REVIEW BUKU HUKUM HAK ASASI MANUSIA :
KUHAP Dalam Kajian HAM
Verania Hedi Permata
DATA BUKU
Nama/Judul Buku : HUKUM HAK ASASI MANUSIA: KUHAP Dalam Kajian HAM Penulis/Pengarang : Rocky Marbun, S.H.,M.H
Penerbit : Lentera Hukum Indonesia
Tahun Terbit : 2013
Kota Terbit : Jakarta
Bahasa Buku : Bahasa Indonesia Jumlah Halaman : 239
ISBN Buku : 978-602-18033-5-6
DISKUSI/PEMBAHASAN REVIEW
Buku ini ditulis oleh dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45) yaitu Bapak Rocky Marbun, S.H., M.H untuk memenuhi
kebutuhan mahasiswa dalam
memperlajari Hukum Hak Asasi Manusia (HAM). Buku ini menjadi bahan ajar dan buku pegangan kepada setiap mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45) Jakarta dalam mengembangkan Hukum Pidana yang berisifat Humanis.
Buku yang berjudul HUKUM HAK ASASI MANUSIA: KUHAP Dalam Kajian HAM dengan maksud untuk meneliti dan melakukan kritik terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menggunakan Hukum Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai pisau analisisnya. Maka penulis memasukan
pula pembahasan pengantar Hukum Hak Asasi Manusia (HAM). Buku ini bertujuan untuk membangun metode pengajaran dan transfer ilmu hukum kepada mahasiswa dapat membangun pola pikir dalam memandang Hukum Hak Asasi Manusia (HAM) secara benar dan baik dalam kehidupan.
Penulis mengawali buku ini dengan Bab I yang menjelaskan dan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang dan sejarah Hak Asasi Manusia (HAM), dalam bab ini penulis membahas tentang pendahuluan, teori-teori HAM, prinsip-prinsip HAM, dan konsepsi HAM. Di bab ini penulis lebih menekankan pada awal mula terbentuknya perlindungan hak asasi manusia di seluruh dunia yang dimulai dengan adanya paham HAM yang lahir di Inggris pada abad ke-17 yaitu keluar Magna Charta (Piagam Besar) pada tahun 1215 yang bertujuan untuk melawan perlakuan Raja Inggris yang pada masa itu memiliki kekuasaan mutlak. Penulis tidak hanya membahas tentang sejarah HAM melalui magna charta tetapi semua peraturan hak asasi manusia yang di buat seiring berjalannya waktu dari mulai magna Charta hingga Universal Declaration of Human Right (DUHAM).
Kemudian pada Bab II penulis menulis menjelaskan tentang pengertian dan pengaturan HAM internasional. Pada bab ini pembahasan yang ditulis oleh penulis adalah mengenai pengertian HAM melalui berbagai aspek dan teori yang dipakai penulis hingga mencanyumkan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia. Menurut penulis hak asasi manusia adalah anugerah tuhan yang maha esa oleh karena itu pengingkaran atas-Nya berarti mengingkari martabat kemanusiaan. Negara, pemerintah atau organisasi apapun berkewajiban untuk mengetahui dan melindungi setiap manusia tanpa kecuali. Ini berarti hak asasi manusia selalu menjadi titik tolak dan tujuan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Selain itu juga penulis menuliskan beragam pengaturan HAM internasional mulai dari latar belakang perang Dunia I dan II, The Universal Declarations of Human Rights (UDHR), International Convenant Civil and Political Rights (ICCPR), Optional Protocol to the International Convenant and Civil and political Right, The Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights, Aiming at the Abolition of Death Penalty, International Convenant Economi, Social, and Cultural Rights (ICESCR). Pemaparan atas pengaturan HAM international yang ditulis oleh penulis cukup jelas dan mencangkup semua.
Kemudian, dalam bab ini penulis juga menuliskan mengenai sifat menyimpangi konvensi HAM Internasional dan Hak yang dapat dan tidak dapat di kurangi. Dalam buku ini ditulis sifat yang dapat menyimpangi konvensi HAM adalah Degorasi, Reservation, Deklarasi dan hak-hak terbatas. Dan penulis juga menjelaskan mengenai hak yang tidak dapat dikurangi, penulis memasukan pasal 28 I ayat (1) UUDNRI 1945, Pasal 37 TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998, Pasal 4 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dan hak yang dapat dikurangi menurut buku ini adalah sebagai contoh hak kebebasan berkumpul secara damai, hak atas kebebasan berserikat, hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekspresi.
peraturan atas hak asasi manusia itu di tuangkan kedalam UUD 1945 hingga pada tahun 1993 dibentuk KOMNAS HAM. Setelah tahun 1999 UU HAM merupakan tonggak bersejarah bagi penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM. Dan penulis juga menjelaskan tentang komisi nasional hak asasi manusia (KOMNAS HAM). Kemudian penulis juga menyebutkan macam-macam hak hak asasi manusia dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak asasi manusia. Dalam bab ini penulis juga menjelaskannya dengan rinci dan cukup lengkap, dan ia juga menggunakan kata-kata yang dapat dengan mudah untuk dimengerti juga, penulis juga menulis dengan didasari UU yang ada dan dijabarkan lagi menurut penulis agar mudah dipahami oleh pembaca buku.
Kemudian dalam Bab IV penulis memberi subjudul Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM, bab ini masih sangat berkaitan dengan bab sebelumnya yaitu bab III karena disini penulis lebih dalam lagi menjelaskan UU No. 39 Thn 1999 sebagai patokan atau pegangan terhadap hak asasi manusia. Asas-asas yang terdapat dalam buku ini meliputi asas perlindungan ham yang mencangkup persamaan di depan hukum, perlindungan masyarakat adat, upaya hukum nasional dan internasional, tanggung jawab pemerintah, dalam menjelaskannya penulis menjelaskan berdasarkan pasal-pasal yang tercantum dalam UU No. 39 Thn 1999 dengan lebih detail dan lebih mendalam lagi agar mudah dipahami.
Didalam Bab ini penulis juga menjelaskan tentang beberapa hak manusia yang diatur dalam UU No. 39 Thn 1999 sebagai Warga Negara, seperti hak untuk hidup, hak berkeluarga, hak untuk mengembangkan diri, hak untuk memperoleh keadilan, hak atas kebebasdan pribadi, hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, hak perempuan, hak anak. Penulis menjelaskan dengan rinci dan jelas serta mencantumkan contoh dan pelanggaran apa yang akan terjadi dan apa saja hukumannya untuk orang yang melanggar berdasarkan peraturan yang ada.
Pada Bab V penulis memberi judul pelanggaran ham dan mekanisme penyelesaian di pengadilan HAM. Disini penulis memasukan tinjauan umum terhadap pelanggaran HAM sebagai extra ordinary Crime, ada beberapa indikator yang dapat menjadi kewajiban bagi negara yaitu, kewajiban untuk menghormati, kewajiban untuk melindungi, kewajiban untuk memenuhi, dan kewajiban untuk mengembangkan/meningkatkan. Disini juga penulis menjelaskan mengenai berbagai macam kejahatan hak asasi manusia diantaranya penulis menjelaskan mengenai Kejahatan Genosida,karena menurut penulis kejahatan genosida merupakan kejahatan dengan kesengajaan untuk memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok khusus.
Kemudian Kejahatan Kemanusiaan, dibagian ini penulis menjelaskan dengan lengkap, mungkin karena banyak terjadi kasus pelanggaran kemanusiaan di dalam kehidupan bermasyarakat jadi penjelasan mengenai kejahatan kemanusiaan ini sangat jelas dan cukup mudah untuk dimengerti, penulis juga memasukan unsur-unsur kejahatan, asas-asas umum sebagai landasan yuridiksi,
Pengadilan HAM, disini penulis menjelaskan tata cara pengadilan HAM terhadap pelaku apabila di dalam pengadilan, mulai dari persidangan hingga terakhir, dalam buku ini dijelaskan tata cara penuntutan, pemeriksaan di depan persidangan, konpensasi, restitusi, dan rehabilitasi, hingga dibwa keranah pengadilan HAM untuk memutus bagaimana selanjutnya dan berapa hukuman pidana-nya.
Kemudian dalam Bab VI penulis menuliskan pertanggungjwaban Negara, disini maksud dari subjudul itu adalah, pertanggungjawaban apa saja yang diberikan kepada warga negara-nya tetapi yang bersifat internasional, tanggungjawab yang dimaksud disini seperti apabila ada kerugian atas kejahatan maka negara ada kewajiban untuk memberikan ganti rugi seperti yang diatur dalam Pasal 2 ayat (3). prinsip tanggungjawab negara dan HAM, disini penulis menuliskan aturan mengenai cara bagi orang asing untuk mengajukan tututan akibat yang salah dari negara terhadap dirinya, selanjutnya penulis mengembangkan prosedur dalam hukum hak asasi manusia internasional yang memungkinkan para korban pelanggaran HAM mengajukan tututan secara langsung terhadap negara.
Penulis juga menjelaskan mengenai upaya untuk menyelesaikan perbedaan antara pendukung standar nasional dan internasional terhadap warga negara asing, penulis berpendapat bahwa warga negara asing harus menikmati hak-hak atas jaminan yang sama dengan warga negara yang bersangkutan. Pembahasan mengenai ini penulis menjelaskan bahwa hak asasi yang digunakan lebih mencondong kepada hak asasi manusia internasional dalam melakukan perlindungan hak asasi manusia.
Selanjutnya pada bagian Bab VII akan dibahas mengenai penyimpangan-penyimpangan terhadap asas-asas umum hukum pidana, karena bentuk-bentuk kejahatan terhadap manusia masih menjadi elemen spesifik maka penulis menuliskan bahwa kejahatan kemanusiaan membutuhkan elemen umum yang berada dalam UU No. 26 Tahun 2000 yaitu unsur sistematik atau meluas dan adanya kebijakan. Disini penulis menyatakan bahwa pelanggaran ham yang berat tidak mengenal daluarsa sebagaimana yang diatur dalam pasal 46 UU No. 26 Thn 2000. Ini berarti segala tindak pidana yang masuk dalam yurisdiksi pengadilan HAM akan selalu bisa dilakukan penuntutan.
Kemudian dalam buku ini komisi nasional Hak Asasi Manusia sebagai penyidik, maksudnya setiap pelanggaran HAM yang berat merupakan kewenangan dari KOMNAS HAM dan penyidikan ini bersifat pro justitia. Ini di maksudkan agar menjaga objektivitas hasil penyelidikan karena lembaga Komnas HAM adalah lembaga yang bersifat independen. Komnas ham juga bebas melakukan tindakan-tindakan dalam rangka melaksanakan penyelidikan seperti memeriksa peristiwa berdasarkan sifatnya dan dapat memanggil saksi untuk di dengar kesaksiannya, meninjau dan mengumpulkan keterangan ditempat kejadian HAM berat.
ketentuan ini menggunakan ketentuan pidana minimal yang dianggap sebagai ketentuan yang sangat progresif untuk menjamin bahwa pelaku pelanggaran HAM yang berat ini tidak akan mendapatkan hukuman yang ringan.
Disini juga membahas tentang delik tanggung jawab komandan, yang diatur dalam Pasal 42 UU No. 26 Tahun 2000 yang membagi dalam 2 kategori pihak yang dapat terkena delik tanggung jawab komando, yaitu unsur militer dan unsur polisi atau sipil.
Diunsur militer diatur dalam ayat 1 yang menentukan komandan militer dapat dipertanggung jawabkan tindak pidana yang berada didalam yurisdiksi Pengadilan HAM, yang dilakukan oleh pasukan yang berada dibawah komando dan pengendaliannya yang efektif dan tindak pidana tersebut merupakan akibat dari tidak dilakukannya pengendalian secara patut.
Unsur polisi atau sipil yang diatur dalam ayat 2 yang menentukan seorang atasan, baik polisi atau sipil lainnya, bertanggung jawab secara pidana terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh bawahannya yang berada dibawah kekuasaan dan pengendaliannya yang efektif , karena atasan tersebut tidak melakukan pengendalian terhadap bawahannya secara patut dan benar.
Terakhir, dalam Bab VIII penulis menuliskan subjudul implementasi HAM dalam administrasi peradilan pidana di Indonesia. Dalam bab ini penulis menjelaskan tentang pelanggaran HAM dalam proses penyelidikan dan penyidikan, pelanggaran HAM dalam ruang lingkup kejaksaan, pelanggaran HAM dalam proses pemeriksaan di depan persidangan, pelanggaran HAM terhadap asas praduga tak bersalah. Menurut UU No. 39 Thn 1999 tentang HAM bahwa setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena melakukan suatu tindak pidana berhak ditangkap tidak bersalah, menurut penulis KUHAP memang memberikan kewenangan kepada penyidik maupun penuntut umum untuk menuduh seseorang menjadi tersangka atau terdakwa, namun berdasarkan pada cara-cara yang ditentukan dalam UU dan memenuhi bukti-bukti yang cukup. Putusan pengadilan yang menyatakan seorang terdakwa bersalah didasarkan oleh bukti-bukti yang tidak meragukan majelis hakim, dalam pemeriksaan di pengadilan hak ini dijamin bahwa pertanyaan yang yang diajukan tidak boleh yang bersifat menjerat terdakwa. Menurut penulis pemenuhan kebutuhan dalam praktik terkadang sering mengabaikan prinsip-prinsip perlindungan hak-hak dasar seseorang tertuduh atau tersangka
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
dipahami maksudnya. Materi yang disampaikan lengkap seperti HAM nasional hingga HAM internasional serta terdapat hubungan dengan KUHAP. Dalam buku ini juga dilengkapi lampiran Deklarasi Universal HAM, Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik, Konvenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan UU Nomor: 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Kekurangan dalam buku ini adalah penyampaian informasi atau materi mengenai Hak Asasi Manusia secara internasional masih terbatas tidak terlalu banyak. Dan pembahasan mengenai KUHAP dalam kajian HAMnya juga terbatas, padahal judul dari bukunya adalah KUHAP dalam kajian HAM tapi pembahasan mengenai KUHAPnya hanya sedikitTerlepas dari kekurangan tersebut, dari segi substansi tentu buku ini sangat menarik, terlebih di dalamnya dibicarakan hal-hal mendasar tentang manusia yakni Hak Asasi Manusia.
KESIMPULAN