• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SULFUR TERHADAP PERTUMBUHAN TAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH SULFUR TERHADAP PERTUMBUHAN TAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGARUH SULFUR TERHADAP PERTUMBUHAN

TANAMAN

A. Latar Belakang

Setiap tanaman memerlukan paling sedikit 16 unsur atau zat hara agar pertumbuhannya normal. Dari ke-16 unsur tersebut, 3 unsur (karbon, hidrogen, dan oksigen) diperoleh dari udara, sedangkan 13 unsur lagi disediakan oleh tanah. Unsur esensial bagi tanaman tersebut dibedakan lagi ke dalam unsur makro dan mikro, dimana unsur makro merupakan unsur yang dibutuhkan dalam jumlah besar, dan mikro merupakan unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Untuk dapat tanaman tumbuh dengan normal, maka kesemua unsur esensial tersebut harus terpenuhi.

Salah satu unsur hara makro esensial bagi tanaman yang akan dibahas pada makalah ini adalah unsur hara belerang/ sulfur (S). Sulfur merupakan salah satu unsur yang banyak dibutuhkan oleh tanaman. Sulfur memiliki fungsi dan peran penting, yang mana pemenuhannya bagi tanaman harus dengan jumlah yang sesuai kebutuhan. Salah satu peran penting sulfur bagi tanaman yaitu untuk pembentukan asam amino. Apabila tanaman mengalami kekurangan ataupun kelebihan unsur S, maka tanaman tersebut akan mengalami atau menimbulkan gejala-gejala ketidak normalan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Untuk itu sangat penting mempelajari dan membahas lebih lanjut mengenai unsur sulfur, baik fungsi dan perananannya bagi tanaman, keterkaitannya dengan pertumbuhan tanaman, serta gejala yang ditimbulkan apabila tanaman mengalami kekurangan atau kelebihan sulfur.

B. Unsur Hara Sulfur

Unsur sulfur lebih dikenal dengan nama belerang. Sulfur bisa didapatkan dalam tanah dengan dua bentuk utama, yaitu bentuk organik dan bentuk anorganik. Unsur ini diserap oleh tanaman hampir seluruhnya dalam bentuk ion sulfat (S042-) dan hanya sejumlah kecil

sebagai gas belerang (SO2) yang diserap langsung dari tanah dan atmosfir. Berdasarkan

(2)

Unsur sulfur selain bisa didapat dalam tanah, juga terdapat dalam pupuk. Misalnya dalam pupuk ZA dan ponska. Dalam pupuk ZA, di dalamnya terdapat kandungan unsur N dan S, yang mana kandungan unsur nitrogennya (N) sebesar 21% dan sulfur (S) sebesar 24%. Sedangkan dalam pupuk ponska (15, 15, 15, 10), unsur sulfurnya terkandung sebesar 10%. Unsur hara sulfur merupakan salah satu unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tanaman.

C. Fungsi Unsur Hara Sulfur bagi Tanaman

Pada umumnya sulfur atau belerang dibutuhkan tanaman dalam pembentukan asam amino beberapa jenis protein dalam bentuk cystein, methionin serta thiamine. Disamping itu S juga merupakan bagian dari biotin, tiamin, ko-enzim A dan glutationin. Diperkirakan 90% S dalam tanaman ditemukan dalam bentuk asam amino, yang salah satu fungsi utamanya adalah penyusun protein yaitu dalam pembentukan ikatan disulfida antara rantai-rantai peptida.

Sulfur juga berfungsi sebagai aktivator, kofaktor atau regulator enzim dan berperan dalam proses fisiologi tanaman. Selain fungsi yang dikemukakan di atas, peranan S dalam pertumbuhan dan metabolisme tanaman sangat banyak dan penting, diantaranya yaitu merupakan bagian penting dari ferodoksin, suatu komplex Fe dan S yang terdapat dalam kloroplas dan terlibat dalam reaksi oksidoreduksi dengan transfer elektron serta dalam reduksi nitrat dalam proses fotosintesis. Sulfur terdapat dalam senyawa-senyawa yang mudah menguap yang menyebabkan adanya rasa dan bau pada rumput-rumputan dan bawang-bawangan. Sulfur dikaitkan pula dengan pembentukan klorofil yang erat hubungannya dengan proses fotosintesis dan ikut serta dalam beberapa reaksi metabolisme seperti karbohidrat, lemak dan protein. Sulfur juga dapat merangsang pembentukan akar dan buah serta dapat mengurangi serangan penyakit.

Lebih jelasnya fungsi dan peran sulfur bagi tanaman, dapat dituliskan sebagai berikut: 1) Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar.

2) Merupakan unsur yang penting dalam beberapa jenis protein dalam bentuk cystein,

methionin serta thiamine.

3) Membantu pertumbuhan anakan produktif. 4) Membantu pembentukan butir hijau daun.

(3)

6) Pada beberapa jenis tanaman antara lain berfungsi membentuk senyawa minyak yang menghasilkan aroma dan juga aktifator enzim membentuk papain.

Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah mengalami dekomposisi dan sulfur elemental (bubuk/ batu belerang) dari aktivitas vulkanis. Sulfur yang larut dalam air akan segera diserap tanaman, karena unsur ini sangat dibutuhkan tanaman terutama pada tanaman-tanaman muda.

D. Keterkaitan Unsur Hara Sulfur bagi Pertumbuhan Tanaman

Unsur hara Sulfur (S) bersama dengan kalsium dan magnesium merupakan hara tanaman sekunder. Hal ini berarti Sulfur dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak tetapi lebih sedikit dari unsur Nitrogen (N), Phosphosr ( P), dan kalium (K). Menurut Goeswono Soepardi (1983) S merupakan penyusun asam amino metionin dan sistein. Struktur protein dalam tanaman sebagian besar ditentukan oleh gugusan S. Unsur ini juga dikenal sebagai hara penting yang diperlukan untuk produksi khlorofil karena pada umumnya S yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal tanaman bervariasi antara 0.1 sampai 0.5% dari bobot kering tanaman (Marschner, 1995).

1. Unsur Hara Sulfur dalam Tanah

Total S dalam tanah bervariasi mulai dari sangat sedikit sampai dengan 1000 mg S kg-1 tanah (0.1%), nilai yang lebih tinggi dapat ditemui pada tanah-tanah bermasalah seperti tanah salin dan tanah sulfat masam (Fox, 1986). Sulfur dalam tanah terdapat dalam bentuk organik dan anorganik. Bentuk S anorganik penting ada dalam tanah sebab sebagian besar sulfur diambil oleh tanaman dalam bentuk SO42-(sulfat), begitu juga

bentuk S organik juga penting ada dalam tanah karena dapat meningkatkan total S tanah (Schulte, 2012). Hampir semua sulfur dalam tanah tropis yang tidak dipupuk terdapat dalam bentuk organik. Kadar S dalam tanah bervariasi dan dipengaruhi oleh penambahan sulfur dari bahan organik, air irigasi, udara, pupuk dan pestisida. Sulfur diserap oleh tanaman dalam bentuk sulfat (SO42-) dan hanya sebagian kecil sulfur dalam bentuk gas

SO2 yang diserap langsung oleh tanaman dari tanah dan atmosfer.

(4)

2-terjerap, SO42- tak larut dan S anorganik tereduksi. SO42- terlarut dan terjerap merupakan

fraksi sulfur yang dapat tersedia bagi tanaman (Tisdale et.al, 1985).

Gambar 1. Siklus Sulfur di Alam

Ketersediaan S dalam tanah tergantung pada beberapa faktor terutama redoks potensial tanah, kandungan bahan organik, aktivitas mikroorgnisme tanah, kualitas air pengairan dan air hujan (Blair et.al., 1986). Penambahan sulfur baik yang berasal dari bahan organik maupun anorganik pada beberapa sistem pertanian dapat meningkatkan bahan organik, total sulfur organik, dan mineralisasi S. Tanaman mendapatkan sulfat tersedia selain dari tanah dan pupuk yang membawa S juga mendapatkan sulfur dari air pengairan, air hujan, dan udara. Oleh karena itu untuk menduga kebutuhan sulfur tanaman dalam rangka penentuan dosis pupuk tidak cukup hanya berdasarkan pengamatan S tanah. Dalam keadaan anaerob seperti pada lahan sawah yang tergenang terjadi reduksi

sulfat menjadi sulfida. Menurut Anwar (2000), bahwa sulfat bertendensi tidak mantap dalam lingkungan anaerobik. Reduksi sulfat menjadi sulfida (H2S) oleh bakteri

Desulvovibrio desulfuricans, yang selanjutnya bereaksi dengan ion Fe2+ dalam larutan

dan membentuk ferro sulfida (FeS) atau “macknawite”, kemudian bereaksi dengan sulfur (S) dan menghasilkan

FeS2 (ferro disulfida) dengan reaksi sebagai berikut :

1. Fe(OH)2 + H2S FeS + 2 H2O

2. FeS + S +e FeS2

(5)

berkurangnya sulfat tersedia bagi tanaman di dalam tanah. Sulfat dalam tanah aerob dapat tereduksi oleh bakteri membentuk H2S yang pada gilirannya akan bereaksi dengan logam

-logam berat menghasilkan sulfida-sulfida yang sangat tidak larut. Selain itu, tingginya kandungan Ca2+ pada tanah dapat mengurangi kelarutan SO

42-(Engelstad, 1997). Oleh

karena itu pada tanah-tanah alkalin dan tanah yang dikapur berlebihan tanaman sering mengalami kekurangan sulfur. Senyawa organik yang dilepaskan eksudat akar dan mikroba memegang peranan penting dalam menentukan ketersediaan ion sulfat dalam tanah. Kimura et.al. (1991) menyatakan bahwa ion sulfat dalam tanah akan direduksi oleh H2 yang berasal dari eksudat dan H2 yang dilepaskan oleh bahan organik. Sejumlah

sulfur ditemukan pada permukaan horizon dalam bentuk S organik. Secara umum S organik pada top soil permukaan lebih tinggi dari pada subsoil.

Secara umum jumlah S yang termineralisasi dari tanah secara tidak langsung berhubungan dengan tipe tanah, C, N atau S, C:N, N:S, C:S rasio, pH tanah, atau N yang termineralisasi. Rasio C:S menunjukkan ukuran kemudahan bahan organik melepaskan sulfat ke dalam tanah. Freney (1986) mengemukakan bahwa SO42+ dilepaskan dari bahan

organik pada saat C:S rasio dibawah 200 dan diimobilisasi saat rasio lebih besar dari 400. Immobilisasi dan mineralisasi terjadi keduanya pada saat rasio antara 200 dan 400. Oleh karena itu, pupuk organik yang akan diberikan harus telah dikomposkan terlebih dahulu sehingga nilai rasio C:S nya dibawah 200.

 Contoh Fungsi Sulfur Bagi Tanaman Padi

Belerang (sulfur) pada padi diperlukan untuk sintesis asam amino cystein,

methionin, dan thiamine, yang selanjutnya membentuk protein. Selain itu sulfur juga sangat membantu perkembangan pucuk, akar dan anakan.

Padi sawah yang mengalami kekurangan sulfur umurnya lebih panjang dengan persentase kehampaan gabah yang tinggi, untuk mengatasi kekahatan sulfur pada padi, perlu dilakukan upaya perbaikan kualitas dan produktivitas tanah melalui pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik.

Salah satu sumber S anorganik yang baik untuk padi sawah adalah pupuk amonium sulfat [(NH4)2SO4] karena dapat memasok S yang tersedia bagi tanaman,

(6)

2. Transformasi Unsur Hara Sulfur Pada Daur Belerang dan Jalur Penyerapan Tanaman

Gambar 2. Siklus Sulfur pada Daur Belerang

Belerang di dalam tanah didapatkan dari sisa-sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk sulfur dan sulfat (SO42-) dan juga hujan asam. Bahan organik tanah yang tersusun dari

dekomposisi sisa-sisa tanaman dan kotoran hewan yang kemudian dioksidasi oleh bakteri oksidasi menjadi bentuk sulfat (SO42-). Sulfat kemudian mengalami reduksi oleh bakteri

menjadi sulfide (S2-), hasil dari reduksi sulfat oleh bakteri residual mengalami proses

volatilisasi menjadi gas dalam bentuk H2S. sebagian lainnya mengalami proses leaching,

sebagiannya lagi diserap oleh tanaman sebagai sumber nutrisi sekunder. Sulfat juga mengalami proses immobilisasi oleh bakteri asimilisasi diubah menjadi bahan organik tanah kembali.

Proses transformasi sulfur sangat mirip dengan transformasi nitrogen, sulfur organik dan sulfur sulfide yang tereduksi bereaksi dengan oksigen membentuk sulfat (SO4-)

tersedia pada kondisi hangat, tanah yang teraerasi baik. Proses ini sangat mirip dengan konversi nitrogen organik menjadi ammonium (NH4+) dan nitrat (NO3-). Sulfat kemudian

(7)

Gambar 3. Proses Transformasi Sulfur

Unsur S diserap oleh akar tanaman dari dalam tanah dalam bentuk ion sulfat (SO42-) yang

kemudian mengalami proses reduksi dan asimilasi oleh tanaman menjadi APS (Adenosin Phospho Sulphate) dengan bantuan enzim ATP sulfurylase yang mengubah ATP menjadi PPi. Kemudian APS diubah menjadi Sulfit (SO32-) yang kemudian diubah menjadi sulfide (S2-).

Sulfida diubah menjadi Sistein yang diubah lagi menjadi Sulfur organik.

Belerang di dalam tanah didapatkan dalam dua bentuk utama yaitu bentuk organik dan bentuk anorganik. Unsur ini diserap oleh tanaman hampir seluruhnya dalam bentuk ion sulfat (S042-) dan hanya sejumlah kecil sebagai gas belerang (SO2) yang diserap langsung dari tanah

dan atmosfir. Berdasarkan bentuknya di dalam tanah, S dapat dikelompokkan menjadi sulfat organik, sulfat terlarut, sulfat terabsorpsi, S-elemen, dan sulfida.

(8)

3. Metabolisme Unsur S dalam Tanaman

Peranan S dalam pertumbuhan dan metabolisme tanaman sangat banyak dan penting, diantaranya merupakan bagian penting dari ferodoksin, suatu komplex Fe dan S yang terdapat dalam kloroplas dan terlibat dalam reaksi oksidoreduksi dengan transfer elektron serta dalam reduksi nitrat dalam proses fotosintesis, S terdapat dalam senyawa-senyawa yang mudah menguap yang menyebabkan adanya rasa dan bau pada rumput-rumputan dan bawang-bawangan. Sulfur dikaitkan pula dengan pembentukan klorofil yang erat hubungannya dengan proses fotosintesis dan ikut serta dalam beberapa reaksi metabolisme seperti karbohidrat, lemak dan protein. Sulfur juga dapat merangsang pembentukan akar dan buah serta dapat mengurangi serangan penyakit (Tisdaleet al. 1985 ).

Tanaman membutuhkan sulfur dalam jumlah yang hampir sama dengan fosfor. Oleh karena itu, untuk menunjang pertumbuhan tanaman yang optimal diperlukan ketersediaan sulfur yang cukup tinggi di dalam tanah. Selanjutnya diungkapkan pula bahwa sulfur merupakan penyusun protein dan diduga erat berhubungan dengan reduksi nitrat, sehingga tanaman yang kekurangan sulfur ditandai dengan adanya akumulasi nitrat.

4. Contoh Kasus: Kebutuhan Sulfur dalam Tanaman Padi

Belerang (sulfur) pada padi diperlukan untuk sintesis asam amino cystein, methionin, dan thiamine, yang selanjutnya membentuk protein. Selain itu sulfur juga sangat membantu perkembangan pucuk, akar dan anakan.

Padi sawah yang mengalami kekurangan sulfur umurnya lebih panjang dengan persentase kehampaan gabah yang tinggi, untuk mengatasi kekahatan sulfur pada padi, perlu dilakukan upaya perbaikan kualitas dan produktivitas tanah melalui pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik.

Salah satu sumber S anorganik yang baik untuk padi sawah adalah pupuk amonium sulfat [(NH4)2SO4] karena dapat memasok S yang tersedia bagi tanaman, yaitu sulfat (SO42-).

(9)

Kekurangan sulfur akan menghambat sintesis protein, akibatnya terjadi akumulasi asam-asam amino yang tidak mengandung S di dalam tanaman. Oleh karena itu, jaringan tanaman yang kekurangan sulfur mempunyai nisbah N-organik/S-organik yang lebih tinggi (70/1 – 80/1) dari pada jaringan tanaman normal. Nisbah ini dapat dijadikan petunjuk apakah suatu tanaman mendapat suplai S yang cukup atau tidak (Agung, 2009). Cara penanganan kekurangan unsur sulfur adalah dengan menambahkan pupuk kimia ZA (S=20%), Phonska (S=10%), serta pupuk daun yang mengandung unsur S.

E. Gejala Defisiensi Kekurangan Unsur Hara Sulfur pada Tanaman

Jumlah S yang dibutuhkan oleh tanaman sama dengan jumlah fosfor (P). Kekahatan S menghambat sintesis protein dan hal inilah yang dapat menyebabkan terjadinya klorosis seperti tanaman kekurangan nitrogen. Kahat S lebih menekan pertumbuhan tunas dari pada pertumbuhan akar. Gejala kahat S lebih nampak pada daun muda dengan warna daun yang menguning sebagai mobilitasnya sangat rendah di dalam tanaman dan Penurunan kandungan klorofil secara drastis pada daun merupakan gejala khas pada tanaman yang mengalami kahat S. Kahat S menyebabkan terhambatnya sintesis protein yang berkorelasi dengan

b. Perubahan warna daun dapat pula menjadi kuning sama sekali, sehingga tanaman tampak berdaun kuning dan hijau, seperti misalnya gejala-gejala yang tampak pada daun tanaman teh di beberapa tempat di Kenya yang terkenal dengan sebutan,Tea Yellow, atau,yellow Disease,

c. Tanaman tumbuh terlambat, kerdil, berbatang pendek dan kurus, batang tanaman berserat, berkayu dan berdiameter kecil

d. Pada tanaman tebu yang menyebabkan rendemen gula rendah e. Jumlah anakan terbatas

(10)

Gambar 4. Gejala Kekurangan Unsur Sulfur pada Tanaman

(11)

Gambar

Gambar 2. Siklus Sulfur pada Daur
Gambar 4. Gejala Kekurangan Unsur Sulfur pada Tanaman

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah: Apa saja tanda baca yang dipakai oleh mahasiswa dalam penulisan latar belakang di skripsi bahas inggris dan apa saja kesalahan penggunaan tanda

Formulir Penjualan Kembali Unit Penyertaan MANULIFE SAHAM SYARIAH ASIA PASIFIK DOLLAR AS yang telah lengkap sesuai dengan syarat dan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak

Hasil analisis yang diperoleh jumlah total count masih memenuhi standar syarat PT Coca Cola Bottling Indonesia Unit Medan hal ini dapat dilihat dari segi mikroorganisme maupun

memperoleh hasil yang lebih baik.. 2) Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarah pada perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan. 3) Motivasi berfungsi

Karena adanya perbedaan hasil dari penelitian-penelitian tersebut, penulis ingin meneliti apakah komposisi dewan direksi dan dewan komisaris yang terdiri dari keberadaan

Tatanan Massa, Perancangan terhadap tatanan massa pada SSB ini sesuai dengan prinsip Arsitektur Tropis dan konsep desain yang diangkat, yang disesuaikan dengan

Penelitian ini bertujuan untuk menghilangkan senyawa limonin dan naringin dari jus jeruk Siam menggunakan mikrofiltrasi, memperoleh kondisi operasi mikrofiltrasi meliputi

Untuk mengetahui jawaban dari indicator ketiga ini peneliti melakukan wawancara kembali dengan narasumber yang sudah peneliti tentukan. Berdasarkan wawancara dengan Noora