan duduk dalam penel hakim. Kemudian beberapa catatan dalam pembentukan pengadilan agama10:
Sejauh para ulama diberi peran dalam penyelenggaraan peradilan, terutama dalam bidang hukum perkawinan dan hukum waris, mereka hanya berperan atas perkenan Gubernur Jenderal Thai di wilayah tersebut.
Sala To Kali hanya perpanjangan dari pengadilan-pengadilan Thai, dibentuk oleh
pihak yang berwajib Thai dan hanya mendapat bantuan dari kaum ulama dalam soal-soal keagamaan. Pendapat mereka hanya merupakan nasehat kepada hakim Thai yang bebas untuk mengukuhkan atau menolaknya. Vonis final tetap ditangan hakim-hakim Thai.
Kalau dilihat dari beberapa penjelasan diatas maka peraturan-perauran yang diberlakukan oleh pemerintah Thai sama saja dengan ketidak berpihakannya kepada umat Muslim Thailand.Umat Muslim menyadari bahwa struktur pengadilan agama itu sendiri merupakan perpanjangan tangan dari pengadilan biasa Thai yang tidak memungkinkan untuk memperthankan norma-normanya sendiri dan bekerja sesuai dengan asas-asas Islam yang sesungguhnya. Salah satu tuntutan yang dikemukakan dalam pemberontakan para ulama tahun 1947 adalah agar pengadilan agama itu dipisahkan sepenuhnya dari pengadilan biasa.
Sebelum terbentuk Sala To Qadi hukum agama diinterpretasikan dan ditegakkan oleh kaum ulama tanpa adanya sesuatu pengaturan kelembagaan. Wibawa tradisional dan moral mereka sudah cukup untuk menjamin ditaatinya pendapat (fatwa) mereka.11Kalau dilihat dari penjelasan diatas, tampaknya ada dua tujuan yang saling bertentangan antara para ulama dengan pemerintah Thai. Disatu pihak diperlukan keseragaman untuk kepentingan administrasi dan kontrol oleh pejabat-pejabat Thai (pemerintah), di pihak lain para ulama berusaha untuk mencapaiideal agama mereka dan semata-mata berdasarkan upaya merka yang tulus ikhlas untuk memperjuangkan kehidupan menurut aturan Islam.
Umat Muslim di empat propinsi Thailand Selatan tergolong penganut hukum Islam model mazhab Syafi’i. Ini dibuktikan dari semua tulisan–tulisan dan kitab-kitab hukum Islam yang dipakai di lembaga-lembaga pendidikan di daerah tersebut, baik lembaga tradisonal (pesantren) maupun lembaga modern (madrasah) adalah hasil karya-karya para ulama mazhab Syafi’i, baik itu ulama dari tanah air seperti: Imam an-Nawawi, Imam al-Muhalil, Imam Zakaria al-Anshori, Imam Ibnu Hajar, Imam Syarbini, Imam ar-Romlidan lain-lainnya.12
Sedangkan dari ulama-ulama setempat adalah Syeikh Daud bin Abdillah bin Idris al-Pattani, Muhammad bin Ismail Daudy al-al-Pattani, Syeikh Ahmad bin Muhammad Zian bin Musthofa al-Pattani, Zainul Abidin bin Ahmad al-Pattani dan lain-lain.13 Dalam sejarahnya berkat perjuangan dan pengorbanannya, syariat Islam di empat propinsi Thailand Selatan sampai sekarang masih utuh di praktekan oleh umat Muslim di daerah tersebut. Dalam praktek amaliyah sehari-hari bila terjadi kesulitan dalam permasalahn keagamaan maka mereka langsung menemui ulama-ulama setempat atau lembaga-lembaga keagamaan untuk menyelesaikan permasalahn yang terjadi.
Pemerintah thailand mengeluarkan undang-undang untuk kaum Muslimin dalam urusan agama Islam. Undang-undang itu adalah:
1) Undang-undang mengayomi Umat Islam (Patronage of Islamic Act).
2) Undang-undang pelaksanaan syariat Islam yang berkaitan dengan persoalan keluarga dan warisan .
11Ibid hlm 100
12 Nurmayabaliyah Doloh (skripsi), Peranan Dato’ Yuttitham dalam Penerapan Syariah Islam di Thailand Selatan.
3) Undang-undang tentang urusan Masjid.
Undang-undang tersebut hanya berlaku untuk kaum Muslim di Thailand pada umumnya, hanya undang-undang pelaksanaan hukum Islam yang berkaitan dengan keluarga dan warisan saja yang hanya dikhususkan di empat wilayah di Tahiland Selatan.Dalam pelaksanaan ketiga undang-undang tersebut pemerintah Thiland membentuk dua lembaga keagamaan untuk melaksanakannya. Masing-masing lembaga itu adalah, Lembaga Komite Islam (LKI) dan Lembaga Peradilan Agama (LPA). Lembaga Komite Islam terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
a) Lembaga Komite Islam Nasional (LKI-N)
LKI Nasional adalah sebuah lembaga keagamaan yang diresmikan oleh pemerintah Thailand berdasarkan undang-undang mengayomi Islam pasal V, yang menyatakan bahwa: “Komite Islam Nasional berfungsi sebagai penasehat kepada pemerintahan dalam negeri dan kementrian pendidikan dalam urusan agama Islam”. LKI Nasional di kepalai oleh Chularajmontri. Tugas utamanya adalah sebagai penghubung antara kaum Muslim dengan pemerintah dan sebagai penasehat kepada kementrian dalam negeri dan kementrian pendidikan Thailand dalam urusan agama.
b) Lembaga Komite Islam Propinsi (LKI-P)
LKI Masjid. Menurut undang-undang pentadbiran Masjid tahun 1947, yaitu tentang peraturan pelantikan atau pemilihan Imam, Khatib, bilal, dan anggota-anggota komite masjid. Mereka bertugas sebagai pengurus dalam urusan masjid, menjaga harta kekayaan masjid dan memberi nasehat kepada ma’mum begi Masjid yang berkaitan.
Kemudian Lembaga Peradilan Agama. Jika di Indonesia peradilan agama dengan badan-badan peradilan yang lain terpisah, maka berbeda dengan peradilan di Thailand. Di empat propinsi Thailand Selatan, peradilan agama tidak mandiri, tergantung pada peradilan sipil dan berada dibawah wewenag peradilan sipil. Dalam keputusannya harus melalui persetujuan dari hakim peradilan sipil. Dato’ Yuttitham (Hakim Agama) hanya berada disamping hakim sipil saat sidang dan dikontrol langsung olehnya. Hukum Islam yang dilaksanakan di peradilan agama di empat Propinsi Thailand Selatan hanya terbatas pada hukum keluarga dan warisan sajakendala-kendala Dato’ Yuttitham dalam melaksanakan Syariat Islam di Thailand.
Hambatan atau kendala dalam pelaksanan hukum Islam di peradilan agama antara lain: 1) Kurangnya atau keterbatasan dan tidak bebasnya dalam mengeluarkan suatu
pendapat atau keputusan.
2) Kemampuan dan pengetahuan Dato’Yuttitham. Untuk menjadi pengukur kemampuan Dato’Yuttitham tentang hukum Islam sebenarnya boleh siapa saja, asalkan mereka mengerti atau faham tentang hukum islam dan dekat dengan para To’ imam di masjid-masjid yang bersangkutan untuk dipilih menjadi Dato’Yuttitham. Persyaratan ini ternyata sulit bagi masyarakat Islam di empat ropinsi di Thailand Selatan yang memang benar-benar berkemampuan dan berpengeatahuan yang mendalam tentang hukum Islam.
C. PENUTUP
Kesimpulan
Islam masuk ke Asia Tenggara pada mulanya melalui jalur perdagangan yang berbasis di selat malaka. Hal ini yang menguntungkan pedagang-pedagang dari timur. Dikarenakan pada saat itu selat malaka menjadi tempat bertemunya rumpun-rumpun melayu. Dari sanalah islam menyebar di seluruh negeri Asia Tenggara. Inilah cikal bakal munculnya kerajaan-kerajaan islam di tanah melayu dan di nusantara.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2008
IAIN SUSQA Pekanbaru, Dinamika dan Poblematika Muslim di Asia Tenggara, Pekan Baru, 2001
Al-Sufri, Haji Awang Mohd. Jamil, Tarsilah Brunei: Sejarah Awal dan Perkembangan Islam, 2001
Surin Pitsuwan, Islam di Muangthai Nasionalisme Melayu Masyarakat Pattani, Jakarta: LP3ES, 1989
Nurmayabaliyah Doloh (skripsi), Peranan Dato’ Yuttitham dalam Penerapan Syariah Islam di Thailand Selatan.
https://id.wikipedia.org/wiki/Provinsi_Pattani