a
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
BelakangMasalah
Hak Asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk
TuhanYang Maha
Esa, yang dianugerahiakal
budi
dan nurani yang
mernberikan kemampuan untuk membedakan yangbaik
danburuk
yang
akan memberikan kemampuanuntuk
membedakanperilaku
dalam menjalani setiap kehidupannya.Akal
budi
dan
nurani
tersebut
maka
manusia
memiliki
kebebasan untukmemutuskan
sendiri perilaku atau
perbuatannya,untuk
mengimbangi kebebasantersebut manusia
memiliki
kemampuanuntuk
bertanggungjawab
atas semuatindakan yang
dilakukannya. Kebebasan dan hak-hak dasaritulah
yang
disebutHak
Asasi
Manusia.Hak
tersebut merupakan anugerahdari
TuhanYang Maha
Esd, melekat secarakodrati
dan tidak dapatdiingkari
dalam pemenuhannya. Pengingkaran terhadap hak tersebut berarti pengingkaran terhadap martabat kemanusiaan, maka dariitu
setiap negaradi
duniawajib
mengakui dan melindungi hak asasi manusia tanpa terkecuali.Dalam upaya pemenuhan kewajiban tersebut negara-negara
di
dunia mulai merencanakan pembentukan peraturan yang berlaku secara universalterkait
pemberianjaminan
hak
asasi manusia. Perwujudandari
jaminana
Declaration
ofHuman
Rights) dan Kovenan InternasionalHak-Hak Sipil
dan
Politik
Qnternasional Covenanton
Civil
andPolitical
Rights)yang
merupakan dua instrumen hak asasi manusia yang secara eksplisit menolak dilaksanakannya pidana mati.
Pasal
3
Deklarasi UniversalHAM
(UniversalDeclaration of
Human Rights) menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kehidupan kebebasandan
keselamatan sebagaiindividu.
Ketentuan tersebut dipertegas dalamPasal
6
ayat
(l)
Kovenan
lnternasional
Hak Sipil
dan
Politik
yang mengatur hak untuk hidup, mendapat hak perlindungan hukum serta tiadayang
dapat
mencabut
hak
tersebut.
Ketentuan
lain
yang
berupaya menghapus hukumanmati juga
terletak
padaProtocol
II
dari
Kovenan lntemasionalHak-Hak
Sipil
danPolitik
(The Second OptionalProtocol
ti
theInternasional
Covenanton Civil
andPolitical
Rights)yang bertujuan untuk menghapuskan secara total hukumanmati
sebagai salah satu sanksi dalam hukum pidana tidak lagimemiliki
legitimasidi
dalam sistem hukum pidana yang berlakubagi
negara-negara yang telah meratifikasi Kovenanhak-hak
sipil
dan
politik.
Munculnyu
t.a,ru
instrumen
internasional tersebut menjadikan semangat dan jaminan Hak Asasi Manusia untukikut
diratifikasi oleh
Indonesia yangingin
di
terapkan terhadap setiap warga negaranya.Hal
tersebut tertuang
dalam
AmandemenKedua
Undang-Undang DasarTahun 1945
dan Undang-UndangNomor 39 Tahun
1999 tentangHak Asasi
Manusia. KetentuanUUD
1945ini
dikaitkan
dengan Undang-UndangNomor 39
Tahun 1999 menyatakan setiap orang berhakhidup didalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman dan
tentram
serta menghormati,melindungi, dan
melaksanakan sepenuhnyaHAM
dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur didalam Undang-undang tersebut, dengan demikianUUD
1945 dan Undang-UndangNomor
39 Tahun 1999 merupakan payung
dari
seluruh peraturan undang-undang tentangHAM.
Dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik
Indonesia Tahun 1945 yang mengutipPasal28
A
menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak untuk mernpertahankan hidup dan kehidupannya dengan demikian hakhidup
adalahhak
yang tidakdapat
dikurangi dalam
keadaan
apa
pun (non
derogable rights).rPasal28I
ayat
(1)
UUD
1945
menegaskanbahwa
hak untuk hidup (therights
tolife),
bersama dengan sejumlahkecil
hak asasi lainnya(limitatifl
adalah hak asasi manusia yangtidak
dapatdikurangi,
dengan
lahirnya
Pasal tersebut
seharusnya menjadi tonggak kernatian bagi hukuman matidi
Indonesia.2Pada dasarnya
untuk
menangkapnilai
atau makna yang terkandungtersebut
belum
juga
tercapai
serta
belum
terlaksananya secara utuh, perdebatanini
masih terus
berlangsung danhukuman
mati
masih jugaterus
dijatuhkan.Menurut
Hans Kelsen "kaedah hukum
mempunyai kekuatan berlaku apabila menetapkannya didasari atas kaedah yang lebihtinggi
tingkatannya".3Suatu kaedah hukum yang merupakan sistem kaedah secaraHirarki
di
dalam norrna
dasar terdapat dasarberlakunya
semua kaedahyang
berasal
dari
satu
tata hukum,
dengandemikian
seluruh peraturan-peraturanhukum
yang berlaku
di
Indonesia
tidak
bolehtPenghapusan
Pidana
Mati
Menuntut
SejumlahPerubahan
Undang-(Jndang, http :/www. solusihukum.com2Putosan
Nomor 2-3/PUU-V12007 tentang Pengujian Materiil UUD 1945, hlm. 8
3Davit Rahmadan, 2010, Pidana Mati Dari
Sudur Pandang Hak Asasi Manusia, edisi
l,
4
bertentangan dengan undang-undang yang lebih
tinggi
tingkatannya. Pada Undang-UndangNomor
12 Tahun2011
Pasal7
MengenaiTata
Urutan Peraturan Perundang-undangan menegaskan bahwadi
Indonesia tingkatan peraturan perundang-undangan yang tertingglitu
adalahUUD
1945.Pidana
mati
sebagaimanadiatur dalam Pasal
10 Kitab
Undang-Undang Hukum
Pidana
yang masih
merupakan
produk hukum
dari pemerintahankolonial
Belanda dankitab
Undang-UndangHukum
Pidana sudahtidak
di
pakailagi
di
Belanda pada saatini,
karena sudahtidak
lagi cocok untuk keadaan masyarakat pada jaman sekarangini
dan menghapus pidanamati
dalam hukum pidana yang diatur.aPidanamati
masih berlakudi
Indonesia sehingga banyak peraturan perundang-undangan yang saling bertentangan. Berpedoman pada asashukum
yang merupakan jatungnyahukum maka menurut
asasLex
SuperiorDerogat
Legi Inferiori,
kalauterjadi
permasalah art antara peraturan perundang-undangan yang berbeda tingkatannya makatingkatan
yanglebih tinggilah
yangberlaku,
dengan demikian apabila terjadi pertentangan antara undang-undang yang berlakudi
Indonesia mengenai pidanamati
makayang menjadi
acuan landasanhukum
tertinggi
adalah Undang-Undang DasarTahun
1945, karenaitu
jelaslah
Kitab
Undang-UndangHukum
Pidana
seharusnyatidak
bolehbertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Berdasarkan
data
yang
di
eksekusimati
tahap
I
dengan enam terpidanamati
yang telah
dieksekusimati
di
Nusa
Kambangan, Cilacap danBoyolali
Jawa Tengah,yang sebagaian besar terpidanaoAndi
Hamrah, Sumangelipl, Pidana Mati Di Indonesia Di Masa Lalu, Kini dan Dimasa
mati
tersebut adalahWarga
NegaraAsing untuk
kasus narkoba seperti Namaona Denis(Malawi), Marco Archer
Cardoso Mareira(Brazil), Daniel
Ememia(Nigeria),
Ang
Kim
Soei yang
belumdiketahui
kewarganegaraanrya,Tran
Thi
Bich
Hanh
(Vietnam)yang telah
mengajukan permohonangrasi
namun
ditolak
padatanggal
30
Desember2014.
Selanjunya eksekusimati
juga
di
lanjutkan pada tahap
II
yangjuga
sebagian besar terpidanamati
adalah
warga
negaraasing
sepertiAndrew
Chan (warga
negara Aushalia), Myuran Sukumaran (Australia), Raheem Agbaje Salami(Nigeria), Rodrigo Gularte
(Brazil),
Silvester Obiekwe Nwaolise aliasMustofa (Nigeria),
Martin
Anderson aliasBelo
(Ghana) danOkwudili
Oyatanze
(Nlgeria)
dan
masih banyak
lagi
yang
menunggu eksekusi mati.)
Pada dasarnya tujuan penjatuhan pidana
mati
adalahuntuk
memperbaiki pelaku kalau memang hanya bertujuan untuk memperbaiki, tentulahtidak
ada tempat bagi pidana mati.6Adapun pendapat menurut Roger Hood adalah gegabah
bila
menerima bahwa hukumanmati
atas pembunuhan menghasilkan efekjera
yangjauh
lebih
besar daripada yang dihasilkan oleh hukuman yang dianggaplebih
ringan,
yakni
hukuman penj ara seumur hidup. TBerdasarkan permasalahan tersebutlah yang melatar belakangi peneliti untuk mengkaji dan membahas lebih lanjut, maka penulis mengangkatjudul
skripsi mengenai:"
Perspektif
HAM
Dalam Penjatuhan Pidana
Mati
Warga
NegaraAsing
Sebagai PelakuTindak
PidanaNarkotika Di
Indonesia"
shttp:l
lm.galamedianews.com/nasional/833
6/ini-dia-terpidana-mati-gelombang-ii-yang-segera-dieksekusi.html ,Terpidana Mati Gelombang II, diakses pada tanggal 30 Januari 2015
pukul 14.40
6Andi Hamzah, Sumangelipu, Op.Cit, hlm.
14.
'Todung mulia Lubis
&
Alexander Lay, Kontroversi Hukuman Mati Perbedaan PendapalB.
RumusanMasalah
Berdasarkan
Latar
Belakang Masalah
yang telah diuraikan
diatas,
maka penulis dapatmerumuskan masalah sebagaiberikut
:Apakah
penjatuhan pidanamati
tindak
pidananarkotika
di
Indonesia terhadap Warga NegaraAsing (WNA)
dibenarkanjika
dilihat
dari
perspektifHak
Asasi Manusia(HAMX
C.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
dari
Rumusan Masalah yang dikemukakan diatas maka tujuan penelitianini
menguraikan tentang apayarrg akan dicapai oleh penulis yaitu untuk mengetahui penjatuhan pidana mati tindak pidana narkotikadi
tndonesia terhadap Warga NegaraAsing
dibenarkan atau tidakjika
dilihat
dari perspektifHak
Asasi Manusia(HAM).
D.
Manfaat
Penelitian
Melalui
penelitian yang dilakukanini
diharapkan dapat mernpunyai manfaat sebagaiberikut
:1.
Manfaat TeoritisMelalui
Penelitian
ini
diharapkan
dapat memberikan
kontribusi
dan sumbanganpanikiran bagi
perkembanganilmu
hukum
pidana
khususnya berhubungan tentang penjatuhan pidanamati
terhadap warga negara asing di Indonesia.2.
Manfaat PraktisBagi
Penulis,untuk
mengembangkan kepekaan terhadap fenomenayang
terjadi
di
dalam masyarakat danlingkungan
sekitar terhadap penjatuhan pidana mati khususnya terhadap warga negara asing sebagai pelakutindak
pidana narkotika
jika
dilihat
dari perspektif hak asasi manusia.Bagi
Pemerintahdan Aparat
PenegakHukum,
sebagai masukan bagipemerintah
serta
aparat penegak
hukum
sebelum
mengambil
setiapkebijakan
untuk
menuntut
dan
menjatuhkan
hukuman pidana
mati
terhadap warga negara asing yang melakukan tidak pidana narkotika.
c.
Bagt
Masyarakat,
sebagai
referensi
yang
berkaitan dengan
kajian penjatuhanpidana
mati
terhadapwarga
negara asingjika
dilihat
dari perspektifHAM.
E.
Keaslian Penelitian
Dengan
ini
Penulis
menyatakanbahwa
penulisan
hukum/skripsi ini
merupakan
karya.asli
bukan plagiasi
ataumenduplikasi
karya
orang
lain. Kekhususan dalam penelitianini
sesuai dengan rumusan dan tujuan penelitian tentang penjatuhan pidanamati
tindak pidana narkotikadi
lndonesia terhadap Warga NegaraAsing
dibenarkan atautidak
jika
dilihat
dari perspektif
HakAsasi Manusia
(HAM).
Memang ada hasil penelitian
lain
yang
sedikitberkaitan
denganpenulisan
hukum
ini.
Hal
ini
dapat
dibuktikan
dengan melihat hasil penelitian dari penulis lainyaitu
:a.
l.
JudulDasar Pertimbangan
Hakim
Dalam
Menjatuhkan PidanaMati
Terhadap Pelaku Tindak PidanaNarkotika
a.
Identitas PenulisNama
kwan Midian
Manurung100510400
Ilmu
HukumPeradilan
dan
Penyelesaian
Sengketa HukumFakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta
b.
Rumusan Masalah1)
Apa
dasar pertimbanganhakim
dalam menjatuhkan putusan pidana mati terhadap pelaku tindak pidana narkotika?2)
Apakah
pidanamati
yang dijatuhkan oleh
hakim
tehadap pelaku tindak pidana narkotika sudah tepat?c.
Tujuan Penelitian .l)
Untuk
memperoleh data mengenai pidanamati
akibat
dari
tindakpidana narkotika dan
untuk
mengetahuidasar
apa yarug dipakaihakim dalam
menjatuhkan pidana
mati
terhadappelaku
tindak pidana narkotika.2)
Untuk
mengetahui apakah pidanamati
yang dijatuhkan oleh hakim terhadap pelaku tindak pidana narkotika sudah tepat.NPM
Program Studi Program Kekhususan
9
d.
Hasil Penelitian1)
Pertimbanganhakim dalam
menjatuhkan
pidana
mati
terhadappelaku
tindak
pidana narkotika
merupakanperlindungan
hukumkepada bangsa
dan
rregara
dari
peredaran
gelap
narkotika. Penjatuhanpidana
mati
dimaksudkan
untuk
mencegah
adanya peredaran gelap narkotika dari dalam lernbaga permasyarakatan danunfuk
mencegah adarrya regenerasibaik dari
dalam maupun dariluar
lembaga
pemasyarakatan.Sehingga
salah satu cara
untuk mernutusmata
rantai-peredaran
gelap
narkotika
adalah
dengan menjatuhkan pidana mati kepada pelaku tindak pidana narkotika.2)
Pidanamati
yang dijatuhkan oleh
hakim
terhadappelaku
tindakpidana narkotika
belum
memenuhi
aspekperlindungan individu
karena dengan adanya pidana
mati
maka
tamatlahriwayat
orang dantidak
ada lagtrwaktu untuk
memperbaikidiri
dan mernberikan pendidikan kepadanya. Dengan demikian, penjatuhan pidana mati terhadapp"lakl
tindak
pidananarkotika belum
memenuhi aspekperlindungan
indivitiu,
penjatuhanpidana
mati
baru
memenuhi aspek perlindungan masyarakat saja.2.
JudulTinjauan Sanksi Hukuman
Mati
Di
IndonesiaDari
Sudut PandangHAM
a.
Identitas PenulisNama
NPM
: Louis Hot
Asi
Mangunsong :05050917810
Program
Studi
:Ilmu
HukumProgram
Kekhususan
: Penyelesaian Sengketa Peradilan Pidana Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakartab.
Rumusan MasalahApakah sanksi hukuman
mati
di
lndonesia sesuai denganPrinsip
Hak Asasi Manusia?c.
Tujuan PenelitianUntuk
meninjau dan menganalisis apakah hukumanmati
di
Indonesia telah sesuai dengan Prinsip Hak Asasi Manusia.d.
Hasil PenelitianSanksi Hukuman
Mati
merupakan suatu
bentuk
pelanggaran dan pengingkaran terhadap Hak Hidup, sebagaimana dinyatakan dalam :1)
Pasal28A
dan
Pasal28I
ayat
(1)
Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang secara tegas menyatakan"Hak
untuk hidup
adalah hakasasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun".
2)
Pasal4
Undang-UndangNo.39 Tahun
1999 TentangHak
Asasi Manusia yang menjamin"Hak
UntukHidup".
3)
Pasal9
ayat(l)
Undang-UndangNo.39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia yang secara tegas menyatakan "Setiap orang berhak untuk hidup".t1
3.
JudulDasar
PertimbanganHakim
(Ditinjau
Dari Perspektif Asasa.
Identitas Penulis NamaNPM
Program Studi
Program Kekhususan
Dalam
Menjatuhkan
PutusanPidana Mati
Legalitas dan
HAM).
b.
c.
: Suryadi Caesario Sinaga :060509293
:
Ilmu
Hukum:
Peradilan
dan
Penyelesaian
Sengketa HukumFakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta Rumusan Masalah
Apa
yang menjadi
dasar
pertimbanganhakim dalam
menjatuhkan putusan pidana(ditinjau
dari perspektif asas legalitas danHAM)?
Tujuan Penelitian
Untuk
mengetahui, memperoleh data, dan menganalisis mengenai apayang menjadi
dasar pertimbanganhakim.dalam
menjatuhkan putusan pidana mati (ditinjau dari perspektif asas legalitas danHAM)
Hasil Penelitian
Pidana
mati tidak
bertentangan denganHAM,
karena
KUHP
yangmengatur pidana
mati
di
Indonesiadibuat bukan untuk
melanggarHAM,
melainkan untuk melindungi seperangkat hak yang melekat pada setiapindividu
dalam masyarakat. Para pelaku tindak pidana, misalnya terorisjustru
banyak yang berlindung
dibalik
HAM,
padahal dirinyat2
sendiri melanggar
HAM
dan
akibat
perbuatannya
menyebabkan hilangnya ratusan nyawa.F. Batasan Konsep
Dalam penulisan
hukum
ini
batasan konsep sangatagar tidak keluar dari pokok bahasan yang
diteliti.
1. Perspektif
Perspektif
menurut Kamus
Besar
Bahasa pandang atau pandangan.2.
HakAsasi
Manusiadiperlukan oleh
penelitiIndonesia adalah
sudutBerdasarkan Undang-Undang
No.
39 Tahun 1999 Tentang Hak AsasiManusia
pengertianHak Asasi
Manusia
adalah seperangkathak
yang melekat padahakikat
keberadaan manusia sebagaimakhluk
Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yangwajib
dihormati,dijunjung
tinggi
dan
dilindungi oleh
Negara,hukum,pemerintah,dan
setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.Pengertian
Hak
Asasi
Manusia
berdasarkan
Kamus Besar
Bahasa lndonesia adalah hak yangdilindungi
secara internasional(yaitu
deklarasiPBB
(Decleration
of
Human Rig[rts),
seperti
hak
untuk hidup,
hak kemerdekaan, hak untukmemiliki,
hak untuk mengeluarkan pendapat.3.
Pengertian PenjatuhanPenjatuhan
menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah proses, cara, perbuatan menj atuhkan.l3
4.
5.
6.
Pengertian Pidana
Mati
Pidana
Mati
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah pencabutan nyawa terhadap terpidana.Pengertian Warga Negara
Asing
Warga Negara
Asing
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang berasal dari negara lain.Pengertian Pelaku
Pelaku
menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang melakukan suatu perbuatan.7.
Pengertian Tindak PidanaTindak Pidana menurut Kamus Hukum adalah suatu perbuatan pidana
yang
dapatdijatuhi
hukuman;
setiap perbuatanyang
diancam hukuman sebagai kejahatan dan pelang3aranbaik
didalamKUHP
maupun peraturan perundang-undangan lainnya.8.
Pengertian NarkotikaNarkotika
menurut Undang-UndangNomor
35
Tahun2009
PasalI
angka
I
adalahzat
ata,uobat yang
berasal
dari
tanamanatau
bukan tanaman,baik
sintetis
maupun semisintetis
yang
dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasanyeri,
dan dapat menimbulkan ketergantungan yangdibedakan
kedalam
golongan-golongan
yang telah
tertuang
didalam undang-undan g tersebut.t4
G.
MetodePenelitian
l.
Jenis PenelitianPenelitian
ini
menggunakanmetode
penelitian hukum normatif
yaitu dengan cara meneliti bahan-bahan pustak a yafig merupakan data sekunder.Dalam
hal
ini
penelitian
hukum normatif
merupakanpenelitian
yangdilakukan
atau
berfokus pada norma
hukum
positif
yang
berupa perundang-undangan.2.
Sumber Dataa.
Bahan Hukum PrimerData yang
dipergunakanoleh penulis
adalahbahan
hukum
primer
meliputi
berbagai peraturan
perundang-undanganyang
berkaitan dengan topik penelitian, antaralain
:1) Undang-Undang Dasar 1945
2)
Kitab Undang-UndangHukum Pidana(KUHP)
3)
Undang-UndangNomor
12 Tahun2011
tentangHirarki
Peraturan Perundang-undangan.4) Undang-Undang
Nomor
35
Tahun
2009
tentang
Narkotika, Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1997 Nomor 675) Undang-Undang
Nomor
12
Tahun 2005
tentang
Konvenan IntemasionalHak-Hak
Sipil
danPolitik
(International
Covenant on15
6)
Undang-UndangNomor
39 Tahun 1999 tertang Hak Asasi Manusia(HAM),
Lembaran NegaraRepublik
lndonesiaTahun
1999Nomor
165.b.
Bahan Hukum SekunderBahan hukum sekunder yang digunakan merupakan bahan hukum yang
diambil dari fakta
sosial yang memuat masalahhukum,
pendapat ahlidalam
literatur,
jurnal,
buku-buku, dokumentasi,
surat kabar
dan internet yang berkaitan dengan penjatuhan pidanamati
tindak
pidananarkotika
di
lndonesia terhadap Warga NegaraAsing
dibenarkan atau tidakjika
dilihat
dari perspektif Hak Asasi Manusia(HAM).
c.
Bahan Hukum TersierBahan
hukum
tersier
adalah bahanhukum
yang
mendukung bahanhukum
primer dan
bahan
hukum
sekunder
dengan
memberikan pemahaman dan pengertian atas bahanhukum lainnya.
Bahan hukum tersier yang digunakan dalam penelitianini
adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia.3.
Metode Pengumpulan Dataa.
Studi KepustakaanPengumpulan
data dilakukan
dengancara
studi
kepustakaan denganmengumpulkan
dan
mempelajari data
yang
diperoleh
dari
bahan kepustakaan dan memahamiliteraturjurnal,buku-buku,
dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah penelitian.b.
WawancaraWawancara dilakukan langsung dengan narasumber untuk memperoleh data
yatg
diperlukanpenulis
yaitu
denganIbu
Fauziah Rasad, yangmerupakan anggota
bagian
Pengkajian
dan
Penelitian
di
Komisi
Nasional
Hak
Asasi Manusia, Bapak
Dhudi
Hadiyan,
S.H
yarrg merupakan Jaksadi
Kejaksaan Negeri Sleman, Bapak Candra NurendraA.,S.H.Kn.,M.Hum yang
merupakan
Hakim
di
Pengadilan Negeri Slemandan
Ibu Sri
Anggraeni
A.
yang
merupakan Jaksa EksekutorMary
Jane Fiesta Veloso di KejaksaanTinggi
Yogyakarta.4.
Metode Analisis DataMetode analisis yang digunakan dalam penelitian
ini
adalahkualitatif
yaitu analisis yang dilakukan dengan memahami, merangkai atau mengkaji datayang
dikumpulkan
secara sistematis.Metode
berpikir yang
digunakandalam
menarik kesimpulan dengan
menggunakan
metode
berpikir
deduktif, yaitu
melakukan analisis data
dari
pengetahuanyang
umum kemudian disimpulkan secara khusus.H.
Sistematika
PenulisanHukum
Berkaitan
denganpenulisan
hukum
mengenai PertimbanganAspek
HAM
Dalam Penjatuhan Pidana
Mati
Warga NegaraAsing
sebagai Pelaku Tindak PidanaNarkotika
Di
Indonesia,maka
sistematikadalam
penulisan hukum yang dijabarkanmeliputi
beberapa materi, yaitu :tl
BAB
I
BAB
II
PENDAHULUAI\
Berisi
mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, fujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian, batasan konsep,metode penelitian
dan
sistematika penulisan
skripsi
yang digunakan dalam penyusunan penulisan hukumini.
PEMBAI{ASAN
Pada bab
ini
diuraikan dua pernbahasan yangmeliputi
: BagianA
Tinjauan Tentang Hak Asasi Manusia dan Pidana
Mati
yangterdiri
dari dua sub bab, yaitu : Hak Asasi Manusia dan Pidana
Mati
Bagian
B
mernbahas Warga NegaraAsing
Sebagai Pelaku Tindak PidanaNarkotika yang
terdiri dari
dua sub bab,
yaitu
:
Tindak Pidana Narkotika dan Warga NegaraAsing
Sebagai Pelaku Tindak Pidana Narkotika.Bagian C membahas Perspektif Hak Asasi Manusia Dalam Praktek Penegakan Hukum
Di
Indonesia.BAB
III
PENUTUP
Dalam Bab
ini
berisi
tentang kesimpulan dan saran. Bagianakhir
penulisan hukum