PENERANGAN AGAMA ISLAM
DAN PERAN SERTA UMAT
DALAM PENERANGAN AGAMA
Oleh:
DRS. H. SUBAGIO
Direktur Penerangan Agama Islam
DITJEN BIMAS ISLAM DAN URUSAN HAJJ
PENERANGAN AGAMA ISLAM
DAN PERAN SERTA UMAT
DALAM PENERANGAN AGAMA
Oleh:
DRS. H. SUBAGIO
Direktur Penerangan Agama Islam
DITJEN BIMAS ISLAM DAN URUSAN HAJI DIREKTORAT PENERANGAN AGAMA ISLAM
DAFTAR lSI
I. PENDAHULUAN ...
1
II. LAHAN GARAPAN DAN TUGAS/FUNGSI ...2
A. LAHAN GARAPAN...
2
B. MASYARAKAT YANG SEDANGMEMBANGUN ... 4
c.
TUGAS DAN FUNGSI PENERANGANAGAMA ISLAM I t I I I I 1 1 1 1 0 I I I I I I I l l I I I t I l l I I l l I l l I I
10
Ill. SUBYEK DAN OBYEK PENERANGAN
AGAMA ISLAM ...
12
A. SUBYEK ...12
B. TIGA KELOMPOK SUBYEK 0 0 . 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 . 0 015
c.
TIGA KELOMPOK OBYEK oo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 018
IV. PERAN SERTA UMAT DAN SASARAN ...
25
PENERANGAN AGAMA ISLAM DAN
PERAN SERTA UMAT DALAM PENERANGAN AGAMA
I. PENDAHULUAN
Direktorat Penerangan Agama Islam, adalah salah satu Direktorat pada Direktorat Jenderal Bimbingan Ma-syarakat Islam dan Urusan Haji, yang diatur dalam Kepu-tusan Menteri Agama Nomor: 6 Tahun
1979.
Tugas Direktorat Penerangan Agama Islam adalah melaksanakan sebagian Tugas Pokok Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji di bidang penerangan agama Islam, berdasarkan kebijaksanaan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji.
Memperhatikan nomenklatur Direktorat Jenderal Bimbingan masyarakat Islam dan Urusan Haji secara etimologis maka tugas Bimbingan Masyarakat Islam mempunyai makna lebih dibanding yang disebut kemu-dian. Tanpa mengecilkan atau lebih mengutamakan yang satu dibanding yang lain, peran Penerangan Agama Islam dalam tugas membimbing umat Islam sangat penting lebih karenanya dituntut kiprahnya untuk melaksanakan tugas di atas. Keberhasilan tugas Penerangan Agama akan bermuara pada pengamalar: keagamaan
masya-~·a'··,1t dan peran sertanya dalam se{;ala aspek pemba-ngunan, sebagai manifestasi keimanan dan ketaqwaan umat beragama, terutama Islam yang semakin me-ningkat.
II. LAHAN GARAPAN DAN TUGAS/FUNGSI
A. LAHAN GARAPAN
UUD 1945 pasal 29 ayat ( 1 ) menyatakan bahwa negara berdasar Atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan ayat (2) menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agama-nya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Berangkat dari UUD 1945 tersebut, maka kehidupan keagamaan terus dipupuk dan dikembangkan sering dengan pembinaan aspek lainnya dalam kerangka pembangunan bangsa. Ter-lebih lagi, bertitik tolak dari falsafah dan dasar negara yang menjadi landasan ideal, pembangunan Agama sebagai bagian integral dari pembangunan nasional yang asas pertamanya adalah keimanan dan ketaq-waan merupakan penjabaran dan pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dari Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusionalnya.
Pada GBHN 1993 pembangunan kehidupan beragama diarahkan untuk mampu meningkatkan kualitas umat beragama sehingga tercipta suasana kehidupan beragama yang penuh keimanan, ketaq-waan dan kerukunan yang dinamis serta makin meningkatnya peran serta umat dalam pembangun-an.
Upaya ini diselenggarakan melalui peningkatan pemasyarakatan nilai keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, didukung oleh sara-na dan prasarasara-na kehidupan beragama.
Ada tiga kata kunci dalam pembangunan kehi-dupan beragama yaitu:
1 . Kehidupan beragama yang penuh keimanan dan ketaqwaan.
2.
Kerukunan yang dinamis.3.
Meningkatnya peran serta umat dalam pem-bangunan.Untuk mewujudkan kondisi seperti yang dimak-sud dalam GBHN 1993 tersebut maka seluruh lapi-san umat beragama Islam terkecuali harus tampil dalam dua peran :
1. Sebagai subyek/pelaku penerangan agama sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW:
Artinya semua umat beragama.lslam harus ber-peran serta dalam dakwah Islam dan pemba-ngunan agama Islam, minimal dakwah bagi dirinya sendiri atau keluarganya (bagi yang sudah berkeluarga).
Setiap umat beragama diharapkan secara aktif memerankan amar ma'ruf, memerintahkan untuk senantiasa berbuat kebt:·:kan dan keba-jikan. Disisi lain nahi mungkar, ~elarang dan mencegah sikap dan prilaku yang membuat kerusakan dan kemungkaran.
2. Sebagai obyek/penerima atau pendengar, arti-nya semua lapisan umat beragama lsiam harus menyadari perlunya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita masing-masing. Oleh karenanya umat beragama Islam hendaknya
selalu siap mendengar nasehat-nasehat agama dari para mubaligh, da'i dan lain-lain agar terpe-lihara dari kemunduran dan kemerosotan. Keimanan dan Keislaman kita dihadapkan kepa-da tantangan yang cukup berat berupa perilaku yang bertentangan dengan kaidah dan tuntunan agama. Oleh karena itu upaya penerangan aga-ma Islam secara terus menerus dan berkesinam-bungan dengan berbagai cara dan sarana kepada seluruh masyarakat harus dilaksanakan.
B. MASYARAKAT YANG SEDANG MEMBANGUN
Bangsa Indonesia secara lnternasional dikata-gorikan sebagai masyarakat yang sedang berkem-bang menuju masyarakat maju dan modern. Dalam kawasan negara ASEAN Indonesia masih mendu-duki peringkat bawah dalam pendapatan perkapita dibanding Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Bangsa Indonesia yang sadar akan posisinya, tidak ingin ketinggalan oleh negara lain. Kita berki-prah dalam semua aspek memacu pembangunan di segala bidang tidak terkecuali peningkatan kuali-tas sumber daya manusia (SDM). Sebab penduduk Indonesia yang mencapai 180 juta jiwa lebih, akan menjadi beban pembangunan kalau tidak berkua-litas.
Selain dari itu sangat disadari dalam masyarakat yang sedang membangun ini disamping keber-hasilan pembangunan di segala sektor juga terjadi pergeseran nilai yang rnerupakan tantangan berat daiam pembangunan agama, yang sekaligus
tantangan penerangan agama Islam. Hal ini dise-babkan antara lain:
1 . Berkembangnya masyarakat dari agraris tradi-sional menjadi masyarakat industri modern yang tidak lagi terlalu tergantung pada alam, karena kendala alam dapat ditundukkan oleh teknologi. Ketergantungan pada alam membuahkan keter-gantungan kepada sang Penguasa pengatur alam yang secara agamis menumbuhkan kesa-daran akan perlunya pertolongan dan bantuan Allah SWT. Sebaliknya dengan dapat diatasinya hambatan dan kendala oleh teknologi secara tidak sadar dapat mengakibatkan keterkaitan-nya dengan Sang Kholiq menjadi renggang. Kecenderungan mengkiblatkan diri pada rasio llmu pengetahuan dan teknologi bisa pula menjauhkan rasa keagamaan.
2. Tingkat pendidikan masyarakat yang makin tinggi berdampak pada perubahan pola hu-bungan antar anggota keluarga, suami istri, kekerabatan dan ketetanggaan. Tuntutan akan pemenuhan. Sangat dirasakan mobilitas manu-sia semakin tinggi, keperluan hidup dan pe-kerjaan mendorong manusia untuk mencari ajang penghidupan yang layak. Sementara itu tingkat pendidikan seseorang akan sangat berpengaruh pada lapangan kerja yang dicip-takan dan dapat dicapai. Kondisi ini tidak ter-kecuali pada pria maupun wanita yang akan berdampak pada timbulnya persaingan dalam memperebutkan lapangan kerja. Ditambah lagi kenaikan angkatan kerja tidak sebanding
dengan kenaikan lapangan kerja. Suami dan istri masing-masing sibuk bekerja dan tidak ja-rang terjadi persaingan antar mereka untuk mengaktualisasikan diri guna mendapat penga-kuan dalam masyarakat. Hubungan antar ang-gota masyarakat sendiri menyebabkan menjadi renggang, kehangatan hubungan menjadi ber-kurang. Hubungan sosial menjadi formal dan sering bertumpu pada kepentingan. Silaturahmi untuk menautkan tali batin, tali kasih sesuai ajaran Islam berubah menjadi silaturahmi yang dilakukan hanya kalau ada kepentingan. 3. Adanya pengaruh budaya luar yang tidak
se-suai. Keluhuran budaya kita yang bernafaskan Islam dan sudah membumi ditandai antara lain dengan:
a. Hormat kepada sesama terlebih lagi kepada orang tua.
b. Sopan santun, ramah tamah.
c. Gotong royong dalam segala hal sebagai manifestasi kebersamaan dan kekeluar-gaan.
d. Saling tolong menolong.
e. Masyarakat paguyuban sebagai cerminan kejamaahan di Masjid, Musholla, dan lain-lain.
f. Manifestasi nilai keagamaan dalam kehi-dupan sehari-hari dalam bentuk perilaku luhur antara lain, jujur amanah ikhlas -sabar - empati - tasamuh - qana'ah, dan sebagainya.
g. Dan lain-lain.
Masuknya budaya luar yang tidak sesuai misalnya kekerasan formal hedonistik -hippies - mabuk-mabukan - narkotik - nge-but-ngebutan - gaya hidup bebas - free sex - homosex - lesbians - dll - sangat mem-bahayakan budaya luhur kita yang sudah dibangun bertahun-tahun bahkan berabad-abad oleh nenek moyang kita.
4. Meluasnya penerimaan siaran TV baik dari dalam maupun luar.
Siapapun merasakan bahwa tayangan TV yang setiap hari kita lihat tidak selamanya sesuai dengan budaya kita. Kekerasan pornografi -hiburan sentris - lagu-lagu yang seronok - bah-kan penyanyinya juga, sangat berpengaruh kepada budaya dan tatanan masyarakat. Bagai-manapun sudah digariskan oleh pemerintah bahwa TV hendaknya selain menjadi ajang tontonan dan hiburan, tetapi juga harus menjadi ajang tuntunan. Kenyataannya belum sesuai harapan. Terlalu banyak buah negatif dari pengaruh tontonan TV. Apalagi dengan bebas-nya parabola masuk ke rumah-rumah pendu-duk. Kondisi ini barangkali yang mendorong dua Menteri yaitu Menteri Agama yang meng-isyaratkan bahwa TV adalah dai yang harus diwaspadai oleh semua pihak; dan Menteri Penerangan yang mengingatkan bahwa TV masih selalu didominasi oleh hiburan, kurang yang bersifat mendidik.
Dari kondisi seperti terse but di atas, menunjuk-kan kepada kita bahwa tuga garapan penerangan
agama sangat kompleks, luas dan berat yang tidak mungkin ditangani sendiri, terutama oleh pemerin-tah.
Sebagai bahan rujukan untuk berkiprahnya penerangan agama dan mengadakan telaahan serta kajian untuk menentukan strategi kerja kiranya qaul ulama di bawah ini dapat dipedomani:
;_,t
"<'J.u....J,~: J.~=·'~-'~~..\ll~~
~
-:~..;_,' 4l-~-JJJ~_, ·~1~..)., "~~~
...a~,.~=:~~~~~_,, u.,l.A~'~'"w.ar'
s-~...,, ~~s~~
"~'~.)~.,, J.~'
. pl'y:J,J(iutt,y, ..
!J(~ '"~~,J~
Maksudnya antara lain :
Dunia ini akan tegak sentosa kalau empat ke-lompok melaksanakan fungsinya masing-masing dengan baik, yaitu :
a. llmuwan yang mengamalkan dan mengem-bangkan ilmunya bagi kemaslahatan masyara-kat, baik ilmuwan agama maupun umum. b. Para hartawan yang tidak memikirkan dirinya
sendiri saja tetapi sadar akan tanggung jawab-nya kepada kesejahteraan bersama.
c. Rakyat banyak, umat yang mau bekerja keras penuh tanggung jawab sesuai keahlian, kemam-puan masing-masing.
d. Pemimpin yang bersikap adil kepada semua pihak tanpa kecuali :
Dalam nuansa yang serupa ulama juga meman- · du kita dengan tuturnya :
Terjemahan bebasnya, antara lain :
Dunia menjadi sedemikian indah laksana kebun, kalau 5 (lima) kelompok sating memerankan fungsi-nya yaitu:
1 . llmunya para ilmuwan 2. Sikap adilnya pemimpin
3. Doanya para anggota masyarakat 4. Kejujuran pedagang
5. Nasi hat para arif bijaksana.
Memperhatikan dua Sal>da Rasulullah SAW di atas kiranya dapat diambii kesimpulan, bahwa kalau negara Republik Indonesia ingin tetap jaya - aman makmur - nyaman, maka kelompok-kelompok ilmu-wan - hartailmu-wan - masyarakat dan pemimpin harus meneruskan fungsinya masing-masing dengan be-nar. Untuk menuju kesana maka adalah sangat stra-tegis kalau mereka dijadikan obyek sekaligus subyek dakwah.
C. TUGAS DAN FUNGS/ PENERANGAN AGAMA ISLAM
Dengan memperhatikan uraian di atas tugas
Penerangan Agama Islam, sebagai Leading Sector
Bimbingan Masyarakat Agama Islam, sungguh
sa-ngat berat, luas dan komplek. Penerangan Agama
Islam tidak mungkin sendiri. Pejabat dan pegawai
PENAIS harus mampu bertindak selaku fasilitator
sekaligus ketalisator dakwah Islam.
Management dakwah harus dapat
dikembang-kan dan diaktualisasidikembang-kan sesuai dengan
perkem-bangan masyarakat yang sedang berubah. Dan
se-tiap keputusan management bidang
dakwah/PE-NAIS, harus mampu mengakumulasikan segenap
potensi dan berdampak luas. Artinya mampu
men-dorong, memicu dan memacu peran serta umat
secara luas. Sehingga peran pejabat atau pegawai
Penerangan Agama bukan harus terjun sendiri, lalu
semua meninggalkan kantor meskipun memang
lebih afdal kalau pejabat atau pegawai PENAIS bisa
berdakwah.
Tugas DITPENAIS berdasar Keputusan Menteri
Agama N9mor : 6 Tahun 1979, adalah sebagaimana
dikemukakan dalam awal tulisan ini. Sedangkan
fungsinya dapat dibagi beberapa hal, yaitu aspek :
a.
Perencanaan
b.
Pelaksanaan
c.
Pembinaan
d. Penyediaan sarana dan prasarana (baik fisik
maupun non fisik) di bidang PENAIS
Sedangkan untuk menjalankan tugas dan fungsinya DITPENAIS terdiri dari :
a. Bagian Tata Usaha b. Subdit Penyuluhan
c. Subdit Pembinaan Lembaga Dakwah d. Subdit Siaran dan Tamaddun
e. Subdit Publikasi Dakwah
Bertumpu pada empat Subdit dan satu bagian Tata Usaha, Direktorat Penerangan Agama Islam menjalankan kiprahnya, dalam arena Bimbingan Masyarakat Islam agar suasana keberagamaan, keimanan dan ketaqwaan terwujud. Kesemuanya dalam satu tujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam Pelita VI upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia tersebut dilakukan melalui penanaman sikap kesalehan, keikhlasan beramal, ketangguhan, kesadaran, keuletan, etos kerja, pro-duktif, kepercayaan diri, sikap maju dan mandiri, d1siplin, bertanggung jawab, dan kesetiakawanan sosial.
Jelas tanpa metodologi yang tepat dan konsis-ten serta kebersamaan semua pihak, maka beban tugas pembangunan meningkatkan kualitas Sumber Daya Man usia terutama iman dan taqwa sulit dapat dicapai. Apalagi dalam era globalisasi dan derasnya arus infurmasi.
Ill. SUBYEK DAN OBYEK PENERANGAN AGAMA ISLAM A. SUBYEK
Yang dimaksud Subyek dalam kaitan Pene-rangan Agama Islam yaitu mereka para pelaku yang berkiprah dalam ajang/arena kegiatan Penerangan Agama Islam, baik secara formal karena memang menjadi tugas dan tanggung jawabnya maupun non formal karena merupakan panggilan hati murni dan kesadaran akan tanggung jawabnya terhadap aga-ma. Dalam kaitan ini dapat dibagi menjadi tiga ke-lompok utama, meskipun nantinya masing-masing kelompok dapat diurai lebih jauh keterlibatan serta peran sertanya.
1 . Kelompok Jajaran Departemen Agama
Kelompok ini menjadi leading sector, artinya merekalah yang paling bertanggung jawab terhadap tugas Penerangan Agama; terutama yang beragama Islam, dengan Penerangan Agama Islam. Mereka diangkat oleh pemerintah untuk bekerja dalam ladang pembangunan aga-ma. Bekerja di Departemen Agama yang tugas pokoknya adalah melaksanakan sebagian tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang agama.
Setiap pegawai Departemen Agama harus menampilkan dirinya dalam kiprah pembangun-an agama. Baik di Kpembangun-antor maupun di luar kpembangun-antor. Dalam dinas maupun luar din~s. Baik secara pribadi/sendiri-sendiri maupun kelompok. Ada-lah wajar dan sudah selayaknya kalau pegawai Departemen Agama dalam Masyarakat
dike-depankan dalam masalah-masalah keagamaan. Karena memang dituntut untuk itu. Meskipun kadang terjadi, karena masyarakat kurang bisa membedakan, pegawai Departemen Agama yang bukan beragama Islam diminta untuk ber-bicara tentang Islam. Dan konsekwensi logis juga di sementara daerah, kalau pejabat/pega-wai Departemen Agama harus senantiasa ber-kopiah, dan dikatakan tidak pantas kalau peja-bat/pegawai Departemen nonton bioskop. 2. Kelompok PNS/ABRI Yang Karena Tugasnya di
ladang garapan Agama.
Kelompok ini, adalah mereka yang bekerja di berbagai lembaga pemerintah maupun ABRI, juga BUMN - LPND dan lain sebagainya. Tugas pokok utamanya dari masing-masing Departe-men maupun non DeparteDeparte-men tersebut bukan pembangunan di bidang agama. Tetapi karena tuntutan lembaga dan tugas dari lembaga terse-but mereka diharuskan bertugas di bidang yang menggarap agama. Misalnya Binrohis - Pus-bintai/Disbintal ABRI - BAZIZ - Kantor Urusan Haji, Staf Urusan Haji dan lain sebagainya. Mereka bertugas sehari-hari di bidang gar~pan
yang relevansinya dengan agama sangat erat. Bagaimana mengaplikasikan urusan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari baik bagi pegawai itu sendiri maupun masyarakat luas dalam bentuk pelayanan dan bimbingan.
3. Kelompok Tenaga Kerja Masyarakat.
dan banyak baik terorganisir ataupun individual. Mereka bekerja di bidang dakwah semata-mata karena panggilan jiwa, hati nurani dan karena tanggung jawabnya terhadap agama.
Mereka yang tampil secara pribadi antara lain: Ustadz, Mubaligh/Mubalighat, Chatib, Ulama, dan juga perseorangan yang punya kemitraan dalam pembangunan agama, baik secara for-mal maupun non forfor-mal. Hal ini terpanggil oleh ajaran Rasulullah agar kita menyampaikan apa yang ada pada kita tentang agama kepada orang lain.
Yang terorganisir adalah terdiri dari organisasi kemasyarakatan Islam yang sudah ada sejak lama dan relatif besar seperti NU- Muhammadi-yah, AI Washliah, Perti, dan lain sebagainya yaitu organisasi yang diatur berdasar UU Nomor 8 Tahun 1985.
Juga ada LSM (lembaga Swadaya Masyarakat) yang lslami yang bergerak di bidang pendidikan antara lain dalam bentuk sekolah dan pondok pesantren yang tersebar luas di seluruh tanah air.
Juga terdapat Majlis Taklim (tempat-tempat pengajian baik bagi kaum Bapak, kaum ibu, remaja dan lain sebagainya di kampus-kampus universitas, sekolah dan lain sebagainya). Ke-kuatan kelompok ketiga ini sangat luar biasa, bekerja tanpa pamrih dan dinamis. Tak terga~
tung pada pemerintah dan umumnya mandiri. Kalau ketiga kelompok ini saling bahu membahu
dan bekerja sama, untuk bergerak di bidang penerangan agama/dakwah agama, sesuai de-ngan potensi serta tugas tanggung dan jawabn-ya masing-masing sebagai pelaku pemba-ngunan agama, pemerintah dan masyarakat, maka insya Allah pembangunan Agama terutama kiprah penerangan agama akan sukses.
B. TIGA KELOMPOK SUBYEK
Kalau dianalisis lebih lanjut dari ketiga kelompok pelaku pembangunan di bidang agama maka dapat dikualifikasikan menjadi tiga U (Uiama, Umara, Umat).
1. Ulama
Ulama dapat diartikan orang yang ahli dalam agama Islam. Dalam hal ini disetir oleh ulama :
Ulama itu pewaris para Nabi
Oleh karena Nabi pada umumnya adalah seba-gai utusan Allah SWT dalam kaitan agama, maka pewarisnyapun juga dalam kaitan agama juga.
Ada lagi pengertian umum, tentang Ulama ini yaitu orang yang berilmu, atau ilmuwan. Mereka yang banyak berilmu dalam bidang tertentu. Para Ulama ini dituntut untuk mengajarkan ilmu-nya bagi orang bailmu-nyak, bagi umat. Kepadailmu-nya
umat bertanya tentang agama, bahkan tentang makna hidup dan kehidupan. Apalagi ulama yang penuh kesejukan dan keteduhan dalam menyampaikan dakwahnya serta penuh kharis-ma dan daya pikat mengajak ukharis-mat ke jalan yang diridhoinya.
Ulama-ulama pada masa lalu sering ditandai dengan pemilikan karmah, maunah dan kele-bihan lain. Hal ini menyebabkan kharisma Kiai/ Ulama semakin kuat yang berakibat pula se-makin kokohnya wibawa ulama. Selain itu beberapa tokoh ulama mempunyai kebiasaan yang khas, selain ilmu agama, dalam juga ilmu duniawinya seperti silat, Kon Tauw/Kontow, ke-kebalan, bahkan mampu memberi tuah kepada barang-barang tertentu seperti keris, bambu runcing, tombak dan lain sebagainya.
Dengan demikian maka ulama mampu tampil sebagai subyek penerangan agama/dakwah lengkap baik dengan ilmunya maupun dengan kemampuan lainnya, yang penuh kharisma dan wibawa.
2. Umara
Umara yang dimaksud adalah pemimpin. Baik pemimpin pada strata nasional, lokal maupun yang lebih kecil lagi. Namun pemimpin disini dalam arti pemimpin formal. Dari Presiden, Men-teri, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, sampai RW dan RT dengan segala eselonnya.
Umara sebagai pemimpin formal, harus tampil membina masyarakat, memberikan arahan,
motivasi dan dorongan agar warga masyarakat mau mengikuti ajakannya, untuk membangun di segala bidang. Tak terkecuali bidang agama. Oleh karena itu umara pun harus tampil sebagai dai yang senantiasa mengajak masyarakat. Apalagi pengalaman membuktikan bahwa beberapa program pemerintah dapat berhasil dengan baik kalau program tertentu dilaksana-kan melalui pendekatan agama. Misalnya Ke-luarga Berencana, Pajak, Perbaikan Gizi, Air Susu lbu (ASI), Kependudukan, Lingkungan Hidup, dlsb.
Maka agar upaya mengajak masyarakat lebih efektif perlu dipakai bahasa Agama. Oleh sebab itu para Umara dituntut untuk menyampaikan dengan bahasa agama. Ucapan salam, Alham-dulillah, insya Allah, dlsb yang diucapkan oleh para Umara, juga sudah berarti dakwah, apalagi kalau diiringi dengan ayat-ayat AI-Qur'an atau hadits-hadits yang relevan dengan ajakannya untuk membangun di segala bidang.
3. Umat
Umatpun harus berdakwah. Berperan serta da-lam setiap kegiatan keagamaan. Setiap muslim berkewajiban menyampaikan kepada umat yang lain apa yang diketahui dari agamanya. Meski yang diketahui itu sedikit. Saling berpesan ter-hadap segala sesuatu hal yang benar. Saling in gat mengingatkan dan saling sadar menyadar-kan. Agar setiap muslim bisa terjaga dari hal-hal yang tidak baik. Terpelihara iman lslamnya. Terpelihara harkat dan martabatnya sebagai
manusia.
Demikian pula saling berpesan akan kesabaran. Sabar dalam menjalankan ketaatan terhadap Allah SWT, sa bar dalam perjuangan demi tegak-nya amal Islam dan prinsip keimanan. Sabar dalam menghadapi cobaan serta ujian dari Allah SWT. Umat harus melaksanakan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Mendorong kepada kebaikan dan mencegah segala sesuatu yang merusak. Baik merusak moral masyarakat, merusak tatanan, merusak akhlak dan merusak sopan santun, dan sebagainya.
Kalau setiap pribadi umat Islam sudah meme-rankan tugas dan fungsinya dalam a mar ma'ruf dan nahi munkar, kepedulian lingkungan, te-tangga, sanak kerabat dan bahkan sesama, maka masyarakat muslim akan segera terwujud. Masyarakat yang penuh ketenangan, keten-teraman, aman damai penuh karunia dan rah-mat llahi serta ampunannya. Baldatun thayyi-batun wa rabbun ghafur.
C. TIGA KELOMPOK OBYEK
Pada dasarnya ketiga kelompok subyek pemba-ngunan bidang agama atau pelaku penerangan aga-ma, juga menjadi obyek/sasaran dakwah dan pene-rangan Agama. Karena pada hakekatnya dakwah dan penerangan agama berfungsi timbal balik. Pada satu saat tampil sebagai juru penerang/juru dakwah, pada kesempatan lain tampil sebagai orang yang didakwahi. Hal ini dikarenakan tidak ada orang yang sempurna dalam pemilikan ilmu pengetahuan. Jelas-nya tidak ada orang yang sempurna.
1. Ulama
Ulama perlu juga menerima dakwah dari berua-gai pihak mengenai berbaberua-gai pengetahuan. a. llmu pengetahuan den teknologi, agar
dakwah agamanya lebih komplit serta mengenai sasaran.
b. Peraturan-peraturan perundangan yang berlaku, agar ulama tidak ketinggalan da-lam pengetahuan perundangan. Mampu melaksanakan peraturan perundangan bahkan mampu menerangkan peraturan perundangan tersebut dan yang terpenting tidak melanggar undang-undang atau peraturan-peraturan yang berlaku.
c. llmu Perbandingan Agama
Ulama perlu dibekali ilmu perbandingan agama, agar memiliki pengetahuan yang luas tentang doktrin agama lain sehingga mampu membandingkan berbagai ajaran agama. Pengetahuan yang luas akan per-bandingan agama, akan membuat ulama semakin mantap dan matang dalam meya-kini prinsip ajaran agamanya .. Semakin luas dan luvves dalam mengaplikasikan dakwah-nya.
d. llmu Perbandingan Madzhab
Ulama perlu juga didakwahi tentang ilmu perbandingan madzhab. Perbedaan pan-dangan yang ada pada pendapat-pendapat madzhab yang berbeda-beda, akan me-nambah wawasan ulama tidak hanya
mengetahui akan kebenaran madzhab yang dianutnya saja. Tetapi mampu dan mau me-nerima perbedaan pandangan karena ada-nya perbedaan madzhab. Toleransi (tasa-muh) dan setuju dalam perbedaan adalah dasar untuk kesatuan dan persatuan. Hal ini memang dimungkinkan dalam Islam. Karena perbedaan pendapat adalah rahmat, menurut Rasulullah SAW.
e. llmu Psikologi
Agar ulama dalam berdakwah tepat sasaran, tema dan materi dakwah cocok dengan audience maka ilmu psikologi perlu dimiliki. Hal ini mengingat pula betapa be-ragamnya obyek dakwah dari tingkat ren-dah dan menengah sampai tinggi. Dari ma-syarakat desa, kota, kota besar, kota met-ropolitan dan bahkan kota kosmo-politan.
f. llmu Sosiologi
Berhadapan dengan massa dengan ber-bagai type dan strata sosial yang beraneka ragam maka perlu ulama memiliki bekal ilmu sosiologi. Struktur sosial, adat istiadat, budaya daerah dan perilaku sosial lainnya merupakan kenyataan yang harus dihadapi. Kita menyadari bahwa Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai ras, suku, agama, bu-daya yang mengakibatkan berbeda perilaku sosialnya. Dalam pola itu Ulama dituntut oleh masyarakat menjadi tauladan. Ucapan-nya didengar, perilakukUcapan-nya diteladani. Oleh
karena itu ulama dituntut tidak melakukan pelanggaran norma-norma sosial yang ada. g. llmu lainnya.
llmu yang dapat mendukung keberhasilan dakwah.
2. Umara
Umara sebagai pemimpin formal dari masyara-kat, berfungsi sentral dalam pembinaan umat. Sebagai pemimpin formal maka para Umara sangat sering berhadapan langsung maupun tidak langsung dengan umat atau masyarakat. Mengingat masyarakat bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam, maka kalau ingin berkomunikasi secara efektif harus mempertim-bangkan latar belakang kultur/budaya agama Islam. Semakin dalam pengetahuan agama Islam seorang pemimpin formal akan semakin berhasil mengajak masyarakat untuk berpar-tisipasi dalam pembangunan mana kala pandai menjelaskan program dengan bahasa agama. Namun kenyataannya, para Umara yang ke-banyakan berlatar belakang pendidikan umum, kurang dalam ilmu agamanya. Oleh karena itu Umara harus diberi penerangan masalah aga-ma. Berkenaan dengan itu, maka kesadaran untuk menimba ilmu, akan sangat bermanf2at untuk mendukung tugas jabatan.
Gagasan J,Jembangunan akan lebih mudah dite-rima dengan pendekatan-pendekatan agama. Penerangan masalah-masalah sosial kerakatan akan lebih mudah diresapi oleh
masya-rakat kalau mempergunakan bahasa aga-ma, seperti soal pergaulan, hubungan eko-nomi, perdagangan, keluarga berencana, pertanian, lingkungan hid up, rumah tangga, hubungan antar masyarakat, antar suku bahkan antar bangsa.
3. Umat
Pengamanan dan pengawalan iman umat Islam, menjadi tanggung jawab bersama. Maju mundurnya iman umat Islam tidak bisa diang-gap tanggung jawab Pemerintah semata. I man umat harus terus dibina agar tetap kokoh kuat, iman yang kokoh akan berbuah sikap taq-wa, yaitu siap melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan yang telah di atur oleh agama, dengan kesadaran yang timbul dari hati nuraninya.
Kekokohan iman umat, harus dijaga bahkan dibina agar umat semakin mantap keimanan-nya. Seiring dengan itu perlu dijaga kerukunan intern dan antar umat beragama.
Sering terjadi kekokohan iman berdampak exstrimitas, kalau tidak dibarengi dengan ke-luasan pandangan, keke-luasan wawasan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Kondisi keimanan umat dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : kurang, sedany dan kuat. Artinya:
a. Kurang kadar keimanan dan ketaqwaannya. b. Sedang kadar keimanan dan
c. Kuat kadar keimanan dan ketaqwaannya. Pengertian kadar keimanan dan ketaqwaar\ ialah sikap hid up seseorang yang tercermin da-lam cipta karsa dan rasa. Atau laku da-lampah kesehariannya baik dalam ucapan maupun tindakannya mencerminkan orang yang beriman dan bertaqwa. Misalnya shalat, apakah penga-malan shalatnya konsisten dan apakah sekali-sekali saja atau malah dua kali dalam satu tahun, shalat hari raya ldul Fitri dan ldul Adha. Demi-kian pula puasanya, zakatnya dan ibadah haji-nya. Begitu pula pola sikap keimanan sebagai manifestasi dari penghayatan rukun iman yang 6 tercermin dalam sikap perilaku kesehariannya. Dari uraian tersebut dapat dirinci lebih lanjut sebagai berikut :
a. Kurang kadar keimanan dan ketaqwaan. Perilaku yang tercermin dalam cipta-karsa dan rasanya-kurang mencerminkan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa. Misalnya, dia mengaku beragama Islam tetapi tidak shalat, tidak puasa, tidak mau bayar zakat - apalagi haji. Kelompok ini se-ring disebut Islam KTP. (Kartu Tanda Pen-duduk); atau juga kalau mereka menganut falsafah lain seperti kepercayaan misalnya yang sering disebut Islam abangan. Kelompok ini adalah kelompok rawan yang sering menjadi sasaran penyebaran agama lain. Dengan kondisi miskin iman dan mis-kin oman/harta, menjadi sangat rawan dan
rentan penggarapan agama lain. Ucapan klise pembagian beras dan gula sebagai perayu untuk pindah agama sering kita dengar.
b. Sedang kadar keimanan dan ketaqwaan. Perilakunya yang tercermin dalam cipta, rasa dan karsa menunjukkan tingkat yang sedang kadar keimanan dan ketaqwaan-nya. Perilaku ini ditampakkan dalam pe-ngamalan keagamaannya. Shalat dilaku-kan, namun kurang konsisten. Demikian pula puasa dan zakatnya. Pengamalan ibadahnya tergantung situasi dan kondisi. Secara umum dia melakukan ibadah, hanya saja kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Bobot pengamalan agamanya dapat dika-'takan sekadar menjalankan ritual formal,
kurang penghayatan nilai-nilainya.
Kelompok ini juga sering jadi sasaran agresi agama lain. Dengan berbagai cara pe-nganut agama lain mencoba menclobrak pintu iman mereka, kemudian mempe-ngaruhi, berusaha menguasai dan kalau ada tanda-tanda kelemahan mulai meng-intervensi.
Kalau kelompok ini terdiri dari orang-orang dhuafa' mak acara klasik kembali diterapkan dengan membagi-bagi beras dan gula, diberi pinjaman apa yang diperlukan kemudian ditarik untuk masuk agama mereka.
c. Kuat kadar keimanan dan ketaqwaan. Tercermin dalam konsistensi dan intensitas pengamalan agamanya. Pengamalan aga-ma didasari ilmu pengetahuan agaaga-ma yang mendalam.
Kelompok ini kokoh dalam pend irian, mam-pu membentengi iman dengan baik, bahkan mencoba menyebarkan keyakinannya kepada yang lain.
Pembagian tiga kelompok tersebut dida-sarkan kepada gejala lahir. Artinya feno-mena yang dapat diamati secara nyata, bu-kan dari hal-hal yang abstrak. Karena iman p.ada hakekatnya bersirfat abstrak, maka pendekatan yang abstrak ini perlu dilaku-kan, akan tetapi sangat sulit. Apa lagi iman itu mempunyai trend, kadang bertambah kadang berkurang, sebagaimana sabda Rasulullah saw.
• _..,. ~ .. J...,) • ..,J
.·,u
S't
~ .. .., -- lj-.. '-' -"I man itu dapat bertambah dan berkurang." Karenanya kita tidak mempunyai kompe-tensi untuk menganalisa dari gejala yang abstrak ini.
IV.
PERAN SERTA UMAT DAN SASARAN GARAPAN1 . Untuk mengerahkan peran serta umat dalam ke-giatan penerangan agama dapat ditempuh jalan yang efektif yaitu Tabligh Akbar. Karena Tabligh Akbar merupakan tempat bertemunya tiga kompo-nen: ulama, umara dan umat.
Tabligh Akbar dapat digelar oleh aparat Pemda (Umara) dalam mengajak ulama dan umat. Atau atas inisiatif ulama, mengajak umara dan umat. Boleh jadi atas inisiatif umat mengajak umara dan ulama.
Namun yang lebih efektif kalau umara yang punya inisiatif, maka umat akan dengan senang hati berpartisipasi, demikian juga ulama.
Umara dalam kegiatan tersebut dapat menyam-paikan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sedang berjalan atau akan dilaksanakan, seperti kebijak-sanaan tentang pembangunan berbagai bidang yang menyangkut lpoleksosbud Hankam, secara lang-sung kepada umat. Sebaliknya umat mendapat infor-masi dari tangan pertama yaitu umara; sehingga tidak terjadi keragu-raguan atau kesalahpahaman. Sebaliknya juga umat bisa meminta penjelasan terutama terhadap kebijaksanaan yang sedang berjalan. Sehingga informasi yang didapatkan akan memacu kepercayaan kepada pemerintah. Demikian pula ulama, dapat menyampaikan dakwah agama, atau pandangan-pandangan dari sudut agama terhadap segala sesuatu yang menjadi kebijaksa-naan Pemerintah. lJiama bisa meluruskan kebijak-sanaan yang menyimpang dari jalur agama.
Pendek kata pertemuan tiga U akan sangat efektif apabila benar-benar dikelola dengan semangat kesepadanan, karena masing-masing unsur akan dapat menerima manfaat.
Dikatakan kesepadanan, karena pada hakekatnya tiga unsur tersebut setara dalam kepentingan;
masing-masing punya kepentingan yang seimbang. Umara tidak akan ada kalau tidak ada Ulama dan Umat. Umat memerlukan Umara dan Ulama. Ulama tanpa Umat dan Umara seperti singa tanpa hutan, kurang wibawa, kurang berguna.
2. Sasaran
Dari kelompok obyek garapan penerangan agama yang pangsanya sangat luas, kompleks dan multi demensional, karena masyarakat terdiri dari berbagai tingkat pendidikan, status sosial, tempat tinggal, status ekonomi dsb, maka diperlukan adanya pem-bedaan-pembedaan/klasifikasi untuk memudahkan penggarapan, misalnya :
a. Masyarakat mahasiswa (kampus) b. Masyarakat sekolah
c. Masyarakat Daerah Pedesaan d. Masyarakat Daerah lndustri
e. Masyarakat Daerah Perkotaan/Urban f. Masyarakat Daerah Transmigrasi g. Masyarakat Daerah Terasing/Terpencil h. Masyarakat Jalanan/homosex, pelacur i. Masyarakat Lembaga Pemasyarakatan/Rutan j. Masyarakat Nelayan
k. 011.
Dengan adanya pengelompokan obvek dakwah dan penerangan Agama ini akan mempermudah terca-painya tujuan. Namun demikian berakibat pula akan adanya sedikit perbedaan adalam metode dakwah,
karena harus disesuaikan dengan kondisi sasaran. lni memerlukan telaahan dan kajian, yang dituang-kan dalam buku-buku petunjuk. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib telah bertutur :
"Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan nalarnya."
3. Pengajian Umum
Dalam sasaran penerangan agama terdapat kegiatan yang disebut pengajian umum. Karena pesertanya umum, tidak terbatas pada satu strata atau kelom-pok. Materi yang diberikan, juga biasanya bersifat umum. Pengajian-pengajian seperti ini biasanya dikaitkan dengan hari-hari besar Islam, misalnya lsra Mi'raj, Nuzulul Qur'an Maulid Nabi Muhammad SAW, 1 Muharram dsb. Pembicaranya biasanya lebih dari satu.
4. Pengajian Kelompok
Sasaran dakwah/Penerangan Agama Islam pada ke-lompok tertentu yang lebih spesifik, bahkan terka-dang eksklusif juga banyak dilakukan. Organisasi keagamaan atau kelompok-kelompok tertentu baik berbentuk yayasan atau perseorangan mendirikan/ menyelenggarakan dakwa!l kepada masyarakat pada strata tertentu. Kajian yang dipilihkan biasanya kajian keagamaan dengan pendekatan ilmiah. Berbagai disiplin llmu yang relevan digunakan dalam mengkaji terhadap topik bahasan keagamaan.
5. lbadah Shalat Jum'at
Dakwah agama melalui shalat Jum'at sangat efektif, murah dan efisien. Para jamaah tidak perlu diundang/ pakai undangan khusus dan tidak perlu memakai kursi, tidak perlu snack, bahkan tidak perlu protoko-ler. Jamaah datang dengan ikhlas atau kesadaran sendiri berbondong-bondong dari berbagai penjuru. Semua satu tujuan, untuk ibadah shalat Jum' at dan mendengarkan khotbah. Khotbah Jum'at yang ·merupakan bag ian dari shalat Jum' at, mempunyai posisi yang sangat strategis. Siapapun yang shalat Jum'at wajib mendengarkan khotbah. Kalau tidak mendengarkan khotbah Jum'at, dianggap tidak shalat Jum' at.
Karenanya memanfaatkan moment khotbah Jum'at untuk dakwah/penerangan agama Islam sangat efektif. Khotbah Jum'at diatur dengan syarat dan rukun. Karenanya syarat dan rukun khotbah harus terpenuhi. Khotbah Jum'at yang pendek, berbobot penuh dengan pesan taqwa menyadarkan umat untuk meningkatkan iman dan taqwa.
Karena shalat Jum'at, shalat berjamaah mingguan, di mana berkumpul masyarakat dan berbagai lapisan: pegawai negeri, pedagang, pegawai swasta dlsb, maka khatib harus memperhatikan waktunya dalam berkhotbah.
Khotbah yang efektif sekitar 20 menit untuk khotbah pertama, lima menit untuk khotbah kedua.
Khatib berkhotbah dengan penuh adab sopan san-tun: cara berpakaian, ucapan, mimik dan prilakunya. Khotbah Jum' at sebaiknya lebih pendek dari shalat Jum'atnya.
6. Pengajian Keluarga
Keluarga adalah basis terkecil dari masyarakat. Kalau masing-masing Keluarga Muslim membuat tradisi dakwah pengajian dalam keluarganya, akan sangat efektif membina iman dan taqwa.
Pengajian keluarga dapat dipergunakan untuk mem-bina hubungan antar anggota keluarganya, meme-cahkan masalah keluarganya yang timbul dengan bahasan agama dan membina kehangatan hu-bungan antar semua anggota keluarga.
Pengajian keluarga bisa dipimpin oleh kepala ke-luarganya atau lbu keluarga, atau siapa saja anggota keluarganya yang mampu, ataupun bisa didatangkan dari luar.
Topik bahasan bisa disesuaikan dengan kepentingan yang aktual atau bisa rutin- berupa tak'lim AI Our' an - hadits.
Pengajian keluarga ini sangat efektif untuk membina keluarga sakinah, mawwaddah wa rahmah. Ke-luarga yang tenteram penuh kasih dan sayang se-sama anggota keluarga. Sehingga pengajian ke-luarga bisa juga disebut Pengajian SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH.
V. PENUTUP
Dalam melaksanakan penerangan Agama Islam dengan garapan yang begitu kompleks dan luas, aparat penerangan tidak akan mampu bekerja sendiri. Kalaupun semua pegawai jajaran penerangan agama Islam turun
sebagai juru penerang agama Islam, hasilnya tidak akan maksimal.
Oleh karena itu, peran serta semua pihak untuk penerangan agama sangat diperlukan. Direktorat Agama Islam sebagai lembaga resmi berkewajiban memberi makna dan petunjuk kepada para pelaku dakwah dan masyarakat luas.
w
N
m
II
POLA PENDAYAGUNAAN APARATUR/PETUGAS BIDANG KEAGAMAAN ISLAM DALAM DAKWAH PEMBANGUNAN
I
MATERI DAKWAHI
SA!._.:;AI~AN Kf<>IAfAN PIIAHII \ \ PILAR Ill \ I
I'II~AN ~,_,_
snnA 2 Penga11an
Eksekut1f Umara 3 Majehs Takhm
4 lbadah Shalat IJiarna Jum'at - Umat 5. Per~ngatan Hari-Han Besar Islam 6 Kelompok Masyarakat 7. Keluarga