• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berperan di masa yang akan datang (Hamalik, 2007:14). Aspek yang dipersiapkan dan ditumbuhkan berkaitan dengan aspek badan, akal dan rohani sebagai satu kesatuan tanpa mengesampingkan salah satu aspek dan melebihkan aspek yang lain (Kurniawan, 2013:16). Pelaksanaan pendidikan pada praktik dilapangan dilaksanakan dalam bentuk pendidikan formal, non formal dan informal. Pelaksanaan pendidikan yang secara umum ditempuh adalah pendidikan formal seperti dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan yang ditempuh di sekolah tidak terlepas dari kegiatan pembelajaran, dimana pembelajaran merupakan upaya sistematis yang dilakukan guru untuk mewujudkan proses belajar yang efektif dan efisien yang dimulai dari perencanan, pelaksanaan dan evaluasi (Zainal, 2014:11). Salah satu mata pelajaran yang diajarkan sejak pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi adalah pelajaran matematika, dimana pelajaran matematika merupakan pelajaran yang memiliki keterkaitan sangat erat dengan kehidupan, seperti pada setiap kegiatan kita baik itu berkaitan dengan uang ataupun waktu selalu berkaitan dengan ilmu matematika yaitu berhitung. Tujuan diberikan pembelajaran matematika tercantum dalam Permendikbud No 21 tahun 2016 salah satunya adalah memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Berdasarkan tujuan tersebut, tampak bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan fokus dalam pembelajaran matematika.

Pemecahan masalah merupakan suatu proses untuk mengkombinasikan dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi tertentu (Wena, 2009:52). Pemecahan masalah dapat dikatakan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mencari jalan keluar dari suatu masalah agar tujuan dapat

(2)

tercapai. Dengan demikian pemecahan masalah merupakan bentuk pembelajaran yang dapat menciptakan ide baru dan menggunakan aturan yang telah dipelajari terdahulu untuk membuat formulasi pemecahan masalah (Muchlis, 2012:136). Dalam kehidupan sehari-hari kemampuan pemecahan masalah bukan merupakan hal yang asing dikarenakan dalam melakukan kegiatan selalu berkaitan dengan proses pemecahan masalah mulai dari hal yang sederhana sampai pada hal yang kompleks. Mengingat hal ini kemampuan pemecahan masalah perlu diberikan sejak dini kepada siswa sehingga siswa mempunyai pengalaman saat memecahkan masalah dalam kehidupan.

Kenyataan di lapangan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika pada tingkat sekolah belum secara maksimal diterapkan. Hal ini terlihat dengan masih banyak siswa yang kurang tertarik dengan pelajaran matematika dan mereka cenderung sudah takut dengan pelajaran matematika. Selama pelajaran matematika siswa cenderung belajar dengan hanya menghafal tanpa tahu bagaimana hal tersebut bisa terbentuk. Dengan menghafal apa yang diajarkan oleh guru saat pelajaran siswa mampu untuk menyelesaikan soal dengan bentuk yang sama dengan contoh yang diberikan oleh guru, namun saat siswa mendapat soal yang berbeda contoh yang diberikan guru siswa mulai kesulitan dalam mengerjakan. Kesulitan siswa dalam mengerjakan soal juga terlihat saat siswa mengerjakan soal cerita dimana banyak siswa yang tidak bisa menangkap apa yang dimaksudkan dalam soal ini. Beberapa siswa menyatakan bahwa pelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit siswa berpendapat dalam mengerjakan soal saat mereka lupa dengan rumus mereka tidak dapat mengerjakan soal baik itu pilihan ganda ataupun soal uraian. Selain itu siswa juga menganggap bahwa mereka kesulitan dalam mengerjakan soal cerita, sebagian besar siswa tahu apa yang dilakukan tapi merasa kesulitan saat menuliskan dalam bentuk jawaban.

Hasil berdiskusi dengan guru menyatakan hal yang selaras dengan pendapat siswa serta hasil observasi yang sudah dilakukan, guru memberikan gambaran bahwa saat pembelajaran matematika siswa cenderung pasif, hal ini dibuktikan dengan setiap guru meminta siswa untuk mengerjakan soal matematika di depan

(3)

kelas banyak siswa yang tidak berani untuk maju dan saat di tanya kenapa mereka cenderung acuh tak acuhdengan pertanyaan guru. Kemampuan mengerjakan soal matematika siswa khususnya dalam bentuk soal cerita menurut guru masih kurang, karena ketika siswa diminta mengerjakan soal cerita sebagian besar siswa cenderung belum dapat mengerjakan soal sesuai yang diharapkan dari siswa. Guru menyatakan dari 27 siswa kelas 5 baru 10 orang siswa yang dapat mengerjakan soal cerita sesuai dengan langkah pengerjaan dan memahami langkah pengerjaan soal. 17 siswa diantaranya belum mampu mengerjakan soal cerita sesuai dengan langkah-langkahnya, hal ini di buktikan dengan hasil ulangan yang diberikan guru dalam bentuk soal cerita baru 10 anak yang mendapat nilai diatas 70 dan rata-rata nilai ulangan matermatika di kelas pada ulangan tersebut adalah 69. Kesulitan yang dialami guru juga berkaitan kemampuan anak dalam mengerjakan soal, saat diberikan soal yang sama persis dengan contoh siswa mampu dengan baik mengerjakan namun saat diberikan soal dengan bentuk yang berbeda siswa sudah kesulitan karena dalam mengerjakan soal siswa terpaku pada contoh yang sudah diberikan guru. Pembelajaran matematika yang dilakukan dikelas tidak hanya dengan metode ceramah tapi juga berdiskusi, walaupun sudah melakukan pembelajaran dengan variasi kemampuan pemecahan masalah matematika belum maksimal.

Strategi guru untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran yang disajikan khas oleh guru (Komulasari, 2010:57), dalam setiap model yang diterapkan tentunya memiliki cara, syarat, kelebihan dan kekurangan masing-masing yang perlu untuk di pahami sebelum di terapkan dalam pembelajaran.

Salah satu model yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran Means Ends Analysis (MEA). MEA adalah variasi dari model pembelajaran problem solving . Melalui model pembelajaran MEA seseorang yang menghadapi masalah mencoba membagi permasalahan menjadi bagian-bagian tertentu dari

(4)

permasalahan tersebut. Dalam model pembelajaran MEA akan menyederhanakan bagian masalah menjadi lebih sederhana, mengidentifikasi perbedaan dan menyusun bagian dari masalah sehingga terbentuk hubungan kesinambungan. MEA merupakan model pembelajaran yang penerapannya merencanakan tujuan keseluruhan, dimana tujuan tersebut dijadikan kedalam beberapa tujuan yang pada akhirnya menjadi beberapa langkah atau tindakan berdasarkan konsep yang berlaku. Kelebihan dari model MEA adalah siswa dapat mengembangkan berfikir reflektif, kritis, logis, sistematis, kreatif dan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika (Shoimin, 2016:103).

Berdasarkan masalah diatas, maka perlu dilakukan tindakan dengan menerapkan model MEA untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa kelas 5 SD.

1.2.Identifikasi Masalah

Berdasarkan masalah yang dikemukakan, masalah pembelajaran yang menjadi perhatian peneliti dan menuntut pemecahan berkaitan dengan: 1. Tingkat pemahaman siswa yang masih relatif rendah terhadap bentuk soal cerita

2. Dalam proses mengerjakan penyelesaian soal siswa hanya terpaku n mengikuti contoh yang diberikan oleh guru dan mengerjakan soal secara langsung

1.3.Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana penerapan model Means Ends Analysis (MEA) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika sisw kelas 5 pada mata pelajaran matematika dengan pokok bahasan perkalian dan pembagian pecahan?

2. Apakah dengan penerapan model pembelajaran Means-Ends Analysis (MEA), kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada pokok bahasan perkalian dan pembagian pecahan dapat meningkat?

(5)

1.4.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian adalah:

a. Untuk mendeskripsikan langkah-langkah model pembelajaran Means Ends Analysis (MEA) dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas 5 pada mata pelajaran matematika dengan pokok bahasan perkalian dan pembagian pecahan

b. Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas 5 pada mata pelajaran matematika dengan pokok bahasan perkalian dan pembagian pecahan melalui metode pembelajaran Means-Ends Analysis (MEA).

1.5.Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis manfaat penelitian ini dapat dimanfaatkan peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian yang lebih mendalam.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak diantaranya:

a. Bagi siswa, dengan menggunakan model pembelajaran MEA melatih siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

b. Bagi guru, sebagai bahan masukan dalam proses pembelajaran matematika sehingga kemampuan pemecahan masalah matematika meningkat.

c. Bagi peneliti, dapat memberikan informasi tentang penerapan model pembelajaran MEA sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

Referensi

Dokumen terkait

Produksi kakao dipengaruhi oleh klon, posisi buah pada pohon, infeksi hama dan penyakit, dan karakteristik pemanen khususnya umur dan tinggi badan.. Peningkatan produksi dapat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Return On Investment (ROI) dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Return Saham Syariah Sturdi Kasus Pada Perusahaan

Dari beberapa definisi diatas penulis dapat menyimpulkan bahwasanya poligami adalah perkawinan yang dilakukan oleh suami lebih dari seorang

Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui manfaat dari penerapan praktik manajemen berbasis Islam pada organisasi atau perusahaan sehingga

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh perubahan kecepatan superfisial air dan udara terhadap koefisien perpindahan kalor aliran gelembung udara-air searah

Apabila Laporan Skripsi yang telah direvisi sebagaimana yang dimaksud pada point (6) butir b, tidak diserahkan kembali sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan oleh

Dari fraksi B2 diperoleh padatan dipermukaan dalam botol, selanjutnya dicuci menggunakan pelarut n-heksana dan etil asetat untuk menghilangkan pengotornya

Maksud dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisa, dan menginterpretasikan data tentang pengaruh artis Maudy Koesnaedy terhadap minat