Abstract
:Man as his personal nature will require food, making a living requires sustenance in all times and circumstances, since childhood to adulthood and so forth until you reach old age though, and created a wide range of things on this earth is for the purposes of human usefully warranty provision of sustenance him.
صﺧﻠﻣ
:
ﻊﯿﻤﺟ ﻲﻓ تﻮﻘﻟا ﺐﻠﻄﺘﯾ ﺶﯿﻌﻟا ﻞﻌﺠﯾ ﺎﻤﻣ ،مﺎﻌﻄﻟا ﺐﻠﻄﺘﺗ ﺔﯿﺼﺨﺸﻟا ﮫﺘﻌﯿﺒط ﻮھ ﻞﺟﺮﻟاو
ﺔﺧﻮﺨﯿﺸﻟا ﻦﺳ ﻰﻟإ ﻞﺼﺗ ﻰﺘﺣ ﻚﯿﻟاود اﺬﻜھو غﻮﻠﺒﻟا ﺔﻠﺣﺮﻣ ﻰﻟإ ﺔﻟﻮﻔﻄﻟا ﺬﻨﻣ ،فوﺮﻈﻟاو تﺎﻗوﻷا
ا ضاﺮﻏﻷ ﻮھ ضرﻷا هﺬھ ﻰﻠﻋ ءﺎﯿﺷﻷا ﻦﻣ ﺔﻌﺳاو ﺔﻋﻮﻤﺠﻣ ﻖﻠﺧو ،ﻚﻟذ ﻢﻏر
نﺎﻤﺿ ﺮﯿﻓﻮﺗ نﺎﺴﻧﻹ
تﻮﻘﻟا ﮫﻟ ﺪﯿﻔﻤﻟا ﻦﻣ
.
Kata kunci :
pemahaman k erja, muslim.Menurut Ibnu Khaldun rezeki dan nafkah adalah sama, yaitu penghasilan atau keuntungan yang berguna dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan (Ibnu Chaldun, 1963: 107). Hakekat pengertian rezeki dan nafkah adalah manakala seseorang mendapatkan sesuatu yang dipergunakan dengan hemat dan cermat, tidak boros, serta disesuaikan dengan pokok-pokok keperluan hidup sebagai manusia, maka ia merasakan nikmatnya sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rosulullah SAW: “Sesuatu barang yang k amu milik i (yang sesungguhnya) ialah apa-apa yang telah k amu mak an hingga habis, atau apa-apa yang telah k amu pak ai hingga ia rusak , atau apa-apa yang telah k amu berik an (zak at) dengan dik eluark an dari tanganmu” (Ibnu Chaldun, 1963: 100).
Namun demikian ada rezeki yang didapat hanya dengan jalan berusaha, berikhtiar dan bekerja, apakah dengan kerja keras ataupun tidak dan seberapa besar yang diperoleh seseorang tergantung usaha yang dilakukannya. Oleh karena itu rezeki bisa diperoleh apabila seseorang terjun ke lapangan pekerjaan (ma'asyi/ ’amal), sebab kerja seorang muslim yang sesuai dengan ketentuan Islam merupakan sumber utama keuntungan, pendapatan, maupun pembentukkan modal.
Makna Kerja dalam Islam
Dalam al-Qur’ān digunakan beberapa istilah yang berarti kerja: ‘amal (kerja), k asb (pendapatan), sak hk hara (untuk mempekerjakan atau mengguna), ajr (upah atau penghargaan),
ibtighā’a fadl Allah
(mencari keutamaan Allah) (Al-Fārūqī dkk., 1995: 93). Dalam hadiś banyak menyebut kata amal dengan arti kerajinan tangan atau perbuatan jasmaniah pada umumnya. Dan dalam ayat al-Qur’ān banyak penggunaan kata “iman” diikuti dengan kata “amal shaleh” yang berarti bahwa iman yang tertanam dalam hati hanya akan berarti apabila membuahkan perbuatan lahiriah yang nyata sesuai dengan tuntunan iman itu sendiri.Dalam pandangan Yusuf Qardhawi kerja adalah segala usaha maksimal yang dilakukan manusia, baik melalui gerak tubuh ataupun akal untuk menambah kekayaan, baik dilakukan secara perorangan ataupun secara kolektif, baik untuk pribadi maupun untuk orang lain (Qardhawi, 1997: 104). Oleh sebab itu pekerja dapat dikelompokan menjadi dua, pekerja k has dan musytarak. Pekerja khas (pekerja tetap) adalah seorang yang bekerja pada satu majikan dalam jangka waktu tertentu dan tidak boleh bekerja pada pihak lain. Sedangkan pekerja musytarak (pekerja serabutan) adalah orang yang bekerja pada beberapa majikan dan bebas untuk bekerja dengan siapa saja (Al-Zuhailī, t.th., juz. V: 3845).
Selain itu pekerjaan pejabat negara juga termasuk ’amal. Ibnu Taimiyah meriwayatkan pada suatu waktu seorang ulama besar bernama Abu Muslim Al-Khaulani masuk ke tempat Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengucapkan “assalamu’alaik a ayyuha al-
ajīr”.
Mendengar ucapan salam tersebut orang disekitar memperingatkannya agar mengucapkan “ayyuha al-amīru”.
Namun teguran tersebut tidak merubah pendirian Abu Muslim, sebab ia berpendapat bahwa kepala negara termasukajīr
, orang yang bekerja untuk kepentingan orang lain dengan mendapatkan imbalan upah (Ibnu Taimiyah, 1419H: 11).Adapun kerja atau amal dalam pengertian yang khusus yaitu melakukan pekerjaan atau usaha yang menjadi salah satu unsur terpenting dan titik tolak bagi proses seluruh kegiatan ekonomi. Kerja dalam makna yang khusus menurut Islam terbagi menjadi kerja yang bercorak jasmani (fisikal) dan kerja yang bercorak aqli/ fik iran (mental). ini mengindikasikan bahwa kerja dalam Islam meliputi segala bidang ekonomi yang dibolehkan oleh syarak sebagai balasan dari upah atau bayaran, baik kerja itu bercorak jasmani (fisikal) seperti buruh, pertanian, pertukangan dan sebagainya atau kerja bercorak aqli (mental) seperti pegawai negeri, guru/dosen dan
sebagainya sebagaimana dalam hadiś Rosulullah SAW:
”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang mak an sesuatu mak anan, selain mak anan dari hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud as, selalu mak an dan hasil usahanya”(Abi Abdillaht.th, juz. II: 6).Dengan demikian kerja dan amal sesungguhnya mempunyai terjemahan yang sama meskipun masyarakat mengenalnya dari sudut yang berbeda. Amal seringkali diberi makna pada tindakan atau kerja kebajikan; sedangkan kerja dikategorikan pada tindakan manusia yang menghasilkan upah atau gaji dalam bentuk uang maupun material dan sebagainya yang bersifat ekonomi untuk menjaga kelangsungan hidup bagi diri sendiri atau orang-orang yang di bawah tanggungjawabnya.
Berdasarkan pada uraian tersebut dapat ditarik pengertian bahwa kerja mencakup segala macam pekerjaan yang menghasilkan imbalan jasa baik berbentuk kegiatan jasmaniah materiil seperti kerajinan tangan, atau yang berbentuk kegiatan fikiran seperti perwalian negara/jabatan-jabatan keahlian, dan atau bentuk spiritual. Tegasnya, segala macam usaha yang bersifat materiil atau moral menurut pandangan Islam merupakan ’amal (kerja) (Basyir, 1987: 24).
Konsepsi Islam Tentang Kerja
Dasar kerja atau amal adalah niat yang akan membedakan suatu tindakan itu berupa kebajikan atau tidak. Ditegaskan bahwa merupakan satu kewajiban kepada setiap manusia untuk melakukan yang terbaik dalam memikul amanah dan tanggungjawab karena Allah tidak akan memberatkan seseorang dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya (QS. Al-Baqarah (2): 286). Dan oleh sebab itu setiap manusia dikaruniai suatu kelebihan dan untuk itu dia akan dimudahkan mengerjakan apa yang telah diketahuinya.
tidak akan mendapatkan suatu apa pun kecuali apa yang diusahakannya. Sehingga tidak mengherankan jika sering didengar bahwa masuk surga atau neraka sangat ditentukan oleh perbuatan seseorang, pekerjaan atau usahanya ketika hidup di dunia. Yang ditekankan supaya manusia bekerja atau berusaha untuk kebaikan serta dengan cara yang baik, sebab orang yang beriman dan bekerja dengan baik maka Allah akan memberi kehidupan yang baik pula.
Melalui kerja manusia menyatakan eksistensi dirinya dalam kehidupan bermasyarakat. Bekerja pada dasarnya merupakan realitas fundamental bagi manusia dan karenanya menjadi hakikat kodrat yang selalu terbawa dalam setiap jenjang perkembangan kemanusiaannya, sebab dengan kerja manusia dapat melaksanakan pembangunan perekonomian masyarakat dan sekaligus sebagai cermin pelaksanaan perintah agama (Asy’arie, 1997: 40), dengan memberi berbagai kemudahan hidup dan jalan-jalan mendapatkan rezeki di bumi yang penuh dengan segala nikmat ini sebagaimana dalam firman_Nya: “Dialah yang telah menciptak an bumi dan isinya agar selalu tunduk patuh, pergilah k e segala penjuru bumi dan mak anlah rezek i_Nya. Hanya k epada_Nya tempat k embali” (QS. Al-Mulk (67): 15) Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman: ”Bila salat telah dilak sanak an secara sempurna, berpencarlah k amu di bumi carilah limpahan k arunia A llah, dan zik irlah k epada_Nya banyak -banyak agar k amu sek alian berhasil” (QS. Al-Jumu’ah (62): 10).
Ayat-ayat al-Qur’ān tentang kerja menyeru umat Islam untuk giat bekerja dan berpenghasilan agar mampu meraih kesejahteraan, memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, serta masyarakat. Bekerja adalah kodrat hidup baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang. Karenanya bekerja dan berusaha merupakan hal yang mutlak bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan dan Islam menilainya sebagai salah satu macam ibadah yang berpahala dengan tidak menentukan macam kerja dan usaha yang dinyatakan lebih utama dari yang lain.
pernah ditanya rahasia di balik keistimewaannya. Beliau menyebutkan empat hal sebagai jawaban: "Pertama, saya percaya bahwa rezeki saya tidak akan pernah dibajak oleh siapa saja, jadi saya bekerja untuk mencapai itu. Kedua, aku tahu bahwa suatu karya yang merupakan tambang harus dilakukan oleh saya, jadi saya tidak mengurangi usaha saya dalam melakukan itu. Ketiga, saya percaya bahwa Tuhan saya adalah omnipresent (menonton saya), jadi saya tidak seperti Dia melihat saya melakukan dosa. Keempat, saya tahu bahwa kematian adalah suatu tempat kembali saya, jadi saya mempersiapkan untuk itu (melalui perbuatan baik)".
Kerja juga merupakan salah satu sebab atau sarana syar’i untuk memiliki harta secara individual. Telah nyata bahwa komitmen Islam sangat menekankan keharusan bekerja bagi manusia di bumi dalam rangka mencari rezeki yang diberikan Allah supaya manusia dalam konteks melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi untuk beribadah kepada Allah (Muslich, 2004: 48), sebagaimana tergambar dalam sabda Rosulullah SAW: “Barang siapa merasa letih di malam hari k arena bek erja dengan tangannya, mak a malam itu ia memperoleh ampunan A llah” (Mursi, 1997: 10).
Di sinilah Islam memberi petunjuk kepada umat muslim bahwa kerja adalah bentuk bangunan relasi sosial antar manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, keluarga serta masyarakat disekitarnya dan sekaligus bentuk ideal dari pengabdian diri kepada Allah. Setiap manusia, tanpa terkecuali, telah ditentukan pekerjaan yang dapat dikerjakan dan sekaligus memberikan tanggungjawab untuk memeliharanya dengan benar sesuai ketentuan syara’. Bagi mereka yang beriman dan bekerja baik akan diberi hayatan thayyibah (penghidupan yang baik) dan mendapat kesempatan untuk bertemu denganNya (QS. Al-Kahfi (18): 110).
Jadi dalam konsepsi Islam kerja merupakan suatu kewajiban agama yang menyeluruh atas setiap muslim (bersifat individual / fardhu ’ain) yang mampu bekerja untuk mencapai kebahagiaan individu, keluarga dan masyarakat. Oleh karena itulah iman senantiasa dikaitkan oleh al-Qur’ān dengan amal soleh atau perbuatan baik. Ini mengisyaratkan bahwa Islam itu adalah akidah yang mesti diamalkan dan amalan yang mesti berakidah secara tidak terpisah (terintegrasi), sebagaimana dimaksud dalam firman Allah: "Demi masa, sesungguh manusia pasti ak an rugi, k ecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh" (QS. Al-‘Ashr (103): 1-3).
kaum pria saja tetapi juga kepada kaum wanita (muslimah) sebagaimana pada suatu ketika Rasulullah SAW mengangkat dan mencium tangan seorang lelaki yang sedang bekerja keras, lantas beliau bersabda: “Bek erja k eras dalam usaha mencari nafk ah yang halal adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah”. Islam membolehkan wanita melakukan pekerjaan yang sesuai dengan syari’at dan dijalankan dengan baik, serta tidak bertentangan dengan tabiatnya sebagai wanita. Pada zaman Rosulullah dan Khulafa’ur Rasyidin, wanita aktif di berbagai bidang, misalnya berdagang, mengajar, mengobati pasien, atau bahkan ikut perang (mengobati prajurit yang terluka). Di antara mereka ada yang diabadikan kepahlawanannya, seperti Umayyah putri Qais al-Ghifari yang pernah dianugerahi kalung penghargaan dari Rosulullah karena jasanya dalam perang Khaibar (Mursi, 1997: 156).
Islam telah membuka bebagai lapangan kerja bagi umatnya agar mereka dapat memilih yang sesuai dengan keahlian, kemampuan, pengalaman dan kesenangannya. Manusia tidak dipaksakan untuk memilih pekerjaan tertentu, kecuali apabila pekerjaan tersebut akan mendatangkan kemaslahatan umum. Sekalipun Islam memberi kebebasan memilih lapangan kerja, bila ternyata akan membawa bahaya baik terhadap individu maupun umum, moral maupun material, maka lapangan kerja jenis ini diharamkan oleh Islam (al-Qordawy, 1996: 52).
Dengan demikian Islam sangat mewajibkan setiap umatnya bekerja untuk mencari rezeki dan pendapatan bagi kelangsungan hidupnya dengan berbagai kemudahan hidup dan jalan-jalan mendapatkan rezeki di bumi yang penuh dengan nikmat Allah ini. Namun Islam memerintahkan pekerja muslim agar supaya tidak melakukan kontrak kerja untuk kemaksiatan, dan mendorong bekerja pada lingkungan yang dihalalkan saja serta tidak melewati batas (Al-Dzuhailī, al-Fiqhu., V: 3817). Mencari rezeki dan bekerja pada lingkungan yang halal merupakan usaha untuk memelihara maru’ah (harga diri) dan kehormatan manusia itu sendiri, dengan begitu kerja apa saja selagi halal adalah baik dan terhormat menurut Islam (Basyir, 1987: 29). Allah SWT berfirman: "Wahai sek alian manusia, mak anlah dari apa yang ada di muk a bumi yang halal lagi baik " dan Rosulullah SAW besabda: "Mencari (rezek i) yang halal adalah wajib setelah k ewajiban (yang lain)." (QS. Al-Baqarah (2): 168).
usaha tersebut dan barangnya dipergunakan oleh ribuan atau bahkan jutaan orang, maka ia mendapat dosa dari mereka karena telah mempermudah jalan orang lain untuk berbuat dosa sesuai dengan sabda Rosulullah SAW: “Barangsiapa dalam Islam melestarik an tradisi yang buruk , mak a baginya dosa dan dosa orang yang melak sanak an, sesudahnya tanpa mengurangi dosa-dosa merek a sedik itpun”. Karena itulah bagi setiap muslim yang akan melakukan kegiatan muamalah diharuskan memperhatikan tujuh faktor penting sebagai berikut:
1. Menanamkan niat yang baik dan akidah dalam memulai pekerjaan 2. Berniat melaksanakan salah satu fardlu k ifayah di dalam pekerjaannya 3. Tidak menjadikan dunia menghalangi akhirat
4. Selalu ingat kepada Allah meskipun sibuk dalam urusan pekerjaan 5. Jangan terlalu serakah dalam mencari rezeki
6. Tidak hanya mencegah sesuatu yang haram, namun berhati-hati pula terhadap sesuatu yang bersifat syubhat
7. Hendaknya berhati-hati dalam bergaul, karena jika salah bergaul akan merugikan diri sendiri (Al-Qalami 2003: 129).
Menurut Imam Nawawi “pek erjaan paling baik adalah pek erjaan yang dik erjak an dengan tangan sendiri”. Jika pekerjaan adalah pertanian, maka pertanian merupakan pekerjaan paling baik karena dihasilkan dari tangannya sendiri, di dalamnya terdapat unsur tawak k al serta kemanfaatan yang dapat dirasakan manusia dan hewan yang ada di sekitarnya. Ibnu Mundzir berpendapat “pek erjaan paling utama yang dihasilk an dengan jerih payah sendiri adalah jik a pek erjaan itu dilak uk an dengan ik hlas” sesuai dengan sabda Rosulullah SAW: “sebaik -baik pek erjaan adalah pek erjaan jerih payah seorang pek erja jik a dilak uk an dengan ik hlas” (al-Asqalani, t.th. Juz. IV: 304).
Oleh karena itu pribadi muslim yang malas kerja, menganggur dan meminta-minta atau mengharapkan pertolongan orang lain dicela oleh Islam karena hal tersebut akan merendahkan harga dirinya, dan
al-Qur’ān menganggap perbuatan tersebut sebagai manifestasi dari
kurangnya iman dan ketidakpercayaan (Tasmara, 1995: 6). Dalam sebuahhadiś Rosulullah bersabdah:
“Sesungguhnya seseorang di antara k amu yang berpagi-pagi dalam mencari rejek i, memik ul k ayu k emudian bersedek ah sebagian darinya dan mencuk upk an diri dari (meminta-minta) k epada orang lain, adalah lebih baik k etimbang meminta-minta k epada seseorang, yang mungk in diberi atau ditolak ” (al-Bukhori, A l-Buk hori, t.th. juz. II: 54).meminta-minta kepada Rosulullah lalu beliau bertanya: "Adakah anda memiliki sesuatu?" "Tidak", kata lelaki itu. Baginda bertanya lagi dengan bersungguh-sungguh, lalu lelaki itu menjawab: "Saya ada sehelai hamparan yang separuhnya kami jadikan alas duduk dan separuhnya lagi kami buat selimut dan ada sebuah mangkuk yang kami gunakan untuk minum". Maka Rosulullah bersabda kepadanya: "Bawakan kedua benda itu kepada saya". Lalu dibawanya kedua barang itu, kemudian Rosulullah tunjukkan barang tersebut kepada orang yang berada di sisi Rosulullah kalau ada siapa yang hendak membelinya. Akhirnya Rosullullah dapat menjual barang tersebut dengan harga dua dirham dan uang tersebut diberikan kepada lelaki itu sambil berkata: "Belilah makanan untuk keluargamu dengan satu dirham dan satu dirham lagi belikanlah sebilah kapak". Kemudian Rosulullah SAW. meminta lelaki itu datang lagi, lalu lelaki itupun datang dan Rosul telah membubuhkan hulu kapak itu dan menyuruh lelaki itu pergi mencari kayu api sambil baginda mengatakan kepada lelaki itu supaya lelaki itu tidak akan berjumpa lagi dalam 15 hari. Lelaki itu pergi dan kembali lagi selepas 15 hari sambil membawa 10 dirham, lalu ia berkata: "Wahai Rasulullah, Allah telah memberkati saya pada kerja yang telah tuan perintahkan kepada saya." Maka baginda Rasulullah SAW bersabda: "Itu adalah lebih baik daripada anda datang pada hari kiamat kelak sedang pada muka anda bertanda karena meminta-minta”.
Berdasarkan
hadiś
di atas, para ulama membuat kesimpulan bahwa larangan bermalas-malasan, meminta-minta atau mengharap bantuan dari orang lain bukanlah sekadar perintah bersifat akhlak saja bahkan orang yang menjadikan meminta-minta sebagai "profesi" hendaklah dikenakan hukuman yang pantas, karena mereka telah merendahkan harkat martabat mereka sendiri dengan meminta dan mengemis, dan di hari kiamat kelak mereka akan datang dalam bentuk seperti wajah tanpa daging sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Seorang yang selalu meminta-minta k epada orang banyak , nanti dia datang di hari k iamat dengan wajah yang tidak berdaging (k arena hinanya)”.1325, artikel "Niat"). Dalam satu hadiś yang diriwayatkan oleh Umar r.a., Rosulullah bersabda: ”Bahwa setiap amal itu bergantung pada niat, dan setiap individu dihitung berdasark an apa yang diniatk annya… ”(at-Tirmizi, juz. III:
162, Hadiś No. 1851). Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW
bersabda: ”Binasalah orang-orang Islam k ecuali merek a yang berilmu. Mak a binasalah golongan berilmu, k ecuali merek a yang beramal dengan ilmu merek a. Dan binasalah golongan yang beramal dengan ilmu merek a k ecuali merek a yang ik hlas. Sesungguhnya golongan yang ik hlas ini juga masih dalam k eadaan bahaya yang amat besar… ”.Kedua
hadiś diatas sudah cukup menjelaskan betapa niat suci
yang disertai dengan keikhlasanitulah inti sebenarnya dalam kehidupan dan pekerjaan seorang muslim. Alangkah baiknya dan sudah seharusnya mulai saat ini umat Islam dapat bergerak, beraktifitas dan bekerja dengan tekun dan mempunyai tujuan yang satu, yaitu”
mardatillah” (menggapai keridhaan Allah), dan itulah yang dicari dalam semua urusan pribadi muslim. Dari situ akan lahir nilai keberkahan yang sebenarnya dalam kehidupan yang penuh dengan curahan rahmat dan nikmat yang banyak dari Allah SWT.Ini berarti bahwa manusia memiliki dua jenis orang dalam bekerja pada saat yang sama dan di tempat yang sama, satu dengan maksud untuk mencari pengampunan Allah dan untuk meminta pahala Allah SWT, sedangkan yang lain dengan maksud untuk menunjukkan kepada pimpinannya bahwa dia bekerja atau melakukan sesuatu dengan baik sehingga akan memberi kenaikan gaji kepadanya. Yang satu beramal dengan amalnya ahli neraka dan yang lain beramal dengan amalnya ahli surga dikarenakan niat mereka, meskipun pekerjaan, tindakan dan perbuatan yang mereka lakukan sama persis.
Islam menetapkan dan menganjurkan kebebasan dalam mencari rezeki serta kebebasan untuk membina kekayaan. Setiap muslim diwajibkan melakukan pekerjaan yang memberi hasil yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Setiap muslim bebas memilih pekerjaan yang hendak dilakukan, tentunya sesuai dengan hasrat dan bakatnya (Al-Arabi, 1979: 24). Namun Islam tidak mendorong umatnya hanya sekedar bekerja saja, tetapi juga memerintahkan agar bekerja dengan tekun dan baik, dalam pengertian bekerja sungguh-sungguh dengan didukung pengetahuan dan skill yang optimal serta menyelesaikan dengan sempurna.
main-main dan menyepelekan, lemah dan lambat serta bermalas-malasan dalam menyelesaikan tugas atau kewajiban. Semangat jiddiyah berarti mendorong seorang muslim harus melaksanakan tugas, kewajiban dan perannya dengan segera, kuat dan tekad yang mambaja (azzam), tahan banting dan kontinu (istiqamah), mengerahkan segala potensi yang dimiliki, serta mampu mengatasi semua rintangan dan alas an (Masykur, 2007: 168).
Kemantapan (itqan atau perfectness) dalam bekerja tersebut hanya dapat dilakukan apabila seseorang dalam menunaikannya dengan rasa amanah dan ik hlas karena semata-mata mengharapkan keridhoan Allah, sebab amanat dan ikhlas inilah poin paling utama yang wajib menjadi ciri khas pekerja muslim. Seorang pekerja muslim harus mendahulukan harapannya kepada ridho A llah sebelum pada keuntungan dunia, dan dengan demikian ia akan bekerja dengan sebaik-baiknya di kala sempit maupun senggang. Allah berfirman: ”Dan di antara manusia ada orang yang mengorbank an dirinya k arena mencari k eridhaan A llah; dan A llah Maha Penyantun k epada hamba-hamba-Nya” (QS Al-Baqarah (2): 207).
Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami. Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat, dan karena itu melepas atau menelantarkan keterampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas tetapi berkualitas, daripada output yang banyak tetapi kurang bermutu.
manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendayagunakannya secara optimal dalam rangka melaksanakan apa-apa yang ridhai Allah SWT. Rosulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya A llah senang jik a seorang diantara k amu mengerjak an sesuatu pek erjaan dengan tek un” (Mursi, 1997: 38).
Jadi kerja yang dilakukan dengan baik dan benar, penuh kesungguhan, perfect, serta istifragh ma fil wus’i dan tujuan akhirnya adalah karena mengharap ridho Allah (lillahi ta’aala) tidak hanya mendapatkan harta yang berupa materil saja tetapi akan memperoleh harta yang berupa Inmateril (pahala, ampunan dan kesempatan bertemu Allah) sebagaimana sabda Rosulullah SAW: “Barangsiapa mencari dunia dengan halal, menjaga diri dari minta-minta, berusaha untuk k eluarganya dan belas k asih k epada tetangganya, mak a ia bertemu A llah dengan wajah seperti bulan purnama” (Al-Qalami 2003: 126).
Oleh sebeb itu apabila ada umat muslim yang mengabaikan kewajiban mencari nafkah padahal memiliki kemampuan untuk bekerja, maka negara (pemerintah) berkewajiban memaksanya untuk menunaikan kewajiban tersebut. Memang Islam sangat memperhatikan kecendrungan pembawaan bakat serta memberikan kebebasan kepada setiap umat untuk memilih lapangan pekerjaan yang disenangi, dan tidak terdapat satupun dalil al-Qur’ān dan hadiś yang menunjukan bahwa negara yang menentukan pembagian lapangan kerja dikalangan rakyat. Tetapi berdasarkan mashlahah al-mursalah dalam keadaan tertentu, sebagai pengecualian, pemerintah dibenarkan memaksa warga untuk bekerja pada lapangan tertentu, seperti wajib bakti pada masyarakat bagi para dokter yang baru saja menyelesaikan studi dan sebagainya (Basyir, 1987: 38).
Berkenangan dengan keahlian pekerja, tidak dapat disangkal bahwa manusia memiliki perbedaan pembawaan bakat kodrati dalam berbagai hal antara lain daya dan kemampuan kerja. Karenanya sangat dimungkinkan adanya pembagian kerja (spesialisasi pekerjaan) atas perbedaan daya dan kemampuan kerja yang dimiliki oleh para pekerja. Ini sesuai dengan sabda Rosulullah SAW:“Sesungguhnya A llah senang jik a seorang di antara k amu mengerjak an suatu pek erjaan yang dilak uk an secara profesional”.
memenuhi kebutuhan hidup umat yang beraneka ragam bentuk dan macamnya dalam rangka memenuhi perintah mewujudkan kerjasama kemanusiaan dan dengan demikian akan bernilai keagamaan, bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan duniawi belaka (Basyir, 1987: 41).
Realita yang terjadi sekarang ini, umat muslim dihadapkan pada diskriminasi pekerja menurut ras dan gender serta perubahan pandangan tentang fungsi dan status para pekerja dalam dunia kerja, dimana pekerja sering ditempatkan sebagai pihak yang selalu membutuhkan dan harus menerima putusan pengusaha apa adanya. Bagaimanapun keadaannya, Islam sangat tidak mengakui adanya diskriminasi pekerja dan dalam banyak ayat al-Qur’ān menegaskan bahwa kewajiban bekerja berlaku bagi laki-laki dan perempuan, kewajiban berbuat adil serta melarang tindakan yang bersifat ek sploitatif terhadap pihak lain.
Sangat menarik apa yang disampaikan Umar bin Khattab berkenaan dengan hal tersebut: “Janganlah kamu bebani buruh/pekerja perempuan di luar batas kemampuannya dalam usahanya mencari penghidupan karena bila kamu lakukan hal itu terhadapnya, ia mungkin akan melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan moral. Perlakukanlah pegawai-pegawaimu dengan penuh pertimbangan (adil), niscaya Allah akan berlaku penuh pertimbangan (adil) terhadapmu. Kamu wajib memberi mereka makanan yang baik dan halal”.
dengan baik; dan sebaliknya para pengusaha harus membayar penuh upah pekerja atas jasa dan pelayanannya.
Tegasnya ekonomi Islam sangat memperhatikan fungsi keadilan serta mengaitkannya dalam pembagian kekayaan dan pendapatan, sehingga setiap pekerja berhak mendapatkan tingkat hidup yang layak dan manusiawi. Karena itulah, menurut M. Umar Chapra, Islam menempatkan posisi yang seimbang antara bawahan dengan atasan sebagai berikut:
1. Islam memandang pekerja pada penggunaan jasanya di luar pertimbangan keuangan;
2. Pekerja tidak secara mutlak bebas berbuat apa saja yang dikehendakinya, karena ia harus bertanggung jawab kepada majikan; 3. Majikan memberikan sistem upah yang pantas untuk memenuhi
kehidupan pekerja;
4. Majikan harus menyediakan asuransi wajib untuk menanggulangi pengangguran, kecelakaan kerja, tunjangan hari tua, dan hak-hak pekerja lainnya.
Melalui pendekatan ini baik pekerja maupun majikan sama-sama tidak diistimewakan, keduanya tetap berkedudukan sebagai makhluk yang berkewajiban sekaligus berhak memperoleh rezeki sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Sebab yang ditekankan kepada umat manusia adalah sikap ta'awwun (tolong-menolong) dan keberadilan (laa tazhlimuuna walaa tuzhlamuun / tidak dirugikan dan juga tidak merugikan orang lain). Dalam istilah lain, Islam mengakui bahwa pengusaha dan pekerja adalah mitra dalam produksi (partnership) dengan kedudukan yang seimbang karena pada dasarnya manusia adalah sama.
Islam telah mengatur hubungan antara pekerja dan perusahaan dengan aturan yang insani dan adil. Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengatakan: "Dalam dua sistem Kapitalisme dan Komunisme, hubungan pek erja dan perusahaan adalah hubungan permusuhan. Tetapi tidak demik ian dalam Islam. Islam mengajark an bahwa hubungan antara pek erja dan perusahaan adalah hubungan k erjasama (partnership). Tidak ada ek sploitasi di sini. Masing-masing pihak memilik i hak yang harus dihormati oleh pihak lain”.
sayang serta kesejahteraan mereka harus benar-benar terjamin sebagaimana yang tertera dalam sabda Rosulullah SAW: ”Kewajiban para majik an hanya menerima pek erjaan yang mudah dilak uk an oleh para k aryawannya. Janganlah mempek erjak an merek a sedemik ian rupa sehingga berak ibat buruk bagi k esehatannya” (Mannan, 1997: 116). Rosulullah SAW. juga bersabda dalam
hadiś yang lain:
“Wahai A ba Zarrin, engk au seorang yang berak hlak jahiliyah. Merek a itu (para budak dan pelayanmu) adalah saudaramu, A llah menempatk an merek a di bawah asuhanmu; sehingga barang siapa mempunyai saudara di bawah asuhannya mak a harus diberinya mak an seperti apa yang dimak annya (sendiri) dan memberi pak aian seperti apa yang dipak ainya (sendiri); dan tidak membebank an pada merek a dengan tugas yang sangat berat, dan jik a k amu membebank annya dengan tugas seperti itu, mak a hendak lah membantu merek a (mengerjak annya)” (Muslim, Shahih., juz. II: 88, Hadis No. 1661).Dengan demikian, bekerja merupakan kewajiban bagi setiap manusia yang secara fisik punya kemampuan supaya memperoleh sarana kehidupan yang cukup sehingga tidak menjadi beban bagi pihak lain. Bekerja dengan tekun dan ulet akan membentuk seseorang manjadi manusia yang hidup berkecukupan. Bekerja merupakan ik htiyar yang wajib bagi setiap muslim dengan keharusan memilih pekerjaan yang halal dan dapat digunakan untuk mencukupi sarana kehidupan sesuai dengan kodrat manusia yang memerlukan sarana dan prasarana dalam kehidupannya. Dan oleh karena itu bekerja dengan sarana dan cara prilaku yang benar dan baik serta mendatangkan manfaat bagi diri pekerja, keluarga dan masyarakat disekitarnya dapat dinyatakan sebagai aktivitas yang bernilai ibadah muamalah yang berkategori jihat fii sabilillah (berjuang dijalan Allah).
sebagian orang yang lain dilihat daripada k eperluannya”.
Penutup
Daftar Pustaka
Al-Bukhori, Abi Abdillah Muhammad ibnu Ismāīl. Tanpa Tahun. A l-Buk hori. Bairut: Dāru al-Kitāb al-Islāmī.
Al-Asqalani, Imam Hafidz Ahmad bin Ali bin Hajar, Tanpa Tahun. Fathul Baari Syarhu Shohihil Buk hari, Penerbit Salafiyah
Al-Dzuhailī, Wahbah. Tanpa Tahun. al-Fiqhu al-
Islāmī wa Adillatuhu
.Bairut: Dārun al-Fikri al-Mu'āshiru, t.t
At-Tirmizi, Imam. Tanpa Tahun. Sunan at-Tirmizi, Semarang: Mathba’ah Thaha
Al-Arabi, Muh. Abdullah, 1979. E k onomi Islam dan Penerapannya di Masa Kini, alih bahasa Abdullah Suhaili. Jakarta: Sastra Hudaya.
Al-Fārūqī, Ismā’il R., dkk., 1995. A cademic Dissertations (3): Islamizations of E conomics. USA: The International Institute of Islamic Thought. Asy’arie, Musa, 1997. Islam: E tos Kerja dan Pemberdayaan E k onomi Umat,
Cetakan Kesatu. Yogyakarta: LESFI
Al-Qalami, Abu Fajar (peny. dan pen), 2003. Ringk asan Ihya’ Ulumiddin, Cetakan Pertama. Surabaya: Gitamedia Press.
Basyir, Ahmad Azhar, 1987. Garis Besar Sistem E k onomi Islam, Cetakan Ketiga. Yogyakarta: BPFE.
Chaldun, Ibnu, 1963. Ibnu Chaldun Tentang Sosial dan E k onomi (Beberapa Teori); alih bahasa Rus’an, dari al-
I’bār
. Djakarta: Bulan Bintang. Dahlan, Zaini, 1999. A l-Qur’ān dan Terjemahan Artinya.
Yogyakarta: UIIPress
Dahlan, Abdul Azis, 2001. E nsik lopedi Huk um Islam, Cetakan Kelima. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve
Muslim, Imam, 1988 M/ 1408 H. Shahih Muslim. Bairut: Dārun al-Fikr. Mannan, Muhammad Abdul, 1997. Teori dan Prak tek E k onomi Islam,
Editor H. M. Sonhaji dkk., Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf
Mursi, Abdul Hamid, 2007, SDM yang Produk tif “Pendek atan A l-
Qur’ān
dan Sains”; alih bahasa Moh. Nurhakim, Jakarta: Gema Insani Press,1997Muslich, 2004. E tik a Bisnis Islami: L andasan F ilosofis, Normatif dan Substansi Implementatif, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Ekonisia.
Masykur, Muhammad Nazhif, 2007. living Smart. Yogyakarta: Pro-U, 2007 Qardhawi, Yusuf, 1996. Konsepsi Islam dalam Mengentas Kemisk inan, alih
bahasa: Umar Fanany, B.A. Surabaya: PT. Bina Ilmu
Taimiyah, Ibnu, 1419. A s-