POSISI UMAT ISLAM
DALAM PERKEMBANGAN ILMU DAN FILSAFAT
Makalah Tugas Mata Kuliah Islam dan Ilmu Pengetahuan
Pengampu:
Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara (Koordinator)
Oleh: Ahmad Fadhil
NIM: 10.3.00.1.02.01.0012
Sekolah Pascasarjana
Pendahuluan
Al-Afghani pernah menyindir umat Islam yang gemar bersikap romantis, yaitu membangga-banggakan prestasi kaum Muslimin pada zaman dulu. Diceritakan di dalam buku Zu‘ama’ al-Islah bahwa Al-Afghani pernah dikunjungi oleh Shakib Arsalan, lalu Arsalan mengemukakan bahwa bangsa Arab adalah yang pertama-tama menyeberangi samudera Atlantis dan menemukan benua Amerika. Al-Afghani pun menjawab, “Kini umat Islam adalah umat yang setiap kali orang-orang berkata kepada mereka, ‘Berprestasilah,’ mereka menjawab, ‘Dulu, leluhur kami telah melakukan ini itu.’ Mereka hidup di dunia khayal tentang prestasi leluhur mereka dan tidak berpikir bahwa kemuliaan leluhur mereka tidak menafikan kemunduran dan kerendahan mereka. Orang-orang Timur, jika hendak berapologi atas kemunduran mereka saat ini, akan mengatakan, ‘Apa kalian tidak tahu prestasi leluhur kami.’ Leluhur kalian memang orang-orang besar. Tapi, kalian tetap seperti keadaan kalian saat ini. Kalian tidak pantas untuk membangga-banggakan prestasi-prestasi leluhur kalian, kecuali kalian berbuat seperti mereka.”1
Sikap tersebut tidak benar dan tidak produktif. Tapi tidak benar juga sikap menolak jasa umat Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan seperti yang diutarakan oleh Ernest Renan. Menurut Renan, tidak mendorong berkembangnya ilmu, filsafat, dan kajian bebas, melainkan penghalang baginya.2
Tulisan ini posisi umat Islam dalam perkembangan pemikiran ilmu pengetahuan, terutama ilmu filsafat. Tulisan terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan bahwa ilmu dan filsafat itu muncul di Timur, dan bukannya di Barat. Bagian kedua menunjukkan pandangan Islam terhadap akal. Dan bagian ketiga menunjukkan bahwa umat Islam memainkan peran penting dalam perkembangan filsafat Barat, baik pada zaman pertengahan maupun modern.
1Al-Islam fi al-Fikr al-Gharbi, Mahmud Hamdi Zaqzuq, h. 13.
Ilmu dan Filsafat Terbit di Timur
Menurut kamus, timur artinya arah mata angin tempat matahari terbit, lawan barat tempat matahari terbenam. Timur Dekat adalah bagian Timur yang dekat ke Eropa, lawan Timur Jauh seperti Cina, Korea, dan Jepang, wilayah di antara keduanya disebut Timur Tengah.
Blok Timur artinya negara-negara yang menganut paham komunis yaitu negara-negara Eropa di sebelah Timur. Orang Timur artinya bangsa yang diam di bagian Timur dunia (dari India sampai ke Jepang), lawan orang Barat yaitu orang Eropa (orang yang mendiami Benua Eropa). Ketimuran artinya yang bersifat timur, misalnya seseorang mengatakan, “Kita harus mempertahankan adat ketimuran kita.”3
Dalam bahasa Arab, Timur adalah sharq. Dari kata ini, bisa diderivasi kata ishraq dan mashriq. Dalam bahasa Inggris east dan
orient. Echols dan Shadili mengatakan bahwa “The Orient” artinya Asia Timur dan “Oriental” artinya orang timur/Asia.4 Munir al-Ba‘labaki
mengatakan, east itu al-sharq dan al-mashriq itu al-buldan al-waqi‘ah sharqi urubah. Ba‘labaki mengatakan orient itu al-sharq atau al-mashriq, orientalism itu ma‘rifah wa dirasah lughat wa adab al-sharqiyyah dan orientalist itu al-daris li al-lughat al-sharq wa fununuh wa hadaratuh.5
Bangsa-bangsa Barat, misalnya Perancis dan Inggris, sangat memperhatikan dan mendorong kajian peradaban-peradaban kuno sebagai warisan umat manusia. Mereka membiayai dan mendorong penelitian-penelitian tentang sejarah, bahasa, penggalian benda-benda peninggalan kuno agar dapat merekonstruksi gambaran kehidupan pada masa lalu dalam berbagai aspek. Mereka memasukkannya ke dalam mata kuliah di perguruan tinggi,
3 Kamus Umum Bahasa Indonesia, J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain,
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, cet. III, Desember 1996, h. 1510.
4Kamus Bahasa Inggris Indonesia, john m. Echols dan Hassan Shadili, Jakarta: Gramedia, cet. XXV, 2000, h. 205 dan 408.
mengadakan seminar-seminar, dan menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah, sehingga kini kajian ini sudah mencakup berbagai cabang keahlian yang mustahil dikuasai oleh seseorang secara keseluruhan.6
Meskipun demikian, patut dikatakan bahwa terkadang mereka melakukannya terkadang dengan mengikuti keinginan, kepentingan, dan ideologi mereka sendiri.7
Bangsa-bangsa Timur terlambat dalam memperhatikan hal ini. Mesir baru mulai mempelajari ilmu Pra Historis pada abad 19 berkat jasa ilmuwan Inggris, Perancis, Jerman, Hongaria terutama Flinders Petrie dan Jacques de Morgan yang menemukan Kebudayaan Niqadah pada tahun 1895 dan 1897.8 Untuk kita orang Indonesia, mengetahui
bahwa Pithecanthropus Erectus, fosil tertua makhluk yang menyerupai manusia modern yang ditemukan, itu dikenal di dunia sebagai “Manusia Jawa” (insan jawah, homo javanensis) yang ditemukan oleh E. Dubois di Trinil Jawa Tengah pada tahun 1891 dan kini masih tersimpan di Musium Teyler di kota Haarlem Belanda, boleh jadi mencukupi sebagai pendorong mempelajari sejarah kuno. Boleh jadi leluhur kita telah memiliki “peradaban” dan “kebudayaan”.
Mereka sering disebut hidup pada masa “Pra historis”. Istilah “sebelum” dan “setelah” sejarah ini salah dan tidak mengenakkan bagi kita, “Orang Timur”, tapi kadung lumrah. Sebutan ini menurut al-Mahasin dan Ahmad ‘Ali salah. Kajian tentang manusia pra historis adalah kajian historis juga. Jika kita ingin menekankan bahwa mengenal tulisan adalah peristiwa yang sangat penting dalam sejarah manusia, maka menurut al-Mahasin lebih tepat kita menyebut masa itu dengan nama “Masa sebelum mengenal tulisan” dan masa setelahnya dengan sebutan “Masa dokumen tertulis atau masa kodifikasi”, dan menurut Ahmad ‘Ali sebagai masa “Fajar Sejarah”.
6 Ma‘alim Hadarat al-Sharq al-Adna al-Qadim, Muhammad Abu al-Mahasin ‘Usfur, Beirut: Dar al-Nahdah al-‘Arabiyyah, 1408 H./1987 M., h. d.
7 Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Ru’yah ‘Arabiyyah fi Tarikh Sharq
al-Adna al-Qadim wa Hadaratih, Kairo: Dar Quba li al-Tiba‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzi‘, 1998, cover belakang.
Terkadang para ahli memperiodisasi sejarah berdasarkan materi yang digunakan manusia untuk membuat peralatan, seperti Zaman Batu dan Zaman Tembaga; atau berdasarkan aspek ekonomi menjadi Zaman Berburu (mengumpulkan makanan) dan Zaman memproduksi makanan. Tidak ada batasan yang jelas antar periode-periode tersebut.9
Kajian tentang peran Timur dalam perkembangan ilmu dan filsafat hingga saat ini sangat penting. Penyebabnya adalah masih adanya carut marut pemikiran dan etika seputar orisinalitas, urgensi, dan posisi kebudayaan atau peradaban Timur. Banyak ahli sejarah, saintis, dan filsuf Barat yang berusaha memaksakan pandangan bahwa bangsa Yunani adalah pencipta pemikiran, ilmu, etika, sosial, politik, seni, matematika, astronomi, kedokteran, logika, dan filsafat. Seolah-olah kebudayaan Yunani adalah ciptaan para jenius yang tidak belajar kepada pendahulu, tidak didahului kebudayaan lain, tidak berkaitan dengan Mesir Kuno, Kan’an, Babilonia, Asyur, Persia, India, dan Cina. Seolah-olah kebudayaan Yunani itu kemunculan dan perkembangannya murni Eropa.10
Jika kita mengajukan pertanyaan, “Di manakah filsafat dan ilmu pengetahuan lahir?” kepada orang terpelajar di sekitar kita, maka kebanyakan dari mereka akan menjawab, “Yunani.” Jawaban ini tidak benar. Ilmu dan filsafat sesungguhnya terbit di Timur.
Mereka berpendapat bahwa sumber tertua filsafat adalah flsafat Yunani. Tapi, kajian dan penelitian menyingkap tabir bahwa pendapat itu tidak benar. Filsafat India lebih tua daripada Filsafat Yunani. Ada keserupaan yang sempurna antara tema-tema filsafat dan ilmu di
9 Boucher de Perthes dan Edward Lartet dari Perancis diakui sebagai pendiri
ilmu Sebelum Sejarah, juga Gabriel de Mortilllet, Joseph Dechelette. Lihat: Muhammad Abu al-Mahasin ‘Usfur, al-Sharq al-Adna Qabla ‘Usurih al-Tarikhiyyah, Kairo: Matba‘ah al-Misri, 1962, h. 2, footnote no. 1-4; ‘Abd al-Latif Ahmad ‘Ali,
Muhadarat fi Tarikh al-Sharq al-Adna al-Qadim, Beirut: Maktab Karidiyyah Ikhwan, 1991, h. 2-3, 14.
10 Al-Usul al-Sharqiyyah li al-‘Ilm al-Yunani, Mahmud Muhammad ‘Ali Muhammad, Elharam: Ein for Human and Social Studies, cet. I, 1998, h. 5;
India dengan tema-tema filsafat dan ilmu di Yunani. Dalil-dalil yang pasti lainnya mendorong banyak peneliti memastikan bahwa sumber filsafat dan ilmu Yunani adalah filsafat dan ilmu India. Beberapa ulama meragukan hal ini, tapi mereka tidak memiliki dalil yang menguatkan keraguan ini.11
“Mukjizat Yunani” adalah omong kosong. Tidak mungkin ilmu dan filsafat lahir secara tiba-tiba di Yunani tanpa pendahuluan apa pun, tanpa berhutang budi pada bangsa dan kebudayaan sebelumnya seperti yang dikatakan sejumlah orang aneh penganut mazhab Erosentris. Timurlah sumber ilmu dan filsafat yang selanjutnya dikembangkan oleh bangsa-bangsa dari peradaban yang muncul belakangan. Orang-orang aneh itu tahu bahwa kebudayaan tertua muncul di negeri-negeri Timur, bahwa kebudayaan Timur sangat gemilang dan matang dalam ukuran zamannya dan karena itu tentu saja berdiri di atas pondasi ilmu; tapi mereka mengatakan bahwa ilmu timur adalah ilmu yang berlandaskan pada pengalaman dan eksperimen turun temurun; Cuma mengejar manfaat praktis atau tidak dilandasi penelitian demi pengetahuan tentang penyebab-penyebab fenomena semata-mata; tidak cemerlang dalam aspek analisa rasional teoritis untuk mengungkap prinsip umum di balik aplikasi praktis seperti yang dicapai oleh peradaban Yunani.12
Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa bangsa Mesir telah menggunakan matematika dalam mengukur tanah, menggali sungai, dan tujuan praktis lainnya. Mereka juga menggunakan matematika dan mekanika dalam membangun piramida yang hingga sekarang masih menjadi keajaiban dunia untuk menyimpan jenazah yang telah dimumi karena keyakinan akan keabadian jiwa dan hisab pada hari akhir. Untuk hal ini, diperlukan ilmu kimia dalam membalsem jenazah dan memproduksi minyak, celupan, dan pewarna. Juga tujuan
11 Al-Falsafah Hindiyyah Dirasah Ba‘d Nawahiha ma‘a Muqaranah bi
al-Falsafah al-Gharbiyyah, Abu al-Nasr Ahmad al-Husayni, Kairo: Matba‘ah Misr, cet. I, h. 7.
keagamaan lainnya. Tapi, mereka mengatakan bahwa bangsa Yunanilah yang telah menciptakan ilmu-ilmu tersebut dalam bentuk teoritis murni, melampaui periode individual inderawi kepada periode definisi dan bukti demonstratif, mencapai hukum dan teori yang bersandar kepada demonstrasi rasional. Bangsa Yunanilah yang pertama mengkaji ilmu-ilmu dengan semangat ilmiah dan Aristoteleslah yang berjasa mendirikan ilmu teoritis.13
Pandangan ini tidak ilmiah dan bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmiah yang menegaskan bahwa kebudayaan saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan lainnya. Kebudayaan terdahulu mempengaruhi kebudayaan yang kemudian. Pandangan ini adalah salah satu buah sikap fanatik buta, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya memonopoli kebenaran dan kebaikan sedangkan orang lain tidak memilikinya. Sikap fanatik itu tercela karena membuat seseorang tidak hanya menisbahkan pada dirinya segala kebaikan, tapi juga membuat dirinya tidak dapat melihat kelebihan dirinya kecuali dengan mengingkari kelebihan orang lain.
Na‘im Farh mengatakan bahwa sebuah kebudayaan boleh jadi tidak orisinal dalam pengertian hasil ciptaan satu masyarakat tertentu, melainkan buah dari komunikasi dan asimilasi berbagai bangsa. Kian berkembang bangsa-bangsa dan sarana-sarana komunikasi, kian jelas hal tersebut.14 Dan, berkaitan dengan akar
Timur bagi kebudayaan Yunani, banyak penulis yang telah menegaskannya. Di antaranya Mustafa al-Nashshar dalam dua bukunya Madrasah Iskandariyyah Falsafiyyah Bayna Turath al-Sharqi wa al-Falsafah al-Yunaniyyah dan Tarikh Falsafah al-Yunaniyyah min Manzur Sharqi karya Mustafa al-Nashshar.
Clement al-Iskandarani mengatakan bahwa Democritos mempelajari hikmah dari Babilonia dan menukil amthal, asatir, dan
khurafat (fabel) Ahiqar ke dalam bahasa Yunani (al-Ighriqiyyah) dalam
13Al-Usul al-Sharqiyyah li al-‘Ilm al-Yunani, h. 6.
14 Na‘im Farh, Mujaz Tarikh al-Sharq al-Adna al-Qadim al-Siyasi wa al-Ijtima‘i
bentuk yang sesuai dengan pola pikir Yunani.15 Ahiqar adalah menteri
Raja Ashur.16 Literatur kisah Ahiqar tertua ditemukan oleh Delegasi
Jerman (1906-1908) di pulau al-Filah, Mesir, yang ditulis pada kertas-kertas al-burdi pada zaman Kerajaan Iran pada masa pemerintahan Darius dan Ahshuyirush, yakni pada abad 5 SM, atau menurut perkiraan Edward Sachau, pada tahun 550-450 SM..17
Al-Husayni mengatakan bahwa akar filsafat Yunani ada di India.18 Dia berdalil dengan perkataan Gorres, peneliti Jerman yang
hidup pada tahun 1776-1848, yang berpendapat bahwa Iskandar dari Makedonia, ketika menyerang India, mengambil beberapa buku India dalam bidang filsafat dan logika, lalu mengirimkannya kepada gurunya, Aristoteles, yang kemudian mengambil dan mensistematisasinya di dalam filsafat dan logikanya. Phitagoras melakukan perjalanan ke India, Mesir, dan Ashuria dan mempelajari rahasia-rahasia ilmiah mereka. Democritos pun melakukan perjalanan ke Mesir, Etiopia, Iran dan India untuk mempelajari ilmu.19
Aristoxinos, penulis ternama dalam ilmu alhan (nada) yang hidup semasa dengan Socrates, menerangkan bahwa beberapa ulama India datang ke Athena dan berdiskusi dengan Socrates. Mereka memintanya untuk menjelaskan tujuan filsafat. Socrates menjawab, “Mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan manusia.” Salah seorang dari mereka tertawa dan bertanya, “Bagaimana seseorang
15 Anis Farihah, Ahiqar Hakim min al-Sharq al-Adna al-Qadim, Beirut: Manshurat Kulliyyah al-‘Ulum wa al-Adab Jami‘ah Beirut al-Amrikiyyah, 1962, h. 21.
Amthal ini dipaparkan oleh Farihah pada h. 22-146 (dari teks berbahasa Arami, Suryani, dan Arab, dan dari kisah Alf Laylah wa Laylah).
16Ahiqar Hakim min al-Sharq al-Adna al-Qadim, h. 7. 17Ahiqar Hakim min al-Sharq al-Adna al-Qadim, h. 18-19.
18 Al-Falsafah Hindiyyah Dirasah Ba‘d Nawahiha ma‘a Muqaranah bi
al-Falsafah al-Gharbiyyah, Abu al-Nasr Ahmad al-Husayni, Kairo: Matba‘ah Misr, cet. I, h. 7, 8,.
dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan manusia tanpa memiliki pengetahuan yang sempurna tentang masalah ketuhanan.”20
Clement al-Iskandarani (150-218 M) penulis Yunani pertama yang menyebut nama Budha, mengatakan bahwa bangsa Yunani mencuri filsafat dari orang-orang Barbar, dan yang dia maksud dengan orang-orang Barbar adalah orang-orang non Yunani. Teori Plato tentang Allah, keesaan-Nya, sifat-sifat Dhatiyah-Nya, materi, alam, dan keabadian substansi roh berasal dari India.21
Begitu juga halnya dengan Plotinus pendiri aliran Neo-Platonisme, Pyrhoo pemuka aliran Sofisme Yunani, Anaxagoras, semuanya belajar ke Timur, India atau Mesir. Bukan dalam pandangan filosofis saja, tapi juga dalam gaya hidup seperti vegetarian yang dilakukan oleh Phytagoras dan asketisme yang dilakukan oleh sejumlah filsuf Yunani dan Romawi.22
Arab sangat berpengaruh pada kebudayaan dan peradaban Barat modern. Sigrid Hunke, seorang penulis Jerman, di dalam buku
Shams al-‘Arab Tasta‘ ‘Ala al-Gharb: Athar al-Hadarah al-‘Arabiyyah fi Urubah, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Faruq Baidun dan Kamal Dasuqi dari buku berjudul Allahs Sonne Uber Dem Adendland Unser Arabisches Erbe dan diterbitkan di Beirut oleh Dar al-Jayl dan Dar al-Afaq al-Jadidah (cet. 8, 14413 H./1993 M.) pada menuliskan kata-kata Arab yang diserap ke dalam bahasa Eropa.
Paparan ini tidak berarti mengagungkan Timur atas Barat atau merendahkan Barat di hadapan Timur, atau mengingkari jasa bangsa Yunani terhadap ilmu dan filsafat. Pendahuluan ini hendak menyatakan bahwa ilmu adalah akumulasi pemikiran manusia atau umat dari masa ke masa dan menggugurkan klaim suatu bangsa
20 Dikutip oleh al-Husayni dari buku India in European Thought & Literature, h. 8. Lihat Falsafah Hindiyyah Dirasah Ba’d Nawahiha ma’a Muqaranah bi al-Falsafah al-Gharbiyyah, h. 9.
21 Dikutip oleh al-Husayni dari buku The Intellectual Development of Europe,
vol. I, h. 153, karya Draper. Lihat al-Falsafah al-Hindiyyah Dirasah Ba’d Nawahiha ma’a al-Muqaranah bi al-Falsafah al-Gharbiyyah, h. 10.
22 Falsafah Hindiyyah Dirasah Ba’d Nawahiha ma’a Muqaranah bi
tertentu adalah satu-satunya pemilik dan pembangun ilmu dan bangsa tertentu adalah tidak memiliki kemampuan dalam mengembangkan ilmu. Karena itu, sikap fanatik, rasis, dan keyakinan akan satu sumber pengetahuan adalah perilaku buruk yang harus ditanggalkan.
Bangsa Yunani memiliki peran dan orisinalitas ilmiah. Tapi, orisinalitas dan keistimewaan mereka itu tidak berasal dari nol. Keagungan Yunani terletak pada kemampuan mereka mentransfer khazanah kebudayaan lain yang tertangkap oleh indera dan akal mereka, lalu melokalkannya. Artinya, mencerna kebudayaan itu hingga selaras dengan lingkungan mereka sendiri, sesuai dengan jati diri mereka, atau mengkritisinya sedikit demi sedikit sehingga mereka berhasil melampaui periode timur dalam ilmu dan memulai periode baru yang berbeda.
Sifat akumulasi ilmu pengetahuan ini menunjukkan adanya komunikasi dan dialog antar peradaban. Dialog itu telah terjadi di masa lalu, dan juga akan berlangsung sekarang dan di masa depan. Tidak ada penghalang antara satu peradaban dengan peradaban lainnya. Semua peradaban itu adalah milik umat manusia. Setiap orang dan setiap bangsa berhak dan berkewajiban mengembangkan atau memperkaya warisan kebudayaan yang mereka terima dari generasi terdahulu, yang pada waktunya dulu juga telah memperkaya apa yang mereka terima dari generasi yang lebih terdahulu. Setiap peradaban saling mempengaruhi satu dengan lainnya tanpa kehilangan ciri khas mereka masing-masing akibat keistimewaan tempat dan zaman masing-masing.
seorang tokoh,23 membuatnya memahami sejarah sebuah bangsa,
tapi juga karena hal ini akan mewujudkan makna dirinya, mengantarkannya kepada kesempurnaan, seiring dengan pengetahuannya tentang satu dari sekian tujuan yang bisa diraih oleh kekuatan manusia.24
Sikap Islam terhadap Akal
Sebelum Islam bangsa Arab tidak memiliki pemikiran filosofis. Mereka tidak berusaha mencari ‘illat atau relasi antara premis dengan konklusi di dalam opini-opini dan kisah-kisah yang tersebar di antara mereka. Mereka memang mempunyai pengetahuan-pengetahuan astronomis dan fisika yang berhubungan dengan pengetahuan Kaldanian dan Shabiah, serta pengetahuan-pengetahuan medis empiris yang beriringan dengan mantra-mantra, peribahasa dan kebijakan-kebijakan moral dan spiritual, tapi semua itu tidak menyusun mazhab filsafat yang komprehensif.
Islam-lah yang membangkitkan pemikiran filsafat di kalangan bangsa Arab. Hal ini tidak akan terjadi kecuali karena Islam memiliki ajaran-ajaran yang memuat unsur-unsur fundamental untuk transformasi revolusioner tersebut. Soko guru struktur baru ini terdapat pada persepsi Islam tentang manusia. Manusia adalah khalifah Allah. Penghormatan ini didapat manusia karena akal yang menjadi karakteristik istimewanya. Itu terlihat jelas di dalam al-Quran.25
23 Untuk mengenal Ghandi misalnya, bacalah buku-buku: Ruh ‘Azim
al-Mahatma Ghandi karya ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad, Ghandi, Ghandi Nash’atuh, Ghandi Muqatil bila Hurub,
24 Ruh ‘Azim al-Mahatma Ghandi, Abbas Mahmud al-‘Aqqad, Kairo: Shirkah Fann al-Tiba‘ah, tt., h. 5. Jalan paling mudah untuk melakukan hal tersebut menurut al-‘Aqqad adalah mempelajari kehidupan tokoh-tokoh agung, karena mereka serupa tapi juga sekaligus berbeda satu sama lain. Mereka memberikan kepada kita bentuk-bentuk kemampuan, jenis-jenis fitrah, dan lebih dari itu mereka memiliki akhlak yang mulia.
Al-Ghazali di dalam Mishkah al-Anwar mengatakan bahwa akal adalah “model dari cahaya Allah.” Al-Jahiz mengatakan bahwa akal adalah “wakil Allah pada manusia.”
Islam memberikan pedoman untuk menghilangkan penghalang akal untuk memperoleh pemahaman dan pemikiran yang benar dengan mengidentifikasi penghalang-penghalang tersebut. Yaitu:
1. Subordinasi pemikiran dan taklid buta.
2. Khurafat, waham, dan omong kosong perdukunan. 3. Penolakan pada tanggung jawab pribadi.
4. Ketakutan pada kekuasaan duniawi.26
Zaqzuq mengatakan, “Islam telah memenuhi semua syarat yang dibutuhkan untuk terlaksananya gerakan pemikiran di kalangan umat Islam. Gerakan pemikiran itu telah benar-benar terjadi dan tersebar di seluruh negeri Islam. Berbagai bentuk thaqafah tersebar di tengah-tengah mereka dan terkoneksi dengan pemikiran Islam, tidak mereka tolak begitu saja, tapi diuji terlebih dulu sisi-sisi positif dan negatifnya.”27
Negeri Islam adalah negeri yang paling terbuka terhadap filsafat dan para filsuf. Jika ada filsuf yang pernah mendapat perlakuan tidak baik, maka itu karena pengaruh politik, dan bukannya karena penolakan terhadap filsafat atau pemasungan pemikiran. Islam tidak pernah menghalangi kajian ilmu-ilmu alam seperti yang pernah terjadi di Eropa pada abad-abad pertengahan.28
Penghargaan terhadap kebebasan pemikiran dicontohkan oleh al-Quran.
1. Al-Quran memaparkan dengan jujur dan subtil pendapat-pendapat kaum yang menentang pandangan dunia Islam, seperti para paganis, dahri, materialis, orang-orang kafir dan orang-orang
H./1986 M.; Al-Manhaj al-Falsafi Bayna al-Ghazali wa Dikart, Mahmud Hamdi Zaqzuq, Kairo: Dar al-Ma‘arif, cetakan IV, 1998.
26 Dawr al-Islam fi Tatawwur al-Fikr al-Falsafi, Mahmud Hamdi Zaqzuq, h. 9-11.
munafis, baru kemudian membantahnya secara logis. Islam melarang keras memberi penilaian tentng sesuatu tanpa didasari ilmu.
2. Kisah perdebatan para nabi dengan kaumnya memuat dalil-dalil rasional yang mengindikasikan kemampuan akal untuk mencapai keyakinan.29
Pemikiran filsafat adalah pemikiran yang evolutif dan bukannya pemikiran yang stagnatif. Struktur filsafat, sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar al-Razi (864-925 M) dibangun oleh banyak generasi. Al-Razi (Manahij al-‘Ulama al-Muslimin, Franz Rosenthal, diterjemahkan oleh Anis Farihah, Beirut: Dar al-Thaqafah, 1980, h. 185) mengatakan, “Ketahuilah, setiap filsuf yang hidup belakangan, jika berkonsentrasi mengkaji filsafat, menekuninya dengan bersungguh-sungguh, dan mengkaji hal-hal yang diperdebatkan para filsuf karena sangat subtil dan rumit, maka dia akan mengetahui pengetahuan para filsuf terdahulu itu, lalu dengan kecerdasan dan ketekunannya dalam kajian dia akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, karena dia akan menjadi mahir berkat pengetahuan para filsuf terdahulu itu dan menangkap pengetahuan-pengetahuan baru dan karena kajian, perenungan, dan kesungguh-sungguhan meniscayakan pertambahan pengetahuan.”30
Sumbangan umat Islam untuk pemikiran dunia secara umum misalnya pada:
1. Penciptaan ilmu aljabar.
2. Penambahan angka 0 bagi bilangan yang sudah dikenal umat manusia hingga melahirkan revolusi dalam ilmu hisab (aritmatika)
3. Penemuan logaritma oleh al-Khawarizmi (w. 847 M)
Kemudian, Zaqzuq mengemukakan tiga konsep penting persembahan Islam yang memiliki pengaruh penting dalam
29Dawr al-Islam fi Tatawwur al-Fikr al-Falsafi, Mahmud Hamdi Zaqzuq, h. 13-14.
perkembangan pemikiran dan peradaban, yaitu: pertama, prinsip ijtihad atau independensi rasional; kedua, konsep tawfiq atau moderasi; ketiga, perspektif historis Islam.
Peran Islam terhadap Filsafat Eropa
A. Pengaruh Islam terhadap filsafat abad pertengahan
Sebelum membahas tema ini, Zaqzuq juga mengulas pengaruh Islam terhadap filsafat abad-abad pertengahan. Dia menganggap aneh sikap beberapa peneliti Eropa yang memberi nilai sangat besar bagi pengaruh filsafat Yunani terhadap filsafat Islam, sehingga sebagian dari mereka mengatakan bahwa filsafat Islam itu tidak lebih daripada filsafat Yunani yang ditulis dalam bahasa Arab, tapi pada waktu yang sama memberi nilai sangat kecil, bahkan menolak sama sekali adanya pengaruh filsafat Islam terhadap pemikiran Eropa. Sebab, menurut Zaqzuq, mengambil dan memberi (akhdh wa al-ata’) adalah hukum yang berlaku pada setiap peradaban, baik peradaban Eropa maupun Islam.31
Selanjutnya, Zaqzuq mengatakan bahwa relasi pemikiran Barat Modern dengan pemikiran Islam terlihat pada poin-poin berikut:
Pertama, penerjemahan filsafat dari bahasa Arab ke bahasa Latin.
Sejak tahun 1130 para ulama Kristen di Eropa mulai bersungguh-sungguh dalam menerjemahkan filsafat dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Dunia Kristen Eropa bertemu dengan dunia Islam di dua tempat, yaitu di Italia Selatan dan Spanyol. Di Spanyol ada gerakan penerjemahan yang sangat aktif. Ada perpustakaan bahasa Arab yang sangat besar di salah satu masjid di kota Talitalah ketika kota ini ditaklukkan oleh pasukan Kristen. Raymund, kepala uskup Talitalah 1130-1150, lalu kepala uskup Spanyol, sangat terlibat dalam penerjemahan filsafat dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Dia mendirikan lembaga penerjemahan dan mengangkat Dominic
Gondisalvi sebagai ketuanya, dan menugasinya untuk menerjemahkan sejumlah buku-buku penting dalam bidang filsafat dan sains. Terjemahan-terjemahan ini lalu menjadi pondasi bagi filsafat Skolastik di Eropa.
Pada tahun 1220 M Frederick II menjadi kaisar. Dia menguasai bahasa Arab dan sangat terpesona pada buku-buku para filsuf Arab. Ilmu-ilmu Arab dikembangkan dengan penuh gairah di istananya di Palermo dan diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Dia dan anaknya (Manfred) menghadiahkan kepada Universitas Bologna dan Paris terjemahan buku-buku filsafat dari bahasa Arab. Pada tahun 1224 dia mendirikan Universitas Napoli dan menjadikannya gerbang untuk memasukkan ilmu-ilmu Arab ke dunia Barat. Thomas Aquinas, sebelum menjadi pendeta, telah belajar di universitas ini. Boleh jadi ini adalah sebab perhatian besarnya terhadap ajaran-ajaran para filsuf Arab.
Kedua, Avicennisme di Eropa.
Albertus Magnus dan Thomas Aquinas mengambil pendapat Ibnu Sina dalam teori epistemologi, universalia, pemisahan yang tegas antara esensi (mahiyah) dengan eksistensi (wujud). Duns Scotus, dalam membangun pandangan metafisikanya, juga mengambil pandangan Ibnu Sina. Sejumlah pemikir mengatakan ada pengaruh Ibnu Sina dalam konsep Cogito-nya Rene Descartes.
Carra de Vaux menegaskan adanya Avicennisme Latin pada abad-abad pertengahan yang lebih diwarnai oleh unsur Arab daripada unsur Augustinisme. Selain itu, Roger Bacon tidak menyembunyikan bahwa dirinya adalah penggemar Ibnu Sina. Teori Bacon tentang kesucian Pope sangat serupa dengan teori Ibnu Sina tentang khilafah.
Ketiga, Farabianisme di Eropa.
faidah teoritis dan praktisnya. Gundissalinus dari Spanyol pada abad 12 mengambil sebagian besar isi buku ini ke dalam bukunya tentang klasifikasi filsafat. Pada abad 13, Jerome de Moravie juga banyak memanfaatkan pemikiran al-Farabi, khususnya pemikirannya tentang musik.
Keempat, Averroisme di Eropa.
Bersama dengan Avicennisme, Averroisme adalah aliran yang paling pesat perkembangannya di Eropa pada abad pertengahan. Bahkan, pemikirannya menjadi pijakan bagi perkembangan baru di dunia Barat. Pemikiran Thomas Aquinas tidak dapat digambarkan tanpa pemikiran Ibnu Rushd. Pada pertengahan abad 13 semua karya filsafat Ibnu Rushd telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Renan menegaskan adanya Averroisme Latin di dalam bukunya Ibn Rushd wa al-Rushdiyyah. Aliran ini hidup selama berabad-abad di Eropa dan berkontribusi besar dalam wacana kebebasan pemikiran pada abad-abad pertengahan di Eropa. William of Auvergne, mitran di Paris, memuji Ibnu Rushd sebagai pembela kebenaran yang sejati, mengutip banyak pemikirannya, dan menilainya sebagai guru yang paling banyak benarnya. Thomas Aquinas mengikuti Ibnu Rushd dalam menjelaskan relasi filsafat dengan pengetahuan filosofis. Asin Palacios mengatakan bahwa kesamaan antara Thomas Aquinas dengan Ibnu Rushd tidak terbatas pada perspektif umum, konsep-konsep, dan contoh-contoh, bahkan seringkali juga di dalam kata-kata. Menurut Palacios, ini bukan karena Aquinas dan Ibnu Rushd merujuk akar pemikiran yang sama, tapi karena Aquinas mengenal dan memanfaatkan pendapat-pendapat Ibnu Rushd. Averroisme berkembang di Eropa sampai abad 17 dan melahirkan mazhab Rasionalisme yang berkuasa di Eropa pada abad Renaisance Eropa.
Kelima, Ghazalianisme di Eropa.
pemikiran Eropa modern. Pengaruh ini pertama-tama pada Raimund Martin dan Thomas Aquinas, lalu pada Pascal. Martin, di dalam bukunya al-Ta‘nah al-Najla’ Didd al-Magharibah wa al-Yahud, mengambil sebagian besar argumentasinya dari kitab Tahafut al-Falasifah, sementara Aquinas membantah mazhab wahdah al-‘uqul
dengan argumentasi-argumentasi para teolog muslim Ahlussunnah yang diketahuinya lewat al-Ghazali.
Salvador Gomez Nogales, ketika menerangkan relasi filsafat Islam dengan filsafat Eropa, mengatakan, “Saya sangat yakin bahwa ada pengaruh langsung dari filsafat Islam terhadap Eropa pada abad-abad pertengahan. Lebih dari itu saya katakan bahwa kalau bukan karena pengaruh filsafat Islam terhadap agama Kristen ini, maka filsafat Kristen tidak akan mampu melakukan langkah raksasa yang kita apresiasi pada diri para jenius aliran Skolastisme seperti St. Thomas, minimal tidak akan melakukan langkah raksasa itu dengan kecepatan yang telah kita ketahui. …. Filsafat Islam telah berpengaruh sangat besar dalam pemikiran Eropa pada abad-abad pertengahan.”32
B. Pengaruh Islam terhadap pemikiran filsafat modern
Karena filsafat Eropa abad pertengahan mempengaruhi filsafat Eropa modern, maka kita dapat mengatakan bahwa filsafat Islam telah berpengaruh terhadap filsafat Eropa modern. Tapi, yang ingin dibuktikan oleh Zaqzuq di dalam bagian ini adalah pengaruh langsung filsafat Islam terhadap filsafat Eropa modern. Aspek pertama yang dia ungkap adalah pengaruh al-Ghazali terhadap Descartes.
Al-Ghazali menggunakan skeptisisme metodis sebagai jalan untuk memperoleh keyakinan filosofis. Al-Ghazali menjelaskan langkah-langkah keraguan metodis terutama di dalam bukunya al-Munqidz min al-Dalal. Pertama, al-Ghazali menegaskan pentingnya
penolakan terhadap taklid dan subordinasi pemikiran dan pentingnya independensi rasional dalam pencarian kebenaran. Kedua, al-Ghazali mengkritik pengetahuan-pengetahuan manusia mulai dari pengetahuan inderawi hingga pengetahuan rasional. Ketiga, al-Ghazali mendiskusikan masalah keyakinan, wacana akidah, dan problem pembedaan pengetahuan manusia yang diperolehnya ketika terjaga dan tertidur. Keempat, al-Ghazali menjelaskan keraguan metafisis yang terwujud dalam persepsi tentang setan penipu atau makhluk penyesat, hingga akhirnya sampai kepada keyakinan filosofis yang tidak tergoyahkan dan disebutnya sebagai kembalinya keyakinan terhadap aksioma-aksioma rasional. Al-Ghazali, dengan metode rasional, dan bukannya dengan metode mistis seperti yang dikatakan banyak peneliti, sampai kepada pengetahuan tentang diri dan pengetahuan tentang Allah.
Semua langkah yang dilakukan al-Ghazali tersebut sangat berpengaruh terhadap pemikiran Descartes yang disebut para ahli sejarah sebagai Bapak Filsafat Modern. Langkah-langkah yang disebutkan al-Ghazali ini sama persis dengan langkah-langkah yang ditetapkan oleh Descartes 500 tahun kemudian, dan selanjutnya metode Descartian ini dianggap sebagai gerbang baru di dunia filsafat.
Zaqzuq telah menulis buku berkaitan dengan tema pengaruh al-Ghazali terhadap Descartes ini dan dipublikasikan dalam dua bahasa, Arab dan Inggris. Dalam bahasa Arab judulnya al-Manhaj al-Falsafi Bayna al-Ghazali wa Dikart33 dan dalam bahasa Jerman judulnya Al
Ghazalis Grundlegung der Philosophie. Di dalam buku ini Zaqzuq menyimpulkan ada kemiripan yang nyaris sempurna antara pemikiran al-Ghazali dengan pemikiran Descartes. Dalam buku tersebut, Zaqzuq hanya melakukan penelitian dengan pendekatan filosofis dan tidak melakukan penelitian dengan pendekatan historis. Yang terakhir ini,
menurut Zaqzuq, telah dilakukan oleh peneliti lain, yaitu ahli sejarah dari Tunisia, yaitu ‘Uthman al-Ka‘‘ak, pada tahun 1976, yang menegaskan adanya bukti material di perpustakaan Descartes yang mengafirmasi pengetahuan Descartes terhadap pemikiran al-Ghazali dan terpengaruh oleh terjemahan buku al-Munqidh min al-Dhalal.
Ada aspek lain dalam pemikiran al-Ghazali yang mempengaruhi filsuf Barat modern, yaitu kritik al-Ghazali terhadap prinsip kausalitas yang menyatakan relasi sebab dengan akibat hanya berbasis kepada kebiasaan dan sekadar relasi temporal antara dua hal. Kritik seperti ini kita dapati juga pada pemikiran David Hume. Bahkan, Hume tidak menyebutkan hal yang baru dalam hal ini. Itulah yang ditegaskan oleh Renan dalam perkataannya, “Hume, dalam kritiknya terhadap prinsip kausalitas, tidak mengatakan sesuatu yang di luar apa yang telah dikatakan oleh al-Ghazali.”
Zaqzuq mengusulkan kajian-kajian komparatif lainnya antara filsuf Islam dengan filsuf Eropa modern. Misalnya, keterpengaruhan Spinoza oleh Ibnu Maimun (1135-1204 M) yang terpengaruh oleh para filsuf muslim seperti terlihat di dalam bukunya Dilalah al-Ha’irin.34
Mengaitkan kemunduran Islam pada saat ini dengan ajaran Islam adalah sikap yang naif. Malik bin Nabi di dalam buku Mushkilah al-Afkar fi al-‘Alam al-Islami mengatakan, “Penyebab kemunduran dunia Islam pada saat ini bukan Islam. Kemunduran ini adalah hukuman yang pantas dari Islam kepada kaum Muslimin karena mereka telah meninggalkannya, dan bukannya karena mereka memegang teguh ajarannya seperti dianggap oleh beberapa orang yang naif.” Hal ini disebut oleh Zaqzuq sebagai Khoja Complex, yaitu nalar bahwa Eropa kini maju, agama yang dianut oleh kebanyakan orang Eropa adalah Kristen, maka kemajuan Eropa adalah berkat Kristen; dan negeri-negeri Arab kini terbelakanga, agama yang dianut
oleh kebanyakan orang Arab adalah Islam, maka kemunduran bangsa-bangsa Arab adalah berkat Islam.35
Menurut Muhammad al-Bahi, Zaqzuq membuktikan, “Adanya kesesuaian pemikiran antara al-Ghazali dengan Descartes dan tidak mengklaim Descartes terpengaruh oleh al-Ghazali, karena untuk klaim ini, keselarasan pemikiran tidak cukup sebagai bukti, begitu juga kelebihduluan kronologis, tapi harus ada bukti empiris yang menunjukkan pengaruh tersebut baik secara langsung atau tidak langsung.”36
Langkah menuju pengetahuan dalam metode al-Ghazali:
Pertama, meragukan nilai-nilai pengetahuan inderawi dan rasional yang diperoleh dari berbagai aliran.
Kedua, menemukan dua hakikat yang tidak dapat diragukan, yaitu hakikat akal pada badan dan hakikat Allah pada wujud. Akal manusia adalah nur ilahi di badan manusia dan Allah adalah Cahaya Sempurna di dalam wujud. Di dalam al-Ihya al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh al-Bahi, mengatakan bahwa di dalam hati ada insting yang disebut nur ilahi, akal, basirah batin, nurul iman, atau yakin. Di sini dijelaskan relasi akal dengan syariat. Akal itu laksana pondasi sedangkan syariat laksana bangunan. Wahyu tidak akan memuat keterangan yang pasti yang bertentangan dengan pengetahuan akal.
Ketiga, tasawuf, yaitu membersihkan hati dari ikatan-ikatan badaniah inderawi dan fokus pada pengetahuan rasional.
Keraguan al-Ghazali adalah penolakan untuk mengikuti dan bertaklid kepada aliran-aliran dan sekte-sekte yang berbeda-beda yang ada padazamannya, yang perbedaannya telah mengakibatkan pecahnya kaum muslimin menjadi kelompok-kelompok yang bermusuhan dan menyebabkan umat Islam lemah dan mundur pada level politik, relasi-relasi sosial, dan keterikatan pada dasar keimanan
35Al-Islam fi al-Fikr al-Gharbi, Mahmud Hamdi Zaqzuq, h. 15.
36 Tadqim, Muhammad al-Bahi, dalam Al-Manhaj al-Falsafi Bayna al-Ghazali
kepada Allah. Pada waktu yang sama, keraguan ini berarti kritik terhadap aliran-aliran tersebut.
Lalu, al-Bahi mengatakan bahwa metode penelitian al-Ghazali adalah: dari keraguan, kepada keimanan kepada Allah dan akal manusia, kepada tuntutan asketisme kepada ulama peneliti. Seorang peneliti harus ragu, yakni menghindari subordinasi pemikiran dan taklid, lalu harus menggunakan akal dan tunduk kepada Kitabullah dan Sunnah yang sahih. Di dalam al-Ihya al-Ghazali menegaskan, “Orang yang menyerukan taklid buta dan mengasingkan akal secara keseluruhan adalah orang yang bodoh, sedangkan orang yang mencukupkan diri dengan akal dan mengabaikan cahaya-cahaya al-Quran dan Sunnah adalah orang yang menipu diri sendiri.”37
Berdasarkan penelitian tersebut, Zaqzuq, seperti Max Horton, menyatakan bahwa filsafat di dunia Islam tidak mati pasca al-Ghazali.38 Buku Al-Manhaj al-Falsafi Bayna al-Ghazali wa Dikart adalah
buku yang penting dibaca untuk mengetahui secara lebih mendalam kesalahan persepsi populer yang menuduh al-Ghazali sebagai orang yang telah membasmi filsafat secara menyeluruh sehingga tidak pernah bangkit kembali.39
37 Tadqim, Muhammad al-Bahi, dalam Al-Manhaj al-Falsafi Bayna al-Ghazali
wa Dikart, Mahmud Hamdi Zaqzuq, h. 6-8.
38Al-Manhaj al-Falsafi Bayna al-Ghazali wa Dikart, Mahmud Hamdi Zaqzuq, h. 9, footnote no. 1.
Daftar Pustaka
Mahmud Hamdi Zaqzuq, Al-Islam fi al-Fikr al-Gharbi: ‘Ard wa Munaqashah, Al-Kuwait: Dar al-Qalam, cetakan II, 1406 H./1986 M..
J.S. Badudu dan Sutan Mohammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, cet. III, Desember 1996, h. 1510.
‘Affaf Mas‘ad al-‘Abd, Dirasat fi Tarikh al-Sharq al-Aqsa, Iskandariyyah: Dar al-Ma‘rifah al-Jami‘iyyah, tt..
John m. Echols dan Hassan Shadili, Kamus Bahasa Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia, cet. XXV, 2000, h. 205 dan 408.
Munir al-Ba‘labaki, Al-Mawrid A Modern English-Arabic Dictionary, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 2005, h. 302 dan 638.
Muhammad Abu al-Mahasin ‘Usfur, Ma‘alim Hadarat al-Sharq al-Adna al-Qadim, Beirut: Dar al-Nahdah al-‘Arabiyyah, 1408 H./1987 M., h. d.
Ru’yah ‘Arabiyyah fi Tarikh al-Sharq al-Adna al-Qadim wa Hadaratih, Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Kairo: Dar Quba li al-Tiba‘ah wa al-Nashr wa al-Tawzi‘, 1998, cover belakang.
‘Abd al-Latif Ahmad ‘Ali, Muhadarat fi Tarikh Sharq Adna al-Qadim, Beirut: Maktab Karidiyyah Ikhwan, 1991, h. 15-16.
Mahmud Muhammad ‘Ali Muhammad, Al-Usul al-Sharqiyyah li al-‘Ilm al-Yunani, Elharam: Ein for Human and Social Studies, cet. I, 1998, h. 5; Turathuna wa Fajr al-‘Ilm al-Hadith, Wa’il Bashir al-Atasi, Damaskus: Wizarah al-Thaqafah, 1999, h. 11-13.
Abu al-Nasr Ahmad al-Husayni, Al-Falsafah al-Hindiyyah Dirasah Ba‘d Nawahiha ma‘a al-Muqaranah bi al-Falsafah al-Gharbiyyah, Kairo: Matba‘ah Misr, cet. I.
Abu al-Nasr Ahmad al-Husayni, Al-Falsafah al-Hindiyyah Dirasah Ba‘d Nawahiha ma‘a al-Muqaranah bi al-Falsafah al-Gharbiyyah, Kairo: Matba‘ah Misr, cet. I, h. 7, 8,.
Ruh ‘Azim al-Mahatma Ghandi, Abbas Mahmud al-‘Aqqad, Kairo: Shirkah Fann al-Tiba‘ah, tt..
Mahmud Hamdi Zaqzuq, Dawr al-Islam fi Tatawwur al-Fikr al-Falsafi, Kairo: Maktabah Wahbah, Cetakan I, 1404 H./1984 M.
Mahmud Hamdi Zaqzuq, al-Manhaj al-Falsafi Bayna al-Ghazali wa Dikart, Kairo: Dar al-Ma‘arif, cetakan IV, 1997..